NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 5

Bab V


──Ini adalah ingatan masa lalu.

 

Itu terjadi saat dia baru mulai mempelajari sihir di sekolah.

 

Di tempat latihan sihir keluarga Lumiere. Di antara target sihir dan arena duel kuno yang tersedia, Isabella tampak terkapar di atas tanah dengan tubuh penuh luka.

 

Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang putri bangsawan.

 

Pakaiannya yang dihiasi ornamen mewah tampak hangus terbakar di beberapa tempat. Kulitnya penuh dengan luka. Bahkan ujung rambut merahnya yang menyala telah menjadi arang dan sebagian hilang.

 

Kondisi di mana mananya telah habis, hingga dia tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sendiri dengan becus.

 

Hal itu terjadi bukan hanya karena latihan sihir, melainkan akibat hukuman dari ayahnya yang berkali-kali melontarkan sihir api ke arahnya.

 

Di sekitar tempat latihan, beberapa pelayan keluarga Lumiere tampak berjaga.

 

Namun, menyaksikan sosok Isabella yang merangkak di atas tanah, tidak ada satu pun orang yang mengulurkan tangan untuk menolong.

 

Malahan, dia merasa ada tawa cemoohan yang bercampur di antara mereka.

 

Di tengah kesadaran Isabella yang samar-samar, sang ayah menatap ke bawah ke arahnya dengan sepasang mata yang dingin.

 

"……Padahal kamu adalah putriku, tapi kenapa di usia sepuluh tahun masih belum bisa menggunakan sihir mudah seperti ini? Apakah kamu benar-benar bersungguh-sungguh? Atau, karena kamu berteman dengan orang aneh di sekolah sehingga tidak berlatih dengan becus?"

 

"……Eh?"

 

Hal yang dikeluarkan sang ayah dari balik jubahnya adalah beberapa lembar surat.

 

Pengirimnya adalah Momo Sanctia. Sebuah bukti korespondensi dengan Putri Ketujuh negara ini.

 

Meskipun situasinya seperti itu, sang ayah justru mengembuskan napas panjang dengan pasrah.

 

"Membangun hubungan dengan keluarga kerajaan memang bagus…… tapi kenapa harus dengan Putri Ketujuh. Kamu pasti sudah mendengar rumor tentang dia, bukan? Apa gunanya berteman akrab dengannya?"

 

"……Ini bukan soal guna atau tidak! Bersama Momo rasanya sangat menyenangkan……!"

 

"Kamu yang tidak bisa menggunakan sihir dengan becus tidak memiliki kebebasan seperti itu. Benda ini memang tidak diperlukan."

 

Begitu kata-kata itu terlontar, sang ayah langsung membakar surat-surat tersebut menggunakan sihir.

 

Wus, dalam sekejap mata surat itu berubah menjadi kobaran api yang besar, lalu dijatuhkan ke atas tanah.

 

Akibat hantaman kejutan yang teramat besar, Isabella berteriak dengan seluruh tenaganya.

 

"Apa yang Ayah lakukan?!"

 

"Aku membakarnya karena tidak berguna. Tapi…… jika kamu bisa mengendalikan sihir dengan baik, mungkin kamu bisa menyelamatkan surat-surat ini."

 

Sang ayah menyunggingkan sebuah senyum cemoohan.

Namun, Isabella tanpa ragu langsung menjulurkan tangannya ke dalam kobaran api.

 

"Ah…… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

 

Panas──panas, panas, panas! Mananya berada di ambang batas habis,

hingga dia tidak sanggup mengendalikan sihir api dengan benar.

Meski begitu, dia tidak ingin kehilangan surat-surat dari Momo.

 

Setelah Isabella dicamkan sebagai produk gagal, Momo adalah teman pertama yang dimilikinya. Gadis-gadis yang dulu menjadi temannya seluruhnya telah pergi menjauh. Namun, hanya Momo saja yang bersedia menjadi temannya. Belakangan dia baru menyadari kalau

Momo juga bersedia berteman karena dirinya kesepian, tetapi hal itu tidak menjadi masalah.

 

Sebab, bersikap rileks saat bersama Momo adalah hal yang sama saja.

 

Kedua lengan Isabella tampak hangus terbakar. Meski begitu, dia berusaha keras mengumpulkan surat-surat itu, lalu memukulkannya ke atas tanah berkali-kali demi memadamkan api.

 

Menyaksikan sosok itu, sang ayah melontarkan kalimat yang dingin secara ketus.

 

"Seleraku hilang. Aku berniat mendidikmu untuk menjadi kuat…… tapi melihatmu menganggap penting benda semacam itu."

 

"Sudah cukup. Aku kecewa kepadamu. Kamu tidak diperlukan di dalam keluarga Lumiere."

 

Kalimat itulah perkataan terakhir yang ditujukan sang ayah kepada Isabella.

