Chapter 2
Menuju Kota Suci
"Jadi, kau
terpilih menjadi atlet perwakilan secara tidak sengaja?"
"Iya……"
Beberapa saat
setelah menyelesaikan kamp pelatihan intensif selama sekitar satu minggu, aku
pergi menemui guruku, Owen.
Tujuanku adalah
untuk melaporkan bahwa aku akan berpartisipasi dalam Festival Penampilan Roh
Agung.
"Fufu, hanya
kaulah satu-satunya yang merasa begitu muram setelah terpilih dalam Festival
Penampilan Roh Agung, Rourke."
"Ini
bukan hal yang bisa ditertawakan, lho. Apa benar tidak apa-apa kalau aku ikut
padahal tidak punya roh kontrak?"
"Yah,
tidak ada aturan yang menyatakan kau tidak boleh ikut jika tidak mengontrak
roh. Jadi, kurasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"……Kalau
dipikir-pikir, memang tidak ada aturan yang melarangnya, ya."
"Tentu
saja. Lagipula, pihak penyelenggara dari awal tidak mengantisipasi akan ada Spirit
User yang ikut tanpa mengontrak roh, dan sebenarnya tidak ada keuntungan
juga ikut tanpa kontrak."
"…………"
Aku menghela
napas panjang karena menyadari kebenaran di balik ucapan guruku.
Jika dipikir
kembali, pihak penyelenggara memang tidak akan pernah membayangkan ada Spirit
User tanpa roh yang ikut bertanding…… Kepalaku jadi pusing memikirkannya.
"Bersikaplah
lebih percaya diri. Sejak kau terpilih, kau sudah menjadi seorang Spirit
User yang menyandang nama Akademi Yutrea."
"Ugh……"
Itu memang benar.
Setelah mendengar kata-kata Misha dan menyelesaikan pertarungan gelar melawan
Tralus, seharusnya aku sudah mendapatkan sedikit kepercayaan diri.
Namun, saat
berbicara soal Festival Penampilan Roh Agung, situasinya jadi berbeda.
Mengingat lawan
yang akan dihadapi juga perwakilan akademi, yaitu para Spirit User
setingkat Misha atau Tralus, rasa takut mulai menyelimutiku.
"Yah,
aku tidak bilang kalau aku tidak mengerti perasaanmu itu."
Guruku
yang memahami isi hatiku tersenyum kecil, lalu mengeluarkan sebuah Spirit
Stone yang memancarkan cahaya biru safir dari laci mejanya. Ia lalu melemparkannya ke arahku.
"Ini……"
"Itu hadiah
perpisahan dariku. Rohnya memang agak keras kepala, tapi kurasa dia akan
berguna bagimu."
Saat aku masih
kebingungan dengan Spirit Stone yang tiba-tiba dilemparkan kepadaku,
guruku melanjutkan ucapannya.
"Jangan
khawatir, kau itu kuat. Aku, gurumu, yang menjaminnya."
"…………Guru."
Hatiku yang baru
saja ditepuk lembut di bagian bahu seketika terasa lebih ringan dari
sebelumnya.
"Aku yang
dulu dijuluki sebagai 'Si Penembus Batas' yang mengatakannya. Membuatmu percaya
diri, kan?"
"Tunggu,
bukankah dulu Guru sendiri yang bilang kalau Guru sudah lupa dengan julukan
itu?"
"Entahlah,
aku tidak ingat apa pun."
Aku tak kuasa
menahan senyum saat melihat guruku menjawab dengan berpura-pura tidak tahu atas
sindiranku.
"Terima
kasih banyak, Guru. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ya, aku
mendukungmu, Rourke."
Dengan kata-kata
terakhir dari guruku itu, aku pun melangkah keluar dari ruangan.
*****
Hari yang
ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Saat aku sedang melakukan pengecekan
terakhir pada barang bawaanku di kamar asrama, terdengar suara ketukan di
pintu.
"Iya,
masuk!"
"Rourke,
sudah hampir waktunya. Apa kau sudah siap?"
"Ya,
kebetulan baru saja selesai. Aku akan segera keluar."
Aku menjawab
panggilan Gareth, lalu menyampirkan tas yang sudah selesai kukemas ke bahu dan
melangkah keluar dari kamar.
