Epilog
"Tidak disangka Theo-kun yang itu
bisa bertarung sampai sejauh itu ya~"
Puncak gunung yang menyuguhkan
pemandangan seisi kota Celeste.
Gedung Lily Garden tampak terlihat
sekecil biji kacang di bawah sana.
《Pria Misterius》
melepas kerudung hitamnya, menanggalkan topengnya, lalu mengekspos wajahnya ke
sekeliling.
Secara usia penampilan, dia terlihat
berada di kisaran empat puluh tahunan.
Sebuah paras wajah yang seolah menjadi
wadah instan bagi konsentrasi rasa licik, ketidakpedulian, serta kebusukan.
Meski bentuk wajahnya terhitung rapi,
senyuman tipis yang terpasang di wajahnya justru membuat dirinya tidak terlihat
berbeda dari seorang penipu. Dan satu fitur yang paling mencolok dari dirinya
adalah kacamata tunggal yang dikenakannya.
Pria
misterius──pria berkacamata tunggal itu bergumam pelan sambil menyentuh
dagunya.
"Tidak
disangka Ophelia-chan pun bisa ditumbangkan dengan semudah ini. Jika situasinya
demikian, tampaknya aku harus sedikit menyusun ulang strategi pertempuranku ya~
Aku sempat mengira memisahkan Taman Ketujuh dengan 《Queen》
Anemone Blackwood saja sudah lebih dari cukup…… tapi jika Theo-kun tidak ikut
dipisahkan, jalannya diskusi dipastikan tidak akan bisa berjalan."
Pria berkacamata tunggal memunggungi kota
Celeste, lalu mulai melangkah pergi.
Sambil terus menyunggingkan sebuah
senyuman tipis, namun memancarkan aura yang teramat jahat.
"Semakin berskala besar, maka
jalannya rencana dipastikan akan menjadi semakin baik. Jangankan membuat tangan
para guru tidak bisa menjangkaunya, hilangnya satu atau dua orang murid pun
dipastikan akan bisa dikubur tanpa kejelasan dengan sangat mudah~"
"──Kalau
begitu, mari kita picu meletusnya peperangan sekalian."
Sambil meluapkan sebuah tawa tipis yang
kejam, pria berkacamata tunggal itu meloloskan diri lenyap dari puncak gunung.
Mengenai ke mana langkah kakinya
bergerak, mutlak tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya selain dirinya
sendiri.
---
Satu minggu telah berlalu sejak insiden
serangan massal terhadap Lily Garden meletus.
Kondisi Lily Garden kini telah berhasil
memulihkan hari-hari biasa mereka secara total.
Saat Theo menatap ke bawah dari jendela
ruang persiapan pelajaran yang berada di lantai dua, para murid tampak sedang
menikmati obrolan mereka dengan ceria di atas hamparan rumput halaman sekolah.
Meskipun insiden serangan massal kemarin menyisakan beberapa murid yang
terluka, untuk saat ini atmosfer kedamaian yang nyata terlanjur menyelimuti
tempat tersebut.
Untuk kasus insiden kali ini, sama
seperti yang terjadi pada Putaran Pertama, Ophelia berakhir dijadikan sebagai
satu-satunya kambing hitam sumber dari seluruh malapetaka yang ada.
Fakta bahwa Theo melayangkan laporan yang
demikian memang memegang andil, tetapi keahlian dari Kepala Sekolah Anemone
Blackwood dalam mengendalikan situasi terhitung jauh lebih besar.
Berkat rekam jejaknya yang telah berhasil
melahirkan banyak murid berprestasi yang luar biasa di Kerajaan Sanctia,
Anemone memegang pengaruh yang teramat dominasi di dalam negeri ini.
Jika Anemone melayangkan klaim bahwa
Ophelia adalah pihak yang hitam, maka klaim tersebut dipastikan akan langsung
lolos secara mutlak.
Melalui hal tersebut, seluruh urusan
berhasil diselesaikan dengan sangat bersih secara persis layaknya Putaran
Pertama.
