NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 8

Bab VIII


"……Kali ini pun gagal, ya."

 

Lily Garden. Kamar UKS.

 

Theo bergumam lirih seraya menatap Xue yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

 

Beberapa minggu telah berlalu sejak Theo memulai pelajaran pertempuran sihir.

 

Kabar baiknya, sebagian besar murid Taman Ketujuh telah beradaptasi dengan pelajaran tersebut.

 

Isabella, Karina, dan Iris memang belum bisa memberikan luka fatal pada Theo, tetapi mereka kini sudah mampu melancarkan serangan sekuat tenaga tanpa kehilangan niat bertarung. Bahkan untuk kasus

Momo, meski dia langsung tumbang dalam satu pukulan pada hari pertama, gadis itu sama sekali tidak memiliki keraguan untuk melukai orang lain.

 

Masalahnya adalah Xue.

 

Selama beberapa minggu ini, Theo telah menghujani Xue dengan berbagai macam sihir.

Bahkan sampai di tingkat yang mampu membuat gadis itu merasakan ancaman kematian.

 

Akibatnya, sebagian area hutan sampai hancur lebur tersapu oleh sihir milik Theo.

 

Namun, meski telah dihujani sihir sedahsyat itu, Xue tidak pernah sekalipun membalas serangan Theo dengan sihir. Gadis itu selalu bertahan total sampai akhir, hingga berujung kehilangan kesadaran

setelah menerima sihir Theo.

 

"……Ternyata membuat seseorang bisa bertarung tidak semudah itu."

 

Theo melangkah keluar meninggalkan kamar ukur sembari menggumamkan kalimat tersebut tanpa sadar.

 

Dia sempat mengira Xue akan membalas serangan jika disudutkan

hingga ke ambang kematian secara total, tetapi pemikirannya ternyata terlalu naif.

 

Alasannya sudah jelas. Xue tidak begitu memedulikan nyawanya sendiri.

 

Jika diingat kembali, pada Putaran Pertama pun gadis itu tewas tanpa pernah melancarkan serangan sihir sampai akhir hayatnya.

 

Kalau begitu, arah tindakan untuk membuat Xue merasakan ancaman kematian adalah sebuah kekeliruan.

 

Namun, dia sama sekali tidak bisa memikirkan rencana alternatif.

 

……Tidak, jika harus jujur, sebenarnya ada satu rencana.

 

Akan tetapi, metode yang satu itu benar-benar terlalu──

 

"A-anu…… mo-mohon…… tunggu sebentar."

 

Sebuah suara lirih mendadak bergema.

 

Saat Theo berbalik, Xue rupanya telah keluar dari kamar ukur dan berdiri di koridor.

 

Entah sejak kapan gadis itu terbangun.

 

Seragamnya tampak penuh kotoran akibat latihan tadi. Wajahnya pun masih belepotan lumpur.

 

Meski begitu, Xue membuka bibir merah mudanya dan berusaha menyuarakan sesuatu dengan ekspresi wajah yang teramat serius──

 

"………………A-auh."

 

Begitu sepasang matanya bertemu dengan Theo, dia langsung mematung.

 

Bibir Xue bergerak-gerak seperti hendak merangkai kata.

 

Namun, tidak ada satu pun suara bermakna yang keluar dari mulutnya.

 

Hanya saja, di momen seperti ini, Theo hanya bisa memikirkan satu alasan mengapa Xue memanggilnya.

 

"Apakah kamu mendengar gumamanku yang tadi?"

 

"………… (Mengangguk cepat)"

 

Xue menganggukkan kepalanya kuat-kuat sebagai jawaban atas pertanyaan Theo.

 

Gumamannya yang tadi, tentu saja merujuk pada kalimat "Ternyata membuat seseorang bisa bertarung tidak semudah itu".

 

Theo mengutarakannya karena mengira Xue masih tidak sadarkan diri, tetapi dia tidak menyangka gadis itu ternyata mendengarnya.

 

Xue meluapkan suaranya secara ragu-madu seolah sedang membaca situasi di sekitarnya dengan cemas.

 

"A-anu, aku tidak bermaksud untuk menguping, kok. Tapi, saat aku terbangun, Sensei sedang mengatakan hal itu…… jadi, tidak sengaja terdengar."

 

"Begitu ya."

 

"A-anu, Sensei──"

Xue mengangkat wajahnya, mengarahkan sepasang mata bulatnya dari balik poni rambut.

 

Theo memperkirakan bahwa kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu adalah sebuah kecaman.

 

Mengenai mengapa dirinya memikirkan hal yang bertolak belakang dengan keinginan sang murid.

 

Namun, kalimat yang dilontarkan oleh Xue justru di luar dugaan.

 

"A-anu…… aku, ingin bisa bertarung."

 

"Eh?"

 

Saat Theo secara refleks melemparkan pandangan matanya, Xue tidak melarikan diri melainkan balas menatapnya secara lurus.

 

"E-eh…… Sensei juga sudah tahu, kan? Kalau aku ini seorang ras iblis.

Karena itu, sejak dulu aku selalu diintimidasi."

 

Apakah karena teringat akan kejadian masa lalu, warna darah seketika menyusut dari wajah Xue.

 

Meski begitu, Xue tidak menghentikan kalimatnya dan terus bersusah payah merangkai kata.

"Tapi…… aku takut. Melukai lawan takut, diriku sendiri terluka juga takut…… saat memikirkan hal itu lalu menjadi takut, aku akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa……"

 

"Tapi, sebenarnya aku benci kondisi yang seperti itu. Aku benci diriku sendiri yang tidak berguna. Aku ingin bisa bertarung."

 

"──Sensei. Apakah aku, akan bisa bertarung?"

 

Entah seberapa besar keberanian yang telah dikumpulkannya.

 

Xue tampak bermandikan keringat layaknya orang yang baru saja berlari sekuat tenaga. Poni rambutnya menempel erat di dahi, dan wajahnya memerah padam.

 

Meskipun demikian, secercah cahaya serius yang bersemayam di sepasang matanya tetap tidak berubah.

 

……Ah.

 

Theo merasa dirinya mungkin telah menjadi terlalu takabur.

 

Dia mengira sudah memahami segalanya tentang para murid murni hanya berdasarkan pengetahuan dari Putaran Pertama.

 

Namun, ini adalah pertama kalinya dia mendengar keinginan Xue yang sesungguhnya. Tidak disangka dia baru mengetahuinya di Putaran Kedua, di saat dia sudah mempersiapkan mental untuk menginjak-injak perasaan para murid demi kebaikan mereka sendiri.

 

"……Ya, kamu pasti akan bisa bertarung. Asalkan kamu mempercayaiku."

 

Theo menegaskan hal itu tanpa sadar bersamaan dengan nada suara yang lembut.

 

Seperti yang dipikirkannya tadi, rencana untuk membuat Xue bisa bertarung sebenarnya sudah ada di kepala.

 

Namun, dia terlanjur berasumsi bahwa Xue yang bermental lemah dan berhati lembut tidak akan sanggup melakukannya.

 

Tapi, itu hanyalah penilaian sepihak dari Theo saja.

 

Padahal Xue sendiri sedang bersusah payah berjuang demi bisa bertarung.

 

Jika begitu kenyataannya, maka tugas Theo hanyalah mempercayai potensi sang murid lalu mendorongnya dari belakang.

 

Sebab hal itulah yang menjadi pekerjaan bagi seorang guru.

 

"Ehehe. Aku malah mengatakan hal yang memalukan…… ah. Sensei, anu, benda apa itu?"

Apakah karena merasa malu setelah menumpahkan seluruh isi hatinya, Xue mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk ke arah luar jendela

sekolah.

 

Di luar gedung sekolah, jajaran staf pengajar tampak sedang berjalan beriringan menuju ke gerbang sekolah Lily Garden.

 

Dimulai dari Kepala Sekolah Anemone, hampir seluruh guru di Lily

Garden tampak berkumpul di sana.

 

"Itu adalah pasukan bantuan untuk perburuan monster. Atas permohonan dari kerajaan, mereka akan dikerahkan selama tiga hari ke depan."

 

"……Apakah Sensei juga akan ikut pergi?"

 

"Aku ditugaskan untuk menjaga sekolah. Bersama dengan Gardener-sensei."

 

Bukannya melupakan hal tersebut, tetapi hari ini memang merupakan hari keberangkatan para guru.

 

Seperti pemberitahuan sebelumnya, kemunculan monster di wilayah sekitar sedang meningkat, sehingga pihak kerajaan melayangkan permohonan bantuan untuk melakukan perburuan monster. Oleh karena itu, Anemone menyeleksi jajaran staf pengajar untuk dibentuk menjadi pasukan bantuan.

 

Dan hari keberangkatan pasukan bantuan tersebut adalah hari ini.

