Chapter 4
Tidak Perlu Merasa
Repot Sama Sekali
Hari libur
musim panas yang terik.
Hari itu,
tidak seperti biasanya, Himeko bangun pagi-pagi sekali, dan Hayato sedang
diseret untuk melihat peragaan busana di ruang tamu.
"Onii,
bagaimana dengan yang ini?"
"Eh,
yah, bagus, kan?"
"Ugh,
kamu bilang hal yang sama sebelumnya!"
"Meskipun
kamu bilang begitu..."
Hayato
menjawab dengan nada lelah.
Di
depannya, Himeko berputar, mengenakan atasan dalam V-neck putih yang dipadukan
dengan gaun camisole biru muda.
Sebelum
itu, ia telah memamerkan kaus hitam ketat dengan celana pensil hitam, dan
sebelumnya lagi, atasan bahu terbuka berwarna putih yang memperlihatkan bahunya
secara luas, dipadukan dengan celana longgar.
Semuanya
memiliki gaya kasual yang rapi dan menonjolkan bentuk tubuh langsing Himeko,
memberikannya tampilan dewasa yang sangat cocok untuknya.
Jika ia
berjalan di jalanan, ia pasti akan menarik perhatian orang-orang yang lewat.
Namun bagi
Hayato, Himeko hanyalah adik perempuannya.
Semua
pakaian itu mengikuti tren yang serupa, dan ia tidak bisa menemukan banyak hal
untuk dikomentari.
Pada
putaran ketiga, tidak heran jika ia merasa jera.
"Ayolah,
Hime-chan, ini Hayato. Berharap dia mengatakan sesuatu yang cerdas itu sama
saja dengan meminta terlalu banyak."
"Muu,
benar juga. Namanya juga Onii."
"…Kalian
ini."
Kata
Haruki, tertawa kecil sambil memunculkan kepalanya dari arah lorong.
Sepertinya
ia telah berdiskusi panjang lebar mengenai pakaian bersama Himeko, namun jika
itu masalahnya, Hayato tidak bisa menahan diri untuk tidak menggerutu dalam
hati, "Kalau kalian berdua yang memilihnya, jangan tanya aku."
"Jadi,
Hayato, sebagai catatan, bagaimana penampilanku?"
Sekarang
giliran Haruki yang memamerkan penampilannya, menarik perhatian ke arahnya.
Ia
mengenakan kaus logo tembus pandang yang memperlihatkan dengan jelas tank top
hitam di dalamnya, dipadukan dengan sebuah topi.
Sekilas,
gaya itu mengingatkannya pada masa-masa boyish mereka di Tsukinose, namun di
bawahnya, ia mengenakan rok mini bertingkat yang manis dan berenda.
Ketidakseimbangan
yang aneh antara energi kekanak-kanakan dan kelucuan seorang gadis yang hidup
berdampingan entah bagaimana berhasil menonjolkan pesona unik Haruki.
Dan saat
Haruki berputar, rok pendeknya berkibar, memperlihatkan sekilas warna biru
pucat di pangkal pahanya—Hayato buru-buru memalingkan wajah.
"Eh,
yah, bagus, kan?"
Itu adalah
kalimat yang sama persis dengan yang ia gunakan untuk Himeko sebelumnya, tetapi
tidak seperti tadi, wajahnya memerah terang.
Entah ia
menyadarinya atau tidak, Haruki mengangkat bahu dan tersenyum masam.
"Lihat,
Hime-chan? Hayato itu seperti—"
"Tidak,
Haru-chan, kurasa reaksi Onii barusan itu karena dia melihat celana
dalammu."
"Mnya!?"
Namun
tatapan Himeko tampak tidak terkesan sama sekali.
Haruki
buru-buru merapikan ujung roknya dan menjatuhkan diri duduk di lantai.
"Meskipun
itu Onii, saat kamu memamerkan sesuatu yang begitu musim panas, menyegarkan,
dan imut seperti itu… tahu sendiri, kan?"
"…Tidak
ada komentar."
"Uuu~!"
Ketika
Haruki, dengan mata berkaca-kaca, melirik ekspresi mereka, ia melihat Himeko
yang tampak kesal dan Hayato yang menggaruk kepalanya dengan telinga yang
memerah.
Kepedulian
mereka justru semakin menambah rasa malu yang ia rasakan.
"Eh,
omong-omong, waktunya tidak masalah? Kamu ada janji ketemu dengan Isami,
kan?"
"B-Benar,
benar, itu benar! Kalau begitu, kami berangkat dulu!"
"Wah,
sudah lumayan siang. Ayo berangkat, Haru-chan."
"…Hati-hati
di jalan."
"“Baik!”"
Memanfaatkan
kesempatan dari Hayato, Haruki buru-buru meninggalkan rumah bersama Himeko.
