NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Kehidupan Sehari-hariku yang Damai Setelah Tersesat ke Taman Para Gadis

Waktu itu adalah akhir abad ke-16.


Masa perang yang berlangsung begitu lama akhirnya akan segera berakhir. Pada saat itulah──


"Apa... ini...? Apa aku ada di zaman Sengoku...?"


Aku sendiri tidak tahu kenapa langsung berpikir ini zaman Sengoku. Yah, mungkin aku hanya sedang bermimpi.


Sejauh mata memandang, sebuah ruangan luas dengan tatami yang tersusun rapat memenuhi lantai. Yang kupakai adalah kimono berwarna emas mencolok.


Di balik pintu geser itu mungkin taman...? Cahaya hangat dari lentera tampak bergoyang pelan.


"Ini mimpi yang terlalu realistis... teksturnya luar biasa..."


Aku sedang memikirkan hal itu dengan santai... ketika.


"... Tuaku."


──!?


"Wah, kaget! Sejak kapan kau ada di situ!?"


Seorang wanita berbicara kepadaku dengan suara pelan, namun entah kenapa terasa berat──Shibano Miu.


"Semalam Anda berkata pasti akan datang menemuiku... benar begitu, kan...?"


Wanita ini kenapa sih... baru pertama bertemu sudah mengatakan hal aneh... eh.


──Hm?


Wajah yang rasanya pernah kulihat...


Miu? Apa itu Miu? Tahi lalat di dekat mata dan pipinya masing-masing satu. Lalu, twintail.


Jangan-jangan di zaman ini juga ada gaya rambut twintail?


Tapi memang cocok sekali dengan kimono (kosode), lucunya luar biasa...


"A-ah...? Apa aku pernah membuat janji seperti itu ya... tidak, maksudku──... kita sedang membicarakan apa sih...?"


"Tuaku♡?"


Lalu entah dari mana, satu orang lagi tiba-tiba muncul.


"Woooo... kaget! Kenapa kalian semua muncul diam-diam begini sih!?"


"Fufu, maaf kalau aku membuatmu terkejut. Ngomong-ngomong... semalam Anda terlihat sangat puas, ya...♡ Tuan~ku...♡"


Wanita yang menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa kecil dengan pipi memerah itu──Shibano Momo.


"S-sangat puas katanya...?"


Di sampingku, suasana seketika membeku seolah terdengar suara krek.


Tidak, tunggu. Tunggu dulu tunggu tunggu tunggu.


Bukan begitu, Miu.


Pembicaraannya melompat terlalu jauh. Lagi pula, aku tidak pernah membuat janji dengan siapa pun.


Dan yang muncul belakangan itu Momo-nee...?


Wah... kalau diperhatikan baik-baik, dia benar-benar terlihat menggoda. Rambut hitam berkilau dan ekspresi yang tenang... ini benar-benar luar biasa...


Hei. Ini bukan waktunya memikirkan hal bodoh begitu.


Mimpi macam apa ini...? Reinkarnasi ke harem zaman Sengoku atau apa!?


"Tunggu dulu!! Aku sama sekali tidak paham kalian sedang membicarakan apa!"


"Tuanku, apa Anda lupa? Hari itu Anda berkata... bahwa akulah yang nomor satu," kata Miu.


"Ara♡ Kalau semalam seingatku... 'kaulah yang nomor satu'... fufu♡♡" kata Momo.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka maksud.


Tapi situasi ini──Ada satu hal yang sangat jelas kupahami.


"Eh, begitu ya! K-kalian berdua luar biasa! Sulit menentukan mana yang lebih baik! Seperti bekal makan siang berganti setiap hari! Hahaha!”


Tepat saat kata-kataku keluar, pintu geser itu perlahan ditutup.


Rasanya seperti jalan kaburku diputus, membuat hawa dingin menjalar di punggungku.


"Tuaku."


Miu mendekat perlahan ke arahku. Lalu, entah sejak kapan sebuah pedang sudah tercabut dan diangkat tinggi di atas kepalaku──


"Tidak bisa dimaafkan! Karena ketidaksetiaanmu itu, akan kupenggal kepalamu di sini juga sekarang!!"