"Syukurlah,
kupikir kau mungkin akan memboikot acara ini…… tapi, bukankah tasmu agak
kebesaran?"
"Kalau
dipikir-pikir, kita akan pergi ke Kota Suci. Kalau ada barang bagus, aku harus
membelinya untuk persediaan."
"Benar-benar
tidak mau rugi ya, kau."
Aku
menutup pintu kamar sambil mendengarkan komentar Gareth yang dibarengi tawa
getir, lalu kami berjalan beriringan menyusuri lorong asrama.
Karena
aku sudah tidak bisa melarikan diri lagi, ini adalah hasil dari usahaku untuk
memikirkan segalanya dari sisi positif.
"Omong-omong,
kudengar kau sudah melapor ke Owen-san soal terpilih jadi perwakilan
akademi?"
"Ya,
aku bahkan mendapat hadiah. Untunglah aku melaporkannya."
"Hadiah?"
Gareth
bertanya dengan wajah penasaran tentang apa yang kuterima, namun aku tidak
memberitahunya saat itu juga dan hanya berkata, "Itu kejutan buat
nanti."
"Apaan itu,
bikin penasaran saja."
"Yah, jujur
saja, aku belum tahu apakah aku akan benar-benar menggunakannya atau
tidak."
Roh yang kuterima
dari guruku itu sulit dikendalikan hanya dengan kontrak sederhana.
Mengingat
Festival Penampilan Roh Agung kali ini membutuhkan kerja sama tim, aku masih
agak ragu apakah akan ada kesempatan untuk memanggilnya.
"Kalau
begitu, aku akan mengandalkanmu dengan anggapan bahwa kau punya senjata
rahasia."
"Justru itu
kalimat yang seharusnya kuucapkan. Sebaliknya, aku malah lebih
mengandalkanmu."
Saat aku
mengucapkannya, Gareth membalas dengan senyum getir dan mengoreksiku,
"Bukan begitu, kan."
"Jangan cuma
mengandalkanku, andalkan juga semuanya. Kita ini satu tim."
"Tim……
ya."
Mendengar
kata-kata itu, aku kembali menyadari fakta bahwa kali ini teman-temanku adalah
banyak Spirit User hebat yang dipimpin oleh Misha dan Tralus.
"Memang benar…… kau ada benarnya."
Entah kenapa,
saat berpikir seperti itu aku merasa kami bisa menang……… tunggu sebentar, kalau
dipikir-pikir baik-baik, dengan adanya mereka, bukannya tanpa aku pun kita bisa
memenangkan Festival Penampilan Roh Agung?
Eh? Kalau
dipikir-pikir lagi, bukannya acara ini sebenarnya jauh lebih mudah daripada
yang kubayangkan?
"……Rourke?"
"……Ah, maaf.
Ya, kau benar. Sesuai ucapanmu, aku akan mengandalkan semuanya."
"Kenapa
wajahmu terlihat sangat berseri-seri begitu?"
"Perasaanmu
saja."
Aku membalas
Gareth yang menatapku dengan ekspresi curiga, lalu dengan langkah kaki yang
terasa lebih ringan, aku meninggalkan asrama menuju gerbang depan Akademi
Yutrea yang menjadi tempat berkumpul.
Aku dan Gareth
sedikit berlari untuk bergabung dengan para anggota perwakilan yang sudah
menunggu di gerbang.
Meskipun aku
bermaksud datang sebelum waktu berkumpul, ternyata kami membuat mereka menunggu
lumayan lama.
"Kalian
berdua, akhirnya datang."
"Maaf, apa
kami membuat kalian menunggu?"
"Tidak, sama
sekali tidak. Lagipula ini belum waktunya berkumpul, dan lagi……"
Misha berkata
demikian sambil mengalihkan pandangannya ke belakang kami.
Terpancing
olehnya, aku pun menoleh ke belakang untuk mengecek dan melihat Leia yang
sedang berlari menghampiri dengan wajah panik.
"M-maafkan
saya! Saya terlambat!!"
"Uuun……"
Leia
terengah-engah dan meminta maaf kepada Misha, sambil menarik tangan Akari yang
masih terlihat setengah sadar.
