Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 3
Seira Clover
──Sebuah bangunan dari batu yang sedikit lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya.
Aku dan Mariel melangkah masuk ke dalam bangunan yang bentuknya mirip apartemen di Jepang.
Mungkin karena pengetahuan dan teknologi dari kehidupan sebelumnya telah mengalir ke dunia ini, bentuk tangga maupun tata letak setiap kamarnya entah bagaimana memberikan suasana yang mengingatkanku pada kompleks apartemen di Jepang modern.
Namun, tampaknya bangunan ini tidak memiliki lift. Dengan memanfaatkan alat sihir mungkin sebenarnya bisa dibuat, tetapi berbeda dengan peralatan kecil seperti kompor yang memanfaatkan sihir api, membuat alat pengangkat semacam itu barangkali membutuhkan sihir dan teknik yang jauh lebih tinggi.
"Jadi... ini kamar Seira."
Setelah tiba di depan kamar tujuan, aku dan Mariel membunyikan bel kecil yang terpasang di atas pintu.
Kring... kring...
Suara lonceng yang nyaring bergema di lorong.
Baru sekarang aku sadar bahwa kami datang tanpa membuat janji. Kalau Seira sedang tidur, atau sedang sendirian di rumah, mungkin dia bahkan tidak akan menyadari bunyi bel ini.
Dengan sedikit penyesalan di dalam hati, aku pun menunggu beberapa saat.
"...Tidak ada jawaban."
"Sepertinya kita memang datang terlalu mendadak."
Sekitar satu menit berlalu. Pintu tak kunjung terbuka, bahkan tak terdengar suara sedikit pun.
Saat kami hendak berbalik dan pergi──
"──Siapa?"
Gii...pintu terbuka dengan suara berderit, lalu seorang wanita memperlihatkan wajahnya dari balik pintu.
Rambutnya berwarna biru muda. Namun berlawanan dengan keindahan warna rambutnya, wajahnya tampak sangat pucat. Pipinya cekung, dan sekali lihat saja sudah jelas bahwa ia bahkan tidak makan dengan layak.
Melihat penampilannya, aku langsung yakin bahwa wanita ini adalah Seira Clover.
"Aku biarawan dari klinik penyembuhan. Kudengar dari si babi... maksudku, Alaistar-sama... tentang keadaanmu."
"Oh... dari Paman Babi itu..."
Jadi kamu juga memanggilnya babi, ya.
Lagi pula, apa pria tua gendut itu memang kerabatmu? Dilihat bagaimana pun juga, mereka sama sekali tidak terlihat memiliki hubungan darah.
"Kau benar Seira, kan? Aku datang ke sini karena ingin memeriksa keadaanmu secara langsung."
"Hmph. Ini pertama kalinya aku melihat seorang biarawan berbicara seperti itu.... Tapi kau tak perlu mengurusku. Pergilah."
Seira berkata dingin sambil hendak menutup pintu. Secara refleks aku menyelipkan kakiku ke celah pintu.
"Kau... sialan... uhuk... uhuk...!"
Tatapan tajam Seira mulai goyah, lalu sesaat kemudian batuk hebat menyerangnya.
Tangannya kehilangan tenaga hingga terlepas dari gagang pintu, dan tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
"Hei, kau tidak apa-apa!? Mariel!"
"Ya, cepat bawa dia masuk!"
"Ugh... Aku... tidak butuh... bantuan kalian... uhuk... uhuk..."
"Ini bukan waktunya keras kepala! Meski harus memaksa, kita bawa kau ke tempat tidur!"
"Aku mengerti!"
Aku dan Mariel saling berpandangan, lalu segera bergerak.
Bersama-sama kami menopang tubuh Seira yang sudah lemas, kemudian membawanya ke ranjang di bagian dalam kamar.
Akhirnya kami berhasil membaringkannya.
"...Obat..."
Berbaring di ranjang, Seira dengan lemah menunjuk ke arah laci kecil di samping tempat tidur.
Di atasnya terdapat obat yang pernah kuresepkan, lengkap dengan kendi air dan sebuah cangkir.
Aku segera menuangkan air dan menyerahkannya kepadanya.
"Gluk... gluk... ...Haaah..."
Ia menelan obat itu dengan air sekaligus. Beberapa menit kemudian, setelah napasnya kembali teratur, tubuh yang tadi tampak begitu menderita akhirnya mulai tenang.
Seira pun mengembuskan napas lega.
"Sepertinya memang seorang Ksatria Kuil."
Selagi menunggu kondisi Seira stabil, Mariel memandang pedang panjang yang tergantung di dinding sambil berbicara.
"Ksatria Kuil?"
"Ya. Mereka adalah para ksatria yang berada di bawah Gereja. Berbeda dengan Ksatria Kerajaan yang berbasis di ibu kota, Ksatria Kuil ditempatkan di seluruh negeri dan bertugas menyingkirkan kaum sesat serta melakukan pemurnian."
"Hm... Apa maksudnya pemurnian?"
Karena belum pernah mendengar istilah itu, aku langsung bertanya. Mariel menjawab dengan wajah serius.
"Gereja memang bukan penguasa negara secara langsung, tetapi pengaruhnya sangat besar. Karena itulah mereka memusnahkan siapa pun yang menjadi musuh Gereja──itulah yang disebut pemurnian. Secara resmi alasannya adalah menjaga iman dan ketertiban, tetapi kenyataannya unsur politiknya juga sangat besar."
"Jadi itu berbeda dengan membasmi kaum sesat?"
"Benar. Kaum sesat adalah mereka yang menyimpang dari ajaran atau menggunakan kekuatan iblis. Sedangkan pemurnian adalah hukuman bagi orang-orang yang mengancam kestabilan Gereja maupun negara.... Walaupun secara resmi negara dan Gereja bukanlah satu pihak, keduanya saling membutuhkan sehingga tidak bisa dipisahkan."
Kalau begitu... bukankah Burdog termasuk di dalamnya?
Berhubungan dengan Kekaisaran, mengumpulkan wanita untuk memaksa mereka menjalankan bisnis prostitusi, bahkan membiakkan goblin──apa pun yang dia lakukan jelas melanggar.
"Ngomong-ngomong... sihir penyembuhan yang Anda gunakan di tengah kota tempo hari. Kalau sedikit saja berbeda situasinya, Anda mungkin sudah dibawa ke pengadilan inkuisisi."
"Apa... serius?"
"Kalau yang menemukannya adalah Seira-sama sebagai Ksatria Kuil, Anda pasti tidak akan bisa lolos."
"...Berarti untung yang menemukanku justru Mariel."
"Ya. Karena saya hanya seorang Diakon."
Diakon. Itu adalah satu tingkat di atas umat biasa.
"Diakon? Kukira kau cuma umat biasa."
"Salah satu tugasku memang membimbing orang-orang istimewa seperti Anda menuju Gereja."
"Wah, hebat juga."
"T-tidak... Aku masih jauh dari hebat...."
Mungkin karena tidak terbiasa dipuji, telinga Mariel langsung memerah dan ia menjadi gugup. Padahal biasanya dia selalu bersikap tegas.
Di sisi seperti ini justru ada sisi imutnya.
Aku tersenyum kecil, lalu kembali memandang Seira.
"──Jadi, Seira. Apa kau tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada tubuhmu?"
"Mana mungkin aku tahu. Penyakit aneh seperti ini...."
"Katanya stamina dan mana-mu terus-menerus terkuras, kan?"
"Ini tubuhku sendiri.... Aku tahu ajal sudah mendekat. Rasanya seperti nyala lilin yang hampir padam."