──Selesai sudah.


Dalam sekejap, kenangan hidupku mengalir seperti kilas balik di depan mata. Sepertinya hidupku memang berakhir sampai di sini.


"P-paling tidak ampuni nyawaku! Tolong selamatkannnn!!"


"Uwaaahhhhhh!!"


Saat aku bangun, yang terlihat adalah kamar yang sudah sangat kukenal.


Manga berserakan di mana-mana, dan PC di meja masih menyala.


"Apa sih... jadi memang cuma mimpi ya... nyaris saja aku dibunuh Miu..."


Aku baru saja menghela napas lega ketika──


"Hm? Maksudmu apa?"


Sepertinya dia sedang rebahan. Dari sisi ranjang tempatku tidur, Miu tiba-tiba menyembulkan kepalanya.


"Ah! Kaget aku... sejak kapan kau ada di situ?"


"Hm, sekitar lima belas menit lalu mungkin? Aku datang terlalu cepat, terus tante bilang langsung masuk saja. Karena kau kelihatan tidur nyenyak, kupikir aku tunggu sampai kau bangun."


"Oh ya... hari ini sekolah ya..."


"Ngomong apa sih kamu, masih ngantuk ya? Jadi? Mimpi apa? Tadi kau kelihatan seperti mimpi buruk."


Tidak... mana mungkin aku bisa menceritakan isi mimpinya. Nanti cuma bikin dia marah lagi.


"Bukan mimpi penting sih. Di mimpiku, kau pakai twintail juga."


"Hmm."


Miu menjawab dengan nada bosan sambil menggoyang-goyangkan manga yang dipegangnya.


"Tapi serius deh, kau ini tidak pernah belajar ya? Padahal kau tahu aku bakal masuk ke kamarmu, masih saja meninggalkan buku dewasa seperti ini... setidaknya pakai sedikit otak untuk menyembunyikannya? Minimal jangan ditaruh sembarangan begitu?"


Apa lagi ini... ceramah lagi?


Sudah mulai lagi. Masuk kamar orang seenaknya lalu mengkritik hobiku. Makanya teman masa kecil yang sudah terlalu lama kenal itu merepotkan...


"Tapi ini lumayan seru lho. Cerita Mesra dengan Gyaru Junior. Judulnya juga gampang dimengerti. Hanya saja────"


"Hanya saja apa..."


"Pada akhirnya kau memang tidak punya selera tertentu ya~? Game mesum yang kau mainkan kemarin itu juga soal kakak-kakak atau tipe yang lebih dewasa, kan?"


"Aku sih sebenarnya punya selera. Tapi ya, selama wajahnya imut dan dadanya besar, biasanya semua langsung oke! Bukannya kebanyakan cowok memang begitu?"


Mau laki-laki atau perempuan, pasti semua suka orang yang wajahnya bagus dan badannya menarik.


Kepribadian itu urusan belakangan.


Miu menatapku lalu menghela napas panjang.


"Eeh... aku ngomong aneh lagi ya...?"


◆◇◆


──Akhir September.


Padahal seharusnya musim sudah memasuki musim gugur, tapi sisa-sisa musim panas masih terasa.


Seluruh kelas terasa panas dan membuat badan malas bergerak.


Setelah berhasil melewati keributan pagi tadi, aku duduk tenang di kelas menunggu homeroom dimulai.


Di tengah ramainya kelas, aku melihat sepasang pasangan suram sedang bermesraan di balik tirai dekat jendela.


"Itu mereka ngapain sih... cari tempat lain gitu..."


Benar-benar dunia milik mereka berdua.


Kena sinar matahari begini, semua orang juga bisa lihat apa yang mereka lakukan di balik sana...Hebat juga mereka bisa cium-ciuman seterang-terangan begitu.


"Bleh..."


Ngomong-ngomong...


