Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 3
500 Tahun yang Lalu
Bagian 1
Hingga beberapa tahun yang lalu, tidak ada satu orang pun yang membayangkan bahwa Kekaisaran akan diserang oleh negara-negara tetangga.
Semua orang meramalkan masa keemasan bagi Kekaisaran.
Di pusat dari semua itu, bertakhta sang Putra Mahkota Wilhelm, putra sulung sang Kaisar.
Dan yang memperkuat posisinya adalah adik-adiknya yang terdiri dari jajaran orang-orang berbakat.
Kekaisaran pada masa itu benar-benar berada dalam kondisi yang sangat kukuh.
Awal dari melemahnya kekuatan itu bersumber dari satu peristiwa.
Kematian Putra Mahkota Wilhelm.
Sejak saat itulah segalanya mulai runtuh.
Jika peristiwa itu tidak pernah terjadi, masa depan di mana Kekaisaran melemah tidak akan pernah ada.
Selama Kekaisaran yang bertakhta di pusat benua berdiri kukuh, negara-negara lain tidak akan bisa bertindak gegabah.
Bahkan jika Kekaisaran bergerak untuk menyatukan benua, kekacauan yang melanda benua tidak akan sebesar sekarang.
Ketimbang negara kuat yang menelan negara lain, kehancuran dari negara kuat itu sendiri justru membawa kekacauan yang jauh lebih besar.
Namun, hal semacam itu sangat jarang terjadi. Justru karena tidak mudah runtuh, mereka disebut sebagai negara kuat.
Akan tetapi, Kekaisaran runtuh.
Itu terjadi karena Wilhelm tumbang di waktu yang sangat pas, dan adik-adik yang tadinya memperkuat posisi Wilhelm mulai saling berselisih.
Tidak ada yang mampu menggerus kekuatan suatu negara sedahsyat perselisihan internal.
Apalagi perselisihan internal yang tidak terduga.
Perebutan takhta yang diyakini tidak akan pernah terjadi oleh siapa pun kini benar-benar pecah. Terlebih lagi, itu menjadi pertikaian yang sangat berlarut-larut.
Segalanya terhubung menjadi satu.
Yaitu kematian Putra Mahkota Wilhelm yang diselimuti misteri.
Sebuah panah nyasar merebut nyawanya dalam pertempuran melawan Negara Bagian.
Wilhelm juga seorang manusia. Mati karena panah nyasar tentulah hal yang bisa saja terjadi. Namun, semua orang terperanjat.
Bagaimana bisa sosok Putra Mahkota yang agung itu tewas hanya karena sebatang panah nyasar.
Namun, bagaimana jika dia sendiri yang menginginkan kematiannya?
Kata-kata yang tidak biasa darinya kembali terngiang di ingatan.
“Selama aku pergi, kutitipkan Kekaisaran padamu,” begitulah ucapan yang ditinggalkan oleh kakak sulung kami sebelum dia berangkat.
Saat itu aku berpikir itu hanya ucapan impulsif belakangan, tetapi jika dia sudah tahu bahwa dirinya akan hilang, itu menjadi kata-kata yang sangat masuk akal.
Tentu saja dia akan pergi.
Sebab dia akan kehilangan nyawanya.
Hingga saat ini pun, rakyat Kekaisaran masih terus mengejar bayang-bayang Putra Mahkota.
Karena sosoknya terlalu agung, kepergiannya... rasa kehilangan itu sangat besar.
Seandainya.
Meskipun aku tidak ingin percaya.
Seandainya, jika ada seseorang yang dengan sengaja menciptakan situasi ini dan mempertaruhkan segalanya demi pembalikan keadaan bagi umat manusia dalam satu pukulan?
Sosok itu pastilah kakak sulung kami, Wilhelm.
Namun, jika demikian.
Orang-orang yang kehilangan nyawa mereka di masa kekacauan ini tewas akibat dari tindakan yang diambil oleh Wilhelm.
Bukan hanya keluarga saja. Warga Kekaisaran, serta warga dari negara-negara lain telah banyak yang kehilangan nyawa.
Untuk disebut sebagai pengorbanan yang diperlukan, harganya terlalu besar.
Karena itulah, aku tidak ingin percaya.
Aku tidak ingin membayangkan bahwa kakak sulung yang begitu lembut itu akan mengambil keputusan sekejam itu.
“Ada apa? Kamu sedang memikirkan sesuatu?”
“...Apakah perang melawan iblis... harus mengorbankan segalanya...?”
“...Dahulu memang begitu. Mari mendengarkan sedikit cerita masa lalu.”
Setelah berkata demikian, sang Tetua memejamkan matanya perlahan.
Bersamaan dengan itu, rumah sang Tetua lenyap, dan aku serta sang Tetua mendadak berada di atas langit.
“Ini...?”
“Ini adalah penglihatan masa lalu. Dari perang besar di masa lalu.”
Bersamaan dengan kata-kata sang Tetua, tempat kami berada berubah.
Sebuah desa yang berkobar dilalap api.
Di sekitarnya bergelimpangan mayat yang tidak terhitung jumlahnya.
Yang berdiri tegak di sana hanyalah sesosok iblis bersayap hitam.
“Awal mulanya adalah dari pemanggilan iblis yang dilakukan oleh seorang penyihir. Namun, bahkan di era Sihir Kuno sekalipun, pemanggilan iblis adalah sihir yang tidak pasti. Tidak ada yang tahu iblis seperti apa yang akan muncul, dan tidak tahu apakah iblis itu bisa dikendalikan atau tidak. Tentu saja, saat itu pun berakhir dengan kegagalan. Pada dasarnya, mencoba memanggil dan mengendalikan penghuni dari dunia lain adalah tindakan yang salah... dan saat itu seluruh umat manusia harus membayar akibatnya. Yang dipanggil adalah iblis terkuat di dunia iblis, Raja Iblis Lucifer.”
Rambut hitam pekat yang panjang, serta mata emas yang bersinar bagaikan bintang-bintang yang mengapung di langit malam.
Penampilannya tidak jauh berbeda dari manusia biasa.
Seorang pemuda dengan paras wajah yang tampan. Kecuali sayap hitam dan energi sihirnya yang sangat jahat.
Meskipun aku tidak benar-benar berada di tempat itu secara langsung, tekanan keberadaannya membuat tubuhku kaku.
Tanpa ragu, satu orang saja tidak akan pernah bisa menang melawannya.
Bahkan monster-monster yang kulihat selama ini tampak menggemaskan jika dibandingkan dengannya.
Julukan Raja Iblis memang sangat cocok untuknya.
“Pemanggilan itu dilakukan di pulau tempat Persatuan Kerajaan saat ini berada. Gelombang energinya membubung menjadi pilar hitam yang menembus hingga ke langit. Orang-orang di pulau yang menyadari keanehan itu bersatu dan bergerak untuk membasmi Lucifer, tetapi dalam sekejap mereka dihanguskan menjadi abu. Dan mereka yang tidak ikut dalam pembasmian itu melarikan diri dari pulau. Itu mungkin insting alami manusia. Mereka menyadari bahwa dia adalah monster yang tidak akan pernah bisa dilawan.”
“Bisa-bisanya... mereka berhasil kabur.”
“Lucifer tidak langsung bergerak. Sebab dia sedang memperbesar lubang tempat dia dipanggil. Dan begitu perluasan lubang itu selesai, dia menjadikan pulau itu sebagai markas, lalu iblis yang tidak terhitung jumlahnya menyerbu masuk ke benua.”
Pemandangan tempat kami berada berubah lagi.
Kami kembali berada di atas langit.
Di bawah sana terhampar daratan benua.
Dan lautan api menyebar ke seluruh penjuru benua.
Ini bukanlah sekadar bayangan.
Dalam kenyataannya, api memang benar-benar menyebar ke seluruh penjuru benua.
“Sesaat setelah para iblis menyerbu masuk, negara-negara yang berdiri di benua menghadapinya secara terpisah. Dan semuanya berujung pada kekalahan tragis. Negara-negara runtuh satu demi satu, dan menghadapi ancaman tirani yang datang dari utara, banyak rakyat yang memilih untuk melarikan diri ke selatan.”
Kobaran api bergerak makin cepat dari utara menuju ke selatan.
Sisi barat, tengah, dan timur benua.
Dari tiga arah inilah para iblis melancarkan serangan mereka.
Akan tetapi, saat sisi barat dan timur terus-menerus dilalap api, pergerakan api di bagian tengah benua justru terhenti.
“Umat manusia yang gemar melarikan diri. Seluruh iblis berpikir bahwa rakyat benua yang lemah ini bisa digilas dengan sangat mudah. Namun, ada satu negara yang berdiri menghadang para iblis itu. Negara yang pada masa itu telah mengukuhkan posisinya sebagai negara kuat di pusat benua, Kekaisaran Adrasia.”
Pemandangan kembali berganti.
Tempat itu adalah sebuah padang rumput yang luas.
Kemungkinan besar adalah bekas medan pertempuran.
Banyak kesatria yang terluka tampak menatap ke satu titik yang sama.
Bukan di atas panggung yang megah, melainkan seorang pria yang berdiri di atas batu cadas yang kasar.
Pria itu mengacungkan pedang di tangannya, membakar semangat para kesatria.
“Lihatlah! Wahai kesatria milikku! Bahkan iblis sekalipun tidak mustahil untuk dikalahkan! Jika kita menyatukan kekuatan kita, kita sanggup menumbangkan mereka! Bersuaralah! Mari kita perdengarkan sorak kemenangan kita kepada rakyat di berbagai penjuru yang lari ketakutan! Asap sinyal serangan balik umat manusia akan dikobarkan oleh Kekaisaran kita!!”
Mendengar pidato pria tersebut, para kesatria yang berkumpul di padang rumput bersorak membubung ke udara.
Kesatria yang terluka parah dan berada di ambang kematian pun ikut bersorak.
Hingga detik-detik terakhir embusan nafasnya, kesatria itu terus bersorak.
Itu adalah sorak kemenangan terakhir yang dipersembahkan kepada junjungan yang dicintainya.
“Kaisar Kesatria yang memimpin sendiri garis depan dan bertarung melawan iblis... Andreas.”
Dia adalah pria berambut pirang pendek. Usianya mungkin sekitar dua puluhan akhir.
Dia tidak memiliki aura seperti Raja Iblis tadi.
Dia murni seorang manusia.
Bukan makhluk luar biasa. Namun sebagai manusia, dia punya kemampuan dan karisma di tingkat tertinggi.
“Serangan para iblis berhasil ditahan oleh perlawanan Kekaisaran. Kekaisaran yang menjadi harapan perlawanan umat manusia mulai didatangi oleh sosok-sosok hebat berkeinginan kuat melancarkan perlawanan terhadap iblis dari berbagai penjuru. Di antara mereka, terdapat seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itulah yang merupakan harapan umat manusia yang sesungguhnya.”
Bagian 2
Pemandangan kembali berganti.
Di bawah sana, sebuah pasukan tentara sedang melangkah maju.
Namun, pasukan itu terbilang sangat tidak biasa.
Perlengkapan dan pakaian yang mereka kenakan sama sekali tidak seragam, bahkan ras mereka pun bermacam-macam.
Ada manusia, ada pula setengah manusia.
“Keberuntungan memang sedang memihak saat itu.”
“Maksudmu munculnya sang Pahlawan?”
“Itu juga salah satunya. Namun, perang melawan iblis tidak akan bisa dimenangi hanya dengan pahlawan seorang diri. Lima ratus tahun yang lalu, benua ini diberkahi oleh zamannya.”
Pemandangan berganti lagi.
Sebuah pedang cahaya raksasa membelah angkasa, melenyapkan para iblis hingga tidak tersisa.
Katanya, Pahlawan Pertama adalah satu-satunya sosok yang sanggup menguasai Pedang Suci dengan sempurna.
