NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenaia Volume 1 Chapter 1

Bab I


Grak, hanya dengan sedikit menggerakkan lengan, rantai yang terikat langsung berdenting.

 

Dengan wajah yang amat lesu, Theo mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sebuah sel tahanan dengan kebocoran atap yang parah.

 

Di dalam kegelapan, sepasang mata tajam berkedip sesaat, lalu sesuatu bergegas pergi dengan suara gemerisik yang pelan.

 

Kemungkinan besar seekor tikus.

 

Dari jendela berjeruji besi di atas kepala, pancaran sinar matahari pagi masuk ke dalam, perlahan-lahan memanaskan bagian dalam sel tahanan.

 

Genangan air yang terbentuk di lantai sel akibat hujan semalam memantulkan wajahnya sendiri.

 

Wajah yang kurus kering. Rambutnya yang semula acak-acakan kini semakin rusak, bahkan mulai bercampur dengan uban. Karena sudah berhari-hari tidak mandi, ketombenya pasti sudah sangat parah. Theo sendiri tidak bisa mencium baunya, tetapi tempat ini pastilah mengeluarkan bau busuk.

Siapa pun yang melihatnya, pasti akan langsung tahu dari perlakuan ini kalau dia adalah seorang tahanan.

 

──Sejak Theo dijebloskan ke dalam sel tahanan ini, waktu sudah hampir satu bulan berlalu.

 

Tidak. Jika ingin ditarik lebih jauh lagi, mungkin lebih tepat untuk mengatakan bahwa tiga tahun telah berlalu sejak upacara kelulusan waktu itu.

 

Padahal waktu yang berlalu baru sebatas itu, tetapi lingkungan di sekitar

Theo telah berubah total.

 

Dua setengah tahun yang lalu.

 

Negara tetangga, Leiwelt, mendadak melancarkan serangan.

 

Leiwelt adalah negara kecil. Sebuah negara yang terletak di wilayah beriklim dingin, dan meski memiliki laut di bagian utara, hampir di sepanjang musim air lautnya membeku sehingga pelabuhan tidak dapat berfungsi. Karena iklim yang dingin itu pula, sebagian besar tanaman pertanian tidak dapat tumbuh di sana.

 

Mungkin karena itulah, industri yang berkembang di sana adalah industri tentara bayaran.

 

Mereka mendidik dan melahirkan banyak penyihir, lalu meraup keuntungan melalui perang atau pembasmian monster.

Jika berbicara tentang penyihir Leiwelt, reputasi mereka sangatlah buruk.

 

Namun, pada awalnya, negara menganggap remeh Leiwelt.

 

Alasannya sederhana. Karena perbedaan kekuatan tempur di antara

kedua belah pihak terlampau jauh.

 

Akan tetapi, hasilnya justru benar-benar bertolak belakang dari perkiraan.

 

Sebuah kota yang berada di perbatasan lenyap seketika hanya dalam waktu beberapa jam saja, secara harfiah.

 

Situasi mulai berubah menjadi buruk sejak sesosok Monster muncul di medan perang.

Monster tersebut sangat berbeda jauh dari monster konvensional pada umumnya.

 

Memiliki perawakan buruk rupa yang seolah-olah menggabungkan beberapa monster secara paksa. Daya pemulihan luar biasa yang sanggup menyembuhkan luka seberat apa pun dalam sekejap. Makhluk yang disebut Chimera itu pun langsung memulai pembantaian dalam sekejap mata.

 

Sebagai akibatnya, entah sudah berapa banyak penyihir dan prajurit dari negara sendiri yang tewas berjatuhan.

Namun, negara yang sudah telanjur basah dan tidak bisa mundur lagi, akhirnya mengambil keputusan terburuk bagi Theo.

 

Yaitu, keputusan untuk menerjunkan para elite muda──murid-murid Theo──ke garis depan.

 

Murid-murid Theo kabarnya berhasil mencerai-beraikan para Chimera dalam sekejap mata.