Hari itu. Saat pulang dari perjalanan ke pemandian air panas──


Tiba-tiba aku teringat saat Miu mendadak menciumku. Meski dibilang ciuman, sebenarnya cuma sentuhan ringan saja.


Sampai sekarang aku tidak tahu apa maksudnya melakukan hal seperti itu.


Biasanya kejadian seperti itu bakal membuat suasana canggung, tapi hubungan teman masa kecil kami ini bagaimana ya...


Mungkin karena dari dulu jarak kami memang terlalu dekat, jadi rasanya seperti, "Ah, kejadian begini juga bisa saja terjadi."


Kurang lebih seperti itu. Sepertinya kami berdua juga tidak terlalu memikirkannya. 


Kalau dipikir-pikir, aku sendiri juga sudah melupakannya.


──Garaaaak.


Pintu kelas terbuka keras, dan wali kelas kami, Fukamizo-sensei, langsung bicara tanpa jeda begitu masuk.


"Baik, selamat pagi. Hari ini kita akan menentukan cabang untuk festival olahraga yang sudah kalian tunggu-tunggu!"


Oh... sudah musim itu lagi ya...


Di SMA kami, setiap musim gugur selalu ada festival olahraga. Meskipun sekolah persiapan masuk universitas, jadi pelajaran tetap banyak. Anak-anak klub olahraga biasanya semangat berlebihan, tapi untungnya partisipasi tidak terlalu dipaksa.


Teman-teman sekelas langsung mulai ribut seolah berkata, akhirnya datang juga.


Di sisi lain, Miu terlihat sangat lesu.


"Huaaa~ aku payah banget olahraga, tidak seruuu~ nggak mauuu~ hiks."


Oh iya...


Dari dulu dia memang payah olahraga dan larinya lambat. Waktu dulu main kejar-kejaran bertiga dengan Momo-nee, dia pernah terlalu lambat sampai tidak bisa menyusul kami dan malah menangis.


Meski sifatnya tidak mau kalah, kemampuan atletiknya benar-benar tidak mendukung.


"Muuu..."


Miu menggembungkan pipinya sambil menatapku.


Hei... jangan minta tolong ke aku juga...


"Baik-baik, tenang semuanya. Kita percepat saja, jadi yang mau ikut silakan angkat tangan! Pertama, siapa yang mau ikut lomba estafet putra antarkelas?"


"Aku!"


Aku langsung mengangkat tangan. Padahal biasanya aku tidak akan melakukan hal seperti ini. Alasannya sederhana: ini festival olahraga terakhir di masa SMA.


Estafet adalah acara utama. Kesempatan sempurna untuk menjadi pusat perhatian semua orang.


Di sini aku akan mencetak hasil bagus, menunjukkan kalau aku tampan, atletis, nilai lumayan bagus (?) dan menanamkan citra sebagai cowok sekelas keren yang diidamkan semua cewek sebelum lulus.


Rencana yang terlalu sempurna.


Tapi ada satu masalah.


Aku ini gamer anggota klub pulang langsung. Jelas stamina bukan keahlianku.


Yang mengangkat tangan selain aku ada ace klub atletik, si kilat dari klub sepak bola, si berotot yang bangga dengan ototnya, dan...


Morishita? Kenapa kau juga!?


"Haha, kaget kan! Kalau kau ikut, aku juga harus ikut dong! Begitulah sahabat sejati!"


Morishita merangkul bahuku sambil tersenyum lebar.

Begitu ya... ternyata dia juga mau membuat kenangan.


"Baik, jumlah orangnya pas, jadi anggota estafet putra sudah ditentukan."


Formasi langsung lengkap dalam sekejap dan sensei yang tidak sabaran terlihat puas.


"Eh... maaf. Sepertinya kelebihan orang... Miyata dan Morishita, kalian berdua tentukan siapa yang ikut."


"Eehh!! Kenapaaa!? Ini panggung terakhir masa SMA kami!!"


"Yah... maaf. Kali ini tidak bisa dibantu. Estafet antarkelas ini menyangkut harga diri sensei juga. Kelas lain pasti juga mengirim pasukan elite pilihan yang percaya diri dengan kemampuan lari mereka."


