Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 1
Guild Petualang
"── Besar sekali..."
Inilah Kota Petualang Hares, salah satu dari empat kota terbesar di Kerajaan Einfilia.
Sejak melihatnya dari kejauhan aku sudah dibuat terpukau, tetapi ketika tiba tepat di depan gerbang, ukurannya terasa seperti sebuah tembok raksasa hingga tanpa sadar aku harus mendongakkan kepala hampir tegak lurus untuk melihat puncaknya.
Sepertinya kami tiba di Gerbang Timur. Rupanya kota ini memiliki gerbang di keempat arah mata angin. Dari itu saja sudah bisa dibayangkan betapa besarnya kota ini.
"Hm...? Glen! Bukankah itu Glen!? Dan seluruh anggota Silver Blade juga!"
Salah seorang penjaga gerbang yang sedang bertugas melihat Glen duduk di kursi kusir. Ia langsung berteriak kaget sambil berlari menghampiri.
"Jilbe. Sudah lama tak bertemu."
"Kalian tidak kembali dari misi penumpasan goblin, jadi seluruh kota dan guild sampai geger mencarimu!"
"Ya, banyak hal terjadi... tapi kami akhirnya berhasil kembali dengan selamat."
Sepertinya Glen memang memiliki banyak kenalan. Namun bukan sekadar banyak teman, dari percakapan mereka terlihat jelas bahwa ia benar-benar dihormati.
Sebagai petualang peringkat B, Glen termasuk golongan petualang papan atas bahkan di kota sebesar ini. Tak heran kalau dirinya dan Silver Blade begitu terkenal.
"Siapa pemuda yang di sana? Kenalanmu?"
"Ya. Dia adalah orang yang menyelamatkan kami. Namanya Shuu."
"Jadi kaulah orangnya! Terima kasih banyak! Izinkan aku juga mengucapkan terima kasih!"
"A-ah... ya."
...Hebat juga.
Orang ini benar-benar senang melihat teman-temannya selamat. Glen, ternyata kau sangat dihormati, ya.
Sebelum kusadari, kedua tanganku sudah digenggam erat oleh penjaga bernama Jilbe itu.
"Lalu... kereta ini... rasanya aku pernah melihatnya... Tunggu, bukankah ini kereta yang dulu dilaporkan dicuri!?"
"......"
Ketahuan seketika.
Benar, kereta ini adalah kereta yang dicuri Iris saat melarikan diri. Kami menemukannya ditinggalkan bersama kudanya di dekat hutan, lalu menggunakannya sampai ke sini.
Sejujurnya, situasinya cukup gawat.
"K-keretaku!!"
Saat itu muncullah seorang pria bertubuh agak gemuk.
Sambil terengah-engah, ia berlari mendekat lalu menunjuk kereta yang kami naiki.
"...Pemilik kereta yang dicuri itu—pedagang bernama Mogumo."
"Kurang ajar! Jadi kalian pencuri keretaku!"
Setelah penjelasan Jilbe, pria bernama Mogumo itu langsung meluapkan amarahnya. Wajar saja kalau dia marah.
Namun aku sudah memperkirakan situasi seperti ini dan menyiapkan sesuatu sebelumnya.
── Justru lebih baik kalau lawannya seorang pedagang.
Kalau pedagang, pasti ada satu hal yang paling mereka sukai.
Uang.
"Maaf... rekanku memang mencurinya karena suatu alasan. Tapi bagaimana kalau ini sebagai gantinya?"
Aku menyerahkan sebuah kantong kulit.
"...Apa kau mencoba menyuapku? Apa kau kira aku akan menerima— Hah!? A-apa ini!?"
"Itu batu sihir wyvern. Bagaimana kalau kita anggap masalah ini selesai dengan itu?"
"Memaafkan? Dengan satu batu sihir ini saja aku bahkan bisa memperluas perusahaan dagangku! L-lagi pula... jangan-jangan Andalah yang mengalahkan wyvern itu...?"
Begitu melihat isi kantong, Mogumo langsung membelalakkan mata.
Konon, satu batu sihir wyvern saja nilainya setara dengan puluhan kereta.
"Ya, aku yang mengalahkannya. Kalau masih kurang, aku bisa memberimu satu lagi."
"S-satu lagi!? A-apa yang Anda katakan!? Justru saya yang akan kerepotan kalau menerima lebih banyak! Yang ini saja sudah lebih dari cukup! Kalau Anda memberi lebih, saya malah harus membalas budi kepada Anda!"
...Ternyata wyvern memang sangat berharga.
Aku masih punya sedikit uang, tapi sepertinya akan lebih baik kalau nanti batu sihir sisanya kutukar menjadi uang di kota ini.
"Syukurlah. Kalau begitu, bolehkah kami terus meminjam kereta ini?"
"Tentu saja! Bahkan lebih dari itu, saya berharap bisa menjalin hubungan dagang dengan Anda! Kereta ini akan dirawat oleh Perusahaan Dagang Mogumo. Kapan pun Anda membutuhkannya, kami akan meminjamkannya secara gratis! Toko kami ada di Distrik Selatan. Saya juga akan memberi tahu para bawahan saya."
"Benarkah? Itu sangat membantu. Mogumo, mulai sekarang aku mengandalkanmu."
"Ehm..."
"Namaku Shuu. Shuu Mireister."
"Shuu-sama...! Senang bisa bekerja sama dengan Anda!"
Setelah berjabat tangan erat, aku menyerahkan kereta itu kepada Mogumo.
Kami hanya mengambil barang-barang yang diperlukan, lalu melanjutkan perjalanan memasuki kota dengan berjalan kaki.
"Iris... kau tadi nyaris saja ditangkap."
"I-iya... Terima kasih banyak telah menyelamatkanku, Shuu-sama. Seperti biasanya..."
"Tapi syukurlah. Yang kau curi ternyata kereta milik pedagang yang masih masuk akal."
Iris yang sejak tadi bersembunyi di dalam kereta akhirnya mengembuskan napas lega. Meski sedang menyamar, dia tetaplah calon Saintess. Kalau sampai ditangkap, itu pasti menjadi noda besar baginya.
"Jilbe. Aku menjamin identitas ketiga orang ini. Tidak ada masalah, kan?"
"Kalau Glen yang bilang begitu... Tapi kalian punya kartu identitas?"
"Belum. Kami akan membuatnya di guild nanti."
Rupanya di kota ini kartu identitas adalah sesuatu yang wajib dimiliki. Namun Iris seharusnya dulu tinggal di kota ini. Bagaimana caranya selama ini?
"Kalau aku, pakaian dan tongkatku sudah menjadi bukti identitas, jadi tidak perlu membuat kartu identitas."
"Berarti hanya dengan itu saja orang sudah percaya. Memang status Saintess benar-benar istimewa, ya."
"Aku masih jauh dari layak. Aku hanya calon saja..."
Iris menjawab dengan rendah hati.
Meski begitu, jelas bahwa calon Saintess diperlakukan jauh berbeda dibanding orang biasa.
Setelah berhasil melewati pemeriksaan gerbang, yang terbentang di depan kami adalah jalan raya berlapis batu.
Hampir tidak ada bangunan kayu. Yang berdiri berjajar rapi hanyalah bangunan-bangunan dari batu.
Dibanding desa-desa yang pernah kukunjungi sebelumnya, tempat ini jauh lebih maju.
Benar-benar pantas disebut sebuah kota.
"Pertama-tama kita ke Guild Petualang. Sekalian mengurus kartu identitasmu."
Dipandu Glen, kami menuju sebuah bangunan besar dengan pintu kayu yang kokoh.
Begitu pintunya dibuka, tampak banyak petualang memenuhi ruangan. Ada yang sedang memilih permintaan, ada yang berdiskusi dengan rekan-rekannya, dan masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.
"Hei, itu Glen!"
"Benar! Seluruh anggota Silver Blade ada!"
"Kalian masih hidup!"
"Aku sudah tahu goblin tidak mungkin mengalahkan kalian!"
Dalam sekejap mereka dikerumuni banyak orang.
Para petualang bergantian menghampiri dan menyambut kepulangan Glen beserta kelompoknya.
Ternyata bukan hanya para penjaga kota yang menghormatinya, para petualang pun sangat menyukainya.
"Semuanya, maaf sudah membuat kalian khawatir. Kami semua selamat."
"Rumor yang beredar bilang kalian sudah mati!"
"...Banyak yang terjadi. Tapi pertama-tama aku ingin melapor kepada Guild Master. Tolong beri jalan."
"Baik... Hm? Kalian membawa orang lain?"
Tatapan para petualang kini beralih kepada kami. Atau lebih tepatnya, kepadaku.
Berbeda dengan tatapan hangat yang mereka berikan kepada Glen dan anggota Silver Blade, tatapan mereka kepadaku terasa tajam.
"...Pakaianmu. Kau orang gereja?"
"Hm? Maksudmu?"
"Yang kau pakai di balik pakaian itu, kan jubah pendeta?"
"Ya."
Kupikir siapa saja bisa memakai jubah seperti ini... memang ada masalah?
"Hei, jangan memandangnya seperti itu. Shuu bukan anggota gereja. Dia memiliki latar belakang yang agak istimewa. Dia adalah penyelamat kami. ...Meski memang tatapan matanya sedikit tajam."
Komentar terakhir itu sebenarnya tidak perlu. Namun Glen benar-benar membelaku.
"Kalau bukan karena Shuu, mungkin aku sudah mati. Tidak, pasti sudah mati. Jadi aku ingin kalian juga berteman baik dengannya."
