NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Chapter 9

Chapter 9: Ada Tomat, dan Juga Kentang Lho


Kami berteleportasi ke ibu kota Punosis Territory... atau lebih tepatnya, desa wilayah? Pokoknya, tempat itu berada di atas sebuah bukit kecil yang tidak jauh dari jalan setapak yang hanya sekadar dinamai jalan raya. Untungnya, awan hujan sepertinya telah berlalu meninggalkan Punosis Territory, dan tetesan air hujan yang tertinggal di rumput dan bunga-bunga berkilau gemerlap di bawah cahaya matahari yang mengintip di antara celah-celah awan.

Di tengah angin hangat bercampur kelembapan khas sehabis hujan, tercium aroma rerumputan.

Aroma kampung halaman yang dirindukan.

"Di sinilah Punosis Territory?"

Tia, yang memeluk erat pinggangku, melihat ke sekeliling lalu bertanya padaku.

"Tempat yang tidak ada apa-apanya sampai bikin mau tertawa, kan?"

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan warna hijau menyebalkan.

Segala penjuru dikelilingi oleh gunung-gunung dan hutan, dan di dataran sempit yang dibuka terdapat beberapa permukiman yang terpencar.

Ada sebuah danau yang agak besar, sebuah sungai, dan selebihnya hanyalah ladang pertanian.

"Tidak kok. Kurasa ini tempat bagus yang dikelilingi oleh alam. Lecty juga berpikir begitu, kan?"

"Iya! Kalau di sini, sepertinya akan ada banyak hal yang bisa dimakan daripada di Royal Capital!"

"B-benar juga, ya...?"

Tia mengangguk kebingungan pada Lecty yang entah kenapa bersiap untuk situasi bertahan hidup (survival).

Jika sudah menikah nanti, tentu saja aku tidak berniat membuat mereka kesulitan mencari makan, tapi kalaupun terjadi krisis pangan darurat, Lecty sepertinya bisa bertahan hidup dengan tangguh.

"Rasanya hijaunya jadi semakin bertambah dibanding saat aku datang ke sini dulu, tapi apa cuma perasaanku saja ya..."

"A-aku juga tidak tahu..."

Ada kemungkinan tempat yang sepuluh tahun lalu dulunya adalah ladang, sekarang sudah ditinggalkan karena tidak ada lagi orang yang bisa mengurusnya dan menjadi lahan terlantar. Saat aku tinggal di sini dulu aku tidak begitu memikirkannya, tapi jangan-jangan situasi Punosis Territory ini sebenarnya sudah separah itu...?

Lily melipat kedua tangannya di depan dada sambil bergumam, "Hmm..."

Itu adalah gestur familier yang biasa Lily tunjukkan saat sedang berpikir keras. Jangan-jangan dia sedang memikirkan masa depan Punosis Territory...? Kalau benar begitu, dia adalah istri masa depan yang bisa diandalkan.

Namun, kupikir kita tidak harus memikirkan hal-hal yang rumit sekarang.

"Ayo kita berangkat. Kalau terlalu lambat, kita tidak akan sempat untuk persiapan makan malam Ibu."

Ibu, yang memegang kendali dapur keluarga Punosis kami, terkadang sudah mulai memasak untuk makan malam sejak pukul tiga sore jika waktunya memungkinkan. Beliau adalah orang yang tidak menoleransi kompromi apa pun dalam urusan memasak. Begitu beliau tahu tentang kedatangan Tia dan kawan-kawan, beliau pasti akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyuguhkan hidangan yang jauh lebih istimewa dari biasanya.

Aku sangat menantikan masakan Ibu setelah sekian lama. Di Royal Capital aku memang sempat menghadiri jamuan keluarga Duke, perayaan kesembuhan Yang Mulia Raja, bahkan makan malam bersama Yang Mulia Raja sendiri, tapi entah kenapa rasanya hal itu tidak begitu membekas di ingatanku, mungkin karena masakan Ibu jauh lebih enak. Makanan mewah belum tentu selalu menjadi makanan yang enak, ya.

"Hugh, kamu terlihat senang sekali. Apa kamu merindukan kampung halamanmu?"

