NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shin No Jitsuryoku O Kakushite Iru To Omowa Re Teru Seirei-shi Volume 3 Epilog + Aftferword

Epilog


"Haa, haa……"

Aku berjalan menyusuri tanah yang kini tampak seperti ladang terbakar, mencoba melarikan diri dari Misha yang menunduk diam karena kelelahan, dan dari para malaikat yang tampak siap menghajarku kapan saja setelah pertandingan berakhir.

"……Yo."

"………Ah."

Aku pun menemukan orang yang kucari: Yuma Schleift yang sedang terbaring telentang.

Saat aku menyapanya, ia merespons dengan suara yang kehilangan semangat.

"Tak kusangka, kau terlihat cukup sehat."

"……Kau sendiri juga tidak jauh beda."

Yuma mengembuskan napas panjang lalu menatapku.

"……Jadi, mau membunuhku? Sekarang aku tidak bisa memberikan perlawanan apa pun."

"Terlepas dari mau membunuhmu atau tidak, ada satu hal yang ingin kutanyakan."

"……Kau pikir aku akan memberitahumu soal organisasi itu—"

"Kenapa kau begitu terobsesi dengan revolusi? Apa yang mendorongmu sampai sejauh ini?"

"………"

Yuma terdiam mendengar pertanyaanku. Aku pun melanjutkannya.

"Kau bicara dengan nada yang sangat mulia, tapi apakah itu benar-benar segalanya bagimu?"

"…………"

"Pasti ada alasan yang lebih pribadi, kan?"

Sambil mengenang tatapan mata Yuma yang begitu lurus, aku menanyakan sesuatu yang terus mengusik pikiranku.

Ia menutup mata sejenak, menghela napas, lalu menatap langit malam sebelum akhirnya membuka suara.

"Roh kontrakku…… Crom Cruach, dia terlalu memikirkan tuannya. Saat aku dalam bahaya, dia akan datang sendiri ke sisiku untuk melindungiku meski aku tidak memintanya."

"Tiba-tiba pamer roh?"

"Ya, tepat sekali. Dia roh kebanggaanku. Entah dia itu Evil Spirit atau bukan, bagiku dia adalah rekan terbaik yang tidak perlu kusembunyikan atau kusegani saat dibandingkan dengan roh mana pun."

Ia pasti mengatakannya dari lubuk hati terdalam. Ekspresi Yuma saat menggumamkan hal itu terlihat sangat tenang, dan ia menatap segel roh yang terukir di punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.

"Tapi, orang-orang di sekitarku tidak berpikir demikian."

Ekspresi Yuma berubah seketika.

"Karena dia Evil Spirit, karena dia adalah kegelapan. Hanya karena alasan sesederhana itu... rohku disangkal, dan aku sebagai kontraktornya pun ikut dianiaya."

"…………"

"Ditambah lagi, daerah itu memiliki kepercayaan yang kuat pada ajaran sekte pemuja roh. Pada akhirnya, aku tidak tahan lagi dan memilih untuk pergi……"

Aku tidak bisa berkata apa-apa menanggapi Yuma yang bertutur dengan ekspresi yang seolah sudah menerima takdir. Aku tidak bisa menyangkal perasaan orang-orang itu.

Lagipula, bukankah aku sendiri seharusnya menjadi orang yang lebih condong pada penyangkalan?

"Aku merasa frustrasi karena tidak ada yang mengerti Crom…… tapi lebih dari itu, aku tidak bisa memaafkan saat melihat Crom merasa bersalah seolah-olah dia lah penyebab kami diusir dari kampung halaman."

"Kau……"

"Dia tidak salah apa pun. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia hanya roh kebanggaanku."

Setelah mengatakan itu, Yuma mengulurkan tangannya lurus ke langit.

"Itulah sebabnya aku akan mengubah dunia ini. Tidak peduli metode apa yang digunakan, tidak peduli organisasi mana yang bekerja sama denganku, aku akan menciptakan dunia tempat dia bisa hidup dengan tenang…… dunia di mana aku bisa dengan bangga menyebutnya sebagai roh kebanggaanku."

