NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Interlude II

Interlude II


Ini adalah ingatan pada Putaran Pertama.

 

"Xue. Ada apa dengan luka itu……?"

 

"Se-sensei?"

 

Lily Garden. Di depan asrama putri Taman Ketujuh.

 

Di balik bayangan bangunan, sang gadis──Xue Amaryllis mendongakkan wajahnya dengan terkejut dari posisi telungkup.

 

Dia adalah gadis yang memberikan kesan benar-benar persis seperti sebuah boneka yang indah.

 

Rambut panjang seputih es. Poni rambutnya dibiarkan memanjang hingga menyembunyikan wajahnya yang teramat cantik bagaikan boneka, dan sepasang mata yang bagaikan batu permata tampak

menatap ke atas ke arah sini.

 

Ukuran tubuhnya sangat mungil menyerupai murid sekolah dasar, dan

dari balik lengan bajunya hanya terlihat ujung tangannya saja yang menyembul dengan manis.

 

Seragam sekolahnya ditambahkan sebuah tudung khusus berdasarkan

pesanan tersendiri. Saat pergi keluar, dia biasa mengenakan tudung itu dalam-dalam hingga wajahnya tidak terlihat, tetapi khusus saat ini tudung tersebut tampak terlepas, mengekspos wajahnya yang menggemaskan.

 

Dan, terdapat satu ciri khas masif.

 

Yaitu, sepasang tanduk yang tumbuh di atas kepalanya.

 

Sebuah ciri fisik yang jelas-jelas berbeda dari manusia normal pada umumnya.

 

Namun saat ini, hal yang paling menarik perhatian adalah sebelah lengannya yang dipenuhi luka memar biru yang besar.

 

Saat Theo secara refleks melemparkan tatapan mata yang curiga, Xue

bergegas menyembunyikan sebelah lengannya ke balik punggung, lalu mengulas senyuman demi mengelabui situasi.

 

"Ti-tidak ada apa-apa, kok? Aku tidak terluka──"

 

"Jangan mengelabui situasi dan perlihatkan dengan benar, Xue."

 

"Auh."

 

Bagaikan menyentuh barang yang mudah pecah, Theo menggenggam sebelah lengan Xue.

Bukan sekadar salah lihat, lengan Xue telah berubah warna menjadi keunguan.

 

Theo merasakan firasat buruk, lalu bertanya.

 

"Xue. Ada apa dengan lenganmu ini?"

 

"A-anu, ini…… benar, aku sempat terjatuh! Aku tidak memperhatikan langkah kaki dengan baik──"

 

"Katakan yang sebenarnya, Xue. Kalau itu memang benar, kamu tidak akan menyembunyikannya sejak awal, kan?"

 

Pada mulanya, Xue mencoba menyembunyikan sebelah lengannya dari Theo.

 

Hal itu berarti luka memar di lengan ini memiliki alasan untuk disembunyikan.

 

Saat Theo menatapnya secara lurus, Xue akhirnya pasrah dan meluapkan suaranya secara lirih.

 

"A-anu…… saat aku berniat mengobati orang dari kelas lain, dia mendorongku sambil berteriak agar jangan menyentuhnya."

 

"Apakah kamu didorong hingga terjatuh?"

 

"Hanya saja, bagian tubuh yang terbentur kebetulan sedang buruk, kok! Aku benar-benar tidak apa-apa!"

 

Demi membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja, Xue menekuk lengannya untuk memperlihatkan ototnya. Namun karena lengannya terlampau kurus, tonjolan otot sama sekali tidak terlihat.

 

Di Kerajaan Sanctia ini, diskriminasi terhadap ras iblis masih sangat kental.

 

Di tengah situasi itu, fakta bahwa Xue adalah seorang ras iblis telah diketahui oleh seluruh murid.

 

Bukan pertama kalinya bagi Xue menerima perlakuan kejam akibat fitnah yang tidak mendasar.

 

Justru karena tahu betul kondisi saat ini, Theo spontan berucap.

 

"Xue, kamu tidak perlu…… memaksakan diri."

 

"……Apa maksudnya?"

 

"Xue, kamu memang sangat mahir dalam sihir pemulih. Tapi, kamu tidak perlu menyembuhkan manusia yang seperti itu."

 

Jika harus menyebutkan karakteristik unik milik Xue, di samping kepribadiannya yang lembut, dia teramat mahir dalam sihir pemulih.

Jika hanya melihat kemampuan sihir pemulihnya saja, levelnya sudah jauh melampaui tingkat murid sekolah.

 

Karena itulah dia tidak bisa tinggal diam, terhadap orang yang terluka.

 

Sebab jika itu adalah Xue, dia sanggup menyembuhkannya tanpa menyisakan luka sedikit pun.

