NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V17 Chapter 1

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 1

Persiapan Perang

Bagian 1

Seminggu telah berlalu sejak Anthem, pangeran ketiga Kerajaan sekaligus panglima tertinggi seluruh pasukannya, meninggalkan Kadipaten. 

Aku sendiri masih berada di Kadipaten Albatro. 

“Tuan Al, ada bangsawan Kadipaten lain yang memohon untuk bertemu dengan Anda?” 

“Katakan pada mereka, aku tidak akan menemui siapa pun kecuali atas rekomendasi dari Pangeran Julio.” 

“Memberi jawaban seperti itu lagi... Pangeran Julio akan makin sibuk, lho?” 

“Memang itu tujuannya. Jika kita menanamkan kesan bahwa bahkan pangeran Kekaisaran pun tidak bisa menolak rekomendasi Julio, maka nilai keberadaan Julio di dalam Kadipaten akan makin meningkat.” 

Kadipaten Albatro bukanlah negara dengan kekuasaan raja yang mutlak. 

Jika ditinjau, posisi Raja Duke lebih mengarah pada penengah di antara para bangsawan yang memiliki pengaruh besar. 

Sistemnya berbeda dengan Kekaisaran, tempat Kaisar memegang kekuasaan yang mutlak. 

Namun, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja selamanya. 

Dan orang yang berpotensi mengubahnya adalah Julio. 

Dalam pertempuran sebelumnya, Julio telah menunjukkan bakat serta hasil yang nyata sebagai penerus takhta berikutnya. 

Di negara seperti Kadipaten ini, belum pernah ada calon penerus yang sanggup menunjukkan pencapaian sehebat itu. 

Banyak bangsawan yang pasti mulai menaruh rasa hormat padanya. Jika momentum ini terus didorong, Kadipaten akan menjadi negara yang lebih kuat. 

Dengan begitu, wilayah selatan Kekaisaran akan aman dan tenteram. 

“Tuan Arnold. Ada tamu yang datang.” 

“Bilang saja aku sibuk dan tolak.” 

“Anda yakin?” 

“Tidak apa-apa. Aku mau tidur.” 

Aku sudah mengirimkan surat laporan kepada Ayahanda. 

Setelah ini, kemungkinan besar akan ada perintah baru yang dijatuhkan kepadaku, tetapi sebelum saat itu tiba, ini adalah waktu senggangku. 

Aku sempat mengulurkan tangan untuk membantu pemulihan Kadipaten selama beberapa waktu, tetapi sisanya adalah tugas warga Kadipaten sendiri. 

Biarlah Julio yang mengambil alih garis depan sambil meminjam kekuatan dari orang-orang di sekitarnya. 

Saat aku sedang membatin demikian, pintu ruangan perlahan terbuka. 

“Kamu sama sekali tidak berubah ya, Arnold.” 

“Paman!? Kenapa Paman bisa ada di sini?” 

“Aku datang untuk melihat keadaan keponakanku yang hobi membolos ini. Sepertinya dugaanku tidak meleset.” 

“Perlu Paman tahu, aku sudah menyelesaikan semua tugas yang harus kukerjakan. Alasan aku tidak menyambut Paman adalah karena pelayanku sengaja tidak memberitahu bahwa tamunya adalah Paman.” 

“Soalnya Anda tidak bertanya,” sahut Sebas dengan raut wajah tanpa dosa. 

Setelah memberikan tatapan tajam pada pelayan tua ini, aku mengalihkan pandangan kembali kepada Paman. 

Tidak mungkin Paman jauh-jauh datang ke Kadipaten tanpa membawa urusan apa pun. 

“Ada masalah apa? Ada pergerakan di Kekaisaran?” 

“Kamu penasaran?” 

“Bohong kalau kubilang tidak.” 

“Tentu saja. Pergerakan Kekaisaran di permukaan terlihat tenang. Belum ada tanda-tanda invasi ke Kerajaan.” 

“Kurasa begitu. Pihak kita baru saja menstabilkan wilayah selatan, dan baru berada di tahap memperkirakan pengerahan kekuatan armada angkatan laut yang solid.” 

“Benar. Namun, kekuatan angkatan laut baru akan dibutuhkan jika kita sudah mendesak musuh masuk ke dalam wilayah Kerajaan. Pertempuran pertama-tama akan pecah di perbatasan. Leonard sudah memasuki perbatasan barat dan memasang kewaspadaan tinggi, tetapi Kakak masih belum bergerak. Akan tetapi...” 

Paman menggantungkan kalimatnya di sana. 

Dia kemudian melirik ke arah Sebas. 

Isyarat agar Sebas memastikan tidak ada orang lain di sekitar tempat ini. 

Sebas yang mengerti maksud tersebut segera menghilang dari pandangan. 

Tidak lama kemudian, Sebas kembali. 

“Tidak ada masalah.” 

“Kalau begitu, saya mohon izin untuk mengundurkan diri sejenak.” 

Menyadari bahwa pembicaraan penting akan dimulai, Fine membungkuk hormat dan berniat keluar ruangan. 

Namun... 

“Nona Fine. Kamu juga dimohon untuk mendengarkan.” 

“T-Tapi saya bukan bagian dari pihak militer.” 

“Meskipun demikian, dengarkanlah sebagai seseorang yang selalu berada di sisi Arnold. Kamu berhak mendengarnya, dan kamu telah mengukir pencapaian yang sepadan untuk itu. Mungkin tidak terdengar meyakinkan dari mulutku yang tidak berada di ibu kota ini... tetapi Keluarga Ardler memercayaimu.” 

“K-Kata-kata yang sangat tidak pantas untuk saya dapatkan... Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” 

Fine melirik ke arahku sekilas. 

Setelah aku mengangguk pelan, Fine berdiri di sampingku dan menunggu kata-kata Paman berikutnya. 

Paman pun mulai berbicara. 

“Kakak... dia sungguh berniat menghancurkan Kerajaan. Meski di permukaan tidak ada pergerakan, beliau telah berulang kali melakukan perundingan dengan Guild Petualang. Sebab, ada kemungkinan Kerajaan menjalin hubungan dengan iblis. Grimoire. Sekaligus untuk membongkar kegelapan mereka... Kakak berniat mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Kerajaan dengan Leonard sebagai panglima tertingginya.” 

“Di saat kita belum tahu pasti apakah para iblis benar-benar sudah lenyap, memicu perang besar itu... dengan maksud untuk memancing mereka keluar?” 

“Tepat sekali. Seberapa banyak pun kita menyelidiki Kerajaan, bayangan iblis tidak ditemukan. Namun, kenyataan bahwa iblis pernah bersembunyi di Kerajaan adalah fakta, dan Guild Petualang pun tidak berpikir bahwa semuanya sudah selesai. Oleh karena itu, Kakak... berniat menciptakan kekacauan di dunia. Jika dunia kacau, iblis pun akan mulai bergerak.” 

“Aku mengerti alasan beliau bergerak. Lagipula, hubungan dengan Kerajaan memang sudah di ambang kemelut, perang bisa pecah kapan saja. Bertambahnya satu alasan tidak membuatku terkejut. Hanya saja... bukannya Kekaisaran yang akhirnya akan rugi jika kita bergerak lebih dulu?” 

Keseimbangan antara tiga kekuatan besar benua—Kerajaan, Kekaisaran, dan Kekaisaran Suci—tetap terjaga karena jika dua negara bertikai, negara ketiga akan ikut bergerak. Oleh karena itu, meski ada bentrokan skala kecil, tidak pernah ada perang besar yang sampai memusnahkan lawan. Sebab, tindakan semacam itu akan menuntut pengorbanan yang sepadan. 

Dan Ayahanda memiliki kesiapan untuk menanggung kerugian tersebut. 

Pihak yang akan diuntungkan nantinya adalah Kekaisaran Suci. 

“Bagaimana jika ternyata Kerajaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis?” 

“Kekuasaan Kerajaan praktisnya berada di tangan Putra Mahkota. Dan Putra Mahkota tersebut telah mengurung sang Raja. Ini adalah informasi yang pasti. Sebab, ini adalah kesaksian dari Kesatria Griffon yang membelot ke pihak Kekaisaran demi mengabdi pada Santa.” 

“Jadi perang ini akan dijadikan alasan untuk memulihkan kekuasaan sang Raja?” 

“Bisa dibilang begitu. Di faksi kita juga punya Santa. Alasan dan pembenaran bisa disiapkan sebanyak apa pun. Malah, Kakak sendiri pasti berharap situasinya memang menjadi seperti itu.” 

“Benar juga. Aku pun lebih berharap situasinya seperti itu daripada harus berurusan dengan iblis.” 

Jika iblis tidak terlibat, ini hanyalah perang besar biasa. 

Masalahnya tinggal seberapa merepotkannya musuh yang kita hadapi, serta bagaimana pergerakan Kekaisaran Suci kelak. 

“Masih ada hal-hal yang ingin kutanyakan, seperti bagaimana tindakan Kekaisaran Suci nantinya, atau apa yang harus dilakukan jika iblis benar-benar muncul... tapi untuk saat ini, yang paling ingin kuketahui adalah seberapa besar skala pasukan penakluk yang direncanakan?” 

Sampai-sampai bisa disimpulkan bahwa Ayahanda benar-benar serius. 

Beliau pasti berniat membentuk pasukan dalam skala yang sangat masif. 

“Ini masih dalam tahap persiapan, tetapi... totalnya ada 150.000 prajurit. Elna telah ditunjuk sebagai wakil panglima, dan Theodore akan bertugas sebagai pengawal Leonard. Selain itu, jenderal-jenderal berprestasi mulai dimasukkan ke dalam daftar pemanggilan secara berurutan.” 

“150.000...!?” 

Fine menyerukan rasa terkejutnya. 

Jika Kekaisaran mengerahkan seluruh kekuatannya, jumlahnya tentu bisa bertambah jauh lebih banyak dari itu. Namun, hal tersebut baru berlaku jika pasukan pertahanan dari seluruh penjuru wilayah digabungkan. 

Mengumpulkan pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit sambil tetap mempertahankan pasukan pertahanan daerah adalah hal yang sangat langka. 

Skala semacam itu sudah setara dengan ekspedisi pribadi Kaisar. 

Memercayakan pasukan sebesar itu kepadanya sudah bisa dianggap sebagai perlakuan yang setingkat dengan Putra Mahkota. 

Lebih dari itu... 

“Selain Elna, bahkan Theodore pun ikut dikerahkan?” 

“Jika harus menghadapi iblis, keberadaan Elna adalah hal yang mutlak. Dan demi keselamatan Leonard, Theodore yang merupakan ahli dalam pengawalan ditugaskan untuk menjaganya.” 

“Ditambah 150.000 prajurit, serta Pasukan Kesatria Pengawal Kedua dan Ketiga. Kekuatan tempur semacam itu rasanya sanggup untuk menghancurkan satu negara sekaligus...”

“Aku mengerti kekhawatiranmu. Kerajaan pun pasti akan mengerahkan pasukan berskala 100.000 orang. Yang memimpinnya adalah Pangeran Anthem. Ini bukan pertempuran yang mudah.” 

“Jangankan mudah, jumlah sebanyak itu justru bisa menjadi beban. Leo belum pernah memiliki pengalaman memimpin pasukan sebesar itu, dan ini juga pertama kalinya dia menginvasi negara lain. Di sisi lain, bagi Pangeran Anthem, situasi ini sudah pernah dialaminya di masa lalu. Sebab Kerajaan pernah menghadapi invasi dari Persatuan Kerajaan.” 

