NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Mengatasi

Setelah meninggalkan ruang keluarga, aku bahkan merasa tidak sanggup lagi tetap berada di dalam markas garis depan. Tanpa kusadari, aku sudah berada di luar markas.


Hari sudah benar-benar gelap, dan kegelapan itu terasa seolah menggambarkan isi hatiku saat ini.


"Bahkan saat berada di dalam kereta menuju garis depan ini pun, perasaanku sudah sangat terpuruk..."


Kalau semua orang yang sekarang begitu baik kepadaku mengetahui bahwa aku hanyalah rakyat biasa, lalu mereka tidak mau lagi memperlakukanku seperti selama ini....


Hanya membayangkannya saja sudah jauh lebih menakutkan daripada rasa takut akan kematian.


"...Aku tahu kalau mereka bukan orang-orang seperti itu."


Aku tahu... tapi entah kenapa kata-kata yang diucapkan atasanku terus terngiang di dalam kepalaku.


"Di pasukan garis depan ini... hanya aku yang seorang rakyat biasa...."


Markas garis depan berbentuk menara yang tadi terasa begitu dekat. Sekarang rasanya begitu jauh, seolah aku hanya bisa memandanginya dari bawah.


"..."


Dadaku semakin sesak, hingga tanpa sadar aku mengalihkan pandangan dari markas garis depan──tepat saat itu.


"Fin-kun."


"Eh...!?"


Namaku dipanggil dari belakang.


Aku segera berbalik. Di sana berdiri seorang wanita berambut merah muda dengan aura yang begitu memikat... Norn-san.


"N-Norn-san...!? K-kenapa kamu ada di sini...?"


"Kenapa? Kalau melihat Fin-kun memasang wajah semurung itu, sebagai Onee-san aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja~"


Lalu dia melanjutkan.


"Lagi pula, dulu kita pernah berjanji akan mengobrol berdua, kan? Waktu itu Elena-chan menghalangi, tapi kupikir sekarang akhirnya bisa."


Karena itu....


"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kamu boleh curhat kepada Onee-san, lho?"


Sambil meletakkan tangan di dadanya, Norn-san mengatakan itu.


Dari sikap dan auranya, memang sulit untuk menyadarinya. Namun Norn-san benar-benar orang yang sangat baik, dan bahkan sekarang pun Norn-san masih mengkhawatirkanku.


...Tapi.


"Kenapa... Norn-san begitu baik kepadaku?"


"Kenapa? Karena Fin-kun ya Fin-kun."


Karena aku adalah diriku....


Benar. Karena aku adalah diriku... mungkin memang seharusnya aku tidak berada bersama mereka. Bahkan mungkin, demi negara ini lebih baik kalau aku mati saja....


Saat pikiran itu hampir muncul.


──Kalau Fin-kun menganggap aku dan semua orang berharga, jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu!


"...!"


Kata-kata yang pernah Elena-san ucapkan kepadaku melintas di benakku.


Kalau aku menganggap semua orang berharga... aku tidak boleh memikirkan hal seperti itu. Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh mengkhianati perasaanku yang menghargai mereka.


"...Norn-san."


"Ada apa?"


Suara Norn-san terdengar jauh lebih lembut daripada biasanya.


Karena itulah aku akhirnya mampu mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kukatakan.


"Sebenarnya... tidak seperti semua orang... aku bukan berasal dari keluarga bangsawan... melainkan rakyat biasa...."


Akhirnya aku mengatakannya.


Sekarang... apa yang dipikirkan Norn-san tentangku?


Apakah dia memandang rendah diriku seperti atasanku dahulu?


Atau bahkan tidak peduli sama sekali?


Takut. Aku takut.


Saat berbagai pikiran itu memenuhi kepalaku hanya dalam sekejap.


Norn-san, yang berdiri di depanku, menjawab dengan ekspresi yang sama seperti biasanya.


"Begitu ya~"


...Eh?


"Cuma... itu saja?"


Tanpa sadar aku bertanya begitu.


Norn-san justru terlihat bingung.


"Hm? Maksudmu cuma itu?"