Sambil berjalan menuju mansion, Tia yang melongok melihat ekspresi wajahku bertanya padaku.

Gawat, sepertinya ekspresiku terpampang jelas di wajahku lagi.

"B-bukan karena merindukan atau bagaimana sih... Tapi, aku menarik kembali ucapanku soal tempat ini yang tidak ada apa-apanya, Tia. Masakan Ibu adalah yang paling enak dari semua masakan yang kumakan di Royal Capital. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dari Punosis Territory."

"S-seriusan... Apa kamu seorang Brocon (kompleks saudara)?*

"B-bukan begitu! Sumpah demi apa pun, masakan Ibu itu enak banget. Kan, Lily?"

"Meminta pendapatku tentang rasa makanan yang kukan makan sepuluh tahun lalu rasanya agak merepotkan... Tapi, kurasa benar juga. Selama tinggal di Punosis Territory, aku merasa selalu menantikan waktu setiap kali jam makan tiba."

"Hooo. Masakan ya..."

Tia mengetukkan jari telunjuknya di bibir sambil menunjukkan gestur seolah sedang memikirkan sesuatu.

Tia dan yang lainnya pasti juga akan menyukai masakan Ibu.

Melihat kepribadian Ibu, masalah mertua dan menantu sepertinya tidak akan terjadi, tapi hubungan antara calon-calon istriku dan Ibu tentu akan jauh lebih baik jika terjalin keharmonisan. Akan luar biasa jika makanan bisa menjadi pemicu untuk mempererat hubungan mereka.

"Umm, seperti apa orangnya Ibu Tuan Hugh itu?"

"Biar kulihat ya..."

Aku berpikir sejenak menanggapi pertanyaan Lecty. Menjelaskan kepribadian ibu sendiri rasanya cukup sulit, tapi untuk kasus ibuku, itu bahkan jauh lebih sulit lagi.

...Namun, jika harus diungkapkan dengan kata-kata.

"Beliau adalah orang yang unik dalam arti yang bagus, kurasa."

"O-orang yang unik dalam arti yang bagus?"

Tia dan Lecty memiringkan kepala mereka secara bersamaan.

Lily, yang mungkin samar-samar mengingatnya, mengeluarkan suara seolah mengerti, "Ah..."

Ibu, Rain Punosis, tidak begitu mahir mengekspresikan emosi lewat wajah atau suara, dan selalu memasang ekspresi datar tanpa ekspresi. Kalau cuma itu saja, beliau mungkin hanya akan dianggap sebagai orang yang ketus, tapi Ibu punya keunikan tersendiri. Karena emosinya tidak terpancar di wajah atau suaranya, beliau mengekspresikan emosinya melalui gerakan tubuh dan kata-kata.

Kalau sedang senang, beliau akan melompat-lompat untuk menunjukkan rasa senangnya, dan kalau sedih, beliau akan bersimpuh lemas sambil menangis tersedu-sedu. Karena berjiwa pelawak, beliau selalu berusaha membuat orang lain terhibur, dan beliau juga sangat suka menjahili aku atau Ayah.

Meskipun kepribadiannya begitu, beliau adalah ibu luar biasa yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan perhatian.

Jadi ya, ibuku adalah orang yang unik dalam arti yang bagus.

"Yah, anggap saja itu kejutan setelah kalian bertemu nanti."

Biarkan mereka melihatnya sendiri secara langsung daripada aku menjelaskannya lewat kata-kata. Aku jadi sedikit penasaran bagaimana reaksi Tia dan Lecty saat berinteraksi dengan Ibu tanpa diberi informasi awal terlebih dahulu.

Sambil berjalan dan mengobrol, kami akhirnya tiba di mansion keluarga Punosis—rumah kami.

Meskipun disebut mansion, tempat ini adalah rumah dua lantai bergaya kayu yang berukuran kecil, sangat berbeda dari mansion megah milik keluarga Puridy atau para bangsawan lainnya. Halaman tamannya pun sempit, bahkan lebih dari separuh areanya dijadikan kebun sayur oleh Ibu untuk menanam bahan-bahan masakan.