"Tidak
apa-apa, kok. Lagipula dari awal kalian tidak terlambat dari waktu yang
ditentukan."
"S-syukurlah……"
Mendengar
kata-kata Misha, Leia mengembuskan napas lega, lalu kali ini menatap tajam ke
arah Akari yang ditariknya.
"Akari-san,
tolong kumpulkan kesadaranmu!!"
"Lima menit
lagi……"
"Tentu saja
tidak boleh!?"
Kepala Akari ditepuk keras oleh Leia karena ia hampir jatuh tertidur lagi. Ia lalu bergumam "Sakit" sambil menggosok matanya.
"Sepertinya
kau sudah seperti ibu saja, Leia."
"R-Rourke-senpai."
Aku menegurnya
karena melihat pemandangan mereka berdua dan tak kuasa menahan senyum getir.
Leia menatapku dengan ekspresi malu-malu.
"Memalukan
sekali melihatnya sampai seperti ini……"
"Begitukah?
Justru menurutku bagus, itu menunjukkan kalau kau sangat peduli pada orang
lain."
"Tidak
juga……"
Aku tertawa
melihat Leia yang bergumam sambil tampak malu, lalu menepuk punggung kecilnya
dengan ringan dan berkata.
"Aku
mengandalkanmu, ya."
Sungguh,
aku benar-benar serius.
"………Iya!"
Saat Leia
menjawab dengan penuh semangat dan Misha serta Gareth menatap mereka dengan
tatapan yang hangat, tiba-tiba sebuah hantaman terasa di punggungku. Saat
menoleh, kulihat Lily sedang mendongak menatapku.
"Rourke,
bagaimana denganku?"
"Jangan coba-coba bersaing dengan adik kelas
begitu……"
Meski aku mengatakannya dengan nada jengah, Lily terus
menatapku dengan tatapan penuh harap.
Aku pun menyerah dan mengusap kepalanya, lalu mengucapkan
kata-kata yang mungkin ia harapkan.
"Tentu saja,
aku juga mengandalkanmu, Lily. Tolong bantuannya, ya."
"Tak perlu
kau katakan pun aku tahu."
Kalau begitu,
jangan suruh aku mengatakannya……
Saat aku sedang
mengusap kepala Lily, terdengar suara tepuk tangan yang menarik perhatian. Saat
kutengok, ternyata itu adalah instruktur kami, Alberto-sensei, yang sedang
mengumpulkan perhatian orang di sekitarnya.
"Semuanya
sudah berkumpul, kan? Sebentar lagi pemandu dari Institut Roh akan datang, jadi
bersiaplah agar kita bisa segera berangkat!"
"Omong-omong,
bagaimana cara kita pergi ke Kota Suci?"
Aku tiba-tiba
teringat pertanyaan itu karena ucapan Alberto-sensei, lalu bertanya kepada
Gareth yang sedang menyampirkan tasnya di bahu di sebelahku.
Jika pergi secara
normal dari sini, butuh waktu seminggu, padahal jika dipikir-pikir, Festival
Penampilan Roh Agung diadakan besok.
"Entahlah,
aku juga tidak tahu detailnya, tapi katanya kita akan sampai dalam
sekejap."
"Sejenak,
maksudnya―――"
Aku
bertanya-tanya apa maksudnya, lalu mendeteksi adanya energi roh yang bergerak
ke arah kami dari langit. Aku pun menghentikan percakapan dan mengalihkan
pandangan ke sumber energi roh tersebut.
"Mereka
datang."
Seekor roh
raksasa yang tampak seperti angsa putih terbang dengan angkuhnya di langit biru
yang cerah.
Di punggungnya,
seorang Spirit User berjubah putih duduk, dan mereka turun perlahan ke
depan gerbang sekolah bersama-sama.
"Salam
kenal. Nama saya Norn, saya datang dari Institut Roh sebagai pemandu menuju
Kota Suci."
Spirit User yang turun dari punggung roh tersebut
melepas tudungnya, memperlihatkan sosoknya, lalu memperkenalkan diri dengan
nada bicara yang terasa agak kaku.
"Institut
Roh……"
Institut Roh.
Sebuah organisasi keagamaan besar yang menyembah agama yang disebut sebagai
Pemujaan Roh.