“Hal itu pun sudah dipertimbangkan oleh Kakak. Lagipula, sejak awal beliau tidak berniat menang hanya dengan kekuatan Kekaisaran seorang diri. Beliau telah mengutus utusan kekaisaran ke Negara Bagian.” 

Mengutus utusan kekaisaran ke Negara Bagian adalah hal yang lumrah jika dipikir-pikir. 

Negara Bagian sudah bisa digerakkan sesuai dengan keinginan Kak Traugott. 

Kalau begitu, artinya beliau ingin seseorang yang berada di Negara Bagian ikut bergerak. 

“Apakah beliau bermaksud menggerakkan Ratu Marianne untuk membuat Kerajaan Serikat ikut bertempur?” 

“Itulah strategi Kekaisaran. Kekaisaran dari darat, Persatuan Kerajaan dari udara, dan Kadipaten dari laut. Saat ini, skema untuk menggempur Kerajaan sedang dibentuk.” 

Sebuah konsep yang sangat megah. 

Namun, sejauh mana Persatuan Kerajaan akan mengirimkan Kesatria Naga mereka? 

Di situlah letak masalahnya. 

Mereka memang akan ikut bertempur, tetapi sejauh mana keseriusan mereka akan menentukan apakah Persatuan Kerajaan bisa diandalkan atau tidak. 

Dan untuk itulah Ratu Marianne dibutuhkan. 

“Jika Raja Naga juga ikut bergerak, peluang kemenangan setidaknya sudah lima puluh persen atau lebih, ya?” 

“Asalkan iblis tidak muncul. Cepat atau lambat, perintah untukmu pun akan turun. Pada saat itu, kamu akan menjadi pemimpin armada gabungan Kekaisaran dan Kadipaten. Bisa dibilang kamu adalah kartu pamungkas untuk memberikan pukulan mematikan pada Kerajaan. Kamu mengerti ‘kan alasan Kakak memercayakan hal ini padamu?” 

“Untuk menambah jumlah sasaran, bukan? Kita harus menghindari terulangnya tragedi yang menimpa Kakak Sulung.” 

“Itu salah satunya... tapi alasan utamanya adalah karena beliau memercayaimu.” 

“Aku sangat memahaminya. Karena itulah, aku punya satu permintaan pada Paman.” 

“Apa itu?” 

“Tolong sampaikan pada Ayahanda dan Kanselir. Bahwa aku tidak bisa menerima posisi sebagai pemimpin armada gabungan.” 

Mendengar kata-kataku, mata Paman menyipit. 

Kemudian, dia mengangguk pelan. 

“Lalu, posisi apa yang kamu inginkan?” 

“Angkatan laut baru akan dikerahkan saat kita berhasil mendesak musuh jauh ke dalam wilayah Kerajaan. Pada saat itu, reputasi Leo pasti sudah melambung tinggi. Posisi pemimpin armada gabungan saja tidak akan cukup. Tolong sampaikan bahwa aku menginginkan posisi Panglima Tertinggi Pasukan Koalisi Kekaisaran, Persatuan Kerajaan, dan Kadipaten. Serta, aku menginginkan jubah biru.”

Mendengar tuntutan yang terlewat batas tersebut, mata Paman membelalak terkejut. 

Jubah biru hanya boleh dikenakan oleh seorang Marsekal. 

Tidak ada pembicaraan mengenai pengangkatan Leo menjadi Marsekal. 

Dengan kata lain, meskipun hanya secara formal, itu artinya aku akan berdiri di atas posisi Leo. 

Yah, bisa dikatakan posisi Marsekal memang diperlukan jika ingin menjadi panglima tertinggi seluruh pasukan. 

Hanya dengan melangkah sejauh itulah aku akhirnya bisa berdiri sejajar dengan Leo. Pihak musuh pun pasti akan bingung menentukan siapa yang harus diincar. 

“Kamu selalu membuatku terkejut... Tapi, ini menarik. Aku pasti akan memenangkannya untukmu.” 

“Terima kasih banyak.” 

Begitu perang melawan Kerajaan berakhir, Leo akan menjadi Putra Mahkota. Sehebat apa pun Eric, dia tidak akan bisa memangkas jarak tersebut. 

Oleh karena itu, momen yang akan diincar adalah sebelum hal itu terjadi. 

Yaitu saat perang berlangsung. 

Di sanalah aku akan tampil sebagai Marsekal. 

Siapa pun pasti akan berpikir.

Pangeran Sisa telah menunjukkan ambisinya. 

Namun, tidak apa-apa begitu. 

Orang yang memiliki kemampuan menilai orang lain akan menyadari bahwa di balik kehebatan Leo, ada aku yang mengendalikannya. 

Jika orang seperti itu melangkah ke permukaan, mereka tidak punya pilihan selain menganggapku sebagai ancaman yang berbahaya. 

“Arnold. Namun, jika kamu melangkah sejauh itu, kamu akan kesulitan setelahnya, tahu? Apa kamu memang berniat menjadi Kaisar?” 

Saat hendak melangkah pergi, Paman melontarkan pertanyaan itu. 

Aku tidak menjawabnya, dan hanya mengedikkan bahu. 

Seolah memahami isyarat itu, Paman mengulas senyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.


Bagian 2

“Hmm...” 

“Apa ada yang mengusik pikiranmu, Pangeran Julio?” 

Beberapa hari telah berlalu sejak aku menyampaikan permintaan itu kepada Paman. 

Karena hanya bisa menunggu, aku menghabiskan hari-hariku dengan bermalas-malasan di Kadipaten. 

Saat sedang berjalan di koridor karena bosan, aku melihat Julio sedang melamun. 

“Yang Mulia Arnold... Jika boleh dibilang masalah, ini memang sebuah masalah.” 

“Masalah seperti apa? Tentu saja ceritakan sebatas yang bisa kamu bagikan.” 

Kekaisaran dan Kadipaten adalah negara sekutu. 

Namun, ada hal yang bisa disampaikan dan ada yang tidak. 

Walau hal itu bisa diketahui jika diselidiki, bukan berarti semua informasi boleh dibagikan begitu saja. 

Aku berniat menambahkan kalimat itu agar dia tidak merasa tertekan, tetapi bagi Julio sepertinya itu tidak diperlukan. 

“Ini bukan masalah yang terlalu besar. Apakah Yang Mulia tahu tentang ras setengah manusia yang dinamakan Landrunner?” 

“Landrunner...” 

Aku belum pernah melihat mereka secara langsung. 

Sebab di Kekaisaran yang terletak di bagian tengah benua, kesempatan untuk melihat ras setengah manusia sangatlah langka. 

Namun, aku tetap mengetahui beberapa nama ras setengah manusia yang terkenal. 

Landrunner adalah salah satunya. 

Kaum Landrunner atau suku pejalan darat memiliki ukuran tubuh hanya separuh dari manusia biasa. 

Mereka adalah setengah manusia yang ceria dan suka bergaul, tidak takut pergi ke tempat-tempat yang belum terjamah, serta memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa untuk berjalan sejauh apa pun. Karena itulah mereka sangat andal sebagai pedagang keliling dan keberadaan mereka bisa dijumpai di berbagai negara. 

Namun, itu cerita hingga sekitar seratus tahun yang lalu. Sekarang keberadaan mereka sudah tidak terlihat lagi. 

Itu karena... 

“Kesan yang kutangkap, mereka adalah korban dari paham supremasi manusia yang dianut Kekaisaran Suci.” 

“Tebakan Anda tidak salah. Dulu di bagian timur benua terdapat banyak negara setengah manusia. Namun, sekarang hampir semuanya sudah lenyap karena dihancurkan oleh Kekaisaran Suci. Ras setengah manusia yang tersisa kabarnya melarikan diri ke Mizuho atau mengungsi ke bagian barat benua.” 

“Bukan hak orang Kekaisaran sepertiku untuk mengatakannya, tapi... Kekaisaran Suci memang sangat kejam terhadap wilayah kekuasaannya.” 

“Namun, ada satu pengecualian. Yaitu kaum Landrunner. Saat negara mereka dihancurkan oleh Kekaisaran Suci, mereka melarikan diri ke sebuah pulau. Di sana mereka mendirikan negara baru, meskipun tentu saja banyak negara yang tidak mengakuinya.” 

“Aku pernah mendengar kisah itu. Tapi kurasa skalanya tidak terlalu besar.” 

Wilayah kekuasaan mereka hanya mencakup satu pulau. 

Sekecil apa pun ukuran tubuh Landrunner, satu pulau tentu terlalu sempit bagi mereka. 

Alasan Kekaisaran Suci tidak menggempur dan memusnahkan mereka hanyalah karena hasil yang didapat tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. 

Jika dibandingkan dengan Kadipaten yang tergolong negara kecil dibanding Kekaisaran, negara mereka bahkan bisa dikategorikan sebagai negara lemah. 

“Tentu saja skala negara mereka tidak besar. Namun, mereka selalu menjadi cacing kerawit bagi negara-negara di sekitarnya.” 

“Kalau tidak salah aku pernah mendengarnya... Bahwa Landrunner adalah kawanan bajak laut.” 

“Benar. Setelah kehilangan pijakan di benua, mereka menjadikan pulau itu sebagai markas dan mulai melakukan aksi perompakan secara luas. Bahkan bagi Kadipaten Albatro maupun Kadipaten Rondine, dibutuhkan pengawalan ketat untuk melewati perairan mereka. Merekrut pengawal pun tidak menghentikan jatuhnya korban perampokan muatan kapal, dari situ Anda bisa membayangkan betapa merepotkannya mereka.” 

“Sampai sejauh itu, ya...” 

Bajak laut adalah musuh buyut bagi negara maritim. 

Terlebih lagi, pihak lawan menjalankan aksi bajak laut dengan mengerahkan seluruh kemampuan negaranya. 

Tingkat kesulitannya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan bajak laut biasa. 

“Kalau begitu, apakah aksi perompakan Landrunner itu menimbulkan masalah baru lagi?” 

“Tidak, belum ada masalah langsung yang terjadi saat ini. Masalahnya baru akan muncul setelah ini.” 

Sambil berkata demikian, Julio menyodorkan selembar kertas kepadaku. 

Itu adalah sebuah surat sederhana. 

“Ini adalah surat balasan dari pihak Landrunner.” 

Rupanya inilah sumber kecemasan Julio. 

Aku menerima surat itu dengan perlahan lalu membacanya dengan hati-hati. 

Isi surat itu sangat singkat.

“‘Bagi negara kami, musuh benua yang sebenarnya adalah Kekaisaran Suci’, begitu ya?” 

Kerajaan memang memiliki kemungkinan menyembunyikan iblis. 

Jadi, meski belum pasti, ada kemungkinan mereka menjadi musuh benua. 

Karena itulah Kekaisaran bergerak dengan memperhitungkan potensi perang melawan Kerajaan, namun bagi kaum Landrunner, situasi benua yang seperti itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. 

Lagipula, karena sejak awal tidak diakui oleh negara-negara lain, mereka lebih mirip organisasi bajak laut raksasa daripada sebuah negara. 

Kecaman dari berbagai negara hanyalah angin lalu bagi mereka. 

Sebab, mereka tidak punya gengsi atau kehormatan yang perlu dijaga. 

“Tuntutan kami adalah meminta mereka menghentikan aksi perompakan selama armada kapal dikirim ke Kerajaan. Karena kami tidak bisa menyiagakan pengawal, kami tidak punya pilihan selain memohon... Namun tampaknya dendam akibat kehancuran negara mereka terlalu mendalam. Meskipun harus memusuhi seluruh negara di benua, mereka sama sekali tidak berminat untuk berjalan di arah yang sama dengan Kekaisaran Suci.” 