 

Sang ayah membalikkan badannya lalu melangkah pergi meninggalkan tempat latihan sihir.

 

Namun, perkataan ayahnya memang benar.

Dirinya harus menjadi kuat. Karena di dunia ini, jika tidak memiliki kekuatan, tidak ada satu hal pun yang bisa diperoleh.

Diakui sebagai anggota keluarga, hingga melindungi hal-hal yang berharga, tidak ada satu pun yang mampu dilakukannya.

 

 

Duel akhirnya diputuskan untuk digelar di tempat latihan.

 

Saat melangkahkan kaki ke tempat latihan, di atas kepala terbentang awan berwarna kelabu, dan hujan gerimis mulai turun.

 

Isabella mengenakan seragam sekolah seperti biasanya.

 

Seragam sekolah Lily Garden merupakan sebuah equipment yang memiliki pertahanan sihir secara semipermanen, yang dapat digunakan

bahkan dalam pertempuran sihir.

 

"……-"

 

Saat menurunkan pandangan, di tangannya terpasang sepasang sarung tangan hitam yang dihiasi renda.

 

Di balik sarung tangan ini, bekas luka bakar pada masa itu masih tersisa.

 

Rasa sakit tampak berdenyut, membuat Isabella menjadi kesal. Walau bekas lukanya kecil, itu adalah simbol dari kelemahannya yang menunjukkan ketidakmampuannya sebagai seorang penyihir.

 

Dan, di tangannya tergenggam sebilah pedang tongkat. Sebuah katalis

untuk mengaktifkan sihir.

 

Penyihir gaya lama memang lebih suka menggunakan tongkat besar, tetapi tergantung pada kaum bangsawan, ada pula yang menggunakan senjata seperti pedang atau tombak sebagai katalis. Asalkan berbahan dasar material yang bisa dijadikan katalis, bentuk luarnya bebas berupa apa saja.

 

Di sisi lain, Theo mengenakan jubah penyihir hitam yang mengingatkan pada seorang pendeta.

Padahal pertempuran sihir akan segera dimulai, tetapi dia justru menahan kantuk dengan menguap secara bosan, sama sekali tidak memiliki semangat bertarung.

 

"Heeh…… apakah terhadap orang selevelku kamu merasa tidak perlu bersungguh-sungguh?"

 

"Isabella-chan."

 

"Isabella, kamu tidak apa-apa?"

 

Mendengar suara dari arah samping membuat pandangan matanya bergerak. Momo berdiri dengan ekspresi wajah yang seolah ingin mengatakan sesuatu, dan Karina menatapnya dengan pandangan cemas.

 

Di tempat yang lebih jauh tampak murid-murid Taman Ketujuh lainnya.

 

Dari arah gedung sekolah, murid-murid dari kelas lain juga tampak melongokkan wajah karena penasaran.

 

Isabella menyunggingkan sebuah senyuman tangguh.

 

"Yah, sejujurnya aku tidak berpikir kalau aku bisa menang. Lawanku adalah genius sihir modern. Kalau aku bisa menang, mulai besok aku bahkan sudah bisa menjadi seorang Penyihir Istana."

 

"Padahal kamu sudah tahu sejauh itu, tapi kenapa?"

 

"Meski begitu, tidak ada alasan bagiku untuk dinilai secara sepihak padahal dia belum pernah melihat kemampuanku sekalipun. Nah, lihat saja nanti. Aku pasti akan membalasnya setidaknya dengan satu serangan."

 

Setelah melontarkan kalimat itu kepada Karina, Isabella berhadapan langsung dengan Theo.

 

Jarak di antara mereka sekitar lima belas hingga dua puluh langkah.

 

Sebuah jarak yang biasa digunakan dalam latihan pertempuran sihir.

 

"Lalu, bagaimana peraturannya?"

"Siapa pun yang berhasil mendaratkan sihir ke tubuh lawan, dialah pemenangnya. Selain hal itu, menghalalkan segala cara juga boleh."

 

Dalam latihan pertempuran sihir yang sebenarnya, jenis sihir yang bisa digunakan dibatasi.

 

Hal itu dilakukan agar tidak sampai membunuh lawan secara tidak sengaja.

 

Namun, Isabella perlu membuat Theo menyaksikan kemampuan sihir maksimal yang bisa digunakannya. Karena dia berpikir bahwa jika Theo melihat sihir terkuatnya, guru itu mau tidak mau harus mengakui sosok Isabella.

 

Oleh karena itu, dia sengaja tidak menetapkan batasan maksimal.

 

Akan tetapi, bertolak belakang dari perkiraannya, Theo justru menambahkan sebuah kondisi.

 

Ditambah lagi, kondisi itu berupa pemberian batasan pada dirinya sendiri.

