Chapter 2: Deklarasi
Selamat Tinggal Kehidupan Santai (Slow Life)
Malam harinya. Aku dan Lugh yang
sedang menuju ruang makan untuk makan malam, dihentikan oleh Nona Alyssa yang
sepertinya sudah menunggu di depan sana. Katanya Pangeran Lucas ingin
membicarakan masalah Black Dragon, dan meminta kami untuk segera datang ke
kastil.
Suasananya tidak memungkinkan
kami untuk menolak, jadi kami langsung menuju kereta kuda yang telah disiapkan
oleh Nona Alyssa. Panggilan biasanya dilakukan diam-diam larut malam agar tidak
ada yang menyadari hubungan kami, tapi kali ini dipenuhi oleh hal-hal tak
biasa; matahari belum sepenuhnya terbenam dan hari masih terang, ditambah kami
langsung dibawa menuju Royal Castle.
Kusirnya adalah anggota Royal
Knights yang lain, dan Nona Alyssa naik ke dalam kereta bersama kami.
Ekspresinya entah mengapa
terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Umm, apa ini tidak apa-apa?
Kurasa ada beberapa
orang yang melihat aku dan Lugh naik ke kereta kuda ini..."
Hubungan kami... terutama antara
Lugh dan Pangeran Lucas seharusnya adalah rahasia tingkat tinggi. Kupikir
sebaiknya menghindari tindakan sekecil apa pun yang bisa menimbulkan
kecurigaan, tapi entah kenapa kali ini tidak ada niat untuk menyembunyikannya
sama sekali.
Di kereta kuda ini juga tergambar
lambang Royal Knights dengan ukuran sangat besar, malah memberikan kesan
sengaja ingin tampil mencolok.
"Khusus untuk hari ini tidak
masalah, lho. Lebih penting dari itu, Bocah Hugh, Skill mu sekarang adalah
Ninja , kan?"
"Eh? Ya, begitulah."
Agar bisa merespons kapan pun
waktunya jika aku harus menggunakan Skill, di dalam Royal Academy pada dasarnya
aku mengatur Skill-ku pada Ninja.
Kalau bicara soal fleksibilitas,
pilihannya hanya beberapa, tapi ada risiko seperti pendengaran yang dipertajam
malah menangkap pembicaraan yang tidak perlu, atau tanpa sengaja aku
menggunakan sehingga pergantian Skill-ku ketahuan oleh orang lain...
Aku tidak cukup percaya pada
diriku sendiri untuk berani menjamin bahwa aku tidak akan melakukan kecerobohan
semacam itu.
"Kalau begitu aman,
ya~"
Aku sama sekali tidak mengerti
apanya yang aman, tapi kelihatannya memang tidak ada masalah. Lugh yang duduk
di sebelahku juga hanya memiringkan kepalanya. Entah apa yang menunggu kami di
Royal Castle nanti...
Kereta kuda melewati gerbang
tanpa masalah dan berhenti di pelataran Royal Castle. Aku dan Lugh yang turun
dari kereta berjalan dengan penuh percaya diri menyusuri lorong kastil yang
panjang di belakang Nona Alyssa.
Terakhir kali aku masuk ke kastil
ini mungkin saat pesta malam perayaan kesembuhan Yang Mulia Raja. Aku sama
sekali tidak pernah menyangka akan bolak-balik ke Royal Castle seperti ini saat
aku masih berada di Punosis Territory.
Tak lama, Nona Alyssa berhenti di
depan salah satu ruang tamu yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Ia mengetuk
pintu dengan ritme yang unik, lalu Tuan Roan membukakan pintu dari dalam dan
mempersilakan kami masuk.
Yang duduk di sofa menunggu kami
adalah Third Pangeran dari Ries Kingdom, Lucas von Ries. Dan Mary yang
menyamar sebagai Seventh Putri, Lucretia von Ries...
"Hai, terima kasih sudah
datang."
Menanggapi sikap Pangeran Lucas
yang santai seperti biasa, aku dan Lugh meletakkan tangan di dada dan berlutut
dengan satu kaki, memberikan salam selayaknya seorang abdi.
Kalau ini pertemuan rahasia sih
tidak apa-apa, tapi karena tempatnya di Royal Castle, lebih baik berhati-hati
ekstra.
"Kami hadir memenuhi
panggilan Anda, Yang Mulia."
"Ya, santai saja. Silakan
duduk, aku akan menjelaskan situasinya."
Pangeran Lucas tersenyum puas dan
mempersilakan aku dan Lugh untuk duduk di sofa di depannya.
Sepertinya untuk saat ini kami
tidak perlu merasa tegang.
Saat aku berpikir begitu dan
melangkah ke arah sofa, tanpa sadar aku berhenti ketika melihat wajah-wajah
yang tak asing berdiri di dekat dinding.
"Ryug? Dan juga,
Teena...?"
Yang berdiri berdampingan di
dekat dinding itu adalah Ryug dan Teena, yang seharusnya merupakan Adventurer
(petualang).
Entah mengapa mereka berdua
mengenakan baju zirah Royal Knights.
"Lama tidak jumpa, Tuan
Hugh. Nona Lugh."
"Lama tak jumpaaaa~... ya
walau sebenarnya baru sekitar dua minggu lalu, ya."
"Ah, benar juga."
Ini pertama kalinya kami bertemu
sejak berpisah di tengah sesi latihan lapangan.
Karena masalah Black Dragon,
penjelajahan Dorefon Great Labyrinth dihentikan, dan kontrak para Adventurer
yang ikut serta diakhiri lebih cepat dari jadwal. Kalau tidak salah dengar,
semua Adventurer dipekerjakan kembali sebagai pengawal atas arahan Pangeran
Lucas, dan mereka kembali ke ibukota selangkah lebih awal dari kami.
Jangan-jangan kontrak itu masih
berlanjut?
"Aku meminta mereka untuk
menjadi pengawal pribadiku. Royal Knights juga sedang kekurangan tenaga, dan
punya banyak orang berbakat tidak akan merugikan, kan? Kau juga tahu kemampuan
mereka, bukan?"
"Ya, tentu saja."
Aksi pertarungan mereka di
Dorefon Great Labyrinth masih segar di ingatanku. Meskipun belum sekuat Tuan
Roan atau Nona Alyssa, tak diragukan lagi mereka memiliki kemampuan yang lebih
dari cukup untuk bertugas sebagai pengawal pribadi.
"Ngomong-ngomong, baju itu terlihat cocok untuk kalian berdua."
"Iya. Ryug dan Teena
kelihatan keren."
"B-begitu ya...?"
"Kalau dipuji sama Tuan Hugh
dan Nona Lugh rasanya jadi malu nih~"
Ryug dan Teena sama-sama merona
merah dan menggaruk kepala mereka untuk menutupi rasa malu.
Katanya sih mereka saudara beda
ibu, tapi wajar kalau mereka kakak beradik. Tingkah mereka saat tersipu
benar-benar mirip.
"Fufu. Hugh juga kadang
melakukan gerakan itu, lho~?"
"Eh, benarkah?"
"Iya."
Aku sama sekali tidak
menyadarinya, tapi kalau Lugh yang bilang, pasti benar.
Saat aku berpikir agak memalukan
juga jika hal itu ditunjukkan, tanpa sadar tangan kananku nyaris bergerak ke
arah kepalaku. Ooh, ternyata aku benar-benar melakukannya.
"...Ah, ehem. Bisakah kita
masuk ke topik utama sekarang?"
Pangeran Lucas berdeham
dan memotong obrolan kami yang masih berdiri. Gawat, sepertinya kami terlalu
asyik mengobrol. Mary yang duduk di sebelahnya juga memasang ekspresi agak
canggung.
Setelah aku dan Lugh
duduk di sofa, Pangeran Lucas memulai pembicaraannya dengan, "Nah."
"Alasan aku
memanggil kalian berdua tidak lain karena Ayahanda mengatakan ingin mendengar
cerita langsung terkait masalah Black Dragon Dorefon."
"Eh!? Aya... Yang Mulia Raja?"
Lugh membelalakkan matanya terkejut.
Ah... begitu ya. Pantas saja kami dibawa terang-terangan menggunakan kereta
kuda Royal Knights. Jika itu adalah instruksi Yang Mulia Raja, tidak akan ada
yang mencurigai hubungan kami dengan Pangeran Lucas.
Dan tidak ada yang tak wajar juga jika Pangeran Lucas, yang kebetulan berada
di dekat lokasi kebangkitan Black Dragon, menemui kami lebih dulu sebelum
Baginda.
"Jika catatan yang ditinggalkan Pamanku benar, itu berarti ada
seseorang yang mencoba membangkitkan Black Dragon untuk mengancam kerajaan. Ini
adalah situasi kritis bagi Ries Kingdom. Untuk memastikan kredibilitas catatan
itu, Ayahanda bilang ia ingin mendengar langsung dari kalian."