"...Begitu ya. Kalau begitu, mau tahu kondisi tubuhmu yang sebenarnya?"
"Hah, sekarang baru bertanya? Lagi pula, kau bilang kau tahu penyakitku? Bahkan tak seorang pun mengetahui penyakit ini. Mana mungkin orang yang baru muncul sepertimu mengetahuinya."
Yah, wajar kalau dia berpikir begitu. Tapi aku memang tahu.
Karena kemarin Iris diam-diam masuk ke kamar ini dan memeriksanya menggunakan Appraisal.
"Shuu, berhentilah berbohong. Kemarin saat melihat catatan medisnya saja kau sendiri sangat terkejut."
Mariel berkata dengan tajam. Namun aku menggeleng.
"Mariel... maaf, tapi bisakah kau keluar sebentar?"
"Apa?"
"Tolong. Aku ingin bicara berdua dengan Seira."
Mungkin melihat wajahku yang benar-benar serius, Mariel terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil.
"...Baiklah. Mengingat apa yang kau lakukan kemarin, aku akan memberimu waktu tiga puluh detik."
"Singkat sekali!"
"Kalau begitu... lima menit."
"Ya, itu sudah cukup."
Mariel pun berjalan menuju pintu dan diam-diam meninggalkan ruangan.
"Padahal ini rumahku.... Kenapa justru kau yang menentukan siapa yang boleh keluar masuk kamarku?"
"Sudahlah, jangan dipikirkan.... Yang akan kukatakan sekarang ini serius. Aku tidak tahu apakah kau akan mempercayaiku, tapi semuanya adalah kenyataan."
"Hmph."
Seira memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Meski terlihat seperti menolak, telinganya tetap mendengarkan setiap perkataanku. Entah kenapa, di balik sikap dinginnya itu, seolah masih ada sedikit harapan.
Aku menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Seira. Kelainan pada tubuhmu... itu bukan penyakit."
"...Apa...?"
"Itu adalah kutukan."
Mendengar pernyataan mengejutkan itu, Seira tak bisa menahan diri untuk bereaksi.
"Kenapa aku tahu, untuk saat ini aku belum bisa menjelaskannya. Tapi aku benar-benar tahu. Dan kutukan itu bernama Bleeding Curse."
"..."
Seira terdiam. Namun ia juga tidak menyangkal, hanya menunggu penjelasanku.
"Bleeding Curse memiliki syarat untuk aktif. Kutukan itu akan bekerja ketika keturunan dari garis darah tersebut masih belum menikah setelah menginjak usia dua puluh tahun. Dengan kata lain... kutukan ini dipasang untuk memutus garis keturunan keluargamu."
Aku tidak tahu sejak kapan kutukan itu dipasang. Bahkan mungkin bukan Seira yang menjadi target langsungnya.
Namun jika memang begitu, berarti Seira hanyalah korban yang terseret. Dia sama sekali tidak bersalah.
"Hahaha... hahahahahahaha!!"
Tiba-tiba Seira tertawa keras. Tawa itu begitu kuat hingga air mata menggenang di matanya.
Entah itu tawa penuh ejekan, keputusasaan, atau sekadar kepasrahan──aku tak mampu menebaknya.
"Jadi akhirnya... akhirnya saat itu benar-benar datang.... Ah, tentu saja. Memang sudah seharusnya begitu. Garis keturunan kotor seperti ini memang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh keluarga kerajaan!!"
"...Keluarga kerajaan?"
Pikiranku langsung berhenti. Itu adalah kata-kata yang sama sekali tidak pernah kuduga.
"Aku adalah keturunan dari garis darah yang bercabang dari selir Raja Einfilia beberapa ratus tahun yang lalu."
"...!"
"Hanya karena memiliki darah keluarga kerajaan, orang-orang selalu menganggapku istimewa. Sudah sewajarnya ada orang-orang yang menganggap garis keturunan sampingan seperti ini sebagai penghalang."
"Jadi selama ini memang pernah terjadi sesuatu?"
"Iya. Karena itulah aku sengaja menjauh dari keluarga kerajaan dan berlindung di Gereja. Gereja jauh lebih nyaman... tidak seperti keluarga kerajaan, mereka memperlakukanku dengan setara. Mereka mengakui kemampuanku, bahkan mengangkatku menjadi Ksatria Kuil."
Yang diceritakannya adalah kesepian dan masa lalu yang selama ini ia pikul.
Di balik sosoknya yang tampak anggun, ternyata tersembunyi beban yang jauh melampaui dugaanku.
"...Kalau begitu, orang yang bernama Alaistar itu... apakah dia juga keturunan keluarga kerajaan?"
Kalau benar dia kerabatnya, itu benar-benar di luar dugaan.
"Hmph. Rupanya kau maupun suster bernama Mariel itu benar-benar tidak tahu apa-apa...."
"Hah?"
"Sekarang aku sudah tidak memiliki sanak saudara ataupun orang tua.... Orang yang kemudian merawatku adalah Paman Babi itu.... Jadi kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah."
"Kau tidak memanggilnya... Ayah?"
"Kalau aku benar-benar menjadi anaknya, Paman Babi akan ikut terseret masalah yang tidak perlu. Untuk menghindari itu, kami bahkan tidak pernah melakukan adopsi secara resmi. Meski begitu, dialah yang membesarkanku."
Tak ada kebohongan dalam ucapannya. Meski tak memiliki hubungan darah, baginya pria itu tetaplah keluarga.
Mendengar kata-katanya, tanpa sadar aku sedikit teringat pada keadaanku sendiri.
"...Jadi, sudah selesai? Setelah memberitahuku kebenaran tentang kutukan itu, apa kau puas karena berhasil membuatku semakin terpuruk?"
"Memang keras kepala, ya.... Tapi kalau kau berpikir begitu, aku juga tidak bisa menyalahkanmu."
Aku melangkah mendekatinya. Lalu berkata,
"──Aku bisa menghilangkan kutukanmu."
Kalimat itu langsung mengubah suasana ruangan.
"...Apa?"
Wajah Seira berubah. Meski napasnya masih berat, ia memaksa bangkit dari tempat tidur.
Lalu ia meraih pedang yang tergantung di dinding dan mengarahkannya kepadaku.
"Brengsek! Apa kau masih ingin mempermainkanku!?"
"Bodoh! Jangan mengayunkan pedang di dalam kamar!!"
Meskipun tubuhnya sedang sakit, tebasannya yang dipenuhi amarah tetap sangat tajam.
Aku mati-matian terus menghindarinya sambil berteriak dalam hati.
Sial! Kalau begini aku benar-benar bakal ditebas!
Dengan perasaan bersalah, akhirnya aku mengambil keputusan dan mengaktifkan Complete Uncurse Reverse.
"Apa... tubuhku...!"
"Maaf, Seira. Tapi dengarkan dulu sampai selesai."
Aku menopang tubuhnya yang tak lagi bisa bergerak akibat efek Paralysis, lalu membaringkannya kembali ke ranjang.
"Aku benar-benar bisa menghilangkan kutukanmu. Jadi, tolong tunggu sebentar...."
Aku mengangkat tangan ke arahnya untuk memeriksa metode penyembuhannya.
"A-apa ini...!?"
...Sebenarnya aku sudah menduganya.
Kutukan yang berkaitan dengan kematian pasti akan membutuhkan syarat yang sangat sulit. Namun syarat yang muncul benar-benar di luar nalar.
──"Selama tiga hari, masukkan jari ke anus target dan pijat hingga ototnya mengendur."
