NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Klub Kencan Karaoke Sepulang Sekolah

"Woooh! Bekalmu hari ini mewah banget! Bagi satu karaage dong!"


Jam istirahat siang, di kelas──


Aku sedang makan sambil berhadapan dengan Morishita.


Karena kehidupan SMA tinggal beberapa bulan lagi, akhir-akhir ini Ibu membuatkan bekal dengan semangat lebih dari biasanya.


Ada karaage kesukaanku, tamagoyaki, ohitashi bayam, lalu ubi manis karamel.


Kombinasi yang sempurna tanpa cela.


Dan sisanya...tomat ceri...


"Ugh... kalau tomatnya ambil saja."


Ya, aku tidak suka tomat.


"Hei, kamu ini. Padahal Ibumu sengaja memasukkan itu demi kesehatanmu, jangan protes dong!"


"Itu urusan lain... tekstur biji yang keluar waktu digigit itu... ugh, bikin merinding."


"Jangan jadikan aku alat penghancur barang bukti."


"Lho, Morishita juga nggak suka tomat?"


"Nggak sama sekali. Nih, lihat."


Morishita mengambil tomat ceri dari kotak bekalku lalu langsung melemparkannya ke mulut.


"Aku malah suka tomat ceri di dalam bekal."


Apa nanti akan datang hari di mana aku mengenang masa-masa makan bekal bersama seperti ini?


Saat musim kelulusan tiba, sering muncul postingan di media sosial seperti "Hari terakhir membawa bekal" dengan foto-fotonya.


Apa nanti aku juga akan mengalami itu...


Hmm...Menyentuh juga…


"Hei….."


Sambil mengambil karaage kesukaanku, aku berkata,


"Kamu sudah pasti lanjut internal kan?"


"Oh, soal kuliah? Iya. Kamu juga kan?"


Morishita yang duduk di depanku sedang melahap bekal dua tingkat berukuran besar.


Ngomong-ngomong, karena sekolah kami adalah SMA swasta afiliasi, ada jalur langsung ke universitas yang terhubung.


"Iya. Jumlah kehadiranku cukup, nilainya juga nggak buruk. Kata sensei, selama dipertahankan begini harusnya nggak masalah."


"Aku juga dibilang begitu. Cuma ya... belum tentu bisa masuk jurusan yang diinginkan."


Anak-anak yang masuk peringkat atas nasional saat ujian percobaan benar-benar terlihat berbeda dari tatapan matanya saja.


Kalau aku...


Sejujurnya aku tidak terlalu memikirkan masa depan dengan berat. Kalau lewat jalur internal, setidaknya aku bisa jadi mahasiswa. Untuk sekarang, itu sudah cukup.


Sambil memikirkan hal seperti itu, setelah menghabiskan bekal aku menatap ke luar jendela sambil mengantuk.


"Aku tidur dulu sampai istirahat selesai."


Setelah berkata begitu pada Morishita, aku menelungkup di meja.


(Habis olahraga lalu makan siang... ini pasti serangan gula darah... ngantuk...)


──Grak!


"Eh, siapa cewek ini?"


"Ada murid seperti ini di sekolah kita?"


"Terlalu mencolok nggak sih?"


Seluruh kelas mulai ribut. Aku penasaran ada apa, tapi rasa kantuk terlalu kuat sampai aku tetap menunduk.


Saat itu──Terdengar suara langkah keras mendekat lurus ke arahku lalu berhenti tepat di samping.


"Apa...?"


Aroma manis ini…


Rasanya aku kenal. Indra penciumanku berusaha mati-matian memanggil kembali ingatan yang samar...


Tapi akhirnya aku membuka mata sedikit untuk memastikan.


Dan di depanku...


Ada paha yang memanjang dari rok pendek. Tubuh sehat yang cukup berisi. Kuku-kuku mencolok mengetuk meja seolah menyuruhku cepat bangun.


Ya. Orang ini adalah...


"Sudah ditentukan belum kapan kencannya, Senpai?"


Kurosaki-san si gyaru.


"Ehm... kencan...?"


"Jangan bilang Senpai lupa ya?"


"Rasanya pernah ngomong soal itu... atau nggak ya..."


"Lupa ini?"


Dia menunjukkan jari telunjuknya yang satu kukunya terlepas.


──Aku langsung ingat semuanya.


Tapi gawat. Ini kelas tahun ketiga...