"………!"

Melihat Yuma yang mengepalkan tangannya kuat-kuat saat mengatakan itu, aku menyadari bahwa aku menyimpan rasa iri yang besar.

Ikatan yang kuat dengan roh kontrak. Saling memedulikan, dan memiliki tekad untuk melawan dunia demi sang roh.

Bagi aku yang saat ini tidak memiliki apa-apa, hal itu terasa sangat memabukkan.

"……Rourke Areal. Apa kau tidak merasakannya?"

"……Apa maksudmu?"

"Kau menguasai Evil Spirit, ditambah kekuatan yang kau tunjukkan di akhir tadi. Apa dunia saat ini tidak terasa sulit untuk ditinggali?"

"……Apa yang kau tahu tentang diriku? Apa kau paham soal kekuatan itu?"

Tanpa sadar, nada bicaraku berubah menjadi penuh tuntutan.

Serangan terakhir tadi—ingatanku saat itu sangat samar, aku tidak ingat apa pun selain memanggil Mistilteinn dan meminjam kekuatan seseorang.

Saat tersadar, aku merasa ada kekuatan besar yang meluap hingga bisa membuat Mistilteinn tumbuh, namun mengenai hal terpenting, aku masih belum paham apa pun.

"……Kau menggunakan kekuatan itu tanpa memahaminya sendiri?"

"Ya, memangnya kenapa... jangan menatapku dengan tatapan seperti itu!"

Aku memprotes Yuma yang menatapku seolah berkata 'apa kau serius, bocah ini?'.

Memangnya aku bisa apa kalau aku sendiri tidak tahu!?

"……Haa, dengar ya, Rourke Areal. Kau itu—!"

"Apa!? Ini—!!"

Saat Yuma baru hendak membuka mulut, tanah tiba-tiba berubah menjadi hitam legam, dan tubuh Yuma yang tergeletak mulai tenggelam ke dalam kegelapan itu layaknya tersedot rawa.

"Yah, yah, rupanya penjemputnya sudah datang."

"Woy! Tunggu sebentar—"

Aku mencoba mengulurkan tangan padanya, tapi sudah terlambat. Hampir seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya, sudah terbenam.

"Rourke Areal. Sebagai rasa hormat karena kau telah mengalahkanku, aku beri satu peringatan."

Yuma berkata demikian sesaat sebelum menghilang ditelan kegelapan.

"Kebangkitan Empat Bencana sudah di depan mata. Bersiaplah."

(Simbol Pemisah)

Di pedalaman perbatasan Kerajaan Draconia, terdapat sebuah gua kapur raksasa yang disebut Gua Danau Naga.

Dua orang Spirit User melangkah menyusuri gua tersebut dengan langkah kaki yang bergema.

"Permisi, kaki saya sudah mau copot. Apa kita belum sampai?"

Haunted, seorang Spirit User muda yang mengenakan jubah hitam, bertanya kepada rekan di sebelahnya, Deyan, seorang Spirit User dengan penampilan menyeramkan yang mengenakan topeng putih.

"Sedikit lagi."

"Deyan-san, kau sudah mengatakan 'sedikit lagi' setiap kali aku bertanya, bukan? Padahal menurutku kita sudah berjalan lebih dari satu jam sejak 'sedikit lagi' yang terakhir itu……"

Haunted mengeluh mendengar jawaban datar Deyan. Baginya, itu terdengar seperti ucapan yang asal-asalan.

"Daripada mengeluh padaku, turunkan saja benda yang ada di bahumu itu."

Kali ini, Deyan menjawab dengan nada malas sambil melirik bahu Haunted. Di sana, terlihat Vlad, seorang Evil Spirit gadis kecil yang mengenakan gaun, sedang duduk di bahu Haunted layaknya sedang digendong.