 

Dalam sekali hentakan mereka membalikkan kedudukan, hingga

akhirnya gadis-gadis itu sampai dijuluki sebagai Lima Pahlawan.

 

Karena itulah, negara mulai memanfaatkan mereka secara agresif──

 

Dan kemudian, semua orang terbunuh dengan menyisakan hanya satu orang saja.

 

Berdasarkan cerita yang didengar Theo saat dia bergegas mengelilingi kota-kota di sekitar medan perang atas inisiatifnya sendiri, salah satu muridnya kabarnya sempat menolong prajurit Leiwelt yang terluka, yang seharusnya merupakan musuh.

 

Gadis itu berkata bahwa dirinya tidak berniat untuk membunuh orang.

Karena sihir bukanlah 'alat pembunuh', begitulah katanya.

 

Namun, akhir ceritanya, gadis itu dikhianati oleh prajurit yang terluka tadi, dan kabarnya dia tewas dibunuh menggunakan 'sihir'.

 

……Benar-benar cerita yang konyol.

 

Bodoh. Ya, berapa kali pun akan tetap kukatakan. Mereka benar-benar bodoh. Kenapa juga harus menaruh belas kasihan pada prajurit musuh?

 

Padahal kalau sampai kehilangan nyawa sendiri, semuanya akan menjadi tidak ada artinya.

 

Namun, yang paling tidak bisa dimaafkan adalah.

Dirinya sendiri, Theo, yang telah mengajarkan hal seperti itu kepada mereka.

 

"Wah, wah, Theo-kun. Bagaimana rasanya tinggal di dalam sel tahanan?"

 

Tiba-tiba, sebuah suara yang teramat tidak menyenangkan menggema.

 

Saat Theo mengangkat wajahnya perlahan, di seberang jeruji besi berdiri seorang pria bertubuh tinggi kurus yang mengenakan kacamata sebelah.

 

Di sampingnya tampak dua orang prajurit berbaju zirah yang berjaga, kemungkinan sebagai pengawal.

 

Usia pria berkacamata sebelah itu terlihat sekitar empat puluh tahunan.

 

Wajahnya tampak seperti gumpalan dari segala hal yang licik, menjengkelkan, dan mencurigakan.

 

Fitur wajahnya memang rupawan, tetapi karena dia terus memasang senyuman tipis yang palsu, dia hanya terlihat seperti seorang penipu.

 

Bahan pakaiannya terlalu mewah, terasa sangat salah tempat jika

dibandingkan dengan prajurit di sebelahnya.

 

"Sudah satu bulan berlalu ya, sejak Theo-kun mengamuk di medan perang demi mencari murid-murid tersayangmu, lalu akhirnya tertangkap oleh kami. Waktu memang berlalu dengan cepat."

 

"…………"

 

"Apakah berbicara denganku saja sekarang kamu sudah malas? Tapi, apa yang kukatakan itu adalah sebuah kenyataan, bukan?"

 

Ya. Itu adalah kenyataan.

 

Muridnya telah tewas. Theo yang mendengar rumor tersebut langsung mengajukan diri untuk pergi ke medan perang.

 

Demi mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

 

Demi memastikan apa yang telah terjadi sebagai akibat dari apa yang telah dia ajarkan kepada murid-muridnya.

 

Namun, medan perang tidak lebih dari sebuah neraka jahanam.

 

Karena tempat itu tidak hanya dipenuhi oleh prajurit negara musuh, melainkan juga disesaki oleh Chimera yang tak terhitung jumlahnya.

 

Theo mengerahkan seluruh sihir yang dimilikinya untuk membakar habis para Chimera.

 

Ada banyak orang yang mempercayai sihir milik Theo tersebut.

 

Mungkin karena walaupun dia adalah seorang akademisi, dia dipanggil dengan berbagai macam julukan.

 

Dan para prajurit yang menjadi rekannya rela mengajukan diri untuk menjadi perisai.

 

Salah satu dari mereka gugur sambil tersenyum dan berkata, "Tolong titip anak perempuanku, ya."

