Interlude II
Ini
adalah ingatan pada 『Putaran Pertama』.
"Xue. Ada apa dengan luka
itu……?"
"Se-sensei?"
Lily Garden. Di depan asrama putri Taman
Ketujuh.
Di
balik bayangan bangunan, sang gadis──Xue Amaryllis mendongakkan wajahnya dengan
terkejut dari posisi telungkup.
Dia adalah gadis yang memberikan kesan
benar-benar persis seperti sebuah boneka yang indah.
Rambut panjang seputih es. Poni rambutnya
dibiarkan memanjang hingga menyembunyikan wajahnya yang teramat cantik bagaikan
boneka, dan sepasang mata yang bagaikan batu permata tampak
menatap ke atas ke arah sini.
Ukuran tubuhnya sangat mungil menyerupai
murid sekolah dasar, dan
dari balik lengan bajunya hanya terlihat
ujung tangannya saja yang menyembul dengan manis.
Seragam sekolahnya ditambahkan sebuah
tudung khusus berdasarkan
pesanan tersendiri. Saat pergi keluar,
dia biasa mengenakan tudung itu dalam-dalam hingga wajahnya tidak terlihat,
tetapi khusus saat ini tudung tersebut tampak terlepas, mengekspos wajahnya
yang menggemaskan.
Dan, terdapat satu ciri khas masif.
Yaitu, sepasang tanduk yang tumbuh di
atas kepalanya.
Sebuah ciri fisik yang jelas-jelas
berbeda dari manusia normal pada umumnya.
Namun saat ini, hal yang paling menarik
perhatian adalah sebelah lengannya yang dipenuhi luka memar biru yang besar.
Saat Theo secara refleks melemparkan
tatapan mata yang curiga, Xue
bergegas menyembunyikan sebelah lengannya
ke balik punggung, lalu mengulas senyuman demi mengelabui situasi.
"Ti-tidak
ada apa-apa, kok? Aku tidak terluka──"
"Jangan mengelabui situasi dan
perlihatkan dengan benar, Xue."
"Auh."
Bagaikan menyentuh barang yang mudah
pecah, Theo menggenggam sebelah lengan Xue.
Bukan sekadar salah lihat, lengan Xue
telah berubah warna menjadi keunguan.
Theo merasakan firasat buruk, lalu
bertanya.
"Xue. Ada apa dengan lenganmu
ini?"
"A-anu,
ini…… benar, aku sempat terjatuh! Aku tidak memperhatikan langkah kaki dengan
baik──"
"Katakan yang sebenarnya, Xue. Kalau
itu memang benar, kamu tidak akan menyembunyikannya sejak awal, kan?"
Pada mulanya, Xue mencoba menyembunyikan
sebelah lengannya dari Theo.
Hal itu berarti luka memar di lengan ini
memiliki alasan untuk disembunyikan.
Saat Theo menatapnya secara lurus, Xue
akhirnya pasrah dan meluapkan suaranya secara lirih.
"A-anu…… saat aku berniat mengobati
orang dari kelas lain, dia mendorongku sambil berteriak agar jangan
menyentuhnya."
"Apakah kamu didorong hingga
terjatuh?"
"Hanya saja, bagian tubuh yang
terbentur kebetulan sedang buruk, kok! Aku benar-benar tidak apa-apa!"
Demi membuktikan bahwa dirinya baik-baik
saja, Xue menekuk lengannya untuk memperlihatkan ototnya. Namun karena
lengannya terlampau kurus, tonjolan otot sama sekali tidak terlihat.
Di Kerajaan Sanctia ini, diskriminasi
terhadap ras iblis masih sangat kental.
Di tengah situasi itu, fakta bahwa Xue
adalah seorang ras iblis telah diketahui oleh seluruh murid.
Bukan pertama kalinya bagi Xue menerima
perlakuan kejam akibat fitnah yang tidak mendasar.
Justru karena tahu betul kondisi saat
ini, Theo spontan berucap.
"Xue, kamu tidak perlu…… memaksakan
diri."
"……Apa maksudnya?"
"Xue, kamu memang sangat mahir dalam
sihir pemulih. Tapi, kamu tidak perlu menyembuhkan manusia yang seperti
itu."
Jika harus menyebutkan karakteristik unik
milik Xue, di samping kepribadiannya yang lembut, dia teramat mahir dalam sihir
pemulih.
Jika hanya melihat kemampuan sihir
pemulihnya saja, levelnya sudah jauh melampaui tingkat murid sekolah.
Karena itulah dia tidak bisa tinggal
diam, terhadap orang yang terluka.
Sebab jika itu adalah Xue, dia sanggup
menyembuhkannya tanpa menyisakan luka sedikit pun.