“Maksudmu, mereka tidak ingin berada di kubu yang sama dengan Kekaisaran Suci, atau mereka tidak bisa menghentikan aksi perompakan karena alasan ekonomi... Atau mungkin mereka sudah dipengaruhi oleh Kerajaan? Apa pun itu, sepertinya ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah.” 

“Benar... Mereka menyerang kapal-kapal yang menuju ke sisi timur benua secara tanpa pandang bulu. Sebab jika barang pasokan mengalir ke timur, kemungkinan besar barang-barang itu akan jatuh ke tangan Kekaisaran Suci. Tidak semua kapal diserang, tetapi bukan berarti jalurnya aman. Jika jalur pelayaran ke timur tidak digunakan, banyak pedagang yang akan jatuh miskin. Negara kami pun sangat pusing memikirkannya.” 

Meski aku hanya bermaksud menyapa dengan santai, rupanya ini adalah masalah yang sangat rumit. 

Bahkan jika Kekaisaran memberi tekanan sekalipun, sikap mereka pasti tidak akan berubah. 

Mereka sangat memahami nilai tawar mereka sendiri. 

Terlalu sia-sia bagi negara besar untuk mengirimkan armada penuh demi memusnahkan mereka, namun bagi kapal-kapal sipil, mereka adalah ancaman yang sangat besar. 

Ini benar-benar masalah yang sulit. 

“Apakah Kadipaten tidak pernah mengirim armada pasukan ke sana sebelumnya?” 

“Dengan kekuatan tempur negara kami, mencoba memusnahkan mereka akan memakan korban yang sangat besar. Lagipula untuk menguasai pulau itu, kami membutuhkan kekuatan darat. Selain itu, mereka adalah ras setengah manusia. Negara ras setengah manusia lainnya tentu tidak akan menyukainya. Bagi negara kami yang menggantungkan hidup dari perdagangan, kami harus selalu menjaga perasaan berbagai negara.” 

“Merepotkan sekali... Meski Kekaisaran yang membujuk pun akan sia-sia, mungkin mereka akan mau mendengar jika Guild Petualang yang turun tangan. Aku akan mencoba menggerakkan Guild Petualang melalui Kekaisaran.” 

“Terima kasih banyak. Semoga saja hal itu bisa menyelesaikan masalah...” 

“Bagaimana jika masalahnya tetap tidak terselesaikan?” 

“Jika itu terjadi, tidak ada pilihan lain selain meningkatkan perdagangan jalur darat dengan Kekaisaran. Jalur pelayaran ke arah barat benua pun sulit digunakan selama masa perang.” 

Aku mengangguk beberapa kali mendengar perkataan Julio. 

Jika perang berlarut-larut, jalur pelayaran di barat pun akan makin berbahaya. Kerugian ekonomi yang dialami tidak akan terhitung besarnya, dan bantuan jalur darat dari Kekaisaran sebanyak apa pun tidak akan sanggup menutupinya. 

Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, hal itu akan memengaruhi moral armada Kadipaten. 

Kendati demikian, dendam yang mengakar tidak akan hilang begitu saja dalam sekejap. 

Mari berdoa semoga mereka mau menghargai nama besar Guild Petualang. 

Jika gagal, sepertinya penggunaan kekuatan militer tidak akan bisa dihindari. 

Bisa jadi akan ada pertempuran tidak terduga yang harus dihadapi sebelum pertempuran penentu melawan Kerajaan pecah.


Bagian 3

Waktu sedikit berputar kembali ke masa lalu, di dalam ruang takhta Istana Kekaisaran. 

Di sana, Kaisar Johannes telah memanggil seseorang ke hadapannya. 

“S-Semoga kesehatan selalu menyertai Paduka Kaisar... umm... sungguh sebuah kehormatan bagi hamba untuk mendapatkan kesempatan menghadap, hamba merasa sangat hamba... umm, umm...” 

“Tidak perlu menggunakan bahasa yang tidak kamu kuasai. Bicaralah seperti saat kamu berbicara dengan Arnold.” 

“A-Apa tidak apa-apa... ‘kan?” 

“Tidak masalah. Selamat datang, Mia.” 

Sosok yang dipanggil ke ruang takhta itu adalah Mia. 

Terlebih lagi, panggilan itu bukan melalui perantara Al, melainkan dibawakan langsung oleh Kesatria Pengawal yang menerima perintah rahasia sang Kaisar. 

Mia sama sekali tidak pernah menyangka akan berhadapan dengan Kaisar Kekaisaran. Dia sempat belajar bahasa yang sopan selama perjalanan ke tempat ini, namun jelas sekali dia sangat memaksakan diri. 

“A-Anu... Paduka Kaisar... untuk alasan apa Anda memanggil hamba...?” 

“Aku sering mendengar nama Kesatria Bulan Merah Vermilion. Sebagai kesatria budiman dari Negara Bagian, kamu juga telah membantu Kekaisaran. Untuk itu, pertama-tama aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku.” 

“Ucap rasa terima kasih itu... justru hambalah yang harus menyampaikannya. Pemerintahan Raja Traugott tidak seperti mantan raja terdahulu, beliau sangat lembut. Seluruh rakyat merasa sangat gembira. Semua ini berkat Kekaisaran, dan terlebih lagi berkat Paduka Kaisar.” 

“Jika kamu berkata demikian, rasa bersalah karena telah melakukan invasi pun agak sedikit berkurang.” 

Johannes terkekeh pelan sambil mengangguk berkali-kali. 

Kata-kata dari Mia, sosok yang selalu berdiri di sisi rakyat demi memperbaiki Negara Bagian, memiliki bobot yang besar. 

Selama Mia mengatakan bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik daripada masa lalu, rasa-rasanya itu adalah sebuah kenyataan, dan tindakan menundukkan Traugott sebagai raja pun tidaklah salah. 

Namun. 

“Tetapi, masa pemerintahan Traugott adalah pencapaian Traugott sendiri. Bukan milikku. Aku ingin kamu menyampaikan kata-kata itu langsung kepada Traugott.” 

“Jika memang itu yang Paduka inginkan.” 

“Kamu masih tampak kaku. Kamu juga bersikap seperti ini di hadapan Arnold?” 

“Pangeran Arnold itu, umm... karena beliau kurang memiliki ambisi... Ah, lain cerita jika sedang dalam kondisi darurat.” 

Mia menambahkan pembelaan yang sebenarnya tidak terlalu membantu. 

Namun, itu adalah perasaan jujurnya. 

Dan itu pun sangat tepat sasaran. 

“Tepat sekali. Dia memang pria yang baru bergerak jika ada kondisi darurat. Namun karena itulah, hanya sedikit orang yang menyadari nilai sebenarnya. Tampaknya Mia bisa melihat hal itu?” 

“Meskipun saya tidak akan mengatakannya langsung di hadapan orangnya... saya rasa jika beliau niat, beliau bahkan bisa menjadi Kaisar. Walaupun mungkin akan menjadi Kaisar yang penuh dengan rencana busuk.” 

“Aku justru ingin melihatnya jika memang terjadi. Nah, aku punya permintaan untuk seseorang yang memiliki mata jeli dalam menilai orang sepertimu. Ini bukan permintaan yang sulit. Aku ingin kamu menemui Ratu Marianne sebagai Utusan Kekaisaran.” 

“Menemui Ratu Marianne...?” 

Keraguan Mia adalah hal yang sangat wajar. 

Sosok yang menjadi Raja Negara Bagian adalah Traugott. Dan Traugott adalah putra dari Johannes. 

Dia tidak mengerti apa maknanya mengirim Utusan Kekaisaran secara khusus kepada istrinya, Marianne. 

“Hal ini adalah rahasia militer sehingga kamu dilarang membocorkannya kepada siapa pun... Begitu persiapan pasukan selesai, aku akan menggempur Kerajaan. Di saat itulah aku ingin meminjam kekuatan Persatuan Kerajaan. Ratu Marianne dulunya adalah sandera Persatuan Kerajaan. Dia pasti punya banyak kenalan di sana.” 

“Kalau begitu, bukankah cukup dengan mengirim pembawa pesan saja?” 

“Mengirim pembawa pesan bisa ditafsirkan sebagai sebuah perintah. Aku ingin menggalang kerja sama. Aku tidak ingin mereka merasakan tekanan dari Kekaisaran. Baik bagi Persatuan Kerajaan, maupun bagi Negara Bagian.” 

“Memang benar jika saya yang pergi, bentuknya tidak akan terlihat seperti perintah... tapi Ratu Marianne tidak akan memiliki pilihan untuk menolak, ‘kan?” 

“Karena itulah aku memanggilmu. Aku ingin kamu menyampaikan dengan tegas bahwa tidak masalah jika beliau menolaknya. Perang ini akan menumpahkan banyak darah. Jika beliau tidak ingin terlibat, aku pun tidak ingin melibatkan beliau. Sebab mendorong Persatuan Kerajaan untuk ikut bertempur sama saja dengan mengirim prajurit Persatuan Kerajaan ke medan maut.” 

Bahkan jika Marianne menolak, seseorang pada akhirnya tetap harus mengemban tugas itu. 

Namun, jika tidak terlibat secara langsung, rasa bersalahnya akan lebih ringan. 

“...Saya memahami tugas tersebut. Namun, bukankah meminta langsung kepada Raja Traugott adalah cara yang lebih pasti?” 

“Aku sangat mengenal putraku. Jika aku membawa masalah ini kepada Traugott, dia tidak akan membiarkan istrinya memikul beban berat dan memilih untuk bergerak sendiri. Jika itu terjadi, itu artinya anggota keluarga kekaisaran yang mendesak Persatuan Kerajaan untuk bertempur. Persatuan Kerajaan sendiri belum sepenuhnya stabil. Di bawah kepemimpinan Raja Naga, Pasukan Kesatria Naga memang bersatu padu, tetapi para bangsawan belum sepenuhnya mengakui Raja Naga yang merupakan seorang pahlawan perampas kekuasaan. Jika permohonan ini dianggap sebagai tekanan dari Kekaisaran, baik mereka ikut bertempur maupun tidak, hal itu hanya akan mendesak posisi Raja Naga.” 

Jika Raja Naga yang naik berkat prestasi militernya menghindari pertempuran, dia akan dirumorkan penakut, dan jika dia ikut bertempur, dia akan dirumorkan tunduk pada tekanan Kekaisaran. 

Jika Kerajaan Persatuan kacau, hal itu akan menjadi kesempatan emas bagi Kerajaan. 

Oleh karena itu, hal ini tidak boleh berupa sebuah perintah. 

Ini murni permohonan kerja sama. 

Terlebih lagi, permohonan yang disampaikan melalui Ratu Negara Bagian. 

Alasan Kekaisaran begitu menjaga perasaan Persatuan Kerajaan adalah karena mereka merasa sangat membutuhkan kekuatan dari Pasukan Kesatria Naga. 

“Saya sudah memahami pemikiran Paduka. Serahkan tugas utusan ini kepada saya. Hanya saja...” 

“Hanya saja?” 

“Saya akan menyampaikannya apa adanya. Dan saya tidak berniat untuk membujuk beliau. Mohon perhatikan hal tersebut.” 

“Tentu saja. Aku mempercayakannya padamu.” 

Setelah berkata demikian, Johannes mengalihkan pandangannya kepada Kesatria Pengawal yang bersiaga di dekatnya. 

Bukti penunjukan sebagai Utusan Kekaisaran serta biaya perjalanan pun diserahkan kepada Mia. 

Setelah menerimanya, Mia hendak meninggalkan ruang takhta. 

Namun, setelah sempat ragu sejenak, dia akhirnya angkat bicara. 

