NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V2 Chapter 7

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 7

Dungeon Break

"—Yang Mulia Burdog. Tampaknya para Ksatria Kuil mulai bergerak. Apa yang akan Anda lakukan?"


"...Sial."


Saat menerima laporan dari pria berjubah hitam—mata-mata Kekaisaran bernama Samuel—di ruang kerjanya, Burdog akhirnya menyadari bahwa dirinya telah terpojok.


Ksatria Kuil adalah organisasi yang paling tidak boleh dijadikan musuh di Kerajaan.


Jumlah mereka, keimanan mereka, serta kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh mereka yang terpilih menjadi Ksatria Kuil.


Konon, kemampuan tempur masing-masing dari mereka bahkan melampaui para Ksatria Kerajaan.


"Di mana sebenarnya semuanya mulai melenceng...? Padahal beberapa hari yang lalu semuanya masih berjalan sempurna...."


"Ada insiden ketika Dorothea-sama bertarung di depan kediaman Anda. Kemungkinan besar, sesuatu terjadi di sana."


"Memang ada laporan tentang penyusup. Namun tidak ada jejak yang tertinggal.... Hanya karena satu buku pembukuan yang hilang, mustahil para Ksatria Kuil akan bergerak."


Burdog menggertakkan giginya lalu menghantam meja dengan kepalan tangan.


Suara benturan yang keras memecah kesunyian ruangan.


Dia tidak bisa membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Jika diadili sebagai penyimpang, hampir bisa dipastikan ia akan dinyatakan bersalah.


—Namun, itu hanya jika ada bukti.


"Samuel. Selama ini kau telah bekerja dengan sangat baik. Namun... sepertinya aku tidak punya pilihan selain mengatur ulang kota ini."


"...Maksud Anda, menggunakan artefak sihir itu?"


"Benar. Tidak ada pilihan lain. Aku akan menghapus semua bukti, lalu bangkit kembali dengan tetap mempertahankan kedudukanku."


"Saya mengerti. Agak disayangkan memang."


"—Terima kasih atas semua kerja samamu selama ini."


Mendengar ucapan Burdog, Samuel membungkuk pelan, mengenakan tudung hitamnya, lalu meninggalkan ruangan. Namun, setelah berdiri membelakangi pintu, ia tersenyum tipis.


"Sudah waktunya, ya.... Padahal aku sudah bersusah payah bersenang-senang di tempat ini. Manusia memang benar-benar makhluk yang sulit dipahami."


Detik berikutnya, udara bergetar dan sosok Samuel menghilang.


Tidak—sesuatu yang tadi bernama Samuel itu, dengan senyum penuh keberanian, menghilang ke balik kegelapan seolah sedang mencari tempat bermain yang baru.


◇◇◇


"—Mariel, terima kasih atas semua bantuanmu."


"...Sampai sekarang pun, aku masih berharap kau tetap bekerja di sini."


Pada awalnya, Mariel yang setengah memaksaku bekerja di klinik itu. Aku menerimanya demi mengumpulkan informasi.


Namun kini, tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap tinggal di sana.


Akhirnya aku berhasil meluangkan waktu untuk bertemu Guild Master yang namanya terdengar seperti hamburger.


Dari mulutnya, aku mendengar bahwa Operasi Pemurnian akan segera dilaksanakan. Dari penjelasan yang kudengar bersama Glen dan yang lainnya, peran kami tidaklah besar.


—Namun bukan berarti kami tidak punya tugas.


Di balik layar masih ada Dorothea, iblis yang bergerak diam-diam.


Sekalipun para Ksatria Kuil adalah pasukan elit, melawan lawan seperti itu tentu bukan perkara mudah.


Karena itulah kami harus bersiap.


Aku yakin target berikutnya tetap Glen dan teman-temannya. Jika kami turun ke garis depan, kami pasti akan bertemu dengannya.


Kalau begitu, yang harus kulakukan hanyalah bertarung bersama mereka dan menghadapi Dorothea secara langsung.


Aku sama sekali tidak menceritakan soal Burdog kepada Mariel. Mengingat faksi tempatnya berada, tentu ia tidak akan mudah mempercayai cerita seperti itu.


Aku tidak tahu apa yang akan ia pikirkan setelah semua kejadian ini berakhir.


Namun aku yakin—Mariel akan tetap berjalan di jalannya sebagai seorang rohaniwan, berpegang teguh pada keyakinannya sendiri.


Begitulah, hari pelaksanaan Operasi Pemurnian pun tiba.


—Setidaknya, memang seharusnya begitu.


◇◇◇


Hari pelaksanaan Operasi Pemurnian—


Pada sore hari itu.


Sekitar seratus Ksatria Kuil yang bertugas di Hares mengambil senjata mereka dan mulai bergerak untuk mengepung seluruh fasilitas serta kediaman milik Burdog secara serentak.


Namun pada saat itu juga, lonceng emas yang tergantung di puncak Balai Kota berdentang keras.


GONG! GONG! GONG!


Suara itu mengguncang seluruh kota.


Penduduk kebingungan mendengar alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi, sementara jalanan dipenuhi kegaduhan.


Tak seorang pun tahu apa yang sedang terjadi.


Yang pasti hanya satu—


Sepanjang sejarah, lonceng itu baru pernah dibunyikan satu kali.


◇◇◇


—Beberapa saat sebelum lonceng berbunyi, sebuah party petualang peringkat C berlari memasuki Guild Petualang dengan wajah pucat.


"Guild Master ada!? Gawat! Monster dari dungeon mulai meluap keluar!!"


Teriakan sang pemimpin menggema di seluruh guild.


Dalam sekejap, para resepsionis maupun para petualang serentak berdiri. Suasana langsung berubah tegang.


"Jumlahnya... paling sedikit sepuluh ribu! Bahkan lebih banyak daripada jumlah penduduk kota ini!!"


—Kota Petualang Hares.


Alasan kota ini disebut Kota Petualang bukanlah karena jumlah petualangnya banyak.


Melainkan karena di sebelah barat kota terdapat dungeon berbentuk gua terbesar di seluruh Kerajaan.


◇◇◇


"—Apa yang sebenarnya terjadi!?"


Aku, Iris, Medina, serta para anggota Silver Blade yang sedang menunggu di Guild Petualang.


Saat itulah seorang petualang berlari masuk dengan wajah pucat dan berteriak cukup keras agar semua orang mendengarnya.


"—Dungeon Break...?"


Glen bergumam dengan napas tertahan.


"Ti-tidak mungkin...! Dungeon Break terakhir kali terjadi puluhan tahun yang lalu!"


"Waktu kemunculannya... jangan-jangan...."


"Uskup Agung Burdog yang melakukannya? Tapi sekalipun benar, bagaimana mungkin dia bisa menyebabkan fenomena seperti itu...?"


Ucapan Garo dan Erina membuat semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sulit untuk tidak mencurigai Burdog. Namun hal itu terasa terlalu tidak masuk akal. Meski begitu, waktunya terlalu tepat untuk dianggap sekadar kebetulan.


"Ngomong-ngomong, ternyata memang ada dungeon di kota ini ya...."


"Benar. Alasan Hares disebut Kota Petualang adalah karena di sebelah barat terdapat dungeon berbentuk gua terbesar di Kerajaan. Dungeon itu memiliki banyak lantai. Semakin dalam kau turun, semakin kuat monster yang muncul, dan semakin langka pula material yang bisa ditemukan. Para petualang masuk ke sana demi mencari semua itu."


Sambil mengangguk mendengar penjelasan Glen, konsep dungeon yang kukenal dari kehidupan sebelumnya mulai terhubung dalam pikiranku. Kurang lebih cara kerjanya sama.


