NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Chapter 1

Chapter 1: Prolog yang Selalu Dimulai dengan Tidur Bersama


Meskipun tidak sampai panas terik... malam musim panas di dunia lain ini lumayan panas juga. Padahal di Punosis Territory yang berada di dataran tinggi pegunungan, malam hari di musim panas pun tidak terasa begitu panas... Malam musim panas pertamaku di Royal Capital ini lumayan membuatku susah tidur.

Meskipun begitu, jika mengingat hari-hari hingga kemarin, ini sudah seperti surga.

Setelah menyelesaikan latihan lapangan luar sekolah di Dorefon Territory yang dimulai sekitar satu bulan yang lalu, kami akhirnya tiba kembali di Royal Academy pada lewat tengah hari tadi.

Aku mandi di tengah kelelahan yang luar biasa dan ambruk ke tempat tidur sekitar waktu sore.

Setelah itu kesadaranku menghilang, dan saat aku sadar, suasana di dalam kamar sudah menjadi gelap gulita.

Sambil menahan rasa lapar dan haus, aku mencoba untuk bangun perlahan, namun menyadari bahwa tubuhku terasa sangat berat. Saat aku menundukkan pandanganku, kulihat dalam kegelapan ada seseorang yang sedang memeluk erat tubuhku.

Ah... pantas saja terasa panas.

Aroma manis yang menyerupai bunga Osmanthus menggelitik hidungku. Mataku yang mulai terbiasa dengan kegelapan melihat rambut panjang keemasan yang sehalus sutra.

"Hugh... aku suka padamu~..."

Gadis yang menggumamkan igauan tidur semanis madu ini bernama Lucretia von Ries. Dia adalah Seventh Putri dari Ries Kingdom, teman sekamarku—seorang gadis yang menyamar sebagai laki-laki—bernama Lugh Bect, dan kekasih tercintaku, Tia.




Tia, dalam balutan negligee hijau tipis, merapatkan tubuhnya erat padaku.

Suhu tubuhnya dan sensasi lembut yang samar namun nyata itu tersalurkan langsung padaku yang hanya mengenakan sehelai kemeja.

Meskipun selama latihan lapangan aku juga sering tidur bersamanya, rasanya sudah lama sekali sejak kami menempel seerat ini. Mungkin terakhir kali adalah sebelum kami pergi latihan lapangan.

Perbedaan antara saat itu dan sekarang adalah kenyataan bahwa aku dan Tia telah resmi berpacaran. Sebagai buktinya, di jari manis tangan kanannya tersemat cincin yang kuberikan saat ulang tahunnya.

Gulp, tanpa sadar aku menelan ludah.

Tidak, tidak, tenanglah diriku...! Meskipun aku sudah menjadi kekasih Tia, bukan berarti aku bisa melakukan apa saja seenaknya.

Tia memiliki posisi sebagai Seventh Putri dari Ries Kingdom, dan kakak kandungnya, Pangeran Lucas, sedang berada di tengah-tengah konflik Royal Succession (perebutan takhta). Agar pernikahan kami nantinya diakui, aku tidak boleh menjadi beban dengan melakukan kesalahan di tempat seperti ini.

Lagipula, ibu Tia mungkin masih mengawasinya dari atas sana...

Aku mengerahkan seluruh akal sehatku untuk menepis pikiran-pikiran kotor. Tujuan utamaku adalah hubungan romantis yang platonik. Setidaknya untuk saat ini, kami belum boleh melangkah lebih jauh dari itu.

Aku menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk menenangkan diri, melemaskan tubuhku, dan kembali memejamkan mata.

"...Muu. Hugh penakut."

Aku merasa mendengar gumaman seperti itu, tapi pasti itu cuma halusinasiku yang mendengar igauan Tia.

Lebih baik aku menganggapnya begitu saja.

---

Keesokan paginya, saat aku perlahan membuka mata, rambut pirang yang berkilauan langsung menyambut pandanganku. Ujung rambutnya menyentuh ujung hidungku, terasa geli hingga tanpa sadar wajahku berkerut aneh. Melihat itu, tawa tertahan yang tak bisa dibendung pun meledak.

"Selamat pagi, Tia. Apa wajahku selucu itu?"

"Pfft, ma-maaf, Hugh. Soalnya lucu banget... ahaha."

"Ya ampun..."

Sambil mengabaikan Tia yang tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya, aku perlahan bangkit. Saat aku terbangun tadi, rasanya wajah Tia sangat dekat denganku, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Melihat jam, ini tepat waktunya untuk berangkat latihan pagi. Kemejaku yang menempel di kulit karena keringat terasa tidak nyaman, tapi aku akan mandi setelah latihan selesai saja...

Aku turun dari tempat tidur dengan malas dan menuju wastafel untuk mencuci muka. Air yang keluar dari keran Magic Tool itu terasa dingin dan menyegarkan meski di musim panas. Ngomong-ngomong, aku sering menggunakannya tanpa pikir panjang, tapi terbuat dari apa sebenarnya alat ini? Kalau aku bertanya pada Ryug, apakah dia akan memberitahuku?

Sambil mengeringkan wajah dengan handuk, aku kembali ke kamar. Tia yang sedang duduk di atas tempat tidurku sambil memeluk boneka Nokonoko-san bertanya padaku.

"Sudah waktunya pergi latihan, kan? Boleh aku ikut?"

"Kau mau mengayunkan pedang lagi?"

"Bukan. Hari ini aku cuma mau menonton. Aku ingin melihat sisi keren Hugh... Tidak boleh, ya?"

"B-Bukannya tidak boleh..."

Memang tidak dilarang, tapi tekanan untuk tidak terlihat menyedihkan itu luar biasa berat.

Selama latihan lapangan, aku jarang menyentuh pedang, jadi ini adalah latihan yang sudah lama tak kulakukan.