"B-begitu ya... Kalau sampai Glen berkata sejauh itu... Maaf ya, Nak. Kami para petualang memang agak sensitif terhadap orang-orang yang berhubungan dengan gereja."
"Sensitif?"
"Ya. Mereka tidak bisa dipercaya. Biaya pengobatan mereka mahal, beberapa jenis sumbangan sifatnya seperti dipaksakan, dan kabarnya mereka juga menjalankan bisnis-bisnis yang licik di balik layar."
Nada bicaranya dipenuhi kebencian.
Yah, memang benar. Bisnis gelap Burdog dan berbagai tindakannya sudah jauh melampaui sekadar "licik".
"Pokoknya begini. Shuu adalah penyelamatku. Kalau ada yang menghina dia, aku tidak akan tinggal diam."
"Baiklah, kami mengerti. Namamu Shuu, ya? Mulai sekarang senang berkenalan."
"Aku juga. Senang berkenalan."
Setelah berjabat tangan erat dengan pria itu, akhirnya kami tiba di meja resepsionis.
"──Glen-sama! Dan semuanya juga...! Pantas saja pintu masuk tadi begitu ramai... ternyata memang kalian!"
Petugas resepsionis yang melayani kami memandang dengan wajah penuh kegembiraan.
Ia memiliki rambut panjang berwarna zaitun yang diikat dengan pita merah. Penampilannya memancarkan kesan anggun sekaligus menawan. Di antara para resepsionis, dia adalah wanita yang paling mencolok kecantikannya.
"Rina. Maaf sudah membuatmu khawatir. Kami semua selamat."
"Syukurlah... Bahkan Guild Master sampai berteriak-teriak karena terlalu mengkhawatirkan kalian."
"...Maaf soal itu."
Glen tersenyum kecut sambil menggaruk kepala.
Saat ia melirik ke belakang── ekspresi Rishia tampak muram dengan sangat jelas. Rupanya ia tidak senang melihat Glen berbicara akrab dengan wanita lain.
... Lagi pula, ukuran dadanya juga kalah.
Glen memang tampan. Wajar kalau dia sangat populer di kalangan wanita. Menjadi Rishia pasti tidak mudah.
"Kalau begitu, Rina. Pertama-tama kami ingin melaporkan penyelesaian misi, lalu──"
Glen menoleh kepadaku sebelum melanjutkan.
"──mengurus kartu identitas. Tolong daftarkan dia sebagai petualang."
◇◇◇
"──Yang Mulia Burdog. Tampaknya gua tempat para goblin dipelihara telah diserang seseorang."
"...Apa?"
Di sebuah rumah mewah yang berdiri di salah satu sudut Kota Petualang Hares, Burdog sedang memeriksa setumpuk dokumen tebal di ruang kerjanya ketika seorang pria berpakaian serba hitam muncul tanpa suara dan menyampaikan laporannya.
"Semua orang yang ditawan telah menghilang. Selain itu, seluruh kawanan goblin yang dipelihara juga telah dimusnahkan."
"Bahkan Ratu Goblin juga?"
"Ya. Berdasarkan laporan, dia dipastikan telah dibunuh."
"...Kau yakin tidak ada kesalahan?"
"Ya. Kami benar-benar yakin."
Kerutan dalam muncul di wajah Burdog, memperlihatkan kekesalan yang tidak dapat ia sembunyikan.
Ia menyilangkan tangan, terdiam cukup lama, lalu mengembuskan napas setelah berpikir sejenak.
"Padahal aku merasa sudah berhasil membangun tempat berkembang biak yang sangat baik..."
Ia sengaja membiakkan goblin, mengendalikan jumlah mereka, lalu membiarkan mereka menyerang manusia.
Mereka tidak diperintahkan untuk membunuh, melainkan hanya melukai tubuh dan mental para korban agar pada akhirnya para korban itu datang ke gereja yang berada di bawah kendalinya.
Dengan dalih biaya pengobatan, gereja akan terus menguras uang mereka.
Rencana yang menyimpang itu seharusnya berkembang menjadi sumber keuntungan yang sangat besar baginya.
Meskipun semuanya masih dalam tahap persiapan, kerugian kali ini tetap terasa menyakitkan.
"Ada laporan lain?"
"Ada. Rupanya Guild Petualang mengeluarkan misi penumpasan goblin... dan kelompok Silver Blade yang menerima misi itu baru saja kembali."
"Para petualang itu lagi... bahkan Silver Blade pula... Sungguh menjengkelkan. Mereka benar-benar menghalangi urusanku."
Kepalan tangan Burdog sedikit bergetar di atas meja, memperlihatkan amarah yang sulit ia tahan.
Sejak dahulu hubungan antara gereja dan Guild Petualang memang tidak pernah akur. Walaupun ada petualang yang mampu menggunakan sihir cahaya, jumlahnya sangat sedikit.
Karena pekerjaan mereka penuh bahaya, mereka sering kali harus bergantung pada gereja untuk mendapatkan penyembuhan.
Namun lambat laun, semakin banyak petualang yang mengeluhkan biaya pengobatan gereja yang terlalu mahal.
Sejak saat itulah hubungan kedua pihak semakin memburuk.
Meski demikian, para petualang tetap terpaksa datang ke gereja saat terluka, sedangkan pihak gereja akan tetap memberikan penyembuhan selama bayaran mereka dipenuhi.
Hubungan mereka tidak lebih dari sekadar hubungan yang dingin dan saling memanfaatkan.
"Kalau para wanita yang ditawan berhasil membocorkan sesuatu... ada kemungkinan mereka akhirnya sampai kepada Yang Mulia Burdog."
"Kalau begitu memangnya kenapa?"
Burdog menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyunggingkan senyum penuh percaya diri.
"Kalaupun mereka berhasil sampai kepadaku, mereka tidak punya bukti apa pun. Orang yang menyebut namaku justru akan dituduh sebagai penyimpang dan dihukum. Hahaha."
Seluruh tindakannya selama ini selalu didukung oleh langkah-langkah pengamanan yang sangat teliti.
Terlebih lagi, ia sangat yakin karena mengandalkan kekuatan kutukan.
Di dunia ini, hanya orang yang merapal kutukanlah yang mampu menghapusnya. Karena itu, siapa pun yang menjadi sasaran tidak akan pernah bisa lari dari pengaruh kutukan tersebut.
── 〈Kutukan Noda Nafsu〉, yang membuat korbannya dikuasai hasrat dan kenikmatan hingga perlahan menghancurkan jiwanya.
── 〈Keburukan Wajah〉, yang mengubah wajah seseorang menjadi buruk rupa hingga diperlakukan bukan lagi sebagai manusia.
Semuanya merupakan kutukan yang tidak menyisakan jalan keluar.
Dengan keyakinan penuh terhadap rencananya, Burdog kembali menekuni dokumen-dokumennya seolah tidak terjadi apa pun.
◇◇◇
"──Ini adalah Kartu Guild yang menjadi tanda pengenal seorang petualang. Untuk Shuu-sama, Iris-sam, dan Medina-sama."
Berkat rekomendasi Glen, kami bertiga menerima Kartu Guild dari resepsionis bernama Rina.
Ukurannya pas digenggam dengan satu tangan. Bahannya terasa aneh, seperti perpaduan logam dan batu sihir. Permukaannya berkilau, sementara nama dan peringkat terukir jelas di atasnya.
Hanya selembar kartu tipis seperti kartu kredit. Namun bagi penduduk kota ini, kartu tersebut merupakan bukti identitas yang sah.
Sebenarnya seseorang seperti Iris tidak memerlukan kartu identitas. Tetapi karena sekarang ia sedang menyamar, kartu ini diperlukan untuk membuktikan identitas resminya.
Hanya ada satu hal yang membuatku penasaran.
Ia menggunakan nama aslinya saat mendaftar. Aku sempat khawatir, tetapi Iris hanya menggeleng dengan tenang.
"Gelar calon Saintess memang dikenal luas, tetapi hampir tidak ada yang mengetahui nama kami. Jadi tidak perlu khawatir."
Benar juga. Kalau dipikir-pikir, Glen dan yang lainnya juga tidak menunjukkan reaksi apa pun ketika pertama kali mendengar nama Iris.
Bahkan saat Rina mencatat namanya, ia sama sekali tidak merasa curiga.
"Karena mendapat rekomendasi dari Glen-sama, kalian tidak perlu memulai dari peringkat F. Kalian langsung terdaftar sebagai petualang peringkat E."
Rina menjelaskan sambil tersenyum.
Para petualang mengumpulkan prestasi dengan menyelesaikan berbagai misi, lalu secara bertahap naik peringkat. Dengan kata lain, petualangan kami baru benar-benar dimulai.
"Rina. Guild Master ada?"
"Ya. Sepertinya beliau sedang berada di ruang kerjanya di lantai dua."
"Maaf, ada hal penting yang harus kami bicarakan. Tolong sampaikan bahwa kami membutuhkan waktunya."
"Baik."
Rina mengangguk lalu berlari ringan menaiki tangga.
Setelah sosoknya menghilang, aku mengangkat bahu dan bergumam.
"...Eh, tahu-tahu aku sudah jadi petualang. Memangnya tidak apa-apa begini?"
"T-tidak boleh!"
Iris langsung menyela. Dengan pipi menggembung, ia menatapku seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Shuu-sama nantinya harus bersekolah di Akademi Gereja untuk mempelajari ajaran dan sejarah gereja. Setelah itu, Anda harus resmi bergabung dengan Gereja Mishia dan menunjukkan kewibawaannya."
"Tunggu... Ini baru pertama kali aku dengar. Jadi aku harus sekolah? Aku tidak suka belajar."