"Sedangkan Dungeon Break adalah fenomena ketika monster yang seharusnya tidak pernah keluar dari dungeon tiba-tiba meluap ke luar secara bersamaan.... Setelah keluar, monster-monster itu akan mencari mangsa dan menuju pemukiman manusia."


"Artinya... kota terdekat—tempat ini yang akan diserang?"


"...Benar."


Hares akan diserang. Dan menurut laporan, jumlah monster itu melebihi sepuluh ribu.


Kemampuan 〈Complete Uncurse ・ Reverse〉 milikku hanya bekerja pada target yang bisa kulihat.


—Terus terang, mustahil menghadapi monster sebanyak itu.


"Aku pernah mendengar kalau Dungeon Break sebelumnya membuat kota ini hancur hampir separuh."


"Kota ini...?"


"Ya. Katanya butuh waktu yang sangat lama untuk membangunnya kembali. Karena itu, kali ini kita harus menghentikannya bagaimanapun caranya."


Di tengah percakapan itu, terdengar suara langkah kaki yang berlari menuruni tangga. Lalu sebuah teriakan keras menggema.


"—Dungeon Break, katamu!?"


Yang muncul dari ruang kerja adalah seorang pria berkepala botak dengan keringat bercucuran di dahinya—Guild Master, Berg.


Sepertinya Rina, sang resepsionis, telah memanggilnya.


"Guild Master!"


Petualang peringkat C yang melapor segera menghampirinya dan menjelaskan situasinya.


"Kami sedang menjelajahi lantai dua puluh lima seperti biasa. Tiba-tiba... dari lantai dua puluh enam, monster keluar seperti banjir!"


"Monster berpindah antar lantai...? Tidak mungkin. Apa struktur dungeon sudah runtuh...?"


Biasanya monster di dalam dungeon tidak pernah berpindah lantai. Fakta bahwa hal itu terjadi saja sudah merupakan keadaan yang sangat tidak normal.


"Kami terus bertarung sambil naik ke atas, tapi jumlah mereka terus bertambah sampai kami tidak sanggup lagi menahannya. Kalau begini terus, kota ini akan musnah."


"...Kenapa harus sekarang.... Namun jika ini benar-benar Dungeon Break, maka kota hanya memiliki dua pilihan—ditinggalkan... atau dipertahankan."


Suara Berg terdengar berat, tetapi tidak sedikit pun ragu.


Semua orang sudah mengetahui jawabannya.


"—Kalian semua! Siapa pun yang siap mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kota, segera menuju Gerbang Barat!!"


Perintah itu langsung membakar semangat seluruh guild.


"Shuu-sama...."


"Iris... ayo. Kita juga tidak punya pilihan selain bertarung."


Burdog maupun Dorothea memang belum selesai kami urus.


Namun saat ini itu bukan prioritas. Yang terpenting adalah memastikan kota ini tidak sampai musnah.


Kami saling bertukar pandang dengan tekad yang bulat, lalu berlari keluar dari guild bersama para petualang lainnya.


Menuju Gerbang Barat.


Tirai pertempuran telah resmi terbuka.


◇◇◇


"Kapten~, kok bisa jadi begini, sih~?"


Di depan Gerbang Barat, sebuah pasukan berbaris rapi—jumlahnya sekitar seratus orang.


Seorang wanita berambut bob pendek berwarna ungu muda berbicara dengan santai kepada wanita cantik berambut panjang biru muda yang berdiri di sampingnya.


Mereka mengenakan zirah dominan putih dengan jubah biru. Pedang ksatria yang tergantung di pinggang mereka tampak memancarkan cahaya redup.


──Ksatria Kuil.


Mereka adalah pasukan tempur suci yang bertugas menyingkirkan para bidah dan memurnikan gereja di Kota Petualang Hares.


"Sebagai pertempuran pertamaku setelah pulih dari sakit, lawan ini memang tidak bisa dibilang ringan..."


"Yah, kalau Kapten sih pasti nggak perlu dikhawatirkan~. Tapi untuk berjaga-jaga, aku kasih semangat sedikit dulu, ya~"


"...Semangat?"


"Ayo semangat, Kapteeeen~!"


"Higiiiiiiiiiiih!?!!"


Detik berikutnya, suara tepukan kering bergema, disusul jeritan wanita cantik berambut biru muda—Seira—yang menggema ke langit.


Serangan ringan yang dimaksud Wakil Kapten Riche ternyata justru membuat Seira mengeluarkan suara yang sama sekali tidak pantas terdengar di medan perang.


"A... eh? Kapten...?"


"Riche, kurang ajar kau! Beraninya seorang wakil kapten melakukan hal seperti itu!"


"I-iyaaa... siapa sangka Kapten bakal mengeluarkan suara semanis itu~..."


Dengan mata berkaca-kaca, Seira mengusap pantatnya sambil melotot ke arah Riche.


Sementara itu, Riche hanya mengangkat bahu dengan wajah canggung, sedangkan para bawahannya mati-matian menahan tawa.


"A-aku tidak butuh disemangati. Kalau kau mengulanginya lagi—kau akan kuturunkan pangkatmu."


"Eeeeh!? Jangan dong~! Kapten sewenang-wenang banget~!"


Di tengah keadaan darurat akibat Dungeon Break, percakapan itu benar-benar merusak suasana tegang.


Namun, justru pertukaran singkat itulah yang memberikan sedikit rasa lega di tengah medan perang yang mencekam.


◇◇◇


"Wah... ternyata petualang di kota ini sebanyak ini, ya..."


Saat aku menuju Gerbang Barat bersama anggota Silver Blade, ratusan petualang yang telah bersenjata lengkap sudah berkumpul di sana.


Melihat pemandangan itu, aku tanpa sadar menahan napas.


"...Andai saja saat seperti ini Penyihir Ledakan, Marie, ada di sini..."


"...Marie?"


Mendengar gumaman Rishia, aku spontan bereaksi.


"Ya, Marie. Memangnya kamu kenal?"


"A-ah, bukan... nggak kenal sih... tapi Bakuren (ledakan)? Bukan salah sebut jadi bakunyuu (dada besar), kan?"


"...Hah?"


Rishia menatapku dengan pandangan dingin. Tapi Marie yang kukenal memang berdada besar.


"Penyihir Ledakan, Marie. Dia adalah petualang peringkat A yang dulu beraktivitas di Hares sampai beberapa tahun lalu. Kabarnya, sihir apinya bahkan bisa menguapkan bijih sihir sekeras adamantite hanya dengan satu serangan."


"H-heeh..."


"Aku sangat mengagumi kehebatan dan kisah-kisahnya."


"Aku juga pernah dengar kalau setiap kali Marie-sama menggunakan sihir, akan tercium aroma seperti parfum."


Sepertinya dia memang sangat kuat sampai memiliki julukan. Bahkan Erina pun mengangguk dengan wajah bernostalgia.


"Benar. Padahal memberikan aroma pada sihir itu seharusnya mustahil, tapi katanya dia bisa melakukannya."


"N-ngomong-ngomong... nama lengkap Marie itu...?"


"Marie Amonead. Namanya mirip limun, jadi gampang diingat, kan?"


"...I-iya juga."


"Dari tadi kenapa sih kamu...?"


Marie itu ternyata memang Marie yang kukenal. Kalau nama lengkapnya juga sama, berarti sudah pasti orang yang sama.


Amelia juga pernah bilang kalau Marie dulunya seorang petualang.


Kalau Rishia tahu bahwa Marie itulah wanita yang mengambil keperjakaanku, kira-kira apa reaksinya, ya?