 

Sosok yang diseleksi oleh Anemone mencakup sebagian besar dari jajaran staf pengajar. Sebaliknya, orang yang ditugaskan untuk menjaga sekolah hanyalah Theo dan Ophelia saja. Dia kemungkinan sengaja mengeluarkan mereka dari daftar seleksi demi mempertimbangkan status mereka sebagai guru baru.

 

Momen di saat Anemone dan yang lainnya benar-benar pergi adalah selama tiga hari mulai esok hari.

 

Namun, jika hanya dalam kurun waktu sependek itu, absennya jajaran staf pengajar seharusnya tidak akan menimbulkan masalah yang berarti.

 

Mungkin karena sekolah ini merupakan tempat berkumpulnya putra-putri kaum bangsawan, murid yang memiliki perangai buruk terbilang sedikit, sehingga kekacauan di dalam kelas tidak akan sampai pecah.

 

Meskipun demikian, Theo tahu betul.

 

—Andai segalanya berjalan persis seperti pada Putaran Pertama, insiden

tersebut seharusnya baru pecah pada hari terakhir dari tiga hari masa

 ekspedisi ini.

 

Dan jika memang ada kunci untuk membangkitkan Xue, momen itulah waktu yang paling tepat.

 

 

"……Informasi itu, kamu yakin benar, kan?"

 

Celeste, sebuah kota tempat ilmu sihir dan sejarah saling berbaur dengan selaras, lokasi di mana Lily Garden didirikan.

 

Sebuah kedai di pinggiran kota tersebut tampak dikuasai oleh puluhan petualang berandalan yang kasar.

 

Mungkin karena terdiri dari gabungan beberapa party, para petualang itu duduk berkelompok yang masing-masing berisi empat sampai lima orang. Mereka semua adalah tipe petualang yang biasanya tidak pernah terlihat di Celeste. Akibat hawa tidak bersahabat yang pekat dari mereka, para pelanggan setia kedai ini sudah lama kabur kocar-kacir.

 

Di tengah atmosfer tersebut, sosok petualang bernama Vold maju mewakili yang lain untuk melayangkan keraguan.

 

Dia adalah seorang berandalan murahan. Ciri khasnya yang paling mencolok tidak lain adalah bekas luka besar di pipinya.

 

Saat ini Vold sedang didera rasa kesal.

 

Tidak, mungkin bukan hanya dirinya saja. Setiap petualang yang berkumpul di tempat ini pasti sedang memendam kekesalan yang sama.

Kota Celeste ini merupakan tempat di mana perdagangan dari arah barat dan timur berkembang dengan sangat pesat, sehingga para petualang kerap melintasi jalur ini demi menuju ke dungeon.

 

Namun, mereka yang berkumpul di sini dipastikan adalah orang-orang yang bermimpi mendapat kekayaan instan di dungeon tetapi berakhir menerima nasib sial. Jika bukan karena alasan itu, mana mungkin mereka sudi bersusah payah berkumpul di kedai ini hanya karena diajak oleh seorang pria mencurigakan yang mengiming-imingi "urusan yang menghasilkan banyak uang".

 

Ditambah lagi, beberapa hari yang lalu Vold baru saja kehilangan mangsa berupa gadis ras iblis.

 

Andai saja pria yang mengaku sebagai Theo Proteus itu tidak mendadak muncul, dia dipastikan sudah meraup uang dalam jumlah besar saat ini.

 

Sosok yang sedang menghadapi para petualang berbahaya itu seorang diri adalah──

 

"Tentu saja benar. Jaringan informasi milik organisasiku adalah yang terbaik."

 

Seorang Pria Misterius yang tubuhnya dibalut oleh jubah hitam.

 

Wajahnya sama sekali tidak terlihat karena tertutup topeng. Suaranya pun tampaknya telah diubah menggunakan sihir hingga memicu gaung suara yang bising dan mengusik telinga.

Meskipun dikelilingi oleh banyak petualang, pria misterius itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, melainkan berbicara sambil menyunggingkan sebuah seringai lebar.

 

"Tepat seperti informasiku, mulai besok selama tiga hari ke depan, seluruh guru dipastikan akan pergi meninggalkan Lily Garden.

Tepatnya, memang akan ada beberapa guru yang tetap tinggal untuk menjaga sekolah. Tapi, mereka semua hanyalah sampah tingkat rendah.

Theo Proteus yang legendaris itu memang ada di sana, tetapi ujung-ujungnya dia hanyalah seorang akademisi. Dia mutlak tidak akan bisa menjadi lawan bagi kalian yang sudah terbiasa melintasi medan pertempuran sesungguhnya."

 

Namun, apakah segalanya benar-benar akan berjalan semulus itu?

 

Berdasarkan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan pria yang mengaku sebagai Theo Proteus waktu itu, Vold tampak mengernyitkan alisnya.

 

Meskipun demikian, menghadapi petualang dalam jumlah sebanyak ini dipastikan bukan urusan yang mudah bagi siapa pun. Para petualang ini seluruhnya merupakan kelompok petualang profesional dalam urusan bertarung. Dari segi kemampuan maupun jumlah, guru sekolah biasa mutlak bukan merupakan sosok yang sepadan untuk menjadi lawan mereka.

 

"……Aku paham maksud perkataanmu."

Petualang yang lain menatap tajam ke arah sang Pria Misterius berjubah hitam dengan sepasang mata yang berkilat bengis.

 

Namun, sang Pria Misterius hanya sebatas mengedikkan bahunya tanpa menunjukkan rasa ciut sedikit pun.

 

"Jika sang Queen Anemone Blackwood tidak ada di tempat, maka seketat apa pun mereka memperkuat sistem penjagaan, Lily Garden saat ini dipastikan akan menjadi ladang perburuan yang paling emas bagi kami. Tapi, kenapa kamu malah sengaja membocorkan hal ini kepada kami?"

 

"Organisasi kami baru saja didirikan belakangan ini, sehingga kami agak

sedikit kekurangan sumber daya manusia. Kami membutuhkan pihak yang bersedia diajak bekerja sama. Kalian tidak perlu sungkan untuk meraup seluruh keuntungan yang berharga di sana. Hal yang diinginkan oleh organisasi kami hanyalah orang-orang yang tercantum di dalam daftar ini saja. Jika kalian berhasil menculik mereka untuk kami, kami bersedia membelinya dengan harga berapa pun yang kalian tetapkan. Tentu saja, dari pihak kami juga akan menurunkan beberapa pasukan bantuan."

 

Sang Pria Misterius mengibas-ngibaskan selembar kertas di tangan.

 

"……Meskipun terkesan sangat mencurigakan, tapi baiklah. Urusan yang menghasilkan banyak uang pada dasarnya memang selalu mirip seperti ini."

"Ahihihi, aku dipastikan tidak akan membuatmu menyesal. Karena organisasi kami hanya memiliki uang yang berlimpah."

 

"Kapan hari pengeksekusiannya? Apakah tetap pada malam hari terakhir seperti yang dikatakan oleh organisasimu sejak awal?"

 

Saat petualang yang lain melayangkan pertanyaan tersebut, sang Pria Misterius justru menggelengkan kepalanya di luar dugaan.

 

"Tidak, rencana itu dibatalkan."

 

"Hah?"

 

"Entah kenapa aku memiliki firasat buruk yang teramat sangat. Rasanya jika kita tetap bergerak sesuai rencana itu, firasatku mendadak berteriak bahwa rencana kita akan berakhir gagal total. Anehnya, intuisi milikku yang seperti ini sejak dahulu selalu terbukti tepat. Oleh karena itu, hari pengeksekusiannya diganti."

 

"……Bagi kami waktu kapan pun tidak menjadi masalah, tapi kapan

tepatnya rencana itu akan diganti?"

 

"Besok pagi, pada hari kedua."

 

Sang Pria Misterius memberikan pengumuman bersamaan dengan sebuah senyuman lebar yang memenuhi wajahnya.

 

"Melancarkan serangan pada malam hari itu sudah terlalu pasaran. Bagaimana jika kita menyelesaikan segalanya pada pagi hari, lalu kita semua yang berada di sini bisa bersulang merayakannya saat waktu makan malam tiba?"

 

Andai saja di tempat ini ada sosok yang sanggup mengamati titik percabangan takdir dunia, dia dipastikan akan menyuarakan keterkejutan yang teramat sangat.

 

Sebab murni hanya karena keisengan sesaat dari sang Pria Misterius, jalur takdir dunia telah bergeser dengan sangat mudah.

 

Dan dengan demikian, dunia mulai menapaki jalur takdir yang berbeda dari jalur yang pernah dilaluinya pada masa lalu.

 

 

"Isabella, sampai kapan kamu mau menghabiskan waktu? Cepat selesaikan."

 

"I-iya, aku juga sudah paham!"

 

Lily Garden dibangun di atas lahan yang diapit oleh hamparan hutan di sisi kanan dan kirinya, serta sebuah gunung kecil yang menjulang tinggi tepat di area belakang sekolah.

