NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Pria Selingkuhan Terakhir adalah Seorang Pria Tampan Berdarah Bangsawan yang Merebut Tunangan Masa Kecilku

Sudah tiga hari berlalu sejak Goblin si pria perebut tunangan—maksudku, instruktur latihan tempur Ivo Zumpe—diserahkan kepada pihak akademi.


Kesimpulannya, Goblin bukan hanya dipecat dari jabatannya sebagai instruktur, tetapi juga diadili sebagai penjahat keji yang telah memangsa banyak siswi.


Kabarnya, saat ini lembaga kepolisian Kekaisaran sedang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelidiki kejahatan-kejahatan lain yang pernah ia lakukan. Sepertinya tidak akan lama lagi sebelum semua perbuatannya terungkap ke publik.


Yah, kalau sudah menyentuh 217 siswi, hukuman mati rasanya sudah pasti.


"Makanya sudah kubilang, kan? Waktu itu yang terbaik adalah merahasiakan soal itu."


"Benar sekali, de gozaru... Kalau waktu itu hamba mengabaikan peringatan Nicholas-dono, mahakarya terbaik hamba pasti sudah disita."


Aku sengaja tidak menyerahkan rekaman interaksi Lea dan Goblin yang direkam kamera supermini berperforma tinggi sebagai barang bukti.


Tanpa itu pun kami sudah bisa menjatuhkan Goblin, jadi menurutku tidak perlu memperlihatkan kartu truf kami sekarang.


Lagi pula...


"Bahkan tanpa kita bergerak, Julian sudah lebih dulu melaporkannya ke pihak akademi."


Saat kami mengantarkan Goblin ke ruang para instruktur, pihak akademi ternyata sudah mengetahui semuanya.


Pasti setelah membawa Lea pergi, dia langsung melapor kepada para instruktur.


"Tapi... kenapa pihak akademi begitu mudah mempercayai cerita tunanganmu dan pria itu?"


"Itu karena..."


Jawabannya jelas. Karena Julian adalah seseorang yang tidak punya pilihan selain dipercaya.


Kemungkinan besar pihak akademi juga mengetahui identitas aslinya—bahwa dia adalah keturunan darah kekaisaran.


Bahkan bisa jadi mereka sudah menerima instruksi khusus dari Kekaisaran tentang bagaimana memperlakukannya.


Sekarang tinggal menjelaskan hal itu kepada Emma... tapi apa tidak apa-apa? Bukan karena aku tidak mempercayainya.


Yang ku khawatirkan justru keselamatannya kalau sampai mengetahui identitas Julian.


"Emma...?"


"Hehe... tidak apa-apa kok kalau tidak mau memberi tahu. Aku yakin, karena ini menyangkut aku, Nico-san pasti memutuskan lebih baik tidak mengatakannya, kan?"


Astaga... ternyata dia benar-benar bisa membaca pikiranku.


Kami baru akrab setelah mengetahui Lea telah direbut pria lain. Artinya kami bahkan belum saling mengenal selama sepuluh hari.


Namun sekarang, rasanya dia jauh lebih mengerti diriku dibandingkan Lea. Kalau begitu...


"...Tidak masalah. Hanya saja, kalau mau membicarakan ini, ada satu orang lagi yang sebaiknya ikut hadir."


"Itu... siapa ya?"


Emma bertanya dengan tatapan ragu sambil mendongak. Kalau dia tahu siapa orangnya, pasti akan terkejut.


Karena...


"Teman sekelasmu sekaligus sahabatmu, Josephine Weidenfeller."


"Eeeeeeeeehhhhh!?"


Bahkan Emma yang biasanya tenang sampai berteriak keras.


Sementara itu Hugo sama sekali tidak mengerti pembicaraan kami, tetapi entah kenapa dia malah menyilangkan tangan dan mengangguk-angguk seolah paham.


"K-kenapa tiba-tiba Josephine-sama dibawa-bawa!? Jangan-jangan... Nico-san dan Josephine-sama punya hubungan khusus..."


"Mana mungkin. Justru hubungan itu ada antara Julian dan Josephine."


"Dengan pria itu!?"


Begitu kujelaskan bahwa bukan aku yang berhubungan dengan Josephine, Emma malah tampak semakin terkejut. Bahkan senyum biasanya menghilang dari wajahnya.


"Pokoknya nanti akan kujelaskan setelah Josephine-sama datang. Jadi..."


Aku berbalik.


"A-apa!? A-aku hanya kebetulan lewat di sini saja! Iya, benar begitu!"


Sambil mengucapkan alasan yang tidak masuk akal, Josephine buru-buru hendak pergi. Di belakangnya berdiri Rosa, salah satu pengikutnya.


"Memangnya Anda mau ke mana? Ini kan kelas Josephine-sama."


Lagipula Emma dan Hugo satu kelas. Daripada menyuruh mereka datang, lebih cepat kalau aku sendiri yang datang ke kelas ini.


Selain itu, di kelasku ada Lea. Aku sebisa mungkin tidak ingin pembicaraan kami didengar olehnya. Bagaimanapun juga, Lea dan Julian terhubung lewat hubungan NTR mereka.


"B-bukan karena aku merasa dikucilkan lalu kesepian atau apa! Hanya saja... kau sudah punya tunangan, jadi aku harus mengawasi agar kau tidak menyeret sahabat berhargaku ke jalan yang salah!"


Kalau diringkas...Josephine merasa dirinya ditinggalkan. Makanya dia mondar-mandir di sekitar kami karena ingin diperhatikan.


Apa-apaan sih nona antagonis ini? Imut sekali.


"Hehe, tentu saja tidak. Josephine-sama adalah sahabat terbaikku."


"T-tunggu! Lepaskan aku!"


Emma langsung memeluk Josephine sambil tersenyum lebar.


Josephine tampak berusaha melepaskannya dengan wajah kesal, tetapi sudut bibirnya malah terus mengendur, sama sekali tidak sesuai dengan kata-katanya.


"Entah kenapa, sepertinya mengurus dia cukup melelahkan ya."


"...Tidak juga. Justru menyenangkan melihat Josephine-sama."


Begitulah jawaban Rosa. Sama seperti Emma, cara mereka memperlakukan Josephine benar-benar tidak seperti seorang bawahan terhadap atasannya.


Kalau begitu kenapa di game mereka cuma disebut "Figuran A" dan "Figuran B"?