 

──Padahal sihir pemulih miliknya mutlak tidak akan pernah bisa menyembuhkan tubuhnya sendiri.

 

Sebab, sihir pemulih milik gadis itu bekerja dengan cara membagikan sisa energi kehidupan dari dalam dirinya sendiri.

 

"Sensei, tidak boleh bicara seperti itu!"

 

Plak, Xue menjepit kedua pipi Theo menggunakan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya dengan manis sambil memasang ekspresi marah.

 

Dia bersusah payah berjinjit sekuat tenaga, mengulurkan tangannya hingga batas maksimal demi menggapai Theo.

 

Saat Theo tertegun dan menatapnya, Xue menggembungkan pipinya

dengan kesal sebagai bentuk protes.

 

"Memilih siapa yang ditolong itu tidak boleh! Mengabaikan orang hanya karena diintimidasi itu tidak boleh!"

Kalimat yang dilontarkan oleh Xue benar-benar sebuah kebenaran yang

mutlak.

 

Namun, dia tidak tahu kenapa gadis itu sanggup bersikap sepadan itu, padahal selama ini dia pasti sudah menerima banyak perlakuan yang kejam.

 

"Memang benar ada banyak hal menyebalkan yang terjadi! Tapi, membalas dendam pun tidak ada artinya! Jauh lebih baik jika menolong semua orang!"

 

"──Bukankah orang yang mengajarkan hal itu kepadaku adalah Sensei sendiri?"

 

Setelah menegaskan hal itu, Xue menunjukkan sebuah senyuman yang teramat ceria.

 

Menyaksikan sosok gadis itu yang teramat berkilau membuat Theo tidak sanggup menatapnya secara langsung.

 

"……Benar, ya."

 

Theo pun ikut tersenyum tipis.

 

"Maaf, aku yang salah. Xue, kamulah yang benar."

 

"Asalkan paham, tidak apa-apa. Karena aku pasti akan menjadi seorang penyihir pemulih yang sanggup menyembuhkan semua orang!"

"……Ehm, jika itu adalah Xue, kamu pasti bisa."

 

Xue pasti bisa.

 

Mana mungkin anak selembut ini tidak bisa mewujudkannya.

 

Dada Theo terasa sesak sekaligus merasa teramat bangga atas muridnya tersebut.

 

Dan pada saat itu, dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal semacam itu akan terjadi.

 

"……Ke-kenapa."

 

Beberapa tahun kemudian. Di dalam sebuah gereja tua yang usang di kota yang telah berubah menjadi medan perang.

 

Di tengah guyuran hujan lebat, Theo menatap ke bawah ke arah mayat

Xue di dalam aula gereja.

 

Tanduk unik milik gadis itu secara tragis telah patah menjadi dua di

bagian tengah.

 

Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya hangus terbakar menjadi hitam pekat.

 

Benar-benar persis seperti telah menerima hantaman sihir api dari jarak yang teramat dekat.

Ksatria kota yang mengantarnya sampai ke tempat ini menjelaskan dengan penuh keraguan.

 

"Amaryllis-sama kabarnya terus bertahan di garis depan hingga akhir. Demi menyembuhkan para prajurit kawan serta warga desa yang kawasannya berubah menjadi medan perang. Dan dia juga mengobati prajurit musuh yang mengalami luka tembak parah…… tepat setelah selesai memberikan pertolongan pertama, dia langsung dibunuh."

 

"…………Hah."

 

Sambil memasang sepasang mata yang kosong, Theo menyunggingkan sebuah senyuman yang kering.

 

Saat ini, dia bahkan tidak tahu apakah dirinya sedang berpijak di atas tanah atau tidak.

 

Meski begitu, di dalam pikirannya yang mandek bagaikan berjalan di atas lumpur, dia paham betul.

 

"……………………Ini salahku."

 

Tepat seperti deklarasinya, Xue tumbuh menjadi penyihir pemulih di

tingkat Rank tertinggi di negara ini.

 

Menjadi penyihir pemulih ideal yang menyembuhkan dan menyelamatkan siapa saja tanpa membedakan pihak mana pun.

 

──Memilih siapa yang ditolong itu tidak boleh!

 

──Bukankah orang yang mengajarkan hal itu kepadaku adalah Sensei sendiri?

 

Gadis itu mempercayai omong kosong Theo dengan sepenuh hati.

 

Namun, hasil yang diperolehnya justru seperti ini.

 

"Ini salahku……!"

 

Andai saja Theo tidak mengajarkannya. Andai saja saat itu dia melarangnya, gadis itu mungkin saat ini masih tetap hidup.

 

Di dalam dunia ini, ada manusia yang layak untuk diselamatkan, dan ada pula manusia yang tidak layak.

 

Siapa orang yang harus diselamatkan adalah sesuatu yang mutlak harus ditentukan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close