 

Dua hari setelah keberangkatan Anemone dan yang lainnya.

Theo sedang melangkah menyusuri gunung di area belakang sekolah bersama dengan Isabella demi memeriksa sepanjang batas luar wilayah Lily Garden.

 

Lereng gunung terbilang sangat curam, sehingga jika seseorang sampai salah melangkahkan kaki satu kali saja, dia rasanya akan langsung jatuh berguling ke dasar tebing. Tepat seperti perkiraannya, saat Theo menengok ke arah belakang, Isabella berulang kali terlihat hampir kehilangan keseimbangan di atas lereng gunung.

 

Saat ini, Theo sedang melakukan pemeriksaan sihir yang dipasang di sepanjang batas luar wilayah Lily Garden bersama dengan Isabella.

 

Sebab jika jalurnya sama seperti pada Putaran Pertama, insiden itu seharusnya baru akan pecah besok──yaitu pada hari terakhir masa ekspedisi para guru.

 

Insiden yang dimaksud adalah serangan massal ke Lily Garden yang dilancarkan oleh para petualang.

 

Di antara para petualang, ada pihak yang bertindak lurus, tetapi ada pula pihak yang perilakunya tidak berbeda jauh dari seorang kriminal.

 

Untuk kasus kali ini, pihak yang disebutkan belakangan telah dihasut oleh seseorang, lalu bergerak meluncurkan serangan ke arah Lily Garden.

 

Meskipun demikian, Anemone tentu saja sudah menyiapkan langkah antisipasi.

 

Sebagai ganti dari kepergian para guru yang melakukan ekspedisi, jumlah prajurit penjaga telah ditambah berkat koneksi hubungan yang dimiliki oleh Anemone.

 

Tingkat kewaspadaannya saat ini bahkan tidak akan berlebihan jika disebut sebagai kondisi siaga satu. Sistemnya dibuat seketat mungkin agar jika ada penyusup mencurigakan yang berani masuk dari mana pun, prajurit penjaga dipastikan akan bisa langsung datang dengan cepat.

 

Namun, Theo tahu betul bahwa tindakan tersebut tetap tidak akan sanggup menghentikan pecahnya insiden.

 

Justru karena itulah dia sengaja memasang sihir di sepanjang batas luar wilayah Lily Garden agar bisa mendeteksi keberadaan para penyerang dengan cepat.

 

"Isabella, berikutnya adalah lereng gunung di sebelah sana."

 

"Sudah kubilang aku paham, kan!"

 

Sambil memastikan sihir yang tertanam di dalam permukaan tanah,

Theo melayangkan instruksinya kepada Isabella yang berada di belakangnya.

Jumlah sihir yang ditanam oleh Theo di sepanjang batas luar wilayah Lily Garden terbilang sangat melimpah ruah.

 

Karena proses pemeriksaan akan memakan banyak waktu jika dikerjakan seorang diri, dia sengaja memanfaatkan keberadaan Isabella untuk membantunya melakukan konfirmasi.

 

Dia menyembunyikan urusan mengenai serangan petualang dari

Isabella, dan hanya memberitahunya bahwa ini adalah aktivitas pemeriksaan keselamatan biasa.

 

Isabella juga menerima alasan tersebut lalu bersedia membantu dengan terpaksa.

 

Namun, apakah aktivitas ini sudah melewati batas toleransinya, tepat setelah menyelesaikan pemeriksaan sihir Isabella mendadak berteriak histeris.

 

"Tindakanmu ini benar-benar keterlaluan ya! Kamu pikir sudah berapa banyak sihir yang kupastikan sepanjang satu jam ini! Jika kamu berasumsi aku akan menuruti segala perintahmu begitu saja, kamu salah besar!"

 

"……Ada apa tiba-tiba?"

 

Ya, dia sebenarnya bisa memahami alasan dari keluhan tersebut.

 

Jumlah sihir yang tertanam di dalam permukaan tanah dengan mudah berada di atas angka ratusan.

 

Membungkukkan badan demi memastikan satu per satu sihir tersebut memang menuntut usaha keras yang sangat besar.

 

Isabella membusungkan dadanya dengan sok tahu sambil bersedekap dada.

 

"Berhubung kamu sepertinya salah paham, aku akan menegaskannya kepadamu sekarang. Alasan kenapa aku mematuhimu saat ini murni hanya karena kamu berjanji akan membuatku menjadi kuat, bukan berarti aku mematuhimu dari lubuk hatiku yang terdalam, tahu!"

 

"……Begitu ya."

 

"Bukan berarti aku mematuhimu karena kamu melayangkan sepasang mata dingin yang sampai membuatku merinding, lho!"

 

"……Memangnya aku memasang tatapan mata yang seperti itu?"

 

"Bukan berarti aku mematuhimu karena berharap suatu saat nanti kamu akan menginjakku lagi seperti saat duel waktu itu!"

 

"Jika kalimatmu begitu, artinya kamu memang sudah berharap, kan."

 

"Mau bagaimana lagi!!! Mau tidur atau terbangun sekalipun, aku hanya bisa mengingat kejadian pada waktu itu saja! Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini! Tanggung jawab, dong!!!"

 

Sambil memasang sepasang mata yang berkaca-kaca, Isabella langsung mencengkeram tubuh Theo lalu mengguncang-guncangnya ke arah depan dan belakang dengan kuat.

 

……Bagaimana ya, dia merasa dirinya benar-benar telah melakukan urusan yang sangat brengsek kepada gadis ini.

 

Di saat yang sama, dia juga berpikir bahwa segalanya mungkin sudah terlambat untuk ditolong.

 

Tepat pada saat itu.

 

"…………─?!"

 

Secara mendadak, sebuah suara benturan yang teramat dahsyat bergema dari arah kejauhan.

 

Begitu mendengar suara itu, pikiran Theo langsung beralih ke mode tempur.

 

Arah suaranya berasal dari gerbang sekolah Lily Garden.

 

Tentu saja dia mengenali suara itu.

 

Sebab, itu adalah sihir peringatan yang baru saja diperiksanya tadi.

Sihir peringatan mulai bergema bersahut-sahutan di berbagai titik di perbatasan luar Lily Garden.

 

Namun, ini adalah peringatan yang seharusnya baru bergema besok.

 

Fakta bahwa sihir itu berbunyi sekarang berarti.

 

"……Terlalu cepat."

 

"? Sensei, ada apa?"

 

"Isabella, cepat pergi ke gedung sekolah! Mereka────Merunduk!"

 

Merasakan niat membunuh yang kuat dari arah belakang, Theo menekan kepala Isabella dan mengajaknya merunduk ke atas tanah.

 

Sesaat kemudian, beberapa bayangan melompati kepala mereka.

 

Saat Theo bangkit berdiri demi melindungi Isabella, hal yang tertangkap oleh ruang penglihatannya adalah.

 

"……Monster, ya."

 

Tiga ekor monster sedang berdiri di lereng gunung, mengarahkan tatapan tajam ke arah sini.

 

Wujud mereka berupa binatang berkaki empat. Namun, teror tidak berhenti di situ.

 

Dari balik hutan, rentetan sepasang mata mulai bermunculan seiring dengan menampakkan dirinya monster dalam jumlah besar.

 

Apakah monster-monster ini dikerahkan untuk membunuh Theo, atau sengaja dilepas agar para murid tidak bisa melarikan diri dari Lily Garden, yang jelas jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk menahan pergerakan mereka.

 

Inilah alasan kenapa lini penjagaan yang disiapkan Anemone tidak akan pernah memadai.

 

Biasanya, monster tidak akan pernah muncul di sekitar Lily Garden.

 

Namun, meski telah mengalami Putaran Pertama, Theo tetap tidak tahu metode apa yang digunakan oleh para petualang itu hingga sanggup datang membawa monster di bawah perintah mereka.

 

"……Isabella, aku yang akan menghadapi mereka. Manfaatkan celah itu untuk pergi ke gedung sekolah."

 

"Tapi, jumlah mereka sebanyak ini──"

 

"Aku sendiri sudah cukup. Daripada memikirkanku, pergilah menolong yang lain."

 

Theo menegaskan hal itu lalu menarik pedang tongkatnya.

 

Sesuatu di luar rencana telah terjadi.

 

Meskipun masih berada di dalam batas perkiraan, dia tidak akan sudi membiarkan rencananya diganggu lebih jauh lagi.

 

"Kalian, jangan harap bisa lolos setelah mengganggu rencanaku."

 

Tepat setelah itu, Theo mulai mengobarkan mana miliknya bersamaan dengan sebuah senyuman kejam.

Itu adalah tanda pertempuran dimulai.

 

 

"Karina-san! Benda itu……!"

 

Ruang kelas Taman Ketujuh.