"Begitu ya... kalau begitu tekanannya besar juga..."


Morishita tiba-tiba melemah.


"Baiklah, sisanya kuserahkan padamu. Aku jadi pendukung saja."


Plak! Dia menepuk punggungku keras.


Apa dia mencoba memberiku semangat...Dasar orang ini memang enak sendiri...


"Sensei, saya yang ikut."


Jujur saja, aku tetap dipenuhi kecemasan, tapi kalau sudah ikut ya harus serius… Ini kesempatan terakhir untuk menunjukkan sisi kerennya di depan para cewek.


"Baik, selanjutnya lomba lari berpasangan! Ini juga antarkelas! Boleh berpasangan dengan teman yang cocok, atau membentuk tim untuk menang! Kelas lima, silakan pilih pasangan sesuka kalian!"


"...S-sesuka hati!?"


"Sensei asal banget..."


"Aku nggak mau lari berpasangan~"


Kelihatannya responsnya sangat buruk.


Memang terlalu asal sih. Lagi pula, tidak ada satu orang pun yang mengangkat tangan.


...Di saat seperti ini...


Kelas lima juga membutuhkan seseorang.


Para cewek memang dari awal tidak semangat lari, sedangkan para cowok pasti tidak mau menempel dengan sesama cowok. Aku juga sama. Gerah tahu berpasangan dengan cowok.


...Kalau begitu.


"Oi, Miu."


"Hih, apa..."


"Untuk demi semua orang, bukankah sudah waktunya kita berkorban?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, ayo membuat kenangan bersama dengan bekerja sama."


"...Begitu ya?"


"Ya. Jadi aku dan kau jadi pasangan."


"Hmm... eh kenapa!? Kenapa aku harus berpasangan denganmu!? Nggak mauuu~!"


Miu mulai merengek.


"Segitunya tidak mau ya... aku jadi sedih..."


Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku melihat reaksinya. Tentu saja teman-teman sekelas langsung memperhatikan.


"Wah kasihan banget ditolak~ ahaha."


"Miu-chan, pasangan sama aku saja~"


Sialan mereka. Kesempatan begini langsung dipakai buat mengejek. Pada akhirnya aku malah ditertawakan sekelas.


"Lagian kenapa pilih aku sih! Tinggal lari sama Morishita-kun saja!"


"Padahal aku mengajakmu dengan semangat begini... apa kau tidak mau membuat kenangan denganku!?"


Wajah Miu sekarang seperti ikan buntal yang siap meledak. Pipinya menggembung besar...


Apa dia benar-benar sebegitu tidak mau ya.


Ekspresinya mengatakan semuanya.


Hmm... kalau begini mungkin aku memang harus menyerah...


"Aah! Baiklah! Tidak ada pilihan lagi! Kau yang harus bekerja keras ya! Kau tahu sendiri kan aku payah olahraga!"


Mungkin karena tidak tega melihatku murung, Miu tiba-tiba berubah pikiran.


"Boleh...?"


"Iya. Aku akan berpasangan denganmu. Karena kasihan saja. Tapi kalau sudah ikut, kita harus menang."


"Serahkan saja padaku!”


◆◇◆


Setelah penentuan cabang festival olahraga sejak pagi selesai, hari pun berjalan seperti biasa dan hampir berakhir.


Saat homeroom pulang, anak-anak klub olahraga yang terlalu bersemangat sudah mulai membahas apakah mereka akan tinggal sepulang sekolah untuk latihan.


Mengurus klub sambil menyelipkan latihan festival olahraga di waktu luang, ya.


Pada akhirnya, cabang yang kuikuti adalah senam radio yang wajib untuk semua, estafet putra, dan lari berpasangan.


Kabarnya estafet antarkelas putra akan menjadi acara penutup besar di sore hari.


Aku tidak boleh menjadi beban tim. Sedikit rasa gugup dan tekanan mulai menyerang. Padahal kalau dari sekarang saja sudah ciut, mau bagaimana lagi...


