NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 SS

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Cerita Pendek Khusus Ditulis Ulang: 

"Boleh Pinjam Bibirmu?"


"Ah."


Sagiri menggumamkan hal itu tepat saat kami baru saja akan mulai mengerjakan pekerjaan rumahbersama-sama di kamarku.


"Pelakunya pasti aku sendiri, yang langsung tidur semalam setelah selesai menulis buku harian......"


Berbagai macam lembar PR liburan musim panas milik Sagiri sudah tampak bertebaran di atas meja. Namun, karena tidak ada satu pun alat tulis di sana, aku langsung paham kalau dia lupa membawanya.


"Renji, boleh pinjam pensil mekaniknya?"


"......Boleh saja, sih. Tapi jangan lupa juga, dong, padahal kamu sendiri yang mengajak untuk mengerjakan bersama?"


"Ehehe."


Padahal tidak sedang dipuji, tetapi Sagiri malah menyunggingkan senyum lebar yang jenaka.


Sembari membatin betapa menggemaskannya anak ini, aku pun mengulurkan pensil mekanik itu kepadanya.


"Ah."


Tidak lama setelah mulai mengerjakan PR, kali ini Sagiri kembali bergumam.


"Renji, boleh pinjam penghapusnya?"


"......Iya, iya. Pakai saja itu sampai kamu selesai."


"Hore!"


Tampaknya dia langsung melakukan kesalahan dalam menjawab soal. Karena akan merepotkan jika harus terus meminjamkannya berulang kali, aku memberikan sebuah penghapus baru kepada Sagiri, lalu setelah itu kami kembali fokus mengerjakan PR dalam keheningan.


Hanya suara goresan pensil mekanik dan deru halus pendingin ruangan yang menyelimuti atmosfer kamar dengan tenang.


"Ah."


Setelah beberapa saat berlalu, benar saja, Sagiri kembali bergumam.


Sembari bertanya-tanya ada apa lagi kali ini, aku mendongakkan kepala, dan di depanku telah tersaji sebuah senyuman yang merekah dengan sangat penuh——.


"Boleh pinjam bibirmu?"


"U-Ummh?!"


——Bibirku langsung dibekap, dan dia menciumku.


Sensasi lembut dan hangat dari bibir Sagiri yang datang secara mendadak itu seketika membuat sekujur tubuhku terasa memanas dengan cepat.


"......Puhah. Ehehe, bibir Renji...... sudah kupinjam."


"K-Kamu ini, ya......!"


Sembari menjauhkan bibirnya dan membuka sepasang mata yang tadi terpejam saat berciuman, Sagiri tersenyum dengan sangat bahagia.


Meskipun kami sudah melakukannya puluhan atau bahkan ratusan kali, tetap saja ciuman mendadak di tengah-tengah waktu belajar seperti ini sukses membuat jantungku berdegup kencang seolah mau melompat keluar.


"Nanti pinjam lagi, ya?"


"Tanpa kubilang boleh pun, kamu pasti akan langsung meminjamnya sendiri secara sepihak, 'kan!"


"Iya!"


Jika ritmenya terus seperti ini, tidak akan mengherankan jika jumlah ciuman kami bisa mencapai ratusan kali sebelum liburan musim panas berakhir. Namun, karena aku sendiri pun sebenarnya ingin berciuman dengan Sagiri, aku tidak bisa memprotesnya lebih jauh lagi dan benar-benar menyadari betapa lemahnya aku di hadapannya.


Lagi pula, apa-apaan juga konsep "meminjam bibir" itu? Kalau memang meminjam, bukankah seharusnya dia mengembalikannya dengan benar nanti? ......Mengembalikan bibir yang telah dipinjam?


"Bii-bir, bii-bir, bibirnya Renji, cup cup cup~!"


Sagiri yang suasana hatinya langsung membubung tinggi setelah bisa berciuman, melanjutkan mengerjakan PR-nya sembari menyanyikan sebuah lagu misterius ciptaannya sendiri. Sementara itu, alur pemikiranku sedang menuju ke arah satu kesimpulan tertentu.


"Hei, Sagiri?"


"Hmm?"


Kali ini giliran aku yang memanggilnya, membuat Sagiri mendongak menatapku dengan wajah berseri-seri. Aku pun perlahan menempelkan tanganku pada wajah sahabat karibku yang paling rupawan dan menggemaskan di seluruh dunia ini.


"Kembalikan bibirku."


"——Mmph?!"


Dan kali ini, akulah yang membekap bibir Sagiri untuk menciumnya.


Sagiri langsung terbelalak lebar dan tubuhnya menjadi kaku karena terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Padahal dia sendiri yang memulainya duluan, tetapi tampaknya dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang sama dari diriku.


"A-Apa...... Re-Ren-ji......?"


Wajahnya tampak merah padam seolah-olah sudah hampir meledak saat ini juga. Paras cantiknya yang memancarkan rona kedewasaan itu kini tengah menatap ke arahku.


"......Bibirku memang sudah dikembalikan, sih."


Hal itu kembali membuat dadaku berdegup dengan sangat kencang.


"T-Tapi......?"


Sepasang mata berwarna amber yang sewarna dengan matahari terbenam itu tampak dipenuhi oleh rasa terkejut. Namun, di dalam kilatan matanya, tersirat sebuah harapan yang jauh lebih besar daripada rasa terkejutnya itu sendiri.


"Boleh, 'kan, kalau sekarang giliranku yang meminjam darimu?"


Demi menjawab harapan tersebut, aku pun perlahan mendorong tubuh Sagiri hingga telentang.


Mencium sepasang bibir berwarna merah muda lembut yang indah itu, kali ini akulah yang meminjamnya terlebih dahulu.


"......Kalau begitu, kembalikan bibirku."


Namun, kali ini giliran Sagiri yang mendorong tubuhku hingga telentang dan langsung membekap bibirku kembali.


Begitulah suasana di sebuah sore yang damai pada hari libur musim panas, yang terus diisi oleh aktivitas berciuman seperti itu.


Aku dan Sagiri sedang melewatkan hari-hari sebagai sepasang sahabat yang sangat manis, di mana kami sama-sama tidak ingin mengalah dari satu sama lain.


Setelah itu, aktivitas pinjam-meminjam bibir yang terus dilakukan selama berulang-ulang kali, sama sekali tidak membuat pekerjaan rumah kami mengalami kemajuan sedikit pun.


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close