NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Afterword + Bonus Story

Kata Penutup


Saya yakin sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dari Anda yang memegang buku ini baru pertama kali melihat nama saya. Untuk sisa nol koma sekian persen pembaca yang teramat langka, sudah lama ya tidak berjumpa. Nama saya Shinomiya Yuu

 

Hubungannya sepertinya tidak ada yang tahu tentang saya, izinkan saya memperkenalkan diri sedikit.

 

Awalnya saya debut di bawah Fantasia Bunko, lalu sempat menulis cerita fantasi? atau komedi romantis, menggarap proyek novelisasi, menulis naskah drama audio, hingga diajak bekerja sama untuk menggarap skenario game oleh salah satu perusahaan game tertentu. Tanpa disadari, ternyata delapan tahun sudah berlalu begitu saja.

 

Kalau ditulis begini, kesannya proyek saya kelihatan banyak dan luas sekali ya. Tapi realitasnya, saya hanya merilis sekitar satu karya per tahun, jadi aslinya saya ini sangat sepi pekerjaan. Kalau dipikir-pikir secara dingin, aneh juga ya kenapa saya masih bisa bertahan hidup di tepian industri penerbitan sampai sekarang. Tolong beri saya pekerjaan, dong.

 

Nah, berhubung sedang sepi pekerjaan dan hanya bisa menulis di Kakuyomu, tahu-tahu kali ini pihak Dengeki Bunko datang menghubungi saya, hingga akhirnya karya ini bisa sukses diterbitkan dalam bentuk cetak.

 

Terima kasih banyak, Dengeki Bunko!

 

Saya cinta mati dengan Dengeki Bunko!

 

Mulai hari ini, baik jiwa maupun raga saya akan sepenuhnya pindah haluan ke Dengeki Bunko, dan saya akan berjuang keras sebagai prajurit garis depan di sini.

 

Selain itu, bersamaan dengan versi cetak novel ini, proyek adaptasi komik juga sedang berjalan, lho.

 

Begitu informasinya sudah diizinkan untuk dipublikasikan secara resmi, saya akan langsung membagikan banyak hal kepada Anda semua.

 

Berikutnya, bagian ucapan terima kasih.

 

Pertama-tama untuk Tomozero-sensei. Setiap kali menerima kiriman ilustrasi dari Anda, saya selalu dibuat takjub setengah mati. Sebenarnya semua ilustrasinya menjadi favorit saya, tapi nomor satu tetap Momo, sih. Kandungan nutrisi yang hanya bisa didapatkan dari karakter gadis yang sadar kalau dirinya itu imut terlanjur tumpah ruah di ilustrasi itu, pokoknya yang terbaik! Terus ada lagi soal indahnya ilustrasi sampul, bentuk tanduk milik Xue, dan sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin saya bicarakan lagi. Tapi berhubung keterbatasan halaman cetak, jadi saya cukupkan sampai di sini dulu ya……

 

Selanjutnya, untuk kedua editor penanggung jawab saya. Terima kasih banyak atas segala bentuk kerja keras dan bantuan yang telah Anda berikan demi kelancaran karya ini.

 

Karena naskah cerita karya ini terlanjur dibuka bersamaan dengan plot skala besar, mohon bantuannya untuk terus mendampingi saya ke depannya, agar saya sanggup mengantarkan cerita ini sampai ke babak akhir dengan selamat.

 

Kemudian, untuk semua pihak yang sudah bersedia memberikan bantuan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam urusan pekerjaan saya.

 

Saya tahu saya ini hanya bisa merepotkan kalian saja selama ini, tapi ke depannya mohon bantuannya lagi ya.

 

Dan sebagai penutup, rasa terima kasih yang teramat masif ingin saya persembahkan kepada seluruh pembaca yang sudah bersedia membeli buku ini.

 

Akhir kata, semoga karya ini bisa terus tersimpan di salah satu sudut ingatan Anda semua.

 

Shinomiya Yuu

“​"Kelas Sang Raja Iblis: Guru Putaran Kedua Tidak Akan Membiarkan Muridnya Mati Lagi" Cerita Pendek Spesial Eksklusif BOOK☆WALKER”


 Ini adalah ingatan dari "Putaran Pertama".

 

Sebuah memori dari masa-masa penuh kebahagiaan, yang kini sudah tidak akan pernah bisa kembali lagi.

 

---

 

"Ah, Sensei."

 

Lily Garden. Sepulang sekolah.

