NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 7

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 7

Tentang Festival Olahraga, dan Pertarungan Antar Perempuan yang Diam-Diam Sedang Berlangsung di Baliknya

──Akhir pekan.


Acara besar yang hanya diadakan setahun sekali──festival olahraga musim gugur.


Di bawah langit biru yang cerah tanpa awan, di lapangan berkibar berbagai bendera kelas berwarna-warni yang dibagi berdasarkan blok masing-masing.


Bagi diriku yang sudah kelas tiga, ini adalah festival olahraga terakhir.


Tentu saja, semangatku sedang membara.


Ya──tidak diragukan lagi, pemeran utama hari ini adalah aku. ...Mungkin.


Bukan ketua OSIS, juga bukan ketua panitia olahraga, tapi entah bagaimana aku yang bukan siapa-siapa ini mendapat tugas memberikan pidato pembukaan.


"Ada yang mau melakukannya?"


Saat sensei olahraga, Iida-sensei, mengucapkan kalimat itu, tanpa ragu aku langsung mengangkat tangan paling cepat.


"Kau... yakin bisa melakukannya?"


Karena biasanya aku tidak pernah menonjol dan keberadaanku juga tipis, mungkin sensei merasa khawatir. Aku langsung membungkuk dan memohon agar diberi kesempatan, lalu berhasil mendapatkan posisi itu.


Selama masa SMA ini, tidak ada satu pun hal yang bisa kubanggakan.


Kalau melihat sekeliling, semuanya setiap hari sibuk dengan kegiatan klub, menorehkan prestasi di berbagai kompetisi, nilai akademis mereka juga bagus, orang-orang yang sedang menapaki jalur elite menuju masa depan cerah.


Sedangkan aku────anak rumahan penyuka game yang suram.


Kupikir setidaknya... tidak masalah kalau aku punya satu kenangan yang bisa kuceritakan dengan bangga, dan begitulah aku sampai di titik ini...


Tapi mungkin...


Aku terlalu gegabah.


Tepat sebelum naik ke atas panggung di depan seluruh siswa, baru saat itulah aku menyadari kakiku gemetar.


"A-a... e-eh... se-selamat pa-gi semu-anya..."


Dan... suaraku juga pecah dengan sangat memalukan.


Di tengah lapangan yang mendadak sunyi, dari suatu tempat mulai terdengar suara tawa kecil menyebar, dan aku merasakan wajahku semakin lama semakin panas.


"Hari ini adalah festival olahraga terakhir bagi para siswa kelas tiga. Tentu menang atau kalah itu penting. Tapi, aku berharap kita semua bisa bekerja sama dan menjadikan hari ini sebagai hari yang tak terlupakan bagi semuanya. Mari berlari sekuat tenaga, bersorak sekuat tenaga, tertawa bersama, dan menciptakan kenangan indah!"


Gawat... entah bagaimana aku berhasil melewatinya...


"Dengan ini, festival olahraga musim gugur resmi dibuka!"


Aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mengucapkan kalimat terakhir dan menyelesaikan pidato perwakilan siswa.


Tepuk tangan langsung bergema.


...Apa ternyata lebih baik dari yang kukira...? Sambil diam-diam melakukan pose kemenangan dalam hati, kakiku gemetar hebat saat turun dari panggung.


"Shintarou~! Keren juga ternyata!"


Begitu kembali ke tempat duduk, orang pertama yang menyapaku adalah Miu.


"Haha, iya dong? Hal beginian sih gampang..."


Aku menjawab dengan wajah tenang sambil menyilangkan kaki, tapi Miu langsung berkata,


"Tapi suaramu lumayan gemetar sih."


Dia langsung menusuk titik lemahnya.


"Senpaai, kerja bagusss."


Entah dari mana, Kurosaki-san muncul.


"Ah, selamat pagi Kurosaki-san."


Seperti biasa, penampilannya mencolok.


Tapi hari ini dia terlihat lebih niat lagi. Rambut sampingnya diikat model side-tail dengan pita dari selempang biru yang dibentuk dengan rapi. Ditambah kaus kaki longgar seperti biasanya, dan cara memakai baju olahraga yang memperlihatkan pusarnya, benar-benar gaya khusus festival olahraga...


Karena pitanya biru, berarti dia satu blok biru dengan kami.


"Senpai, semangat buat lomba estafetnya ya. Aku bakal dukung banget."


Kurosaki-san membuat simbol hati dengan tangannya dan menunjukkannya padaku.


Imut...Gerakannya seperti idol.


"...Grrrrrr~~~"


"A-apa sih, Miu...? Jangan tiba-tiba bikin suara aneh begitu..."


Sambil melambaikan tangan, Kurosaki-san pergi meninggalkan kami.


Begitu memastikan dia sudah pergi, Miu berkata,


"Dia benar-benar tipe cewek yang bikin kesal kalau ada di sekitar pacar."


Dia masih saja mengatakan hal seperti itu.


"Kau mulai lagi... lagian aku bukan pacarmu."


Perasaan aneh Miu terhadap Kurosaki-san yang sudah ada sejak pertemuan pertama mereka sepertinya masih belum hilang. Padahal waktu karaoke mereka kelihatan akrab...


"Aku juga nggak menganggapmu pacar. Cuma firasat cewekku lagi bekerja."


Setelah mengatakan itu, Miu kembali mendengus kesal.


...Yah, firasatnya juga tidak sepenuhnya salah sih.


◆◇◆


Setelah upacara pembukaan selesai, seluruh siswa melakukan pemanasan bersama.


Kalau soal giliranku, aku ikut lomba estafet antar kelas siswa kelas tiga dan lomba lari kaki tiga bersama Miu.


Saat perlombaan tiap angkatan berlangsung satu demi satu...


"Berikutnya adalah estafet antar blok kelas dua. Para peserta harap berkumpul..."


Pengumuman terdengar dari lapangan.


"Oh? Bukannya itu Kurosaki-san!? Dia ikut estafet rupanya."


Di seberang lintasan terlihat sosok Kurosaki-san.


"Bener juga. Ternyata gyaru bisa olahraga ya~"


"Itu stereotip banget, oi."


Katanya dalam estafet antar blok ini, peserta dipilih dari siswa tercepat di tiap kelas, dengan peserta campuran laki-laki dan perempuan.


Kurosaki-san ada di antara mereka...


Entah kenapa aku jadi merasa bangga...


Dan ternyata Kurosaki-san adalah pelari terakhir.


"Oi, Miyata. Gyaru yang lagi nyalon jadi pacarmu itu katanya mau lari sekarang."


Morishita datang menggodaku saat melihat ada kesempatan.


