NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V2 Chapter 8

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 8

Iblis Mesum

"──Iris, soal kutukan. Apa penggunaannya membutuhkan semacam pengorbanan?"


Beberapa hari sebelum operasi pemurnian dilaksanakan.


Selama waktu itu, aku bertanya kepada Iris untuk memastikan apakah kartu trufku benar-benar bisa digunakan.


Selama ini aku telah membatalkan berbagai kutukan.


Artinya, dengan menggunakan 〈Complete Uncurse・Reverse〉, aku bisa memberikan kembali kutukan itu kepada lawan. Namun, ada satu hal yang mengganjal pikiranku.


Yaitu—harga yang harus dibayar.


Kutukan jauh lebih kuat daripada sekadar efek status biasa. Kalau begitu, rasanya mustahil bisa digunakan tanpa risiko apa pun.


"Benar. Bahkan bagi ras iblis, hampir mustahil menggunakannya secara berulang. Kalau itu berupa skill mungkin lain cerita... tapi pada dasarnya hal seperti itu sulit dibayangkan."


Pendapat Iris mungkin benar.


Kalau sihir sekejam itu bisa dipakai berkali-kali tanpa batas, sejak awal pertarungan tidak akan mungkin berlangsung dengan seimbang.


Bahkan Dorothea yang merupakan iblis pun seharusnya bukan pengecualian.


"Pada dasarnya, ilmu kutukan biasanya diaktifkan dengan menyentuh tubuh target atau menggunakan media seperti darah maupun rambut. Namun Dorothea bisa mengaktifkannya meski terhalang pintu dan berada cukup jauh. Kita tidak tahu media apa yang digunakannya... tetapi jika memang tidak ada media, kemungkinan besar ia membayar harga yang jauh lebih besar sebagai gantinya. Misalnya──"


Ucapan Iris benar-benar tertanam dalam benakku.


Karena itulah aku mulai berpikir.


Bagaimana caranya menggunakan kutukan itu tanpa harus mengorbankan sesuatu dari diriku sendiri.


Bagaimana cara membalikkan kutukan itu tanpa mengambil risiko.


Dan akhirnya—Aku menemukan jawabannya.


◇◇◇


Praak.


Terdengar suara batu sihir sebesar kepalan tangan wyvern yang kusimpan di balik pakaianku pecah berkeping-keping.


Sepertinya aku masih belum terbiasa menggunakan 〈Kutukan Noda Nafsu〉.


Kutukan itu menghabiskan sihir jauh lebih besar daripada yang kuduga.


"K-kau... si...alan...!"


Bahkan terhadap iblis sekalipun, 〈Kutukan Noda Nafsu〉 tetap berhasil. Lawan yang bahkan kebal terhadap efek status.


Sejujurnya ini adalah pertaruhan, jadi aku sedikit lega.


Begitu kutukan itu terukir pada tubuhnya, Dorothea terjatuh ke tanah dan menatapku dengan mata yang dipenuhi kebencian.


Di perutnya yang kini terbuka, sebuah lambang kutukan berwarna merah muda pucat berdenyut seolah hidup.


Kurasa ia sudah tak mampu lagi melawan.


Aku memungut lengan Dorothea yang telah terputus, lalu menempelkannya perlahan ke bahunya yang masih mengucurkan darah.


"──〈Heal〉."


Cahaya sihir penyembuhan memancar.


Ini adalah pengetahuan yang kudapat saat bekerja di klinik.


Selama bagian tubuh yang terputus masih ada, rupanya bagian itu masih bisa disambungkan kembali.


Konon ada sihir yang bahkan mampu memulihkan anggota tubuh yang benar-benar hilang, tetapi untuk saat ini ini sudah cukup.


Dagingnya kembali menyatu. Tulangnya tersambung. Kulitnya menutup dengan mulus. 


Tak lama kemudian, lengan kirinya kembali seperti semula tanpa meninggalkan satu bekas luka pun.


"K-kenapa...?"


"Membunuhmu memang mudah. Tapi aku memutuskan untuk memanfaatkanmu."


Aku akan membuatnya menghapus semua kutukan yang selama ini ia sebarkan kepada orang lain, lalu memanfaatkannya setelah itu.


"──Hei, Paman Babi! Bagian gerbang barat kuserahkan padamu!"


Aku mengangkat tangan sambil berteriak kepada Alaistar-san yang berdiri di kejauhan.


Ia membalas lambaian tanganku, mengangkat Burdog yang masih pingsan dengan mudah, lalu menuju gerbang barat.


Aku menatap Dorothea yang terengah-engah di kakiku.


"Baiklah... meskipun kau tak bisa bergerak, kita masih bisa bicara, kan? Kebetulan ada pohon besar di sana."


Kurasa ia masih belum mengerti apa yang akan kulakukan. Mata Dorothea yang napasnya kacau perlahan berubah.


Bukan lagi ketakutan...melainkan tatapan yang mendambakan seorang pria.


◇◇◇


Sesaat...


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Kenapa aku justru tergeletak di tanah, sementara pria manusia ini berdiri menatapku dari atas?


"Pa... panas...!"


Panas. Panas. Panas. Panas...!


Panas yang tak memiliki jalan keluar membara dari dalam tubuhku hingga membuat napasku bergetar.


Apa yang telah dia lakukan padaku?


Tapi...kata-kata yang ia bisikkan di telingaku tadi.


Mustahil. Manusia ini memakai ilmu kutukan yang sama denganku?


Seharusnya itu tidak mungkin...! Namun...


Rasa panas ini. Hasrat ini.


