NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 3 Interlude III

Interlude 3

Berharap dan Merindukan, Mengulurkan Tangan


Pegunungan barat Tsukinose diselimuti warna merah senja.

Di area halaman kuil, yang telah disapu bersih oleh Saki sebagai bagian dari tugas hariannya, bayangannya yang memanjang tampak menari-nari.

Itu adalah latihan untuk tarian kagura.

Biasanya, tempat ini bukan area untuk berlatih, namun dengan semakin dekatnya hari pementasan, tubuhnya bergerak secara naluriah.

Sapu bambu yang bersandar di aula utama tampak mengawasi keseriusannya.

Gerakannya yang mengalir dan anggun benar-benar layak dipersembahkan kepada para dewa.

Terlihat jelas betapa besar usaha yang telah Saki curahkan dalam pelatihannya.

Sebuah doa kepada para dewa.

Seperti yang tercermin dari ekspresinya yang serius, ia menari dengan membawa doa dan harapan yang didedikasikan kepada dewa-dewa yang dilayaninya.

—Semoga ibu Hime-chan lekas membaik.

Itulah harapan tulus dari Saki.

Sahabat baik sekaligus orang yang sangat ia sayangi harus pindah karena rumah sakit tempat ibu mereka dirawat dipindahkan.

Mungkin, jika ibu mereka sembuh, mereka bisa kembali ke Tsukinose—harapan itu diselipkan ke dalam latihannya, menyulut semangatnya.

"Hm…?"

Pada saat itu, ponsel Saki yang diletakkan di anak tangga aula utama bergetar dengan banyak notifikasi, berbenturan pelan dengan sapu di sebelah kirinya.

Mengintip ke layar, mata Saki berbinar cerah dengan ucapan "Waa!" penuh kegembiraan.

"Lihat, lihat! Luar biasa, cantik banget! Manisan Jepang! Ikan koki! Matcha! Banyak banget, ada taman, buah semangka, sampai bak air!"

"Wah, Hime-chan, apa ini, keren banget~!"

Himeko telah membagikan serangkaian foto manisan Jepang yang indah dan berwarna-warni.

Manisan kingyoku berbentuk ikan koki yang tampak berenang di dalam tangki, daifuku dengan buah semangka atau mangga, serta rakugan yang dicetak menyerupai bunga-bunga musim seperti hydrangea.

Semuanya tampak sangat menyenangkan untuk dilihat, memicu rasa antusias.

Benar saja, Himeko, yang pasti melihatnya secara langsung, tampak begitu gembira tak terkendali.

"Kami pergi ke toko manisan tradisional untuk merayakan selesainya ujian! Ini semua disajikan bersama satu set matcha seharga 500 yen! Pantesan saja antrenya panjang banget, ya!?"

"Apa, Hime-chan, kamu ikut mengantre!? Hebat banget, kamu sekarang sudah jadi wanita kota yang canggih..."

"Rasanya aku jadi punya pengalaman hidup selama musim panas. Hm, tapi mungkin nggak seheboh yang aku bayangkan juga sih..."

"Ugh, aku iri banget. Di Tsukinose, manisan yang kita punya cuma kusa-mochi..."

"Iya, iya, yang dibuat dari yomogi petikan sekitar sini dan kacang merah dari desa, kan?"

Di Tsukinose, manisan identik dengan kusa-mochi.

Saki teringat saat-saat membuat kue itu di acara berkumpul warga desa pada musim semi.

Merebus satu panci penuh daun yomogi liar yang dipetik di sekitar, mencampurnya dengan tepung shiratama di dalam lesung, lalu membentuknya satu per satu—proses melelahkan yang sangat ia ingat.

(Kalau dipikir-pikir, waktu itu Onii-san bekerja keras membuat kusa-mochi bersama para bibi di desa...)

Kenangan itu meninggalkan sedikit rasa penyesalan di hati Saki.

Dulu, ia sama sekali tidak membayangkan mereka akan pindah rumah.

"Nanti, Saki-chan, kalau aku pulang ke Tsukinose, aku akan membawakan beberapa manisan itu sebagai oleh-oleh."

" Waa, aku tidak sabar! Tolong bawakan kingyoku mangkuk ikan koki ya, Hime-chan!"

"Andai saja aku bisa membawa matchanya juga. Keseimbangan antara rasa manis manisan dan pahitnya matcha itu pas banget!"

"Ugh, aku jadi semakin tidak sabar~"

Saki menggelengkan kepala pelan lalu kembali fokus pada obrolan.

Mereka langsung tenggelam dalam percakapan yang hidup, merasa tetap terhubung meskipun terpisahkan jarak—bukti persahabatan mereka yang panjang dan tak tergantikan.