Kalau ini kehidupan masa laluku, pasti sudah kutulis panjang lebar di kolom komentar situs pendukung game itu.


"Kalau begitu, Nico-san, tolong jelaskan semuanya."


"Ya."


Aku mengangguk lalu menoleh ke arah Josephine.


"A-apa?"


"Josephine-sama... Anda tahu garis keturunan Julian Retzel yang sebenarnya, bukan?"


"!? "


Josephine menahan napas. Reaksi itu saja sudah cukup membuktikan bahwa Julian memang darah kekaisaran.


"Josephine-sama..."


"...Ya, benar. Julian adalah putra dari kakak Yang Mulia Kaisar. Namun Pangeran itu sudah wafat, dan demi mencegah masalah dalam perebutan takhta, Julian kemudian diangkat sebagai anak keluarga Marquis Retzel yang terkenal sebagai keluarga bangsawan paling setia kepada Kekaisaran."


Ternyata Josephine memang mengetahui seluruh latar belakangnya. Melihat ekspresinya, rasanya kematian sang pangeran jelas bukan sesuatu yang biasa.


Namun siapa sangka, hanya dari tulisan "darah kekaisaran" di status erotis Julian, ternyata latar belakangnya seberat ini.


Padahal ini cuma game doujin NTR. Penggemar game erotis jelas tidak mencari cerita seperti itu.


"Tapi kau benar-benar tahu banyak. Padahal rahasia ini bahkan hanya diketahui oleh keluarga kekaisaran dan keluarga Weidenfeller."


Tatapan Josephine langsung berubah tajam. Sepertinya memang informasi yang seharusnya tidak diketahui orang biasa.


"...Aku juga sebenarnya tidak tahu sedetail itu. Hanya saja, melihat betapa cepatnya pihak akademi menangani kasus Ivo waktu itu, kupikir pasti ada sesuatu. Sama-sama keluarga Marquis, tapi perlakuan terhadapku dan terhadap dia jelas berbeda."


Memang begitu kenyataannya.


Saat kami membawa Goblin, sikap akademi kepada kami hanya seperti kepada murid biasa. Kalau saja Julian tidak ikut campur, bisa saja semuanya ditutup-tutupi.


Bagaimanapun juga, kasus ini sangat mencoreng nama Akademi Kekaisaran Luminous.


Namun begitu Julian terlibat, mereka langsung membuka semua informasi dan bahkan memperbesar kasus tersebut. Sampai rela mempertaruhkan nama baik akademi.


Itu saja sudah cukup menjelaskan semuanya.


"Jadi begitulah. Aku hanya ingin memastikan apakah dugaanku benar dengan bertanya langsung kepada Josephine-sama."


"...Biasanya kau terlihat agak sembrono, tapi ternyata kau cukup cerdas."


Tak kusangka Josephine akan menilaiku seperti itu. Padahal sebenarnya aku hanya memoles informasi yang kudapat dari 【Status Open】 agar terdengar masuk akal.


Kalau dia tahu bahwa sumbernya adalah skill sampah yang khusus menampilkan status erotis, mungkin dia akan langsung pingsan.


"Tapi..."


"!? "


"Hati-hatilah. Menjadi terlalu cerdas memang hebat, tapi kalau terlalu tajam, itu bisa menghancurkan dirimu sendiri."


Josephine mendekat hingga wajah kami hampir bersentuhan sambil tersenyum penuh percaya diri.


Tapi izinkan aku mengatakan satu hal.


Dada I-cup terbesar di seri Luminous sedang menekan dadaku dengan lembut. Apa maksud "menghancurkan diri sendiri" yang dia katakan tadi adalah ini?


Aku benar-benar tidak ingin melepaskan sensasi ini...


"......"


"Hii!?"


Begitu menyadari tatapan sedingin es dari Emma, aku buru-buru menjauh dari Josephine.


Kalau terus seperti tadi, mungkin hidupku yang baru saja bereinkarnasi ini akan berakhir saat itu juga.


"Josephine-sama... jangan terlalu sembarangan mendekati Nico-san ya."


"!? B-baik... aku akan berhati-hati..."


Bahkan Josephine pun tidak berkutik ketika ditatap mata biru Emma yang kehilangan cahaya. Seperti katak yang berhadapan dengan ular, dia buru-buru mengangguk.


"Grr... sungguh membuat iri de gozaru... ehem! Jadi Nicholas-dono, sekarang kita tahu Julian-dono adalah putra Pangeran Kekaisaran. Lalu memangnya kenapa de gozaru? Pada akhirnya Goblin berhasil disingkirkan berkat dia. Bukankah urusan ini sudah selesai de gozaru?"


Sambil menggertakkan gigi hingga seolah bisa menangis darah karena iri, Hugo akhirnya mengajukan pertanyaan yang masuk akal. Padahal itu sama sekali bukan karakternya.


Namun...Apa yang harus kukatakan?


Alasan aku begitu memusatkan perhatian pada Julian hanya satu. Karena dialah pria perebut tunangan dalam Broken Days of Luminous III, dan dialah orang yang benar-benar merebut Lea dariku.


Meski dia keturunan keluarga kekaisaran dan nyaris tak bisa disentuh, aku tidak mungkin berpura-pura tidak melihat pria yang telah merebut tunangan sekaligus teman masa kecilku.


Kalau aku diam saja...Itu terlalu menyedihkan.


Tapi kalau kujelaskan semuanya di sini, selain Emma yang sudah tahu, semua orang akan ikut terseret.


Mana mungkin aku menyeret mereka hanya demi urusan pribadiku...


"Emma!?"


"Hehe. Tentu saja aku akan menemanimu sampai akhir."


Emma menggenggam tanganku sambil tersenyum cerah seperti bunga matahari.


Dia tahu tujuanku. Dia tahu apa yang akan kulakukan. Dia tahu aku tidak akan mundur. Namun meski begitu, dia tetap memilih berada di sisiku.


"...Dasar bodoh."


"Mungkin memang begitu. Tapi Nico-san juga sama, kan?"


"Benar juga."


"Hehe."


"Hahaha.”


Aku dan Emma saling melempar candaan ringan seperti itu, lalu tanpa sadar tertawa.


Maksudku, kenapa dia cuma dianggap... eh, tidak juga sih. Dia kan makhluk terkuat di dunia sekaligus seorang ananis. Jelas bukan orang biasa.