Mereka adalah
penyelenggara Festival Penampilan Roh Agung yang akan kami ikuti, sekaligus
organisasi yang mengelola wilayah suci, termasuk Kota Suci sebagai tempat
diadakannya acara. Mungkin ini adalah agama yang paling banyak dianut di benua
ini.
"Apakah
kalian semua adalah perwakilan dari Akademi Yutrea yang akan berpartisipasi
dalam Festival Penampilan Roh Agung?"
"Ya, benar
sekali."
"Kalau
begitu―――"
Di saat Norn,
wanita yang menjadi pemandu itu, sedang melakukan prosedur verifikasi dengan
Alberto-sensei, aku diam-diam berbisik kepada Gareth.
"Hei,
menurutmu bagaimana sebenarnya cara kita pindah tempat?"
"Bukankah
kemungkinan besar pakai kapal terbang? Kalau harus memindahkan orang sebanyak
ini dengan kecepatan tertentu, caranya pasti terbatas……"
Saat aku dan
Gareth sedang memikirkan cara berpindah tempat, Alberto-sensei dan sang pemandu
yang sepertinya sudah selesai mengobrol berjalan mendekat ke arah kami.
Apakah kita akan
segera berangkat?
"Kalau
begitu, para atlet perwakilan Akademi Yutrea, bisakah kalian berkumpul di satu
tempat karena kita akan segera berangkat ke Kota Suci?"
Sesuai dugaan,
kita akan segera pindah. Setelah memastikan kami sudah berkumpul di satu titik,
Norn mengeluarkan sebuah medium dari sakunya dan melemparkannya ke udara.
Seketika itu juga, muncul sosok roh berbentuk aneh yang terdiri dari batu-batu
yang tersusun melingkar.
"Apakah itu Sarkria?
Baru pertama kali aku melihatnya……"
"Ah, tidak
disangka aku bisa melihat roh kuno yang dijuluki sebagai fosil roh secara
langsung……"
Di saat aku dan
Kyle sedang terkejut melihat roh yang biasanya hanya ada di literatur, Sarkria
yang mengambang di atas kepala kami mengembangkan tubuh melingkarnya dan
mengurung kami semua, termasuk Norn.
"Baiklah,
kita akan berangkat sekarang. Demi keamanan, mohon jangan bergerak dari tempat
kalian berada."
Norn bergumam
demikian lalu memanggil roh kontraknya, sang angsa, ke sisinya.
Kemudian, sambil
menghabiskan energi roh dalam jumlah besar, ia menggambar formula sihir dengan
pola geometris yang rumit di atas tanah.
"……Hmm? Tunggu sebentar, apakah formula sihir ini
jangan-jangan―――"
Tepat saat aku hendak bersuara karena menyadari efek dari
formula sihir yang terukir itu, pandanganku seketika diselimuti cahaya samar,
dan saat berikutnya, pemandangan di depanku berubah total.
Gerbang sekolah yang seharusnya terlihat tadi telah lenyap
tanpa bekas, dan sebagai gantinya, sebuah air mancur putih dengan hiasan megah
muncul di depan mata. Tanpa perlu berpikir panjang, ini adalah―――.
"Teknik Teleportasi……"
Seni roh tingkat tertinggi yang menghubungkan dua ruang.
Teknik roh yang memanfaatkan atribut unik Sarkria ini dikatakan sangat
rumit, karena memerlukan kontrol energi roh yang halus, tidak hanya dari Spirit
User-nya, tapi juga dari roh kontraknya.
Oleh karena itu, satu-satunya yang mampu menguasai teknik
teleportasi hanyalah segelintir Spirit User yang telah mengontrak roh
tingkat tinggi yang memiliki kontrol energi roh yang presisi. Aku pun tak bisa tidak mengakui betapa tingginya
kemampuan Norn sebagai Spirit User.
"……Fuu,
kalian sudah boleh bergerak."
Suara Norn yang
terdengar lelah dengan keringat bercucuran di dahinya masuk ke telingaku. Pasti
sangat menguras energi roh dan stamina untuk menggunakan teknik teleportasi.
Jika dilihat,
rohnya pun tampak lemas dengan kepala tertunduk.