"Oh, tapi untuk oleh-oleh manisan itu, mungkin aku harus minta tolong Onii saja yang membelikannya. Karena dia bekerja di sana, siapa tahu dia bisa dapat diskon karyawan."

Namun, sahabat karib satu ini terkadang lupa menceritakan hal-hal penting.

Seperti kepindahan mereka, dan sekarang hal ini.

"K-Kerja!? Tunggu, Onii-san bekerja!?"

"Iya, iya, mengejutkan, kan? Nih, lihat."

"?"

Himeko mengunggah foto Hayato saat sedang bekerja.

Jantung Saki berdegup kencang.

Mengenakan jinbei, ikat kepala segitiga, dan apron—tampilan khas tradisional Jepang, ia tampak sibuk berjalan membawa nampan sambil tersenyum ramah.

Itu adalah sosok Hayato yang sama, yang dulu hanya bisa ia amati dari kejauhan di Tsukinose.

"Haha, um, Onii-san benar-benar tampak sangat cocok bekerja di sana."

"Yah, Onii kan sudah sering melakukan pekerjaan serupa di jamuan desa sejak dulu. Oh, dan bukan cuma dia saja yang bekerja di sana, lihat ini!"

"?"

Saki kembali menarik napas tertahan.

Kali ini, giliran foto Haruki yang muncul.

Seragam yaba-hakama bergaya Taisho modern dan apron melekat sempurna, memancarkan aura anggun Haruki.

Rambutnya yang diikat ekor kuda berayun saat ia melayani pelanggan, memberikan kesan aktif—pesona yang berbeda dari biasanya.

Ia begitu imut hingga membuat orang-orang mungkin akan datang ke toko hanya demi dilayani olehnya.

Saki menghela napas gelisah, matanya melebar dan bergetar.

Di latar belakang foto Haruki, ia melihat sosok Hayato.

Mungkin itu sekadar kebetulan ia ikut masuk ke dalam tangkapan kamera.

Namun rasanya hal itu sudah ditakdirkan.

Mereka bekerja berdampingan di tempat yang sama.

(Aku… aku dulu hanya bisa melihat dari kejauhan...)

Hatinya terasa perih.

Ia merasa sangat cembiri.

Secara pribadi, Saki tidak memiliki perasaan buruk terhadap Haruki, meskipun ada sedikit rasa persaingan di antara mereka.

Melalui grup obrolan mereka, keduanya berkembang menjadi semakin akrab dengan cepat.

Ia sebenarnya menyukai sosok Haruki yang asli.

Namun ketika menyangkut Hayato, situasinya menjadi berbeda.

Belakangan ini, hal-hal kecil terus menumpuk, mengaduk-aduk isi hatinya.

Kendati demikian, justru karena alasan itulah keinginan Saki untuk bertemu langsung dengan Haruki dan berbicara dari hati ke hati semakin menguat.

"Wah! Kapan kamu ambil foto itu!? Hime-chan, jangan-jangan kamu ya!?"

Ikon peri dengan nama "†Haruki†" muncul di layar.

Rupanya, Haruki telah bergabung dalam obrolan.

Begitu melihat fotonya sendiri, ia langsung meluapkan keluhan: "Ternyata jauh lebih melelahkan dari yang kubayangkan, capek banget."

"Kakiku rasanya seperti terbuat dari kayu karena berdiri terus, dan punggungku sakit!"

"Seragamnya memang imut, tapi bagian lengan bajunya mengganggu banget pas bersih-bersih!"

Himeko dan bahkan Saki membalas dengan tawa canggung "haha".

Topik pembicaraannya kali ini seputar pekerjaan alih-alih hobi game atau figurin Haruki seperti biasanya, tetapi suasananya tetap terasa akrab seperti obrolan-obrolan santai mereka belakangan ini.

…Sesekali, Haruki mengomel tentang Hayato yang membantunya bekerja, hal yang terasa menggemaskan sekaligus sedikit membuat iri, membuat Saki merasa gemas sendiri pada perasaannya.

"Jadi, Haru-chan, di sana ada diskon karyawan atau semacamnya nggak? Aku lagi mikirin oleh-oleh buat Saki-chan pas kami pulang nanti ke Tsukinose."

"Hm, aku kurang tahu sih. Oh, kalian mau pulang ke Tsukinose pas liburan musim panas ya… Kalau begitu sepertinya aku bakal fokus kerja saja?"

"…Hah?"

Saki mengeluarkan suara aneh.

Ia mengira Haruki akan ikut pulang bersama Hayato dan Himeko.

Ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang pasti.

Namun jika dipikirkan dengan tenang, mengingat masa lalu keluarga Nikaidou di Tsukinose, jawaban Haruki terdengar masuk akal.

"Begitu ya, Haru-chan..."

"Haha, aku kan tidak punya tempat untuk pulang, kan? Oh ya, Saki-chan, bagaimana kondisi rumah kakekku sekarang?"

" Uh, begitulah, karena sudah lama dibiarkan kosong, jadi, um, banyak angin masuk, lumayan adem buat ditinggali pas musim panas..."

"Iya sih, aku sudah menduganya..."

Semua orang di Tsukinose mengetahui hal ini.

Haruki Nikaidou tidak memiliki tempat untuk pulang.

Dan ia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa jika seandainya ia kembali.

"Kalau begitu, bagaimana kalau menginap di tempatku saja? Kuil kami keleluasaan besar, punya banyak kamar kosong kok."

Saki mengetik kalimat itu secara refleks.

Itu adalah alasan yang sangat pribadi, tanpa terlalu mempertimbangkan situasi rumit yang dialami Haruki.

Murni didasari sifat egoisnya—keinginannya sendiri—namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.

"Tidak, tapi aku—"

"Aku ingin bertemu denganmu, Haruki-san."

"—Hah..."

Ada begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan, ingin ia sampaikan.

Perasaannya… meskipun itu hanya keegoisannya semata.

"Haha, aku juga ingin bertemu denganmu, Saki-chan. Akan aku pertimbangkan secara positif."

"Ya, tolong dipikirkan ya."

Meskipun menyadari hal itu, Saki tetap tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya.

◇◇◇

"Tsukinose, ya..."

Gumam Haruki melebur ke dalam kamar Hayato, sementara ponselnya digenggam erat di tangan.

Perasaannya begitu rumit.

Tentu saja, Saki pasti merasakan hal yang sama terhadap dirinya.

Namun, ajakan yang diberikan oleh Saki terasa begitu tulus dan menyenangkan di balik keterkejutannya.

"Saki-chan benar-benar..."

Ia berpikir dalam hati, sungguh gadis yang baik.

Dari obrolan-obrolan akhir-akhir ini, Saki sangat disayangi oleh warga desa dan sering digoda mengenai kedekatannya dengan Hayato.

Faktanya, mereka memang pasangan yang serasi.

Grup obrolan belakangan ini memperjelas hal tersebut.

Namun membayangkannya justru membuat hatinya terasa nyeri karena suatu alasan.

Ia teringat kembali masa-masa lalunya di Tsukinose.

—Sungguh hal merepotkan yang mereka lemparkan kepada kita.

—Entah darah kotor apa saja yang bercampur di dalam dirimu.

—Kamu adalah anak Mao, jadi kami akan merawatmu, tapi kamu bukanlah cucu kandung kami.

Ia mengingat perlakuan kasar yang diterimanya dari kakek dan neneknya.

"‘Kembalikan apa yang kamu pinjam,’ ya..."

Itulah kalimat mantra yang selalu diucapkan oleh kakek, nenek, dan ibunya dulu.

Itulah sebabnya ia tidak masalah menciptakan "utang budi" kepada Hayato, tetapi mati-matian menghindari kata "meminjam".

Sambil mengerutkan kening, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.

Sebuah tempat tidur pipa besi, meja belajar sistem baja, serta rak penyimpanan multiguna yang berfungsi ganda sebagai rak buku.

Ruangan bernuansa putih, biru, dan abu-abu itu sangat mencerminkan kamar seorang anak laki-laki SMA.

Tas olahraganya di salah satu sudut menyatu dengan pemandangan ruangan itu tanpa terasa janggal.

"…Mungkin lain kali aku selipkan pakaian dalamku di sini juga ya."

Menyadari betapa pasnya ia berada di sana, Haruki bergumam dengan ekspresi yang melembut, meski alisnya tetap berkerut tipis.

◇◇◇

"Ugh..."

Kembali ke ruang keluarga, Haruki melihat Hayato sedang berada di dapur, bersidekap sambil mendesah pelan.

Di hadapannya terbentang satu blok daging bahu babi seberat satu kilogram.

Potongan daging lokal seharga 88 yen per 100 gram dengan potongan setengah harga—sebuah penawaran menarik yang mustahil dilewatkan.

"Hayato, sudah memutuskan mau masak apa?"

"…Masih mikir. Batas tanggal kedaluwarsa nya juga sudah dekat."

"Ini daging diskon cuci gudang, kan? Hmm, mungkin tonkatsu… tapi menggorengnya bakal bikin repot."