"──Shuu-sama, lihat ke sana."


"Hm?"


"Itu adalah para Ksatria Kuil."


Saat percakapan terhenti, Iris yang berdiri di sampingku mengarahkan pandanganku.


Di sana berdiri sebuah kelompok yang jauh lebih rapi dibanding para petualang.


Para ksatria berbaju zirah putih bersih dengan jubah biru, diselimuti cahaya suci—dan sebagian besar dari mereka adalah wanita.


"Ah... Seira."


"Sh-Shuu..."


Di antara barisan itu ada sosok berambut biru muda yang sudah sangat kukenal.


Sepertinya dia juga menyadari kehadiranku.


Saat aku hendak bertanya apakah kondisinya baik-baik saja meski baru sembuh—


"Permisi ya? Berani-beraninya Anda memanggil nama Kapten Pasukan Clover, Seira-sama, yang dijuluki Penerus Sang Pendekar Pedang, dengan begitu santainya?"


"...Pendekar Pedang? Kapten? Tunggu, otakku belum bisa mengikuti pembicaraan ini."


Kalau tidak salah, kakekku dulu memang pernah menyandang gelar Pendekar Pedang.


Kalau begitu, berarti Seira.....dia benar-benar orang yang luar biasa.


"Riche, cukup. ──Dia adalah kenalanku."


"Eeeeh!? Kenalan seorang petualang!? ...Eh? Calon Saintess!?"


──Jubah suci dan tongkat suci.


Rupanya, siapa pun yang melihat pakaian Iris bisa langsung mengetahui siapa dirinya.


"Salam sejahtera, para Ksatria Kuil. Saya Iris Carnelia."


"Apa!? Kenapa Calon Saintess bersama para petualang!?"


"Iris-sama... perkenalkan, saya Seira Clover. ...Kemungkinan besar Anda sedang mendampingi dirinya. Kurasa saya bisa memahami situasinya."


Saat Seira menundukkan kepala dengan tenang, para ksatria di sekitarnya mulai bergumam. Mungkin akhirnya mereka mengerti alasan mengapa Iris sempat menghilang dari kota.


"Seperti dugaan, Anda memang sangat bijaksana, Kapten. Dan tampaknya kondisi tubuh Anda juga sudah benar-benar pulih."


"Ya... berkat dirinya."


"Seira. Ternyata kamu memang hebat, ya."


"Hmph."


Sambil memalingkan wajah, Seira sedikit mengangkat sudut bibirnya dengan malu-malu.


Sulit dipercaya kalau hanya beberapa hari yang lalu dia masih terbaring lemah. Kini dia tampak gagah dan penuh wibawa.


Gereja dan para petualang memang saling bermusuhan. Namun kali ini bukan saatnya memikirkan itu. 


Demi melindungi kota ini, mereka tidak punya pilihan selain bertarung bersama.


"────Mereka datang."


Mendengar suara rendah seseorang, semua orang langsung memandang ke depan.


Di balik cakrawala, debu beterbangan dan bayangan yang tak terhitung jumlahnya mulai bergerak.


Mereka mendekat bagaikan gemuruh gempa.


Suasana seketika menegang. Genggaman pada gagang pedang pun semakin erat.


"Shuu-sama..."


"Ya... aku melihatnya."


Sambil mendengar suara Iris, aku mengatur napasku.


Setelah memastikan kawanan monster yang sangat besar benar-benar telah memasuki pandanganku—aku pun dengan tenang mengucapkan nama skill milikku.


"──〈Complete Uncurse ・ Reverse〉."


◇◇◇


Membantai manusia dan membumihanguskan kota—gerombolan monster itu terus maju hanya mengikuti naluri penghancuran mereka.


Arus hitam itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


──Namun, perubahan mendadak pun terjadi.


Rasanya seolah dunia berganti hanya dalam sekejap.


Monster-monster yang berbaris rapat dan menyerbu itu tiba-tiba satu per satu roboh tersungkur ke depan.


Bersamaan dengan dentuman keras yang mengguncang tanah, raungan ganas yang tadi memenuhi udara seketika lenyap.


Ada monster yang tumbang karena Paralysis, ada yang kejang-kejang akibat racun mematikan.


Bahkan ada yang berubah menjadi batu karena Membatu, atau berguling-guling kesakitan karena terkena Salah Urat Pinggang.


"A-apa yang terjadi!?"


Sambil tetap menatap garis depan, Guild Master Berg berteriak. Namun, hanya segelintir orang di tempat itu yang mengetahui penyebab fenomena tersebut.


Di antara para Ksatria Kuil pun terdengar kegemparan.


"K-Kapten... i-ini sebenarnya apa...?"


"...Aku juga tidak tahu. Tapi──"


Pandangan Seira perlahan beralih ke arah kanan.


Di sana berdiri seorang pria.


Tangan kanannya terulur pelan ke depan, sementara cincin biru muda di jari tengahnya memancarkan cahaya redup.


"Ja-jangan bilang..."


Ingatan tentang hari ketika pria itu menyelamatkan nyawanya kembali terlintas di benaknya.


Kalau dia memang memiliki kekuatan pelepas kutukan seperti itu, mungkin saja dia juga mampu menciptakan keajaiban sebesar ini—


Biasanya itu hanya khayalan yang mustahil dipercaya. Namun kini, Seira hampir yakin itulah kenyataannya.


"Heh... kau benar-benar membuatku terkejut..."


Hampir seribu monster terdiam sekaligus. Namun demikian, gerombolan berikutnya terus berdatangan dari belakang.


Sambil menginjak dan menghancurkan bangkai monster yang telah tumbang, pasukan monster tetap melanjutkan serangan.


Seira mengatur napas, lalu menggenggam pedang di pinggangnya.


Bilah pedang itu berdenting saat keluar dari sarungnya.


"Hunuskan pedang──!!"


Suara tegasnya membelah angin. Jubah putih para Ksatria Kuil berkibar saat mereka serempak mengambil posisi bertarung.


Melihat formasi mereka yang begitu indah dan rapi, para petualang tanpa sadar menahan napas.


Meskipun saling bermusuhan, tak seorang pun dapat menyangkal keindahan dan kewibawaan yang dimiliki para Ksatria Kuil.


"──Majuuuuuuu!!"


Begitu raungan Seira mengguncang medan perang, seratus Kesatria Kuil serentak menerjang gerombolan monster.


◇◇◇


Jangkauan efeknya sekitar seratus meter.


Monster-monster di barisan terdepan masih tergeletak di tanah dan nyaris tak mampu bergerak.


Konsumsi mana ternyata jauh lebih ringan daripada yang kuduga.


Sejujurnya, aku sudah siap kehilangan kesadaran setelah mengaktifkan kemampuan sebesar ini sekaligus.


Namun──Tampaknya memberikan efek status jauh lebih hemat mana dibandingkan melepaskan kutukan.


Aku masih bisa berdiri tanpa kesulitan.


"Luar biasa, Shuu-sama...!"


"Ya. Tapi──pertarungan yang sebenarnya baru dimulai."


Begitu pertempuran berubah menjadi perkelahian campur aduk, posisi musuh akan mustahil dikenali dalam sekejap.


Aku tidak bisa hanya memberikan dukungan dari belakang.


Aku sendiri harus maju ke garis depan.


"Kalian semua! Jangan kalah sama Ksatria Kuil!! Tunjukkan harga diri para petualang!!"


Raungan Berg menggema di seluruh medan perang.


Hari ini ia mengenakan zirah lengkap dan memegang kapak perang raksasa setinggi tubuhnya.


Gelar mantan petualang peringkat A jelas bukan sekadar nama. Aura seorang veteran perang terpancar jelas dari dirinya.