──Padahal
sihir pemulih miliknya mutlak tidak akan pernah bisa menyembuhkan tubuhnya
sendiri.
Sebab, sihir pemulih milik gadis itu
bekerja dengan cara membagikan sisa energi kehidupan dari dalam dirinya
sendiri.
"Sensei, tidak boleh bicara seperti
itu!"
Plak, Xue menjepit
kedua pipi Theo menggunakan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya dengan
manis sambil memasang ekspresi marah.
Dia bersusah payah berjinjit sekuat
tenaga, mengulurkan tangannya hingga batas maksimal demi menggapai Theo.
Saat Theo tertegun dan menatapnya, Xue
menggembungkan pipinya
dengan kesal sebagai bentuk protes.
"Memilih siapa yang ditolong itu
tidak boleh! Mengabaikan orang hanya karena diintimidasi itu tidak boleh!"
Kalimat yang dilontarkan oleh Xue
benar-benar sebuah kebenaran yang
mutlak.
Namun, dia tidak tahu kenapa gadis itu
sanggup bersikap sepadan itu, padahal selama ini dia pasti sudah menerima
banyak perlakuan yang kejam.
"Memang benar ada banyak hal
menyebalkan yang terjadi! Tapi, membalas dendam pun tidak ada artinya! Jauh
lebih baik jika menolong semua orang!"
"──Bukankah
orang yang mengajarkan hal itu kepadaku adalah Sensei sendiri?"
Setelah menegaskan hal itu, Xue
menunjukkan sebuah senyuman yang teramat ceria.
Menyaksikan sosok gadis itu yang teramat
berkilau membuat Theo tidak sanggup menatapnya secara langsung.
"……Benar, ya."
Theo pun ikut tersenyum tipis.
"Maaf, aku yang salah. Xue, kamulah
yang benar."
"Asalkan paham, tidak apa-apa.
Karena aku pasti akan menjadi seorang penyihir pemulih yang sanggup
menyembuhkan semua orang!"
"……Ehm, jika itu adalah Xue, kamu
pasti bisa."
Xue pasti bisa.
Mana mungkin anak selembut ini tidak bisa
mewujudkannya.
Dada Theo terasa sesak sekaligus merasa
teramat bangga atas muridnya tersebut.
Dan pada saat itu, dia sama sekali tidak
pernah membayangkan hal semacam itu akan terjadi.
"……Ke-kenapa."
Beberapa tahun kemudian. Di dalam sebuah
gereja tua yang usang di kota yang telah berubah menjadi medan perang.
Di tengah guyuran hujan lebat, Theo
menatap ke bawah ke arah mayat
Xue di dalam aula gereja.
Tanduk unik milik gadis itu secara tragis
telah patah menjadi dua di
bagian tengah.
Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya hangus
terbakar menjadi hitam pekat.
Benar-benar persis seperti telah menerima
hantaman sihir api dari jarak yang teramat dekat.
Ksatria kota yang mengantarnya sampai ke
tempat ini menjelaskan dengan penuh keraguan.
"Amaryllis-sama kabarnya terus
bertahan di garis depan hingga akhir. Demi menyembuhkan para prajurit kawan
serta warga desa yang kawasannya berubah menjadi medan perang. Dan dia juga
mengobati prajurit musuh yang mengalami luka tembak parah…… tepat setelah
selesai memberikan pertolongan pertama, dia langsung dibunuh."
"…………Hah."
Sambil memasang sepasang mata yang
kosong, Theo menyunggingkan sebuah senyuman yang kering.
Saat ini, dia bahkan tidak tahu apakah
dirinya sedang berpijak di atas tanah atau tidak.
Meski begitu, di dalam pikirannya yang
mandek bagaikan berjalan di atas lumpur, dia paham betul.
"……………………Ini salahku."
Tepat seperti deklarasinya, Xue tumbuh
menjadi penyihir pemulih di
tingkat Rank tertinggi di negara ini.
Menjadi penyihir pemulih ideal yang
menyembuhkan dan menyelamatkan siapa saja tanpa membedakan pihak mana pun.
──Memilih
siapa yang ditolong itu tidak boleh!
──Bukankah
orang yang mengajarkan hal itu kepadaku adalah Sensei sendiri?
Gadis itu mempercayai omong kosong Theo
dengan sepenuh hati.
Namun, hasil yang diperolehnya justru
seperti ini.
"Ini salahku……!"
Andai saja Theo tidak mengajarkannya.
Andai saja saat itu dia melarangnya, gadis itu mungkin saat ini masih tetap
hidup.
Di dalam dunia ini, ada manusia yang
layak untuk diselamatkan, dan ada pula manusia yang tidak layak.
Siapa orang yang harus diselamatkan
adalah sesuatu yang mutlak harus ditentukan.



Post a Comment