Saat sedang memikirkan itu sambil berjalan sendirian di koridor──


BRAAAK!!!!!!!


"Sakittt... hiks..."


──!? Hah, ada apa!?


Di depan mataku ada seorang siswi yang sedang terduduk di lantai. Dia mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arahku.


"Hei, jalan pakai mata dong... eh..."


"...Siapa?"


"Hah?"


"...Eh, serius ini gawat."


"Eh... kenapa aku...?"


"Iya. Kelas berapa? Bukan teman seangkatan, kan? Wajahmu belum pernah kulihat."


"T-tidak... aku kelas tiga..."


"Eh, serius? Senpai?"


Hah? Wanita ini apaan sih... junior rupanya.


Tunggu, dia kelihatan seperti gyaru banget!!


Aku masih terkejut ternyata ada gyaru seperti ini di sekolah yang sama, lalu dia mulai memegangi jari telunjuknya.


"Sakittt... kukuku patah... hiks."


Dia hampir menangis. Jelas-jelas dia melirikku terus, jangan-jangan ini bakal disalahkan ke aku?


Y-yah, untuk berjaga-jaga mending minta maaf dulu.


"Maaf... kau tidak apa-apa?"


Begitu mendengar suaraku, dia langsung mendongak dengan mata berbinar.


"Tunggu, cowok ganteng ternyata suaranya juga keren ya."


"G-ganteng... h-hah...?"


Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana pada kata yang hampir tidak pernah kudengar seumur hidupku.


Benar-benar asing di telingaku.


Dan jujur saja, sulit dipercaya...Jangan-jangan gyaru ini... punya selera yang aneh...


Sementara aku memikirkan itu, gyaru itu berdiri dengan semangat sambil berkata, "Hop."


Karena tadi dia duduk, aku tidak sadar, tapi ternyata dia lumayan tinggi.


Sekilas sekitar 170 cm mungkin. Rambut panjang lurus berwarna merah muda, kaus kaki longgar kebesaran.


Roknya sangat pendek sampai rasanya celana dalamnya bisa terlihat kapan saja.


Dia memakai kardigan biru tua kebesaran dengan lengan menutupi tangannya, dan dari bagian dada kemejanya yang terbuka lebar, sedikit belahan dadanya terlihat samar-samar.


Kalau mendengar kata gyaru biasanya yang terbayang itu tipe ceria penuh energi! Tapi orang ini terasa agak lesu... seperti gyaru tipe murung yang sering muncul di dunia dua dimensi.


"Aku Kurosaki Maria dari kelas dua. Panggil aku Maritan, ya? Seeeenpai."


Dia memaksaku berjabat tangan sambil berkata, "Salam kenal."


Wahh...Tangan gyaru ternyata hangat juga… Ngomong-ngomong, tadi dia bilang panggil dia Maritan, kan...?


Agak memalukan juga sih.


Gyaru Maritan...


Maritan...


Maritaaaan!! Ini gyaru yang selama ini sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan hidupkuuu!!


"Kenapa, sih? Wajahmu kelihatan antusias banget."


Dia menatapku dengan ekspresi datar.


Bahaya. Aku terlalu bersemangat menghadapi event mendadak ini sampai reaksiku kelihatan jelas.


Kalau Miu yang melihat, dia pasti langsung bilang, "ih, jijik."


"T-tidak, aku cuma kepikiran apa kukumu baik-baik saja..."


"Oh iya sih. Lucu juga.”


Entah apa yang lucu baginya, dia mengangkat tangannya dan memperlihatkannya sambil melambai pelan.


Hiasan berkilau pada kukunya yang cukup panjang benar-benar terlihat seperti gaya gyaru.


Warnanya merah muda mencolok sampai membuat mata silau. Tidak berlebihan rasanya kalau dibilang ini kuku paling mencolok di sekolah.


Lagian, penampilan semencolok ini memangnya diperbolehkan oleh peraturan sekolah kami...?


"Aah... padahal aku baru saja pergi ke salon kuku belum lama ini..."