Menyaksikan
punggung mereka yang mulai menjauh, Hayato melepaskan desahan berat yang
disengaja.
Tepat
setelah Haruki dan Himeko pergi, Hayato mulai membereskan pekerjaan rumah.
Melirik ke
arah jendela, matahari pertengahan musim panas bersinar dengan cemerlang.
Cuacanya
sangat bagus. Udara di luar mengisyaratkan hari yang akan menjadi sangat panas
dan menyesakkan.
Membersihkan
ruang tamu dan dapur, memilah sampah, serta mencuci pakaian.
Ada banyak
tugas yang harus diselesaikan, namun karena ia rutin mengerjakannya, semua itu
tidak memakan waktu lama, dan ia pun kembali ke kamarnya.
AC membuat
ruangan terasa sejuk dengan menyenangkan.
"…"
Meskipun
berada di dalam ruangan yang seharusnya nyaman, Hayato mengerutkan keningnya.
Penyebabnya
adalah pakaian wanita warna-warni yang berserakan di lantai.
Itu
sepertinya milik Haruki, dari saat ia memilih pakaian bersama Himeko tadi.
"…Ya
ampun, kenapa mereka harus ganti baju di kamarku?"
Bergumam
pada dirinya sendiri, Hayato melihat pakaian-pakaian yang berserakan, mengingat
ucapan Haruki beberapa hari lalu tentang tidak ingin mencampuradukkannya di
kamar Himeko.
Sambil
menghela napas dan menggaruk kepalanya, ia bergumam, "Setidaknya lipat
dulu," sembari memungut pakaian-pakaian itu.
Sebuah
blus, rok, dan camisole.
Dari desain
yang imut hingga yang elegan, dewasa, dan bahkan beberapa potongan pakaian yang
sedikit berani—tidak satupun dari benda-benda itu yang biasa dipakai oleh
seorang pria.
Namun tidak
sulit untuk membayangkan bahwa semuanya sangat cocok dikenakan oleh Haruki.
Sampai
belakangan ini, ia hanya memiliki pakaian-pakaian kuno—kata-kata itu sempat
melintas di tenggorokannya, tetapi menyadarinya, Hayato dengan paksa menelannya
kembali.
Kemudian,
bayangan tentang pekerjaan paruh waktu yang baru saja dimulai oleh Haruki
melintas di benaknya.
Meskipun ia
baru menjalani beberapa shift, ia sudah menjadi bintang di toko tersebut.
Bergerak
dengan penuh energi di lantai toko, melayani pelanggan dengan senyuman dan
efisiensi, ia berhasil memikat hati orang-orang dari segala usia dan jenis
kelamin.
Keramaian
harian di toko itu bukanlah sekadar imajinasinya atau karena liburan musim
panas.
"…Kalau
dipikir-pikir, Iori sempat bilang kalau makin banyak anak dari sekolah kita
yang datang demi Haruki."
Seragam
Okashitsukasa Shiro sudah terkenal di sekolah karena modelnya yang imut.
Dengan
hadirnya Haruki, sosok yang sudah dikenal luas di sekolah, bekerja di sana,
tidak heran jika rumor itu menyebar dengan cepat.
Dan apa
yang disaksikan oleh orang-orang bukanlah sosok Yamato Nadeshiko dari siswi
teladan di sekolah, melainkan penampilan Haruki sebagai pelayan toko yang unik
dan hanya bisa dilihat di tempat itu.
Ia sempat
merasa kalau pelanggan pria semakin bertambah akhir-akhir ini, dan itu
sepertinya memang benar.
Dari mulut
ke mulut rumor menyebar, dan para siswa yang mampir setelah kegiatan klub
selama liburan musim panas kemungkinan besar turut berkontribusi.
Mengingat
tatapan mata yang tertuju pada Haruki, dadanya bergemuruh dengan rasa tidak
nyaman.
Bayangan
penampilan Haruki sebelumnya tertanam kuat di dalam benaknya.
"Ya
ampun, jangan memakai pakaian yang begitu pendek sampai-sampai hampir
memperlihatkan semuanya. Bagaimana kalau—"
—Bagaimana
kalau orang lain melihatnya?
Dengan
pemikiran itu, bayangan Haruki belakangan ini melintas di kepalanya.
Gaun musim
panas yang rapi saat mereka pergi membelikan ponsel, gaya rambut dan pakaian
yang sengaja dibuat imut saat mereka pergi menonton bioskop, serta
penampilannya yang telaten sebagai pelayan di pekerjaan paruh waktunya.
Seiring
dengan berbagai bayangan tersebut, sosok tertentu muncul di benaknya.
Aktris
hebat, Taruka Mao.
Ibu Haruki.