"Kepada
semua pihak dari Akademi Yutrea, selamat datang di Kota Suci. Kami dari
Institut Roh menyambut kedatangan kalian."
Saat menoleh
karena suara tersebut, kulihat tiga wanita berjubah biarawati putih bersih
sedang membungkuk memberi salam.
"Kami juga
telah menyiapkan penginapan di sini, jadi saya harap kalian bisa memulihkan
stamina hari ini dan bersiap untuk Festival Penampilan Roh Agung besok."
"Terima
kasih. Mewakili Akademi Yutrea dan Kerajaan Romus, saya ucapkan terima
kasih."
Di saat Misha
berterima kasih dengan sikap yang anggun, aku mendekat ke arah Alberto-sensei
secara diam-diam.
"Sensei,
saya ingin berkeliling Kota Suci sebentar, apakah boleh?"
"Yah,
jarang-jarang kan kita bisa datang ke Kota Suci. Selama tidak mengganggu acara
besok, tidak masalah."
"Terima
kasih."
Aku mengepalkan
tangan ke dalam hati karena mendapat izin dari Sensei. Mumpung sudah datang ke
Kota Suci, aku ingin melihat apa pun yang bisa dilihat selagi ada waktu.
"Baiklah,
kami akan mengantar kalian ke penginapan, silakan lewat sini."
Mengikuti arahan
dari pihak Institut Roh, aku pun mulai membayangkan rencana berkeliling Kota
Suci.
*****
"Nah, ke
mana ya kita pergi?"
Setelah keluar
dari penginapan yang terlalu mewah—yang sepertinya disiapkan untuk peserta
Festival Penampilan Roh Agung—aku berdiri dengan gagah, memandangi peta Kota
Suci yang diberikan oleh pihak Institut Roh sambil bingung menentukan tujuan,
hingga punggungku ditepuk pelan.
"Yo."
"Lily,
ya?"
Saat menoleh,
kulihat Lily sedang menatapku dari bawah. Seandainya dia adalah seorang
pembunuh bayaran yang mengincarku, aku pasti sudah mati sepuluh kali lipat……
tapi, ya sudahlah.
"Kau mau
ikut keliling Kota Suci juga?"
"Hmm."
Lily
mengangguk mantap atas tawaranku. Sekilas ia tampak seperti biasanya, tapi aku
tidak melewatkan matanya yang berbinar-binar. Ternyata Lily juga antusias karena ini pertama
kalinya dia ke Kota Suci.
"Oke, kalau
begitu waktu kita terbatas. Ayo, Lily!"
"Ooh."
Sambil mendengar
jawaban Lily yang terdengar tidak bersemangat, aku berlari agar bisa menikmati
Kota Suci sampai waktu habis.
"Lily,
katanya ini jajanan yang lagi hits di Kota Suci. Mau makan?"
"Mau."
"Oke,
permisi. Saya beli jajanan ini―――"
Kami membeli
jajanan yang sedikit lebih mahal karena sedang populer di Kota Suci……
"Haruskah
aku bilang perpustakaan Kota Suci itu luar biasa? Jumlah koleksinya tidak masuk akal. Meski aku
merasa agak banyak buku tentang agama sih……"
"…………"
"Lily,
maaf mengganggu konsentrasimu, tapi kita harus segera pergi."
"…………"
"Lily!"
Kami
mengunjungi perpustakaan Kota Suci, dan karena Lily terlalu antusias dengan
ukurannya, ia jadi terpaku pada buku sampai waktu yang direncanakan meleset
jauh……
"Cocok
tidak?"
"Oh,
cocok kok."
"Ya
sudah, beli ah."
Kami
melihat berbagai pernak-pernik di toko oleh-oleh Kota Suci yang jujur saja
sepertinya bisa ditemukan di tempat lain selain Kota Suci……
"Jadi
ini yang disebut sebagai Bukti Lumen yang menggambarkan pertempuran terakhir
dari Perang Roh Jahat."
Aku
bergumam sambil memandangi lukisan perang yang menggambarkan pahlawan Arthur
yang sedang melawan Spirit User keji, Ivan, beserta bayangan hitam yang
diduga sebagai Empat Bencana, dengan memegang pedang dan tombak yang bersinar. Sekilas penggambaran itu terasa sangat
putus asa, tapi perasaan seperti apa yang dirasakan Arthur saat menghadapi para
roh jahat itu……
"…………"
"Lily,
kau mulai mengantuk?"
