Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Prologue
Laura, Penjual Bunga
── Ini adalah kisah tentang seorang wanita.
Di pinggiran Kota Petualang Hares.
Di depan pintu sebuah rumah besar yang tampak cukup makmur, sepasang pria dan wanita muda saling berhadapan dengan penuh kasih sayang.
"Osman, semangat bekerja hari ini, ya."
"Ya. Aku berangkat dulu, Laura."
Mereka memang belum menjadi suami istri. Namun hubungan mereka sudah mengarah ke pernikahan—singkatnya, mereka adalah sepasang kekasih.
Sudah satu tahun sejak mereka bertemu.
Osman, seorang pedagang muda, sedang berada di masa paling sibuk dalam hidupnya dan tengah bersiap membuka toko baru.
Sementara itu, Laura adalah gadis cantik yang menjadi daya tarik utama toko bunga tempatnya bekerja. Saat mengantarkan bunga ucapan selamat untuk pembukaan toko baru, kecantikan Laura yang anggun berhasil mencuri hati Osman. Setelah berbagai usaha keras untuk mendekatinya, akhirnya mereka pun mulai berpacaran.
Semakin sering mereka bertemu, ikatan di antara keduanya semakin erat. Mereka saling mencintai sebagai sosok yang tak tergantikan.
Saat mereka menghabiskan malam bersama, hati dan tubuh mereka pun semakin menyatu.
── Namun, Laura memiliki sebuah rahasia yang tak pernah bisa ia ungkapkan.
"Bawa uang ke sini! Cepat serahkan, dasar anak bodoh!"
"Ayah, hentikan! Uang itu... bukan untuk dipakai minum atau berjudi!"
Rahasia itu adalah ayahnya.
Satu-satunya keluarga yang ia miliki, ayah yang sejak kecil membesarkannya seorang diri.
Dulu, ayahnya bekerja dengan rajin, dan mereka hidup sederhana namun bahagia sebagai ayah dan anak.
Namun── semuanya berubah setelah kekalahan besar di kasino Kota Air Lagua.
Ia terlilit utang dalam jumlah besar, tenggelam dalam minuman keras, mulai sering terlambat dan melakukan kesalahan di tempat kerja, hingga akhirnya dipecat.
Ayahnya menjadi kecanduan judi. Seberapa pun utangnya dilunasi, ia selalu meminjam lagi di tempat lain dan membuat jumlahnya semakin bertambah.
Gaji Laura sebagai pegawai toko bunga sama sekali tak mampu mengejarnya. Utang itu terus menumpuk, membesar seperti bola salju yang menggelinding.
(Kalau terus begini... aku akan merepotkan Osman...)
Sendirian di rumah kekasihnya, Laura menggenggam erat tangannya yang gemetar sambil berbisik.
Dengan utang sebanyak itu, pernikahan hanyalah impian belaka.
Kalau ia jujur kepada Osman, mungkin pria itu akan membantunya. Namun, Laura sama sekali tidak ingin menyeret orang yang dicintainya ke dalam masalah ini.
".........Apa yang harus kulakukan...?"
◇◇◇
Suatu senja.
Setelah menutup toko bunga dan berjalan melewati gang yang remang-remang, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dari belakang.
"── Nona. Atau... mungkin lebih pantas kupanggil calon nyonya."
Saat menoleh, ia melihat seorang pria berjubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya.
Wajah maupun usianya tak terlihat. Yang terasa hanyalah aura menyeramkan.
"Saya belum menjadi nyonya..."
"Tapi suatu hari nanti, bukankah begitu?"
"Siapa... Anda?"
Pria itu perlahan mendekat, membuat Laura tanpa sadar mundur beberapa langkah.
"Kudengar kau sedang kesulitan karena utang."
"...! Bagaimana Anda tahu?"
Tanpa menjawab pertanyaan itu, pria tersebut berkata dengan tenang.
"Informasi selalu beredar. Yang kutahu bukan tentang dirimu, melainkan utang ayahmu."