Saat aku tinggal di sini dulu, hal itu terasa begitu lumrah sehingga aku tidak pernah mempertanyakannya sedikit pun, tapi kalau dipikirkan sekarang, seorang istri bangsawan yang menghancurkan separuh taman mansion demi dijadikan kebun sayur rumah tangga adalah tindakan yang cukup rock alias pemberani bagi seorang Ibu.

"Umm, di sinilah rumahku. Tempatnya memang sempit untuk ukuran mansion seorang bangsawan..."

Sambil merasa sedikit malu, aku memperkenalkan rumah itu kepada calon-calon istriku. Lily memang pernah datang ke sini waktu kecil, tapi kesan yang dirasakannya pasti akan berbeda antara dulu dan sekarang. Keluarga kerajaan atau para Marquis mungkin akan menganggap ukurannya sekecil kandang anjing... Saat aku merasa cemas memikirkan hal itu,

"Rumah dengan ukuran seperti ini justru terasa lebih hangat karena kita bisa tinggal bersama-sama!"

"Punya mansion yang terlalu luas justru merepotkan perawatannya saja, jadi kurasa ukuran ini sangat ekonomis dan bagus."

"Menurutku, halaman dengan kebun sayur di rumah itu terlihat sangat indah!"

Masing-masing dengan pendapat mereka, ketiganya tampaknya menyukai tempat ini, membuatku merasa lega. Aku belum tahu bagaimana masa depan nanti, tapi sepertinya tidak akan ada masalah jika kelak aku harus tinggal di rumah ini bersama mereka berdua...

...Hanya saja, karena Ayah dan Ibu juga tinggal di sini, dan mungkin jumlah anggota keluarga akan bertambah seiring berjalannya waktu, rumah ini memang akan terasa sempit. Mungkin aku harus mulai mempertimbangkan opsi untuk melakukan renovasi atau membangun rumah baru di lokasi lain.

Yah, masa depan toh belum ada satu pun yang bisa dipastikan.

"Aku pulang."

"「「「K-kami ikut masuk...」」」"

Tia, Lily, dan Lecty mengucapkan salam bersamaan dengan ekspresi tegang. Bersama mereka bertiga, aku melangkahkan kaki masuk ke rumahku untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar lima bulan. Aroma kayu dan rempah-rempah yang sudah familier menyambut indra penciumanku. Rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah.

Mendengar suara kami, terdengar suara langkah kaki berpatan dari arah ruang makan dapur di sisi kanan pintu masuk.

Dan sosok yang muncul mengintip dari balik pintu adalah Ibu.

Rambut hitam panjang yang terurai hingga pinggang, serta sehelai rambut Ahoge yang melompat berdiri lancip di atas kepalanya. Wajahnya yang rapi tanpa menyiratkan usia tampak begitu awet muda.

"Selamat datang kembali, Ibu."

Saat aku menyapa, Tia dan Lecty di sebelahku membelalakkan mata karena terkejut.

Mereka pasti mengira Ibu adalah adik perempuanku. Orang-orang yang baru pertama kali bertemu sering kali salah mengira kami sebagai kakak beradik.

Ibu menatap lurus dan mengamati Tia dan kawan-kawan dengan saksama tanpa ekspresi.

Tak lama kemudian, tanpa menggerakkan otot wajahnya sedikit pun,

"Good job" (Kerja bagus)

Beliau mengacungkan jempol ke arahku.

Apa pantas menjadikan kalimat itu sebagai sambutan pertama untuk anak yang baru pulang setelah sekian lama...?!

Mengingat kembali kejadian sekitar lima bulan lalu.

Ibu adalah orang yang mengantarkanku berangkat dalam perjalanan ke Royal Capital setelah aku terlanjur berbohong kepada Ayah bahwa Skill-ku adalah Pyrogenesis/Ignite, dan saat melepasku beliau sempat menaikkan standar kepulanganku dengan berkata, "Nanti kalau pulang, pastikan bawa istri bersamaku ya?"

Kupikir itu adalah bentuk dorongan semangat dengan cara Ibu agar aku tidak buru-buru pulang dengan mudah, tapi rupanya,

"Kupikir Hugh setidaknya akan membawa pulang satu orang. Membawa sampai tiga orang, benar-benar anakku."

