NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Chapter 2

Chapter 2: Deklarasi Selamat Tinggal Kehidupan Santai (Slow Life)


Malam harinya. Aku dan Lugh yang sedang menuju ruang makan untuk makan malam, dihentikan oleh Nona Alyssa yang sepertinya sudah menunggu di depan sana. Katanya Pangeran Lucas ingin membicarakan masalah Black Dragon, dan meminta kami untuk segera datang ke kastil.

Suasananya tidak memungkinkan kami untuk menolak, jadi kami langsung menuju kereta kuda yang telah disiapkan oleh Nona Alyssa. Panggilan biasanya dilakukan diam-diam larut malam agar tidak ada yang menyadari hubungan kami, tapi kali ini dipenuhi oleh hal-hal tak biasa; matahari belum sepenuhnya terbenam dan hari masih terang, ditambah kami langsung dibawa menuju Royal Castle.

Kusirnya adalah anggota Royal Knights yang lain, dan Nona Alyssa naik ke dalam kereta bersama kami.

Ekspresinya entah mengapa terlihat lebih tegang dari biasanya.

"Umm, apa ini tidak apa-apa? Kurasa ada beberapa orang yang melihat aku dan Lugh naik ke kereta kuda ini..."

Hubungan kami... terutama antara Lugh dan Pangeran Lucas seharusnya adalah rahasia tingkat tinggi. Kupikir sebaiknya menghindari tindakan sekecil apa pun yang bisa menimbulkan kecurigaan, tapi entah kenapa kali ini tidak ada niat untuk menyembunyikannya sama sekali.

Di kereta kuda ini juga tergambar lambang Royal Knights dengan ukuran sangat besar, malah memberikan kesan sengaja ingin tampil mencolok.

"Khusus untuk hari ini tidak masalah, lho. Lebih penting dari itu, Bocah Hugh, Skill mu sekarang adalah Ninja , kan?"

"Eh? Ya, begitulah."

Agar bisa merespons kapan pun waktunya jika aku harus menggunakan Skill, di dalam Royal Academy pada dasarnya aku mengatur Skill-ku pada Ninja.

Kalau bicara soal fleksibilitas, pilihannya hanya beberapa, tapi ada risiko seperti pendengaran yang dipertajam malah menangkap pembicaraan yang tidak perlu, atau tanpa sengaja aku menggunakan sehingga pergantian Skill-ku ketahuan oleh orang lain...

Aku tidak cukup percaya pada diriku sendiri untuk berani menjamin bahwa aku tidak akan melakukan kecerobohan semacam itu.

"Kalau begitu aman, ya~"

Aku sama sekali tidak mengerti apanya yang aman, tapi kelihatannya memang tidak ada masalah. Lugh yang duduk di sebelahku juga hanya memiringkan kepalanya. Entah apa yang menunggu kami di Royal Castle nanti...

Kereta kuda melewati gerbang tanpa masalah dan berhenti di pelataran Royal Castle. Aku dan Lugh yang turun dari kereta berjalan dengan penuh percaya diri menyusuri lorong kastil yang panjang di belakang Nona Alyssa.

Terakhir kali aku masuk ke kastil ini mungkin saat pesta malam perayaan kesembuhan Yang Mulia Raja. Aku sama sekali tidak pernah menyangka akan bolak-balik ke Royal Castle seperti ini saat aku masih berada di Punosis Territory.

Tak lama, Nona Alyssa berhenti di depan salah satu ruang tamu yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Ia mengetuk pintu dengan ritme yang unik, lalu Tuan Roan membukakan pintu dari dalam dan mempersilakan kami masuk.

Yang duduk di sofa menunggu kami adalah Third Pangeran dari Ries Kingdom, Lucas von Ries. Dan Mary yang menyamar sebagai Seventh Putri, Lucretia von Ries...

"Hai, terima kasih sudah datang."

Menanggapi sikap Pangeran Lucas yang santai seperti biasa, aku dan Lugh meletakkan tangan di dada dan berlutut dengan satu kaki, memberikan salam selayaknya seorang abdi.

Kalau ini pertemuan rahasia sih tidak apa-apa, tapi karena tempatnya di Royal Castle, lebih baik berhati-hati ekstra.

"Kami hadir memenuhi panggilan Anda, Yang Mulia."

"Ya, santai saja. Silakan duduk, aku akan menjelaskan situasinya."

Pangeran Lucas tersenyum puas dan mempersilakan aku dan Lugh untuk duduk di sofa di depannya.

Sepertinya untuk saat ini kami tidak perlu merasa tegang.

Saat aku berpikir begitu dan melangkah ke arah sofa, tanpa sadar aku berhenti ketika melihat wajah-wajah yang tak asing berdiri di dekat dinding.

"Ryug? Dan juga, Teena...?"

Yang berdiri berdampingan di dekat dinding itu adalah Ryug dan Teena, yang seharusnya merupakan Adventurer (petualang).

Entah mengapa mereka berdua mengenakan baju zirah Royal Knights.

"Lama tidak jumpa, Tuan Hugh. Nona Lugh."

"Lama tak jumpaaaa~... ya walau sebenarnya baru sekitar dua minggu lalu, ya."

"Ah, benar juga."

Ini pertama kalinya kami bertemu sejak berpisah di tengah sesi latihan lapangan.

Karena masalah Black Dragon, penjelajahan Dorefon Great Labyrinth dihentikan, dan kontrak para Adventurer yang ikut serta diakhiri lebih cepat dari jadwal. Kalau tidak salah dengar, semua Adventurer dipekerjakan kembali sebagai pengawal atas arahan Pangeran Lucas, dan mereka kembali ke ibukota selangkah lebih awal dari kami.

Jangan-jangan kontrak itu masih berlanjut?

"Aku meminta mereka untuk menjadi pengawal pribadiku. Royal Knights juga sedang kekurangan tenaga, dan punya banyak orang berbakat tidak akan merugikan, kan? Kau juga tahu kemampuan mereka, bukan?"

"Ya, tentu saja."

Aksi pertarungan mereka di Dorefon Great Labyrinth masih segar di ingatanku. Meskipun belum sekuat Tuan Roan atau Nona Alyssa, tak diragukan lagi mereka memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk bertugas sebagai pengawal pribadi.

"Ngomong-ngomong, baju itu terlihat cocok untuk kalian berdua."

"Iya. Ryug dan Teena kelihatan keren."

"B-begitu ya...?"

"Kalau dipuji sama Tuan Hugh dan Nona Lugh rasanya jadi malu nih~"

Ryug dan Teena sama-sama merona merah dan menggaruk kepala mereka untuk menutupi rasa malu.

Katanya sih mereka saudara beda ibu, tapi wajar kalau mereka kakak beradik. Tingkah mereka saat tersipu benar-benar mirip.

"Fufu. Hugh juga kadang melakukan gerakan itu, lho~?"

"Eh, benarkah?"

"Iya."

Aku sama sekali tidak menyadarinya, tapi kalau Lugh yang bilang, pasti benar.

Saat aku berpikir agak memalukan juga jika hal itu ditunjukkan, tanpa sadar tangan kananku nyaris bergerak ke arah kepalaku. Ooh, ternyata aku benar-benar melakukannya.

"...Ah, ehem. Bisakah kita masuk ke topik utama sekarang?"

Pangeran Lucas berdeham dan memotong obrolan kami yang masih berdiri. Gawat, sepertinya kami terlalu asyik mengobrol. Mary yang duduk di sebelahnya juga memasang ekspresi agak canggung.

Setelah aku dan Lugh duduk di sofa, Pangeran Lucas memulai pembicaraannya dengan, "Nah."

"Alasan aku memanggil kalian berdua tidak lain karena Ayahanda mengatakan ingin mendengar cerita langsung terkait masalah Black Dragon Dorefon."

"Eh!? Aya... Yang Mulia Raja?"

Lugh membelalakkan matanya terkejut.

Ah... begitu ya. Pantas saja kami dibawa terang-terangan menggunakan kereta kuda Royal Knights. Jika itu adalah instruksi Yang Mulia Raja, tidak akan ada yang mencurigai hubungan kami dengan Pangeran Lucas.

Dan tidak ada yang tak wajar juga jika Pangeran Lucas, yang kebetulan berada di dekat lokasi kebangkitan Black Dragon, menemui kami lebih dulu sebelum Baginda.

