NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Epilog

Epilog: Tidak Akan Kubiarkan Berakhir Sebagai Tragedi


Penyelesaian urusan tuntas saat jarum pendek jam telah melewati pukul dua belas malam.

Aku mengangkat kepala setelah selesai menulis dokumen untuk melaporkan seluruh kronologi kejadian kepada Ayah.

Penerangan yang menyinari ruangan adalah cahaya lembut dari lampu sihir yang menyoroti ruangan yang terasa sedikit asing ini.

"Nng... aku sudah tidak bisa makan lagi..."

Dari dalam ranjang yang dikelilingi kelambu berwarna pink, terdengarigauan tidur yang terdengar begitu tanpa beban.

Ini bukanlah kamar pribadiku, melainkan kamar yang dulu digunakan Lucretia saat berada di istana kerajaan.

Saat ini, ruangan itu terutama digunakan oleh Lou yang bertindak sebagai pengganti Lucretia yang sedang tidak ada.

Alasan kenapa aku sedang mengerjakan dokumen di tempat seperti ini sebenarnya sederhana saja.

Tidak lain dan tidak bukan karena mayat Fifth baru saja dibiarkan tergeletak di kamarku sesaat yang lalu.

Insiden percobaan pembunuhan Raja menimbulkan kekacauan yang tidak sedikit di dalam istana, dan sebagian besar Kesatria Kerajaan sedang menjalankan operasi penangkapan pedagang bernama Alias di kota bawah. Akibatnya, tenaga kerja benar-benar kurang di mana-mana, sehingga mayat Fifth terus menempati kamarku.

Bahkan setelah mayatnya dipindahkan, bau darah yang meresap ke dalam ruangan tidak bisa hilang dengan mudah. Tentu saja tidak mungkin aku bisa bekerja atau tidur di ruangan yang belum dibersihkan dengan layak, jadi setidaknya untuk malam ini aku harus menghabiskan waktu di ruangan lain.

Sebenarnya kamar tamu biasa saja sudah cukup bagiku, tapi Roan menolaknya mentah-mentah dengan alasan "Keamanannya merepotkan." Saat aku sedang bingung memikirkan apa yang harus dilakukan, Lou menawariku, "Bagaimana kalau di kamarku saja?" dan begitulah akhirnya aku menghabiskan malam di kamar Lucretia.

Meskipun status kami adalah paman dan keponakan, pria dan wanita yang berada di usia hampir sebaya tidur di ranjang yang sama pastinya akan menjadi masalah. Terus terang tidur di ranjang Lucretia pun membuatku merasa risih, jadi aku memutuskan untuk beristirahat di sofa hari ini.

...Meskipun situasi ini jadi terasa sangat aneh di mana pelayan tidur di ranjang sementara sang Pangeran tidur di sofa, ya mau bagaimana lagi.

Aku melabuhkan pantat di sofa dan menghela napas. Tepat saat aku hendak berbaring, mataku menangkap dua buah diary yang diletakkan di atas meja rendah.

Tanpa pikir panjang aku mengambilnya dan membalik-balik halaman diary tersebut. Meskipun tindakan ini berarti mengintip privasi Nona Lily, biarkan aku dimaafkan demi mencegah tragedi yang mungkin terjadi di masa depan.

Terus membalik halaman demi halaman, aku akhirnya tiba di bagian di mana beberapa lembar halamannya dirobek secara kasar. Sejak Nona Lily kehilangan kedua orang tua, adik laki-laki, dan Nona Lecty hingga jiwanya hancur, ada periode kosong yang membentang selama sekitar lima tahun lamanya.

Menurut Lou, selama kurun waktu itu, Punosis Territory berada dalam kedamaian. Sejak Hugh memukul mundur pasukan Count Gadiness, Punosis Territory tidak pernah menerima invasi yang mencolok.

Kakak Sleigh kemungkinan besar menilai risiko dan imbalan dari menyerang Punosis Territory tidak sepadan setelah melihat situasi kerusakan dari pasukan Count Gadiness.

Meskipun mengalir darah kerajaan di tubuhnya, Tia hanyalah seorang Putri Ketujuh. Keberadaannya tidak cukup kuat untuk menjadi poros faksi anti-Sleigh, dan Kakak Sleigh yang memenangi perang saudara juga memiliki sandaran besar berupa Kekaisaran.

Sekalipun Kakak Sleigh tahu bahwa Tia berada di Punosis Territory, sama sekali tidak aneh jika sang Kakak memilih untuk membiarkannya begitu saja.

Yang lebih kucemaskan daripada itu adalah...

"Kenapa Nona Lecty sampai mati?"