Aku yang kini sering melihat Pedang Suci milik Elna, sosok yang dikatakan sebagai titisan Pahlawan Pertama itu, mau tidak mau harus setuju.
Anak laki-laki berambut merah muda yang memegang pedang bintang bercahaya itu tidak diragukan lagi jauh lebih kuat daripada Elna.
Namun, hal yang mengejutkan bukan itu.
Sosok-sosok tangguh yang sanggup berdiri sejajar dengan Pahlawan semacam itu berjejer di medan pertempuran.
“Dalam sejarah benua sekalipun, rasanya tidak ada zaman yang dikaruniai sosok-sosok hebat sebanyak ini. Begitu melimpahnya sumber daya manusia di benua pada masa itu. Dan di saat banyak negara tidak sanggup memberikan perlawanan terhadap iblis, hanya Kekaisaran yang menunjukkan perlawanan dengan gigih. Karena itu, Kekaisaran diakui oleh negara-negara di seluruh benua sebagai simbol perlawanan. Hasilnya, umat manusia berhasil bersatu di bawah panji Ardler. Perselisihan antarnegara maupun perselisihan antarras melenyap di hadapan musuh yang begitu kuat bernama iblis. Kekaisaran menyatukan seluruh kekuatan tempur di benua dan membentuk Pasukan Serangan Balik. Mereka menciptakan kondisi agar para pejuang itu bisa bertempur dengan sepenuh hati.”
Pemandangan berganti menuju sebuah pos tentara di garis depan.
Di sana, persenjataan dalam jumlah besar diangkut menuju garis depan, dan pasokan logistik dikirimkan tanpa henti.
Dari area belakang, sosok-sosok kuat yang ingin mengukir nama mereka bergabung satu demi satu ke medan perang, melancarkan serangan balik menggunakan senjata berupa kuantitas material yang tidak dimiliki oleh iblis.
Namun, kekuatan material saja tidak akan cukup untuk mengalahkan iblis.
Yang menjadi penentu adalah segelintir sosok hebat.
Agar mereka tidak terbuang sia-sia, para kesatria yang berkumpul dari seluruh benua membukakan jalan bagi mereka. Sambil mengorbankan nyawa mereka sendiri.
“Invasi para iblis memang merupakan hal yang terburuk. Namun, waktu invasi mereka adalah yang terbaik. Ajaibnya, benua ini memiliki kekuatan tempur yang sanggup memukul mundur mereka.”
“Apa kamu juga berada di antara mereka saat itu?”
“Tentu saja. Aku bertarung dengan gigih di samping anak laki-laki itu. Tentu saja klan Manusia Naga dan ras setengah manusia lainnya juga ikut bertarung. Tidak ada satu pun pertempuran yang berjalan mudah.”
Pemandangan berganti lagi.
Banyak jasad bergelimpangan di tanah.
Di antara jasad-jasad itu, tampak pula sosok-sosok kuat yang kulihat tadi.
Bahkan orang-orang kuat yang sanggup berdiri sejajar dengan Pahlawan sekalipun tetap gugur.
Memang benar, pertempuran itu tidak berjalan mudah.
“Aku berkali-kali bersiap menghadapi kematian. Karena itulah bagi generasi setelahnya, ini dituturkan sebagai sebuah keberuntungan. Kemenangan itu adalah keajaiban. Tentu saja, itu adalah hasil dari perjuangan mati-matian orang-orang pada masa itu.”
Pemandangan berganti lagi.
Tempat itu adalah lokasi di mana penggalian sedang dilakukan.
Banyak orang dikerahkan di sana.
“Kekaisaran tahu betul cara bertarung melawan iblis. Bagi sebagian besar umat manusia, mereka tidak akan berguna sebagai kekuatan tempur menghadapi iblis. Karena itulah garis depan diserahkan kepada orang-orang kuat, sementara sisanya berfokus penuh untuk mendukung orang-orang kuat tersebut. Salah satu bentuknya adalah penggalian peninggalan dari era Sihir Kuno.”
“Begitu. Jadi itu alasannya kenapa ada banyak peninggalan era Sihir Kuno di ruang harta istana.”
“Ada peninggalan yang digunakan, ada pula yang tidak digunakan. Dari sudut pandang Kaisar Kesatria, dia mungkin berharap bisa menemukan Pedang Suci kedua. Pada akhirnya, tidak ada benda yang sanggup menandingi Pedang Suci, tetapi deretan perlengkapan kuat itu tetap menjadi bantuan yang sangat besar dalam pertempuran melawan iblis.”
Pemandangan berganti lebih jauh lagi.
Kami kembali berada di atas langit.
Api yang tadinya membalut benua perlahan-lahan mulai terdesak ke arah utara.
Pihak benua yang tadinya hanya bisa menjadi korban pembantaian iblis berhasil mengubah alur medan pertempuran menjadi lebih baik.
“Apakah umat manusia membalikkan keadaan dengan cara seperti ini?”
“Jangan sembarangan. Musuh kita tidak selemah itu sampai bisa dibalikkan keadaannya hanya dengan hal seperti ini.”
Tepat saat sang Tetua mengatakan hal itu.
Seluruh daratan benua mendadak dilalap api.
Bahkan bagian tengah benua tempat Kekaisaran berdiri pun ikut dilalap api.
“Apa yang terjadi...?”
“Perang melawan iblis terjadi sebanyak dua kali. Yang pertama adalah saat Pasukan Serangan Balik dibentuk dan berhasil mengusir iblis dari benua untuk sementara waktu. Namun, Pasukan Serangan Balik Pertama menderita kekalahan dan melarikan diri dalam sekejap.”
“Karena Raja Iblis...?”
“Benar. Bahkan Pahlawan yang dianggap sebagai harapan umat manusia sekalipun tidak sanggup menandingi Raja Iblis. Begitu Raja Iblis turun langsung ke garis depan, Pasukan Serangan Balik hancur separuhnya. Sebab mereka nekat menantang Raja Iblis demi meloloskan sang Pahlawan yang berada di ambang kematian.”
Pemandangan berganti.
Sambil menggendong Pahlawan Pertama yang berlumuran darah, seorang pendekar pedang melarikan diri mati-matian.
Para kesatria melancarkan serangan terhadap iblis-iblis yang mengejar dari belakang.
Sedikit jauh dari tempat itu, di kedalaman medan perang.
Raja Iblis yang menunjukkan raut wajah bosan mengibaskan para kesatria yang mengerubunginya bagaikan mengibaskan debu.
“Bagaimana...”
“Hmm?”
“Bagaimana cara kalian menang melawannya?”
“Umat manusia tidak menyerah. Umat manusia bertahan hingga sang Pahlawan memulihkan lukanya, menjadi lebih kuat, lalu kembali ke medan perang. Selain itu, kebiasaan buruk iblis pun mulai terlihat.”
“Kebiasaan buruk?”
“Sifat mereka yang sombong. Meskipun menghadapi perlawanan yang sengit, meskipun melihat keberadaan Pahlawan yang di luar nalar. Mereka tidak pernah berpikir bahwa mereka yang merupakan iblis akan mengalami kekalahan. Walaupun situasi pertempuran berhasil dipulihkan berkat turun tangannya Raja Iblis secara langsung, kerugian di pihak iblis pun sangat besar. Karena itulah, Kepala Penasihat Dantalion yang merupakan otak dari Pasukan Raja Iblis menyarankan untuk mundur. Dia menyarankan agar menyisakan kekuatan tempur pertahanan di pulau, lalu kembali ke dunia iblis untuk menyusun ulang kekuatan. Dan dia pun dieksekusi oleh Raja Iblis. Bagi Raja Iblis yang memiliki kepercayaan diri mutlak atas kekuatannya sendiri, usulan untuk mundur adalah hal yang tidak mungkin ada. Lagipula, dia memang memiliki kekuatan sebesar itu.”
“Tentu saja. Kalau sekuat itu, wajar saja jadi sombong. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana cara mengalahkannya.”
“Semua orang pun merasakan hal yang sama. Namun, Raja Iblis tidak keluar untuk memburu sisa-sisa pasukan. Walaupun iblis lainnya melancarkan serangan ulang dan membuat benua kembali dilalap api perang, mereka yang kehilangan penasihat hanya bertarung dengan mengandalkan otot belaka. Karenanya, kami berhasil mengulur waktu.”
Aku teringat kembali pada raut wajah bosan tadi.
Jika Raja Iblis bertarung dengan serius, umat manusia pasti sudah punah sejak lama.
Namun bagi Raja Iblis, hal itu mungkin tidak lebih dari sekadar pengisi waktu luang.
Setelah membuat sang Pahlawan melarikan diri dalam kekalahan, Raja Iblis mungkin merasa bosan.
Karena itulah dia menyerahkannya kepada iblis lain, dan mengeksekusi penasihat yang melontarkan usulan untuk mundur sementara.
“Dibutuhkan waktu 2 tahun sampai sang Pahlawan bisa bangkit kembali. Umat manusia bertahan hingga saat itu. Sambil menelan pengorbanan yang sangat besar. Dan setelah itulah Pasukan Serangan Balik Kedua dibentuk.”
Bagian 3
“Pasukan Serangan Balik Kedua pun dipaksa menjalani pertempuran yang sangat berat. Sebab para iblis telah tersebar ke seluruh penjuru benua, dan mereka harus mengelilingi daerah demi membasmi mereka.”
Banyak orang kuat yang tewas di tangan Raja Iblis.
Kendati demikian, Pasukan Serangan Balik Kedua terus menumbangkan para iblis satu demi satu.
“Apakah sang Pahlawan menjadi makin kuat?”
“Pedang Suci adalah barang yang sudah ada bahkan sejak sebelum era Sihir Kuno. Walau penuh misteri, sang Pahlawan berhasil mengendalikannya dengan sempurna.”
Pemandangan berganti.
Pahlawan Pertama yang tadinya seorang anak laki-laki kini telah beranjak menjadi seorang pemuda.
Pedang Suci yang dipegang di tangannya adalah sesuatu yang sepenuhnya berbeda dari apa yang kuketahui.
Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah merasa bahwa dia lebih kuat daripada Elna. Karena itulah, saat itu aku berpikir dia sudah mengendalikan Pedang Suci.
Namun, hal itu ternyata salah.
Ini benar-benar berada di dimensi yang berbeda.
Dari segi penampilan memang tidak berubah, tetapi gelombang energi yang dipancarkan oleh Pedang Suci saat ini berada di tingkat yang tidak tertandingi dibanding sebelumnya.
Menggunakan Pedang Suci tersebut, sang Pahlawan membantai para iblis.
“Sang Pahlawan sangatlah kuat. Kekuatannya benar-benar sanggup menandingi Raja Iblis. Namun, pihak iblis pun tidak tinggal diam tanpa rencana. Mereka memanfaatkan para pengkhianat dari pihak umat manusia untuk memperkuat kekuatan tempur mereka.”
Pemandangan berganti lebih jauh.
Di sana, para Elf Gelap dengan tubuh yang kian memhitam seluruhnya tengah bertempur melawan Pasukan Serangan Balik.
Di sekeliling mereka, tampak pula manusia-manusia yang diduga telah berkhianat.
“Dalam pertempuran yang panjang, banyak orang yang jiwanya terganggu. Orang-orang yang menjual jiwanya kepada iblis demi bisa bertahan hidup mulai bermunculan satu demi satu.”
“Apakah para iblis berniat untuk terus membiarkan orang-orang yang mengkhianati umat manusia itu hidup?”
“Soal itu aku tidak tahu. Lagipula bagi Raja Iblis, invasi ke benua ini mungkin tidak lebih dari sekadar main-main. Entah dia berniat memusnahkan seluruh umat manusia, atau berniat menyisakan mereka sebagai budak. Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang ada di kepalanya. Hanya saja, Raja Iblis memberikan kekuatan kepada para pengkhianat itu. Tidak diragukan lagi bahwa dia berniat menjadikan mereka sebagai kekuatan tempur.”