"Saya sudah memintanya berkali-kali! Tapi dia tidak mau turun sama sekali!"

"…………"

Haunted mencoba meraih tubuh kecil Vlad untuk menurunkannya, tapi Vlad justru mencengkeram erat kepala tuannya dengan tangan dan melingkarkan kakinya di leher Haunted, mengambil posisi pertahanan total.

"Kalau begitu, tahanlah."

"Kejam."

Haunted terus mengeluh soal sikap Deyan yang sedingin es, namun sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di bagian terdalam dari Gua Danau Naga.

"Ternyata sampai juga lebih cepat dari perkiraan."




"Sudah kubilang tadi, sedikit lagi, kan?"

"Menurutmu sudah berapa kali kau bilang 'sedikit lagi'..."

Haunted menatap tajam ke arah Deyan, namun pria itu mengabaikannya dengan sikap seolah tidak peduli sama sekali, lalu mengalihkan pandangannya pada segel di depan mereka.

Segel itu berupa lingkaran sihir hitam yang terukir di dinding.

Haunted menatap keberadaan yang ditidurkan oleh segel sihir yang sangat kuat—bahkan bisa dibilang berlebihan—itu dengan senyum tersungging di wajahnya.

"Ah, akhirnya. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama."

Kata-kata yang pertama kali keluar adalah permintaan maaf yang tulus. Itu adalah penyesalan karena telah membiarkannya menunggu di tempat terpencil seperti ini selama lebih dari seratus tahun.

"Pasti membosankan sekali berada di tempat suram seperti ini selama ini, kan? Tapi, itu semua berakhir hari ini."

Kata-kata selanjutnya yang meluap adalah ungkapan kegembiraan. Sambil merasakan kebahagiaan karena akhirnya bisa membebaskan keberadaan agung ini dari segelnya, dan yang terpenting, merasakan fajar dari era kegelapan yang akan segera dimulai...

"Nah, saatnya untuk bangun. Apep."

Begitu ia bergumam, Haunted mengulurkan tangannya ke arah segel dari Salah Satu dari Empat Bencana, sang Naga Kegelapan, Apep.

Saat formula sihir penyegel itu terlepas, lingkaran sihir tersebut hancur dengan suara seperti kaca yang pecah, dan kegelapan pun meluap keluar di hadapan mereka berdua.


Kata Penutup

Halo para pembaca sekalian, perkenalkan saya penulisnya, Arasamu.

Terima kasih banyak telah menyempatkan diri untuk membaca volume ketiga dari "Seorang Spirit User yang Dikira Menyembunyikan Kemampuan Aslinya, Padahal Selalu Bertarung dengan Sangat Serius".

Jujur saja, saya sempat berpikir bahwa cerita ini akan dihentikan di volume kedua, jadi saya merasa sangat bahagia bisa menerbitkan volume ketiga ini.

Dan kabar yang jauh lebih membahagiakan lagi, adaptasi komik untuk karya ini telah resmi diputuskan!

Meskipun jadwal pastinya belum ditentukan, rencananya seri ini akan mulai diserialisasikan di Comic Gardo!

Membayangkan pertempuran sengit para roh yang selama ini hanya tertulis dalam teks kini akan diwujudkan dalam bentuk visual, membuat saya sebagai penulis merasa sangat antusias!

Bagi para pembaca yang merasa karya ini menarik, saya sangat berharap kalian juga bisa menantikan versi adaptasi komiknya yang akan segera hadir di Comic Gardo.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada ilustrator, Katana Kanata-san. Terima kasih sekali lagi untuk ilustrasi yang sangat indah; saya selalu dibuat terpukau setiap kali melihatnya.

Terima kasih juga kepada tim editor dan seluruh pihak yang terlibat. Dan yang terpenting, terima kasih banyak kepada para pembaca sekalian.

Saya sangat menantikan untuk bisa bertemu dengan kalian lagi di volume berikutnya.



Previous Chapter | ToC

0

Post a Comment

close