"Ayoooo majuuuuuuu!!"


"""OOOOOOOOOOOOOOH!!"""


Dengan teriakan Berg sebagai aba-aba, ratusan petualang serempak menyerbu.


Tanah berguncang. Debu beterbangan.


Aku, begitu pula Glen dan yang lainnya, ikut berteriak sambil berlari menuju garis depan.


◇◇◇


"Hm? Ada apa ini? Monster-monster itu tiba-tiba berjatuhan begitu saja."


Pada saat yang sama—di barisan ketiga gerombolan monster yang meluap keluar dari dungeon.


Tersembunyi di antara mereka adalah seorang wanita berkulit ungu muda, berambut putih bersih, dengan dua tanduk menjulang di kepalanya—Dorothea, seorang iblis.


Sambil melangkah santai, ia mengamati keadaan di pihak manusia.


"Aku dengar terjadi Dungeon Break, jadi aku datang untuk melihat... tapi manusia itu melakukan apa sebenarnya?"


Jarak mereka masih cukup jauh. Namun monster-monster yang berlari di barisan depan mendadak roboh secara bersamaan.


Mereka tampaknya masih sadar, tetapi ada yang mulutnya berbusa, ada pula yang kejang-kejang.


Jelas mereka terkena semacam efek status abnormal.


"...Bisa menyebarkan efek status dari jarak sejauh ini? Heh, menarik juga. Tapi──"


Dorothea menyunggingkan senyum menggoda sambil memicingkan mata seakan menghirup udara.


Sepasang matanya dengan tepat menangkap sosok manusia yang berada jauh di kejauhan.


"...Ketemu."


Begitu menemukan targetnya, tubuhnya melesat lincah.


Meninggalkan jejak cahaya hitam, ia meluncur lurus menuju sasarannya.


◇◇◇


Serangan dan sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya terus bermunculan silih berganti.


Begitu bentrokan langsung dengan gerombolan monster dimulai, teriakan perang para petualang menggema di mana-mana.


"〈Flare Bomb〉!!"


"〈Tornado〉!"


"〈Rock Lance〉!!"


"〈Ice Wall〉!"


Api, angin, tanah, dan es—segala macam sihir menghiasi medan perang, sementara para petualang bersenjata menebas kepala monster satu demi satu dengan kecepatan luar biasa.


Namun, di antara mereka ada satu kelompok yang jelas bertarung dengan cara berbeda.


──Ksatria Kuil.


"Iris, itu... bagaimana bisa begitu?"


Sambil membelah musuh dengan longsword, aku bertanya kepada Iris yang berada di dekatku.


Para Kesatria Kuil yang dipimpin Seira sama sekali tidak melakukan pertahanan.


Cara mereka mengayunkan pedang memang indah, tetapi mereka bertarung layaknya petinju tanpa penjagaan.


Benar-benar tidak masuk akal.


"──Mereka yang terpilih menjadi Ksatria Kuil akan dianugerahi teknik rahasia gereja."


"Teknik...?"


Aku teringat teknik yang pernah digunakan Glen.


Bukan memanifestasikan mana seperti sihir, melainkan menyelimuti tubuh atau senjata dengan mana.


Teknik itu.


"Benar. Namanya 〈Holy Armor〉. Tolong perhatikan baik-baik."


Mengikuti perkataan Iris, aku mengamati pertempuran para Ksatria Kuil.


"Haaah──!!"


Setiap kali pedang yang diselimuti cahaya suci berkilat, kepala monster langsung melayang. Namun ada juga yang menerima serangan balasan.


"Serangan selemah itu──jangan harap bisa melukai tubuhku!!"


"Ah..."


Saat itulah aku mengerti.


Walaupun terluka, luka mereka langsung menutup. Kulit mereka beregenerasi bahkan sebelum darah sempat mengalir.


"...Pemulihan otomatis super cepat. Mereka langsung sembuh sejak detik serangan mengenainya?"


"Ya. Itulah efek 〈Holy Armor〉──kemampuan khusus yang hanya diizinkan bagi Ksatria Kuil."


"Curang banget..."


"Tentu saja efeknya akan hilang jika mana mereka habis... namun untuk seseorang sekuat Seira-sama, mana itu tidak akan habis bahkan dalam pertempuran panjang."


"...Benar-benar monster."


Di bawah cahaya medan perang, rambut biru muda Seira berkibar anggun. Kecepatan dan kekuatannya jauh melampaui Ksatria Kuil lainnya.


Bahkan tanpa 〈Holy Armor〉, ia sudah tampak sangat mendominasi.


──Namun, jalannya pertempuran bisa berubah hanya karena kemunculan satu monster saja.


"O-Orc King!! Guaaaah!?"


Jeritan seorang petualang terdengar.


Sesaat kemudian, gada raksasa meraung di udara dan dengan mudah menghantam tubuh pria itu hingga terpental.


Orc King. Kalau dibandingkan dengan Goblin Queen, mana yang lebih kuat, ya?


Apa pun jawabannya, melihat kepanikan para petualang, jelas monster itu adalah ancaman besar.


"Iris! Aku akan ke sana──"


Baru saja hendak berteriak, suara lain terdengar.


"Sekarang ada Goblin King, Hell Hound... bahkan Griffin juga!?"


Medan perang berubah seketika.


Di antara gerombolan monster yang tadinya hanya dipenuhi monster kecil dan menengah, kini satu demi satu monster berukuran besar mulai bermunculan.


"Sial... pertempurannya terlalu kacau, aku nggak bisa menentukan arah...! Bahkan 〈Complete Uncurse ・ Reverse〉 cuma bisa kupakai pada musuh yang ada tepat di depan!"


Saat aku terengah-engah—Rasa dingin tiba-tiba menjalar di sepanjang tulang punggungku.


Sebuah niat membunuh yang sangat jelas. Itu datang dari arah yang cukup jauh—dari tempat Glen dan yang lainnya berada.


Sebelum sempat berpikir, tubuhku sudah bergerak lebih dulu.


"──〈Air Boost〉!"


Dengan menggunakan sihir angin untuk menyelimuti tubuhku dengan mana, aku mempercepat gerakanku sekaligus.


Sambil menerbangkan debu, aku berlari secepat kilat menuju Glen.


"──Matilah!!"


Sesosok bayangan hitam menerjang dari belakang.


Tepat saat cakar tajam itu hendak membelah punggung Glen, aku menyErinap ke tengah dan menahannya dengan longsword.


"Shuu...!"


"Ada apa ini...? Padahal aku berniat menghabisimu dalam satu serangan, tapi malah kau ganggu."


"Jadi kaulah iblis itu. Hah!"


Aku mengerahkan tenaga pada longsword-ku dan mendorong balik cakar hitamnya.


Dorothea melompat ringan ke belakang lalu mendarat dengan anggun di tanah.


"Kau menyelamatkanku, Shuu."


"Ya. ──Serahkan yang itu padaku."


"...Kau yakin?"


Di tengah pertempuran kacau seperti ini, memilih bertarung satu lawan satu adalah tindakan nekat.


Namun iblis itu jelas berada di tingkat yang berbeda dibanding monster lainnya, dan sejak awal memang itulah niatku.


Kalau begitu──aku hanya perlu melakukannya.


"Hei, kaulah Dorothea?"


"Kau... siapa?"


"Hanya seorang Priest biasa."


"Hm... pekerjaan manusia seperti apa pun tidak penting bagiku."


Seperti dugaanku, berbicara dengannya memang tidak ada gunanya. Namun, ada satu hal yang ingin kukatakan.