Pokoknya, kenapa dia cuma diperlakukan sebagai "Figuran A"?


Di antara seluruh seri Luminous... bahkan dibandingkan semua heroine game erotis yang pernah kumainkan di kehidupan sebelumnya, dia benar-benar imut dan luar biasa.


Rasanya ingin menyuruh circle doujin pembuat game itu mengganti heroine utama... eh, tunggu. Kalau begitu nanti Emma yang malah akan direbut pria lain. Tidak jadi deh.


"Jadi begitu ya, Hugo. Untuk sementara aku pinjam dulu alat sihirmu. ...Ah, kalau sampai disita nanti, maaf ya."


"Buhihihihi!? Itu tidak boleh, de gozaru! Bukankah sudah berkali-kali hamba bilang kalau itu adalah mahakarya satu-satunya milik hamba!?"


Hugo mengayunkan kedua tangannya yang pendek sambil memprotes habis-habisan.


Pada akhirnya dia cuma otaku menyeramkan yang bentuknya mirip Humpty Dumpty. Tinggal kuulurkan tangan lalu kutahan kepalanya saja, dia pasti langsung berhenti...


"Tidak akan kuizinkan begituuuuu!!"


"Guhhh!!"


Tak disangka, Hugo malah menubrukku dengan seluruh berat badannya. Kepala nanasnya menghantam tepat ulu hatiku.


Sakit sekali.


"Dengarkan baik-baik de gozaru! Alat sihir itu berisi impian, harapan, persahabatan, kerja keras, dan kemenangan milik hamba de gozaru! Jadi siapa pun lawannya... bahkan kalau itu keluarga kekaisaran sekalipun, hamba tidak akan membiarkannya direbut de gozaru!"


Sudah berapa kali sih dia mengucapkan "de gozaru"?


Dan lagi, jangan memasukkan impian, harapan, apalagi konsep manga shonen ke dalam alat untuk mengintip diam-diam begitu!


"Dasar bodoh. Memang benar-benar bodoh."


"Bodoh bodoh berisik, de gozaru! Jangan bilang begitu pada orang yang nekat menghadapi pertarungan mustahil hanya berdua!"


Dasar otaku mesum tukang mengintip. Sampai kapan dia mau terus bersikap seolah teman seperjuanganku?


...Tak pernah kusangka pria perebut tunangan yang seharusnya menjadi musuh malah benar-benar naik pangkat menjadi temanku.


"Emma."


"Ya."


Emma langsung mengerti maksudku dan menyerahkan kamera supermini berperforma tinggi yang dibawanya kepada Hugo.


"Kalau nanti terjadi apa-apa jangan salahkan aku. Bukan cuma dikeluarkan dari akademi, paling buruk kau bisa ditangkap."


"Kalau begitu hamba akan mengkhianati kalian sekuat tenaga, de gozaru♪"


Sialan...dia bahkan sempat berkedip manis.


Pose begitu kalau dilakukan pria perebut tunangan benar-benar seperti hukuman saja.


Tapi.....terima kasih.


"Haa... sungguh ya, kalian bertiga ini sedang heboh membicarakan apa sih?"


Josephine yang sejak tadi memperhatikan kami menghela napas. Setelah mendengar semua pembicaraan ini, tentu dia pasti sadar kalau kami berniat memusuhi Julian.


Kupikir sebagai sesama anggota keluarga kekaisaran, Josephine akan menghentikan kami...


"Kalau begitu, jelas aku juga harus ikut!"


"Hah...?"


Tiba-tiba Josephine membusungkan dadanya yang besar dengan penuh percaya diri sambil tersenyum angkuh.


Tentu saja aku hanya bisa melongo sambil tanpa sadar terpaku pada payudaranya.


"Bukankah itu sudah jelas? Aku adalah putri keluarga Duke Weidenfeller, keluarga paling berkuasa di Kekaisaran Luminous yang didirikan oleh kakak Kaisar terdahulu. Hanya karena Julian adalah keturunan Pangeran Kekaisaran bukan berarti aku akan membiarkannya bertindak sesuka hati di hadapanku."


Sambil tersenyum tipis, dia memperlihatkan sosok yang benar-benar seperti seorang villainess.


Namun karena aku tahu bagaimana nasibnya di Luminous VIII, di mana dia akhirnya direbut pria lain dan berakhir tragis, aku jadi sulit memberi komentar.


Lagi pula...


"E-emm... Josephine-sama sudah tahu apa yang sebenarnya ingin kami lakukan?"


"Aku memang tidak tahu rinciannya. Tapi aku tahu kalian berniat melawan Julian. Karena itulah kau sengaja bertanya kepadaku tentang dirinya, bukan?"


Ternyata dia sudah membaca maksudku sejak awal.


Sepertinya satu-satunya hal yang tidak dia mengerti hanyalah soal hal-hal mesum. Benar seperti yang dia katakan.


Aku memang sengaja bertanya kepadanya tentang Julian. Kalau penjelasan datang darinya yang berasal dari keluarga kekaisaran, tentu jauh lebih meyakinkan.


...Meski itu hanya alasan di permukaan. Tujuan sebenarnya adalah menyeret Josephine ke dalam masalah ini. 


Kalau dia ikut, posisinya setara dengan Julian sebagai anggota keluarga kekaisaran.


Kalaupun Julian atau orang-orang di sekitarnya ingin mencelakai kami, mereka pasti akan berpikir dua kali jika Josephine ikut terlibat.


Dengan begitu, aku bisa melindungi Emma dan Hugo yang rela mempertaruhkan diri demi masalah pribadiku.


"Hehe... pilihanmu tidak salah sih. Bahkan aku justru berterima kasih karena kau melibatkanku."


"Itu..."


"Bukankah begitu? Aku tidak mungkin membiarkan sahabat berhargaku disentuh. Dan kalau sampai sahabatku terluka hanya karena aku tidak tahu apa-apa, aku sendiri tidak akan bisa memaafkan diriku."


Melihat Josephine mengucapkannya dengan penuh kebanggaan sebagai putri keluarga Duke, sosoknya tampak begitu bersinar di mataku.


Kalau saja dia muncul di game erotis selain seri Luminous, pasti dia akan menjadi heroine terbaik.


Sungguh sayang dia justru heroine yang menjadi korban NTR.


