Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 3
Pria Selingkuhan Ketiga adalah Seorang Goblin
"...Begitu yaa, jadi ternyata seperti itu."
Setelah kami tiba di alun-alun di jalan utama dan duduk di bangku, aku menjelaskan bagaimana Hugo berencana merebut Lea, termasuk berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Tentu saja, lebih dari setengah penjelasanku adalah kebohongan.
"Untung atau sialnya, skill-ku bernama 【Status Open】. Memang aku tidak bisa mengetahui kemampuan detail seseorang, tapi aku bisa melihat nama skill yang dimiliki target."
Tentu saja, aku tidak berniat memberitahunya bahwa aku bisa melihat Status Erotis. Kalau aku sampai membocorkan itu, Emma pasti akan membunuhku demi menjaga rahasia kebiasaannya melakukan masturbasi.
"Jadi, karena Nico-san tahu Hugo-san memiliki skill 【Teknisi Sihir Kelas Spesial】, makanya Nico-san menyadari keberadaan alat sihir itu yaa..."
"Iya, benar."
Aku mengangguk, lalu menyedot frappe yang kubeli dari kios.
Rupanya isinya sudah tinggal sedikit sehingga terdengar suara zgooog... zgooog... yang aneh.
"...Eh?"
"A-ada apa?"
"Emm... Nico-san juga tahu skill milikku... kan?"
"Iya. 【Makhluk Terkuat di Dunia】, kan?"
"Hawawawawa!?"
Emma yang biasanya selalu tersenyum hangat seperti seorang ibu, untuk pertama kalinya menunjukkan ekspresi panik dan menjadi gelagapan.
Padahal Emma sudah secantik heroine yang direbut dalam seri Luminous. Melihat sisi dirinya seperti ini membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Lagi pula, apa-apaan "hawawawawa" itu? Lucu sekali.
"Jangan-jangan... nama skill itu memang tidak boleh diketahui orang?"
"B-bukan begitu sih... tapi tetap saja memalukan. Aku ini juga perempuan. Masa nama skill-ku terdengar seperti karakter di manga pertarungan begitu..."
"Oh..."
Benar juga. Kalau seorang gadis memiliki skill bernama 【Makhluk Terkuat di Dunia】, tentu dia tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Hanya dari namanya saja, kesan gadis cantik yang lembut dan penuh kasih sayang bisa langsung hancur.
"A-aku mengerti. Aku akan merahasiakannya."
"Harus ya! Janji lho!"
"I-iya..."
Didesak sedemikian rupa oleh Emma, aku hanya bisa mengangguk sambil berkeringat dingin.
"Y-yah, lupakan dulu soal skill Emma. Pokoknya begitulah aku mengetahui soal Hugo."
Meski sempat terjadi sedikit keributan, sepertinya Emma akhirnya bisa menerima penjelasanku. Lagi pula, kamera supermini buatan Hugo sudah kami sita, jadi dia tidak bisa lagi menggunakannya untuk mengancam Lea.
Sekarang tinggal fokus pada dua pria lain...
"Tapiii, selain pria berpakaian hitam yang terang-terangan bersekongkol di kantin itu, kenapa Nico-san mengira Hugo-san juga akan mendekati tunanganmu?"
"!? "
Sial. Dia masih belum mau melepaskanku rupanya.
"Ya jelas dong. Waktu aku pernah datang ke kelas kalian, aku kebetulan mendengar Hugo bergumam, ‘Kalau bisa mengintip tubuh telanjang para gadis dan mendapatkan kelemahan mereka…’"
"...Benarkah?"
Aku spontan berbohong, tetapi Emma menatapku dengan penuh kecurigaan.
Kalau dia terus mengejarku, aku benar-benar tidak akan bisa kabur.
"...Yah sudahlah. Yang jelas memang benar Hugo-san punya niat buruk."
Walaupun masih belum sepenuhnya percaya, Emma memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah itu.
Syukurlah. Tapi melihat caranya menemukan kejanggalan dalam penjelasanku maupun percakapanku dengan Hugo tadi, Emma memang benar-benar pintar.
Cantik, cerdas, berdada H-cup, keibuan, sekaligus Figuran A yang hobi masturbasi.
NPC ini sudah berhenti bersikap seperti NPC.
"Tapi, ternyata Hugo-san juga bukan selingkuhan tunanganmu. Jadi sekarang bagaimana?"
"Sebenarnya masih ada dua orang lagi yang kucurigai. Selanjutnya aku akan menyelidiki mereka."
"Begitu yaa."
Emma mengambil gelas frappenya dan menyedotnya melalui sedotan.
Tidak seperti diriku tadi, tidak terdengar suara aneh sedikit pun. Bahkan bibirnya yang sedikit basah karena frappe terlihat agak menggoda.
"E-emm... jangan terus melihatku begitu. Malu..."
"!? M-maaf!"
Emma yang pipinya memerah sambil gelisah membuatku buru-buru mengalihkan pandangan. Padahal aku masih ingin melihatnya lebih lama.
"J-jadi... dua pria yang Nico-san curigai itu sebenarnya siapa?"
Entah untuk mengalihkan rasa malunya, atau memang penasaran, Emma bertanya dengan ragu-ragu.
Hmm...tentang dua orang yang tersisa, ya.
Aku menatap Emma sekali lagi, menarik napas pelan, lalu berkata,
"Yang satu adalah instruktur latihan tempur. Yang satunya lagi wakil ketua OSIS."
Keempat pria perebut pasangan dalam Broken Days of Luminous III masing-masing memanfaatkan kelebihan mereka untuk merebut heroine.
Pria playboy memanfaatkan sifat ringannya untuk menggoda heroine dan berusaha menciptakan hubungan paksa.
Sedangkan si gendut mesum memanfaatkan kamera buatannya untuk memotret keadaan memalukan heroine lalu mengancamnya.
"Emma juga ikut kelas instruktur si 'Goblin'... eh, maaf. Maksudku instruktur itu, kan? Jadi pasti tahu orang seperti apa dia."
"Iya. Instruktur menjijikkan yang wajahnya penuh benjolan itu memang paling tidak disukai para siswi. Yang paling parah, dia selalu berpura-pura mengajari kami, lalu mencari alasan untuk menyentuh tubuh perempuan."
Emma berkata sambil terang-terangan menunjukkan wajah jijik.
Instruktur yang kusebut Goblin itu adalah tipe guru olahraga mesum yang sering muncul dalam game erotis bertema NTR.
Di dalam game, setiap pelajaran dia selalu mencari-cari alasan seperti, "Posturmu salah," atau, "Pereganganmu kurang," hanya supaya bisa menyentuh tubuh Lea, lalu menikmati reaksinya yang malu-malu.
Setelah itu dia sengaja memberi nilai buruk kepada Lea, memanggilnya untuk kelas tambahan, lalu menggunakan ancaman nilai agar bisa mengadakan bimbingan pribadi.
Bimbingan seperti apa? Jawabannya sudah jelas.
Di ruang klub yang kosong sepulang sekolah, dengan iming-iming memperbaiki nilainya, dia memaksakan kehendaknya.
