NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shin No Jitsuryoku O Kakushite Iru To Omowa Re Teru Seirei-shi Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Menuju Kota Suci


"Jadi, kau terpilih menjadi atlet perwakilan secara tidak sengaja?"

"Iya……"

Beberapa saat setelah menyelesaikan kamp pelatihan intensif selama sekitar satu minggu, aku pergi menemui guruku, Owen.

Tujuanku adalah untuk melaporkan bahwa aku akan berpartisipasi dalam Festival Penampilan Roh Agung.

"Fufu, hanya kaulah satu-satunya yang merasa begitu muram setelah terpilih dalam Festival Penampilan Roh Agung, Rourke."

"Ini bukan hal yang bisa ditertawakan, lho. Apa benar tidak apa-apa kalau aku ikut padahal tidak punya roh kontrak?"

"Yah, tidak ada aturan yang menyatakan kau tidak boleh ikut jika tidak mengontrak roh. Jadi, kurasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."

"……Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada aturan yang melarangnya, ya."

"Tentu saja. Lagipula, pihak penyelenggara dari awal tidak mengantisipasi akan ada Spirit User yang ikut tanpa mengontrak roh, dan sebenarnya tidak ada keuntungan juga ikut tanpa kontrak."

"…………"

Aku menghela napas panjang karena menyadari kebenaran di balik ucapan guruku.

Jika dipikir kembali, pihak penyelenggara memang tidak akan pernah membayangkan ada Spirit User tanpa roh yang ikut bertanding…… Kepalaku jadi pusing memikirkannya.

"Bersikaplah lebih percaya diri. Sejak kau terpilih, kau sudah menjadi seorang Spirit User yang menyandang nama Akademi Yutrea."

"Ugh……"

Itu memang benar. Setelah mendengar kata-kata Misha dan menyelesaikan pertarungan gelar melawan Tralus, seharusnya aku sudah mendapatkan sedikit kepercayaan diri.

Namun, saat berbicara soal Festival Penampilan Roh Agung, situasinya jadi berbeda.

Mengingat lawan yang akan dihadapi juga perwakilan akademi, yaitu para Spirit User setingkat Misha atau Tralus, rasa takut mulai menyelimutiku.

"Yah, aku tidak bilang kalau aku tidak mengerti perasaanmu itu."

Guruku yang memahami isi hatiku tersenyum kecil, lalu mengeluarkan sebuah Spirit Stone yang memancarkan cahaya biru safir dari laci mejanya. Ia lalu melemparkannya ke arahku.

"Ini……"

"Itu hadiah perpisahan dariku. Rohnya memang agak keras kepala, tapi kurasa dia akan berguna bagimu."

Saat aku masih kebingungan dengan Spirit Stone yang tiba-tiba dilemparkan kepadaku, guruku melanjutkan ucapannya.

"Jangan khawatir, kau itu kuat. Aku, gurumu, yang menjaminnya."

"…………Guru."

Hatiku yang baru saja ditepuk lembut di bagian bahu seketika terasa lebih ringan dari sebelumnya.

"Aku yang dulu dijuluki sebagai 'Si Penembus Batas' yang mengatakannya. Membuatmu percaya diri, kan?"

"Tunggu, bukankah dulu Guru sendiri yang bilang kalau Guru sudah lupa dengan julukan itu?"

"Entahlah, aku tidak ingat apa pun."

Aku tak kuasa menahan senyum saat melihat guruku menjawab dengan berpura-pura tidak tahu atas sindiranku.

"Terima kasih banyak, Guru. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."

"Ya, aku mendukungmu, Rourke."

Dengan kata-kata terakhir dari guruku itu, aku pun melangkah keluar dari ruangan.

*****

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Saat aku sedang melakukan pengecekan terakhir pada barang bawaanku di kamar asrama, terdengar suara ketukan di pintu.

"Iya, masuk!"

"Rourke, sudah hampir waktunya. Apa kau sudah siap?"

"Ya, kebetulan baru saja selesai. Aku akan segera keluar."