Meskipun aku merasa sudah sedikit lebih baik dibandingkan saat pertama kali mulai, kemampuanku masih jauh di bawah Nona Alyssa atau Idiot. Padahal kami baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, aku tidak ingin memperlihatkan sisi menyedihkanku pada Tia...

Bagaimanapun caranya, aku harus menghindari agar tidak dihajar habis-habisan oleh Nona Alyssa seperti biasanya.

Mendengar jawabanku, Tia tersenyum senang sambil berkata "Hore!" dan turun dari tempat tidur. Kemudian ia menuju lemarinya dan mengeluarkan seragam Royal Academy.

Ia langsung mengulurkan tangan ke ujung negligee-nya dan mulai mengangkatnya. Dengan panik, aku menutupi wajah dengan kedua tangan dan berbalik badan. Kumohon, setidaknya miliki sedikit rasa malu...

Setelah beberapa saat mendengar suara gesekan pakaian, aku mendengar suara "Sudah beres", jadi aku menoleh dengan ragu-ragu.

Di sana berdiri Tia yang telah berganti pakaian dengan seragam Royal Academy... namun,

"Rasa janggalnya luar biasa ya..."

Penampilannya sangat tidak serasi sampai-sampai aku tanpa sadar mengatakan hal itu. Tia yang menoleh sambil mengibaskan rambut panjang keemasannya mengenakan seragam laki-laki Royal Academy.

Aku sudah terbiasa melihatnya berseragam dengan rambut perak pendek, tapi aku tidak menyangka hanya dengan mengubah gaya dan warna rambut bisa membuat penampilannya terasa sangat tidak seimbang.

"Ah, aku lupa!"

Sepertinya ia baru sadar setelah melihat reaksiku. Tia tampak tersentak dan berlari menuju meja belajarnya. Di atas meja, terdapat sebuah liontin yang dihiasi ornamen berbentuk mahkota bunga dan permata seperti bulan purnama.

Ia mengalungkannya di leher, dan saat tangannya menyentuh permata itu, rambut emas Tia memancarkan cahaya redup.

Cahaya itu mengubah warna rambutnya dari emas menjadi perak keemasan, dan panjang rambutnya memendek dengan cepat.

Ooh. Benar-benar seperti adegan transformasi di anime magical girl.

Tak lama kemudian, sosok Lugh yang sudah kukenal berlari menghampiriku sambil berkata, "Maaf membuatmu menunggu."

"Ada apa, Hugh? Kenapa kau tepuk tangan...?"

"Tidak, ini pertama kalinya aku melihat rambutmu berubah, jadi kupikir itu luar biasa."

"Eh? Masa sih sehebat itu?"

Lugh memiringkan kepalanya, tampaknya kurang paham. Yah, rasa kagum ini muncul karena aku memiliki ingatan dari kehidupan masa laluku... Dijelaskan pun mungkin dia tidak akan mengerti.

"Ayo kita berangkat sekarang, Lugh."

"Um... ah, tunggu sebentar."

Saat aku hendak berjalan menuju pintu, Lugh menarik ujung kemejaku dengan erat untuk menghentikanku. Saat aku menoleh untuk bertanya ada apa, ia menunduk dengan pipi merona dan tampak ragu-ragu.

A-ada apa tiba-tiba...?

"Ehm, begini. Kita, anu, kita sudah... berpacaran, kan?"

"A, ah. Benar."

Di dasar Dorefon Great Labyrinth, kami telah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.

Tidak diragukan lagi bahwa kami adalah sepasang kekasih. Malahan kami sudah berjanji untuk menikah, jadi kami juga bertunangan, tapi karena itu bukan hal yang bisa kami putuskan sendiri, untuk saat ini tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Kalau begitu, aku ingin melakukan itu."

"Itu...?"

"Ciuman 'selamat jalan'."

...Aku merasa jantungku hampir berhenti karena pacarku ini terlalu imut.

Boro-boro mau berkomentar "Itu sih lebih cocok untuk pengantin baru daripada pacaran", ruang di kepalaku untuk memikirkan hal itu sudah menguap entah ke mana.

Apa sebaiknya aku tidak usah pergi latihan dan menghabiskan seharian bermesraan di kamar saja ya... Pikiran kotor itu muncul, namun buru-buru kuusir dari kepalaku. Kalau aku sampai melakukannya, aku tidak yakin bisa menahan diri hanya dengan ciuman.

"Waktu aku kecil, aku melihat ibuku melakukannya pada ayah, dan aku pikir itu manis sekali. Jadi, um... tidak boleh, ya?"

"Tentu saja boleh."

Begitu aku mengatakannya, wajah Lugh langsung berseri-seri, dan ia melompat memelukku. Aku menangkap tubuhnya, sedikit menekuk lutut agar pandangan kami sejajar, dan tanpa dikomando, bibir kami pun bertemu.

"Ehehe... Hati-hati di jalan, Hugh."

"Ya, aku berangkat. ...Eh? Bukannya kau ikut juga?"

"...Ah."

Sepertinya ia sangat ingin melakukan ciuman 'selamat jalan' itu sampai-sampai ia benar-benar lupa.

Yah, mau bagaimana lagi.

Sisi dirinya yang seperti itu pun aku sangat menyukainya.

Setelah menenangkan diri, kami berdua keluar dari kamar asrama. Kami berjalan berdampingan menuju lapangan kosong di belakang asrama guru, tempat kami biasanya berlatih.

Jarak kami cukup dekat hingga tangan kami hampir bersentuhan, namun kami menahan diri untuk tidak bergandengan. Meski asrama masih diselimuti kesunyian pagi, kami tidak bisa memastikan tidak akan berpapasan dengan seseorang.

Saat aku berjalan sambil memperhatikan sekitar, Lugh menarik-narik lengan kemejaku.