Dan tentu saja, orang-orang itu ada di sekitar sini──


"Maksudku... aku pasti akan menebusnya! Tapi kalau disebut kencan rasanya menimbulkan salah paham, jadi mungkin jangan disebut begitu..."


"Aha, malu ya senpai. Hari ini juga imut."


"B-bukan soal imut...!"


"Ehm... anu..."


Miu yang memasang ekspresi agak ketakutan diam-diam ikut masuk ke percakapan.


"Ehm... Kamu siapa?"


"Ah, aku? Kurosaki Maria kelas dua. Kalau dari Senpai, aku dipanggil Maritan."


"──M-Maritan!?"


Bukan cuma Miu, Morishita, Tachibana-san, bahkan teman-teman sekelas juga langsung melotot ke arah kami.


Ah...Sudah tamat.


"H-hubunganmu dengan Shintarou itu apa...!?"


Miu berbicara sambil mengepalkan tangan di depan dada seperti pose petarung.


"Hmm, hubungan yang sebentar lagi bakal pacaran? Kira-kira begitu. Benar kan, Senpai?"


"...Haah!? Aku!?"


Kurosaki-san menarik lenganku lalu memeluknya erat.


"Rasanya... dia tipe cewek yang paling nggak mau ada di sekitar pacar..."


Miu, kumohon jangan bikin masalah makin besar.


"Tipe cewek yang nggak mau ada di sekitar pacar...?"


Kurosaki-san menatap Miu tajam.


──Seram banget.


"Mya..."


Miu sampai mengeluarkan suara aneh karena ketakutan.


Ya wajar sih. Ditatap gyaru mencolok seperti itu siapa yang nggak takut. Lihat saja, Morishita dan Tachibana-san sampai berpegangan tangan sambil gemetar.


"Apa? Kamu pacarnya Senpai?"


"Nggak sama sekali."


Aku dan Miu menjawab bersamaan.


Supaya keadaan tidak makin rumit, aku benar-benar ingin kabur dari sini. Tapi kalau mau begitu, aku harus menyelesaikan situasi ini dulu.


Jadi untuk sementara, Miu diam dulu──


"Hei, cewek mencolok! Shintarou itu bukan tipe yang suka cewek mencolok sepertimu! Hmph. Eh bentar... tapi bukannya Shintarou pernah baca manga tentang mesra-mesraan sama gyaru..."


"...Hah!? Perlu banget bahas itu sekarang!?"


Kurosaki-san yang mendengarkan malah tersenyum puas.


"Hee~ Senpai ternyata suka gyaru seperti aku ya? Kalau begitu bilang dari awal dong. Jadi lebih cepat."


"Nggak! Semuanya salah!"


Kurosaki-san duduk santai di atas mejaku, menaruh pantatnya yang empuk di sana. Lalu dia mengangkat daguku pelan──


"Senpai, mulai hari ini jadi cowokku aja ya~~♡"


Semua orang:


"Haaaaaahhhhh!?"


"Ah iya~ Kebetulan aku punya kupon kentang ukuran besar gratis."


Kurosaki-san menunjukkan kupon karaoke di depan stasiun.


"Kupon ini ternyata cuma berlaku sampai hari ini. Senpai, gimana kalau sepulang sekolah karaoke bareng?"


Aku terkejut dengan ajakan mendadaknya.


Harus jawab apa...


Jujur saja, aku tidak terlalu ingin pergi. Menyanyi di depan orang, apalagi di depan orang yang tidak terlalu kukenal...


Mana mungkin orang introvert sepertiku bisa melakukan itu.


Tapi──


"Aku! Aku! Aku ikut!"


"K-kalau begitu aku juga ikut!"


Miu dan Morishita menunjukkan minat yang tidak biasa.


Apa mereka sedang berusaha menolongku...


Tunggu dulu…


Kalian pernah karaoke memang?


Setelah itu jam istirahat selesai, dan kami menjalani pelajaran sore──Tentu saja tidak mungkin berjalan normal...


Selama pelajaran, aku terus merasakan niat membunuh yang mengerikan.


Ya wajar saja. Miu menggigit bibirnya, lubang hidungnya mengembang, lalu menatapku dengan mata tajam tanpa henti.


Dan itu berlangsung sejak jam pelajaran kelima...


(Sejujurnya... rasanya aku seperti tidak bisa hidup tenang.)


◆◇◆


──Sepulang sekolah.