Di Akademi Kekaisaran Luminous, siapa pun yang gagal memperoleh satu mata pelajaran saja harus mengulang satu tahun.
Bagi anak bangsawan, itu berarti dipermalukan dan bisa diusir dari keluarganya. Bagi para gadis bangsawan, mereka akan dicemooh dan dikucilkan dari masyarakat.
Dengan kata lain, itu sama saja dengan kematian sosial.
"Jadi, kalau Goblin itu sampai mencoba mendekati Lea, sama sekali tidak aneh."
"Begitu yaa..."
Bukan sekadar tidak aneh. Di dalam game, itu memang sudah pasti terjadi.
"Tapi kalau begitu, aku tidak bisa membayangkan wakil ketua OSIS. Di akademi dia terkenal sebagai orang yang baik dan sangat populer. Rasanya tidak mungkin dia berselingkuh dengan perempuan yang sudah bertunangan."
"Aku juga berpikir begitu."
Aku mengangkat bahu sambil berkata demikian. Namun aku tahu kalau wakil ketua OSIS juga memiliki sisi gelap.
Keluarganya memang terkenal sebagai keluarga bangsawan yang setia mendukung Kekaisaran Luminous sejak berdiri.
Namun di balik layar, mereka memperoleh kekayaan dengan mengelola rumah bordil di seluruh kekaisaran dan melakukan perdagangan manusia yang dilarang.
Mereka benar-benar keluarga bangsawan yang sangat bejat.
Dalam Broken Days of Luminous III, keluarga Kleinert milik Lea dijebak hingga terlilit utang, lalu Lea dijadikan alat pembayaran.
Ngomong-ngomong, kalau pemain mendapatkan akhir cerita di mana Lea direbut oleh pria itu, nasib Lea setelahnya adalah dijadikan pelampiasan nafsu para bangsawan setengah baya yang gemuk di rumah bordil.
"Tapiii, Nico-san sudah berhasil melindungi tunanganmu dari pria berpakaian hitam dan Hugo-san. Jadi kurasa firasatmu memang benar."
"Ya."
Karena berhasil menggagalkan dua target perebut pasangan, tingkat kepercayaan Emma kepadaku tampaknya meningkat.
Tanpa perlu menjelaskan panjang lebar, dia langsung menerima bahwa wakil ketua OSIS juga termasuk orang yang kucurigai. Meski begitu, walaupun tersenyum, wajahnya masih tampak sedikit tidak puas.
"...Dasar perempuan menyebalkan. Bisa-bisanya dia dibantu Nico-san sebanyak ini... bikin kesal."
"Hm? Kau bilang sesuatu?"
"Tidak kok. Tidak ada."
"B-baiklah..."
Rasanya tadi Emma sempat mengucapkan sesuatu yang agak mengkhawatirkan. Tapi mungkin cuma perasaanku.
Lagi pula... bukankah ini pernah terjadi sebelumnya?
...Alarm dalam kepalaku berbunyi keras, memperingatkanku agar jangan mengingatnya. Jadi lebih baik aku berhenti memikirkannya.
"Kalau begitu..."
"Hehe. Mulai besok juga tentu saja aku akan terus membantu, kok."
Sambil berkata begitu, Emma menunjukkan senyum cerah yang memenuhi wajahnya.
◇◆◇◆◇
"Baik! Semua sudah berkumpul, kan!?"
Hari ini adalah hari latihan tempur gabungan seluruh siswa kelas dua yang diadakan di pinggiran ibu kota kekaisaran.
Orang yang berteriak dengan tangan bersedekap penuh wibawa tentu saja adalah instruktur yang memimpin para murid.
Namanya Ivo Zumpe. Wajahnya dipenuhi bekas jerawat yang menonjol dan cekung, tubuhnya juga pendek.
Dilihat dari penampilannya saja, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang pantas menjadi instruktur tempur.
Ditambah lagi hobinya melakukan pelecehan terhadap siswi dan sikapnya yang arogan membuat para murid menjulukinya "Goblin" dengan penuh penghinaan.
Karena itu, seperti biasa aku pun mengaktifkan 【Status Open】.
――――――――――――――――――――
Nama: Ivo Zumpe
Jenis Kelamin: Pria
Usia: 41
Ras: Manusia
Pekerjaan: Instruktur Pertarungan
Skill: 【Goblin】
Jumlah Pasangan: 217 orang
Tingkat Perkembangan (Mulut): 54
Tingkat Perkembangan (Dada): 31
Tingkat Perkembangan (Vagina): 0
Tingkat Perkembangan (Pantat): 37
Tingkat Kesukaan: 30
――――――――――――――――――――
Ternyata dia benar-benar memiliki skill 【Goblin】.
Namun... tidak seperti si playboy dan Hugo sebelumnya, hanya dengan melihat statusnya saja aku belum bisa memastikan apakah orang ini benar-benar pria yang merebut Lea atau bukan.
Meski begitu, dengan penampilan, kepribadian, dan reputasi seburuk ini, ditambah jumlah pengalaman seksualnya yang sudah lebih dari dua ratus orang, sudah pasti dia menggunakan cara yang sama seperti di dalam game untuk memaksa para siswi.
Terlepas dari apakah Lea sudah direbut atau belum, mana mungkin aku membiarkan sampah seperti ini berkeliaran bebas.
"Heh! Berdiri yang tegap!"
"Ugh..."
Tiba-tiba si Goblin datang menghampiriku dan menghantam punggungku dengan tongkat kayu hinoki saat aku sedang melamun.
Karena tubuhnya pendek, Goblin selalu menggunakan tongkat itu untuk menunjukkan wibawanya.
Ngomong-ngomong, sama seperti di game, mungkin karena dia mengincar Lea, dia juga selalu memusuhiku seolah-olah aku adalah musuh bebuyutannya.
Mungkin Goblin sengaja mempermalukanku seperti ini agar penilaian Lea terhadapku menurun, sekaligus menunjukkan bahwa dirinya adalah instruktur yang tegas demi menarik perhatian Lea.
Padahal penilaian Lea terhadapnya sudah serendah mungkin. Benar-benar merepotkan...
"...!?"
"....................."
Aku merasakan aura membunuh. Namun itu bukan ditujukan kepadaku, melainkan kepada Goblin.
Aura itu datang dari sekelompok murid kelas lain yang sedang mengikuti latihan gabungan.
Siapa pemiliknya? Tentu saja Emma.
"...Apa? Kau punya keberatan ata...!?"
"Ada apa yaa?"
Goblin yang hendak mencari gara-gara mendadak kehilangan kata-kata setelah merasakan tekanan luar biasa yang sama sekali tidak sesuai dengan suara Emma yang lembut.
Ya jelas. Lawan Goblin adalah Makhluk Terkuat di Dunia. Dia pasti langsung kalah dalam sekejap.
"Cih!... Baiklah, sekarang kita akan membagi tim. Undiannya sudah kusiapkan, jadi cepat ambil!"