Aku menginginkan pria ini. Ingin disentuh olehnya. Ingin dihancurkan olehnya.


Aku ingin dia memberiku kenikmatan sampai tubuh dan pikiranku hancur berantakan.


Ah...Aaah...!


"Ayo."


"A-apa yang akan kau—!"


Saat kusadari, lenganku yang tadi terputus sudah sembuh.


Tanpa ragu pria itu meraih lenganku dan menyeretku secara paksa ke balik pohon besar yang menjulang tinggi.


Aku berusaha melawan. Namun tubuhku sama sekali tidak mau menurut.


Aku tidak mengerti. Apa sebenarnya yang hendak dia lakukan padaku—


"Akan merepotkan kalau kau mengamuk."


"Hah...!"


Ia mengikat kedua tanganku dengan sabuk. Hanya dengan tindakan itu saja, jantungku berdegup kencang.


"...Hah?"


Tiba-tiba pelindung dada yang kupakai disingkapkan, membuat bagian dadaku terbuka di hadapan pria itu.


"Payudaramu lumayan besar juga. Kalau begitu—"


"Si...alan... milikku... uuhh...!?"


Pria itu langsung mulai mengisap dan membelai dadaku.


Kedua payudaraku diremas dengan kasar, sementara putingku dipermainkan oleh lidahnya.


Di perut bagian bawah, lambang kutukan itu berdenyut—gelombang kenikmatan yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku.


"Ja-jangan...!? Aaah...!?"


Pikiranku mulai meleleh oleh panas itu.


Aku tak sanggup melawan kenikmatan yang begitu luar biasa. Hanya dengan rangsangan di dadaku saja, kesadaranku mulai memutih.


Mustahil. Namun aku tak mampu menghentikan rasa nikmat ini.


"...Ah...!"


Aku ingin dia melanjutkannya. Aku ingin dia terus menghisapnya. Lebih kuat lagi. Lebih dan lebih lagi.


Aku ingin dia membuatku benar-benar kehilangan akal.


Saat aku terengah-engah tenggelam dalam kenikmatan, pria itu menindihku dan berbisik pelan di telingaku.


"──Padahal kau iblis, tapi ternyata mesum sekali."


"Nnngghhh!?♡"


Aku... mencapai puncaknya...


Hanya karena bisikan pria itu...! Padahal hal seperti ini seharusnya tidak mungkin terjadi.


"Astaga, jorok sekali. Basah sebanyak itu."


"Nhhhh..♡"


Tanpa kusadari, bagian bawah tubuhku sudah dipenuhi cairan yang keluar dari tubuhku sendiri.


Dari kemaluan hingga paha, cairan bening menetes, menyampaikan puncak kenikmatan yang tak lagi bisa disembunyikan.  


Lalu pria itu berdiri, memamerkan bagian bawah tubuhnya, memperlihatkan keperkasaan itu padaku.  


Ingin. Ingin. Ingin ingin ingin ingin……!!  


Begitu melihatnya, dadaku sesak, dan aku langsung ingin sekali dia menusukkannya ke dalam.  


Selama seratus tahun ini, aku selalu menjadi pihak yang merampas. Baik kenikmatan maupun dominasi, selalu aku yang memberikannya.  


Tapi entah kenapa sekarang aku ingin dikuasai olehnya. Aku ingin dia menusukkan batang besar itu ke dalam tubuhku dan menenggelamkanku ke dasar kenikmatan.  


"Kau tak butuh permulaan, kan?"  


Pria itu menggeser pelindung bawah tubuhku, mengekspos bagian penting itu.  


"Yaahh…… itu, pasti…… bikin gila……"  


"Padahal kau sendiri sudah melebarkan paha……? Memang benar-benar iblis mesum banget."  


"Hah……?"  


Tanpa sadar, aku sudah membuka lebar-lebar selangkanganku, menunggu batang miliknya dengan penuh harap.  


Ini bukan aku. Aku seharusnya selalu yang menguasai, bukan yang dikuasai. Tapi——  


"Aku yang mesum ini…… tolong paksa aku……!!♡"  


Aku mengucapkan kata-kata cabul yang belum pernah keluar dari mulutku sebelumnya, dengan pose yang sangat tidak pantas.  


"Dari awal memang begitu niatku. Mulai hari ini, kau adalah budakku——"  


"Ah, ah……!!………… aaaaaaaaahh!!♡♡♡"  


Begitu panas tubuhnya menghantam jauh ke dalam sekaligus, pandanganku meledak menjadi putih.  


Dari tenggorokanku keluar teriakan tanpa bisa ditahan, karena kejutan manis yang hampir membuatku lupa bernapas. Karena kutukan itu, sensasiku berlipat ganda.  


Sejauh ini, aku belum pernah kalah oleh kenikmatan dari manusia. Tapi sekarang, kesombongan itu hancur berkeping-keping.  


"Ahhh!! Jangan!! Aku keluar!! Langsung keluar!!♡"  


"Hei, longgar banget. Belum apa-apa. Jangan langsung lemas karena cuma segini. Semua perlakuan yang kau lakukan pada manusia selama ini… akan kubalas sekaligus……"  


Hantaman tanpa ampun terus-menerus menembus jauh ke dalam.  


Meski ingin melarikan diri, tubuhku malah dengan sendirinya berpegangan padanya. Semakin aku melawan, semakin manisnya meresap sampai ke sumsum tulang.

  

Kenapa bisa sesenang ini?  


Tiba-tiba aku sadar.  


Tubuh pria ini… ada yang aneh. Seolah seluruh tubuhnya dibungkus oleh sesuatu yang suci, terasa sakral.  


Jangan-jangan—— dewi…………!?  