 

Tepat di saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh jemari Xue, Karina langsung meningkatkan kewaspadaan di seujung tubuhnya.

 

Alasannya sederhana. Melalui jendela, dia bisa melihat orang-orang bersenjata yang tidak dikenalnya serta monster bermunculan satu per satu. Monster-monster itu menyerang pasukan penjaga, lalu memanfaatkan celah tersebut bagi para orang bersenjata untuk menerobos masuk ke dalam gedung sekolah.

 

Iris mengintip dari balik jendela dengan suara yang gemetaran.

 

"I-ini, bukan merupakan bagian dari latihan…… kan?"

 

"Tampaknya begitu. Ini sudah kelewatan jika disebut latihan."

 

Dia tidak tahu siapa orang-orang bersenjata itu.

 

Meski begitu, langkah kaki mereka mengindikasikan bahwa mereka adalah para berandalan yang sudah terbiasa bertarung.

 

Akibat kepergian Anemone bersama jajaran staf pengajar untuk agenda penugasan jarak jauh, kelas Taman Ketujuh saat ini juga sedang dalam masa belajar mandiri seperti kelas-kelas lainnya.

 

Namun, sebagian besar murid bahkan tidak datang ke Lily Garden.

 

Sebab selama periode belajar mandiri tanpa guru, kehadiran murid sepenuhnya diserahkan kepada kesadaran masing-masing.

 

Meski begitu atas instruksi dari Theo, seluruh murid Taman Ketujuh kecuali Isabella tetap berkumpul untuk belajar mandiri di kelas.

 

Sebuah kondisi darurat yang jelas tidak bisa mengandalkan bantuan orang dewasa.

 

Karina bergegas memutar otak sambil bangkit berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.

"Iris-senpai, bersembunyilah bersama Momo! Jika mereka adalah penculik, target utama mereka dipastikan adalah Momo! Xue, ikut aku mencari Sensei!"

 

Momo adalah Putri Ketujuh dari Kerajaan Sanctia.

Meskipun tujuan musuh belum dipastikan, sosok paling penting di tempat ini tidak lain adalah Momo.

 

Namun, Momo justru menyahutnya dengan nada suara yang malas.

 

"Aku senang sih karena dilindungi~ Tapi, bukankah ini sudah terlambat?"

 

"Terlambat?"

 

"Dengar, mereka sudah sampai, lho?"

 

Tepat pada saat Momo melontarkan kalimat itu──

 

Brak! Pintu ruang kelas Taman Ketujuh hancur berantakan.

 

Rentetan berandalan bersenjata langsung merangsek masuk ke dalam ruangan.

 

Di saat Karina berdiri menghadang demi melindungi Xue dan Momo,

para berandalan itu menyeringai lebar.

 

" Jackpot! Ternyata Tuan Putri benar-benar ada di sini……!"

"Hei! Di kelas ini ada ras iblis juga!"

 

"Lalu, bukankah gadis dari keluarga Lumiere juga seharusnya ada di sini? Lagi pula, penampilan murid yang lainnya juga sepertinya laku dijual! Tempat ini benar-benar yang terbaik!"

 

Para berandalan bersenjata itu tertawa terbahak-bahak.

 

Tingkat tatapan mata mereka yang seolah sedang menilai barang dagangan memicu sensasi merinding di seujung tubuh Karina.

 

Namun, entah bagaimana caranya informasi mengenai mereka bisa sampai bocor. Ditambah lagi karena jumlah total musuh tidak diketahui, dia tidak tahu apakah melakukan perlawanan di tempat ini merupakan pilihan yang tepat atau tidak.

 

──Sebenarnya apa yang harus kulakukan!

 

Karina menggigit bibirnya dengan kesal akibat rasa tidak berdaya, tetapi mereka wajib menentukan keputusan sendiri.

 

Tetap diam melihat situasi tanpa melakukan perlawanan, atau bertarung menggunakan tangan sendiri.

 

"Hei, kalian semua diam di tempat."

 

Begitu melangkah masuk ke dalam kelas, para berandalan bersenjata langsung menyuruh Karina dan yang lainnya duduk di kursi masing-masing.

 

Mungkin agar mereka tidak bisa membalas serangan. Jika berada dalam posisi duduk, gerakan awal mereka dipastikan akan menjadi lebih lambat dibandingkan posisi berdiri.

 

Total ada empat orang berandalan bersenjata.

 

Salah satu di antara mereka melangkah dengan santai di atas podium kelas sambil menyunggingkan senyuman kotor.

 

"Jangan coba-coba melawan. Jika kalian patuh, kami akan membiarkan kalian pulang dengan selamat. Tapi, jika kalian berani bergerak selangkah saja dari sana──"

 

Berandalan itu mendadak mengarahkan ujung belatungnya ke arah Karina.

 

Kemudian merapalkan nama sihirnya.

 

"Pelepasan Formula Sihir: Stinger"

 

"-"

 

Tepat setelah seberkas cahaya berkilat di hadapannya, sebuah kilatan melesat menyeka pipi Karina.

Sihir Rank keenam:Stinger. Sebuah sihir tingkat menengah yang menembakkan duri berkecepatan tinggi, sebuah sihir yang memadai untuk membunuh manusia.

 

Setelah tembakan Stinger menyeka pipi Karina, sebuah hantaman suara yang menyerupai terciptanya lubang kecil bergema di dinding belakang kelas. Darah segar tampak menetes dari pipinya, tetapi Karina sama sekali tidak melontarkan jeritan sedikit pun.

Sebaliknya, suara helaan napas yang tertahan terdengar dari dalam kelas.

 

Saat Karina menggerakkan pandangan matanya, wajah Xue tampak memucat, sedangkan Iris mengedarkan pandangannya dengan panik.

 

Momo sendiri tetap memperhatikan situasi secara malas seperti biasanya.

 

Melihat Karina yang dinilainya telah ciut membuat sang berandalan memperlebar senyumannya.

 

"Sekarang kalian paham, kan? Apa akibatnya jika mencoba melawan kami."

 

"……Ya."

 

Karina mengangguk kecil.

 

Benda yang digenggam oleh berandalan itu kemungkinan besar adalah peralatan sihir. Sebuah alat yang dibuat berdasarkan teori sihir generasi keempat agar siapa pun bisa menggunakan sihir. Saat mengamatinya kembali dengan seksama, ukiran formula sihir yang transparan tampak terlihat di bilah belati tersebut.

 

"Hei, cepat hubungi yang lain sebelum party lain menyadarinya! Target sudah didapatkan! Ini keuntungan mutlak bagi kita!"

 

Atas instruksi dari salah satu berandalan, salah satu anak buahnya bergegas melangkah keluar dari kelas Taman Ketujuh dengan panik.

 

……Target? Tidak, sebelum itu, party?

 

Karina bergumam di dalam hati seraya memutar otak.

 

Istilah party biasanya merujuk pada kelompok petualang.

 

Mereka biasa menaklukkan dungeon dalam kelompok kecil yang disebut party.

 

Jika begitu kenyataannya, maka para berandalan ini adalah para petualang.

 

Ditambah lagi dengan kalimat "sebelum menyadarinya". Meskipun dia tidak tahu berapa banyak party petualang yang sedang menyerang Lily

Garden, tampaknya koordinasi di antara mereka tidak berjalan dengan baik.

Jika situasinya demikian, peluang untuk membalas serangan akan terbuka jika mereka berhasil meloloskan diri dari tempat ini.

 

Para petualang tadi mengatakan bahwa target mereka adalah kelompok

Karina. Meskipun dia tidak tahu secara spesifik siapa murid yang dimaksud, mereka dipastikan akan mengejar jika kelompok Karina melarikan diri. Tindakan itu akan menarik perhatian para petualang, sekaligus membuka jalan untuk menyelamatkan murid lainnya.

 

Tetap diam tanpa perlawanan, atau bertarung menggunakan tangan sendiri. Pilihan itu sudah ditentukan sejak awal.

 

Namun, jika seorang diri──

 

Tiba-tiba.

 

"…………-"

 

Momo mendadak memberikan kode mata ke arahnya.

 

Apakah gadis itu memiliki pemikiran yang sama dengannya.

 

Tanpa rasa takut sedikit pun, Momo mengangkat tangannya dengan malas.

 

"Hei, jika ingin menculikku, bisakah hentikan ancaman ini? Tidak ada gunanya melakukan hal semacam ini."

 

"……Hah? Bicara apa kamu?"

 

"Maksudku, aku tidak akan melawan. Murid tidak berguna sepertiku mana mungkin bisa menang. Lagi pula aku juga benci rasa sakit. Jadi, ayo cepat bawa aku pergi?"

 

Nada suaranya terdengar ringan. Momo memasang senyuman polos, tetapi sepasang matanya tidak memancarkan secercah cahaya sedikit pun.