Setelah
mendengar pengakuan rahasia itu, Hayato, yang merasa sedikit bersalah kepada
Haruki, sempat menonton beberapa drama dan video promosi film yang dibintangi
oleh Taruka Mao.
Benar
seperti reputasinya, ia memiliki daya pikat yang memukau dan mampu memerankan
berbagai macam karakter dengan kehadiran yang begitu kuat.
—Sama
persis seperti Haruki.
Menyadari
hal itu, ia menggaruk kepalanya seolah ingin menepis pemikiran tersebut.
Mengalihkan
pikirannya, ia memikirkan Haruki dan Himeko—namun kemudian menggelengkan kepala
dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
"Membeli
baju renang, ya..."
Hari ini,
Haruki, Himeko, dan Isami Ema pergi berbelanja baju renang.
Beberapa
hari lalu, Himeko bersikeras ingin pergi ke kolam renang, dan segala sesuatunya
berkembang dari sana.
Itu adalah
obrolan khusus para gadis, jadi ia sama sekali tidak tahu detailnya.
Tentu saja,
Hayato tidak pernah diharapkan untuk ikut bergabung, dan ia tidak bisa
memungkiri rasa sedikit tersisih.
Ia
berguling di atas tempat tidurnya.
Pandangannya
jatuh pada sebuah tas olahraga yang berada di sebelah meja belajar.
Tas itu
berisi pakaian kasual Haruki, tergeletak di sana seolah-olah sudah menjadi
tempatnya—membuat keningnya berkerut.
"Haruki
itu… seorang gadis, kan?"
Sebuah
suara bernada cemas namun menegaskan meluncur keluar dari mulutnya.
Rambutnya
yang panjang dan lembut, terasa nyaman saat disentuh, kulit putihnya yang halus
dan beraroma manis, serta tatapan penuh kepercayaan yang hanya ditunjukkan
kepadanya.
Dan
akhir-akhir ini, ekspresi malu-malu yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya,
perbedaan dari sosok "Haruki" yang dulu ia kenal.
Semua itu
mengaduk-ngaduk hatinya tanpa bisa dikendalikan.
Mengenakan
baju renang berarti mengekspos bagian-bagian itu kepada orang lain.
Di satu
sisi ada bagian dari dirinya yang ingin melihatnya, sementara di sisi lain—rasa
cemburu yang bersifat posesif—tidak ingin siapapun melihatnya.
Menelan
mentah-mentah perasaan campur aduk itu, ia menggaruk kepalanya untuk
mengalihkan perhatian.
Merasa
kewalahan dan terombang-ambing oleh emosinya sendiri.
"Argh,
sialan! …Hah?"
Merasa aneh
karena meluapkan rasa jengkelnya sendiri, ia merutuki dirinya sendiri, tepat
saat ponselnya yang berada di meja berdering menandakan panggilan masuk.
"Yo,
Hayato. Lagi ngapain? Santai, kan? Aku dicampakkan sama Ema hari ini, jadi kamu
juga bebas, kan?"
"Iori…
Jangan samakan aku dengan Haruki terus, tahu."
👤 "Nggak ada yang bilang soal
Nikaidou."
"…Tch."
Ia merasa
dikerjai.
Mengklik
lidahnya sebagai bentuk protes, ia mendengar tawa usil dari ujung sambungan.
Kalimat
Hayato berikutnya terlontar dengan nada kesal.
"Jadi,
ada apa?"
"Mau
cari makan siang atau semacamnya?"
"Makan
siang, ya..."
Ia tidak
terlalu tertarik.
Dengan
pengeluaran untuk kolam renang yang sudah di depan mata, Hayato, yang bisa
memasak, lebih memilih menghemat uang dengan menyiapkan makanannya sendiri.
Ia teringat
bahan-bahan makanan di kulkas yang hampir kadaluwarsa.
Memikirkan
alasan untuk menolaknya, ucapan Iori selanjutnya membuat tawarannya langsung
menarik perhatian.
"All-you-can-eat
yakiniku, 60 menit seharga 888 yen."
"Apa!?"
"Potongan
daging terbatas, tapi daging sapi, nasi, kimchi, kari, dan es krim, semuanya
bebas dimakan sepuasnya."
"Kembalian
dari seribu yen!?"
Lebih
tepatnya, kombinasi antara daging sapi, makan sepuasnya, dan harga 888 yen
adalah tawaran yang sangat menggoda.
Sebagai
seorang remaja laki-laki yang sedang dalam masa pertumbuhan, Hayato tentu tidak
terkecuali dari kecintaan pada daging.
Di
Tsukinose, yakiniku atau barbekyu berarti daging babi hutan atau rusa yang
tertangkap perangkap, dan terkadang daging luak.