“Paduka Kaisar... apakah tidak ada pilihan untuk tidak berperang...?” 

“Tahap itu sudah kita lewati. Bahkan jika kita tidak memulainya, Kerajaan yang akan memulainya. Kalau begitu, kita hanya perlu menyerang lebih dulu. Lagipula, negara kita selalu berada di pihak yang merampas.” 

Melihat Johannes yang menyeringai, Mia merasa seringai itu sangat mirip dengan Al. 

Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. 

Sambil mengingat peribahasa tersebut, Mia membungkuk hormat lalu meninggalkan tempat itu.


Bagian 4

Di saat Kekaisaran sedang mempersiapkan perang melawan Kerajaan di pusat benua. 

Terjadi pula pergerakan di sebuah negara kecil yang terletak di ujung timur benua. 

“Putri Pertapa. Bala bantuan Pasukan Kesatria Binatang telah tiba di perbatasan dengan Kekaisaran Suci.” 

“Terima kasih atas kerja kerasmu. Dengan begini, Kekaisaran Suci tidak akan bisa hanya berfokus pada Kekaisaran saja. Kudengar mereka juga masih dibuat menderita oleh para bajak laut dari kaum Landrunner. Bisa dibilang itu adalah karma karena telah menindas para ras setengah manusia.” 

“Mohon jangan berbicara seolah memihak suku pejalan darat. Meskipun sesama ras setengah manusia, tindakan mereka sudah kelewat batas. Di antara korban mereka, ada banyak rakyat tidak berdosa. Namun, seberapa kuat pun permohonan dari Kaisar, apakah tidak apa-apa memprovokasi Kekaisaran Suci?” 

“Selama Raja tua itu masih hidup, tidak mungkin mereka menyerang Mizuho. Karena dia tahu tidak ada keuntungannya. Yah, kalaupun mereka menyerang, kita hanya perlu membalas dan menghancurkan mereka.” 

Setelah menyampaikannya dengan penuh percaya diri, Putri Pertapa dari Mizuho, Orihime, menggendong Enta, sahabat sekaligus hewan peliharaannya yang berada di dekatnya. 

“Tapi kalau sampai terjadi, sepertinya bakal seru juga. Ya ‘kan, Enta?” 

“Chupi!” 

“Enta juga berpikir begitu? Pintar, pintar.”


“Putri Pertapa. Mohon tahan diri Anda dari perkataan yang seolah menginginkan peperangan. Jika perang pecah, darah para prajuritlah yang akan tumpah.” 

“Kakek ini selalu saja mengomel...” 

Sosok yang baru saja memasuki ruangan adalah seorang ras setengah manusia berusia lanjut. 

Seorang pria tua dari kaum manusia harimau yang memiliki ciri-ciri harimau. 

Namanya adalah Kotetsu.

Dia adalah menteri dari Negara Pertapa Mizuho. 

“Jika Anda tidak suka diomeli, janganlah membuat pernyataan yang tidak dikira-kira.” 

“Terserah aku mau bilang apa, bukannya itu hakku?” 

“Sesuatu yang dinamakan pengaruh itu ada, Anda tahu.” 

“Penuh kekangan. Aku jadi rindu Kekaisaran...” 

“Tampaknya Anda sangat menikmati waktu di sana. Sampai-sampai meninggalkan semua pengawal Anda... Apakah Anda tahu bagaimana perasaan saya saat mendengar laporan itu di tanah air?” 

“Seperti yang diharapkan dari Putri Pertapa. Pasti kamu berpikir begitu, ‘kan? Tidak usah disembunyikan.” 

“Saya sudah bersiap, jika terjadi sesuatu pada Putri Pertapa, seluruh pejabat penting akan dipenggal kepalanya. Perlu saya sampaikan juga bahwa saya merasa tidak tenang hidup sampai Anda kembali ke negeri ini.” 

“Berlebihan sekali... Asal kamu tahu, orang-orang kuat yang setara denganku seperti Elna dan Silver bergerak sesuka hati mereka di Kekaisaran! Aku tidak terima kalau cuma aku yang dikekang begini!” 

“Keluarga Pahlawan Armsberg adalah bawahan Kekaisaran. Sementara Putri Pertapa adalah dewa pelindung Mizuho. Mizuho tidak akan berdiri tanpa Putri Pertapa, tetapi Kekaisaran masih bisa berdiri tanpa Keluarga Pahlawan. Lagi pula Silver adalah petualang peringkat SS, dia tidak memikul beban suatu negara. Meskipun kalian memiliki kekuatan yang seimbang, posisi kalian terlalu jauh berbeda.” 

“Kalau begitu, aku juga akan menjadi petualang peringkat SS saja!” 

“Campur tangan ke Mizuho tentu akan dilarang. Jika Anda tidak keberatan dengan hal itu, silakan lakukan sesuka hati. Dulu ketika negara dwarf diserang oleh Kekaisaran Suci pun, Tetua Egor membiarkan mereka. Apakah Anda memiliki kesiapan yang sama?” 

“Tetapi Silver memihak Kekaisaran...” 

Orihime bergumam sambil memonyongkan bibirnya. 

Kotetsu pun berkata kepada Orihime. 

“Silver yang terlihat bertindak sesuka hatinya pun tidak menampakkan diri saat pemberontakan di Ibu Kota sampai Naga Suci muncul. Bahkan itu saja sudah dipersoalkan. Mereka juga terikat oleh banyak hal.” 

“Muu...” 

“Astaga... Jika Anda begitu membenci posisi Putri Pertapa, lahirkanlah anak dan serahkan takhta ini kepada generasi berikutnya.” 

“M-Melahirkan itu katanya sangat berat... Lagi pula aku belum berniat mencari pasangan...” 

Orihime menggantungkan kalimatnya di sana. 

Lalu. 

“Siapa saja boleh?” 

“Apakah ada seseorang yang berkenan di hati Anda?” 

“Kalau begitu, Arnold saja.” 

“Tidak boleh.” 

Senyuman Orihime membeku. 

Jawaban yang sangat instan. 

Kotetsu menghela napas, lalu mulai menjelaskan alasannya sebelum Orihime sempat memprotes. 

“Puncak perebutan takhta Kekaisaran sudah makin dekat. Para kandidat telah menyempit menjadi Pangeran Eric dan Pangeran Leonard. Jika Pangeran Leonard yang menang, beliau adalah sosok yang akan menjadi kakak dari Putra Mahkota. Pangeran Leonard kabarnya sangat memercayai Pangeran Arnold dan pasti akan sangat mengandalkannya. Lagi pula karena beliau masih lajang, akan lebih menguntungkan bagi mereka untuk menikahi orang berpengaruh dari berbagai daerah di Kekaisaran guna menambah pendukung. Mereka tidak akan membiarkannya keluar dari Kekaisaran.” 

“Maksudmu aku ini kalah dibanding orang berpengaruh di Kekaisaran!? Sekadar memberi tahu ya, aku ini sangat populer, lho!?” 

“Mizuho bagaimanapun hanyalah negara kecil. Jaraknya dari Kekaisaran juga sangat jauh. Bagi Kekaisaran, tidak ada tingkat kepentingan yang cukup tinggi sampai harus mengirimkan anggota keluarga kekaisaran kemari.” 

“Lalu bagaimana jika Leonard kalah? Aku bisa menyembunyikannya!” 

“Kekaisaran Suci mendukung Pangeran Eric. Menyembunyikan musuh mereka sama saja dengan menjadikan Kekaisaran Suci dan Kekaisaran sebagai musuh sekaligus dalam sekejap. Itu hal yang paling tidak mungkin.” 

“Guuu... Ada-ada saja sanggahanmu...” 

“Satu-satunya kemungkinan adalah menyerahkan posisi Putri Pertapa kepada orang lain lalu pergi ke Kekaisaran. Untuk melakukan itu, harus ada anggota klan Rubah Pertapa lainnya yang bangkit terlebih dahulu.” 

“Humm, kalau begitu aku akan menyerahkannya sekarang juga.” 

“Tidak sembarang anggota klan Rubah Pertapa bisa memangkunya. Hanya orang yang memiliki kekuatan yang sanggup menjadi Putri Pertapa.” 

Setelah berkata demikian, Kotetsu menghela napas sejenak lalu mengeluarkan sebuah surat perintah. 

Lalu. 

“Cukup guyonannya. Ini masalah besar.” 

“Ada apa?” 

“Anak-anak tersesat di Hutan Senja. Jumlahnya lima orang. Seperti yang Anda ketahui, Hutan Senja adalah hutan yang tidak bisa ditinggalkan begitu seseorang memasukinya. Para penduduk mengajukan surat permohonan, berharap pada bantuan Putri Pertapa.” 

“Lima orang anak... Kita harus menolong mereka.” 

“Saya memahami perasaan Anda, tetapi untuk Hutan Senja, kita tidak memiliki cara apa pun. Putri Pertapa terdahulu pun pernah mencobanya dan gagal. Kita tidak bisa mencampuri hutan itu. Kita harus memikirkan cara untuk menenangkan warga, kalau tidak dampaknya akan makin meluas.” 

“Hanya karena Putri Pertapa terdahulu tidak bisa, bukan berarti aku juga tidak bisa, ‘kan?” 

“Bagaimana jika Anda mencobanya dan gagal? Di Mizuho, bukanlah hal yang baik jika timbul anggapan bahwa ada hal yang tidak sanggup dilakukan oleh Putri Pertapa.” 

“Humm... Kalau begitu mari kita panggil orang yang sepertinya ahli dalam hal semacam ini.” 

“Siapa yang Anda maksud?” 

“Silver.” 

“Jangan bercanda. Untuk memanggil Silver, kita membutuhkan koin pelangi. Sayangnya, kita tidak bisa membayarnya demi anak-anak itu.” 

“Tidak perlu. Orang itu pernah bilang akan menerima permintaan apa pun secara cuma-cuma satu kali. Mari kita minta dia menepati janji itu.” 

“Tunggu sebentar... Bukankah itu... hak yang sangat berharga?” 

“Itu adalah utang budi yang kubuat. Aku akan menggunakannya saat aku ingin menggunakannya. Hubungi Guild Petualang dan panggil Silver. Jika kamu bilang Putri Pertapa yang memanggilnya, dia pasti akan menepati janji dan datang.” 

Hak untuk memanggil Silver kapan saja. 

Jika salah melangkah, hak itu memiliki nilai setara tiga koin pelangi atau lebih. 

Menggunakannya demi menyelamatkan anak-anak adalah hal yang sungguh sulit diterima bagi seorang pejabat tinggi negara. 

Namun, Kotetsu yang sangat memahami watak Orihime hanya menghela napas pelan dan menyerah. 

Dia pun meninggalkan ruangan tersebut dan segera menghubungi Guild Petualang.


Bagian 5

“Kamu ingin pergi ke Negara Pertapa Mizuho?” 

“Iya, tolong siapkan kapalnya. Mumpung ada pelabuhan di sini, bisa, ‘kan?” 

Sieg mendatangi tempatku saat aku sedang menunggu kabar dari pusat Kekaisaran di Kadipaten, lalu melontarkan pertanyaan itu tanpa basa-basi. 

Tentu saja aku tidak keberatan menyiapkan kapal. 

Sieg telah mengukir begitu banyak jasa. 

Jika memang diperlukan, aku bahkan tidak keberatan melepasnya dengan pengawalan ketat. 

Hanya saja... 

“Boleh aku tahu alasannya?” 

“Yah, situasi di sekitar kalian ‘kan sudah mulai tenang? Alasan utamaku datang ke Kekaisaran ‘kan untuk mengembalikan wujudku seperti semula. Kalau daya dorong dari Panji Kekaisaran saja tidak bisa mengembalikanku, sepertinya Silver pun tidak akan sanggup. Karena itulah aku harus memikirkan cara lain.” 