Aku menjawab panggilan Gareth, lalu menyampirkan tas yang sudah selesai kukemas ke bahu dan melangkah keluar dari kamar.

"Syukurlah, kupikir kau mungkin akan memboikot acara ini…… tapi, bukankah tasmu agak kebesaran?"

"Kalau dipikir-pikir, kita akan pergi ke Kota Suci. Kalau ada barang bagus, aku harus membelinya untuk persediaan."

"Benar-benar tidak mau rugi ya, kau."

Aku menutup pintu kamar sambil mendengarkan komentar Gareth yang dibarengi tawa getir, lalu kami berjalan beriringan menyusuri lorong asrama.

Karena aku sudah tidak bisa melarikan diri lagi, ini adalah hasil dari usahaku untuk memikirkan segalanya dari sisi positif.

"Omong-omong, kudengar kau sudah melapor ke Owen-san soal terpilih jadi perwakilan akademi?"

"Ya, aku bahkan mendapat hadiah. Untunglah aku melaporkannya."

"Hadiah?"

Gareth bertanya dengan wajah penasaran tentang apa yang kuterima, namun aku tidak memberitahunya saat itu juga dan hanya berkata, "Itu kejutan buat nanti."

"Apaan itu, bikin penasaran saja."

"Yah, jujur saja, aku belum tahu apakah aku akan benar-benar menggunakannya atau tidak."

Roh yang kuterima dari guruku itu sulit dikendalikan hanya dengan kontrak sederhana.

Mengingat Festival Penampilan Roh Agung kali ini membutuhkan kerja sama tim, aku masih agak ragu apakah akan ada kesempatan untuk memanggilnya.

"Kalau begitu, aku akan mengandalkanmu dengan anggapan bahwa kau punya senjata rahasia."

"Justru itu kalimat yang seharusnya kuucapkan. Sebaliknya, aku malah lebih mengandalkanmu."

Saat aku mengucapkannya, Gareth membalas dengan senyum getir dan mengoreksiku, "Bukan begitu, kan."

"Jangan cuma mengandalkanku, andalkan juga semuanya. Kita ini satu tim."

"Tim…… ya."

Mendengar kata-kata itu, aku kembali menyadari fakta bahwa kali ini teman-temanku adalah banyak Spirit User hebat yang dipimpin oleh Misha dan Tralus.

"Memang benar…… kau ada benarnya."

Entah kenapa, saat berpikir seperti itu aku merasa kami bisa menang……… tunggu sebentar, kalau dipikir-pikir baik-baik, dengan adanya mereka, bukannya tanpa aku pun kita bisa memenangkan Festival Penampilan Roh Agung?

Eh? Kalau dipikir-pikir lagi, bukannya acara ini sebenarnya jauh lebih mudah daripada yang kubayangkan?

"……Rourke?"

"……Ah, maaf. Ya, kau benar. Sesuai ucapanmu, aku akan mengandalkan semuanya."

"Kenapa wajahmu terlihat sangat berseri-seri begitu?"

"Perasaanmu saja."

Aku membalas Gareth yang menatapku dengan ekspresi curiga, lalu dengan langkah kaki yang terasa lebih ringan, aku meninggalkan asrama menuju gerbang depan Akademi Yutrea yang menjadi tempat berkumpul.

Aku dan Gareth sedikit berlari untuk bergabung dengan para anggota perwakilan yang sudah menunggu di gerbang.

Meskipun aku bermaksud datang sebelum waktu berkumpul, ternyata kami membuat mereka menunggu lumayan lama.

"Kalian berdua, akhirnya datang."

"Maaf, apa kami membuat kalian menunggu?"

"Tidak, sama sekali tidak. Lagipula ini belum waktunya berkumpul, dan lagi……"

Misha berkata demikian sambil mengalihkan pandangannya ke belakang kami.

Terpancing olehnya, aku pun menoleh ke belakang untuk mengecek dan melihat Leia yang sedang berlari menghampiri dengan wajah panik.

"M-maafkan saya! Saya terlambat!!"

"Uuun……"

Leia terengah-engah dan meminta maaf kepada Misha, sambil menarik tangan Akari yang masih terlihat setengah sadar.

