NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 8

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 8

Memikirkan Kakak, Bunga Pun Mekar

"Are? Senpai sendirian aja...?"


Saat waktu pulang sekolah, Kurosaki-san memanggilku di gerbang sekolah.


"Ah, Kurosaki-san."


"Hari ini Miu-senpai nggak ada ya?"


"Iya, Miu pergi ke rumah sakit buat memeriksa perkembangan kondisi pergelangan kakinya."


"Oh, begitu ya."


──Dua hari telah berlalu sejak festival olahraga, dan kehidupan kami pun kembali seperti biasa.


"Senpai, habis ini mungkin lagi senggang nggak...?"


Kurosaki-san menyatukan kedua tangannya di belakang punggung lalu menatap wajahku dari bawah sambil mengedipkan matanya.


"Hm? Ah, iya. Nggak ada rencana apa-apa sih..."


"Kalau gitu, mau kencan bentar nggak?"


"Kencan...?"


"Ahaha, kalau aku bilang kencan pasti Senpai nggak bakal mau datang ya. Kalau begitu... hmm... nemenin aja...?"


"Nemenin juga terdengar agak canggung sih...? Yah, ayo aja! Aku juga lagi nggak ada kegiatan."


"Hehe... yeay~"


──Beberapa saat kemudian, kami tiba di depan stasiun.


Atas ajakan Kurosaki-san, kami menuju sebuah kafe dekat stasiun.


Kota tempat kami tinggal memang tipe yang semua fasilitasnya berkumpul di stasiun utama, jadi kalau datang ke stasiun setidaknya bisa menghabiskan waktu. Tempat seperti ini juga cocok dijadikan lokasi kencan anak sekolah.


Yah... meskipun sekarang sebenarnya bukan kencan sih...


"Sebenarnya sekarang lagi ada Festival Ubi Jalar edisi terbatas."


Kurosaki-san menunjukkan media sosialnya padaku.


Sekilas, tempatnya terasa retro dengan suasana klasik, tapi dari fotonya saja sudah terlihat jelas tempat itu dipenuhi pelanggan perempuan... suasana yang bakal sulit dimasuki cowok sendirian.


Di sisi lain, ada banyak sekali manisan ubi jalar, seperti es krim ubi dan parfait dengan camilan daigaku imo di atasnya.


"Wahh... semuanya kelihatan enak... Eh!? Yang ini juga gila! Donat mochi ubi jalar!"


"Ahaha, sesuai rencana. Aku pikir Senpai pasti bakal senang~"


Kurosaki-san berbicara dengan mata menyipit dan wajah yang tampak puas.


"Jangan-jangan... kau memilih tempat ini demi aku...?"


"Ya jelas dong. Kalau demi orang yang aku suka, riset juga penting."


Dia tersenyum lembut padaku sambil mengatakan itu.


"N-ngomong-ngomong... soal suka itu... maksudnya... gimana...?"


Karena penasaran, tanpa sadar aku kembali menanyakan hal yang tidak perlu seperti biasanya.


"Hm? Apa suka memang butuh alasan...? Maksudnya gimana?"


"A-ah, nggak... bukan apa-apa...!"


Sepertinya lebih baik aku anggap obrolan ini tidak pernah terjadi.


Sebelum percakapannya berkembang ke arah yang aneh...


"Ah, lihat, kita sudah sampai."


Cafe Madoromi. Sebuah kafe dengan eksterior yang benar-benar memberi kesan hangat dari kayu.


Di depan toko ada papan menu tulisan tangan dengan tulisan Festival Ubi Jalar.


"Tempat ini lucu juga ya."


"Iya... aku bahkan nggak tahu ada tempat seperti ini..."


Dari jendela kaca besar, suasana di dalam juga bisa terlihat.


Dan seperti dugaan, tempat itu dipenuhi pelanggan perempuan. Ada siswi yang sedang mengobrol seru, ibu rumah tangga, juga kakak-kakak pekerja yang baru pulang kerja. Hampir semua kursi penuh.


Kring kring──Bel pintu berbunyi, lalu seorang kakak laki-laki tampan yang sepertinya mahasiswa muncul dari dalam.


"Selamat datang. ──Berdua ya?"