“Sungguh mengejutkan...” 

“Apanya?” 

“Rupanya kamu masih ingat kalau dulu kamu itu manusia.” 

“Jangan menghinaku! Aku selalu teringat setiap kali melihat wanita cantik, tahu!!” 

Yah, wajar saja, mana bisa dia merayu wanita cantik dengan wujud anak beruang begitu. 

Namun jika dibalik, artinya di saat tidak ada wanita cantik di dekatnya, dia sudah sangat terbiasa dengan wujud beruang itu. 

Sungguh sangat khas seorang Sieg. 

Kepribadiannya yang optimistis membuat dia sangat menghargai prinsip untuk menikmati masa kini. 

Sangat mencerminkan sosok seorang petualang sejati. 

“Kamu sudah mantap ingin lulus dari wujud itu? Kupikir kamu menyukainya.” 

“Aku memang menyukainya. Soalnya sebagian besar hal bisa dimaafkan hanya dengan alasan ‘karena aku beruang’. Tapi, sebentar lagi aku benar-benar ingin kembali menjadi manusia...” 

Sieg menundukkan kepalanya dengan raut wajah lesu. 

Yah, seoptimistis apa pun seseorang, wajar saja kalau dia tidak mau selamanya tidak bisa kembali menjadi manusia. 

“Begitu ya. Baiklah. Aku akan mengatur kapal yang menuju Mizuho.” 

“Beneran!? Makasih banyak, ya!” 

“Akulah yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menolongku berkali-kali.” 

“Yah, tidak sampai sejauh itu, sih. Tapi ya, memang ada beberapa momen gawat kalau tidak ada aku yang hebat ini. Begitu aku pergi, mungkin kamu baru akan menyadari betapa berharganya diriku!” 

Melihat Sieg yang berbicara dengan begitu bangganya, aku hanya mengulas senyum. 

Aku tidak bisa mengekang seorang petualang seperti Sieg. 

Selama ini, aku hanya meminta bantuannya dengan jaminan akan menghubungkannya dengan Silver. 

Namun, karena dia sendiri sama sekali tidak merasa terganggu dengan wujud anak beruang itu dan hanya sesekali mengungkitnya, aku pun terus mengulur waktu. 

Ada perhitungan tersendiri di balik tindakan itu. 

Begitu dia bertemu dengan Silver, Sieg pasti akan pergi meninggalkan Kekaisaran. 

Lagipula, bahkan dengan kekuatan Silver sekalipun, wujud Sieg tidak akan bisa dikembalikan. 

Aku belum pernah mendengar ada sihir semacam itu, dan Panji Kekaisaran pun gagal melakukannya. 

Artinya, Silver pun tidak akan mampu. 

Karena itulah aku mengulur waktu. 

Namun, sepertinya sudah mencapai batasnya. 

Dan jika sudah begini, aku harus melangkah ke topik pembahasan ini. 

Sieg sangat jarang bercerita tentang kronologi bagaimana dia bisa berubah menjadi beruang. Yang kuketahui hanyalah ada seseorang yang mengubah wujudnya. 

Akan tetapi. 

Sihir yang mengubah wujud Sieg bukanlah sihir biasa. Jika dicermati, itu lebih dekat dengan Otoritas iblis. 

Kalau begitu, aku harus mendengarkan ceritanya. 

“Ngomong-ngomong... kenapa harus Mizuho?” 

“Hmm? Ah, itu... yah, kubikir kalau Putri Pertapa dari Mizuho mungkin bisa menyembuhkanku!” 

“Paham. Kalau begitu, akan kubuatkan surat rekomendasi untukmu.” 

“H-Hei, kamu mendadak baik banget...” 

“Kamu selalu menjaga adikku. Ini sebagai tanda terima kasihku.” 

“B-Begitu ya... Menerimanya dengan senang hati kalau begitu.” 

“Jika kamu ingin kembali menjadi manusia, aku akan mendukungmu dengan segenap kemampuanku. Tapi, apa yang harus kutulis di surat itu? Sihir yang bahkan membuat Kekaisaran angkat tangan itu sangat langka, lho?” 

“Aduhh... kalau soal itu...” 

“Aku paham tata cara seorang petualang. Aku juga tahu soal menjaga kerahasiaan rincian permintaan. Tapi... waktunya sangat tidak tepat. Kamu bisa saja dicurigai memiliki hubungan dengan iblis, tahu?” 

Sieg bungkam mendengar kataku. 

Bukan hal yang mudah baginya untuk angkat bicara. 

Sieg selama ini sangat teguh memegang harga dirinya sebagai petualang. 

Namun, situasi sekarang sudah berbeda dibanding awal kami bertemu. 

“Apakah aku tidak bisa dipercaya?” 

“Jangan bercanda... Sama seperti saat kamu memercayakan adikmu padaku, aku pun memercayaimu.” 

Sieg menghela napas panjang mendengar perkataanku. 

Lalu. 

“Jangan ceritakan ke siapa-siapa, ya?” 

“Tentu saja. Jadi, bicaralah yang jujur.” 

“Hmph... Tempatku bertemu dengan wanita itu bukanlah di dalam hutan. Akulah yang membawanya ke dalam hutan. Suatu hari, aku menerima permintaan khusus atas namaku sendiri. Rincian tugasnya baru akan dijelaskan begitu aku bertemu dengan sang pemohon. Imbalannya tiga koin pelangi, dibayar di akhir. Aku yang disetarakan dengan petualang peringkat SS tentu saja langsung melayang. Tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya.” 

“Mencurigakan sekali permintaan itu.” 

“Memang. Kalau punya uang sebanyak itu, daripada memanggil orang sepertiku, lebih baik minta bantuan petualang peringkat SS langsung. Tapi saat itu aku tidak berpikir sejauh itu. Ada rasa bangga juga dalam diriku kalau tombakku bisa menandingi petualang peringkat SS. Lalu... aku menerima seorang wanita ras setengah manusia dari sang pemohon. Tugasnya adalah mengembalikan wanita itu ke tanah kelahirannya. Sang pemohon sendiri sudah sekarat. Katanya dia seorang peneliti sejarah yang terkenal. Dia bertemu dengan wanita itu dalam proses meneliti masa lalu.” 

“Wanita itu kuncinya, ya... Siapa dia sebenarnya?” 

“...Kamu tahu soal klan Manusia Naga?” 

“Aku tahu. Ras yang punah dalam perang melawan iblis. Kabarnya mereka memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.” 

“Mereka sama sekali tidak punah. Di Hutan Senja milik Negara Pertapa Mizuho, mereka bersembunyi di sana. Wanita itu adalah anak yang diculik ke luar saat sihir yang menyelimuti hutan melamah. Sang peneliti berusaha melindunginya sekuat tenaga, tapi sepertinya itu sudah mencapai batasnya. Dia memercayakan wanita itu padaku lalu mengembuskan napas terakhirnya.” 

Dokumen mengenai klan Manusia Naga sangat sedikit. 

Yang diketahui hanyalah bahwa mereka memiliki kekuatan yang jauh melampaui ras setengah manusia lainnya.

Dan yang diketahui hanyalah bahwa mereka bertarung di garis depan selama perang melawan iblis. 

Meskipun ditulis dalam dokumen bahwa mereka telah punah dalam proses tersebut, ternyata mereka hanya hidup bersembunyi. 

Yah, tidak terlalu mengejutkan. 

Daripada memercayai mereka lenyap karena punah, alasan bahwa mereka hidup bersembunyi jauh lebih masuk akal. 

“Lalu? Kamu tetap menuntaskan permintaan tanpa mengharapkan imbalan itu?” 

“Tentu saja, aku ‘kan seorang petualang. Begitu aku berjanji akan menyanggupinya, aku akan menuntaskannya sampai akhir meskipun tidak bisa mengharapkan imbalan. Karena nilainya yang sangat langka, wanita itu diincar dari berbagai penjuru. Aku berhasil membawanya sampai ke Hutan Senja, tapi... aku menderita beberapa luka. Dalam keadaan terdesak, wanita itu menarikku masuk ke dalam Hutan Senja dan mengobatiku. Kalau tidak ada bantuan itu, aku pasti sudah mati.” 

“Dan hasil dari pengobatan itu adalah wujudmu yang sekarang?” 

“Bukan, wujud ini adalah hasil dari akal adik wanita itu. Hutan Senja tidak akan membiarkan manusia yang sudah masuk untuk keluar kembali. Untuk bisa keluar, dibutuhkan izin dari tetua. Meskipun sang tetua berterima kasih karena aku telah menyelamatkan wanita itu, beliau bilang tidak bisa membiarkanku keluar begitu saja. Karena itulah, adik wanita itu mengubah wujudku. Soalnya kalau berupa binatang, aku bisa keluar. Waktu mengubah wujudku dia kelihatan bersenang-senang, tapi... saat melepas keberangkatanku ke luar, mereka berdua berkali-kali meminta maaf. Wajah mereka berdua saat itu masih tidak bisa kulupakan sampai sekarang.” 

Sieg menyudahi ceritanya lalu menghela napas panjang. 

Lalu. 

“Kalau aku melapor ke Guild Petualang, perhatian pasti akan tertuju ke Hutan Senja. Jadi aku tidak punya pilihan selain membuat keadaan seolah-olah Siegmund menghilang saat menjalankan tugas. Setelah itu, aku mendengar rumor tentang Putri Zandra yang paham betul soal sihir terlarang, makanya aku datang ke Kekaisaran. Soalnya aku sendiri sadar kalau sihir ini bukan sihir biasa.” 

“Kisah yang sangat khas dirimu, tapi... apa kamu tidak merasa dendam? Kamu sudah menolongnya, tapi malah diubah menjadi anak beruang, lho?” 

“Itu adalah hasil dari usahanya untuk menyelamatkanku. Aku justru berterima kasih, tidak ada rasa dendam sama sekali. Yah, walaupun aku memang ingin kembali ke wujud asliku. Kalau ada hal yang kusesali, itu hanyalah kelemahanku sendiri. Seandainya aku tidak terluka, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.” 

Dia sungguh orang yang luar biasa di tempat yang tidak terduga. 

Dalam situasi normal, wajar saja jika ada orang yang mengeluh karena tidak mendapatkan imbalan dan wujudnya malah diubah. 

Yah, justru karena dia bukan tipe orang yang akan mengeluh dalam kondisi seperti itulah, dia juga tidak pernah mengeluh meski kumanfaatkan sesuka hati. 

“Astaga... Tidak kusangka akan tiba harinya saat aku dibuat menyadari betapa buruknya sifatku olehmu.” 

“Apa-apaan kamu ini? Kamu pikir selama ini sifatmu itu bagus?” 

Sieg mengutarakannya dengan wajah yang sedikit tidak percaya. 

Ekspresinya seolah mengatakan bahwa hal itu sangat tidak mungkin. 

“Pria yang menyebalkan. Ya sudahlah... Lalu? Apa yang akan kamu lakukan setelah sampai di Mizuho? Apa wujudmu akan kembali jika kamu pergi ke hutan itu?” 

“Entahlah. Aku akan memikirkannya setelah sampai di sana.” 

“Kamu ini...” 

Ketidakjelasan rencananya ini sangat khas seorang Sieg...

Lagipula dia adalah tipe orang yang nekat menemui Putri Kekaisaran tanpa rencana apa pun. 

“Astaga... Aku akan menyiapkan kapal dan surat rekomendasinya. Aku akan berpesan pada Orihime untuk merahasiakan hal ini rapat-rapat, jadi seharusya tidak akan menarik perhatian.” 