Setelah mendecakkan lidah dan memberi perintah dengan sombong, Goblin meletakkan kotak undian sambil tersenyum licik.
Para murid saling berpandangan dengan teman di sebelahnya, lalu satu per satu mengambil undian dengan pasrah.
Lalu...
"...Tidak kusangka aku satu tim denganmu."
Entah kenapa aku justru satu tim dengan Hugo.
Benar-benar satu tim. Suami yang dikhianati dan pria perebut pasangan berada dalam tim yang sama.
Entah kenapa rasanya seperti undian ini diatur, tapi mungkin hanya kebetulan. Lagi pula, kenapa dia yang malah memasang wajah seolah sangat tidak senang?
"Aku belum memaafkanmu karena sudah merebut alat sihir itu de gozaru."
"Memangnya aku peduli. Kalau kau masih mengeluh begitu, akan kulaporkan pada Ratu... eh, Rita-senpai."
"T-terlalu licik de gozaru! Curang sekali de gozaru!"
"Berhenti terus-terusan bilang 'de gozaru'."
Dasar. Di game pun dia memang seperti ini.
Memangnya dia ninja dari mana?
Mungkin itu memang ciri khas karakternya, tapi sebagai pria perebut pasangan saja dia sudah cukup menyebalkan.
Saat kami sedang bertengkar soal hal-hal sepele...
"Hehe... Aku satu tim dengan Nico-san."
Emma datang menghampiri sambil tersenyum malu-malu.
Makhluk Terkuat di Dunia berada satu tim denganku. Latihan tempur hari ini sudah pasti akan berakhir sempurna.
"Salam kerja sama ya, Emma."
"Iya! Mohon bantuannya juga!"
Aku dan Emma saling berjabat tangan. Namun ada seseorang yang menatap kami dengan mata penuh iri.
"Apa? Kau juga ingin berjabat tangan dengan Emma?"
"Buhi!? B-bukan begitu de gozaru! Aku sama sekali tidak iri melihatmu berjabat tangan dengan gadis cantik de gozaru!"
Artinya memang iri. Mudah sekali dibaca.
Aku melirik Emma untuk melihat apa yang akan dilakukannya. Emma hanya mengernyit sedikit, lalu kembali memasang senyum biasanya.
"Salam kenal ya, Hugo-san."
"Buhi!? T-tentu sa... ja!?"
Mungkin Hugo sama sekali tidak menyangka Emma akan mengajaknya berjabat tangan. Dia sampai menggigit lidahnya sendiri karena gugup, lalu mengangguk.
Sebelum menjabat tangan Emma, dia bahkan menggosok tangan kanannya berkali-kali pada pakaian olahraganya.
Namun...
"...Jangan sampai malah menghambat Nico-san ya."
"Hiiiiii!"
Karena terlalu terkejut, Hugo lupa mengeluarkan suara "buhi" dan malah menjerit seperti manusia biasa.
Yah, kalau ditatap dengan mata tanpa cahaya seperti seorang pembunuh sambil memancarkan aura membunuh, siapa pun pasti akan bereaksi begitu.
Meski begitu...
(Kalau kupikir-pikir lagi, Emma sepertinya benar-benar dingin terhadap laki-laki selain aku.)
Memang dia tidak banyak berinteraksi dengan murid laki-laki selain Hugo.
Si playboy yang sudah tersingkir tidak bisa dijadikan contoh.
Namun di balik senyumnya, tatapan Emma kepada para laki-laki terasa sangat dingin.
Sebaliknya...mungkin aku terlalu percaya diri, tapi dia selalu terlihat senang saat bersamaku.
...Walaupun setiap kali aku berbicara dengan Josephine atau gadis lain, dia sering menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
Yang tidak kumengerti adalah...Menurut statusnya, tingkat kesukaan Emma kepadaku adalah nol.
Benar-benar nol.
Menyedihkan sampai-sampai benar-benar nol.
Kalau begitu, mungkinkah Emma adalah tipe orang yang selalu bertindak kebalikan dari perasaannya sendiri? Bahkan bukan sekadar tsundere, tapi benar-benar orang yang sangat berlawanan dengan isi hatinya.
...Benarkah?
(T-tidak, kalau begitu banyak hal yang tidak masuk akal.)
Setidaknya aura membunuh yang tadi Emma tujukan kepada Goblin benar-benar nyata.
Itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan istilah tsundere atau keras kepala. Kalau begitu hanya ada satu kemungkinan.
── Tampilan skill 【Status Open】 milikku rusak.
Kalau memang begitu, berarti informasi bahwa Lea sudah direbut orang lain juga tidak lagi bisa dipercaya.
Bahkan banyak asumsi lain ikut runtuh.
(Kalau begitu... berarti tingkat kesukaan Lea juga tidak sesuai kenyataan...?)
Berbeda dengan Emma, tingkat kesukaan Lea kepadaku mentok di angka 100.
Bagaimana aku harus menjelaskan hal itu?
"Aduh... aku jadi makin tidak mengerti..."
"Nico... san?"
Kepalaku rasanya hampir meledak karena terlalu banyak berpikir. Aku mengacak-acak rambutku.
Emma menatapku dengan wajah khawatir, bahkan sampai lupa memasang senyum biasanya.
Saat itulah...
"Oh, jadi kalian bertiga anggota timku."
Seorang pemuda tampan dengan senyum segar muncul di hadapan kami.
Ah...Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih mengenal orang ini dariku.
"Hari ini mohon kerja samanya. Mari kita menjadi tim dengan hasil terbaik."
Dia adalah orang terakhir dari empat pria perebut pasangan yang muncul dalam Luminous no Kowareta Hibi III.
── Wakil Ketua OSIS, Julian Retzel.
Karena ini dunia fantasi, dia memiliki rambut biru dan mata biru tua seperti safir. Wajahnya tampan dengan senyum yang sama sekali tidak menyebalkan.
Meski terlihat ramping, tubuh di balik pakaiannya penuh otot. Bahkan tanpa melakukan apa pun, dia pasti bisa merebut hati para siswi di akademi ini dengan mudah.
Menyebalkan sekali.
"Ngomong-ngomong... ada apa dengan kalian bertiga? Apa terjadi sesuatu?"
"Hah?... Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."
Aku tersadar lalu menggeleng kepada Julian yang bertanya dengan heran.
Kemungkinan dia adalah pria yang merebut Lea masih lima puluh persen. Aku tidak boleh sembarangan memperlihatkan perasaan ataupun rencanaku.
"Aku Nicholas Friedland. Salam kenal."
"Senang bertemu denganmu. Namaku Julian Retzel."
Sambil berpura-pura tenang, kami saling mengulurkan tangan dan berjabat tangan.
Sejauh ini, dia memang belum terlihat mencurigakan...
"Kalau begitu, salam kenal juga untukmu. Umm..."
"Maaf ya. Aku tidak berniat memperkenalkan diri kepadamu."
"...!?"
Emma secara terang-terangan menunjukkan penolakan.
Awalnya kukira karena dia adalah pria perebut pasangan. Namun tadi kepada Goblin saja Emma memang memancarkan aura membunuh, tetapi tidak bersikap seterang-terangan ini.