"Jadi... tolong ceritakan padaku juga. Apa yang Julian lakukan kepadamu, dan bagaimana rencanamu melawannya."


◇◆◇◆◇


"Jadi... begitulah..."


Kami berpindah ke kantin akademi yang sudah sepi, lalu menceritakan semua yang telah terjadi, termasuk rencana kami selanjutnya.


Tak seorang pun menyangka kalau tunanganku telah direbut pria lain, dan bahwa aku sedang mengumpulkan bukti untuk membatalkan pertunangan sekaligus menghukum Julian.


Semua memasang ekspresi yang rumit.


"Itulah sebabnya mulai sekarang aku akan mengawasi Lea dan Julian. Saat mereka mulai semakin dekat, aku akan mengumpulkan bukti. Untungnya kita punya alat sihir buatan Hugo."


"Bufufufu... Dengan alat sihir hamba, bukti sekecil apa pun tidak akan lolos, de gozaru. Tentu saja saat mereka melakukan hal-hal mencurigakan pun akan terekam sempurna de gozaru."


Begitu Hugo berkata dengan bangga, ketiga gadis langsung memasang wajah jijik.


Mereka pasti semakin yakin kalau kamera seperti itu sama sekali tidak boleh berada di tangan pria ini.


"...Memiliki bakat sebesar itu sebagai teknisi sihir, tapi dipakai untuk hal seperti ini. Benar-benar menyia-nyiakan kemampuan."


"...Hugo, nanti pinjamkan juga padaku."


"Rosa!?"


Permintaan Rosa membuat Josephine refleks berteriak.


Begitu ya...Berarti Josephine belum tahu kalau Rosa sebenarnya seorang fujoshi.


"Kubilang ya, memakai alat itu untuk mengintai pria juga tetap kejahatan."


"...Menurutku itu agak tidak adil."


"Tidak, itu adil."


Terlepas dari keluhan Rosa, sekarang semua sudah tahu apa yang akan kami lakukan. Tinggal menjalankannya saja.


"Memang benar, perselingkuhan antara Julian dan tunanganmu tidak bisa dibiarkan. Aku juga mengerti kenapa kau ingin mengumpulkan bukti dan membuat mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi..."


Josephine menatapku.


"...Kenapa kau terlihat begitu terburu-buru?"


"Aku... terburu-buru?"


"Ya."


Jawabannya sudah jelas.


"Josephine-sama tentu tahu, bukan? Seperti apa sebenarnya keluarga Marquis Retzel itu."


Sudah berkali-kali kukatakan. Keluarga Retzel adalah bangsawan yang hanya berpura-pura setia kepada Kekaisaran.


Diam-diam mereka menjalankan perdagangan manusia yang dilarang dan menguasai dunia bawah.


Di Broken Days of Luminous III, setelah direbut Julian, Lea dijual ke rumah bordil milik keluarga Retzel, lalu dipaksa menghabiskan hidupnya sebagai alat pemuas para bangsawan tua.


"...Ya. Aku tahu."


Josephine menggigit bibirnya.


"Kalau boleh jujur, bagi Kekaisaran, keberadaan Julian hanyalah masalah. Itulah sebabnya Yang Mulia Kaisar menyerahkannya kepada keluarga Retzel yang bersedia menerimanya."


Setelah mengatakannya, Josephine terdiam.


Entah dia membenci Julian sebagai sesama anggota keluarga kekaisaran...atau justru bersimpati pada kehidupan berat yang harus dijalaninya.


Aku tidak tahu. Namun apa pun itu, kami...


Tidak. Aku, sebagai tunangan Lea, harus menghentikan pria perebut tunangan itu.


Itulah satu-satunya penghormatan terakhir yang bisa kuberikan kepada tunanganku yang telah direbut, setelah bereinkarnasi sebagai pria yang dikhianati.


"...Aku mengerti sekarang."


Josephine mengangguk.


"Seperti katamu, kita memang tidak punya banyak waktu."


"Terima kasih atas pengertiannya."


Aku menundukkan kepala dalam-dalam.


Sekarang tujuan kami sudah sama.


Tidak ada lagi keraguan untuk menghukum Julian.


"..."


"Eh? Ada apa?"


Entah kenapa Josephine malah memasang wajah tidak puas.


Apa aku salah bicara?


"Kau berbicara begitu santai kepada Emma, Rosa, bahkan kepada pria di sana...tapi terhadapku...W-walaupun sedikit... kau masih terdengar terlalu menjaga jarak, bukan?"


Sambil menyilangkan tangan, Josephine berdiri dengan wajah semerah tomat.


"Kalau kita sudah menjadi rekan yang akan menghentikan kejahatan Julian... bukankah seharusnya cara bicaramu kepada rekan sendiri juga berbeda!"


Jadi begitu ya. Dia ingin aku bersikap lebih akrab.


Apa-apaan Villainess heroine korban NTR ini.


Imut sekali.


"Kalau begitu, Josephine-sama juga jangan terus memanggilku 'kau'. Mulai sekarang panggillah aku dengan namaku."


"~~~~~~~~~!"


Begitu kubalas seperti itu, wajahnya bukan hanya memerah, bahkan sampai ke leher.


Dia pun menundukkan kepala karena malu. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar...


"...Ni... Nicholas…”


Aku berhasil mendapatkannya.


Sikap manis Josephine yang sudah dikerahkan sekuat tenaga. Bahkan hanya dengan melihat itu saja rasanya aku bisa makan tiga mangkuk nasi, tapi tentu saja aku belum puas hanya sampai di situ.


"Hm? Barusan Anda bilang apa?"


Sambil menempelkan tangan ke telinga, aku sengaja memancingnya.


Melihat putri bangsawan antagonis berdada I-cup itu gemetar karena malu benar-benar luar biasa...


"N-Nicholas! Sudah cukup, kan!? Begini sudah cukup!"


"Waaah!?"


Josephine menarik telingaku sekuat tenaga sambil berteriak. Aku begitu terkejut hingga terguling di lantai.


Waduh... gara-gara terlalu menikmatinya, aku jadi kelewatan menggodanya.


"...Hee. Jangan-jangan, Nico-san, kamu sama Josephine-sama itu..."


"Hah!? T-tunggu dulu, Emma! Tenang dulu!?"


Sorot cahaya di mata biru tua Emma lenyap, sementara ia meretakkan jari-jarinya.