"Kayaknya iya. Tapi aku nggak tahu soal dia nyalon jadi pacarku..."


"Bisa berhenti ngomong aneh nggak sih, Morishita-kun?"


Seperti dugaan, Miu yang ada di sebelah langsung cemberut.


"Maaf, maaf Miu-chan...! Tapi Miu-chan kan masih punya aku!"


"...Hah?"


Apa dia bodoh?


Di tengah percakapan konyol itu, para pelari estafet mulai berdiri di garis start.


"Oi! Mau mulai!"


"Fuu~!"


"Siap..."


──PAN!!!


Begitu pistol start berbunyi, pelari pertama dari blok biru langsung melesat dan memperlebar jarak.


Pelari pertama berlari dengan lancar dan menyerahkan tongkat ke pelari kedua. Meski kecepatannya sedikit menurun, posisi kedua tetap dipertahankan lalu diteruskan ke pelari ketiga.


Di tengah perebutan posisi kedua yang sengit, akhirnya tongkat terakhir jatuh ke tangan Kurosaki-san.


Sedangkan Kurosaki-san sendiri terlihat penuh percaya diri.


Seolah berkata serahkan padaku, dia mulai berlari dengan langkah kuat. Awalnya memang tertinggal, tapi dengan kecepatan yang sulit dipercaya dia perlahan menyalip pelari di depannya.


Kakinya yang panjang begitu menonjol, dan postur larinya juga sangat bagus.


Sebagai sesama blok biru, tanpa sadar suaraku ikut meninggi saat menyemangatinya.


"Ayooo! Kurosaki-saaaan!!"


Dia menyalip orang terakhir dan akhirnya kembali ke posisi pertama.


"Woooo! Eh... payudaranya goyang kebangetan!!"


"Hah!? Morishita-kun lihat ke mana sih!? Menjijikkan banget!"


"Kurosaki-san kelihatan seperti orang yang terbiasa lari ya? Apa dia dulunya anak klub atletik...?"


Saat kami tanpa sadar mengucapkan isi hati kami, Miu malah berkata,


"Nggak tahu. Nggak tertarik."


Sambil memalingkan wajah.


"Ayo sedikit lagi! Semangaaat!!!"


Tanpa mengurangi kecepatan, Kurosaki-san mempertahankan posisi pertama dan menerobos garis finis.


Karena larinya terlalu luar biasa, tepuk tangan dan sorakan meriah langsung memenuhi lapangan.


"Bagusss!!! Memang gyaru pertanian luar biasa!!"


Sepertinya dia memang percaya diri dengan stamina tubuhnya, karena bahkan setelah selesai berlari pun wajahnya masih santai.


"Gyaru pertanian apaan...? Memangnya kau lagi ngomongin apa?"


Berbeda denganku yang sendirian bersemangat, Miu justru terlihat sangat dingin.


Tidak diragukan lagi, penyebab suasana hatinya memburuk sampai begini adalah Morishita.


"Tenang. Kau nggak perlu tahu apa-apa."


"Hah...? Menyebalkan."


"Ayolah, akur dong~ Apa kau lapar? Katanya bayi kalau lapar memang jadi rewel kan~...? Sebentar lagi makan siang, jadi perbaiki suasana hatimu ya, Miu-chan."


"Morishita-kun... mau kembali menjadi tanah?"


"Hiiii!!!"


Kenapa sih Morishita selalu saja mengatakan hal yang nggak perlu... nanti yang harus menenangkan suasana hatinya kan aku juga...!!


"Kalau begitu, sekarang giliran kami."


"Eh? Kau ikut selain lari kaki tiga?"


"Iya, Sana mengajakku. Sebenarnya aku jadi ikut cheer dance juga~"


"Heh... baru dengar."


"Baju yang kusiapkan khusus untuk hari ini lucu banget, jadi lihat baik-baik ya.”


Sambil melirik Morishita yang gemetar dengan wajah pucat, Miu pergi bersama Tachibana-san untuk bersiap.


Sepertinya perlombaan terakhir di sesi pagi adalah cheer dance oleh siswi kelas tiga.


"Eh...? Sejak kapan Miu dan yang lain latihan beginian ya...? Hei, Morishita...?"


Morishita masih tampak meringkuk sambil gemetar.


"Kau parah banget... memang seseram apa sih tadi..."


"Selanjutnya──cheer dance oleh siswi kelas tiga──"


"Yang ditunggu datang!!!"


"Acara utama hari ini!! Akhirnyaaa!!"


Sorakan penuh semangat dari para cowok menggema di seluruh area.


Diiringi musik ceria, para siswi kelas tiga mulai memasuki lapangan satu per satu dan bersiap di posisi masing-masing.


"Oh, Miu ada di mana ya...?"


Aku menggerakkan pandangan dan mencari dari ujung ke ujung. Karena semua memakai kostum yang sama, aku harus mencari ciri khasnya...


Dia selalu memakai ikat rambut putih yang lembut, dengan gaya rambut twintail...


"Ah! Ketemu!! Di sana!!"


Morishita yang tadi gemetar justru jadi orang pertama yang menemukan Miu.


"Oh, benar."


"Gawat... imut banget sampai rasanya mau mati."


"Roknya pendek banget!"


"Ini hadiah terakhir dari masa sekolah kita ya..."


Termasuk Morishita, antusiasme para cowok mencapai puncaknya. Rasanya sebentar lagi ada yang meninggal karena terlalu heboh.


Dan memang pantas saja...


Mereka memakai kostum cheer lucu tanpa lengan dengan warna dasar pink dan putih, dipadukan dengan kaus kaki longgar seperti loose socks, lalu rok yang pendeknya sampai terasa seperti mustahil menghindari celana dalam terlihat. Bahkan pusar mereka juga kelihatan.


Kalau aku sih...


Aku benar-benar penasaran kenapa rok mereka harus sependek itu.


Yah, namanya juga kostum cheer, mungkin mereka memakai sesuatu di dalam yang memang aman terlihat.


Di tengah lapangan, Miu dan yang lainnya menari mengikuti irama musik sambil mengayunkan pom-pom berkilauan di kedua tangan mereka.


Twintail panjang Miu ikut menari tertiup angin, membuat orang-orang sulit mengalihkan pandangan.


Aku sama sekali tidak menyangka Miu yang payah dalam olahraga bisa menari sebagus itu...


Memang masih terasa sedikit kaku, tapi hasil latihannya benar-benar terlihat.


"Imut banget sih... Kau punya teman masa kecil kayak begitu tapi gimana bisa hubungan kalian nggak berkembang jadi cinta sih...?"


Morishita memiringkan kepala dengan wajah bingung.