Meski sudah menyadarinya, sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa.  


"Aku mau mati!! Mati!! Gila!! Langsung keluar!!♡"  


Semakin dia menusuk dan menguasai, semakin dalam dan panas bagian dalam tubuhku meleleh.  


Sensasi seperti ini belum pernah aku rasakan. Setelah mengetahuinya, tak mungkin bisa kembali.  


Aku merasakan batang dagingnya semakin membesar dan berdenyut.  


Aku mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.  


Datang. Akan datang. Aku ingin dia menyemburkannya seluruhnya di bagian terdalamku. Tanpa sadar, aku sudah menginginkannya.  


"Aku akan menyemprot di dalam rahimmu!! Dasar iblis mesum!!"  


"Hikh!! Keluar!! Keluar!! Di dalam…… semuanya!!?"  


Begitu panasnya disemburkan jauh ke dalam, dunia berputar terbalik.  


"Aaaaaaaaahh!!♡♡♡"  


Seluruh tubuhku kejang, pikiran mencair menjadi putih. Spermanya mengalir deras ke dalam rahimku, dan perutku mulai mengembung sedikit.  


Batang daging itu ditarik keluar dari tubuhku yang masih bergetar karena sisa kenikmatan.  


Aku merasakan cairan putih kental menetes keluar dari mulut vagina. Dalam kesadaran yang semakin kabur, aku berbisik pelan:  


"Lebih…… lagi…… ingin…………"  


Mendengar itu, pria itu tersenyum miring.


Aku dipaksa bangun, tangan yang terikat pada pohon besar menopang tubuhku, dan secara alami pinggangku sudah mengangkat dalam posisi menyerahkan diri.  


Sudah tak peduli lagi bagaimana aku terlihat. Aku hanya ingin menjadi milik pria ini.  


Begitu batang panas itu kembali menusuk masuk dalam-dalam, hatiku benar-benar jatuh seutuhnya.  


Dengan senang hati aku menyerahkan lubang betinaku, menjadi milik pria itu——  


"Hnnngh…… mau keluar…… hnnngh…… mati…… mau keluar…… ♡"  


Meski sudah mencapai klimaks, meski sudah mencapai klimaks lagi, pria itu tak pernah memberiku ampun.  


Mungkin bahkan saat aku pingsan, dia terus memerkosaku.  


Begitu sadar, aku langsung klimaks, lalu kembali kehilangan kesadaran.  


Setelah itu berulang berkali-kali, jiwaku benar-benar rusak dan sepenuhnya tunduk pada pria ini.  


◇◇◇  


Aku menghantamkan pinggangku tanpa ampun ke tubuh Dorothea yang telah jatuh ke dalam Kutukan Noda Nafsu.  


"Hnn…… hnnngh…………"  


Di akar pohon besar. Di atas tanah yang dipenuhi aroma rumput.  


Dorothea yang bola matanya memutar ke atas terus bergetar hebat, tenggelam dalam kenikmatan.  


Setelah aku memberinya klimaks berkali-kali, niat untuk melawan sudah benar-benar hancur. Tapi, dari sinilah yang sebenarnya.  


Sebelumnya aku sempat bertanya pada Iris.  


"——Hei, Iris. Apakah ada sesuatu seperti kontrak budak?"  


"Jangan-jangan Tuan ingin menjadikan saya budak?!"  


Meski sempat ada sedikit drama yang merepotkan, saat itu aku sudah mencatat formasi kontrak yang diajarkannya di kertas.  


Aku membalik tubuh Dorothea yang masih pingsan dari telentang menjadi tengkurap, memamerkan pantat besarnya. Lalu dengan ujung pisau yang aku keluarkan, aku mengukir formasi sihir sesuai yang diajarkan di kulitnya.  


"Hei, bangun."  


"Hyunnn……♡"  


Begitu pantatnya ditampar, seolah sisa kenikmatan masih ada, dia membuka mata sambil mengeluarkan suara manis. Pandangan matanya masih belum fokus. Otaknya benar-benar sudah meleleh.  


"Sekarang aku akan membuat kontrak budak denganmu. Mulai sekarang, kau wajib mutlak patuh pada perintahku. Mengerti?"  


"Hya… hyaiiii……♡"  


Setelah memastikan jawabannya, aku menggores ujung jariku sendiri, meneteskan darah yang keluar ke formasi sihir.  


Cahaya lembut mengalir sepanjang garis yang diukir, lalu bentuknya mengunci. Darah menghilang tanpa jejak, dan di sana terukir dengan jelas lambang budak.  


——Dengan ini, kontrak budak telah terjalin.  


"Terlalu banyak waktu terbuang…… Iris dan yang lain, tahanlah sebentar……"  


Si paman babi sudah pergi ke gerbang barat. Paling tidak dia pasti sudah mengulur waktu sedikit. Tapi aku tak yakin bisa bertahan lama.  


"Hei, iblis mesum! Apa ada cara untuk membersihkan semua monster di gerbang barat sekaligus?!"  


"Ah…… Tuan……♡"  


"……Tuan? Ya sudah, terserah. Cepat jawab."  


Mungkin sisa kenikmatan masih belum hilang, Dorothea menjawab dengan suara yang masih leleh.  


"Tuan… kekuatan khusus… Tuan… kalau dipakai…………"  


"Kalau bisa begitu, aku nggak akan susah-susah begini."  


"B-bukan…… mungkin karena… pandangannya sama dengan monster…"  


"……Hah?"  


Setelah jeda sejenak, pikiranku tersambung.  


——Begitu. Jadi begitu. Ternyata semudah itu!  