"Tonteki sebenarnya boleh juga, tapi kita harus menghabiskan stok sayuran di kulkas sekalian."

"Haha, kita habis panen sayuran melimpah setelah ujian beres, kan?"

Menghadapi daging yang dibeli secara impulsif itu, mereka saling bertukar pandang lalu tersenyum masam.

Itu adalah ekspresi yang sama persis seperti saat mereka jatuh ke sungai sewaktu bermain dulu, tidak sengaja merusak pintu kuil, atau membuat ayam-ayam kabur karena lupa menutup pagar.

Selalu seperti itu.

Sesuatu yang tadinya mereka pikir akan terus berlanjut selamanya.

"Baiklah, tidak ada gunanya terlalu lama berpikir. Mari kita potong sebagian untuk dibuat tonteki."

"…Ah."

"…!…Haruki?"

Itu adalah tindakan refleks.

Haruki meraih tangan Hayato saat pemuda itu hendak mulai melangkah.

"…Um, yah."

"Hah?"

Tidak ada alasan khusus.

Jika didesak, mungkin ia hanya ingin menyentuhnya.

Namun ia tidak mungkin mengatakan hal itu secara terus terang, membuat wajahnya merona merah selagi ia mati-matian mencari alasan lain.

"Minestrone!"

"…Hah?"

"Um, hidangan dengan banyak sayuran musim panas, direkomendasikan oleh Minamo-chan."

"Oh… aku belum pernah membuatnya."

"Nggak apa-apa, aku pernah membuatnya bersama Minamo-chan sebelumnya."

"Kapan itu terjadi?"

"Waktu masa ujian kemarin, sedikit. Jadi, Hayato, tolong urusi bagian tonteki-nya ya."

"Mengerti."

Haruki berbicara lebih cepat dari yang ia sadari.

Hayato tidak mempermasalahkannya atau meledeknya.

Mereka berdiri berdampingan di dapur, mulai menyiapkan masakan.

Minestrone adalah hidangan yang sederhana namun memakan waktu.

Panaskan minyak zaitun di dalam panci, masukkan bawang putih cincang untuk meresapkan aromanya ke dalam minyak.

Masukkan bawang bombay, wortel, dan seledri, tumis perlahan agar tidak gosong.

Setelah sayuran aromatik tersebut melunak, masukkan terong, zucchini, dan tomat hasil panen kebun, lalu didihkan bersama kaldu bubuk dan daun salam.

Namun semuanya harus dipotong kecil-kecil, dan mengaduknya dengan spatula kayu membutuhkan kesabaran.

Cukup melelahkan untuk pergelangan tangan.

Sementara itu, proses pembuatan tonteki tergolong lebih mudah.

Potong daging sesuai ukuran yang diinginkan, bumbui dengan garam dan merica.

Siapkan saus dari campuran kecap asin, mirin, gula, saus tiram, parutan jahe, dan bawang putih.

Hayato, yang menyelesaikan irisan kubis dengan cepat, beralih membantu Haruki memotong sayuran.

"Tinggal direbus sebentar lagi dan beres. Makasih ya, Hayato, kamu benar-benar penyelamat."

"Bukan apa-apa. Kalau begitu aku mulai memasak dagingnya."

Hayato memanaskan wajan, menuangkan sedikit minyak, lalu meletakkan daging tersebut, menciptakan suara mendesis menggugah selera yang memenuhi udara.

Setelah kedua sisinya matang kecokelatan, ia menuangkan saus, menutup wajan, lalu mengukusnya sebentar.

Momen tersebut menciptakan jeda singkat, meski wajannya tetap harus diawasi.

Di tengah jeda tak terduga itu, Haruki dengan nada bicara santainya membagikan isi pikirannya kepada Hayato.

"Hei, kira-kira boleh nggak ya kalau aku pergi ke Tsukinose?"

Ekspresi Hayato langsung mengeras.

Itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

"…Aku tidak tahu."

"Haha, benar juga ya? Aku dengar kakek pergi seolah-olah kabur di tengah malam."

"Yah, kalau kamu pergi, sepertinya semua orang bakal penasaran dan terus bertanya macam-macam."

"Mereka pasti tetap bertanya meskipun aku sama sekali nggak tahu apa-apa."

"…Beberapa orang bahkan akan bertanya meskipun mereka tahu yang sebenarnya."

"Haha, sepertinya begitu."

Saat ini, rumah kakek Haruki dalam keadaan kosong.

Tidak dirawat selama lima tahun, bangunan itu telah jatuh dalam kondisi terbengkalai.