Melihat syarat pelepasan kutukan yang begitu tidak masuk akal, aku langsung memegangi kepalaku.
I-ini benar-benar cuma pelebaran anus mesum, kan!?
Sejujurnya, kalau hanya disuruh meremas atau mengisap payudara mungkin justru masih lebih masuk akal.
Tapi masalah sebenarnya baru dimulai sekarang. Bagaimana caranya agar Seira mempercayaiku?
...Oh ya. Dia masih dalam kondisi lumpuh.
Baiklah... mari kucoba.
"Seira... Aku memang bisa menghilangkan kutukanmu.... Tapi aku tahu kau pasti tidak akan percaya. Karena itu, sekarang aku akan menghilangkan efek Paralysis yang sedang kau alami. Lihat baik-baik."
"T-tunggu.... Kenapa... aku... bisa lumpuh...?"
"Itu... soal itu benar-benar maaf."
"Dasar... bocah... sialan...."
Dengan seluruh tubuh yang masih kaku, hanya wajahnya yang bisa menoleh untuk menatapku tajam.
Tatapannya benar-benar mengerikan, membuatku merasa seperti katak yang sedang ditatap ular. Keringat dingin mengalir di punggungku.
"Pokoknya, aku mulai ya──〈Complete Uncurse〉."
Aku memilih hanya efek Paralysis, lalu mengaktifkan skill itu.
Kali ini tanpa menyentuh tubuhnya. Kalau disentuh langsung, mungkin hanya butuh belasan detik. Namun tanpa kontak fisik... setidaknya akan memakan waktu puluhan menit.
"...Apa... yang kau lakukan...? Aku benar-benar... tidak mengerti.... Sial... tubuhku... tetap tidak bisa bergerak...."
"Kalau nanti sudah bisa bergerak, sebisa mungkin jangan langsung menyerangku."
"Aku... akan... membunuhmu."
"Tolong jangan."
Kalau sampai niat membunuh pun diarahkan kepadaku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Namun daripada membiarkan waktu berlalu sia-sia, aku mulai menjelaskan.
"Aku memiliki skill 〈Complete Uncurse〉 yang diberikan oleh Dewi. Skill ini mampu menyembuhkan kutukan maupun status abnormal apa pun secara sempurna. Selama ini aku sudah menyembuhkan banyak orang. Bahkan kutukan pun sudah pernah kuhilangkan."
"Dewi... katamu...? Kalau... kau menggunakan... nama beliau... untuk berbohong.... Itu bisa... membuatmu diadili... sebagai... kaum sesat...."
Kalau bicara jujur, aku bahkan pernah berbicara langsung dengan sang Dewi. Tapi kalau mengatakannya sekarang, aku pasti langsung dicap sebagai sesat.
Apalagi aku juga tidak bisa menjelaskan bahwa semua ini telah dipastikan melalui Appraisal milik calon Saintess, Iris.
"Apa yang kukatakan semuanya benar. Jadi, kalau kau memang tidak ingin mati, pikirkanlah baik-baik. Usiamu baru sekitar dua puluh tahun, kan? Masa depanmu masih panjang."
Begitu mengucapkannya...sebuah nama yang tak pernah bisa kulupakan muncul di benakku.
──Rikka.
Dia juga orang yang menjanjikan. Pintar, ramah, dan memiliki banyak teman. Namun...
Di usia lima belas tahun──
"Karena itu... aku tidak ingin kau menyerah. Hiduplah... dan lakukan lebih banyak hal yang ingin kau lakukan."
"......"
Mata Seira sedikit bergetar.
Entah itu kemarahan atau kebimbangan. Namun di balik semua itu, rasanya secercah harapan mulai menyala.
"──Shuu, sudah selesai?"
Pada saat yang paling tidak tepat, Mariel kembali masuk. Namun masih ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada Seira.
"Mariel... maaf. Bisakah kau kembali dulu ke klinik penyembuhan? Nanti aku akan menyusul."
"Benar-benar ya, Anda ini.... Baiklah. Saya akan menunggu di klinik."
"Ya, terima kasih."
Percakapan kami memang singkat. Namun dibanding sebelumnya, aku bisa merasakan adanya sedikit kepercayaan di antara kami.
Mariel tak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menghela napas pelan sebelum keluar dari kamar.
Setelah mendengar pintu tertutup, aku kembali menghadap Seira.
Sambil terus mempertahankan cahaya Complete Uncurse, aku melanjutkan penyembuhan efek Paralysis yang masih melumpuhkannya.
──Pada akhirnya, hanya untuk menyembuhkan Paralysis saja dibutuhkan waktu tiga puluh menit.
"...Tubuhku... bisa bergerak lagi...."
"E-eh... pedangnya kusita dulu, ya."
"Aku tidak akan menebasmu lagi.... Memang sangat mencurigakan bagaimana aku bisa terkena Paralysis, tetapi faktanya status itu sekarang sudah sembuh. Padahal biasanya hanya bisa disembuhkan dengan 〈Heal〉, tanaman obat, atau ramuan."
Seira duduk di atas ranjang. Dengan canggung ia mengepalkan lalu membuka telapak tangannya, memastikan bahwa tubuhnya benar-benar sudah bisa digerakkan.
Di matanya masih bercampur sedikit kebingungan dan kewaspadaan.
"...Kalau memang kau benar-benar bisa menghilangkan kutukanku, berarti masih ada sesuatu yang kau sembunyikan, bukan?"
"Tajam juga.... Ya. Ini berbeda dengan penyembuhan Paralysis tadi. Skill 〈Complete Uncurse〉 milikku memiliki metode penyembuhan yang berbeda-beda tergantung orang, kutukan, maupun status abnormalnya."
"Lalu?"
"Dengarkan baik-baik...."
Aku menarik napas panjang sekali lagi. Lalu memantapkan tekad.
"──Untuk menghilangkan Bleeding Curse milikmu, selama tiga hari aku harus memijat anusmu dengan jari."
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku…bahkan aku sendiri merasa pikiranku sudah tidak waras. Namun aku tidak bisa tertawa. Karena ini menyangkut nyawa seseorang.
"...Kau... benar-benar serius mengatakan itu...?"
Seira menatapku tajam sambil bertanya dengan suara rendah yang terdengar mengancam.
Aku bisa melihat bahunya bergetar karena marah.
"Ya. Aku serius. Percaya atau tidak terserah padamu. Tapi aku hanya ingin menyelamatkan orang yang sedang menderita di depan mataku. Mungkin memang ada alasan kenapa aku bertemu denganmu sekarang. Karena itu, Seira... kau berhak untuk diselamatkan."
"......"
"Kalau pelepasan kutukannya gagal, kau boleh membunuhku dengan pedang itu. Tapi kalau benar-benar berhasil... saat itu nanti ada sesuatu yang ingin kubicarakan kepadamu."
Tentang kejahatan-kejahatan Burdog.
Kalau Seira benar-benar mempercayaiku, pasti dia akan bersedia bekerja sama.
"Hari ini aku pulang dulu. Besok aku akan datang lagi. Saat itu... berikan jawabanmu."
"......."
Seira tetap diam sambil memandangi punggungku yang menjauh. Namun, kali ini ia tidak lagi mengayunkan pedangnya.
Setelah itu, aku kembali ke klinik penyembuhan, memeriksa para pasien seperti kemarin sambil terus mengumpulkan informasi mengenai Burdog.
◇◇◇
"──Biarawan sialan itu... sebenarnya dia itu apa..."
Tanpa sadar aku bergumam pelan di atas ranjang.
Selama ini memang ada biarawan maupun suster yang baik hati.
