NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Extra Story + Afterword

Ekstra Story: Menaruh Harapan pada Skill Brainwash


Angin dingin yang bertiup turun dari pegunungan menerobos masuk melalui celah-celah kayu lapuk, dan setiap kali itu terjadi, pintu tua berderak keras dengan suara yang mengusik telinga. Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat tangan dan kakiku kaku, sementara napas yang kuembuskan bersama helaan lelah berubah menjadi putih lalu menghilang di dalam ruangan yang remang-remang.

Aku menghentikan rajutan yang sedang kukerjakan untuk mencari nafkah, lalu menoleh ke arah pria yang tertidur tepat di sampingku.

Mendengar suara napasnya yang pelan namun teratur, aku mengembuskan napas lega.

Rambutnya, yang dahulu berwarna seperti langit malam, kini telah kehilangan pigmennya dan berubah menjadi putih.

Wajahnya yang dulu tampan kini kurus kering. Lengan berotot yang dahulu memelukku dengan kuat kini begitu kurus hingga terasa seolah akan patah hanya dengan sentuhan, bagaikan ranting yang mengering.

Tubuh Hugh telah melemah sampai-sampai terasa ajaib ia masih hidup.

Sejak hari tiga bulan lalu ketika kami mengirim anak-anak ke masa lalu, Hugh kehilangan kesadaran dan hanya terbaring di tempat tidur. Aku, Tia, dan Merry telah berusaha mati-matian membangunkannya, tetapi sekeras apa pun kami memanggil namanya, tak pernah sekalipun ia menjawab.

Hanya napasnya yang nyaris tak terdengar dan detak jantungnya yang begitu lemah yang memberi tahu kami bahwa Hugh masih hidup.

Dokter yang akhirnya bersedia memeriksanya dengan bayaran dari sisa uang kami mengatakan bahwa bukan hanya kondisinya tidak membaik, bahkan penyebabnya pun sama sekali tidak diketahui.

Mungkin... dia tidak akan pernah membuka matanya lagi.

Yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu tubuhnya terus melemah hingga suatu saat nyala kehidupannya padam.

"Hugh... suamiku tercinta...?"

Perlahan kuusap bibirnya yang kering dengan ujung jariku. Aku ingin bibir itu bergerak lagi dan memanggil namaku. Atau lebih baik lagi, memelukku erat seperti dulu dan memberiku ciuman penuh gairah seperti saat kami masih muda—

"Lily? Bukannya aku sudah bilang jangan mengerjai Hugh?"

Suara dari belakang membuatku tersentak. Aku memekik pelan dan buru-buru menoleh.

Yang berdiri di sana sambil tersenyum manis dengan sendok sayur di tangan adalah seorang wanita berpenampilan seperti gadis muda, berambut keemasan dan mengenakan celemek.

Sahabat masa kecilku yang, bahkan setelah berhasil membesarkan putrinya hingga dewasa sebagai seorang ibu, nyaris tidak berubah sedikit pun sejak masa sekolah.

"B-Bukan begitu, Tia. Aku sama sekali tidak berpikir kalau Hugh mungkin akan bangun kalau kucium. Sama sekali tidak!"

"Benarkah? Soalnya kalau aku lengah sedikit, Lily selalu saja mencoba 'menyerang' Hugh."

"I-Itu tidak..."

...Yah, sebenarnya aku juga tidak bisa membantahnya sepenuhnya. Soalnya aku kesepian....

Pada siang hari ketika Merry pergi bekerja memanfaatkan skill miliknya, hanya ada aku, Tia, dan Hugh di gubuk reyot ini.

Tia menangani seluruh pekerjaan rumah, sedangkan aku terus mengerjakan pekerjaan sambilan di sisi Hugh agar setidaknya bisa membantu biaya hidup.

Sampai tiga bulan lalu, gubuk ini jauh lebih ramai.

Meski kehilangan penglihatannya, Hugh masih bisa bangun dari tempat tidur. Anak-anak juga masih sangat merepotkan sehingga setiap hari selalu sibuk.

Hari-hari itu memang melelahkan, tetapi justru kesibukan itulah yang membuatku lupa akan kecemasan.

Namun setelah ketiga anak itu pergi, gubuk ini menjadi sunyi.