"Hei, Hugh."

"Hm? Ada apa?"

"Kapan kau akan menembak Lily dan Lecty?"

"Pfft...!?"

Pertanyaan yang tak terduga itu membuatku nyaris tersandung di jalan yang rata.

"E-eh, Nona Lugh...? Apa maksud pertanyaan barusan...?"

"Fufu. Kenapa kau jadi bicara formal begitu, Hugh?"

"Bukan, habisnya..."

Aku tidak pernah menyangka dia akan bertanya kapan aku akan menyatakan cinta pada gadis lain. Apalagi tepat setelah kami berciuman. Tentu saja aku jadi panik dan bahasaku menjadi formal.

Dan yang paling menakutkan, aku tidak bisa membaca niat Lugh yang sebenarnya.

Apakah ini... semacam peringatan untuk pacar yang mata keranjang...?

"Hugh juga menyukai Lily dan Lecty, kan?"

"A, ah. Itu, yah..."

Kalau ditanya suka atau tidak, tentu saja aku suka.

Lily memelukku dengan penuh gairah saat aku hampir hancur oleh tekanan Skill Physical Enhancement. Lecty menerima dan berusaha sekuat tenaga untuk mendukungku.

Jika aku harus mengungkapkan perasaanku pada mereka berdua, itu jelas merupakan perasaan romantis.

"Lily dan Lecty sudah mengungkapkan perasaan mereka bahwa mereka sangat mencintai Hugh. Bahkan setelah itu, mereka mendukungku agar hubunganku dengan Hugh berjalan lancar, jadi kupikir sekarang giliranku untuk mendukung mereka berdua."

"Mendukung, ya..."

Aku tak pernah membayangkan bahwa Tia akan mencoba menyatukanku dengan Lily dan Lecty. Karena aku mengira dia adalah tipe gadis pencemburu yang posesif, aku bahkan sempat berpikir dia akan berusaha memisahkanku dari mereka berdua...

Omong-omong soal itu, Lily tampaknya sama sekali tidak khawatir... Karena mereka teman masa kecil, mungkin Lily sudah sangat memahami karakter Tia.

"Ano... kau tidak keberatan? Kalau aku mulai berpacaran dengan gadis lain?"

"Gadis lain? Memangnya ada orang lain selain Lily dan Lecty? Jangan-jangan Rosalie!?"

"B-bukan, bukan begitu. Tidak ada orang lain selain mereka berdua, jadi tenang saja."

Aku menenangkan Lugh yang langsung menggeram dan menunjukkan kewaspadaan layaknya anjing penjaga. Reaksinya sesuai dengan apa yang kuperkirakan di awal. Rupanya, hanya Lily dan Lecty yang menjadi pengecualian khusus bagi Tia.

"Muu... Aku hanya mengizinkan Lily dan Lecty saja lho. Kalau kau sampai berselingkuh dengan gadis lain, aku tidak akan memaafkanmu."

"M-mengerti. Aku akan mengingatnya baik-baik. Jangan khawatir."

Padahal aku baru saja mulai berpacaran dengan gadis yang kucintai, mana mungkin aku berselingkuh dengan gadis lain. ...Seharusnya aku bisa berkata keren seperti itu, tapi jujur saja, ada bagian dari diriku yang merasa lega karena mendapat izin dari Tia.

Lily maupun Lecty sama-sama gadis yang tak kalah menarik dari Tia, dan yang terpenting, mereka memiliki perasaan padaku. Aku ingin menghadapi dan membalas perasaan mereka dengan sungguh-sungguh.

Hanya saja, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di hatiku.

"Tapi, apa benar-benar tidak apa-apa? Kalau aku berpacaran dengan Lily dan Lecty juga."

"...Tidak apa-apa kok, kalau itu Lily dan Lecty. Mereka mengetahui rahasiaku, dan mereka juga mau menghormatiku sebagai First Wife. Lagi pula, aku juga sangat menyukai mereka berdua. Kalau memang istrimu akan bertambah, kupikir lebih baik Lily dan Lecty."

"Jadi premisnya aku akan menambah istri lagi ya..."

Aku tidak pernah berpikir kalau diriku ini playboy yang seperti itu...

Yah, meskipun kenyataan bahwa aku disukai oleh tiga orang gadis mungkin membuktikannya.

"Ini bukan soal kemauanmu, Hugh, tapi sebagai seorang Bangsawan, bukankah itu hal yang wajar? Bukankah wajar jika setiap keluarga memiliki hingga Istri Ke-tiga?"

Ah... Begitu ya, rupanya ada perbedaan pemahaman di situ.

Bagi Tia yang lahir dan besar di lingkungan keluarga Ries Kingdom, merupakan akal sehat bagi kepala keluarga bangsawan untuk memiliki beberapa istri. Kenyataannya, Tia sendiri adalah putri dari Third Consort Yang Mulia Raja.

Di sisi lain, Ayahku tidak mengambil wanita lain sebagai istri selain Ibuku. Meskipun ia adalah bangsawan dari pelosok perbatasan, jika ia mau, ia pasti bisa mengambil satu atau dua istri lagi. Alasan ia tidak melakukannya mungkin karena Ayahku sangat tergila-gila pada Ibuku.

Alasan lainnya mungkin karena pertumbuhanku yang berjalan lancar. Jika aku terlahir sebagai perempuan, atau jika aku mati muda, ia mungkin akan mengambil istri kedua untuk mengamankan pewaris.

Tumbuh di lingkungan keluarga seperti itu sejak kecil, ditambah dengan norma dan etika dari kehidupan masa laluku yang belum hilang, membuatku memiliki sedikit penolakan atau kecemasan, seperti "Apakah ini benar-benar tidak apa-apa..." terhadap konsep poligami.