"Tidak apa-apa, kok. Lagipula dari awal kalian tidak terlambat dari waktu yang ditentukan."

"S-syukurlah……"

Mendengar kata-kata Misha, Leia mengembuskan napas lega, lalu kali ini menatap tajam ke arah Akari yang ditariknya.

"Akari-san, tolong kumpulkan kesadaranmu!!"

"Lima menit lagi……"

"Tentu saja tidak boleh!?"

Kepala Akari ditepuk keras oleh Leia karena ia hampir jatuh tertidur lagi. Ia lalu bergumam "Sakit" sambil menggosok matanya.




"Sepertinya kau sudah seperti ibu saja, Leia."

"R-Rourke-senpai."

Aku menegurnya karena melihat pemandangan mereka berdua dan tak kuasa menahan senyum getir. Leia menatapku dengan ekspresi malu-malu.

"Memalukan sekali melihatnya sampai seperti ini……"

"Begitukah? Justru menurutku bagus, itu menunjukkan kalau kau sangat peduli pada orang lain."

"Tidak juga……"

Aku tertawa melihat Leia yang bergumam sambil tampak malu, lalu menepuk punggung kecilnya dengan ringan dan berkata.

"Aku mengandalkanmu, ya."

Sungguh, aku benar-benar serius.

"………Iya!"

Saat Leia menjawab dengan penuh semangat dan Misha serta Gareth menatap mereka dengan tatapan yang hangat, tiba-tiba sebuah hantaman terasa di punggungku. Saat menoleh, kulihat Lily sedang mendongak menatapku.

"Rourke, bagaimana denganku?"

"Jangan coba-coba bersaing dengan adik kelas begitu……"

Meski aku mengatakannya dengan nada jengah, Lily terus menatapku dengan tatapan penuh harap.

Aku pun menyerah dan mengusap kepalanya, lalu mengucapkan kata-kata yang mungkin ia harapkan.

"Tentu saja, aku juga mengandalkanmu, Lily. Tolong bantuannya, ya."

"Tak perlu kau katakan pun aku tahu."

Kalau begitu, jangan suruh aku mengatakannya……

Saat aku sedang mengusap kepala Lily, terdengar suara tepuk tangan yang menarik perhatian. Saat kutengok, ternyata itu adalah instruktur kami, Alberto-sensei, yang sedang mengumpulkan perhatian orang di sekitarnya.

"Semuanya sudah berkumpul, kan? Sebentar lagi pemandu dari Institut Roh akan datang, jadi bersiaplah agar kita bisa segera berangkat!"

"Omong-omong, bagaimana cara kita pergi ke Kota Suci?"

Aku tiba-tiba teringat pertanyaan itu karena ucapan Alberto-sensei, lalu bertanya kepada Gareth yang sedang menyampirkan tasnya di bahu di sebelahku.

Jika pergi secara normal dari sini, butuh waktu seminggu, padahal jika dipikir-pikir, Festival Penampilan Roh Agung diadakan besok.

"Entahlah, aku juga tidak tahu detailnya, tapi katanya kita akan sampai dalam sekejap."

"Sejenak, maksudnya―――"

Aku bertanya-tanya apa maksudnya, lalu mendeteksi adanya energi roh yang bergerak ke arah kami dari langit. Aku pun menghentikan percakapan dan mengalihkan pandangan ke sumber energi roh tersebut.

"Mereka datang."

Seekor roh raksasa yang tampak seperti angsa putih terbang dengan angkuhnya di langit biru yang cerah.

Di punggungnya, seorang Spirit User berjubah putih duduk, dan mereka turun perlahan ke depan gerbang sekolah bersama-sama.

"Salam kenal. Nama saya Norn, saya datang dari Institut Roh sebagai pemandu menuju Kota Suci."

Spirit User yang turun dari punggung roh tersebut melepas tudungnya, memperlihatkan sosoknya, lalu memperkenalkan diri dengan nada bicara yang terasa agak kaku.