Seperti angin yang menggoyangkan pintu melalui celah-celah dinding, kesunyian itu terus mengguncang hatiku. Sama seperti saat kehilangan Lecty, ada kalanya aku tak mampu lagi mengendalikan emosiku....

"Lily, sudah waktunya makan siang. Bisa bantu sebentar?"

Melihatku terdiam, Tia memanggilku dengan lembut.

Aku mengangguk pelan, lalu ia berbalik menuju dapur.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa semangkuk bubur jelai yang encer.

Kami berdua bekerja sama mengangkat tubuh Hugh agar bisa duduk.

"Hugh, sudah waktunya makan siang. Makan sedikit saja, ya."

Tia menyuapkan sesendok bubur ke mulut Hugh yang sedikit terbuka.

Beberapa saat kemudian, tenggorokannya bergerak pelan menelan.

"Hehe... enak?"

Tentu saja Hugh tidak menjawab. Namun setiap kali Tia menyuapkan bubur, ia selalu menelannya. Entah kenapa, itu terasa seperti jawaban, seolah ia berkata, 'Enak.'

"Uu..."

Aku menggigit bibirku erat-erat, menahan keinginan untuk menangis sekeras-kerasnya.

Hugh sangat menyukai masakan Tia.

Bahkan saat Tia pertama kali memasak setelah diajari Ibu Rain, Hugh sampai menangis haru. Wajahnya yang tersenyum bahagia sambil terus berkata "Enak... enak sekali..." kini kembali terbayang di benakku.

Dengan mata birunya yang mulai berkaca-kaca, Tia terus menyuapkan bubur hingga mangkuk itu kosong.

Setelah membaringkan Hugh kembali, kami pun mulai makan siang.

Menu kami sama: bubur jelai encer.

Hanya diberi sedikit garam yang sangat berharga, sehingga rasanya nyaris hambar.

Bahkan jelainya sendiri sangat sedikit. Saat disendok, hampir seluruh isinya hanyalah air.

Meski begitu, itu tetap jauh lebih baik daripada tidak makan sama sekali.

Kami adalah pengungsi dari Kerajaan Liese yang kini hidup di daerah perbatasan Kerajaan Naibel, dipandang sebagai beban oleh penduduk setempat.

Setelah Naga Hitam Dorefon meluluhlantakkan seluruh benua, Kerajaan Naibel—yang belum terkena dampaknya—dibanjiri para pengungsi.

Kekurangan pangan semakin parah. Kami para pengungsi membuka hutan di wilayah perbatasan sambil berbagi sedikit makanan yang ada.

Sebenarnya kami masih tergolong beruntung.

Bekas rakyat wilayah Pnosis yang melarikan diri bersama kami masih rela membagi sedikit makanan mereka demi kami dan Hugh.

Berkat kemurahan hati merekalah Hugh masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.

...Namun musim gugur hampir berakhir.

Kerajaan Naibel yang berada di utara adalah negeri bersalju lebat. Begitu musim dingin tiba, dunia akan tertutup salju.

Dengan persediaan makanan yang hampir habis, musim dingin kali ini pasti akan sangat berat.

Mungkin kami masih bisa bertahan...

Tetapi Hugh....

Sendok di tanganku terlepas dan jatuh ke dalam bubur dengan bunyi plung.

"Lily...!?"

Kenyataan yang tak bisa kuhindari menghantamku sekaligus. Saat aku menutupi wajahku, Tia buru-buru memelukku.

Air mata mengalir deras seperti serangan mendadak, napasku memburu hingga sulit bernapas.

Aku tak sanggup menahannya lagi.

Aku pun akhirnya menangis sejadi-jadinya.

Kalau begini terus, Hugh akan mati.

Aku takut.

Aku tidak mau.

Kenapa?

Hari-hari bahagia kami seolah dicoret habis oleh kegelapan.

Apa yang sebenarnya salah?

Di mana aku melakukan kesalahan?

Kenapa semuanya harus menjadi seperti ini!?

"Lily, tenang! Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja!"

Di dalam pelukan Tia, aku hanya bisa terus menangis.

Padahal Tia sendiri pasti juga takut.

Melihat Hugh seperti ini, pasti ia pun ingin menangis sekeras-kerasnya.

Namun justru akulah yang selalu merepotkannya.