Bagi Theo pribadi, fakta bahwa hari
penyerangan Lily Garden bergeser satu hari lebih cepat, keterlibatan Ophelia
sebagai anggota Gereja Ortodoks, serta detik-detik kematian Ophelia merupakan
rentetan urusan yang berada di luar batas perkiraannya.
Secara khusus untuk poin kedua, itu
adalah sebuah informasi rahasia yang mutlak tidak berhasil didapatkannya pada
masa "Putaran Pertama" lalu.
Sebab pada Putaran Pertama, Theo berhasil
menyadari gerak-gerik mencurigakan dari Ophelia sejak tahap awal, lalu
membereskannya dengan cepat sebelum sempat melebar menjadi sebuah insiden
besar. Dampaknya tentu membuat tragedi penculikan Xue tidak pernah meletus
sejak awal.
Dan meski hari-hari biasa sudah berhasil
direbut kembali sesuai dengan ekspektasi miliki Theo, namun.
Hanya ada satu permasalahan saja yang
masih belum kunjung bisa diselesaikannya hingga saat ini.
"……Jadi apa hal yang ingin kamu
tanyakan?"
Tepat di saat Theo memalingkan tubuhnya
ke belakang, sesosok murid tampak sedang berdiri menghadap ke arahnya di dalam
ruang persiapan pelajaran yang remang-remang.
Paras cantik menyerupai sebuah patung
dewi. Rambut pirang yang berkilau indah. Meskipun dia menderita luka luar yang
parah pada insiden satu minggu lalu, kemungkinan besar berkat keberadaan Xue
yang ahli dalam sihir pemulih di arena pertempuran waktu itu, seluruh lukanya
saat ini sudah terlihat pulih secara total.
Gadis
tersebut──Karina Rudbeckia mengangkat pandangan matanya, lalu melayangkan
pertanyaan secara tenang.
"Sebenarnya, sejak di titik mana
segalanya mulai berjalan sesuai dengan rencana milik Sensei?"
Nada suara Karina terdengar sangat sunyi,
tetapi entah mengapa ada secercah amarah yang merembes di balik kalimatnya.
Di dalam ruang persiapan pelajaran saat
ini hanya menyisakan mereka berdua saja, Theo dan Karina.
Sebab sebelumnya Karina sempat meminta
waktu agar bisa menanyakan suatu hal secara berdua saja dengannya.
Namun mengenai apa urusan yang dibawa
oleh Karina, sebagian besar jalurnya sudah berhasil diprediksi oleh Theo sejak
awal.
"……Di saat Xue sedang dibawa pergi
diculik, Sensei terlihat sudah bisa menebak di mana lokasi keberadaannya secara
pasti."
Itu pasti merujuk pada momen di saat Theo
memimpin kelompok Karina menuju ke gubug persembunyian milik Ophelia waktu itu.
Di seberang kegelapan yang remang-remang,
Karina memasang ekspresi wajah yang teramat serius.
"Alasan kenapa hal selevel itu bisa
dilakukan murni karena sejak awal Sensei memang sengaja memasang familiar demi
mengawasi pergerakan Ophelia Gardener. Tapi jika situasinya demikian, Sensei
seharusnya juga sudah bisa mendeteksi fakta pengkhianatan miliknya sejak tahap
awal."
"Kalimatmu terkesan berputar-putar
tanpa arah. Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"
"Sebenarnya apa hal yang sedang kamu
sembunyikan dari kami?"
Ekspresi wajah Karina terlanjur kuyup
oleh keyakinan mutlak.
"Aku tidak percaya jika Sensei
sengaja membiarkan situasi memburuk tanpa adanya alasan yang jelas! Kamu pasti
memendam sebuah rencana tertentu, kan! Karena itulah kamu sengaja memilih diam
membiarkan seluruh insiden ini meletus sejak awal!"
"Walau asumsismu memang tepat, apa
kamu berpikir aku akan sudi menumpahkannya kepadamu?"
"……Ya. Karena itulah, izinkan aku
untuk menggunakan hak istimewa ini."