"Beraninya kau... melukai teman-temanku."


"Oh? Jadi kau datang untuk membalas dendam demi teman-temanmu?"


"Kurang lebih begitu."


"Hehe... tapi aku juga tidak akan puas kalau tidak membalas. Aku harus membalas karena kau sudah merusak cakar indahku ini!!"


Dalam sekejap, sosok Dorothea menghilang.


Berbeda dengan 〈Mirage〉 milik Glen. Ini murni kecepatan—cukup untuk membuatnya sulit diikuti dengan mata.


"Mati kau!!"


"──Hanya segitu?"


"Guuuuuh!?!!"


Dorothea muncul dari sisi kiriku dan mengayunkan cakarnya ke arah leherku. 


Namun, aku bisa melihatnya. Kalau hanya bergerak cepat tanpa teknik sihir, mataku masih mampu mengikutinya.


──Tidak mungkin aku kalah dari seseorang yang lebih lambat daripada kakekku.


"Cakarku... patah lagi!?!!"


Tebasanku kembali mematahkan cakar hitam Dorothea.


Wajahnya berubah murka, seolah-olah permata berharganya baru saja dihancurkan.


"Bajingan... kau... kau... kauuuuu!!"


"Ada apa? Mau kubuat semua sisa cakarmu patah juga?"


Rupanya ejekan itu benar-benar membuatnya naik pitam.


"──Kita pindah."


"Hah?"


"Kita pindah tempat...!!"


Sesaat setelah Dorothea mengucapkannya, pusaran hitam muncul di bawah kakiku. Ruang di sekitarku terdistorsi, seolah tanah sedang menelanku.


"Shuu!"


"Shuu-sama!"


Suara Glen dan Iris terdengar semakin jauh.


Aku hanya menoleh sekilas ke belakang lalu berkata pelan,


"──Sisanya kuserahkan pada kalian."


Kemudian lubang hitam itu menelan aku dan Dorothea.


Penglihatanku diselimuti kegelapan.


Suara-suara pun menghilang.


Saat aku membuka mata lagi──aku sudah berada di tempat yang sama sekali berbeda. Ketika menoleh ke belakang, tampak sebuah gerbang raksasa.


Sepertinya aku dipindahkan ke salah satu gerbang kota selain Gerbang Barat.


"A-a-apa!? Kenapa ada manusia di sini!?"


Sebuah suara melengking terdengar.


Saat kuarahkan pandangan, seorang pria berambut merah panjang berdiri di dekat kereta kuda mewah dan menoleh ke arah kami.


"Oh? Bukankah ini Burdog."


"D-Dorothea-sama!!"


Pria berambut merah yang terkejut melihatku segera menyadari keberadaan Dorothea di dekatku, lalu wajahnya langsung berseri.


Jadi dialah──Uskup Agung Undil Burdog.


Sama seperti yang pernah diceritakan biarawan di klinik penyembuhan, dia memang pria yang tampan.


Dan melihat keadaannya sekarang, jelas sekali ia sedang memuat barang-barangnya ke kereta untuk melarikan diri dari kota.


"Barangmu banyak sekali. Mau pergi ke mana?"


"Yah... begitulah... ada beberapa urusan... jadi saya harus meninggalkan kota ini untuk sementara..."


"Hm... terserah saja."


Di hadapan Dorothea, Burdog tersenyum menjilat sambil bercucuran keringat.


Melihat sikapnya, hubungan kerja sama yang pernah diceritakan Medina—demi memasok energi kehidupan—tampaknya memang benar.


"──Jadi kau Burdog?"


"A-Anda... siapa sebenarnya?"


Kalau tiba-tiba ada orang asing muncul, wajar kalau ia mengira orang itu adalah pengejarnya.


"Aku tahu semua kejahatan yang telah kau lakukan. Karena itulah aku mencoba membuat Ksatria Kuil menangkapmu."


"Ah... jadi kau rupanya...! Orang yang menghancurkan seluruh bisnis yang sudah kubangun selama bertahun-tahun...!"


Burdog menggerutu penuh kebencian sambil naik ke kursi kusir. Rupanya ia tidak menyewa kusir. Ia berniat kabur sendirian.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"


"Yang tidak memahami situasi justru Anda... Dorothea-sama, orang ini..."


"Hmph. Aku tidak mau diperintah oleh pengecut yang hanya ingin lari. Lagi pula, dia memang mangsaku."


"S-syukurlah kalau begitu..."


Burdog mengembuskan napas lega. Namun, dia terlalu cepat merasa aman.


──〈Complete Uncurse ・ Reverse〉


"!? C-cincinnya...!"


Salah satu cincin yang dikenakan Burdog memancarkan cahaya sesaat sebelum hancur berkeping-keping.


Efek status tidak mempan...?


Jadi sebagai gantinya, alat sihir itu yang hancur?


"Jangan lengah!!"


"Ugh!"


Dorothea langsung menutup jarak dalam sekejap.


Aku menahan cakar hitamnya dengan longsword lalu mendorongnya mundur.


Sebenarnya aku juga sudah mencoba memberikan efek status pada Dorothea. Namun, sama sekali tidak berhasil.


Monster di Iasis pun ada yang kebal terhadap efek status.


Kalau begitu, hanya ada satu cara.


Mengalahkannya secara langsung.


"──〈Air Slash〉!"


Aku melepaskan bilah angin. Namun Dorothea menghindarinya dengan selisih setipis kertas.


Berapa kali pun kulepaskan, semuanya tetap berhasil dihindarinya. 


Sementara itu, di belakangnya, kereta kuda terus menjauh.


Burdog sedang berusaha melarikan diri. Aku tak bisa mengejarnya dan hanya bisa menggertakkan gigi.


──Saat itulah.


Kereta kuda Burdog mendadak berhenti total.


Akibat hentakan itu, Burdog sendiri terlempar dari kursi kusir dan berguling di tanah.


Ketika ia bangkit sambil meringis kesakitan, seseorang sudah berdiri di hadapannya.


Aku mengenal pria itu. Pria berwajah babi itu.


Namun penampilannya sekarang sama sekali berbeda dari biasanya yang selalu tampak berantakan.


◇◇◇


"Hehe... hahahaha! Memang sayang sekali harus meninggalkan kota ini, tapi tidak bisa dihindari. Saat aku kembali nanti, kira-kira sejauh mana kota ini sudah pulih, ya..."


Tanpa sekali pun menoleh ke belakang ke arah Dorothea yang mulai bertarung dengan sosok misterius itu, Burdog terus memacu kereta kudanya.


Derap kaki kuda berdentang ringan di jalan berbatu.


"Pria itu... menghancurkan cincin yang kupakai untuk berkali-kali menggantikan efek status yang kuterima... Entah apa yang dia lakukan, tapi kurasa aku tak akan berurusan dengannya lagi."


Burdog tersenyum tipis sambil menggenggam erat tali kekang.


"────Hm?"


Benar-benar nyaris saja. 


Di jalur yang akan dilalui kereta, berdiri sesosok manusia.


Seharusnya kereta tidak perlu berhenti. 


Namun tiba-tiba kudanya meringkik nyaring dan berhenti mendadak, bahkan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi tepat di depan orang itu.


"A-apa ini!?"


Karena momentum, Burdog terlempar ke depan dari kursi kusir dan berguling di tanah.


"Ugh... a-apa yang terja…".


Sambil bangkit berdiri dan menepuk-nepuk debu di pakaiannya, Burdog memandang orang yang berdiri tepat di hadapannya.


"──Uskup Agung Undil Burdog."


Suara yang penuh wibawa dan sangat dikenalnya.


"A-a-a-Anda...!"