Hmm... kalau begitu aku memang melakukan hal yang buruk...


Tidak, tunggu. Yang menabrakku tadi itu kau, kan.


"Ah, benar juga. Aku dapat ide bagus."


"A-apa itu?"


"Sebagai ganti rugi untuk kuku yang patah ini, lain kali ayo pergi kencan denganku."


────Hah?


"K-kencan!?"


"Ssst, jangan teriak keras-keras."


Karena usulan yang muncul tiba-tiba itu, aku sampai mengeluarkan suara keras tanpa sadar.


Gyaru itu menarik lenganku lalu menyeretku ke sudut koridor.


"Nih, kasihan jari telunjukku."


Katanya sambil mengangkat jari telunjuk ke dekat bibirnya dengan ekspresi penuh penekanan.


Gyaru ini cukup agresif juga...


"Uuh... jadi kalau kencan, kita ngapain?"


"Hah? Jangan-jangan kau belum pernah... kencan? Serius?"


Kencan ya...Kalau yang benar-benar bisa disebut kencan, mungkin memang belum pernah.


Tidak, tunggu. Waktu musim panas itu aku menonton kembang api bersama Momo-nee. Apa itu bisa dihitung sebagai kencan? Tapi...


"Berarti, Senpai... kau tidak punya pacar, kan?"


"E-eh... ya begitulah..."


Sementara aku masih kebingungan, pembicaraan terus berlanjut tanpa henti.


Apa ini yang disebut kecepatan komunikasi orang yang pandai bergaul?


"Serius? Beruntung banget aku~. Eh, ngomong-ngomong kenapa dari tadi pakai bahasa formal? Aku kan lebih muda."


"Yah, karena kita baru pertama kali bertemu kan."


"Haha, Senpai lucu juga ya. Lagi pula visual Senpai juga cocok banget sama seleraku."


"Eeh... bercanda lagi..."


Di gedung sekolah yang sepi menjelang sore, terlebih lagi di sudut koridor seperti ini, aku malah membuat janji kencan berdua dengan seorang gyaru.


Ini benar-benar seperti perkembangan cerita di light novel yang baru kubaca belum lama ini.


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Setahun lagi juga nggak sampai buat kita, kan?"


"Maksudnya?"


"Senpai bakal lulus musim semi nanti, kan?"


Benar juga. Aku terlalu terseret pembicaraan dengan gyaru ini sampai lupa kalau pikiranku dipenuhi festival olahraga terakhir masa SMA...


"Makanya aku bakal berusaha. Aku ingin jadi pacar Senpai."


"Hah?"


"Sebelum Senpai lulus, aku bakal membuat Senpai jatuh cinta padaku."


Begitu mengatakannya, dia langsung memelukku erat.


Perkembangan yang terlalu cepat membuat tubuh dan otakku tidak mampu mengimbanginya.


Mengerikan sekali gyaru.


Karena dia memakai kardigan kebesaran, tadi aku tidak sadar, tapi dari kelembutan yang menekan di dadaku, ukurannya ternyata besar.


Aku tahu karena berkali-kali Momo-nee juga pernah menekankannya padaku.


Dan lagi, dia wangi. Aroma manis seperti musk. Persis seperti bayanganku tentang gyaru. Lalu dengan lembut dia berbisik di dekat telingaku, dengan suara yang agak rendah.


"Aku suka banget sama Senpai."


Apa ini pengakuan cinta? 


Tanpa sadar aku terus terbawa arus gyaru ini, sampai-sampai dipeluk segala. Bahkan aku pun cuma bisa terdiam dengan mulut terbuka.


"Jangan-jangan kau kaget karena dipeluk? Di luar negeri itu cuma salam biasa kok."


"Hah...? Tapi ini Jepang..."


"Senpai imut ya. Rasanya mau kumakan."


"D-dimakan...?"


Tanpa benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi, gyaru itu hanya berkata akan menemuiku lagi lalu pergi begitu saja.


Maritan…


Gyaru predator... serius nih.


Aku berdiri melamun sambil memandang ke luar jendela untuk beberapa saat.