"Jika catatan yang ditinggalkan Pamanku benar, itu berarti ada seseorang yang mencoba membangkitkan Black Dragon untuk mengancam kerajaan. Ini adalah situasi kritis bagi Ries Kingdom. Untuk memastikan kredibilitas catatan itu, Ayahanda bilang ia ingin mendengar langsung dari kalian."

"Maksudnya kesaksian kami akan memperkuat keabsahan catatan itu?"

"Ada banyak orang yang mendengar raungan Black Dragon Dorefon, tapi yang melihat wujudnya secara langsung hanya kalian berdua."

Aku juga sempat membaca sedikit catatan yang ditinggalkan oleh Viscount Dorefon. Pedagang yang menghasut Viscount Dorefon itu sudah pasti adalah sosok yang juga berhubungan dengan Lechery dan Malicious.

Mendalangi serangkaian insiden, bahkan hingga berhasil membangkitkan Black Dragon.

Kalau orang berbahaya semacam itu dibiarkan bebas, entah bencana macam apa yang akan menimpa kerajaan. Begitu keabsahan catatan tersebut dapat dipastikan, tindakan penanganan yang tepat akan sangat dibutuhkan.

Kalau mau, aku sebenarnya bisa saja melacak keberadaannya menggunakan Skill ...

Seolah membaca pikiranku, Pangeran Lucas menggelengkan kepalanya pelan. Lawan kita belum tentu bergerak sendirian, lagipula dia adalah orang yang punya cara untuk membangkitkan seekor Black Dragon.

Ditambah lagi, Skill-nya kemungkinan besar mirip dengan milikku.

Bukan tidak mungkin sang pemburu malah menjadi yang diburu...

"Saya mengerti. Tapi..."

Tidak mungkin kami menjelaskan seluruh kejadian yang sebenarnya begitu saja, kan...

Alasan kami berhasil selamat setelah berhadapan dengan Black Dragon adalah berkat Skill Brainwash. Kalau kami bersaksi dengan menyamarkan bagian itu, bukankah keabsahannya justru akan jadi lemah...?

"Tidak apa-apa, aku yang akan mem-backup kalian jadi tak perlu khawatir."

Karena ada Mary, Ryug, dan yang lainnya di sekitar kami, aku tidak bisa menyuarakan kekhawatiranku secara spesifik, tapi Pangeran Lucas tampaknya langsung memahaminya. Senyum lembutnya entah kenapa terlihat agak mencurigakan, tapi tak diragukan lagi dia adalah orang yang bisa diandalkan.

Karena sudah dipanggil oleh Yang Mulia Raja, kami juga tidak mungkin minta pulang...

Saat ini aku tidak punya pilihan selain mempercayai Pangeran Lucas.

"Yang Mulia, sudah waktunya."

Tuan Roan yang berada di lorong membuka pintu dan memanggil Pangeran Lucas.

Sepertinya persiapan Yang Mulia Raja sudah selesai.

"Kalau begitu, ayo kita pergi."

Mengikuti Pangeran Lucas dan Mary yang menyamar sebagai Lucretia, aku dan Lugh berjalan keluar dari ruang tamu. Di belakang kami, Tuan Roan dan Nona Alyssa ikut mengekor. Ryug dan Teena sepertinya tetap berjaga di ruangan tersebut.

Terus berjalan di belakang Pangeran Lucas dan Mary, tak lama kemudian sebuah pintu ganda besar dengan ukiran mewah terlihat di hadapan kami. Di kedua sisi pintu berdiri penjaga berbaju zirah, dan begitu melihat Pangeran Lucas, mereka membuka pintu tersebut dengan gerakan yang sangat seirama.

Karpet merah yang terbentang dari lorong terus berlanjut ke dalam ruangan, menuju undakan tangga di ujung sana.

Di atas tangga itu terdapat singgasana, di mana Yang Mulia Raja duduk bertahta sambil menatap lurus ke bawah ke arah kami.

Di kedua sisi karpet, berjejer petinggi-petinggi kerajaan termasuk sang Prime Minister, Marquis Prime. Dan di sana juga terlihat sosok Second Pangeran, Pangeran Bruto, yang sedang bersaing memperebutkan hak takhta dengan Pangeran Lucas.

...Seriusan, situasi semacam ini benar-benar di luar dugaan. Aku tadinya berasumsi bahwa kami akan bertemu berdua saja dengan Yang Mulia Raja dan Marquis Prime di ruang tertutup, persis seperti saat pesta malam waktu itu.

Dari deretan petinggi kerajaan di sisi karpet, aku merasa ditatap dengan pandangan yang seolah sedang menilaiku. S-sungguh, situasi ini luar biasa menegangkan...!?

Saat aku menoleh ke arah Lugh di sebelahku untuk mencari pertolongan, Lugh hanya tersenyum manis kepadaku.

"(Percayalah pada Kak Lucas, oke?)"

Gumamnya pelan. Kalau sudah begini, aku memang harus mempercayainya...

Pangeran Lucas dan Mary maju hingga jarak sekitar dua meter sebelum tangga, lalu diam-diam berlutut satu kaki dan menundukkan kepala. Lugh juga mengambil postur yang sama, jadi aku pun buru-buru mengikutinya.

"Ayahanda, saya membawa pewaris keluarga Punosis, Hugh Punosis, serta pewaris keluarga Bect, Lugh Bect."

"Umu. Kerja bagus, Lucas. Mundurlah dan berdiri di sisi bersama Lucretia."

"Baik."

Pangeran Lucas dan Mary berdiri lalu bergabung dalam barisan para petinggi kerajaan di samping karpet.

"Angkat wajah kalian, Hugh Punosis, Lugh Bect."

Sesuai titah Yang Mulia Raja, aku dan Lugh mengangkat wajah. Ekspresi Yang Mulia Raja yang menatap kami dari singgasana tampak tegas dan keras. Wibawa dan tekanan auranya luar biasa menakutkan, sama sekali tak bisa dibandingkan dengan sosoknya saat terbaring sakit maupun saat di pesta perayaan kesembuhannya.

"Mari kita lewati basa-basi yang berbelit-belit. Langsung saja, aku ingin bertanya tentang Dragon yang kalian temui di Dorefon Great Labyrinth. Sebutkan ciri-ciri wujud dan karakteristiknya."

Tepat saat Yang Mulia Raja mengatakan itu, Marquis Prime yang berada di posisi terdekat dengan Baginda mengeluarkan sebuah gulungan perkamen. Apa dia akan mencocokkan kesaksian kami dengan catatan masa lalu...?

Bertukar pandangan dengan Lugh, aku pun memutuskan untuk mengambil alih pembicaraan. Sambil menahan rasa gugup, aku mulai memaparkan ciri-ciri Black Dragon tersebut. Panjang totalnya sekitar tiga puluh meter, memiliki sisik hitam pekat dan mata kuning, dan seterusnya...

Karena kami langsung mengalahkannya dengan skill sesaat setelah berpapasan di dalam gua, tidak banyak detail informasi yang bisa kusampaikan. Aku tidak mungkin membesar-besarkan ceritanya dengan mengatakan ukurannya sebesar gunung, atau naga itu menyemburkan napas racun... Jujur saja, aku hanya menyampaikan informasi yang akurat.

Para petinggi yang berjejer menunjukkan ekspresi keheranan seolah berkata "Hanya itu?". Bahkan ada beberapa orang yang menatap kami dengan pandangan curiga. Yah, tidak heran kalau kami diragukan...

"Bagaimana, Marquis Prime?"

"Tidak ada perbedaan antara catatan masa lalu dan kesaksian Hugh Punosis. Kalau harus menyebut bedanya, ukurannya sedikit lebih kecil dari yang tercatat, tetapi ukuran di catatan masa lalu pun sepertinya hanya berdasarkan perkiraan mata belaka."

"...Hmm. Kalau begitu, haruskah kita menyimpulkan bahwa Black Dragon Dorefon benar-benar telah bangkit, sesuai dengan catatan yang ditinggalkan oleh Victim?"

"Mohon tunggu sebentar, Your Majesty. Apakah Anda sungguh berniat mempercayai kesaksian yang mencurigakan seperti ini?"

Orang yang menyuarakan penolakan atas gumaman Yang Mulia Raja adalah seorang bangsawan pria paruh baya bertubuh kurus.

Pria yang terlihat relatif muda di antara jajaran petinggi lainnya itu, melangkah maju ke depan Yang Mulia Raja sembari menatap kami dengan pandangan yang merendahkan.

"Seandainya catatan yang ditinggalkan oleh penjahat pendosa Victim itu benar, maka ini sudah pasti merupakan krisis tak terduga yang dapat mengguncang negara. Namun, apakah pantas menentukan arah kebijakan negara berdasarkan kesaksian yang kebenarannya sangat tidak jelas seperti ini?"