 

"Sebagai formalitas, anggap saja aku hanya bisa menggunakan sihir menyerang sampai Rank kedelapan. Berhubung posisiku sebagai seorang guru, aku tidak boleh sampai melukai muridku. Lalu, walau kemungkinannya tidak sampai satu banding sepuluh ribu, jika kamu bisa menang melawanku, aku tidak keberatan untuk menjadikanmu, Isabella, sebagai murid berprestasi nomor satu untuk periode kali ini."

 

"……Kamu bisa bicara besar juga, ya."

 

Justru karena yakin kalau hal itu tidak mungkin terjadi, dia bisa menegaskannya seperti itu.

 

Sihir umumnya dibagi dari Rank pertama hingga Rank kesembilan.

 

Sihir Rank kedelapan merupakan level sihir yang dipelajari oleh para calon penyihir di masa-masa awal mereka.

Pernyataan bahwa dia hanya akan menggunakan sihir menyerang selevel itu, sama saja dengan sebuah deklarasi bahwa dia akan menerima seluruh sihir yang dilontarkan Isabella secara mentah-mentah.

 

Sebab, sebagian besar sihir menyerang di level Rank kedelapan memiliki daya hancur yang rendah serta kecepatan yang lambat.

 

Meskipun lawannya adalah sang genius sihir modern, jika sihir yang ditembakkannya dibatasi sampai level Rank kedelapan, Isabella

memiliki rasa percaya diri untuk menyerang secara sepihak.

 

"Isabella, kamu boleh memulainya kapan saja sesuai dengan waktu pilihanmu. Begitu aku merasakan manamu bangkit, aku juga akan

bergerak."

 

"Hah…… benar-benar tidak menganggapku, ya? Kita lihat saja nanti, seberapa lama sikap santaimu itu bisa bertahan!"

 

Sambil berteriak, Isabella memasang posisi siaga dengan pedang

tongkatnya, lalu membangkitkan mana yang tertidur di dalam tubuhnya.

 

Membakar api di dalam jantung, mengalirkannya ke setiap ujung jari, sebuah bayangan proses sirkulasi.

 

Seluruh tubuhnya menjadi panas, dan mananya mulai aktif bekerja.

 

──Sebagai bentuk pengulangan, sihir dimanifestasikan melalui beberapa tahap.

 

Tahap pertama──Koneksi untuk terhubung dengan kekuatan Tuhan.

 

Tahap kedua──Perolehan untuk memasukkan formula sihir dari

Tuhan ke dalam otak penyihir.

 

Tahap ketiga──Pelepasan untuk memanifestasikan sihir dengan

cara menyalurkan mana ke dalam formula sihir.

Rentetan sejarah sihir yang seperti itu selalu diceritakan bersamaan dengan upaya mempersingkat waktu.

Pertama, pada sihir generasi pertama, para penyihir melakukan ketiga tahap ini dengan cara mempersembahkan tarian atau ritual kepada Tuhan.

 

Pada sihir generasi kedua, tarian dan ritual disederhanakan menjadi mantra, dan mempercepat sihir dengan cara mempersembahkan korban kepada Tuhan.

 

Pada sihir generasi ketiga, dengan memasukkan Formula Sihir ke dalam otak penyihir sejak awal, tahap pertama dan tahap kedua berhasil disederhanakan.

 

Selama beberapa ratus tahun terakhir ini, sihir generasi ketiga telah menjadi sebuah hal yang lumrah di dalam sejarah sihir.

 

Namun, seorang penyihir telah menghancurkan hal tersebut.

 

Melalui teori sihir baru──sihir generasi keempat.

 

Metodenya terbilang sangat sederhana. Jika otak seorang penyihir yang bertindak sebagai 'wadah' sanggup menyimpan formula sihir, maka seorang penyihir berpikir apakah peralatan atau equipment juga bisa dijadikan sebagai 'wadah' untuk menyimpan formula sihir tersebut.

 

Jika hal ini berhasil dilakukan, asalkan memiliki peralatan tersebut beserta mana, siapa pun akan bisa mengaktifkan sihir.

 

Dan, penyihir itu luar biasanya berhasil mewujudkannya secara nyata.

 

Nama penyihir itu adalah Theo Proteus.

 

Sama seperti keluarga Lumiere yang menyandang gelar Matahari, dia adalah penyihir yang dianugerahi gelar Wadah.

 

Seorang akademisi yang berjalan di garis terdepan ilmu sihir, yang bahkan dijuluki sebagai orang yang menduduki posisi terdekat dengan asal mula sihir.

 

"Koneksi Mulai"

 

Isabella mengobarkan mana miliknya, lalu menyalurkannya ke seragam sekolah.

 

Mana tersebut muncul bagaikan sumbu peledak, pola garis yang bersinar temaram mulai terukir di seragamnya.

 

Seragam sekolah Lily Garden bukan sekadar pakaian biasa.