"Maksudnya kesaksian kami
akan memperkuat keabsahan catatan itu?"
"Ada banyak orang yang
mendengar raungan Black Dragon Dorefon, tapi yang melihat wujudnya secara
langsung hanya kalian berdua."
Aku juga sempat membaca sedikit
catatan yang ditinggalkan oleh Viscount Dorefon. Pedagang yang menghasut
Viscount Dorefon itu sudah pasti adalah sosok yang juga berhubungan dengan
Lechery dan Malicious.
Mendalangi serangkaian insiden,
bahkan hingga berhasil membangkitkan Black Dragon.
Kalau orang berbahaya semacam itu
dibiarkan bebas, entah bencana macam apa yang akan menimpa kerajaan. Begitu
keabsahan catatan tersebut dapat dipastikan, tindakan penanganan yang tepat
akan sangat dibutuhkan.
Kalau mau, aku sebenarnya bisa
saja melacak keberadaannya menggunakan Skill ...
Seolah membaca pikiranku, Pangeran
Lucas menggelengkan kepalanya pelan. Lawan kita belum tentu bergerak sendirian,
lagipula dia adalah orang yang punya cara untuk membangkitkan seekor Black
Dragon.
Ditambah lagi, Skill-nya
kemungkinan besar mirip dengan milikku.
Bukan tidak mungkin sang
pemburu malah menjadi yang diburu...
"Saya mengerti.
Tapi..."
Tidak mungkin kami
menjelaskan seluruh kejadian yang sebenarnya begitu saja, kan...
Alasan kami berhasil
selamat setelah berhadapan dengan Black Dragon adalah berkat Skill Brainwash.
Kalau kami bersaksi dengan menyamarkan bagian itu, bukankah keabsahannya justru
akan jadi lemah...?
"Tidak apa-apa, aku
yang akan mem-backup kalian jadi tak perlu khawatir."
Karena ada Mary, Ryug,
dan yang lainnya di sekitar kami, aku tidak bisa menyuarakan kekhawatiranku
secara spesifik, tapi Pangeran Lucas tampaknya langsung memahaminya. Senyum
lembutnya entah kenapa terlihat agak mencurigakan, tapi tak diragukan lagi dia
adalah orang yang bisa diandalkan.
Karena sudah dipanggil oleh Yang
Mulia Raja, kami juga tidak mungkin minta pulang...
Saat ini aku tidak punya pilihan
selain mempercayai Pangeran Lucas.
"Yang Mulia, sudah
waktunya."
Tuan Roan yang berada di lorong
membuka pintu dan memanggil Pangeran Lucas.
Sepertinya persiapan Yang Mulia
Raja sudah selesai.
"Kalau begitu, ayo kita
pergi."
Mengikuti Pangeran Lucas dan Mary
yang menyamar sebagai Lucretia, aku dan Lugh berjalan keluar dari ruang tamu.
Di belakang kami, Tuan Roan dan Nona Alyssa ikut mengekor. Ryug dan Teena
sepertinya tetap berjaga di ruangan tersebut.
Terus berjalan di belakang Pangeran
Lucas dan Mary, tak lama kemudian sebuah pintu ganda besar dengan ukiran mewah
terlihat di hadapan kami. Di kedua sisi pintu berdiri penjaga berbaju zirah,
dan begitu melihat Pangeran Lucas, mereka membuka pintu tersebut dengan gerakan
yang sangat seirama.
Karpet merah yang terbentang dari
lorong terus berlanjut ke dalam ruangan, menuju undakan tangga di ujung sana.
Di atas tangga itu terdapat
singgasana, di mana Yang Mulia Raja duduk bertahta sambil menatap lurus ke
bawah ke arah kami.
Di kedua sisi karpet,
berjejer petinggi-petinggi kerajaan termasuk sang Prime Minister, Marquis
Prime. Dan di sana juga terlihat sosok Second Pangeran, Pangeran Bruto, yang
sedang bersaing memperebutkan hak takhta dengan Pangeran Lucas.
...Seriusan, situasi
semacam ini benar-benar di luar dugaan. Aku tadinya berasumsi bahwa kami akan
bertemu berdua saja dengan Yang Mulia Raja dan Marquis Prime di ruang tertutup,
persis seperti saat pesta malam waktu itu.
Dari deretan petinggi
kerajaan di sisi karpet, aku merasa ditatap dengan pandangan yang seolah sedang
menilaiku. S-sungguh, situasi ini luar biasa menegangkan...!?
Saat aku menoleh ke arah
Lugh di sebelahku untuk mencari pertolongan, Lugh hanya tersenyum manis
kepadaku.
"(Percayalah pada Kak Lucas,
oke?)"
Gumamnya pelan. Kalau sudah
begini, aku memang harus mempercayainya...
Pangeran Lucas dan Mary maju
hingga jarak sekitar dua meter sebelum tangga, lalu diam-diam berlutut satu
kaki dan menundukkan kepala. Lugh juga mengambil postur yang sama, jadi aku pun
buru-buru mengikutinya.
"Ayahanda, saya membawa
pewaris keluarga Punosis, Hugh Punosis, serta pewaris keluarga Bect, Lugh
Bect."
"Umu. Kerja bagus, Lucas.
Mundurlah dan berdiri di sisi bersama Lucretia."
"Baik."
Pangeran Lucas dan Mary berdiri
lalu bergabung dalam barisan para petinggi kerajaan di samping karpet.
"Angkat wajah kalian, Hugh Punosis, Lugh Bect."
Sesuai titah Yang Mulia Raja, aku dan Lugh mengangkat wajah. Ekspresi Yang Mulia Raja yang menatap kami dari
singgasana tampak tegas dan keras. Wibawa dan tekanan auranya luar biasa
menakutkan, sama sekali tak bisa dibandingkan dengan sosoknya saat terbaring
sakit maupun saat di pesta perayaan kesembuhannya.
"Mari kita lewati basa-basi
yang berbelit-belit. Langsung saja, aku ingin bertanya tentang Dragon yang
kalian temui di Dorefon Great Labyrinth. Sebutkan ciri-ciri wujud dan
karakteristiknya."
Tepat saat Yang Mulia Raja
mengatakan itu, Marquis Prime yang berada di posisi terdekat dengan Baginda
mengeluarkan sebuah gulungan perkamen. Apa dia akan mencocokkan kesaksian kami
dengan catatan masa lalu...?
Bertukar pandangan dengan Lugh,
aku pun memutuskan untuk mengambil alih pembicaraan. Sambil menahan rasa gugup,
aku mulai memaparkan ciri-ciri Black Dragon tersebut. Panjang totalnya sekitar
tiga puluh meter, memiliki sisik hitam pekat dan mata kuning, dan seterusnya...
Karena kami langsung
mengalahkannya dengan skill sesaat setelah berpapasan di dalam gua, tidak
banyak detail informasi yang bisa kusampaikan. Aku tidak mungkin
membesar-besarkan ceritanya dengan mengatakan ukurannya sebesar gunung, atau
naga itu menyemburkan napas racun... Jujur saja, aku hanya menyampaikan
informasi yang akurat.
Para petinggi yang berjejer
menunjukkan ekspresi keheranan seolah berkata "Hanya itu?". Bahkan
ada beberapa orang yang menatap kami dengan pandangan curiga. Yah, tidak heran
kalau kami diragukan...
"Bagaimana, Marquis
Prime?"
"Tidak ada perbedaan antara
catatan masa lalu dan kesaksian Hugh Punosis. Kalau harus menyebut bedanya,
ukurannya sedikit lebih kecil dari yang tercatat, tetapi ukuran di catatan masa
lalu pun sepertinya hanya berdasarkan perkiraan mata belaka."
"...Hmm. Kalau begitu,
haruskah kita menyimpulkan bahwa Black Dragon Dorefon benar-benar telah
bangkit, sesuai dengan catatan yang ditinggalkan oleh Victim?"
"Mohon tunggu sebentar, Your Majesty. Apakah Anda sungguh berniat
mempercayai kesaksian yang mencurigakan seperti ini?"
Orang yang menyuarakan penolakan atas gumaman Yang Mulia Raja adalah seorang
bangsawan pria paruh baya bertubuh kurus.
Pria yang terlihat relatif muda di antara jajaran petinggi lainnya itu,
melangkah maju ke depan Yang Mulia Raja sembari menatap kami dengan pandangan
yang merendahkan.
"Seandainya catatan yang ditinggalkan oleh penjahat pendosa Victim itu
benar, maka ini sudah pasti merupakan krisis tak terduga yang dapat mengguncang
negara. Namun, apakah pantas
menentukan arah kebijakan negara berdasarkan kesaksian yang kebenarannya sangat
tidak jelas seperti ini?"