"……Tidak
juga."
"Tidak,
kau terlihat sangat mengantuk lho……"
Entah karena
museumnya membosankan atau karena kelelahan, tampaknya Lily sudah mulai
mengantuk. Mungkin sudah waktunya kembali ke penginapan, tapi……
"Lily, aku
ingin mampir ke satu tempat terakhir sebelum pulang, boleh?"
"……Hmm."
Setelah berhasil
mendapat izin dari Lily, kami keluar dari museum dan bergegas menuju tempat
yang paling ingin kulihat: alun-alun di pusat Kota Suci yang disebut sebagai
Alun-Alun Pahlawan.
"Rourke."
"Apa?"
"Alun-Alun
Pahlawan itu tempat seperti apa?"
"Hmm, yah…… tempatnya persis seperti namanya."
"……?"
Lily memiringkan kepalanya dengan bingung. Aku pun berkata
dengan senyum kecut, "Kalau ke sana nanti kau juga tahu." Hal seperti ini memang lebih cepat
dilihat langsung daripada dijelaskan dengan kata-kata.
"……Nah,
sudah kelihatan."
"………!"
Di tempat
yang kutunjuk, Lily membelalakkan matanya lebar-lebar saat melihat kristal yang
menjulang tinggi seperti menara, hingga rasa kantuknya hilang seketika.
"Itu,
jangan-jangan……"
"Ya,
itu adalah roh tombak suci, Longinus, yang dikabarkan pernah bertarung bersama
pahlawan Arthur."
Dengan
mengenakan zirah putih layaknya seorang ksatria dan sepasang sayap putih bersih
yang tumbuh dari punggungnya, sosok itu tampak sangat mistis dan heroik.
"Luar
biasa."
"Ya,
benar sekali……"
Aku
setuju dengan gumaman Lily sambil mendongak menatap Longinus lagi.
Meski
sekarang ia sedang tertidur di dalam kristal, rasanya ada sesuatu yang
bergejolak di dalam dada saat berpikir bahwa roh ini pernah bertarung bersama
pahlawan sebagaimana digambarkan dalam lukisan perang itu.
"Konon
katanya, Longinus menyegel dirinya sendiri bersamaan dengan kematian
kontraktornya, Arthur, sebagai bukti kesetiaan."
"……Siapa
Anda?"
"Tidakkah
Anda berpikir ini adalah kisah tragis yang indah yang menunjukkan ikatan antara
roh dan Spirit User?"
Saat aku
menoleh ke arah sumber penjelasan, seorang remaja laki-laki yang mengenakan
seragam sekolah hitam sedang berdiri di sebelahku, ikut mendongak menatap
Longinus.
Remaja
cerdas berambut putih yang memanjang hingga ke dekat matanya dengan kacamata
berbingkai hitam itu tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya ke arah
kami.
"Salam
kenal, kalian dari Akademi Yutrea. Saya Yuma Schereft, Ketua OSIS dari Akademi
Libel."
"……Saya Rourke Aleas dari Akademi Yutrea."
"Lily Olalia."
Aku merespons jabatan tangan Yuma sambil merasa bingung.
Tidak disangka bisa bertemu dengan Ketua OSIS dari sekolah juara Festival
Penampilan Roh Agung sebelumnya di tempat seperti ini……
"Lagipula,
ternyata kamu adalah Rourke Aleas ya……"
"…………Eh? Kau
mengenalku?"
Karena cara
bicaranya yang seolah sudah mengenalku sejak lama, aku secara refleks bertanya
balik.
"Ya, saya sudah mendengar banyak cerita tentangmu. Saya
dengar kamu adalah Spirit User berbakat yang bahkan melampaui Misha
Romus, yang disebut-sebut sebagai yang terkuat di Akademi Yutrea."
"……Be, benarkah…… begitu?"
"Ya, tentu saja benar."
Sambil membalas senyuman Yuma, aku memegangi kepalaku karena
fakta bahwa rumor tentang diriku sudah tersebar ke luar. Jangan bercanda,
apakah kabarnya sudah sampai ke luar? Pasti ceritanya sudah
ditambah-tambahkan…… tolonglah.