"Utang ayah..."
"Kalau ingin menikah, hilangkan saja utang itu. Sesederhana itu."
Mencurigakan. Sangat mencurigakan.
Namun Laura tidak mampu pergi. Dengan harapan yang tersisa, ia tetap mendengarkan kata-kata pria itu.
"Penjelasan lebih lanjut ada di depan."
"...Kalau ternyata mencurigakan, aku akan langsung pulang."
Dengan hati penuh kegelisahan, Laura mengikuti pria itu dari jarak beberapa langkah.
Tanpa disadari, mereka berjalan melewati lorong-lorong sempit yang terasa seperti labirin, padahal itu masih kota yang telah lama ia tinggali.
Mereka menuruni tangga menuju bawah tanah, lalu berhenti di depan sebuah pintu besar. Setelah pria itu mengetuk pintu, terdengar suara berat dari dalam.
"Masuklah."
Di balik pintu terdapat ruang tamu mewah yang dipenuhi perabot mahal.
Di seberang meja panjang duduk seseorang mengenakan jubah hitam, zucchetto ungu, dan stola putih yang menjuntai dari lehernya.
"Uskup Agung Burdog...!?"
Seorang rohaniwan berpangkat tinggi dari Gereja Mishia yang namanya terkenal di seluruh Kerajaan Einfilia.
Karena terlalu gugup, suara Laura bergetar, dan tanpa sadar ia berlutut.
Klak...Tak lama kemudian, sebuah kantong kain besar diletakkan di atas meja.
Mulut kantong itu terbuka, memperlihatkan koin-koin emas yang memantulkan cahaya lilin hingga berkilauan.
"Kau sedang kesulitan, bukan?"
"I-ini..."
"Apakah kau tidak membutuhkannya?"
"B-bukan begitu maksud saya..."
"Hm. Kudengar ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, jadi aku berniat memberikannya dengan niat baik. Rupanya aku hanya salah paham. Antar dia keluar."
"T-tunggu dulu!!"
Karena Laura terus menolak menerima uang itu, Burdog mengangkat tangan seolah hendak menyuruh orang mengantarnya keluar. Namun Laura refleks berdiri dan mati-matian menghentikannya.
"Ada apa?"
".........Kalau aku menerima uang ini... pasti ada sesuatu yang harus kubayar sebagai gantinya... bukan?"
"Hm... Rupanya kau gadis yang cepat mengerti."
Sebenarnya ia sudah tahu sejak awal. Tak mungkin ada uang yang diberikan secara cuma-cuma.
"Tidak sulit... Ikuti aku."
Burdog berdiri dengan tenang lalu membuka pintu lain yang mengarah ke ruangan di belakang.
Di sana terdapat sebuah kamar yang anehnya memiliki ranjang besar di tengah, seperti sebuah kamar tidur.
"...Lalu, apa yang harus kuberikan sebagai imbalannya?"
"Lihatlah ke atas ranjang. Kenakan itu."
"...Eh?"
Sesaat Laura mengira ia salah dengar. Namun ketika ia melihat ke atas ranjang, tubuhnya membeku.
Yang tergeletak di sana adalah pakaian dalam yang bahkan lebih pantas disebut seutas tali daripada selembar kain.
Pakaian itu seolah dibuat hanya untuk membangkitkan rasa malu.
Laura pun menyadari. Ia mengerti apa yang harus ia serahkan sebagai gantinya.
"U-Uskup Agung... tanpa harus memilih orang seperti saya pun... pasti masih banyak wanita yang jauh lebih hebat dan lebih pantas..."
"Kau salah menilai nilai dirimu sendiri."
"...Eh?"
"Rambutmu panjang dan berkilau, matamu besar dengan bulu mata yang indah. Wajahmu mungil, tubuhmu proporsional, dan selalu diselimuti harum bunga... Kau bagaikan peri bunga itu sendiri. Begitu melihatmu tadi, aku langsung yakin. Kau adalah wanita yang istimewa."