"Oh. Count Gadiness, apakah engkau mengisyaratkan bahwa anak-anak ini berbohong? Kalau begitu, suara raungan naga yang terdengar di wilayah Dorefon itu apa?"

"Kemungkinan besar mereka hanya salah paham mendengar suara gemuruh bumi atau semacamnya. Seandainya Black Dragon Dorefon sungguh bangkit, dan anak-anak ini melihatnya dengan mata kepala sendiri, hal itu sangatlah aneh. Kenapa mereka berdua ada di sini sekarang? Bukankah seharusnya saat ini mereka sudah meleleh dan hancur di dalam perut Black Dragon itu?"

Cara bicara Count Gadiness memang menyebalkan, tapi keraguannya itu sangat beralasan. Secara logika, fakta bahwa aku dan Lugh—yang bertemu dengan Black Dragon di dalam Dungeon—masih hidup, adalah hal yang terlampau tidak wajar.

Bagaimana aku harus menjelaskannya...? Apa memang mustahil menutupi fakta tentang Skill ...?

Saat aku melirik sejenak ke arah Pangeran Lucas, dia dengan tenang mengangkat tangannya.

"Mohon izin untuk berbicara, Ayahanda."

"Kuizinkan. Bicaralah, Lucas."

"Baik. Jawaban atas keraguan Count Gadiness sangatlah jelas. Sangat sederhana, Count. Hugh Punosis telah berhasil membunuh Black Dragon Dorefon."

"...Apa katamu? Anak kecil yang tak jelas asal-usul kebangsawanannya ini?"

"Skill miliknya memiliki daya hancur yang sama sekali berbeda tingkatannya dengan yang pernah ada selama ini. Kudengar saat ujian masuk Royal Academy, dia bahkan bisa melelehkan besi dalam sekejap mata. Dengan tersebut, dia telah membakar Black Dragon Dorefon hingga menjadi abu."

Mendengar argumen Pangeran Lucas yang fasih, Count Gadiness menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya.

Para petinggi yang hadir di ruangan itu pun sama sekali tidak terlihat percaya pada ucapan Pangeran Lucas.

"Lucas, apakah ada bukti yang cukup kuat untuk mendukung klaim bahwa Hugh Punosis telah mengalahkan Black Dragon Dorefon?"

Menjawab pertanyaan Yang Mulia Raja, Pangeran Lucas menyeringai dengan senyuman yang benar-benar terlihat mencurigakan di bibirnya.

"Ya. Tentu saja, Ayahanda. Apakah milik Hugh Punosis memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh Black Dragon Dorefon, --bagaimana kalau kita buktikan dan lihat secara langsung sekarang juga?"


---

Di bawah panduan Pangeran Lucas yang mengatakan bahwa persiapan sudah selesai, kami semua diarahkan dari ruang audiensi menuju halaman tengah yang luas di dalam tembok kastil. Meskipun disebut halaman, tempat ini bukanlah taman, melainkan ruang luas yang dilapisi tanah putih mirip lapangan sekolah dasar.

Mungkin tempat ini adalah tempat latihan bagi para penjaga yang bertugas mengamankan kastil, atau ruang yang dimanfaatkan sebagai barak prajurit jika harus bertahan dari kepungan musuh dalam keadaan darurat.

Di halaman tengah tersebut, api unggun dinyalakan mengelilinginya, dan di bawah langit malam, sebuah patung raksasa disinari dengan cahaya kemerahan. Bentuknya meniru sosok naga yang merayap di tanah; meskipun detailnya tampak kasar, ukurannya tidak jauh berbeda dengan Black Dragon yang kulihat saat itu.

"Benda ini direproduksi dengan mengacu pada kesaksian Hugh Punosis. Bentuk kasarnya dibuat dari batu, dan kemudian dilapisi besi dari luar. Mustahil untuk menghancurkannya dengan Skill biasa."

"Pantas saja kudengar halaman tengah ini cukup berisik sejak beberapa hari yang lalu..."

Yang Mulia Raja meletakkan tangannya di dahi dan menghela napas.

Kalau patung ini disiapkan hanya untuk membuktikan kekuatan Skill-ku, ini sungguh terlalu berlebihan. Di sudut halaman tengah, sekitar lima anggota Royal Knights sedang duduk terkapar kelelahan. Mungkin ini dibuat dengan mempekerjakan Skill mereka. Kerja keras yang bagus, Semuanya...

"Count Gadiness, silakan sentuh dan periksa sendiri,"

Didesak oleh Pangeran Lucas, Count Gadiness mendekati patung Black Dragon tersebut. Dia menyentuh permukaannya dengan tangan, menempelkan telinganya sambil mengetuk-ngetuk ringan, sepertinya untuk memastikan bahwa bagian dalamnya tidak kopong. Beberapa orang selain Count Gadiness juga melakukan hal serupa, memeriksa dengan teliti dari kepala hingga ujung ekornya.

"...Sepertinya ini bukan barang palsu. Namun, kalau hanya membuat benda ini sedikit hangus, kau belum bisa dikatakan telah mengalahkan Black Dragon Dorefon."

"Aku tahu. Makanya aku memintamu untuk memeriksanya sendiri."

Pangeran Lucas menoleh ke arahku dan tersenyum manis. Tiba-tiba dipanggil ke kastil, dihadapkan langsung pada Yang Mulia Raja, dan berujung dipaksa melakukan hal yang tak masuk akal tanpa diskusi sebelumnya benar-benar membuat repot.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka memamerkan Skill-ku, tapi...

Meskipun begitu, kakak iparku ini selalu banyak membantuku dalam berbagai hal.

Kalau dengan ini aku bisa sedikit membalas budinya, aku tidak keberatan untuk bekerja sama.

"Karena ini berbahaya, bisakah kalian menjauh?"

Untuk berjaga-jaga, aku meminta para petinggi di sekitarku untuk menjaga jarak. Aku sendiri mengambil jarak sekitar lima puluh meter dari patung Black Dragon tersebut, dan meminta Pangeran Lucas, Yang Mulia Raja, serta Pangeran Bruto untuk mundur sejauh tiga puluh meter di belakangku.

"Berlebihan sekali."

Beberapa orang, termasuk Count Gadiness, tampaknya berniat menonton dari jarak yang tidak jauh berbeda denganku. Karena aku sendiri tidak tahu seberapa kuat daya hancur ku jika dikerahkan sepenuhnya, demi keselamatan aku ingin mereka mundur lebih jauh lagi...

Yah, walau aku beri tahu pun mereka pasti tidak akan mendengarkan.

"Semangat ya, Hugh!"

Lugh menyemangatiku sambil mengepalkan kedua tangannya erat di depan dada.

"Terima kasih, Lugh. Kalau di dekat sini berbahaya, maukah kau menonton dari sisi Yang Mulia Raja dan yang lainnya?"

"Um!"

Lugh kembali tersenyum kepadaku sambil berkata, "Semangat ya!" dan berlari menuju Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas.

Aku masih belum tahu sebesar apa wujud kekuatan penuhku, tapi kalau mereka mundur sejauh itu seharusnya aman.

...Baiklah, mari kita lakukan.

Aku mengembuskan napas dan memusatkan konsentrasi. Aku memundurkan kaki kiriku setengah langkah dengan tubuh menyamping, lalu mengarahkan lengan kananku ke patung Black Dragon seolah membidiknya.

"!"

—Seketika itu juga, pilar api raksasa menembus langit malam Royal Capital.

Dengan menyebarkan hembusan angin panas, api neraka yang membara menelan patung Black Dragon itu dan menjulang tinggi ke angkasa. Saking panasnya, tanpa sadar aku menutupi wajahku dengan kedua tangan, dan seketika itu juga pilar api menghilang seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Ah... Gawat. Karena terkejut oleh rasa panas itu, tanpa sadar aku langsung menghentikan Skill-ku.

Aku menurunkan tanganku dan melihat ke arah patung Black Dragon. Dari balik asap putih, wajah replika Black Dragon itu muncul. Besi di permukaannya memanas hingga memerah dan meleleh jatuh berlumuran, namun batu di bagian dalamnya masih mempertahankan bentuk aslinya.

Haruskah kulepaskan satu tembakan lagi...? Pikirku, tapi ketika asap putih tersapu oleh angin, keseluruhan wujudnya mulai terlihat jelas. Patung Black Dragon itu menyisakan bagian kepala dan ekornya, sementara bagian tubuh utamanya telah menjadi cairan merah seperti magma dan hancur meleleh.