Semua orang di Tsukinose mengetahui cerita di balik rumah itu.

"Saki-chan bilang dia ingin menemuiku. Kalau aku datang bersamamu dan Hime-chan, katanya aku bisa menginap di tempatnya."

"Terdengar bagus… Tempat tinggal di kuil, yah, terasa menanggung rasa aman. Keluarga kuil, termasuk Murao-san, tidak akan mengatakan hal-hal aneh."

"Iya, aku senang mendengarnya, tapi aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa untuk menghadapi mereka..."

"Haruki..."

Itu adalah topik yang berat.

Tepat pada saat itu, penanak nasi berbunyi nyaring, menandakan proses memasaknya telah selesai.

"Baiklah, mari kita siapkan piring untuk nasi dan menata makanannya."

"Oke."

Percakapan itu terhenti begitu saja.

Namun tidak apa-apa.

Bagi Haruki, obrolan itu ibarat meluapkan unek-unek di dadanya.

Bagaimanapun juga tidak ada jawaban yang pasti, dan didengar saja sudah cukup meringankan suasana hatinya.

Ia kembali menyibukkan diri menata piring.

"Oh… Hayato, mangkuk mana yang cocok buat minestrone?"

"Tidak ada yang pas? …Paling darurat, mangkuk sup miso juga tidak apa-apa."

"Haha, aneh banget rasanya."

"Dan juga, Haruki."

"Ya?"

"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain, tapi… aku akan sangat senang kalau bisa pergi ke Tsukinose bersamamu."

Hayato mengucapkan kalimat itu dari balik bahunya, sambil meratakan nasi di dalam panci menggunakan sendok nasi.

Haruki membeku di tempat.

Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya.

Kata-kata santai pemuda itu tenggelam ke dalam dadanya, mengaduk-aduk perasaannya dengan kuat.

"…Paham."

Haruki menunduk, menggumamkan jawaban pelan.

Ia butuh sedikit waktu sebelum sanggup menatap wajah pemuda itu lagi.

◇◇◇

"Onii, Haru-chan! Sumpah ya, bekerja di tempat itu tadi, aku benar-benar kaget banget!"

Saat makan malam tiba, Himeko mengerucutkan bibirnya sambil mengeluh dengan nada kesal.

Rupanya, teman-temannya punya banyak hal untuk dibicarakan tadi.

Namun selama jam kerja mereka, Hayato dan Haruki sempat melihat Himeko yang begitu asyik memperhatikan menu makanan atau melirik manisan meja lain, sementara Kazuki diberondong pertanyaan oleh teman-teman sekelasnya.

Itulah Himeko—sebagian besar perhatiannya pasti tersita oleh urusan makanan.

Jadi Hayato dan Haruki hanya bisa saling bertukar pandang lalu tersenyum masam.

Begitu Himeko melahap suapan makan malamnya, pipinya yang menggembung langsung mengendur karena kenikmatan.

"Wah, hidangan mirip sup miso ini enak banget! Rasanya lebih seperti sedang mengunyah makanan daripada minum sup!"

"Haha, Hime-chan, itu namanya minestrone. Sup sayuran khas Italia."

"Hah? Oh, iya, minestrone, kan! Aku tahu kok! …Tapi kenapa pakai mangkuk sup miso? Onii, kamu ini sebenarnya bodoh atau nggak punya selera estetik sih?"

"…Kita kan nggak punya mangkuk yang lebih layak."

Meski melontarkan keluhan, ia jelas sangat menyukai rasanya.

Menu utama malam ini adalah tonteki dengan saus jahe bawang putih yang manis gurih serta minestrone kaya umami dari sayuran musim panas yang diberi sentuhan kesegaran tomat.

Rasa tonteki yang kuat diimbangi dengan irisan kubis segar, berpadu sempurna saat disantap bersama nasi.

Merasa kelaparan setelah melewati jam kerja yang panjang, sumpit Hayato dan Haruki bergerak dengan antusias.

"Oh, iya."

"Ada apa, Himeko?"

Di tengah ketiganya menikmati makan malam, Himeko mendadak membuka suara dengan nada terdengar bingung, alisnya berkerut.

"Jadi, soal kolam renang, teman-teman sekelasku bilang aku harus ikut pergi juga."

"…Bukan karena mereka ingin ketemu Kazuki atau semacamnya, kan?"

"Entahlah… kenapa ya, ya?"

Mereka saling bertukar pandang sambil memiringkan kepala.

Tujuan sebenarnya dari teman-teman Himeko itu masih menjadi misteri.

Dengan mata yang berbinar terang, Himeko berseru, "Aku harus beli baju renang baru."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close