Saat kulihat lebih saksama, bahkan urat di dahinya pun muncul. Senyumnya saat itu terasa lebih mengerikan daripada apa pun di dunia ini.


— Selamat tinggal, semuanya. (Tamat)


◇◆◇◆◇


Halo semuanya, Nicholas di sini.


Berkat belas kasihan makhluk terkuat di dunia, aku akhirnya berhasil bertahan hidup dan menyambut hari berikutnya.


Saat ini jam istirahat siang, dan aku sedang membuntuti Lea.


Tentu saja Emma ikut bersamaku. Sementara itu, Julian diawasi oleh Josephine, Rosa, dan Hugo.


Kenapa pembagian kelompoknya seperti itu?


Karena Emma yang memutuskannya.


"Hehe... semoga saja tunanganmu segera menunjukkan ekornya."


Emma berkata begitu dengan riang.


Meskipun tingkat kesukaannya kepadaku masih nol, apakah dia benar-benar senang karena hanya berdua denganku? Yah... aku ingin percaya begitu.


"Ngomong-ngomong, bukankah kau terlalu menempel?"


"Tidak kok. Justru kami harus lebih rapat lagi. Kalau tidak, tunanganmu nanti sadar kita sedang mengikutinya."


"B-Begitu ya..."


Aku memang menegurnya, tapi kalau alasannya seperti itu, aku tak bisa membantah.


Selain karena kejadian kemarin, memang tak ada pria di dunia ini yang mampu melawan pesona dada Emma yang berukuran H-cup.


Setelah beberapa menit mengikuti Lea...


"Itu..."


"Sepertinya dia sedang memilih roti."


Ternyata tidak ada yang aneh. Lea hanya datang ke kios sekolah untuk membeli makan siang. Namun...


(Padahal biasanya dia makan siang di kantin bersama teman-temannya...)


Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir, tapi melihat pola kegiatannya berbeda dari biasanya membuatku tak bisa berhenti curiga.


Memang dia sudah direbut orang lain, jadi wajar pikiranku mengarah ke sana. Tapi kalau terlalu terbawa prasangka, justru aku bisa gagal...


"Julian?"


"Benar."


Seolah sudah mengatur waktunya, Julian juga datang ke kios. Namun, dia datang bersama beberapa siswi.


Hei... jangan-jangan Lea saja belum cukup, sekarang dia juga mendekati gadis-gadis lain? Dan kalau diperhatikan lagi, Lea terus menatap Julian.


"Tak bisa dimaafkan. Orang itu musuh seluruh pria."


Entah sejak kapan Hugo sudah berdiri di samping kami sambil menggertakkan gigi.


Kalau menurutku, pria perebut tunangan sepertinya yang diam-diam sudah kehilangan keperjakaannya bersama sang Ratu itu juga termasuk musuh.


"...Josephine-sama, kalau kita bergabung seperti ini nanti malah mencolok."


"M-Mau bagaimana lagi!? Mana aku tahu Julian juga akan datang ke kios!"


Josephine mati-matian membela diri saat Emma menatapnya dengan mata setengah menyipit.


Tolong jangan berteriak. Nanti mereka sadar kita ada di sini...


"Hei, bisa minggir? Kau menghalangi."


Tak disangka, Lea tiba-tiba mulai mencari gara-gara dengan salah satu siswi yang sedang bersama Julian.


"Eh... dia siapa?"


"Bukankah dia gadis yang hampir diserang instruktur goblin itu?"


"Oh iya, benar juga."


Para siswi yang bersama Julian saling berbisik sambil memandang Lea.


Kasus goblin itu memang sangat menggemparkan, jadi tentu saja semua murid mengetahuinya. Wajah Lea sebagai korban pun sudah dikenal banyak orang.


"Jangan-jangan dia iri karena kami bersama Wakil Ketua OSIS?"


"Pasti begitu. Soalnya dia, kan, diselamatkan Wakil Ketua."


"Kalau begitu, wajar saja kalau dia salah paham lalu jatuh hati."


Memang kalau sesama perempuan sedang saling menyindir, kata-kata mereka dipenuhi sindiran halus sambil merendahkan lawan.


Jadi begini rupanya perang adu gengsi para gadis... (Bukan begitu juga.)


"Yang iri itu justru kalian, kan? Kalau kalian mengalami hal yang sama denganku, kurasa dia belum tentu akan menyelamatkan kalian."


"Apa!?"


Sengaja meletakkan tangannya di dada Julian, Lea berkata dengan tatapan merendahkan.


Tak perlu dikatakan lagi, para siswi itu langsung naik pitam.


(Ngomong-ngomong... memangnya Lea dulu sifatnya seperti ini...?)


Baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan sebelumnya, Lea Kleinert yang kukenal adalah gadis berambut perak yang ceria, baik hati, cantik, dan bertubuh indah—benar-benar gambaran sempurna heroine klasik.


Dia sama sekali bukan tipe yang akan mengatakan hal seperti itu.


"Sudah, semuanya. Hentikan."


"T-Tapi...!"


Julian yang tak tahan melihat pertengkaran itu akhirnya turun tangan menengahi. Namun amarah para siswi belum juga mereda.


Tetap mengangkat tangan untuk menghentikan mereka, Julian lalu menoleh kepada Lea.


"Lea... kau juga jangan melakukan hal yang seolah-olah mencari gara-gara dengan teman-teman sekelasku. Bagaimana menurutmu jika tunanganmu melihat dirimu yang seperti itu?"


"..."


Ucapan itu memang terdengar masuk akal, tapi bukankah semua ini justru salahmu karena telah merebut tunanganku?


Bagaimanapun, dari percakapan tadi saja sudah jelas.


Lea benar-benar sudah semakin jauh terjerumus.


Aku mengembuskan napas pelan, lalu mengaktifkan 【Status Open】.


――――――――――――――――――――  

Nama: Lea Kleinert  

Jenis Kelamin: Perempuan  

Usia: 16  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putri Count (siswa)  

Skill: 【Kecantikan yang Menghancurkan Negara】  

Jumlah Pasangan: 1 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 99  

Tingkat Perkembangan (Payudara): 98  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 99  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 78  

Tingkat Kesukaan: 100  

――――――――――――――――――――


...Seperti yang kuduga, tingkat perkembangan bagian pantatnya juga sudah meningkat cukup jauh.