"Institut Roh……"

Institut Roh. Sebuah organisasi keagamaan besar yang menyembah agama yang disebut sebagai Pemujaan Roh.

Mereka adalah penyelenggara Festival Penampilan Roh Agung yang akan kami ikuti, sekaligus organisasi yang mengelola wilayah suci, termasuk Kota Suci sebagai tempat diadakannya acara. Mungkin ini adalah agama yang paling banyak dianut di benua ini.

"Apakah kalian semua adalah perwakilan dari Akademi Yutrea yang akan berpartisipasi dalam Festival Penampilan Roh Agung?"

"Ya, benar sekali."

"Kalau begitu―――"

Di saat Norn, wanita yang menjadi pemandu itu, sedang melakukan prosedur verifikasi dengan Alberto-sensei, aku diam-diam berbisik kepada Gareth.

"Hei, menurutmu bagaimana sebenarnya cara kita pindah tempat?"

"Bukankah kemungkinan besar pakai kapal terbang? Kalau harus memindahkan orang sebanyak ini dengan kecepatan tertentu, caranya pasti terbatas……"

Saat aku dan Gareth sedang memikirkan cara berpindah tempat, Alberto-sensei dan sang pemandu yang sepertinya sudah selesai mengobrol berjalan mendekat ke arah kami.

Apakah kita akan segera berangkat?

"Kalau begitu, para atlet perwakilan Akademi Yutrea, bisakah kalian berkumpul di satu tempat karena kita akan segera berangkat ke Kota Suci?"

Sesuai dugaan, kita akan segera pindah. Setelah memastikan kami sudah berkumpul di satu titik, Norn mengeluarkan sebuah medium dari sakunya dan melemparkannya ke udara. Seketika itu juga, muncul sosok roh berbentuk aneh yang terdiri dari batu-batu yang tersusun melingkar.

"Apakah itu Sarkria? Baru pertama kali aku melihatnya……"

"Ah, tidak disangka aku bisa melihat roh kuno yang dijuluki sebagai fosil roh secara langsung……"

Di saat aku dan Kyle sedang terkejut melihat roh yang biasanya hanya ada di literatur, Sarkria yang mengambang di atas kepala kami mengembangkan tubuh melingkarnya dan mengurung kami semua, termasuk Norn.

"Baiklah, kita akan berangkat sekarang. Demi keamanan, mohon jangan bergerak dari tempat kalian berada."

Norn bergumam demikian lalu memanggil roh kontraknya, sang angsa, ke sisinya.

Kemudian, sambil menghabiskan energi roh dalam jumlah besar, ia menggambar formula sihir dengan pola geometris yang rumit di atas tanah.

"……Hmm? Tunggu sebentar, apakah formula sihir ini jangan-jangan―――"

Tepat saat aku hendak bersuara karena menyadari efek dari formula sihir yang terukir itu, pandanganku seketika diselimuti cahaya samar, dan saat berikutnya, pemandangan di depanku berubah total.

Gerbang sekolah yang seharusnya terlihat tadi telah lenyap tanpa bekas, dan sebagai gantinya, sebuah air mancur putih dengan hiasan megah muncul di depan mata. Tanpa perlu berpikir panjang, ini adalah―――.

"Teknik Teleportasi……"

Seni roh tingkat tertinggi yang menghubungkan dua ruang. Teknik roh yang memanfaatkan atribut unik Sarkria ini dikatakan sangat rumit, karena memerlukan kontrol energi roh yang halus, tidak hanya dari Spirit User-nya, tapi juga dari roh kontraknya.

Oleh karena itu, satu-satunya yang mampu menguasai teknik teleportasi hanyalah segelintir Spirit User yang telah mengontrak roh tingkat tinggi yang memiliki kontrol energi roh yang presisi. Aku pun tak bisa tidak mengakui betapa tingginya kemampuan Norn sebagai Spirit User.

"……Fuu, kalian sudah boleh bergerak."

Suara Norn yang terdengar lelah dengan keringat bercucuran di dahinya masuk ke telingaku. Pasti sangat menguras energi roh dan stamina untuk menggunakan teknik teleportasi.