Aku benar-benar tidak menyangka. Menjadi pelajar lagi untuk kedua kalinya dalam hidup jelas bukan hal yang kuinginkan.
"Namun... apabila Shuu-sama benar-benar ingin tetap menjadi petualang, setelah lulus dari Akademi Gereja Anda dapat menjadi Penginjil Keliling, berkeliling berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran Mishia sekaligus memurnikan—atau dengan kata lain, menyingkirkan—para penyimpang."
"Hei, bagian akhirnya terdengar sangat berbahaya."
Rupanya masuk sekolah adalah jalur yang tak bisa dihindari. Bahkan jika tetap menjadi petualang, pekerjaannya tetap akan berkaitan erat dengan gereja.
Dan kata penyimpang itu juga mengganjal pikiranku.
Apakah yang dimaksud adalah orang seperti Burdog yang menyalahgunakan ajaran agama? Atau juga orang-orang beriman yang melanggar aturan gereja?
Aku masih belum memahami batasannya.
"...Penjelasannya cukup panjang, jadi kita akhiri sampai di sini dulu. Yang pasti, seseorang yang sedekat Shuu-sama dengan para dewa seharusnya berada di gereja, bukan menjadi petualang. Mengadili rohaniwan yang korup juga merupakan tugas penting seorang Penginjil Keliling."
Tatapan Iris begitu serius hingga aku memilih diam.
Aku mengerti maksudnya. Namun aku memang tidak suka dipaksa. Kalau harus bekerja, aku lebih memilih pekerjaan yang memberiku kebebasan seperti menjadi petualang.
"Kalau Shuu-sama benar-benar ingin mengabdikan diri kepada gereja, masih ada jalan menjadi Ksatria Kuil. Tetapi... kurasa itu tidak cocok untuk Anda."
Ksatria Kuil.
Mungkin itu adalah pasukan bersenjata yang berada langsung di bawah gereja, terpisah dari ksatria kerajaan. Artinya, negara ini memiliki dua organisasi ksatria.
Kerajaan dan gereja.
Guild Petualang dan gereja.
Tampaknya hubungan kepentingan di antara berbagai organisasi di negara ini cukup rumit.
"Jadi... langkah kita berikutnya bagaimana? Kita harus mengumpulkan bukti sebelum menjatuhkan Burdog."
"Shuu. Soal itu, aku punya satu usul."
Glen melihat ke sekeliling lalu merendahkan suaranya.
"Kami akan melaporkan kejadian di gua kepada Guild Master. Dengan begitu dia pasti mau membantu, setidaknya sedikit. Guild Master terkenal sangat membenci gereja. Kalau kita berhasil menangkap Burdog lebih dulu, dia pasti akan senang. Dia juga bisa mengklaim bahwa guild telah membereskan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab gereja."
"Masuk akal..."
"Jadi maaf, tapi selama kami berdiskusi, bisakah kau berkeliling kota dulu? Menjelang sore pasti selesai. Oh ya, ada penginapan bernama Penginapan Nagiri no Kiritei di Distrik Utara, dekat markas kami. Sebaiknya kau menginap di sana. Sebut saja namaku, mungkin kau akan mendapat harga lebih murah."
"Kau benar-benar perhatian sekali. Terima kasih ya."
"Sudah seharusnya. Kau sudah menyelamatkan nyawaku."
Glen tersenyum ramah.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjelajahi kota terlebih dahulu sebelum nanti menuju Penginapan Nagiri no Kiritei.
"──Kalau begitu, sampai nanti, semuanya dari Silver Blade!"
"Ya. Kalau ingin menjual batu sihir, guild ini juga membelinya."
"Terima kasih. Kalau sempat nanti akan kulakukan!"
Di akhir, Rishia melambaikan tangan kepadaku, dan aku pun membalas salam perpisahannya.
"Baiklah! Kita cari makan!"
"Ya!"
"Ayo!"
Aku mengajak Iris dan Medina untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Shuu-sama, sebelum itu... bolehkah aku berganti pakaian?"
Baru saja hendak menuju rumah makan, Iris mengajukan permintaan itu.
Menurutnya, ia benar-benar ingin mengganti pakaian penyamarannya dengan jubah sucinya.
Saat berjalan di luar, ia hanya perlu mengenakan mantel berkerudung agar identitasnya tetap tersembunyi.
Mungkin sebagai calon Saintess, ia memang ingin selalu mengenakan pakaian sucinya.
Aku pun menyetujui permintaannya, dan kami memutuskan untuk menuju rumah makan setelah Iris selesai berganti pakaian.
◇◇◇
Setelah Shuu keluar dari Guild Petualang, Glen dan anggota Silver Blade naik ke lantai dua mengikuti resepsionis Rina dan mengunjungi ruang kerja Guild Master.
Begitu mereka mengetuk lalu membuka pintu—
"Uooooh! Glen! Kalian masih hidup! Syukurlah... Astaga, kupikir jantungku benar-benar akan berhenti!"
"Haha, kami entah bagaimana berhasil kembali. Sepertinya kami membuat semua orang sangat khawatir."
Sambil tertawa, Glen menerima tepukan keras di kedua bahunya dari pria yang telah memimpin Guild Petualang selama sepuluh tahun, Guild Master Berg Steak.
Meski tubuhnya sedikit lebih pendek daripada Garo, ia lebih besar daripada Glen, dengan tubuh kekar bak bongkahan batu. Namun, yang paling mencolok adalah kepalanya yang licin mengilap tanpa sehelai rambut pun.
Di usianya yang menginjak empat puluhan, ia memancarkan wibawa seorang mantan petualang yang benar-benar pantas menyandang gelar Guild Master.
"Aku sudah mendengar dari Rina. Katanya misi yang seharusnya hanya penaklukan goblin malah berubah menjadi sesuatu yang luar biasa."
"Ada banyak hal yang harus kami laporkan. Bisakah kau meluangkan waktu?"
"Tentu saja. Rina, tolong siapkan teh."
"Baik, segera."
Keempat anggota Silver Blade pun duduk di sofa ruang kerja dan berhadapan dengan Berg.
"──Pertama, lihat ini."
Glen meletakkan kantong kulit di atas meja. Dari dalamnya menggelinding sebuah batu sihir hijau raksasa, bahkan terlalu besar untuk digenggam dengan satu tangan.
"Apa-apaan ukuran batu sihir ini!?"
"Itu milik Goblin Queen... seekor Goblin King betina."
"...Hah!? Goblin Queen!? Aku bahkan belum pernah mendengar monster seperti itu!"
Suara Berg menggema memenuhi ruangan.
"Itu belum semuanya. Ada Hob Goblin, Goblin Mage, bahkan Goblin General. Kami membawa pulang semua batu sihir yang sempat kami ambil."
"...Aku benar-benar tak bisa membayangkannya. Satu Goblin General saja bisa memusnahkan satu party... lalu kalian berempat bisa kembali hidup...? Tunggu. Tadi kau bilang kalian membawa pulang batu sihir?"
Keterkejutannya memang wajar. Secara normal, itu mustahil. Namun mereka ditemani seseorang yang mampu menghancurkan akal sehat.
"Ya. Sekitar seratus goblin berhasil dimusnahkan. Tapi bukan aku yang melakukannya. Hampir semuanya dibunuh oleh... penyelamat kami sekaligus seorang Priest bernama Shuu."
"Seorang Priest...?"
Begitu mendengar kata itu, tangan Berg langsung mengepal hingga urat-uratnya menonjol. Ia memang terkenal sangat membenci Gereja. Hanya mendengar kata "rohaniwan" saja sudah membuat reaksinya sekeras itu.
"Tapi tenang saja. Dia bukan bagian dari Gereja. Sepertinya dia berasal dari Hutan Iblis."
"Hutan Iblis...? Aku memang pernah mendengar ada desa di sana, tapi kukira itu cuma dongeng..."
"Itu benar, Guild Master. Shuu sama sekali tidak tahu apa pun tentang dunia luar. Dan meski mengaku Priest, senjatanya adalah pedang. Dia penuh kontradiksi."
Rishia menambahkan penjelasan, sementara Berg memegangi dahinya.
"...Aku benar-benar tidak mengerti. Makin lama mendengar penjelasan kalian, kepalaku rasanya mau meledak."
"Belum selesai. Entah kenapa bahkan ada seorang kandidat Saintess yang ikut bersamanya."
"Kandidat Saintess...?"
"Tapi tenang. Shuu masih belum dipengaruhi Gereja."
"...Kalau begitu, sekaranglah kesempatan terbaik untuk menariknya menjadi petualang."
"Tepat sekali. Dia sendiri juga tertarik menjadi petualang."
Bagi Berg yang membenci Gereja, semua orang yang berafiliasi dengan Gereja adalah objek kebenciannya.
Namun Shuu belum berpihak ke mana pun. Jika benar memiliki kemampuan yang diakui Glen dan yang lainnya, tentu Berg ingin merekrutnya.
"Dan... Shuu bisa menghapus kutukan."
"...Apa katamu?"
Nada suara Berg langsung berubah rendah.
"Mungkin terdengar seperti lelucon, tapi itu kenyataan. Dia menghapus kutukan yang menimpa kandidat Saintess itu. Dia juga menghapus kutukan para wanita yang disekap para goblin."
"Bahkan sesuatu yang tak bisa dilakukan kandidat Saintess... dilakukan pria itu?"
"Setidaknya dari yang kami lihat, dia memiliki dua skill. Yang pertama mampu menghilangkan kutukan dan seluruh efek status. Yang kedua kami tidak tahu pasti, tapi hanya dengan tatapannya saja lawan bisa langsung pingsan."
"...Mustahil... Tapi dengan kekuatan itu dia mengalahkan para goblin?"