Hidung bulat yang khas dan pipi yang berisi. Wajah yang menyerupai babi—mustahil ia salah mengenalinya.


"...Kardinal Alaistar Landrace...!"


Dalam hierarki Gereja Mishia, Burdog adalah seorang uskup agung, salah satu jabatan tertinggi.


Namun—Kardinal berada jauh di atasnya. Hanya ada empat orang di seluruh gereja yang memegang kedudukan setinggi itu.


Berbeda dengan Burdog yang mengenakan jubah putih, Alaistar memakai jubah merah dengan zucchetto merah di kepalanya.


Itu adalah pakaian khusus yang hanya boleh dikenakan oleh seorang kardinal.


"Sudah lama aku tidak mengenakan jubah ini. Tetap saja, rasanya sulit bergerak dengan pakaian seperti ini. Burdog, kau memakainya setiap hari, bukan? Sungguh rajin."


"A-aku adalah orang yang bersumpah setia kepada gereja... tentu saja itu kewajibanku..."


"Namun, kau telah mengkhianati kesetiaan itu."


Satu kalimat itu saja sudah membuat tenggorokan Burdog tercekat.


(...Dia tahu. Dia tahu semuanya...!)


"Apakah kau punya pembelaan?"


"A-aku... tidak melakukan apa pun."


"Berbohong dalam sidang Inkuisisi Sesat hanya akan memperberat dosamu."


"M-maaf, tetapi saya tidak melakukan sesuatu yang membuat saya harus menjalani Inkuisisi Sesat..."


Perlahan, Alaistar mengeluarkan sebuah buku dari balik jubahnya.


"Itu...!"


"Hm. Seperti yang kuduga, Burdog. Rupanya kau tahu apa ini."


"Ti-tidak..."


"Berarti kau mengerti."


Itu adalah sebuah kitab suci yang tebal. Namun sampulnya bukanlah kitab untuk upacara keagamaan.


Wajah Burdog memucat saat bergumam.


"Kitab suci khusus... yang meningkatkan mana penggunanya dan memperkuat sihir cahaya..."


"Hadiah langsung dari Yang Mulia Paus. Dan kegunaannya──hanya untuk pertempuran."


Melihat itu, Burdog langsung mengambil keputusan. Kalau tidak bisa melarikan diri, ia harus menyerang lebih dulu.


"Uuoooooh!! ──〈Divine Cross〉!!"


Pedang salib bercahaya muncul di langit dan menghujam Alaistar seperti sebuah batu nisan.


Tanah terkoyak dan debu beterbangan.


"B-bagaimana? Sihir cahayaku masih belum kehilangan taringnya... Bahkan Anda pun tidak mungkin keluar tanpa luka──hah?"


Saat debu menghilang...Alaistar masih berdiri di sana tanpa terluka sedikit pun.


Di depannya terbentang sebuah dinding cahaya transparan.


"Burdog. Kau terlalu sibuk mengejar bisnis hingga melupakan latihanmu."


"Kuuh..."


"Ketika kau mengangkat senjata kepadaku barusan──kau sudah mengakui dosamu. Tidak ada lagi jalan untuk lari."


Dinding cahaya itu bahkan tidak memiliki satu retakan pun.


"Aku tetaplah seorang uskup agung! Aku masih mampu menggunakan satu atau dua sihir cahaya tingkat tinggi! ──〈Judgment Ray〉!!"


"──〈Judgment Ray〉."


"Apa!?"


〈Judgment Ray〉, sihir cahaya tingkat tinggi, menembakkan rentetan sinar pemurnian dari butiran cahaya yang tersebar di langit.


Namun Alaistar, seolah telah mengetahui serangan itu sebelumnya, menggunakan sihir yang sama dan meniadakan seluruh sinar milik Burdog.


"〈Divine Cross〉."


"Gwaaaaaah!!"


Tanpa memberi kesempatan bernapas, pedang salib cahaya menembus kaki kiri Burdog tanpa ampun. Ia menjerit kesakitan dan terjatuh ke tanah.


"Hebat, kau memang mampu menggunakan sihir cahaya tingkat tinggi... tetapi hanya itu. Sihir yang sama pun, bila digunakan oleh orang yang berbeda, memiliki perbedaan kecepatan dan kekuatan bagaikan langit dan bumi. Yah, tentu saja aku juga memiliki kitab suci ini."


"Hah... hah...!"


"Kau kurang berlatih. ──Mari kita akhiri semuanya, Burdog."


Alaistar melangkah mendekat. 


Kaki Burdog yang berlumuran darah sudah tidak bisa digerakkan. Ia sadar bahwa dirinya tak mungkin kabur lagi.


(Sial... sial...! Rencanaku belum selesai...! Aku tidak mungkin berakhir di sini...!)


Wajah tampannya dipenuhi kebencian dan keputusasaan hingga berubah mengerikan. Bahkan kini wajahnya benar-benar menyerupai seekor anjing Bulldog.


(...Aku tidak punya pilihan selain menggunakannya. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa mempertahankan kewarasanku setelah memakainya... tapi daripada ditangkap Alaistar──)


"Hehe... hahahahaha!"


Tiba-tiba Burdog tertawa seperti orang gila, membuat Alaistar memicingkan mata.


"Senjata rahasia... memang seharusnya disimpan sampai saat terakhir, Kardinal Alaistar."


Di tangan Burdog terdapat sebuah bola hitam kecil.


Lalu—Tanpa ragu sedikit pun, ia menelannya.


"Guh... ugh... Aaaahhhhhh!!"


"Burdog!"


Dalam sekejap, tubuh Burdog mengalami perubahan besar.


Jubahnya robek. Cincin dan seluruh perhiasannya terpental. Dagingnya membengkak, otot-ototnya mengembang—


Dalam sekejap, tubuhnya telah berubah menjadi raksasa setinggi lebih dari lima meter.


Tak ada lagi sisa-sisa wajah tampannya. Yang terdengar hanyalah auman seekor monster buas.


"...Apa yang telah kau gunakan?"


"Gugigigi... ──〈Judgment Ray〉."


"Apa──!?"


Dengan kecepatan dan kepadatan yang jauh melampaui sebelumnya, hujan sinar cahaya menghantam Alaistar.


"Guh... mana... kekuatan mananya meningkat berkali-kali lipat... Kalau begini terus..."


Dinding pelindung yang ia ciptakan akhirnya hancur karena tak mampu menahan kekuatan dan jumlah serangan itu.


Beberapa sinar yang lolos menembus tubuh Alaistar, merobek jubahnya hingga darah mulai mengalir.


"INI... AKHIRNYA──"


Lengan raksasa Burdog yang sudah berada di depan Alaistar diayunkan turun. Tak ada waktu untuk menghindar.


"Seira..."


Putrinya masih bertarung di Gerbang Barat demi melindungi kota.


Ia masih ingin.....melihat putrinya terus tumbuh lebih jauh lagi. 


Sambil memejamkan mata, Alaistar membayangkan wajah putri tercintanya.


"Gu... gah...!"


Namun, serangan yang seharusnya mengenainya tidak pernah datang.


Saat membuka mata dan mendongak—lengan raksasa itu berhenti.


Tubuh Burdog bergetar, kejang-kejang, lalu ambruk ke tanah.


"Apa yang...?"


Alaistar mengangkat kepalanya.


Di sana berdiri sosok yang mengulurkan tangan ke arahnya—


Pria yang telah menyelamatkan putrinya.


Ia tidak mendengar suaranya. Namun entah bagaimana, rasanya kata-kata itu sampai kepadanya.


—"Demi Seira, jangan mati dulu, Paman Babi."