"Maksudku... aku kira para bangsawan tidak terlalu memiliki kesan yang baik terhadap rakyat biasa...."


"Ah~ Memang di tempat lain mungkin begitu. Tapi di pasukan garis depan ini sama sekali tidak seperti itu."


"Benarkah...?"


"Iya. Kami semua termasuk perempuan bangsawan yang cukup unik karena memilih menjadi tentara, bahkan bertugas di garis depan. Jadi di sini tidak ada seorang pun yang peduli apakah seseorang bangsawan atau rakyat biasa~"


Lalu dia menambahkan.


"Justru kami tidak suka pria-pria yang merasa hebat hanya karena gelarnya. Aku juga begitu. Makanya tadi aku bilang, alasannya karena Fin-kun adalah Fin-kun."


Setelah mengatakan itu, tanpa peringatan Norn-san mengangkat tangannya ke arahku.


"Pesona."


Dia mengaktifkan sihirnya. Namun seperti biasa, tidak terjadi perubahan apa pun padaku.


"...Norn-san?"


Aku memiringkan kepala karena tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba menggunakan sihir itu.


Norn-san tersenyum senang.


"Maaf ya tiba-tiba? Aku tahu hasilnya akan selalu sama, tapi setiap kali sadar kalau ada seorang laki-laki di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh sihir pesonaku, aku jadi senang.... Tahukah kamu? Itu benar-benar hal yang luar biasa. Menurutmu kenapa luar biasa?"


"Itu karena... selain aku, belum pernah ada laki-laki lain yang kebal terhadap sihir pesonamu?"


"Itu memang benar, tapi itu hanya hasil akhirnya. Yang menurutku luar biasa adalah bagian yang lebih mendasarnya."


"Bagian yang mendasar...."


"Iya, bagian yang mendasar. Fin-kun tidak terpengaruh oleh sihir pesonaku karena kamu memandangku hanya sebagai seorang manusia, tanpa sedikit pun pikiran yang menyimpang.... Fakta bahwa hanya Fin-kun yang kebal hanyalah hasil akhirnya."


Dengan kata lain.


"Yang ingin kukatakan adalah, Fin-kun adalah anak laki-laki yang benar-benar melihat seseorang apa adanya. Jadi kamu tidak perlu terpengaruh oleh hal-hal yang tidak penting seperti bangsawan atau rakyat biasa."


Hal yang tidak penting....


Benar. Kalau dipikir-pikir, sampai belum lama ini aku sendiri hampir tidak pernah memedulikan apakah seseorang bangsawan atau rakyat biasa.


Tentu saja aku menghormati para bangsawan. Tapi aku juga menghormati rakyat biasa dengan cara yang sama.


Onee-chan yang sangat baik kepadaku sebelum aku masuk Akademi Sihir berasal dari keluarga Duke. Di akademi maupun markas besar militer juga ada beberapa bangsawan yang akrab denganku, tetapi tidak seorang pun pernah memandang rendah diriku. Bahkan aku merasa kami memiliki hubungan yang baik.


Kalau begitu, kenapa aku sampai memikirkan hal seperti ini?


Alasannya jelas. Karena belum lama ini atasanku mengatakan berbagai hal kepadaku. Namun ternyata itu sama sekali tidak perlu kupikirkan.


"...Kalau begitu."


Aku memaksakan suaraku keluar.


"Kalau begitu... bolehkah aku tetap... bersama kalian semua mulai sekarang...?"


Tanpa sadar aku menanyakannya.


Norn-san tersenyum kecil.


"Sebelum aku menjawabnya, Onee-san ingin mendengar jawaban Fin-kun dulu~"


"Jawabanku...?"


"Iya. Sebenarnya, apa yang kamu inginkan?"


Apakah aku ingin tetap bersama semua orang.


Pertanyaan itu bahkan tidak perlu kupikirkan.


Jawabannya hanya satu.


"Aku──"


Saat hendak menjawab.


"!?..."


Norn-san dengan lembut menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.


"Lanjutannya nanti saja, setelah kita kembali ke ruang keluarga, ya?"


...Benar juga.