"A-aku... tidak pantas menerima pujian sebesar itu..."
Saat bekerja di toko bunga, memang sudah berkali-kali ada pria yang mencoba mendekatinya. Namun ia tak pernah membayangkan akan dipuji secara langsung oleh seseorang yang kedudukan dan statusnya begitu jauh di atas dirinya.
"Baiklah, bagaimana keputusanmu? Aku orang yang sibuk. Kurasa kau juga mengerti itu. Sayangnya aku hanya bisa menunggu sepuluh detik."
"E-eh...?"
Hitungan mundur pun dimulai secara tiba-tiba.
Kepala Laura menjadi kosong. Ia tak mampu berpikir jernih; yang ada hanyalah kebingungan yang semakin menjadi.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam..."
"T-tunggu... ah..."
"Lima, empat, tiga... dua... satu."
Saat angka terakhir hampir terucap, kata-kata yang keluar dari mulut Laura adalah──
"Aku akan melakukannya!! Aku akan melakukannya!!"
Ia berteriak seolah sedang menguatkan tekadnya sendiri. Dengan kata-katanya sendiri, Laura telah memberikan jawabannya.
"Keputusan yang bijaksana. Seperti yang kuduga, kau terlalu meremehkan nilai dirimu sendiri. Kau wanita yang luar biasa. Tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janji. Koin-koin emas yang tadi memang menjadi milikmu."
Ia telah mengatakannya.
Ia bisa menyelamatkan ayahnya. Ia bisa melindungi kekasihnya. Ia juga bisa memperoleh uang.
── Yang harus dikorbankan hanyalah satu orang: dirinya sendiri.
Sambil terus meyakinkan dirinya seperti itu, Laura memantapkan tekadnya.
"...Ada apa? Cepat kenakan itu. Aku tidak punya banyak waktu. Bergantilah sebelum aku berubah pikiran."
"E-eh... Yang Mulia Uskup Agung... apakah Anda... akan melihat saya berganti pakaian...?"
"Hm, begitu rupanya. Jadi kau ingin aku ikut melepas pakaianku juga... Maaf, aku kurang memikirkannya."
"B-bukan begitu maksud sa── kyaa!?"
Sebelum Laura sempat menyelesaikan ucapannya, Burdog sudah lebih dulu melepaskan jubah kebesarannya. Jubah tebal itu jatuh ke lantai, dan dalam sekejap ia hanya mengenakan pakaian dalam.
Laura menahan napas dan spontan memalingkan wajahnya.
"...M-malunya... jadi, kalau bisa... tolong alihkan pandangan Anda..."
Meski begitu, tidak ada lagi jalan untuk mundur.
Dengan tangan gemetar, Laura mulai melepaskan pakaiannya satu demi satu. Setelah tubuh telanjangnya terekspos, ia mengambil pakaian dalam yang nyaris hanya berupa seutas tali itu, lalu mengenakannya.
"...Benar-benar luar biasa. Siapa namamu?"
"...Laura."
"Laura. Kemarilah."
"..."
Sambil menggigil, Laura menaiki ranjang.
(Bertahanlah... Kalau aku bisa menahannya... hanya untuk kali ini... aku bisa menyelamatkan hubunganku dengannya... dan juga menyelamatkan Ayah...!)
Dengan tekad itu di dalam hati, Laura menyerahkan dirinya kepada Burdog.
Telapak tangan pria itu yang besar mencengkeram bahunya, lalu pada detik berikutnya tubuh Laura direbahkan ke atas ranjang.
Pakaian dalam tipis itu sudah tak lagi berfungsi menutupi bagian-bagian penting tubuhnya.
"── Saat merebut milik orang lain... itulah saat yang paling membangkitkan gairahku...!"
Dengan senyum buas bak binatang, Burdog menindih tubuh Laura.
(Ah, Osman... maafkan aku... meski ini demi dirimu... tubuhku...!)