 

Salah satu dari mereka tewas sambil menangis dan berkata, "Impianku adalah membuka toko di kota."

 

Banyak prajurit dari negaranya sendiri yang mempercayai Theo, terkadang mengajari Theo yang tidak terbiasa bertarung tentang cara bertempur, terkadang Theo yang mengajari mereka sihir, membangun hubungan saling percaya──dan pada akhirnya, tidak ada satu pun yang tersisa selain Theo, semuanya tewas.

 

Ujung-ujungnya, Theo hanyalah seorang akademisi yang hanya bisa bicara soal teori ideal, yang kebetulan memiliki kekuatan bernama sihir.

 

Meski begitu, Theo tetap berlari mengitari medan perang.

 

Demi mencari murid-muridnya.

 

Sambil membunuh prajurit musuh dan chimera dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada pihak kawan.

 

Sambil melumuri kedua tangan ini dengan darah dan dosa yang mutlak tidak akan pernah bisa dihapuskan.

 

Namun, ada batasnya bagi satu orang untuk menghadapi sebuah pasukan militer.

 

Dan begitulah akhirnya dia tertangkap oleh pria berkacamata sebelah ini.

 

"Sungguh membuat rindu ya. Aku sempat dibuat jantungan saat chimera-chimera berhargaku diledakkan olehmu. Seperti yang diduga dari Kingmaker."

 

"…………"

 

"Bisakah kamu memberikan reaksi sekarang? Aku merasa kesepian sampai-sampai rasanya ingin menangis……"

 

Pria berkacamata sebelah itu berpose sedih yang dibuat-buat.

 

"……Berapa kali pun kamu datang ke sini, aku tidak berniat untuk membicarakan tentang murid-muridku kepada kalian."

 

"Oh, rupanya yang membuatmu penasaran tetap hal itu, ya?"

 

Dengan wajah gembira, pria itu mengangkat sebelah sudut bibirnya.

 

"Yah, mungkin ini memang salahku. Hari demi hari, yang kutanyakan selalu tentang murid terakhirmu, Karina Rudbeckia. Wajar saja kalau Theo-kun menjadi merajuk seperti itu."

 

Karina Rudbeckia.

 

Murid terakhir Theo yang masih bertahan hidup sampai sekarang.

 

Tepat seperti perkataan pria berkacamata sebelah itu, selama ini Theo terus-menerus diinterogasi hanya demi menggali informasi mengenai Karina.

 

"Salah satu dari Lima Pahlawan, dan Titisan Holy Lily. Kami pun tidak punya pilihan selain waspada terhadap muridmu yang sampai dinilai setinggi itu. Kenyataannya, kerugian pada pasukan militer kami sudah sangat besar. Theo-kun, tahukah kamu sudah berapa banyak chimera yang dihancurkan olehnya?"

 

Entah apa yang lucu, pria berkacamata sebelah itu tiba-tiba terkekeh pelan.

 

"Seratus ribu, lho, seratus ribu. Dialah monster yang sebenarnya. Sosok seperti itulah yang dinamakan makhluk yang dipilih oleh Tuhan."

 

"…………"

 

"Tapi, sayang sekali. Kedatanganku hari ini bukan untuk mengorek informasi tentangnya. ──Hei, bawa dia keluar."

 

"Hah?"

 

Nada suara pria berkacamata sebelah itu mendadak berubah drastis, dan prajurit yang berjaga di sampingnya langsung memaksa Theo untuk berdiri lalu menyeretnya keluar dari sel tahanan.

 

"……He-hei. Apa…… maksudnya ini!"

 

"Ada dua informasi yang kuinginkan dari Theo-kun. Pertama, sudah pasti informasi tentang Karina Rudbeckia. Kedua, informasi rahasia mengenai teori sihir yang kamu ciptakan. Yah, sejak awal aku memang tidak berharap banyak pada poin kedua. Hanya saja, sekarang poin pertama pun sudah tidak diperlukan lagi."

 

"Apa yang kamu bicara──"

 

──kan.