Dia menyapa dengan nada lembut.


Tinggi, rambut hitam pendek, rapi, ditambah pakai kacamata...Benar-benar tipe cowok berkacamata.


Pantas saja tokonya ramai...


Pasti gara-gara kakak ini. 


Cewek itu benar-benar... gampang ditebak ya.


"A-ah... e-ehm, b-berdua."


Eh? K-Kurosaki-san...?


Di depan cowok setampan itu, sikapnya tiba-tiba berubah total. Cara bicaranya berbeda dari biasanya dan jadi sangat sopan.


K-Kurosaki-san juga!? Jadi memang cowok tampan adalah keadilan mutlak ya...!!


"Silakan ke meja ini."


Kakak itu mengantar kami dengan senyum ramah. Entah kenapa dari dia juga tercium aroma yang enak.


"Silakan panggil saya jika sudah menentukan pesanan."


Setelah berkata begitu, kakak itu dipanggil pelanggan lain dan segera pergi ke meja bagian dalam.


Ternyata bagian dalam toko cukup luas dengan langit-langit tinggi. Pencahayaan berwarna jingga, alunan musik jazz yang lembut dan nyaman di telinga...


Entah kenapa rasanya sudah menenangkan bahkan sebelum duduk santai.


Aroma manis seperti pancake... seperti kue yang baru dipanggang... bercampur dengan aroma kopi yang harum memenuhi ruangan.


"Senpai, mau pesan yang mana?"


Kurosaki-san memegang menu dengan wajah bingung.


Walau hanya terpisah meja…


Rasanya wajahnya dekat sekali...


Bulu mata panjang Kurosaki-san sangat cocok dengan riasan matanya yang berkilau. Kulitnya putih dan bersih, rambutnya juga mengeluarkan aroma khas Kurosaki-san seperti biasa.


"Senpai?"


"A-ah iya! Sebenarnya aku sudah menentukan dari tadi. Aku ingin makan parfait ini...!"


"Eh, aku juga."


"Kurosaki-san juga? Kalau begitu... kita bagi dua aja? Soalnya parfait-nya mungkin besar."


"Melakukan hal yang seperti pasangan begitu... apa aku boleh juga...?"


Kurosaki-san bertanya dengan wajah sedikit malu, tapi juga tampak senang.


"Y-yah, kita juga bisa pesan donat mochi ubi ini lalu membaginya. Kalau makan macam-macam bareng kan lebih menyenangkan?"


"Hehe. Kalau begitu kita putuskan itu."


Kurosaki-san melihat ke sekitar ruangan dengan senang lalu mulai mencari pegawai.


Yah, meskipun bukan pasangan, pasti ada juga orang yang melakukan hal seperti ini...


Tenang saja, Shintarou. Ini nggak aneh.


Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri. Tapi di kafe ini, satu-satunya cowok hanyalah aku. Dilihat dari sudut mana pun, orang pasti mengira kami pasangan.


"Ah, permisi!"


Akhirnya Kurosaki-san berhasil memanggil pelayan.


Aku memang agak buruk soal begini, jadi sangat terbantu...


Memang hebat Kurosaki-san si gyaru ini.


"Maaf menunggu. Saya akan mencatat pesanannya."


Suara lembut itu…


Entah kenapa terdengar sangat familiar.


"Ehm, kami mau parfait ubi jalar ini dan... donat mochi..."


"............Shin-chan?"


"............Hah?”


Tatapan yang tadinya tertuju pada buku menu, perlahan kuangkat ke atas.


Di detik berikutnya, orang yang berdiri di sana ternyata adalah... Momo-nee.


"Shin-chan... kenapa kamu ada di sini?"


"Hah? Momo-nee malah kenapa ada di tempat begini...?"


Kami sama-sama terkejut dengan keberadaan satu sama lain.


Rasanya seperti waktu berhenti, semuanya terlihat bergerak dalam gerakan lambat.


Kenapa Momo-nee kerja di sini...? Hah? Apa ada sesuatu yang lupa kudengar...? Lagi pula, celemek cokelat tua itu... lucu juga... cocok banget dengannya... eh! Bukan itu masalahnya.