"Maaf... maafkan aku...."

Tia hanya terus memelukku sampai aku benar-benar tenang.

Entah berapa lama berlalu.

Saat napasku akhirnya kembali normal, bubur kami sudah dingin.

Kami lalu duduk berdampingan sambil menghabiskan bubur yang telah dingin itu bersama-sama.

"Aku cuci piring dulu ya. Lily istirahat saja sebentar."

Sambil membawa piring-piring kosong, Tia menuju dapur.

Aku pun menuruti sarannya.

Aku menyelinap ke tempat tidur Hugh, memeluk lengannya, lalu memejamkan mata.

Tak lama kemudian rasa kantuk membawaku kembali pada kenangan singkat lebih dari dua puluh tahun lalu.

Hari ujian masuk Akademi Kerajaan.

Hari ketika aku bertemu keluarga paling berharga dalam hidupku.

Seorang anak laki-laki berambut warna langit malam dengan pakaian perjalanan yang dihiasi lambang keluarga Pnosis.

Seorang gadis berambut biru pucat kusam dengan mata sewarna kecubung, mengenakan pakaian penuh tambalan.

Seorang putri berambut perak pendek yang menyamar sebagai laki-laki demi menyusup ke akademi.

Masa-masa itu memang penuh kesulitan.

Namun lebih dari itu, kehidupan di akademi begitu menyenangkan.

Meski hanya beberapa bulan, kenangan itu tetap menjadi harta yang tak tergantikan bagiku.

"Lily."

Lecty memanggil namaku dengan seragam Akademi Kerajaan yang dulu begitu kukenal.

Namun suaranya terdengar samar.

Aku bahkan tak lagi bisa mengingat tinggi rendah ataupun warna suaranya.

Wajahnya pun mulai memudar.

"Jangan... jangan pergi...!"

Aku mengulurkan tangan sekuat tenaga kepada Lecty yang perlahan menghilang seperti kabut.

Namun seberapa keras pun aku berusaha, tanganku tak pernah mampu meraihnya.

Di dalam diriku, dirinya perlahan menghilang.

Padahal ia begitu berharga bagiku.

Padahal aku sangat mencintainya.

Ah...

Kenapa...?

Kenapa kau pergi...?

"Lecty...."

Di dalam kegelapan tanpa dasar, tubuhku terus terjatuh menuju jurang keputusasaan.

Cahaya kecil yang tampak di kejauhan...

Mungkin hanyalah ilusi yang lahir dari harapanku sendiri.

"Bu... bangun, Bu!"

Suara seseorang terdengar dari kejauhan.

Tubuhku diguncang pelan, dan aku perlahan membuka mata.

Yang kulihat adalah seorang gadis bermata hijau muda.

Rambut merah mudanya yang diikat dua bergoyang pelan, begitu mirip dengan rambutku saat muda.

Harta paling berharga milikku dan Hugh.

Putri kami, Merry, sedang mengguncang tubuhku dengan wajah penuh semangat.

"Ayo bangun, Bu! Ada sesuatu yang luar biasa terjadi!"

"Sesuatu yang luar biasa...?"

Sambil memegangi kepalaku yang masih berat karena baru bangun, aku duduk.

"Apa yang terjadi, Merry?"

"Pokoknya cepat ikut aku!"

"T-Tunggu dulu...!"

Semua orang bilang Merry sangat mirip denganku ketika muda.

Tapi sifat cerobohnya ini sebenarnya meniru siapa, ya?

Padahal aku selalu mengajarinya bahwa seorang wanita anggun harus tetap tenang dalam situasi apa pun.

Merry terus menarik tanganku hingga memaksaku berdiri.

Kulihat matahari sudah mulai condong ke barat.

Sepertinya aku tertidur cukup lama.

"Ayo cepat!"

"Tunggu, Merry. Aku tidak tahu kau mau membawaku ke mana, tapi aku tidak bisa meninggalkan Hugh."

Bagaimana kalau saat aku pergi...

Napas Hugh berhenti?

Hanya memikirkannya saja membuat kakiku gemetar.

"Ibu ini memang selalu terlalu khawatir. Kan cuma keluar rumah sebentar."

"T-Tapi...."

Saat aku masih ragu-ragu, Merry menghela napas pasrah.