Jika dilihat, rohnya pun tampak lemas dengan kepala tertunduk.

"Kepada semua pihak dari Akademi Yutrea, selamat datang di Kota Suci. Kami dari Institut Roh menyambut kedatangan kalian."

Saat menoleh karena suara tersebut, kulihat tiga wanita berjubah biarawati putih bersih sedang membungkuk memberi salam.

"Kami juga telah menyiapkan penginapan di sini, jadi saya harap kalian bisa memulihkan stamina hari ini dan bersiap untuk Festival Penampilan Roh Agung besok."

"Terima kasih. Mewakili Akademi Yutrea dan Kerajaan Romus, saya ucapkan terima kasih."

Di saat Misha berterima kasih dengan sikap yang anggun, aku mendekat ke arah Alberto-sensei secara diam-diam.

"Sensei, saya ingin berkeliling Kota Suci sebentar, apakah boleh?"

"Yah, jarang-jarang kan kita bisa datang ke Kota Suci. Selama tidak mengganggu acara besok, tidak masalah."

"Terima kasih."

Aku mengepalkan tangan ke dalam hati karena mendapat izin dari Sensei. Mumpung sudah datang ke Kota Suci, aku ingin melihat apa pun yang bisa dilihat selagi ada waktu.

"Baiklah, kami akan mengantar kalian ke penginapan, silakan lewat sini."

Mengikuti arahan dari pihak Institut Roh, aku pun mulai membayangkan rencana berkeliling Kota Suci.

*****

"Nah, ke mana ya kita pergi?"

Setelah keluar dari penginapan yang terlalu mewah—yang sepertinya disiapkan untuk peserta Festival Penampilan Roh Agung—aku berdiri dengan gagah, memandangi peta Kota Suci yang diberikan oleh pihak Institut Roh sambil bingung menentukan tujuan, hingga punggungku ditepuk pelan.

"Yo."

"Lily, ya?"

Saat menoleh, kulihat Lily sedang menatapku dari bawah. Seandainya dia adalah seorang pembunuh bayaran yang mengincarku, aku pasti sudah mati sepuluh kali lipat…… tapi, ya sudahlah.

"Kau mau ikut keliling Kota Suci juga?"

"Hmm."

Lily mengangguk mantap atas tawaranku. Sekilas ia tampak seperti biasanya, tapi aku tidak melewatkan matanya yang berbinar-binar. Ternyata Lily juga antusias karena ini pertama kalinya dia ke Kota Suci.

"Oke, kalau begitu waktu kita terbatas. Ayo, Lily!"

"Ooh."

Sambil mendengar jawaban Lily yang terdengar tidak bersemangat, aku berlari agar bisa menikmati Kota Suci sampai waktu habis.

"Lily, katanya ini jajanan yang lagi hits di Kota Suci. Mau makan?"

"Mau."

"Oke, permisi. Saya beli jajanan ini―――"

Kami membeli jajanan yang sedikit lebih mahal karena sedang populer di Kota Suci……

"Haruskah aku bilang perpustakaan Kota Suci itu luar biasa? Jumlah koleksinya tidak masuk akal. Meski aku merasa agak banyak buku tentang agama sih……"

"…………"

"Lily, maaf mengganggu konsentrasimu, tapi kita harus segera pergi."

"…………"

"Lily!"

Kami mengunjungi perpustakaan Kota Suci, dan karena Lily terlalu antusias dengan ukurannya, ia jadi terpaku pada buku sampai waktu yang direncanakan meleset jauh……

"Cocok tidak?"

"Oh, cocok kok."

"Ya sudah, beli ah."

Kami melihat berbagai pernak-pernik di toko oleh-oleh Kota Suci yang jujur saja sepertinya bisa ditemukan di tempat lain selain Kota Suci……

"Jadi ini yang disebut sebagai Bukti Lumen yang menggambarkan pertempuran terakhir dari Perang Roh Jahat."