Burdog mulai memperlakukannya dengan kasar tanpa sedikit pun memedulikan perasaan Laura.
"Ah... tidak... jangan... ah...! T-tolong jangan...!"
"Apa kau berani membantahku?"
"B-bukan... maksudku... sakit... ah...!"
Laura meringis menahan rasa sakit dan malu, sementara Burdog hanya menikmati reaksi itu.
"Aku tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu."
"E-eh...? T-tunggu..."
Tanpa memberi Laura waktu untuk bersiap, Burdog memaksakan kehendaknya.
Tubuh Laura secara naluriah menegang, dan suara kecil penuh ketakutan keluar dari bibirnya.
(Kalau Osman... dia selalu memelukku dengan lembut. Dia selalu memperlakukanku dengan penuh kasih... Aku menyukai kehangatan tangannya...)
Bayangan kekasihnya melintas di benaknya. Meski penuh gairah, Osman selalu memperlakannya dengan lembut dan penuh perhatian.
Setiap sentuhannya membuat Laura merasa dicintai, hingga hati dan tubuhnya perlahan luluh.
"Jangan... jangan begitu... ah...!"
Laura hanya mampu menahan rasa sakit yang menusuk.
"Huf... huff..."
(Sakit... dan... terlalu besar... ini tidak masuk akal...)
"Hei... bagaimana? Sekali saja seorang wanita menerimaku, dia tak akan lagi merasa puas dengan pria lain."
"...!"
"Masih mencoba bertahan? Kalau begitu..."
"Aahhh!?"
Laura terus menerima perlakuan kasar itu tanpa mampu melawan.
Ia berusaha keras menahannya, tetapi kekuatan Burdog sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk melawan.
Hubungan itu sepenuhnya dilakukan demi memuaskan nafsu Burdog sendiri.
Kekasarannya mengingatkan Laura pada monster-monster buas, tetapi tubuh dan kekuatan Burdog jauh lebih besar.
(Sampai ke dalam... rasanya...! Bahkan Osman tidak pernah... sejauh ini...!)
Meski hatinya dipenuhi rasa jijik dan takut, tubuhnya mulai bereaksi di luar kehendaknya sendiri. Ia membenci kenyataan itu.
(Tidak... jangan... tubuhku... seolah dipaksa menyesuaikan diri...!)
"Bagus... bagus..."
"Ah... tidak... jangan...!"
Setiap hentakan membuat Laura menggigil, sementara tubuhnya perlahan kehilangan tenaga untuk melawan.
Burdog lalu menyeringai dan mendekatkan wajahnya.
"T-tolong... selain ciuman... apa saja boleh... Tapi jangan cium aku... kumohon! Apa pun akan kulakukan... asal jangan cium aku..."
"Oh? Apa saja, katamu? Heh... kalau begitu mari kita coba sesuatu. Laura, sekarang kau yang berada di atas. Gerakkan pinggulmu sendiri."
"..."
Mendengar perintah tanpa belas kasihan itu, Laura menggigit bibirnya.
Tubuh mereka masih menyatu. Saat Burdog berbaring telentang, Laura secara alami berada di atasnya.
Dengan tubuh yang gemetar karena malu dan putus asa, tanpa jalan untuk melarikan diri, Laura perlahan mulai menggerakkan tubuhnya sesuai perintah.
"......"
"Begitu tidak akan membuatku puas. Posisi ini seharusnya seperti ini...!"
"Aah!?"
Karena gerakan Laura masih canggung, Burdog memegang pinggulnya dan memaksanya bergerak lebih kuat.
Laura yang tak lagi sanggup mempertahankan keseimbangan akhirnya roboh hingga tubuhnya bertumpu di atas Burdog.
"Bagaimana? Apa kau sudah mulai menyukaiku?"
"B-bukan... bukan begitu...! Tubuhku... sudah tidak sanggup menopang lagi...!"