Sambil menyamarkan urusan kehidupan masa laluku, aku menjelaskan hal itu pada Lugh. Dia tersenyum nakal dan membalikkan pertanyaan padaku.

"Lalu, apakah Hugh rela jika Lily dan Lecty menikah dengan pria lain?"

"Aku benar-benar tidak sudi."

Baru membayangkannya saja sudah membuatku ingin muntah darah.

"Fufu. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain Hugh yang membahagiakan mereka, kan?"

"...Kau benar."

Mana mungkin masuk akal jika aku berkata tidak akan membalas perasaan kalian, tapi aku juga tidak ingin melihat kalian menikah dengan pria lain. Kalau begitu, hal yang harus kulakukan hanyalah satu.

Lily, maupun Lecty. Apapun yang terjadi, aku akan mengambil tanggung jawab dan membahagiakan mereka...!

"Tentu saja, kau juga harus membahagiakanku lho?"

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin."

Apakah hanya perasaanku saja, bahwa di masa depan yang tak terlalu jauh, aku sepertinya tidak akan bisa mengangkat kepala di hadapan istri-istriku...?

---

Setelah kami meninggalkan asrama putra dan berjalan menuju asrama guru, kami sudah bisa mendengar suara pedang kayu yang saling beradu dengan keras bahkan sebelum kami mencapai bagian belakang gedung. Apakah Nona Alyssa dan Idiot sudah memulai latihan lebih dulu? Tapi sepertinya ini terlalu intens.

Sambil merasa heran, aku berjalan ke belakang asrama, dan ternyata yang sedang bertukar serangan pedang kayu di sana adalah Nona Alyssa dan Nona Cecily.

Nona Alyssa adalah tangan kanan Roan Ashblade—yang menjabat sebagai Vice Commander dari Royal Knights dan diakui sebagai kesatria terkuat di kerajaan—dan ia memiliki kekuatan tepat di bawah Roan.

Dan Nona Cecily, seorang Paladin yang ditunjuk sebagai pengawal Saint Rosalie, yang ditetapkan oleh Divine Church.

Kalau tidak salah, mereka berdua adalah senior dan junior saat masih di Royal Academy.

Menghadapi serangan Nona Cecily yang gencar, Nona Alyssa menangkisnya dengan santai, bahkan dengan ekspresi seolah ia bisa bersenandung.

...Namun, tebasan pedang Nona Cecily luar biasa tajam, dan setiap ayunannya terlihat sangat berat. Jika aku mencoba menahannya secara langsung, aku tak akan sanggup menahan tiga pukulan.

"Majuuu! Di situ! Hajar dia, Cecily!"

"Bisakah kau menonton dalam diam saja, Lady Rosalie..."

Di bawah naungan pohon tak jauh dari posisi Nona Alyssa dan Nona Cecily, Rosalie dan Idiot sedang menonton pertandingan mereka. Rosalie benar-benar tenggelam dalam suasana menyemangati, tapi Idiot mengamati gerakan mereka berdua dengan penuh konsentrasi.

Di tingkat keahlian Idiot, ia pasti bisa belajar banyak dari pertarungan mereka berdua.

Aku juga ingin menyerap sesuatu dari situ, tapi perbedaan tingkat kami terlalu jauh sampai aku tidak tahu apa yang harus kupelajari dan bagaimana caranya.

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk berteduh di bawah pohon terdekat bersama Lugh dan menonton pertandingan mereka.

"Taaahhhhhhh!"

"Langkahmu kurang dalam, Nona Cecily! Selain itu, kebiasaanmu membiarkan fokusmu tersita ke sisi kiri pandanganmu masih belum berubah sejak zaman kau bersekolah. Kau gampang sekali tertipu gertakan kecil."

"Mana mungk—!?"

"Nah kan, kena tipu."

Tebasan yang datang dari sisi kanan pandangan Nona Cecily dengan mudah menerbangkan pedang kayunya. Pedang yang terpental itu melayang lurus ke arah Rosalie, namun Idiot menangkisnya dengan mudah menggunakan pedang kayunya.

"A-terima kasih, Tuan Idiot."

"Bukan apa-apa."

Idiot mengatakannya dengan wajah sok keren, tapi itu adalah trik yang tidak bisa kutiru.

Kalau pedang itu terbang ke arahku, aku hanya punya pilihan untuk menerimanya dengan tubuhku...

"Anda tidak terluka, Lady Rosalie!?"

"Ya, Tuan Idiot telah melindungiku."

Mendengar bahwa Rosalie aman, Nona Cecily menghela napas lega.

Di sisi lain, Nona Alyssa tampaknya tidak terlalu peduli. Bukan karena dia tidak memedulikan keselamatan Rosalie, tapi ia pasti yakin bahwa Idiot akan melindunginya.

"Fufun, kau masih kurang, Nona Cecily. Dengan ini, kemenanganku genap empat ratus kali."

"Kemenangan ketiga ratus tujuh puluh empat! ...Astaga, Senior memang selalu asal-asalan seperti biasa."

Melihat Nona Alyssa yang membusungkan dada dengan wajah bangga, Nona Cecily memanyunkan bibirnya dengan kesal.

Agak mengejutkan. Kupikir Nona Cecily memiliki kesan sebagai wanita dewasa yang tenang, tapi ternyata ia bisa menunjukkan reaksi kekanak-kanakan di hadapan Nona Alyssa.

Saat aku sedang memperhatikan Nona Cecily sambil memikirkan hal itu, Lugh yang berada di sebelahku menarik ujung kemejaku. Saat aku menoleh padanya, Lugh sedang menggembungkan pipinya dan menatapku.

"Muu~, Nona Cecily tidak boleh, ya."

"A-aku mengerti, aku mengerti. Aku bukan tipe orang yang mau menjadikan siapa saja istriku kok, jadi tenang saja."