Karina mengeluarkan sebuah kartu hitam
dari balik seragam sekolahnya.
Benda itu merupakan kartu khusus yang
didapatkan berdasarkan peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo.
──*Sebagai
gantinya, bagi murid yang berhasil menduduki peringkat pertama akan diberikan
sebuah hak istimewa.*
──*Jangankan
pembebasan dari urusan tugas harian maupun tugas tambahan, aku bahkan bersedia
mewujudkan satu permohonan apa pun yang kalian inginkan.*
Sosok murid yang pertama kali berhasil
dinobatkan sebagai murid berprestasi adalah Karina.
Sambil menggenggam hak perintah mutlak
yang bahkan wajib dipatuhi oleh Theo sekalipun, Karina memberikan deklarasi.
"Kukatakan bahwa kartu ini telah
diselimuti oleh efek sihir tertentu. Namun bagi penyihir selevel Sensei,
menghancurkan efek tersebut dipastikan akan menjadi urusan yang mudah, dan
belum tentu pula kamu akan menuturkan kebenaran yang asli. Tapi, jika Sensei
memang merupakan sosok yang menghargai peraturan kelas yang dibuatnya sendiri,
mohon beritahu aku."
"──Sensei,
sebenarnya apa hal yang sedang kamu sembunyikan? Kenapa kamu sengaja memilih
diam melihat situasi memburuk sampai sejauh itu baru bertindak?!"
Sambil terus memusatkan sepasang matanya
secara lurus ke arah sini, Karina menyodorkan kartu hitam di tangannya.
Sesuai dengan perkiraannya, sihir sumpah
memang tertanam di dalam kartu ini, tetapi jika Theo berniat menyiapkan langkah
antisipasi sejak awal, menghancurkan efek sihirnya merupakan urusan yang
teramat mudah bagi dirinya.
Oleh karena itu, Theo sebenarnya tidak
memiliki urgensi untuk menuturkan kebenaran yang asli.
Namun mengenai tindakan apa yang harus
diambilnya jika alur cerita bergulir ke arah titik percabangan ini,
keputusannya sudah selesai ditentukan sejak awal.
"Sebab aku datang dari masa
depan."
Sepasang mata Karina seketika membelalak
dengan teramat lebar.
Dia tahu betul bahwa keputusan yang
diambilnya saat ini merupakan sebuah keputusan yang konyol.
Namun, secercah kelemahan terakhir yang
mendekam di dalam lubuk hatinya terlanjur tidak membiarkan dirinya untuk terus
menyembunyikan kebenaran di hadapan Karina.
"Aku mengetahui segala rentetan
tragedi yang akan pecah setelah ini. Di masa depan nanti, kalian semua
dipastikan akan tewas secara total. Oleh karena itu, aku memiliki urgensi untuk
memaksa kalian menjadi kuat secepat mungkin. Demi tujuan itulah aku sengaja
membiarkan situasi memburuk sejak awal. Murni untuk memberikan sebuah ujian
nyata bagi kalian."
"Bicara…… apa kamu, Sensei?"
"Karina, itulah kebenaran asli yang
teramat ingin kamu ketahui."
Theo memusatkan sepasang matanya secara
lurus menatap Karina.
Realitasnya, Karina justru memasang
ekspresi wajah yang dilingkupi oleh kebingungan yang teramat sangat.
Hingga akhirnya dia menundukkan pandangan
matanya, lalu melayangkan suara bersamaan dengan nada suara dingin yang teramat
jarang ditunjukkannya selama ini.
"……Aku merasa kecewa. Tidak disangka
Sensei akan melontarkan kebohongan sekonyol itu di hadapanku."
"……Begitu ya."
"Lalu, andai saja kalimat yang baru
saja disuarakan oleh Sensei memang merupakan sebuah kebenaran yang nyata, aku
tetap akan merasa kecewa kepada dirimu. Karena jika sesuai dengan ucapanmu……
itu artinya murni hanya demi menyelamatkan nyawa kami saja, kamu sengaja
mengabaikan tindakan Ophelia Gardener. Urusan semacam itu mutlak tidak akan
pernah bisa dimaafkan! Apa kamu tidak memikirkan ada berapa banyak orang yang
harus terluka akibat meletusnya insiden ini!"