 

Benar-benar persis seperti seseorang yang sudah sejak lama membuang harapan atas hidupnya sendiri.

 

Namun, hal itu justru membuat para petualang kebingungan karena tidak tahu apakah kalimat tersebut bisa dipercaya atau tidak.

 

Meski begitu karena menilai ini sebagai kesempatan emas, salah satu dari mereka melangkah ragu mendekati Momo──

 

Bagi Karina, celah selevel itu sudah lebih dari cukup.

 

"────-!"

 

Karina menendang meja di hadapannya hingga melesat hancur.

 

Para petualang tidak sempat merespons terjangan meja yang mendadak tersebut. Di saat mereka sibuk menghalau serpihan meja menggunakan lengan, Karina sudah mengepalkan tinjunya mendekati salah satu petualang.

 

"Haaaaahhhhhhh!"

 

Bersamaan dengan teriakan yang dipenuhi fokus konsentrasi, Karina melayangkan tinjunya hingga membuat tubuh sang petualang tertekuk lalu tumbang ke tanah.

 

Dengan ini tersisa dua orang lagi. Karina berbalik memasang kuda-kuda, tetapi gerakannya mendadak terhenti sesaat.

 

Sebab tanpa disadarinya, Momo telah mengeluarkan sebilah pisau lalu menusukkannya tepat di leher petualang lainnya. Apakah benda itu memang selalu dibawanya setiap saat. Darah segar tampak menyembur dari mulut sang petualang sebelum tubuhnya ambruk menimpa Momo.

 

Sama seperti Karina yang memanfaatkan perhatian petualang terhadap

Momo untuk menyerang, Momo pun memanfaatkan celah di saat perhatian petualang teralih akibat serangan Karina.

 

"Yah, kalimat yang tadi itu hanya berlaku 'jika kalian lebih kuat dariku', sih."

 

Sebuah pemandangan yang kejam.

 

Meskipun demikian, Momo tetap mengulas senyuman polos yang manis sambil menyeka cipratan darah di wajahnya menggunakan tangan.

Namun dengan ini, tersisa satu orang lagi. Yang terakhir adalah petualang yang memegang peralatan sihir.

 

"He-hei, jangan bercanda kalian! Kalian tahu sendiri kan bagaimana daya rusak sihir ini!"

 

Petualang itu kembali menyiapkan belatinya, lalu mengarahkan ujung bilahnya ke arah Momo.

 

Karina secara refleks berniat melindungi Momo, tetapi gerakan Momo jauh lebih cepat. Momo menggunakan tubuh petualang yang baru saja

ditumbangkannya tadi sebagai tameng.

 

"──Pelepasan Formula Sihir: Stinger!"

 

"GYAAAAAHHHHHHHHHHH!"

 

"Kejam sekali~ Tidak disangka kamu malah menghabisi rekanmu sendiri. Aku sampai terkejut."

 

"-. Bicara apa kamu! Bukankah kamu yang menjadikannya tameng──"

 

"Tolong diamlah."

 

Tepat setelah itu, Karina melayangkan sebuah tendangan ke arah petualang terakhir.

Tubuhnya terlempar keluar dari dalam kelas, menghancurkan pintu ruangan, lalu menghantam dinding koridor gedung sekolah dengan keras.

 

Napasnya terengah-engah kritis. Namun karena tampaknya belum kehilangan kesadaran secara total, petualang itu terus bergumam lirih di tengah kondisinya yang linglung.

 

"Bagaimana…… bisa. Orang-orang seperti ini…… tidak ada di dalam informasi. Bukankah seharusnya…… ancaman sihir saja sudah cukup."

 

Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran secara total.

 

Karina bergumam pelan.

 

"……Jika ini terjadi pada awal musim semi lalu, mungkin dugaannya memang tepat."

 

Namun sepanjang beberapa minggu ini, kelompok Karina terus dipaksa melakukan pertempuran sihir melawan Theo.

 

Dilukai oleh orang lain, dan melukai orang lain, merupakan urusan yang sedikit demi sedikit telah mulai biasa mereka lakukan.

 

Berkat hasil latihan tersebut, Karina sanggup bersikap jauh lebih tenang dari perkiraannya sendiri.

"……Xue, maukah kamu mengobati orang yang ditusuk oleh Momo tadi? Setidaknya sampai di tingkat dia tidak bisa bergerak saja."

 

"Ya. Aku akan langsung menyembuhkannya."

 

Begitu selesai mengangguk, Xue langsung merapalkan sihir pemulihnya kepada korban.

 

Dengan ini tidak akan ada satu pun orang yang tewas.

 

"Karina-chan terlalu lembek ya~ Padahal menurutku tidak apa-apa jika dia mati. Tatapan matanya menjijikkan, sih."

 

"……Aku akan menggunakan kekuatan demi melindungi seseorang, tetapi tidak sampai membunuhnya. Karena aku mempelajari sihir murni demi menyelamatkan orang lain."

 

Itulah prinsip hidup milik Karina.

 

Sihir seharusnya merupakan sebuah ilmu untuk menyelamatkan orang lain. Mutlak bukan merupakan sebuah senjata untuk membunuh sesama manusia.

 

Karena itulah, dia terus memendam rasa janggal terhadap ajaran dari Theo.

 

Tiba-tiba.

 

"Semuanya! Apakah kalian baik-baik saja?!"

 

Sosok yang berlari dari seberang koridor tidak lain adalah guru perempuan yang berpenampilan menyerupai biarawati jubah putih──Ophelia.

 

Tangannya menggenggam sebilah tongkat khotbah. Tampaknya benda itu digunakan sebagai senjata minimal untuk melindungi diri.

 

Sambil memasang sepasang mata yang berputar panik, Ophelia berbicara dengan terengah-engah.

 

"Se-secara mendadak, setelah monster-monster datang menyerang, para petualang menyeramkan juga ikut muncul. Saya langsung bergegas melarikan diri ke sini, tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi?!"

 

"Mohon tenanglah, Sensei…… ngomong-ngomong bagaimana dengan monster dan petualang yang berada di belakangmu?"

 

"Ah, itu saya yang menumbangkannya. Walau saat melakukannya saya sedang panik total."

 

Di sepanjang koridor yang dilalui oleh Ophelia tadi, beberapa monster dan petualang tampak terkapar tidak sadarkan diri.

 

Meskipun terlihat panik, dia tetaplah seorang guru. Kemampuan bertarungnya terhitung memadai.

 

Ophelia membelalakkan matanya, lalu mengangguk kuat-kuat.

 

"Ta-tapi, benar juga ya. Karena satu-satunya orang dewasa di sini hanyalah saya, maka saya harus bisa bersikap tangguh……"

 

"Apakah Gardener-sensei tahu berapa jumlah petualang dan monster yang ada di sini?"

 

"Ini hanya sebatas perkiraan berdasarkan jumlah yang saya lihat sepanjang melarikan diri ke sini, sih…… total petualang ada sekitar dua puluh orang. Sedangkan monster berkisar seratus ekor."

 

"Monster sampai seratus ekor……?"

 

Karina mengernyitkan alisnya seraya mengulangi kalimat tersebut.

 

Sebab sepanjang penglihatannya dari jendela kelas, dia merasa jumlah pasukan musuh tidak akan sebanyak itu.

 

Melihat ekspresi wajah Karina membuat Ophelia bergegas menambahkan penjelasannya.

 

"Ah, tapi sejak tadi entah kenapa monster-monster itu bergerak menuju ke arah gunung belakang, sehingga saat ini jumlah mereka di dalam gedung sekolah sepertinya hampir tidak ada."

 

Itu adalah kabar baik. Meskipun alasan kenapa monster bergerak menuju ke gunung belakang masih menjadi misteri, kecemasan mereka dipastikan akan berkurang jika lawan yang tersisa hanya sebatas para petualang saja.

 

Dan hal yang harus dilakukan oleh Karina setelah ini juga sudah ditentukan.

 

"……Maafkan aku. Aku mungkin akan membawa kalian ke dalam situasi yang berbahaya, tapi maukah kalian ikut denganku? Ini semua demi melindungi kelas-kelas lainnya."




"Momo tidak keberatan sih~ tapi apa yang mau kamu lakukan?"

 

"Aku juga tidak apa-apa!"

 

"Anu, aku memang takut... tapi kalau demi melindungi semua orang, mau bagaimana lagi! Aku akan menunjukkan kemampuan asliku!"

 

Iris membusungkan dada, mencoba berlagak tegap.

 

Saat pandangan beralih ke Ophelia, sang guru tampak mengangguk kuat-kuat.

 

"……Terima kasih banyak."

 

Meski tanpa penjelasan apa pun, mereka semua bersedia menerimanya.

 

Setelah mengutarakan rasa terima kasih, Karina mulai menjelaskan rencananya secara singkat.

 

Melarikan diri berlima. Pilihan itu pasti menjadi jalan yang paling mudah.