"Ehm... untuk sementara, boleh aku dengar pesanannya dulu?" kata Momo-nee sambil tersenyum kecut padaku.


"I-iya... ehm, parfait ini, lalu donatnya... terus dua jus jeruk..."


"Baik, pesanan diterima. P-permisi."


Momo-nee buru-buru pergi dari tempat itu.


Dan reaksi Kurosaki-san yang melihat kami adalah...


"Itu kakaknya Miu-senpai ya?"


Hah...? Dia sedikit marah...? Keningnya berkerut... bukankah dia memasang ekspresi tidak puas yang belum pernah kulihat sebelumnya...?


"I-iya! Itu kakaknya Miu... kalau tidak salah... sebelumnya juga..."


"Kita pernah ketemu sebelumnya kan?"


Kurosaki-san langsung memotong ucapanku.


Ini jelas-jelas suasananya seperti orang yang sedang marah.


Aduh... gimana ini Shintarou...? Fakta kalau Momo-nee kerja paruh waktu di sini benar-benar baru kudengar!! Lagi pula, apa dia pernah bilang mau kerja paruh waktu...?


Si Miu itu... benar-benar tidak pernah cerita apa pun!!!


Yah, memang Momo-nee juga tidak punya kewajiban melapor soal dirinya satu per satu kepadaku. Memang sih tidak...


"Kakaknya cantik ya. Dan cantiknya juga bukan main."


"Hah!? I-iya sih... ya karena dia orang dewasa."


"Hmm..."


...............Hah!? Jangan-jangan Kurosaki-san juga ngambek seperti Miu!?


"Senpai, bukannya kau bilang suka gyaru sepertiku?"


"A-aku suka kok! Tentu saja! Lihat saja, di rumah saja sampai ada manganya! Aku suka banget!!"


Tepat saat itu minuman datang.


"Ini jus jeruknya."


Gawat. Tamat.


Kenapa timing-nya begini...?


"Untuk parfait dan donatnya mohon tunggu sebentar lagi."


Momo-nee hanya tersenyum dan mengangguk pada Kurosaki-san. Dia sama sekali tidak melihat wajahku.


Selesai sudah.


Sekarang suasana hati Momo-nee juga jadi buruk.


............Kenapa?


"Yah, terserah sih. Haaah, ribet banget."


Kurosaki-san memasang sedotan dan mulai meminum jus jeruknya.


"Senpai gampang dibaca ya~ Tiba-tiba sampai berkeringat gitu. Kelihatan banget paniknya."


"M-maaf... aku benar-benar nggak menyangka bakal ketemu di tempat seperti ini..."


"Lagian, kalian kan nggak pacaran? Kau sama kakaknya."


"T-tentu saja! Kami tidak pacaran dan juga bukan hubungan seperti itu!"


Setelah memastikan Momo-nee tidak ada di sekitar, aku menjawab begitu pada Kurosaki-san.


"Kalau begitu nggak perlu panik segitunya. Bersikap biasa saja."


"Ya sih... memang..."


──Klek.


"Maaf menunggu. Ini parfait ubi dan donat kenyalnya. Pesanannya sudah lengkap, kan?"


Momo-nee melayani dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


"Terima kasih." jawab Kurosaki-san sambil tersenyum.


Aku tahu. Walaupun tak terlihat... pasti ada sesuatu... perang wanita dengan percikan api beterbangan sedang terjadi di sekitar sini!


"Senpai? Nih, aaahn~."


Tiba-tiba dia menyendok ubi manis di atas parfait dan langsung menyuapkannya ke mulutku.


"Ngggh!!"


"Aha. Senpai~? Enak nggak?"


"Aku juga mau makan~"


Dia menyendok es krim vanila lalu memakannya menggunakan sendok yang sama.


"E-eh, masih ada satu sendok lagi di sini... nggh!!"


"Nih Senpai~"


Kurosaki-san tertawa licik.


Melihat sisi baru Kurosaki-san lagi membuatku...


...bukan saatnya memikirkan itu! Orang ini... ternyata sadis tersembunyi!!!!!


"E-ehm, aku sudah bisa makan sendiri kok..."


Aku mengambil es krim dengan sendokku sendiri, lalu—


"Aaah— Nih, nggak mau masukin ke mulutku juga?"