"Yah... memang sih dia mungkin imut... tapi teman masa kecil itu biasanya memang begitu kan...?"


"Karena sudah terlalu sering lihat sisi baik dan buruknya dari kecil sampai nggak terasa sebagai pasangan gitu ya...?"


"Hmm... mungkin..."


"Sayang banget!! Kalau aku sih langsung kutembak!"


"Itu karena kau bukan teman masa kecilnya."


"Begitu ya... Entah kenapa rasanya hidupmu juga berat ya... cewek di sekitarmu banyak banget."


Dia pasti bukan cuma bicara soal Miu, tapi juga Momo-nee...


Belakangan Kurosaki-san juga ikut masuk, dan semuanya jadi makin aneh.


"Kalau jujur gimana? Miu-chan, kakakmu, atau Kurosaki-san. Kalau harus pilih, siapa yang kau pilih?"


Kenapa tiba-tiba aku dipaksa memilih pertanyaan paling ekstrem begini...


Enak saja dia ngomong seolah bukan urusannya...


"Pertama-tama, aneh kalau aku ada di posisi yang harus memilih."


"Hah!? Kau masih bilang begitu!? Jelas-jelas semuanya suka sama kau, kan...?"


"Masalahnya itu rumit... Cowok yang pengalaman cintanya nol kayak aku nggak ngerti soal tarik-ulur hubungan. Lagian aku juga nggak tahu mereka bercanda... atau serius..."


Morishita menyilangkan tangan dan menatapku dengan ekspresi rumit.


"Itu sih aku juga nggak tahu... Soalnya kita... sama-sama perjaka..."


Setelah mengatakan itu, dia merangkul pundakku.


"Tapi kalau aku sampai benar-benar serius? Kalau... ternyata cuma dipermainkan gimana...? Kalau kau jadi aku, apa yang bakal kau lakukan?"


"Aku!? Kalau aku dipermainkan!? Ya itu sih..."


"...Aku nggak bakal bisa bangkit lagi... mungkin aku bakal hidup sebagai perjaka seumur hidup..."


"Oi oi, jangan bikin muka sesuram itu."


Melihat Morishita yang depresi seolah-olah benar pernah dipermainkan cewek, aku makin yakin akan satu hal.


Aku benar-benar nggak mengerti hati perempuan.


Apalagi kakak-beradik itu.


Kurosaki-san juga memang anak baik sih...


Tapi dia juga kelihatan seperti orang yang sudah terbiasa bermain-main. 


Kalau ternyata semua perkataannya cuma bagian dari permainan, dan aku malah menerimanya dengan serius...


Aku mungkin akan terluka sampai tidak bisa bangkit lagi!!


Uuh... lebih baik jangan dipikirkan.


"Morishita, kau masih punya aku. Kita sahabat terbaik."


"...Iya, cuma kau yang kupunya... bahkan sekarang aku mulai mikir kalau akhirnya sama kau juga nggak apa-apa..."


"Nggak, nggak mungkin."


Hubungan sesama cowok? Jangan bercanda.


Apalagi kalau sama Morishita.


"Aku kembali~ Haa... Gimana? Kalian lihat kan tadi~?"


Di tengah obrolan bodoh kami, rupanya giliran Miu sudah selesai. Dia kembali ke tempat penonton sambil terengah-engah.


"Aku lihat kok. Ternyata diam-diam kau latihan cheer dance ya? Hebat juga."


"Hehe! Aku sengaja merahasiakannya karena mau bikin kaget♩"


"Imut banget tadi, Miu-chan!"


"Hehe... makasih."


"Cuma rokmu kependekan sih."


"Eeeh~? Cemburu lagi nih~?"


Sambil berkata begitu, Miu menggoyangkan pinggulnya dan mengibaskan roknya.


"Pelayanan spesial khusus buatku ya..."


"Hah? Morishita-kun serius hari ini aneh banget ya."


"Dia memang selalu begini kok..."


"Bener juga. Eh, udah jam makan siang ternyata. Aku ganti baju dulu ya~ sampai nanti!"


◆◇◆


──Waktu istirahat siang.


Kami sedang membuka bekal makan siang di kelas.


"Ngomong-ngomong, Kurosaki-san juga imut banget tadi ya~ Kau lihat baik-baik nggak?"


Morishita memasukkan bakso ke mulut sambil kembali mengangkat topik Kurosaki-san, seolah pemandangan tadi benar-benar menempel di kepalanya.


"Hei, kau ngomongin cewek terus deh. Nggak ada topik lain apa!? Masa tiap ngobrol sama aku isinya begitu semua?"


"Kalau bukan ngomongin cewek imut, terus mau ngomong apa? Aku malah penasaran."


Dia memasang wajah seolah berkata, memangnya kau ngomong apa sih?


"Lagian, cewek-cewek di sekitarmu itu dadanya besar semua ya. Kakaknya Miu-chan aja luar biasa, terus Kurosaki-san juga... itu ukuran cup berapa sih!? Aku heran dia bisa lari dengan itu..."


Jadi yang kau perhatikan cuma itu...


"Kalau dipikir-pikir memang semuanya besar sih... Ah, tapi Miu nggak begitu kan?"


"Hmm, iya juga! Miu-chan lumayan... sederhana!"


"...Aku dengar ya, kalian."


"Kalian cowok memang mesum ya, ngomonginnya begitu terus. Makanya aku suka cewek!"


"Bener-bener nggak bisa dimaafkan!" Tachibana-san juga ikut marah.


"Sebagai hukuman, sini kasih karaage itu."


Miu langsung mencuri karaage dari kotak bekalku.


"Enakkk~♡ Karaage buatan tante memang dari dulu enak ya~♡ Haa, suasana hatiku jadi baik lagi."


Kalau suasana hatimu bisa membaik cuma dengan itu, kuberi karaage sebanyak apa pun juga tidak masalah...


"Nih, punyaku juga boleh dimakan. Ini isobe-age buatan Onee-chan."


Dia memindahkan isobe-age ke kotak bekalku. Tanpa sengaja aku jadi bisa makan bekal buatan Momo-nee...


Lumayan beruntung.


"Momo-nee ternyata bisa bikin isobe-age juga ya... nyam nyam... enak. Sesuai dugaan Momo-nee."


"Nggak ada makanan yang nggak bisa dibuat Onee-chan."


"Kau benar-benar sayang banget sama Momo-nee ya."


"Karena dia dari dulu selalu mengurusku. Dia kakak yang lembut, seperti mama."


Karena ini festival olahraga Miu, pasti sejak pagi dia sudah semangat menyiapkan bekal...


