Kata Penutup
Saya yakin sembilan puluh sembilan koma
sembilan persen dari Anda yang memegang buku ini baru pertama kali melihat nama
saya. Untuk sisa nol koma sekian persen pembaca yang teramat langka, sudah lama
ya tidak berjumpa. Nama saya Shinomiya Yuu
Hubungannya sepertinya tidak ada yang
tahu tentang saya, izinkan saya memperkenalkan diri sedikit.
Awalnya saya debut di bawah Fantasia
Bunko, lalu sempat menulis cerita fantasi? atau komedi romantis, menggarap
proyek novelisasi, menulis naskah drama audio, hingga diajak bekerja sama untuk
menggarap skenario game oleh salah satu perusahaan game tertentu. Tanpa
disadari, ternyata delapan tahun sudah berlalu begitu saja.
Kalau ditulis begini, kesannya proyek
saya kelihatan banyak dan luas sekali ya. Tapi realitasnya, saya hanya merilis
sekitar satu karya per tahun, jadi aslinya saya ini sangat sepi pekerjaan.
Kalau dipikir-pikir secara dingin, aneh juga ya kenapa saya masih bisa bertahan
hidup di tepian industri penerbitan sampai sekarang. Tolong beri saya
pekerjaan, dong.
Nah, berhubung sedang sepi pekerjaan dan
hanya bisa menulis di Kakuyomu, tahu-tahu kali ini pihak Dengeki Bunko datang
menghubungi saya, hingga akhirnya karya ini bisa sukses diterbitkan dalam
bentuk cetak.
Terima kasih banyak, Dengeki Bunko!
Saya cinta mati dengan Dengeki Bunko!
Mulai hari ini, baik jiwa maupun raga
saya akan sepenuhnya pindah haluan ke Dengeki Bunko, dan saya akan berjuang
keras sebagai prajurit garis depan di sini.
Selain itu, bersamaan dengan versi cetak
novel ini, proyek adaptasi komik juga sedang berjalan, lho.
Begitu informasinya sudah diizinkan untuk
dipublikasikan secara resmi, saya akan langsung membagikan banyak hal kepada
Anda semua.
Berikutnya, bagian ucapan terima kasih.
Pertama-tama untuk Tomozero-sensei.
Setiap kali menerima kiriman ilustrasi dari Anda, saya selalu dibuat takjub
setengah mati. Sebenarnya semua ilustrasinya menjadi favorit saya, tapi nomor
satu tetap Momo, sih. Kandungan nutrisi yang hanya bisa didapatkan dari
karakter gadis yang sadar kalau dirinya itu imut terlanjur tumpah ruah di
ilustrasi itu, pokoknya yang terbaik! Terus ada lagi soal indahnya ilustrasi
sampul, bentuk tanduk milik Xue, dan sebenarnya ada banyak sekali hal yang
ingin saya bicarakan lagi. Tapi berhubung keterbatasan halaman cetak, jadi saya
cukupkan sampai di sini dulu ya……
Selanjutnya, untuk kedua editor
penanggung jawab saya. Terima kasih banyak atas segala bentuk kerja keras dan
bantuan yang telah Anda berikan demi kelancaran karya ini.
Karena naskah cerita karya ini terlanjur
dibuka bersamaan dengan plot skala besar, mohon bantuannya untuk terus
mendampingi saya ke depannya, agar saya sanggup mengantarkan cerita ini sampai
ke babak akhir dengan selamat.
Kemudian, untuk semua pihak yang sudah
bersedia memberikan bantuan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam
urusan pekerjaan saya.
Saya tahu saya ini hanya bisa merepotkan
kalian saja selama ini, tapi ke depannya mohon bantuannya lagi ya.
Dan sebagai penutup, rasa terima kasih
yang teramat masif ingin saya persembahkan kepada seluruh pembaca yang sudah
bersedia membeli buku ini.
Akhir kata, semoga karya ini bisa terus
tersimpan di salah satu sudut ingatan Anda semua.
Shinomiya Yuu
“"Kelas
Sang Raja Iblis: Guru Putaran Kedua Tidak Akan Membiarkan Muridnya Mati
Lagi" Cerita Pendek Spesial Eksklusif BOOK☆WALKER”
Ini adalah ingatan dari "Putaran
Pertama".
Sebuah memori dari masa-masa penuh
kebahagiaan, yang kini sudah tidak akan pernah bisa kembali lagi.