Dia malah membuka mulut dan menunggu. Di sela bibir kecilnya, sedikit lidahnya terlihat.


Eh...? Kurosaki-san... pakai tindik lidah...!?


Penemuan baru lagi.


"Oh, Senpai sadar tindik lidahku? Aha, nih lihat."


Kurosaki-san menempelkan tindik berbentuk bola perak di lidahnya ke gigi depannya, membuat suara ketak-ketak sambil memperlihatkannya padaku.


"Cepetan masukin dong~ Aku nunggu nih."


Rasanya seperti dia sedang menggodaku.


Tidak, ini lebih seperti mempermainkanku!?


"Nnggh... nggak ada pilihan ya... nih, aaah..."


Karena tak bisa kabur, akhirnya aku terpaksa menyuapi Kurosaki-san.


──Tapi itu menjadi kesalahan besar.


Entah kenapa aku merasa ada tatapan, jadi kulirik kursi sebelah kiri...


Dan di sana ada Momo-nee yang sedang menerima pesanan sambil menatap tajam ke arah kami.


Padahal aku... tidak melakukan sesuatu yang salah...


Seharusnya...


──Merindingnya tidak berhenti.


Sementara itu Momo-nee...


Sepertinya sedang bicara dengan kakak tampan tadi.


Saat kupasang telinga...dia ternyata sedang meminta, "Tali celemekku lepas, tolong ikatkan."


A-apa!? Tali celemek begitu kan bisa kau ikat sendiri, Momo-nee!!


Tidak, tidak, bukannya lebih baik taruh dulu piring yang ada di tanganmu itu—!?


Tentu saja suara hatiku tak mungkin sampai.


Momo-nee membelakangi kakak tampan itu dan membiarkannya mengikat tali celemeknya. Sementara aku hanya menatap diam.


Perlahan...perasaan cemburu yang belum pernah kurasakan sebelumnya mulai tumbuh.


Celemek itu... dulu kau juga pernah memintaku mengikatkannya, kan...?


Kesal banget...Momo-nee, jangan bilang kau menunjukkan sisi seperti itu ke siapa saja.


"Hei Senpai. Cepat habisin makanannya lalu pulang yuk?"


Suara Kurosaki-san akhirnya menyadarkanku.


"I-iya... aku malah melamun... maaf."


◆◇◆


Setelah itu── kami membayar lalu keluar dari toko.


Yang mengurus pembayaran adalah Momo-nee, tapi karena aku masih cemburu setelah melihat interaksinya dengan kakak tampan tadi... aku bahkan tak bisa menatap matanya dan malah pergi dengan sikap dingin.


"Senpai, makasih traktirannya. Nggak apa-apa aku ditraktir?"


"Tentu saja. Soalnya banyak kejadian tadi, anggap saja sekalian minta maaf!"


"Aku nggak terlalu mempermasalahkannya kok. Tapi... aku senang. Makasih, Senpai."


"Aku juga senang bisa menghabiskan waktu bersama Kurosaki-san."


"Serius?"


"Kalau begitu ayo kencan lagi nanti."


"Iya! Mungkin festival stroberi berikutnya juga bagus."


"Jam berapa sekarang ya...? Ah, sudah jam tujuh. Aku naik kereta berikutnya, jadi sampai sini saja."


Kami saling mengucapkan sampai jumpa besok di sekolah, dan meski merasa bersalah pada Kurosaki-san... hari itu pun berakhir.


Dalam perjalanan pulang── kejadian tadi terus mengganggu pikiranku.


Fakta bahwa Momo-nee mulai kerja paruh waktu. Bahwa dia terlihat akrab dengan kakak tampan di kafe itu. Dan bahwa dia tampak marah karena melihatku bersama Kurosaki-san.


Aku ingin menanyakan semuanya satu per satu...


Tapi tatapan dan sikap Momo-nee tadi juga membuatku gelisah, dan aku sendiri bingung dengan perasaanku.


Di antara semua hubungan yang pernah kumiliki dengan Momo-nee... mungkin sekarang adalah saat yang paling canggung.


Karena itu, mustahil aku bisa menanyakannya sendiri.


