NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Gudang Peralatan Olahraga Penuh Bahaya

Jam pelajaran keempat, saat perut mulai terasa lapar.


"Baik! Semua sudah lengkap, ya! Pertama-tama salam dulu, yang semangat!"


Orang ini adalah guru olahraga tipe penuh semangat, Futoshi Iida-sensei. Julukannya, King Gorilla. Tentu saja, panggilan King Gorilla itu cuma di kalangan murid.


Meskipun katanya orangnya sendiri juga sudah tahu...


Tapi Iida-sensei ini...


Sekilas lihat saja sudah terasa, otot banget! Lengan, paha, bahkan bagian pinggulnya sampai terlihat ketat, seolah-olah baju olahraganya bisa sobek kapan saja.


Setiap kali terlihat di ruang guru, dia selalu berpose otot di depan cermin tubuh penuh yang dipasang di dekat pintu untuk pemeriksaan penampilan.


Tingginya juga 185 cm, benar-benar besar. Tidak berlebihan kalau dibilang dia orang paling bisa diandalkan di sekolah ini.


──Suuuuuuuu...


Terdengar suara menarik napas sedalam mungkin.


"Hari ini juga mohon kerja samanyaaa!!"


"Mohon kerja samanyaaa!!"


Semua murid menyapa dengan suara keras bersamaan. Ini sudah seperti ritual wajib di pelajaran olahraga.


"Baik! Semangat seperti itu sangat bagus! Gahaha!"


Yup, hari ini juga energinya penuh. Belakangan ini sering terdengar istilah "sinis dingin", tapi dia benar-benar kebalikannya.


Dia tipe pria yang panas sampai rasanya aura semangatnya memancar dari seluruh tubuh.


"Langsung saja, pelajaran hari ini akan dipakai untuk latihan gladi bersih festival olahraga~"


Setelah berkata begitu, dia menjelaskan alur besarnya secara singkat. Meskipun disebut latihan gladi bersih festival olahraga, rupanya isinya tidak terlalu serius...


Sepertinya hampir langsung praktik sungguhan.


"Latihan kita hari ini... lomba lari tiga kaki ya..."


"Benar! Shibano! Kalian memang lari tiga kaki!"


Kata King Gorilla—eh, maksudnya Iida-sensei sambil tertawa terbahak-bahak.


"Seperti dugaanku... hiks..."


Miu menurunkan bahunya lesu dan menatapku dengan wajah jelas-jelas tidak puas.


"Haaah... meski aku bilang mau ikut, tapi makin dipikir aku jadi nggak semangat... kenapa harus sama kamu..."


"Hah, bukannya beberapa waktu lalu kamu semangat? Jangan berubah pikiran di saat-saat begini!"


"Nggak mau, nggak mau~! Kalau dipikir-pikir, lari tiga kaki itu hampir seperti menyatu, kan! Badan nempel badan gitu~... ahhh, aku nggak mau nempel sama kamu~~!"


Miu mengayunkan tubuhnya ke kanan dan kiri.


"Sebegitunya nggak mau ya? Aku juga bukan karena suka makanya berpasangan sama kamu! Keadaan yang membuat jadi begini! Tahan saja!"


"Nnggh...!"


Haaah... padahal beberapa waktu lalu dia bilang, "Ayo kita berusaha bersama!" dengan semangat...


Sudah terbayang bakal merepotkan...


Sementara kami mengobrol seperti itu, murid-murid lain mulai berpasangan dan mengikat pergelangan kaki mereka dengan pita.


Kelompok lari tiga kaki akan latihan langsung. Sedangkan teman-teman sekelas lainnya katanya fokus mendukung atau berlatih hal lain.


Menempel ya...


Memang sih, semua pasangan terlihat sangat dekat.


Dalam lari tiga kaki, kaki kanan satu orang diikat dengan kaki kiri orang lain, dan supaya tidak jatuh mereka juga harus saling menempel.


Malah kalau tidak menempel, keseimbangan jadi sulit dijaga.


Bahu saling merangkul kuat, tubuh bagian atas saling menempel, lalu melangkah dengan ritme yang sama.