Mereka mengkhawatirkan penyakitku dan memberiku obat. Namun, tak seorang pun pernah datang langsung mengunjungiku ke rumah.
Akan tetapi, justru orang yang paling tidak sopan itu──seorang yang bahkan berbicara tanpa tata krama kepada seorang Ksatria Kuil sepertiku──mengapa dia...
"Memberikan Paralysis, menyembuhkan Paralysis... bahkan bisa mengetahui kutukanku dan berkata mampu menghilangkannya..."
Semua itu sulit dipercaya. Namun, kenyataannya Paralysis itu memang telah sembuh. Karena hasilnya benar-benar ada di depan mata, tak ada cara untuk menyangkalnya.
──Meski begitu, pria itu tetap penuh misteri.
Aku belum pernah mendengar adanya skill yang diberikan langsung oleh Dewi. Lagi pula, bagaimana dia bisa begitu yakin bahwa skill itu berasal dari Dewi?
Semakin kupikirkan, semakin mencurigakan.
Namun saat itu──hanya cahaya yang kulihat di matanya, entah kenapa, sama sekali tidak terasa seperti kebohongan.
Itu adalah cahaya yang sama dengan yang selalu kubawa selama bertarung sebagai Ksatria Kuil dengan penuh kebanggaan.
"Hanya saja... kenapa harus pantat...? Benar-benar tidak masuk akal...."
Seumur hidupku, aku belum pernah sekalipun memperlihatkan tubuhku kepada seorang pria.
Aku menjaga kesucian tubuh ini dan terus melatihnya demi menapaki jalan sebagai Ksatria Kuil.
Lalu sekarang──aku harus memperlihatkan lubang pantatku kepada pria yang baru pertama kali kutemui?
...Tidak. Mustahil. Sama sekali tidak mungkin.
Bahkan bukan sekadar memperlihatkannya. Membiarkan jari dimasukkan ke sana benar-benar sudah di luar kewarasan....
"Seira, kau masih bangun?"
"Paman Babi...."
Pada saat yang tepat, Paman Babi datang menjengukku.
Dialah orang yang menggantikan peran orang tuaku. Meski mengetahui garis keturunanku, ia tetap bersedia merawatku dengan penuh kasih.
"Kau harus mengunci pintu dengan benar. Berbahaya kalau tidak."
"Ya... tadi ada tamu."
"Hm? Tamu?"
Paman Babi membawa roti yang masih lembut serta semangkuk sup. Sambil meletakkannya di atas meja, ia menatapku dengan mata yang penuh kehangatan.
"Ya, seorang biarawan bernama Shuu."
"Anak yang kemarin itu?"
"Kau mengenalnya?"
"Kemarin dialah yang meresepkan obatmu. Tak kusangka dia sampai datang langsung untuk melihat keadaanmu."
"...Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Menurut Paman Babi... orang seperti apa dia sebenarnya?"
Paman Babi pandai menilai orang. Karena itulah aku percaya pada pendapatnya.
Ia berpikir sejenak sebelum mengernyit.
"...Perasaan yang sama seperti saat bertemu Saint-sama... tidak, bahkan lebih kuat.... Sejak pertama kali bertemu, aku sudah merasakan banyak kejanggalan.... Mungkin dia memang diberkati oleh Dewi."
"......!"
Dadaku berdebar.
Ucapan Shuu bahwa ia memperoleh skill dari Dewi kini terdengar jauh lebih meyakinkan.
"Aku memang tidak memiliki skill 〈Appraisal〉, tetapi aku sudah cukup banyak melihat manusia. Namun, orang dengan aura seperti dirinya sangat jarang kutemui."
"Benarkah...? Tapi... soal pantat itu...."
"Hm? Pantat?"
"A-ah, tidak! Lupakan saja!"
Mana mungkin aku menceritakan cara menghilangkan kutukan itu kepada Paman Babi.
Mana mungkin aku mengatakan kalau harus memasukkan jari ke lubang pantat....
"──Seira... sekarang kau bahagia?"
Tiba-tiba Paman Babi berkata sambil memandang ke kejauhan.
"Hmph... sejak Paman Babi merawatku, aku selalu bahagia. Karena aku hanya perlu memikirkan tugasku sebagai Ksatria Kuil."
"Begitu ya.... Kalau begitu, kau masih ingin hidup, bukan?"
"Tentu saja. Aku akhirnya berhasil mencapai posisi ini dan dipercaya menjaga kota ini.... Memang sekarang aku tak bisa lagi menghadapi anak buahku dengan kepala tegak, tapi... kalau penyakit aneh ini bisa sembuh...."
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu."
Bukan. Paman Babi sama sekali tidak perlu meminta maaf.
Kalau bukan karena beliau memungutku saat itu, aku takkan menjadi diriku yang sekarang. Sejak hari itu, yang kurasakan hanyalah rasa syukur.
"──Paman Babi... kalau aku... bisa hidup sedikit lebih lama... apakah Om akan senang?"
"Itu pertanyaan bodoh, Seira. Tak ada hubungannya dengan adopsi atau apa pun. Sejak awal kau sudah menjadi putriku."
"Begitu... ya...."
Dadaku terasa hangat. Air mata pun sedikit menggenang.
Dan pada saat itulah──mungkin tekadku akhirnya bulat.
Dibandingkan rasa takut akan kematian, rasa malu bukanlah apa-apa.
Aku hanya perlu bertahan selama tiga hari. Hanya itu.
Dengan begitu aku bisa tetap hidup.
...Kalau aku bisa hidup dan kembali melihat senyum Paman Babi.
Kalau begitu, tentu aku juga harus mempersiapkan diri.
"Paman Babi.... Apa Om tahu... apa itu pelumas?"
◇◇◇
──Keesokan harinya, setelah Shuu menyelesaikan hari kedua pekerjaannya di klinik penyembuhan.
Malam sebelumnya, Medina telah melaporkan kepada Iris semua informasi yang diperolehnya saat menyusup ke fasilitas bawah tanah.
Keesokan paginya, mereka berdua segera menuju Guild Petualang untuk menyampaikan laporan resmi mengenai hal tersebut.
"G-Glen tidak ada!?"
"Ya. Katanya sejak pagi-pagi sekali seluruh anggota party sudah pergi ke suatu tempat, jadi hari ini mereka tidak akan datang ke guild."
"Ini gawat...."
Setelah menyampaikan keperluan mereka kepada Rina, resepsionis berambut zaitun, mereka diberi tahu bahwa seluruh anggota Silver Blade sedang keluar dan tidak akan datang ke guild.
Mendengar itu, Iris pun mengernyit.
"Ada hal yang sangat mendesak yang harus kami laporkan kepada Guild Master. Bisakah Anda menyampaikannya?"
"Baik. Kalau ini urusan darurat, tentu tidak masalah. Mohon tunggu sebentar."
Setelah berkata demikian, Rina naik ke lantai atas untuk menghubungi Guild Master Berg.
Tak lama kemudian, Iris dan Medina dipersilakan masuk ke ruang kerja Berg, lalu menjelaskan secara rinci semua yang mereka ketahui dari penyelidikan kemarin.
"Hm... membuat kontrak dengan pedagang Kekaisaran.... Hanya itu saja sudah cukup untuk menyeret seseorang ke pengadilan inkuisisi...."
"Ya. Kami harus segera memberitahukan hal ini kepada Glen-sama dan yang lainnya."
"Benar, tapi... sekarang bahkan aku sendiri tidak tahu pasti mereka sedang berada di mana. Kalau mereka bergerak sendiri untuk menyelidiki fasilitas bawah tanah itu, mungkin mereka menuju kediaman Burdog, atau mungkin juga sedang menghubungi petualang lain.... Tapi tetap saja... ternyata penjaga kota bernama Jilbe itu...."
