Interlude 3
Berharap dan
Merindukan, Mengulurkan Tangan
Pegunungan
barat Tsukinose diselimuti warna merah senja.
Di area
halaman kuil, yang telah disapu bersih oleh Saki sebagai bagian dari tugas
hariannya, bayangannya yang memanjang tampak menari-nari.
Itu adalah
latihan untuk tarian kagura.
Biasanya,
tempat ini bukan area untuk berlatih, namun dengan semakin dekatnya hari
pementasan, tubuhnya bergerak secara naluriah.
Sapu bambu
yang bersandar di aula utama tampak mengawasi keseriusannya.
Gerakannya
yang mengalir dan anggun benar-benar layak dipersembahkan kepada para dewa.
Terlihat
jelas betapa besar usaha yang telah Saki curahkan dalam pelatihannya.
Sebuah doa
kepada para dewa.
Seperti
yang tercermin dari ekspresinya yang serius, ia menari dengan membawa doa dan
harapan yang didedikasikan kepada dewa-dewa yang dilayaninya.
—Semoga ibu
Hime-chan lekas membaik.
Itulah
harapan tulus dari Saki.
Sahabat
baik sekaligus orang yang sangat ia sayangi harus pindah karena rumah sakit
tempat ibu mereka dirawat dipindahkan.
Mungkin,
jika ibu mereka sembuh, mereka bisa kembali ke Tsukinose—harapan itu diselipkan
ke dalam latihannya, menyulut semangatnya.
"Hm…?"
Pada saat
itu, ponsel Saki yang diletakkan di anak tangga aula utama bergetar dengan
banyak notifikasi, berbenturan pelan dengan sapu di sebelah kirinya.
Mengintip
ke layar, mata Saki berbinar cerah dengan ucapan "Waa!" penuh
kegembiraan.
"Lihat,
lihat! Luar biasa, cantik banget! Manisan Jepang! Ikan koki! Matcha! Banyak
banget, ada taman, buah semangka, sampai bak air!"
"Wah,
Hime-chan, apa ini, keren banget~!"
Himeko
telah membagikan serangkaian foto manisan Jepang yang indah dan berwarna-warni.
Manisan
kingyoku berbentuk ikan koki yang tampak berenang di dalam tangki, daifuku
dengan buah semangka atau mangga, serta rakugan yang dicetak menyerupai
bunga-bunga musim seperti hydrangea.
Semuanya
tampak sangat menyenangkan untuk dilihat, memicu rasa antusias.
Benar saja,
Himeko, yang pasti melihatnya secara langsung, tampak begitu gembira tak
terkendali.
"Kami
pergi ke toko manisan tradisional untuk merayakan selesainya ujian! Ini semua
disajikan bersama satu set matcha seharga 500 yen! Pantesan saja antrenya
panjang banget, ya!?"
"Apa,
Hime-chan, kamu ikut mengantre!? Hebat banget, kamu sekarang sudah jadi wanita
kota yang canggih..."
"Rasanya
aku jadi punya pengalaman hidup selama musim panas. Hm, tapi mungkin nggak
seheboh yang aku bayangkan juga sih..."
"Ugh,
aku iri banget. Di Tsukinose, manisan yang kita punya cuma kusa-mochi..."
"Iya,
iya, yang dibuat dari yomogi petikan sekitar sini dan kacang merah dari desa,
kan?"
Di
Tsukinose, manisan identik dengan kusa-mochi.
Saki
teringat saat-saat membuat kue itu di acara berkumpul warga desa pada musim
semi.
Merebus
satu panci penuh daun yomogi liar yang dipetik di sekitar, mencampurnya dengan
tepung shiratama di dalam lesung, lalu membentuknya satu per satu—proses
melelahkan yang sangat ia ingat.
(Kalau
dipikir-pikir, waktu itu Onii-san bekerja keras membuat kusa-mochi bersama para
bibi di desa...)
Kenangan
itu meninggalkan sedikit rasa penyesalan di hati Saki.