Kelihatannya mudah, tapi mungkin malah lebih sulit daripada lomba individu. Kecocokan dengan pasangan memang penting...


"Nih pitanya."


Sambil berkata "Nih!", Miu mengulurkan kaki kanannya ke depanku.


Apa maksudnya aku yang harus mengikat?


Ya ampun, benar-benar suka menyuruh orang.


Aku menempelkan kaki kiriku ke kaki kanan Miu.


"Heh, kakimu ternyata cukup kecil ya. Kamu makan yang benar nggak?"


"K-kecil!? Aku akhir-akhir ini malah khawatir mungkin mulai agak berisi, lho... tapi senang juga♩ Dibilang kecil♩"


"Hmm, kalau paha sih mungkin memang agak berisi."


"...Rugi tadi aku senang. Dasar laki-laki nggak peka."


"Iya iya, nggak sakit kan? Gimana?"


Aku mengencangkan pita di pergelangan kaki.

Sekarang kami benar-benar satu kesatuan.


"Sepertinya aman, makasih."


"Oh. Sekalian saja kita jadi juara satu dan paling menonjol."


"Aku sih nggak harus menonjol..."


Kami berdiri di depan garis putih dan menunggu aba-aba sensei. Dua siswi di sebelah terus melirik ke arah kami.


"Mereka benar-benar cocok ya~ Selalu akrab, bikin iri~~"


...Kedengaran jelas, tahu.


Mengabaikan godaan seperti itu, aku merangkul bahu Miu, sedangkan Miu merangkul pinggangku.


"Pertama kita melangkah pakai kaki yang diikat dulu, ikuti aba-abaku."


"O-oke..."


Entah karena gugup atau apa, dia tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya. Karena Miu payah dalam olahraga, mau tidak mau aku yang harus menutup kekurangannya.


Serahkan padaku, Miu.


"Hari ini cuma latihan kok, tenang saja."


"Iya..."


Miu mulai semakin sedikit bicara.


Haaah, sepertinya aku harus berperan jadi pria yang bisa diandalkan.


"Pegangan yang erat padaku."


Kalimat yang terasa seperti adegan dalam film. Dengan ketampananku yang begini, Miu pasti senang sekali—


"Bleh."


...Reaksinya beda dari yang kubayangkan, tapi ini pasti cuma karena malu.


"Jangan pegang tempat aneh-aneh ya.”


"Dasar bodoh, mana mungkin aku menyentuh yang aneh-aneh."


"Ambil posisi~ bersiap!"


──── Pan!


Bersamaan dengan suara kering pistol start yang menggema di udara, kami melangkah maju dengan kuat.


"Ayo Miu! Mulai dari kaki kanan!"


"Iya! Satu, dua!"


Satu dua, satu dua.


──Selaras!!


Hebat, tanpa latihan apa pun, langkah kami benar-benar pas.


"Gawat! Aku benar-benar bisa maju!"


Miu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena semuanya berjalan jauh lebih lancar dari perkiraan. Perasaannya sama seperti yang kurasakan.


"Ini kekuatan teman masa kecil, Miu! Ada sesuatu yang selama ini terbangun sejak kecil dan kini menyatukan kita! Dan hasilnya pasti luar biasa!"


"Entah kenapa terdengar menjijikkan... tapi mungkin memang begitu!"


Sementara ada pasangan yang kesulitan berjalan dan tertinggal jauh, kami terus bergerak menuju garis finis dengan stabil.


Aku bisa merasakan tangan Miu di pinggangku menggenggam lebih erat.


Begitu, Miu. Serahkan tubuhmu padaku.


Terdengar teriakan dari belakang. Mungkin ada yang terjatuh.


"Mereka nggak apa-apa...?"


"Kamu fokus saja pada yang ada di depan."


Sambil berkata begitu, aku merangkul bahu Miu lebih erat.


Terlalu keren. Tapi sepertinya Miu tidak mendengarnya.


"Sedikit lagi! Satu dua, satu dua!"


Miu berusaha keras. Keringat mulai muncul di dahinya. Entah kenapa, wajah sampingnya terlihat sedikit manis.


Apa dia memang secantik ini ya...