"Oh. Count Gadiness, apakah
engkau mengisyaratkan bahwa anak-anak ini berbohong? Kalau begitu, suara
raungan naga yang terdengar di wilayah Dorefon itu apa?"
"Kemungkinan besar mereka
hanya salah paham mendengar suara gemuruh bumi atau semacamnya. Seandainya
Black Dragon Dorefon sungguh bangkit, dan anak-anak ini melihatnya dengan mata
kepala sendiri, hal itu sangatlah aneh. Kenapa mereka berdua ada di sini
sekarang? Bukankah seharusnya saat ini mereka sudah meleleh dan hancur di dalam
perut Black Dragon itu?"
Cara bicara Count Gadiness memang
menyebalkan, tapi keraguannya itu sangat beralasan. Secara logika, fakta bahwa
aku dan Lugh—yang bertemu dengan Black Dragon di dalam Dungeon—masih hidup,
adalah hal yang terlampau tidak wajar.
Bagaimana aku harus
menjelaskannya...? Apa memang mustahil menutupi fakta tentang Skill ...?
Saat aku melirik sejenak ke arah Pangeran
Lucas, dia dengan tenang mengangkat tangannya.
"Mohon izin untuk berbicara,
Ayahanda."
"Kuizinkan. Bicaralah, Lucas."
"Baik. Jawaban atas keraguan Count Gadiness sangatlah jelas. Sangat
sederhana, Count. Hugh Punosis telah berhasil membunuh Black Dragon
Dorefon."
"...Apa katamu? Anak kecil yang tak jelas asal-usul kebangsawanannya
ini?"
"Skill miliknya memiliki daya hancur yang sama sekali berbeda
tingkatannya dengan yang pernah ada selama ini. Kudengar saat ujian masuk Royal
Academy, dia bahkan bisa melelehkan besi dalam sekejap mata. Dengan tersebut,
dia telah membakar Black Dragon Dorefon hingga menjadi abu."
Mendengar argumen Pangeran Lucas yang fasih, Count Gadiness menatapnya
dengan penuh rasa tidak percaya.
Para petinggi yang hadir di ruangan itu pun sama sekali tidak terlihat
percaya pada ucapan Pangeran Lucas.
"Lucas, apakah ada bukti yang cukup kuat untuk mendukung klaim bahwa
Hugh Punosis telah mengalahkan Black Dragon Dorefon?"
Menjawab pertanyaan Yang Mulia Raja, Pangeran Lucas menyeringai dengan
senyuman yang benar-benar terlihat mencurigakan di bibirnya.
"Ya. Tentu saja, Ayahanda. Apakah milik Hugh Punosis memiliki kekuatan
yang cukup untuk membunuh Black Dragon Dorefon, --bagaimana kalau kita buktikan
dan lihat secara langsung sekarang juga?"
---
Di bawah panduan Pangeran Lucas yang mengatakan bahwa persiapan sudah
selesai, kami semua diarahkan dari ruang audiensi menuju halaman tengah yang
luas di dalam tembok kastil. Meskipun disebut halaman, tempat ini bukanlah
taman, melainkan ruang luas yang dilapisi tanah putih mirip lapangan sekolah
dasar.
Mungkin tempat ini adalah tempat latihan bagi para penjaga yang bertugas
mengamankan kastil, atau ruang yang dimanfaatkan sebagai barak prajurit jika
harus bertahan dari kepungan musuh dalam keadaan darurat.
Di halaman tengah tersebut, api unggun dinyalakan mengelilinginya, dan di
bawah langit malam, sebuah patung raksasa disinari dengan cahaya kemerahan.
Bentuknya meniru sosok naga yang merayap di tanah; meskipun detailnya tampak
kasar, ukurannya tidak jauh berbeda dengan Black Dragon yang kulihat saat itu.
"Benda ini
direproduksi dengan mengacu pada kesaksian Hugh Punosis. Bentuk kasarnya dibuat
dari batu, dan kemudian dilapisi besi dari luar. Mustahil untuk
menghancurkannya dengan Skill biasa."
"Pantas saja
kudengar halaman tengah ini cukup berisik sejak beberapa hari yang
lalu..."
Yang Mulia Raja meletakkan
tangannya di dahi dan menghela napas.
Kalau patung ini disiapkan hanya
untuk membuktikan kekuatan Skill-ku, ini sungguh terlalu berlebihan. Di sudut
halaman tengah, sekitar lima anggota Royal Knights sedang duduk terkapar
kelelahan. Mungkin ini dibuat dengan mempekerjakan Skill mereka. Kerja keras
yang bagus, Semuanya...
"Count Gadiness, silakan
sentuh dan periksa sendiri,"
Didesak oleh Pangeran Lucas,
Count Gadiness mendekati patung Black Dragon tersebut. Dia menyentuh
permukaannya dengan tangan, menempelkan telinganya sambil mengetuk-ngetuk
ringan, sepertinya untuk memastikan bahwa bagian dalamnya tidak kopong.
Beberapa orang selain Count Gadiness juga melakukan hal serupa, memeriksa
dengan teliti dari kepala hingga ujung ekornya.
"...Sepertinya ini
bukan barang palsu. Namun, kalau hanya membuat benda ini sedikit hangus, kau
belum bisa dikatakan telah mengalahkan Black Dragon Dorefon."
"Aku tahu. Makanya aku
memintamu untuk memeriksanya sendiri."
Pangeran Lucas menoleh ke arahku
dan tersenyum manis. Tiba-tiba dipanggil ke kastil, dihadapkan langsung pada Yang
Mulia Raja, dan berujung dipaksa melakukan hal yang tak masuk akal tanpa
diskusi sebelumnya benar-benar membuat repot.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka
memamerkan Skill-ku, tapi...
Meskipun begitu, kakak iparku ini
selalu banyak membantuku dalam berbagai hal.
Kalau dengan ini aku bisa sedikit
membalas budinya, aku tidak keberatan untuk bekerja sama.
"Karena ini berbahaya,
bisakah kalian menjauh?"
Untuk berjaga-jaga, aku meminta
para petinggi di sekitarku untuk menjaga jarak. Aku sendiri mengambil jarak
sekitar lima puluh meter dari patung Black Dragon tersebut, dan meminta Pangeran
Lucas, Yang Mulia Raja, serta Pangeran Bruto untuk mundur sejauh tiga puluh
meter di belakangku.
"Berlebihan sekali."
Beberapa orang, termasuk Count
Gadiness, tampaknya berniat menonton dari jarak yang tidak jauh berbeda
denganku. Karena aku sendiri tidak tahu seberapa kuat daya hancur ku jika
dikerahkan sepenuhnya, demi keselamatan aku ingin mereka mundur lebih jauh lagi...
Yah, walau aku beri tahu pun
mereka pasti tidak akan mendengarkan.
"Semangat ya, Hugh!"
Lugh menyemangatiku sambil
mengepalkan kedua tangannya erat di depan dada.
"Terima kasih, Lugh. Kalau
di dekat sini berbahaya, maukah kau menonton dari sisi Yang Mulia Raja dan yang
lainnya?"
"Um!"
Lugh kembali tersenyum kepadaku
sambil berkata, "Semangat ya!" dan berlari menuju Yang Mulia Raja dan
Pangeran Lucas.
Aku masih belum tahu sebesar apa
wujud kekuatan penuhku, tapi kalau mereka mundur sejauh itu seharusnya aman.
...Baiklah, mari kita lakukan.
Aku mengembuskan napas dan
memusatkan konsentrasi. Aku memundurkan kaki kiriku setengah langkah dengan
tubuh menyamping, lalu mengarahkan lengan kananku ke patung Black Dragon seolah
membidiknya.
"!"
—Seketika itu juga, pilar api
raksasa menembus langit malam Royal Capital.
Dengan menyebarkan hembusan angin
panas, api neraka yang membara menelan patung Black Dragon itu dan menjulang
tinggi ke angkasa. Saking panasnya, tanpa sadar aku menutupi wajahku dengan
kedua tangan, dan seketika itu juga pilar api menghilang seolah tak pernah
terjadi apa-apa.
Ah... Gawat. Karena terkejut oleh
rasa panas itu, tanpa sadar aku langsung menghentikan Skill-ku.
Aku menurunkan tanganku dan
melihat ke arah patung Black Dragon. Dari balik asap putih, wajah replika Black
Dragon itu muncul. Besi di permukaannya memanas hingga memerah dan meleleh
jatuh berlumuran, namun batu di bagian dalamnya masih mempertahankan bentuk
aslinya.
Haruskah kulepaskan satu tembakan
lagi...? Pikirku, tapi ketika asap putih tersapu oleh angin, keseluruhan
wujudnya mulai terlihat jelas. Patung Black Dragon itu menyisakan bagian kepala
dan ekornya, sementara bagian tubuh utamanya telah menjadi cairan merah seperti
magma dan hancur meleleh.