Ibu melipat kedua tangannya sambil mengangguk-angguk paham. Beliau rupanya benar-benar serius menyuruhku membawa pulang seorang istri. Sebenarnya menganggap anaknya sendiri sebagai apa.

"E-eum...?"

Tia dan kawan-kawan terdiam kebingungan menghadapi gaya bicara Ibu yang santai.

"Yah, silakan duduk dulu untuk ngobrol."

Aku mengajak calon-calon istriku dan Ibu untuk pindah ke ruang santai.

Ayah dan kepala pelayan Selvas rupanya sedang tidak ada di rumah, jadi Ibu yang menyiapkan teh herbal. Teh yang diseduh dari tanaman herbal yang ditanam sendiri oleh Ibu di kebun sayurnya rasanya sangat luar biasa, jadi mereka bertiga pasti akan menyukainya.

Sekarang, di sofa ruang santai, aku dan Ibu duduk berdampingan, sementara di seberang kami berturut-turut duduk Tia, Lily, dan Lecty. Ketiganya duduk dengan ekspresi tegang dan bahkan belum menyentuh teh herbal di hadapan mereka. Ibu menatap mereka dengan tatapan tanpa ekspresi yang tidak bisa ditebak emosinya.

Bagi mereka bertiga, tatapan itu mungkin terlihat seperti sedang dijeli oleh Ibu.

Meskipun aku tahu persis bahwa sama sekali tidak ada niat seperti itu dari goyangan rambut Ahoge di atas kepalanya (rambut itu akan sering bergoyang jika hatinya sedang bagus), meminta mereka untuk langsung merasakannya pada pertemuan pertama tentu saja adalah hal yang terlalu kejam.

"E-eum, orang ini adalah Ibuku. Rain Punosis."

"Yeah, Peace-peace."

Ibu memasang ekspresi datar sambil berpose double peace (dua buah simbol perdamaian dengan jari).

Ya, ini adalah hari biasa bagi beliau.

"I-iya, peace-peace...?"

Tia dan Lecty, yang mungkin mengira itu adalah salam khas keluarga Punosis, memasang ekspresi bingung lalu meniru Ibu dengan membuat simbol peace di kedua tangan mereka.

Memang menggemaskan, tapi kalian tidak perlu memaksakan diri menirunya, tahu!

Lily sepertinya sempat ragu, tapi ia diam-diam membentuk jarinya menjadi huruf 'V' di atas pangkuannya. Kalau ditanya apakah aku ingin melihat Lily melakukan double peace sambil merasa malu, jawabannya tentu saja iya, aku tidak bisa menyangkalnya.

"E-eum. Salam kenal! Aku—"

Tia mencoba menyebutkan namanya, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

Lucretia. Ryuug. Tia.

Dia pasti sedang bingung harus memperkenalkan diri dengan nama yang mana. Selama di perjalanan kami sempat berdiskusi beberapa kali, tapi keputusan akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Tia.

Tak lama kemudian, dengan ekspresi seolah membulatkan tekad, Tia mengatupkan bibirnya lalu menyentuh kalung yang menggantung di lehernya. Rambut Tia seketika berubah warna dari perak menjadi keemasan dalam sekejap mata.

"Aku Lucretia von Ries. Putri ketujuh dari negara ini! Aku menjalin hubungan dengan Hugh atas dasar pernikahan! Ibu mertua, berikan Hugh untukku!"

Ucap Lucretia sambil membungkuk hormat.

Kupikir Ibu akan terkejut begitu tahu Lucretia adalah anggota keluarga Royalty...? Sambil memikirkan hal itu aku melirik ke arah Ibu, dan mendapati beliau sedang menyilangkan jari telunjuk dari kedua tangannya di depan wajah.

"Tidak boleh."

"Eh—!?"

Lucretia terkejut dan langsung berdiri dari duduknya mendengar penolakan yang tak terduga itu.

Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Ibu menjelaskan alasannya dengan tenang.