"Uwaa..."

Meskipun aku sendiri yang melakukannya, aku dibuat merinding oleh kekuatan api yang terlampau mengerikan itu.

Secara perasaan, aku belum merasa benar-benar mengeluarkan kekuatan penuh . Aku hanya mengaktifkannya sesaat, dan secara refleks malah mengurangi kekuatannya karena angin panas. Kalau aku sudah memakai anti-panas dan tidak ada orang sama sekali di sekitarku, mungkin aku bisa mengeluarkan pilar api yang jauh lebih besar lagi.

Tunggu, walaupun aku bisa mengeluarkannya, benda ini mau kugunakan buat melawan apa coba...

"Hugh!"

"Uwah!?"

Saat aku sedang berdiri terpaku, aku merasakan benturan di pinggangku dari belakang hingga aku terhuyung. Saat aku melengkungkan tubuh dan melihat ke belakang, Lugh sedang memeluk pinggangku, sama seperti saat ujian masuk tempo hari.

"Kau memang luar biasa! Apinya buwaah begitu! Hampir saja menyentuh bulan lho!"

Mendengar Lugh yang menceritakannya dengan nada penuh semangat, aku pun menghembuskan napas lega. Aku baru saja memperlihatkan pemandangan gila yang wajar jika membuat siapa pun ketakutan. Meskipun begitu, gadis ini sama sekali tidak menunjukkan gelagat semacam itu. Dia menganggapnya sungguh luar biasa dari lubuk hatinya. Perasaan itu tersampaikan padaku, dan hatiku terasa langsung ringan.

Begitu perasaanku menjadi tenang, aku punya cukup ruang untuk melihat sekeliling. Saat itulah, aku menyadari bahwa Count Gadiness—yang berada di jarak tak jauh berbeda dariku—telah jatuh terduduk.

Gawat. Jangan-jangan dia terluka karena perbuatanku...?

"Apakah Anda baik-baik saja, Count Gadiness?"

Ketika aku dan Lugh berlari mendekat untuk bertanya, Count Gadiness yang masih terduduk menengadah menatapku dan menjerit kecil, "Hiii!".

"J-jangan mendekat, d-dasar monster...!"

Dengan raut wajah sangat ketakutan, Count Gadiness menyeret bokongnya mundur perlahan, berusaha menjauhiku meski hanya sedikit.

"Tunggu sebentar, jangan menyebut Hugh seperti—"

"Tidak apa-apa, Lugh."

Justru inilah reaksi yang normal. Selama ini aku hanya terlalu diberkati dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarku; namun fakta bahwa aku ini adalah monster tidak dapat terbantahkan.

...Yah, biarpun begitu, dipanggil monster secara langsung ke depan mukaku lumayan menyakitkan juga.

Lugh menggumam, "Tapi..." dengan suara sedih. Ekspresi wajahnya yang terlihat seolah-olah dirinyalah yang terluka itu membuat dadaku terasa sesak menyakitkan. Alih-alih caci maki yang kuterima, membuat Lugh memasang wajah seperti itu justru jauh lebih menusuk perasaanku.

Nah, harus kuapakan ini... eh bukan. Apa yang harus kulakukan...

Kalau dia sudah setakut ini, apa pun yang kukatakan pasti hanya akan dibalas dengan teriakan.

Saat aku sedang kebingungan, terdengar suara langkah kaki mendekat.

Ketika aku menoleh, Pangeran Lucas sudah melangkah masuk dan berdiri tepat di sampingku. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan menempelkan tubuhnya seakan memamerkan kedekatan kami.

"Bagaimana, Count Gadiness. Dengan ini, kau bisa percaya bahwa Hugh telah membunuh Black Dragon Dorefon, kan?"

"I-itu..."Count Gadiness yang mencoba melontarkan bantahan melirik sejenak ke arah sisa patung Black Dragon, menelan ludahnya begitu memastikan magma yang masih mendidih bergejolak di sana.

Kemudian dalam kebisuan, ia menganggukkan kepalanya berulang kali dengan cepat.

"Baguslah. Kalau begitu, tidak ada keberatan kalau kita menentukan kebijakan masa depan berdasarkan catatan yang ditinggalkan Victim, kan?"

"...Kuh. Saya tidak, keberatan."Count Gadiness menjawab dengan suara yang seakan diperas keluar sambil menggertakkan giginya.

...Begitu ya. Percaya bahwa aku membunuh Black Dragon itu berarti sama saja dengan mempercayai catatan milik Viscount Dorefon. Meskipun ini terasa seperti sedikit pengalihan isu, persiapan sebesar ini pasti sengaja dilakukan karena Pangeran Lucas mengincar kesimpulan itu sedari awal.

Dengan pengakuan dari Count Gadiness, petinggi lainnya pun sepakat dengan pendapat Pangeran Lucas.

Kini Ries Kingdom telah memutuskan arah kebijakannya ke depan berdasarkan catatan Viscount Dorefon.

Saat para petinggi satu per satu mulai meninggalkan halaman tengah, aku disapa oleh seseorang.

"Hugh Punosis, kan? Penggunaan Skill mu itu mencolok sekali."

"Yang Mulia Bruto..."

Orang yang menyapaku adalah seorang pria bertubuh tangguh dengan rambut biru dan anting besar berbentuk bulan sabit di salah satu telinganya.

Dia adalah Pangeran Keduayang bersaing memperebutkan hak suksesi takhta dengan Pangeran Lucas, Yang Mulia Bruto.

"Skill sekuat itu bahkan belum pernah kulihat di jajaran militer. Bagaimana, kau tidak mau mengkhianati Lucas dan memihak padaku? Kalau kau mau, aku bisa segera memberimu posisi Jenderal sekarang juga."

"...Kakakanda, bisakah Anda tidak membajak orangku?"

"Hei, Roan dan Alyssa sudah berada di pihakmu. Bakal tidak adil kalau aku tidak mendapatkan setidaknya satu monster di luar nalar ini, kan?"

"Kurasa mengumpulkan orang-orang berbakat juga merupakan salah satu kualitas seorang raja. Sayangnya, Hugh juga merupakan murid pedang Alyssa. Singkatnya, dia adalah bawahan dari bawahanku. Aku tak bisa menyerahkannya padamu, Kakakanda."

Pangeran Lucas menyela di antara aku dan Pangeran Bruto, menunjukkan postur tegas tak mau mengalah. Tentu saja aku sama sekali tidak berniat beralih kubu memihak Pangeran Bruto sekarang, tetapi sikap Pangeran Lucas sungguh membuatku senang.

"Mohon maaf, Pangeran Bruto. Meskipun itu tawaran yang sangat baik, saya telah bersumpah setia kepada Pangeran Lucas dan Putri Lucretia."

"Oh, jadi kau mengincar Lucretia? Kalau begitu, aku bisa mengabulkannya untukmu jika aku menjadi raja, lho?"

"Putri Lucretia tidak menginginkan hal tersebut."

Lugh mengangguk-angguk setuju di sebelahku. Jika aku mengkhianati Pangeran Lucas demi menjadikan Pangeran Bruto raja berikutnya, tak ada jaminan dia akan menepati janji lisannya, dan tidak ada jaminan juga Pangeran Lucas yang kalah dalam persaingan akan baik-baik saja. Tawaran Pangeran Bruto sama sekali tidak ada untungnya.

Mendengar penolakanku, Pangeran Bruto menghela napas dan mengangkat bahunya.

"Kalau sudah ditolak ya apa boleh buat. Yah, aku memang tidak menaruh harapan dari awal. Namun, sebaiknya kau berhati-hati dengan tingkah lakumu ke depannya. Kekuatan yang berlebihan akan menghancurkan diri sendiri, lho."

Sambil berkata "Sampai jumpa," Pangeran Bruto berbalik dan pergi dengan lambaian tangan.

...Kekuatan yang berlebihan akan menghancurkan diri sendiri, ya.

"Aku memang sependapat dengan Kakakanda, tapi kau seharusnya sudah menyadari hal itu sejak lama. Tak perlu dipikirkan."

"...Kuharap begitu."

Aku menjawabnya sembari tersenyum masam atas penghiburan Pangeran Lucas.

Kurasa aku hanya bisa berdoa bahwa kata-kata Pangeran Bruto hanyalah peringatan biasa...

Para petinggi dan Pangeran Bruto telah pergi, meninggalkan kami sendirian di halaman tengah.