"Uwaa..."
Meskipun aku sendiri yang
melakukannya, aku dibuat merinding oleh kekuatan api yang terlampau mengerikan
itu.
Secara perasaan, aku belum merasa
benar-benar mengeluarkan kekuatan penuh . Aku hanya mengaktifkannya sesaat, dan
secara refleks malah mengurangi kekuatannya karena angin panas. Kalau aku sudah
memakai anti-panas dan tidak ada orang sama sekali di sekitarku, mungkin aku
bisa mengeluarkan pilar api yang jauh lebih besar lagi.
Tunggu, walaupun aku bisa
mengeluarkannya, benda ini mau kugunakan buat melawan apa coba...
"Hugh!"
"Uwah!?"
Saat aku sedang berdiri terpaku,
aku merasakan benturan di pinggangku dari belakang hingga aku terhuyung. Saat
aku melengkungkan tubuh dan melihat ke belakang, Lugh sedang memeluk
pinggangku, sama seperti saat ujian masuk tempo hari.
"Kau memang luar biasa!
Apinya buwaah begitu! Hampir saja menyentuh bulan lho!"
Mendengar Lugh yang
menceritakannya dengan nada penuh semangat, aku pun menghembuskan napas lega.
Aku baru saja memperlihatkan pemandangan gila yang wajar jika membuat siapa pun
ketakutan. Meskipun begitu, gadis ini sama sekali tidak menunjukkan gelagat semacam
itu. Dia menganggapnya sungguh luar biasa dari lubuk hatinya. Perasaan itu
tersampaikan padaku, dan hatiku terasa langsung ringan.
Begitu perasaanku menjadi tenang,
aku punya cukup ruang untuk melihat sekeliling. Saat itulah, aku menyadari
bahwa Count Gadiness—yang berada di jarak tak jauh berbeda dariku—telah jatuh
terduduk.
Gawat. Jangan-jangan dia terluka
karena perbuatanku...?
"Apakah Anda baik-baik saja, Count Gadiness?"
Ketika aku dan Lugh berlari mendekat untuk bertanya, Count Gadiness yang
masih terduduk menengadah menatapku dan menjerit kecil, "Hiii!".
"J-jangan mendekat,
d-dasar monster...!"
Dengan raut wajah sangat
ketakutan, Count Gadiness menyeret bokongnya mundur perlahan, berusaha
menjauhiku meski hanya sedikit.
"Tunggu sebentar,
jangan menyebut Hugh seperti—"
"Tidak apa-apa,
Lugh."
Justru inilah reaksi yang
normal. Selama ini aku hanya terlalu diberkati dengan lingkungan dan
orang-orang di sekitarku; namun fakta bahwa aku ini adalah monster tidak dapat
terbantahkan.
...Yah, biarpun begitu,
dipanggil monster secara langsung ke depan mukaku lumayan menyakitkan juga.
Lugh menggumam,
"Tapi..." dengan suara sedih. Ekspresi wajahnya yang terlihat
seolah-olah dirinyalah yang terluka itu membuat dadaku terasa sesak
menyakitkan. Alih-alih caci maki yang kuterima, membuat Lugh memasang wajah
seperti itu justru jauh lebih menusuk perasaanku.
Nah, harus kuapakan ini... eh
bukan. Apa yang harus kulakukan...
Kalau dia sudah setakut ini, apa
pun yang kukatakan pasti hanya akan dibalas dengan teriakan.
Saat aku sedang kebingungan,
terdengar suara langkah kaki mendekat.
Ketika aku menoleh, Pangeran
Lucas sudah melangkah masuk dan berdiri tepat di sampingku. Ia meletakkan
tangannya di bahuku dan menempelkan tubuhnya seakan memamerkan kedekatan kami.
"Bagaimana, Count Gadiness. Dengan ini, kau bisa percaya bahwa Hugh
telah membunuh Black Dragon Dorefon, kan?"
"I-itu..."Count Gadiness yang mencoba melontarkan bantahan melirik
sejenak ke arah sisa patung Black Dragon, menelan ludahnya begitu memastikan
magma yang masih mendidih bergejolak di sana.
Kemudian dalam kebisuan, ia menganggukkan kepalanya berulang kali dengan
cepat.
"Baguslah. Kalau begitu, tidak ada keberatan kalau kita menentukan
kebijakan masa depan berdasarkan catatan yang ditinggalkan Victim, kan?"
"...Kuh. Saya tidak, keberatan."Count Gadiness menjawab dengan
suara yang seakan diperas keluar sambil menggertakkan giginya.
...Begitu ya. Percaya bahwa aku membunuh Black Dragon itu berarti sama saja
dengan mempercayai catatan milik Viscount Dorefon. Meskipun ini terasa seperti sedikit pengalihan
isu, persiapan sebesar ini pasti sengaja dilakukan karena Pangeran Lucas
mengincar kesimpulan itu sedari awal.
Dengan pengakuan dari Count
Gadiness, petinggi lainnya pun sepakat dengan pendapat Pangeran Lucas.
Kini Ries Kingdom telah
memutuskan arah kebijakannya ke depan berdasarkan catatan Viscount Dorefon.
Saat para petinggi satu per satu
mulai meninggalkan halaman tengah, aku disapa oleh seseorang.
"Hugh Punosis, kan?
Penggunaan Skill mu itu mencolok sekali."
"Yang Mulia
Bruto..."
Orang yang menyapaku
adalah seorang pria bertubuh tangguh dengan rambut biru dan anting besar
berbentuk bulan sabit di salah satu telinganya.
Dia adalah Pangeran Keduayang
bersaing memperebutkan hak suksesi takhta dengan Pangeran Lucas, Yang Mulia
Bruto.
"Skill sekuat itu
bahkan belum pernah kulihat di jajaran militer. Bagaimana, kau tidak mau
mengkhianati Lucas dan memihak padaku? Kalau kau mau, aku bisa segera memberimu
posisi Jenderal sekarang juga."
"...Kakakanda,
bisakah Anda tidak membajak orangku?"
"Hei, Roan dan Alyssa sudah
berada di pihakmu. Bakal
tidak adil kalau aku tidak mendapatkan setidaknya satu monster di luar nalar
ini, kan?"
"Kurasa mengumpulkan
orang-orang berbakat juga merupakan salah satu kualitas seorang raja.
Sayangnya, Hugh juga merupakan murid pedang Alyssa. Singkatnya, dia adalah
bawahan dari bawahanku. Aku tak bisa menyerahkannya padamu, Kakakanda."
Pangeran Lucas menyela di
antara aku dan Pangeran Bruto, menunjukkan postur tegas tak mau mengalah. Tentu
saja aku sama sekali tidak berniat beralih kubu memihak Pangeran Bruto
sekarang, tetapi sikap Pangeran Lucas sungguh membuatku senang.
"Mohon maaf, Pangeran
Bruto. Meskipun itu tawaran yang sangat baik, saya telah bersumpah setia kepada
Pangeran Lucas dan Putri Lucretia."
"Oh, jadi kau
mengincar Lucretia? Kalau begitu, aku bisa mengabulkannya untukmu jika aku
menjadi raja, lho?"
"Putri Lucretia
tidak menginginkan hal tersebut."
Lugh mengangguk-angguk
setuju di sebelahku. Jika aku mengkhianati Pangeran Lucas demi menjadikan Pangeran
Bruto raja berikutnya, tak ada jaminan dia akan menepati janji lisannya, dan
tidak ada jaminan juga Pangeran Lucas yang kalah dalam persaingan akan
baik-baik saja. Tawaran Pangeran Bruto sama sekali tidak ada untungnya.
Mendengar penolakanku, Pangeran
Bruto menghela napas dan mengangkat bahunya.
"Kalau sudah ditolak
ya apa boleh buat. Yah, aku memang tidak menaruh harapan dari awal. Namun,
sebaiknya kau berhati-hati dengan tingkah lakumu ke depannya. Kekuatan yang
berlebihan akan menghancurkan diri sendiri, lho."
Sambil berkata
"Sampai jumpa," Pangeran Bruto berbalik dan pergi dengan lambaian
tangan.
...Kekuatan yang
berlebihan akan menghancurkan diri sendiri, ya.
"Aku memang
sependapat dengan Kakakanda, tapi kau seharusnya sudah menyadari hal itu sejak
lama. Tak perlu dipikirkan."
"...Kuharap
begitu."
Aku menjawabnya sembari
tersenyum masam atas penghiburan Pangeran Lucas.
Kurasa aku hanya bisa berdoa
bahwa kata-kata Pangeran Bruto hanyalah peringatan biasa...
Para petinggi dan Pangeran Bruto
telah pergi, meninggalkan kami sendirian di halaman tengah.