Karena entah bagaimana kami jadi pergi karaoke, kami pun datang ke Uta Pico Land yang berada dekat stasiun.


Anggotanya: aku, Miu, Kurosaki-san, dan Morishita.


Tachibana-san bilang dia tidak suka tempat yang berisik, jadi dia pulang lebih dulu.


Di bagian resepsionis, Kurosaki-san dengan santainya melakukan check-in seperti sudah terbiasa.


"Satu jam cukup? Kalau kurang nanti tinggal diperpanjang."


"I-iya, kami ikut saja."


"Baiklah. Kalau begitu, ruangannya di sini."


Kami yang hampir tidak pernah datang ke karaoke mengikuti Kurosaki-san sambil berjalan kecil di belakangnya. Persis seperti rombongan anak bebek.


Karena kejadian canggung saat istirahat siang tadi, pada akhirnya aku tidak bisa menolak dan langsung mengiyakan di tempat.


Bagaimanapun juga, ini mungkin kompensasi atas kuku yang patah itu... semacam kencan permintaan maaf? Dan Miu serta Morishita yang mendengar semuanya di samping juga ikut datang.


Kupikir Kurosaki-san bakal mengeluh karena tidak jadi berdua saja, tapi ternyata dia tidak keberatan karena biaya karaoke jadi lebih murah kalau dibagi banyak orang.


Kami juga sedikit bersemangat mencoba hiburan yang terasa baru ini.


Hanya saja...ada satu orang yang terlihat tidak senang.


"Muuu... aku nggak suka karaoke."


"Kalau begitu kenapa ikut, Miu?"


"Soalnya... mana boleh kalian berdua karaoke sendirian!"


"Padahal juga nggak bakal terjadi apa-apa."


"Oh iya, kalian mau minum apa? Di sini wajib pesan satu minuman."


"Aku cola."


"Aku juga."


"Kalau begitu aku juga."


Sementara kami berbicara, Kurosaki-san yang cekatan dengan cepat memesan minuman dan makanan.


"Nah, siapa yang mau nyanyi dulu?"


Setelah selesai memesan, Kurosaki-san diam-diam duduk di sebelahku. Dengan wajah tegang, kami bertiga saling menatap.


"E-entahlah... aku biasanya juga nggak pernah nyanyi..."


"Aku juga agak malu kalau nyanyi di depan orang..."


"Aku juga sih... kayaknya cuma tahu lagu anime..."


"Serius? Berarti sekarang panggungku~"


Setelah memilih lagu dengan cepat, Kurosaki-san berdiri sambil menggenggam mikrofon.


Tiba-tiba intro ceria mulai terdengar.


Di monitor tertulis: Yumekawa Nana — "Go! Party☆"


Gyaru bisa langsung nyanyi mendadak begini ya...!


Apa mereka nggak malu? Atau karena memang sering karaoke jadi sudah terbiasa?


Buatku yang cuma gamer rumahan, tempat seperti ini terasa tingkat kesulitannya tinggi sekali. Miu dan Morishita yang ada di samping sepertinya merasakan hal yang sama.


"Woooh..."


Sambil mengeluarkan suara kagum, kami cuma menonton Kurosaki-san bernyanyi.


Aku sama sekali nggak tahu lagunya, tapi entah kenapa rasanya bikin semangat.


Liriknya juga imut!! Kurosaki-san mulai menari dengan riang. Nyanyiannya jauh lebih bagus dari dugaanku, nada tingginya juga sempurna.


"Ayo, jangan cuma lihat, ikut menari."


Kurosaki-san menarik tangan Miu dan membuatnya berdiri.


Tentu saja Miu langsung panik dan mulai bergerak canggung. Yang melihat justru merasa lucu.


"Oi Miyata, gawat! Aku lihat celana dalam Kurosaki-san...!!"


Morishita diam-diam melapor dengan penuh semangat.


"P-pink! Dan motif macan dengan renda hitam!! Uwoooh!!"


Hari ini datang ke sini ternyata sangat berharga, katanya dengan gembira.


Yah, dengan rok sependek itu lalu dia melompat-lompat sambil menari...


Sulit untuk tidak terlihat. Kali ini memang salah Kurosaki-san sih. Tapi tetap saja...


Morishita, dasar kamu.


"Aah~ seru~ Aku suka banget Yumekawa Nana."


"A-aku juga baru pertama kali dengar, tapi rasanya jadi suka!"


Miu mulai mengetuk-ngetuk layar ponselnya.