"Ya. Tugas kami hanya memenggal kepala goblin-goblin yang sudah tak bisa bergerak."
Bahkan sekarang pun mereka masih sulit mempercayai apa yang telah mereka lihat. Namun kenyataannya, mereka berhasil bertahan hidup melawan lebih dari seratus goblin.
"Dan sekarang masuk ke inti pembicaraan."
"Masih ada lagi...?"
Wajah Glen menjadi serius.
"Kau mengenal Uskup Agung Burdog?"
"Ya. Bajingan yang menyebalkan itu? Kudengar dia sedang berada di kota."
"Dia menjalankan bisnis prostitusi di bawah tanah dan menggunakan wanita-wanita yang diculik untuk membiakkan goblin."
"...!?"
Rina yang berdiri di belakang menutup mulutnya karena terkejut.
Sementara itu Berg menghantam meja dengan keras hingga urat-urat di kepalanya yang licin pun menonjol.
"Bajingan itu...!"
"Ini alat sihir yang mereka gunakan."
Bola hitam yang dibawa Medina diletakkan di atas meja.
"Sulit dipercaya, tapi alat ini bahkan bisa mengendalikan Goblin Queen."
"Mustahil... Tapi siapa yang bisa menyediakan benda seperti itu untuk Burdog..."
"Menurut kandidat Saintess, ada mata-mata Kekaisaran dan juga ras iblis yang terlibat."
"Apa!? Kekaisaran... dan iblis!?"
Wajah Berg langsung pucat. Informasi yang diterimanya sudah jauh melampaui batas yang sanggup ia cerna.
"Jadi... ada iblis yang menyusup ke kota ini...?"
"Kemungkinannya sangat besar. Ini bukan masalah yang bisa kami tangani sendiri."
Glen kembali mengepalkan tangannya sebelum menyampaikan maksud sebenarnya.
"──Shuu dan yang lainnya ingin menangkap Burdog. Kami berutang nyawa padanya, jadi kami ingin membantu. Tapi misi ini berasal dari Guild, dan sejak kami menghancurkan sarang goblin itu, mungkin kami juga sudah menjadi target."
"Jadi kau ingin aku ikut membantu."
"Benar. Bisakah kau melakukannya?"
Berg langsung memahami maksud Glen.
Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum.
"Kalau bisa menghancurkan bajingan itu, aku akan membantu dengan senang hati. Tapi... bawa dulu Shuu ke hadapanku. Setelah itu baru kita bicara."
"Bagaimana dengan kandidat Saintess?"
"...Bawa saja sekalian."
"Baik. Hari ini biarkan mereka beristirahat. Besok akan kubawa mereka ke sini."
Dengan begitu pembicaraan pun selesai, dan Glen beserta kelompoknya meninggalkan ruang kerja.
Setelah ruangan kembali sunyi, Berg menggaruk kepalanya sambil bergumam.
"Iblis, ya... Ini sama sekali bukan bahan tertawaan. Guild saja tak mungkin sanggup menangani masalah sebesar ini... Sial, sepertinya aku harus menghubungi orang itu."
Sambil memikirkan sosok seseorang, ia menghela napas panjang.
◇◇◇
"Sial... enak banget!!"
Tanpa sadar aku berteriak.
Aku tahu cara bicaraku kasar. Tapi selain berkata "enak banget", aku benar-benar tak tahu bagaimana lagi mengungkapkan rasa ini. Bahkan kata-kata yang biasanya terdengar tidak sopan itu kini terasa paling tepat untuk menggambarkan keterkejutanku.
Di depan kami bertiga yang duduk di kursi konter tersaji satu set menu tempura mewah.
Di atas piring tersusun rapi daun shiso, terong, udang, ubi jalar, dan akar teratai yang dibalut tepung berwarna keemasan. Acar serta lauk pendamping menambah warna hidangan, sementara uap sup miso dan aroma harum nasi putih semakin menggugah selera.
Benar-benar sebuah karya seni kuliner yang seolah merangkum seluruh kebijaksanaan masakan Jepang.
"E-enaknya luar biasa...!"
Medina hampir menangis karena begitu bahagia menikmati makanannya.
"Benar, kan? Restoran ini adalah tempat favoritku yang kutemukan secara kebetulan sejak datang ke kota ini." ujar Iris dengan bangga.
Iris membusungkan dadanya dengan bangga.
"Shuu, hebat! Pilihan ini benar-benar tidak salah!"
"Hehe, saya senang Anda menyukainya."
Lapisan luarnya renyah dan garing, sementara bagian dalamnya masih panas dan penuh cita rasa. Setelah dicelupkan sebentar ke dalam saus, aku menyantapnya bersama nasi putih hangat.
──Saat itu juga, ledakan rasa yang memenuhi mulutku membuatku hanya bisa menghela napas kagum. Kalau ini bukan surga, lalu apa namanya?
Di desa-desa yang kami lewati sebelumnya, aku sempat mencicipi makanan yang mirip masakan Tiongkok.
Namun aku sama sekali tidak menyangka kalau di kota ini aku bahkan bisa menikmati masakan Jepang. Terlebih lagi, bahan-bahan yang digunakan bukan berasal dari monster, melainkan bahan makanan biasa.
Ternyata makanan seperti inilah yang umum di sini. Rasanya jauh lebih lembut sekaligus kaya. Sampai-sampai aku terharu menyadari bahwa makanan biasa bisa seenak ini.
Berapa banyak lagi hidangan lezat yang akan kutemukan di kota ini?
Hanya membayangkannya saja sudah membuat dadaku berdebar dan tanpa sadar aku tersenyum.
"Pak! Makanannya enak banget! Aku pasti bakal datang lagi!"
"Haha! Kutunggu kedatanganmu lagi!"
Mendengar jawaban hangat dan penuh semangat dari sang pemilik restoran, aku pun membalasnya dengan senyum lebar.
Setelah mengisi perut hingga kenyang, kami meninggalkan restoran masakan Jepang dengan hati yang sama puasnya.
"Masih siang. Selanjutnya kita mau ke mana?" tanya Iris.
"Aku sebenarnya ingin pergi ke gereja, tapi wajahmu sudah dikenal orang, kan?"
"Benar. Walaupun menyamar, wajahku sendiri tidak berubah. Pasti akan ada orang yang mengenaliku."
"Artinya, ada kemungkinan Burdog juga akan tahu..."
"Saya tidak tahu apakah saat itu dia benar-benar melihat wajah saya. Namun kemungkinan itu memang tidak bisa dikesampingkan. Meski begitu, jika menggunakan sihir 〈Mirage〉, kecuali orang yang sangat kuat, seharusnya mereka tidak akan bisa menembus penyamaran."
"...Aku cuma ingin menepati janjiku pada Keryneia untuk berdoa kepada Dewi di setiap daerah yang kukunjungi. Kalau begitu, tidak perlu mengambil risiko yang tidak perlu."
"Begitu ya... Kalau begitu, mari kita kunjungi tempat lain."
Akhirnya kami menunda rencana pergi ke gereja dan melanjutkan menjelajahi kota.
Guild Petualang dan Balai Kota, yang merupakan pusat pemerintahan kota, berada di Distrik Tengah. Saat ini kami juga sedang berjalan di kawasan tersebut.
Penginapan Nagiri no Kiritei yang akan kami datangi nantinya berada di Distrik Utara. Karena itu akan menjadi tujuan terakhir, masih ada tempat lain yang ingin kulihat terlebih dahulu.
Kami memasuki kota melalui Gerbang Timur, jadi Distrik Timur sudah kami lewati. Berarti yang tersisa hanyalah Distrik Selatan dan Distrik Barat.
"Hei, ada toko senjata atau pandai besi di sini?"
"Tentu saja. Biasanya toko senjata dan pandai besi menjadi satu, dan di kota ini ada beberapa. Yang paling terkenal berada di Distrik Barat."
"Oh? Kalau begitu ayo ke sana! Pisau Medina katanya hasil rampasan dari para bandit. Paling tidak dia perlu punya cadangan."
Dengan begitu, tujuan kami berikutnya pun ditetapkan: Distrik Barat.
Sekitar tiga puluh menit berjalan kaki kemudian, di tengah deretan bangunan megah, tampak sebuah bangunan batu yang kokoh dan menghitam oleh jelaga.
Di atasnya tergantung papan nama besar bertuliskan:『Pandai Besi Naddem』
Kami membuka pintunya dan masuk.
"Permisi!"
Aku menyapa sambil melangkah masuk, tetapi tak terlihat seorang pun di dalam.
Yang menyambut kami hanyalah deretan senjata dan baju zirah yang memenuhi seluruh dinding. Pedang, tombak, kapak, zirah—semuanya tersusun rapat hingga hampir mencapai langit-langit.
"Wah... Ternyata jenis senjatanya sebanyak ini."
Tanpa sadar aku bergumam. Melihat berbagai senjata dan perlengkapan dengan desain yang belum pernah kulihat sebelumnya membuatku serasa masuk ke dunia fantasi yang dulu hanya kulihat dalam cerita di kehidupan sebelumnya. Rasa antusias langsung memenuhi dadaku.
"Permisiii!"
Aku memanggil lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.
"Kalau begini sih gampang banget kemalingan..."
Aku mulai khawatir karena pemilik tokonya tidak ada.
Kalau ada orang jahat, bukankah dia bisa saja langsung membawa kabur senjata di sini?
Baru saja pikiran itu muncul—
"Naaaaaddeeeem!!"
Raungan keras menggema dari bagian belakang toko.