 

Namun, Karina tidak akan sudi memilih jalan itu demi prinsip yang dipegangnya.

 

 

"Kepada para penyusup! Aku Karina Rudbeckia dari Taman Ketujuh!"

"Kami sudah tahu apa tujuan kalian! Seluruh murid Taman Ketujuh sekarang ada di gedung sekolah terpisah! Kami tidak akan lari atau bersembunyi! Jika ingin memenuhi tujuan kalian, datanglah ke sini!"

 

Gedung utama Lily Garden.

 

Suara gadis yang diperkeras dengan sihir bergema di seisi gedung.

 

Mendengar suara itu membuat para petualang tidak bisa lagi bersikap tenang. Mereka bergegas saling mendahului menuju ke gedung sekolah terpisah. Jika sampai didahului oleh party lain, imbalan luar biasa dari pria misterius itu akan hangus menjadi nol.

 

"Bagaimana dengan kita?"

 

"Kalian pergilah juga. Aku mau bersenang-senang sebentar di sini."

 

Setelah memberikan instruksi kepada anak buah partynya, Vold melangkah santai di koridor gedung utama.

 

Seorang berandalan murahan dengan bekas luka besar di pipi. Dia adalah pemimpin dari party tersebut.

 

Vold mengayunkan pedangnya, membunuh para pasukan penjaga satu per satu seraya menjelajahi sekolah.

 

Berkat monster yang mengacaukan isi sekolah hingga sesaat lalu, sebagian besar pasukan penjaga sudah terluka.

Membunuh mereka terasa sangat mudah.

 

Entah bagaimana mekanismenya, tetapi monster-monster itu sama sekali tidak menyerang kelompok Vold.

 

Kata pria misterius itu, "Di tempat kami ada orang yang bisa menjinakkan monster bawahannya." Jika itu bukan kebohongan, maka kekuatan itu benar-benar luar biasa.

 

Sebab, kemampuan mengendalikan monster adalah kekuatan milik Raja Iblis dari Ras Demon Beast itu sendiri.

 

……Mana mungkin.

 

Vold tertawa dalam hati, lalu membuang jauh-jauh pikiran itu.

 

Kekuatan Raja Iblis dari ras demon beast itu terlalu mustahil.

 

Hal seperti itu hanya ada di dalam dongeng, tidak mungkin benar-benar nyata.

 

"Hahaha! Tempat ini benar-benar surga! Aku bebas berburu sesukanya!"

 

Vold mengancam para murid di setiap kelas yang ditemuinya demi merampas barang berharga mereka.

 

Lily Garden adalah sekolah tempat berkumpulnya putra-putri kaum bangsawan. Meski tidak mendapat imbalan dari pria berkacamata tunggal itu, merampas barang berharga milik mereka sudah menjadi hasil yang lumayan.

 

Namun, jumlah murid di sini terbilang jarang. Tampaknya ada banyak murid yang meliburkan diri hari ini.

 

"H-hentikan! Valeria Rosenfeld tidak akan membiarkan kebiadaban ini lebih jauh lagi!"

 

Tepat pada saat itu.

 

Sebuah suara yang menghentikan langkah Vold bergema di koridor sekolah.

 

Saat memalingkan kepala, seorang gadis berambut pirang dengan wajah

cerdas tampak berdiri sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Vold.

 

Namun, bibirnya memucat dan kedua lututnya gemetaran.

 

Keluarga Rosenfeld adalah silsilah bangsawan ternama yang melahirkan banyak penyihir hebat.

 

Gadis ini pun kemungkinan besar juga sama hebatnya. Gadis pirang itu mengobarkan mana dengan cepat untuk merapalkan sihir.

 

Kecepatannya terbilang tinggi dan lancar, sesuatu yang jarang terlihat di kalangan petualang.

 

Namun, dia terlalu kekurangan pengalaman bertempur.

 

"Bodoh sekali! Menggunakan sihir di jarak sependek ini sama saja dengan bunuh diri!"

 

"──KYAAAAAHHHHHHHHHHH!"

 

Vold melayangkan satu tebasan pedang. Lebih cepat daripada sihir sang gadis pirang, darah segar langsung menyembur dari lengannya.

 

Itu hanya sebatas luka sayatan ringan di sebelah lengan. Meski begitu, sang gadis pirang langsung memegangi lengannya sambil menangis histeris dan berguling-guling kesakitan di atas lantai koridor. Dia terlalu tidak terbiasa dengan pertempuran sesungguhnya hingga tidak memiliki ketahanan terhadap rasa sakit.

 

Merasa kesal, Vold menjambak rambut pirangnya lalu mengangkat paksa wajah sang gadis.

 

Gadis itu meneriakkan sesuatu, tetapi semuanya hanya memicu rasa tidak nyaman.

 

"Diam! Aku sudah menahan diri, lho. Atau kamu mau menjadi lawan bagi para monster?"

 

"Tidak…… tidak……!"

 

"Hahaha! Ekspresi wajahmu bagus juga! Harus begitu, dong!"

Wajah sang gadis pirang sudah berantakan oleh air mata.

 

Dia menggelengkan kepala dan menggerakkan kaki serta tangannya secara panik, tetapi sama sekali tidak ada tenaga yang keluar. Setiap kali dia berontak, seragamnya menjadi berantakan, mengekspos bagian dada dan pahanya.

 

Kulit yang segar tanpa luka sedikit pun, khas milik putri kaum bangsawan.

 

Pemandangan itu memicu nafsu bejat Vold hingga dia menjilat bibirnya sendiri.

 

"Heh! Aku kira masih bocah, ternyata kamu punya aset yang bagus juga!"

 

"Jangan…… jangan……!"

 

Tampaknya memahami maksud perkataan Vold membuat sang gadis

merontak semakin hebat.

 

Namun, mana mungkin dia bisa menang melawan tenaga Vold. Saat lehernya dicekik, sang gadis langsung membelalakkan mata dan terengah-engah kritis mencari udara. Begitu lengan dan kaki sang gadis kehilangan tenaga lalu terkulai lemas, Vold melemparkannya begitu saja ke atas lantai.

 

"Heh, dari tadi harusnya begitu! Tenang saja, aku hanya mau bermain sebentar. Jika kamu diam, ini akan cepat selesai────ah?"

 

Di sana.

 

Merasakan sebuah hawa keberadaan di arah belakang membuat Vold berbalik.

 

Sosok yang berdiri di seberang koridor adalah seorang gadis berambut merah menyala.

 

Dan di Lily Garden ini, rambut merah merujuk pada putri dari salah satu kaum bangsawan.

 

Sebab pria misterius itu sudah memberikan informasi awal mengenai hal tersebut.

 

"Heh, mangsa datang bertubi-tubi! Rambut merah itu, keluarga Lumiere ya!"

 

Keluarga Lumiere dari Empat Bangsawan Besar. Jika berhasil menculik putrinya lalu meminta uang tebusan, uang dalam jumlah luar biasa dipastikan akan jatuh ke tangan. Jumlah yang memadai untuk digunakan bermain seumur hidup tanpa masalah.

 

Ditambah lagi, meski lawannya berasal dari keluarga Lumiere yang memiliki bakat sihir mendominasi, dia tetaplah seorang murid tanpa pengalaman bertempur sesungguhnya.

Tidak mungkin bisa menjadi lawan bagi dirinya yang selalu menghabiskan hari di dalam pertempuran.

 

"Hahaha! Aku akan menjadikanmu lawan pertamaku, Lumiere!"

 

"……Bisakah jangan memanggil namaku dengan santai? Itu membuatku tidak nyaman."

 

"Heh, kita lihat saja sampai kapan sikap angkuhmu itu bisa bertahan!"

 

Tepat setelah berteriak, Vold langsung menerjang ke arah sang gadis berambut merah.

 

Gadis berambut merah menarik pedang tongkatnya untuk balas menyerang, tetapi menahan teknik pedang milik Vold tampaknya sudah menjadi batas maksimal baginya. Dia hampir tidak melancarkan serangan sama sekali, dan satu-satunya pukulan yang dilayangkannya pun dapat dipatahkan dengan mudah.

 

"Hahaha! Ringan sekali! Sebenarnya apa yang diajarkan oleh guru di sekolah ini?! Mereka pasti hanya mengajarkan sihir tidak berguna, kan? Kamu terlalu lemah untuk menjadi lawanku!"

 

Sambil berteriak, Vold memulai serangan bertubi-tubi.

 

Dia menebaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Gadis berambut merah itu bersusah payah mengimbanginya, tetapi sudah jelas dia akan segera memperlihatkan celah akibat tidak terbiasa dengan pertempuran sesungguhnya. Vold mengayunkan pedangnya berulang kali murni mengandalkan tenaga──

 

"──Barusan, kamu menghina Sensei, ya."

 

"……Ah?"