 

Pakaian ini tidak hanya dipasangi proteksi sihir, melainkan seragam ini sendiri merupakan 'wadah' yang menyimpan formula sihir.

 

Dengan kata lain, sihir generasi keempat.

 

Umumnya, semakin tinggi Rank dari formula sihir, semakin besar pula kapasitas 'wadah' yang dibutuhkan untuk menyimpannya.

 

Dalam teori sihir generasi ketiga, semakin besar formula sihir, penyihir harus bersusah payah menyimpannya di dalam otak, tetapi dalam teori sihir generasi keempat, penyimpanan dapat dilakukan dengan mudah.

 

"Pelepasan Formula Sihir──!"

 

Isabella menjulurkan lengannya, menentukan arah sihir dengan ujung pedang tongkatnya.

 

Kemudian, dia memilih formula sihir favorit dari yang tersimpan di seragamnya.

 

Sihir andalan keluarga Lumiere yang secara turun-temurun mahir dalam sihir api dan cahaya.

 

Sihir Rank kelima: Flare Spear.

 

Sihir itu hanya bisa dilepaskan dalam satu tembakan karena mananya

nyaris berada di batas kritis, tetapi tepat di saat Isabella hendak melepaskannya.

 

──Dia menyadari bahwa sosok Theo tidak ada di mana pun.

 

"……Hah?"

 

Dengan panik dia menggerakkan lehernya, tetapi sosok Theo tidak berhasil ditemukan.

 

Padahal dia ada di sana sampai sesaat yang lalu, sebenarnya ke mana──

 

"-!"

 

Sebuah hawa keberadaan yang mendekat dengan cepat.

 

Di saat panca indera Isabella menyadarinya, segalanya sudah terlambat.

 

Pandangannya jungkir balik, dan kepalanya membentur tanah dengan keras. Rambut merah kebanggaannya lumatan lumpur, dan tanah becek bahkan sampai masuk ke dalam mulutnya. Saat dia menyadarinya, Isabella sudah terlambat dan hanya bisa menatap langit mendung yang diguyur gerimis.

 

Setelah paham bahwa dirinya dijegal hingga jatuh telentang, Isabella bergegas mencoba untuk bangkit berdiri.

 

Namun, lebih cepat dari gerakannya, ujung tongkat Theo sudah ditumpukan tepat di atas kepalanya.

 

Jarak nyaris nol. Theo memang tidak merapalkan sihir, tetapi pada

jarak seperti ini, bahkan jika dia hanya bisa menggunakan sihir Rank kedelapan sekalipun, Isabella sudah kalah telak.

 

"……A-apa-apaan maksudmu ini?"

 

Isabella berucap dengan suara yang gemetar.

 

Dia berniat mengajukan duel pertempuran sihir.

 

Seharusnya, pertempuran sihir adalah ajang saling melepaskan tembakan sihir. Di saat salah satu pihak menembak, pihak lain akan menahannya dengan sihir pertahanan.

 

Meskipun demikian, hal itu memang bukan sebuah peraturan tertulis.

 

Situasinya secara tak terelakkan akan menjadi seperti itu.

 

Jika musuh mendekat, menghindar ataupun bertahan dari sihir yang melesat dengan kecepatan tinggi akan menjadi sulit dilakukan. Berbeda jika lawannya adalah seorang ahli pedang atau ksatria, tetapi sesama penyihir seharusnya bertarung dengan cara seperti itu.

 

Padahal situasinya demikian, tetapi,

 

"Bukankah tadi katamu menghalalkan segala cara diizinkan?"

 

Theo yang seharusnya merupakan seorang akademisi, melontarkannya dengan nada suara yang dingin.

 

"Jaraknya sekitar dua puluh langkah. Berbeda jika lawannya adalah penyihir berpengalaman, tapi lawanku hanyalah seorang murid biasa.

Kalau begitu, tidak membiarkan musuh menembakkan sihir adalah cara yang jauh lebih mudah."

 

"Hal itu, adalah──"

 

Tepat seperti perkataan Theo.

Jika hal semacam itu memang bisa diwujudkan, tidak ada satu pun yang salah dari tindakannya.

 

Namun, hal itu berarti Isabella bahkan tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pertempuran sihir.

 

"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"

 

"Apa maksudmu?"

 

"Aku bahkan belum menembakkan sihir ke arahmu, lho. Mau lanjut? Atau menyerah?"

 

"────"

 

Theo menyunggingkan sebuah senyum cemoohan.

 

Kepribadian Isabella tidaklah cukup sabar untuk tinggal diam menerima provokasi yang teramat jelas seperti itu.

 

"Tentu saja lanjut!"

 

Sambil meraung, Isabella kembali mengambil jarak dua puluh langkah dari Theo.