"……Sial…… kalau dari awal begitu……! Kau tidur saja di situ sampai aku kembali!"  


"Hya… hyaiiii……♡"  


Aku segera mengaktifkan 〈Air Boost〉, membelah angin dan berlari menuju gerbang barat.


◇◇◇


"──Penghalangnya berhasil ditembus!"


"Dorong mereka kembali! Hujani dengan serangan!"


"Tidak bisa! Yang di sini juga mulai masuk!"


Penghalang sihir cahaya tingkat tinggi 〈Sanctuarium〉 yang dibentangkan Iris nyaris tak mampu lagi menahan tekanan ribuan monster, tetapi masih berhasil mempertahankan garis pertahanan.


Namun, batasnya sudah semakin dekat. Gelombang monster yang terus menyerbu begitu dahsyat hingga retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan penghalang, dan akhirnya sebagian darinya pecah.


Dari celah itu masuklah monster-monster berperingkat B ke atas yang sangat berbahaya. Mereka bukanlah lawan yang bisa dihadapi para petualang biasa.


Namun—mereka juga tidak bisa mundur.


"Raaaaaaahhh!!"


"Haaaaaaahhh!!"


Kapak perang milik Berg, mantan petualang peringkat A, sekali tebas langsung memenggal kepala seekor monster.


Di saat yang sama, Seira, kapten Pasukan Clover dari Ksatria Kuil, menembus tubuh monster yang besar dan tebal dengan pedang ksatrianya.


Di hadapan mereka berdua, bahkan monster kuat pun roboh tanpa mampu melawan. Meski begitu, jumlah monster kuat terus bertambah tanpa henti.


"Semuanya... bertahanlah sedikit lagi... hanya sedikit lagi...!"


Dengan kedua lengan yang gemetar, Iris mengangkat tongkat sucinya dan menuangkan sihir ke bagian penghalang yang rusak.


Namun, bahkan saat sedang diperbaiki, retakan-retakan baru terus bermunculan, membuat penghalang kembali hancur satu demi satu.


Gerbang Barat memang belum ditembus. Tetapi itu hanya tinggal menunggu waktu.


Dan akhirnya—


"...!?"


Seluruh penghalang 〈Sanctuarium〉 pecah berkeping-keping, bagaikan kaca yang dihancurkan.


Gelombang hitam monster pun menyerbu ke arah para petualang.


"Uwaaaaaaa!!"


Di tengah jeritan putus asa yang menggema, Iris menggigit bibirnya lalu memejamkan mata.


"Shuu-sama..."


Saat itulah...


Penghalang yang seharusnya telah hancur mulai pulih kembali, seolah-olah waktu sedang diputar balik.


"...Eh?"


Dari belakang terdengar langkah kaki berat yang mengguncang tanah.


Di satu tangannya tergenggam kitab suci khusus bersampul kulit hitam. Jubah pendetanya berlumuran darah, tetapi tubuhnya tetap tegap, melangkah mantap.


"Kau telah bertahan dengan baik, Iris Carnelia... Memang pantas menjadi calon Saint."


Suara berat yang bergema jelas. Iris terkejut dan segera menoleh.


"Ka-Kardinal Alaistar Landrace...!"


"Sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali kita berjumpa di Katedral Agung ibu kota kerajaan, bukan?"


"Ya... saya tidak menyangka Anda berada di sini..."


"Belakangan ini aku sibuk mengurus putriku..."


Percakapan mereka terdengar tenang. Namun jelaslah bahwa orang yang baru saja memulihkan penghalang adalah dirinya.


"Biarkan aku yang menahan mereka sekarang. Minumlah ramuan pemulih sihir. Saat penghalang ini pecah lagi—bunuh semua musuh yang masuk."


"...Baik!"


"Sebentar lagi, orang yang kita tunggu pasti akan datang..."


Mendengar kata-kata itu, mata Iris bergetar.


Namanya memang tidak disebut. Tetapi ia tahu persis siapa yang dimaksud.


"Semuanya! Tinggal sedikit lagi—hanya sedikit lagi! Kita pasti akan menang!!"


Meski tanpa dasar yang pasti, kata-katanya memiliki kekuatan yang mampu membangkitkan semangat.


Para petualang pun kembali berjuang, membunuh monster yang berhasil memasuki area penghalang satu per satu.


Lalu...beberapa puluh menit kemudian.


"Kuh... bahkan aku pun... sudah tak sanggup lagi..."


"Kardinal Alaistar!"


"Paman Babi! Lepaskan saja bagian yang paling lemah! Aku akan menebas semuanya!!"


Begitu Seira berteriak, Alaistar dengan sengaja melemahkan aliran sihir pada bagian penghalang yang sudah mencapai batasnya.


Penghalang pun pecah. Gelombang monster kembali menerobos masuk.


Seira langsung menerjang ke tengah kawanan itu.


"Aku tidak akan tumbang! Demi pedang ini──!!"


Sambil berteriak, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


Namun…pedang ksatria Seira tak pernah mencapai para monster. 


Karena—


"──Hei, penjaga. Kalau nanti aku tumbang, tolong bawa aku ke calon Saint yang ada di bawah."


"Hah...? Siapa kau!?"


Di atas Gerbang Barat. Entah sejak kapan, seorang pemuda berjubah abu-abu gelap telah berdiri di sana.


"Ya... dari sini semuanya terlihat jelas..."


Ia mengangkat tangan kanannya. Cincin berwarna biru muda di jarinya memancarkan cahaya redup.


"──〈Complete Uncurse・Reverse〉."