Informasi yang bisa kudapatkan dari diary sangatlah sedikit.

Bahkan di dalam diary yang mulai ditulis kembali oleh Nona Lily setelah lima tahun berlalu, tidak ada catatan mengenai penyebab kematian Nona Lecty. Hanya saja, rasanya kematian itu bukanlah sesuatu seperti penyakit atau kematian alami.

Tertulis bahwa proses pemulihan Nona Lecty pasca melahirkan berjalan lancar. Mengingat ia sendiri aktif sebagai apoteker, ia pasti memahami kondisi tubuhnya sendiri, sehingga kecil kemungkinan persalinan menjadi penyebab kematiannya.

Jika demikian, maka itu adalah pembunuhan... Kemungkinan pembunuhan mulai mengapung.

"Apakah invasi Count Gadiness juga demi tujuan itu...?"

Hubungan sebab akibat itu tidak bisa disangkal begitu saja. Terlebih lagi, pemimpin pasukan invasi itu adalah Count Gadiness yang memiliki hubungan dengan Alias. Sebagai contoh, sangat masuk akal jika Alias memerintahkan Gadiness memimpin pasukan menyerang Punosis Territory demi membunuh Nona Lecty.

...Atau, mungkinkah tidak selalu demikian?

Pertama-tama, tidak jelas apakah Alias memiliki alasan untuk membunuh Nona Lecty. Bicara soal Nona Lecty, ia memiliki skill Saintess. Sekalipun Alias merasa keberadaan skill itu merepotkan dan ingin menyingkirkannya, aku tidak bisa menemukan alasan kenapa hal itu harus dilakukan pada waktu sekarang.

Fakta bahwa Nona Lecty memiliki skill diumumkan secara meriah pada perjamuan malam untuk merayakan kesembuhan Ayah. Pada saat itu, seharusnya belum ada perubahan besar antara garis waktu diary ini dan garis waktu sekarang.

Count Gadiness dan Fifth juga ikut hadir dalam perjamuan malam tersebut, jadi informasi mengenai skill pasti sudah sampai ke telinga Alias. Jika memang begitu, tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa Alias tidak mengincar nyawa Nona Lecty pada saat ini.

Apakah dia hanya menunda-nudahnya saja, ataukah memang saat ini belum ada alasan untuk membunuh Nona Lecty?

Atau, terlepas dari Alias, mungkinkah ada orang lain yang sama sekali berbeda yang membunuh Nona Lecty?

Kemungkinan pembunuhan acak atau kecelakaan juga tidak bisa disampingkan begitu saja, dan tentu saja ada kemungkinan perasaanku meleset dan itu hanyalah murni kematian karena penyakit atau kematian alami.

"Untuk saat ini aku belum bisa memastikan apa pun..."

Mengenai masalah ini, sepertinya tidak apa-apa untuk mengamatinya lebih lama lagi. Aku sempat berpikir apakah sebaiknya memberitahu Hugh, tapi menghasut rasa waspada secara membabi buta sepertinya juga akan berujung pada hasil yang buruk.

Saat aku terus membalik halaman diary, hari-hari yang tenang antara Nona Lily dan Lou berlanjut untuk beberapa waktu. Nona Lily tampaknya sedikit demi sedikit mulai mengambil kembali kehidupan sehari-harinya berkat dukungan keluarganya.

...Namun, di tengah-tengah itu semua.

'Kehilangan Lecty bukan hanya menghancurkan diriku seorang. Kenapa aku tidak bisa berada di sisi penderitaan dan kesedihannya saat itu?

Kata-kata penyesalan semacam itu terukir di sana.

Awal mula kejadiannya adalah ketika Nona Lily diajak oleh Lou untuk berjalan-jalan keluar mansion di awal musim semi. Karena merasa sedikit khawatir pergi berdua saja dengan Lou yang masih anak-anak, Nona Lily berniat meminta Hugh untuk menemani mereka.

Hugh dengan senang hati menerima permintaan Nona Lily dan mereka bertiga pergi berjalan-jalan, namun tidak lama setelah itu Nona Lily mulai merasakan kejanggalan dari perkataan dan perbuatan Hugh.

Langkah kaki yang entah kenapa terasa goyah, serta percakapan yang tidak nyambung. Ketika Lou memetik bunga dandelion di pinggir jalan dan menunjukkannya kepada Hugh, Hugh menjawab, "Itu adalah bunga dandelion yang cantik, ya," dan di situlah Nona Lily menyadari segalanya.

——Pada saat ini, Hugh telah kehilangan sebagian besar penglihatannya.