Yang dilaporkan Medina adalah semua yang dilihatnya saat menyusup ke fasilitas bawah tanah.
Mulai dari Burdog yang menjalin kontrak dengan pedagang Kekaisaran, hingga fakta bahwa penjaga kota Jilbe juga merupakan salah satu pengguna fasilitas tersebut.
"Penjaga yang memeriksa Silver Blade maupun kami di gerbang juga orang yang bernama Jilbe. Jadi melalui dirinya, pergerakan Glen-sama dan yang lainnya juga mungkin sudah...."
"Sial.... Aku benar-benar tidak bisa membedakan siapa yang menjadi sekutu dan siapa yang menjadi musuh di kota ini...."
Berg mengusap dahinya sambil mengacak rambutnya dengan wajah muram.
"Bagaimanapun juga, sekarang kita tidak punya pilihan selain mencari Silver Blade."
"Kalau mereka kembali ke guild, kami akan segera memberi tahu mereka."
"Kumohon."
Setelah selesai saling bertukar informasi dengan Berg, Iris dan Medina segera meninggalkan guild dan langsung mulai mencari keberadaan Glen beserta rekan-rekannya.
◇◇◇
"──Mari lakukan apa yang bisa kita lakukan."
Berkat seruan Glen itu, keempat anggota Silver Blade mulai bergerak sejak pagi-pagi buta.
Karena mereka memahami bahwa telah menjadi target setelah mengalahkan para goblin yang dikelola Burdog, mereka menghindari bertindak secara terang-terangan.
Namun, setelah memutuskan untuk membantu Shuu dan yang lainnya, mereka juga tidak bisa hanya berdiam diri.
"Maaf mengganggu sepagi ini, Bos."
"Ya ampun... padahal tempatku baru ramai menjelang sore."
Perlahan menuruni tangga dari lantai dua adalah seorang wanita dewasa yang mengenakan gaun camisole yang cukup terbuka. Ia memancarkan aura sensual, sebatang rokok terselip di bibirnya, dan tampak sedikit lesu.
Wanita itu bukanlah Guild Master.
Ia adalah pemilik kedai minuman yang menguasai berbagai informasi di kota. Karena malam hari kedainya selalu dipenuhi pelanggan sehingga sulit diajak berbicara, mereka sengaja datang pada pagi hari.
"Jadi? Kenapa kalian datang berempat?"
"Ya... ada sesuatu yang ingin kami tanyakan."
"Heh... kelihatannya urusannya cukup mendesak?"
"Kurang lebih begitu."
Glen mempercayai sang pemilik kedai, sehingga ia menceritakan semuanya dengan jujur dari awal hingga akhir.
"Hmm... Jadi maksudmu, orang itu musuh semua wanita?"
"Bisa dibilang begitu. Yang kami ketahui baru sebatas itu, tapi kurasa diam-diam dia juga melakukan banyak hal lainnya. Singkatnya, kami butuh bukti untuk menjatuhkannya."
Sang pemilik kedai mengembuskan asap rokoknya sebelum melanjutkan.
"Kalau yang aku tahu... di rumah besarnya sering diadakan pesta setiap malam. Yang bisa kubantu paling cuma mengenalkan pendamping wanita untuk pesta... tapi kalian pasti mengerti maksudku, kan?"
"Menyusup ke dalam?"
"Ya. Tapi kalau gagal kabur, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang yang menyusup. Bersiaplah menghadapi kemungkinan terburuk."
Setelah mendengar penjelasan itu, Glen memandang rekan-rekannya.
Saat ini terlalu berbahaya jika mereka bergerak sendiri-sendiri.
Namun, kalau ingin memanfaatkan informasi yang baru didapat, seseorang harus menyusup dan memperoleh bukti.
"Aku yang akan melakukannya!"
"Erina..."
"Karena Glen harus menjaga Rishia, aku tidak mungkin membiarkannya melakukan hal seperti itu."
"Erina, kau benar-benar yakin?"
Glen dan Rishia memandang Erina dengan penuh kekhawatiran.
"Ya. Tapi kalau keadaan menjadi berbahaya, tolong selamatkan aku."
"Tentu saja. Kami akan menunggu di depan rumah besar itu dengan persiapan untuk langsung menyerbu kapan saja."
Garo menunjukkan bahwa mereka telah menyiapkan rencana sebaik mungkin, seolah mendorong Erina dari belakang.
"Kalau begitu sudah diputuskan. Aku akan menyamar dengan baik sebelum berangkat."
Saat itu, sang pemilik kedai meletakkan sebuah benda kecil di atas meja panjang.
Benda itu adalah alat sihir berbentuk kristal kecil, ukurannya bahkan tak lebih besar dari sebuah anting.
"Ini...?"
"Alat sihir perekam. Kalau ingin mengumpulkan bukti, tentu harus meninggalkan rekaman yang jelas."
"Terima kasih banyak! Dengan ini aku pasti akan mendapatkan bukti kejahatan Uskup Agung Burdog!"
Erina menggenggam erat alat sihir itu, sementara matanya dipenuhi tekad.
Rencana mereka telah ditetapkan.
Sekarang mereka hanya tinggal menunggu malam tiba.
◇◇◇
"──Kita masih belum menemukannya...."
"Ya...."
Iris dan Medina terus mencari Glen dan rekan-rekannya di seluruh kota.
Namun, Kota Petualang Hares sangatlah luas. Tanpa petunjuk apa pun, mustahil menemukan seseorang dengan mudah.
"Mau bagaimana lagi. Untuk sementara mari kita pergi ke pandai besi dan mengambil senjata milik Shuu-sama dan Medina-sama."
"Baik!"
Tujuan mereka adalah Pandai Besi Naddem yang berada di distrik barat.
Begitu membuka pintu, Karta yang berambut merah muda langsung menyambut mereka dengan ceria.
"Ah! Kalian datang! Senjatanya sudah selesai! Tapi..."
Ekspresi Karta tampak sedikit tegang.
Ia masuk ke bagian dalam toko, lalu kembali bersama pemilik toko, Goddea Naddem.
"Yo, akhirnya kalian datang... Pedang panjangnya sudah kuselesaikan dengan sempurna. Tapi..."
Goddea dengan hati-hati meletakkan pedang panjang milik Shuu di atas meja. Lalu ia mengeluarkan sebuah belati yang tampak mencurigakan.
Setengah bilahnya memancarkan cahaya ungu kusam.
"Bahan ini adalah sesuatu yang pertama kali kulihat seumur hidupku, jadi mengolahnya benar-benar sulit.... Terus terang aku masih ragu apakah pantas menyerahkannya kepada anak sekecil dirimu.... Karena itu, lihatlah ini dulu."
Setelah berkata demikian, Goddea mengambil sebuah pedang tua yang sudah tidak terpakai, lalu menusukkannya dengan belati ungu itu.
Saat berikutnya──Sssshhhhhhh....
Terdengar suara seperti sesuatu yang sedang terbakar.
Busa berwarna ungu mulai bermunculan, dan dalam sekejap pedang itu meleleh lalu patah.
"H-hiiiiiii...!"
"Ini...!"
Wajah Medina langsung pucat karena ketakutan, sementara Iris menyipitkan mata dengan tajam.
"Aku menamai belati beracun yang memiliki racun panas membakar ini sebagai Belati Racun Api. Hanya dengan satu tusukan saja, senjata ini mampu merenggut nyawa lawan."