Tepat saat itu pintu terbuka dan Tia masuk.

"Tia Mama! Sudah selesai?"

"Iya. Lily, biar aku yang menjaga Hugh. Pergilah keluar bersama Merry. Kau pasti juga akan terkejut."

"Eh?"

Tia berkata demikian sambil mengusap air mata di sudut matanya.

Apa sebenarnya yang ada di luar?

Apa Merry berhasil menangkap babi hutan besar lagi?

Kalau begitu memang akan sangat membantu untuk persediaan musim dingin....

Merry terus menarik lenganku dengan tergesa-gesa hingga aku bangkit dari tempat tidur.

Saat itulah aku mendengar suara ramai dari luar rumah.

Sepertinya banyak orang berkumpul di depan.

Mantan rakyat wilayah kami...?

Namun suara-suara yang terdengar justru terasa sangat akrab.

"Bu, jangan sampai kaget terus pingsan ya!"

"Jangan perlakukan aku seperti nenek. Memangnya kau menangkap apa sih—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, pintu terbuka.

"Lily Mamaaa!"

Seorang gadis berambut abu-abu memelukku erat.

Mataku membelalak.

"Selamat pulang! Aku pulang, Lily Mama!"

"Lu... Lu...?"

Lu Pnosis.

Putri pertama Hugh dan Tia.

Ia memelukku erat sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku.

"K-Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau...."

Bukankah Hugh telah mengirimnya ke masa lalu?

Kami seharusnya takkan pernah bertemu lagi.

Perjalanan waktu hanya bisa satu arah.

Setidaknya, skill Hugh saat ini tidak mungkin membawa mereka kembali.

Kami sudah menangis sambil merelakan Lu, Ryuug, dan Tina demi masa depan mereka yang bahagia.

Apa perjalanan waktunya gagal?

Tidak.

Hugh sudah mempertaruhkan nyawanya berkali-kali dalam eksperimen itu.

Kalau begitu...

Apa ini...?

"Karena skill <Brainwashing> milik Ayah mampu membuat hal yang mustahil menjadi mungkin!"

"...!"

Mendengar jawaban Lu yang begitu penuh keyakinan, aku spontan mengangkat kepala.

Barulah saat itu aku benar-benar melihat siapa saja yang berdiri di sana.

Bukan hanya Ryuug dan Tina.

Di sana berdiri empat orang dengan seragam Akademi Kerajaan yang begitu kurindukan.

"Ah...."

Suara serak keluar dari tenggorokanku.

Tina mendorong pelan punggung seseorang agar berjalan mendekat.

Rambut biru pucatnya bergoyang lembut.

Mata kecubungnya menatapku yang kini berambut kusut dan berpakaian penuh tambalan.

"Lily."

Suara bening itu...

Bukan halusinasi.

Bukan mimpi.

Ah...

Benar....

Kenapa aku sampai melupakan suara ini...?

"Le... Lecty...?"

Emosi yang selama ini kutahan meluap begitu saja.

Air mata membuat pandanganku kabur.

Aku mencoba melangkah mendekatinya, tetapi kakiku kehilangan tenaga hingga tubuhku nyaris terjatuh.

Lecty segera memelukku.

Harum lembut seperti bunga kamomil.

Kehangatan tubuhnya...

Begitu kurindukan.

"Lecty... Lecty...!"

Air mataku mengalir tanpa henti.

Aku tahu.

Dia bukan Lecty yang kukenal.

Aku mengerti itu.

Namun bagiku...

Dia tetap Lecty.

Perasaanku tak sanggup lagi dibendung.

"Ah... aah...! Lecty... aku... aku...! Setelah kau pergi, aku tak tahu harus bagaimana lagi...! Maaf... maafkan aku...!"

"Tidak apa-apa, Lily."

Lecty mengusap kepalaku dengan lembut.

"Aku sudah mendengar banyak cerita tentangmu dari Tina dan Lu. Terima kasih sudah menjaga putri-putriku menggantikanku."

"Bukan... bukan begitu.... Aku tidak bisa melakukan apa-apa.... Aku hanya menjadi beban bagi semua orang...."

"Itu tidak benar!"

"Lu...?"

Lu mengepalkan tangannya dengan mata berkaca-kaca.