"Haaah..."


Bahkan setelah sampai rumah, kepalaku penuh dengan Momo-nee.


Saat makan, mandi, mengerjakan tugas, bermain game, apa pun yang kulakukan...


Momo-nee, Momo-nee, Momo-nee...!!


"Aaah sial!!"


Karena kesal, aku membanting ponsel ke atas ranjang.


Lalu──telepon masuk.


"Hah... dari Momo-nee... harus gimana aku jawabnya..."


Karena terlalu canggung, aku tak berani mengangkatnya sampai panggilan terputus di dering keempat.


"Wah... aku harus menelepon balik."


Tapi ngomong apa ya...? Dia pasti bakal membahas kejadian di kafe tadi sore...


Ahh... harus jelasin bagaimana…


Padahal aku sama sekali tidak melakukan hal yang mencurigakan…


Tapi Kurosaki-san sudah terang-terangan bilang dia suka padaku, dan Momo-nee pasti menyadarinya juga. Insting perempuan dan semacamnya.


Selain itu...


Aku juga sangat cemburu waktu itu.


Ini pertama kalinya aku melihat Momo-nee berbicara akrab dengan pria lain selain diriku. Dan karena dia tampan, rasa cemburunya jadi lebih parah...


Aku tak bisa melupakan wajah Momo-nee yang tersenyum bahagia bersama pria tampan tadi.


"Aaah!! Harus gimana ini!!"


Aku berteriak sambil membenamkan wajah ke bantal.


Perasaan pertama yang tak tahu harus kubawa ke mana dan bahkan tak bisa kuungkapkan itu membuatku sendiri kebingungan.


Lalu saat itu──


"Shintarou~, Momo-chan datang loh~!"


Terdengar suara ibu dari lantai bawah.


Jangan-jangan...karena aku tidak mengangkat telepon, dia malah datang langsung ke rumah!?


────Ehhh!?


Gimana ini, gimana ini!? Harus memasang wajah seperti apa...? Canggung banget... ah sial, aku benar-benar nggak tahu harus menghadapi dia bagaimana...


──Tok tok.


"Shin-chan? Boleh aku masuk?”


Dari balik pintu terdengar suara Momo-nee.


Kalau sudah sampai di sini, aku sudah tidak bisa lari lagi. Tidak ada alasan apa pun, aku cuma bisa bicara jujur.


Ahh... kenapa aku jadi cemburu sih? Kenapa aku malah bersikap dingin begitu...


"Permisi..."


Dengan wajah canggung, Momo-nee masuk perlahan ke kamar. Bukan aura santainya yang biasa, dia terlihat tidak nyaman berada di sini.


Ya wajar sih. Momo-nee juga pasti canggung.


"E-emm... soal tadi sore..."


"T-tolong duduk dulu..."


Aku mempersilakan Momo-nee duduk di atas tempat tidur terlebih dahulu.


"Maaf soal tadi... Kamu juga pasti tidak tahu kalau aku mulai kerja paruh waktu di kafe..."


"Ah, eh, iya... aku baru tahu sekarang..."


"Ya kan..."


Momo-nee menunduk.


"Aku berpikir untuk mengajak Miu dan yang lain datang setelah aku lebih terbiasa dengan pekerjaannya, jadi aku tidak bilang apa-apa. Itu salahku."


"Bukan, bukan berarti Momo-nee yang salah..."


"Mm..."


Kami berdua terdiam, dan keheningan terus berlanjut.


Karena terlalu canggung, aku bahkan tidak bisa menatap wajah Momo-nee.


Aku cuma terus menunduk menatap lantai.


"Shin-chan, sebenarnya aku..."


"A-aku juga minta maaf! Aku tidak bermaksud bersikap seperti itu...!"


Karena takut mendengar apa yang akan dia katakan, aku memotong perkataan Momo-nee.


'Sebenarnya... aku pacaran dengan kakak itu'. Kalau dia mengatakan itu... aku pasti sudah tamat. Aku mungkin tidak akan sanggup hidup lagi.


Ahh... aku ini benar-benar pria yang payah ya...? 


Karena selama ini terus menghindar dan mengalihkan semuanya, aku bahkan tidak menyadari perasaanku sendiri.


