Fragmen: Sudah
Tumbuh Sebesar Ini
Sejak ia mulai mengerti tentang
dunia, Lou memiliki satu orang Papa, satu orang Mama, dua orang adik perempuan,
dan satu orang adik laki-laki.
Papa adalah orang yang
lembut dan sangat telaten mengurus orang lain. Saat Lou sedikit nakal, Papa
akan menegurnya dengan lembut, "Nggak boleh begitu, ya, Lou?", dan
setiap kali Lou membantu pekerjaan rumah atau belajar, Papa selalu mengelus kepalanya
sambil memuji, "Anak pintar". Lou sangat menyukai Papa yang seperti
itu.
Mama adalah orang yang
ceria dan penuh semangat, serta mau bermain sepuasnya dengan Lou. Saat marah, suaranya akan meninggi sambil
berkata, "Koraa—!" yang terasa sedikit menakutkan, tetapi saat
memuji, Mama akan memeluknya erat-erat (gyuu). Lou sangat menyukai Mama yang
seperti itu.
Adik perempuan pertama, Merry,
adalah anak perempuan berusia dua tahun lebih muda yang memiliki sifat keras
kepala. Meskipun ia memperlakukan adik kembar laki-lakinya seperti pesuruh,
aslinya ia adalah anak yang manja dan benci kesepian. Ia sangat bermanja-manja
kepada Lou dengan memanggil, "Kakak Lou". Lou sangat menyukai adik
perempuan yang seperti itu.
Adik perempuan kedua, Tina,
adalah anak perempuan menggemaskan yang tiga tahun lebih muda darinya. Memiliki
kepribadian yang ramah dan mudah akrab, ia selalu tersenyum ceria. Sifatnya
yang ceria dan bersemangat mirip sekali dengan Mama, tetapi terkadang ia
memperlihatkan ekspresi yang tampak rapuh. Di saat-saat seperti itu, jika Lou
memeluknya erat-erat seperti yang biasa Mama lakukan, Tina akan tersenyum lega
sambil berkata, "Geli, tahu". Lou sangat menyukai adik bungsu
tersebut.
Adik laki-laki, Ryuug, adalah
anak laki-laki pendiam yang dua tahun lebih muda darinya. Sifatnya tenang, bisa
diandalkan, dan sering diperlakukan seperti anak buah oleh kakak kembar
perempuannya, tetapi sikapnya yang sabar menuruti mereka sambil bergumam,
"Mau bagaimana lagi ya" mirip sekali dengan Papa. Lou sangat menyukai
adik laki-laki yang mengaguminya dan memanggilnya, "Kakak Lou".
Selain itu, ada juga Nenek yang
bermuka datar tapi sangat pandai memasak dan lucu, Kakek yang berbadan besar
dan sering bermain dengannya, paman berlengan satu yang merupakan sahabat karib
Papa dan melatihnya berpedang, serta orang-orang baik di Punosis Territory.
Dikelilingi oleh orang-orang tercinta dan alam yang megah, Lou tumbuh dengan
sehat.
Namun...
Ingatan masa kecil dari waktu
sebelum ia mengerti dunia terkadang muncul kembali dalam bentuk flashback.
Di dalam ingatan itu, ada
kebahagiaan yang jauh lebih meluap-luap.
—Ada sesuatu yang kurang.
Sambil merasakan hal itu secara
samar-samar dalam menjalani hari-hari, Lou menginjak usia tujuh tahun.
Hari itu, Lou membawa serta
adik-adik perempuan dan adik laki-lakinya untuk bermain sebagai petualang di
dalam mansion. Ia terinspirasi oleh kisah penaklukan dungeon yang sering
dibacakan oleh Mama sebagai pengantar tidur.
Merasa dirinya sudah sepenuhnya
menjadi ketua party, Lou mengincar salah satu ruangan di dalam mansion.
Itu adalah ruangan terlarang.