Saat aku menatap kosong ke arah
Royal Knights yang mulai membereskan sisa patung Black Dragon, terdengar bunyi
"Kyuu" kecil di sebelahku.
Ketika aku menoleh, Lugh sedang
memegangi perutnya dengan pipi yang memerah.
"A-aku lapar..."
"Ngomong-ngomong, kita
memang belum makan malam ya."
Mengingat kembali, kami ditegur
oleh Nona Alyssa di depan ruang makan asrama dan langsung diseret ke Royal
Castle. Karena harus menghadap Yang Mulia Raja dan berbagai urusan lainnya, aku
malah benar-benar lupa.
Karena urusan panggilan ke kastil
ini sudah selesai, kalau kita kembali sekarang, apa masih sempat tiba sebelum
jam tutup ruang makan asrama...? Ya meskipun tidak makan malam sehari tak akan
bikin mati, aku ingin menghindari tidak bisa tidur karena perut keroncongan.
"Pangeran Lucas, kami juga
ingin segera kembali ke Academy."
"Maaf, tapi bisakah kalian
menemaniku sedikit lebih lama? Sebenarnya makan malam untuk kalian berdua juga
sudah disiapkan di sini."
"Makan malam kami?"
"Ya. Ayahanda... Yang Mulia
Raja bilang bahwa beliau ingin makan bersama kalian."
Mendengar kata-kata Pangeran
Lucas, tanpa sadar aku melirik ke arah Yang Mulia Raja. Baginda, yang tadinya
sedang mengobrol serius dengan Marquis Prime, tampak menyadari tatapanku dan
membalas dengan senyuman santai.
Y-yang benar saja... Aku sama
sekali tak pernah menyangka akan tiba harinya aku berbagi meja makan dengan Yang
Mulia Raja.
Setelah itu, di bawah arahan Pangeran Lucas, aku dan Lugh dipersilakan masuk
ke dalam suatu ruangan di Royal Castle.
Tempat itu sepertinya adalah ruangan bagi tamu kehormatan kastil untuk
bersantap bersama Baginda Raja.
Mungkin sebagai bentuk pertimbangan agar bisa makan dengan tenang, ruangan
ini tidak terlalu luas. Perabotan serta hiasan berupa lukisan sangat minim. Di
tengah ruangan, terdapat meja yang berlapis taplak putih, dengan sebuah kursi
luar biasa mewah yang disiapkan di posisi kepala meja.
Aku dan Lugh duduk berdampingan, sementara Pangeran Lucas dan Mary yang
menyamar sebagai Putri Lucretia duduk berseberangan dengan kami. Saat kami
duduk, seorang pemuda berseragam Butler yang berjaga di sudut ruangan segera
bertanya, "Anda ingin memesan minuman apa?"
Tentu saja tidak ada
daftar menu di sini. Mungkin ia akan menyediakan apa pun yang kami sebutkan,
tapi karena suasana yang tegang, aku tak bisa langsung membuka mulut.
"Umm..."
"Bawakan Wine paling
mahal di kastil ini-desu!"
Saat aku masih bingung,
Mary tiba-tiba membuat pesanan konyol. Pria Butler itu bertanya kepada Pangeran
Lucas dengan singkat tanpa mengubah sedikit pun ekspresi wajahnya, "Apakah
Anda berkenan?"
"Bawakan yang urutan
ketiga saja."Pangeran Lucas membalas dengan senyum meringis, sementara
Butler itu menunduk sopan dan keluar dari ruangan.
Meskipun yang paling
mahal ketiga, harga Wine itu pasti sudah tak terbayangkan...
Sayang sekali
keteganganku membuatku tidak bisa membayangkan diri untuk santai menikmati
aroma dan rasanya.
"Kau tidak perlu
setegang itu, ini bukan pertemuan resmi kenegaraan. Sedikit ketidaksopanan akan
dimaafkan."
"Y-ya, mungkin
memang begitu, tapi..."
Lebih tepatnya, bukan
makan malam bersama Yang Mulia Raja yang membuatku gugup...
Aku melirik Lugh yang
duduk di sebelahku.
Lugh sama sekali tak
terlihat gugup; matanya berbinar riang sembari menyipitkan matanya, "Aku
tak sabar menunggu Wine-nya~".
...Singkat cerita, aku
dan Lucretia mulai berpacaran gara-gara rentetan kejadian di Dorefon Great
Labyrinth. Kami bahkan sudah berjanji untuk menikah. Dengan kata lain, Yang
Mulia Raja ini adalah ayah dari pacarku.
Walau bukan dalam rangka
"perkenalan calon mantu", tak ada alasan lain selain itu yang
membuatku setegang ini.
Mungkin menyadari dari
mana asal tatapanku, Pangeran Lucas bergumam, "Oh, begitu rupanya."
"Kalau begitu kau malah tak
perlu gugup sama sekali. Kau ingat Butler tadi? Dia tidak tahu apa-apa soal
masalah 'itu'."
"Maksud Anda masalah
'itu'..."
Walaupun ada beberapa tebakan di
benakku, melihat kondisinya, aku mulai mengerti apa jawaban yang dimaksud.
Yang duduk mengelilingi meja ini
adalah aku, Pangeran Lucas, Lugh, dan Mary yang menyamar jadi Lucretia. Yang
Mulia Raja tahu bahwa Lucretia yang asli sedang duduk di sana dengan menyamar
sebagai Lugh.
Maka secara logika, sangat tidak
wajar jika seorang pelayan seperti Mary ikut duduk semeja bersama kami.
"Namanya adalah Fif Bride.
Keluarga Bride telah turun-temurun mengabdi untuk mengurus kebutuhan pribadi
Raja. Hasil kerja Fif sangat sungguh-sungguh, dan bukannya aku tidak
memercayainya, tapi sebaiknya rahasia ini hanya diketahui oleh sesedikit mungkin
orang."
Hanya segelintir orang yang tahu
bahwa Lucretia masuk ke Royal Academy dengan menyamar sebagai lelaki. Aku
memang sering merasa ngeri melihat tingkah dan ucapan Lucretia sendiri, tapi
berkat penjagaan dan kehati-hatian ketat dari pihak luar seperti inilah
rahasianya tidak pernah terbongkar...
"Jangan khawatir, masalah
yang ingin dibicarakan Ayahanda adalah soal urusan lain. ...Yah, mungkin yang
ini justru akan lebih sulit bagimu."
"...Ah, begitu."
Ucapan Pangeran Lucas ini
mengonfirmasi semua firasatku.
Beberapa saat kemudian, pintu
ruangan terbuka dan Yang Mulia Raja masuk.
Di belakangnya, Tuan Fif
mengikuti sambil membawa sebotol Wine yang sekilas pun terlihat sangat mahal.
"Maaf membuat kalian
menunggu. Si Prime itu, makin bertambah usianya omongannya malah makin panjang
dan membuat repot saja. Aku akan menyuruh mereka segera menyiapkan
hidangannya."Yang Mulia Raja duduk di kursi kepala meja, dan memberi
isyarat tangan agar kami yang berdiri untuk kembali duduk.
Sembari menenangkan diri, kami
menunggu Fif membagikan makanan.
Dalam jeda itu, Yang Mulia Raja
mengarahkan mata biru lautnya kepadaku.
"Nah, entah sudah seberapa
banyak rasa terima kasih yang harus kuberikan padamu, Hugh. Pertama-tama soal
urusan tadi. Berkatmu kami bisa menyatukan arah kebijakan. Aku benar-benar
berterima kasih."
"Tidak... Saya sangat senang
jika saya bisa berguna."
Situasi Ries Kingdom sekarang
dipenuhi oleh orang-orang licik yang bergerak di balik bayangan, entah itu yang
menyebarkan obat berbahaya untuk mengubah manusia menjadi monster, atau yang
membangkitkan Black Dragon Dorefon yang pernah membawa malapetaka besar di masa
lalu...
Menurutku sangat esensial bagi
seluruh Ries Kingdom—bukan cuma Pangeran Lucas dan Royal Knights—untuk bersatu
memikirkan solusinya. Kalau aku bisa sedikit membantu dalam proses itu,
perlakuan dianggap monster tadi sungguh tidak ada apa-apanya.
"Mulai sekarang, Ries
Kingdom akan menentukan kebijakannya dengan memandang catatan yang ditinggalkan
Victim sebagai kebenaran. Dalam hal itu, fakta bahwa engkau telah membunuh
Black Dragon Dorefon tak punya pilihan selain dipublikasikan. Aku mengundangmu
ke sini hari ini untuk memastikan keputusanmu."
"Keputusan saya...?"
"Benar. Hugh Punosis,
sebagai orang yang membunuh Black Dragon Dorefon, aku ingin menunjukkan
kehadiranmu ke dalam dan ke luar negeri. Maukah kau menjadi Hero negara
ini?"