Kalau melihat tingkat pengembangan bagian tubuh yang lain, mungkin sekali lagi saja berhubungan seks, semuanya akan langsung mencapai batas maksimal.


"...Benar juga. Aku masih punya tunangan yang sangat penting bagiku. Walaupun aku berutang budi karena kau telah menyelamatkanku, aku tak boleh membuat orang salah paham."


Sambil berkata begitu, Lea tersenyum lembut.


Itu adalah senyum yang dulu, sebelum ingatan kehidupan laluku kembali, hanya sering ia tunjukkan kepadaku.


"Syukurlah kau mengerti. Kalian juga, tolong jangan membuatnya semakin kerepotan."


"Ma-maaf..."


Setelah Julian kembali menegur mereka, para siswi itu serempak menundukkan kepala dengan wajah muram.


Mereka pasti berpikir kalau terus memperpanjang masalah, kesan Julian terhadap mereka akan memburuk.


Haah... enak sekali jadi pria perebut pasangan yang populer.


Pasti bisa gonta-ganti perempuan sesuka hati.


...Bukan berarti aku iri.


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Ya."


Lea pun pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.


Hei... dia malah tidak jadi membeli roti. Memangnya tadi datang ke sini untuk apa?


"Kalau begitu kami juga pergi."


"Baik... serahkan Julian kepada kami."


Setelah berpisah dengan Josephine yang tampak ingin mengatakan sesuatu namun juga terlihat sangat gelisah, aku dan Emma buru-buru mengejar Lea.


Namun...


"...Kalau aku, aku tidak akan pernah membuatmu memasang wajah seperti itu."


"Hm? Emma?"


"Bukan apa-apa kok."


Rasanya tadi Emma mengatakan sesuatu, tapi mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin setelah melihat interaksi kedua orang itu, dia jadi memikirkan sesuatu.


Saat pelajaran latihan tempur dulu, Emma dan Lea memang saling bermusuhan. Pasti ada sesuatu di antara mereka yang tidak kuketahui.


Setelah itu kami terus mengawasi Lea hingga hampir akhir jam istirahat makan siang, tetapi tidak ada kejadian aneh lagi.


Soal makan siang pun, pada akhirnya Lea lupa membeli rotinya sehingga mendapat jatah roti dari siswi lain.


Hanya itu yang terjadi.


"Maaf ya. Gara-gara aku, kau jadi tidak sempat makan siang..."


"Tidak apa-apa kok."


Saat aku meminta maaf, Emma langsung tersenyum lebar.


Benar-benar gadis yang baik. Karena itulah...


"Yah, tetap saja aku merasa tidak enak. Sebagai gantinya, lain kali aku traktir makan."


"Eh!? Benarkah!?"


"Wah!?"


Emma langsung mengangkat wajahnya dengan penuh semangat hingga wajah kami nyaris saling bertabrakan.


Dekat sekali.


Kalau dipikir-pikir, Josephine juga sering mendekat sedekat itu. Apa memang para nona bangsawan zaman sekarang tidak punya konsep jarak?


Kurasa memang begitu.


"I-iya. Kalau Emma tidak keberatan..."


"Janji ya! Jangan lupa!"


Emma menggenggam tanganku sambil menatapku dengan mata berbinar dan berkali-kali memastikan janjiku.


Mustahil rasa sukanya kepadaku benar-benar nol.


Kalau memang begitu, tak mungkin aku bisa melihat senyum terbaiknya yang begitu bahagia seperti sekarang.


◇◆◇◆◇


Begitulah, sore hari setelah sekolah pun tiba.


Namun kami bukan sedang membuntuti Lea dan Julian lagi.


"Fufufu... Tak kusangka hamba bisa berjalan-jalan di kota bersama Nicholas-dono."


Entah kenapa, aku malah datang ke kawasan pertokoan ibu kota bersama Hugo dan yang lainnya.


Kenapa bisa begini?


"Itu... kenapa akhirnya semua orang ikut juga ya?"


"Ya... siapa tahu..."


Saat Emma menatapku dengan mata setengah menyipit, aku hanya bisa memalingkan wajah.


Benar. Awalnya aku hanya mengajak Emma makan sebagai ganti karena dia melewatkan makan siang.


Namun setelah jam istirahat selesai, Hugo dan yang lain mendengarnya, sehingga akhirnya aku harus mentraktir semuanya.


Jadi sekarang...


"Hehe, makan bersama teman-teman!"


Tentu saja Josephine dan Rosa juga ikut.


Yah, melihat semuanya tampak senang sih tidak masalah.


...Kecuali Emma.


"Hmph... baiklah. Tapi sebagai gantinya, hari ini aku akan makan yang banyak!"


Emma menggembungkan pipinya lalu menunjukku dengan tegas.


Aku hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ngomong-ngomong, ada tempat yang ingin kalian datangi?"


Aku memang pernah beberapa kali makan di kawasan hiburan ini. Namun hampir semuanya adalah saat berkencan dengan Lea.


Sejujurnya aku tidak ingin pergi ke tempat-tempat itu lagi. Terlebih lagi, aku tidak ingin membawa teman-teman ke sana.


"Buhi!? H-hamba cuma pernah pergi ke restoran khusus orang sendirian!"


"...Sebagai anggota keluarga Weidenfeller, kami tidak pernah mencicipi makanan rakyat biasa."


Begitu ya. Jadi mereka memang belum pernah pergi makan bersama teman. Kupikir Hugo yang punya sang Ratu, dan Josephine yang punya Emma serta Rosa, sesekali pasti pernah keluar makan bersama.


"Josephine-sama biasanya sangat sibuk belajar dan mengikuti berbagai pelajaran sepulang sekolah maupun saat libur... Soalnya beliau kan tunangan Pangeran Lambert."


Entah kenapa ucapan Emma terdengar sedikit menyindir.


Jadi memang begitu rupanya. Padahal Josephine sudah berusaha sekeras itu, tetapi tetap tidak mendapatkan kebahagiaan.


Sebagai penggemar game dewasa, aku benar-benar harus mencegah nasib buruk itu dan membuatnya bahagia.


Saat kami masih mondar-mandir mencari tempat makan...


"Wah... harum sekali..."


"Iya..."


Tak jauh dari sana ada sebuah kios makanan yang mengeluarkan aroma daging panggang yang luar biasa menggoda.