Sebelum sadar, pita garis finis sudah semakin dekat.


Tinggal sedikit lagi...!


──Pan pan!


"Finish──! Yattaaa!"


Ternyata pasangan kami mendapat juara satu.


"Kalian hebat juga~! Jalannya terlalu lancar sampai kami yang lihat juga jadi tenang."


Morishita dan Tachibana-san berlari menghampiri.


"Miu-chan yang katanya tidak berbakat olahraga itu bohong! Tadi kamu larinya bagus sekali."


Tachibana-san juga terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Sepertinya mereka berdua tadi menyemangati kami.


"B-benarkah? Syukurlah..."


Awalnya kupikir bakal berantakan, tapi mungkin karena Miu juga merasakan kepuasan, ekspresinya setelah selesai terlihat jauh berbeda dibanding sebelumnya.


Bahu tegangnya mengendur, dan senyum lembut muncul di wajahnya.


"Berkat Shintarou, rasanya aku jadi bisa berlari dengan senang♩"


"Bukan, itu karena kamu juga berusaha."


Aku menyampaikan itu pada Miu. Karena ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan sendirian. Hasil ini juga ada berkat usahanya.


"Kalau begini, sepertinya saat lomba sungguhan juga bakal berjalan baik! Jadi nggak sabar♩"


"Ayo berusaha bersama."


"Iya!"


Entah kenapa rasanya mengharukan. Bisa sampai ada hari di mana aku dan Miu, teman masa kecilku, saling berjuang menuju tujuan yang sama seperti ini...


Uuh... terlalu mengharukan.


Saat aku tenggelam dalam pikiran seperti itu, waktu berlalu dengan cepat.


"Kita akhiri sampai di sini. Kalian berdua yang langkahnya kompak! Tolong bereskan pita dan tongkat estafetnya."


Setelah mengatakan itu, Iida-sensei menyerahkan kunci padaku lalu buru-buru pergi.


"Geh... kenapa harus kami..."


"Nggak apa-apa dong. Sekarang suasana hatiku bagus, jadi apa pun ayo saja~♩"


"Kamu memang sederhana... ya sudah, ayo bereskan."


Membawa barang-barang yang dikumpulkan dari teman-teman, kami menuju gudang peralatan olahraga di dekat gedung olahraga.


"Ngomong-ngomong, kamu ikut estafet antarkelas, kan? Gimana?"


"Eh? Maksudnya gimana?"


"Kamu nggak perlu latihan?"


"Oh iya, katanya mulai latihan besok."


"Oh begitu! Ya sudah, aku bakal menyemangatimu."


Miu membuka kunci gudang olahraga dengan bunyi berderak lalu masuk ke dalam.


"Tempat ini gelap banget deh, kayaknya hantu bakal muncul."


"Nggak mungkin ada begituan! Tapi memang... rasanya lembap ya."


"Iya, soalnya juga jarang ada orang masuk."


Karena ingin sedikit mengagetkannya, saat Miu membelakangiku, aku menutup pintu gudang dengan keras.


Gashan!


"Kya!"


Miu langsung menjerit lucu.


Aku tidak menyangka dia akan sekaget itu.


"Kaget tahu! Jangan lakukan begitu!"


Suasana lemahnya yang tadi langsung menghilang, kini dia mulai memarahiku.


Menggoda Miu memang benar-benar menyenangkan.


"Nih. Daripada melakukan hal nggak penting, cepat bereskan lalu pulang."


Menerima beberapa tongkat estafet yang disodorkan padaku, aku memutuskan menurut dengan patuh.


"Ngomong-ngomong, gudang olahraga sering muncul di manga ya? Buat latar romcom gitu."


"Oh iya, benar juga."


"Ternyata kamu tahu juga."


"Tahu apaan?"


"Lho? Kamu nggak tahu?"


"Ngomong apa sih..."


"Kalau ada cowok dan cewek berdua saja di gudang olahraga, cuma ada satu hal yang bakal terjadi, kan?"


Cuma ada satu hal yang bakal terjadi, kan...


Hmm. Yang langsung terlintas di pikiranku adalah game galge yang pernah kumainkan.