"Hugh adalah pewaris berharga dari keluarga Punosis. Meskipun kamu keluarga Royalty, aku tidak akan membiarkannya masuk ke keluarga lain sebagai pengantin pria. Kalau kamu yang datang ke sini sebagai pengantin wanita, baru boleh."

"Aku datang! Aku akan menjadi istri Hugh! Aku akan menjadi Lucretia Punosis!"

"Baguslah."

Ibu membuat lingkaran besar di atas kepalanya menggunakan kedua tangan dengan ekspresi puas. Mampu menunjukkan sikap kurang ajar semacam itu bahkan setelah mendengar bahwa Lucretia adalah anggota Royalty sungguh khas gaya Ibu. Yah, dari awal memang pembicaraannya adalah tentang Tia yang akan datang bergabung ke keluarga ini, sih.




"Yattaaa!"

Tia mengangkat kedua tangannya, mengekspresikan kegembiraannya dengan seluruh tubuhnya.

Melihat sosoknya yang seperti itu, Ibu bergumam pelan.

"Mirip sekali dengan Lutiana-sama."

"Eh?"

Mendengar ucapan tak terduga itu, aku yang tadinya sedang menatap Tia dengan penuh rasa gemas langsung menoleh panik ke arah Ibu.

Kenapa nama ibu Tia bisa tiba-tiba muncul di sini...!?

Tia juga membelalakkan matanya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya kepada Ibu.

"Apa Ibu kenal dengan beliau...!?

"Ya. Dulu saat aku bekerja di sebuah restoran di Royal Capital, beliau sering diam-diam datang bersama Yang Mulia Raja. Beliau sepertinya sangat menyukai masakanku."

"M-mana mungkin ada kebetulan seperti itu..."

Aku benar-benar terkejut dengan hubungan yang tidak disangka-sangka ini.

Fakta bahwa Ibu pernah bekerja di restoran umum di Royal Capital dan bertemu dengan Ayah di sana memang pernah kudengar dari Roan-san, teman Ayah masa Royal Academy yang juga merupakan Wakil Komandan Kesatria Kerajaan... tapi...

Tidak disangka kalau restoran umum tempatnya bekerja itu sering dikunjungi secara diam-diam oleh Yang Mulia Raja dan Nona Lutiana. Dunia ini terasa begitu sempit, atau harus kukatakan apa ya.

"Lutiana-sama sempat mengajakku untuk menjadi koki di istana kerajaan, tapi aku menolaknya karena itu bertepatan dengan hari setelah aku dilamar oleh suamiku, Mike."

"S-seriusan..."

"B-hal seperti itu benar-benar terjadi...!?

Menolak tawaran dari seorang Imperial Consort (Side Wife) terdengar sangat mirip dengan gaya Ibu, tapi itu berarti jika lamaran Ayah terlambat sehari saja, mungkin saat ini Ibu sudah bekerja sebagai koki di istana kerajaan. Jika itu terjadi, tentu saja pernikahannya dengan Ayah tidak akan pernah ada, dan aku pun tidak akan pernah lahir ke dunia ini.

"R-rasanya aku jadi bisa merasakan takdir, ya?"

"B-benar juga, ya."

Aku dan Tia saling bertukar pandang, menyunggingkan senyum di sudut bibir masing-masing.

Ibu yang saling mengenal mungkin adalah hal yang lumrah di pedesaan yang komunitasnya sempit, tapi jika mengingat itu terjadi di Royal Capital yang padat penduduknya, ditambah perbedaan status antara Ibu yang saat itu adalah Rakyat biasa dan Nona Lutiana sebagai seorang Side Wife, aku sungguh tidak ingin menyebutnya sekadar sebagai kebetulan belaka.

Aku bahkan sempat memikirkan hal romantis seperti jangan-jangan aku dan Tia memang ditakdirkan untuk bertemu.

"Ehem. Bolehkah aku juga ikut memberi salam sekarang?"

Lily berdeham kecil seolah memperingatkan aku dan Tia yang sedang saling tatap, lalu membungkuk hormat kepada Ibu dengan gestur sempurna selayaknya seorang Bangsawan lady seperti biasanya.

"Lama tak berjumpa, Rain-sama. Aku Lily dari keluarga Marquis Puridy. Terima kasih banyak atas bantuan besar Anda sepuluh tahun lalu. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda lagi."