Sesaat kemudian muncullah seseorang bertubuh pendek seperti anak kecil, tetapi dengan otot sebesar batu, rambut cokelat acak-acakan, dan janggut lebat. Ia berjalan menghentak sambil menggenggam pedang.
"Kaulah rupanya yang hendak mencuri senjataku!!"
Orang itu memang pendek, tetapi tekanan yang dipancarkannya luar biasa besar.
Karena salah paham, ia langsung membentakku.
"Bukan begitu! Soalnya tidak ada siapa-siapa di meja depan, jadi aku cuma khawatir!"
"Hmmm... Kartaaa!! Bukankah sudah kubilang kalau ada pelanggan datang, segera beri tahu aku, dasar bocah bodoh!!"
"M-Maaf, Guruuu!!"
Entah karena mempercayaiku atau bagaimana, pria itu langsung berteriak ke arah belakang.
Tak lama kemudian, seorang gadis bertubuh mungil mengenakan pakaian kerja penuh jelaga berlari masuk. Rambut pendeknya berwarna merah muda, usianya kira-kira sebaya dengan Medina.
Ia buru-buru membungkuk meminta maaf kepada pria yang dipanggilnya "Guru".
"Maaf ya. Aku menyuruh bocah ini menjaga toko... Pasti dia malah pergi buang air besar."
"B-Bukan! Saya cuma pipis!"
"Buang air besar atau pipis sama saja, dasar bodoh!"
"Aduuuh!?"
Tanpa ampun, sang guru memukul kepala Karta dengan gagang pedangnya.
...Kelihatannya sakit sekali.
"Nah, Tuan Pelanggan. Ada perlu apa? ───Tunggu sebentar. Jubah itu..."
"Oh, ini? Hadiah. Katanya dibuat khusus dengan alkimia."
"...Maaf, boleh kulihat sebentar?"
"Tentu."
Sang guru mendekat lalu mengamati jubah abu-abu gelap yang kupakai dengan sangat teliti.
Ngomong-ngomong, meski dibilang buatan khusus, aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa istimewanya.
"Ah... Alkimia setingkat ini... Tidak, mana mungkin... Bukankah orang itu sudah lama menghilang..."
"Ada apa?"
"...Orang yang membuat jubah ini... jangan-jangan bernama Rondo Pykes?"
"Hah? Iya! Benar! Dia kepala desa kami!"
Sambil berpikir bahwa nama kepala desa botak itu ternyata terdengar sangat keren, aku tersenyum dalam hati.
Namun begitu mendengar nama itu, tubuh sang pandai besi bergetar. Ia menutupi dahinya sambil menahan air mata.
"T-Tidak kusangka beliau masih hidup..."
Rupanya selama ini orang-orang mengira kepala desa sudah meninggal.
"Ya. Rondo Pykes adalah guru dari guruku. Saat aku masih belum becus, aku hanya sempat bertemu dengannya sekali."
"Wah, jadi ada hubungan seperti itu. Hebat juga."
"Alkimia milik Rondo Pykes berada di luar akal sehat. Dahulu beliau terkenal karena menciptakan senjata dan perlengkapan terbaik. Namun sekarang, hampir tidak ada lagi karya beliau yang tersisa."
Ternyata kepala desa jauh lebih terkenal daripada yang kukira.
Di desa, beliau hanya tampak seperti kakek botak biasa. Namun rupanya di luar sana beliau hampir dianggap sebagai legenda.
"Sekarang Rondo Pykes berada di mana?"
"Desa Iasis. Di sini sepertinya disebut Hutan Iblis."
"Apa!? Hutan Iblis!?"
"Semua orang reaksinya memang begitu."
"Kalau begitu, wajar saja beliau dianggap menghilang..."
"Beliau sehat-sehat saja. Bahkan jubah ini baru dibuat beberapa minggu yang lalu."
"Begitu ya... Syukurlah mendengarnya. Nanti akan kusampaikan kabar ini kepada guruku... Ah, maaf. Kita kembali ke urusanmu."
Akhirnya kami kembali ke tujuan utama datang ke toko ini.
"Ada dua permintaan. Pertama, pisau yang dimiliki Medina sekarang cuma hasil rampasan dari bandit. Aku ingin membelikannya pisau yang lebih bagus. Kedua, aku ingin pedang panjang ini dirawat. Bilahnya sudah cukup rusak, jadi tolong diasah dan diperbaiki."
Pedang panjang itu sudah seperti partner bagiku. Meski selama ini aku merawatnya sendiri, kemampuanku ada batasnya.
"Hmm... Dari penampilannya, gadis ini seorang Assassin. Pisau untuk Assassin ada banyak jenis sesuai kegunaannya. Kau boleh memilih yang ada di toko, tapi apakah kau membawa bahan? Aku ini pandai besi. Tugas utamaku adalah menempa."
"Ya, aku memang membawa bahan. Nih."
Aku mengeluarkan beberapa benda dari kantong kulit di pinggang lalu meletakkannya di atas meja.
Namun sebelum sang guru sempat bereaksi, mata Iris justru membelalak.
"A-Apa!? Shuu-sama!? Apa ini!? Kenapa Anda tidak pernah memberi tahu kalau memiliki benda seperti ini!?"
"Aku juga baru sadar beberapa waktu lalu. Waktu kita membereskan barang sebelum menyerahkan kereta kepada Mogumo, benda-benda ini muncul. Aku tidak tahu siapa yang memasukkannya, tapi aku punya firasat siapa pelakunya."
Di atas meja tergeletak beberapa benda hitam runcing, serta pecahan batu sihir hijau bening yang bahkan tampak lebih murni daripada batu sihir Goblin maupun Wyvern.
"Na-Naddem!! Apa sebenarnya benda-benda ini!?"
"G-Guru... Dari melihatnya saja sudah terasa kalau benda-benda ini luar biasa!"
Guru dan Karta serempak membungkukkan tubuh mereka ke depan.
"Ya, mungkin. Ini adalah cakar monster serigala putih raksasa beserta batu sihirnya. Aku sendiri kurang tahu, tapi batu sihirnya hanya tersisa pecahannya."
"Bukan... kalau ini saja disebut pecahan, Nak. Sebenarnya sebesar apa batu sihir aslinya...?"
"Iya. Aku juga masih kaget."
Yang langsung terlintas di pikiranku adalah serigala putih raksasa yang pertama kali bertarung dengan Keryneia saat kami bertemu.
—Lawan yang begitu mengerikan hingga mampu membuat Keryneia, yang bahkan bisa disebut sebagai binatang suci, terkena kondisi 'Racun Mematikan'.
"Dengan bahan ini, bisakah kau membuatkan senjata yang bagus? Aku akan membayarnya. Kalau ada bahan yang tersisa, itu juga boleh kau ambil."
"K-Kami yang mengerjakannya!?"
"Guru...!"
"Tidak bisa?"
"T-Tentu saja bisa! Memang akan sangat sulit membentuknya, tapi aku pasti akan memenuhi harapanmu. Serahkan pekerjaan ini kepada kami!"
Semangat sang guru memenuhi seluruh bengkel. Karta pun menatap bahan itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan.
"Baiklah, kuserahkan padamu. Beri tahu aku begitu biaya pembuatannya sudah ditentukan."
"Baik. Beri kami waktu beberapa hari. Datanglah lagi setelah selesai."
"Baik. Pedang panjang itu juga kuminta."
Setelah menyerahkan bahan-bahan dan pedang panjang, sang guru bersama Karta hendak masuk ke ruangan belakang. Namun ia tiba-tiba berhenti lalu berkata,
"Aku belum memperkenalkan diri, ya. Namaku Goddea Naddem. Seorang pandai besi dari ras dwarf."
"S-Saya Karta Rossoss!"
"Aku Shuu... Shuu Mireister. Seorang priest."
"Dengan penampilan seperti itu malah seorang priest... kau benar-benar orang yang aneh. Serahkan saja padaku. Akan kubuat menjadi senjata terbaik."
Dengan janji itu mengiringi langkah kami, kami pun meninggalkan bengkel pandai besi.
Di bawah langit biru, harapan kecil masih tersisa di dalam dadaku. Aku benar-benar menantikan hasilnya beberapa hari lagi.
◇◇◇
"...Orang tua tadi... bilang kalau dia dwarf, kan...?"
Sesaat setelah keluar dari bengkel, tanpa sadar aku menghentikan langkah dan bergumam.
Tadi aku hanya mendengarnya sepintas, tapi pria itu—Goddea Naddem—memang memperkenalkan dirinya sebagai seorang dwarf.
Ras pandai besi bertubuh pendek dengan otot kekar dan janggut lebat yang sering muncul dalam cerita fantasi. Aku tak pernah menyangka mereka benar-benar ada, namun sosok yang baru saja kulihat sangat mirip dengan bayanganku.
"Ini pertama kalinya Shuu-sama bertemu ras dwarf?"
"Iya. Baru pertama kali."
"Di dunia ini, selain ras manusia, masih ada beberapa ras lainnya. Ras penambang yang sejak dahulu tinggal di pegunungan—itulah ras dwarf. Lalu ras bertelinga panjang yang berumur panjang dan mahir sihir, yang hingga kini hidup di hutan—yakni ras elf. Selain itu, masih banyak ras lain yang hidup di dunia ini. Secara umum, kami menyebut mereka sebagai 'ras demi-human'."
"Elf!?"
Aku langsung bereaksi. Kata elf adalah kata ajaib yang pasti membuat orang Jepang mana pun tertarik. Dan aku pun tidak terkecuali.
"Tuan tertarik dengan elf?"
"Ya... sejujurnya memang tertarik."