“Aku sangat berterima kasih.” 

“Simpan terima kasihmu sampai wujudmu kembali seperti semula. Karena ini butuh sedikit waktu, gunakan waktu yang ada untuk memikirkan rencana.” 

“Dimengerti!”


Bagian 6

Beberapa hari setelah Sieg menyampaikan keinginannya untuk pergi ke Mizuho. 

Kali ini, sesosok tamu datang jauh-jauh dari ibu kota kekaisaran. 

“Situasinya jadi sangat merepotkan, Arnold.” 

“Kalau kamu yang sampai datang, sepertinya memang begitu.” 

Sosok yang datang itu adalah Henrik, yang seharusnya bertugas menjaga markas di ibu kota kekaisaran. 

Pada dasarnya, Henrik bergerak atas petunjuk dari Kakek. 

Kali ini pun, dia pasti telah menjelaskan situasinya terlebih dahulu sebelum meminta petunjuk dari Kakek. 

“Lalu? Apa yang terjadi?” 

“Ada permintaan khusus dari Guild Petualang yang ditujukan langsung untuk Silver.” 

“Tolak saja. Saat ini bukan langkah yang bijak untuk meninggalkan Kadipaten.” 

Persiapan pihak Kekaisaran sepertinya masih membutuhkan waktu yang cukup lama. 

Paman pun tidak mungkin bisa langsung kembali dalam waktu dekat. Perintah yang kuberikan memang sesulit itu. 

Namun, itu baru dari sudut pandang Kekaisaran. 

Aku tidak tahu bagaimana negara-negara di sekitar akan bergerak. 

Jika Kerajaan melakukan serangan balasan terlebih dahulu, apa yang harus kulakukan pun akan berubah. 

Karena itulah, selama tidak ada situasi yang sangat mendesak, aku tidak ingin meninggalkan Kadipaten. 

“Ini permintaan langsung dari Putri Pertapa dari Mizuho. Kabarnya Putri Pertapa bilang dia punya utang budi pada Silver, ‘kan?” 

“Sialan...” 

Tanpa sadar aku memegang kepalaku. 

Berani-beraninya dia menggunakan janji waktu itu di saat-saat seperti ini... 

Memang benar, aku sebagai Silver pernah mengikat janji dengan Orihime. 

Bahwa aku akan menerima permintaan apa pun secara cuma-cuma. 

“Aku punya utang budi yang sangat besar pada Orihime...” 

“Kalau begitu, kamu akan pergi?” 

“Tidak ada jaminan masalah ini akan selesai dengan cepat. Jika berlarut-larut, identitasku bisa saja terbongkar, dan aku bisa terlambat ikut serta dalam perang melawan Kerajaan.” 

“Kalau begitu, kamu tidak akan pergi?” 

“Tanpa Orihime, aku tidak akan bisa ikut serta dalam pertempuran melawan Kura-Kura Roh. Bukan hanya pada Orihime, janji itu juga diucapkan langsung di hadapan Kaisar. Jika aku mengingkarinya, kepercayaan yang telah kubangun sebagai Silver akan goyah.” 

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” 

Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Henrik. 

Ini gawat. 

Sangat gawat. 

Yang membuat ini makin merepotkan, fakta bahwa Orihime sampai sengaja menggunakan janji ini menandakan bahwa masalah tersebut berada di luar kemampuannya. 

Apa pun itu, sudah pasti ini adalah urusan yang sangat merepotkan. 

Jika sudah begini, aku harus memperhitungkan kemungkinan masalah ini akan memakan waktu lama. 

“...Henrik. Bisakah kamu menggantikanku?” 

“Kalau hanya sekadar berada di Kadipaten, aku bisa melakukannya. Tapi aku butuh bantuan dari orang-orang di sekitarmu.” 

“Aku akan meninggalkan Fine dan Sebas di sini. Gunakan sihir ilusi untuk menyamar menjadi diriku.” 

“Dimengerti. Bagaimana jika kamu terlambat kembali?” 

“Tolong pimpin armada gabungan menggantikanku.” 

“Kamu ini benar-benar suka memberi perintah yang tidak masuk akal.” 

“Aku tahu ini tidak masuk akal. Aku akan bergegas agar hal itu tidak sampai terjadi.” 

“Lakukanlah. Meskipun aku bisa menirukan wujud fisik, aku tidak bisa menirukan kemampuanmu. Begitu masa perang tiba, penyamaranku lambat laun akan terbongkar.” 

Perkataan Henrik memang benar. 

Jika memegang kendali atas armada gabungan, seluruh wewenang hingga waktu pemberangkatan akan diserahkan sepenuhnya padaku. 

Jika salah mengambil keputusan, Leo bisa berada dalam bahaya. 

“Mau tidak mau aku harus kembali secepat mungkin.” 

Henrik mengangguk menanggapi perkataanku. 

Jika aku tidak kembali, semuanya akan berantakan. 

Mengapa hal-hal merepotkan selalu saja mendatangi diriku? 

“Berusaha menjadikan adik sendiri sebagai Kaisar bukanlah hal yang kurekomendasikan untuk generasi mendatang. Ini terlalu menyita waktu dan tenaga.” 

“Menurutku, penyebab utamanya adalah peran ganda yang kamu jalani sebagai petualang peringkat SS sekaligus seorang pangeran. Berbeda dari sebelumnya, sekarang kamu mulai dipercayakan tugas-tugas penting sebagai seorang pangeran.” 

“Makanya aku membencinya. Soalnya jadi sulit untuk bergerak sebagai Silver.” 

“Lalu, kenapa kamu malah mengambil langkah untuk tampil ke permukaan?” 

“Tentu saja sudah jelas, ‘kan? Karena itu memang diperlukan.” 

Jika tidak diperlukan, aku tidak akan pernah mau melakukan hal-hal merepotkan seperti ini. 

Di sana ada masalah, di sini ada masalah. 

Rasanya aku ingin melemparkan dan mengabaikan semuanya saja. 

“Astaga... Kenapa tidak bisa selesai lebih cepat, sih?” 

“Selama masing-masing pihak mempertahankan argumennya, akhir dari semua ini baru akan tiba saat salah satu pihak tumbang. Jika ingin menyelesaikannya dengan cepat...” 

“Tidak ada pilihan lain selain menumbangkannya secepat mungkin...” 

Sambil membatin bahwa hal itu adalah sebuah kemustahilan, aku menghela napas panjang lalu mengenakan topeng perak milikku.


* * *


“Sieg, sarana transportasimu sudah siap.” 

“Beneran? Cepat banget...” 

Henrik yang menyamar sebagai diriku memanggil Sieg. 

Bagi Sieg, ini tentu berita yang sangat menggembirakan. 

Namun, antusiasmenya tampak agak sedikit berkurang. 

“Ngomong-ngomong, aku mau tanya hal yang agak aneh... sarana transportasi itu bukannya kapal, tapi...” 

“Aku juga diputuskan untuk pergi ke Mizuho. Pangeran Arnold memintaku untuk membawamu serta.” 

Penyihir bertopeng perak yang berada di dalam ruangan. 

Firasat buruknya tampaknya menjadi kenyataan. 

Sieg membeku saat mendengar perkataanku sebagai Silver. 

“Ini jauh lebih cepat daripada kapal. Bagus, ‘kan?” 

“Kamu gila, ya!? Jangan malah menyiapkan petualang peringkat SS sebagai pengganti kapal, dong!!” 

“Waktunya saja yang kebetulan pas. Kamu bisa menyampaikan rasa terima kasihmu pada Orihime.” 

“Mana bisa aku berterima kasih!? Ini bukan sekadar berpindah tempat di dalam wilayah Kekaisaran, tahu!? Kita ini mau pergi ke ujung timur benua! Berapa kali kita harus melakukan sihir teleportasi!? Kalau manusia yang tidak punya bakat sihir terus-terusan dipindahkan seperti itu...” 

“Paling cuma merasa sedikit mual saja. Tenang saja.” 

“Mana bisa tenang!!” 

Sieg terus berteriak, tetapi aku langsung mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya. 

Dengan begini, dia tidak akan bisa melarikan diri. 

“Kalau begitu, dia kubawa.” 

“Ya, hati-hati di jalan.” 

“Akan kuusahakan.” 

Setelah percakapan singkat itu, aku mengaktifkan sihir teleportasi dan bertolak menuju Mizuho.


* * *


Melalui beberapa kali sihir teleportasi, aku dan Sieg akhirnya sampai di Mizuho. 

Sieg yang tidak memiliki bakat sihir tampak terkapar lemas karena agak mabuk sihir. 

“Buka matamu dan tegakkan badanmu. Kita sudah sampai di Mizuho.” 

“Mentang-mentang dirimu baik-baik saja...” 

Meski bersuara layu, Sieg tetap mengalihkan pandangannya. 

Tempat yang kami tuju adalah kantor cabang Guild Petualang di Negara Pertapa Mizuho. 

Karena permintaan ini disampaikan melalui Guild Petualang, kami perlu singgah di sini. 

Tanpa ragu, aku membuka pintu kantor cabang tersebut. 

Kedatanganku ke sini pada dasarnya hanya untuk memberi salam. 

Rincian tugasnya baru akan kuketahui langsung dari Orihime. 

Singkatnya, aku mampir hanya untuk memberi tahu bahwa aku sudah tiba. 

Akan tetapi. 

“Sial! Kita kekurangan orang! Bagaimana situasi monster di wilayah selatan!?” 

“Wilayah selatan sudah berhasil ditenangkan! Tapi kita tidak punya cukup orang untuk menangani monster di wilayah timur!!” 

“Bagaimana dengan wilayah barat!?” 

“Wilayah barat sepertinya masih bisa diatasi!” 

“Tinggal wilayah timur saja, ya... Siapa pun yang masih bisa bergerak, ikut aku! Kita tahan serangan mereka walau cuma sedikit!” 

Kantor cabang Mizuho sedang berada dalam kondisi kacau balau. 

Sepertinya monster-monster sedang mengamuk di tempat ini. 

“Siapa kamu!? Guild Petualang sedang sangat sibuk sekarang! Kalau mau mengajukan permintaan, lakukan nanti dan cepat menyingkir dari sana!!” 

Pria yang memimpin situasi berteriak menyuruhku menyingkir dari depan pintu. 

Kemungkinan besar dia adalah kepala cabang atau pejabat sejenisnya. 

Dia adalah orang yang berbeda dari kepala cabang saat aku mengunjungi Mizuho di masa lalu. 

Jadi wajar saja jika dia tidak mengenalku, tapi tidak menyadarinya tetap saja agak disayangkan. 

“Ternyata namamu tidak seterkenal itu ya, kawan.” 

“Sepertinya memang begitu.” 

Sieg yang berada di bahuku berbicara dengan nada agak heran. 

Padahal kukira namaku cukup terkenal di antara para petualang peringkat SS. 

“Aku datang untuk menerima permintaan dari Putri Pertapa yang disampaikan melalui markas pusat Guild Petualang. Aku Silver, petualang peringkat SS dari cabang ibu kota Kekaisaran. Jika kalian sedang sibuk, mau kubantu?” 

Mendengar perkenalanku, seluruh warna darah mendadak surut dari wajah pria itu.


Bagian 7

Mizuho bukanlah wilayah yang dihuni oleh monster-monster yang sangat kuat. 

Akan tetapi, bukan berarti jumlah monster di sana sedikit. Justru bisa dibilang wilayah itu adalah habitat para monster. 

Kebanyakan dari mereka hanyalah monster lemah. 

Biasanya mereka juga tidak akan mengamuk. 