Penyebabnya adalah penggunaan skill yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa henti. Demi menghidupkan kembali Nona Lecty, Hugh terus menggunakan skill untuk berganti-ganti berbagai macam skill miliknya.

Namun, skill apa pun yang digunakannya, Nona Lecty tetap tidak bisa bangkit kembali.

Skill milik Hugh hanya bisa diaktifkan jika ia bertatapan mata dengan targetnya. Sambil merasakan penurunan daya penglihatan, Hugh yang tidak menghentikan penggunaan skill Brainwash-nya akhirnya baru bisa menerima kematian Nona Lecty setelah ia tidak lagi mampu mengganti skill miliknya.

Bayaran dari skill bukan hanya penurunan penglihatan, Hugh bahkan menjalani hari-harinya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di matanya. Rupanya ia selama ini memasang ekspresi tegar di hadapan Nona Lily agar gadis itu tidak mengkhawatirkannya.

Secara umum, penggunaan skill pasti memberikan beban tertentu pada suatu bagian tubuh.

Dalam kasus skill milik Hugh, aku memang mengira bahwa beban itu akan jatuh pada mata... Tapi betapapun skill menyimpan kemungkinan tak terbatas dengan cara berganti-ganti skill, selama Hugh adalah manusia, kemampuannya tetap memiliki batasan, begitu ya.

Sejauh ini, aku belum mendengar laporan apa pun dari Hugh di garis waktu ini mengenai penurunan penglihatan atau rasa sakit di matanya.

Hanya saja, jika itu hanya sebatas rasa ganjil yang ringan, dia mungkin tidak akan sengaja memberitahuku, jadi sepertinya lebih baik aku sendiri yang menanyakan hal itu padanya.

Dibandingkan dengan Hugh yang ada di dalam diary, Hugh di garis waktu ini memberikan kesan yang lebih positif terhadap skill Brainwash. Hal itu tampaknya adalah hasil akumulasi dari berbagai peristiwa yang berubah berkat intervensi Lou dan kawan-kawan.

Insiden penculikan Nona Lecty dan kejadian di Dungeon Drephon mungkin telah memberikan pengaruh besar pada sudut pandangnya terhadap skill Brainwash.

Meskipun situasinya tidak akan langsung mendesak dalam waktu dekat, terbukti bahwa skill bukanlah kartu truf yang bisa digunakan berkali-kali tanpa batas.

Bagaimana pun juga, saat Hugh kembali ke ibu kota nanti, kita perlu membicarakan masalah ini sekali lagi.

Mengembalikan fokus pikiranku ke dalam diary, aku terus membacanya.

Menjelang akhir diary, situasi di sekitar mereka perlahan-lahan memburuk.

Informasi mengenai kebangkitan Black Dragon Drephon sampai ke Punosis Territory tepat saat Lou merayakan ulang tahunnya yang kelima belas dan menerima skill.

Ries Kingdom yang masih menyisakan kelelahan mendalam akibat perang saudara tidak mampu melancarkan tindakan balasan yang efektif terhadap Drephon yang telah bangkit.

Drephon mengamuk di berbagai penjuru kerajaan, dan pada akhirnya ibu kota kerajaan pun berubah menjadi lautan abu.

Berdasarkan informasi yang didapatkan Nona Lily, Kakak Sleigh yang telah menjadi Raja tampaknya menemui ajalnya bersama para selir yang dibawanya dari Kekaisaran di dalam istana yang runtuh.

Dengan begitu, garis keturunan laki-laki keluarga kerajaan terputus. Ries Kingdom runtuh.

Namun, Black Dragon Drephon tidak berhenti. Ia mengubah kota suci di bagian selatan kerajaan—yang merupakan pusat ajaran Dewa Pemberi Skill—serta kota-kota utama di bagian timur menjadi lautan api, dan akhirnya terbang menuju Punosis Territory.

Jika saja Hugh tidak kehilangan skill , ia mungkin bisa melawan Black Dragon Drephon. Namun menyesali hal itu pun tidak ada gunanya, dan karena terjepit dalam pilihan yang sulit, mereka terpaksa melakukan pelarian hidup-mati dari Punosis Territory menuju negara tetangga, Kingdom of Naible.

Punosis Territory dan Kingdom of Naible berbatasan langsung di garis perbatasan.

Namun, perbatasan itu adalah kawasan pegunungan yang sering disebut sebagai 'Pusat Benua'. Jalan utama yang menghubungkan Kingdom of Ries dan Kingdom of Naible tidak bisa digunakan karena Black Dragon Drephon terbang datang dari arah tersebut, memaksa mereka melewati jalan pegunungan yang terjal demi menuju Kingdom of Naible.