Bahkan dengan Hugo, meski suasananya canggung, Emma tetap mau berjabat tangan.
Jadi...apa sebenarnya yang membuat Emma begitu tidak menyukai Julian?
Atau... mungkinkah pernah terjadi sesuatu di antara mereka?
"...Sayangnya sepertinya aku dibenci olehnya."
Julian hanya tersenyum pahit sambil mengangkat bahu. Sementara itu para siswi di sekitar kami terus menjerit histeris melihat setiap gerak-geriknya.
Apa-apaan ini...
"Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyukai pria itu."
"Kebetulan sekali. Aku juga."
Melihat Julian melambaikan tangan sambil tersenyum kepada para siswi yang memandanginya dengan mata berbinar, aku dan Hugo sama-sama bergumam pelan.
Bagi orang-orang seperti kami yang jauh dari dunia para gadis, pria tampan populer seperti itu tetaplah musuh.
Musuh besar.
Saat itulah...
"Jadi kita terpisah ya, Nico..."
Lea menghampiriku dengan senyum yang sedikit kesepian.
Tapi tunggu dulu. Selama latihan tempur kami memang sering berada di tim yang berbeda. Malah belum pernah sekalipun berada di tim yang sama.
Lalu kenapa sekarang?
"Eh... bukankah ini sama saja seperti biasanya? Kenapa tiba-tiba..."
"Ya jelas sedih. Belakangan ini kamu malah lebih sering bersama orang lain."
Sambil berkata begitu, Lea memandang Emma. Di mata aquamarinenya tampak jelas ada amarah.
(Apa ini... dia sedang cemburu pada Emma...?)
Memang, demi mencari pelaku yang merebut Lea dan mengumpulkan bukti, aku selalu bersama Emma.
Sekarang bahkan kami kembali satu tim. Kalau Lea mulai mencurigai hubungan kami, syarat-syarat untuk itu memang sudah terpenuhi.
...Kalau begitu, apa jangan-jangan status tingkat kesukaan itu memang benar?
"E-eh... itu cuma kebetulan. Sama sekali bukan karena ada hubungan aneh..."
"Betul kok. Nico-san punya tujuan yang sangat penting, dan aku hanya membantu beliau."
Entah kenapa Emma mengatakan itu sambil menggenggam tanganku. Ini malah seperti sengaja memancing Lea.
"...Sebenarnya siapa dirimu? Aku cuma tahu kau selalu mengikuti Josephine-sama ke mana-mana dan terus menatap murid laki-laki yang sudah punya tunangan. Benar-benar tidak tahu malu."
"Hehe. Namaku Emma Baltzer. Tolong ingat baik-baik dengan otakmu yang kurang itu."
Lea dan Emma saling mendekat. Dada G-cup Lea dan dada H-cup Emma saling bersentuhan hingga terlihat kenyal berdesakan.
Pemandangan yang sungguh luar biasa. Aku sempat ingin menyelip di antara mereka, tapi tentu saja kutahan.
"Nico... tujuan yang dia maksud itu... sesuatu yang tidak bisa kau ceritakan padaku?"
"Itu..."
Aku tidak bisa mengatakannya. Mana mungkin aku mengaku sedang mencari pelaku yang merebutnya dan mengumpulkan bukti perselingkuhan.
Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandangan.
"...Begitu ya. Ya sudahlah."
Lea memalingkan wajahnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Namun...
Saat dia melewati kami, aku sempat melihat Julian menatap wajah samping Lea sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya.
(Ngomong-ngomong... aku belum memeriksa statusnya.)
Saat menyadari hal itu, aku pun mengaktifkan 【Status Open】.
――――――――――――――――――――
Nama: Julian Retzel
Jenis Kelamin: Pria
Usia: 16
Ras: Manusia
Pekerjaan: Putra Marquis (siswa, Wakil Ketua OSIS, Anak Tidak Sah Keluarga Kekaisaran)
Skill: 【Mengusir Harimau Menelan Serigala】
Jumlah Pasangan: 46 orang
Tingkat Perkembangan (Mulut): 77
Tingkat Perkembangan (Dada): 68
Tingkat Perkembangan (Vagina): 0
Tingkat Perkembangan (Pantat): 74
Tingkat Kesukaan: ―
――――――――――――――――――――
Aku merasa ada informasi yang seharusnya tidak kulihat.
Maksudku, apa maksudnya "anak tidak sah keluarga kekaisaran"? Jadi pria perebut pasangan ini ternyata memiliki garis keturunan bangsawan yang sangat tinggi?
Selain itu, tingkat pengembangan (pantat) miliknya juga sudah tinggi hingga seks anal telah terbuka, dan jumlah pengalaman seksualnya juga sangat banyak.
...Ngomong-ngomong, pendeta tampan yang membangkitkan ingatan kehidupan laluku saat upacara pemberian skill dulu juga memiliki jumlah pengalaman 1, dan ternyata berhubungan dengan pendeta paruh baya.
Artinya, meskipun sesama laki-laki, pengalaman itu tetap dihitung. Mungkin Julian juga pernah mengalami banyak hal dalam hidupnya.
Lalu...
(Apa maksudnya tingkat kesukaan bertuliskan "—" ini?)
Selama ini aku memang sudah merasa aneh dengan tingkat kesukaan Lea dan Emma, tetapi sekarang aku melihat tampilan yang sama sekali tidak pernah ada di dalam game.
Dalam novel ringan bertema reinkarnasi ke dunia game seperti ini, memang sering ada perkembangan yang berbeda dari skenario hingga membuat tokohnya kebingungan.
Namun aku tidak pernah menyangka akan mengalaminya sendiri.
Bagaimanapun juga, sepertinya untuk sementara aku sebaiknya mengabaikan status tingkat kesukaan sampai benar-benar memahami penyebab dan mekanismenya.
"Jangan melamun! Pelajaran sudah dimulai!"
Suara Goblin yang berteriak angkuh menarikku kembali dari lamunanku.
Untuk saat ini, lebih baik aku menyelesaikan pelajaran latihan tempur terlebih dahulu.
◇◆◇◆◇
"Bosan ya."
"Betul de gozaru."
Di dalam dungeon yang menjadi habitat monster di pinggiran ibu kota kekaisaran, aku dan Hugo hanya memandangi tumpukan mayat monster dengan tatapan kosong.
Siapa yang membantai mereka?
Tentu saja Emma, yang saat ini masih bersinar penuh semangat dengan mata birunya sambil mengayunkan kapak perang raksasa dan menebas monster satu demi satu dengan gembira.
Skill 【Makhluk Terkuat di Dunia】 memang bukan sekadar nama.
Aku benar-benar tidak akan pernah cari gara-gara dengannya.
"Kalian berdua, kenapa tidak ikut bertarung melawan monster? Kalau begini tidak bisa disebut latihan."
"Sudahlah. Selain di kelas seperti ini, aku juga tidak akan punya kesempatan bertarung melawan monster."
"Betul de gozaru."