Goddea kemudian mengambil sarung khusus dan memasukkan belati itu dengan hati-hati.
"Sarungnya juga kubuat secara khusus. Bahannya sama, jadi tidak akan ikut meleleh.... Tapi, apa kau benar-benar berniat menggunakannya?"
"Aku akan menggunakannya...! Demi Shuu-sama, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar berguna!"
Awalnya, ketakutan yang tadi memenuhi mata Medina telah lenyap. Kini, yang tersisa di sana hanyalah tekad yang kuat.
"Kalau Medina-sama, pasti akan baik-baik saja. Saya yakin Anda bisa menggunakannya dengan baik."
"Y-ya!"
"Kalau begitu, terimalah."
Dengan demikian, Iris dan Medina berhasil memperoleh pedang panjang milik Shuu serta "Belati Racun Api".
◇◇◇
—Di saat yang sama ketika Silver Blade dan Iris beserta yang lainnya sedang bergerak.
Aku memohon kepada Mariel agar memberiku sedikit waktu untuk pergi memeriksa kondisi Seira di rumahnya.
Awalnya Mariel mengernyit dan berkata, "Kau sudah bertindak terlalu sesuka hati," karena aku terus mengunjunginya setiap hari.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku sebenarnya belum resmi bergabung dengan gereja faksi Burdog. Jadi, setengah bercanda aku berkata, "Kalau begitu aku keluar saja."
Sikap Mariel langsung berubah seketika.
Sepertinya, meskipun aku hanya bisa menggunakan sihir cahaya tingkat rendah, sihir penyembuhanku termasuk yang terbaik di klinik ini.
Karena itu, mereka benar-benar tidak ingin kehilangan diriku.
Yah, kalau sampai dibilang begitu, tentu saja rasanya tidak buruk.
Meski begitu, maaf saja, Mariel. Bagaimanapun juga, setelah semua kekacauan di Hares ini selesai, aku berniat meninggalkan gereja ini juga.
...Eh, tunggu dulu. Bukankah aku dibawa ke sini secara paksa!? Jadi tidak perlu pakai perasaan segala, kan!
"──Seira, aku datang."
Hari ini aku datang untuk mendengar jawabannya.
Waktu yang tersisa baginya mungkin sudah tidak banyak.
Karena itu, kupikir satu hari sudah lebih dari cukup baginya untuk mengambil keputusan.
"...Masuklah."
Suara dari balik pintu terdengar sedikit lebih lembut dibanding kemarin.
Saat kubuka pintunya, Seira menatap lurus ke arahku.
Wajahnya juga terlihat sedikit lebih sehat, bahkan pipinya tampak mulai berwarna.
Hari ini pun, untuk pertama kalinya ia mengajakku duduk di meja dan bahkan menyiapkan teh.
"Sebenarnya tidak perlu repot sampai seperti ini..."
"Sudah, minum saja."
"...Baiklah."
Seira memang selalu seperti ini sejak pertama kali kami bertemu.
Sifatnya seolah-olah hanya mengambil sisi tsun dari tsundere milik Amelia lalu memekatkannya.
Ucapan maupun tingkah lakunya penuh duri. Jujur saja, aku tidak yakin pembicaraan kami akan berjalan dengan baik.
Sruput, aku menyesap teh itu. Aromanya segar, dan rasanya sangat elegan hingga membuatku terkejut.
"...Enak sekali."
"Itu teh khusus untuk keluarga kerajaan. Mana mungkin rasanya tidak enak."
"Ngomong-ngomong, kau memang keturunan keluarga kerajaan, ya. Masih bisa mendapatkan barang seperti ini?"
"Semuanya kiriman Paman Babi. Aku sudah tidak punya hubungan apa pun lagi dengan keluarga kerajaan."
"...Hei, sebenarnya Paman Babi itu siapa? Jujur saja, dari penampilannya aku sama sekali tidak bisa menebak pekerjaannya..."
Sejak pertama kali ia datang ke klinik menggantikan Seira, aku memang penasaran.
Aku tahu namanya, tetapi sama sekali tidak tahu sebenarnya dia bekerja sebagai apa.
"Hmph. Aku tidak punya kewajiban memberitahumu."
"Begitu ya."
Jawaban yang dingin.
Yah, memang wajar seseorang tidak mau membicarakan hal-hal pribadi kepada orang yang belum dipercayainya.
Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan begitu.
"──Jadi, bagaimana keputusanmu?"
Saat isi cangkir teh tinggal setengah, akhirnya aku membuka pembicaraan.
Mungkin selama aku menikmati teh tadi, Seira juga sudah memikirkan banyak hal.
"...Aku... takut... mati..."
Tatapannya bukan tertuju kepadaku, melainkan pada pedang ksatria yang tergantung di dinding.
Ekspresi samping wajahnya terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Paman Babi adalah orang yang menyelamatkan dan membesarkanku. Aku sama sekali tidak boleh mati lebih dulu daripada beliau."
Mendengar kata-kata itu, aku sedikit mengerti perasaannya.
Aku teringat wajah kakek dan nenek yang kutinggalkan di Iasis.
—Kalau aku mati, bagaimana wajah mereka nanti?
Mungkin mereka akan menangis.
Ya... pasti begitu. Karena itu, aku juga tidak mungkin meninggal lebih dulu daripada mereka.
"Aku akhirnya berhasil... akhirnya berhasil melepaskan diri dari keluarga kerajaan dan mencapai posisi ini dengan kemampuanku sendiri sebagai Ksatria Kuil gereja... Lalu kenapa aku harus menerima nasib seperti ini...!"
Seira mengepalkan tangan yang gemetar lalu memukul pahanya sendiri.
Duk... duk...suara benturan yang berat menggema di dalam ruangan.
"Hidupku baru saja dimulai... Aku ingin menjadi lebih kuat, memberi lebih banyak kontribusi kepada gereja... Aku seharusnya membuka masa depanku dengan tanganku sendiri...!"
"Ya... benar."
Kalau dihitung berdasarkan usiaku sejak kehidupan sebelumnya, mungkin aku seumuran dengan Seira, atau sedikit lebih tua. Usia setelah lulus kuliah dan baru mulai bekerja.
Mati pada masa seperti itu benar-benar terlalu tidak adil.
"...Aku sudah tidak punya harapan untuk sembuh lagi. Tapi... aku ingin hidup..."
"Ya."
"Kau... benar-benar bisa menghapus kutukanku?"
"Iya."
"...Sungguh memalukan."
"Memang... begitu."
Cara penyembuhannya bahkan terlalu di luar akal sehat untuk diucapkan. Namun meski begitu, Seira tetap memilih untuk hidup.
"...Tapi, aku memutuskan untuk mempercayaimu."
Setelah berkata demikian, Seira menarik napas pelan.
"Tak peduli... penghinaan seperti apa yang harus kutanggung, aku tetap ingin hidup."
Mata yang tadi dipenuhi air mata kini dipenuhi tekad yang kuat. Namun pipinya memerah, seolah rasa malu dan tekad bercampur menjadi satu.
"...Kemarilah ke arah ranjang. Persiapannya sudah selesai."
"P-persiapan...?"
Aku refleks mengulang ucapannya, dan Seira mengalihkan pandangan.
"Gunakan ini..."
"Ini apa?"
Seira menyerahkan sebuah botol kecil sebesar telapak tangan.
Di dalamnya terdapat cairan bening.
"...Ini cairan perantara. Dalam ritual kuno, benda ini diperlukan untuk menghubungkan aliran mana antara pelaksana ritual dan targetnya. Berfungsi sebagai pelumas dan perlindungan."