---
"Ah, Sensei."
Lily Garden. Sepulang sekolah.
Tepat di saat Theo sedang melangkah di
sepanjang koridor sambil mendekap buku dalam jumlah masif, dia mendadak
berpapasan dengan seorang gadis yang baru saja hendak melangkah keluar dari
dalam gedung sekolah.
Seorang
gadis yang dibekali oleh paras cantik menyerupai sebuah patung dewi serta
rambut pirang yang berkilau indah──Karina.
Begitu berhasil menemukan sosok Theo,
Karina langsung merekah kan sebuah senyuman manis seraya bergegas berlari
mendekat dengan raut wajah yang gembira.
"Apakah setelah ini Sensei berniat
untuk menyiapkan agenda pelajaran untuk besok?"
"Ya, begitulah…… lalu bagaimana
denganmu, Karina?"
"Saya berniat menjalankan rutinitas
harian untuk menyusuri area perbatasan luar. Karena dengan melatih fisik,
jalannya pertempuran sihir juga dipastikan akan menjadi sedikit lebih
menguntungkan."
Karina memamerkan dadanya secara tegap.
Pakaian yang dikenakannya saat ini mutlak
bukan merupakan seragam sekolah yang biasa digunakannya, melainkan sebidang
setelan baju yang tampak teramat mudah untuk digunakan bergerak aktif.
Karena itulah dia sengaja melayangkan
pertanyaan, dan sesuai dugaan, jawaban semacam itulah yang kembali dilontarkan
dari mulut Karina.
Namun.
"……Ha-hari ini sedang ada badai,
lho?"
Tepat di saat Theo mengarahkan
pandangannya menuju ke arah luar gedung sekolah, deru hantaman hujan yang
teramat lebat tampak sedang memukuli permukaan kaca jendela secara brutal.
Normalnya pemandangan hamparan taman yang
tertata rapi seharusnya akan bisa terlihat jelas dari titik ini, tetapi saat
ini seisi tempat terlanjur kuyup ditelan oleh amukan hujan lebat, membuat
jajaran bunga di luar sana tampak hampir menempel erat dengan permukaan tanah
akibat dihempas oleh tiupan angin kencang. Ranting-ranting pepohonan bergoyang
hebat, dan jajaran kelopak bunga yang berguguran tampak melekat erat di atas
permukaan jalanan batu yang basah.
Di sisi lain, setelah melemparkan tatapan
mata ke arah pemandangan badai di luar sekejap, Karina justru memiringkan
kepalanya secara heran.
"……Ya, benar. Lalu apakah ada
masalah dengan hal itu?"
"Eh, tu-tunggu sebentar. Ini badai,
lho? Jika kamu nekat berlari di bawah kondisi cuaca seperti ini, kamu bisa saja
terluka……"
"Tidak apa-apa, kalau murni hanya
urusan ketahanan fisik, tubuh saya ini terhitung sangat kuat, kok."
"Tidak,
tapi petir juga sedang menyambar di luar sana. Kamu bisa saja tersambar
petir──"
"Tidak apa-apa, kalau murni hanya
urusan ketahanan fisik, tubuh saya ini terhitung sangat kuat, kok."
Mana mungkin urusannya bisa semudah itu.
Theo secara refleks melayangkan protes di
dalam lubuk hatinya, tetapi Karina tampaknya memang benar-benar memikirkan hal
tersebut secara serius dari lubuk hatinya.
Karina mengulas sebuah senyuman simpul
yang lembut.
"Terima kasih banyak karena sudah
bersedia mencemaskan diri saya. Namun, saya tidak boleh membiarkan diri saya
beristirahat murni hanya karena urusan sepele semacam ini."
Sambil berucap demikian, Karina
memusatkan pandangan matanya menuju ke arah luar jendela.
Sepasang mata miliknya seolah sedang
menatap ke arah hamparan taman, namun di saat yang sama juga terkesan sedang
menatap ke arah suatu tempat yang teramat jauh di luar sana.
"Bagi seseorang yang menyandang
status sebagai rakyat jelata seperti saya, bisa diizinkan untuk menorehkan nama
di Lily Garden ini sudah terasa menyerupai sebuah mimpi. Namun realitasnya,
saya saat ini masih merupakan seorang amatir yang bahkan tidak bisa menggunakan
sihir dengan becus. Saya sama sekali tidak memiliki kelonggaran waktu untuk
beristirahat."