Mungkin dia juga bilang, 'Aduh kebanyakan bikinnya~', dan sekarang pasti kulkas rumah penuh dengan sisa makanan bekal yang disimpan sebagai lauk cadangan...


Aku bisa membayangkannya dengan sangat mudah.


"Eh!? Udah jam segini...! Shintarou, giliran kita berikutnya! Lari kaki tiga kita!"


Miu tiba-tiba menunjukkan jadwal acara seolah baru ingat.


"Kita harus siap-siap!"


Mungkin dia terpengaruh oleh lari Kurosaki-san, karena setelah merapikan bekalnya dia langsung mulai melakukan peregangan di tempat.


"Satu dua, satu duaa~!"


Setidaknya semangatnya sih penuh.


"Setidaknya lakukan di luar kelas... lagian kalau habis makan langsung gerak nanti perutmu sakit."


"Soalnya... aku gugup. Semoga nanti berjalan lancar..."


"Tenang saja. Kita sudah sering berhasil waktu latihan, jadi saat acara asli juga pasti lancar."


Kalau sudah pesimis sebelum mulai, bagaimana mau berhasil...


"Berikutnya giliran Miu-chan dan yang lain, kan?"


Tachibana-san bertanya dengan ekspresi agak bersemangat.


"Iya~! Kami bakal berusaha keras, jadi lihat ya Sana~♩"


"Suntikan tenaga♩"


Sambil berkata begitu, mereka berdua berpelukan dengan riang.


Karena mereka menaruh harapan padaku, sepertinya aku juga harus berusaha sebaik mungkin…


◆◇◆


"Selanjutnya adalah lomba lari kaki tiga untuk siswa kelas tiga. Para peserta harap berkumpul di tenda──"


Pengumuman bergema di seluruh lapangan sekolah.


Waktunya telah tiba.


"Yo! Tunjukkan kekuatan teman masa kecil itu ya~!"


"Kalau jadi juara satu, langsung jadian aja~"


"Nggak boleh dong! Miu-chan kan mau jadian sama aku~"


"Nggak mungkin kalau sama kau."


"...Haa..."


Sambil mendengar omongan sesuka hati dari sekitar, kami berjalan menuju lapangan.


"Mungkin... Shintarou juga gugup?"


"Nggak sama sekali. Aku malah niat banget jadi juara satu."


"Eh? A-ah, begitu..."


"Serahkan saja padaku! Nih, senyum senyum."


Chut. Aku mencubit kedua pipi Miu dan memaksanya tersenyum.


"Ih..akit... Hmphh..."


Di garis start lari kaki tiga, pasangan-pasangan lain sudah menunggu. Kami menerima pita dari panitia, lalu berdiri berdampingan.


"Ikatnya yang pelan ya."


Kaki kanan Miu yang dia ulurkan dan kaki kiriku kuikat erat dengan selempang biru.


"Nah, gimana? Sakit nggak?"


"Iya! Kayaknya aman! ...Dengan ini aku dan kamu jadi satu hati dan satu tubuh... teman masa kecil yang tidak terpisahkan."


Semangatku jadi naik...


Miu mengepalkan tangan dengan penuh semangat.


"...Entahlah maksudmu apa, tapi ya begitulah...?"


Kami berdiri di garis start.


"Bisa kan?"


"I-iya, sempurna kok. ...Mungkin."


"Mungkin...!?"


"Sempurna kok...!!"


"Haa... Aku jadi agak khawatir deh. Jangan sampai jatuh ya, Miu."


"Hmph, kau juga!"


Kami menginjak pasir dengan mantap sambil menyelaraskan napas.


"Siap──bersedia!"


"Ayo Miu!!!"


"Iya!!!"


──PAN!!!


"Satu, dua! Satu! Dua! Ayo!"


Di awal pelan-pelan saja, yang penting stabil... kalau tetap tenang seperti waktu latihan tidak akan masalah...!


Bagus, ritmenya lumayan! Ini tidak buruk!


Langkah kami selaras dengan baik...!


"Satu! Dua! Satu! Dua!"


Agar makin sinkron dengan Miu, aku melingkarkan tangan ke pinggangnya dan menariknya lebih dekat.


"Kyaa! Tunggu! Pinggangku geli!"


"Woa! Jangan bergerak aneh begitu...! Nanti keseimbangan kita hilang...!"


"Tunggu!! Jangan pegang situ katanya! Nggak mau! Geli banget!"


"S-sedikit tahan saja!"


Aku merasakan berat badan Miu makin condong ke arahku.


Entah kenapa firasat buruk mulai muncul──


Lalu saat itu.


"...A-aneh..."


Aku merasakan kaki Miu yang terikat denganku bergerak masuk ke dalam.


"Tunggu, ah, gawat!"


──Krek.


Suara yang tidak enak. Perasaan yang tidak enak juga...


Rasanya pandanganku mendadak jadi gerak lambat.


Ah...


Ini bakal jatuh.


Bruk──!!!


Kami berdua jatuh bertumpuk di tempat. Debu beterbangan, dan pasir masuk ke dalam mulutku dengan bunyi kres.


Miu menumpukan tangannya ke tanah dan tetap menunduk tanpa bergerak.


"Oi! Miu, kau nggak apa-apa!?"


Aku langsung memeriksa wajahnya.


"Sakit... hiuu... sakittt... hiks..."


Miu menggertakkan gigi sambil menahan rasa sakit.


Lututnya lecet cukup parah dan mulai mengeluarkan sedikit darah.


"Sini, biar kulihat."


"Hngh... tanganku juga sakittt... maaf... Shintarouuu... hiks"


Telapak tangannya yang penuh pasir juga mengeluarkan darah, dan pergelangan kakinya sudah memerah dan membengkak.


"Kau jatuh gimana sih...? Ini jelas nggak baik..."


"Maaf, Shintarou... kita jadi nggak bisa juara satu... hiks"


Meskipun matanya dipenuhi air mata besar dan dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis, jelas sekarang bukan saatnya memikirkan itu.


"Ranking nggak penting... lukamu lebih serius..."


Dalam keadaan begini jelas dia nggak bisa apa-apa. Aku mulai pusing memikirkan cara membawanya ke UKS.


"Bisa berdiri...?"


Miu menggenggam tanganku dan mencoba berdiri, tapi mungkin pergelangan kakinya terkilir sehingga dia tidak bisa berdiri karena kesakitan.


"Mungkin nggak bisa..."


"Mungkin bakal agak memalukan... tapi bisa tahan nggak?"


"Heh? Maksudmu apa...?"


"Maksudku cara buat membawamu."


Tanpa ragu, aku mengangkat Miu dengan gendongan putri dan berdiri.


"Tunggu!! Kau serius...!?"