Detik berikutnya. Seluruh kawanan monster yang sebelumnya meraung bagaikan gempa bumi tiba-tiba berhenti bergerak secara bersamaan.


Tubuh mereka menegang. Busa keluar dari mulut mereka. Bola mata mereka memutih.


Perlahan-lahan nyawa mereka menghilang...dan dalam sekejap, area di depan Gerbang Barat menjadi sunyi.


Para petualang hanya bisa terdiam.


Orang pertama yang bersorak adalah seorang penjaga yang berada di atas gerbang.


"Uoooooooooo!!"


Sorakan itu menjadi awal dari gelombang kegembiraan yang menyebar ke seluruh medan perang.


"Syukurlah..."


Tubuh pemuda itu kehilangan tenaga dan ambruk.


"Hei! Nak! Tetap sadar!"


Disangga oleh para penjaga, kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan.


◇◇◇


"...Nn..."


Langit-langit putih. 


Ruangan yang sudah sangat kukenal.


Ini adalah...klinik tempatku bekerja hingga beberapa waktu yang lalu.


"──Selamat pagi, Shuu."


"...Mariel, ya."


Saat membuka mata, sepasang mata lembut di balik kacamata menatapku dari dekat.


Kerutan kecil tampak pada kerah pakaian biarawatinya, seolah ia telah merawatku sepanjang malam.


"Apakah Anda bisa bangun?"


"Ya... sepertinya bisa."


Aku mengerahkan tenaga pada kedua lengan dan perlahan duduk. Sambil mengepalkan dan membuka telapak tangan, aku memeriksa kondisi tubuhku sendiri.


"Aku mendengar Anda pingsan karena menghabiskan seluruh sihir. Berarti Anda berada di medan perang, bukan?"


"...iya."


Aku menjawab singkat sambil menurunkan kaki dari ranjang.


Tubuhku masih sedikit limbung, tetapi tidak sampai membuatku tak bisa berdiri.


"Anda terlalu memaksakan diri."


"Mungkin benar... Terima kasih, Mariel."


Mariel mungkin belum mengetahui apa yang sebenarnya kulakukan. Kemungkinan ia juga belum mendengar tentang kejadian Burdog.


Namun hari ini, entah kenapa ia terasa jauh lebih lembut daripada biasanya.


"Kalau begitu—mari kita pergi ke gereja."


"...Eh?"


Sesuai yang dikatakannya, aku mengikuti Mariel menuju gereja yang berada di samping klinik.


Begitu pintu dibuka, cahaya matahari pagi yang menyilaukan menerobos masuk. Kicauan burung terdengar merdu di telinga.


Sepertinya aku tertidur cukup lama.


Saat memasuki aula gereja yang remang-remang, kulihat beberapa orang tertidur di bangku-bangku panjang dengan tubuh diselimuti selimut.


Begitu melihat mereka, aku langsung tahu siapa mereka.


"Orang-orang ini berkata mereka tidak akan pulang sampai Anda sadar.... Karena kami tidak mungkin membiarkan mereka tidur di klinik, akhirnya mereka beristirahat di sini."


"...Benar-benar. Mereka terlalu suka mengkhawatirkan orang."


Tanpa sadar aku tersenyum kecil.


"Shuu. Sepertinya... Anda sangat disayangi."


"Entahlah... aku sendiri tidak tahu. Tapi... aku bersyukur."


Mariel tersenyum lembut, lalu mengalihkan pandangannya ke patung di altar.


Patung Dewi berwarna putih itu diselimuti cahaya pagi yang menembus kaca patri.


"Dewi Artemisia juga pasti sedang memberkati Anda."


Bisikan lembut Mariel mengalir pelan ke telingaku.


"Nn... uu..."


"Selamat pagi, Iris."


"...! Shuu-sama!? Shuu-sama!"


Begitu membuka mata, Iris langsung memelukku erat seolah menerjang ke arahku. Lengannya gemetar.


"Maaf membuatmu menunggu. Kau sudah bertahan dengan baik, Iris."


"...Ya... Saya... berhasil bertahan..."


Saat aku mengusap kepalanya, air mata kecil mengalir dari matanya.


"Medina juga sudah berusaha keras, ya."


"Mmm... ngu..."


"...Ya. Medina-sama juga... berjuang mati-matian..."


Medina masih meringkuk kecil di atas bangku sambil tertidur.


Dengan levelnya, pasti pertarungan itu sangat berat baginya. Namun dari perkataan Iris, sepertinya ia telah melakukan semua yang bisa dilakukannya.


"Shuu, syukurlah kau selamat."


"Glen... kalian juga."


Tak lama kemudian, anggota Silver Blade yang lain juga perlahan terbangun.


Sambil berpikir bahwa mereka seharusnya tidur di rumah masing-masing, aku tetap merasa senang atas perhatian mereka.


"Terima kasih banyak, Shuu-san."


Aku dan Erina memang mengalami banyak hal saat proses pembatalan kutukan. Mungkin ucapan terima kasih itu juga mencakup semua kejadian tersebut.


"Ya... Erina juga..."


Rishia maupun Garo juga selamat. Seira memang tidak terlihat, tetapi entah kenapa aku yakin dia baik-baik saja.


Tak lama kemudian kami mengucapkan terima kasih kepada Mariel, lalu memutuskan pergi sarapan bersama.


Namun—di tengah perjalanan menuju rumah makan...


Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di benakku.


Rasanya... aku melupakan sesuatu.


◇◇◇


"Tuan... masih belum datang juga, ya...? Hacih... dingin..."


Di tengah hamparan padang rumput.


Hampir tanpa busana, Dorothea si iblis memeluk kedua lututnya sambil menggigil—


Terus menunggu kepulangan Shuu tanpa henti.