Hero... Pahlawan.
Gelar itu kedengaran luar biasa
merepotkan, rasanya aku sangat ingin menolak bulat-bulat.
Tapi, aku tak mungkin menghindari
publikasi itu... Seberapa besar pun perlindungan dan pertimbangan yang akan
mereka beri, eksistensi Hero yang membunuh sang Black Dragon mutlak diperlukan
guna menjamin kredibilitas catatan Viscount Dorefon.
Setelah aku menggelar demonstrasi
seperti tadi, rasanya sangat tak masuk akal membebankan gelar itu ke pundak
Tuan Roan atau Nona Alyssa. Yah, aku sudah memprediksi ini sejak awal, sih...
"Hugh..."
Lugh memegangi lengan seragamku,
menyebut namaku dengan ekspresi khawatir.
Gadis itu sangat paham kalau
kepribadianku jauh dari sosok pencari perhatian, dan ia pun sadar bahwa aku
membawa bom waktu bernama Skill Brainwash.
Aku yakin hanya Lugh satu-satunya
orang yang akan terus berpihak padaku tak peduli keputusan apa yang kuambil.
...Dan demi gadis yang
seperti itu, aku berani mengambil keputusan bulat.
"...Saya memiliki satu
syarat."
"Hoo, sebuah negosiasi.
Baiklah, katakan."
Sikap Yang Mulia Raja begitu
santai menerima permohonanku dengan senyuman, meskipun apa yang baru saja
kukatakan dapat dengan mudah dianggap tak sopan. Tuan Fif yang bertugas
membagikan hidangan sempat memunculkan wajah kesal, tapi Yang Mulia Raja
langsung menahannya dengan satu gestur tangan.
"Saya akan menerima diangkat
menjadi Hero negara ini jika situasinya sudah begini. Tapi sebagai gantinya,
saya memohon sebuah hadiah yang setimpal."
"Tentu, aku memang bermaksud
memberikan hadiah. Jika tak memberikan imbalan kepada Hero, martabatku sebagai
seorang Raja akan tercoreng. Wilayah ataupun gelar kebangsawanan, sebutkan saja
apa yang kau inginkan."
"Saya tidak menginginkan
wilayah apa pun. Saya sudah puas dengan wilayah Punosis Territory."
"Lalu kau memohon sebuah
gelar?"
"Jika memang gelar tersebut
diperlukan untuk memperoleh apa yang benar-benar saya inginkan, saya akan
menerimanya dengan penuh hormat."
"Begitu, rupanya impian
sejatimu berbeda dari sekadar mendapatkan gelar kebangsawanan. Bisakah kau
mengungkapkannya dengan lebih spesifik, Hugh Punosis?"
Yang Mulia Raja sepertinya sudah
lama menebak apa permohonanku yang sesungguhnya.
Tapi bila aku tidak
menyuarakannya dengan mulutku sendiri, diskusi ini tak akan pernah mencapai
titik akhir.
"Baik!"
Aku menarik mundur kursiku dan
turun untuk berlutut dengan kaki kiriku, lalu menundukkan kepala
sedalam-dalamnya di hadapan Yang Mulia Raja.
Kemudian—
"Kumohon, sudikah Anda
menyerahkan Yang Mulia Putri Lucretia kepada saya!"
Aku menyuarakan harapan yang
sungguh kuinginkan dari lubuk hatiku yang terdalam.
Menjadi Hero itu pasti sangat
merepotkan, dan mungkin aku akan banyak mengalami hal yang tidak menyenangkan.
Aku juga mungkin harus menyerah pada kehidupan Slow Life di pedesaan terpencil
yang kuimpikan kali ini.
Namun, asalkan aku bisa menikah
dengan Lucretia dengan dada membusung bangga. Aku merasa tidak apa-apa jika
harus begitu sekarang. Sebegitu besarnya cintaku pada Lucretia.
"Angkat wajahmu, Hugh
Punosis."
Saat aku mengangkat wajah, Yang
Mulia Raja sedang menatap ke arah belakangku dengan senyum lembut.
"Aku mengerti keinginanmu.
Penaklukan Black Dragon Dorefon adalah pencapaian luar biasa yang belum pernah
terjadi sejak masa First Count Dorefon. Itu pantas untuk dianugerahi darah Keluarga
Kerajaan. Dan Lucretia mewarisi darah keluarga Dorefon. Jika kau meminta darah
Royalty sebagai hadiah, tidak ada orang yang lebih cocok darinya."
"...Kalau begitu."
"Baiklah. Aku akan
menjadikan pernikahan dengan Lucretia sebagai hadiah atas penaklukan Black
Dragon Dorefon."
"T-terima kasih
banyak...!"
Berhasil...! Pernikahanku telah
direstui oleh Yang Mulia Raja—ayah mertuaku...! Aku mati-matian menahan rasa
gembira yang membuatku ingin melompat-lompat di tempat ini dan kebahagiaan yang
membuat bibirku nyaris menyeringai.
Lugh... ekspresi seperti apa yang
sedang ditunjukkan Lucretia sekarang? Apakah dia marah karena aku memajukan
pembicaraan tanpa berdiskusi dengannya? Atau apakah dia merasa senang?
"Lucretia, kau tidak
keberatan, kan?"
Yang Mulia Raja mengarahkan
pertanyaan itu bukan kepada Lucretia yang menyamar sebagai Lugh... melainkan
kepada Mary yang menyamar sebagai Lucretia. Di belakangku, Lugh yang hampir
saja mengatakan "Ba—" buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.
Sementara itu, Mary yang ditanya
ternyata sudah mulai memakan makan malam yang dihidangkan tanpa izin, mengunyah
dengan pipi yang menggembung penuh makanan. Dia menelannya dan berseru,
"Tidak keberatan-desu!"
Sambil tersenyum lebar dan
memberikan acungan jempol, dengan saus yang masih menempel di sudut bibirnya.
Putri Lucretia yang ingin
kunikahi itu sedikit lebih anggun dari ini lho... ...Ya, mungkin aku seharusnya
tidak mengatakannya di situasi rumit semacam ini.
Kepada diriku yang sedang
menyesal, Yang Mulia Raja tersenyum masam dan berkata, "Baguslah kalau
begitu. Untuk sekarang, duduklah kembali."
Mengikuti perintahnya, aku
kembali duduk di kursi dan menoleh ke samping. Lugh, yang pipinya memerah dan
menggembung cemberut, sedang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Sepertinya banyak yang ingin dia
katakan, tetapi dia menahannya karena kehadiran Tuan Fif.
Aku akan menerima omelannya
sepuasnya nanti setelah kami pulang.
Sekarang, yang terpenting
adalah aku bisa menikah dengan Lucretia. Dadaku terasa penuh oleh kebahagiaan
itu.
"...Sungguh
deh."
Melihatku yang tidak bisa
menahan senyum, Lugh akhirnya juga tersenyum gembira.
Agar tidak terlihat oleh
orang-orang di sekitar, kami saling menautkan jari dan berpegangan tangan
diam-diam di bawah meja.
"Selamat... kurasa itu yang
harus kukatakan ya. Meski sebagai seorang kakak, perasaanku agak rumit
sih."
Pangeran Lucas yang duduk tepat
di hadapanku mengangkat bahunya dengan gerakan berpura-pura.
"Aku selalu dibuat terkejut
oleh keberanian yang kadang kau tunjukkan. Aku tidak pernah menyangka kau akan
menjadikan pernikahan dengan Lucretia sebagai syarat untuk mau diperlakukan
sebagai Hero, dan kemudian bernegosiasi dengan Ayahanda."
"Saya merasa tersanjung,
Kakak Ipar."
"Ketebalan mukamu juga
membuatku terkejut."
Pangeran Lucas menghela napas
takjub dan tersenyum.
Dia mungkin sudah samar-samar
menyadari hubunganku dengan Lucretia, dan dari kata-kata serta tindakannya
selama ini, aku bisa merasakan bahwa dia diam-diam mendukung kami. Dia adalah
Kakak Ipar yang bisa diandalkan, yang selalu mendukungku dan Lucretia. Karena
dia ada di sini jugalah, aku bisa mengumpulkan keberanianku.
Penampilan dan tindak-tanduknya
memang agak mencurigakan, tapi aku tak bisa membayangkan ada orang yang lebih
bisa diandalkan daripada Pangeran Lucas. Kuharap suatu saat nanti aku bisa
membalas budinya dalam bentuk apa pun. Nanti aku akan berdiskusi dengan Lugh...
Setelah mendapat restu pernikahan
dari Yang Mulia Raja, pembicaraan yang lebih mendetail pun dimulai sembari kami
menikmati hidangan dan Wine.
"Kebangkitan Black Dragon
Dorefon. Dan pengumuman resmi bahwa engkau telah menaklukkannya paling cepat
akan dilakukan dua bulan dari sekarang."