Mungkin sedang mencatat sesuatu.


"Karena sudah di sini, Miu-senpai juga coba nyanyi dong?"


"Eh, aku...!?"


"Biasanya dengar lagu apa?"


"Ehm... gimana ya... Blood Rose Night mungkin...!"


"Hee~ aku juga mau coba dengar~"


"Kalau begitu... mungkin aku nyanyi ini saja..."


"Oh, bagus tuh! Nyanyi aja~"


──Pip!


(Miu lumayan juga. Tipe yang cepat beradaptasi dengan lingkungan ya.)


Saat aku berpikir begitu, intro yang lumayan dalam mulai terdengar.


Saat melihat monitor lagi...


"Cinta adalah Minum Sendiri"


(Cinta adalah Minum Sendiri...?)


"Tunggu, lucu banget! Itu lagu duet andalan kakek sama nenekku ahahaha!"


Kurosaki-san juga tahu lagunya dan langsung tertawa keras.


"Aku juga tahu karena nenekku sering menyanyikannya! Kayaknya yang ini aku bisa!"


"Aha, kalau begitu aku nyanyi bagian cowoknya."


Padahal tadi di sekolah suasananya sangat buruk dan saling bersitegang...


Tapi sekarang mereka malah senang duet bersama.


Sinkron sekali, seperti dunia mereka berdua saja.


Aku dan Morishita ikut berpartisipasi dengan tepuk tangan, tapi sepenuhnya jadi orang luar.


Isi liriknya juga terasa seperti lagu pasangan.


Miu memegang mikrofon dengan dua tangan sambil berdiri kaku, sedangkan Kurosaki-san merapatkan bahunya ke Miu.


Auranya terlalu tampan untuk seorang gadis...


"Miu-senpai ternyata bisa nyanyi juga ya."


"A-aku baru pertama kali nyanyi di depan orang selain keluarga... gugup banget..."


"Aha, lucu juga ya."


Sejak duet itu, entah kenapa jarak di antara mereka terlihat mendadak dekat.


Yah, lebih baik daripada mereka bertengkar...


Setelah itu, sambil makan kentang goreng, aku dan Morishita menghabiskan waktu dengan menonton mereka bernyanyi.


Pada akhirnya...


Sampai selesai, kami berdua tetap tidak menyanyi sama sekali.


──Purururu!


"Ah, waktunya sudah habis."


"Eh! Sudah~? Cepat banget deh!"


Miu kelihatannya masih belum puas bernyanyi. Padahal awalnya dia menunjukkan sikap tidak mau, tapi sekarang dia benar-benar menikmatinya.


"Besok juga masih sekolah, jadi untuk hari ini kita bubar sampai sini saja?"


Saat aku berkata begitu, Miu dan yang lainnya terlihat setuju.


"Iya juga ya, lain kali pas hari libur mungkin aku datang lagi sama Onee-chan♩"


"Eh, Miu-senpai punya kakak?"


"Iya! Aku punya kakak perempuan yang lebih tua tiga tahun."


"Kakaknya imut banget lho!"


Morishita langsung menyela dengan semangat.


"Hei, kamu ini. Kamu sebenarnya lebih suka Miu atau Momo-nee sih? Dari tadi melotot terus."


"Hah!? Aku nggak mau dibilang begitu sama kamu! Malah kalau dipikir-pikir, kamu juga— mghh!"


Karena sepertinya dia mau ngomong yang aneh-aneh, aku langsung menyumpalkan kentang goreng yang tersisa ke mulutnya.


"Ahahaha, Morishita-senpai ternyata karakter yang suka dijahili ya."


"Dia memang selalu begini. Aduh, sekarang sampai Kurosaki-san juga menganggapmu orang aneh ya, Morishita-kun."


"Kenapa sih! Kenapa cuma aku yang diperlakukan beginiii~ hiks."


Tidak diragukan lagi, orang paling aneh di sini memang dia.


◆◇◆


Setelah selesai membayar, kami meninggalkan tempat karaoke.


Matahari mulai sedikit tenggelam, tapi sekitar masih cukup terang.


Karena Kurosaki-san dan Morishita tidak satu stasiun dengan kami, setelah saling mengucapkan salam ringan mereka langsung menghilang menuju peron.


"Kalau begitu, Miu, sampai besok~ hati-hati di jalan."


"Iya, masih terang kok jadi aman! Sampai besok~"


Huuu...