Keinginanku untuk tetap bersama mereka bukanlah sesuatu yang seharusnya kusampaikan di tempat ini. Aku harus mengatakannya di hadapan mereka semua.


"Baik."


Saat aku mengangguk dengan tekad yang telah bulat, Norn-san melanjutkan.


"Kalau begitu, ayo kita kembali ke ruang keluarga bersama."


"Iya. ...Ah, sebelum itu, boleh aku mengatakan satu hal?"


"Hm? Apa itu~?"


Bukan sesuatu yang harus kusampaikan sekarang juga. Hanya saja ada sesuatu yang tiba-tiba terpikirkan, jadi aku mengatakannya.


"Mungkin karena sekarang bukan sedang bertempur... tapi kekuatan sihir Norn-san terasa hangat. Aku sangat menyukainya."


"...!"


"Suka... kekuatan sihirku...."


Mendengar kata-kataku, pipi Norn-san langsung memerah.


Setelah itu, kami berdua menaiki tangga spiral menuju markas garis depan dan kembali ke ruang keluarga.


"Fin-kun!!"


"Teraword-kun!!"


"Tera-kun!!"


Begitu melihatku kembali, semua orang langsung berdiri dari tempat duduk mereka untuk menyambutku. Bahkan dipimpin oleh Elena-san, mereka segera berlari menghampiriku.


"Fin-kun! Tadi kamu tiba-tiba lari. Kamu tidak apa-apa?"


"Kondisimu baik-baik saja?"


"Apa ada yang terasa sakit?"


"A-aku baik-baik saja! Maaf sudah membuat semua orang khawatir...."


"Kalau Fin-kun baik-baik saja, itu sudah yang paling penting!"


"Benar sekali!"


"Meskipun Norn-senpai menyuruh kami menunggu, kami benar-benar gelisah ingin mengejarmu. Syukurlah kamu kembali dengan selamat~!!"


Setelah itu pun, semua orang terus mengucapkan kata-kata hangat kepadaku. Di hadapan mereka semua, tidak ada lagi sedikit pun keraguan di dalam diriku.


Dengan tekad yang telah bulat, aku membuka mulut dan berkata.


"Semuanya... sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada kalian."


"Fin-kun... ingin mengatakan sesuatu kepada kami?"


"Iya."


Aku mengangguk kepada Elena-san yang memiringkan kepala dengan bingung.


Sampai beberapa saat yang lalu, hanya memikirkan hal ini saja sudah membuatku ketakutan.


Aku bahkan tidak sanggup lagi berada di tempat yang sama dengan mereka, hingga akhirnya melarikan diri dari ruang keluarga....


Tapi sekarang.


"Sebenarnya aku...."


──Kau hanyalah penghalang.


Tolong... diamlah.


"Aku berbeda dengan kalian semua. Aku bukan berasal dari keluarga bangsawan, melainkan rakyat biasa."


──Kalau seorang rakyat biasa berada di posisi seperti itu, kami para bangsawan akan kehilangan harga diri.


Orang-orang yang kukenal bukanlah orang-orang yang berpikir seperti itu.


"Tadi aku terlalu memikirkan hal itu. Aku terus bertanya-tanya apakah aku pantas berada di tempat yang sama dengan kalian, dan tanpa sadar aku malah berlari keluar...."


──Jangan membenciku, ya? Itu sudah diputuskan melalui suara terbanyak para petinggi....


Aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. 


Apa pun pendapat para petinggi tentang diriku, orang-orang yang ingin selalu bersamaku adalah...!


"Aku tetap ingin terus bersama kalian semua! Jadi... tolong izinkan aku untuk tetap bersama kalian mulai sekarang dan seterusnya!"


Itulah perasaanku yang sesungguhnya saat ini.


Itulah harapan yang benar-benar datang dari lubuk hatiku.


Setelah menundukkan kepala dan menyampaikan semuanya. Semua orang yang sejak tadi mendengarkanku dengan tenang serempak menjawab.


"Tentu saja!"


"Sudah pasti!"


"Asal usulmu itu sama sekali tidak penting!"


"Benar! Kami juga ingin terus bersama Teraword-kun!"