Theo hendak melontarkan kalimat itu, tetapi dia tidak mampu merangkai kata-katanya sampai akhir.

 

Karena saat dia diseret oleh para prajurit, dibawa keluar dari sel tahanan dan melangkah keluar dari gedung──dia baru menyadari bahwa ada kerumunan orang dalam jumlah besar yang mengepung tempat itu dan berteriak dengan penuh histeria.

 

UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!

 

Sorak-sorai yang teramat gemuruh hingga membuat tanah berguncang.

 

Tidak, itu adalah suara kebencian yang mendalam.

 

Tempat Theo ditawan adalah sel tahanan di dalam kastel yang terletak di sekitar perbatasan antara negaranya sendiri dan Leiwelt. Dia diseret hingga ke balkon kastel tersebut, lalu dipaksa berdiri tegak.

 

Dari balkon, terlihat pemandangan alun-alun besar.

 

Pasukan militer Leiwelt tampak memenuhi tempat itu hingga nyaris tidak ada celah.

 

Meski tidak dapat menangkap setiap perkataan mereka satu per satu, tetapi Theo dapat membaca luapan rasa dendam yang teramat sangat dari ekspresi wajah mereka yang mengerikan.

 

Bom suara yang teramat masif itu seketika membuat Theo mual dan hampir muntah.

 

Namun, dia tidak boleh memperlihatkan sosok yang mengenaskan di

hadapan musuh.

 

"──Hadirin sekalian!"

 

Seolah membelah gelombang tsunami suara tersebut, pria berkacamata sebelah itu meninggikan suaranya.

 

Dia pasti sedang menggunakan suatu sihir.

 

Sebab meskipun suara kebencian diteriakkan secara bersahut-sahutan dengan volume yang menggelegar, suara pria berkacamata sebelah itu tetap terdengar dengan jelas lantang.

 

"Bahkan sebelum perang ini dimulai, kita semua telah lama menderita akibat perbuatan mereka! Khususnya, kalian pasti masih ingat betul tentang Lima Iblis yang dipimpin oleh Karina Rudbeckia!

Merekalah yang telah menghancurkan kota kita, melepaskan chimera, dan menyulut peperangan! Begitu kita berhasil menguasai teknik untuk menjinakkan chimera berkat kerja keras kita yang tiada henti, kali ini mereka malah membakar habis warga sipil di berbagai kota!"

Apa yang──sedang dia bicarakan?

 

Theo tidak dapat memahami perkataan pria berkacamata sebelah itu, dan hanya bisa meluapkan suaranya di dalam batin.

 

Bukankah yang melepaskan chimera dan yang menyulut peperangan itu adalah kalian semua?

 

Lalu, kenapa sekarang malah seolah-olah Theo dan yang lainnya yang memulai semua ini?

 

"-!"

 

Theo berusaha meninggikan suaranya untuk membantah, tetapi dia hanya bisa menganga tanpa ada suara sedikit pun yang keluar.

 

Seakan sudah bisa menebak hal itu, pria berkacamata sebelah itu melirik

ke bawah ke arahnya.

 

Pria itu mengedipkan sebelah matanya secara kilat, lalu menggerakkan bibir. Memang tidak terdengar sebagai suara, tetapi hanya dengan membaca gerakan bibir itu, Theo tahu persis apa yang dikatakannya.

 

──Diamlah.

 

Keparat ini──keparat ini!!!

 

Pria itu pasti menggunakan sihir untuk merebut suara Theo. Berapa kali pun dia mencoba mengeluarkan suara, jeritannya bahkan tidak sampai ke telinganya sendiri. Secara fisik kedua lengan dan kakinya dibelenggu oleh logam, dan sihirnya pun telah disegel. Tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukannya untuk melawannya.

 

Di saat Theo sedang berjuang mati-matian untuk memberontak, pria berkacamata sebelah itu terus melanjutkan pidatonya.

 

"Tapi, sekarang kalian boleh tenang! Benih kecemasan telah disingkirkan!"