Bagi
Hayato, yang mengidentifikasikan makan di luar dengan warung makan pinggir
jalan yang harganya terlalu mahal, kombinasi tiga hal yaitu yakiniku, makan
sepuasnya, dan 888 yen adalah tawaran yang sangat merusak iman.
Mulutnya
bahkan sudah mulai membayangkan kelezatan rasa daging tersebut.
"Untuk
lokasi dan waktu pertemuan—"
"B-Baiklah..."
Suaranya
yang sudah telanjur bersemangat dan tidak sabaran membuat Hayato tidak
menyadari Iori yang sedang terkekeh geli di ujung telepon sana.
"Tepat
seperti yang diprediksikan Kazuki."
Suasana
hatinya yang tadinya melambung tinggi langsung merosot mendengar nama itu,
membuat keningnya berkerut.
Bukannya ia
membenci Kazuki, namun ia juga tidak begitu menyukainya.
Ia memiliki
beberapa ganjalan tersendiri.
"Kazuki?
Maksudnya apa itu?"
"Dia
bilang kalau kita menawarkan hal itu ke kakaknya Himeko, kamu pasti bakal
langsung terpancing. Oh ya, Kazuki nanti bakal gabung setelah latihan klub
selesai. Sampai jumpa!"
"Hei,
apa maksudnya dengan kakak Himeko itu… Dia malah menutup teleponnya…
Sialan..."
Perasaan
yang sulit dijelaskan menyelimuti dirinya.
Bayangan
Himeko yang pemalas serta wajah Kazuki yang sulit ditebak dan selalu tersenyum
melintas di benaknya—ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan itu.
Melirik jam
di atas meja, waktu baru saja melewati pukul 10. Masih ada banyak waktu.
Pandangannya
beralih sejenak ke tas olahraga Haruki—terlihat imut, bahkan tanpa rasa bias
dari persahabatan masa kecil mereka.
Meraih
sehelai rambut poninya, keningnya kembali berkerut.
"…Di
mana pomade rambutnya?"
Dengan
wajah cemberut, mengingat bagaimana Himeko mengacak-acak rambutnya beberapa
hari lalu, Hayato melangkah menuju kamar mandi.
Tempat
pertemuannya adalah di depan stasiun kota, tempat yang pernah ia datangi
bersama Haruki dan Himeko sebelumnya, tetapi kali ini di pintu keluar bagian
barat, bukan bagian timur.
Tidak
seperti pintu keluar timur yang berpusat pada patung burung dengan fasilitas
karaoke, bioskop, dan toko-toko khusus hiburan, pintu keluar barat memiliki
lebih banyak gedung perkantoran dan restoran, memberikan nuansa yang berbeda
pada kota yang sama.
Pada jam
makan siang, aroma harum manis tercium dari lantai bawah tanah pusat
perbelanjaan, dan bau sedap menguar dari penjuru kota, menarik orang-orang
masuk ke dalam restoran.
Hayato
tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah.
Karena
tempat itu tidak biasa ia kunjungi, ia sempat khawatir akan kesulitan saat
bertemu, tetapi kekhawatiran itu ternyata tidak beralasan.
"…Apa
itu?"
Gumamnya
dengan mata terbelalak.
Tempat
pertemuannya sangat mudah ditemukan.
Lebih
tepatnya, ia langsung melihat salah satu orang yang akan menemuinya—Kazuki.
Postur
tubuhnya yang tinggi dan ramping serta wajahnya yang segar dan tampan
membuatnya tetap mencolok di tengah keramaian.
"Ayolah,
keren kan?"
"Nggak
mungkin, lagian aku sudah ada janji sama temen-temen."
"Kazukichi
punya teman? Pfft, apa-apaan itu, lucu banget!"
Tidak hanya
Kazuki yang ada di sana, tetapi seorang gadis berpenampilan mencolok sedang
mengobrol akrab dengannya, membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian.
Orang-orang
yang lewat juga tertarik melihat mereka, termasuk Hayato.
Ia
mengamati gadis yang sedang berbicara dengan Kazuki itu.
Usianya
tampak seumuran dengan mereka, atau mungkin sedikit lebih tua?
Langsing,
tinggi, dengan fitur wajah yang tegas dan memancarkan aura dewasa.
Rambut
panjangnya yang berwarna cerah ditata rapi ke atas, dan ia mengenakan atasan
crop top berwarna pink dengan celana pendek denim yang sangat minim,
memperlihatkan banyak bagian kulit dan memberikan kesan yang berani.
Berbanding
terbalik dengan Haruki, ia adalah tipe gadis dari kasta teratas di sekolah,
yang biasa disebut sebagai "gyaru" dari kelompok populer.
(…Bukan
tipeku.)
Ia tidak
bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening.