Aku bergumam sambil memandangi lukisan perang yang menggambarkan pahlawan Arthur yang sedang melawan Spirit User keji, Ivan, beserta bayangan hitam yang diduga sebagai Empat Bencana, dengan memegang pedang dan tombak yang bersinar. Sekilas penggambaran itu terasa sangat putus asa, tapi perasaan seperti apa yang dirasakan Arthur saat menghadapi para roh jahat itu……

"…………"

"Lily, kau mulai mengantuk?"

"……Tidak juga."

"Tidak, kau terlihat sangat mengantuk lho……"

Entah karena museumnya membosankan atau karena kelelahan, tampaknya Lily sudah mulai mengantuk. Mungkin sudah waktunya kembali ke penginapan, tapi……

"Lily, aku ingin mampir ke satu tempat terakhir sebelum pulang, boleh?"

"……Hmm."

Setelah berhasil mendapat izin dari Lily, kami keluar dari museum dan bergegas menuju tempat yang paling ingin kulihat: alun-alun di pusat Kota Suci yang disebut sebagai Alun-Alun Pahlawan.

"Rourke."

"Apa?"

"Alun-Alun Pahlawan itu tempat seperti apa?"

"Hmm, yah…… tempatnya persis seperti namanya."

"……?"

Lily memiringkan kepalanya dengan bingung. Aku pun berkata dengan senyum kecut, "Kalau ke sana nanti kau juga tahu." Hal seperti ini memang lebih cepat dilihat langsung daripada dijelaskan dengan kata-kata.

"……Nah, sudah kelihatan."

"………!"

Di tempat yang kutunjuk, Lily membelalakkan matanya lebar-lebar saat melihat kristal yang menjulang tinggi seperti menara, hingga rasa kantuknya hilang seketika.

"Itu, jangan-jangan……"

"Ya, itu adalah roh tombak suci, Longinus, yang dikabarkan pernah bertarung bersama pahlawan Arthur."

Dengan mengenakan zirah putih layaknya seorang ksatria dan sepasang sayap putih bersih yang tumbuh dari punggungnya, sosok itu tampak sangat mistis dan heroik.

"Luar biasa."

"Ya, benar sekali……"

Aku setuju dengan gumaman Lily sambil mendongak menatap Longinus lagi.

Meski sekarang ia sedang tertidur di dalam kristal, rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada saat berpikir bahwa roh ini pernah bertarung bersama pahlawan sebagaimana digambarkan dalam lukisan perang itu.

"Konon katanya, Longinus menyegel dirinya sendiri bersamaan dengan kematian kontraktornya, Arthur, sebagai bukti kesetiaan."

"……Siapa Anda?"

"Tidakkah Anda berpikir ini adalah kisah tragis yang indah yang menunjukkan ikatan antara roh dan Spirit User?"

Saat aku menoleh ke arah sumber penjelasan, seorang remaja laki-laki yang mengenakan seragam sekolah hitam sedang berdiri di sebelahku, ikut mendongak menatap Longinus.

Remaja cerdas berambut putih yang memanjang hingga ke dekat matanya dengan kacamata berbingkai hitam itu tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya ke arah kami.

"Salam kenal, kalian dari Akademi Yutrea. Saya Yuma Schereft, Ketua OSIS dari Akademi Libel."

"……Saya Rourke Aleas dari Akademi Yutrea."

"Lily Olalia."

Aku merespons jabatan tangan Yuma sambil merasa bingung. Tidak disangka bisa bertemu dengan Ketua OSIS dari sekolah juara Festival Penampilan Roh Agung sebelumnya di tempat seperti ini……

"Lagipula, ternyata kamu adalah Rourke Aleas ya……"

"…………Eh? Kau mengenalku?"

Karena cara bicaranya yang seolah sudah mengenalku sejak lama, aku secara refleks bertanya balik.

"Ya, saya sudah mendengar banyak cerita tentangmu. Saya dengar kamu adalah Spirit User berbakat yang bahkan melampaui Misha Romus, yang disebut-sebut sebagai yang terkuat di Akademi Yutrea."

"……Be, benarkah…… begitu?"

"Ya, tentu saja benar."