"Namun, elf pada umumnya dikenal memiliki sifat yang sulit didekati. Sangat sedikit elf yang mau berinteraksi secara aktif dengan manusia. Meski begitu, ada juga yang membaur dalam masyarakat manusia, bahkan kadang terlihat menjadi petualang."
"Begitu ya... berarti ada kemungkinan ada elf di kota ini."
Entah kenapa dadaku terasa berdebar.
Dalam bayanganku, semua elf pasti tampan atau cantik. Kalau benar-benar bisa bertemu, mungkin hanya itu saja sudah cukup membuat semangatku naik.
—Ngomong-ngomong, Glen pernah berkata.
Alasan Hares disebut sebagai Kota Petualang adalah karena kota ini menjadi tempat berkumpulnya petualang terbanyak.
Selain itu, di luar kota terdapat Dungeon terbesar di negara ini. Para petualang tidak hanya menyelesaikan berbagai permintaan, tetapi juga menjelajahi dungeon itu dan membawa pulang berbagai harta karun.
Sepertinya kota ini benar-benar merupakan tempat di mana mimpi dan kenyataan bercampur menjadi satu, jauh melebihi yang kubayangkan.
◇◇◇
Tempat terakhir yang kami datangi adalah Distrik Selatan—tempat berdirinya Persekutuan Dagang Mogumo.
Begitu melangkah masuk, suasananya langsung terasa berbeda. Toko pakaian dan toko bahan makanan berjajar rapi, sementara jalanan dipenuhi orang yang berlalu-lalang.
Pantas saja Mogumo memilih menjadikan tempat ini sebagai markasnya.
Di antara semua toko itu, ada satu yang sejak awal menarik perhatianku. Saat membuka pintu besarnya, kulihat deretan pakaian yang tertata rapi di dalam.
Bukan toko perlengkapan tempur, melainkan toko pakaian yang menjual pakaian sehari-hari serta pakaian dalam.
"Selamat datang."
Seorang pegawai wanita muda berpakaian rapi menyambut kami sambil membungkukkan kepala dengan sopan.
Penampilan maupun sikapnya sangat anggun, mencerminkan kelas toko ini.
"Ada yang bisa kami bantu hari ini?"
"Aku tidak perlu apa-apa. Tapi aku ingin membelikan pakaian sehari-hari dan pakaian dalam untuk mereka berdua."
"Untuk kedua nona ini, ya. Begitu rupanya... Mereka tampaknya petualang, tetapi keduanya sangat imut. Saya yakin kami bisa menyiapkan pakaian yang sangat cocok untuk mereka."
Dipuji seperti itu, Iris tersenyum malu-malu, sedangkan Medina tertawa kecil sambil tersipu.
...Kalau pegawai ini tahu Iris adalah calon Saintess, kira-kira bagaimana ekspresinya nanti?
"Terima kasih. Nah, kalian berdua pergilah. Aku akan melihat-lihat di sini."
"Baik. Terima kasih."
"T-Terima kasih banyak!"
Keduanya mengikuti pegawai wanita itu menuju bagian belakang toko.
Iris sebelumnya tinggal dengan meminjam kamar di gereja kota, tetapi sekarang ia tidak bisa kembali ke sana.
Pakaian dan pakaian dalamnya masih tertinggal di sana, jadi kupikir sebaiknya kubelikan yang baru. Terutama pakaian dalam, pasti jumlahnya sudah tidak cukup.
Sambil mengisi waktu, aku melihat-lihat isi toko.
"Permisi, Tuan."
"Hm?"
Yang memanggilku adalah seorang pegawai pria berpakaian jas.
Penampilannya bukan sekadar rapi, tetapi nyaris sempurna, bahkan gaya rambutnya pun tertata tanpa cela. Jelas ia adalah salah satu petinggi toko atau setidaknya memiliki jabatan yang cukup tinggi.
"Jika Tuan berkenan, ada tempat khusus yang ingin saya perlihatkan."
"Uang yang kubawa sekarang tidak banyak."
"Hehe. Tuan bercanda. Tuan bukan pelanggan biasa. Mata saya tidak mungkin tertipu."
...Berlebihan sekali.
Namun memang benar, jika menghitung batu sihir wyvern yang kumiliki, kekayaan potensialku cukup besar. Menurut Mogumo, nilainya sangat tinggi.
Kalau begitu, ucapan pria ini memang tidak salah.
"Aku tidak akan membeli barang yang terlalu mahal."
"Tentu. Kami hanya ingin memperlihatkan barang pilihan khusus kepada Tuan."
"...Kalau kau sudah berkata sejauh itu, baiklah."
Lagi pula, aku memang sedang menunggu Iris dan Medina selesai berbelanja.
Ruangan yang dituju adalah sebuah kamar kecil di lantai dua bagian dalam. Begitu pintunya dibuka...
Pemandangan yang entah kenapa terasa begitu mencolok terbentang di hadapanku.
"Ini adalah produk yang sangat populer di kalangan bangsawan, orang kaya, dan petualang berperingkat tinggi. Reputasinya di mata para wanita juga sangat baik, sehingga sering dipilih sebagai pakaian andalan untuk momen-momen penting."
"Oh... begitu. Jadi apa nama produknya?"
"—Celana dalam boxer."
Mendengar kata itu, aku langsung mengangkat alis.
Aku tidak tahu apakah olahraga tinju ada di dunia ini atau tidak. Namun nama itu jelas sangat akrab dari kehidupan masa laluku.
Yang berjajar di depanku adalah celana dalam pria dengan desain yang pas mengikuti bentuk tubuh, persis seperti boxer yang kukenal di kehidupan sebelumnya.
Kalau dipikir-pikir, sejak datang ke dunia ini aku hanya memakai celana dalam dari kain putih.
Sejujurnya tampilannya membosankan dan sama sekali tidak menarik, tetapi karena semua penduduk desa juga memakainya, aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Namun sekarang...di hadapanku terbentang berbagai macam boxer dengan warna, motif, dan desain yang beragam.
Rupanya, kalangan berada di dunia ini bahkan rela bersaing melalui pilihan pakaian dalam mereka.
"...Apa memang pakaian dalam bisa membuat perbedaan sebesar itu...?"
Sambil memiringkan kepala, aku tiba-tiba teringat pada Iris dan Medina.
Kira-kira pakaian seperti apa yang sedang mereka pilih, ya?
◇◇◇
"Tu-Tuan... i-ini... Anda membawa barang yang benar-benar luar biasa..."
"Hehe. Toko ini bahkan menyediakan ukuran yang pas untukku. Sungguh luar biasa."
Berdiri di depan cermin dengan mengenakan pakaian dalam baru, Iris tersenyum anggun.
Dadanya yang sangat besar jelas tak mungkin tertampung oleh pakaian dalam biasa. Namun kini, lekuk tubuhnya tersangga dengan sempurna oleh pakaian dalam berenda putih seputih salju, dengan renda halus yang mengingatkan pada sayap malaikat.
"Pelanggan dengan ukuran sebesar Anda memang sangat jarang, tetapi toko kami bangga dengan kelengkapan produknya. Lagi pula, pemilik kami, Monica Strauden, adalah seorang wanita. Beliau sangat berusaha memahami dan membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi para wanita."
"Wah... itu benar-benar kisah yang indah."
"Benar. Toko pusat kami berada di ibu kota kerajaan. Jika suatu hari Anda berkunjung ke sana, kami harap Anda juga menyempatkan diri datang."
Iris mengangguk puas, lalu dengan gembira mencoba beberapa pakaian dalam lainnya.
Sementara itu, dari ruang ganti di sebelah terdengar suara gesekan kain disertai erangan kecil.
"Medina-sama? Apa Anda baik-baik saja?"
"A-Aku tidak apa-apa... tapi... pakaian dalam secantik ini... u-untukku..."
Di dalam ruang ganti, Medina tampak kesulitan.
Selama ini ia hanya mengenakan kain lilit sederhana atau pakaian dalam seadanya. Kehidupannya benar-benar jauh dari hal-hal yang bersifat feminin.
Karena itulah, ini adalah pertama kalinya ia memakai pakaian dalam yang benar-benar layak, bahkan memakainya saja ia masih kebingungan.
"Lagi pula... ukuranku juga... terlalu kecil... Rasanya pakaian dalam secantik ini tidak akan cocok untukku..."
"Nona, jangan khawatir. Pakaian dalam kami memiliki fungsi untuk mengangkat dan membentuk, sehingga pasti akan membantu."
"T-Tapi..."
"Permisi."
"Hyaaa!?"
Tanpa diduga pegawai wanita itu masuk ke ruang ganti dan, dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, mulai membenahi bagian dada Medina.
Ia mengumpulkan sedikit tonjolan di dadanya lalu mengangkatnya ke atas. Setelah melakukan hal yang sama di kedua sisi dan merapikan kait bra, ia berkata,
"Silakan lihat ke cermin."
"A... eh... lu-luar biasa...!"
Mata Medina membelalak.
Di dadanya kini terbentuk belahan yang sebelumnya sama sekali tidak ada.
Padahal hanya sedikit bagian yang dikumpulkan, tetapi kini siluet tubuhnya tampak jauh lebih feminin.
"Lihat? Belahan dadanya sudah terbentuk, bukan? Jika ingin terlihat lebih berisi lagi, kami juga menyediakan bantalan tambahan."
"B-Benar... ba-bahkan aku juga bisa... Terima kasih banyak!"
Dengan pipi semerah tomat, Medina sangat terharu melihat perubahan pada dirinya.
Tak lama kemudian, keduanya memilih beberapa pakaian dalam yang mereka sukai dan hendak menuju kasir.
Namun tepat saat itu—
"Nona sekalian. Terakhir, masih ada satu ruangan yang benar-benar ingin kami perlihatkan."