(Hasil pola pikir otaku murni tanpa noda)


Pengalaman tinggiku bukan berasal dari pengalaman nyata.


Semuanya murni ilmu dari game. Seperti yang Miu bilang tadi, di game atau manga seperti ini gudang olahraga hampir pasti muncul.


Gudang gelap, berdebu, dan sedikit bau jamur seperti ini populer mungkin karena...


Tempat seperti ini mudah menciptakan suasana ruang tertutup.


"Haaah... pasti lagi mikirin game mesummu lagi kan."


"Benar. Hebat juga kamu tahu."


Seperti dugaanku, Miu memang bisa menebaknya.


"Kamu benar-benar nggak ada niat menyembunyikannya..."


"Jadi? Kalau di game itu, biasanya setelah ini bagaimana?"


"Hmm. Setahuku, biasanya ceweknya yang mulai mendekati. Sambil bilang, 'Senpai... sekarang nggak akan ada yang datang...♡' gitu...! Hahaha."


Miu menatapku dengan wajah pasrah seolah berkata, Mana mungkin ada cewek seperti itu di dunia nyata.


Belakangan ini aku cukup suka ekspresi Miu yang seperti itu.

Dilihat dengan wajah sebal memang punya sensasi tersendiri.


"Kalau imajinasi cowok tuh terlalu lurus ya. Kayak, melakukan sesuatu lalu selesai. Kurang rasa deg-degannya."


Entah sedang memikirkan apa, tiba-tiba Miu mulai menjelaskan "alur ideal"-nya.


Atau lebih tepatnya... memintaku melakukannya?


"Pertama, tongkat yang diletakkan di tempat tinggi seperti ini biasanya nggak bisa dijangkau kebanyakan cewek. Nah, cowok keren di manga shoujo bakal mengulurkan tangannya buat membantu."


Sambil menarik tanganku, dia membawaku ke rak besi di sisi gudang. Perbedaan tinggi kami mungkin sekitar dua puluh sentimeter. 


Dia ternyata cukup mungil juga ya.


Aku mengikuti perkataannya dan menaruh kembali tongkat estafet ke tempatnya.


Miu berdiri pas di antara tubuhku dan rak.

Wajahnya tepat berada setinggi dadaku.


Saat aku melirik ke bawah, kulihat telinga dan pipinya memerah, sambil menatapku dari bawah dengan mata sedikit berkaca.


(Apa ini aura hewan kecil...? Padahal dia sendiri yang bilang, tapi malah malu.)


"Gimana? Sudah selesai semuanya...?"


Sambil berkata begitu, dia terlihat gelisah.


Uuh... lucu...


Belakangan ini rasanya semakin banyak momen di mana aku menganggapnya lucu. Padahal dulu tidak pernah.


Dulu aku tidak pernah terganggu meski digoda. Atau jangan-jangan dia memang jadi lebih feminin?


Hmm... rasanya aneh.


"A-ah, terus..."


Kenapa wajahnya jadi serius begitu?


Jangan-jangan...Pengakuan cinta?


"Kamu mungkin bau keringat."


"Hah? Ya wajar dong habis olahraga!"


"T-tapi aku nggak benci kok! Maksudnya... gimana ya... baunya terasa maskulin..."


"Geh, itu fetish aneh."


"Bukan aneh...! Itu namanya fetish aroma~"


"Itu tetap mesum!"


Miu kembali menggembungkan pipinya.


Belakangan ini aku sering melihat ekspresi itu.


Eh...Nggak, ini aneh! Yang aneh itu aku!


Rasanya aku jadi terlalu memedulikan dia.


Apa yang berubah dariku...


Aku sendiri juga tidak mengerti...


"H-hei, mau sampai kapan begini? Menjauh sana."


Aku segera menjauh dari Miu. Kalau sampai muncul pikiran aneh bakal repot. Bisa-bisa aku sendiri jadi aneh.


"Hei, Shintarou, pernah nggak sih kamu menganggap aku lucu?"


"Eh!? Kenapa tiba-tiba begitu?"


Aku kira dia membaca pikiranku. Timing-nya terlalu pas.


"Aku nanya apa kamu menganggapku lucu atau nggak~!"