 

"Sebenarnya tidak masalah, sih. Aku sendiri juga memiliki hal yang tidak kusukai darinya…… tapi, aku sedikit berubah pikiran."

 

Secara mendadak, gadis berambut merah meluncurkan satu tusukan yang teramat kuat.

 

Vold bergegas menahannya menggunakan bilah pedang, tetapi tenaga yang luar biasa dahsyat membuat seujung tubuhnya mati rasa hingga terhuyung mundur. Sebuah tenaga kuat yang tidak masuk akal dari lengan sekurus itu. Alasan dari hal itu hanya ada satu. Sihir Physical Enhance.

 

Gadis berambut merah mulai bergumam layaknya sedang berbicara pada diri sendiri.

 

"Karena belum pernah bertarung dengan orang selain Sensei, aku sengaja menerima seranganmu demi mengukur kemampuan kalian…… tapi jujur, kalian sama sekali tidak ada apa-apanya."

 

"Apa?!"

 

"Kamu tidak dengar? Aku bilang kamu tidak ada apa-apanya."

 

"Kalau begitu, katakan hal itu setelah berhasil mendaratkan satu pukulan padaku! Penyihir sepertimu sudah sering kubunuh! Jangan berlagak tangguh hanya karena berhasil menahan seranganku sedikit!"

 

Vold meraung lalu melayangkan satu tebasan pedang.

 

Namun pada detik berikutnya, Vold langsung terperangah melihat pemandangan di hadapannya.

 

Sebab wujud sang gadis berambut merah perlahan-lahan menghilang.

 

Begitu wujudnya sirna secara total, Vold kehilangan jejak sang gadis sepenuhnya.

 

Namun, teror tidak berhenti di situ.

 

Tepat setelah itu, rasa sakit yang hebat menjalar di lengan Vold seiring dengan darah segar yang menyembur.

 

Tepat di saat menyadari bahwa sang gadis berambut merah sedang mengayunkan pedang dalam kondisi tidak terlihat, Vold langsung menjerit histeris akibat rasa takut yang teramat sangat.

 

Di tengah kondisi Vold yang demikian, sebuah suara dingin menyentuh gendang telinganya.

"Sebenarnya sihir ini baru akan kutunjukkan pertama kali kepada Sensei nanti, tapi khusus untukmu, aku akan memperlihatkannya sekarang."

 

"B-benda apa kamu sebenarnya! Kenapa orang sepertimu bisa ada di sini!"

 

Informasinya salah.

 

Berdasarkan informasi awal, para murid Lily Garden seharusnya adalah jajaran putri manja yang belum pernah melihat darah sekalipun.

 

Meskipun ketentuannya demikian, sosok di hadapannya saat ini mutlak tidak ada bedanya jika dibandingkan dengan petualang yang menghabiskan hari di dalam pertempuran.

 

Vold panik lalu mengayunkan pedangnya secara membabi buta, tetapi serangannya sama sekali tidak ada yang bersarang.

 

Sebagai gantinya, rentetan tebasan pedang yang tidak terlihat datang menerjang secara bertubi-tubi. Karena tidak sanggup menghindari seluruh serangan tersebut, tubuh Vold dipenuhi oleh luka. Tidak sampai puluhan detik berlalu, pertempuran selesai dengan mudah.

 

Dalam posisi terduduki oleh sang gadis berambut merah, ujung bilah pedang tongkat tampak menempel tepat di leher Vold.

 

Sebuah situasi di mana jika pedang tongkat ditekan sedikit saja, dia akan langsung tewas.

Sambil gemetaran cemas, Vold memasang senyuman kaku.

 

"……A-aku yang salah, Gadis. Aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagi, jadi ampuni aku."

 

"…………"

 

"……Kamu mau membunuhku? Ka-kamu tidak akan melakukannya, kan? Aku tahu kok, para putri bangsawan itu semuanya berhati lembut."

 

"…………"

 

"……Ma-mau membunuhku? Kamu, apa kamu tahu apa arti dari membunuh seseorang!"

 

Vold berteriak seolah sedang linglung.

 

Akibat rasa takut, dia tidak sanggup melihat wajah sang gadis berambut merah.

 

Sepasang mata milik gadis itu terlanjur dingin. Benar-benar persis seperti sedang melihat seekor serangga tidak berharga.

 

Ujung bilah pedang tongkat mulai merobek kulit lehernya. Darah merembes keluar, memicu rasa sakit di leher. Dia berusaha merontak sekuat tenaga, tetapi tenaganya tidak sanggup menandingi kekuatan sang gadis yang telah memasang sihir Physical Enhance di seujung tubuhnya.

Dan kesadaran Vold hanya bertahan sampai di tingkat itu saja.

 

 

"……Dia sudah pingsan sebelum sempat kubunuh, ya."

 

Isabella menjauhkan ujung bilah pedang tongkat dari leher sang pria, lalu bangkit berdiri secara tenang.

 

Pria yang menjadi lawannya bertarung hingga sesaat lalu tampak

pingsan dengan mulut berbusa.

 

Apakah karena berhadapan langsung dengan kematian, dia tidak sanggup mempertahankan kesadarannya.

 

"……Lagipula, ternyata aku tidak merasakan apa-apa, ya."

 

Jika dia menekan pedang tongkatnya sedikit saja lagi, petualang ini dipastikan akan langsung tewas.

 

Meski memahami fakta tersebut, hati Isabella tidak mengalami gejolak yang berarti. Lengan dan kakinya tidak gemetaran dan bisa digerakkan dengan normal.

 

Ini semua pasti berkat hasil dari pelajaran kelas milik Theo.

 

Isabella perlahan-lahan sedang mendekati sosok penyihir yang sanggup membunuh manusia.

Namun, meski memahami hal itu, dia tidak berniat untuk menentang Theo.

 

Mempercayai Theo. Sebab hal itulah jalan hidup yang telah dipilih oleh Isabella.

 

"Kamu tidak apa-apa?"

 

"…………Hi-hiii!"

 

Saat dia mengajak berbicara gadis pirang yang duduk lemas di atas lantai koridor──Valeria Rosenfeld, gadis itu hanya bisa meluapkan suara yang gemetaran bersamaan dengan wajah yang memucat.

 

Dia adalah murid dari Garden Pertama, pihak yang sempat berselisih dengannya mengenai urusan Xue pada masa lalu.

 

Seragamnya berantakan dan sebelah lengannya terluka. Namun itu bukan luka fatal.

 

Kalau begitu tidak ada masalah. Di saat Isabella menarik kesimpulan demikian di dalam hati, Valeria mengangkat jarinya yang gemetaran lalu menunjuk ke arah pria yang pingsan dengan mulut berbusa.

 

"Ka-kamu, me-membunuhnya?"

 

"……Hah? Orang ini? Tentu saja tidak."

 

"Ka-kamu berniat membunuhku berikutnya?!"

 

"…………Hah?"

 

Isabella mengernyitkan alis karena pasrah.

 

Kalimat mereka sama sekali tidak nyambung. Apakah gadis ini sedang linglung.

 

Atau jika diartikan secara positif──Valeria mungkin bertanya apakah Isabella akan membunuhnya sebagai bentuk balas dendam atas perselisihan mereka pada masa lalu.

 

Jika begitu kenyataannya,

 

"……Bisa saja hal itu terjadi, lho."

 

"Hi-hiii!"

 

"Coba saja cari masalah dengan kami lagi nanti. Aku pastikan kamu akan menerima nasib yang sama seperti orang ini."

 

Ancaman yang dilontarkan oleh Isabella membuat Valeria mengangguk

kuat-kuat secara tidak wajar.

 

Dengan ini dia dipastikan tidak akan berani mencari masalah yang tidak

mendasar lagi nanti.

Lagi pula, saat ini dia sudah tidak memedulikan tindakan usil dari Valeria lagi.

 

Apakah karena dia sudah memiliki keyakinan bahwa dirinya 'bisa membunuh' Valeria jika mau.

 

Sebuah ketenangan yang aneh menguasai seujung tubuhnya, membuat tindakan usil Valeria pada masa lalu terkesan sebagai urusan yang sepele saja.

 

"……Aduh, ini bukan waktunya melakukan hal seperti ini. Aku harus segera menyusul yang lain──"

 

"Isabella, apa yang sedang kamu lakukan di sini!"

 

Tepat di saat dia berniat menuju ke ruang kelas Taman Ketujuh, sebuah suara mendadak menyapanya dari seberang koridor.

 

Sosok yang berlari mendekat dari seberang koridor adalah Karina, Momo, dan Iris.

 

"Ada apa dengan kalian? Lagi pula bukankah seharusnya kalian ada di gedung sekolah terpisah?"

 

"Itu hanya kebohongan. Selagi memusatkan perhatian mereka ke gedung sekolah terpisah, aku berniat menumbangkan para petualang satu per satu. Saat ini prosesnya sedang berjalan, tapi……"

 

"Hahaha, aku juga sedang beraksi dengan sangat hebat, lho!"