Mata Miu membelalak karena terkejut.


Dan seperti dugaan, dibanding lomba kaki tiga, sekarang perhatian seluruh siswa malah tertuju pada kami.


"Gendong putri atau apa ini... aku nggak pernah dengar soal beginian...!"


"Soalnya kau bilang nggak bisa jalan kan!"


"Tapi bukan berarti harus begini... huu... maaf banget hiks Aku nggak nyangka kalau aku ternyata nggak berguna sampai segininya... hiks"


Miu mulai menangis lagi. Bahkan sekarang ingusnya juga mulai keluar...


"Sudah, jangan nangis lagi. Wajah menangismu jelek."


Ini caraku menyemangatinya.


Aku sudah terbiasa mengurus mentalnya.


"Hah? Padahal aku baru mulai menganggapmu keren. Bagian jeleknya itu nggak perlu tahu!"


Nah kan, seperti ini jadinya.


"Terus... kau juga agak berat..."


"Hah!? Itu karena kau lemah saja!"


"Wah...! Jangan bergerak! Nanti jatuh!"


"Hehe♡ Digendong putri begini rasanya seperti mimpi♡"


Miu melingkarkan tangannya ke leherku lalu memelukku erat.


"Jangan terlalu nempel dong! Nanti orang-orang lihatnya aneh."


"Hehe♡ Udah telat lho~♩ Lagian rasanya enak~♩ Berarti aku memang spesial kan~♩"


Yah, memang sih sekarang sudah terlambat.


Saat melewati depan tenda, bahkan Iida-sensei sampai berseru, "Hyu~♡"


Haa... serius deh, satu per satu begini semua...


Tolong jangan salah paham.


"──Hop."


Begitu sampai di tenda UKS, aku mendudukkan Miu di atas ranjang lipat.


Sepertinya anggota panitia kesehatan dan guru UKS sedang tidak ada, jadi sekarang hanya ada aku dan Miu berdua.


"Boleh nggak ya pakai cairan antiseptik seenaknya?"


"Ah... entahlah. Aku juga nggak tahu, kan bukan panitia kesehatan..."


"Tapi kalau dibiarkan begini nanti bisa bahaya karena kuman. Biar aku yang obati."


Hmm, pertama-tama lukanya harus dibersihkan dulu ya...?


Tapi bersihinnya gimana?


"Oi Miu, sini, kakimu... kasih lihat kakimu."


"Eh... entah kenapa aku nggak suka deh... kakiku disentuh kamu..."


"Kalau terus bilang begitu nanti kakimu bernanah dan nggak bisa dipakai lagi lho!"


Saat aku menakut-nakutinya seperti itu,


"Baiklah... tapi jangan sakit ya."


Miu pun mengulurkan kakinya.


"Cairan antiseptiknya banyak, pakai ini buat membersihkan saja deh. Bakal agak sakit ya~"


Karena aku nggak tahu harus pakai yang mana, aku langsung menuangkan antiseptik transparan berukuran besar yang ada di situ ke kaki Miu.


"SAKITTT!!"


"Fuhaha, ya jelas sakitlah, tahan saja."


"K-kau sadis banget!! Dokter palsu~!"


"Yakin mau ngomong begitu~? Yang pegang kendali sekarang aku lho~"


Sambil menyeringai jahil, aku menuangkan antiseptik sekali lagi.


Karena aku pakai lumayan banyak, sepertinya sebagian besar pasirnya sudah terbilas. Tapi cara pakainya jelas salah. Kayaknya nanti aku bakal dimarahi...


"Kalau begitu, selanjutnya..."


Lutut dan telapak tangannya yang lecet kuberi antiseptik lalu kutempelkan plester.


Sedangkan pergelangan kakinya──


"Nanti kalau sensei datang, minta dipasang kompres atau plester obat ya."


Aku mengingatkannya.


"...Makasih."


"Ah... gawat, sekarang giliranku buat estafet!"


Aku benar-benar lupa...


Dari luar tenda terdengar pengumuman untuk lomba estafet berikutnya. Aku harus cepat.


"Kalau begitu aku pergi lari estafet dulu! Kau istirahat saja di sini ya! Nanti aku juga bilang ke guru UKS."


"Oke, semangat buat estafetnya! Aku lihat dari sini!"


Tenda ini menghadap langsung ke lapangan, jadi kalau tirainya dibuka, perlombaan terlihat dengan jelas.


"Jangan lupa dukung aku."


Setelah memastikan keadaan Miu baik-baik saja, aku kembali ke lapangan.


"Semangaaat~!”


◆◇◆


【Sudut pandang Kurosaki Maria】


"Ahh... kenapa aku malah datang ke sini sih..."


Aku──Kurosaki Maria, sedang menuju tenda UKS sambil mengikuti mereka berdua, melewati lapangan dan berjalan ke arah tenda pusat.


Melihat mereka berdua saling menempel saat lari kaki tiga, aku memang merasa agak rumit.


Tapi hanya karena hal seperti itu lalu memperlihatkan rasa cemburu terang-terangan... harga diriku tidak mengizinkannya.


Tapi...


Sekarang aku jadi tidak bisa berhenti memikirkannya. Tubuhku bergerak lebih cepat daripada pikiranku…


Dan saat sadar, tahu-tahu aku sudah ada di sini.


Kenapa aku mulai merasa cemburu...?


Awalnya semua bermula dari hari itu, saat aku jatuh cinta pada Senpai pada pandangan pertama. 


Bahkan aku sendiri berpikir cinta pada pandangan pertama itu mustahil, tapi bagaimana ya...


Pokoknya wajahnya benar-benar tipeku banget.


Aku ini gyaru, dan dengan penampilan semencolok ini, orang-orang yang tidak mengenalku sering seenaknya beranggapan, "Pasti selera cowoknya juga yang mencolok dan playboy, kan?"


Kalau jujur...


Memang dulu aku pernah seperti itu.


Tapi sekarang──kebalikannya.


...Padahal aku seharusnya sudah kapok dengan cowok...


Tapi meski begitu...Aku, yang seperti ini, malah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Kurosaki-san...!"


Senpai yang mungkin baru keluar dari tenda UKS tiba-tiba ada di depanku.


Kenapa dia sendirian ya...


Apa Miu-senpai masih di dalam?


"Kurosaki-san, ada keperluan?"


Senpai menatapku dengan heran.


Tidak mungkin aku bilang kalau sebenarnya aku datang karena mau menemui mereka berdua.


"Aku datang karena penasaran sama kalian~"


Itu terlalu seperti orang luar. Tapi...


Kalau melihat tempatku berdiri sekarang, mungkin ketahuan juga sih...