"Ya, sudah lama ya. Aku juga senang bisa bertemu denganmu."

Ibu mengangguk pelan, lalu...

"Apa kamu sudah bisa makan tomat?"

Beliau melontarkan pertanyaan susulan kepada Lily.

"Eh..."

Lily tampak kaget menghadapi pertanyaan tak terduga itu. Dia sama sekali tidak menduga akan langsung ditanya soal makanan yang tidak disukainya. Ibu benar-benar memiliki daya ingat yang luar biasa soal makanan...

"T-tentu saja, Rain-sama. Sebagai seorang lady, sudah sewajarnya bagiku untuk mengatasi kelebihan maupun kekurangan dalam hal makanan."

Lily berkata demikian sambil membusungkan dadanya dengan bangga. Kesan bahwa dia tidak menyukai tomat... sepertinya memang tidak terlihat.

Di menu kafetaria Royal Academy, tomat sering kali disajikan di atas salad, tapi aku sama sekali tidak punya ingatan tentang Lily yang menyisihkan tomatnya saja.

"Bagus karena kamu menepati janji. Kamu masih ingat kan kalau kubilang hilangkan pilih-pilih makananmu kalau mau menjadi istri Hugh?"

"Eh?"

Aku tak kuasa menahan tanda tanya karena tidak mengerti maksud dari ucapan Ibu. Apa maksudnya?

"Lily bilang dia ingin menikah dengan Hugh, jadi aku membuat janji dengannya agar dia menghilangkan pilih-pilih makanannya. Sepuluh tahun yang lalu."

"R-Rain-sama! Soal pembicaraan itu—!"

...Umm—etto.

Lily yang duduk di seberang menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk.

Telinga yang mengintip di antara rambut cokelat kemerahannya tampak memerah, menyaingi warna rambutnya.

Jika membedah cerita dari Ibu, itu berarti Lily sudah menyukaiku sejak sepuluh tahun yang lalu, dan bahkan sudah menyampaikan kepada Ibu bahwa dia ingin menikahiku...? Dan sebagai balasannya, Ibu memberikan izin pernikahan dengan syarat Lily harus mengatasi ketidaksukaannya pada tomat saat itu...?

Fakta bahwa pernikahanku sempat ditimbang dengan tomat... ah, mari kita abaikan saja untuk sementara. Itu kan cerita masa kecil, dan Ibu juga pasti tidak serius menganggapnya sebagai pertukaran yang setara... mungkin.

Lebih penting lagi, ini soal Lily.

Aku benar-benar sama sekali tidak tahu kalau dia membuat janji seperti itu dengan Ibu.

"I-itu kan cerita masa kecil! Waktu itu aku tidak punya kenalan anak laki-laki lain, dan kau yang mengajariku berbagai permainan di alam bebas di saat hari-hariku hanya diisi dengan les dan pelajaran membuatmu terlihat begitu berkilau, jadi... itu... A-hal seperti itu wajar kan, ya!?"

"M-mawa... kalau dibilang wajar, mungkin memang iya sih..."

Hal yang sama jika didengar dari orang lain mungkin akan terdengar menggemaskan, tapi rasanya akan jadi berbeda saat diri sendiri yang menjadi pelakunya. Kesimpulannya, bukankah Lily sebagai istriku ini terlalu menggemaskan!?

"Lily jadi malu, lucu banget ya."

"Nona Lily ternyata sudah sangat menyukai Tuan Hugh sejak kecil, ya."

"J-jangan menggoda kami berdua, ya!"

Tia dan Lecty yang duduk di kedua sisi Lily ikut tersenyum hangat melihat reaksi menggemaskan Lily. Sementara aku sendiri sibuk menahan sudut bibirku yang terus berkedut menahan rasa senang dan malu yang luar biasa.

Meskipun banyak hal terjadi, aku benar-benar bersyukur bisa menikah dengan Lily...

"G-giliran Lecty selanjutnya...!"

"A, ah, iya...!"

Mungkin untuk menghindari pembahasan yang lebih panjang, Lily mendesak Lecty untuk memberikan salamnya.