◇◇◇


Sambil sarapan, aku mendengarkan Iris menceritakan seluruh kejadian hingga tadi malam.


Meski para Ksatria Kuil seharusnya sudah kelelahan dan dipenuhi luka akibat pertempuran sengit, mereka langsung bergerak lagi tanpa sempat beristirahat.


Mereka menyerbu kediaman Burdog beserta seluruh fasilitas yang berkaitan dengannya, lalu memulai penggeledahan paksa.


Semua orang yang terlibat ditangkap dan dikirim untuk menjalani pengadilan sesat.


Penjaga bernama Jilbe juga termasuk di antara mereka yang ditangkap. Sementara Burdog sendiri akan segera dipindahkan ke ibu kota kerajaan.


Di sanalah pengadilan sesat akan dilaksanakan.


Sejujurnya aku sendiri tidak benar-benar tahu seperti apa pengadilan sesat itu, tetapi kupikir kurang lebih sama seperti persidangan... mungkin begitu, ya?


Lalu, masih ada satu hal yang harus kulakukan.


Mengumpulkan semua perempuan yang telah dikutuk oleh Burdog, lalu membatalkan seluruh kutukan mereka.


Namun, bersamaan dengan itu—


Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Iris.


Yaitu mengenai ingatan mereka.


Meskipun kutukan berhasil dibatalkan, kenangan tentang apa yang terjadi di fasilitas bawah tanah itu akan tetap tertinggal.


Padahal semua itu sama sekali bukan atas kehendak mereka sendiri.


Karena itu, setelah kembali sadar, kenangan tersebut pasti akan meninggalkan luka batin yang mendalam.


Aku teringat kejadian di Desa Powan.


Saat itu, para wanita yang diserang goblin memintaku untuk menimpa kenangan buruk mereka dengan kenangan baru.


Waktu itu aku hanya kebingungan.


Namun sekarang aku berpikir—mungkinkah ada sihir yang mampu mengubah ingatan seseorang?


Jawaban Iris adalah...


Ada.


Namun, sihir seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa digunakan sendirian. Terlebih lagi, jumlah korbannya kali ini terlalu banyak.


Ia berkata, jika bisa mengumpulkan sihir dalam jumlah yang sangat besar, mungkin saja hal itu dapat dilakukan.


Saat itulah aku akhirnya teringat.


Bahwa aku telah membiarkan Dorothea begitu saja.


◇◇◇


"Yo, ternyata kau masih hidup."


"Aah, Tuan!! Anda membiarkan saya terlalu lama...!"


"Kalau dibandingkan dengan semua yang sudah terjadi, ini masih ringan—eh, tunggu... kau benar-benar Dorothea?"


Yang duduk di bawah pohon besar di padang rumput dengan pakaian setengah terbuka itu memang Dorothea.


Entah kenapa ia tidak mengenakan baju zirahnya, dan karena aku tidak memberinya instruksi apa pun, ia rupanya terus menunggu dalam keadaan seperti itu.


Begitu mendekat, aku langsung merasakan ada yang aneh.


Warna kulitnya—penampilannya berubah hingga nyaris seperti orang lain.


"Kau... kenapa warna kulitmu berubah? Dulu bukannya ungu muda?"


"Aku juga tidak tahu... Saat kusadar, sudah begini. Tapi kurasa ini karena Tuan..."


"Karena aku?"


"Tuan... punya hubungan dengan Dewi, bukan?"


"Kurang lebih begitu. Katanya tubuhku mendapat perlindungan Dewi seratus persen. Makanya efek status tidak mempan padaku."


"Jadi benar.... Saat aku menyatu dengan Tuan, sepertinya kekuatan Dewi mengalir ke dalam diriku... Lalu kenajisan sebagai iblis pun dimurnikan, sehingga aku berubah menjadi seperti ini...."


Kalau dipikir-pikir memang benar.


Kulit ungu muda khas iblis yang dulu dimilikinya sudah menghilang, bahkan tanduknya yang mencolok pun lenyap tanpa bekas.


Sebagai gantinya, kulitnya berubah menjadi cokelat sehat—


Kalau hanya melihat penampilannya, dia benar-benar tampak seperti seorang dark elf yang sesuai dengan seleraku.


"...Yah, justru lebih mudah begini. Ikut denganku. Ada sesuatu yang harus kau lakukan."


"A-apa pun itu...!"


"Ngomong-ngomong, kau tidak perlu makan?"


"Aku sudah mendapatkan energi kehidupan Tuan yang sangat melimpah... jadi untuk sementara aku tidak perlu makan lagi♡"


"...Begitu, ya."


Sepertinya sifat tubuhnya sebagai iblis masih tetap ada.


Meski begitu, yang dimaksud energi kehidupan itu memang cairan sperma, kan? Atau sebenarnya ada hal lain yang juga disebut energi kehidupan?


◇◇◇


"──Iris, maaf membuatmu menunggu."


"Tidak apa-apa. Hanya saja... Shuu-sama, siapa orang di samping Anda itu...? Seorang dark elf? Memang langka, tetapi rasanya saya pernah...."


Saat kami bertemu di dekat fasilitas bawah tanah milik Burdog, Iris membelalakkan mata melihat Dorothea yang berdiri di sampingku.


Wajar saja. Dengan warna kulit dan tanduk yang sudah berbeda, tidak mungkin ada yang mengira dia adalah seorang iblis.


"Dia Dorothea."


"Eeeeeeh!? Shuu-sama!? A-apa maksudnya ini!?"