Julian yang baru saja menebas seekor kobold memandang kami dengan tatapan sinis, tetapi kami hanya menjawab asal-asalan.
Di Kekaisaran Luminous terdapat kebijakan bahwa bangsawan harus berdiri paling depan untuk memberi semangat kepada pasukan.
Karena itulah Akademi Kekaisaran Luminous menjadikan perburuan monster sebagai bagian dari latihan tempur.
Namun kenyataannya, meskipun masih ada monster berbahaya di wilayah kekaisaran, yang benar-benar bertarung biasanya para ksatria dan prajurit.
Sangat jarang bangsawan turun langsung melawan monster. Semakin tinggi kedudukan bangsawan itu, semakin kecil kemungkinan hal tersebut terjadi.
Karena itulah aku yang merupakan putra kedua keluarga marquis, dan Hugo yang merupakan putra sulung keluarga count, sama sekali tidak berniat mengikuti pelajaran ini dengan serius.
Lagi pula, jumlah monster yang dikalahkan sebagai penilaian tim sudah dipenuhi oleh Emma seorang diri.
Kami hanya menikmati hasil kerja kerasnya. Padahal...
(Sebelum ingatan kehidupan laluku kembali, aku justru mati-matian berburu monster dengan serius.)
Memang nilai pelajaran bergantung pada hasil latihan. Tetapi aku bahkan sampai berburu monster di luar jam pelajaran dengan penuh semangat.
Kalau dipikir-pikir…Aku ini lebih cocok menjadi tipe administrator. Bukan karakter petarung.
"Sungguh... tidak lucu."
"? Ada apa, Nicholas-dono?"
"Tidak ada."
Aku menggeleng dengan wajah agak kesal kepada Hugo yang bertanya heran.
Ya. Waktu masih kecil, hanya karena Lea pernah berkata kalau ksatria dalam cerita terlihat keren, aku berpikir menjadi kuat akan membuatnya terkesan.
Bodoh sekali.
Kalau pada akhirnya tetap direbut orang lain, semua usaha itu tidak ada artinya.
"Huu... Kurasa segini sudah cukup yaa."
Padahal sama sekali tidak berkeringat, Emma tetap berpura-pura mengusap dahinya.
Saking banyaknya monster yang ia bunuh, tanah dungeon dipenuhi mayat hingga seolah semua monster di tempat ini telah punah.
"Wah, Emma benar-benar hebat. Aku cuma bisa kagum."
"Hehe... Nico-san memujiku."
Saat aku bertepuk tangan memujinya, Emma menggaruk kepalanya dengan malu-malu.
Namun karena tubuhnya berlumuran darah monster, senyum yang biasanya terlihat manis itu sekarang justru berpadu dengan pemandangan mengerikan di sekelilingnya.
"Yah, memang penilaian dilakukan berdasarkan hasil tim, bukan individu..."
Julian rupanya masih tidak puas karena aku dan Hugo hanya menjadi penonton. Sejak tadi dia terus mengomel. Tentu saja kami mengabaikannya.
"Baiklah, target sudah tercapai. Bahkan bisa dipastikan tim kita yang nomor satu. Ayo pulang."
"Baik♪"
"Gufufu, siap de gozaru."
Kami pun hendak keluar dari dungeon. Namun saat melewati Julian...
"...Aku kecewa padamu. Katanya kau adalah putra bangsawan yang bertanggung jawab dan paling serius mengikuti latihan tempur."
Dia membisikkan kata-kata itu dengan nada kesal.
Entah siapa yang menyebarkan rumor seperti itu.
Yang jelas, itu bohong besar.
◇◆◇◆◇
"...Sepertinya tim kalian yang mendapat peringkat pertama."
Setelah seluruh tim selesai berburu monster, Goblin berkata kepada kami dengan wajah masam.
Sejak dulu dia selalu berusaha menjatuhkan citraku di depan para siswi demi merebut Lea. Namun kali ini jumlah monster yang kami kalahkan terlalu banyak.
Bahkan Goblin pun tidak bisa mencari-cari alasan lagi.
Rasakan.
"Wah, berkat Emma, nilai latihan tempur kita hari ini pasti dapat peringkat S."
"Hehe... Hal sekecil ini tidak masalah kok."
Emma memegang kedua pipinya sambil menggeliat kegirangan. Padahal dia bereaksi semanis ini ketika kupuji. Tetapi tingkat kesukaannya kepadaku tetap nol.
Sampai sejauh ini, aku hanya bisa menyimpulkan kalau status itu memang rusak. Terlebih lagi...
"...Aku tidak mengakui hasil penilaian yang hanya bergantung pada kemampuan satu orang."
Julian masih menggigit bibirnya dengan kesal.
Namun status tingkat kesukaannya hanya bertuliskan "—". Bahkan bukan angka.
Setidaknya untuk saat ini, aku sama sekali tidak akan mempercayai kolom itu sampai tahu bagaimana mekanismenya.
Karena itu...
"...Tim kami hampir tidak bisa mengalahkan monster sama sekali."
Lea datang melapor dengan wajah murung meskipun aku tidak memintanya. Namun itu juga tidak menjamin bahwa dia benar-benar menyukaiku seperti yang tertulis di status.
Pokoknya, sejak mendapatkan skill 【Status Open】, aku terus saja dipermainkan olehnya.
"Baiklah... lalu apa ini hasil yang kalian dapat?"
".................."
Seluruh anggota tim Lea terdiam saat si Goblin mendesak mereka. Dilihat dari hasilnya, mereka hanya berhasil mengalahkan satu monster.
Itu pun Goblin, monster paling lemah di dungeon.
Kalau memang harus memburu Goblin, lebih baik mereka membunuh Goblin yang sedang berdiri angkuh sambil tersenyum mesum di depan kami itu.
"Kalau begini... rasanya aku tidak bisa memberikan kalian kredit mata pelajaran."
"A-apa!? T-tolong tunggu! Kali ini hanya karena anggota tim kami kurang bagus! Biasanya kami..."
"Apa maksudmu!? Jadi kau bilang kami yang salah!?"
"B-bukan begitu!"
Mendengar ucapan Goblin, anggota tim Lea langsung saling bertengkar.
Kalau sudah menyangkut kemungkinan tidak mendapat kredit, mereka tidak punya waktu lagi menjaga harga diri.
Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
"Gufufu... Untung sekali kita satu tim dengan Emma-dono."
Sambil memandangi keributan itu, Hugo berbisik dengan nada puas. Padahal tadi setelah pembagian tim dia masih mengomel bahwa belum memaafkanku.
Tahu-tahu sekarang sudah bersikap seperti teman. Bukankah dulu dia bilang semua orang selain Sang Ratu adalah musuh?
Tapi serius...Bukan cuma Hugo. Theo yang benar-benar teman dekatku juga termasuk pria perebut pasangan.
Kenapa orang-orang seperti itu selalu berkumpul di sekitarku?
Apa karena aku memang ditakdirkan menjadi pria yang dikhianati?
Kalau memang begitu, hidup ini terlalu tidak adil.