Aku pun merasa tertolong karena sudah tidak punya kepercayaan diri untuk menahan diri lebih lama lagi.

"A-aku Lecty! T-Tuan Hugh adalah teman sekelas di Royal Academy, dan um, saat aku sedang kesulitan, beliau telah menolongku berkali-kali...!"

Meskipun terbata-bata, Lecty menyampaikan latar belakang hidupnya, jalannya hingga saat ini, serta segenap isi hatinya kepada Ibu. I-ini di sisi lain juga luar biasa memalukan...-!

"A-aku, sangat ingin terus mendukung Tuan Hugh! Jadi, kumohon, sudikah Anda memberikan izin pernikahan kami!"

Tolong mohon bantuannya! Lecty menundukkan kepalanya.

Ibu yang mendengarkan perkataan Lecty dengan tenang lalu melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya.

"Ada makanan kesukaan?"

"Eh? Um, aku suka semua makanan. Itu... sampai beberapa waktu lalu, aku hampir tidak pernah punya kesempatan untuk makan makanan yang layak..."

Lecty menjawab Ibu sambil menciutkan tubuhnya.

Kompleks masa kecilnya yang tumbuh di daerah kumuh sepertinya masih tertanam kuat di dalam dirinya.

Namun, Lecty menceritakan hal itu kepada Ibu tanpa menutup-nutupinya. Itu adalah sebuah langkah berani yang dikerahkannya, dan keberanian itu pasti tersampaikan dengan baik kepada Ibu.

"Kalau begitu, mulailah mencari makanan yang kamu sukai mulai sekarang. Aku sangat percaya diri dengan masakanku."

"Umm...?"

Ibu membusungkan dadanya dengan bangga sambil mendengus kecil (muhū). Dari sudut pandang Ibu, mungkin itu adalah cara terbaik untuk menyemangati, tapi sepertinya itu tidak begitu tersampaikan dengan baik kepada Lecty.

"A—to. Maksudnya, itu cara Ibu untuk menyambutmu sebagai keluarga, Lecty."

"Ah..."

Begitu aku memberikan penjelasan tambahan, mata Amethyst Lecty membelalak lebar, dan setetes air mata menetes turun.

"Ah, m-maafkan aku. Itu, aku merasa begitu lega sampai... Fufu! Bagus sekali, ya, Lecty."

Lily yang duduk di sebelah memeluk Lecty dengan lembut.

Lecty mengangguk berkali-kali sambil mengusap sudut matanya yang memerah, "Iya..."

Alasan air mata Lecty tentu saja bukan sekadar karena merasa lega.

Ia kehilangan kedua orang tuanya karena wabah penyakit dan berjuang bertahan hidup sendirian di daerah kumuh.

Bagi Lecty, kata 'keluarga' pastilah memiliki arti yang sangat istimewa.

"Kalau sudah memutuskan, aku harus segera mulai menyiapkan bahan-bahannya. Karena ini adalah pesta penyambutan untuk semuanya, aku akan memasak dengan semangat yang lebih membara dari biasanya."

Ibu bangkit dari sofa sambil berucap penuh semangat, lalu bersiap melangkah menuju dapur. "A, anuu!" Tia-lah yang memanggil untuk menghentikannya.

"B-biarkan aku ikut membantu juga!"

"Eh, Tia, itu..."

Dapur adalah wilayah kekuasaan Ibu.

Jangankan orang luar yang ingin membantu, bahkan aku dan Ayah pun tidak diizinkan masuk ke sana. Aku sudah sering mengatakan ingin membantu memasak sebelumnya, tapi tidak sekalipun aku diizinkan menyentuh proses memasak beliau.

Kupikir Ibu juga akan menolak tawaran Tia, namun,

"Boleh saja. Tapi, pelatihan pengantin dariku sangat ketat. Apa kamu sanggup mengikuti?"

"A-aku akan berusaha!"

"Rain-sama, aku juga ingin membantu."

"T-tolong biarkan aku membantu juga!"

Menyusul Tia, Lily dan Lecty juga ikut menawarkan diri untuk membantu.

Ibu menerima tawaran mereka tanpa menolak satu pun. E-eh...!?