Kalimat yang dilontarkan oleh Karina
merupakan sebuah kebenaran yang mutlak.
Tepat seperti yang dikatakannya. Seberapa
banyak pun orang yang harus menerima luka, atau bahkan harus berakhir dijadikan
sebagai kurban sekalipun, menyelamatkan nyawa para murid seperti Karina
merupakan jalan hidup yang telah dipilih secara mutlak oleh Theo Proteus di
dalam Putaran Kedua ini.
Dan dia sudah mengetahuinya sejak awal.
Di saat dia membulatkan tekad untuk menyelamatkan Karina dan yang lainnya
bahkan meski dirinya harus berakhir dijuluki sebagai seorang Raja Iblis
sekalipun, sosok Karina dipastikan akan bertindak sebagai batu sandungan
terbesar bagi rencananya.
Sebab Karina Rudbeckia adalah sosok
Saintess di masa depan. Sebuah wujud reinkarnasi dari Saintess Lily yang pada
kurun waktu seratus tahun lalu telah berhasil menyegel sosok Raja Iblis secara
mutlak.
Pihak yang memiliki kapasitas untuk
menghadang jalannya rencana milik sang Raja Iblis, mutlak tidak ada opsi lain
selain gadis di hadapannya ini.
"……Lain kali mohon beritahu aku
kebenaran yang asli ya, Sensei."
Sambil melangkahkan kakinya pergi keluar
dari dalam ruangan, Karina memalingkan kepalanya sesaat demi memperlihatkan
ekspresi wajah yang kuyup oleh rasa sedih.
"Sebab aku pasti akan bisa bertindak
menjadi kekuatan yang berguna bagi diri Sensei."
Paras wajah terakhir yang ditunjukkannya
sebelum menghilang adalah sebuah senyuman simpul yang dipenuhi rasa pilu.
---
"Anu…… Sensei, ada apa?"
Ruang kelas saat waktu pulang sekolah
tiba.
Di tengah pancaran cahaya mentari senja
yang menyelinap masuk ke dalam ruangan, Xue memiringkan kepalanya secara heran.
Wajah maupun tubuh milik Xue sama sekali
tidak menyisakan adanya luka luar yang berarti, penampilannya saat ini
benar-benar terlihat persis layaknya hari-hari biasa saja.
Sihir pemulih miliknya merupakan sebuah
teknik yang aktif menggunakan konversi dari energi kehidupan miliknya sendiri,
alhasil teknik itu mutlak tidak bisa digunakannya untuk mengobati luka di
tubuhnya sendiri. Meskipun demikian, murni karena fakta bahwa dirinya adalah
keturunan sedarah dari Raja Spirit, tingkat kecepatan pemulihan energi
kehidupan miliknya berada di tingkat yang tidak masuk akal. Walau tidak
dibekali efek instan, sebagian besar lukanya dipastikan sudah akan pulih total
murni hanya dengan melewati waktu satu malam saja.
Namun. Ada satu hal dari dirinya saat ini
yang mutlak tidak bisa dikategorikan sebagai hari-hari biasa saja.
"Ah~ Xue?"
"Ya…… ada apa, Sensei?"
"……Kenapa kamu menduduki area paha
milikku?"
Benar. Sosok tempat yang dijadikan
sebagai pijakan duduk bagi Xue saat ini tidak lain adalah paha milik Theo.
Di dalam ruang kelas hanya menyisakan
mereka berdua saja. Jumlah kursi kosong lain pun terhitung masih ada banyak di
sekeliling ruangan.
Meskipun ketentuannya demikian, Xue
justru tetap memilih untuk menduduki area paha milik Theo.
Secara postur tubuh, ukuran fisik Xue
memang tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan murid dari divisi sekolah
dasar.