"Ah... cuma..."


Aku buru-buru mengarang alasan. Kalau ditanya lebih jauh bakal gawat, tapi harusnya masih aman.


"Begitu ya! Ah! Aku harus ikut estafet berikutnya! Lagi buru-buru, jadi aku pergi dulu!"


Senpai tampak sangat terburu-buru dan langsung pergi menuju lapangan tanpa menunggu jawabanku.


"Hm... ternyata bukan lagi cuma berdua ya, kalau begitu nggak masalah deh... Tapi karena sudah sejauh ini datang, mungkin aku sekalian lihat keadaan Miu-senpai..."


"Hm...? Sepi banget..."


Di dalam tenda sangat sunyi. Mungkin sensei sedang tidak ada, tidak terdengar suara siapa pun.


Tapi...


Di balik tirai pembatas terlihat siluet seseorang.


Jadi Miu-senpai sedang istirahat di sana ya. Aku membuka tirai perlahan dan masuk dengan tenang...


"Shintarou...?"


Miu-senpai mendengar suara langkahku dan memanggil.


"Sayangnya salah, ini aku."


Saat berkata begitu dan mengintip lewat celah tirai...


"Eh? Kurosaki-san...?"


Miu-senpai menatapku dengan wajah sangat terkejut.


"Ahaha, nggak usah sekaget itu juga..."


"B-bukan begitu... cuma... orang yang paling tidak kuduga malah datang..."


Yah wajar sih. 


Harusnya orang yang lebih dekat dengannya yang datang.


Padahal sebenarnya aku──cuma mengikuti mereka karena tidak suka kalau Senpai berdua saja dengannya.


"Kurosaki-san baik banget ya. Senang rasanya kau datang menjengukku."


Miu-senpai tersenyum lebar padaku.


"Yah... begitulah. Ngomong-ngomong, kamu nggak apa-apa? Lukanya gimana?"


"Iya! Nggak terlalu parah kok! Cuma pergelangan kakiku terkilir, jadi agak susah jalan. Selain itu aku baik-baik saja."


Sambil berkata begitu, dia menunjukkan pergelangan kaki yang membengkak kemerahan.


Lutut dan telapak tangannya juga ditempeli plester.


Apa Senpai yang mengobatinya ya...


"Ah, lihat! Giliran estafet Shintarou!"


Di lapangan, para pelari estafet sudah berdiri di garis start. Kalau tidak salah estafet kelas tiga putra itu perlombaan terakhir.


"Kurosaki-san, nggak apa-apa nggak dukung Shintarou lebih dekat?"


"Eh...? Kenapa?"


"Soalnya Kurosaki-san suka sama Shintarou, kan?"


Orang ini...Dia sadar kalau aku benar-benar suka pada Senpai.


"Dari wajahmu kelihatan, kau kira aku nggak sadar ya~?"


Tepat sasaran lagi...


"Tapi aku juga nggak berniat menyembunyikannya kok?"


"Hmm..."


Miu-senpai memandang ke luar jendela seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Kurosaki-san, bagian mana dari Shintarou yang kamu suka?"


...Bagian mana? Pertanyaan yang cukup masuk ke dalam ya… Jadi Miu-senpai juga penasaran soal beginian.


Setelah berpikir sejenak, aku menjawab,


"Hmm... wajahnya mungkin...?"


"Eh!? Wajah...!?"


"Aneh ya?"


"B-bukan begitu... cuma aku baru sadar ternyata Shintarou lumayan populer..."


Begitu ya...


Karena dari dulu dia selalu berada di dekatnya, dia malah tidak sadar pesona Senpai.


Haa...Entah kenapa reaksi khas teman masa kecil itu membuatku sedikit iri.


"Kalau begitu, Miu-senpai suka Senpai sejak kapan?"


"EH!? Suka...? Kenapa tiba-tiba!?"


"Ahahaha, Miu-senpai juga ketahuan banget kok? Apa kau kira aku nggak sadar?"


Aku mengembalikan kata-kata yang tadi dia pakai padaku.


"Ketahuan ya... kalau begitu nggak bisa diapa-apakan..."


"Jadi? Sejak kapan?"


"Kalau ditanya sejak kapan... aku dan Shintarou kan dari dulu selalu bersama, jadi saat sadar... mungkin aku memang sudah menyukainya..."


"Hee..."


Selalu bersama dari dulu, ya...


Diam-diam dia barusan pamer status teman masa kecil. Lalu Miu-senpai tersenyum kecil sebelum berbicara dengan ekspresi serius.


"Aku kasih tahu ya. Shintarou itu..."


"...Dia nggak akan pernah menoleh pada kita."


Seolah sedang memperingatkanku.


"Kenapa bisa bilang begitu?"


"...Shintarou suka sama kakakku. Dan itu sudah sejak lama."


Kakaknya...?


"Kakak yang rambut hitam pendek itu?"


"Iya! Benar. Hah...? Kurosaki-san pernah ketemu?"


Jadi benar…


Wanita cantik yang waktu itu bersama Senpai. 


Karena waktu itu tidak dijelaskan apa-apa, aku benar-benar mengira itu kakak kandungnya.


"Miu-senpai, kakakmu cantik banget ya."


"Iya! Dia keibuan, cantik juga, benar-benar sempurna."


Miu-senpai mengatakannya dengan wajah sedikit sedih.


"Tapi... kenapa Miu-senpai begitu yakin Senpai suka sama kakakmu?"


"Eh..."


"Dan kalian juga belum pacaran kan? Jadi kenapa aku juga harus menyerah?"


"Itu..."


"Cinta itu nggak ada yang tahu bakal jadi bagaimana. Kalau menyerah dari awal... membosankan."


Mungkin perkataanku barusan mengenai dirinya, karena Miu-senpai mulai terpancing emosi.


"Kurosaki-san nggak tahu apa-apa...! Kau nggak tahu seberapa kesepiannya aku selama ini!!"


Mungkin dia bicara soal teman masa kecilnya.

Tapi aku juga tidak tahu soal itu.


"Ya bukan berarti aku juga harus ikut terseret masalahmu kan?"


Begitu kubalas dengan logika yang masuk akal, Miu-senpai langsung terdiam. Dia tidak bisa membalas.


"Aku juga..."


Dia menunduk, menggenggam tangannya erat sambil gemetar.


"Aku juga pernah ciuman sama Shintarou!!!"


...Hah?


"Dan juga... waktu kecil kami pernah mandi bareng..."


"Itu memang perasaan cinta? Rasanya malah kayak cuma sedang keras kepala..."


"B-bukan begitu! Aku benar-benar suka Shintarou dan aku juga cemburu!"