"Berkat tata krama yang Lily Mama ajarkan, Lu bisa akrab dengan Paman Lucas di masa lalu! Karena Paman Lucaslah kami bisa kembali ke sini bersama Ayah! Semua ini berkat Lily Mama!"

Begitu selesai berkata, Lu langsung memelukku erat.

Belum sempat aku bereaksi, seseorang memelukku dari belakang.

"Benar! Mama bukan beban! Mama adalah ibu yang paling berharga bagiku! Karena Mama mengajariku banyak hal, aku bisa menjadi diriku yang sekarang!"

Merry menempelkan wajahnya di punggungku.

"Pelajaran yang Lily Mama ajarkan memang berat banget, tapi semuanya berguna di masa lalu! Jadi jangan bilang Mama tidak melakukan apa-apa lagi...."

Bahkan Tina ikut memelukku.

Kini aku dipeluk dari empat arah sekaligus bersama Lecty.

Dari kejauhan terdengar percakapan,

"Kamu tidak ikut memeluk juga?"

"Kurasa aku tidak usah...."

...Tapi itu tidak penting.

Hatiku yang selama ini membeku perlahan dipenuhi kehangatan.

Sejak kehilangan Lecty, kupikir aku hidup bagai cangkang kosong.

Aku hanya bergantung pada Hugh, Tia, dan anak-anak.

Yang bisa kulakukan hanyalah mengajari mereka tata krama dan pelajaran.

Aku bahkan merasa hampir tidak pernah menjadi ibu yang baik bagi Merry maupun Ryuug.

"Ini bukan ilusi. Ini kenyataan yang Ibu ciptakan."

Ryuug menatapku sambil tersenyum.

"Benar, Lily."

Lucletia muda ikut tersenyum cerah.

Di sampingnya, diriku di masa lalu berdiri dengan tangan terlipat dan wajah canggung.

"Yah, sesekali tidak ada salahnya memuji dirimu sendiri. Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan Lecty karena aku juga dirimu. Aku sudah membaca semua buku harianmu. Menurutku... kau sudah berusaha sebaik mungkin."

Mendengar diriku sendiri mengatakan itu terasa sangat aneh.

Namun justru karena itu...

Kata-kata tersebut begitu mudah meresap ke dalam hatiku.

"Terima kasih, Lily."

Sebuah tangan besar mengusap kepalaku.

Sentuhan kasar itu...

Begitu hangat.

Begitu kurindukan.

"Serahkan sisanya padaku. Aku pasti akan memastikan semuanya tidak berakhir sebagai tragedi."

Setelah berkata demikian dengan penuh keyakinan, ia menggaruk pipinya dengan sedikit malu, lalu tersenyum sambil bercanda.

"Kalau begitu... aku pergi sebentar buat mengacak-acak dunia dengan skill Brainwashing milikku!"


Kata Penutup

Halo, selamat datang di catatan penutup!

Kali ini jumlah halamannya mencapai 3 halaman. Jumlah halaman catatan penutup ini terus bertambah dengan lancar. Aku KT.

Volume keempat dari Isekai Musou!? (Brainwashing Skill to Dominate Another World!?) berhasil kami persembahkan kepada kalian semua dengan selamat. Volume pertama dirilis pada bulan Juni tahun lalu, dan tidak disangka dalam waktu satu tahun satu bulan kami sudah bisa merilis buku keempat. Ini semua berkat kalian para pembaca yang terus setia membaca hingga sejauh ini. Terima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam.

Selain itu, volume pertama dari versi komik Isekai Musou!? yang digambar oleh Sensei Shiiramasa-Iki juga dirilis pada bulan yang sama.

Aku akan sangat senang jika kalian juga berkenan mengambil dan membacanya.

Nah, mumpung di sini, bagaimana kalau aku menulis sedikit tentang kabar sirkulasi kehidupanku saat ini?

Meskipun bisa dibilang ini terjadi pada tahun lalu, aku diundang oleh almamaterku, Departemen Seni Sastra di Osaka University of Arts, dan dalam format bincang-bincang dengan dosen yang dulu merawatku selama kuliah, aku berbicara banyak hal kepada para mahasiswa di sana.