Nada suara yang dilontarkan oleh Karina
terdengar seolah dia sedang berusaha untuk menegaskan hal tersebut kepada
dirinya sendiri.
Dia dipastikan mempercayai hal tersebut
dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Meskipun demikian,
"Keningratan berpikir bahwa Karina
saat ini sudah berjuang dengan teramat keras hingga lebih dari cukup,
lho."
Sebagai seorang guru wali kelas, hal ini
merupakan sebuah kebenaran yang wajib disampaikannya. Tepat di saat pikiran
tersebut terlintas, Theo sudah menyuarakannya secara alami dari mulutnya begitu
saja.
Karina memalingkan wajahnya ke arah sini
seraya membelalakkan matanya dengan teramat lebar.
Kepada gadis yang seperti itu, Theo
memposisikan tubuhnya agar saling berhadapan secara lurus dari arah depan
seraya merangkai kata bersamaan dengan nada suara yang tulus.
"Di antara jajaran orang yang
kukenal selama ini, mutlak tidak ada satu pun orang yang bersikap teramat keras
terhadap dirinya sendiri melebihi dirimu, Karina. Jangankan konsisten melatih
fisik setiap hari, kamu bahkan tidak pernah melewatkan agenda latihan sihirmu
walau hanya untuk satu hari saja, kan?"
Sejak pertama kali Theo mengemban jabatan
sebagai guru di Taman Ketujuh, Karina tercatat tidak pernah mengambil izin
absen walau hanya sekali pun.
Mengenai seberapa luar biasa nilai dari
pencapaian tersebut, Theo mengetahuinya dengan sangat jelas.
"Ditambah
lagi, kamu terus melanjutkannya secara wajar layaknya sebuah rutinitas biasa
tanpa pernah menyombongkan keahlian tersebut kepada siapa pun. Walau kamu
dipastikan akan memilih untuk merendah, sosok pekerja keras yang selevel dengan
dirimu ini mutlak tidak akan bisa ditemukan dengan mudah, lho. Saat ini hasil
dari jerih payah latihanmu memang mungkin masih belum kunjung menampakkan
wujudnya secara nyata, tetapi jika itu adalah Karina, suatu saat nanti kamu
pasti akan bisa menjadi seorang 《Saintess》
yang sesungguhnya──"
"Mo-mohon tunggu sebentar. Ja-jangan
melayangkan pujian yang terlampau berlebihan seperti itu!"
"Eh?"
Saat dia memusatkan pandangannya, kedua
pipi Karina terlanjur memerah padam secara sempurna.
Bibirnya tampak bergerak-gerak secara
tidak beraturan, membuatnya terlihat seolah sedang berusaha keras untuk menahan
luapan rasa senang yang hampir tumpah dari dalam dadanya.
Namun, apakah karena dia terlanjur
mengerahkan seluruh tenaganya secara terlampau ekstrem, entah mengapa wajahnya
justru terlihat seolah sedang marah, apakah hal itu hanya sebatas ilusi optik
miliknya saja?
"A-aku bisa memahami kalau Sensei
memang benar-benar memikirkan hal tersebut secara serius berdasarkan rentetan
pengalaman kita selama ini. Ka-karena itulah, mohon jangan melayangkan pujian
dengan semudah itu."
"Eh, kenapa aku malah berakhir
dimarahi di sini……?"
"La-lalu, mohon hentikan tindakan
semacam itu kepada anak-anak yang lain juga. A-aku mungkin masih memiliki
kapasitas untuk menahannya, tetapi jika kamu melakukannya kepada anak-anak yang
lain, hal itu dipastikan akan bisa merusak tatanan moral kelas nanti……"
Karina terus menggumamkan rentetan
kalimat yang tidak jelas secara bertubi-tubi pada dirinya sendiri.
Di saat Theo sedang dilingkupi oleh rasa
bingung, Karina yang wajahnya masih memerah padam tampak bergegas mengangkat
wajahnya kembali.
"Mohon berikan perhatian yang lebih
mulai sekarang. Sebab untaian kata yang dilontarkan oleh Sensei memegang andil
pengaruh yang jauh lebih besar bagi kami semua jika dibandingkan dengan apa
yang kamu perkirakan sendiri, lho. Walau untuk kasus diriku sendiri sih tidak
apa-apa."
"──Oleh
karena itu, tindakan melayangkan pujian dengan semudah itu, mohon khususkan
untuk diriku seorang saja ya.”



Post a Comment