 

"Sebab, satu-satunya yang tersisa dari Lima Iblis──Karina Rudbeckia, telah berhasil kita tumpas! Hadirin sekalian, kita sudah melangkah sangat dekat menuju kemenangan!"

 

"──────"

 

Suara itu tidak mau keluar.

 

Namun, dia ingin meneriakkan bantahan dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.

 

Mana mungkin Karina tewas. Gadis yang bahkan dijuluki sebagai Titisan Holy Lily itu tidak mungkin mati semudah itu──

 

Akan tetapi.

 

Pria berkacamata sebelah itu dengan mudahnya menghancurkan secercah harapan yang berusaha dikumpulkan Theo di dalam dadanya, setelah dia mengeluarkan sebuah benda entah dari mana dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

 

"Meski begitu, mungkin ada di antara kalian yang tidak bisa percaya begitu saja bahwa Iblis Terburuk Karina Rudbeckia telah dikalahkan. Mengingat iblis itu memang sebuah ancaman yang teramat besar. Oleh karena itu, khusus untuk hadirin sekalian, akan kuperlihatkan buktinya."

 

"──Ini adalah kepala Karina Rudbeckia."

 

"────────"

 

Sudah berapa kali dirinya dibuat terperangah dalam waktu yang bahkan tidak sampai sepuluh menit ini?

 

Kepala yang diangkat tinggi-tinggi oleh pria berkacamata sebelah itu adalah kepala milik seorang gadis yang tampak polos.

 

Rambut emas yang semula membanggakan kilau indahnya kini tampak kusam akibat kotoran. Pada wajah yang bagaikan karya seni itu terukir beberapa luka, mungkin akibat berlari menembus berbagai medan perang.

 

Namun, tidak salah lagi.

 

Itu benar-benar kepala Karina, muridnya.

 

"UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

 

Sekali lagi sorak-sorai histeris meledak, dan bom suara langsung menghantam gendang telinga.

 

Atmosfer bergetar, tubuhnya ikut terguncang, dan Theo seketika muntah di tempat.

 

Karena tidak ada makanan yang masuk ke perutnya, hanya cairan asam lambung saja yang keluar, tetapi dia terus-menerus mual dan muntah tanpa henti.

 

Dia ingin menganggap ini semua sebagai mimpi. Sebuah mimpi buruk yang teramat pekat.

 

Namun, hal ini. Hantaman suara yang terus-menerus memukuli tubuhnya ini, terus menyampaikan bahwa semua ini adalah kenyataan──

 

"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu."

 

Dan di sana.

 

Di tengah sorak-sorai histeris yang terus menggema di alun-alun, pria berkacamata sebelah itu berbisik lirih tepat di telinga Theo.

Apakah pria ini sedang menggunakan sihir lagi?

 

Walau berupa bisikan pelan, suara pria itu terdengar dengan sangat jelas yang aneh.

 

"Menurutmu, bagaimana cara kami bisa membunuh Karina Rudbeckia? Gadis yang bahkan disebut-sebut sebagai Titisan Holy Lily itu."

 

"Kamu pasti tidak tahu, kan? Bukankah kamu juga merasa heran? Tapi, kenyataannya adalah sebuah cerita yang luar biasa konyol."

 

"Karina Rudbeckia itu, entah bagaimana, meski berada di medan perang, dia selalu berusaha sebisa mungkin untuk tidak membunuh manusia. Yah, walaupun begitu, dia tetap bisa mengatasinya berkat kekuatannya…… tapi terhadap orang yang terlalu naif seperti itu, selalu ada cara yang bisa dilakukan."

 

"Kami hanya perlu mengikatkan bom sihir pada prajurit dari negaramu sendiri, lalu mengirimkannya kembali. Tampaknya, bahkan Sang Holy Lily sekalipun tidak sanggup mengatasinya jika hal itu dilakukan kepada beberapa orang secara bersamaan. Akhir ceritanya benar-benar sangat konyol."