Para pengkhianat yang diberi kekuatan oleh Raja Iblis berdiri menghadang Pasukan Serangan Balik.
Namun, Pasukan Serangan Balik berhasil menumbangkan para pengkhianat itu pula.
“Pada saat Pasukan Serangan Balik Pertama, sosok simbol utamanya adalah sang Kaisar Kesatria. Namun pada Pasukan Serangan Balik Kedua, sosok simbol utamanya adalah sang Pahlawan. Dia memimpin pasukan di garis paling depan dan membasmi para iblis.”
Api yang menyelimuti seluruh penjuru benua terdesak mundur ke utara dalam sekejap, hingga akhirnya api melenyap dari benua.
Dan.
“Raja Iblis harus ditumbangkan. Setelah mengusir para iblis dari benua, semangat Pasukan Serangan Balik untuk pergi menumbangkan Raja Iblis yang berada di pulau sedang membubung tinggi. Namun di saat yang sama, meski jumlahnya sedikit, ada pula orang-orang yang menginginkan status quo.”
“Apa maksudnya?”
“Setelah memukul mundur Pasukan Serangan Balik Pertama, Raja Iblis tidak bergerak dari pulau. Karena itulah muncul argumen bahwa jika tidak memprovokasinya, kedamaian mungkin akan tetap terjaga.”
“Mana mungkin hal itu bisa berjalan semudah itu.”
“Benar. Namun, para penyintas dari Pasukan Serangan Balik Pertama telah menyaksikan sendiri ancaman Raja Iblis dengan mata kepala mereka sendiri. Karena itulah pemikiran semacam itu pun bisa dipahami.”
Pemandangan kembali berganti.
Di sana, sang Pahlawan berambut merah muda dan pendekar pedang yang dulu menggendong sang Pahlawan sambil melarikan diri tengah melakukan duel.
“Pendekar pedang yang bisa dibilang sebagai sahabat karib bagi sang Pahlawan menantang sang Pahlawan untuk berduel. Sambil berkata bahwa jika dia menang, dialah yang akan menggunakan Pedang Suci.”
“Arvine Knox...”
“Mereka berdua adalah sahabat karib. Dan Arvine telah melihat sang Pahlawan berada di ambang kematian. Entah apa niat sebenarnya yang ada di dalam hatinya... dia mungkin tidak ingin mengirim sahabat karibnya ke dalam pertempuran yang bisa saja merenggut nyawanya. Sebab sosok yang memegang Pedang Suci-lah yang akan berhadapan langsung dari depan dengan Raja Iblis.”
Pertempuran sengit yang seimbang itu akhirnya ditutup oleh kemenangan sang Pahlawan.
Arvine yang meneteskan air mata kemudian melangkah pergi entah ke mana.
“Hati Arvine mungkin sudah patah saat melihat Raja Iblis. Kendati demikian, Arvine tetap bertempur hingga sesaat sebelum pertempuran penentu melawan Raja Iblis. Walaupun hatinya telah patah, Arvine memiliki kekuatan yang cukup untuk terus bertempur hingga akhir.”
“Jika pendekar pedang yang berdiri sejajar dengan Pahlawan menarik diri, bukannya secara kekuatan tempur menjadi sangat berat?”
“Awalnya diperkirakan demikian. Namun dengan mengalahkan sahabat karibnya sendiri, tekad di dalam diri sang Pahlawan kian memantap. Pahlawan pun tetaplah seorang manusia. Rasa takut terhadap Raja Iblis pastilah ada di dalam dirinya. Namun, dia berhasil mengatasinya dan berdiri menghadang.”
Pemandangan berpindah ke pulau.
Di dalam sebuah kastel raksasa, sang Pahlawan dan Raja Iblis melancarkan pertempuran sengit.
Sepenuhnya seimbang.
Raja Iblis yang tadinya dianggap memiliki kekuatan mutlak.
Sang Pahlawan dan Raja Iblis mempertontonkan pertarungan yang seimbang.
Pasukan Serangan Balik yang menyerbu masuk ke dalam kastel pun menumbangkan iblis-iblis tersisa yang memperkuat barisan di sekitar Raja Iblis satu demi satu.
“Pada momen kapan Vepar dikalahkan oleh sang Pahlawan?”
“Di awal. Demi menghalangi infiltrasi ke dalam kastel, dia menantang sang Pahlawan dan menerima serangan dari Pedang Suci. Saat itu dia dikira sudah tewas, tetapi pada akhirnya dia berhasil bertahan hidup dengan susah payah.”
Masih bisa hidup meski menerima serangan Pedang Suci...
Kegigihannya benar-benar di luar batas.
Hanya saja jika melihat pertempurannya melawan Raja Iblis, sang Pahlawan kemungkinan besar menyimpan kekuatannya.
Jika ada yang menerima serangan yang sama persis seperti yang dilancarkan ke arah Raja Iblis dan masih tetap hidup, itu benar-benar sesosok monster.
Lagipula, bahkan Raja Iblis pun memilih untuk menghindarinya.
Pertempuran terus berlanjut.
Matahari terbenam, dan saat kegelapan mulai menguasai dunia.
Saat-saat penentuan pun tiba.
Panggung penentuan berada di langit.
Kedua belah pihak mengembuskan napas yang terengah-engah.
Mereka saling melepaskan serangan terakhir mereka.
Semburan hitam yang dilepaskan oleh Raja Iblis.
Berhadapan dengannya, sang Pahlawan menyabetkan pedangnya dengan sekuat tenaga.
Dunia yang tadinya dikuasai oleh kegelapan mendadak diselimuti oleh cahaya keemasan.
Dan gelombang bercahaya yang meluncur jatuh bagaikan meteor dari langit menelan Raja Iblis.
Dahsyat kekuatannya sungguh mengerikan.
Meskipun malam hari, suasana menjadi begitu terang seolah-olah siang hari, dan guncangannya membuat daratan benua bergetar.
Itu bukanlah jenis serangan yang boleh dilepaskan oleh seorang manusia.
Begitu gelombang cahaya lenyap dan malam kembali bertakhta, Pasukan Serangan Balik menyerukan sorak-sorai kemenangan.
Di saat yang sama, iblis-iblis yang tersisa mundur secara total.
“Kami mengejar para iblis yang mundur. Meskipun sebagian besar bawahan terdekat Raja Iblis telah ditumbangkan oleh sang Pahlawan, iblis-iblis lainnya pun tetaplah sebuah ancaman bagi umat manusia. Akan tetapi...”
Setelah berkata demikian, sang Tetua menghela napas pelan.
Lalu.
“Hujan hitam turun dari langit ke seluruh penjuru benua. Menyadari bahwa itu ulahnya Vepar, kami segera memasang pertahanan, tetapi hal itu sudah terlambat. Kami seharusnya menghabisinya sebelum dia sempat melakukan sesuatu. Saat kami berhasil mencapai lubang itu, sosok Vepar maupun iblis lainnya sudah tidak ada lagi di sana. Sambil menderita luka parah, mereka melarikan diri kembali ke dunia iblis.”
Itu tidak diragukan lagi adalah sebuah kemenangan.
Namun dari pihak umat manusia, tidak ada satu orang pun yang berada dalam keadaan selamat tanpa luka.
Sama sekali tidak ada sisa kekuatan di benua untuk melancarkan pengejaran terhadap Vepar.
Arti dari kata-kata tersebut akan langsung dipahami begitu melihat Pasukan Serangan Balik yang bertahan hidup.
Pasukan Serangan Balik yang akhirnya berhasil menang melalui pertempuran panjang berada dalam kondisi yang sangat hancur berantakan.
Jika hanya melihat dari penampilan mereka saja, orang-orang mungkin akan mengira bahwa pihak yang kalah adalah Pasukan Serangan Balik.
Mereka benar-benar bertarung dengan segenap sisa tenaga dan nyawa.
“Kenyataan bahwa Vepar masih hidup dijadikan rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Kami paham betapa pentingnya hal itu. Akan tetapi, umat manusia saat itu sudah tidak punya lagi ruang di hati mereka untuk menerima kabar duka lebih lanjut.”
Bagian 4
Perang melawan iblis yang dipimpin oleh Raja Iblis telah berakhir.
Seluruh penjuru benua sempat dilalap api perang, dan pihak umat manusia baru bisa meraih kemenangan dengan sangat susah payah setelah menelan pengorbanan yang besar.
Namun, kenang-kenangan pahit yang ditinggalkan oleh pihak iblis sangatlah besar.
“Setelah lubang itu ditutup oleh sang Pahlawan, Kaisar Kesatria meminta klan Manusia Naga kami untuk meneliti Otoritas Vepar. Sebagai gantinya, Kekaisaran membantu kami mencari tempat tinggal yang tenang.”
“Mencari tempat tinggal yang tenang?”
“Meski kamu seorang pangeran, kamu pasti memahami hakikat dasar manusia. Begitu musuh dari luar melenyap, mereka akan mulai bertikai di dalam. Itulah manusia.”
Pemandangan kembali berganti.
Negara-negara di seluruh benua hancur akibat perang melawan iblis.
Banyak negara yang runtuh, dan peta kekuatan benua berubah drastis dibandingkan sebelum perang melawan iblis terjadi.
“Kekaisaran memang berhasil menahan serangan iblis, tetapi mereka mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk menantang perang tersebut. Meskipun seluruh benua dilalap api perang, ada beberapa negara yang kerusakannya terbilang kecil. Negara-negara semacam itu menganggap situasi ini sebagai kesempatan emas dan gencar melakukan perluasan wilayah. Kekaisaran yang telah memeras habis kekuatannya dalam perang besar tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikan mereka.”
Selama perang besar terjadi, Kekaisaran menjadi pemimpin di benua ini.
Sumber daya manusia maupun logistik terpusat di Kekaisaran. Jika saja semuanya berjalan lancar, sebuah negara penyatuan yang berpusat pada Kekaisaran mungkin sudah terwujud.
Namun, musuh saat itu tidaklah selemah itu sampai-sampai mereka bisa menang sambil menyisakan sisa kekuatan.
Kekaisaran benar-benar memeras kekuatannya hingga batas paling akhir.
Akibatnya, negara adidaya tidak lagi ada, dan kekuatan penyeimbang pun melenyap.
Benua jatuh ke dalam era perang saudara di mana para pahlawan saling berebut kekuasaan.
“Bahkan Kekaisaran sendiri sudah kewalahan hanya untuk mempertahankan wilayahnya. Negara-negara baru bermunculan, dan banyak peperangan pecah di berbagai tempat. Di tengah situasi itu, diskriminasi terhadap ras setengah manusia yang sempat terlupakan selama perang melawan iblis mulai kambuh kembali. Demi melarikan diri dari penindasan semacam itu, banyak ras setengah manusia yang mendirikan negaranya masing-masing. Namun, kami tidak bisa melakukan hal yang sama.”
“Karena Otoritas Vepar...”
“Benar. Racun penyakit yang suatu saat nanti mungkin akan mencapai kami. Sebelum kami berhasil mengatasi ini, kami tidak bisa hidup di dunia luar dengan tenang. Bahkan jika tidak ada permintaan dari Kaisar sekalipun, kami pasti akan tetap menelitinya. Kemudian, Kaisar dengan diam-diam menyiapkan kapal dan mengangkut kami ke tanah di ujung timur. Sebisa mungkin menjauhkan kami dari api perang.”
Pemandangan berganti.
Tempat itu adalah bagian tengah benua. Lokasi yang saat ini menjadi wilayah Kekaisaran.
Bagian tengah benua adalah titik strategis yang diinginkan oleh siapa pun. Jika sanggup menguasai tempat ini, jalan menuju penaklukan benua akan terlihat.
Demi mendapatkan tempat itu, banyak negara yang merangsek maju ke bagian tengah. Dan bagian tengah benua pun berubah menjadi medan pertempuran yang sangat sengit.