Iris spontan mengangkat tongkat sucinya dan mengambil posisi bertarung.


"Tenang saja. Sekarang dia budakku—iya, kan, anjing betina?"


"W-wan!"


...Hei, jangan benar-benar menggonggong seperti anjing.


Tapi entah kenapa, ini malah terasa cukup membuat ketagihan.


"Nah, tunjukkan tanda kutukan di tubuhmu."


"A-ah, Tuan... apa harus diperlihatkan kepada orang ini...?"


"Sudah, cepat."


"B-baik...♡"


Tampaknya dia benar-benar sangat menyukai diperintah olehku.


"Cap budak yang kuajarkan... jadi benar-benar telah membentuk kontrak."


"Ya. Entah kenapa penampilannya juga berubah, jadi kurasa tak seorang pun akan menyadari kalau dia dulunya iblis."


"Kalau begitu tidak masalah. Hanya saja, sebaiknya jangan beri tahu siapa pun bahwa dia pernah menjadi iblis."


"Aku tahu. Hanya akan kuberitahukan kepada orang-orang terdekat."


Sambil berbicara begitu, kami menyusuri gang yang remang-remang menuju fasilitas bawah tanah itu.


Namun—Pemandangan tak terduga menunggu kami di pintu masuk.


"Berhenti! Daerah ini berada di bawah pengawasan Ksatria Kuil!"


"Sudah, biarkan kami masuk! Kami tidak tahan lagi!"


"Aku tidak sanggup menahan rasa ini lagi!"


Yang sedang berdebat di pintu masuk adalah para Ksatria Kuil wanita dan para wanita muda yang berusaha menerobos masuk ke fasilitas bawah tanah.


Jumlah mereka lebih dari lima puluh orang.


Akibat Kutukan Noda Nafsu yang terukir di tubuh mereka, tampaknya mereka telah kehilangan akal sehat.


"...Serius, ya."


"Ayo, kita segera menyembuhkan mereka."


Salah satu penyebab semua ini berdiri tepat di sampingku.


Memikirkannya membuatku merasa hukuman yang diterimanya masih jauh dari cukup.


"──Para Ksatria Kuil! Tolong biarkan mereka masuk! Kami yang akan menangani mereka!"


"Calon Saintess!? Tapi—"


"Tidak apa-apa. Serahkan kepada kami!"


Mendengar ucapan Iris, para Ksatria Kuil saling berpandangan, lalu membuka jalan.


Para wanita itu pun berbondong-bondong memasuki ruang bawah tanah.


"...Sisanya serahkan kepada kami."


Kami pun mengikuti mereka masuk.


Di ujung lorong yang gelap, setelah membuka pintu besar—para wanita tadi telah berkumpul di sana dan mulai melepas pakaian mereka seolah sudah tidak sabar lagi.


Di ruangan tanpa seorang pria pun, mereka tampak seperti mabuk oleh hawa panas.


"──Laki-laki!!"


"Uwah!?"


Begitu melihatku, satu-satunya pria di ruangan itu, mereka langsung menyerbu ke arahku.


"〈Sleep〉."


Dorothea mengucapkan sihir kegelapan. Seketika para wanita di seluruh ruangan roboh satu demi satu dan tertidur.


"Jadi ada sihir untuk membuat orang tidur ya."


"Tapi tidak mempan pada Tuan."


"Bagus, itu sangat membantu. Sekarang—hapus kutukan mereka."


Begitu aku memberi perintah, Dorothea mengangkat tangannya.


"〈Pembatalan Kutukan Noda Nafsu〉."


Bersamaan dengan mantranya, lambang kutukan di perut bawah para wanita perlahan menghilang.


Tahap pertama selesai.


Masalah sebenarnya dimulai sekarang.


"──Iris, sudah siap?"


"Ya. Tolong kalian berdua letakkan tangan di pundakku. Saya akan mengambil mana kalian."


Dorothea tampak enggan, tetapi aku memberi isyarat dengan dagu.


Saat aku dan Dorothea meletakkan tangan di pundak Iris, Iris menarik napas dalam tiga kali. Lalu ia mengangkat tongkat sucinya dengan tenang dan mulai melantunkan mantra.


"Dewi... mohon selamatkan mereka semua──〈Astral Serenity〉!"


Arus cahaya yang luar biasa memancar, sementara mana mengalir keluar dari tubuh kami melalui lengan.


"Uoooh...!"


"A-apa konsumsi mana sebesar ini...!"


Butiran cahaya yang menyilaukan memenuhi seluruh ruangan, menyelimuti setiap wanita satu per satu.


Tak lama kemudian, cahaya lembut itu menghilang dari tubuh mereka, dan keheningan pun kembali.


Mungkin sekitar sepuluh menit telah berlalu.


"Haa... haa..."


Keringat mengalir dari dahi Iris.


Aku dan Dorothea pun sama-sama gemetar hingga lutut kami hampir tak mampu menopang tubuh.


"...Selesai."


"Gawat... mana-ku hampir habis."


"Aku ingin energi kehidupan... ternyata menguras sebanyak ini..."


Baru saja kami mengucapkan itu—Iris roboh ke lantai.


"Iris!"


Aku segera menangkap tubuhnya dan menopangnya dalam pelukanku.


"Kurasa... sekarang... semua orang..."


"Kau sudah bekerja keras. Kau melindungi kota, dan sekarang menyelamatkan mereka juga... sungguh hebat."


Ada hal-hal yang hanya Iris yang mampu melakukannya.


Melindungi kota sekaligus menyelamatkan para wanita itu benar-benar membuatnya layak dihormati.


"Selanjutnya biar aku yang mengantarmu. Istirahatlah dengan tenang."