Saat aku menatap kosong ke arah Royal Knights yang mulai membereskan sisa patung Black Dragon, terdengar bunyi "Kyuu" kecil di sebelahku.

Ketika aku menoleh, Lugh sedang memegangi perutnya dengan pipi yang memerah.

"A-aku lapar..."

"Ngomong-ngomong, kita memang belum makan malam ya."

Mengingat kembali, kami ditegur oleh Nona Alyssa di depan ruang makan asrama dan langsung diseret ke Royal Castle. Karena harus menghadap Yang Mulia Raja dan berbagai urusan lainnya, aku malah benar-benar lupa.

Karena urusan panggilan ke kastil ini sudah selesai, kalau kita kembali sekarang, apa masih sempat tiba sebelum jam tutup ruang makan asrama...? Ya meskipun tidak makan malam sehari tak akan bikin mati, aku ingin menghindari tidak bisa tidur karena perut keroncongan.

"Pangeran Lucas, kami juga ingin segera kembali ke Academy."

"Maaf, tapi bisakah kalian menemaniku sedikit lebih lama? Sebenarnya makan malam untuk kalian berdua juga sudah disiapkan di sini."

"Makan malam kami?"

"Ya. Ayahanda... Yang Mulia Raja bilang bahwa beliau ingin makan bersama kalian."

Mendengar kata-kata Pangeran Lucas, tanpa sadar aku melirik ke arah Yang Mulia Raja. Baginda, yang tadinya sedang mengobrol serius dengan Marquis Prime, tampak menyadari tatapanku dan membalas dengan senyuman santai.

Y-yang benar saja... Aku sama sekali tak pernah menyangka akan tiba harinya aku berbagi meja makan dengan Yang Mulia Raja.

Setelah itu, di bawah arahan Pangeran Lucas, aku dan Lugh dipersilakan masuk ke dalam suatu ruangan di Royal Castle.

Tempat itu sepertinya adalah ruangan bagi tamu kehormatan kastil untuk bersantap bersama Baginda Raja.

Mungkin sebagai bentuk pertimbangan agar bisa makan dengan tenang, ruangan ini tidak terlalu luas. Perabotan serta hiasan berupa lukisan sangat minim. Di tengah ruangan, terdapat meja yang berlapis taplak putih, dengan sebuah kursi luar biasa mewah yang disiapkan di posisi kepala meja.

Aku dan Lugh duduk berdampingan, sementara Pangeran Lucas dan Mary yang menyamar sebagai Putri Lucretia duduk berseberangan dengan kami. Saat kami duduk, seorang pemuda berseragam Butler yang berjaga di sudut ruangan segera bertanya, "Anda ingin memesan minuman apa?"

Tentu saja tidak ada daftar menu di sini. Mungkin ia akan menyediakan apa pun yang kami sebutkan, tapi karena suasana yang tegang, aku tak bisa langsung membuka mulut.

"Umm..."

"Bawakan Wine paling mahal di kastil ini-desu!"

Saat aku masih bingung, Mary tiba-tiba membuat pesanan konyol. Pria Butler itu bertanya kepada Pangeran Lucas dengan singkat tanpa mengubah sedikit pun ekspresi wajahnya, "Apakah Anda berkenan?"

"Bawakan yang urutan ketiga saja."Pangeran Lucas membalas dengan senyum meringis, sementara Butler itu menunduk sopan dan keluar dari ruangan.

Meskipun yang paling mahal ketiga, harga Wine itu pasti sudah tak terbayangkan...

Sayang sekali keteganganku membuatku tidak bisa membayangkan diri untuk santai menikmati aroma dan rasanya.

"Kau tidak perlu setegang itu, ini bukan pertemuan resmi kenegaraan. Sedikit ketidaksopanan akan dimaafkan."

"Y-ya, mungkin memang begitu, tapi..."

Lebih tepatnya, bukan makan malam bersama Yang Mulia Raja yang membuatku gugup...

Aku melirik Lugh yang duduk di sebelahku.

Lugh sama sekali tak terlihat gugup; matanya berbinar riang sembari menyipitkan matanya, "Aku tak sabar menunggu Wine-nya~".

...Singkat cerita, aku dan Lucretia mulai berpacaran gara-gara rentetan kejadian di Dorefon Great Labyrinth. Kami bahkan sudah berjanji untuk menikah. Dengan kata lain, Yang Mulia Raja ini adalah ayah dari pacarku.

Walau bukan dalam rangka "perkenalan calon mantu", tak ada alasan lain selain itu yang membuatku setegang ini.

Mungkin menyadari dari mana asal tatapanku, Pangeran Lucas bergumam, "Oh, begitu rupanya."

"Kalau begitu kau malah tak perlu gugup sama sekali. Kau ingat Butler tadi? Dia tidak tahu apa-apa soal masalah 'itu'."

"Maksud Anda masalah 'itu'..."

Walaupun ada beberapa tebakan di benakku, melihat kondisinya, aku mulai mengerti apa jawaban yang dimaksud.

Yang duduk mengelilingi meja ini adalah aku, Pangeran Lucas, Lugh, dan Mary yang menyamar jadi Lucretia. Yang Mulia Raja tahu bahwa Lucretia yang asli sedang duduk di sana dengan menyamar sebagai Lugh.

Maka secara logika, sangat tidak wajar jika seorang pelayan seperti Mary ikut duduk semeja bersama kami.

"Namanya adalah Fif Bride. Keluarga Bride telah turun-temurun mengabdi untuk mengurus kebutuhan pribadi Raja. Hasil kerja Fif sangat sungguh-sungguh, dan bukannya aku tidak memercayainya, tapi sebaiknya rahasia ini hanya diketahui oleh sesedikit mungkin orang."

Hanya segelintir orang yang tahu bahwa Lucretia masuk ke Royal Academy dengan menyamar sebagai lelaki. Aku memang sering merasa ngeri melihat tingkah dan ucapan Lucretia sendiri, tapi berkat penjagaan dan kehati-hatian ketat dari pihak luar seperti inilah rahasianya tidak pernah terbongkar...

"Jangan khawatir, masalah yang ingin dibicarakan Ayahanda adalah soal urusan lain. ...Yah, mungkin yang ini justru akan lebih sulit bagimu."

"...Ah, begitu."

Ucapan Pangeran Lucas ini mengonfirmasi semua firasatku.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka dan Yang Mulia Raja masuk.

Di belakangnya, Tuan Fif mengikuti sambil membawa sebotol Wine yang sekilas pun terlihat sangat mahal.

"Maaf membuat kalian menunggu. Si Prime itu, makin bertambah usianya omongannya malah makin panjang dan membuat repot saja. Aku akan menyuruh mereka segera menyiapkan hidangannya."Yang Mulia Raja duduk di kursi kepala meja, dan memberi isyarat tangan agar kami yang berdiri untuk kembali duduk.

Sembari menenangkan diri, kami menunggu Fif membagikan makanan.

Dalam jeda itu, Yang Mulia Raja mengarahkan mata biru lautnya kepadaku.

"Nah, entah sudah seberapa banyak rasa terima kasih yang harus kuberikan padamu, Hugh. Pertama-tama soal urusan tadi. Berkatmu kami bisa menyatukan arah kebijakan. Aku benar-benar berterima kasih."

"Tidak... Saya sangat senang jika saya bisa berguna."

Situasi Ries Kingdom sekarang dipenuhi oleh orang-orang licik yang bergerak di balik bayangan, entah itu yang menyebarkan obat berbahaya untuk mengubah manusia menjadi monster, atau yang membangkitkan Black Dragon Dorefon yang pernah membawa malapetaka besar di masa lalu...

Menurutku sangat esensial bagi seluruh Ries Kingdom—bukan cuma Pangeran Lucas dan Royal Knights—untuk bersatu memikirkan solusinya. Kalau aku bisa sedikit membantu dalam proses itu, perlakuan dianggap monster tadi sungguh tidak ada apa-apanya.

"Mulai sekarang, Ries Kingdom akan menentukan kebijakannya dengan memandang catatan yang ditinggalkan Victim sebagai kebenaran. Dalam hal itu, fakta bahwa engkau telah membunuh Black Dragon Dorefon tak punya pilihan selain dipublikasikan. Aku mengundangmu ke sini hari ini untuk memastikan keputusanmu."

"Keputusan saya...?"

"Benar. Hugh Punosis, sebagai orang yang membunuh Black Dragon Dorefon, aku ingin menunjukkan kehadiranmu ke dalam dan ke luar negeri. Maukah kau menjadi Hero negara ini?"