Dipandu oleh pegawai itu, mereka masuk ke sebuah ruangan kecil yang lebih jauh di bagian dalam.
Pemandangan yang mereka lihat membuat Iris dan Medina sama-sama menahan napas.
"I-Ini..."
"A-Apa ini...?"
Di sepanjang dinding berjajar berbagai pakaian dalam dengan desain yang jauh berbeda dari pakaian dalam biasa—jauh lebih berani dan menggoda.
Ada kain transparan, pita-pita dekoratif, hingga pakaian yang nyaris tidak menutupi apa pun.
"Dari cara Anda berdua bersama pria tadi... kami merasa hubungan kalian cukup dekat. Jika dugaan kami benar, mungkin barang-barang di sini akan berguna bagi Anda berdua."
"...Hehe. Rupanya Anda benar-benar mengerti."
Iris mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum penuh percaya diri, lalu menyentuh salah satu pakaian dalam.
Itu adalah pakaian dalam yang hampir seluruhnya hanya terdiri dari jaring renda, seolah dibuat bukan untuk menutupi, melainkan justru memperlihatkan bagian-bagian penting.
Sementara itu, perhatian Medina tertuju pada sebuah babydoll transparan. Kain tipisnya begitu tembus pandang hingga nyaris memperlihatkan seluruh tubuh.
Wajah Medina langsung memerah, dan ia mundur selangkah.
"K-Kenapa ada barang seperti ini...?"
"Hehe... sesekali, kesenangan seperti ini juga diperlukan."
Dengan meluangkan cukup banyak waktu, keduanya akhirnya memilih beberapa pakaian dalam berdesain berani yang biasanya takkan pernah mereka sentuh.
◇◇◇
"Oh, lumayan banyak juga belanjaannya."
Begitu keluar dari toko, Iris dan Medina sama-sama membawa kantong kertas besar di kedua tangan mereka.
Sebaliknya, di tanganku hanya ada sebuah kantong kecil.
"Iya. Tapi aneh ya... tadi kami malah diberi tahu kalau tidak perlu membayar sekarang. Shuu-sama, apakah Anda melakukan sesuatu?"
"Oh, katanya boleh dicatat sebagai utang dulu."
"...Begitu rupanya. Mungkin pegawainya merasakan aura orang kaya yang memancar dari Shuu-sama."
"Hah!? Dari mana coba ada aura seperti itu dariku?"
Kadang-kadang Iris benar-benar terlalu melebih-lebihkan diriku....padahal kalau batu sihir wyvern itu nanti ternyata tidak laku dengan harga bagus, aku benar-benar akan bangkrut.
"Baiklah, hari juga sudah mulai sore. Ayo kita menuju Penginapan Nagiri no Kiritei."
"Baik!"
Bersama kedua gadis yang membawa kantong belanja besar, aku meninggalkan Cabang Hares Persekutuan Dagang Strauden dan berjalan menuju penginapan di Distrik Utara, Penginapan Nagiri no Kiritei.
◇◇◇
"A-Apa ini...!?"
Di tengah perjalanan menuju Penginapan Nagiri no Kiritei, saat melewati Balai Kota dan Guild Petualang di Distrik Tengah, aku tanpa sadar menghentikan langkah.
Sebuah bangunan raksasa yang begitu besar hingga memenuhi seluruh pandanganku.
Dinding luarnya yang didominasi warna putih dan biru memancarkan kesan suci, sementara bangunannya menjulang ke langit layaknya sebuah kastil.
Ukurannya bahkan jauh lebih besar daripada balai kota, membuatnya tampak mustahil dianggap sebagai bangunan biasa.
"Itu adalah... Katedral Agung Saint PatRishia."
"Katedral..."
Iris mulai menjelaskan sambil memicingkan mata.
"PatRishia adalah nama seorang penginjil kuno Gereja Mishia. Bangunan ini memakai namanya, dan merupakan salah satu gereja terbesar yang konon dibangun di atas fondasi yang ia letakkan."
Memang, ukurannya sama sekali tak bisa dibandingkan dengan gereja-gereja kecil yang kulihat selama berkeliling kota.
Di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah bepergian ke luar negeri sehingga belum pernah melihat katedral sungguhan. Namun aku masih mengingat pengetahuanku tentang bangunan semacam itu.
Di dindingnya yang menjulang tinggi terdapat banyak jendela.
Di bawah jendela mawar raksasa berjajar jendela-jendela tinggi berbentuk lengkung yang memancarkan suasana megah bahkan dari luar.
—Tidak salah lagi.
Itu adalah kaca patri.
Kalau cahaya matahari menembus dari dalam, pasti pemandangannya akan begitu indah hingga membuat siapa pun terpukau.
"Wah... berarti di ibu kota juga ada bangunan seperti ini?"
"Ya. Bahkan katedral di ibu kota jauh lebih besar daripada yang ini, dengan gaya arsitektur yang berbeda. Di sana juga menetap Saintess saat ini, Haramaria."
"Yang lebih besar dari ini masih ada...? Kalau begitu, Burdog juga sering datang ke tempat seperti ini?"
"Tentu saja. Pendeta berpangkat tinggi seperti beliau hampir tidak pernah muncul di gereja kecil. Tempat aktivitas mereka umumnya adalah katedral atau kuil."
Aku mengangguk mendengar penjelasan Iris. Namun ada satu pertanyaan yang muncul di kepalaku.
"...Apa bedanya katedral dengan kuil?"
"Gereja maupun katedral adalah tempat orang berdoa dan juga berfungsi sebagai tempat pengobatan. Sedangkan kuil... adalah tempat untuk melaksanakan berbagai ritual."
"Ritual seperti apa?"
"Jenisnya sangat banyak hingga sulit dijelaskan semuanya. Mulai dari upacara untuk arwah orang meninggal, pernikahan, hingga upacara saat saya diakui sebagai calon Saint—semuanya dilaksanakan di kuil."
"Oh... jadi Iris juga melalui upacara seperti itu sebelum menjadi calon Saint."
"Benar...!"
Sedikit demi sedikit, aku mulai memahami struktur organisasi gereja di dunia ini.
Meski begitu, di desa dulu pernikahan juga dilakukan di gereja kecil, sama seperti di Jepang pada kehidupan sebelumnya yang banyak menggunakan gereja untuk upacara pernikahan.
...Mungkin perbedaannya lebih terletak pada skala dan tingkat kehormatannya.
"Karena kita sudah dekat dengan katedral, aku akan menggunakan 〈Mirage〉."
"A-Aku juga... akan mengaktifkan 〈Stealth〉..."
Agar tidak terlihat oleh orang-orang yang mengenal mereka, Iris menggunakan sihir pengabur persepsi, sedangkan Medina mengaktifkan skill penyamaran.
"......Serius, ini benar-benar terlihat seperti aku sedang berjalan sendirian. Kalian masih di sini, kan!?"
"Huu..."
"Hyaa!? ...Hei, Iris! Awas saja nanti!"
"Ufufufu..."
Tiba-tiba embusan napas terasa di dekat telingaku hingga jantungku berdegup kencang. Suaranya terdengar, tetapi sosoknya sama sekali tidak terlihat.
Rupanya 〈Mirage〉 benar-benar hanya mengelabui penglihatan. Sementara itu, Medina bahkan tidak mengeluarkan suara langkah sedikit pun.
...Skill 〈Stealth〉 ini benar-benar keterlaluan.
"Ah, akhirnya sampai juga..."
Berjalan dari Distrik Selatan ke Distrik Utara di kota sebesar ini memakan waktu sekitar satu jam.
Begitu membuka pintu Penginapan Nagiri no Kiritei, sebuah aula luas terbentang di depan kami.
Nuansa kayu yang hangat dipadukan dengan pencahayaan lembut menciptakan suasana yang mewah sekaligus nyaman, layaknya hotel berbintang.
"Selamat datang. Apakah Anda hendak menginap?"
"Ya. Aku datang atas rekomendasi Glen dari Silver Blade."
"Jadi Anda Shuu-sama. Kami sudah mendapat kabar dari Glen-sama. Katanya Anda telah menyelamatkan mereka dari situasi yang sangat berbahaya. Karena Anda datang atas rekomendasi beliau, kami tentu akan memberikan pelayanan khusus."
Pria berpakaian jas yang bertugas sebagai pramutamu membungkukkan badan dengan sopan lalu mengantar kami ke kamar.
Rupanya Glen sudah mengurus semuanya terlebih dahulu.
Aku mendapat kamar sendiri, sedangkan Iris dan Medina berbagi satu kamar berdua.
Aku juga mengetahui bahwa penginapan ini memiliki pemandian umum terpisah untuk pria dan wanita.
Memang bukan pemandian air panas alami, hanya air hangat biasa, tetapi bisa berendam saja sudah lebih dari cukup.
Setelah meletakkan barang-barang di kamar, kami menikmati makan malam hangat di ruang makan lantai satu.
Kemudian kami berendam santai di pemandian umum, menghilangkan rasa lelah yang telah menumpuk selama perjalanan panjang.
Besok mungkin hasil pembicaraan Glen dan teman-temannya akan sampai kepadaku.
Namun untuk saat ini, yang ingin kulakukan hanyalah membaringkan tubuh di atas tempat tidur.
Diselimuti kasur empuk berbulu halus, rasa lelah akibat perjalanan panjang perlahan menghilang.
Dan begitulah, aku pun terlelap dalam tidur yang nyenyak.
◇◇◇
Slut...
Setiap kali aku berganti posisi tidur, ada sensasi hangat yang terus melekat pada tubuhku.