Peta kekuatan berubah dari hari ke hari.
Namun, kobaran api besar yang terjadi di bagian tengah mendadak terhenti secara tiba-tiba.
“Apa yang terjadi...?”
“Sebuah peristiwa bersejarah. Dari sekian banyak kaisar yang ada dalam sejarah, Kaisar Kesatria telah melakukan pencapaian luar biasa yang bisa masuk ke dalam tiga besar.”
Peperangan di bagian tengah perlahan melenyap.
Dan dampak dari hal itu membuat peperangan dari seluruh penjuru benua ikut melenyap.
Walaupun itu mungkin hanya peristiwa yang berlangsung sesaat.
Saat itu peperangan benar-benar lenyap dari benua.
Pemandangan berganti lagi.
Di sana, sang Pahlawan berdiri di samping sang Kaisar.
“Setelah menutup lubang itu, sang Pahlawan pergi mengembara. Saat berpisah, dia bilang sedang memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap Pedang Suci. Kekuatan yang terlalu besar akan memicu perselisihan. Pahlawan yang berhasil mengalahkan Raja Iblis adalah ancaman yang jauh lebih besar daripada Raja Iblis itu sendiri. Dia pasti memahami hal tersebut. Atau mungkin dia sedang mencari sahabat karibnya yang menghilang. Pokoknya sang Pahlawan pergi mengembara. Dan itu berlangsung selama beberapa tahun.”
“Lalu... dia datang menghadap Kaisar.”
Dari titik itu, siapa pun yang tinggal di Kekaisaran pasti mengetahuinya. Kaisar berharap sang Pahlawan mau tinggal di Kekaisaran, tetapi sang Pahlawan menyatakan tidak membutuhkan gelar Duke, Marquis, maupun Count.
Menghadapi Pahlawan yang seperti itu, sang Kaisar memutar otak dan memberikannya gelar kebangsawanan satu-satunya di benua agar dia mau tinggal di Kekaisaran.
Nama gelar kebangsawanan itu adalah Keluarga Pahlawan.
“Setelah menyelesaikan pengembaraan pertamanya, sang Pahlawan terlebih dahulu datang menghadap kami. Maksud kedatangannya adalah meminta kami untuk menitipkan Pedang Suci. Kami menolaknya dengan tegas karena sama sekali tidak sanggup menjaganya hingga akhir, tetapi sang Pahlawan tampak kecewa. Dan dia kelihatan sangat lelah. Kemudian sang Pahlawan berkonsultasi apakah Otoritas racun penyakit akan terhenti jika dia mengakhiri hidupnya sendiri.”
“Dia berniat mati...?”
“Racun yang terus berkembang. Targetnya sudah sangat jelas. Karena itulah sang Pahlawan berniat melenyapkan target tersebut. Namun, hal semacam itu tidak kami pahami saat itu. Karena itulah kami menjelaskannya bahwa itu adalah pertaruhan yang berbahaya, lalu menyarankannya untuk berbicara dengan Kaisar. Sebab saat itu Kaisar sedang mencari keberadaan sang Pahlawan.”
“Dan Kaisar Kesatria berhasil membujuk sang Pahlawan untuk urung melakukannya...”
“Sebab tidak ada jaminan apa pun bahwa racun itu akan menghilang. Bahkan bisa dikatakan kemungkinan racun itu tidak menghilang jauh lebih tinggi. Kalau begitu, dia memutuskan untuk mempertaruhkannya kepada masa depan. Lalu dia meninggalkan garis keturunannya sendiri. Sebagai pemegang sekaligus penjaga Pedang Suci. Bagi negara-negara di seluruh benua, itu merupakan sebuah peristiwa yang sangat besar. Sebab keputusan Pahlawan menjadi bangsawan Kekaisaran berarti dia telah menjadi bawahan dari sang Kaisar.”
“Karena itulah peperangan terhenti. Karena mereka takut pada Pedang Suci.”
Sang Pahlawan telah mengalahkan Raja Iblis.
Dialah sosok terkuat di dunia. Jika sosoknya bergerak atas kehendak Kaisar seorang, tidak akan ada negara yang berani memicu perang di dekat Kekaisaran.
Sebab jika sang Pahlawan dikirimkan dengan mengusung dalih demi menjaga kedamaian, mereka tidak akan sanggup menahannya.
“Kendati demikian, sang Pahlawan tidak pernah mengayunkan Pedang Suci lagi di sisa hidupnya. Selama sisa hidupnya di Kekaisaran, dia mencurahkan kekuatannya untuk menyegel Pedang Suci. Dan bersamaan dengan kematian sang Pahlawan, sebuah segel sangat kuat yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun berhasil tercipta.”
Keberadaan Pedang Suci tidak tercatat di mana pun.
Ada yang bilang berada di makam Pahlawan Pertama, ada pula yang bilang berada di bawah tanah ibu kota kekaisaran, tetapi melihat cara bersembunyi klan Manusia Naga, penyembunyiannya tentu tidak dilakukan dengan cara yang biasa.
“Namun, di masa depan, invasi ulang dari para iblis juga telah diprediksi. Karena itulah sang Pahlawan menyisakan cara untuk memanggil Pedang Suci. Tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Yang menentukan adalah sisa-sisa kesadaran sang Pahlawan. Hanya orang yang diakui oleh sang Pahlawan yang bisa memanggil Pedang Suci. Tentu saja dengan asumsi orang tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk mengendalikannya.”
“Melihatnya sampai disegel seperti itu, artinya Pahlawan Pertama pun tidak sanggup menghancurkannya...”
“Kudengar dia pernah mencobanya, tetapi tampaknya tidak berhasil. Sang Pahlawan merasa takut. Sama seperti dirinya yang mendadak muncul, di antara umat manusia sesekali akan muncul sosok yang berada di luar nalar. Jika orang semacam itu sampai mendapatkan Pedang Suci, tidak ada yang tahu apakah dia akan menggunakannya dengan benar atau tidak.”
Aku bisa memahami kekhawatiran itu.
Kenyataannya, bahkan Pedang Suci yang hanya dipanggil sesekali saja sudah sanggup merusak keseimbangan kekuatan di benua.
“Setelah sang Pahlawan wafat, negara-negara kembali bertempur. Namun, waktu yang didapatkan berkat sang Pahlawan sudah lebih dari cukup bagi Kekaisaran untuk memulihkan kekuatan negaranya. Bagaimanapun juga, mereka adalah negara yang bertarung menahan iblis. Satu demi satu negara baru yang bermunculan di bagian tengah benua ditelan oleh mereka. Dan karena Kekaisaran bertakhta di bagian tengah benua, negara-negara lain mau tidak mau harus menyerah untuk mendekat ke bagian tengah benua. Tentu saja Kekaisaran itu sendiri sangat menakutkan bagi mereka, tetapi pada masa itu keturunan sang Pahlawan juga sudah mulai bisa memanggil Pedang Suci. Berkat hal itu, era peperangan di benua mulai mereda.”
Pemandangan kembali berganti menuju langit.
Peta kekuatan benua perlahan-lahan bergerak, hingga akhirnya berubah menjadi bentuk yang sangat kukenal.
“Dan begitulah hingga sampai pada masa sekarang. Inilah akhir dari peristiwa lima ratus tahun yang lalu. Bahkan umat manusia pada masa itu pun tidak akan sanggup menang melawan iblis tanpa memeras segenap sisa tenaga dan nyawa mereka. Tidak, pada akhirnya mengingat kita tidak bisa mencegah racun penyakit milik Vepar, ini tidak bisa disebut sebagai sebuah kemenangan...”
“Aku sudah paham kalau mereka adalah musuh yang sangat kuat. Aku juga paham kalau ini akan menjadi pertempuran yang sangat berat mengingat Pahlawan Pertama sudah tidak ada lagi saat ini. Namun... pihak lawan pun sudah tidak memiliki Raja Iblis. Ditambah lagi dari segi sumber daya manusia, kita saat ini tidak kalah dari masa itu. Jika tidak ada Raja Iblis... kekuatan tempur benua saat ini pun masih sanggup untuk mengatasinya.”
Bagian 5
Mendengar kataku, sang Tetua menghela napas pelan.
Lalu pemandangan di sekitar kami kembali ke dalam rumah sang Tetua.
“Setelah melihat perang besar lima ratus tahun yang lalu, kamu masih bilang bisa menang?”
“Jika harus menang, aku akan bertarung sampai menang. Aku sudah paham kalau musuh yang dihadapi adalah lawan yang tidak bisa dimenangkan tanpa memeras segenap sisa tenaga dan nyawa. Namun, tidak ada yang akan dimulai jika aku cuma bisa berpasrah dalam keputusasaan. Masa depan umat manusia mungkin terlalu berat bagiku... tetapi nyawa ibuku dipertaruhkan di sini. Bahkan jika lawan yang harus dihadapi adalah Raja Iblis sekalipun, aku akan memusnahkannya. Aku akan menyeret Vepar keluar dari dunia iblis lalu menumbangkannya. Dan saat ini, para iblis yang bermunculan di sana-sini juga akan kuhabisi tanpa tersisa satu pun.”
“Melihat masa lalu kemudian masih bisa bilang akan memusnahkan Raja Iblis sekalipun... haruskah kukatakan ini memang hal yang wajar bagi seorang Ardler? Atau ini adalah sesuatu yang sanggup dilakukan berkat darah Pahlawan yang bercampur di dalam darahmu?”
“Entahlah. Yah, tapi tidak bisa dibilang kalau garis keturunan darah ini tidak ada hubungannya. Soalnya aku ini seorang Ardler.”
Kami adalah klan yang mendatangi berbagai tempat demi mencari darah yang kuat.
Sifat keras kepala yang kumiliki mungkin adalah yang nomor satu di benua ini.
“Memang terasa sangat khas Ardler. Terutama di bagian di mana kamu lebih mementingkan ibumu ketimbang dirimu sendiri. Memprioritaskan orang lain dibanding diri sendiri adalah kelebihan sekaligus kekuranganmu. Ini sekadar saran dari seorang pria tua, tetapi orang yang mengabaikan dirinya sendiri tidak akan pernah bisa bahagia.”
“Akan kuingat dalam hati. Sekadar untuk diingat, sih.”
“Lakukanlah begitu. Ngomong-ngomong... topeng itu, di mana kamu mendapatkannya?”
Sang Tetua menatap topengku dengan raut wajah penuh rasa penasaran.
Bahkan jika aku bilang mendapatkan ini dari Kakek, hal itu tidak akan tersampaikan padanya.
“Aku mendapatkannya dari seorang kenalan.”
“Jika dugaanku tidak salah, itu adalah... Topeng Perak Raja Sihir. Sesuatu yang dikenakan oleh keluarga kekaisaran pada era Sihir Kuno.”
“Oh? Apakah itu sesuatu yang luar biasa?”
“Luar biasa, tetapi tidak kuat. Benda itu ada untuk menekan kekuatan keluarga kekaisaran yang terlalu kuat. Menghalangi segala bentuk pengenalan identitas hanyalah efek samping belakangan. Tujuan utamanya adalah untuk menekan daya sihir penggunanya dengan kuat. Bagaimana bisa kamu bertarung sambil mengenakan benda semacam itu?”
“Aku baru pertama kali mendengar efek semacam itu. Kukira ini hanyalah topeng penghalang identitas.”
“Menggunakannya tanpa tahu apa-apa... Itu adalah benda yang digunakan untuk latihan oleh para penyihir keluarga kekaisaran yang telah mencapai tingkat yang berada di dimensi berbeda dibanding masa sekarang. Bisa dibilang ini adalah alat pengekang bagi para penyihir yang jika mengeluarkan seluruh kekuatannya sanggup memengaruhi dunia. Jika kamu terus bertempur dengan sekuat tenaga sambil mengenakan benda itu, tubuhmu lambat laun tidak akan sanggup menahannya, tahu? Sebab meskipun kamu mencoba melepaskan daya sihirmu, hal itu akan selalu dihalangi.”