Di
Tsukinose, kamu tidak akan pernah melihat gadis tipe seperti ini, dan gaya
mereka terasa begitu unik.
Bahasa gaul
yang asing, cepat sekali membuat keributan, namun selera humor mereka sulit
untuk dipahami.
Menghadapi
orang-orang seperti itu benar-benar hal yang melelahkan bagi Hayato.
Gadis itu
tampak begitu akrab dengan Kazuki.
Ia terus
menyentuh Kazuki dengan santai, dan kata-kata yang diucapkannya begitu akrab.
Apakah
mereka saling mengenal?
Memeriksa
waktu di ponselnya, masih ada 15 menit tersisa sebelum waktu pertemuan.
(…Iori
belum datang. Nanti juga Kazuki bakal menghadapi cewek itu.)
Tidak ingin
terlibat lebih jauh, Hayato memutuskan untuk bersikap seperti orang asing dan
mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Sebagai
area depan stasiun, tempat itu sangat sibuk dipadati orang.
Jumlah
orang yang jauh lebih banyak daripada total populasi Tsukinose berhamburan
keluar dan tersedot masuk ke dalam pintu tiket dalam sekejap, seolah-olah
stasiun itu sendiri sedang bernapas.
Menyaksikan
arus orang yang berlalu-lalang itu membuatnya merasa pusing, kewalahan oleh
lautan manusia.
"…"
Mengalihkan
pandangannya ke arah dinding pembatas, ia melihat sebuah etalase toko yang
memamerkan manekin mengenakan baju renang.
"Rebut
pusat perhatian musim panas ini!"
"Sempurna
untuk latar belakang pantai!"
"Diskon
30% untuk semua item hingga akhir Juli!"
Etalase
tersebut dipenuhi dengan slogan-slogan menarik semacam itu, kemungkinan besar
berasal dari pusat perbelanjaan di dekat sana.
Untuk
sesaat, bayangan Haruki melintas di benaknya, membuat ekspresi Hayato berubah
serius.
Menggelengkan
kepalanya, ia kembali mengalihkan pandangan ke arah pemandangan kota.
"Wah!?"
Ia tidak
bisa menahan diri untuk tidak berseru.
Papan nama
warna-warni berjejer di sepanjang jalan.
Dari
waralaba terkenal seperti ramen, gyudon, kari, dan hamburger hingga kuliner
eksotis dari Mesir, Turki, dan Vietnam—selera makan dan rasa penasarannya
langsung terpancing.
(Capricciosa,
biryani, gazpacho… Pernah dengar namanya, tapi seperti apa rasanya ya? Tunggu,
hari ini kan jadwalnya yakiniku, daging sapi, daging sapi!)
Hayato
memiliki keterikatan yang kuat pada daging sapi.
Di
pedesaan, daging sapi harganya mahal karena distribusi yang buruk dan jarang
sekali dikonsumsi, paling-paling hanya sukiyaki saat Malam Tahun Baru.
Daging sapi
sepuasnya adalah sebuah impian.
(Mari kita
lihat, mulai dari bagian lidah sapi dengan lemon, lalu...)
"Hayato-kun!"
"—!?
Kazuki..."
Tanpa ia
sadari, Kazuki sudah berada di sana, bersama dengan gadis tersebut.
Ia teringat
seruannya tadi—apakah itu yang membuatnya ketahuan?
Kazuki
tampak lega, namun nada suaranya menyiratkan sedikit teguran.
Merasa
bersalah, Hayato bergumam, "Maaf," lalu mengalihkan pandangannya,
hanya untuk mendapati dirinya bertatapan langsung dengan gadis itu.
Sudah
terlambat untuk menyadari kesalahannya.
Mengenali
Hayato, gadis itu mengerjap, lalu menyipitkan matanya.
"Huh,
Kazukichi benar-benar punya teman? Sejak SMA?"
"Eh,
yah… Hei!?"
Gadis itu
menutup jarak dengan Hayato dalam satu langkah, bersenandung seolah sedang
menilai penampilannya.
Hayato
merasa kesulitan menghadapi jarak yang terlalu dekat dengan tipe gadis gyaru
seperti dia.
Berusaha
mundur dengan wajah tegang, gadis itu justru melangkah semakin mendekat tanpa
ragu sedikit pun.
"Temannya
Kazukichi, ya… Wajahnya lumayan juga, bisa lah disandingkan kalau dirawat
sedikit? Tapi rambutnya agak norak, kayak asal tempel aja. Payah banget."
"H-Ha…
Uh, aku anak desa, nggak terbiasa sama hal-hal begini."
"Pfft,
anak desa? Lucu banget! …Terus?"
"Terus…
apa?"