Tentu saja Nona Cecily memang wanita yang sangat menarik, tapi aku sama sekali tak berniat menjadikannya calon istri keempat atau kelima. Setidaknya, aku sadar dirilah.

...Atau lebih tepatnya, Nona Cecily sendiri pasti sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa padaku.

"Nah, selanjutnya giliranmu, Bocah Idiot. Karena kau akan kupekerjakan mati-matian selama liburan musim panas, aku akan menempamu agar kau siap digunakan mulai sekarang."

"Hmph, itu yang kuharapkan."

Didesak oleh Nona Alyssa, Idiot mengambil pedang kayunya dan berhadapan dengannya.

Keluarga Hotness, yang mengabaikan Royal Decree dan berkonspirasi dengan Pangeran Sleigh dalam mendalangi insiden penculikan Lecty, telah diturunkan gelarnya dari Marquis menjadi Baron. Idiot, yang kini menjadi kepala keluarga Hotness, harus bergabung dengan Royal Knights dan meraih pencapaian demi memulihkan kehormatan nama keluarganya.

Itu pasti sangat berat, tapi satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah mendukungnya dari lubuk hati terdalam...

Kalau Nona Alyssa sibuk melatih Idiot, aku harus berlatih sendiri. Ya sudah, sebaiknya aku melakukan ayunan pedang kosong saja...

"Kalau begitu, dengan segala hormat, izinkan saya yang membimbing latihan Anda, Tuan Hugh."

"Eh? Nona Cecily?"

"Apakah Anda keberatan?"

"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku yang ingin memintanya pada Anda."

Gaya berpedang Nona Cecily memberikanku kesan seperti kristalisasi dari terus-menerus menguasai fondasi dasar. Itu adalah ilmu pedang yang mirip namun berbeda dengan milik Nona Alyssa, yang menjadi bebas dan tak terduga setelah menguasai fondasinya.

Jika harus memilih, kurasa ilmu pedang Nona Cecily lebih cocok untukku.

"Mohon bimbingannya, Nona Cecily."

"Baiklah. Mari kita mulai."

Bimbingan pedang Nona Cecily berbanding terbalik dengan Nona Alyssa yang terus-menerus mengulangi pertarungan sungguhan. Mulai dari sudut lengan saat memegang pedang, hingga posisi kaki untuk menghasilkan ayunan yang paling kuat. Itu adalah pelatihan logis yang mencari gerakan optimal berdasarkan struktur tubuhku.

"Tuan Hugh, bisakah Anda mencoba mengayunkan pedang sekali lagi dengan kuda-kuda yang tadi?"

"Baik."

Aku mengayunkan pedang sesuai instruksi Nona Cecily. Pedang yang kuayunkan dengan gerakan tubuh yang mulus menghasilkan tebasan yang lebih tajam dan berisi beban tubuh dibandingkan biasanya. Tentu ini masih belum sebanding dengan ayunan pedang Nona Cecily yang kulihat tadi, tapi bukankah ini cukup bagus?

Saat aku memikirkan hal itu, Nona Cecily yang melihat gerakanku memiringkan kepalanya. Ia meletakkan pedang kayunya di tanah, melangkah mendekatiku, dan berkata,

"Masih sedikit kurang tepat. Tolong buka sudut lengan Anda sedikit lebih lebar, dan tarik kaki kanan Anda setengah langkah ke belakang. Lalu ketiak Anda—"

"N-Nona Cecily. I-ini terlalu dekat, bukan!?"

"Terlalu dekat, ya?"

Tepat di depan mata dan hidungku, Nona Cecily yang berwajah rupawan memiringkan kepalanya kebingungan. Aroma segar seperti citrus menggelitik hidungku, dan tubuhnya menempel sedemikian rupa hingga sensasi lembut menekan dadaku.

B-bimbingan nempel dengan jarak nol sentimeter ini benar-benar terlalu merangsang!

Melihat reaksiku yang kebingungan dan panik, Nona Cecily sepertinya baru menyadari bahwa dadanya menempel padaku.

"Ah, iya, ternyata mengenai Anda. Mohon maaf, Tuan Hugh. Tolong tahan sedikit lagi."

"Eeeeeh!?"

Ternyata bimbingannya tetap dilanjutkan!

Dengan ekspresi yang sangat serius, Nona Cecily berkonsentrasi membetulkan posisi tangan, kaki, dan posturku. Tampaknya fakta bahwa dadanya menempel padaku bukanlah masalah besar bagi dirinya. Dia tidak sedang menggodaku, tapi benar-benar murni memberiku instruksi pedang dengan sangat serius.

Justru karena itulah ini sangat gawat. Karena di saat yang sama, aku tak tahu bagaimana harus beralasan terhadap tatapan dingin yang menusuk punggungku...




Bagaimanapun juga, aku sama sekali tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati kebaikan hati Nona Cecily.

Sepertinya latihan hari ini akan lebih menguji kekuatan mentalku daripada Swordsmanship!

---

Satu jam kemudian,

"Mari kita akhiri latihan hari ini sampai di sini."

Mendengar kata-kata Nona Cecily, aku langsung terduduk lemas di tempat.

L-lelahnya... Rasanya lelah ini membuat latihan biasa di mana aku dihajar habis-habisan oleh Nona Alyssa terasa jauh lebih mendingan.

"Kerja keras yang bagus, Tuan Hugh."

"T-terima kasih..."

Meskipun Nona Cecily yang tersenyum mengapresiasi kerja kerasku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum masam.

Aku mengelus dada lega karena entah bagaimana berhasil tidak melakukan hal memalukan. Jujur saja, tadi itu sangat berbahaya.

"Bagaimana jika Anda membandingkannya sendiri? Apakah Anda merasakan perbedaan seperti kemudahan dalam mengayunkan pedang?"