Ternyata benda ini adalah sesuatu yang begitu mengerikan.
Memang benar, aku merasa agak mengganggu saat mengenakannya, tetapi sekarang aku sudah paham apa wujud sebenarnya dari rasa tidak nyaman itu.
Kukira ini hanyalah barang berguna untuk menyembunyikan identitasku.
Kukira ini adalah barang sihir kuat tanpa efek samping yang sanggup menghalangi segala bentuk pengenalan identitas, tetapi...
Ternyata ada efek samping besar yang tidak terduga.
“Artinya, aku akan jadi lebih kuat kalau melepas topeng ini, ‘kan?”
“Memang begitu... tapi kenapa kamu tidak menyadarinya?”
“Soalnya aku jarang mengeluarkan seluruh kekuatanku.”
“Puncak pencapaian dari klan Ardler, sekaligus jenis yang sama dengan sang Pahlawan. Kalau begitu, izinkan aku memberi peringatan. Jika... kamu tidak merasa topeng itu terlalu mengganggu, kamu harus cermat saat memilih saat untuk melepasnya. Jika kamu bertarung menggunakan benda itu, artinya kamu telah menjalani latihan yang sama dengan keluarga kekaisaran pada era Sihir Kuno. Seluruh kekuatanmu saat dilepas... mungkin sanggup menandingi para penyihir pada masa itu.”
“Apakah itu berbahaya?”
“Kamu menggunakan Sihir Kuno, tetapi tidak tahu tentang kehancuran era Sihir Kuno?”
“Tidak.”
“Astaga... Dengar ya, peradaban Sihir Kuno mengalami kemunduran. Itu terjadi karena sihir yang terlalu kuat memberikan dampak yang terlampau besar bagi dunia, sehingga sihir tidak bisa lagi digunakan secara sembarangan. Bukannya mereka yang melemah, melainkan dunialah yang tidak sanggup lagi menahan sihir mereka. Dan mereka pun membuang sihir tersebut. Itulah titik pencapaian tertinggi umat manusia.”
Manusia ada karena dunia ini ada.
Jika dunia ini runtuh, kita tidak akan bisa hidup.
Umat manusia adalah boneka, dan dunia adalah kotak boneka.
Namun, para penyihir di peradaban Sihir Kuno adalah boneka yang mendapatkan kekuatan untuk menghancurkan kotak boneka itu sendiri.
Karena itulah mereka membuang kekuatan tersebut.
“Tapi, pengetahuanmu luas sekali ya, Tetua.”
“Usia klan Manusia Naga bisa mencapai sekitar tujuh ratus tahun. Ayahku menyaksikan masa-masa itu dengan mata kepala sendiri. Termasuk gejolak kerusuhan yang sangat mengerikan setelahnya.”
“Setelah peradaban Sihir Kuno mengalami kemunduran, apakah pertikaian kembali pecah?”
“Itu bukan hal hangat yang bisa disebut sekadar pertikaian. Walaupun era peradaban Sihir Kuno, sosok yang sanggup menggunakan sihir yang kuat hanyalah segelintir orang. Mereka bertakhta sebagai keluarga kekaisaran dan kelas berhak istimewa. Namun suatu hari secara mendadak, mereka mengabaiakan sihir dan hidup menyendiri. Kekacauan setelah itu konon sangat mengerikan.”
Memang terbilang tidak bertanggung jawab.
Namun jika kehilangan kekuatan, mereka akan diasingkan. Bersembunyi sebelum hal itu terjadi adalah hal yang wajar.
Dunia atau nyawa. Menimbang keduanya di atas timbangan, mereka memilih nyawa. Mereka tentu tidak akan melakukan tindakan konyol yang membuang nyawa tersebut secara percuma.
Namun, jika keberadaan yang kuat menghilang, pertikaian akan kian memuncak.
“Umat manusia tidak pernah belajar. Bahkan jika berhasil menyeret keluar Vepar dan melenyapkan ancaman iblis sekalipun, pertikaian antarsesama manusia akan terus berlanjut. Ingatlah hal itu baik-baik.”
“Hal semacam itu adalah yang paling kupahami. Soalnya selama ratusan tahun kami terus bertikai dengan sesama keluarga sendiri...”
“Benar juga.”
Setelah berkata demikian, sang Tetua tersenyum kecut.
Kemudian dia mengambil tiga buah botol dari rak yang ada di dekatnya.
“Ini adalah obat uji coba untuk mengurangi efek dari Otoritas racun penyakit. Janji dengan Kaisar Kesatria adalah menghapus Otoritas itu, tapi...”
“Kalian sudah menelitinya selama lima ratus tahun. Kalian sudah memenuhi kewajiban dengan sangat cukup.”
“...Aku tidak tahu seberapa parah kondisi penyakit ibumu, tetapi waktu yang bisa didapatkan hanyalah beberapa tahun. Bisakah kamu menyelesaikannya dalam rentang waktu itu?”
“Bukan bisakah. Aku akan menyelesaikannya.”
Setelah berkata demikian, aku menerima obat tersebut.
Bagian 6
Setelah menerima obat tersebut, aku langsung meninggalkan desa klan Manusia Naga dan kembali ke istana Orihime.
“Ooh! Kamu sudah kembali! Bagaimana hasilnya!?”
Dengan raut wajah penuh rasa penasaran, Orihime menghampiriku.
Di lengannya, Sieg yang tampak lemas terkulai sedang didekap olehnya.
“Kamu dijadikan mainan, ya?”
“Aku tidak menjadikannya mainan!”
“Aku ingin secepatnya kembali ke wujud semula... Apa yang dikatakan sang Tetua...?”
Menanggapi pertanyaan Sieg, aku terdiam sejenak untuk berpikir.
Lalu.
“Maaf. Aku lupa menanyakannya.”
“Hei!? Kamu pergi ke sana untuk apa!?”
“Karena diberi tahu hal-hal yang begitu mengejutkan secara bertubi-tubi, aku jadi sama sekali lupa.”
“Kamu masih waras, tidak!? Lihat ini!? Manusia sampai jadi anak beruang yang begitu imut begini, tahu!? Apa ada hal yang lebih mengejutkan daripada ini!?”
Sieg memohon secara histeris padaku.
Memang benar, masalah Zeke juga merupakan hal yang mengejutkan. Itu adalah masalah yang harus diselesaikan paling awal, tetapi bagaimanapun juga, jika dibandingkan dengan cerita yang kudengar dari sang Tetua, skalanya jadi terasa kecil.
Meskipun begitu, bukan berarti masalah ini boleh dibiarkan begitu saja.
“Kita akan kembali ke sana sekarang. Untuk saat ini, cobalah tanya pada si kakak beradik itu.”
“Apakah bisa dikembalikan atau tidak itu memang masalah, tapi apakah sang Tetua bakal mengizinkannya juga jadi masalah, tahu!?”
“Dia pasti mengizinkannya. Soalnya alasan mereka terikat oleh aturan sudah tidak ada lagi.”
“Apa maksudnya...?”
“Seperti yang kukatakan. Ayo pergi.”
Setelah berkata demikian, aku membawa Sieg dan terbang kembali ke Hutan Senja.
* * *
Setibanya kembali di Hutan Senja, aku melangkah masuk ke dalam hutan tanpa memedulikan hal lain.
“H-Hei... Masuk begitu saja...”
Mengabaikan Sieg yang tampak kebingungan, kami berhasil masuk ke bagian dalam.
“Kenapa bisa...?”
“Kalau musuh dari luar mungkin akan ditolak, tapi kita ‘kan sudah bukan musuh lagi.”
“Ternyata kamu langsung kembali. Ada urusan apa?”
Sang Tetua menyapa dengan raut wajah yang tampak terganggu.
Menanggapi sang Tetua, aku menunjuk ke arah Sieg.
“Ada satu hal yang lupa kubahas. Bisakah kau mengembalikan Sieg ke wujud semulanya?”
“Bukan hal yang mustahil, tetapi cobalah tanya pada Rubetta. Anak itu adalah tabib terbaik di klan kami. Meskipun obat yang dikembangkannya sedikit bermasalah.”
“Sepertinya memang begitu.”
Menyengaja membuat obat yang mengubah manusia menjadi anak beruang menunjukkan betapa aneh dirinya.
Yah, itu pun mungkin salah satu produk sampingan dari penelitian terhadap Otoritas iblis.
Jika berubah menjadi hewan membuat seseorang tidak terkena efek dari Otoritas itu, hal tersebut setidaknya bisa berfungsi sebagai langkah penanganan.
Walaupun seluruh benua pasti akan jatuh ke dalam kekacauan besar, sih.
“Ah! Sieg! Selamat datang!”
Panjang umur, Rubetta mendadak memunculkan kepalanya.
Sontak Sieg langsung berseru.
“Bukan selamat datang! Cepat kembalikan aku ke wujud semula!”
“Eeh, padahal imut lho... Apakah tidak apa-apa? Tetua?”
“Tidak masalah. Sudah tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Masa depan... sudah kupercayakan pada pria bertopeng di sana.”
Setelah berkata demikian, sang Tetua membalikkan badannya.
Bahkan jika orang-orang kuat di benua tumbang akibat racun penyakit, bukan berarti seluruh umat manusia di benua akan musnah.
Namun, benua yang pertahanannya melemah pasti akan jatuh ke tangan para iblis.
Selagi racun penyakit tersebut belum mencapai garis keturunan sang Pahlawan, tidak ada lagi masa depan selain menuntaskan hal ini secepatnya.
“Apa maksudnya?”
“Seperti yang kukatakan. Cepatlah kembali ke wujud semulamu. Untuk saat ini... kita membutuhkan sebanyak mungkin sosok berprestasi.”
“Tanpa kamu beri tahu pun aku sudah tahu. Kalau aku kembali ke wujud semula, kekuatanku akan setara dengan seratus orang!”
“Boleh saja, tapi memakan waktu lho~”
“Eh...?”
Sambil tersenyum manis, Rubetta mengucapkan kata-kata yang mematahkan semangat Sieg.
Membutuhkan waktu artinya dia memang bisa dikembalikan ke wujud semula.
Namun, Sieg yang mengira bisa langsung kembali seketika itu juga mendadak membeku.
“A-Apa maksudmu!?”
“Karena kita harus mengeluarkan obat yang ada di dalam tubuhmu sedikit demi sedikit, makanya butuh waktu~ Kalau cuma untuk sebentar saja sih bisa dikembalikan, tahu? Tapi nanti bakal cepat berubah jadi beruang lagi.”
“Memangnya apa gunanya kalau begitu!? Kembalikan saja secara permanen, dong!?”
“Kalau langsung sih tidak bisa~ Lagipula sejak awal aku tidak membuat obat ini dengan rencana untuk mengembalikan wujudnya, kok.”
“Beraninya kamu membuatku minum benda mengerikan semacam itu...”
Mendengar kata-kata Rubetta, tubuh Sieg bergetar.
Yah, ini adalah obat yang sanggup mengubah manusia menjadi hewan. Jika khasiatnya bisa hilang begitu saja dalam sekejap, justru itu yang aneh.
“Lalu? Butuh waktu berapa lama...?”
“Aku tidak bisa memperkirakannya, sih. Kamu harus minum obat untuk mengeluarkan obatnya sedikit demi sedikit, tapi kecepatan sampai benar-benar bersih itu tergantung dari masing-masing individu.”
“Eeee...”
“Kalau begitu, artinya kamu harus tinggal di sini untuk sementara waktu, ‘kan?”
“Yup. Begitulah.”
“Berarti aku harus menetap di Mizuho...”
Apakah Sieg teringat perlakuan dari Orihime tadi, dia mendadak menundukkan kepalanya dalam-dalam karena lesu.