"Y-ya tentu saja. Dari dulu aku selalu menganggapmu teman masa kecil yang lucu."


"Benarkah~?"


Miu menatapku lekat-lekat.


"Hanya karena teman masa kecil? Kamu nggak menganggapku lucu sebagai seorang perempuan?"


"Apa sih... sebenarnya kamu menginginkan jawaban apa..."


"Pernah nggak kamu berpikir ingin memilikiku untuk dirimu sendiri?"


"...Hah?"


Detik berikutnya, aku dijatuhkan ke atas matras pengaman.


"Uuuh! Apa yang tiba-tiba kamu lakukan?!"


Mungkin karena sudah lama tidak dipakai, debunya beterbangan dan membuat tenggorokanku terasa gatal.


Syukurlah matras tebal ini empuk... kalau tidak, aku pasti sudah mati!


"Gimana caranya supaya kamu memperlakukanku sebagai perempuan?"


Dari tadi kupikir dia mau bilang apa, sekarang malah minta diperlakukan seperti perempuan...?


"Gimana caranya... malah aku yang ingin tanya! Tiba-tiba kamu kenapa sih?"


Miu menindihku sambil perlahan mendekatkan wajahnya sampai jarak hidung kami nyaris bersentuhan.


Tunggu, ini pernah terjadi sebelumnya.


"Aku ini sebenarnya lumayan populer, tahu. Cuma kamu saja yang nggak tahu. Jangan kira aku akan terus ada di sampingmu selamanya."


"Aku juga... nggak pernah berpikir begitu..."


"Kalau begitu apa?"


"K-kalau begini sih... bukannya lebih baik jangan lakukan hal seperti ini di sekolah?"


Entah kenapa aku menunjukkan sikap lemah yang tidak seperti diriku.


Kalau begini aku benar-benar terus ditekan oleh Miu.


Tapi...tidak seperti dulu, aku sudah tidak bisa membalas dengan sikap percaya diri.


Atau lebih tepatnya bukan tidak bisa...


Rasanya malah memalukan.


"Heee~♩ Jadi kalau bukan di sekolah boleh♡?"


"Bodoh! Bukan itu maksudku!"


Anak ini...dia masih memperlakukanku seperti saat kami kecil dulu. Padahal sekarang dan dulu sudah berbeda dalam banyak hal.


Karena tidak tahan lagi, aku buru-buru bangkit dari matras sambil menghindari Miu.


"Haaah, ayo kembali."


"Eh? Rasanya kamu dingin gitu deh."


"Masa? Kurasa biasa saja."


"Mungkin ini pertama kalinya kamu menghindariku seperti ini. Aku nggak suka."


Mana mungkin aku bilang kalau aku jadi terlalu sadar padanya. Tapi kalau kubiarkan begini, dia pasti menganggapku pria yang dingin.


"Aku bukan menghindarimu. Kalau tadi suasananya jadi aneh, nanti malah nggak bisa berhenti!"


"Ooh, jadi begitu? Berarti kamu sudah nggak tahan dengan godaanku."


"Kamu ini... kalau keterlaluan beneran kuserang lho."


"Aaah! Si mesum biasa muncul lagi! Kabuuur~~!"


Setelah berkata begitu, Miu mendorongku lalu berlari keluar dari gudang olahraga.


"Hei! Bawa kuncinya juga!"


Jangan-jangan akhirnya aku lagi yang harus ke ruang guru...


Meskipun begitu, aku menghela napas lega karena setidaknya berhasil lolos dari situasi tadi.


Kakak-adik itu... kalau berdua saja selalu suka mendekat.


Kontak fisiknya juga kebanyakan sekali...


Mungkin mereka cuma senang melihat reaksiku, tapi aku benar-benar sulit membedakan mana yang cuma bercanda dan mana yang serius.


Bagaimana kalau laki-laki seusiaku menganggapnya serius?


"Aah... lapar banget... balik dan makan siang saja."


Ngomong-ngomong makan siang hari ini bekal buatan Ibu. Dari pagi aku lihat ibu semangat sekali membuatnya.


Jadi sedikit menantikannya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close