"Begitulah..."

Terus terang, karena aku terlalu sibuk mati-matian menepis pikiran kotor, agak meragukan apakah aku benar-benar meresapi bimbingan Nona Cecily. Tapi, memang ada sesuatu yang kudapatkan.

"Berkat bimbingan Nona Cecily yang sangat teliti mengenai gerakan tubuh, rasanya aku mulai menangkap trik untuk memasukkan berat badan ke dalam ayunan pedang."

Teknik ini mungkin lebih dekat ke seni bela diri fisik (Martial Arts) daripada sekadar Swordsmanship.

Aku hampir lupa karena Nona Alyssa dan Nona Cecily memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi pada dasarnya dalam Swordsmanship, wanita jauh lebih tidak diuntungkan dibandingkan pria.

Ada berbagai faktor seperti perbedaan struktur tubuh dasar, tinggi badan, dan pembentukan otot; menjembatani perbedaan tersebut tidaklah mudah dengan usaha yang biasa-biasa saja.

Namun, Nona Alyssa dan Nona Cecily sama-sama menguasai Swordsmanship dari pendekatan yang berbeda, dan sukses memperoleh kekuatan yang mampu menutupi perbedaan gender tersebut.

Nona Alyssa melakukannya melalui pengulangan postur dasar secara menyeluruh, serta insting dan kemampuan adaptasi fleksibel yang diasah lewat simulasi pertarungan nyata. Sedangkan Nona Cecily melakukannya dengan memperdalam pemahaman tentang struktur tubuh dan memaksimalkan kemampuan fisiknya sendiri.

"Tuan Hugh juga diberkati dengan fisik yang bagus, jadi jika Anda terus berlatih seperti ini, saya yakin Anda bisa menjadi pendekar pedang yang hebat. Setelah lulus, pastikan untuk bergabung dengan Holy Knights dari Divine Church."

"Ah, umm. Saya harus mewarisi keluarga saya, jadi mohon maaf."

"Begitu ya..."

Nona Cecily menundukkan bahunya dengan kecewa. Jika saja aku bertemu dengan Nona Cecily sebelum Tia, Lily, dan yang lainnya, mungkin masa depan seperti itu... tidak, tidak akan terjadi.

Tujuanku tetaplah kehidupan Slow Life. Baik Royal Knights maupun Holy Knights dari Divine Church sama-sama terlihat seperti tempat kerja yang mengeksploitasi, jadi bergabung dengan mereka itu agak...

Saat aku sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba terdengar suara benturan pedang kayu, dan aku pun mengarahkan pandanganku ke sana.

Di sana, Idiot terus-menerus menerima serangan bertubi-tubi dari Nona Alyssa.

Skill Guardian milik Idiot adalah skill berbasis pedang yang berspesialisasi dalam pertahanan. Pertahanan dinding besinya itu tidak bisa ditembus bahkan dengan Skill Swordmanship yang telah mencapai Lv. Max melalui Skill Brainwash.

...Seharusnya begitu.

"Ya, kau mati."

Pedang kayu Nona Alyssa kini menempel di ketiak kanan Idiot. Jika ini adalah medan perang sungguhan, lengan kanan Idiot mungkin sudah tertebas putus dari bahunya.

"M-mustahil...!?"

Idiot menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa. Aku juga sama terkejutnya.

Mampu menembus itu, seberapa kuat sebenarnya Nona Alyssa...!?

"Mungkin hari ini sampai di sini saja, ya~"

"T-tunggu! Sekali lagi! Kali ini aku pasti akan menang!"

"Tidak, tidak, kalau kita teruskan nanti waktu sarapanmu akan habis, kan~. Lanjutannya besok lagi ya~"

Nona Alyssa mengangkat bahu dengan pasrah dan berbalik menuju asrama guru.

Idiot meninju tanah dengan penuh rasa frustrasi.

Aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi apakah sebaiknya kubiarkan saja untuk saat ini...

Untuk saat ini, mari kita ikuti Nona Alyssa dan sudahi latihan hari ini.

Begitulah yang kupikirkan, tapi Idiot kembali berdiri dan mulai mengayunkan pedang kayunya.

"Idiot, kau tidak pergi makan?"

"Maaf, pergilah kalian berdua saja. Aku akan terus mengayunkan pedang sampai kelas dimulai."

Sepertinya dia benar-benar kesal karena kalah dari Nona Alyssa...

Aku bisa memahami perasaannya. Di saat-saat seperti ini, seseorang pasti ingin terus mengayunkan pedangnya sampai merasa puas.

"Mengerti. Kalau begitu--"

"Kita akan pergi sarapan, Tuan Idiot!"

Mencegahku yang hendak pamit sambil berpesan agar ia tidak memaksakan diri, Rosalie memanggil Idiot. Idiot berhenti mengayunkan pedangnya dan menatap Rosalie dengan ekspresi tercengang.

"Apakah kau tidak mendengar percakapan kami tadi, Nona Rosalie?"

"Tentu saja aku mendengarnya. Itu adalah pertukaran kata yang sederhana antar pria namun terasa penuh persahabatan! T-a-p-i, karena aku bukan seorang pria, mohon maaf saja ya."

"Nona Rosalie, kumohon jangan mengganggu."

"Permisi ya. Meskipun begini aku ini adalah seorang Sister, jadi sifatku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur. Sarapan adalah sumber energi untuk seharian, mengabaikannya adalah hal yang tidak masuk akal."

"Melewatkan sarapan sehari saja tidak akan membuatku mati."

"Apa Anda pikir Anda bisa mengalahkan Nona Alyssa hanya dengan mengayunkan pedang seharian?"

"Itu..."

Kata-kata Idiot tercekat.