 

Itu tadi karena aku lengah. Dia meyakinkan dirinya sendiri sambil memasang kuda-kuda.

 

Dan begitu, waktu keputusasaan pun dimulai.

 

──Apa-apaan ini! Apa-apaan semua ini!

 

Berkali-kali dijatuhkan, dipaksa memakan lumpur, dan setiap kali dia bangkit berdiri, Isabella terus meluapkan suara dendam di dalam batinnya.

 

Dia sama sekali tidak memperkirakan situasi akan menjadi seperti ini.

 

Tentu saja, dia tidak berpikir kalau dia bisa menang melawan sang genius sihir modern.

 

Kemungkinan kemampuannya diejek karena masih payah juga sudah masuk ke dalam perkiraannya.

 

Namun, situasi di mana dia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menggunakan sihir sekalipun, sama sekali belum pernah terlintas di benaknya.

 

──Apakah itu berarti aku bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk berdiri di arena pertempuran sihir?

 

Dijatuhkan.

 

──Lalu apa arti dari semua hal yang kulakukan selama ini?

 

Dijatuhkan.

──Apakah keinginan untuk menjadi kuat itu sendiri merupakan sebuah

mimpi yang mustahil?

 

Dijatuhkan. Dijatuhkan. Dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan

dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan──

Entah sudah berapa lama waktu berlalu.

 

Setiap kali dia mencoba menggunakan sihir serangan besar yang paling dikuasainya, dia selalu dijatuhkan berkali-kali, dan di saat dia bangkit berdiri secara setengah tidak sadar, suara Theo terdengar di telinganya.

 

"Isabella, apakah Kekuatan yang kamu inginkan benar-benar hanya sebatas itu?"

 

"Mengeksekusi sihir yang dahsyat dengan Rank tinggi. Kamu pasti sudah sangat paham bahwa Kekuatan yang selama ini diajarkan kepadamu bukanlah hal yang sebenarnya kamu inginkan, kan?"

 

"Bukankah kamu menginginkan kekuatan mutlak demi melindungi hal yang berharga, demi diakui oleh keluargamu?"

 

"Cepatlah terbangun dari mimpimu, Isabella Lumiere. Buang harga diri

tidak bergunamu itu, dan pilihlah untuk menang meskipun harus merangkak di atas tanah!"

 

"──Berisik sekali kamu!!!"

 

Isabella berteriak sambil menampar kedua pipinya sendiri dengan keras.

 

Rasa sakit yang berdenyut menjalar menimbulkan rasa panas.

 

Namun, pikirannya menjadi tenang kembali.

 

Duel yang entah sudah keberapa puluh kalinya akan segera dimulai kembali.

 

Saat melirik ke sekeliling, gerimis tipis entah sejak kapan telah berubah menjadi hujan lebat, dan hanya tersisa para murid Taman Ketujuh saja di tempat latihan.

 

Namun, justru karena itulah dia tidak boleh hanya memperlihatkan sosok yang mengenaskan saja.

 

"-"

 

Isabella mengambil inisiatif lebih dulu untuk mengobarkan mana miliknya.

 

Meskipun tidak ada satu pun sihir yang berhasil diaktifkan, batas

fisiknya sudah hampir mencapai limit.

 

Mungkin karena merasakan pergerakan mananya, sosok Theo kembali

menghilang.

 

Namun, jika dipikirkan dengan tenang, mustahil sosok Theo benar-benar bisa menghilang secara harfiah.

 

Bukan berarti dia menggunakan sihir perpindahan instan juga.

 

Jika menggunakan itu, rentang perbedaan waktu sejak Theo menghilang hingga Isabella dijatuhkan tidak akan bisa dijelaskan.

 

Pikirkan. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Theo. Pikirkan, pikirkan pikirkan pikirkan──!

 

"──Ah."

 

Dan di sana.

 

Isabella menyadari suatu hal.

 

Permukaan tanah yang becek akibat air hujan. Di atas tanah itu, jejak sepatu tampak terbentuk secara bersahut-sahutan, mendekat ke arahnya dengan cepat.

 

Dengan kata lain, dia bukan menghilangkan wujudnya──melainkan memanipulasi cahaya demi mengelabui pandangan mata Isabella.

 

Sihir Rank kedelapan: Spectrum.

 

Sebuah sihir tingkat dasar yang diketahui oleh siapa saja.

 

Namun, dia belum pernah melihat tingkat akurasi yang setinggi ini.

 

Sebab jika target menggerakkan pandangan matanya, pengguna harus menyesuaikan manipulasi cahayanya dengan gerakan tersebut. Tingkat akurasi yang sampai terlihat benar-benar lenyap sempurna adalah hal yang belum pernah didengarnya sekalipun.

 

──Genius keparat ini!

 

Isabella meraung di dalam hatinya.