Selimut di penginapan ini jauh lebih empuk dibandingkan penginapan murah di desa, seolah membungkus seluruh tubuh dengan kelembutannya. Karena itulah, malam ini aku nekat tidur hanya mengenakan celana dalam.
Biasanya aku tidur dengan pakaian dalam yang kujadikan baju tidur, tetapi karena tempat tidurnya terlalu nyaman, tanpa sadar aku membiarkan tubuh bagian atasku tetap telanjang saat berbaring.
Aku seharusnya tidur dengan sangat nyenyak, tetapi...
Entah kenapa ada sesuatu yang terasa aneh.
Bukan karena kepanasan atau tidak nyaman. Hanya saja, bagian bawah tubuhku terasa sedikit gatal dan membuatku sulit benar-benar tenang.
Kesadaranku masih diselimuti kabut kantuk. Kalau bisa, aku ingin tetap tenggelam dalam mimpi. Namun dari arah bawah terdengar suara pelan, seperti sesuatu yang mengaduk air.
Bersamaan dengan itu, terasa ada sesuatu yang bergerak lembut.
Lembut... hangat...bahkan aroma manis yang samar pun tercium.
"Hmm..."
Dengan susah payah aku membuka kelopak mataku yang terasa berat, lalu perlahan mengintip ke dalam selimut.
"...Selamat malam, Shuu-sama."
Di ujung pandanganku muncul senyuman Iris.
Dan saat itu juga aku menyadari—bahkan celana dalamku pun sudah tidak kukenakan lagi.
"Anda tadi mengenakan pakaian dalam yang bagus... tetapi saya sudah melepaskannya."
"Oh..."
Yang ia maksud pasti boxer yang baru kubeli.
Ia mengatakannya dengan tenang. Namun bahkan dalam keadaan masih mengantuk, penampilannya membuatku tanpa sadar menahan napas.
"Itu... pakaian dalammu..."
"Hehe. Apakah Anda menyukainya? Ini yang saya beli di Persekutuan Dagang Strauden. Memang tidak memiliki efek pertahanan sama sekali... tetapi saya pikir Shuu-sama pasti menyukai model seperti ini."
"Ya... aku sangat menyukainya."
Yang menghiasi kulit putih Iris adalah pakaian dalam berwarna merah anggur yang berkilau indah.
Namun itu bukan pakaian dalam biasa.
Baik bra maupun celana dalamnya memiliki desain yang sangat berani, dengan bagian-bagian tertentu sengaja tidak tertutup kain sehingga membentuk bukaan besar. Sebuah rancangan yang secara alami menarik perhatian.
"Anda pasti masih lelah karena perjalanan... jadi tetaplah berbaring seperti itu."
"Bukankah kau juga pasti lelah?"
"...Dibandingkan rasa lelah itu, menahan diri sepanjang hari tadi justru jauh lebih melelahkan bagi saya."
Iris perlahan merangkak naik ke atas tubuhku, lalu menempelkan dadanya yang besar ke dadaku.
Sentuhan lembut dan kenyal itu, hanya dengan saling bersentuhan saja, terasa seolah menggoyahkan batas antara mimpi dan kenyataan, membuat kepalaku tanpa sadar terasa mati rasa.
"Ya... silakan."
"Ah..."
Saat kelembutan itu menempel padaku, payudara Iris menyentuh bibirku, membuatku tanpa sadar menerimanya.
Kulitnya yang baru saja dibersihkan di pemandian umum masih terasa hangat, dengan aroma segar menyerupai sabun yang lembut menggelitik hidungku.
"Ah... Shuu-sama... rasanya... sangat menyenangkan..."
Hanya dengan sedikit gerakan dari mulutku, tubuh Iris langsung bereaksi sensitif, bergetar pelan sambil mengeluarkan suara lirih. Melihat ekspresinya yang tampak begitu puas, jelas terlihat betapa lama ia telah menahan keinginannya.
"Selama ini... Medina selalu bersama kita. Sesekali, aku juga ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu."
"Kalau dipikir-pikir, memang benar."
Memang, setiap kali bersama Iris, Medina selalu berada di sisi kami. Kebersamaan bertiga sudah menjadi hal yang biasa, tetapi malam ini tampaknya Iris ingin menikmati waktunya hanya berdua denganku.
"Iris... kau sudah basah."
"Ah..."
Kurasakan kehangatan di bagian perutku. Karena pakaian dalamnya memiliki bagian yang terbuka, cairan tubuhnya tampaknya langsung menyentuh kulitku.
"Yah, mau bagaimana lagi... padahal aku ingin tidur dengan tenang."
"Besok pagi kemungkinan Glen-sama akan datang menjemput... sampai saat itu, mari kita habiskan waktu bersama dengan tenang."
"Baiklah... kalau begitu, kita nikmati saja waktu yang ada."
Aku bangkit perlahan lalu membaringkan Iris dengan lembut hingga telentang.
Keinginan yang kupendam sudah semakin sulit disembunyikan.
"Shuu-sama..."
"Iris... tubuhmu benar-benar indah."
Sambil menatap sosoknya, aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya.
Ciuman hangat yang panjang terus berlanjut, sementara kami saling mendekap semakin erat.
Setelah saling membelai dalam waktu yang lama, tubuh Iris tampak benar-benar rileks, dan matanya yang basah seolah menyampaikan bahwa ia tak ingin menunggu lebih lama lagi.
"...Maaf membuatmu menunggu."
"Kau membuatku menunggu terlalu lama... aku... sudah hampir tak sanggup menahan lagi, Shuu-sama..."
Menurut Iris, sebagai pengganti selaput dara, tubuhnya memiliki lapisan khusus yang disebut selaput suci.
Hanya orang yang telah melewati penghalang suci itu sekali—yakni diriku—yang dapat melewatinya kembali, sementara orang lain tidak akan pernah bisa memasukinya. Seolah-olah tubuh Iris sendiri menjadi bukti ikatan di antara kami.
Aku perlahan mendekatkan tubuhku ke arahnya.
Dengan suara basah jubu-jubu, aku membuka pintu masuk itu, lalu dengan suara michi-michi membelah dinding daging sambil terus maju ke dalam.
Rasa penolakan dan tekanan itu seolah dibuat khusus untuk menghisap habis insting laki-laki——
"Nhuuuuh!?♡"
Jeritan Iris berubah menjadi desahan manis penuh kenikmatan.
Aku tetap menancapkan pinggangku, lalu mulai mengayun dengan pelan.
Kedua lengannya kuangkat, kusilangkan di atas kepalanya hingga terikat, lalu aku mengulum payudaranya yang sudah terbuka sepenuhnya.
Sambil menjilat sepasang bukit lembut itu, di bagian bawah aku terus mendorong ke dalam.
Menggigit, menjilat, dan menghisap putingnya, sambil sekaligus menghantam mulut rahimnya. Suara Iris semakin tinggi.
"Hyaaann♡ Ah…… ann♡ S, Shuu-sama……♡ Lagi, berikan lagi……!♡"
Dia mengubah rangsangan yang hampir sakit itu menjadi kenikmatan. Karena itu aku pun menarik pinggangku sekuat tenaga, lalu menghantam rahimnya seolah ingin menancapkan batang kontolku.
"Fuguuh!? Fuguuh!? Ah, yang dalam…… mengenai yang dalam♡ Batang dewa keras milik Shuu-sama…… a, akan membuatku hamil♡"
Suara basah guchu-guchu yang berbuih bertumpuk dengan jeritannya. Memeknya yang panas dan melilit itu, yang seharusnya dilindungi oleh selaput suci, justru terasa seperti wadah daging yang dibuat khusus untuk memuaskan laki-laki.
Akhirnya, kenikmatan yang menghancurkan akal sehat melampaui batas——
"Kuh…… aku keluar……!"
"Aahh♡ Yang panas, berikan♡ Benih Shuu-sama…… ke dalamku yang paling dalammm!♡"
Byuruuruuruu! Dopu, dopu, aku menyemburkan sperma dengan denyutan kuat.
Panas yang terus-menerus mengalir memenuhi rahimnya. Iris hampir memutih matanya, seluruh tubuhnya bergetar hebat sambil mencapai puncak.
"Guryuuuuh!?♡ Ah, aaaaahh♡♡"
Cairan putih yang disemprotkan itu seolah mengangkat perutnya. Wajah Iris yang tercermin di cermin setinggi badan di samping tempat tidur sudah meleleh sepenuhnya.
Namun, belum selesai sampai di situ.
Akhir-akhir ini Iris sepertinya sudah terbiasa, sehingga mulai ingin mencoba berbagai posisi baru. Yang paling dia sukai adalah——doggy style di depan cermin.
Bokong besarnya digenggam, pinggangnya dihantam, sambil melihat sendiri wajahnya yang menyedihkan dan cabul saat dientot.
Amelia juga suka posisi ini, tapi Iris sepertinya semakin terangsang karena bisa melihat sendiri seberapa berantakannya dirinya.
"Higiiiiih!?♡ He, hebat…… aku…… diacak-acak oleh Shuu-sama♡"
Sambil melihat ekspresinya lewat cermin, aku terus menggenggam bokong besarnya dan mengayunkan pinggang.
Dengan wajah ahegao, Iris terus memandangi dirinya sendiri sambil dipaksa mencapai klimaks.
Dari bagian rahasia yang tetap terbuka meski masih memakai pakaian dalam, sperma mengalir keluar dan menetes ke lantai.
Katanya ada takhayul bahwa Saintess tidak akan hamil——tapi aku menghancurkan takhayul itu dengan terus-menerus menyemprotkan benih, seolah ingin menandai Iris sebagai milikku seorang.





Post a Comment