Burdog mencengkeram bahu Laura dengan kuat, menahannya agar tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Tak mampu menggerakkan tubuhnya, Laura terus dipaksa menerima hentakan yang menembus jauh ke dalam dirinya.
"Haa... sungguh luar biasa... Rasanya seolah-olah tubuhmu sendiri yang menarikku masuk... Baiklah, sekarang giliranku..."
"E-eh...!? A-apa yang...!? J-jangan bilang... di dalam... Tidak... jangan begitu...!"
"Hm, sekarang baru menolak? Kau sudah tidak punya hak untuk memilih! Bukankah tadi kau berkata akan melakukan apa saja? Kalau begitu, sesuai janji..."
"Tidaaak!! Jangan itu... kumohon jangan itu! C-ciuman... tidak apa-apa kalau menciumku! Tapi jangan... jangan di dalam... jangan...!!"
Pada saat berikutnya, kedua pipi Laura dijepit erat oleh kedua tangan Burdog. Bibirnya yang tak lagi bisa menghindar pun dibungkam oleh ciuman paksa.
Tanpa memberinya waktu untuk bereaksi, lidah Burdog dipaksakan masuk, sementara air liurnya yang hangat dan lengket bercampur dengan milik Laura.
Bibirnya yang lembut dan lidahnya yang gemetar diperlakukan dengan kasar, sama seperti tubuhnya.
(Osman... maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku...!)
Di dalam hati, Laura hanya mampu terus memanggil nama kekasihnya dan berulang kali meminta maaf.
Namun doa itu tidak pernah terkabul. Seolah-olah janji yang diucapkan sebelumnya tidak pernah ada, Burdog tetap melakukan apa yang telah diputuskan olehnya.
"Uuuh...!!"
Laura merasakan tubuhnya bergetar hebat. Suara yang keluar dari bibirnya bahkan tak lagi bisa ia bedakan, apakah itu tangisan atau erangan.
Burdog memandang Laura dengan ekspresi puas, lalu berkata dengan nada dingin.
"Hm... sepertinya kau sudah mencapai batasmu. Tapi jangan mengira semuanya berakhir di sini. Ini baru permulaan, Laura."
Tubuh Laura masih bergetar lemah di atas tubuh Burdog. Namun rasa takutnya segera menjadi kenyataan.
Pria itu sama sekali tidak berniat berhenti.
"T-tunggu... beri aku waktu sebentar saja..."
"Tidak bisa. Karena kau adalah mainanku."
Tanpa belas kasihan, Laura dipaksa mengubah posisi tubuhnya. Bahkan tanpa diberi kesempatan untuk beristirahat, ia kembali diperlakukan secara kasar dari belakang.
"Tidak... jangan...! Aku sudah tidak sanggup lagi... sudah cukup! Tolong... aku benar-benar tidak kuat lagi...!"
Mengabaikan semua teriakan Laura, setiap kali Burdog menggerakkan tubuhnya, ia juga menghantam bokong Laura dengan telapak tangannya.
Suara tamparan yang keras berpadu dengan isak tangis Laura yang semakin melengking.
(Osman... Osman tidak pernah memperlakukanku seperti ini... Dia selalu lembut... Dia tidak pernah menyakitiku atau mempermalukanku seperti ini... Jangan... hentikan... jangan pukul aku lagi...!!)
Melalui pandangan yang kabur oleh air mata, Laura melihat Burdog masih tersenyum dengan napas yang memburu.
Lalu, dengan suara pelan seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri, ia berbisik,
"── Mulai dari sinilah... mimpi burukmu benar-benar dimulai, Laura."
◇◇◇
"...T-terima kasih... atas uangnya..."
Setelah semuanya selesai, Laura merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jari yang masih gemetar sambil mati-matian mengenakan kembali pakaiannya.
Burdog memanggil pria berjubah hitam itu dan memerintahkannya untuk mengantar Laura pulang.
Namun── ada sesuatu yang terasa aneh.