 

Tepat di saat Theo sedang melangkah di sepanjang koridor sambil mendekap buku dalam jumlah masif, dia mendadak berpapasan dengan seorang gadis yang baru saja hendak melangkah keluar dari dalam gedung sekolah.

 

Seorang gadis yang dibekali oleh paras cantik menyerupai sebuah patung dewi serta rambut pirang yang berkilau indah──Karina.

 

Begitu berhasil menemukan sosok Theo, Karina langsung merekah kan sebuah senyuman manis seraya bergegas berlari mendekat dengan raut wajah yang gembira.

 

"Apakah setelah ini Sensei berniat untuk menyiapkan agenda pelajaran untuk besok?"

 

"Ya, begitulah…… lalu bagaimana denganmu, Karina?"

 

"Saya berniat menjalankan rutinitas harian untuk menyusuri area perbatasan luar. Karena dengan melatih fisik, jalannya pertempuran sihir juga dipastikan akan menjadi sedikit lebih menguntungkan."

 

Karina memamerkan dadanya secara tegap.

 

Pakaian yang dikenakannya saat ini mutlak bukan merupakan seragam sekolah yang biasa digunakannya, melainkan sebidang setelan baju yang tampak teramat mudah untuk digunakan bergerak aktif.

 

Karena itulah dia sengaja melayangkan pertanyaan, dan sesuai dugaan, jawaban semacam itulah yang kembali dilontarkan dari mulut Karina.

 

Namun.

 

"……Ha-hari ini sedang ada badai, lho?"

 

Tepat di saat Theo mengarahkan pandangannya menuju ke arah luar gedung sekolah, deru hantaman hujan yang teramat lebat tampak sedang memukuli permukaan kaca jendela secara brutal.

 

Normalnya pemandangan hamparan taman yang tertata rapi seharusnya akan bisa terlihat jelas dari titik ini, tetapi saat ini seisi tempat terlanjur kuyup ditelan oleh amukan hujan lebat, membuat jajaran bunga di luar sana tampak hampir menempel erat dengan permukaan tanah akibat dihempas oleh tiupan angin kencang. Ranting-ranting pepohonan bergoyang hebat, dan jajaran kelopak bunga yang berguguran tampak melekat erat di atas permukaan jalanan batu yang basah.

 

Di sisi lain, setelah melemparkan tatapan mata ke arah pemandangan badai di luar sekejap, Karina justru memiringkan kepalanya secara heran.

 

"……Ya, benar. Lalu apakah ada masalah dengan hal itu?"

 

"Eh, tu-tunggu sebentar. Ini badai, lho? Jika kamu nekat berlari di bawah kondisi cuaca seperti ini, kamu bisa saja terluka……"

 

"Tidak apa-apa, kalau murni hanya urusan ketahanan fisik, tubuh saya ini terhitung sangat kuat, kok."

 

"Tidak, tapi petir juga sedang menyambar di luar sana. Kamu bisa saja tersambar petir──"

 

"Tidak apa-apa, kalau murni hanya urusan ketahanan fisik, tubuh saya ini terhitung sangat kuat, kok."

 

Mana mungkin urusannya bisa semudah itu.

 

Theo secara refleks melayangkan protes di dalam lubuk hatinya, tetapi Karina tampaknya memang benar-benar memikirkan hal tersebut secara serius dari lubuk hatinya.

 

Karina mengulas sebuah senyuman simpul yang lembut.

 

"Terima kasih banyak karena sudah bersedia mencemaskan diri saya. Namun, saya tidak boleh membiarkan diri saya beristirahat murni hanya karena urusan sepele semacam ini."

 

Sambil berucap demikian, Karina memusatkan pandangan matanya menuju ke arah luar jendela.

 

Sepasang mata miliknya seolah sedang menatap ke arah hamparan taman, namun di saat yang sama juga terkesan sedang menatap ke arah suatu tempat yang teramat jauh di luar sana.

 

"Bagi seseorang yang menyandang status sebagai rakyat jelata seperti saya, bisa diizinkan untuk menorehkan nama di Lily Garden ini sudah terasa menyerupai sebuah mimpi. Namun realitasnya, saya saat ini masih merupakan seorang amatir yang bahkan tidak bisa menggunakan sihir dengan becus. Saya sama sekali tidak memiliki kelonggaran waktu untuk beristirahat."

 

Nada suara yang dilontarkan oleh Karina terdengar seolah dia sedang berusaha untuk menegaskan hal tersebut kepada dirinya sendiri.