Yah, posisinya sebagai mainan sudah bisa dipastikan untuk sementara waktu, sih.
Namun, tidak semua hal berujung buruk.
“Pas sekali. Karena aku akan membawa Chloe ke Kekaisaran, kita membutuhkan petualang untuk mengurus Mizuho. Kuserahkan padamu.”
“Hei!? Jangan memutuskannya sepihak, dong!”
“Ini hal yang diperlukan. Soal Guildmaster, nanti aku yang akan menyampaikannya. Selamat, kamu resmi kembali menjadi petualang.”
“Tunggu dulu! Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal Mizuho, tahu!?”
“Selama kamu punya kemampuan, tidak akan ada masalah. Soalnya tidak ada monster yang begitu tangguh di sini.”
“Justru itu masalahnya! Karena tidak ada monster tangguh, tidak ada petualang yang begitu hebat juga di sini! Bebanku ‘kan jadi bertambah!”
“Manfaatkan petualang lain dengan baik. Kalau mereka belum berkembang, latih mereka. Atau bereskan semuanya sendirian. Aku selalu melakukan hal itu.”
“Jangan samakan aku denganmu!”
Sieg berteriak protes, tetapi hal ini sudah menjadi keputusan bulat.
Bagaimanapun juga dia harus tetap tinggal di sini.
Biarlah dia yang menanggung semua urusan merepotkan ini.
“Nah, kalau begitu, apakah obatnya akan langsung diminumkan sekarang?”
“Yup, begitulah!”
“Kalau begitu, kutinggalkan dia di sini. Sampai jumpa.”
“Hei, hei! Beneran!? Kamu beneran mau meninggalkanku!?”
“Terima kasih, ya. Berkatmu aku jadi bisa membawa muridku.”
Sambil melambaikan tangan, aku pun melangkah meninggalkan tempat tersebut.
Bagian 7
Setibanya kembali di istana Orihime, aku menjelaskannya secara singkat.
“Klan Manusia Naga akan membuka Hutan Senja. Mulai sekarang seharusnya tidak ada lagi orang yang tersesat dan tidak bisa kembali.”
“Ooh! Itu kabar baik. Lalu? Di mana Sieg?”
Dengan gelisah, Orihime mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sieg.
Sepertinya dia benar-benar menyukainya.
Walaupun bagi orang yang disukai, hal itu tentu sangat menyiksa.
“Kutinggalkan dia di Hutan Senja. Sepertinya butuh waktu baginya untuk kembali ke wujud manusia.”
“Kamu meninggalkannya!? Kalau begitu, aku tidak bisa bermain dengannya, dong! Ayo kita pergi mengambilnya kembali!”
“Nanti dia juga akan kembali. Urusan cabang petualang Mizuho akan kuserahkan padanya. Silakan kamu lakukan sesukamu padanya.”
“Benarkah!? Aku sangat senang! Kamu sungguh tahu cara menyenangkan orang, Silver!”
“Bukan masalah besar.”
Hanya dengan meninggalkan Sieg lalu mendapat rasa terima kasih dari Orihime adalah harga yang sangat murah. Secara kekuatan tempur pun, dia harus secepatnya kembali ke wujud manusia.
Keputusan untuk meninggalkannya sudah bulat.
Sisanya, klan Manusia Naga yang akan mengurusnya dengan baik.
“Guru, lalu bagaimana denganku?”
Chloe mengangkat tangannya dengan sopan lalu mengajukan pertanyaan.
Menanggapi Chloe, aku mengangguk sekali.
“Pemindahan posisi. Aku ingin kamu menuju cabang ibu kota kekaisaran. Lagi pula, sejak awal rencananya memang begitu.”
“Tapi, apakah boleh Guru memutuskan hal semacam itu seenaknya? Lagipula apakah Mizuho akan baik-baik saja?”
“Nanti akan kusampaikan ke pihak terkait. Lagipula Sieg itu bagaimanapun juga adalah petualang peringkat S. Meskipun jadi beruang, pengalamannya tidak berubah. Seharusnya tidak ada masalah.”
Sambil berkata demikian, aku memberikan instruksi kepada Chloe.
“Karena itulah, segeralah menuju ke Kekaisaran.”
“Eeh, bukan Guru yang akan mengantarkanku~?”
“Ada tempat yang harus kudatangi.”
“Bergoyang-goyang di dalam kereta kuda itu sangat melelahkan, lho? Pantatku jadi sakit.”
“Bisakah kamu menyiapkan kereta kuda kelas atas?”
“Selama kamu membayar apa yang harus dibayar, tidak masalah.”
“Kalau begitu, aku minta tolong dengan ini.”
Setelah menyerahkan kantong berisi koin emas kepada Orihime, aku menatap ke arah Chloe.
Saat itu, Chloe tampak menunjukkan raut wajah yang cemberut.
“Dengan begini kamu bisa menikmati perjalanan yang nyaman.”
“Bukan itu maksudku... Lagipula menggunakan uang sebanyak itu...”
“Aku cuma menggunakannya karena memang perlu digunakan. Kalau begitu, segeralah bergegas ke ibu kota kekaisaran. Kalau tidak ada dirimu, aku tidak bisa meninggalkan ibu kota kekaisaran dengan tenang.”
“Guru mau pergi ke mana?”
“Pergi bicara dengan petinggi.”
Setelah berkata demikian, aku pun berpindah tempat.
* * *
“Apa kamu punya waktu, Clyde?”
“Owaah!?”
Babel, markas besar Guild Petualang.
Aku berpindah tempat secara langsung ke dalam ruang Guildmaster.
Guildmaster Clyde yang sedang menikmati teh tampaknya lengah, hingga tidak biasanya dia menumpahkan tehnya.
“Ini keadaan darurat.”
“Ah, benar juga... Baju terbaik milikku jadi basah kuyup begini...”
“Hal itu tidak penting.”
“Tidak penting dari mana!? Menurutmu ini gara-gara siapa!?”
“Mungkin gara-gara dirimu sendiri yang makin tumpul sejak menjabat sebagai Guildmaster.”
Ini baru pertama kalinya aku melihat Clyde menumpahkan teh dengan begitu ceroboh.
Dia mungkin makin tumpul karena terus-menerus disibukkan oleh pekerjaan sebagai Guildmaster.
Sangat menyedihkan untuk seorang mantan petualang peringkat S.
“Pertama-tama, aku ingin ka,u meragukan ketidakrasionalan dirimu sendiri yang mendadak berpindah tempat ke dalam ruangan orang lain.”
Sambil berkata demikian, Clyde melepas jasnya yang terkena tumpahan teh lalu mengarahkanku menuju sofa.
“Lalu, apa yang kamu maksud dengan keadaan darurat? Maksudku, saat ini kita sendiri sedang berada di tengah-tengah keadaan darurat terbesar dalam sejarah, lho?”
“Apakah karena para iblis yang mungkin akan mulai bergerak dalam perang antara Kerajaan dan Kekaisaran?”
“Benar. Kekuatan tempur Guild Petualang pada dasarnya ditempatkan secara seimbang di seluruh penjuru benua, tetapi saat ini sebagian besar ditempatkan di pihak Kerajaan. Demi bersiap jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagipula, tanpa hal itu pun, ini adalah perang secara menyeluruh antara Kekaisaran dan Kerajaan. Guild Petualang benar-benar sangat sibuk. Atas permintaan dari Kekaisaran, kami bahkan menekan para Landrunner untuk menghentikan tindakan pembajakan mereka untuk sementara waktu. Jika di masa damai, hal semacam ini sama sekali tidak akan pernah dilakukan. Sebab Guild Petualang ingin menghindari campur tangan politik. Namun, kami tetap melakukannya. Apa pun bisa saja terjadi. Situasinya saat ini memang seperti itu.”
“Tindakan yang bijak. Namun, masalahnya bukanlah akan terjadi, melainkan sudah terjadi. Aku baru saja menanyakan peristiwa lima ratus tahun lalu kepada klan Manusia Naga.”
“Tunggu, tunggu. Peristiwa lima ratus tahun lalu? Kepada klan Manusia Naga? Apa maksudnya? Mereka ‘kan ras setengah manusia yang menghilang lima ratus tahun lalu, bukan begitu?”
“Mereka hidup bersembunyi di Mizuho. Aku mendengarkan ceritanya langsung dari Tetua mereka. Cerita dari masa itu. Berkat hal itu, ada banyak sekali masalah yang mencuat.”
“Maksudmu ‘berkat’ apa, sih. Aku sungguh berharap kamu tidak membawa masalah lebih banyak lagi ke sini...”
Dengan raut wajah yang muak, Clyde bergumam pelan.
Dan setelah menghembuskan napas dalam-dalam, dia mengangkat wajahnya perlahan-lahan.
Lalu.
“Coba ceritakan padaku... masalah yang kamu maksud itu.”
Dia pasti sudah menyatukan tekadnya.
Tekad untuk tidak terkejut atas apa pun yang akan terjadi.
Namun, tekad itu pastilah akan runtuh.
Sebab isinya terlalu mengejutkan.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Mengenai apa yang sebenarnya terjadi lima ratus tahun yang lalu. Dan dampak seperti apa yang ditinggalkannya hingga hari ini.”
Setelah memberikan peringatan awal, aku pun mulai menceritakan apa yang kudengar dari sang Tetua kepada Clyde.
Bagian 8
“...Begitulah ceritanya.”
Aku menceritakan perkataan sang Tetua kepada Clyde.
Aku hanya menyampaikan apa yang kudengar apa adanya, tetapi dampak yang dirasakan Clyde sungguh luar biasa.
Padahal dia tidak melihat pemandangannya secara langsung, tetapi dia sampai memegangi kepalanya.
“Artinya... jika masalah iblis ini tidak diselesaikan sebelum kamu mati karena racun, umat manusia akan berada di jalan buntu?”
“Lebih tepatnya, klan Armsberg akan musnah.”
“Itu hampir sama artinya. Apalagi di pihak kita, kita juga akan kehilangan Silver. Bahkan ada kemungkinan kita akan kehilangan petualang peringkat SS lainnya. Situasinya tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik ketimbang sekarang.”
Aku mengangguk mendengar ucapan Clyde.
Seiring berjalannya waktu, pihak kita jelas akan makin dirugikan.
Akan tetapi.
“Melihat reaksimu itu, kamu pasti baru pertama kali mendengarnya... Apakah tidak ada apa pun yang tersampaikan ke Guild? Apa kamu juga tidak mendengar apa-apa dari Lienares?”
“Tidak ada apa pun yang tersampaikan. Dari Lienares pun aku tidak mendengarnya. Ada kemungkinan yang bersangkutan memilih untuk bungkam, sih... tapi Lienares sendiri mungkin memang tidak tahu.”
“Masa bisa ada hal seperti itu?”
“Anaklet, kakeknya Lienares, mempercayakan segalanya kepada putranya sebelum dia meninggal karena usia tua. Namun putranya itu, ayahnya Lienares, meninggal dunia sebelum sempat mempercayakan segalanya kepada Lienares. Dia diserang oleh pembunuh gelap yang tidak diketahui identitasnya. Yang membesarkan Lienares adalah ibunya, dan ibu itu bukanlah orang dari garis keturunan Anaklet. Pengetahuan yang dimilikinya pasti ada batasnya.”
Keluarga Liwnares adalah silsilah keluarga yang istimewa.
Sosok seperti itu diserang oleh pembunuh gelap?
Sambil merasa ada yang janggal dengan hal itu, aku mengangguk sekali lalu melanjutkan pembicaraan.
“Kalau memang begitu keadaannya, mau bagaimana lagi. Kenyataan bahwa situasi tidak akan menjadi lebih baik lagi daripada ini, jika dibalik artinya kekuatan tempur kita saat ini sedang terkumpul lengkap. Jika ingin mengakhiri segalanya, tidak ada waktu lain selain saat ini.”