Tidak... mungkin sebenarnya aku cuma tidak mau menyadarinya. Tapi baru menyadarinya karena rasa cemburu...


Sekarang, aku sudah bisa jujur pada diriku sendiri.


Aku────menyukai Momo-nee.


"Shin-chan?"


"Eh? Ah iya! Silahkan lanjut..."


"Sebenarnya... waktu itu saat melihat Shin-chan masuk ke toko bersama gadis gyaru itu... aku jadi tidak bisa tenang... aku berusaha supaya tidak menunjukkannya, tapi aku jadi cemburu... lalu... aku bersikap dingin padamu, dan karena ingin menarik perhatianmu... aku meminta kakak itu mengikatkan celemekku..."


"Kamu lihat kan?" katanya dengan ekspresi seolah semuanya sudah dia ketahui.


"Iya... aku melihatnya. Dan juga... karena Momo-nee terlihat sangat akrab dengan kakak itu... aku jadi membayangkan sendiri kalau kalian pacaran... lalu aku juga jadi tidak bisa menghentikan rasa cemburuku... makanya saat membayar tadi aku bersikap seperti itu. Aku benar-benar minta maaf."


Momo-nee tertawa pelan, lalu mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan lembut.


"Shin-chan benar-benar lucu ya. Aku sangat suka bagian dirimu yang seperti itu."


Momo-nee tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.


"Selain itu... kami juga tidak pacaran, dan kakak itu gay."


"Eeeeh...!?"


"Hehe, waktu kalian masuk ke toko, kakak itu dengan senang melapor padaku, 'Jarang-jarang ada anak manis datang ke toko.' Jadi aku penasaran dan mengintip... ternyata itu Shin-chan. Aku bilang, anak itu tidak boleh ya, dia teman masa kecilku, lalu akhirnya aku yang mengambil pesanan kalian."


Informasinya terlalu banyak sampai kepalaku tidak bisa mengejarnya... tapi mengetahui bahwa kakak itu bukan pacarnya, bahkan bukan calon pacarnya, membuatku menghela napas lega.


"Aku... benar-benar jadi gila karena cemburu ya..."


"Hehe, maaf ya? Waktu pulang tadi Shin-chan dinginnya parah sekali... jadi aku berpikir mungkin kamu cemburu karena aku."


Sambil berkata begitu, Momo-nee menempelkan tanganku ke dadanya.


"Shin-chan sudah tahu kan, siapa orang yang aku sukai?" bisiknya lembut.


Aku bisa merasakan detak jantung Momo-nee di telapak tanganku.


Detaknya perlahan menjadi semakin cepat. Aku juga merasakan telapak tanganku mulai berkeringat.


"Eh... aku?"


Ah, aku malah bertanya dengan cara yang terdengar menjijikkan.


Yah, dengan situasi seperti ini rasanya tidak mungkin dia menyukai orang lain selain aku...


Apa aku terlalu percaya diri...?


"Kalau Shin-chan? Kamu suka siapa?"


Dia malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku tadi.


Haruskah aku jujur...? Sudahlah...


"Aku... mungkin sejak dulu... aku pada Momo-nee..."


Tangan yang tadi menggenggam tanganku kini menyentuh pipiku, dan Momo-nee kembali bertanya.


Tangan Momo-nee seharusnya hangat, tapi wajahku yang memerah karena malu ternyata jauh lebih panas, jadi tangannya terasa sedikit dingin dan nyaman.


"Shin-chan, kamu suka padaku?"


Momo-nee menatap lurus ke mataku saat berbicara.


"Aku... sudah lama... menyukai Momo-nee."


Akhirnya aku bisa mengatakannya.


Di usia seperti ini... akhirnya.


"Momo-nee... bagaimana perasaanmu?"


Karena aku masih belum mendengar jawabannya, aku mendesaknya.


Sudahlah, kali ini aku ingin semuanya jelas. Kalau selama ini semua cuma perpanjangan dari permainan pura-pura kami yang biasa, aku juga akan menyerah.


Hubungan kami sejak kecil ini... hari ini aku akan mengakhirinya.