Sambil membalas senyuman Yuma, aku memegangi kepalaku karena fakta bahwa rumor tentang diriku sudah tersebar ke luar. Jangan bercanda, apakah kabarnya sudah sampai ke luar? Pasti ceritanya sudah ditambah-tambahkan…… tolonglah.

Lily yang berada di depanku tampak berbangga diri dengan melipat tangan, sementara di belakangku ada Lily yang tampak mengangguk-angguk kecil.

Kau ini berdiri di posisi apa sampai ikutan mengangguk-angguk? Batinku bertanya sambil bangkit berdiri.

"Sepertinya kamu pasti lelah. Sebaiknya hari ini segera istirahat untuk mempersiapkan hari esok."

"Ya, akan saya lakukan. Terima kasih atas perhatiannya."

"Bukan apa-apa, justru saya yang minta maaf karena tiba-tiba menyapa. Saya menantikan untuk bisa bertarung melawanmu dengan kekuatan penuh di Festival Penampilan Roh Agung nanti."

Sambil menatap Yuma yang pergi dari tempat itu dengan senyum ceria, aku melepasnya dengan senyum canggung, "Ya, tolong beri kami keringanan……"

"…………"

"Rourke-senpai?"

Saat aku sedang merasa murung, sebuah suara yang kukenal terdengar dari belakang. Saat kutoleh, kulihat Leia dan Akari berdiri berdampingan.

"……Kalian berdua juga melihatnya? Tak disangka."

"Sebenarnya aku ingin tidur di penginapan, tapi aku dipaksa oleh Leia."

"Ah, ngomong-ngomong Leia memang sedang dibacakan buku biografi Arthur, ya."

Aku mengerti setelah mendengar kata-kata malas Akari. Benar juga, saat kami pergi ke kedai crepe, kami sempat membahas hal itu.

"Iya, karena ini kesempatan langka, saya pikir saya harus melihatnya."

"Sebenarnya dia ingin pergi bersama Rourke-senpai, tapi karena Senpai pergi dengan cepat, akhirnya aku yang terpaksa menemaninya……"

"A, Akari-san!! A, apa yang kau katakan!?"

Leia memerah padam dan mengguncang bahu Akari yang mengeluh dengan nada tidak puas.

"Yah, memang kalau mau ke sini lebih baik dengan orang yang mengerti biografi Arthur."

"I, iya! Benar begitu!! Sayang sekali kalau tidak pergi dengan seseorang yang bisa diajak berbagi cerita tentang kisahnya―――"

"Eh, tapi bukannya tadi pas datang ke tempatku―――"

"Aku akan membakarmu lho!?"

Akari yang terus diguncang oleh Leia yang sedang mengamuk tampak hampir kelelahan bahkan sebelum sempat dibakar. Mungkin sudah saatnya aku membebaskannya.

"Sudahlah, Leia. Hentikan sampai di situ, aku sudah mengerti."

"A, apa benar begitu?"

"Ya, aku tahu betapa sulitnya disalahpahami, jadi tenang saja."

Aku menjawab dengan percaya diri. Dalam situasi seperti ini, yang terbaik adalah mempercayai perkataan orangnya langsung. Karena dia sendiri yang bilang begitu, pasti benar.

"O, oh ya? Syukurlah kalau begitu……"

Mungkin karena lega mendengar kata-kataku, akhirnya tangannya berhenti mengguncang Akari. Akari yang sudah bebas tampak sedikit sempoyongan, tapi mungkin untuk saat ini dia baik-baik saja.

"Ngomong-ngomong Rourke-senpai, apakah tadi Anda bersama seseorang selain Lily-senpai?"

"Ah, kau melihatnya ya……"

Sepertinya mereka melihat percakapan dengan Yuma tadi. Yah, bukan hal yang harus disembunyikan, jadi tidak masalah.

"Aku tadi kebetulan bertemu dan mengobrol dengan Ketua OSIS Akademi Libel."

"Ketua OSIS Akademi Libel!"

"…………"

Leia tampak terkejut karena tidak menyangka aku berbicara dengan Ketua OSIS, dan Akari yang tadinya tampak sempoyongan tiba-tiba aura yang membalutnya berubah drastis.