Jalan yang mereka lalui bukanlah jalan yang dikenalnya. Mereka jelas melewati tempat yang berbeda. Saat rasa gelisah mulai memenuhi dadanya, pria berjubah hitam itu tiba-tiba berkata,
"Oh ya, ada pesan dari Yang Mulia Uskup Agung── jika kau ingin melunasi seluruh utangmu, ada cara untuk memperoleh uang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat."
"...Apa?"
Di tempat tujuan yang diantarkan kepadanya...terdapat sebuah aula besar yang dipenuhi aroma dupa yang manis dan pekat.
Yang pertama kali tertangkap oleh matanya adalah pemandangan ganjil: banyak pria dan wanita dengan pakaian yang sangat minim saling berpelukan, berkeringat, dan memenuhi ruangan dengan berbagai suara.
"A-apa... ini...?"
Suaranya bergetar, dan kedua kakinya hampir kehilangan tenaga.
Saat itu, tiga pria bertelanjang dada muncul di hadapannya. Ketiganya mengenakan topeng yang hanya menutupi area mata sehingga identitas mereka tersembunyi.
"Wanita cantik ini katanya ingin menghasilkan banyak uang."
"Apa...!?"
Ucapan pria berjubah hitam itu membuat wajah Laura membeku.
"Oh... wanita yang sangat cantik."
"Bentuk tubuhnya juga bagus... benar-benar pilihan terbaik."
"Dengan dirimu, target uang sebanyak apa pun pasti cepat tercapai."
"A-apa... yang kalian bicarakan...?"
Ketiga pria itu perlahan mendekatinya.
Laura mundur ketakutan. Namun...
"Ah..."
Tanpa disadari, seorang pria bertubuh jauh lebih besar telah berdiri di belakangnya.
Sambil menjilat bibirnya, pria itu memegang bahu Laura erat-erat hingga ia tidak bisa melepaskan diri.
"T-tidak... jangan...! Aku... tidak sanggup lagi... jangan lakukan ini lagi... Tolong... jangan mendekat... maafkan aku... sudah... sudah cukup..."
"──〈Kutukan Noda Nafsu〉."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari suatu tempat.
Dalam sekejap, tubuh dan kesadaran Laura diselimuti panas yang aneh, seolah pikirannya mulai dikacaukan sementara ia tetap sadar.
"Heh... awalnya akan kubuat terasa ringan."
"Dia juga sudah pernah disentuh sebelumnya... tak perlu dipermasalahkan."
"Hm...? Bukankah dia sudah bereaksi?"
"Hehehe..."
Tubuhnya memanas dengan sendirinya, sementara kepalanya terasa kosong.
Pakaian yang dikenakannya terasa mengganggu, seolah ia ingin segera melepaskannya.
Keempat pria itu mengepung Laura dan dalam sekejap melucuti seluruh pakaiannya.
"T-tidak...! Apa yang kalian lakukan...!?"
Keempat anggota tubuhnya ditahan kuat sehingga ia sama sekali tidak dapat melarikan diri.
Tangan-tangan para pria itu menahannya erat hingga ia tak mampu bergerak.
Salah seorang dari mereka kemudian mengeluarkan sebuah alat yang belum pernah dilihat Laura sebelumnya.
"Hm... kau tidak tahu? Barang ini berasal dari Kekaisaran. Katanya alat pijat yang bergetar menggunakan sihir."
Benda berbentuk memanjang itu bergetar karena tenaga sihir. Ketika tombolnya diaktifkan, terdengar suara dengungan rendah.
(Tidak... firasatku buruk... Apa yang akan mereka lakukan dengan benda itu...? Tapi tubuhku... kenapa terasa semakin panas...!)
Pria itu mendekat sambil membawa alat tersebut.
Laura berusaha mundur, tetapi tubuhnya ditahan dari segala arah sehingga mustahil melawan.
"Hei, buka kakimu."
"Tidak... jangan! Jangan paksa aku...!"
Perlawanannya sia-sia. Kedua kakinya dipaksa terbuka, sementara ia tetap tak mampu meloloskan diri.