Dulu, ia
sama sekali tidak membayangkan mereka akan pindah rumah.
"Nanti,
Saki-chan, kalau aku pulang ke Tsukinose, aku akan membawakan beberapa manisan
itu sebagai oleh-oleh."
"! Waa, aku tidak
sabar! Tolong bawakan kingyoku mangkuk ikan koki ya, Hime-chan!"
"Andai
saja aku bisa membawa matchanya juga. Keseimbangan antara rasa manis manisan
dan pahitnya matcha itu pas banget!"
"Ugh,
aku jadi semakin tidak sabar~"
Saki
menggelengkan kepala pelan lalu kembali fokus pada obrolan.
Mereka
langsung tenggelam dalam percakapan yang hidup, merasa tetap terhubung meskipun
terpisahkan jarak—bukti persahabatan mereka yang panjang dan tak tergantikan.
"Oh,
tapi untuk oleh-oleh manisan itu, mungkin aku harus minta tolong Onii saja yang
membelikannya. Karena dia bekerja di sana, siapa tahu dia bisa dapat diskon
karyawan."
Namun,
sahabat karib satu ini terkadang lupa menceritakan hal-hal penting.
Seperti
kepindahan mereka, dan sekarang hal ini.
"K-Kerja!?
Tunggu, Onii-san bekerja!?"
"Iya,
iya, mengejutkan, kan? Nih, lihat."
"!?"
Himeko
mengunggah foto Hayato saat sedang bekerja.
Jantung
Saki berdegup kencang.
Mengenakan
jinbei, ikat kepala segitiga, dan apron—tampilan khas tradisional Jepang, ia
tampak sibuk berjalan membawa nampan sambil tersenyum ramah.
Itu adalah
sosok Hayato yang sama, yang dulu hanya bisa ia amati dari kejauhan di
Tsukinose.
"Haha,
um, Onii-san benar-benar tampak sangat cocok bekerja di sana."
"Yah,
Onii kan sudah sering melakukan pekerjaan serupa di jamuan desa sejak dulu. Oh,
dan bukan cuma dia saja yang bekerja di sana, lihat ini!"
"!?"
Saki
kembali menarik napas tertahan.
Kali ini,
giliran foto Haruki yang muncul.
Seragam
yaba-hakama bergaya Taisho modern dan apron melekat sempurna, memancarkan aura
anggun Haruki.
Rambutnya
yang diikat ekor kuda berayun saat ia melayani pelanggan, memberikan kesan
aktif—pesona yang berbeda dari biasanya.
Ia begitu
imut hingga membuat orang-orang mungkin akan datang ke toko hanya demi dilayani
olehnya.
Saki
menghela napas gelisah, matanya melebar dan bergetar.
Di latar
belakang foto Haruki, ia melihat sosok Hayato.
Mungkin itu
sekadar kebetulan ia ikut masuk ke dalam tangkapan kamera.
Namun
rasanya hal itu sudah ditakdirkan.
Mereka
bekerja berdampingan di tempat yang sama.
(Aku… aku
dulu hanya bisa melihat dari kejauhan...)
Hatinya
terasa perih.
Ia merasa
sangat cembiri.
Secara
pribadi, Saki tidak memiliki perasaan buruk terhadap Haruki, meskipun ada
sedikit rasa persaingan di antara mereka.
Melalui
grup obrolan mereka, keduanya berkembang menjadi semakin akrab dengan cepat.
Ia
sebenarnya menyukai sosok Haruki yang asli.
Namun
ketika menyangkut Hayato, situasinya menjadi berbeda.
Belakangan
ini, hal-hal kecil terus menumpuk, mengaduk-aduk isi hatinya.
Kendati
demikian, justru karena alasan itulah keinginan Saki untuk bertemu langsung
dengan Haruki dan berbicara dari hati ke hati semakin menguat.
"Wah!
Kapan kamu ambil foto itu!? Hime-chan, jangan-jangan kamu ya!?"
Ikon peri
dengan nama "†Haruki†" muncul di layar.
Rupanya,
Haruki telah bergabung dalam obrolan.