"Malah kalau Tera-kun pergi, aku benar-benar tidak sanggup...!"


"Serius. Aku sudah tidak bisa membayangkan hidup tanpa Teraword-kun...."


"Ngomong-ngomong... sebelum bertemu Tera-kun kita memang hidup tanpa dia, kan...? Dulu kita hidup bagaimana ya...?"


"Pokoknya! Kami juga ingin terus bersama Teraword-kun!"


"Iya! Jadi, mulai sekarang juga mohon tetap bersama kami!"


"Semuanya...!"


Saat aku mengangkat kembali kepalaku, yang kulihat adalah wajah-wajah ceria mereka.


Wajah-wajah orang yang ingin terus bersamaku.


Wajah-wajah orang yang ingin terus berada di sisiku.


Melihat mereka membuat hatiku dipenuhi kehangatan. Kemudian Elena-san melangkah hingga berdiri tepat di depanku.


"Fin-kun. Dulu, saat aku hampir melanggar janjiku denganmu dan mulai bertanya-tanya apakah aku masih pantas berada di sisimu, kamu pernah mengatakan sesuatu kepadaku, kan? ‘Justru akulah yang ingin memohon! Tolong tetaplah bersamaku selamanya mulai sekarang!!’"


Lalu dia melanjutkan.


"Kali ini biarkan aku yang mengatakannya──"


Elena-san menggenggam kedua tanganku dengan lembut, seolah membungkusnya.


Dengan senyum hangat dia berkata.


"Justru akulah yang ingin terus bersama Fin-kun! Jadi, seperti janji kita waktu itu, mulai sekarang dan selamanya mari kita tetap bersama, ya!!"


"Iya...! Elena-san...!"


Aku menjawab dengan suara yang bergetar karena rasa bahagia. Kemudian Sefia-san menghampiriku.


"Orang yang membuatku ingin mewariskan ilmu pedang yang selama ini paling berharga bagiku tidak lain adalah Fin-san, seseorang yang memiliki hati paling baik di antara siapa pun.... Karena itu, mulai sekarang juga, sebagai sesama rekan satu pasukan yang saling peduli, aku mohon kerja samanya."


Sefia-san mengatakannya dengan senyum yang begitu lembut.


"Sefia-san...! Justru aku yang berharap bisa terus bersamamu mulai sekarang!"


Elena-san dan Sefia-san. Saat aku merasakan dengan kuat kehangatan hati dari mereka berdua──


"Fin-kun, jangan-jangan kamu lupa sama Onee-san, ya?"


Suara itu terdengar dari belakangku. Detik berikutnya, jarak kami langsung menyusut.


Norn-san membisikkan kata-kata itu tepat di dekat telingaku.


"Aku juga ingin terus bersama Fin-kun. Kalau nanti ada masalah apa pun, kamu boleh selalu curhat kepada Onee-san. Jadi, mari kita terus bersama, ya."


"Norn-san... terima kasih banyak!"


"Kamu tidak perlu berterima kasih.... Ah, soal 'apa pun' tadi, benar-benar apa pun boleh, misalnya soal pu—"


"Aku tidak tahu mau bilang apa, tapi pasti bukan hal yang benar! Jadi jangan lanjutkan!"


"Kalau belum didengar, mana tahu~. Jadi aku lanjut ya, misalnya soal da—"


"Baru sampai situ saja sudah jelas itu bukan hal yang benar! Mulai sekarang dilarang buka mulut lagi!!"


Tanpa kusadari, suasana kembali seperti biasanya.


Di tengah suasana itu, aku melihat meja makan di sudut pandangku lalu berkata.


"Ngomong-ngomong, kita tadi belum selesai makan, ya...! Makananku masih ada?"


"Iya! Tentu saja masih ada! Lihat, di sana!"


Elena-san menunjuk ke tempat duduk yang tadi kutinggalkan.


Di atas meja masih terhidang makananku yang belum sempat kuhabiskan. Tentu saja aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.


Aku kembali duduk bersama semua orang, lalu melanjutkan makan malam kami.


Demi bisa terus bersama mereka semua.


Demi mereka.


Apa pun akan kulakukan….


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close