Sebagai seorang penulis "sombong" yang baru debut selama setengah tahun, aku mendatangi almamaterku dengan penuh rasa percaya diri dan berkata kepada para mahasiswa di sana bahwa meskipun dunia penulisan novel ringan ini kejam karena menerbitkan buku saja tidak menjamin kalian mendapatkan penghasilan yang besar, industri ini memiliki mimpi yang luar biasa di mana karakter dari karya kalian bisa digambarkan oleh ilustrator, bahkan diadaptasi ke dalam bentuk komik!

Begitulah niatku berbicara kepada mereka.

Namun, aku malah lupa melanjutkan kalimat setelah kata "dunia yang kejam" tersebut.

Aku malah berakhir melakukan gerakan khas "alumni brengsek" yang hanya bisa mengatakan bahwa dunia ini begitu kejam, jadi sungguh, maafkan aku ya para junior...

Tapi impian itu benar-benar ada, kok! Walaupun penghasilannya memang agak begitu, ya, melihat cerita yang kutulis diadaptasi menjadi komik itu sungguh sangat mengharukan, tahu! Jadi, bagi siapa pun yang membaca catatan penutup ini dan bercita-cita menjadi penulis novel ringan, kalian tidak perlu khawatir! Impian itu benar-benar ada! Sungguh!

Kalau aku diundang lagi ke almamaterku, aku berjanji akan membicarakan kisah-kisah yang penuh mimpi di kesempatan berikutnya.

Bahkan setelah bincang-bincang dengan dosen selesai, dua orang junior menghampiriku dan kami berbicara tentang dunia kreatif selama sekitar empat jam. Hal yang paling membuatku terkejut saat itu adalah kenyataan bahwa mereka berdua menulis novel menggunakan smartphone.

Mendengar hal itu, bagiku yang bahkan kesulitan mengetik flick dengan benar, hal tersebut terasa sangat sulit dipercaya... Ngomong-ngomong, saat aku pertama kali mendapat tawaran untuk menerbitkan buku, editor juga sepertinya sempat bertanya kepadaku, "Bagaimana cara Anda menulis novel?"

Begitu ya, era di mana menulis menggunakan komputer sudah bukan lagi sebuah kehalalan mutlak di masa kini...

Di masa depan yang lebih jauh lagi, mungkin akan tiba era di mana kita bahkan tidak perlu menggunakan tangan, melainkan menghubungkan chip yang ditanamkan di dalam otak agar AI mengoreksi kata-kata yang melintas di kepala menjadi sebuah kalimat... entah era seperti itu akan datang atau tidak.

Kurasa, bahkan jika era itu datang, aku sepertinya akan tetap mengetik katakata di papan ketik komputer.

Karena mengetik sambil berbunyi katakata itulah cara paling menyenangkan bagiku.

Halamannya sudah terisi dengan pas, jadi aku akan masuk ke bagian ucapan terima kasih.

Kepada editor yang bertanggung jawab, O-sama. Terima kasih banyak atas kerja keras dan dedikasi Anda dalam membantu penerbitan karya ini sekali lagi. Aku kadang menerima balasan email dari Anda larut malam, apa Anda beristirahat dengan benar? Tolong jaga kesehatan Anda, dan mohon dukungannya terus ke depannya.

Kemudian, kepada ilustrator Oyazuri-sensei. Ada begitu banyak adegan yang kusempatkan tulis kali ini karena aku sangat ingin digambarkan oleh Sensei, terima kasih banyak. Para pembaca versi Web pasti sangat puas, ya (ketawa). Mohon dukungannya terus ke depannya.

Kepada mangaka adaptasi komik, Shiiramasa-Iki-sensei. Selamat atas perilisan volume pertama komik! Aku akan sangat senang jika seri ini bisa menjadi batu loncatan bagi lompatan besar Sensei. Tidak hanya sebagai penulis asli, tetapi juga sebagai seorang pembaca, aku selalu menantikan name (sketsa manga) dan naskahnya setiap kali terbit. Mohon dukungannya terus ke depannya.

Terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh staf Departemen Editorial Overlap dan semua pihak terkait yang telah membantu penerbitan karya ini, para pembaca yang telah memberikan dukungan sejak masa serialisasi web, serta kamu yang telah mengambil buku ini di tanganmu.

Kalau begitu, sampai jumpa lagi di catatan penutup volume kelima! Saradaba!



Previous Chapter | ToC 

0

Post a Comment

close