...Yah, apa yang dikatakan Rosalie ada benarnya. Terus-menerus mengayunkan pedang sambil melewatkan sarapan tidak menjamin Idiot bisa menang melawan Nona Alyssa. Tentu saja itu bukan usaha yang sia-sia, tetapi maknanya sedikit lebih dari sekadar melampiaskan rasa frustrasi atas kekalahannya.

"Aku memang benar-benar amatir soal pedang, tapi aku telah mendengarkan masalah banyak orang, lho? Di antara mereka, banyak juga yang menekuni ilmu pedang. Jika aku boleh bicara berdasarkan pengalaman tersebut, bersikap terburu-buru hanya akan mempersempit sudut pandang Anda."

"Mempersempit sudut pandang...?"

"Benar. Bagi manusia, menjaga ketenangan hati setiap saat adalah ideal, tetapi itu sangat sulit dilakukan. Namun, justru ketika merasa terburu-buru, Anda harus secara sadar melepaskan ketegangan. Dengan begitu, secara alami, sudut pandang yang menyempit akan meluas dan Anda bisa melihat berbagai hal dari sudut yang sedikit berbeda. Menurutku, apa yang Tuan Idiot butuhkan saat ini adalah melepaskan ketegangan."

Idiot, yang mendengarkan dengan tenang kata-kata Rosalie yang mengalir lancar, akhirnya menghela napas dan melemaskan bahunya.

"Baiklah. Aku akan menuruti perkataanmu untuk hari ini, Nona Rosalie. Akan sangat merepotkan jika kau terus berceramah di sampingku selama aku berlatih ayunan pedang."

"Kalau sudah diputuskan, ayo kita segera ke ruang makan! Perutku sudah sangat keroncongan!"

"T-tunggu sebentar Nona Rosalie! Setidaknya biarkan aku mandi dan ganti baju dulu!?"

Rosalie setengah menyeret Idiot kembali ke arah asrama. Nona Cecily pun menyusul di belakang mereka.

"Ayo kita kembali juga, Lugh."

"...Hmph."

Saat aku memanggilnya, Lugh menggembungkan pipinya dan memalingkan muka.

Dia datang untuk melihat sisi keren pacarnya, tetapi malah dipaksa menonton pacarnya terus-menerus menempel erat dengan wanita lain selama satu jam penuh.

Tentu saja suasana hatinya jadi buruk ya...

Bahkan selama kami kembali ke asrama putra, mandi, berganti seragam, dan berjalan menuju ruang makan, Lugh terus memasang wajah cemberut.

"U-um, Nona Lugh...?"

"Ada apa, Tuan Hugh."

...Bahasa formal!?

Aku tidak ingat pernah mendengarnya menggunakan bahasa formal sejak pertama kali kami bertemu sebagai Lucretia.

Mendapat tatapan sinis yang tajam, aku tanpa sadar kehabisan kata-kata.

A-aku ingin meminta maaf tapi tidak ada kata yang terlintas di kepalaku.

Jika aku membuka mulut sekarang, aku mungkin hanya akan melontarkan berbagai alasan. Itu terlalu tidak tulus. Kalau bisa, aku ingin meminta maaf dengan tenang dan bijak.

Tetapi aku tidak bisa menemukan kata-kata, dan sebelum kusadari, kami sudah tiba di ruang makan.

Kami mengambil sarapan di konter dan mencari tempat duduk yang kosong. Kemudian, aku melihat Lily dan Lecty melambaikan tangan ke arah kami. Sepertinya mereka telah mengamankan tempat duduk untuk kami.

Setelah saling bertukar salam "Selamat pagi" dan duduk, Lily, yang sepertinya menyadari sesuatu dari tingkah Lugh, tersenyum kecil sambil bertanya kepada kami.

"Jangan-jangan, kalian sedang di tengah-tengah pertengkaran suami-istri?"

"Tidak, kami bukan suami-is--"

Tepat saat aku hendak menyelesaikan kata 'istri', Lugh memutar kepalanya dan menatapku.

Di wajahnya tergambar senyum yang penuh dengan tekanan intimidasi.

"Bukannya tidak, tapi untuk sekarang, masih belum."

"Fufu. Pokoknya tidak salah lagi kalau kalian sedang bertengkar, kan?"

"...Yah begitulah."

Secara harfiah, alih-alih bertengkar, rasanya aku cuma sedang dipojokkan...

Menyangkal hal itu pun sama sekali tidak akan menyelamatkanku.

Lily melihat reaksiku, menggumamkan "Hmm", dan mengalihkan pandangannya ke arah Lugh.

"Jadi, kesalahan apa yang telah Hugh perbuat?"

"Dia berselingkuh dengan Nona Cecily tepat di depan mataku."

"Tidak, tidak!"

"Hee, sepertinya kita perlu mendengar cerita detailnya, ya?"

Lily menyipitkan matanya, mengarahkan pupil berwarna zamrud miliknya kepadaku. Di sebelahnya, Lecty juga ikut mengangguk-angguk. Ugh... Kalau mereka bertiga bergabung, tekanannya benar-benar kuat.

"Tidak, um..."

Saat aku mengedarkan pandangan untuk mencari pertolongan, aku menemukan sosok Idiot di meja yang agak jauh.

Haruskah aku memilih mundur secara taktis dan melarikan diri ke tempat Idiot?

Pikiran seperti itu sempat terlintas di kepalaku, tapi...

"Lihat, Tuan Idiot. Roti ini enak sekali lho. Anda harus mencobanya! Aaam, ya!"

"H-hentikan, Nona Rosalie! Kau bisa melihat bahwa roti yang sama juga ada di piringku, kan!?"

Idiot yang tersipu malu sedang dipaksa oleh Rosalie yang menyodorkan roti ke mulutnya.

...Sepertinya aku hanya akan merusak suasana jika mengganggu mereka.