Mendengar perkataan Yang
Mulia Raja, aku menghentikan tanganku yang sedang memotong bistik.
"Masih dua bulan
lagi?"
Kupikir itu akan
diumumkan secara besar-besaran besok atau lusa.
Dua bulan dari sekarang
berarti tepat saat liburan musim panas berakhir.
Kepada diriku yang
memiringkan kepala keheranan, Pangeran Lucas memberikan penjelasan tambahan.
"Ini adalah
kebiasaan sejak dahulu, di musim seperti ini para Bangsawan (bangsawan)
biasanya meninggalkan Royal Capital untuk kembali ke tempat peristirahatan
musim panas atau wilayah mereka masing-masing. Royal Academy juga akan
mulai libur musim panas minggu depan, kan? Waktunya kurang tepat untuk
memperkenalkanmu secara megah sebagai Hero penakluk Black Dragon saat
ini."
Jadi, maksud dari Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas adalah mereka ingin
memberitahukan kepada para bangsawan bahwa aku adalah Hero yang menaklukkan
Black Dragon. Tapi karena para bangsawan yang dituju itu akan meninggalkan
Royal Capital, waktunya memang kurang tepat. Karena itulah, dua bulan lagi adalah
saat di mana musim panas berakhir dan para bangsawan telah kembali ke Royal
Capital.
"Ada alasan lain juga. Untuk menikahkan seorang anggota Royalty seperti
Lucretia, harus dikatakan bahwa gelar Baron agak tidak sepadan. Setidaknya
engkau harus berpangkat Count."
Count... Dalam hierarki bangsawan Ries Kingdom, Baron adalah peringkat yang
paling bawah.
Dari situ secara berurutan akan naik menjadi Viscount, Count, Marquis, dan
Duke, tetapi...
"Oleh karena itu. Sebagai penghargaan atas penaklukan Black Dragon,
pertama-tama keluarga Punosis harus dinaikkan pangkatnya menjadi Count."
"C-Count!?"
"Hm, apakah engkau tidak puas dengan gelar Count?"
"Sama sekali tidak!"
Aku benar-benar terkejut dengan kenaikan pangkat dua tingkat secara
tiba-tiba ini. Maksudku, kalau aku bilang begini, kedengarannya seperti aku
mati dalam tugas saja...!
Hari di mana keluarga Punosis menjadi keluarga Count akan tiba, Ayahanda
mungkin bisa pingsan mendengarnya.
"Untuk menganugerahkan gelar, aku perlu memanggil Baron Punosis selaku
kepala keluarga ke Royal Capital."
"Ayahanda, maksud Anda...?"
"Benar. Termasuk waktu untuk perjalanan bolak-balik ke Punosis
Territory dan masa persiapan, itu akan memakan waktu dua bulan."
Begitu rupanya... Punosis Territory berada di ujung timur laut Ries Kingdom.
Itu adalah wilayah terjauh dari Royal Capital. Kalau mau memanggil Ayahanda
dari sana ke mari, tentu saja akan memakan waktu selama itu.
Tapi, begitu ya. Ayahanda akan datang ke Royal Capital. Karena jaraknya
jauh, tadinya aku sama sekali tidak berniat pulang sampai lulus dari Academy,
dan berpikir tidak akan bisa bertemu dengannya selama tiga tahun. Walaupun
belum genap setengah tahun sejak aku meninggalkan rumah, rasanya tetap senang
memikirkan bisa bertemu dengannya lagi.
"Oh iya, Ayahanda. Bagaimana jika surat untuk Baron Punosis diantarkan
langsung oleh Hugh?"
"...Eh?"
"Akan lebih mudah untuk menjelaskan situasinya kepada sang Baron jika
Hugh sendiri yang memberitahukannya. Lagipula, dia juga sedang memasuki liburan
musim panas, kan."
"Begitu ya, itu ide yang bagus. Kuserahkan padamu, Hugh."
Mungkin karena efek Wine, Yang Mulia Raja menepuk-nepuk bahuku dengan kuat
dalam suasana hati yang sangat baik.
"Tidak, anu..."
Aku tidak punya rencana untuk pulang saat liburan musim panas... Suasananya
tidak memungkinkan bagiku untuk melontarkan kalimat itu.
Dengan demikian, telah diputuskan bahwa liburan musim panasku akan habis
untuk perjalanan bolak-balik ke Punosis Territory.
---
Di perjalanan pulang dari Royal Castle. Diterangi oleh cahaya lampu jalan
yang masuk melalui jendela, aku dan Lugh berguncang berdampingan di dalam
kereta kuda.
Kusir untuk perjalanan pulang adalah Nona Alyssa, dan di dalam kereta hanya
ada aku dan Lugh. Karena tak perlu memedulikan pandangan orang di sekitar, kami
duduk saling merapat sambil menautkan jari dan berpegangan tangan.
".........Maafkan aku, Hugh."
Lugh meminta maaf dengan suara sekecil gumaman.
"Ada apa tiba-tiba?"
"Hugh, kau sebenarnya tidak ingin menjadi Hero, kan...? Kita bertemu
dengan Black Dragon di Dorefon Great Labyrinth karena aku jatuh dari tebing,
dan yang berusaha keras menjadikanmu Hero adalah Ayahanda dan Kak Lucas,
jadi..."
Begitu ya, dari sudut pandang Lugh... Lucretia, jadinya seperti itu.
Dia mungkin merasa bersalah karena gara-gara dirinya aku harus diperlakukan
sebagai Hero.
Seandainya dia tidak jatuh dari tebing di Dorefon Great Labyrinth,
seandainya Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas tidak mengambil kebijakan untuk
mengangkatku sebagai Hero.
Memang tidak ada habisnya kalau terus berandai-andai, tapi aku kurang lebih
bisa memahami kenapa dia merasa seperti itu.
Oleh karena itu, aku harus
meluruskan satu kesalahpahaman Lucretia di sini.
"Aku sangat mencintaimu,
Tia."
"Fueh!?"
Tia melebarkan mata biru lautnya
dan wajahnya seketika merona merah padam.
"T-tiba-tiba kenapa!?"
"Tidak, kalau Tia merasa
bersalah karena aku diangkat menjadi Hero, aku ingin kau tidak memikirkannya.
...Aku merasa senang, kok. Karena dengan cara apa pun, aku akhirnya bisa
menjadi pria yang sepadan untuk Tia."
"...Ah."
Tia sepertinya juga menyadari hal
itu.
Di antara aku dan Tia terdapat
jurang perbedaan status yang tak bisa dijembatani. Walaupun aku seorang
bangsawan, aku lahir dari keluarga Baron di wilayah perbatasan pelosok.
Statusku sama sekali tidak setara dengan seorang Putri.
Kupikir mungkin suatu saat nanti
jika aku terus meraih posisi tinggi di bawah Pangeran Lucas... tetapi itu akan
membutuhkan waktu yang sangat lama. Kalaupun aku terus menetap di Royal Capital
setelah lulus dari Royal Academy, entah butuh berapa tahun lagi. Aku mungkin
harus membuat Tia menunggu bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun.
Jika sampai begitu, tidak ada
jaminan Tia akan terus menungguku, dan mengingat bahwa wanita Keluarga Kerajaan
adalah aset yang sangat berharga secara politik, dia tidak bisa terus-terusan
belum menikah selamanya. Terlebih lagi jika Pangeran Lucas menjadi raja
berikutnya.
"Tidak peduli seberapa besar
kita saling mencintai, hubungan kita bisa dengan mudah sirna tergantung pada
situasi politik, kan...? Tentu saja aku punya perasaan ingin dibebaskan dari
embel-embel Hero, tapi sekarang perasaan legaku jauh lebih besar dari itu. Aku
juga sudah mendapat restu pernikahan dari Yang Mulia Raja, dan dengan ini aku
benar-benar bisa menjadikan Tia sebagai istriku."
Kehidupan Slow Life di pedesaan
terpencil Punosis Territory tanpa Tia, dan hari-hari diperlakukan sebagai Hero
bersama Tia. Idealnya memang kehidupan Slow Life bersama Tia, tapi jika aku
hanya bisa mendapatkan salah satunya, aku akan memilih yang kedua tanpa sedikit
pun ragu.
Sebegitu besarnya perasaanku pada
Tia.
"Saat keputusanku ditanyakan
oleh Yang Mulia Raja, aku berpikir kalau tidak sekarang, kapan lagi. Maaf aku
memajukan pembicaraannya seenaknya, Tia."
"...Tidak apa-apa. Aku, aku
sangat senang, kok! Ah, tapi Hugh tiba-tiba saja bilang ada syarat kepada
Ayahanda dan mulai bernegosiasi. Tuan Fif memelototimu dengan wajah yang
menyeramkan, aku jadi khawatir tahu?"