"Tentu saja aku ingin semua murid lulus tanpa harus mengulang kelas. Tapi aku juga tidak bisa memalsukan nilai. ...Kalau begitu, kalian pasti tahu apa yang harus dilakukan, kan?"
"Hii!?"
Sambil berkata demikian, Goblin menepuk bahu salah seorang siswi dalam tim Lea. Siswi itu langsung menjerit pelan.
Dia pasti memahami maksud Goblin. Kalau ingin terhindar dari tinggal kelas, dia harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga.
Sayangnya…
Tebakan itu tidak tepat. Karena...
"...Instruktur. Penyebab kegagalan tim kali ini adalah aku. Jadi... tolong bimbing aku."
"Lea!?"
Lea melangkah maju melindungi teman-temannya, lalu berkata kepada Goblin dengan wajah penuh tekad.
Benar. Di Broken Days of Luminous III pun alurnya sama.
Lea melindungi teman-temannya, menjadi pengganti mereka, mengikuti pelajaran tambahan pribadi Goblin, lalu akhirnya direbut olehnya.
Sejak awal target Goblin memang Lea.
Menepuk bahu siswi lain tadi hanyalah tipuan. Semua itu dilakukan untuk memancing Lea masuk ke perangkap.
Goblin menjilat bibirnya sambil memandang Lea dengan mata penuh nafsu. Namun...
(Hanya dengan ini saja aku belum bisa memastikan apakah Goblin benar-benar pria yang merebut Lea.)
Dari semua yang kulihat, justru terasa seolah Lea masih belum direbut. Tetapi aku belum punya bukti.
Untuk memastikannya, aku harus terus mengawasi.
"Sikapmu patut dipuji! Demi semangatmu itu, aku akan mempertimbangkan pemberian kredit untuk seluruh anggota timmu! ...Sepulang sekolah kau ikut kelas tambahan."
"Baik..."
Berbeda dengan Goblin yang tampak bersemangat, Lea hanya menundukkan kepala dengan wajah muram.
Kalau dibiarkan seperti ini, tubuh Lea pasti akan dipermainkan Goblin sesuka hatinya. Namun...
"Nico-san, kita bagaimana?"
"...Mana mungkin aku membiarkan instruktur sampah itu terus berkeliaran."
"Betul de gozaru."
Saat aku menjawab pertanyaan Emma, entah kenapa Hugo ikut mengangguk seolah-olah dia adalah sekutu kami sejak awal.
Hugo, kau benar-benar sudah lupa kalau kau sendiri juga salah satu pria perebut pasangan.
Meski begitu, skill 【Teknisi Sihir Kelas Spesial】 miliknya memang sangat berguna. Dialah pembuat kamera supermini berkinerja tinggi itu.
Kalau kamera itu rusak atau terjadi masalah saat digunakan, hanya dia yang bisa menanganinya.
Kamera itulah kartu truf kami untuk mendapatkan bukti perselingkuhan para pria perebut pasangan.
Karena itu...
"Pelajaran latihan tempur memang sudah selesai. Tapi sekarang saatnya membasmi monster yang bersembunyi di akademi... atau lebih tepatnya, membasmi Goblin."
"Ya!"
Aku, Emma, dan Hugo—yang entah sejak kapan merasa sudah menjadi rekan kami—mengangkat tinju bersama.
Para murid lain memandang kami dengan tatapan dingin karena kami terlihat sangat mencolok.
Tapi kalau dipikirkan terus, kami yang kalah.
◇◆◇◆◇
―― Kiin, koon.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, dan aku keluar dari kelas sedikit lebih cepat daripada murid-murid lainnya.
Begitu keluar...
"Nico-saaaan!"
"Nicholas-dono, Anda terlambat de gozaru."
Emma melambaikan tangan lebar-lebar sambil tersenyum, sementara Hugo berdiri dengan tangan bersedekap sambil mengomel, seolah memang sudah menungguku.
Maksudku, pelajaran baru saja selesai. Kenapa kalian berdua sudah ada di sini? Jangan-jangan kalian kabur dari kelas sebelum pelajaran berakhir.
"Ngomong-ngomong, bagaimana hasilnya?"
"Tentu saja sempurna de gozaru! Karya terbaikku akan merekam seluruh adegan memalukan tunangan Nicholas-dono tanpa ada yang terlewat..."
"Oi, memangnya kau berniat membiarkan semuanya berlangsung sampai selesai?"
Mungkin karena kamera supermini berperforma tinggi buatannya akhirnya mendapat kesempatan digunakan, Hugo tampak begitu bersemangat.
Tapi kalau dia membiarkan kamera terus merekam sampai adegan Lea dan Goblin selesai, itu sama sekali tidak boleh.
Bukankah tujuan kita justru menghentikannya sebelum sampai sejauh itu?
"Tapi, kalau kita tidak merekam sampai saat Goblin mulai mencoba menyentuh tunanganmu, bukankah itu tidak akan menjadi bukti?"
"Aku tahu. Karena itu kita akan masuk tepat sebelum dia benar-benar mulai bertindak... tepat saat dia sudah tidak bisa lagi mengelak."
Tidak seperti Hugo yang tampaknya rela menunggu sampai semuanya selesai, Emma pun terlihat tidak terlalu ragu meski itu berarti Lea tetap akan mengalami perlakuan yang cukup buruk terlebih dahulu.
Saat pembagian tim latihan tempur tadi mereka juga sempat saling bersitegang. Setidaknya, Emma memang tampaknya tidak terlalu menyukai Lea.
Yah, bukan berarti aku ingin mereka akur.
Begitu bukti perselingkuhan terkumpul dan pertunanganku dibatalkan, hubunganku dengan Lea juga akan benar-benar berakhir. Setelah itu kami hanyalah orang asing.
Dengan kata lain, aku sebenarnya sudah tidak punya kewajiban melindunginya lagi.
Meski begitu...
(...Bagaimanapun juga, saat ini dia masih tunanganku.)
Astaga. Aku memang benar-benar orang yang setengah-setengah.
Walaupun aku tidak bisa memaafkan Lea karena telah menyerahkan tubuhnya kepada pria lain, tetap saja aku masih mengkhawatirkannya diam-diam seperti orang bodoh.
Padahal aku sendiri sudah tahu bahwa parameter tingkat kesukaan itu tidak bisa dipercaya lagi. Bahkan angka 100 pun belum tentu benar.
Terlebih lagi—Bisa saja Lea sebenarnya sudah direbut Goblin.
"...Nico-san, ayo."
"Hah!?"
Tiba-tiba Emma menarik tanganku hingga aku refleks berseru.
Rupanya Lea baru saja keluar dari kelas dan langsung menuju tempat Goblin. Karena itu kami harus membuntutinya agar tidak kehilangan jejak.
Aku mengerti. Tapi...
"E-emm... Emma, kamu marah?"
"Aku tidak marah."
Sambil berkata begitu, Emma menggembungkan pipinya dan memalingkan wajah.
Apanya yang tidak marah? Jelas-jelas dia sedang marah. Bahkan cara bicaranya yang biasanya santai pun sudah hilang.