"Aneh..."


Kalau memang begitu, kenapa bilang dia tidak akan pernah menoleh pada kami?


Hubungannya dengan Senpai...


Apa selama ini semuanya setengah-setengah?


"Padahal suka, tapi nggak ingin pacaran? Nggak takut direbut juga ya~?"


"Soalnya... aku nggak bisa menang dari kakakku..."


"Dari sudut pandangku sih itu nggak masuk akal. Memangnya cuma karena kakak jadi harus mengalah?"


Karena aku tidak punya saudara perempuan, mungkin aku memang tidak mengerti. Tapi tetap saja, menyerah sejak awal itu aneh.


Padahal suka tapi menyerah...


Kontradiktif.


Hal-hal idealis seperti ini, jujur saja melelahkan.


"Mending jujur saja deh, Miu-senpai."


Sambil berkata begitu aku duduk di sampingnya.


Kasur UKS ternyata keras juga.


"Aku juga ingin lebih jujur... tapi Shintarou nggak akan pernah melihatku sebagai perempuan..."


"Hah? Terus kenapa bilang suka? Murung terus... menjijikkan lho?? Rasanya kayak tokoh utama tragedi."


"Hngh! Nggak perlu ngomong sejauh itu juga! Uwaaah hiks"


"Tapi itu memang kenyataannya... dibanding cewek yang ribet begitu, cewek yang bisa jujur bilang suka itu lebih imut kan? Misalnya kayak aku."


"...Hngh. Mungkin memang benar..."


"Kalau paham syukur deh."


Setelah beberapa saat hening──


"Ah! Lihat! Shintarou lagi lari!"


...Eh, Senpai...Cepat banget. 


Ternyata saat kami mengobrol, estafet antar kelas sudah dimulai.


"Senpai ternyata pelari terakhir ya. Keren."


"Ya kan! Karena dia gamer rumahan, aku kira dia nggak bisa olahraga!"


Miu-senpai tertawa kecil. Kami tanpa sadar saling menatap lalu tertawa bersamaan.


"Biasanya dia cuma senyam-senyum dan kelihatan nggak niat, tapi karena ini yang terakhir dia jadi semangat banget..."


"Ngomong-ngomong Miu-senpai, barusan kamu terpukau ya?"


"Eh!? Nggak kok..."


"Eeeh~ bukannya tadi bilang mau lebih jujur~?"


"Hmph, Kurosaki-san jahat!"


"Ahaha."


Di lintasan terakhir, bahkan dari kejauhan pun terlihat jelas Senpai berlari sekuat tenaga.


Dan hasilnya──juara satu.


Kalau dipikir-pikir, yang memenangkan posisi pertama itu sebenarnya usaha seluruh tim...


Tapi tetap saja, fakta bahwa Senpai yang berlari sebagai pelari terakhir terlihat paling keren tidak berubah.


"Namanya gap moe ya... kalau lihat begitu, pasti jadi suka kan?"


"Ahaha, ngerti sih. Soalnya auranya beda dari biasanya."


"Kurosaki-san... makasih ya. Rasanya aku jadi sadar banyak hal."


"...? Ah, nggak kok."


"Tapi ada satu hal yang mau kukatakan. Hari ini aku memang berterima kasih padamu, tapi pada akhirnya kita tetap saingan cinta!! Jujur saja, berkali-kali aku pernah berharap kau nggak ada di sekitar Shintarou."


"Ahaha, yah dengan tampang kayak aku begini ya?"


"Iya... ditambah dadamu juga besar..."


"Fufufu, apa hubungannya coba."


"Ada!! Shintarou suka yang besar!"


Hee...aku baru dengar informasi menarik.


"Pokoknya! Lain kali kita ketemu, aku nggak tahu bakal bersikap seperti apa!! Selama Kurosaki-san masih suka Shintarou!"


Yah...aku juga nggak berniat main pura-pura akur, jadi malah lebih gampang begini.


"Aku nggak menyangka bakal kenal Kurosaki-san dengan cara seperti ini... Rasanya orang pertama yang benar-benar menghadapi sifat penakutku ya... malah Kurosaki-san..."


"Hmm, mungkin suatu hari kita bisa jadi teman baik?"


Kelihatannya kami juga bukan saling benci dari dasar hati. Entah kapan, mungkin hari seperti itu akan datang.


"Semoga kita sama-sama sukses dalam cinta dan pelajaran...! Masa muda itu harus dinikmati!"


Kelihatannya dia sudah merasa lega. Mungkin dia akhirnya sadar akan perasaan yang selama ini diam-diam dia pendam.


Aku memang tidak begitu mengerti, tapi dalam diri Miu-senpai...


Keberadaan kakaknya pasti sangat besar, baik dalam arti baik maupun buruk...


"Yah, aku juga nggak bakal menahan diri."


"Hehe. Aku juga nggak bakal mengalah! Soalnya aku ini teman masa kecilnya!"


Ahaha...pamer status teman masa kecil lagi.


"Kalau begitu upacara penutupan juga sebentar lagi mulai, ayo pergi?"


Aku mengulurkan tangan ke Miu-senpai.


"Iya... masih sakit sih, tapi kalau ditopang mungkin aku bisa jalan."


"Haa... merepotkan banget sih. Nggak jujur, keras kepala, bandel juga..."


"Makanyaaa! Nggak perlu bilang sejauh itu! Jahat banget! Dengan sikap begitu aku nggak mau jadi temanmu!"


"Ahaha, aku juga nggak mau."


Miu-senpai itu, kalau dilihat sebagai pasangan rasanya ada sesuatu yang kurang.


Dia canggung, ceroboh, dan selalu kelihatan mengkhawatirkan.


Ditambah sifat tsundere-nya itu...


Membuat orang-orang di sekitarnya sulit mengabaikannya.


Tapi...


Kalau begini bukankah dia bakal tetap terjebak sebagai karakter teman masa kecil yang tidak berkembang jadi cinta...?


Hmm…Padahal aku juga bukan posisi yang pantas mengkhawatirkan orang lain...


Tapi Miu-senpai sepertinya bakal susah juga soal percintaan…


◆◇◆


【Sudut Pandang Shintarou】


──Beberapa puluh menit sebelumnya


Acara utama festival olahraga ini. Perlombaan terakhir hari ini, estafet putra antar kelas.


Dan pelari terakhirnya adalah aku.


"Para siswa kelas tiga yang mengikuti estafet harap berkumpul di lapangan──"


Pengumuman terakhir pun terdengar.


Akhirnya saatnya tiba...


"Miyata... kau baik-baik saja? Wajahmu kelihatan nggak meyakinkan."


Morishita yang datang mendekat bertanya padaku.