Hero... Pahlawan.

Gelar itu kedengaran luar biasa merepotkan, rasanya aku sangat ingin menolak bulat-bulat.

Tapi, aku tak mungkin menghindari publikasi itu... Seberapa besar pun perlindungan dan pertimbangan yang akan mereka beri, eksistensi Hero yang membunuh sang Black Dragon mutlak diperlukan guna menjamin kredibilitas catatan Viscount Dorefon.

Setelah aku menggelar demonstrasi seperti tadi, rasanya sangat tak masuk akal membebankan gelar itu ke pundak Tuan Roan atau Nona Alyssa. Yah, aku sudah memprediksi ini sejak awal, sih...

"Hugh..."

Lugh memegangi lengan seragamku, menyebut namaku dengan ekspresi khawatir.

Gadis itu sangat paham kalau kepribadianku jauh dari sosok pencari perhatian, dan ia pun sadar bahwa aku membawa bom waktu bernama Skill Brainwash.

Aku yakin hanya Lugh satu-satunya orang yang akan terus berpihak padaku tak peduli keputusan apa yang kuambil.

...Dan demi gadis yang seperti itu, aku berani mengambil keputusan bulat.

"...Saya memiliki satu syarat."

"Hoo, sebuah negosiasi. Baiklah, katakan."

Sikap Yang Mulia Raja begitu santai menerima permohonanku dengan senyuman, meskipun apa yang baru saja kukatakan dapat dengan mudah dianggap tak sopan. Tuan Fif yang bertugas membagikan hidangan sempat memunculkan wajah kesal, tapi Yang Mulia Raja langsung menahannya dengan satu gestur tangan.

"Saya akan menerima diangkat menjadi Hero negara ini jika situasinya sudah begini. Tapi sebagai gantinya, saya memohon sebuah hadiah yang setimpal."

"Tentu, aku memang bermaksud memberikan hadiah. Jika tak memberikan imbalan kepada Hero, martabatku sebagai seorang Raja akan tercoreng. Wilayah ataupun gelar kebangsawanan, sebutkan saja apa yang kau inginkan."

"Saya tidak menginginkan wilayah apa pun. Saya sudah puas dengan wilayah Punosis Territory."

"Lalu kau memohon sebuah gelar?"

"Jika memang gelar tersebut diperlukan untuk memperoleh apa yang benar-benar saya inginkan, saya akan menerimanya dengan penuh hormat."

"Begitu, rupanya impian sejatimu berbeda dari sekadar mendapatkan gelar kebangsawanan. Bisakah kau mengungkapkannya dengan lebih spesifik, Hugh Punosis?"

Yang Mulia Raja sepertinya sudah lama menebak apa permohonanku yang sesungguhnya.

Tapi bila aku tidak menyuarakannya dengan mulutku sendiri, diskusi ini tak akan pernah mencapai titik akhir.

"Baik!"

Aku menarik mundur kursiku dan turun untuk berlutut dengan kaki kiriku, lalu menundukkan kepala sedalam-dalamnya di hadapan Yang Mulia Raja.

Kemudian—

"Kumohon, sudikah Anda menyerahkan Yang Mulia Putri Lucretia kepada saya!"

Aku menyuarakan harapan yang sungguh kuinginkan dari lubuk hatiku yang terdalam.

Menjadi Hero itu pasti sangat merepotkan, dan mungkin aku akan banyak mengalami hal yang tidak menyenangkan. Aku juga mungkin harus menyerah pada kehidupan Slow Life di pedesaan terpencil yang kuimpikan kali ini.

Namun, asalkan aku bisa menikah dengan Lucretia dengan dada membusung bangga. Aku merasa tidak apa-apa jika harus begitu sekarang. Sebegitu besarnya cintaku pada Lucretia.

"Angkat wajahmu, Hugh Punosis."

Saat aku mengangkat wajah, Yang Mulia Raja sedang menatap ke arah belakangku dengan senyum lembut.

"Aku mengerti keinginanmu. Penaklukan Black Dragon Dorefon adalah pencapaian luar biasa yang belum pernah terjadi sejak masa First Count Dorefon. Itu pantas untuk dianugerahi darah Keluarga Kerajaan. Dan Lucretia mewarisi darah keluarga Dorefon. Jika kau meminta darah Royalty sebagai hadiah, tidak ada orang yang lebih cocok darinya."

"...Kalau begitu."

"Baiklah. Aku akan menjadikan pernikahan dengan Lucretia sebagai hadiah atas penaklukan Black Dragon Dorefon."

"T-terima kasih banyak...!"

Berhasil...! Pernikahanku telah direstui oleh Yang Mulia Raja—ayah mertuaku...! Aku mati-matian menahan rasa gembira yang membuatku ingin melompat-lompat di tempat ini dan kebahagiaan yang membuat bibirku nyaris menyeringai.

Lugh... ekspresi seperti apa yang sedang ditunjukkan Lucretia sekarang? Apakah dia marah karena aku memajukan pembicaraan tanpa berdiskusi dengannya? Atau apakah dia merasa senang?

"Lucretia, kau tidak keberatan, kan?"

Yang Mulia Raja mengarahkan pertanyaan itu bukan kepada Lucretia yang menyamar sebagai Lugh... melainkan kepada Mary yang menyamar sebagai Lucretia. Di belakangku, Lugh yang hampir saja mengatakan "Ba—" buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.

Sementara itu, Mary yang ditanya ternyata sudah mulai memakan makan malam yang dihidangkan tanpa izin, mengunyah dengan pipi yang menggembung penuh makanan. Dia menelannya dan berseru,

"Tidak keberatan-desu!"

Sambil tersenyum lebar dan memberikan acungan jempol, dengan saus yang masih menempel di sudut bibirnya.

Putri Lucretia yang ingin kunikahi itu sedikit lebih anggun dari ini lho... ...Ya, mungkin aku seharusnya tidak mengatakannya di situasi rumit semacam ini.

Kepada diriku yang sedang menyesal, Yang Mulia Raja tersenyum masam dan berkata, "Baguslah kalau begitu. Untuk sekarang, duduklah kembali."

Mengikuti perintahnya, aku kembali duduk di kursi dan menoleh ke samping. Lugh, yang pipinya memerah dan menggembung cemberut, sedang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Sepertinya banyak yang ingin dia katakan, tetapi dia menahannya karena kehadiran Tuan Fif.

Aku akan menerima omelannya sepuasnya nanti setelah kami pulang.

Sekarang, yang terpenting adalah aku bisa menikah dengan Lucretia. Dadaku terasa penuh oleh kebahagiaan itu.

"...Sungguh deh."

Melihatku yang tidak bisa menahan senyum, Lugh akhirnya juga tersenyum gembira.

Agar tidak terlihat oleh orang-orang di sekitar, kami saling menautkan jari dan berpegangan tangan diam-diam di bawah meja.

"Selamat... kurasa itu yang harus kukatakan ya. Meski sebagai seorang kakak, perasaanku agak rumit sih."

Pangeran Lucas yang duduk tepat di hadapanku mengangkat bahunya dengan gerakan berpura-pura.

"Aku selalu dibuat terkejut oleh keberanian yang kadang kau tunjukkan. Aku tidak pernah menyangka kau akan menjadikan pernikahan dengan Lucretia sebagai syarat untuk mau diperlakukan sebagai Hero, dan kemudian bernegosiasi dengan Ayahanda."

"Saya merasa tersanjung, Kakak Ipar."

"Ketebalan mukamu juga membuatku terkejut."

Pangeran Lucas menghela napas takjub dan tersenyum.

Dia mungkin sudah samar-samar menyadari hubunganku dengan Lucretia, dan dari kata-kata serta tindakannya selama ini, aku bisa merasakan bahwa dia diam-diam mendukung kami. Dia adalah Kakak Ipar yang bisa diandalkan, yang selalu mendukungku dan Lucretia. Karena dia ada di sini jugalah, aku bisa mengumpulkan keberanianku.

Penampilan dan tindak-tanduknya memang agak mencurigakan, tapi aku tak bisa membayangkan ada orang yang lebih bisa diandalkan daripada Pangeran Lucas. Kuharap suatu saat nanti aku bisa membalas budinya dalam bentuk apa pun. Nanti aku akan berdiskusi dengan Lugh...

Setelah mendapat restu pernikahan dari Yang Mulia Raja, pembicaraan yang lebih mendetail pun dimulai sembari kami menikmati hidangan dan Wine.