Namun, Mizuho adalah wilayah yang sering dilanda bencana alam. 

Karena hal yang sepele saja, monster-monster itu bisa mulai mengamuk. Kantor cabang Guild Petualang didirikan untuk membasmi mereka, tetapi cabang Mizuho yang kurang diminati para petualang ini selalu mengalami kekurangan personel sepanjang tahun. 

Dalam hal tidak adanya monster yang terlalu kuat, tempat ini mirip dengan Kekaisaran, tetapi Mizuho bisa mendadak sangat sibuk akibat seringnya terjadi bencana alam. 

Bagi para petualang, ini adalah lingkungan yang paling buruk. 

Oleh karena itu, hanya sedikit orang yang mau menjadi petualang di Mizuho atas keinginannya sendiri. Karena jumlah petualang sedikit, populasi monster pun tidak pernah berkurang. Itulah sebabnya, sekali monster mengamuk, dampaknya akan menjadi sangat besar. 

Saat ini, masalah tersebut tampak makin mencolok. 

“Penyihir Perak Pemusnah... Kenapa petualang peringkat SS Kekaisaran bisa ada di sini...?” 

“Kamu tidak tahu? Ada permintaan dari Putri Pertapa.” 

“Aku tahu, tapi itu ‘kan baru beberapa hari yang lalu...? Jangan-jangan kamu berpindah tempat dengan sihir dari Kekaisaran...?” 

“Memangnya ada cara lain untuk datang kemari?” 

“Ada kapal, kereta kuda, dan banyak cara lain! Jangan bicara seolah sihir teleportasi itu hal yang lumrah!” 

Sieg menyela perkataanku. 

Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakannya memang benar. 

Tanpa sadar aku menyetujui selaannya di dalam hati.

Walau tentu saja tidak kulingkari lewat kata-kata. 

“Lalu? Apa kalian butuh bantuan?” 

“J-Jika kamu mau membantu, kami akan sangat terbantu.” 

“Bagaimana situasinya?” 

“Sejak beberapa hari lalu terjadi gempa bumi kecil yang beruntun, dan gara-gara itu para monster mulai mengamuk. Kami sudah mengerahkan petualang ke berbagai penjuru, tapi hanya gerombolan monster di wilayah timur yang belum tersentuh.” 

“Baiklah. Kalau begitu, biar kukesampingkan mereka.”

“Sekadar memberitahu, cabang kami tidak punya uang untuk menyewamu.” 

“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan pekerjaan yang pantas diberi bayaran.” 

Tidak ada monster kuat di Mizuho. 

Apalagi mereka tidak sedang melakukan migrasi besar-besaran seperti gelombang tsunami di masa lalu. 

Mereka hanya panik dan mengamuk karena kaget oleh gempa bumi. 

Tidak perlu sampai melangkah dari tempat ini. 

Aku mengentakkan kaki ke lantai, lalu membentangkan penghalang berskala luas ke arah timur. 

Setelah menangkap keberadaan gerombolan monster yang terjerat penghalang itu, aku langsung melemparkan peluru-peluru sihir hitam ke arah mereka. 

Di udara, peluru-peluru sihir hitam itu terpecah menjadi tidak terhitung jumlahnya, lalu menyiram gerombolan monster itu bagaikan hujan deras. 

Suara ledakan pun terdengar samar-samar dari kejauhan. 

Hawa keberadaan gerombolan monster itu telah lenyap, dengan ini harusnya sudah selesai. 

“Gerombolan monster sudah kuhancurkan. Sisa monster yang terpisah silakan kalian basmi sendiri.” 

“Mustahil... Tanpa melangkah satu tapak pun...” 

“Dulu aku pernah dengar dia menyapu bersih gelombang tsunami monster, tapi... melihatnya langsung begini benar-benar...” 

“Dia beneran manusia...?” 

Para anggota cabang Mizuho yang tidak terbiasa dengan sihirku tampak merinding melihat tindakanku. 

Aku bisa memahami reaksi mereka. 

Ketika aku mulai beraktivitas di Kekaisaran dulu, reaksinya kurang lebih juga seperti ini. 

“Hei, hei, yang tadi itu aman, ‘kan? Tidak ada orang yang ikut terlibat, ‘kan?” 

“Tenang saja. Aku sudah memastikannya sebelum menembakkannya.” 

“Sihir teleportasi jarak jauh, penghalang pelacak, lalu serangan dengan peluru sihir. Kamu bahkan tidak kelihatan lelah sedikit pun, seberapa banyak sih pasokan sihirmu itu?” 

Aku tidak menjawab pertanyaan Sieg. 

Sehebat apa pun aku, berpindah dari pusat benua ke ujung timur tentu saja melelahkan. 

Namun, saat ini aku memiliki Cincin Suci. 

Berkat benda ini, aku bisa menggunakan sihir tanpa perlu cemas. 

Dulu aku sering pusing memikirkan cara menghemat energi sihir, jadi hilangnya kecemasan semacam itu adalah hal yang patut disyukuri. 

“Nah, kalau begitu kurasa sapaannya sudah cukup, ‘kan? Aku ada di Mizuho. Tolong catat hal itu sebagai tugas cabang Guild Petualang.” 

“B-Baiklah... Lalu, berapa lama Anda berencana berada di sini?” 

“Entahlah. Tanya saja pada Putri Pertapa.” 

Setelah berkata demikian, aku berbalik arah. 

Tujuanku adalah kastel yang terlihat jauh di sana. 

Di situlah Orihime berada.


* * *


Sosok yang menyambutku saat mendatangi kastel adalah seorang pria tua dari suku manusia harimau. 

“Saya Kotetsu, menteri dari Negara Pertapa Mizuho.” 

“Aku Silver, petualang peringkat SS. Aku datang karena menerima permintaan dari Putri Pertapa.” 

“Saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan Anda yang sangat cepat. Kalau begitu, mari saya antarkan Anda ke hadapan Putri Pertapa.” 

Setelah berkata demikian, Kotetsu mulai melangkah. 

Aku berjalan mengikutinya dari belakang. 

Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda kami akan menaiki tangga. 

“Apakah jalannya sudah benar?” 

“Kediaman Putri Pertapa berada di belakang kastel. Tempat itu tidak terlihat dari sekeliling karena tertutup penghalang.” 

“Begitu. Maksudmu sebaiknya keberadaan sang dewa pelindung tidak diketahui orang luar, ‘kan?” 

Kastel yang megah ini hanya sebuah gertakan sambal. 

Orang-orang awam pasti mengira Putri Pertapa juga berada di sini. 

Padahal kediaman yang sebenarnya berada jauh di dalam sana. 

“Kastel ini digunakan oleh Raja dan para pejabat tinggi.” 

“Bahkan sang Raja pun dijadikan sarana untuk mengelabui keberadaan Putri Pertapa.” 

“Negara ini memang negara yang seperti ini. Apa pun urusannya tidak akan bisa dimulai tanpa kehadiran Putri Pertapa.” 

“Sangat janggal.” 

“Katakan saja sesuka Anda. Jika tidak janggal, kami tidak akan sanggup bertahan hidup.” 

Semuanya bergantung pada Putri Pertapa. 

Namun, bukan berarti mereka melakukannya karena suka. 

Mereka tidak punya pilihan lain jika ingin tetap bertahan hidup. Mereka menerima tekanan dari Kekaisaran Suci yang menjadi negara tetangga, ditambah lagi tanah mereka sering melahirkan bencana. 

Bisa hidup tenang dan damai adalah berkat dari Putri Pertapa. 

Aku merasa sedikit kasihan pada Orihime. 

Dia pasti akan terus dipaksa menjalani hidup yang terkekang di masa depan. 

Sifatnya yang polos dan ceria itu mungkin merupakan bentuk perlawanan terhadap lingkungan semacam ini. Setidaknya, melakukan hal yang bisa dilakukan secara bebas selagi bisa. 

“Tempatnya di sini.” 

Setelah melintasi koridor yang panjang, ada sebuah pintu besar. 

Saat Kotetsu membentuk segel khusus, pintu itu terbuka secara otomatis. 

Dan di baliknya, terdapat sebuah pintu yang lebih kecil. 

Kotetsu mendekati pintu itu lalu bersuara. 

“Putri Pertapa. Saya telah membawa Tuan Silver.” 

“Ooh! Cepat sekali! Masuklah!” 

Dari dalam terdengar suara energik seperti biasanya. 

Begitu pintu terbuka, Orihime tampak sedang bersantai di dalamnya. 

“Selamat datang, Silver. Topengmu itu juga masih tampak muram seperti biasa, aku jadi lega.” 

“Kamu juga tidak berubah, Putri Pertapa.” 

Melihat Orihime yang mengulas senyum polos, kekuatanku rasanya seperti terkuras habis. 

Dipanggil olehnya seharusnya menandakan adanya urusan yang cukup krusial, tetapi Orihime tetap santai dengan ritmenya sendiri seperti biasa. 

“Nah, kita berdua ‘kan tidak sedang senggang. Mari kita langsung ke inti urusannya. Kotetsu.” 

“Baik. Yang ingin kami minta dari Tuan Silver adalah penyelamatan anak-anak yang telanjur masuk ke dalam hutan misterius yang dinamakan Hutan Senja.” 

“Hutan Senja, katamu?” 

Sieg yang berada di bahuku tanpa sadar bertanya balik. 

Melihat reaksinya yang seperti itu. 

“Itu tempat tujuanmu, ‘kan?” 

“Iya. Ngomong-ngomong, Silver, seberapa banyak hal yang sudah kamu dengar?” 

“Aku cuma diberitahu kalau ada orang yang punya urusan dengan hutan di Mizuho, jadi minta dibawakan sekalian. Putri Pertapa, ini surat rekomendasi dari Pangeran Arnold.” 

Sambil berkata demikian, aku menyerahkan surat itu kepada Orihime. 

Di dalamnya tertulis perkenalan tentang Sieg dan rincian singkat mengenai tujuannya. 

Aku juga menambahkan catatan agar menanyakan detailnya langsung pada orang yang bersangkutan. 

Sebab jika Sieg tidak ingin menceritakannya, sebaiknya hal itu tidak dipaksakan. Yah, kalau begitu kasusnya, tentu dia tidak bisa mengharapkan kerja sama dari Orihime. 

“Humm... Jadi kamu adalah beruang berbicara yang diceritakan oleh Arnold. Arnold menegaskan bahwa kamu tidak ada hubungannya dengan iblis, tapi apakah itu benar?” 

“Kalau klan Manusia Naga tidak dikategorikan sebagai iblis, tentu saja tidak.” 

“Klan Manusia Naga, katamu!? Kenapa nama ras legendaris itu bisa keluar!?” 

Kotetsu terkejut mendengar kata-kata Sieg. 

Pada akhirnya, Sieg menceritakan seluruh kronologi kejadian yang dialaminya kepada Orihime, Kotetsu, dan aku dalam wujud Silver. 

Setelah mendengar seluruh ceritanya, Orihime mengangguk sekali. 

“Baiklah, aku akan memercayaimu. Aku juga tidak akan sungkan untuk memberikan kerja sama secara maksimal.” 

“Seperti yang diharapkan dari Putri Pertapa. Jiwamu sungguh besar.” 

“Tidak perlu sungkan. Pujilah aku lebih banyak lagi!” 

Orihime membusungkan dadanya dengan bangga. 

Saat dia melakukannya, dadanya membal dengan sangat kentara. 

Sieg langsung terpaku menatap hal itu, tetapi aku segera mencengkeram Sieg dan mengempaskannya ke lantai. 

“Guaakh... Apa-apaan...” 