 

"Karena Momo sudah berjuang keras di awal tadi, sekarang Momo hanya sebatas menonton saja~"

 

Iris membusungkan dada dengan wajah bangga, sedangkan Momo menjatuhkan pundaknya secara lemas karena lelah.

 

Sambil mengamati area sekeliling koridor, Karina berucap.

 

"Untuk saat ini hampir tidak ada korban dari kalangan murid. Meski hari ini adalah jadwal belajar mandiri, tampaknya ada banyak murid yang meliburkan diri. Ini adalah sebuah keberuntungan di tengah kemalangan."

 

Akibat agenda penugasan jarak jauh milik Anemone, para murid meliburkan diri selama tiga hari periode belajar mandiri.

 

Murid yang rajin tampaknya justru menjadi pihak yang dirugikan.

 

"Lalu, Isabella. Sebenarnya di mana keberadaan Sensei?"

 

"Sensei sedang menghadapi monster di gunung belakang."

 

"……Begitu ya. Jadi itu alasan kenapa monster-monster menghilang menuju ke arah gunung belakang. Kalau begitu kita tidak bisa mengharapkan bantuan darinya."

 

Apakah monster-monster itu bergerak aktif murni demi membunuh Theo.

 

Setidaknya karena monster tidak kunjung kembali ke sini, Theo dipastikan masih tetap hidup.

 

"Aku akan membantu kalian. Kita hanya perlu menumbangkan sisa orang-orang ini, kan?"

 

"Ya, mohon bantuannya."

 

Isabella ikut berlari menyelaraskan gerakan Karina yang mulai melesat di sepanjang koridor.

 

Hanya saja, hal yang mengusik perhatiannya adalah tujuan dari musuh.

 

Sejak deklarasi Karina tadi, para berandalan terus mengincar Taman

Ketujuh. Artinya target utama mereka dipastikan berada di dalam

Taman Ketujuh, tetapi dia tidak tahu siapa murid yang sedang diincar.

 

Jika berpikir secara normal, targetnya pasti adalah Putri Ketujuh, Momo──

 

Tiba-tiba di sana.

 

Isabella menanyakan suatu hal yang mengusik pikirannya.

 

"……Ngomong-ngomong, Xue di mana?"

Hanya wujud Xue yang tidak kelihatan.

 

Mendengar pertanyaan Isabella, Karina memasang ekspresi serius.

 

"Maaf, aku terpisah dengan Xue saat menumbangkan para petualang satu per satu. Sekarang dia seharusnya bergerak bersama Gardener-sensei. Jadi, mari kita bergabung dengan Xue terlebih dahulu."

 

 

"Amaryllis-san, lewat sini!"

 

Hutan di sekitar wilayah Lily Garden.

 

Mengikuti arahan Ophelia, Xue berlari menembus hutan.

 

Dari arah belakang, monster terus mengejar.

 

Padahal sebagian besar monster seharusnya menghilang ke arah gunung, tetapi entah kenapa mereka justru muncul di belakang Xue.

 

Akibatnya, mereka terdorong menjauh dari gedung sekolah dan terpaksa melarikan diri ke dalam hutan.

 

"Pelepasan Formula Sihir: Slash!"

Sihir yang dilepaskan Ophelia memicu kemunculan tebasan secara mendadak, membelah monster itu menjadi dua. Monster yang mengejar kini telah lenyap.

 

Di titik itu, stamina fisik Ophelia tampaknya telah mencapai batas. Dia duduk lemas sambil terengah-engah.

 

"Sensei, tidak apa-apa?"

 

"……Ya, tidak apa-apa. Tapi aku sedikit lelah. Boleh aku istirahat di sini?"

 

"Ya. Mari istirahat."

 

Xue menarik tangan Ophelia, membawa sang guru bersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan yang ditunjuknya.

 

Dia ingin menggunakan sihir pemulih, tetapi Ophelia tidak sedang terluka.

 

Penyebabnya murni karena kekurangan mana. Napas sang guru terlihat memburu kesakitan.

 

Ophelia menyipitkan mata menatap langit dari balik sela-sela ranting pohon yang ditembus cahaya mentari.

 

"……Sudah lama aku tidak berlari sejauh ini. Padahal dulu aku sering melakukannya."

"Benarkah?"

 

"Ya. Setelah wilayah keluarga Gardener lenyap dan aku menumpang di rumah kerabat…… aku tidak tahan lalu berkelana ke berbagai tempat.

Saat itu, aku hanya bisa berlari. Terkadang, aku juga menghabiskan waktu bersama para ras iblis."

 

"……Bersama ras iblis?"

 

Ini pertama kalinya Xue mendengar hal itu.

 

Tentu saja dia tidak begitu mengetahui masa lalu Ophelia. Namun bagi seorang ras manusia, memiliki pengalaman tinggal bersama ras iblis merupakan sebuah rekam jejak yang langka.

 

"Ya, apa kamu tidak ingat? Aku juga pernah bersamamu dulu, lho, Amaryllis-san."

 

"……Eh?"

 

"Seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Tapi rasanya memalukan jika hanya aku yang ingat. Karena sekarang kita sudah berada di luar

Garden dan hanya berdua saja, akhirnya aku bisa mengatakannya."

 

Di saat Xue meluapkan suara yang terperangah, Ophelia mengulas senyuman polos yang malu-malu.

 

Namun sepanjang hidup Xue, jumlah wanita ras manusia yang pernah menghabiskan waktu bersamanya tidaklah banyak, dan dia mengingat semuanya. Sosok Ophelia dipastikan tidak ada di dalam ingatan tersebut.

 

Deg, jantungnya seketika berdegup kencang. Entah mengapa, sebuah firasat buruk yang teramat sangat melanda dirinya.

 

Insting Xue──bahkan para spirit yang mengitari hutan pun mulai membunyikan lonceng peringatan.

 

Para spirit dalam jumlah tak terhitung yang biasanya selalu meminjamkan kekuatan lebih cepat sebelum Xue sempat merangkai kata.

 

Ophelia menyunggingkan senyuman yang janggal.

 

"Kamu masih belum paham?"

 

"Ma-maaf. Aku sama sekali tidak ingat──"

 

"Mungkin karena wajahku sedikit berubah dari yang dulu ya. Bagaimana kalau begini?"

 

Ophelia menyentuh wajahnya sendiri.

 

Tepat di bagian yang disentuh oleh tangan Ophelia, kulit wajahnya perlahan runtuh berjatuhan. Tampaknya dia mengenakan sihir penyamaran. Kulit baru yang muncul di baliknya berwarna kelabu layaknya bekas luka radang dingin yang parah. Sekitar dua puluh persen dari wajahnya tampak dipenuhi noda belang tersebut.

 

Dan,

 

"──Sekarang kamu sudah ingat? Ini luka yang kamu berikan padaku, lho."

 

Wajah maupun nada suara Ophelia telah berubah total.

 

Pakaiannya memang masih berupa baju biarawati jubah putih. Namun, kulitnya retak-retak dan sepasang matanya mengingatkan pada sosok ular.

 

Sensasi merinding seketika menjalar di seujung tubuh Xue.

 

Di saat yang sama, masa lalu yang mengerikan kembali berputar di dalam kepala. Nada suara itu mutlak tidak akan pernah dilupakannya.

 

"Ka-kamu adalah……!"

 

"Ahahaha, akhirnya kamu mengingatku? Sudah lama tidak berjumpa ya, Xue-chan. Karena kamu sama sekali tidak menyadarinya, aku hampir saja merajuk, lho."

 

Ophelia tersenyum simpul.

"Semuanya, semuanya sengaja kuatur demi bisa menculikmu. Mengubah tubuhku sendiri agar bisa mendapatkan kekuatan mengendalikan monster, semuanya kulakukan demi dirimu. Aku sangat senang karena akhirnya bisa mengaku padamu."

 

Seiring dengan untaian kalimat yang dilontarkan Ophelia bersamaan dengan ekspresi wajah yang mabuk kepayang, monster-monster mulai bermunculan dari berbagai sudut hutan.

 

Alasan kenapa Xue dan Ophelia dikejar monster hingga terpaksa melarikan diri dari gedung sekolah menuju ke hutan, seluruhnya berada di dalam genggaman tangan wanita itu. Dialah pihak yang menggunakan monster demi menggiring Xue sampai ke tempat ini.

 

"Ah, sepertinya aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu. Karena dulu aku belum sempat memberitahukan namaku dengan becus kepadamu."

 

"──Namaku Ophelia, Kursi Kelima dari Gereja Ortodoks, sang Matai. Mari kita kembalikan kehidupan masa lalu yang teramat menyenangkan itu. Aku berjanji akan menyayangimu lagi layaknya seorang adik perempuan sendiri, lho?”



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close