"Ada apa, Akari?"

"……Apakah yang kau temui hanya Ketua OSIS-nya saja?"

"E, eh. Iya. Kenapa memangnya……"

Saat aku menjawab sambil bertanya-tanya dengan isi pertanyaan Akari, dia hanya menjawab "Begitu ya..." dengan nada datar sambil menghilangkan aura mengancam yang tadinya membalutnya.

"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"

"……Bukan apa-apa."

Meskipun Akari membantahnya, sudah pasti ada sesuatu dengan Akademi Libel. Namun, selama dia sendiri bilang tidak ada apa-apa, mungkin lebih baik tidak usah ditanyakan lebih jauh.

"Rourke."

"……Ah. Iya, benar juga. Ayo kita pulang sekarang."

Sambil mengangguk menanggapi perkataan Lily, aku berkata begitu. Jika memikirkan hari esok, sebaiknya kita segera kembali ke penginapan untuk beristirahat.

"Bagaimana dengan kalian berdua?"

"……Kami juga akan kembali. Apa yang ingin kami lihat sudah terlihat."

Aku mengangguk pada Leia yang menjawab sambil sesekali melirik Akari. Pasti itu yang terbaik.

"Kalau begitu, mari kita kembali bersama-sama."

Aku bergumam begitu lalu berjalan menuju asrama ditemani oleh mereka bertiga.

Saat aku tidak sengaja melihat ke langit, langit yang tadinya cerah kini mulai meredup, sepertinya matahari hampir terbenam.

"…………"

Sambil menatap langit seperti itu, aku merasakan kecemasan yang samar di dalam hati.

*****

Waktu sedikit berputar mundur, tepat setelah Yuma dan Rourke berpisah.

Yuma Schereft berjalan tanpa tujuan menyusuri Kota Suci.

"Akhirnya ketemu, Yuma-kun."

"Oh, jarang sekali kamu punya urusan denganku."

Saat sebuah suara memanggil dari belakang dan aku menoleh, seorang gadis yang mengenakan seragam akademi yang sama sedang menatapku.

Rambut hitamnya dipotong hingga sebahu, dan mata merah seperti batu rubi itu memiliki tahi lalat di bawah matanya.

Tubuhnya ramping, tetapi lekuk dadanya tampak jelas bahkan dari balik seragamnya, memberinya penampilan yang menarik perhatian lawan jenis.

Gadis itu menatapku dengan senyum menggoda, lalu menyangkal kata-kataku dengan mengatakan "Tidak juga".

"Bukan aku, tapi guru yang memanggilmu, Yuma-kun."

"Begitu ya, kalau begitu saya minta maaf sudah merepotkan."

Sambil meminta maaf kepada gadis yang kemungkinan besar bersusah payah mencarinya, Yuma melangkahkan kakinya menuju penginapan tempat para siswa Akademi Libel berada.

"……Yuma-kun."

"Ada apa?"

"Apakah ada sesuatu yang menyenangkan?"

Yuma tidak sengaja menghentikan langkahnya karena pertanyaan itu, lalu berbalik menatap gadis itu.

"Apa terlihat seperti itu?"

"Sangat terlihat."

"……Hmm."

Aku bermaksud menyembunyikannya, tapi sepertinya sudah terlihat di wajahku.

"Sebenarnya saya bertemu dengan siswa yang sudah lama saya perhatikan. Mungkin itu penyebabnya."

"Hehehe~, siswa dari mana?"

"Akademi Yutrea."

Begitu aku menjawab nama sekolahnya, ekspresi gadis itu berubah sedikit, jadi Yuma bertanya sambil merasa heran.

"Apa kamu juga tertarik dengan seseorang dari akademi itu?"

"Fufu, tidak sampai disebut tertarik sih."

Melihat reaksinya yang menjawab dengan santai namun kontradiktif, Yuma merasa heran, lalu mulai berjalan kembali dan berkata dari balik punggungnya.

"Semoga kamu bisa bertarung melawan lawan yang kamu inginkan, Tsukikage-san."

"Sama-sama."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close