Lily yang berada di depanku tampak berbangga diri dengan
melipat tangan, sementara di belakangku ada Lily yang tampak mengangguk-angguk
kecil.
Kau
ini berdiri di posisi apa sampai ikutan mengangguk-angguk? Batinku bertanya sambil bangkit
berdiri.
"Sepertinya
kamu pasti lelah. Sebaiknya hari ini segera istirahat untuk mempersiapkan hari
esok."
"Ya, akan
saya lakukan. Terima kasih atas perhatiannya."
"Bukan
apa-apa, justru saya yang minta maaf karena tiba-tiba menyapa. Saya menantikan
untuk bisa bertarung melawanmu dengan kekuatan penuh di Festival Penampilan Roh
Agung nanti."
Sambil menatap
Yuma yang pergi dari tempat itu dengan senyum ceria, aku melepasnya dengan
senyum canggung, "Ya, tolong beri kami keringanan……"
"…………"
"Rourke-senpai?"
Saat aku sedang
merasa murung, sebuah suara yang kukenal terdengar dari belakang. Saat kutoleh,
kulihat Leia dan Akari berdiri berdampingan.
"……Kalian
berdua juga melihatnya? Tak disangka."
"Sebenarnya
aku ingin tidur di penginapan, tapi aku dipaksa oleh Leia."
"Ah,
ngomong-ngomong Leia memang sedang dibacakan buku biografi Arthur, ya."
Aku mengerti
setelah mendengar kata-kata malas Akari. Benar juga, saat kami pergi ke kedai crepe,
kami sempat membahas hal itu.
"Iya, karena
ini kesempatan langka, saya pikir saya harus melihatnya."
"Sebenarnya
dia ingin pergi bersama Rourke-senpai, tapi karena Senpai pergi dengan cepat,
akhirnya aku yang terpaksa menemaninya……"
"A,
Akari-san!! A, apa yang kau katakan!?"
Leia memerah
padam dan mengguncang bahu Akari yang mengeluh dengan nada tidak puas.
"Yah,
memang kalau mau ke sini lebih baik dengan orang yang mengerti biografi
Arthur."
"I,
iya! Benar begitu!! Sayang sekali kalau tidak pergi dengan seseorang yang bisa
diajak berbagi cerita tentang kisahnya―――"
"Eh,
tapi bukannya tadi pas datang ke tempatku―――"
"Aku
akan membakarmu lho!?"
Akari
yang terus diguncang oleh Leia yang sedang mengamuk tampak hampir kelelahan
bahkan sebelum sempat dibakar. Mungkin sudah saatnya aku membebaskannya.
"Sudahlah,
Leia. Hentikan sampai di situ, aku sudah mengerti."
"A,
apa benar begitu?"
"Ya,
aku tahu betapa sulitnya disalahpahami, jadi tenang saja."
Aku
menjawab dengan percaya diri. Dalam situasi seperti ini, yang terbaik adalah
mempercayai perkataan orangnya langsung. Karena dia sendiri yang bilang begitu,
pasti benar.
"O,
oh ya? Syukurlah kalau begitu……"
Mungkin
karena lega mendengar kata-kataku, akhirnya tangannya berhenti mengguncang
Akari. Akari yang sudah bebas tampak sedikit sempoyongan, tapi mungkin untuk
saat ini dia baik-baik saja.
"Ngomong-ngomong
Rourke-senpai, apakah tadi Anda bersama seseorang selain Lily-senpai?"
"Ah,
kau melihatnya ya……"
Sepertinya
mereka melihat percakapan dengan Yuma tadi. Yah, bukan hal yang harus
disembunyikan, jadi tidak masalah.
"Aku
tadi kebetulan bertemu dan mengobrol dengan Ketua OSIS Akademi Libel."
"Ketua
OSIS Akademi Libel!"
"…………"
Leia
tampak terkejut karena tidak menyangka aku berbicara dengan Ketua OSIS, dan
Akari yang tadinya tampak sempoyongan tiba-tiba aura yang membalutnya berubah
drastis.
"Ada apa,
Akari?"