Oleh karena itu, Theo hanya merasakan
sebuah bobot berat yang nyaman saja di pahanya.
Sambil memiringkan kepalanya dengan
polos, Xue memberikan jawaban.
"Habisnya…… berada di dekat Sensei
merupakan tempat yang paling membuatku merasa aman, lho. Apakah tidak
boleh?"
"……Bukannya tidak boleh, sih."
"Ah, ini khusus untuk Sensei saja,
lho? Sosok pria yang kuizinkan untuk memeluk tubuhku seperti ini."
Sebuah nada suara manis yang terdengar
terengah-engah berbisik tepat di dekat lubang telinganya.
Xue menempelkan jemarinya di atas bibir,
menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang teramat tidak selaras jika
dibandingkan dengan paras wajahnya yang masih polos belia.
Kerudung dari seragam sekolahnya tampak
sudah terlepas sejak entah kapan, mengekspos sepasang tanduk di kepalanya yang
biasanya selalu disembunyikannya rapat-rapat.
Pola sikapnya saat ini benar-benar persis
seolah ingin menegaskan bahwa khusus kepada Theo yang menjadi tempat bagi
kepercayaan mutlaknya saja, dia tidak keberatan untuk memperlihatkan seisi
rahasia dari dirinya secara total.
Jika harus jujur, dia tidak tahu
bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan gadis ini sekarang.
Namun, tingkat kepribadiannya saat ini
jelas sudah berubah total jika dibandingkan dengan sosoknya yang tertutup dan
pemalu pada masa lalu.
Tidak,
atau jika harus dikatakan secara lebih mendalam, seujung kepribadiannya
terlanjur mengalami distorsi hingga ke akarnya──
Tiba-tiba di sana.
Sambil menarik ujung lengan jubah milik
Theo secara perlahan, Xue menatap wajah pria itu dari arah bawah bersamaan
dengan sebuah senyuman simpul yang manis.
"Tapi Sensei, ternyata selama ini
kamu terus berada di sisiku demi menjagaku ya."
"Di sisiku?"
"Maksudku saat insiden penyerangan
waktu itu. Kamu terus menjagaku sejak awal, kan? Bahkan di saat kondisiku
sedang berada di titik paling kritis sekalipun. Baru saja kamu juga sempat
membicarakan hal itu bersama dengan Karina-san, kan?"
"-"
Mendengar kalimat yang dilontarkan dari
mulut Xue seketika membuat Theo menahan napasnya secara refleks.
Mengenai bagaimana bisa gadis ini
mengetahui informasi rahasia tersebut, tepat di saat dia berniat melayangkan
pertanyaan, pergerakan dari Xue justru terlanjur bergerak jauh lebih cepat.
Gadis itu mendadak merubah posisinya
menjadi berlutut tepat di atas paha Theo, memposisikan wajahnya agar saling
berhadapan secara langsung dari jarak dekat.
Sudut pandang mata yang setara.
Theo hampir mematukan tubuhnya karena
panik, tetapi begitu logikanya berhasil menemukan jawaban atas misteri
tersebut, dia segera membuka mulutnya.
"……Para spirit, ya. Kamu meminta
para spirit untuk membocorkan isi percakapanku bersama dengan Karina tadi,
kan?"
"Ya. Walau kejadiannya murni tidak
sengaja, sih. Tapi kamu tidak perlu cemas, Sensei. Karena aku paham betul kok,
kalau Sensei sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."
Keberadaan spirit tersebar di berbagai
tempat. Biasanya mereka memang lebih memilih untuk hidup menetap di area yang
diselimuti oleh hamparan alam yang luas, tetapi di dalam area sekolah ini pun
bukan berarti keberadaan mereka tidak ada sama sekali. Xue dipastikan telah
menyerap seluruh cerita rahasia tadi murni dari penuturan para spirit tersebut.
Para spirit normalnya tidak akan pernah
menaruh minat terhadap isi pembicaraan umat manusia, dan mutlak tidak akan sudi
menjabarkan informasinya secara mendetail, tetapi ceritanya dipastikan akan
bergeser secara total jika pihak yang melayangkan perintah adalah keturunan
sedarah dari klan Raja Spirit sendiri.