 

Namun, asalkan teorinya sudah diketahui, selalu ada cara yang bisa dilakukan.

 

Isabella secara tidak sadar memilih sihir tersebut, lalu merapalkan namanya untuk dieksekusi.

 

Dan sihir itu bukanlah sihir serangan besar yang selama ini terus dipilihnya secara keras kepala.

 

Sihir Rank kedelapan: Physical Enhance.

 

Sihir yang digunakannya saat berlari selama dua minggu ini, aktif dengan teramat sangat lancar.

 

"──Haaaaahhhhhhh!"

Menuju ke arah Theo yang tidak tertangkap oleh pandangan matanya namun dipastikan sedang mendekat, Isabella melayangkan sebuah tendangan sekuat tenaga.

 

Dan tendangan itu mendarat menghantam 'sesuatu' bersamaan dengan sebuah benturan yang nyata.

 

Terlambat satu ketukan, tabir cahaya tampak terkelupas, dan sosok Theo pun muncul kembali.

 

Tendangan Isabella berhasil ditahan oleh sebelah lengan Theo.

 

Meski begitu, bagi Isabella, ini adalah sebuah kemajuan.

 

"Jawaban yang benar."

 

Bersamaan dengan pujian singkat namun pasti dari Theo, tubuh Isabella langsung ambruk lemas di tempat.

 

Sosok yang bergegas menahan tubuhnya sebelum menyentuh tanah

adalah Theo.

 

Sambil menjadikan lengan Theo sebagai tumpuan, Isabella berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri.

 

Namun, batas tubuhnya memang sudah tiba.

Ketegangan yang selama ini dipertahankannya seketika mengendur, dan rasa lelah yang teramat sangat langsung menyerang tubuhnya saat itu juga.

 

"……Ini adalah salah satu sihir yang paling berguna di medan perang. Jika kamu mengasahnya hingga ke tingkat ekstrem, tidak banyak sihir lain yang memiliki tingkat kegunaan sebaik ini."

 

"……Medan, perang……?"

 

Dia belum pernah mendengar cerita bahwa Theo Proteus pernah berada

di medan perang.

 

Namun, dia segera berpikir bahwa itu pasti hanya salah dengar saja.

 

Sebagai gantinya, entah mengapa tanpa disadari kalimat seperti ini

terlontar begitu saja dari mulutnya.

 

"Lihatlah…… aku, hebat…… bukan……?"

 

Mungkin dia ingin mendapatkan pengakuan.

 

Setidaknya dari sang genius sihir modern. Dari penyihir yang baru saja memperlihatkan teknik tingkat tinggi di hadapannya.

 

Kesadaran Isabella hanya bertahan sampai di titik ini.

Di beberapa detik terakhir sebelum pingsan, dia merasa seperti mendengar sebuah kalimat, tetapi itu pasti hanya ilusi pendengarannya saja.

 

Sebab, mana mungkin guru yang ketus dan entah mengapa terkesan mengerikan itu mau mengatakan hal seperti itu.

 

Dengan nada suara yang teramat lembut.

 

"Benar, Isabella. Kamu hebat, kok."

 

"──Sejak dulu, aku sudah tahu tentang hal itu."

 

Kamar UKS.

 

Theo selesai memindahkan Isabella yang tak sadarkan diri ke atas tempat tidur.

 

Seragam sekolah Isabella untungnya selamat berkat proteksi sihir yang terpasang, tetapi sarung tangan hitam berhias renda miliknya berbeda.

 

Benda itu tampak robek karena duel tadi, hingga bekas luka bakar di tangannya terlihat jelas.

 

Dokter jaga kebetulan sedang pergi. Mau tidak mau, Theo merapalkan beberapa sihir pemulih tingkat dasar. Dia tentu menahan diri. Luka itu dipastikan tidak akan meninggalkan efek samping.

Saat Theo memasukkan tangan ke dalam saku jubah penyihir hitamnya,

jarinya menyentuh selembar kertas.

 

Surat. Terlebih lagi, isinya adalah dokumen yang telah dipalsukan oleh Theo sendiri.

 

──*Kamu pasti sudah tahu tentang insiden yang dipicu oleh ras iblis di ibu kota satu minggu yang lalu, kan? Aku baru saja menerima surat…… dan paman pribadiku tewas akibat insiden tersebut!*

 

Bentrokan massal itu adalah skenario yang dirancang oleh Theo.

 

Bagi kebangkitan Isabella, hal pertama yang terpenting adalah motivasi.

 

Oleh karena itu, Theo mempersiapkan situasinya.

 

Bentrokan massal antara murid Garden Pertama dan Taman Ketujuh sebenarnya juga terjadi pada Putaran Pertama.

 

Hal yang dilakukan Theo hanyalah mempercepat terjadinya peristiwa tersebut. Dia mengirimkan surat palsu kepada murid perempuan yang membenci ras iblis, lalu memicu perselisihan antara Garden Pertama dan Taman Ketujuh.

