NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Prologue

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Prologue

"Kalau kita sudah dewasa nanti, mau menikah denganku?"


Kalimat klise yang sering muncul di anime atau manga.


Dua orang yang membuat janji menikah saat masih kecil, lalu akhirnya bersatu saat sudah dewasa... kisah mengharukan semacam itu.


Cerita yang terlalu umum, penuh dengan kata-kata manis yang sampai membuat merinding.


Hal seperti itu tidak mungkin ada di dunia nyata, kan... Ya, dulu aku juga berpikir begitu.


──Kalau dihitung mundur dari sekarang, itu terjadi tiga belas tahun yang lalu.


Saat itu aku dan Miu berusia lima tahun, sedangkan Momo-nee mungkin delapan tahun.


Seperti biasa, aku dipaksa ikut bermain peran oleh kakak-adik teman masa kecilku itu.


Sejak kecil aku sudah memerankan berbagai macam peran. Kadang menjadi pahlawan, kadang menjadi sensei sekolah, dan sebagainya.


Karena setiap hari dipaksa mengikuti permainan aneh yang bahkan tidak kumengerti, pernah juga aku mendapat peran sebagai anjing peliharaan dan selama sekitar satu jam... terus-terusan dipaksa menggonggong "wan! wan!"


Kalau dipikir sekarang, itu benar-benar lucu.


Saat itu aku memang penakut, jadi bisa dibilang aku benar-benar terus ditekan oleh kakak-adik itu.


Masa kecilku bisa dibilang dipenuhi oleh dipermainkan ke sana kemari. Ya.


...Lalu. 


Pada hari yang jadi masalah ini, kalau tidak salah aku mendapat peran sebagai suami dari istri yang imut.


"Hei, Shin-chan."


"Ada apa?"


"...Kau tahu apa itu pernikahan...?"


"Pernikahan...? Pernikahan itu yang dilakukan Ibu dan Ayah, kan?"


"Benar. Kalau menikah, kita bisa menjadi keluarga. Menjadi keluarga itu artinya menjadi suami istri, lalu hidup bersama selamanya. Dan katanya nanti Tuhan akan membawa bayi untuk kita."


"Bayi... wah..."


"Karena Shin-chan baik sekali, aku jadi berpikir ingin terus bersamamu."


"Aku juga! Aku juga mau terus bersama Momo-nee!"


"Ehehe... kalau begitu... saat kita sudah besar nanti, bagaimana kalau menikah denganku?"


"Hah, menikah... dengan Momo-nee...?"


"Fufu. Bohong kok. Lucunya Shin-chan."


...Begitulah, kami membuat janji yang manis seperti itu.


Meskipun hanya lebih tua tiga tahun, Momo-nee benar-benar anak yang dewasa sebelum waktunya.


Kalau dipikir sekarang... jangan-jangan sejak saat itu aku sudah diisengi oleh Momo-nee...


Kalau kuingat-ingat lagi, rasanya memang begitu.


"Aah! Kalian berdua sedang membicarakan apa sih~? Ceritakan juga ke aku dong~"


"Ini masih terlalu cepat untuk Miu."


"Bukan begitu! Miu dan Shintarou kan seumuran!"


Dan seperti sekarang, sejak dulu Miu memang mudah cemburu dan tidak mau kalah. Kalau melihat aku berbicara berdua saja dengan Momo-nee, dia langsung berlari mendekat.


Yah, tapi pada akhirnya Miu tetap tidak pernah tahu apa yang kami bicarakan saat itu.


Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, aku sendiri tidak yakin apakah Momo-nee masih mengingatnya atau tidak.


Mungkin yang masih mengingatnya cuma aku.


Janji lisan yang dibuat saat masih kecil seperti itu hanyalah perpanjangan dari permainan, ada ataupun tidak sebenarnya sama saja.


...Aku? Mana mungkin aku berharap sesuatu...


Hanya karena Momo-nee yang kutemui lagi setelah sekian lama berubah menjadi sosok kakak ideal yang keibuan, penuh perhatian, cantik, baik hati, selalu menenangkan, kadang licik dengan cara yang manis, berdada besar, dan entah kenapa sedikit seksi...


Bukan berarti aku ingin berpacaran dengannya atau semacamnya.


... Lagi pula, meskipun aku menginginkannya, itu pasti tidak akan terwujud.


Bukan berarti aku masih hidup sambil membawa perasaan berdebar saat dulu diisengi waktu kecil──sama sekali bukan begitu.


Tapi kalau sesama pria, mungkin ada yang mengerti maksudku.


Kenyamanan berada bersama kakak perempuan yang lebih tua. Rasa tenang dari sifatnya yang penuh perhatian.


Saat sedang lelah atau cemas, rasanya ingin dirawat dengan lembut oleh seseorang seperti itu...


"Hah? Bukannya itu cuma berarti kau suka yang lebih tua?"


Tidak, bukan begitu.


Kalau perempuan sih aku suka semuanya.


Yah, begitulah.


Ini adalah──


Kenangan masa laluku yang tiba-tiba teringat suatu saat.


Sebuah kisah yang benar-benar terjadi, dan mungkin akan menjadi kisah yang mengharukan mulai sekarang────


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close