Banyak orang tewas dalam perjalanan tersebut.

Punosis Territory dihuni oleh banyak orang lanjut usia, dan rupanya ada begitu banyak orang yang memilih menyerah untuk mengungsi ke Kingdom of Naible dan tetap tinggal di Punosis Territory. Demi bernasib sama dengan mereka, dan terutama demi menunaikan tugas sebagai mantan penguasa wilayah, orang tua Hugh juga memilih untuk tetap tinggal di Punosis Territory.

Black Dragon Drephon yang telah membakar habis Punosis Territory mulai mendekati rombongan Hugh yang sedang mendaki jalur pegunungan yang terjal.

Jika dibiarkan seperti ini, mereka akan terkejar. Dalam situasi seperti itu, pihak yang mengambil keputusan untuk menjadi umpan dan menantang Black Dragon Drephon adalah pemuda Idiots, Old Kesatria Kerajaan, serta para prajurit keluarga Puridy.

Demi menyelamatkan Hugh dan keluarga berharga mereka agar bisa melarikan diri ke Kingdom of Naible, mereka menantang Black Dragon Drephon dengan tekad bertaruh nyawa. Berkat pengorbanan itu, Hugh dan kawan-kawan berhasil tiba di Kingdom of Naible dengan selamat, namun tidak seorang pun dari mereka yang menantang Black Dragon Drephon kembali hidup-hidup.

Di antara para penduduk wilayah yang ikut mengungsi bersama Hugh, tidak sedikit yang tidak sanggup menahan kerasnya pendakian gunung tersebut, dan diperkirakan hanya sekitar separuh dari jumlah saat keberangkatan saja yang berhasil mencapai Kingdom of Naible dengan selamat.

Setibanya di Kingdom of Naible, mereka pun dipaksa menjalani kehidupan sebagai pengungsi yang tidak memiliki tempat berpijak, selalu diliputi ketakutan akan Black Dragon Drephon yang entah kapan bisa muncul melintasi kawasan pegunungan.

Dua setengah tahun berlalu dari saat itu, tepat pada saat Tina menginjak usia lima belas tahun dan menerima skill, Hugh dan kawan-kawan mengambil satu keputusan besar.

Mereka menggunakan skill Time Transfer—yang merupakan skill terakhir yang dibiarkan menempel pada diri Hugh—untuk mengirim anak-anak mereka ke masa lalu.

Setelah meratakan Ries Kingdom, Black Dragon Drephon juga melampiaskan kehancuran di wilayah Kekaisaran di barat serta wilayah para Peri di selatan. Kerusakan meluas ke seluruh penjuru benua, dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Black Dragon Drephon terbang ke Kingdom of Naible.

Setidaknya, biarkan anak-anak kita hidup di dunia yang damai dan penuh harapan.

Menyematkan permohonan seperti itu, diary Nona Lily dipercayakan kepada Lou.

Di bagian akhir diary, tertulis permohonan maaf dari Nona Lily kepada Hugh di masa lalu serta diriku, disusul dengan permohonan putus asa agar kami mau menolong Lou dan anak-anak lainnya.

Lalu, tepat di sebelah halaman itu,

"Ini adalah..."

Ada tulisan tambahan yang sepertinya tidak ada saat aku membaca halaman ini sebelumnya. Itu bukanlah tulisan tangan Nona Lily yang rapi dan teratur, melainkan tulisan yang sedikit kasar seolah dicoretkan tergesa-gesa.

'Aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir sebagai sebuah tragedi.'

Sebuah pernyataan tekad yang terukir secara sederhana.

Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa aku sedang membaca diary versi yang dibawa oleh Hugh.

Kalau begitu, kalimat ini pastinya ditulis oleh Hugh—yang mendengar seluruh situasi dari Lou setelah kematianku dan membaca diary tersebut.

"Masih ada harapan, ya."

Meskipun kita tidak bisa menghapus tragedi yang telanjur terjadi, kita tetap bisa mencegah tragedi yang akan terjadi ke depannya.

Jika itu adalah skill yang menyimpan kemungkinan tak terbatas, bukanlah hal yang mustahil untuk melampaui batas garis waktu sekalipun demi mencapai garis waktu asal Lou dan kawan-kawan.

Dengan skill yang berada dalam kondisi prima, bahkan Black Dragon Drephon pun pasti bisa ditaklukkan.

"Aku serahkan padamu, Hugh."

Meskipun aku tidak bisa mengamati tindakanmu dari posisiku saat ini, aku yakin kau pasti bisa menyelesaikannya.

Oleh karena itu, kumohon—

Selamatkanlah Lou dan keluarganya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close