"Soal itu aku benar-benar
minta maaf..."
Sejujurnya, aku sadar kalau
tindakanku itu terlalu terburu-buru. Aku bertaruh karena mengira bahwa saat ini
adalah momen di mana nilaiku berada di titik paling tinggi di mata Yang Mulia
Raja. Aku memang merasa punya peluang menang, tapi bukan berarti rute kemurkaan
Yang Mulia Raja yang berakhir pada hukuman mati mustahil terjadi.
"Selain itu!"
"Selain itu...?"
Tia menggembungkan pipinya dan
memeluk lengan kananku erat-erat menyerupai seekor koala.
"Aku ingin memberikan
jawaban pada Ayahanda dengan mulutku sendiri!"
"Ah..."
Mengenai pernikahan denganku,
yang ditanya "Kau tidak keberatan, kan?" oleh Yang Mulia Raja
bukanlah Tia, melainkan Mary. Di depan Tuan Fif yang tidak tahu soal rahasia
pertukaran itu, meskipun mau bagaimana lagi, tapi jawaban Mary adalah
"Tidak keberatan-desu!", jadi wajar saja...
Dengan begitu pernikahanku dengan
Putri Lucretia secara resmi diakui oleh Yang Mulia Raja, tetapi dari sudut
pandang Tia, wajar jika dia merasa kurang puas atau ada hal yang mengganjal di
hatinya.
Aku tidak mungkin kembali ke
Royal Castle sekarang dan memohon kepada Yang Mulia Raja, "Tolong biarkan
kami mengulang bagian tadi!". Karena itu setidaknya, aku harus
mengatakannya dengan benar kepada Tia sekarang.
"Yang Mulia Putri
Lucretia."
Aku menggenggam tangan kiri Tia
dengan kedua tanganku seolah-olah membungkusnya.
Mendengar perkataanku,
wajah cemberut Tia mengempis. Ia melepaskan pelukannya dari lenganku, berdeham
pelan "ehem", dan memasang wajah anggun persis seperti saat aku
pertama kali bertemu dengannya sebagai seorang Putri.
"Ada apa, Hugh
Punosis?"
"Saya memiliki
sebuah permohonan yang sungguh-sungguh. Sudikah Anda menikah dengan saya?"
Mengucapkannya secara
langsung lagi sungguh luar biasa memalukan. Saat kami diserang oleh Black
Dragon, aku sudah mempersiapkan diri untuk mati, jadi aku tak punya rasa malu
sama sekali; tapi sekarang situasinya berbeda, wajahku jadi sangat merah.
Kukira Putri Lucretia
akan langsung tersenyum cerah dan menjawab "Iya!"... tapi dia malah
bergumam "Mmm" dan terlihat sedang berpikir keras. E-eh...?
"Kalau kita menikah, apa
yang akan kau lakukan padaku, Hugh?"
"A-apa maksudnya... T-tentu
saja aku akan membahagiakanmu!"
"Bagaimana caranya?"
"Bagaimana caranya!?"
Pertanyaan yang sama sekali tidak
kuduga itu membuat isi kepalaku menjadi putih bersih. Mata biru laut Tia
menatapku tanpa berkedip.
Membahagiakan Tia. Mengucapkannya
dengan kata-kata memang mudah. Tapi, bagaimana tepatnya aku berencana untuk
membahagiakan Tia? Aku merasa putus asa pada diriku sendiri yang tak mampu
langsung menjawabnya.
Benar juga, pernikahan bukanlah
garis finis. Sebaliknya, kami baru saja berdiri di garis awal. Jika pernikahan
adalah puncak dari kebahagiaan, sisa perjalanannya hanyalah terguling jatuh ke
bawah. Aku benar-benar tidak mau hal itu terjadi.
Tetapi, bagi diriku yang
jangankan pernikahan, tidak pernah punya sedikit pun pengalaman berpacaran
bahkan di kehidupan sebelumnya, aku sama sekali tak bisa membayangkan
gambarannya secara spesifik. Karena itu, setidaknya...!
"Aku, tidak akan pernah
membiarkanmu bersedih! Aku menyukai senyuman Tia, jadi aku akan berusaha sekuat
tenaga dan setulus hati agar senyumanmu tidak pernah meredup! Jadi, um...
bagaimana?"
"...Pfft."
Tia menyemburkan tawa seolah tak
sanggup lagi menahannya.
"Hei."
"Ufufu. Maaf ya, Hugh. Aku
tiba-tiba ingin sedikit menjahilimu. ...Tapi, aku bisa merasakan kalau Hugh
benar-benar sangat mencintaiku, lho?"
"...Haruskah kucurahkan
lebih banyak lagi mulai sekarang?"
"Um..."
Tia mengangguk pelan. Aku
melingkarkan tanganku di punggungnya, menariknya mendekat, dan mendekatkan
wajahku. Tia memejamkan mata dan mengulurkan lehernya sedikit.
...Mungkin karena pengaruh
alkohol di tubuhku juga. Aku merasa tidak bisa menahannya lagi hari ini. Rem
pada diriku rasanya sangat blong, dan akal sehatku sudah tertidur pulas. Kalau
kami kembali ke kamar asrama dalam kondisi begini, kami mungkin akan kebablasan
sampai batas akhir. Restu pernikahan juga sudah turun. Kalau cuma sedikit
saja...
Tepat di saat aku hendak
menyatukan bibir dengan Tia.
—BAM BAM BAM BAM BAM
BAM!!!!!!!!
Badan kereta kuda dipukul
berkali-kali dari luar. Aku terkesiap kaget dan menoleh ke arah suara tersebut;
terlihat wajah Nona Alyssa menempel erat-erat di jendela!
"Hiii!?"
Aku dan Tia refleks
saling berpelukan erat dan berteriak ketakutan. Meskipun itu orang yang kami
kenal, melihat wajah menempel di kaca jendela pada malam hari sangatlah
menyeramkan!
"Kalian sudah sampai di Academy, dasar Pasangan Bodoh! Jangan bermesraan di situ dan
cepat turun!"
Dengan sebelah mata menyipit
tajam, Nona Alyssa memelototi kami dan mendesak kami turun dengan kata-kata
kasarnya. Aku tersadar, dan saat melihat ke luar jendela, kereta ternyata sudah
tiba di Royal Academy sejak tadi.
Gawat, aku sama sekali tidak
menyadarinya.
Saat kami berdua buru-buru turun
dari kereta, Nona Alyssa mendekat dari arah belakang aku dan Tia, lalu
meletakkan kedua tangannya di bahu kami. Kemudian, dengan nada suara yang penuh
ancaman,
"Sekalipun Yang Mulia Raja
sudah memberikan izin menikah, kalau kalian kelewatan batas selama masih
berstatus siswa, itu akan jadi masalah besar, tahu? Murid laki-laki yang cuti
karena hamil itu adalah insiden konyol tak masuk akal sejak Royal Academy
didirikan. Dan jika identitas murid itu ternyata adalah 'Orang Itu', kalian
akan mencoreng dan mempermalukan wajah Yang Mulia Raja dan Pangeran Lucas.
Kalau sampai hal itu terjadi, kau tahu persis apa yang akan terjadi dengan
kepalamu sendiri, kan?"
"B-baik...!"
Tanpa sadar aku menyentuh leherku
sendiri dan mengangguk dengan sangat cepat. Kalau Skill ku ketahuan, kepalaku
akan terpenggal; kalau hubunganku dengan Lucretia kebablasan, kepalaku juga
akan terpenggal. Setidaknya sampai kami lulus dari Royal Academy, kami harus
terus menjaga hubungan yang sehat, tulus, dan menahan diri. ...Siksaan macam
apa ini!
"Bocah Lugh juga, kalau
sampai keterlaluan, aku tak akan punya pilihan selain memisahkanmu dari Bocah
Hugh lho. Kebetulan ada seorang bocah mantan keturunan Marquis yang jatuh
miskin dan harus diusir dari kamar tunggalnya. Bolehkah kalau aku jadikan dia
teman sekamar Bocah Hugh?"
"I-itu tidak boleeeeh!"
"Kalau begitu, pertahankan
hubungan kalian dalam batas wajar ya."
Nona Alyssa menepuk bahu kami
dengan ringan lalu melompat ke kursi kusir. Mengucapkan, "Selamat malam
ya~," ia pun pergi untuk mengurus kereta kudanya.
Meninggalkan kami berdua yang
hanya bisa saling berpandangan canggung.
"Umm... Ayo kita kembali,
Lugh."
"U-um."
Dengan langkah kaku, kami mulai
berjalan berdampingan menuju asrama.
Sesampainya di kamar asrama,
suasananya sama sekali tidak mendukung untuk melanjutkan apa yang tadi sempat
tertunda, dan malam itu pun berlalu layaknya malam-malam biasa.



Post a Comment