"Sebenarnya... mungkin lumayan gawat... Menurutmu aku benar-benar bisa lari dengan baik nggak...?"


Padahal biasanya aku kuat saat menghadapi acara penting.


Aneh...


Aku tidak bisa berhenti merasa cemas.


"Eh!? Yang kau pikirkan itu bisa lari atau nggak!? Biasanya orang khawatir bisa juara satu atau nggak kan!?"


Morishita tertawa keras.


Orang ini...Padahal dia sendiri menyerah dari awal karena kalah sama tekanan.


"Hmph! Tetap lebih baik daripada orang yang cuma banyak omong kayak kau!!!!"


Apa sih dia ini...


Tapi mungkin karena tadi sempat berteriak, entah kenapa semangatku sedikit kembali.


"Aku pergi dulu."


Setelah berkata begitu, aku menuju tempat teman-teman satu tim menunggu.


"Miyata, kami mengandalkanmu. Kemenangan kelas kita ada di tanganmu. Kalau kelas kita menang, biaya minum nanti gratis...! Ahem! Maksudku begitulah. Semangat."


Hah...


Pantas saja semangatnya berlebihan, ternyata karena itu...


"Aku akan berusaha semampuku..."


Pelari pertama sudah bersiap, tinggal menunggu aba-aba dimulai.


Karena memang yang dipilih adalah orang-orang terbaik, dari cara mereka bersiap saja sudah terlihat kalau mereka berpengalaman.


"Di antara orang-orang seperti ini... kok aku bisa ada di sini sih..."


Begitu suara pistol start terdengar, para pelari langsung melesat dari garis start.


Penyerahan tongkat ke pelari kedua juga sempurna tanpa gerakan sia-sia. Lalu semuanya berjalan begitu cepat...


Dan sekarang giliranku.


"Miyata...! Dia datang!"


Aku memusatkan pandangan ke tangan rekan setim yang berlari sekuat tenaga, lalu menerima tongkat dengan mantap.


Begitu menerima tongkat, sorakan keras dari seluruh lapangan membuatku sedikit ciut. Tapi dengan harapan sebesar ini...


Aku tidak boleh kalah.


Aku menyemangati diriku sendiri. Ketegangan dan semangat bercampur menjadi satu. Sambil menahan detak jantung yang semakin kencang, aku hanya menatap lurus ke depan dan berlari sekuat tenaga.


Karena teman-teman satu tim sudah berjuang mati-matian sampai di sini...


Entah bagaimana posisi pertama masih bisa dipertahankan. Tapi suara langkah kaki yang mendekat terdengar tepat di belakangku.


Gawat...Kalau begini aku akan tersusul.


Sedikit lagi...


Sedikit lagi...


Berlawanan dengan semangatku, kakiku sudah hampir mencapai batas.


Napasku mulai pendek, dadaku terasa sakit...


Bahkan rasanya kakiku bisa tersangkut kapan saja.


Tapi aku tidak boleh disalip di sini...! Demi orang-orang yang mau menerimaku, si gamer penyendiri ini, ke dalam tim mereka...


Aku mengeluarkan seluruh tenaga terakhirku dan menghentakkan kakiku kuat-kuat ke tanah.


Detik berikutnya, tanganku menyentuh pita finish.


Bersamaan dengan meraih kemenangan, tubuhku langsung ambruk ke tanah.


"Fuahhh! J-juara satuuuuu!!!"


Tanpa sadar suara memalukan keluar dari mulutku. 


Tapi beban besar yang menekanku akhirnya terangkat, dan rasanya sangat lega...


"Kita menang!"


"Kerja bagus!"


Teman-teman satu tim mengelilingiku.


"Ini hal paling membahagiakan selama hidup SMA-ku... semuanya berkat kalian... uuh..."


Pengalaman seperti ini benar-benar pertama kalinya bagiku.


Selain game, aku belum pernah benar-benar terjun serius ke dunia yang ada menang dan kalahnya. Melihat orang-orang yang berapi-api selama ini, aku selalu berpikir,


"Apaan sih... bodoh banget."


Dan menjalani hidup dengan sikap sok tenang.


Tapi ternyata...Perasaan bangga dan menyegarkan seperti ini bisa muncul juga.


Jadi ini...yang namanya rasa pencapaian ya...


"Oi! Miyataaa! Kau keren juga ternyataaa!"


Morishita datang sambil menerobos kerumunan tim.


"Yah begitulah... tapi aku bisa finish di posisi pertama itu... berkat semuanya juga... hiks"


"...!? W-wah aneh... kau nggak menganggap itu semua jasamu sendiri...? Bahkan kepribadianmu bisa berubah juga ya... hebat..."


Saat itu, aku melihat Miu dan Kurosaki-san berjalan ke arah sini.


"Shintarou, selamat~! Aku lihat tadi! Ternyata kalau serius kau juga bisa ya, aku jadi melihatmu dengan cara berbeda."


Miu terlihat bisa berjalan entah bagaimana sambil ditopang Kurosaki-san.


"Kakimu nggak apa-apa?"


"Iya! Berkatmu."


"Eh... ngomong-ngomong kenapa kau bareng Kurosaki-san...?"


"Ah... itu..."


Miu mengalihkan pandangannya dengan wajah canggung. Lalu Kurosaki-san menjawab,


"Tadi kebetulan aku ketemu Miu-senpai."


"Oh, begitu..."


Jadi kebetulan dia bertemu Miu ya...


"Makasih ya Kurosaki-san, aku sudah nggak apa-apa kok."


Melihat Miu mencoba berjalan sendiri, Kurosaki-san memasang wajah khawatir seolah bertanya "Yakin nggak apa-apa?"


Dia baik banget…


Malah terlalu keren untuk ukuran cewek.


"Begitu ya... kalau begitu aku balik ke tempat angkatanku dulu."


Sambil meninggalkan kata-kata "Sisanya aku serahkan ya", Kurosaki-san pergi dari tempat itu.


"Kita juga balik yuk."


"Kita harus cepat! Upacara penutup sebentar lagi mulai...!"


"Sekarang kami akan melakukan perhitungan nilai───"


Pertarungan sengit hari ini akhirnya berakhir.


Para siswa yang kelelahan seperti habis terbakar, dan siswa seperti diriku yang dipenuhi rasa pencapaian, berkumpul di lapangan.


Di dalam tenda, para guru sedang menghitung total nilai hari ini.


"Semua harap tenang──sekarang kami akan mengumumkan hasilnya!"


Suara ketua OSIS yang berdiri di depan mikrofon menggema di lapangan.


"Pemenang tahun ini adalah─── Blok Biru!!!”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close