Xue mengulas sebuah senyuman yang teramat
manis.
"Para spirit hanya menjabarkannya
kepadaku secara garis besarnya saja, sih…… tapi Sensei sengaja menyeret kami ke
dalam situasi yang berbahaya murni demi kebaikan kami semua, kan?"
"……Ya."
"Kamu benar-benar mencemaskan
keselamatan kami dari lubuk hatimu yang paling dalam, kan?"
"……Ya, begitulah."
Karena tidak tahu seberapa jauh isi
informasi yang telah diserap oleh Xue dari para spirit, Theo hanya bisa
menganggukkan kepalanya secara samar demi memberikan respons aman.
Namun jika melihat pola sikapnya saat
ini, kisah mengenai dirinya yang melintasi waktu kembali dari masa depan
tampaknya tidak berhasil tersampaikan kepada Xue.
Sebab jika gadis ini mengetahuinya, topik
tersebut dipastikan akan menjadi urusan pertama yang akan dilontarkannya sejak
awal.
Meskipun demikian, kenapa ya. Ada sebuah
rasa janggal yang terasa teramat berbahaya di tempat ini.
Insting orisinal milik Theo mendadak
membunyikan lonceng peringatan dalam skala masif di dalam kepala, tetapi
segalanya terlanjur sudah berada di titik yang terlambat untuk disembuhkan.
*Set!* Xue merekahkah sebuah senyuman
manis menyerupai kuntum bunga yang mekar secara instan.
Bersamaan dengan secercah kilauan cahaya
berbahaya yang mendekam erat di dalam sepasang matanya seolah dia baru saja
melintasi batas garis pembatas yang terlarang.
"Ufufu. Benar kan. Sensei ternyata
terus memikirkan urusan kami sepanjang waktu ya. Kalau begitu, segalanya
dipastikan akan menjadi aman."
"Aman?"
"Sebab aku merasa kalau aku akan
bisa bekerja sama dengan diri Sensei setelah ini."
Xue memasang sebuah senyuman simpul yang
teramat polos.
Murni
sebuah senyuman──yang telah kuyup oleh distorsi rasa sakit yang mendalam.
"Sekarang aku sudah paham. Aku
memang payah dalam urusan bertarung, tapi jika tujuannya demi melindungi semua
orang, aku tidak keberatan untuk bertarung sekuat tenaga. Karena hal yang
paling kubenci di dunia ini murni hanya di saat melihat orang-orang berhargaku
harus menerima luka saja."
"Oleh karena itu, Sensei. Mari kita
berjuang bersama-sama setelah ini."
"Jajaran
orang-orang jahat yang berani melukai mereka──mari kita bunuh semuanya sampai
mati tanpa tersisa sedikit pun ya?”
“……………………………………………………”
Menanggapi senyuman distorsi milik Xue,
Theo memilih untuk memalingkan pandangan matanya, lalu menatap ke arah luar
jendela kelas.
Di seberang jendela, langit senja tampak
telah membara diwarnai oleh pancaran warna merah pekat yang menyala.
Sebuah pemandangan yang terasa teramat
indah hingga memicu rasa muak di dalam dada.
Dia sempat mengira dirinya telah berhasil
membuat Xue menjadi sanggup untuk bertarung.
Namun bertolak belakang dari
ekspektasinya, menyusul tragedi yang menimpa Isabella sebelumnya, kenapa jalan
ceritanya justru harus berakhir menjadi seperti ini?
Jawaban atas misteri di balik hal
tersebut, secara mutlak terlanjur tidak kunjung berhasil dipahami bahkan oleh
sosok Theo yang diagung-agungkan sebagai seorang genius sekalipun.
"Sensei, apa yang sedang kamu
lakukan? Eh, benda apa itu? Monster? Tapi bentuknya agak sedikit berbeda dari
yang lain ya."
Ruang persiapan pelajaran.