“Apa kamu tidak merasa bersalah?” 

“Kalau kamu sampai menyadarinya, artinya kamu juga melihatnya ‘kan... Dasar penyihir mesum! Beuaaghh!” 

Saat aku menginjak Sieg dengan kaki kanan, dia mengeluarkan suara seperti katak yang tergilas. 

Aku pun melanjutkan pembicaraan. 

“Kebetulan tujuan kita sama. Memasuki Hutan Senja dan melakukan kontak dengan klan Manusia Naga. Sieg adalah orang langka yang pernah kembali dari sana. Mari kita bergerak sambil saling berbagi informasi.” 

“Uhum. Kalau begitu, kuserahkan padamu!”


Bagian 8

Di saat Al berada di Mizuho sebagai Silver. 

Mia berada di Negara Bagian sebagai utusan khusus Kaisar. 

“Begitu ya... Paduka Kaisar benar-benar berniat untuk berperang melawan Kerajaan.” 

“Benar.” 

Setelah menyampaikan pembicaraan dari sang Kaisar kepada Marianne, Mia mengamati raut wajah Marianne. 

Kedatangan Mia terbilang sangat rahasia. 

Hanya segelintir orang di Negara Bagian yang mengetahuinya. 

Hal itu karena pesan awal telah dikirimkan terlebih dahulu ke pihak Negara Bagian. 

Pada titik itu, Marianne mungkin juga sudah mempersiapkan dirinya. 

Dia sama sekali tidak tampak terkejut mendengar penjelasan Mia. 

“...Paduka Kaisar berpesan, jika Anda tidak ingin terlibat, Anda tidak perlu ikut campur.” 

“Artinya ini murni bukan sebuah perintah. Namun, meskipun bukan perintah... ini adalah permohonan dari ayah mertuaku. Aku tidak mungkin menolaknya.” 

“Apakah Anda tidak memaksakan diri...?” 

Mia mengkhawatirkan keadaan Marianne. 

Sudah satu tahun berlalu sejak Negara Bagian bersatu di bawah kepemimpinan Raja Traugott. 

Itu artinya, baru satu tahun pula yang berlalu sejak invasi yang dilakukan oleh Kekaisaran. 

Hal itu memang tidak bisa dihindari. 

Jika dibiarkan begitu saja saat itu, pasti akan ada lebih banyak orang yang gugur. Mereka memilih masa depan negara daripada keluarga sendiri. 

Namun, terlepas dari apa pun pemikirannya, kenyataannya Marianne sendiri yang menarik masuk Kekaisaran. 

Tidak sedikit pihak yang menjulukinya sebagai pengkhianat. 

Di bawah kepemimpinan Raja Traugott, berbagai kecurangan terus dibasmi dan Negara Bagian mulai menjadi makmur, tetapi suara-suara sumbang itu tidak pernah hilang. 

Marianne tahu betul dari pengalamannya sendiri apa artinya terlibat dalam sebuah invasi. 

Jika Persatuan Kerajaan bergerak atas permohonannya, suara ratapan dari rakyat Kerajaan yang diterjang perang pasti akan sampai ke telinganya. 

“Memaksakan diri... Aku memang sedang memaksakan diri.” 

“Kalau begitu...” 

“Tetapi, aku adalah seorang Ratu. Belakangan ini saya baru menyadari bahwa memaksakan diri dan bersabar adalah bagian dari peranku.” 

“Sosok Ratu yang Anda gambarkan benar-benar berbanding terbalik dengan gambaran saya...” 

“Kata-kata apa pun yang dilemparkan kepadaku, aku harus tetap tersenyum dan melambaikan tangan kepada rakyat. Seberapa buruk pun perasaanku, aku harus tetap menyemangati orang-orang di sekitar. Negara Bagian berbeda dengan negara lain. Kekuasaan Raja masih lemah, dan berbagai kesulitan terus mendatangi secara beruntun. Aku adalah seorang Ratu. Aku harus menjadi simbol bagi orang-orang yang berjuang menghadapi kesulitan itu.” 

Setelah berkata demikian, Marianne tersenyum kecut. 

Walau berpikir demikian, dia merasa masih belum bisa menjalankannya dengan baik. 

Seorang Ratu perlu memainkan peran dari sosok ratu yang ideal. 

Dan makin ideal sosok sang Raja, standar bagi sosok ratu yang ideal itu pun akan menjadi makin tinggi. 

“Mia-san, apakah Negara Bagian sudah berubah?”

“Benar... Saya rasa sudah berubah.” 

Meski hanya melihat sekilas, kota tampak begitu hidup. 

Dulu, hanya para bangsawan yang mengulas senyum. 

Itu pun para bangsawan tersebut masih harus mengamati raut wajah bangsawan lain yang berkedudukan lebih tinggi dari mereka. 

Negara adalah milik Raja dan segelintir bangsawan, sementara yang lainnya hanya menikmati sisa-sisa kemurahan hati mereka. 

Rakyat menderita dalam kemiskinan, dan anak-anak selalu menangis karena kelaparan. 

Pengemis tidak pernah habis, dan banyak orang yang berpaling pada kejahatan demi bertahan hidup. 

Kota-kota dipenuhi anak yatim piatu dan jauh dari kata bergairah. Semua kota mengalami hal yang sama. 

Namun, sekarang kota terasa hidup. 

Pedagang dari negara lain berdatangan, dan semua orang melangkah maju dengan penuh vitalitas. 

Banyak toko bermunculan, dan suara gelak tawa yang gembira terdengar di mana-mana. 

Sebelum Traugott menjadi Raja. 

Rakyat Negara Bagian telah putus asa baik terhadap keluarga kerajaan maupun para bangsawan. 

Sebab mereka adalah sosok yang hanya tahu memeras sebanyak mungkin tanpa pernah memberikan apa pun. 

Namun, sekarang sudah berbeda. 

Di berbagai tempat terdengar suara yang memuji Raja Traugott. 

Itu bukanlah kata-kata manis di bibir saja. 

Suara-suara yang meluap itu berasal dari lubuk hati mereka yang terdalam. 

“Negara Bagian terus berubah. Mungkin kondisi sebelumnya yang tidak normal, dan kondisi inilah yang merupakan negara yang seharusya... Namun tetap saja, keadaannya makin membaik. Kendati demikian, hal ini tidak dicapai oleh kekuatan sendiri. Berkat bantuan besar dari Kekaisaran-lah Negara Bagian bisa membaik dengan sangat cepat.” 

“Anda menganggap hal ini sebagai balasan atas bantuan tersebut...?” 

Jika demikian, sebaiknya dihentikan saja. 

Mia berpikiran seperti itu. 

Bantuan dari Kekaisaran memang sangat disyukuri. 

Namun, sungguh aneh jika Marianne seorang diri yang harus memikul beban balas budi tersebut. 

Akan tetapi. 

“Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai sosok yang seagung itu. Kebaikan yang diterima dari Kekaisaran adalah sesuatu yang akan dibalas oleh Negara Bagian sedikit demi sedikit di masa depan. Namun, saat ini kami belum bisa membalasnya. Karena itulah, ada seseorang yang berjuang keras agar hal itu bisa terwujud. Sosok yang berada sangat dekat denganku. Demi orang itulah aku memaksakan diri.” 

“Ratu Marianne...” 

“Aku adalah istri dari Raja Traugott. Dalam sejarah Negara Bagian di masa depan, beliau pasti akan dikenang sebagai Raja terbaik sepanjang sejarah Negara Bagian. Sebagai Ratu yang berdiri di sampingnya, aku ingin menjadi sosok yang tidak memalukan. Disebut sebagai wanita licik yang menghasut Persatuan Kerajaan pun saya tidak peduli. Demi Negara Bagian, dan demi suamiku, permohonan kerja sama ini adalah sesuatu yang harus dan wajib aku terima. Tolong sampaikan kepada Paduka Kaisar, bahwa Marianne pasti akan memenangkan keikutsertaan Persatuan Kerajaan dalam perang ini.” 

Bagi Mia, citra Marianne yang ada di pikirannya adalah sosoknya sewaktu masih menjadi putri kerajaan. 

Namun, dia harus menyadari bahwa citra itu sudah lama berlalu. 

Meski wujud dan rupanya sama, Marianne yang sekarang bisa dibilang adalah sosok yang berbeda dari dirinya di masa putri kerajaan dulu. 

“...Anda sudah banyak berubah, Ratu Marianne.” 

“Sebab pernikahan bisa mengubah seseorang.” 

Melihat Marianne yang tersenyum manis, Mia tidak bisa tidak merasakan wibawa yang memancar dari dirinya.


* * *


Beberapa hari kemudian. 

Marianne berada di pelabuhan Negara Bagian. 

“Jangan terlalu memaksakan diri, ya? Hati-hati dengan mabuk laut, kalau lelah segeralah beristirahat. Lagipula tidak ada gunanya terlalu terburu-buru, ‘kan.” 

“Baik. Jangan khawatir.” 

Suaminya, Traugott, juga datang ke pelabuhan untuk mengantar keberangkatan Marianne. 

Saat Traugott mengetahui segalanya, kapal sudah disiapkan dan tidak ada cara lagi untuk menghentikannya. 

Amarahnya kala itu sungguh dahsyat, sampai-sampai tanpa sadar dia mengirimkan surat protes kepada ayahnya, Johannes. 

Dia bukan marah karena dirinya diabaikan, melainkan karena dia tidak suka istrinya dipaksa memikul tanggung jawab yang begitu berat. 

“Aku cemas... Cukup sampaikan saja urusannya secara garis besar. Jika kekuatan tempur terasa kurang, aku sendiri yang akan maju ke medan perang.” 

“Tidak bisa begitu. Lagipula bagi kamu pun, rasanya sulit untuk menggantikan posisi para Kesatria Naga, bukan?” 

“Mana ada begitu! Aku bahkan pernah mengalahkan Kesatria Naga! Jika memang diperlukan, aku sendiri yang akan memimpin garis depan dan memporak-porandakan pasukan Kerajaan! Seperti ini, lalu begini!” 

Sambil memperagakan gerakan mengayunkan pedang, Traugott berbicara dengan sangat serius. 

Namun, di dalam lubuk hatinya Traugott juga mengerti. 

Alasan Kekaisaran mengandalkan Persatuan Kerajaan adalah karena kekuatan tempur Negara Bagian masih belum bisa diandalkan. 

Selama pasukan Kekaisaran menyiapkan tentara dalam skala masif, pasukan yang setengah-setengah tidak akan bisa menjadi bala bantuan. 

“Aku tidak meragukan keberanian dan ketangguhanmu. Momen untuk menunjukkan ketangguhan itu adalah di kesempatan berikutnya. Paduka Kaisar memang menghendaki keberadaan Pasukan Kesatria Naga.” 

“Benar juga...” 

Melihat Marianne yang terkekeh pelan, Traugott menundukkan kepalanya. Sebab dia tahu betul bahwa apa pun yang dia katakan sekarang tidak akan bisa menghentikannya lagi. 

“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Mohon persiapkan perbekalan untuk pasukan Persatuan Kerajaan, ya.” 

“Baiklah. Ngomong-ngomong, seberapa besar kekuatan tempur yang ingin kamu bawa?” 

“Tentu saja... aku berniat membawa sang Raja Naga beserta seluruh Kesatria Naga-nya.” 

“Itu... jumlah yang lumayan banyak.” 

Meski membatin bahwa hal itu mustahil, Traugott menyunggingkan senyum samar. 

Sambil melambaikan tangan kepada Traugott, Marianne naik ke atas kapal. 

Dengan demikian, Marianne pun bertolak sebagai utusan menuju Persatuan Kerajaan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close