"Kebangkitan Black Dragon Dorefon. Dan pengumuman resmi bahwa engkau telah menaklukkannya paling cepat akan dilakukan dua bulan dari sekarang."

Mendengar perkataan Yang Mulia Raja, aku menghentikan tanganku yang sedang memotong bistik.

"Masih dua bulan lagi?"

Kupikir itu akan diumumkan secara besar-besaran besok atau lusa.

Dua bulan dari sekarang berarti tepat saat liburan musim panas berakhir.

Kepada diriku yang memiringkan kepala keheranan, Pangeran Lucas memberikan penjelasan tambahan.

"Ini adalah kebiasaan sejak dahulu, di musim seperti ini para Bangsawan (bangsawan) biasanya meninggalkan Royal Capital untuk kembali ke tempat peristirahatan musim panas atau wilayah mereka masing-masing. Royal Academy juga akan mulai libur musim panas minggu depan, kan? Waktunya kurang tepat untuk memperkenalkanmu secara megah sebagai Hero penakluk Black Dragon saat ini."

Jadi, maksud dari Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas adalah mereka ingin memberitahukan kepada para bangsawan bahwa aku adalah Hero yang menaklukkan Black Dragon. Tapi karena para bangsawan yang dituju itu akan meninggalkan Royal Capital, waktunya memang kurang tepat. Karena itulah, dua bulan lagi adalah saat di mana musim panas berakhir dan para bangsawan telah kembali ke Royal Capital.

"Ada alasan lain juga. Untuk menikahkan seorang anggota Royalty seperti Lucretia, harus dikatakan bahwa gelar Baron agak tidak sepadan. Setidaknya engkau harus berpangkat Count."

Count... Dalam hierarki bangsawan Ries Kingdom, Baron adalah peringkat yang paling bawah.

Dari situ secara berurutan akan naik menjadi Viscount, Count, Marquis, dan Duke, tetapi...

"Oleh karena itu. Sebagai penghargaan atas penaklukan Black Dragon, pertama-tama keluarga Punosis harus dinaikkan pangkatnya menjadi Count."

"C-Count!?"

"Hm, apakah engkau tidak puas dengan gelar Count?"

"Sama sekali tidak!"

Aku benar-benar terkejut dengan kenaikan pangkat dua tingkat secara tiba-tiba ini. Maksudku, kalau aku bilang begini, kedengarannya seperti aku mati dalam tugas saja...!

Hari di mana keluarga Punosis menjadi keluarga Count akan tiba, Ayahanda mungkin bisa pingsan mendengarnya.

"Untuk menganugerahkan gelar, aku perlu memanggil Baron Punosis selaku kepala keluarga ke Royal Capital."

"Ayahanda, maksud Anda...?"

"Benar. Termasuk waktu untuk perjalanan bolak-balik ke Punosis Territory dan masa persiapan, itu akan memakan waktu dua bulan."

Begitu rupanya... Punosis Territory berada di ujung timur laut Ries Kingdom. Itu adalah wilayah terjauh dari Royal Capital. Kalau mau memanggil Ayahanda dari sana ke mari, tentu saja akan memakan waktu selama itu.

Tapi, begitu ya. Ayahanda akan datang ke Royal Capital. Karena jaraknya jauh, tadinya aku sama sekali tidak berniat pulang sampai lulus dari Academy, dan berpikir tidak akan bisa bertemu dengannya selama tiga tahun. Walaupun belum genap setengah tahun sejak aku meninggalkan rumah, rasanya tetap senang memikirkan bisa bertemu dengannya lagi.

"Oh iya, Ayahanda. Bagaimana jika surat untuk Baron Punosis diantarkan langsung oleh Hugh?"

"...Eh?"

"Akan lebih mudah untuk menjelaskan situasinya kepada sang Baron jika Hugh sendiri yang memberitahukannya. Lagipula, dia juga sedang memasuki liburan musim panas, kan."

"Begitu ya, itu ide yang bagus. Kuserahkan padamu, Hugh."

Mungkin karena efek Wine, Yang Mulia Raja menepuk-nepuk bahuku dengan kuat dalam suasana hati yang sangat baik.

"Tidak, anu..."

Aku tidak punya rencana untuk pulang saat liburan musim panas... Suasananya tidak memungkinkan bagiku untuk melontarkan kalimat itu.

Dengan demikian, telah diputuskan bahwa liburan musim panasku akan habis untuk perjalanan bolak-balik ke Punosis Territory.

---

Di perjalanan pulang dari Royal Castle. Diterangi oleh cahaya lampu jalan yang masuk melalui jendela, aku dan Lugh berguncang berdampingan di dalam kereta kuda.

Kusir untuk perjalanan pulang adalah Nona Alyssa, dan di dalam kereta hanya ada aku dan Lugh. Karena tak perlu memedulikan pandangan orang di sekitar, kami duduk saling merapat sambil menautkan jari dan berpegangan tangan.

".........Maafkan aku, Hugh."

Lugh meminta maaf dengan suara sekecil gumaman.

"Ada apa tiba-tiba?"

"Hugh, kau sebenarnya tidak ingin menjadi Hero, kan...? Kita bertemu dengan Black Dragon di Dorefon Great Labyrinth karena aku jatuh dari tebing, dan yang berusaha keras menjadikanmu Hero adalah Ayahanda dan Kak Lucas, jadi..."

Begitu ya, dari sudut pandang Lugh... Lucretia, jadinya seperti itu.

Dia mungkin merasa bersalah karena gara-gara dirinya aku harus diperlakukan sebagai Hero.

Seandainya dia tidak jatuh dari tebing di Dorefon Great Labyrinth, seandainya Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas tidak mengambil kebijakan untuk mengangkatku sebagai Hero.

Memang tidak ada habisnya kalau terus berandai-andai, tapi aku kurang lebih bisa memahami kenapa dia merasa seperti itu.

Oleh karena itu, aku harus meluruskan satu kesalahpahaman Lucretia di sini.

"Aku sangat mencintaimu, Tia."

"Fueh!?"

Tia melebarkan mata biru lautnya dan wajahnya seketika merona merah padam.

"T-tiba-tiba kenapa!?"

"Tidak, kalau Tia merasa bersalah karena aku diangkat menjadi Hero, aku ingin kau tidak memikirkannya. ...Aku merasa senang, kok. Karena dengan cara apa pun, aku akhirnya bisa menjadi pria yang sepadan untuk Tia."

"...Ah."

Tia sepertinya juga menyadari hal itu.

Di antara aku dan Tia terdapat jurang perbedaan status yang tak bisa dijembatani. Walaupun aku seorang bangsawan, aku lahir dari keluarga Baron di wilayah perbatasan pelosok. Statusku sama sekali tidak setara dengan seorang Putri.

Kupikir mungkin suatu saat nanti jika aku terus meraih posisi tinggi di bawah Pangeran Lucas... tetapi itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kalaupun aku terus menetap di Royal Capital setelah lulus dari Royal Academy, entah butuh berapa tahun lagi. Aku mungkin harus membuat Tia menunggu bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun.

Jika sampai begitu, tidak ada jaminan Tia akan terus menungguku, dan mengingat bahwa wanita Keluarga Kerajaan adalah aset yang sangat berharga secara politik, dia tidak bisa terus-terusan belum menikah selamanya. Terlebih lagi jika Pangeran Lucas menjadi raja berikutnya.

"Tidak peduli seberapa besar kita saling mencintai, hubungan kita bisa dengan mudah sirna tergantung pada situasi politik, kan...? Tentu saja aku punya perasaan ingin dibebaskan dari embel-embel Hero, tapi sekarang perasaan legaku jauh lebih besar dari itu. Aku juga sudah mendapat restu pernikahan dari Yang Mulia Raja, dan dengan ini aku benar-benar bisa menjadikan Tia sebagai istriku."

Kehidupan Slow Life di pedesaan terpencil Punosis Territory tanpa Tia, dan hari-hari diperlakukan sebagai Hero bersama Tia. Idealnya memang kehidupan Slow Life bersama Tia, tapi jika aku hanya bisa mendapatkan salah satunya, aku akan memilih yang kedua tanpa sedikit pun ragu.

Sebegitu besarnya perasaanku pada Tia.

"Saat keputusanku ditanyakan oleh Yang Mulia Raja, aku berpikir kalau tidak sekarang, kapan lagi. Maaf aku memajukan pembicaraannya seenaknya, Tia."