Pria itu perlahan mendekatkan alat tersebut...
"Ah...!?"
Tubuh Laura yang sebelumnya telah kelelahan, ditambah pengaruh 〈Kutukan Noda Nafsu〉, membuat reaksinya semakin sulit dikendalikan.
Suara dengungan memenuhi ruangan, sementara Laura hanya bisa mengeluarkan jeritan bercampur tangis.
"Oh? Wajahnya terlihat begitu anggun, tapi reaksinya luar biasa."
"Hehehe... benar-benar wanita yang menarik."
Laura dipaksa memegang salah satu pria, sementara yang lain terus memperlakukannya tanpa memberinya kesempatan untuk memulihkan diri.
Air mata dan air liur bercampur di wajahnya, namun rasa itu tak kunjung berhenti.
Tenaganya untuk melawan sudah benar-benar habis.
Saat salah seorang pria kembali memaksanya, pengaruh 〈Kutukan Noda Nafsu〉 sepenuhnya menguasai tubuhnya.
Rasa sakit, kebingungan, dan sensasi yang saling bertabrakan membuat Laura tak mampu lagi menahan suaranya.
(Kenapa... meskipun aku diperlakukan seperti ini... tubuhku bereaksi...? Tidak... jangan... hentikan... aku...!)
Pada akhirnya, Laura terus diperlakukan sebagai mainan oleh para pria itu.
Rasa putus asa dan kelelahan bercampur menjadi satu, sementara tubuhnya terus gemetar. Pemandangan itu bagaikan mimpi buruk tanpa jalan keluar.
── Dan akhirnya fajar pun tiba.
Laura pulang bukan ke rumah Osman, melainkan ke rumah ayahnya.
Di tangannya tergenggam sekantung koin emas. Jumlahnya memang belum cukup untuk melunasi seluruh utang, tetapi tetap merupakan uang yang sangat besar.
◇◇◇
Sebulan kemudian.
"──Laura, ada apa? Belakangan ini wajahmu kelihatan pucat. Bahkan pada malam hari pun kau selalu menghindariku..."
"Osman... jangan khawatir. Akhir-akhir ini toko bunga sedang sangat sibuk. Setelah masa sibuk berlalu, aku pasti akan kembali sehat. Dan soal malam hari juga──"
"...Begitu ya. Tapi jangan memaksakan diri."
Mereka saling memberi kecupan singkat di depan pintu sebelum Laura melepas kepergian kekasihnya.
Laura juga bersiap seolah hendak bekerja, lalu berjalan seorang diri. Namun langkahnya tidak lagi menuju toko bunga.
Ia sudah berhenti bekerja di sana. Karena ia telah menemukan pekerjaan yang menghasilkan uang lebih banyak.
Begitu membuka pintu, Laura langsung melepaskan pakaiannya.
Dari tubuhnya tampak bekas-bekas perubahan yang mencolok, termasuk hiasan pada tubuhnya dan sebuah tanda berwarna merah muda yang bersinar redup di bagian bawah perutnya.
"Hehehe... hehehehe..."
Senyumnya telah berubah.
Apa yang semula ia lakukan demi uang, kini membuat uang itu sendiri terasa tidak lagi penting dibanding dorongan yang terus mengikatnya.
Seolah terperangkap dalam lingkaran yang tak dapat diputus.
Dulu ia menjual bunga sebagai pegawai toko bunga. Namun tanpa disadari, kini justru dirinya sendirilah yang diperjualbelikan.
Ia terus menyerahkan dirinya kepada banyak pria, semakin tenggelam dalam kehidupannya yang baru.
── Inilah kisah tragis yang dialami seorang wanita.
Di aula besar yang penuh kemewahan itu, banyak wanita lain juga telah kehilangan kebebasan mereka.
Laura hanyalah salah satunya.
Di balik dirinya, masih ada banyak wanita lain yang bernasib serupa.



Post a Comment