Ini akhirnya. Hubungan yang tidak jelas ini, dan hubungan kami ke depannya juga. Jarak yang terlalu dekat dan setengah-setengah di usia seperti ini... semuanya.


"Aku juga sangat menyukaimu, Shin-chan. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi saat menyadarinya... aku sudah serius padamu. Tapi aku takut kalau hubungan ini berkembang lebih jauh."


"A-aku juga takut...!! Bukan cuma Momo-nee..."


"Aku tahu. Makanya aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Lagi pula, Shin-chan sedang memasuki masa penting."


"Masa penting?"


"Soal melanjutkan pendidikan. Tahun ketiga SMA itu masa yang paling penting, kan? Di saat seperti itu... tidak ada waktu untuk sibuk dengan urusan cinta..."


Memang benar sih, tapi rasanya itu hal yang berbeda...


"Aku tidak ingin mengganggu masa depan Shin-chan. Kuliah, lalu kehidupan barumu... aku ingin semuanya berjalan lancar."


"Tentu aku mengerti. Hal seperti itu tidak perlu Momo-nee khawatirkan."


Meski begitu... wajahnya masih terlihat cemas.


Ya wajar sih. Sebagai yang lebih tua, Momo-nee mungkin merasa punya tanggung jawab... dia juga akrab dengan ibuku, jadi mungkin dia memikirkan semuanya sendirian karena merasa tidak bisa bertindak sembarangan.


"Kalau begitu... bagaimana dengan kita? Kita saling menyukai, tapi apakah hubungan ini tidak akan berkembang lebih jauh?"


Aku ingin memiliki hubungan dengan Momo-nee lebih dari sekadar teman masa kecil.


Aku sudah lama menunggu ini. Aku bahkan ingin langsung berpacaran sekarang juga.


Tapi──dengan sifatku... mungkin kepalaku akan dipenuhi Momo-nee sampai aku mengabaikan hal lain. Mungkin Momo-nee juga sudah memahami itu semua...


"Aku juga ingin punya hubungan sebagai kekasih dengan Shin-chan."


"Kalau begitu bagaimana caranya...?"


Aku yang tidak tahu harus bagaimana hanya bisa menunggu jawabannya.


"Kalau begini bagaimana?"


"........?"


"Kalau Shin-chan berhasil masuk universitas dengan selamat, lalu kehidupan barumu juga sudah stabil──dan kalau saat itu Shin-chan masih menyukaiku... saat itu kita jadi sepasang kekasih. Bagaimana?"


"........Eh... itu masih lama sekali... aku..."


"Aku akan terus hanya menyukai Shin-chan. Aku tidak akan berpaling pada siapa pun. ──Aku janji.”


Dari genggaman tangannya yang erat, aku bisa merasakan keseriusannya.


Dan juga... memang sudah tidak ada pilihan lain selain ini.


Kalau melihat wajah Momo-nee, aku langsung tahu. Itu ekspresi yang dia buat saat membicarakan sesuatu dengan serius.


Aku tidak punya pilihan selain menerima usulan ini.


"──Aku mengerti."


"Terima kasih sudah mengerti."


Karena memang tidak ada jalan lain, jadi kita hanya bisa seperti ini, ya, Momo-nee.


"Kalau begitu──ayo lakukan ciuman janji."


"……Eeh!? Kita bahkan belum pacaran loh!? Kenapa harus ciuman lagi!?"


Karena usulan mendadak itu, aku sampai mengeluarkan suara bodoh.


"Soalnya ini sudah seperti bertunangan kan? Memang belum pacaran sekarang, tapi tadi kita sudah berjanji kalau suatu hari nanti kita akan jadi sepasang kekasih."


Dengan logika anehnya, Momo-nee kembali menunjukkan gaya khasnya.


"Dengar ya... aku ini beda dengan perempuan, aku laki-laki... kalau sampai ciuman lagi, nanti Momo-nee tidak akan tahu apa yang bakal terja──"


Nn────


Nnnn…………chu.


"Puhaa! Momo-nee...!? Mendadak banget...!!"


"Hehe, aku bikin kaget ya♡"


Ciuman kali ini terasa lebih nyata dibanding sebelumnya.