"Ibu, aku juga ingin membantu sesuatu—"

"Hugh tidak boleh."

"Eh..."

Ibu langsung menolak mentah-mentah saat aku hendak bangkit dari sofa.

"Tugas Hugh adalah membuat perutmu kosong. Pergilah jalan-jalan atau semacamnya."

"Kami akan memasak makanan yang enak untuk Hugh, jadi nantikan ya!"

"Y-ya."

Jika Tia sudah berkata begitu, aku tidak punya alasan untuk mendebatnya lagi, kan? Meskipun aku sedikit merasa cemas dengan hasil masakan tangan mereka... yah, selama ada Ibu, semuanya pasti akan baik-baik saja. Mungkin.

"Kalau begitu, aku mau jalan-jalan sebentar di sekitar sini."

Tidak ada hal yang bisa kulakukan di rumah, dan jika aku terus mengawasi, Ibu dan yang lainnya pasti akan kesulitan untuk memasak. Lebih baik aku menurut saja keluar rumah.

Diantar oleh pandangan Tia dan yang lainnya, aku berjalan keluar tanpa tujuan yang pasti.

Pemandangan di Punosis Territory sedikit mengalami perubahan dibandingkan sebelum aku berangkat ke Royal Academy.

Salju yang menumpuk di puncak-puncak gunung telah mencair, dan bulir-bulir gandum berwarna keemasan tampak melambai-lambai di ladang yang tadinya berwarna kecokelatan.

Meskipun itu adalah pemandangan musim panas yang seharusnya sangat kukenali, rasanya tetap terasa begitu nostalgik.

Perasaan itu muncul pastinya karena aku telah merasakan pengalaman hidup di Royal Capital. Hidup di Royal Capital memang tidak buruk, tapi aku merasa kehidupan di sinilah yang paling cocok untuk diriku.

"Bagaimanapun juga, slow life adalah yang terbaik."

Sambil bergumam seperti itu, tanpa sadar langkah kakiku membawaku menuju hutan di bagian belakang mansion. Tempat itu adalah area di mana aku berlari kesana-kamari seharian penuh semasa kecil. Bisa dibilang itu adalah halaman belakang pribadiku.

Dan di sinilah tempat markas rahasia buatanku berada.

Markas rahasia yang kubuat dengan cukup serius, dibantu oleh Ayah dan kepala pelayan Selvas.

...Yah, tapi kalau sudah dibantu oleh orang dewasa, apanya yang bisa disebut rahasia, tapi sudahlah.

Markas rahasia yang kukunjungi untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar setengah tahun itu berdiri di antara pepohonan dalam wujud yang tidak berubah dari sebelumnya. Aku memijakkan kaki ke batang pohon yang biasa kudaki saat kecil, lalu membungkukkan pinggang untuk masuk ke dalam.

Lily sempat menyebutnya sebagai kandang anjing saat diajak ke sini sepuluh tahun lalu, tapi begitu masuk ke dalam, langit-langitnya cukup tinggi sehingga bahkan aku yang sekarang tidak perlu menundukkan kepala, dan luasnya cukup untuk membuatku bisa berbaring merentangkan tangan dan kaki jika alas tidur digelar. Ini adalah hasil kerja sama penuh semangat dari Ayah yang bertubuh besar.

"Lantai dasarnya masih kokoh, sepertinya belum perlu diganti... eh?"

Sambil memeriksa tingkat pelapukan kayu selama setengah tahun terakhir, mataku tanpa sengaja menangkap sebuah benda aneh.

Sebuah meja yang kubuat di dekat jendela.

Di atasnya, terdapat sebuah buku catatan.

Kalau itu hanya buku catatan biasa, aku mungkin akan berpikir kalau aku yang tertinggal di sana sebelumnya.

Namun, aku bisa memastikan dengan tegas bahwa itu bukan buku catatan biasa.

Sampul ungu muda yang sedikit kotor, dengan motif bunga-bunga yang disulam menggunakan benang emas kusam.

Buku dengan jilid rapi itu sangat familier bagiku.

"Kenapa buku harian Lily bisa ada di tempat seperti ini...?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close