 

"Bukankah akhir hayat dari gadis yang bahkan disebut sebagai Mahakarya Umat Manusia itu terasa sangat tragis? Sungguh malang sekali. Ah, bukan, maksudku bukan akhir hayat gadis itu."

 

"──Melainkan fakta bahwa dia tidak diberkahi oleh seorang guru yang baik. Dia pasti diajar oleh seorang guru yang bodoh dan terlalu naif. Ah, sungguh malang sekali. Jika gurunya waras, dia pasti──tidak, kelima pahlawan itu pasti semuanya masih hidup sekarang."

 

"Kamu pasti sudah paham, kan? Alasan mereka semua tewas adalah karena salahmu. Theo Proteus-kun."

 

"──, ──, ──────────!!!"

 

Raungan tanpa kata lolos dari tenggorokannya.

 

Dia ingin membunuh pria di hadapannya ini. Dia ingin menghancurkannya hingga lumat dan menginjak-injaknya. Dan yang terpenting, tepat seperti perkataan pria berkacamata sebelah itu, dia ingin membunuh dirinya sendiri yang telah menjadi penyebab kematian gadis-gadis itu.

 

Namun, pada kenyataannya dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, bahkan tidak bisa meninggikan suaranya.

 

Melihat sosok Theo yang seperti itu──

 

"Ahya, ahyahyahya, hyahahahahahahahahahahahahahahahaha, ahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha──!!!"

 

Entah apa yang lucu, pria berkacamata sebelah itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Menatap Theo yang sesaat lupa untuk berteriak dan tertegun karena terperangah, pria berkacamata sebelah itu menyeka air matanya dengan jari seolah merasa teramat terhibur.

 

"Ahya, hihik…… ah, bukan, maaf ya. Tapi, momen seperti inilah yang membuatku bersemangat untuk hidup. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aku memilih jalan peperangan ini demi bisa melihat banyak wajah seperti wajahmu saat ini. Dan di saat momen yang kunanti-nanti itu akhirnya tiba, ternyata wajahmu benar-benar melampaui ekspektasiku. Berapa kali pun aku melihatnya──ahya, ahyahya, hihihihihihi!"

 

"Kamu…… sebenarnya kamu ini siapa?!"

 

Apakah sihirnya sudah terlepas, suara Theo akhirnya berhasil keluar.

 

Pria berkacamata sebelah itu mengenakan pakaian yang sama sekali berbeda dari para prajurit di sekitarnya. Pada awalnya, Theo mengira pria itu mengenakan pakaian mewah yang berbeda karena dia adalah seorang bangsawan.

 

Namun, ada kemungkinan lain.

 

Yaitu, kemungkinan bahwa sejak awal dia tergolong dalam organisasi yang sama sekali berbeda dari negara tetangga.

 

Pria berkacamata sebelah itu menyunggingkan senyum di sebelah sudut bibirnya.

"Aku? Yah, karena kamu memang sudah hampir mati. Maka khusus untukmu, akan kuberitahu."

 

"Tepat seperti dugaanmu, aku bukan orang Leiwelt. Melainkan Gereja

Ortodoks. Kami adalah pencari Tuhan yang sejati, dengan menghalalkan segala cara──bahkan dengan menyulut peperangan sekalipun."

 

Ah.

 

Sebuah sensasi yang menyerupai intuisi langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat Theo menjadi yakin.

 

Bajingan ini orangnya. Tidak ada hubungannya dengan negaranya sendiri maupun Leiwelt. Yang melepaskan chimera, yang membuat mereka menyerang Leiwelt, dan kali ini menyerang negara Theo hingga menyulut peperangan adalah dia. Yang menciptakan pemicu hingga murid-murid Theo tewas adalah dia. Yang menjebak orang-orang baik dari kedua negara hingga berujung pada saling membenci adalah dia.

 

Bajingan ini──bajingan inilah yang menjadi akar dari segala petaka!

 

Pria berkacamata sebelah itu kembali menghadap ke arah alun-alun, lalu memanfaatkan sihir untuk mengeraskan suaranya sekali lagi.