Hei, nanti kami juga akan makan bersama. Kalau sekarang malah jajan, bukankah perut jadi kenyang duluan?


Aku berusaha keras menahan diri. Namun...


"..."


Sepertinya Emma tidak sanggup menahan godaan. Ia terus menatap kios itu sambil menggigit jarinya. Bahkan... air liurnya hampir menetes.


Ketika kulihat lagi, Josephine juga sedang memandangi kios itu dengan mata merah rubinya yang berbinar-binar.


"Kalau begitu... memang tidak sesuai rencana sih, tapi... mau mencobanya?"


"Ya! Tentu saja!"


"Boleh ya!?"


Begitu aku mengusulkan dengan ragu-ragu, Emma dan Josephine langsung mengangguk berkali-kali dengan wajah penuh kegembiraan.


Akhirnya...


"Hehe! Enak sekali!"


"Ini pertama kalinya aku membeli makanan di kios seperti ini!"


Keduanya menikmati tusuk daging yang baru dibeli sambil tersenyum puas.


Kulihat Hugo dan Rosa juga tampak lahap menyantapnya.


(Yah... sesekali begini juga tidak buruk.)


Memang jauh berbeda dari rencana semula. Tetapi melihat semua orang menikmati waktu bersama seperti ini, tanpa sadar aku pun ikut tersenyum.


Lalu...


"Itu..."


Sepasang pria dan wanita yang tertangkap mataku menghilang memasuki sebuah gang di kawasan hiburan.


Tak mungkin salah. Mereka adalah...


"Lea... dan juga Julian..."


Tunanganku dan pria yang merebutnya ternyata juga datang ke kawasan hiburan ini.


Dan sepertinya...mereka sedang berkencan.


"...Kalau begitu, artinya memang seperti yang kita duga, ya."


"...”


Tanpa kusadari, Emma yang berdiri di sampingku bertanya dengan suara yang jauh lebih rendah dari biasanya.


Aku tidak mampu menjawab apa pun.


Aku memang sudah tahu Lea telah direbut oleh Julian. Namun ketika benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri, hatiku dipenuhi rasa sesak yang tak bisa diungkapkan....


"Ayo kita pergi."


"E-Emma!?"


"Tidak ada gunanya hanya berdiri di sini sambil melihat mereka pergi. Ini justru kesempatan terbaik untuk mendapatkan bukti tentang mereka berdua."


Senyum yang tadi menghiasi wajahnya lenyap. Cara bicaranya yang biasanya santai dan memanjang juga menghilang. Emma menarik tanganku dan berusaha mengejar mereka.


Apa yang dikatakannya memang benar. Sejak awal tujuanku memang mengumpulkan bukti perselingkuhan Lea agar bisa membatalkan pertunangan kami.


Namun...


(Kenapa aku malah merasa seperti pasangan yang dikhianati dalam game NTR...)


Eh, memang aku benar-benar pria yang dikhianati, sih....


Mengesampingkan lelucon itu, tetap saja aku tidak ingin melihat Lea sedang bersama pria itu.


Maksudku, dengan perasaan seperti apa aku harus melihat mereka berdua melakukan hubungan intim?


"...Kita tidak perlu melihat semuanya. Kita hanya perlu mengumpulkan bukti yang bisa digunakan. Misalnya, kalau mereka menggunakan penginapan yang dulu itu, kita bisa meminta kesaksian dari pemilik penginapan."


"...Benar juga."


Aku mengangguk mendengar kata-kata Emma yang terdengar seperti sedang menghiburku, lalu menoleh kepada Josephine dan yang lain yang masih menikmati sate mereka.


"Maaf. Kami akan mengejar mereka sebentar."


Sambil berkata begitu, aku menunjuk ke arah punggung Lea dan Julian. Begitu melihatnya, Josephine dan yang lain langsung memahami situasinya.


"Kalau begitu kami juga—"


"Tidak. Kalau kita bergerak berlima, kita pasti ketahuan. Jadi, Josephine-sama, tolong tunggu di sini."


Josephine sedikit mengernyit, tetapi akhirnya mengangguk.


Aku dan Emma pun berpisah dari yang lain dan segera mengejar Lea dan Julian. Lalu...


"...Mereka masuk ke gedung itu."


"Iya... tapi tempat ini..."


Mereka berjalan menyusuri gang di kawasan hiburan, melewati penginapan mencurigakan yang dulu digunakan Hugo dan Sang Ratu, lalu masuk ke sebuah gedung bertingkat.


Tunggu dulu. Kenapa di dunia bergaya Eropa abad pertengahan malah ada gedung bertingkat seperti ini?


Di depan pintunya bahkan berdiri pria-pria berbadan besar memakai jas hitam dan kacamata hitam. Tempat ini benar-benar mengabaikan latar dunianya.


...Yah, mungkin karena pembuat gim memakai aset latar gratis, jadi cuma ini yang tersedia.


"Ayo kita masuk juga."


"Ya."


Aku mengangguk, tetapi yang terbayang hanyalah kami akan langsung dihentikan penjaga di pintu.


Kalaupun Emma menyelesaikannya dengan kekerasan, suara keributan pasti membuat Lea dan Julian kabur.


"Nico-san."


Ternyata aku tidak perlu khawatir sama sekali.


Sebelum para pria berbaju hitam sempat bereaksi, Emma sudah membuat mereka pingsan. Akhirnya kami pun bisa masuk ke dalam gedung tanpa hambatan.


"Tempat ini..."


Rupanya ini adalah klub malam khusus anggota. Lampu disko berputar di langit-langit, sementara orang-orang berwajah sangar sedang minum dan menari.


Aku dan Emma yang masih mengenakan seragam sekolah benar-benar tampak tidak pada tempatnya.


Saat itu...


"Eh, bukankah itu seragam Akademi Kekaisaran Luminous?"


"Iya, benar."


Dua pria yang jelas-jelas tampak berbahaya menghampiri kami.


Aduh...aku paling tidak pandai menghadapi orang seperti ini.


"Untung sekali. Apa kalian melihat sepasang siswa berseragam sama seperti kami datang ke sini?"


Emma kembali menggunakan nada bicaranya yang santai sambil tersenyum ramah.


Memang pantas disebut makhluk terkuat di dunia. Orang-orang seperti ini sama sekali tidak membuatnya gentar. Benar-benar bisa diandalkan.


"Hah? Maksudmu..."