 

Hasilnya adalah tepat seperti yang tersaji saat ini.

 

Dia sebenarnya sudah menyiapkan rencana lain, tetapi fakta bahwa

strategi ini berhasil dalam beberapa langkah awal murni merupakan sebuah keberuntungan semata.

 

Sisanya, dia hanya perlu mengambil kembali surat itu demi menghilangkan barang bukti.

 

Benda itulah surat yang kini berada di tangan Theo.

 

Sambil melangkah keluar dari kamar ukur, Theo membakar habis surat itu menggunakan sihir.

 

Tepat setelah itu. Sebuah suara memanggilnya dari arah belakang.

 

"Se-sensei…… tu-tunggu dulu."

 

Saat berbalik, Isabella tampak sedang berusaha bangkit dari tempat tidur.

 

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling seolah sedang

berusaha memahami situasi. Begitu menyadari sarung tangan hitamnya telah terlepas dan bekas luka bakar di tangannya terekspos, dia bergegas menyembunyikannya dengan panik karena malu.

 

Isabella merona merah lalu memelotot tajam demi mengelabui rasa malunya──namun, dia menggelengkan kepala untuk mengubah ekspresi wajahnya, lalu bergumam lirih.

 

"……Aku, pingsan ya."

"Benar."

 

"……Apakah arah yang kutuju selama ini salah?"

 

"Ya, benar."

 

Theo menegaskannya dengan mutlak.

 

Karena mendengar jawaban yang teramat lugas, Isabella menggigit bibirnya dengan ekspresi bersalah.

 

Di luar jendela, hujan telah reda, digantikan pancaran sinar mentari senja yang menyelinap masuk dari sela-sela awan.

 

Kamar ukur pun seketika diwarnai oleh sapuan warna jingga.

 

Sambil menangkap pemandangan tersebut di dalam ruang penglihatannya, Theo berkata.

 

"Isabella, kamu itu hebat. Saat ini kamu memang mungkin seorang murid buangan. Tapi, jika kamu terus berjuang seperti ini, masalah kapasitas mana milikmu cepat atau lambat pasti akan teratasi, dan satu tahun kemudian kamu pasti bisa menjadi penyihir yang melampaui Penyihir Istana."

 

"Hal itu…… bukankah sebuah pencapaian yang hebat?"

 

"Ya. Tapi, jika hanya sebatas itu, kamu akan tewas."

"……Tewas?"

 

"Artinya, kamu akan menjadi penyihir yang tidak berguna di dalam pertempuran."

 

Di sekitar Kerajaan Sanctia, peperangan sudah lama tidak pernah pecah.

 

Oleh karena itu, bahkan di tingkat Penyihir Istana sekalipun, keahlian yang berfokus khusus pada pertempuran cenderung dipandang sebelah

mata.

 

Dibandingkan hal itu, menguasai sihir yang mencolok, dahsyat, dan terlihat indah justru jauh lebih dinilai tinggi.

 

Sebagai contoh, sihir-sihir dengan Rank tinggi.

 

Pada Putaran Pertama, karena mempertimbangkan keinginan Isabella,

Theo mengajarinya dengan cara mengembangkan kelebihan yang dimiliki gadis itu.

 

Hasilnya, Isabella tumbuh menjadi sosok yang melampaui Penyihir Istana.

 

Namun, hal itu mutlak bukan berarti dia kuat dalam pertempuran.

 

Dia mungkin berguna sebagai artileri tetap yang sanggup melepaskan tembakan sihir yang dahsyat. Di dalam peperangan yang seharusnya terjadi di masa depan pun, dia mungkin berhasil mendapatkan penilaian yang sampai membuatnya dipuji sebagai 'pahlawan'.

 

Namun, hal itu hanya bertahan sampai tepat setelah peperangan dimulai.

 

Menghadapi kawanan Chimera yang terus-menerus mendesak tanpa henti, Isabella berulang kali dipaksa untuk berpindah tempat, hingga batas fisiknya tiba dengan cepat. Dan dia akhirnya terbunuh. Begitulah cerita yang didengar oleh Theo.

 

Oleh karena itu, dia perlu mengubah pola pikir Isabella secepat mungkin.

 

Meski begitu, Isabella bukanlah tipe orang yang mau mendengarkan perkataan orang lain secara patut.

 

Dia ingat betul betapa dirinya harus bersusah payah dan meluangkan banyak waktu demi memenangkan kepercayaan gadis itu pada Putaran Pertama.

 

Namun, sekarang dia tidak memiliki kemewahan waktu seperti itu. Jika peperangan akan pecah di masa depan yang tidak jauh dari sekarang, dia ingin menghabiskan waktu fokus untuk latihan.