“Memang benar kalau secara kekuatan tempur kita sedang melimpah. Namun, apakah iblis yang telah menunggu selama lima ratus tahun akan bermunculan?”
“Aku tidak tahu apakah Vepar akan menampakkan diri atau tidak. Namun, iblis-iblis lain sudah mulai bergerak. Iblis itu sombong. Jika iblis lain berhasil mendesak umat manusia, dia pasti akan menampakkan wajahnya. Soalnya aku tidak berpikir dia akan melupakan penghinaan saat melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.”
“Mungkin memang begitu, tapi kalau begitu kejadiannya, bukankah artinya kita harus tersudutkan terlebih dahulu?”
“Kerajaan dan Kekaisaran bertikai, lalu umat manusia jatuh ke dalam kekacauan dan melemah. Terlepas dari para iblis yang berada di dunia iblis, aku tidak berpikir iblis yang sudah menyusup ke benua ini akan melewatkan kesempatan tersebut.”
“Benar juga. Justru karena tidak sanggup menunggu racun penyakit membunuh sang Pahlawan, mereka jadi sudah telanjur datang ke benua.”
Otoritas Vepar memang benar-benar makin mendekati garis keturunan sang Pahlawan.
Namun, hal itu terjadi setelah memakan waktu yang sangat panjang selama lima ratus tahun.
Sang Tetua menilai bahwa para iblis itu sombong. Kalau begitu, mereka tentu tidak akan sudi dipaksa menjalani perang ketahanan oleh manusia biasa.
Beruntung, jika dibandingkan dengan lima ratus tahun lalu, kekuatan tempur umat manusia telah menurun.
Mereka tidak perlu menunggu hingga racun penyakit mencapai sang Pahlawan. Karena pemikiran itulah bisa dianggap mereka maju ke benua.
Ini bukanlah pelemahan yang fatal. Namun bagi para iblis, ada kemungkinan hal ini terlihat sebagai kesempatan emas.
“Kalau begitu... apakah mereka akan melancarkan serangan di tengah perang antara Kekaisaran dan Kerajaan?”
“Sembilan dari sepuluh hal itu pasti terjadi jika mereka bekerja sama dengan Kerajaan. Hal yang perlu dilakukan tidak berubah. Kita tinggal menempatkan kekuatan tempur. Jika terjadi sesuatu, kita akan mengirimkan kekuatan tempur dari seluruh penjuru benua ke Kerajaan.”
“Pertempuran penentuan di Kerajaan... Aku sama sekali tidak ingin membayangkannya, sih.”
Jika menyatukan kekuatan tempur dari seluruh penjuru benua, hal itu saja sudah sanggup mengubah bentuk topografi.
Kerajaan adalah salah satu dari tiga kekuatan besar di benua.
Jika pertempuran penentuan dilakukan di dalam negerinya, kerusakannya akan menjadi sangat luar biasa.
Orang-orang akan tewas, bangunan-bangunan akan hancur, dan kelancaran logistik akan terganggu.
Terlebih lagi, hal itu juga berkaitan dengan keberlangsungan hidup Kerajaan itu sendiri.
Benua ini pasti akan jatuh ke dalam kekacauan yang setara dengan lima ratus tahun yang lalu.
“Kalaulah mereka mau memilih tempat pertempurannya.”
“Berharap pada musuh tentu tidak ada gunanya... Guild sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk bersiap menghadapi kekacauan. Saat ini kami berada dalam situasi di mana seluruh langkah yang bisa diambil sudah diambil.”
“Itu saja sudah cukup. Melihat pelemahan Kekaisaran dan Kerajaan, jika para iblis melancarkan serangan, kita tinggal memusnahkan mereka. Itulah hal yang bisa kita lakukan saat ini.”
“Bagaimana jika Vepar tidak menampakkan diri?”
“Saat itu terjadi, kita tinggal memikirkannya saat itu juga. Namun, ada satu hal yang benar-benar menggangguku. Pada dasarnya iblis bertarung dengan mengandalkan kekuatan otot. Hanya ada satu iblis yang menjadi pengecualian. Sosok itu dikabarkan telah dieksekusi oleh Raja Iblis, tetapi jika melihat pergerakan para iblis selama lima ratus tahun ini, bayang-bayang sosok itu rasanya terus membayang di mana-mana.”
“Kepala Penasihat Pasukan Raja Iblis, Dantalion...”
“Kenyataan bahwa para iblis menunggu selama lima ratus tahun itu aneh, dan kenyataan bahwa hal mengenai racun penyakit sama sekali tidak tersampaikan ke generasi setelahnya pun terasa aneh. Meskipun hanya segelintir orang yang mengetahuinya, seharusnya ada semacam jejak yang tersisa, tetapi ajaibnya sama sekali tidak ada apa-apa.”
“Apa maksudmu?”
“Aku merasa para iblis bergerak di bawah komando Dantalion. Kalau dipikir-pikir baik-baik, ada pula organisasi yang bergerak di balik layar. Sebuah organisasi yang terus mencari buku-buku yang berkaitan dengan sihir.”
“Grimoire...”
“Jika ingin menyampaikannya ke generasi setelahnya, orang-orang pasti akan menggunakan penuturan lisan atau barang sihir yang berharga. Penuturan lisan bisa dicegah dengan pembunuhan, dan barang sihir bisa dikumpulkan jika dibeli. Sehebat apa pun barang sihir berharga yang diturunkan dari generasi ke generasi, manusia akan menjualnya jika berada dalam kesulitan.”
Organisasi yang mencari rahasia sihir.
Mereka mengumpulkan barang sihir dan kitab sihir.
Wajah mereka bermunculan di sana-sini.
“Jika terbunuhnya ayah Lienares juga merupakan bagian dari hal itu, semuanya jadi masuk akal. Jika mereka adalah organisasi yang terhubung dengan iblis, mereka tentu sudah tidak sabar untuk secepatnya melenyapkan keluarga Lienares.”
“Bukannya itu terlalu jauh? Itu semua ‘kan cuma spekulasi?”
“Ini adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Menggerakkan segala sesuatu dari balik layar agar berjalan menguntungkan bagi mereka... Dari situasi ini, aku bisa mencium aroma dari jenis manusia yang sama denganku.”
“Tolong jangan katakan hal yang anehnya terdengar sangat meyakinkan begitu...”
Sambil mengangguk menanggapi ucapan Clyde, aku berdiri dari dudukku.
Hal-hal yang harus kubicarakan sudah kusampaikan.
Sisanya sebaiknya kuserahkan kepada Clyde.
“Tolong sampaikan informasi tadi kepada orang-orang di sekitarmu. Terutama kepada Kaisar, aku sangat ingin kamu menyampaikannya padanya.”
“Apa kamu tidak punya opsi untuk menyampaikannya sendiri? Maksudku... dia itu ayahmu, ‘kan?”
“Selain ketakutan terhadap sang Pahlawan, para iblis juga tahu betul betapa menakutkannya klan Ardler. Jika penyihir di luar nalar, mereka mungkin tidak akan takut, tetapi jika sosok itu berasal dari garis keturunan Ardler, ceritanya akan berbeda. Kita tidak boleh membuat mereka makin waspada. Aku tidak berniat menambah jumlah orang yang tahu rahasia identitasku lebih dari ini. Bahkan jika orang itu adalah ayahku sendiri.”
“Kepribadianmu menyulitkan sekali, ya? Kalau begitu, apakah momen di mana kamu akan membongkar identitasmu adalah saat seluruh iblis telah musnah?”
“...Pertanyaan yang bodoh. Jika seluruh iblis telah musnah, petualang peringkat SS dari garis keturunan Ardler adalah keberadaan yang paling berbahaya. Saat itu terjadi, aku akan menghilang dengan tenang.”
Setelah berkata demikian, aku pun melangkah meninggalkan tempat tersebut menggunakan teleportasi.
Bagian 9
Setelah menyelinginya dengan beberapa kali teleportasi, aku yang tiba di dekat cabang Guild Petualang di Kadipaten segera memasang penghalang untuk menyembunyikan keberadaanku dari sekeliling.
Sebab aku tidak boleh sampai ketahuan bahwa Silver sedang berada di sini.
Kemudian aku berjalan menuju tempat di mana diriku yang diperankan oleh Henrik berada.
Namun, langkah kakiku mendadak terhenti.
Rasanya ada sesuatu yang kulupakan.
Yah, hal-hal penting sudah kusampaikan, jadi seharusnya tidak ada masalah.
Jika dibandingkan dengan urusan paling utama, apa pun itu hanyalah masalah sepele.
Untuk urusan ke depannya, menyerahkannya kepada Clyde tidak akan menjadi masalah.
Sebagai mantan petualang peringkat S, dia paham betul situasi di lapangan, dan dia adalah pria kompeten yang terus mengusung reformasi bahkan setelah menjadi Guildmaster.
Dia juga mau mendengarkan masukan orang lain, dan jika ada masalah, aku tinggal pergi memberinya saran.
Sambil memikirkan hal itu, aku kembali melangkah.
“Satu-satunya sisanya adalah...”
Apakah aku harus memikirkan cara melewati perang antara Kekaisaran dan Kerajaan?
Selama ada kemungkinan bahwa Kerajaan terhubung dengan para iblis, jika Kekaisaran tidak berada dalam posisi unggul, para iblis tidak akan menampakkan diri.
Sebab jika Kerajaan yang menjadi kedok mereka berada di posisi unggul, mereka tidak perlu repot-repot keluar.
Dalam situasi seperti itu, mereka hanya perlu mengendalikan Kerajaan untuk menginvasi Kekaisaran.
Karena itulah, bangkitnya semangat pasukan Kekaisaran menjadi hal yang sangat diperlukan.
Jika sudah dipastikan bahwa para iblis dan Kerajaan bekerja sama, kita bisa menyatukan kekuatan tempur dari seluruh penjuru benua, tetapi jika tidak demikian, ini hanyalah pertikaian antarnegara.
Guild Petualang tidak bisa ikut campur.
Tugas Kekaisaran adalah menyeret para iblis ke panggung utama.
Jika sudah begitu, sebagai petualang peringkat SS, aku pun bisa ikut bertempur.
“Memikirkannya nanti saja...”
Pelemahan umat manusia.
Hal itulah yang diinginkan oleh para iblis.
Demi mengejar hal itu, para iblis telah bergerak.
Berbagai gerakan di balik layar menunjukkan hal tersebut.
Namun di saat yang sama, ada satu lagi gerakan di balik layar yang terus membayang.
Awal dari segalanya.
Kematian kakak sulung kami yang merupakan sang Putra Mahkota.
Tampaknya segalanya bergerak sesuai keinginan para iblis, tetapi di sisi lain tampak pula terhubung dengan satu langkah pembalikan keadaan bagi umat manusia.
Ini benar-benar sekadar prasangkaku saja.
Karena itulah aku tidak mengatakannya kepada Clyde. Sebab mengatakannya pun tidak akan mengubah apa-apa.
Bahkan jika segalanya adalah hasil rancangan Kakak Sulung, situasinya sudah telanjur bergerak.
Kami yang merupakan bidak di atas papan permainan hanya bisa bergerak mati-matian.
Akan tetapi.
“Aku tidak berpikir kalau Kakak Sulung akan membiarkan segalanya begitu saja lalu mempercayakkannya kepada orang lain...”
Kekacauan adalah hal yang pasti terjadi.
Kemungkinan segalanya tidak berjalan sesuai rencana justru jauh lebih tinggi.
Kalau begitu, dia pasti sudah menyiapkan seseorang untuk menjadi pengatur ritme.
Peran itulah yang paling berat.
Orang itu harus melemahkan umat manusia hingga batas di mana para iblis menganggapnya sebagai kesempatan emas, sembari tetap menjaga kekuatan tempur mereka.
Kakak Sulung pada akhirnya hanyalah pemicu.
Sosok pelaksananya adalah orang lain.
Siapakah orang itu?