Begitu
melihat fotonya sendiri, ia langsung meluapkan keluhan: "Ternyata jauh
lebih melelahkan dari yang kubayangkan, capek banget."
"Kakiku
rasanya seperti terbuat dari kayu karena berdiri terus, dan punggungku
sakit!"
"Seragamnya
memang imut, tapi bagian lengan bajunya mengganggu banget pas
bersih-bersih!"
Himeko dan
bahkan Saki membalas dengan tawa canggung "haha".
Topik
pembicaraannya kali ini seputar pekerjaan alih-alih hobi game atau figurin
Haruki seperti biasanya, tetapi suasananya tetap terasa akrab seperti
obrolan-obrolan santai mereka belakangan ini.
…Sesekali,
Haruki mengomel tentang Hayato yang membantunya bekerja, hal yang terasa
menggemaskan sekaligus sedikit membuat iri, membuat Saki merasa gemas sendiri
pada perasaannya.
"Jadi,
Haru-chan, di sana ada diskon karyawan atau semacamnya nggak? Aku lagi mikirin
oleh-oleh buat Saki-chan pas kami pulang nanti ke Tsukinose."
"Hm,
aku kurang tahu sih. Oh, kalian mau pulang ke Tsukinose pas liburan musim panas
ya… Kalau begitu sepertinya aku bakal fokus kerja saja?"
"…Hah?"
Saki
mengeluarkan suara aneh.
Ia mengira
Haruki akan ikut pulang bersama Hayato dan Himeko.
Ia
menganggap hal itu sebagai sesuatu yang pasti.
Namun jika
dipikirkan dengan tenang, mengingat masa lalu keluarga Nikaidou di Tsukinose,
jawaban Haruki terdengar masuk akal.
"Begitu
ya, Haru-chan..."
"Haha,
aku kan tidak punya tempat untuk pulang, kan? Oh ya, Saki-chan, bagaimana
kondisi rumah kakekku sekarang?"
"! Uh, begitulah,
karena sudah lama dibiarkan kosong, jadi, um, banyak angin masuk, lumayan adem
buat ditinggali pas musim panas..."
"Iya
sih, aku sudah menduganya..."
Semua orang
di Tsukinose mengetahui hal ini.
Haruki
Nikaidou tidak memiliki tempat untuk pulang.
Dan ia
tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa jika seandainya ia kembali.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau menginap di tempatku saja? Kuil kami keleluasaan besar,
punya banyak kamar kosong kok."
Saki
mengetik kalimat itu secara refleks.
Itu adalah
alasan yang sangat pribadi, tanpa terlalu mempertimbangkan situasi rumit yang
dialami Haruki.
Murni
didasari sifat egoisnya—keinginannya sendiri—namun ia tidak bisa menahan diri
untuk tidak mengatakannya.
"Tidak,
tapi aku—"
"Aku
ingin bertemu denganmu, Haruki-san."
"—Hah..."
Ada begitu
banyak hal yang ingin ia bicarakan, ingin ia sampaikan.
Perasaannya…
meskipun itu hanya keegoisannya semata.
"Haha,
aku juga ingin bertemu denganmu, Saki-chan. Akan aku pertimbangkan secara
positif."
"Ya,
tolong dipikirkan ya."
Meskipun
menyadari hal itu, Saki tetap tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya.
◇◇◇
"Tsukinose,
ya..."
Gumam
Haruki melebur ke dalam kamar Hayato, sementara ponselnya digenggam erat di
tangan.
Perasaannya
begitu rumit.
Tentu saja,
Saki pasti merasakan hal yang sama terhadap dirinya.
Namun,
ajakan yang diberikan oleh Saki terasa begitu tulus dan menyenangkan di balik
keterkejutannya.
"Saki-chan
benar-benar..."
Ia berpikir
dalam hati, sungguh gadis yang baik.
Dari
obrolan-obrolan akhir-akhir ini, Saki sangat disayangi oleh warga desa dan
sering digoda mengenai kedekatannya dengan Hayato.