Haaah...untuk sekarang, lebih baik kami membereskan Goblin terlebih dahulu. Soal yang lain bisa kupikirkan nanti.
"Baiklah. Kalian berdua, jangan sampai kehilangan jejak."
"Itu seharusnya kata-kataku, lho."
"Betul de gozaru! Jangan tiba-tiba bersikap seperti bos de gozaru!"
Mereka berdua langsung menyela ucapanku hampir bersamaan. Namun, amarah yang tadi terlihat di wajah Emma sudah menghilang.
Senyumnya yang biasa pun kembali menghiasi wajahnya.
◇◆◇◆◇
"Sepertinya mereka ada di dalam sini."
Tujuan Lea adalah ruang klub Kendo yang berada di sebelah gedung olahraga.
Di Akademi Kekaisaran Luminous, kegiatan klub didorong sebagai bagian dari pendidikan, dan setiap klub memiliki ruang klubnya sendiri.
Goblin, sang instruktur latihan tempur, juga menjabat sebagai pembina klub Kendo.
"Tepat seperti dugaan Nicholas-dono, de gozaru."
Hugo menatapku dengan wajah kagum, tetapi sebenarnya tidak ada yang istimewa.
Di dalam game pun Goblin membawa Lea ke ruang klub ini dan merebutnya di sini. Aku hanya kebetulan mengetahui hal itu.
Yah, dalam hal ini aku benar-benar berterima kasih pada ingatan kehidupan laluku.
"Guhehehe... Aku sudah memasang alat sihir itu di dalam ruang klub. Kita bisa melihat keadaan mereka dari segala sudut."
"Dan sekaligus bisa merekam serta menyimpannya, kan?"
"...Bagaimana Nicholas-dono bisa tahu soal itu de gozaru?"
Kalau saja aku tidak mengatakannya, pasti dia berniat menjadikan rekaman Lea sebagai koleksi pribadinya.
Bahkan bukan tidak mungkin dia juga berniat menggunakannya untuk mengancam Lea.
"Hehehe... Kalau melakukan hal seperti itu, tahu kan apa akibatnya...?"
"Buhi!? T-tentu saja de gozaru! Aku sama sekali tidak akan melakukan hal buruk de gozaru!"
Tatapan Emma yang disertai senyum samar nan menyeramkan membuat Hugo gemetar hebat.
Setelah melihat bagaimana Emma bertarung saat latihan tempur tadi, wajar saja kalau dia ketakutan.
"Bagaimanapun juga, mari kita lihat dulu keadaan di dalam."
"B-benar de gozaru."
Memang pantas disebut penciptanya. Dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, Hugo mengoperasikan alat kendali kamera supermini berperforma tinggi yang dipasang di ruang klub.
"Gambar dari ruang klub akan ditampilkan melalui bola kristal ini. Tentu saja fungsi perekamannya juga sudah aktif agar bisa dijadikan bukti."
"Padahal tadi kau berniat merahasiakan fungsi itu."
"Tolong jangan ungkit itu de gozaru!"
Sambil tampak merasa bersalah, Hugo menekan tombol pada alat kendali, dan gambar pun muncul di dalam bola kristal.
Di sana terlihat Goblin dengan senyum menjijikkan, sementara Lea sudah tinggal mengenakan pakaian dalam dan menutupi dadanya dengan kedua lengannya.
"Hm? Tidak bisa menangkap suara percakapan mereka?"
"Sayangnya sampai sejauh itu tidak bisa de gozaru..."
Hugo menjawab dengan wajah benar-benar kecewa.
Pasti orang ini bukan hanya puas melihat gambarnya, tetapi juga ingin menikmati suara mereka. Tentu saja... aku juga penasaran.
Namun dalam keadaan seperti ini, tidak ada pilihan lain.
Kami bertiga mendekati ruang klub tanpa mengeluarkan suara, lalu sengaja memutar ke belakang gedung dan menempelkan telinga ke dinding.
Kalau sewaktu-waktu pintunya dibuka, setidaknya kami tidak akan langsung terlihat.
Tak lama kemudian...
"Kau ingin mendapat nilai kelulusan, bukan? Kalau begitu, lakukan saja apa yang kukatakan dan cepat lepaskan pakaianmu."
"..."
Sambil berkata demikian, Goblin tiba-tiba menurunkan celananya begitu saja.
Hanya dengan tindakan itu saja sebenarnya dia sudah melanggar batas sebagai seorang instruktur. Kalau kami menggerebek sekarang, hidupnya sebagai pengajar bisa langsung tamat.
Lea sempat ragu beberapa saat, tetapi akhirnya seolah pasrah dan mulai mengulurkan tangan ke arah kait bra-nya.
"Nico-san, bagaimana? Apa kita langsung masuk sekarang...?"
"Belum."
Bukan karena aku ingin melihat Lea diserang.
Aku hanya ingin memastikan apakah Goblin benar-benar pria yang telah merebut Lea atau bukan.
Kalau bukan, aku tidak akan punya alasan yang sah untuk membatalkan pertunangan.
"...Terus terang, aku sendiri sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tunanganmu itu. Apa pun yang terjadi padanya, bukan urusanku. Tapi... Nico-san berbeda, kan?"
"..."
Senyum santai dan nada bicaranya yang biasanya memanjang kini menghilang. Dengan wajah yang sungguh-sungguh, Emma menatapku dan bertanya.
Ya... aku tahu.
Walaupun semua ini demi mengumpulkan bukti untuk membatalkan pertunangan, bukan berarti aku boleh terus diam dan membiarkan Lea menjadi korban.
Aku…
"...Maaf. Padahal kalian sudah bersusah payah membantuku mengumpulkan bukti, tapi aku akan menghancurkan semuanya... Jadi, tidak apa-apa?"
"Hehehe... tentu saja."
Saat aku mengucapkannya dengan suara lirih sambil mengernyitkan alis, Emma malah tersenyum dengan wajah sedikit bangga.
Seolah-olah sejak awal ia sudah tahu bahwa aku akan mengambil keputusan itu.
"Hugo, kau juga tidak keberatan?"
"Haaah... tidak ada pilihan lain de gozaru. Padahal setidaknya aku masih ingin melihat langsung dada G-cup itu... e-eh, t-tidak! Itu cuma bercanda de gozaru!"
Hugo yang kebablasan berkata sembarangan langsung pucat begitu melihat Emma dan buru-buru menyangkal ucapannya. Kalau tidak hati-hati, nyawanya benar-benar bisa melayang.
"Baik, kita masuk!"
"Ya!"
"Siap de gozaru!"
Kami bertiga berdiri dan berlari menuju pintu ruang klub...
Namun.
"Apa yang sedang kalian lakukan!"
"!!"
Seseorang sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam ruangan. Orang itu adalah...
"Instruktur Ivo... Jangan kira kau bisa lolos setelah melakukan hal seperti ini!"
Berdiri menghalangi Goblin yang bagian bawah tubuhnya masih telanjang itu adalah pria keempat—Julian Retzel.