Poin kuncinya terkunci dari dalam sehingga tidak bisa dibuka, dan tirai tebal
ditutup rapat sehingga kondisi di dalam tidak bisa dilihat dari luar.
"—T-tolong jangan lakukan
itu, Kakak Lou...!"
"Kata Mama, kita nggak boleh
buka kamar penyihir itu..."
Merry dan Ryuug yang mengekor di
belakang Lou berusaha menghentikannya dengan ekspresi ketakutan.
Anak-anak sangat percaya bahwa
ada seorang penyihir yang tinggal di dalam ruangan terlarang tersebut.
Dari ruangan ini, suara
seperti wanita yang sedang menangis meraung-raung terkadang terdengar.
Begitu suara itu
terdengar, Papa dan Mama akan memasang ekspresi panik lalu bergegas masuk ke
dalam ruangan.
Tak lama kemudian,
keduanya selalu keluar dari ruangan dengan wajah yang hampir menangis, membuat
anak-anak percaya bahwa Papa dan Mama telah disiksa oleh si penyihir.
"Penyihir jahat yang
menyiksa Papa dan Mama akan Lou bereskan...!"
Lou memasang tekad bulat lalu
berdiri di depan pintu.
Kunci pintu itu ada di dalam
genggamannya. Berkat tubuhnya yang tumbuh sehat setiap hari, Lou kini bisa
menggapai kunci yang digantung di dinding dengan cara memanjat kursi.
Mengabaikan Merry dan Ryuug yang
tampak ketakutan, serta Tina yang tersenyum-senyum di belakang mereka, Lou
memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang kunci pintu.
Lalu saat ia memutarnya perlahan,
terdengar bunyi klik saat kunci terbuka.
Kiiiiik—engsel pintu berderit
mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan saat pintu terbuka.
Bagian dalam ruangan itu temaram,
tetapi dibersihkan dengan baik hingga terasa bersih.
Di bagian tengah terdapat sebuah
tempat tidur, dan tidak ada perabotan lain yang mencolok.
Sejak ia melangkahkan satu kaki
ke dalam ruangan, aroma manis seperti buah persik langsung tercium melayang di
udara.
Lou memiringkan kepalanya karena
merasa nostalgia dengan aroma tersebut.
(Orang yang ada di sini, bukannya
penyihir... ya?)
"Kakak Lou, ada orang yang
lagi tidur."
Tina mencolek ujung pakaian Lou
sambil menunjuk ke arah tempat tidur.
Di atas tempat tidur,
seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat kemerahan terang tampak
meringkuk dan tidur dengan tenang.
"Ah..."
Lou dengan lembut
menyentuh lengan yang putih sepucat orang sakit itu.
Tangannya terasa dingin.
Namun, kehangatan yang
tersisa sedikit di dalamnya menyimpan rasa nostalgia yang pasti.
Pemilik ruangan ini bukanlah
penyihir.
Yakin akan hal itu, Lou
mengguncang bahu sang wanita.
"Sudah waktunya
bangun."
"Uhm..."
Suara kecil lolos dari bibir yang
pecah-pecah.
Dari balik kelopak mata yang
terbuka perlahan, sepasang mata indah berwarna emerald muncul.
"Ru... ou...?"
"Selamat pagi,
Lili-mama!"
Panggilan itu keluar begitu saja
secara alami dari mulut Lou. Ingatan masa kecil ketika ia jauh lebih bahagia
dari sekarang meluap keluar, membuat Lou menyipitkan mata menatap sosok wanita
yang dirindukannya itu.
Lily perlahan-lahan
mengangkat tubuhnya di atas tempat tidur.
Rambut panjang yang
kelihatannya dibiarkan tumbuh berantakan begitu saja melingkar di atas tempat
tidur.
Siluet tubuhnya yang
tampak dalam balutan nightgown putih terlihat sangat kurus kering.
"K-Kakak
Lou..."