Bibir kami saling bertemu, lembut, manis──


Aku bisa merasakan sisa lipstik Momo-nee yang tipis tertinggal di bibirku.


"Entah kenapa lipstik ini... manis ya..."


"Yup, karena aku memang pakai yang rasanya manis." kata Momo-nee dengan malu-malu.


──Jangan-jangan... dia memang sudah mengantisipasi bakal berciuman!?


Orang ini memang………………terlalu licik...!!


Dan juga…………terlalu imut...


Ahh, kenapa aku malah membuat janji seperti itu sih.


Kalau nanti aku masuk kuliah dan semester baru dimulai... lalu akhirnya bisa pacaran dengan Momo-nee!?


O-ohh…………imajinasiku mulai liar...


Eh tunggu. Belum tentu juga kami benar-benar akan pacaran. Bisa saja dia malah jijik lalu membatalkan "pertunangan" ini...


Artinya aku tidak boleh lengah sampai hari itu tiba...


"Nee, Shin-chan, mau ciuman sekali lagi?"


"……Hah?"


"Sebentar lagi jam ○ kan? Cinderella harus pulang sebelum jam ○. Tapi selama beberapa saat... beberapa jam singkat bersama sang pangeran... dia bisa menjadi seorang putri. Dan ciuman berikutnya mungkin baru bisa kita lakukan paling cepat setahun lagi loh...? Tidak apa-apa buat Shin-chan?"


…………Ini permainan Cinderella lagi?


"Ehmm──... Momo-nee sedang mempermainkanku?"


Momo-nee duduk di pangkuanku yang sedang bersila, lalu memelukku erat.


"A-anu! Itu bahaya menurutku...!"


"Aku bakal ditahan lama loh...? Jadi setidaknya biarkan sedikit lagi..."


"Nnnhhh, chuu──!!!!!!"


"Mm...♡"


"Puha!!!"


"Hehe, wajah Shin-chan merah banget♡ Lucu."


"Ya jelas merah kalau mulutku ditutup selama itu!"


"Ehehe, aku jadi tidak bisa menahan diri♡♡"


"Aku juga─────"


"Aku juga...?"


Dengan wajah polos, Momo-nee menatapku.


Sial, terlalu imut. Aku sudah tidak tahan lagi.


"Aku juga sudah tidak bisa menahan diri lagiiii!!!"


Dengan momentum itu, aku langsung merebahkan Momo-nee ke atas tempat tidur.


Kaos oversized terbuka di bahu, dan celana pendek denim. Tali bra-nya terlihat samar dari bahunya yang terbuka tanpa pertahanan.


Dan juga... kalau diperhatikan baik-baik, dia tanpa makeup...? Dia habis mandi ya...!?


"Momo-nee!! Aku mencintaimuuu!!"


"Kyaa, tunggu Shin-chan! Lepaskan aku………… ah, tidak boleh~~~!!!"


────DOR DOR DOR!!!


Detik berikutnya, karena aku terlalu lengket dan terus mencari perhatian, Momo-nee mendorongku balik dengan kuat hingga aku terjun kepala lebih dulu ke rak manga di samping tempat tidur.


"Aduh..."


"Heeei~!! Ada apa itu~~!?!"


Terdengar teriakan ibu dari lantai bawah.


"T-tidak apa-apa kok Bu!! Aman aman!!!"


"Shin-chan maaf... kamu tidak terluka?"


"Aku tidak apa-apa... Uuh..."


Aku sampai tidak bisa menahan tawa melihat betapa bodohnya diriku sendiri.


Melihatku begitu, Momo-nee juga ikut tertawa kecil.


Haaah... sampai kapan ya aku akan terus hidup sambil melakukan hal-hal seperti ini.


Tapi karena sekarang aku bahagia, mungkin itu tidak penting.


Kalau aku bisa terus tertawa bersama Momo-nee seperti ini dan akur dengannya, yang lain tidak masalah.


"...Shin-chan, aku sayang padamu♡"


"Aku tidak akan ciuman lagi."


"Hehe, satu kali lagi... tidak boleh?♡"


"Tidak boleh."


"Tolong~..."


"Mau memintanya seimut apa pun tetap tidak boleh."


"Cih... jahat…”



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close