Apa sih tadi itu...


Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebingunganku.


Ekspresi kasih sayang yang begitu lugas, berbeda dari Momo-nee maupun Miu, sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya...


Dia bilang ingin menjadi pacarku padahal baru bertemu denganku...?


Sejak dulu aku selalu diisengi oleh kakak-adik itu.


Bukan hubungan pacaran, tapi jarak kami terlalu dekat sampai mungkin orang lain akan merasa nilai kami agak aneh.


—"Hah? Kalian belum pacaran tapi sudah melakukan hal seperti itu!?"


Kalau orang berpikir seperti itu, mungkin memang wajar. Bagiku, caraku berinteraksi dengan mereka berdua hanyalah kelanjutan dari permainan masa kecil kami.


Tapi dalam hidupku yang nyaris tidak punya hubungan pribadi dengan perempuan lain...


Kalau ditanya perempuan yang akrab denganku, mungkin hanya dua saudari itu.


...Perasaan bersalah samar ini apa ya?


Padahal aku tidak berpacaran dengan siapa pun, tapi saat dipeluk gyaru tadi, yang pertama muncul malah pikiran, apa ini tidak apa-apa ya...?


Bukan rasa berdebar, tapi rasa panik.


Aneh sekali. Tidak mungkin ada cowok yang tidak berdebar dipeluk gyaru berdada besar seperti itu!


Lagi pula, rasa bersalah ke siapa?


Mungkin dalam situasi seperti ini lebih baik mengikuti keinginan hati.


Aah... makin dipikir malah makin bingung!!


Saat aku menggerutu sendirian di koridor, suara yang sudah sangat kukenal masuk ke telingaku.


"Shintarou~! Astaga! Aku mencarimu tahu!"


Pemilik suara itu adalah Miu.


Melihat matanya yang setengah menyipit begitu, sepertinya dia sedang kesal. Mood-nya orang ini memang bisa langsung ketahuan sekali lihat.


Tapi mendengar suara yang sudah akrab itu, entah kenapa aku merasa sedikit lega.


"Kita kan janji pulang bareng! Kau lupa ya!"


Eh, memang begitu ya...


"Maaf maaf, tadi aku malah melamun."


Meski menjawab begitu, pikiranku masih terasa kosong.


"Ada yang dipikirkan?"


"Nggak... bukan apa-apa."


Memang karena sudah lama jadi teman masa kecil, dia langsung sadar hanya dari sedikit perubahan pada diriku.


"Kalau soal festival olahraga, kau nggak perlu terlalu khawatir kok. Lari berpasangan, aku juga bakal berusaha!"


"Eh, ah... iya."


"Daripada mikir sendirian, lebih baik berdua! Iya kan?"


"Benar juga... makasih."


"Estafet putra juga pasti lancar! Shintarou, dari SD dulu larinya cepat kok♩"


"Jangan terlalu tertekan, nikmati saja! Apa pun yang terjadi kita hadapi berdua."


Sementara Miu menyemangatiku dengan begitu dapat diandalkan, pikiranku malah terus dipenuhi kejadian dengan gyaru tadi yang terlalu mengejutkan.


—"Aku ingin jadi pacar Senpai."


Bagaimanapun dipikir, kalimat itu terlalu imut.


Terlalu tulus. Tidak, mungkin aku hanya terpikat oleh kontras antara penampilannya yang mencolok dan kepribadiannya yang jujur.


Apa pun itu, aku benar-benar tidak tahu apa yang dia sukai dariku.


Yah, mungkin juga itu cuma keisengannya saja.


Pasti aku cuma sedang diisengi.


Perempuan memang sulit dimengerti.


"Ayo pulang, Miu."


"Yup~♩ Pulangnya mampir minimarket yuk~! Kita bagi dua ubi panggang~♩"


"Ubi panggang satu biji juga pasti habis kau makan sendiri! Nafsu makanmu parah banget!"


"Mumumu! Jahat! Aku maunya bagi dua~!"


"Iya iya…”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close