"Punya
pacar? Atau lagi naksir cewek tertentu? Kazukichi itu super populer, tahu. Atau
kamu dengar rumor soal aku dan dia? Hal-hal kayak gitu tuh nyebelin banget…
Jadi, apa urusanmu?"
"Airi!"
Itu adalah
pertanyaan yang tidak sopan.
Bahkan
Kazuki meninggikan suaranya untuk menegurnya.
Namun
Hayato tidak sepenuhnya menangkap maksud dari ucapannya.
Ia tidak
pernah mengerti maksud dari hal-hal yang dikatakan oleh orang-orang seperti
gadis itu.
Mereka
berbicara seolah-olah semua orang harus langsung mengerti apa yang mereka
maksud, dan itulah yang menurutnya paling sulit dihadapi.
Meski
begitu, ada satu hal yang melekat di benaknya.
Tatapan
mata gadis itu tampak begitu serius.
Hampir
seolah-olah ia sedang melindungi Kazuki, menyelidiki maksud kedatangan Hayato,
siap untuk tidak memberikan maaf tergantung pada situasinya—ada ketegangan yang
putus asa di dalam tatapannya.
Maka Hayato
memiringkan kepalanya, mengerutkan kening, dan menjawab dengan jujur.
"Urusanku
adalah… makan yakiniku sepuasnya."
"…Huh?"
"Hayato-kun..."
Gadis gyaru
bernama Airi itu mengerjap, matanya membelalak karena terkejut.
Berpikir
apakah ia baru saja mengatakan sesuatu yang aneh, Hayato mengerutkan kening dan
memastikan kepada Kazuki.
"Hei,
Kazuki, kita janji ketemuan jam 12:20 di ‘Moo Moo Ushitake Tarou,’ kan?"
"B-Benar,
betul itu… Airi!?"
"…Pfft.
Hahahahahaha!"
Airi
membungkuk, tertawa terbahak-bahak tanpa bisa dikendalikan.
Hayato,
yang semakin merasa bingung, semakin memperdalam kerutan di keningnya.
Namun Airi,
seolah-olah reaksi Hayato adalah hal paling lucu di dunia, berbalik kepadanya
dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Apaan
sih, seriusan, cowok ini temennya Kazukichi!? Padahal udah tahu gitu!?"
"Aku nggak tahu apa maksudnya itu, dan dia juga kayaknya nggak mau bahas soal itu. Aku memang temannya, tapi aku nggak begitu tertarik sama urusan pribadinya."
"Pfft!
Lucu banget! Kazukichi, kamu kena mental!"
"…Yah,
Hayato-kun memang orangnya seperti itu."
Kazuki
mengangkat bahu sambil tersenyum masam, dan Airi tertawa, "Heh."
Itu adalah
sebuah senyuman, namun menyuratkan ketajaman yang tidak dipahami oleh Hayato.
Ditatap
seperti itu sama sekali tidak terasa menyenangkan, dan ekspresi wajahnya
mencerminkan hal tersebut, membuat senyuman gadis itu semakin terlihat tajam.
Namun ia
bergumam dengan nada bicara yang terasa anehnya serius.
"Heh,
baru kali ini ada orang yang menatapku seperti itu."
"…Yah,
diperlakukan begitu terang-terangan oleh orang yang baru pertama kali dikenal
pasti akan membuat siapa pun memasang ekspresi begini."
"Pertemuan
pertama, ya. Hmm… Kamu nggak kenal aku?"
"Setidaknya,
aku tidak pernah mendengar tentangmu dari Kazuki."
Mendengar
ucapan singkat Hayato, wajah Airi justru berbinar geli.
"Kamu
menarik! Minta kontaknya dong!"
"Eh,
nggak, makasih."
"Airi,
Hayato-kun lagi nggak minat!"
"Wah,
baru kali ini aku ditolak! Lucu banget! Ayolah, Hayato-cchi, kan—"
Tepat saat
Airi mengeluarkan ponselnya, sebuah nada dering ceria berbunyi.
Mendengar
suara itu, ia memasang ekspresi tidak suka secara terang-terangan.
"Halo—hah,
jadwalnya dimajukan!? Uh, begini, rencananya kan… Nggak, nggak apa-apa kok,
maksudku, aku bakal pergi, aku bakal lakukan, tapi!"
Ia mulai
berbicara dengan cepat kepada orang di seberang sambungan telepon.
Nada
suaranya berubah menjadi sangat sopan, kontras mencolok yang membuat Hayato
terpana.
Apakah itu
urusan pekerjaan atau semacamnya?
Saat ia
merenung, Kazuki menarik ujung lengan bajunya.
"Eh,
hei, Kazuki?"
"…Sudahlah,
ayo pergi."
Lirikan
mata Hayato menyiratkan pertanyaan apakah boleh meninggalkan Airi begitu saja,
tetapi Kazuki, dengan senyum masam dan mengangkat bahu, justru membimbingnya ke
tempat lain.