 

Dia dipastikan mempercayai hal tersebut dari lubuk hatinya yang paling dalam.

 

Meskipun demikian,

 

"Keningratan berpikir bahwa Karina saat ini sudah berjuang dengan teramat keras hingga lebih dari cukup, lho."

 

Sebagai seorang guru wali kelas, hal ini merupakan sebuah kebenaran yang wajib disampaikannya. Tepat di saat pikiran tersebut terlintas, Theo sudah menyuarakannya secara alami dari mulutnya begitu saja.

 

Karina memalingkan wajahnya ke arah sini seraya membelalakkan matanya dengan teramat lebar.

 

Kepada gadis yang seperti itu, Theo memposisikan tubuhnya agar saling berhadapan secara lurus dari arah depan seraya merangkai kata bersamaan dengan nada suara yang tulus.

 

"Di antara jajaran orang yang kukenal selama ini, mutlak tidak ada satu pun orang yang bersikap teramat keras terhadap dirinya sendiri melebihi dirimu, Karina. Jangankan konsisten melatih fisik setiap hari, kamu bahkan tidak pernah melewatkan agenda latihan sihirmu walau hanya untuk satu hari saja, kan?"

 

Sejak pertama kali Theo mengemban jabatan sebagai guru di Taman Ketujuh, Karina tercatat tidak pernah mengambil izin absen walau hanya sekali pun.

 

Mengenai seberapa luar biasa nilai dari pencapaian tersebut, Theo mengetahuinya dengan sangat jelas.

 

"Ditambah lagi, kamu terus melanjutkannya secara wajar layaknya sebuah rutinitas biasa tanpa pernah menyombongkan keahlian tersebut kepada siapa pun. Walau kamu dipastikan akan memilih untuk merendah, sosok pekerja keras yang selevel dengan dirimu ini mutlak tidak akan bisa ditemukan dengan mudah, lho. Saat ini hasil dari jerih payah latihanmu memang mungkin masih belum kunjung menampakkan wujudnya secara nyata, tetapi jika itu adalah Karina, suatu saat nanti kamu pasti akan bisa menjadi seorang Saintessyang sesungguhnya──"

 

"Mo-mohon tunggu sebentar. Ja-jangan melayangkan pujian yang terlampau berlebihan seperti itu!"

 

"Eh?"

 

Saat dia memusatkan pandangannya, kedua pipi Karina terlanjur memerah padam secara sempurna.

 

Bibirnya tampak bergerak-gerak secara tidak beraturan, membuatnya terlihat seolah sedang berusaha keras untuk menahan luapan rasa senang yang hampir tumpah dari dalam dadanya.

 

Namun, apakah karena dia terlanjur mengerahkan seluruh tenaganya secara terlampau ekstrem, entah mengapa wajahnya justru terlihat seolah sedang marah, apakah hal itu hanya sebatas ilusi optik miliknya saja?

 

"A-aku bisa memahami kalau Sensei memang benar-benar memikirkan hal tersebut secara serius berdasarkan rentetan pengalaman kita selama ini. Ka-karena itulah, mohon jangan melayangkan pujian dengan semudah itu."

 

"Eh, kenapa aku malah berakhir dimarahi di sini……?"

 

"La-lalu, mohon hentikan tindakan semacam itu kepada anak-anak yang lain juga. A-aku mungkin masih memiliki kapasitas untuk menahannya, tetapi jika kamu melakukannya kepada anak-anak yang lain, hal itu dipastikan akan bisa merusak tatanan moral kelas nanti……"

 

Karina terus menggumamkan rentetan kalimat yang tidak jelas secara bertubi-tubi pada dirinya sendiri.

 

Di saat Theo sedang dilingkupi oleh rasa bingung, Karina yang wajahnya masih memerah padam tampak bergegas mengangkat wajahnya kembali.

 

"Mohon berikan perhatian yang lebih mulai sekarang. Sebab untaian kata yang dilontarkan oleh Sensei memegang andil pengaruh yang jauh lebih besar bagi kami semua jika dibandingkan dengan apa yang kamu perkirakan sendiri, lho. Walau untuk kasus diriku sendiri sih tidak apa-apa."

 

"──Oleh karena itu, tindakan melayangkan pujian dengan semudah itu, mohon khususkan untuk diriku seorang saja ya.”



Previous Chapter | ToC

0

Post a Comment

close