"...Tidak apa-apa. Aku, aku sangat senang, kok! Ah, tapi Hugh tiba-tiba saja bilang ada syarat kepada Ayahanda dan mulai bernegosiasi. Tuan Fif memelototimu dengan wajah yang menyeramkan, aku jadi khawatir tahu?"

"Soal itu aku benar-benar minta maaf..."

Sejujurnya, aku sadar kalau tindakanku itu terlalu terburu-buru. Aku bertaruh karena mengira bahwa saat ini adalah momen di mana nilaiku berada di titik paling tinggi di mata Yang Mulia Raja. Aku memang merasa punya peluang menang, tapi bukan berarti rute kemurkaan Yang Mulia Raja yang berakhir pada hukuman mati mustahil terjadi.

"Selain itu!"

"Selain itu...?"

Tia menggembungkan pipinya dan memeluk lengan kananku erat-erat menyerupai seekor koala.

"Aku ingin memberikan jawaban pada Ayahanda dengan mulutku sendiri!"

"Ah..."

Mengenai pernikahan denganku, yang ditanya "Kau tidak keberatan, kan?" oleh Yang Mulia Raja bukanlah Tia, melainkan Mary. Di depan Tuan Fif yang tidak tahu soal rahasia pertukaran itu, meskipun mau bagaimana lagi, tapi jawaban Mary adalah "Tidak keberatan-desu!", jadi wajar saja...

Dengan begitu pernikahanku dengan Putri Lucretia secara resmi diakui oleh Yang Mulia Raja, tetapi dari sudut pandang Tia, wajar jika dia merasa kurang puas atau ada hal yang mengganjal di hatinya.

Aku tidak mungkin kembali ke Royal Castle sekarang dan memohon kepada Yang Mulia Raja, "Tolong biarkan kami mengulang bagian tadi!". Karena itu setidaknya, aku harus mengatakannya dengan benar kepada Tia sekarang.

"Yang Mulia Putri Lucretia."

Aku menggenggam tangan kiri Tia dengan kedua tanganku seolah-olah membungkusnya.

Mendengar perkataanku, wajah cemberut Tia mengempis. Ia melepaskan pelukannya dari lenganku, berdeham pelan "ehem", dan memasang wajah anggun persis seperti saat aku pertama kali bertemu dengannya sebagai seorang Putri.

"Ada apa, Hugh Punosis?"

"Saya memiliki sebuah permohonan yang sungguh-sungguh. Sudikah Anda menikah dengan saya?"

Mengucapkannya secara langsung lagi sungguh luar biasa memalukan. Saat kami diserang oleh Black Dragon, aku sudah mempersiapkan diri untuk mati, jadi aku tak punya rasa malu sama sekali; tapi sekarang situasinya berbeda, wajahku jadi sangat merah.

Kukira Putri Lucretia akan langsung tersenyum cerah dan menjawab "Iya!"... tapi dia malah bergumam "Mmm" dan terlihat sedang berpikir keras. E-eh...?

"Kalau kita menikah, apa yang akan kau lakukan padaku, Hugh?"

"A-apa maksudnya... T-tentu saja aku akan membahagiakanmu!"

"Bagaimana caranya?"

"Bagaimana caranya!?"

Pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga itu membuat isi kepalaku menjadi putih bersih. Mata biru laut Tia menatapku tanpa berkedip.

Membahagiakan Tia. Mengucapkannya dengan kata-kata memang mudah. Tapi, bagaimana tepatnya aku berencana untuk membahagiakan Tia? Aku merasa putus asa pada diriku sendiri yang tak mampu langsung menjawabnya.

Benar juga, pernikahan bukanlah garis finis. Sebaliknya, kami baru saja berdiri di garis awal. Jika pernikahan adalah puncak dari kebahagiaan, sisa perjalanannya hanyalah terguling jatuh ke bawah. Aku benar-benar tidak mau hal itu terjadi.

Tetapi, bagi diriku yang jangankan pernikahan, tidak pernah punya sedikit pun pengalaman berpacaran bahkan di kehidupan sebelumnya, aku sama sekali tak bisa membayangkan gambarannya secara spesifik. Karena itu, setidaknya...!

"Aku, tidak akan pernah membiarkanmu bersedih! Aku menyukai senyuman Tia, jadi aku akan berusaha sekuat tenaga dan setulus hati agar senyumanmu tidak pernah meredup! Jadi, um... bagaimana?"

"...Pfft."

Tia menyemburkan tawa seolah tak sanggup lagi menahannya.

"Hei."

"Ufufu. Maaf ya, Hugh. Aku tiba-tiba ingin sedikit menjahilimu. ...Tapi, aku bisa merasakan kalau Hugh benar-benar sangat mencintaiku, lho?"

"...Haruskah kucurahkan lebih banyak lagi mulai sekarang?"

"Um..."

Tia mengangguk pelan. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya, menariknya mendekat, dan mendekatkan wajahku. Tia memejamkan mata dan mengulurkan lehernya sedikit.

...Mungkin karena pengaruh alkohol di tubuhku juga. Aku merasa tidak bisa menahannya lagi hari ini. Rem pada diriku rasanya sangat blong, dan akal sehatku sudah tertidur pulas. Kalau kami kembali ke kamar asrama dalam kondisi begini, kami mungkin akan kebablasan sampai batas akhir. Restu pernikahan juga sudah turun. Kalau cuma sedikit saja...

Tepat di saat aku hendak menyatukan bibir dengan Tia.

—BAM BAM BAM BAM BAM BAM!!!!!!!!

Badan kereta kuda dipukul berkali-kali dari luar. Aku terkesiap kaget dan menoleh ke arah suara tersebut; terlihat wajah Nona Alyssa menempel erat-erat di jendela!

"Hiii!?"

Aku dan Tia refleks saling berpelukan erat dan berteriak ketakutan. Meskipun itu orang yang kami kenal, melihat wajah menempel di kaca jendela pada malam hari sangatlah menyeramkan!

"Kalian sudah sampai di Academy, dasar Pasangan Bodoh! Jangan bermesraan di situ dan cepat turun!"

Dengan sebelah mata menyipit tajam, Nona Alyssa memelototi kami dan mendesak kami turun dengan kata-kata kasarnya. Aku tersadar, dan saat melihat ke luar jendela, kereta ternyata sudah tiba di Royal Academy sejak tadi.

Gawat, aku sama sekali tidak menyadarinya.

Saat kami berdua buru-buru turun dari kereta, Nona Alyssa mendekat dari arah belakang aku dan Tia, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu kami. Kemudian, dengan nada suara yang penuh ancaman,

"Sekalipun Yang Mulia Raja sudah memberikan izin menikah, kalau kalian kelewatan batas selama masih berstatus siswa, itu akan jadi masalah besar, tahu? Murid laki-laki yang cuti karena hamil itu adalah insiden konyol tak masuk akal sejak Royal Academy didirikan. Dan jika identitas murid itu ternyata adalah 'Orang Itu', kalian akan mencoreng dan mempermalukan wajah Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas. Kalau sampai hal itu terjadi, kau tahu persis apa yang akan terjadi dengan kepalamu sendiri, kan?"

"B-baik...!"

Tanpa sadar aku menyentuh leherku sendiri dan mengangguk dengan sangat cepat. Kalau Skill ku ketahuan, kepalaku akan terpenggal; kalau hubunganku dengan Lucretia kebablasan, kepalaku juga akan terpenggal. Setidaknya sampai kami lulus dari Royal Academy, kami harus terus menjaga hubungan yang sehat, tulus, dan menahan diri. ...Siksaan macam apa ini!

"Bocah Lugh juga, kalau sampai keterlaluan, aku tak akan punya pilihan selain memisahkanmu dari Bocah Hugh lho. Kebetulan ada seorang bocah mantan keturunan Marquis yang jatuh miskin dan harus diusir dari kamar tunggalnya. Bolehkah kalau aku jadikan dia teman sekamar Bocah Hugh?"

"I-itu tidak boleeeeh!"

"Kalau begitu, pertahankan hubungan kalian dalam batas wajar ya."

Nona Alyssa menepuk bahu kami dengan ringan lalu melompat ke kursi kusir. Mengucapkan, "Selamat malam ya~," ia pun pergi untuk mengurus kereta kudanya.

Meninggalkan kami berdua yang hanya bisa saling berpandangan canggung.

"Umm... Ayo kita kembali, Lugh."

"U-um."

Dengan langkah kaku, kami mulai berjalan berdampingan menuju asrama.

Sesampainya di kamar asrama, suasananya sama sekali tidak mendukung untuk melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda, dan malam itu pun berlalu layaknya malam-malam biasa.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close