Faktanya,
mereka memang pasangan yang serasi.
Grup
obrolan belakangan ini memperjelas hal tersebut.
Namun
membayangkannya justru membuat hatinya terasa nyeri karena suatu alasan.
Ia teringat
kembali masa-masa lalunya di Tsukinose.
—Sungguh
hal merepotkan yang mereka lemparkan kepada kita.
—Entah
darah kotor apa saja yang bercampur di dalam dirimu.
—Kamu
adalah anak Mao, jadi kami akan merawatmu, tapi kamu bukanlah cucu kandung
kami.
Ia
mengingat perlakuan kasar yang diterimanya dari kakek dan neneknya.
"‘Kembalikan
apa yang kamu pinjam,’ ya..."
Itulah
kalimat mantra yang selalu diucapkan oleh kakek, nenek, dan ibunya dulu.
Itulah
sebabnya ia tidak masalah menciptakan "utang budi" kepada Hayato,
tetapi mati-matian menghindari kata "meminjam".
Sambil
mengerutkan kening, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
Sebuah
tempat tidur pipa besi, meja belajar sistem baja, serta rak penyimpanan
multiguna yang berfungsi ganda sebagai rak buku.
Ruangan
bernuansa putih, biru, dan abu-abu itu sangat mencerminkan kamar seorang anak
laki-laki SMA.
Tas
olahraganya di salah satu sudut menyatu dengan pemandangan ruangan itu tanpa
terasa janggal.
"…Mungkin
lain kali aku selipkan pakaian dalamku di sini juga ya."
Menyadari
betapa pasnya ia berada di sana, Haruki bergumam dengan ekspresi yang melembut,
meski alisnya tetap berkerut tipis.
◇◇◇
"Ugh..."
Kembali ke
ruang keluarga, Haruki melihat Hayato sedang berada di dapur, bersidekap sambil
mendesah pelan.
Di
hadapannya terbentang satu blok daging bahu babi seberat satu kilogram.
Potongan
daging lokal seharga 88 yen per 100 gram dengan potongan setengah harga—sebuah
penawaran menarik yang mustahil dilewatkan.
"Hayato,
sudah memutuskan mau masak apa?"
"…Masih
mikir. Batas tanggal kedaluwarsa nya juga sudah dekat."
"Ini
daging diskon cuci gudang, kan? Hmm, mungkin tonkatsu… tapi menggorengnya bakal
bikin repot."
"Tonteki
sebenarnya boleh juga, tapi kita harus menghabiskan stok sayuran di kulkas
sekalian."
"Haha,
kita habis panen sayuran melimpah setelah ujian beres, kan?"
Menghadapi
daging yang dibeli secara impulsif itu, mereka saling bertukar pandang lalu
tersenyum masam.
Itu adalah
ekspresi yang sama persis seperti saat mereka jatuh ke sungai sewaktu bermain
dulu, tidak sengaja merusak pintu kuil, atau membuat ayam-ayam kabur karena
lupa menutup pagar.
Selalu
seperti itu.
Sesuatu
yang tadinya mereka pikir akan terus berlanjut selamanya.
"Baiklah,
tidak ada gunanya terlalu lama berpikir. Mari kita potong sebagian untuk dibuat
tonteki."
"…Ah."
"…!…Haruki?"
Itu adalah
tindakan refleks.
Haruki
meraih tangan Hayato saat pemuda itu hendak mulai melangkah.
"…Um,
yah."
"Hah?"
Tidak ada
alasan khusus.
Jika
didesak, mungkin ia hanya ingin menyentuhnya.
Namun ia
tidak mungkin mengatakan hal itu secara terus terang, membuat wajahnya merona
merah selagi ia mati-matian mencari alasan lain.
"Minestrone!"
"…Hah?"
"Um,
hidangan dengan banyak sayuran musim panas, direkomendasikan oleh
Minamo-chan."
"Oh…
aku belum pernah membuatnya."
"Nggak
apa-apa, aku pernah membuatnya bersama Minamo-chan sebelumnya."