".........."
Hei, hei, hei! Walaupun memakai istilah yang terdengar rumit, bukankah ini jelas-jelas pelumas!?
Kalau ini sama seperti pelumas di kehidupanku yang dulu, bukankah ini cairan kental yang dipakai untuk... melakukan hal semacam itu?
"Kau... berniat melakukannya tanpa ini!? A-aku... bisa terluka kalau begitu!!"
"Ah... anu... maaf."
"Kupikir kau pasti tidak akan memikirkan hal seperti ini, jadi aku menyiapkannya sendiri...!"
"S-seperti yang diduga dari Seira... hahaha..."
Wajah Seira memerah sampai ke ujung telinganya.
Saat aku mengalihkan pandangan, di atas laci samping ranjang terdapat alat panjang mirip pipet, dan di sebelahnya ada sebuah ember.
Isinya kosong. Namun bagian dalam ember itu masih basah, seolah baru saja selesai dipakai.
............Hah? Jangan-jangan yang dimaksud persiapan bukan pelumas ini...
Melainkan ia sudah membersihkan ususnya!?
Tidak mungkin...
Melihat arah tatapanku, Seira segera menambahkan penjelasan.
"Kalau... saat pengobatan berlangsung keluar sesuatu yang tidak diinginkan... bagaimana? Persiapan seperti ini... sudah sewajarnya dilakukan...!"
Tatapan Seira memang tajam. Namun karena pipinya merah padam, ia lebih terlihat sedang mati-matian menyembunyikan rasa malunya daripada sedang marah.
Entah kenapa, tatapan itu malah terlihat menggemaskan.
"Maaf... sudah membuatmu repot."
"Kaulah yang melakukan pengobatan... jadi kau tidak perlu meminta maaf... tapi setidaknya... kau mengerti perasaanku, bukan...?"
Sambil mengembuskan napas yang gemetar, Seira perlahan berlutut di atas ranjang...lalu, dengan penuh keraguan, ia mengambil posisi merangkak.
"Ah... kenapa aku harus berada dalam posisi seperti ini... sial... seharusnya tadi aku minum obat tidur saja... tidak, kalau begitu aku tidak akan tahu apa yang kau lakukan saat aku tertidur..."
Seorang diri, bergulat dengan rasa malu dan kebimbangan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, Seira perlahan mengulurkan tangan ke rok panjangnya.
Jari-jarinya mencubit kain itu, lalu perlahan mengangkatnya.
Suara lembut gesekan kain menggema di udara. Lalu, dari balik ujung roknya, tampaklah pahanya yang putih mulus bagaikan porselen.
Kulitnya memantulkan cahaya dengan lembut, menambah kesan anggun sekaligus rapuh pada dirinya.
Dengan napas yang tertahan karena ragu, ia perlahan menyentuh pakaian dalam putih bersihnya.
Tangannya yang gemetar menurunkannya hingga sekitar pahanya.
Sesaat ia berhenti seolah masih ingin melawan. Namun akhirnya, setelah memantapkan tekad, ia melepaskannya sepenuhnya.
──────Eh?
Tunggu... eh?
...Semuanya kelihatan, lho...
Bukan cuma bagian yang dimaksud, tapi semuanya benar-benar terlihat!?
"C-cepat lakukan... kalau terus begini... rasanya aku akan kehilangan akal sehat..."
"I-iya...!"
Yang terlihat dari posisi merangkak itu adalah bokong Seira, anusnya... dan bagian tubuhnya yang paling pribadi.
Bagian intimnya yang berwarna merah muda pucat, hampir sama dengan warna mata Iris, tampak jelas dalam pandanganku.
Memang, jika celananya diturunkan, wajar kalau semuanya akan terlihat.
Namun, seharusnya masih ada cara lain—misalnya berhenti di tengah, atau menutupinya dengan kain.
Mungkin Seira sudah terlalu diliputi rasa malu dan gugup hingga kehilangan kemampuan untuk berpikir tenang.
...Tetapi, mulai dari sini tidak ada lagi yang bisa ditutupi.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menggulung lengan jubah pendetaku.
Dengan tangan kiri, aku memiringkan botol hingga cairan bening mengalir perlahan.
Aku mengambilnya dengan ujung jari tangan kanan dan mengoleskannya hingga merata.
Sensasi licin menyebar di kulitku, sementara cairan itu membentuk benang-benang tipis di sela-sela jari. Cairan yang semula dingin perlahan menghangat di ujung jariku.
──Pelumasnya sudah cukup.
Aku mengembuskan napas pelan dan memantapkan tekad.
"Seira, aku sendiri tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Tapi, bertahanlah..."
"T-tolong... jangan bicara lagi... Hanya karena kau melihatku seperti ini saja, rasanya jantungku sudah mau meledak...!"
Aku perlahan mengulurkan tangan kiri, menopang bokong Seira yang kecil namun indah bentuknya.
Jari tangan kananku bersiap perlahan.
Telunjuk yang telah dilumuri cairan pelumas itu memantulkan cahaya, lalu perlahan bergerak menuju bagian yang harus diterapi.
"──〈Complete Uncurse〉."
Skill itu kuaktifkan. Telunjukku yang diselimuti cahaya putih lembut mulai menjalankan proses pengobatan.
"Hi... higiiiiiiiiiiiih!?"
Saat itu juga, Seira mengeluarkan jeritan yang nyaris tak terdengar seperti suara manusia.
Pinggangnya tersentak, kedua tangannya mencengkeram erat seprai. Rasa tegang dan malu bercampur menjadi satu, tampak jelas dari seluruh tubuhnya.
Berkat proses pembersihan sebelumnya dan pelumas yang digunakan, meskipun otot-ototnya masih menegang karena tekanan, proses terapi dapat dilakukan dengan jauh lebih lancar daripada yang diduga.
Panas tubuh dari dalam terasa jelas, dan getaran halus akibat kontraksi otot dapat kurasakan melalui ujung jariku.
Sejujurnya, jika kukatakan aku sama sekali tidak terusik oleh situasi menangani seseorang secantik dirinya, itu tentu bohong.
Namun, ini adalah pengobatan yang menyangkut hidup dan matinya. Aku tidak boleh menganggapnya sebagai hal lain. Fokusku hanya satu: melepaskan kutukannya.
"A-aku... ingin mati..."
Dari mulut seseorang yang begitu ingin tetap hidup, justru keluar kata-kata yang bertolak belakang.
Penghinaan karena harus menjalani prosedur seperti ini di hadapan seseorang yang baru dikenalnya dua hari lalu—mungkin merupakan salah satu pengalaman paling memalukan dalam hidupnya.
Namun, pengobatan ini tidak selesai hanya dengan memulai prosedurnya.
—Selama tiga hari, terapi harus dilakukan dengan memberikan stimulasi secara hati-hati pada area yang menjadi media kutukan.
Itulah seluruh rangkaian yang diperlukan untuk menghapus sepenuhnya Bleeding Curse.
Karena itu, aku melanjutkan prosedur sesuai petunjuk skill, dengan hati-hati menggerakkan ujung jariku untuk memastikan efek pelepasan kutukan bekerja sebagaimana mestinya.
"Fuungiiiiiiih!?"
Jeritan Seira yang kali ini bahkan lebih keras daripada sebelumnya bergema ke seluruh ruangan.
◇◇◇
──Begitu jari itu masuk, aku langsung mengerti.
Skill miliknya memang benar-benar nyata.
Aku bisa merasakan dengan jelas kekuatan sihir mengalir ke dalam tubuhku melalui proses pengobatan itu.