Hanya ada satu orang yang terlintas di benakku.
Namun jika demikian, ini akan jadi merepotkan.
Meskipun aku menanyakannya dengan langsung, dia pasti tidak akan mau menjawabnya.
Dia adalah orang yang seperti itu.
“Keluarga yang menyulitkan. Astaga.”
Meskipun ini adalah klan darahku sendiri, kata-kata semacam itu sampai terlontar dari mulutku.
Ini murni imajinasiku.
Namun yang membuat pusing, dia memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya.
Betapa bahagianya jika ini semua hanya pemikiranku yang berlebihan, tidak ada gerakan di balik layar dari pihak manusia, dan para iblis hanya bertindak sesuka hati mereka.
Jika begitu ‘kan rasanya sederhana.
Namun jika dugaanku benar, Kakak Sulung pasti memiliki visi yang sangat jelas.
Dan karena dia melakukan hal yang berskala sebesar ini, dia melakukan tindakan ini karena yakin bahwa hanya itulah satu-satunya cara.
Masa depan seperti apa yang dibayangkan oleh Kakak Sulung?
Kakak Sulung adalah sosok yang selalu sanggup menemukan alur kemenangan seburuk apa pun situasi di atas papan permainan.
Jika dia telah merencanakannya, dia pasti telah menemukan alur kemenangan khas dirinya.
“Apakah sekarang kita sedang makin mendekati alur kemenangan itu...?”
Makin dipikirkan, hal ini makin tidak ada habisnya.
Namun, menghentikan pikiran ini pun terasa sulit.
Sebab pastilah ada semacam alasan di baliknya.
Setidaknya, jika ada masalah di depan mata, aku bisa mengalihkan pikiran dari hal ini.
Itulah hal yang sedang kupikirkan.
“Bukannya aku benar-benar menginginkan masalah...”
Di depan kediaman yang kujadikan markas, Sebas sedang berdiri menanti.
Aku menyesuaikan penghalang agar keberadaanku bisa terlihat oleh Sebas.
“Kamu tahu betul kalau aku akan kembali?”
“Jika Anda tidak kembali, situasi kita akan berada di jalan buntu.”
“Apa yang terjadi?”
“Sudah ketahuan.”
Menanggapi Sebas yang mengatakannya dengan datar, aku mengerutkan wajahku.
Memang benar bahwa situasinya berada di jalan buntu jika aku tidak kembali.
“Oleh siapa?”
“Oleh Yang Mulia Adik Kaisar.”
“Paman...”
Sama sekali tidak mengejutkan.
Henrik menguasai penggunaan barang sihir milik Kakek dengan sangat baik.
Jika mengombinasikan beberapa barang sihir, dia seharusnya sanggup memerankan Arnold tanpa disadari oleh sebagian besar orang.
Kalau sampai ketahuan, pelakunya pastilah orang yang sangat dekat, atau orang dengan observasi yang amat tajam.
Dan Paman adalah orang yang memenuhi kedua kriteria tersebut.
Sama sekali tidak mengejutkan.
Meski begitu, bukan berarti hal ini bukanlah sebuah masalah.
Kembalinya Paman berarti dia membawa jawaban dari Ayahanda.
Menggunakan pemeran pengganti di situasi seperti itu adalah bentuk ketidaksopanan yang sangat melampaui batas.
Paman mungkin tidak akan memedulikan soal ketidaksopanan itu, tetapi dia pasti akan mempertanyakan alasannya.
Aku tidak bisa bilang bahwa aku sebenarnya sedang beraktivitas sebagai petualang peringkat SS.
“Tidak ada cara lain selain mengelak...”
Bagian 10
Melangkah ke dalam rumah, aku membuka pintu ruang kerjaku.
Di sana ada Henrik yang menyamar menjadi diriku, dan Fine yang bersiaga di sisinya.
Serta Paman yang menunjukkan raut wajah tegas.
“Ternyata aku memang tidak bisa mengelabui Paman.”
“...Sepertinya kali ini yang asli. Apa kamu paham artinya menggunakan pemeran pengganti terhadap utusan Kaisar?”
“Tentu saja. Soalnya aku memang menyiapkan pemeran pengganti ini dengan niat untuk mengelabui Paman.”
“Apa maksudmu?”
Aku tidak bisa menceritakan kebenarannya.
Jika kukatakan, hal itu akan sampai ke telinga Ayahanda.
Paman menyukaiku. Aku tahu betul hal itu. Namun bagaimanapun juga, Paman berada di pihak Ayahanda.
Dia selalu memikirkan tentang Ayahanda.
Karena itulah jika dia tahu kebenarannya, rahasia identitasku pun pasti akan disampaikannya kepada Ayahanda.
Aku tidak bilang hal itu buruk.
Hanya saja, kepada orang dengan posisi seperti itu, aku tidak bisa membeberkan rahasia.
Maka dari itu, aku tidak punya pilihan selain bilang bahwa aku menyengaja menyiapkan pemeran pengganti ini.
“Sebelum itu, aku ingin mendengar kesan darimu. Bagaimana menurutmu? Pemeran pengganti ini?”
“...Suaranya terasa agak janggal. Lalu cara bicaranya.”
“Baiklah. Berarti masih ada ruang untuk perbaikan. Kamu boleh mundur.”
Sambil mengangkat bahu, aku menyuruh Henrik yang menyamar sebagai Arnold untuk keluar.
Jika membiarkannya tetap di sini lalu ketahuan bahwa dia adalah Henrik, itu akan menjadi masalah tersendiri.
Seakan memahami situasi, Henrik membungkuk padaku lalu melangkah mundur.
“Padahal kukira tingkat ketepatannya sudah cukup tinggi, tetapi jika masih belum bisa menipu Paman, artinya ini masih jauh dari kata sempurna.”
“Memang benar kalau bukan aku, orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Namun, aku ini keluargamu. Kecuali ada situasi yang sangat luar biasa, aku pasti akan menyadarinya, tahu? Kamu tidak mungkin tidak memahami hal itu.”
“Aku memang harus bisa mengelabui orang seperti Paman. Jika tidak, nyawaku yang akan melayang.”
“...Apakah ini solusi saat kamu membuat ancaman pembunuhan mengarah padamu?”
Seperti yang diharapkan dari Paman.
Otaknya berputar cepat.
Saat berbohong, mencampurkannya dengan fakta adalah aturan emas.
“Kakak Sulung yang merupakan Putra Mahkota telah dibunuh. Dengan cara yang bahkan tidak meninggalkan bukti apa pun. Jika cara yang sama digunakan kepada Leo, kita tidak akan sanggup menahannya. Karena itulah aku membuat mereka beranggapan bahwa akulah ancaman yang sebenarnya. Jika itu adalah cara yang bisa digunakan berkali-kali, sekarang Ayahanda pun pasti sudah terbunuh. Cara itu pasti tidak bisa digunakan berkali-kali. Sekali saja kita berhasil mengelak, cengkeraman pembunuhan akan menjauh.”
Bahkan jika Kakak Sulung memilih kematian atas kehendaknya sendiri, Kakak Sulung tidak akan mati semudah itu.
Hanya dengan percekcokan skala kecil melawan Negara Bagian, panah nyasar tidak akan mungkin bisa menjangkaunya.
Bahkan jika dia sengaja ingin terkena panah, di sekitar Kakak Sulung ada begitu banyak pengawal.
Juga tidak ada kesaksian bahwa beliau melakukan pergerakan yang mencurigakan.
Bahkan para pengawal yang melindungi Putra Mahkota Kekaisaran sama sekali tidak menyadari sebatang panah nyasar terbang meluncur ke arah Kakak Sulung.
Beliau kemungkinan besar sudah menduga bahwa situasi seperti itu akan terjadi.
Dia menduga hal itu lalu menerjunkan dirinya.
Sebab kematiannya memang diperlukan.
Namun jika demikian, artinya memang ada cara untuk membunuh sang Putra Mahkota.
Hal itulah yang perlu diwaspadai.
Saat pertama kali diberi tahu mengenai metode mengalihkan ancaman pembunuhan kepadaku, aku sudah memikirkan untuk menyiapkan pemeran pengganti.
Hanya saja kekurangannya, jika pemeran pengganti tersebut tidak berada di tingkat di mana kerabat sendiri pun tidak menyadarinya, kita tidak akan bisa menipu musuh.
Jika lawannya adalah tipe orang yang mudah ditipu, mereka tidak akan sanggup membunuh Putra Mahkota.
“Jadi ini adalah uji coba untuk itu... Tapi, ternyata gagal.”
“Sangat disayangkan. Namun, kita masih punya waktu. Aku akan memperbaikinya perlahan-lahan.”
“Memang bagus, tetapi sebelum itu ada hal yang harus kamu lakukan.”
“Hal yang harus dilakukan?”
Paman menyodorkan selembar surat.
Begitu membukanya, tulisan tangan Ayahanda langsung terlihat.
“...‘Datanglah sendiri’, hmm...”
Tulisannya sangat singkat.
Datanglah sendiri.
Hanya itu saja.
Dengan kata lain, tuntutan yang diajukan melalui perantara Paman tidak ditoleransi.
“Kakak merasa cemas padamu. Soalnya kamu secara mendadak menuntut posisi Marsekal. Tentu saja, bukannya dia cemas karena kamu meninggalkan sisi Leo. Dia cemas kalau-kalau kamu mengorbankan dirimu sendiri.”
“Bukannya itu sudah terlambat? Dalam situasi saat ini, Leo adalah kandidat Putra Mahkota yang paling kuat. Menyusul Kakak Sulung, jika Leo sampai dibunuh juga, Kekaisaran bisa runtuh. Demi mencegahnya aku bergerak. Rasa cemas akan nyawaku sendiri... adalah hal nomor dua.”
“Dia pasti memahaminya. Namun, dia ingin mendengar secara langsung pemikiran seperti apa yang kamu miliki. Kamu sudah menyiapkan pemeran pengganti, dan kamu juga memperkuat barisan di sekitarmu dengan orang-orang pilihan. Jika kamu menjelaskannya dengan baik, tidak akan ada masalah.”
“Di saat kita tidak tahu kapan perang akan dimulai, Paman menyuruhku kembali ke ibu kota kekaisaran?”
“Urusan Kadipaten akan kuambil alih. Sebelum berangkat ke medan perang, Leo juga akan pergi menyapa Kakak. Kamu juga kembalilah ke ibu kota kekaisaran.”
Paman mengucapkannya dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Saat aku sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, Fine membuka suara.
“Saya rasa Anda harus menemui Paduka.”
“...Begitu, ya. Kalau begitu, tempat ini kuserahkan kepada Paman.”
“Serahkan padaku. Terima kasih atas bujukannya.”
Paman mengucapkan terima kasih kepada Fine lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Dia pasti pergi menemui Raja Duke.
Untuk menyampaikan bahwa dirinya akan menggantikan posisiku untuk sementara waktu.
“Aku harus kembali ke ibu kota kekaisaran...”
“Anda tidak senang?”
“Bukannya tidak suka. Justru aku ada urusan di ibu kota kekaisaran... Hanya saja.”
“Hanya saja?”
Aku terdiam untuk berpikir sejenak, lalu menghela napas pelan.
Lalu.
“Aku tidak ingin melihat... wajah Ayahanda yang mengkhawatirkanku.”
“Bukankah mengurangi rasa cemas seorang ayah juga merupakan tugas seorang anak? Jika saya adalah orang tua Anda... saya akan berharap Anda datang menemui saya.”
“Astaga...”
Entah kenapa jika Fine yang menceramahi soal kebenaran, aku tidak bisa membalasnya.
Pasrah karena tidak punya pilihan lain, aku berbalik arah.
“Kita menuju ibu kota kekaisaran. Ayo pergi, Fine, Sebas.”
Dengan begitu, aku pun menempuh jalan pulang menuju ibu kota kekaisaran.




Post a Comment