Lutut Alaistar gemetar saat ia perlahan berdiri kembali.


"Burdog... sekarang semuanya benar-benar berakhir. Tapi aku belum akan membiarkanmu mati."


Alaistar mengucapkan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri, lalu mengulurkan tangan ke arah Burdog yang tergeletak.


"──〈Sanctify〉."


Cahaya suci yang menyilaukan memurnikan tubuh yang telah dirasuki kekuatan iblis.


Tubuh raksasa itu perlahan menyusut hingga akhirnya kembali ke bentuk semula.


Burdog masih kejang-kejang dengan mata memutih, lalu akhirnya berhenti bergerak.


"Shuu... kau ini benar-benar..."


Alaistar kembali mengalihkan pandangannya kepada Shuu.


Namun—pada saat itu juga, Shuu menerima hantaman cakar mematikan Dorothea tepat di punggungnya yang terbuka tanpa perlindungan.


◇◇◇


──Di depan Gerbang Barat Kota Petualang Hares.


Monster-monster besar terus bermunculan tanpa henti. Bahkan untuk mengalahkan satu ekor saja sudah menguras waktu dan stamina.


Tak ada lagi waktu untuk memusatkan perhatian hanya pada monster-monster berperingkat rendah.


Para petualang dan Ksatria Kuil perlahan-lahan dipaksa mundur. Jika bahkan satu monster saja berhasil menerobos, kemungkinan Gerbang Barat akan dijebol menjadi sangat besar.


Untuk saat ini mereka masih mampu bertahan—namun, di balik gerombolan itu, masih ada ribuan monster lain yang terus bergerak.


Petualang peringkat A bukanlah sosok yang mudah ditemukan.


Berg, yang merupakan mantan petualang peringkat A, mencapai masa kejayaannya lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


Sejak saat itu, jumlah orang yang berhasil mencapai peringkat A di kota ini bahkan bisa dihitung dengan jari.


Dan sekarang, tidak ada seorang pun di kota ini yang masih memiliki kemampuan setara petualang peringkat A.


Baik dari segi kekuatan maupun jumlah, keadaan mereka jelas berada di pihak yang dirugikan.


"Kapten~, apa kita benar-benar sudah mentok, ya~?"


Sambil mengayunkan pedang ksatrianya, Riche melemparkan pertanyaan kepada Seira yang bertarung di sisinya.


"Kita harus memprioritaskan monster-monster kuat sebelum kita dihancurkan! Kurangi tekanan dari jumlah mereka...!"


Walaupun berkata demikian, di dalam hatinya Seira masih menggantungkan harapan pada satu orang.


(...Shuu. Kalau saja kekuatan itu bisa digunakan lagi──)


Namun, pada saat yang sama ia sama sekali tidak percaya bahwa 〈Complete Uncurse ・ Reverse〉 dapat digunakan tanpa konsekuensi.


Bagaimanapun juga, Shuu telah melumpuhkan hampir seribu monster sekaligus.


Seira tak henti-hentinya mengkhawatirkan Shuu yang tiba-tiba menghilang dari medan perang.


"──Yang terluka, mundur! Semua yang membutuhkan penyembuhan, kemari!"


Suara Iris bergema dari belakang sambil mengangkat tongkat sucinya.


Beberapa pendeta telah bersiaga di sana, sepenuhnya berfokus pada penyembuhan dan dukungan bagi yang terluka.


"Tidak apa-apa... Shuu-sama pasti akan kembali. Karena itu, kita harus bertahan sampai saat itu."


Begitu Iris mengucapkannya seolah sedang berdoa—


"──Minotaur berhasil menerobos!!"


Tubuh raksasa setinggi lebih dari lima meter. Sambil menyeret kapak perang raksasanya, Minotaur itu berlari lurus menuju Gerbang Barat.


Setidaknya monster itu berperingkat B, atau bahkan lebih tinggi.


Bahkan kelompok Silver Blade milik Glen harus bertarung bersama-sama untuk dapat menghentikannya.


──Gerbang akan jebol.


Semua orang menyadari hal itu pada saat yang sama.


"Buuumooooo!?"


Tiba-tiba kaki Minotaur itu ambruk, membuat tubuhnya tersungkur ke tanah.


Ketika diperhatikan, kaki kirinya telah berubah menjadi ungu, berbusa, membusuk, lalu meleleh.


"Medina-sama...!"


Sosoknya memang tidak terlihat. Namun ia jelas berada di sana.


"Awalnya beliau seharusnya menyergap Dorothea bersama Shuu-sama... tapi ternyata beliau memilih tetap di sini."


Iris menarik napas singkat lalu melangkah menuju garis depan.


Belati Racun Api hanya perlu mengenai lawan sekali.


Perbedaan level tidak ada artinya. Selama Medina menghabisi monster-monster yang berhasil menerobos, tempat ini masih bisa dianggap sebagai zona yang nyaris aman.


"...Aku juga tidak boleh kalah."


Iris menggenggam kembali tongkat sucinya dan berseru lantang.


"Semuanya──mundurlah sebentar!!"


Para petualang dan Ksatria Kuil di sekitarnya segera menarik garis pertahanan ke belakang.


Lalu, tepat ketika orang terakhir melewati sisi Iris—


(Sekarang, satu-satunya sihir cahaya tingkat tinggi yang bisa kugunakan sendirian──)


Tongkat sucinya memancarkan cahaya lembut.


"──〈Sanctuarium〉."


Sebuah penghalang suci yang tembus pandang terbentang membentuk lingkaran besar di depan Gerbang Barat.


Monster-monster berperingkat rendah langsung lenyap menjadi cahaya saat menyentuhnya.


Sementara monster-monster berperingkat tinggi terus menghantam dinding penghalang itu, menghasilkan bunyi benturan yang berat.


Retakan pun mulai muncul di beberapa bagian penghalang.


Biasanya, sihir penghalang akan langsung lenyap begitu satu titik saja berhasil ditembus.


Namun 〈Sanctuarium〉 adalah sihir tingkat tinggi yang, selama terus dipertahankan, memungkinkan bagian yang retak dipulihkan kembali dengan mengalirkan mana ke titik tersebut.


"Gunakan kesempatan ini untuk menyembuhkan yang terluka dan menyusun kembali formasi! Begitu ada bagian yang retak, segera cegat monster yang masuk dari sana!"


Suara Iris yang penuh ketegasan menggema di seluruh medan perang.


"Iris..."


"Iris-sama...!"


Baik para petualang maupun Kesatria Kuil—mereka melihat secercah sosok seorang Saint dalam dirinya.


◇◇◇


"Ada apa? Kenapa tidak menyerang? Ah, bukan begitu ya──bukan tidak menyerang, tapi memang tidak bisa mengenainya!"


Sambil terus melontarkan ejekan, Dorothea bergerak bagaikan bayangan, mengayunkan cakarnya dari segala arah.


Aku menangkis semuanya.


"Justru kau sendiri bagaimana? Dengan kemampuan seperti itu, kau bahkan tak bisa menggoresku sedikit pun."


"...Mulutmu besar juga! Kalau begitu──〈Reforce〉, 〈Rearmor〉, 〈Relator〉!"


Mana hitam meluap dari lengan Dorothea dan menyelimuti seluruh tubuhku.


"Sekarang──pedangmu pasti patah!!"


Cakar hitamnya berkilat. Longsword-ku terpental jauh.


Dalam sekejap, senjataku lenyap dari genggaman.


"Kena kau!!"


Serangan kedua melesat, mengincar dadaku.


"──〈Sacred Creation〉."


Sebelum tebasannya mencapai tubuhku, rosario yang kuambil dari leherku memancarkan cahaya biru pucat—lalu Pedang Suci terbentuk.