Hayato
tidak keberatan, dan di tempat tujuan mereka, Iori sudah menunggu sambil
tersenyum canggung seraya melambaikan tangan.
"Iori,
kamu sudah di sini. Harusnya kamu bantu aku tadi."
"Mana
bisa, bro. Itu Satou Airi, tahu."
"Ugh,
bahkan kamu tahu dia… Kenalan?"
Saat Hayato
berbicara dengan nada kesal, Iori menggelengkan kepalanya secara berlebihan
lalu mengangkat bahu.
—Satou
Airi.
Bahkan
setelah mendengarnya langsung dari Iori, nama itu sama sekali tidak asing di
telinganya.
Ia jelas
bukan siswi di kelas mereka.
Ketika
Hayato memiringkan kepalanya, desahan napas jenuh keluar dari mulut Iori dan
Kazuki secara bersamaan.
"Kamu
nggak tahu? Satou Airi itu model populer yang sedang naik daun. Bahkan Ema
sering banget jadikan referensi gaya fashion-nya."
"Model!?"
Suara aneh
lolos dari tenggorokannya, matanya membelalak karena terkejut.
Sama sekali
tidak menduga hal itu.
Namun
sekarang setelah hal itu dikatakan, semuanya menjadi masuk akal.
Himeko
mungkin tahu lebih banyak tentangnya.
Meski
begitu, ia masih menyimpan keraguan, terutama mengenai tatapan yang diberikan
gadis itu kepadanya.
Kazuki,
yang menerima tatapan penuh curiga dari Hayato dan Iori, tampak ragu-ragu,
menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
"Dia
adalah kenalanku, atau lebih tepatnya, mantan pacarku."
"“Haah!?”"
Terkejut
oleh pengakuan tak terduga dari Kazuki, Hayato dan Iori saling menatap dengan
tercengang.
Setelah
itu, ketiganya berjalan dalam keheningan.
Di sebuah
gedung serbaguna di tengah kota, restoran tujuan mereka terletak di lantai dua.
Moo Moo
Ushitake Tarou adalah sebuah jaringan restoran yakiniku murah meriah.
Batas waktu
60 menit tergolong singkat, tetapi makan siang sepuasnya di hari kerja seharga
888 yen sangat menggugah selera para remaja lelaki yang kelaparan.
Karena
sedang musim liburan, ada banyak pelajar lain yang juga berada di sana seperti
mereka.
"…"
"…"
"…"
Di sudut
area makan, mereka memanggang dan menyantap daging dalam keheningan.
Hayato
didorong oleh tekad untuk mendapatkan kembali uang yang telah ia keluarkan.
Kazuki
dikuasai oleh rasa lapar setelah selesai latihan klub.
Iori
terbawa oleh arus semangat mereka berdua.
Suasana
makan sepuasnya itu bagaikan medan perang, membuat mereka melupakan bom waktu
"mantan pacar" yang dilontarkan Kazuki sebelumnya.
Suara
desisan lemak daging yang terpanggang bergema di udara.
Sesekali,
tetesan lemak yang jatuh ke bawah panggangan menyulut api hingga berkobar.
Aroma harum
yang membubung dari sana tanpa henti memicu nafsu makan mereka.
Itu
hanyalah daging murah, tetapi itu adalah daging sapi.
Tidak ada
sayuran di atas panggangan—hanya daging.
Masa bodoh
dengan nutrisi, mereka melahapnya dengan rakus, menyambar potongan daging yang
sudah matang.
Suhu panas,
saus yang membangkitkan selera, serta perpaduan dengan nasi membuat sumpit
mereka terus bergerak tanpa henti.
Ini adalah
sistem makan sepuasnya. Makan adalah tujuan utamanya.
Namun waktu
60 menit ternyata terasa sangat singkat.
Pada saat
mereka kenyang, sebuah ikatan aneh—persahabatan—telah terjalin di antara
ketiganya.
"Ugh,
kekenyangan… tapi kita sudah memanfaatkan uang kita dengan maksimal, kan?"
"Aku
sampai terbawa oleh Hayato-kun dan makan terlalu banyak..."
"Jalan
kaki rasanya berat… Rasanya mau muntah… tapi aku sudah lama ingin mencoba
prasmanan makan siang hari kerja ini."
Keluar dari
restoran, mereka berjalan-jalan tanpa tujuan untuk membantu mencerna makanan di
perut.
Gedung-gedung
berjajar di sepanjang jalan utama, dengan papan nama di mana-mana.
Banyak di
antaranya adalah restoran, termasuk izakaya, bar kecil, dan tempat
minum—tempat-tempat yang tidak relevan bagi Hayato.