Saat aku kembali mengedarkan pandangan, Brown dan Anne sedang duduk di meja lain. Mereka berdua juga saling menyuapi roti dan sup dengan malu-malu; ini sudah sepenuhnya menjadi dunia milik mereka berdua.

Tidak ada tempat di mana aku bisa kabur. Lagipula kalau kabur pun tidak akan menyelesaikan masalah ya... Satu-satunya pilihan yang tersisa untukku adalah meminta maaf dengan tulus.

Setelah mengubah pikiran dan mengembalikan pandanganku, ketiga gadis itu sedang menatap lekat-lekat ke arahku... bukan, ke arah Idiot dan Rosalie.

"U-umm, mengenai hal dengan Nona Cecily..."

"Itu sudah tidak apa-apa."

"Eh, benarkah!?"

"Lagipula, aku tidak berpikir kau memiliki keberanian maupun kelihaian untuk berselingkuh."

"Apakah aku sedang dipercayai atau diremehkan..."

"Lagi pula, aku tidak akan membiarkanmu berkata kau tidak puas ketika kau dikelilingi oleh gadis-gadis yang sangat manis seperti ini, tahu?"

Lily memunculkan senyum yang menawan. Lugh dan Lecty kemudian mengintip wajahku. Ketiganya adalah gadis-gadis cantik dan manis yang rasanya terlalu berharga bagiku, dan mereka semua menaruh hati padaku. Tidak mungkin aku merasa tidak puas. Justru aku merasa terlalu dipenuhi kasih sayang sampai-sampai rasanya hampir tenggelam.

"Sama sekali tidak, Nona-nona. Saya adalah pria yang sangat beruntung."

"Fufu, tentu saja. Lugh, bukankah ini saatnya kau memaafkannya?"

"Muu..."

Didesak oleh Lily, Lugh akhirnya mengempiskan pipinya yang sebelumnya menggembung.

"Maaf aku sudah bersikap jahat, Hugh."

"T-tidak. Aku juga salah, maafkan aku. Mulai sekarang aku akan meminta Nona Cecily untuk menjaga jarak saat melatihku, jadi tenang saja."

Adalah fakta bahwa aku telah membuat Lugh merasa cemas. Jadi aku menundukkan kepala dengan sungguh-sungguh untuk meminta maaf.

Lugh tersenyum sambil berkata "Tidak apa-apa" lalu mengelus-elus kepalaku.

Aku merasa lega, tapi di saat yang sama juga merasa malu...

"Kalian ini benar-benar pamer kemesraan sejak pagi... Kita juga tidak boleh kalah, Lecty."

"B-benar. Tuan Hugh."

Namaku dipanggil oleh Lecty, dan saat aku menoleh kepadanya, Lecty telah menyobek sepotong kecil roti, menjepitnya dengan jari-jarinya yang lentik, lalu menyodorkannya ke arahku.

"A-aaam, ya."

Dengan pipi merona malu, Lecty mendesakku untuk membuka mulut.

T-tentu saja itu membuatku... hampir ragu, tetapi melihat ekspresi Lecty, sangat jelas bahwa ia sedang mengerahkan seluruh keberaniannya. Tidak mungkin aku bisa menolaknya.

"A-aaam..."

Aku membuka mulut dan menerimanya. Ujung jari Lecty yang ramping menyentuh bibirku, dan roti itu masuk ke mulutku. Rasa manis yang samar kurasakan, mungkinkah karena roti itu baru saja dipanggang...

"B-bagaimana...?"

"A-ah. Enak sekali, Lecty. Terima kasih."

"T-tidak apa-apa!"

Wajah Lecty memerah padam, ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan menahan malu.

Sosoknya yang menggoyangkan badannya dengan senang benar-benar sangat manis.

"Muu! Lecty curang! Aku juga mau menyuapi Hugh aaam!"

"Hei, tenang Lugh! Satu roti utuh itu ukurannya tidak bisa dimakan dengan sekali suapan aaam!"

Pada saat aku akhirnya berhasil menyelesaikan sarapanku sembari berjuang menahan serangan Lugh yang mencoba menjejalkan roti ke mulutku, waktu sudah menunjukkan kami nyaris terlambat untuk kelas jam pertama.

Kami buru-buru membereskan nampan sarapan, berterima kasih kepada bibi juru masak, dan berjalan cepat menuju kelas. Saat itu, Lily yang berjalan di sebelahku menarik-narik lengan seragamku.

Saat aku menoleh untuk melihat ada apa, Lily memperhatikan sekeliling lalu berbisik.

"Um, apa kau ingat mengenai rencana makan malam dengan Ayah?"

"Ah, iya. Apakah tanggalnya sudah ditentukan?"

"Aku menerima surat dari Ayah yang menanyakan bagaimana jika tiga hari lagi di malam hari. Di awal minggu kita ada ujian akhir, jadi ini bukanlah waktu yang tepat, tetapi..."

"Aku sama sekali tidak keberatan kok."

Meskipun itu ujian akhir, karena kami melakukan latihan lapangan selama sebulan hingga kemarin, cakupan ujiannya tidak terlalu luas. Pasti ada cukup waktu luang untuk sekadar makan malam semalam.

"Begitu, syukurlah. Aku akan membalas surat Ayah."

Lily mengangguk dan tersenyum seolah-olah ia merasa lega. Jangan-jangan ia merasa gugup?

Aku mengerti jika aku yang gugup, tapi ini pertama kalinya aku merasa Lily gugup.

"Umm, ini cuma sekadar makan malam saja, kan...?"

Memiliki firasat buruk tentang hal itu, aku pun bertanya, dan Lily tersenyum jahil, berkata "Entahlah?" sambil mengangkat bahunya.

Sepertinya, aku harus benar-benar mempersiapkan mentalku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close