"...Baik... Shuu... sama..."


Karena kehabisan mana, Iris kehilangan kesadaran.


"Hmph. Entah calon Saintess atau apa, masa cuma segini saja..."


"Ini semua gara-gara ulahmu. Berarti kau masih belum cukup menyesal."


"Hiiiiii... kalau begitu... silakan hukum aku lagi..."


"Kau ini..."


Apa dia benar-benar sedang menyesal?


Tak lama kemudian, para wanita yang terbaring di lantai mulai sadar satu per satu.


Aku sempat bersiaga, tetapi tak seorang pun mencoba menyerang.


"Hah...? Kenapa aku ada di sini...?"


"Gelap sekali... eh? Pakaianku...!?"


Suara-suara kebingungan terdengar dari berbagai arah.


Sepertinya mereka bahkan sudah tidak mengingat tempat ini maupun apa yang pernah terjadi di sini.


Aku mengarahkan mereka yang sudah kembali mengenakan pakaian untuk keluar dari fasilitas bawah tanah.


Aku tidak tahu apakah semuanya benar-benar telah terselamatkan. Di antara mereka ada yang terlilit utang atau memiliki masalah keluarga.


Meski begitu—dibandingkan terus hidup sebagai korban kutukan dan dipermainkan dalam keputusasaan, kehidupan mereka sekarang pasti jauh lebih baik.


◇◇◇


Menjelang sore.


Seorang wanita pulang ke rumahnya dengan tenang.


Itu adalah rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama pria yang dicintainya, rumah yang masih menyimpan kehangatan masa lalu.


"...Aku pulang."


Begitu membuka pintu, aroma yang begitu akrab memenuhi dadanya.


Padahal tak ada yang berubah. Namun entah kenapa semuanya terasa seperti kenangan yang sangat jauh.


Kalau dipikir-pikir...


Kapan terakhir kali aku pulang ke rumah ini?


Saat ia melepas sepatunya, terdengar tanda-tanda seseorang berada di ruang tamu.


Begitu mengangkat wajah, seorang pria tampak berdiri terpaku di sana.


"...!"


Begitu melihat wanita itu, mata pria tersebut membelalak.


Dengan tangan gemetar ia menutup mulutnya, lalu berlutut di tempat. Namun seolah mengejar sebuah mimpi, ia segera bangkit dan berlari menghampiri wanita itu.


"Laura!!"


"Osman, ada apa? Aduh, kalau memeluk sekuat itu... sakit, tahu."


Pemilik rumah itu—Osman—memeluk Laura erat hingga tak bisa melepaskannya.


Suara isaknya pecah. Bahunya terus bergetar.


Laura sama sekali tidak mengerti mengapa pria itu menangis.


Namun hanya dari hangatnya air mata itu saja, ia dapat merasakan kasih sayang dan kelegaan yang memenuhi hati pria tersebut.


"...Osman, kau jadi lebih kurus?"


"Uu... Laura... sejak kau meninggalkan rumah ini... entah sudah berapa lama waktu berlalu.... Saat kudengar ayahmu menanggung utang yang sangat besar... kupikir kau sedang berjuang sendirian demi semua itu...."


Dengan suara bergetar, Osman melanjutkan ucapannya.


Di balik kata-katanya yang terbata-bata tersimpan kecemasan, penyesalan, dan doa.


"...Aku tidak tahu apa yang telah kau alami. Tapi sudah cukup. Jangan memaksakan dirimu lagi."


"Osman...?"


"Soal ayahmu juga akan kuurus. Utangnya juga, semuanya. Walaupun harus mempertaruhkan nyawaku, aku akan membuatnya berubah dan melindungimu... melindungi rumah ini!"


Kata-kata yang nyaris seperti teriakan itu dipenuhi tekad yang begitu tulus.


Air mata perlahan menetes dari sudut mata Laura. Bahkan ia sendiri tidak tahu mengapa ia menangis.


"Sepertinya... aku membuatmu kesepian."


"Ah... ah... Laura..."


"Sudah, sudah... jangan menangis."


Laura mengusap kepala Osman dengan lembut, seperti menenangkan seorang anak kecil yang menangis.


Tanpa sadar, Osman memeluk tubuh ramping Laura semakin erat dan menyembunyikan wajahnya di dadanya.


"Laura... maukah kau... menikah denganku, meski aku seperti ini?"


"──Ya, tentu saja. Tidak ada pria lain yang ingin kunikahi selain dirimu. Aku datang ke sini memang untuk menikah denganmu."


"...Laura... Laura... ah, Laura..."


Sambil menahan isak tangis, Osman mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.


Kotak cincin pertunangan yang sudah tampak usang karena berkali-kali dibuka dan ditutup.


Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil cincin itu lalu menyematkannya di jari manis Laura.


Permata pada cincin tersebut memantulkan cahaya matahari senja dan berkilau lembut di mata mereka berdua.


Laura tersenyum, kemudian mengusap pipi Osman dengan lembut. Lalu, ia mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan.


Osman tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi selama Laura menghilang. Dan Laura sendiri juga tidak mengingat sedikit pun kejadian selama masa itu.


Tak ada yang tahu apakah mulai sekarang ia benar-benar akan memperoleh kebahagiaan.


Namun setidaknya, saat ini ada dua orang yang sedang memulai lembaran baru dalam hidup mereka.


──Inilah kisah lain tentang seorang wanita yang berhasil mencapai akhir dari sebuah tragedi.


Dan cahaya yang mengusir kegelapan itu mulai bersinar dengan tenang di langit Kota Petualang Hares.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close