Sebuah rak buku yang dipenuhi oleh
rentetan buku ilmu sihir tampak berdiri memenuhi seisi ruang penglihatan.
Di bawah kondisi lingkungan yang
demikian, Theo sedang mengamati sebuah botol kaca bersamaan dengan ekspresi
wajah yang teramat serius.
Di dalam botol kaca tersebut, sesosok
monster berukuran sebesar jari kelingking tampak bergerak berjalan ke sana
kemari.
Tidak,
jika harus dikatakan secara lebih tepat, makhluk itu adalah 《Chimera》.
Sebuah monster buatan yang sempat menampakkan wujudnya di medan pertempuran
pada dunia Putaran Pertama lalu. Sesekali, makhluk itu meluapkan suara erangan
seraya menggaruk bagian dalam botol kaca memanfaatkan kaki depannya, tetapi
permukaan kaca tersebut sama sekali tidak menyisakan luka goresan sedikit pun.
Saat memalingkan tubuhnya ke belakang
akibat adanya suara dari arah belakang, Isabella tampak sedang berdiri di
tempat itu bersamaan dengan ekspresi wajah yang pasrah.
Theo melemparkan tatapan mata ke arahnya
sesaat, lalu kembali memusatkan pandangannya ke arah botol kaca.
"Ya, aku sengaja mendapatkan izin
khusus untuk mengelolanya demi agenda penelitian. Kamu tidak perlu cemas,
makhluk ini sudah tidak berbahaya lagi."
"Bukannya aku mencemaskan hal itu,
sih…… tapi kok bisa ya, kamu sampai berniat untuk meneliti benda semacam
ini."
"Sebab ini merupakan sebuah sampel
yang teramat penting."
Pada masa Putaran Pertama lalu,
kesempatan untuk bisa mengamati sosok chimera secara mendetail terhitung hampir
tidak pernah ada.
Keberadaan dari sosok chimera memegang
silsilah hubungan yang erat dengan Gereja Ortodoks. Jika begitu kenyataannya,
maka melakukan penelitian terhadap makhluk ini dipastikan mutlak tidak akan
mendatangkan kerugian bagi dirinya.
Dan──sosok
chimera kecil ini tidak lain merupakan hasil akhir dari detik-detik kematian
Ophelia Gardener.
Tepat di saat Theo menanam sihir
interogasi demi memaksa Ophelia menumpahkan informasi rahasia waktu itu,
sebelum sempat menyuarakan informasi yang krusial, wujud Ophelia justru
mendadak bermutasi berubah menjadi sosok chimera kecil ini.
Besar kemungkinan, efek tersebut sudah
ditanam secara sepihak oleh Gereja Ortodoks sejak awal.
Sebuah sihir pengunci yang diatur agar
aktif secara otomatis di saat Ophelia berada di ambang membocorkan informasi
rahasia organisasi.
Berkat tindakan tersebut, jalur petunjuk
yang mengarah menuju ke Gereja Ortodoks kini telah berakhir sirna secara total.
Satu-satunya peninggalan yang tersisa
paling-paling hanya sebatas chimera kecil yang merupakan wujud orisinal dari
Ophelia ini saja.
"……Lalu, apa ada suatu hal yang
berhasil kamu ketahui dari hasil penyelidikanmu?"
"Ya."
"Eh, benarkah ada?"
Isabella membelalakkan matanya dengan
lebar karena terperangah. Dia dipastikan sama sekali tidak menduga bahwa Theo
akan berhasil mendapatkan sebuah pencapaian dari penelitian ini.
"Tapi, ini bukan merupakan sebuah
informasi yang akan membuat perasaanmu menjadi nyaman setelah
mengetahuinya."
"……Apa maksudnya?"
"Monster ini memang meluapkan suara
erangan…… tapi dari hasil penelitian, suara erangan tersebut terbukti memiliki
keselarasan yang persis dengan bahasa manusia. Terkadang, kosakata manusia
bahkan ikut membaur di dalam suara erangannya."