Hari ini benar-benar ramai. Ditambah lagi Kurosaki-san ikut bergabung dengan kelompok kami. Bahkan dia bisa membaur dengan biasa saja.


Memang kemampuan sosial gyaru luar biasa.


──Bzz bzz.


"Hm? ...Telepon."


Saat mengeluarkan ponsel dari saku dan melihat layar, ternyata yang menelepon adalah Miu yang tadi baru saja bersamaku.


Apa ada barang tertinggal...?


"Halo~"


"Ah, Shintarou, makasih buat hari ini."


"Kok telepon? Ada yang ketinggalan?"


"Nggak, bukan itu..."


Dia terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan sepertinya bukan hal yang menyenangkan.


"Apa sih~ kalau diam begitu aku mana tahu~"


"Iya... sekarang kamu di mana?"


"Di mana maksudnya? Sudah lumayan dekat rumah."


"Hmm, begitu..."


"Apa sih? Kalau nggak ada urusan aku tutup ya~"


"Sampai nanti~"


Aku berpura-pura hendak menutup telepon. 


Baru setelah itu Miu akhirnya membuka mulut.


"Aku susah ngomongnya sih... tapi dari tadi aku merasa nggak enak."


"Nggak enak? Maksudnya mentalmu?"


"Iya... mungkin."


"Oh...? Kenapa?"


"Kenapa ya... itu..."


Aku tidak merasa melakukan apa-apa. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.


"Penyebabnya aku...?"


"Kalau bukan karena kamu mana mungkin aku menelepon."


"Yah, benar juga sih... jadi ada apa? Kalau ada yang mau dibilang ya cepat bilang!"


Karena Miu terus ragu-ragu, aku bertanya sedikit lebih tegas.


"Tentang Kurosaki-san."


Tentang Kurosaki-san...? Apa aku melakukan sesuatu ya?


"Memangnya kenapa? Dia bilang sesuatu?"


"Bukan! Dia nggak bilang apa-apa! Cuma... aku penasaran sebenarnya hubungan kalian itu apa."


"Hah...? Dari kelihatannya juga sudah jelas kan. Mau gimana pun ya cuma kenalan...? Ya sebatas itu."


"T-tapi! Tadi di sekolah kamu dengar sendiri, kan!"


"Oh, yang soal jadi cowokku itu? Hahaha."


"...Iya."


"Itu jelas cuma bercanda. Kalaupun serius, aku juga nggak ada niat. Lagian tadi kamu juga kelihatannya senang-senang saja!"


"Itu sih benar, tapi..."


"Urusannya cuma itu?"


"Makanya, aku mau tahu hubungan kalian yang sebenarnya!"


"Aku sudah bilang berkali-kali kan! Kami baru ngobrol dua kali saja!"


"Bohong! Nggak mungkin dia bisa bicara seakrab itu!"


Aaaah...


Kenapa sih susah sekali masuk akal. Jarang-jarang aku merasa sedikit kesal.


"Sudahlah, percuma diteruskan. Aku tutup."


"Tunggu...! Aku cuma sedikit penasaran kok... jangan marah begitu."


"Aku nggak marah. Aku sudah di depan rumah, jadi kututup."


"Tunggu, Shintarou—"


──Tut.


"Haaah..."


Kupikir dia mau bilang apa...


Hubunganku dengan Kurosaki-san? Bahkan kalau dibilang teman juga rasanya masih terlalu cepat...


Hubungan kami juga bukan hubungan aneh yang perlu dicurigai, cuma Kurosaki-san memang terlalu dekat sehingga Miu jadi salah paham.


Atau lebih tepatnya...


Walaupun dia curiga, rasanya aku juga tidak perlu dimarahi.


Tapi Miu selalu cepat marah. Bahkan cuma karena aku membaca manga atau menonton anime yang agak mesum saja dia sudah mengeluh.


Kalau melihatku berhubungan dengan perempuan sungguhan, wajar juga dia marah...


Eh? Jangan-jangan ini rasa ingin memilikinya!?


Padahal kami juga bukan pacaran...


Hanya karena teman masa kecil bukan berarti dia berhak membatasi tindakanku. 


Tapi mungkin aku tadi terlalu dingin. Lagi pula teleponnya juga seperti kututup paksa.


Aah...


Perasaan perempuan benar-benar susah dimengerti.


Nanti mungkin aku harus menenangkannya sedikit…


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close