"K-kabur yuk.
Penyihirnya sudah bangun...!"
Merry dan Ryuug memprotes
dengan suara ketakutan sambil bersembunyi di punggung Lou.
Di sisi lain, Tina terus
menatap Lily lekat-lekat sambil menggandeng tangan Lou.
Lily, yang menunduk
sambil menekan dahinya dengan tangan, kembali menatap ke arah Lou dan yang
lainnya.
Mata emerald miliknya
terbelalak lebar.
"Lec... ty...?"
"Bukan, Lili-mama! Anak ini
Tina!"
"Tina..."
Lily mengulang nama Lou dengan
suara parau.
"Lalu, yang ini
Merry dan yang ini Ryuug! Mereka
anak-anak Lili-mama!"
"Merry... Ryuug..."
Lou menarik tangan kedua adiknya
dan menyuruh mereka berdiri di hadapan Lily.
Baik Merry maupun Ryuug tampak
sangat kebingungan ketika Lou mengatakan bahwa sosok yang mereka kira penyihir
itu sebenarnya adalah ibu mereka sendiri. Kakak beradik yang baru saja
menginjak usia enam tahun beberapa hari lalu itu bahkan tidak pernah berpikir
siapa sebenarnya ibu mereka.
"Kalian berdua, salam sama
Lili-mama!"
"M-mama...?"
"I-ibu...?"
Didorong oleh Lou, Merry dan
Ryuug dengan ragu-ragu memanggil Lily sebagai ibu.
"Ah, ah..."
Lily menggetarkan bibirnya,
mengeluarkan napas tanpa suara.
Air mata yang tumpah deras dari
sepasang manik mata emerald menetes menuruni pipinya yang cekung.
"Kalian sudah... tumbuh sebesar ini ya... Maafkan, aku! Padahal aku, seorang ibu! Tapi tidak
bisa, berada di sisi... kalian...!"
Lily meratap sambil menangis,
mengucapkan kata-kata maaf berulang-ulang.
Ia terus menyapu air mata yang
tak mau berhenti dengan tangannya.
"L-Lili-mama!? A-ada yang
sakit!?"
Lou panik melihat Lily tiba-tiba
menangis. Jika Mama melihat mereka membuat Lili-mama menangis, ia mungkin akan
dimarahi habis-habisan.
"S-semuanya, ayo kita
yoshi-yoshi Lili-mama!"
Untuk menghentikan tangisan Lily,
Lou memberikan komando kepada adik-adiknya. Keempat anak itu merangkak naik ke
atas tempat tidur, memeluk Lily erat-erat, lalu mulai mengelus-elus kepala dan
rambutnya dengan lembut.
"Ughh...
uweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh—!!"
Hasilnya justru berbalik arah.
Lily memeluk erat anak-anak yang
merangkak naik ke tempat tidur itu dengan kedua tangannya, lalu mulai menangis
meraung-raung dengan suara kencang.
Suara tangisan itu tentu saja
bergema ke seluruh mansion, dan suara banyak langkah kaki yang bergegas panik
dari kejauhan mencapai telinga Lou.
Lou membayangkan dirinya di masa
depan yang akan dimarahi oleh Mama, hingga ia tak kuasa menahan tangisnya.
Terbawa oleh tangisan Lou dan Lily, Merry, Ryuug, dan Tina akhirnya ikut-ikutan
menangis.
"A-ada apa ini...?"
"Sama sekali nggak
paham..."
Tia dan Hugh yang bergegas datang
karena mendengar suara tangisan saling bertukar pandang dengan ekspresi
kebingungan melihat kelima anak itu menangis bersama-sama.
Sejak hari itu, sedikit demi
sedikit, Lily memulihkan kembali kehidupan sehari-harinya.
Lou menghabiskan banyak waktu
tumbuh dewasa bersama Lily, merawatnya bersama anak-anak yang lain.



Post a Comment