"...Kita keduluan ya."
"Iya..."
Muncul dengan gagah layaknya tokoh utama sebuah cerita, Julian segera menyampirkan seragam sekolahnya ke bahu Lea yang kini hanya mengenakan pakaian dalam.
Melihat sikapnya yang begitu sopan dan ksatria, sulit dipercaya bahwa dia adalah pria yang sama yang dalam Broken Days of Luminous III menjadikan Lea sebagai mainan nafsunya.
"K-kau...!"
"Sebagai seorang instruktur, kau mencoba mengganggu siswi... tidak, seorang wanita. Bersiaplah menerima akibatnya."
"G... grrr..."
Goblin menggeretakkan giginya begitu keras hingga nyaris patah sambil menatap Julian penuh kebencian.
Dua pria perebut wanita saling berhadapan.
Pemandangan macam apa ini?
"Ayo."
"Ah..."
Setelah beberapa saat saling menatap tajam, Julian menggenggam tangan Lea dan mengajaknya keluar seolah urusannya sudah selesai.
Lea sendiri tampaknya tidak keberatan. Sambil menutupi dada G-cup-nya dengan seragam yang dipinjamkan Julian, pipinya tampak sedikit memerah.
Serius... situasi macam apa ini?
Namun...
"Kalian..."
"Y-yo..."
Karena kami bertiga sudah berdiri di depan pintu ruang klub sejak tadi memperhatikan jalannya kejadian, tentu saja kami langsung berpapasan dengan mereka.
Suasana menjadi sangat canggung.
"...Dia tunanganmu, bukan? Kalau begitu, seharusnya kau datang menyelamatkannya lebih cepat."
"...Aku tidak bisa membela diri."
Menyebalkan memang ditegur oleh pria seperti dia, tetapi apa yang dikatakannya memang benar.
Saat aku menerima kritik itu tanpa membantah, Julian membawa Lea pergi meninggalkan tempat itu.
...Eh? Bukankah seharusnya dia menyerahkan Lea kepadaku sebagai tunangannya?
"Ini harus bagaimana ya..."
"Benar juga..."
Pada akhirnya, yang tertinggal di tempat itu hanyalah aku, Emma, Hugo, dan Goblin yang masih berdiri terpaku dengan tubuh bagian bawah telanjang.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
◇◆◇◆◇
"Jadiii... selama ini Anda mengiming-imingi siswi dengan nilai kelulusan lalu melakukan perbuatan yang sama sekali tidak pantas sebagai seorang instruktur, benar begitu?"
"..."
Emma yang masih memasang senyum manis menginterogasi Goblin yang kini telanjang bulat, diikat, dan dipaksa duduk bersimpuh.
Tentu saja matanya sama sekali tidak sedang tersenyum.
Setelah kejadian tadi, Goblin sempat mencoba melarikan diri, tetapi langsung ditangkap Emma. Karena itulah sekarang keadaannya seperti ini.
Kenapa sampai telanjang?
Karena ketika Emma berusaha menangkapnya dengan menarik pakaiannya, pakaian itu malah robek berkeping-keping.
Percayalah, kami juga sama sekali tidak ingin melihat tubuh telanjang Goblin.
"Cepat jawab. Kami tidak punya waktu luang."
"...Ghk."
Sambil menekan kepala Goblin ke lantai, aku bertanya.
Dilihat dari statusnya, sudah pasti cukup banyak siswi yang menjadi korban.
Aku sama sekali tidak berniat berbelas kasihan pada sampah seperti dia. Namun tanpa bukti nyata, satu-satunya cara membuktikannya adalah membuatnya mengaku sendiri.
Walaupun...
"Yah, sebenarnya tidak masalah juga. Bagaimanapun, kalau Julian melaporkan kejadian ini ke akademi, hidupmu sudah tamat. Bahkan mungkin kau akan dijatuhi hukuman mati."
"Hii!? "
Mendengar kata hukuman mati, Goblin langsung menjerit ketakutan.
"A-atas dasar bukti apa!? Lagi pula aku bahkan belum sempat menyentuh gadis itu!"
"Oh? Belum, ya?"
"B-benar!"
"Berarti kau sudah menyentuh siswi-siswi selain Lea, kan?"
"!!"
Benar-benar terpancing oleh ucapannya sendiri. Namun dibandingkan itu, ada satu hal yang jauh lebih penting bagiku.
Lea ternyata benar-benar telah direbut oleh Julian.
Sebenarnya aku sudah mulai mencurigainya.
Kenapa? Selain karena dia datang menyelamatkan Lea tepat saat Goblin hendak menyerangnya, ada alasan lain.
(Dia sepertinya mengenalku.)
Aku teringat ucapan Julian saat kami selesai berburu monster.
—"...Aku kecewa padamu. Kudengar kau adalah putra bangsawan yang paling bertanggung jawab dan paling serius menjalani latihan tempur."
Artinya...ada seseorang yang mengenalku dan menceritakan tentang diriku kepada Julian. Dan hanya ada satu orang yang tahu betapa seriusnya aku berburu monster.
Lea. Tunangan yang sejak kecil selalu bersamaku.
Meski begitu, aku tidak tahu kenapa ia sampai membicarakanku kepada Julian.
Di dalam game pun tidak pernah ada adegan seperti itu.
Yah, wajar saja. Game itu memang berfokus pada perebutan heroine. Penggemar game NTR jelas tidak peduli pada percakapan-percakapan lain selain adegan ketika para pria itu merusak sang heroine.
Apa pun alasannya...
"...Aku harus bergerak cepat."
Saat terakhir kulihat, status Lea menunjukkan tingkat "perkembangan"-nya sudah meningkat begitu jauh.
Kalau dibiarkan, tak lama lagi ia akan mencapai akhir rute Julian.
Dan pada akhirnya, setelah dipermainkan habis-habisan, ia hanya akan menjadi mainan bagi para bangsawan tua pelanggan keluarga Retzel.
"E-emm... Nico-san, sudah waktunya..."
Tanpa kusadari, Emma sudah menatap wajahku dengan alis berkerut.
...Benar. Sebelum memikirkan hal lain, kami harus membereskan Goblin lebih dulu.
"Maaf. Baiklah, anggap saja kita sudah berhasil menaklukkan Goblin. Sekarang mari kita bawa dia dengan penuh kemenangan ke ruang instruktur."
"Baik."
"Guhehe... Kita telah menjadi pahlawan yang menyelamatkan banyak gadis dari Goblin de gozaru. Terutama karena alat sihir buatanku memainkan peran yang sangat menentukan. Pasti para gadis nanti akan berterima kasih padaku dengan ini dan itu..."
Aku sengaja berbicara dengan nada ringan, tetapi Hugo sudah mulai melamun lagi tentang hal-hal yang tidak berguna.
Mungkin memang lebih baik dia ikut disingkirkan bersama Goblin. Lebih dari itu...
"Nico-san..."
Tolonglah, Emma. Jangan menatapku dengan wajah sesedih itu.
Aku…akan baik-baik saja.




Post a Comment