"Kapan
itu terjadi?"
"Waktu
masa ujian kemarin, sedikit. Jadi, Hayato, tolong urusi bagian tonteki-nya
ya."
"Mengerti."
Haruki
berbicara lebih cepat dari yang ia sadari.
Hayato
tidak mempermasalahkannya atau meledeknya.
Mereka
berdiri berdampingan di dapur, mulai menyiapkan masakan.
Minestrone
adalah hidangan yang sederhana namun memakan waktu.
Panaskan
minyak zaitun di dalam panci, masukkan bawang putih cincang untuk meresapkan
aromanya ke dalam minyak.
Masukkan
bawang bombay, wortel, dan seledri, tumis perlahan agar tidak gosong.
Setelah
sayuran aromatik tersebut melunak, masukkan terong, zucchini, dan tomat hasil
panen kebun, lalu didihkan bersama kaldu bubuk dan daun salam.
Namun
semuanya harus dipotong kecil-kecil, dan mengaduknya dengan spatula kayu
membutuhkan kesabaran.
Cukup
melelahkan untuk pergelangan tangan.
Sementara
itu, proses pembuatan tonteki tergolong lebih mudah.
Potong
daging sesuai ukuran yang diinginkan, bumbui dengan garam dan merica.
Siapkan
saus dari campuran kecap asin, mirin, gula, saus tiram, parutan jahe, dan
bawang putih.
Hayato,
yang menyelesaikan irisan kubis dengan cepat, beralih membantu Haruki memotong
sayuran.
"Tinggal
direbus sebentar lagi dan beres. Makasih ya, Hayato, kamu benar-benar
penyelamat."
"Bukan
apa-apa. Kalau begitu aku mulai memasak dagingnya."
Hayato
memanaskan wajan, menuangkan sedikit minyak, lalu meletakkan daging tersebut,
menciptakan suara mendesis menggugah selera yang memenuhi udara.
Setelah
kedua sisinya matang kecokelatan, ia menuangkan saus, menutup wajan, lalu
mengukusnya sebentar.
Momen
tersebut menciptakan jeda singkat, meski wajannya tetap harus diawasi.
Di tengah
jeda tak terduga itu, Haruki dengan nada bicara santainya membagikan isi
pikirannya kepada Hayato.
"Hei,
kira-kira boleh nggak ya kalau aku pergi ke Tsukinose?"
Ekspresi
Hayato langsung mengeras.
Itu adalah
pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
"…Aku
tidak tahu."
"Haha,
benar juga ya? Aku dengar kakek pergi seolah-olah kabur di tengah malam."
"Yah,
kalau kamu pergi, sepertinya semua orang bakal penasaran dan terus bertanya
macam-macam."
"Mereka
pasti tetap bertanya meskipun aku sama sekali nggak tahu apa-apa."
"…Beberapa
orang bahkan akan bertanya meskipun mereka tahu yang sebenarnya."
"Haha,
sepertinya begitu."
Saat ini,
rumah kakek Haruki dalam keadaan kosong.
Tidak
dirawat selama lima tahun, bangunan itu telah jatuh dalam kondisi terbengkalai.
Semua orang
di Tsukinose mengetahui cerita di balik rumah itu.
"Saki-chan
bilang dia ingin menemuiku. Kalau aku datang bersamamu dan Hime-chan, katanya
aku bisa menginap di tempatnya."
"Terdengar
bagus… Tempat tinggal di kuil, yah, terasa menanggung rasa aman. Keluarga kuil,
termasuk Murao-san, tidak akan mengatakan hal-hal aneh."
"Iya,
aku senang mendengarnya, tapi aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa
untuk menghadapi mereka..."
"Haruki..."
Itu adalah
topik yang berat.
Tepat pada
saat itu, penanak nasi berbunyi nyaring, menandakan proses memasaknya telah
selesai.
"Baiklah,
mari kita siapkan piring untuk nasi dan menata makanannya."
"Oke."
Percakapan
itu terhenti begitu saja.