"……Apakah itu artinya, makhluk yang
kubunuh waktu itu juga sama?"
"Aku tidak tahu secara pasti. Poin
ini baru sebatas satu kemungkinan saja. Belum bisa dikategorikan sebagai sebuah
kepastian."
Theo sengaja menghindari penegasan secara
mutlak. Meskipun demikian, paras wajah Isabella terlanjur memucat rapat akibat
rasa cemas.
Makhluk yang telah dihabisi oleh Isabella
kemarin memang murni berupa monster biasa. Walau ketentuannya demikian, Theo
sama sekali tidak memiliki niat untuk menyembunyikan kemungkinan buruk ini dari
hadapan Isabella dan yang lainnya selamanya.
Sebab demi melindungi keselamatan diri
mereka sendiri, mereka wajib dipaksa untuk menjadi semakin terbiasa dalam
urusan membunuh manusia setelah ini.
Bahan dasar pembuatan chimera,
kemungkinan besar aktif memanfaatkan tubuh manusia sebagai wadahnya.
Rentetan chimera yang sempat menampakkan
diri di dalam peperangan pada masa depan nanti pun dipastikan memegang prinsip
pembuatan yang sama.
Lalu,
sosok chimera yang telah berhasil merenggut nyawa Theo pada masa Putaran
Pertama dulu juga──
"──────ッ"
Tiba-tiba di sana.
Mendadak memikirkan suatu hal yang
mengusik pikiran membuat Theo bergegas mengambil selembar kertas, lalu mulai
menuliskan coretan kalimat secara membabi buta tanpa memedulikan sekeliling.
Isabella sempat melayangkan sepatah kata
kepadanya, tetapi suara gadis itu terlanjur tidak kunjung berhasil menyentuh
lubang telinganya lagi.
Chimera yang telah membunuh Theo pada
masa Putaran Pertama dulu pun memegang tingkat kemungkinan yang tinggi
merupakan wujud orisinal dari seorang manusia.
Dan pada saat itu, bukankah sang chimera
sempat meluapkan sebuah suara tertentu?
Berdasarkan hasil pengamatan selama
beberapa hari terakhir ini, proses penyelarasan antara kosakata yang diluapkan
oleh chimera dengan bahasa manusia terhitung sudah selesai diselesaikannya.
Sambil bersusah payah mengingat kembali
memori ingatan pada masa Putaran Pertama dulu, Theo menuliskan resonansi suara
sang chimera lalu mulai menerjemahkannya satu per satu.
──S……
n…… s…… i…… t…… l…… n…… g.
Theo terbunuh pada masa Putaran Pertama,
lalu melintasi waktu kembali ke masa Putaran Kedua tepat di hari upacara
pembukaan sekolah digelar demi mengemban jabatan sebagai guru kembali.
Dia
memang memendam rasa terima kasih atas keajaiban tersebut, seraya bersumpah
untuk mendidik para muridnya sekali lagi──namun sebenarnya, dia mungkin
seharusnya memikirkan misteri di balik hal tersebut secara lebih mendalam sejak
awal.
──S……
n…… s…… i…… to…… lo…… ng.
Ada sebuah eksistensi yang sengaja
merangkai seisi rencana di balik layar demi melempar sosok Theo kembali ke masa
lalu.
Pada masa Putaran Pertama dulu, dia
sempat mengira bahwa seluruh muridnya telah tewas secara total.
Namun dugaan tersebut merupakan sebuah
kesalahan yang besar. Pada saat itu, fakta bahwa ada murid yang berhasil
bertahan hidup secara nyata terlanjur ada.
Misteri tersebut akan langsung terungkap
secara jelas jika dia berhasil memecahkan pesan rahasia yang diluapkan oleh
sang chimera waktu itu.
──Sensei,
tolong aku.
Sosok eksistensi yang sengaja memohon
bantuan kepadaku lalu melemparkanku ke masa lalu, sosok yang bergerak memutar
benang takdir di balik layar, bersemayam di dalam barisan para muridku sendiri.



Post a Comment