 

"Hadirin sekalian! Hari ini adalah hari bersejarah atas ditumpasnya Karina Rudbeckia, tetapi hal yang patut dirayakan bukan hanya itu saja! Akan kuperkenalkan kepada kalian, inilah pendidik keji yang telah melahirkan lima iblis! Selama dia masih ada, iblis-iblis baru akan terus bermunculan tanpa henti! Oleh karena itu, mari kita akhiri semuanya di sini!"

 

"──Dialah sang Raja Iblis, Theo Proteus!"

 

Bom suara masif yang entah sudah keberapa kalinya kembali menghantam perawakan Theo.

 

Yang membedakannya dari yang tadi adalah, kali ini seluruh kebencian itu ditujukan tepat ke arah Theo.

 

Gara-gara dia. Karena dia ada. Matilah, rasakan balasannya, mati, mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati──!

 

Setelah dihujani suara dendam dari manusia yang tak terhitung jumlahnya, pada akhirnya sesuatu yang berharga di dalam diri Theo pun hancur.

 

"Ha, haha, hahaha, kah, haHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA──────────!!"

 

Semuanya terasa sangat konyol, hingga dia meledak dalam tawa yang keras.

 

Jika orang tidak tahu alasannya, jika orang tidak tahu apa-apa, sikap

Theo saat ini benar-benar persis seperti sesosok Raja Iblis yang keji.

"Ada pesan terakhir?"

 

"Akan kubunuh kalian."

 

Sambil menyeringai lebar, Theo melontarkan kalimat itu.

 

"Akan kubunuh kalian! Pasti akan kubunuh kalian! Hanya kamu yang mutlak tidak akan pernah kumaafkan!! Hanya kamu yang telah membunuh murid-muridku!!! Walau harus mati, walau harus menghalalkan segala cara, hanya kamu yang pasti akan──!!"

 

"Ahya, hyahahahaha! Luar biasa, luar biasa sekali! Theo Proteus! Aku sama sekali tidak berharap banyak, tapi ini adalah pertunjukan yang terbaik!"

 

Pria berkacamata sebelah itu berteriak menyahuti kalimat Theo sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

 

"Sangat cocok jika Raja Iblis yang keji tewas bukan oleh tangan kita, melainkan oleh karya buatan mereka sendiri! Benar begitu, kan?!"

 

Tepat pada saat pria itu berteriak, Theo menyadari bahwa di belakangnya telah berdiri sesosok Monster.

 

Seekor chimera yang sempat berkeliaran di medan perang. Makhluk itu, yang kini disebut-sebut sebagai ciptaan dari negara Theo, muncul di alun-alun untuk membunuh Theo.

Panjang total monster itu sekitar tiga meter. Jauh lebih raksasa daripada chimera yang ada di medan perang.

 

Monster itu mengangkat lehernya, lalu mendekatkan wajahnya untuk menatap ke bawah ke arah Theo.

 

Bersamaan dengan mulutnya yang terbuka, sebuah napas hangat berembus menerpa Theo, dan taring-taring raksasa pun langsung mendekat.

 

Tidak ada waktu untuk melawan.

 

Lebih cepat daripada kecepatan Theo untuk mengerang, monster itu langsung menelannya.

 

Pada sekelumit instan itu, mungkin hanya salah dengar saja, tetapi dia merasa seperti mendengar sebuah suara.

 

……■■se■, ■■■te…………

 

Kalimat itulah suara terakhir yang didengar Theo di penghujung hidupnya.

 

Tepat setelah itu, Theo Proteus pun tewas.

 

──Seharusnya begitu.

 

"…………?"

Pada awalnya, Theo tidak dapat mengenali informasi yang ditangkap oleh panca inderanya secara akurat.

 

Angin musim semi yang nyaman membelai pipinya. Suara deris daun-daun pepohonan yang bergoyang akibat embusan angin menggetarkan gendang telinganya, dan aroma manis bunga menggelitik hidungnya.




Dan, yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sebuah papan besar berwarna hijau tua kehitaman.