Aku mengerahkan seluruh kekuatan di tangan kananku dan mengayunkannya sekali.


"Gugiiiiiiih!?!!"


Cahaya melintas. Lengan kiri Dorothea terbang ke udara bersama semburan darah segar.


"Ba-bajingan!! Kenapa... kenapa sihir kegelapanku tidak berpengaruh padamu!? Dan lagi──"


"Pedang ini? Ah, ternyata bahkan iblis pun bisa tertipu."


Celah sesaat yang muncul ketika longsword terlepas dari tanganku. Sama seperti saat menghadapi Glen.


Tidak—Dorothea bahkan lengah jauh lebih dalam.


"Bajingaaaaaaan!!"


Wajahnya dipenuhi kemarahan sekaligus rasa sakit.


Namun, saat itu juga—sesuatu yang aneh terjadi di belakang pandanganku.


Tubuh Burdog, yang sedang bertarung melawan Alaistar-san, mulai membengkak.


Dagingnya terkoyak, tulangnya berderak, seluruh benda yang dikenakannya terpental, dan tubuhnya berubah menjadi sosok raksasa yang menyerupai monster.


Alaistar-san, yang seharusnya berada di atas angin, langsung berlutut hanya karena satu serangan.


"Bahaya!!"


Aku tidak ragu sedikit pun.


Dan sekarang—aku yakin bisa menjangkaunya, lalu mengulurkan tanganku.


"──〈Complete Uncurse・Reverse〉"


Tenaga Burdog seolah lenyap, dan ia roboh begitu saja ke tanah.


"──Demi Seira... jangan mati dulu, paman babi."


Semuanya hanya terjadi dalam sekejap.


"Ugh... uh..."


Bersamaan dengan embusan napas lega, sebuah benturan tajam menghantam punggungku.


Cakar hitam di tangan kanan Dorothea, yang masih utuh, tanpa ampun menusuk punggungku.


"Kenapa kau malah mengabaikanku? Berani juga kau meremehkanku, ya..."


Benar. Aku lengah.


Namun pada saat yang sama, aku juga percaya.


Percaya pada kemampuan jubah khusus yang dibuat Kepala Desa dengan alkimia.


"Ti-tidak... ke... kenapa...?"


Aku perlahan menoleh.


Dorothea masih mempertahankan posisi menusukkan cakarnya, tetapi matanya membelalak karena terkejut.


Ia tidak mengerti mengapa aku sama sekali tidak terluka.


"Aku sendiri juga tidak terlalu paham soal bahannya. Tapi... katanya sifatnya mirip dengan fenomena yang disebut dilatansi."


"Hah? Dila... apa? Kau... apa yang sedang kau bicarakan!?"


Fenomena itu adalah cairan aneh yang berubah menjadi padat ketika menerima benturan kuat, tetapi tetap bersifat seperti cairan saat menerima tekanan lemah.


Fenomena itu bahkan pernah menjadi pembicaraan di Jepang modern.


Jubah ini memiliki sifat yang hampir sama. Hanya terhadap serangan yang sangat kuat, kain ini akan menunjukkan kekerasan yang luar biasa.


Karena itulah—justru cakar Dorothea yang terlalu kuat tidak mampu menembus jubah itu.


"Ayo kita akhiri semuanya. Aku juga ingin segera pulang."


"Kuh... uh...!"


Sambil menahan lengan kirinya yang terus mengucurkan darah, Dorothea masih belum kehilangan semangat bertarung.


"Kau salah paham tentang satu hal."


Sudut bibir Dorothea terangkat membentuk senyum penuh percaya diri.


"Aku bahkan belum mengeluarkan seluruh kekuatanku."


"Jadi?"


"Fu... fufufu... fuhahahahahaha!!"


Ekspresinya, yang seharusnya dipenuhi rasa sakit, justru dipenuhi kenikmatan.


"Efek status dan kutukan akan jauh lebih mudah berhasil jika perbedaan levelnya besar."


"...Begitu, ya."


Itu pertama kalinya aku mendengar hal itu. Tapi kenapa ia mengatakannya sekarang?


"Levelku adalah lima puluh sembilan!! Kekuatan yang kudapat setelah mengisap energi kehidupan manusia dan terus membunuh tanpa henti!!"


"........."


"Aku tidak tahu kenapa sihir kegelapanku tidak mempan padamu... tapi bagaimana kalau kutukan?"


Senyum penuh keyakinan muncul di wajahnya. Tangan kanannya kembali diarahkan kepadaku.


"Di negeri ini, tidak ada seorang pun yang lebih kuat dariku!!"


Lidah merahnya menjilat bibirnya.


"Merindukanku, tenggelamlah dalam hasratmu, lalu mati──〈Kutukan Noda Nafsu〉"


Dari tangan Dorothea, kekuatan sihir yang terdistorsi dilepaskan.


Sihir hitam pekat yang mampu menyeret kesadaran ke dalam jurang kegelapan menyelimuti tubuhku...


Lalu—hancur terpental.


◇◇◇


"Shuu-sama... adalah seseorang yang istimewa. Glen-sama juga pernah penasaran dengan level Shuu-sama, bukan?"


"Ya. Dengan kemampuan sehebat itu, kupikir setidaknya levelnya sekitar empat puluh."


"Shuu-sama sendiri tampaknya tidak berniat menyembunyikannya, jadi akan saya beri tahu. Level Shuu-sama adalah────────delapan puluh tiga."


◇◇◇


"...Apa kau baru saja melakukan sesuatu?"


"Aku... tidak mengerti...! Kenapa!? Kutukanku seharusnya pasti berhasil! Ah, begitu... hanya saja efeknya lambat... memang ada orang seperti itu! Tapi pada akhirnya semua orang tetap tenggelam dalam kutukanku!!"


Dorothea terus berbicara mati-matian. Namun darah yang menetes dari lengan kirinya tak kunjung berhenti.


Kepanikannya sudah tak bisa disembunyikan lagi.


"Memang levelmu tinggi. Tapi──masih di bawahku."


"Brengsek kau...! Jangan berani-beraninya berbohong seperti itu!!"


"Aku tidak tahu sudah berapa lama kau hidup. Tapi... dunia ini ternyata jauh lebih luas dari yang kau kira."


Sejujurnya, aku sendiri juga belum mengenal dunia ini sepenuhnya.


Kalau mengingat kakek dan nenek monster itu, mudah sekali melihat betapa sempitnya dunia yang dijalani orang yang mengira dirinya berada di puncak seperti dia.


"──Yah, alasan kutukanmu tidak berhasil bukan karena perbedaan level, sih."


"Guh... nu... nnggh...!"


Alasan sebenarnya adalah perlindungan sang Dewi.


Dan dari pertarungan kali ini, aku juga mengetahui bahwa jika terdapat perbedaan level, serangan berupa efek status maupun kutukan bisa saja gagal.


Pertarungan melawan Dorothea sekali lagi menambah pengalaman berhargaku.


Karena itu—Sudah waktunya mengakhirinya.


"Apakah kau tahu penderitaan yang dirasakan orang-orang yang kau kutuk?"


"Mana mungkin ada orang bodoh yang mengutuk dirinya sendiri! ──Matilahhhh!!"


Perlawanan terakhirnya.


Cakar hitam di tangan kanannya yang sudah rusak menusuk tajam ke arahku.


Aku hanya memutar tubuh sedikit dan menghindarinya dengan mudah. Lalu, saat melewati di sampingnya, aku berbisik pelan di dekat telinganya.


"──────〈Kutukan Noda Nafsu〉"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close