Hangat, sekaligus dipenuhi kekuatan suci... karena itulah ucapan Paman Babi terasa semakin masuk akal.
Jadi, inikah kekuatan seseorang yang diberkati oleh Dewi...?
Gerakan tangannya terus melanjutkan proses terapi sesuai skill yang digunakan.
Sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tak mampu menahan suaraku. Rasanya seperti bagian tubuh yang seharusnya tak pernah disentuh kini sedang menerima perlakuan itu.
"Fu... ngg...!? Nngh...!? Ugh...!?"
Meski berusaha menahannya, suaraku tetap lolos.
Aku tak pernah membayangkan suara seperti ini bisa keluar dari mulutku sendiri.
Suara yang bergetar dari tenggorokan itu bukanlah jeritan ataupun penolakan. Melainkan suara yang keluar tanpa bisa kukendalikan akibat rangsangan yang terlalu kuat.
Aku ingin menghentikannya. Namun tubuhku tidak menurut. Seolah ada sesuatu di dalam kepalaku yang terputus, dan kesadaranku perlahan memudar.
Tubuhku sudah tidak lagi berada dalam kendaliku.
"B-bunuh saja aku...! Ugh...!? Guh... nghhh...!?"
Aku bisa merasakan otot-ototku berkontraksi mengikuti jalannya pengobatan.
Sejujurnya, kalau saja aku tidak membersihkan tubuhku sebelumnya, mungkin situasinya akan jauh lebih memalukan.
Bukankah tadi aku berkata ingin hidup?
Namun apa yang sedang kualami sekarang...benar-benar terasa seperti neraka di dunia.
Rasa malu, sensasi yang asing, dan rasa tidak nyaman bercampur menjadi satu. Setiap kali bernapas, air mata terus mengalir.
Seperti apa ekspresi pria itu sekarang?
Dari posisiku, aku tidak bisa melihat wajahnya. Yang bisa kurasakan hanyalah tatapan hangat dari belakangku.
Kalau saja dia sedang menyunggingkan senyum yang merendahkan, berarti aku telah mempercayakan bagian tubuhku yang paling penting kepada orang yang salah.
Perlahan, bagian dalam perutku mulai terasa hangat.
Awalnya memang hanya sensasi dari proses pengobatan.
Namun entah sejak kapan, rasa hangat itu menyebar hingga ke perut bagian bawah, seakan melarutkan seluruh tubuhku dari dalam.
Kenapa...kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini?
Tidak... yang lebih penting...
Mengapa aku sampai melepaskan pakaian dalamku?
Di sudut kesadaranku, barulah aku menyadari kenyataan itu.
Saat ini, bukan hanya bagian yang sedang diterapi, tetapi bahkan bagian tubuhku yang paling pribadi pun terbuka di hadapannya.
"Ugh!? Ngh!? Fuh!? Nng!? Ogh!?"
Namun pengobatan sudah dimulai, dan tidak mungkin dihentikan.
Yang keluar dari mulutku hanyalah suara-suara yang bahkan tak lagi membentuk kata.
Perlahan, rasa panas di perut bagian bawah semakin kuat.
Rasa itu terus memuncak, hingga akhirnya memenuhi pikiranku dengan warna putih.
Entah mengapa, sensasi dari proses pengobatan itu mulai terasa nyaman. Padahal seharusnya tidak mungkin. Namun tubuhku merasakannya seperti itu.
Aku adalah Ksatria Kuil yang mengabdi kepada Tuhan.
Seseorang yang telah mengucapkan sumpah suci seharusnya tidak boleh menyerah hanya karena hal seperti ini.
Tapi... tapi...
Mana mungkin aku sanggup menahannya──
"Unggiiiiiiiih!?"
Detik berikutnya, sensasi bagaikan aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhku, disusul gelombang kenikmatan yang menyebar ke sekujur badan.
Kesadaranku perlahan tenggelam dalam sensasi itu, tenaga di tubuhku lenyap, dan akhirnya pandanganku menggelap.
◇◇◇
Pengobatan Seira memakan waktu satu jam.
Selama satu jam penuh, proses terapi itu terus dilakukan. Kini Seira terbaring tengkurap dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Di atas seprai tampak bekas-bekas cairan yang menjadi sisa dari proses pengobatan.
Jejak lembap masih terlihat dari pinggul hingga pahanya, sementara hawa hangat dan lembap masih samar-samar memenuhi ruangan.
Dan semua ini masih harus diulangi selama dua hari lagi.
Dibandingkan saat menangani Kutukan Nafsu, waktu yang dibutuhkan kali ini tiga kali lebih lama. Tampaknya kutukan yang berkaitan dengan kematian memang membutuhkan proses yang jauh lebih berat.
Saat itu juga, untuk pertama kalinya aku merasakan tenagaku benar-benar terkuras.
Rupanya, sama seperti sihir, penggunaan skill juga menghabiskan mana dalam jumlah besar. Tubuhku terasa sangat berat, dan kepalaku mulai pusing.
Bukan sampai benar-benar kehabisan tenaga, tetapi mana di tubuhku jelas telah banyak terkuras, dan rasa lelah mulai menguasai seluruh tubuhku.
Meski begitu, aku masih bisa berdiri. Mungkin berkat latihan yang kulalui selama tinggal di Iasis.
"Kalau dibiarkan begini tidak baik... setidaknya kupakaikan pakaianmu dulu, ya..."
Aku berbicara pelan kepada Seira yang masih tidak sadarkan diri.
Aku mengenakan kembali pakaian yang tadi dilepasnya, lalu membaringkannya telentang dan memindahkan kepalanya ke atas bantal agar ia bisa beristirahat dengan nyaman.
"...Nn... nngh..."
Sekitar dua puluh menit kemudian. Seira perlahan membuka matanya.
"Seira, kerja bagus. Untuk hari ini, pengobatannya selesai dulu."
"A... u... ah..."
Begitu mendengar suaraku, pandangannya mengarah kepadaku. Sepertinya ia langsung teringat apa yang baru saja terjadi hingga wajahnya memerah seketika.
"...Aku hanya ingin memastikan. Besok kau masih sanggup melanjutkannya, kan?"
"S-setelah sampai sejauh ini... mana mungkin aku berhenti di tengah jalan...!"
"Aku tetap harus memastikan keputusanmu."
"Gh... kau... setelah mempermalukanku sampai sejauh itu... bagaimana bisa kau tetap setenang itu!?"
Seira menatapku seolah menyalahkanku, tetapi jawabannya hanya satu.
"Aku bukan melakukan ini karena iseng. Aku sungguh-sungguh ingin menghapus kutukanmu. Jadi wajar kalau aku tetap tenang, bukan?"
"Kuh... sial... kalau saja kau seorang sesat, sudah kutebas habis kau..."
"Kalau begitu kutukannya tidak akan bisa dihapus."
"Itulah yang membuatku kesal! Ah... mulai sekarang bagaimana aku harus menjalani hidupku..."
Seiring berjalannya waktu, wajah Seira yang semerah tomat perlahan kembali tenang.
Setelah memastikan ia sudah sadar sepenuhnya, aku berdiri dan berjalan keluar menuju pintu depan.
"──Terima... kasih."
"Hm?"
Dari belakang, kudengar suara Seira yang lirih.
"A-aku hanya bilang... sampai bertemu besok! Jangan sampai kau terlambat!"
"Aku tahu. Kalau begitu, besok datang lagi pada jam yang sama, ya."
"Iya..."
Sambil menggenggam erat ujung roknya, Seira memandangku ketika aku meninggalkan rumahnya.




Post a Comment