 

Terlambat beberapa detik, Theo baru menyadari bahwa benda itu adalah sebuah papan tulis.

 

Dia tampaknya baru saja selesai menuliskan namanya sendiri. Tulisan

Theo Proteus terukir di sana, benar-benar dalam gaya tulisan tangannya sendiri. Saat menurunkan pandangan, tangan pribadinya tampak sedang menggenggam sebatang kapur putih yang ujungnya sudah sedikit mengikis.

 

"Sensei, apakah ada masalah?"

 

Sebuah suara yang sangat akrab terdengar dari arah belakang.

 

Theo menoleh secara refleks, dan seketika itu juga dia langsung kehilangan kata-kata.

 

Tentu saja, salah satu alasannya adalah karena apa yang tertangkap oleh matanya bukanlah medan perang, melainkan sebuah ruang kelas.

Namun, yang jauh lebih mengejutkan daripada hal itu adalah,

 

"……Karina?"

 

Gadis bagaikan Holy Lily yang memancarkan perpaduan aura antara prajurit veteran dan penganut agama yang taat.

Sosok gadis itulah yang kini sedang duduk dengan manis di bagian tengah ruang kelas.

 

Wajah Karina terlihat beberapa tahun lebih muda daripada yang ada di dalam ingatan Theo.

 

Benar-benar seperti terlahir kembali menjadi muda.

 

Namun, bukan hanya dia seorang.

 

Di dalam ruang kelas tersebut, di samping Karina, tampak empat orang murid perempuan lainnya juga sedang duduk di kursi mereka.

 

Rambut merah yang menyala bagaikan api. Dengan mata yang sedikit terangkat tajam serta posisi bersedekap seolah hendak mendekap dadanya yang besar, penampilannya entah mengapa memberikan kesan agak angkuh. Dia adalah putri dari empat keluarga bangsawan agung

Lumiere──Isabella Lumiere.

 

Rambut poni berwarna seputih es yang dibiarkan memanjang hingga menyembunyikan wajahnya. Gadis itu tampak sedang mencuri-curi pandang ke arah sini dengan sikap gelisah. Memiliki fitur wajah yang teramat cantik bagaikan sebuah boneka, serta sepasang tanduk yang tumbuh di atas kepalanya──Xue Amaryllis.

 

Rambut berwarna merah muda yang ditata dalam gaya konde dua di atas kepala. Seragam sekolahnya dihiasi dengan banyak sekali renda, menampilkan gaya busana yang manis dan anggun. Di sisi lain, dia tampak sedang menatap ke luar jendela kelas dengan sikap tidak acuh.

 

Dia adalah Putri Ketujuh dari kerajaan ini──Momo Sanctia.

 

Rambut putih keemasan yang seolah telah menyerap pancaran sinar matahari. Sambil menyunggingkan senyum lebar yang konyol dengan air liur yang menetes dari sudut bibirnya, gadis yang tampak teramat polos itu sedang tertidur lelap sambil menelungkupkan tubuhnya di atas meja──Iris.

 

Dan yang terakhir, gadis dengan rambut emas berkilau yang memiliki kecantikan bagaikan patung dewi. Seorang gadis berbakat yang memadukan kecantikan dan kecerdasan, serta memiliki kekuatan sekaligus sisi spiritual layaknya seorang Holy Lily──Karina Rudbeckia.

 

Kelima murid Theo yang seharusnya telah tewas kini semuanya berkumpul di dalam ruang kelas.

 

Di saat yang bersamaan, sebuah kilatan ingatan, atau mungkin sesuatu yang menyerupai keyakinan, mendadak melintas di dalam benaknya.

 

Yaitu, fakta bahwa dia pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.

 

Namun, hal seperti itu seharusnya tidak mungkin terjadi.

 

Sebab, ini adalah hari pertama di saat Theo baru menerima tugas untuk mengampu kelas mereka.

Ini adalah pemandangan pada hari upacara pembukaan sekolah, waktu di saat dirinya telah melompat mundur kembali ke masa empat tahun yang lalu.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close