 

Karena itu, dia mematahkan harga diri gadis itu.

 

Secara total. Demi menyampaikan bahwa jalan yang ditempuhnya adalah salah.

 

"Jika dibiarkan seperti ini pun, kamu pasti akan tumbuh menjadi seorang penyihir yang hebat. Tapi, apakah kamu puas hanya dengan hal itu? Apakah menguasai sihir yang tidak berguna adalah sosok yang sebenarnya ingin kamu tuju? Menjadi penyihir yang memiliki kekuatan mutlak demi melindungi hal yang berharga. Bukankah sosok itulah yang sebenarnya kamu inginkan?"

 

Mendengar kata-kata Theo tersebut. Isabella menundukkan wajahnya dalam-dalam.

 

"……Kalau begitu, aku harus bagaimana."

 

Dia bergumam lirih, lalu tertawa dengan nada mencemooh diri sendiri.

 

"Aku ingin menjadi kuat. Agar bisa melindungi hal yang berharga. Demi tujuan itu, aku bahkan sampai memasang gengsi dan berpura-pura bersikap tangguh. Padahal hal itu sama sekali tidak ada artinya, ya."

Isabella menunjukkan ekspresi wajah yang tampak teramat lesu.

 

"Aku sudah paham kalau arah yang kutuju selama ini adalah salah. Tapi, aku harus bagaimana. Hanya cara ini saja yang kuketahui."

 

"Bukankah sudah kukatakan sejak awal. Percayalah padaku."

 

"──Eh."

Isabella mengangkat wajahnya.

 

Sebaliknya, Theo balas menatapnya secara lurus.

 

Sambil menyunggingkan sebuah senyuman tangguh.

 

"Percayalah padaku. Isabella, kamu memiliki bakat. Karena itu jangan menetapkan kondisi di mana kamu hanya sebatas bisa menggunakan sihir yang kuat sebagai tujuanmu. Berharaplah untuk menjadi sosok keberadaan mutlak yang sanggup memanfaatkan hal itu di dalam pertempuran."

 

"Akan kuucapkan sekali lagi. Aku pasti akan membawamu menuju ke tempat yang tinggi. Tempat yang teramat tinggi di mana dirimu yang apa adanya akan diakui oleh siapa pun tanpa perlu memasang gengsi lagi."

 

"──Karena itu percayalah padaku, dan patuhilah aku, Isabella Lumiere."

 

Sambil berbicara, Theo menggenggam tangan Isabella.

 

Tangan miliknya yang memiliki bekas luka bakar──namun tetap merupakan tangan yang cantik apa adanya.

 

Dia sadar betul bahwa ini adalah metode yang paling brengsek.

 

Mematahkan hati sang murid, merampas pilihan mereka, lalu mendorong mereka untuk bangkit kembali.

Sebuah metode yang mutlak tidak akan pernah bisa diambil oleh Theo pada Putaran Pertama dahulu.

 

Kenyatannya, ekspresi wajah Isabella tampak berubah-ubah dengan cepat.

 

Pada awalnya, dia merona merah dengan sepasang mata yang seolah

tampak terbuai.

 

Berikutnya, dia bergegas menggelengkan kepalanya lalu mengerucutkan bibirnya dengan ketus.

 

Pada akhirnya, sambil memasang wajah yang memerah padam, Isabella membalas genggaman tangan Theo secara ragu-madu.

 

"……A-aku paham. Anu…… kalau kamu sampai berbicara sejauh itu, aku akan mempercayaimu. Tapi kalau aku sampai tidak bisa mencapai tempat yang tinggi, aku tidak akan memaafkanmu."

 

"Karena itu, anu…… mohon bantuannya untuk ke depan, Sensei."

 

Isabella berucap sambil memelotot ketus seolah-olah sedang berusaha keras untuk bersikap tangguh.

 

Namun, kedua pipinya memerah padam. Benar-benar persis seperti seekor anak kucing yang sedang bersusah payah menegakkan bulu-bulunya.

 

Theo tersenyum licik di dalam hatinya.

 

Dia tidak menyangka segalanya akan berjalan sejalan dengan perkiraannya seperti ini. Jika dia terus melanjutkan rencana ini dengan pola yang sama, dia dipastikan akan bisa mengubah jalan hidup dan menyelamatkan seluruh anggota Taman Ketujuh──

 

Namun, urusannya tidak sebatas berakhir di sana.

 

"……Ngo-ngomong-ngomong,"

 

Sambil memainkan ujung rambut merahnya dengan jari secara berputar-putar, Isabella mendadak membuka mulutnya.

 

Pandangan matanya terlempar ke arah lain. Tidak hanya kedua pipinya saja, bahkan bagian tepi telinganya pun tampak memerah padam.

 

"……Ka-kapan simulasi pertempuran berikutnya akan digelar?"




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close