"……Apakah
yang kau temui hanya Ketua OSIS-nya saja?"
"E, eh. Iya.
Kenapa memangnya……"
Saat aku menjawab
sambil bertanya-tanya dengan isi pertanyaan Akari, dia hanya menjawab
"Begitu ya..." dengan nada datar sambil menghilangkan aura mengancam
yang tadinya membalutnya.
"Apakah ada
sesuatu yang mengganggumu?"
"……Bukan
apa-apa."
Meskipun Akari
membantahnya, sudah pasti ada sesuatu dengan Akademi Libel. Namun, selama dia
sendiri bilang tidak ada apa-apa, mungkin lebih baik tidak usah ditanyakan
lebih jauh.
"Rourke."
"……Ah. Iya,
benar juga. Ayo kita pulang sekarang."
Sambil mengangguk
menanggapi perkataan Lily, aku berkata begitu. Jika memikirkan hari esok,
sebaiknya kita segera kembali ke penginapan untuk beristirahat.
"Bagaimana
dengan kalian berdua?"
"……Kami juga
akan kembali. Apa yang ingin kami lihat sudah terlihat."
Aku mengangguk
pada Leia yang menjawab sambil sesekali melirik Akari. Pasti itu yang terbaik.
"Kalau
begitu, mari kita kembali bersama-sama."
Aku bergumam
begitu lalu berjalan menuju asrama ditemani oleh mereka bertiga.
Saat aku tidak
sengaja melihat ke langit, langit yang tadinya cerah kini mulai meredup,
sepertinya matahari hampir terbenam.
"…………"
Sambil
menatap langit seperti itu, aku merasakan kecemasan yang samar di dalam hati.
*****
Waktu
sedikit berputar mundur, tepat setelah Yuma dan Rourke berpisah.
Yuma Schereft
berjalan tanpa tujuan menyusuri Kota Suci.
"Akhirnya
ketemu, Yuma-kun."
"Oh, jarang
sekali kamu punya urusan denganku."
Saat sebuah suara
memanggil dari belakang dan aku menoleh, seorang gadis yang mengenakan seragam
akademi yang sama sedang menatapku.
Rambut hitamnya
dipotong hingga sebahu, dan mata merah seperti batu rubi itu memiliki tahi
lalat di bawah matanya.
Tubuhnya ramping,
tetapi lekuk dadanya tampak jelas bahkan dari balik seragamnya, memberinya
penampilan yang menarik perhatian lawan jenis.
Gadis itu
menatapku dengan senyum menggoda, lalu menyangkal kata-kataku dengan mengatakan
"Tidak juga".
"Bukan aku,
tapi guru yang memanggilmu, Yuma-kun."
"Begitu ya,
kalau begitu saya minta maaf sudah merepotkan."
Sambil meminta
maaf kepada gadis yang kemungkinan besar bersusah payah mencarinya, Yuma
melangkahkan kakinya menuju penginapan tempat para siswa Akademi Libel berada.
"……Yuma-kun."
"Ada
apa?"
"Apakah ada
sesuatu yang menyenangkan?"
Yuma tidak
sengaja menghentikan langkahnya karena pertanyaan itu, lalu berbalik menatap
gadis itu.
"Apa
terlihat seperti itu?"
"Sangat
terlihat."
"……Hmm."
Aku bermaksud
menyembunyikannya, tapi sepertinya sudah terlihat di wajahku.
"Sebenarnya
saya bertemu dengan siswa yang sudah lama saya perhatikan. Mungkin itu
penyebabnya."
"Hehehe~,
siswa dari mana?"
"Akademi
Yutrea."
Begitu aku
menjawab nama sekolahnya, ekspresi gadis itu berubah sedikit, jadi Yuma
bertanya sambil merasa heran.
"Apa
kamu juga tertarik dengan seseorang dari akademi itu?"
"Fufu,
tidak sampai disebut tertarik sih."
Melihat
reaksinya yang menjawab dengan santai namun kontradiktif, Yuma merasa heran,
lalu mulai berjalan kembali dan berkata dari balik punggungnya.
"Semoga
kamu bisa bertarung melawan lawan yang kamu inginkan, Tsukikage-san."
"Sama-sama."



Post a Comment