Namun tidak
apa-apa.
Bagi
Haruki, obrolan itu ibarat meluapkan unek-unek di dadanya.
Bagaimanapun
juga tidak ada jawaban yang pasti, dan didengar saja sudah cukup meringankan
suasana hatinya.
Ia kembali
menyibukkan diri menata piring.
"Oh…
Hayato, mangkuk mana yang cocok buat minestrone?"
"Tidak
ada yang pas? …Paling darurat, mangkuk sup miso juga tidak apa-apa."
"Haha,
aneh banget rasanya."
"Dan
juga, Haruki."
"Ya?"
"Aku
tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain, tapi… aku akan sangat senang kalau
bisa pergi ke Tsukinose bersamamu."
Hayato
mengucapkan kalimat itu dari balik bahunya, sambil meratakan nasi di dalam
panci menggunakan sendok nasi.
Haruki
membeku di tempat.
Ia tidak
mampu menggerakkan tubuhnya.
Kata-kata
santai pemuda itu tenggelam ke dalam dadanya, mengaduk-aduk perasaannya dengan
kuat.
"…Paham."
Haruki
menunduk, menggumamkan jawaban pelan.
Ia butuh
sedikit waktu sebelum sanggup menatap wajah pemuda itu lagi.
◇◇◇
"Onii,
Haru-chan! Sumpah ya, bekerja di tempat itu tadi, aku benar-benar kaget
banget!"
Saat makan
malam tiba, Himeko mengerucutkan bibirnya sambil mengeluh dengan nada kesal.
Rupanya,
teman-temannya punya banyak hal untuk dibicarakan tadi.
Namun
selama jam kerja mereka, Hayato dan Haruki sempat melihat Himeko yang begitu
asyik memperhatikan menu makanan atau melirik manisan meja lain, sementara
Kazuki diberondong pertanyaan oleh teman-teman sekelasnya.
Itulah
Himeko—sebagian besar perhatiannya pasti tersita oleh urusan makanan.
Jadi Hayato
dan Haruki hanya bisa saling bertukar pandang lalu tersenyum masam.
Begitu
Himeko melahap suapan makan malamnya, pipinya yang menggembung langsung
mengendur karena kenikmatan.
"Wah,
hidangan mirip sup miso ini enak banget! Rasanya lebih seperti sedang mengunyah
makanan daripada minum sup!"
"Haha,
Hime-chan, itu namanya minestrone. Sup sayuran khas Italia."
"Hah?
Oh, iya, minestrone, kan! Aku tahu kok! …Tapi kenapa pakai mangkuk sup miso?
Onii, kamu ini sebenarnya bodoh atau nggak punya selera estetik sih?"
"…Kita
kan nggak punya mangkuk yang lebih layak."
Meski
melontarkan keluhan, ia jelas sangat menyukai rasanya.
Menu utama
malam ini adalah tonteki dengan saus jahe bawang putih yang manis gurih serta
minestrone kaya umami dari sayuran musim panas yang diberi sentuhan kesegaran
tomat.
Rasa
tonteki yang kuat diimbangi dengan irisan kubis segar, berpadu sempurna saat
disantap bersama nasi.
Merasa
kelaparan setelah melewati jam kerja yang panjang, sumpit Hayato dan Haruki
bergerak dengan antusias.
"Oh,
iya."
"Ada
apa, Himeko?"
Di tengah
ketiganya menikmati makan malam, Himeko mendadak membuka suara dengan nada
terdengar bingung, alisnya berkerut.
"Jadi,
soal kolam renang, teman-teman sekelasku bilang aku harus ikut pergi
juga."
"…Bukan
karena mereka ingin ketemu Kazuki atau semacamnya, kan?"
"Entahlah…
kenapa ya, ya?"
Mereka
saling bertukar pandang sambil memiringkan kepala.
Tujuan
sebenarnya dari teman-teman Himeko itu masih menjadi misteri.
Dengan mata
yang berbinar terang, Himeko berseru, "Aku harus beli baju renang
baru."



Post a Comment