"Mereka yang ada di ruang VIP itu?"


Berarti benar, Lea dan Julian memang datang ke tempat ini.


Bahkan mereka berada di ruang VIP. Kalau ini memang game dewasa, ruang VIP jelas tempat berlangsungnya adegan penting.


"Tapi ya... meski kalian bangsawan, ruang itu bukan tempat yang bisa dimasuki bangsawan biasa."


"Berarti mereka bukan orang biasa?"


"Kurang lebih begitu."


Yah, Julian memang bukan orang biasa.


Dia adalah keturunan keluarga kekaisaran, sekaligus putra keluarga Marquis Retzel yang menguasai dunia bawah.


Klub malam di ibu kota seperti ini mungkin sudah seperti halaman rumah sendiri baginya. Malah jangan-jangan gedung ini memang milik keluarga Retzel.


"Tak usah khawatir. Kami juga bukan orang biasa."


Hei...kalau Emma memang makhluk terkuat di dunia mungkin benar. Tapi aku cuma pria biasa yang bisa melihat status erotis orang lain.


"Itu saja. Terima kasih atas informasinya."


"Ah, sama-sama."


"Kalau ada masalah lagi, bilang saja."


Tak kusangka kedua pria berwajah sangar itu ternyata sangat baik. Sepertinya mulai sekarang aku harus berhenti menilai orang dari penampilannya.


"Kalau begitu, ayo."


"Ya..."


Kami berjalan menuju ruang VIP yang mereka tunjukkan.


Di sana...


"Dilarang masuk."


"Kalau kalian bocah sekolah tidak mau celaka, cepat per—"


"Tolong tidur sebentar ya."


Dua pria berbaju hitam yang tampak kekar itu bahkan tidak sempat berteriak sebelum Emma melumpuhkan mereka dalam sekejap.


Bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak tahu.


Gerakannya terlalu cepat untuk kulihat.


"Bagaimana? Mau langsung masuk?"


"...Ya."


Kalau mereka memang sedang bercinta, kali ini mereka pasti tidak akan bisa mengelak lagi. Mungkin mentalku juga ikut hancur, tetapi setelah sampai sejauh ini aku tidak bisa mundur.


Apalagi Emma sudah ikut menemaniku sampai sini. Namun jika ternyata mereka tidak melakukan apa pun, masuk sekarang juga tidak ada gunanya.


Sekadar berada berdua di ruang VIP klub malam tidak cukup menjadi bukti. Tujuan kami datang ke sini adalah mencari bukti yang benar-benar meyakinkan.


"...Sayangnya kamera buatan Hugo sedang tidak ada. Kalaupun ada, kita juga tidak mungkin memasangnya sekarang. Jadi untuk hari ini, kita fokus mengamati keadaan mereka dan mencari informasi yang bisa menjadi langkah berikutnya untuk mendapatkan bukti yang benar-benar menentukan."


"Baik."


Emma mengangguk.


Tampaknya dia juga menganggap itu keputusan yang paling masuk akal.


...Bukan karena aku tidak sanggup melihat Lea direbut pria lain atau apa pun.


◇◆◇◆◇


"...Jadi begitu. Bersiaplah untuk besok sepulang sekolah."


"..."


Setelah selesai berbicara, Julian keluar dari ruang VIP.


Di dalam sana kemungkinan tinggal Lea sendirian, menundukkan kepala dengan ekspresi penuh kepedihan.


Yah, sebenarnya aku hanya menebak karena kami tidak bisa melihat ke dalam. Sedangkan kami...


"R-rasanya lemari peralatan kebersihan ini sempit sekali..."


"Tidak bisa dihindari. Hanya di sinilah tempat kita bisa bersembunyi."


Benar. Entah kenapa tepat di samping ruang VIP tersedia sebuah lemari peralatan kebersihan yang seolah memang disiapkan sebagai tempat persembunyian.


Memang dunia gim doujin bertema NTR. Semuanya dibuat senyaman mungkin demi adegan seperti ini.


Mungkin memang dimaksudkan agar sang tunangan mendengar suara heroinenya sedang direbut pria lain di dalam ruangan sambil menangis dan memuaskan diri.


Circle doujin yang membuat gim ini benar-benar tahu apa yang mereka lakukan. Berkat itu, sekarang aku dan Emma berdiri berhimpitan di dalam lemari sempit.


Payudara Emma yang berukuran H-cup terus menekan tubuhku, sementara aku mati-matian mengosongkan pikiranku. Kalau tidak, bagian tubuhku yang lain malah akan menekan Emma.


Godaan itu memang besar, tetapi kalau benar-benar kulakukan, tamatlah hidupku.


"...Jadi ruang OSIS, ya."


Syukurlah—atau mungkin justru sayangnya—mereka sama sekali tidak melakukan hal semacam itu di ruang VIP.


Sepanjang waktu mereka hanya berbicara. Isi pembicaraan mereka adalah agar Lea datang ke ruang OSIS sepulang sekolah besok.


Namun tidak ada pembicaraan yang secara langsung menyinggung hubungan mereka.


Aku juga tidak melihat tanda-tanda Lea sedang dipaksa atau diancam Julian.


Jangan-jangan sebelum kami tiba, pembicaraan penting mengenai hubungan mereka sudah selesai?


"Nico-san..."


"Ya. Besok sepulang sekolah, kita akan mendapatkan bukti yang benar-benar menentukan."


Untuk itu kami harus menyembunyikan kamera super kecil buatan Hugo di ruang OSIS agar semua kejadian bisa terekam.


Saat itulah...hubunganku dengan Lea akan benar-benar berakhir. 


Hubungan yang sudah terjalin sejak kami masih kecil....


"Kenapa malah memasang wajah seperti itu, Emma?"


"Tapi..."


Aku berusaha tersenyum sambil mengatakan itu. Namun Emma menunjukkan ekspresi sedih yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Siapa yang akan percaya kalau tingkat kesukaannya kepadaku benar-benar nol?


"Tenang saja. Besok... temani aku menyaksikan akhirnya."


"...Baik."


Begitu kusampaikan permintaanku, Emma mengangguk sambil menahan air mata.


Haaah…..padahal tadi sore kami semua masih bersenang-senang bersama.


Kalau semua ini sudah selesai, sebagai permintaan maaf, kali ini aku benar-benar harus mentraktir Emma makan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close