Kebaruan
tempat itu membuatnya melihat sekeliling dengan penuh rasa penasaran.
Kemudian
Iori membuka suara.
Bukan
Kazuki yang berbicara, mungkin karena masalah mantan pacar tadi masih membekas.
"Jadi,
sekarang mau ke mana?"
"Hm?"
"Kita
sudah mencapai tujuan utama kita, tapi karena kita sudah di sini, mau melakukan
sesuatu yang seru?"
"Oh,
itu ide bagus. Tapi…"
"Tapi
apa?"
Sudah
datang jauh-jauh ke kota, langsung pulang terasa begitu sia-sia.
Lagipula,
ia akan sendirian di rumah tanpa ada hal yang bisa dikerjakan.
Menghabiskan
waktu bersama Iori dan Kazuki terdengar menyenangkan, namun ada satu masalah.
"Aku
nggak tahu apa saja yang ada di sekitar sini, jadi aku nggak tahu apa yang bisa
kita lakukan."
"Oh,
benar juga ya."
Iori
tersenyum masam, seolah mengerti maksudnya.
Hayato
memang pernah beberapa kali ke sini, namun selalu dengan rencana yang sudah
pasti.
Diminta
untuk jalan-jalan secara spontan membuatnya benar-benar buta arah.
(Kalau
dipikir-pikir, aku dulu selalu pergi main dengan Haruki tanpa rencana apa
pun...)
Mengingat
hari-hari itu, ia merasa jengkel, berpikir bahwa bentuk kesenangan saat ini
pasti berbeda, saat Kazuki melirik ke arahnya.
"Ada
bioskop tempat kita nonton kemarin, tempat karaoke, pusat gim, arena boling,
pusat pemukul bisbol—hal-hal standar semuanya ada di sini. Tapi aku
merekomendasikan Shine Spirits City. Meskipun jalannya agak sedikit jauh,
sih."
"Itu
pilihan bagus. Tempat itu punya banyak toko, ditambah area acara, akuarium,
bahkan planetarium. Aku sering ke sana bareng Ema."
"Shine
Spirits City… Aku pernah dengar namanya?"
"Tempat
itu, eh, semacam—"
Shine
Spirits City—sebuah kompleks bangunan yang dilengkapi dengan pusat
perbelanjaan, restoran, aula acara, fasilitas hiburan, dan taman bertema.
Sesuatu
yang tidak akan pernah bisa kamu lihat di desa Tsukinose, Hayato tidak dapat
sepenuhnya membayangkannya bahkan setelah diberi penjelasan.
Sambil
memiringkan kepala, Kazuki menggoda dengan seulas senyum lebar.
"Hayato-kun,
mungkin bagus kalau kamu survei tempat mana saja untuk kencanmu dengan
Nikaidou-san. Ada banyak tempat bagus di sana."
"Haah!?
Sudah kubilang, aku dan Haruki tidak punya hubungan seperti itu! Dan kamu tahu
banyak hal karena kamu pernah pergi ke sana bareng mantanmu, hah!?"
"Hei,
Hayato!"
"…Maaf."
Merasa
kesal karena digoda mengenai Haruki, Hayato membalas dengan mengangkat topik
tentang mantan pacar Kazuki.
Iori
menegurnya karena ucapan yang tidak peka itu, dan Hayato pun menundukkan
kepala.
Namun
Kazuki, yang tampak tidak terganggu, mengangkat bahu seolah meminta maaf karena
telah membuat khawatir dan mulai melangkah menuju Shine Spirits City.
Hayato dan
Iori saling bertukar pandang lalu mengikuti punggung Kazuki menembus kerumunan
orang yang berlalu-lalang, tempat pemuda itu mulai berbicara dengan suara
pelan.
"Yah,
itu bukan benar-benar kencan melainkan saling memanfaatkan satu sama lain.
Kalau dipikir-pikir ke belakang, kami hanya mengejar status, ingin merasa lebih
unggul dari orang lain. Sungguh menyedihkan."
"Kazuki…?"
"Jadi
pada akhirnya aku malah membuat masalah bagi orang-orang di sekitarku, dan kami
putus saat aku masuk SMA. Pada akhirnya, kami bahkan tidak pernah pergi ke
Shine Spirits City bersama, meskipun kami sudah mencarinya."
"…"
Keheningan
tercipta.
Kerumunan
orang di sekitar begitu bising.
Ekspresi
Kazuki tidak dapat terbaca.
Wajah
Hayato berkerut.
(…Ampun
deh.)
Sebesar
desahan napas jenuh terlepas. Hayato memang pernah terseret dalam ulah kelakuan
Kazuki sebelumnya.
Satu hal
yang pasti. Itu bukanlah masalah besar.
Kazuki
bertingkah seolah ia tahu segalanya namun sebenarnya ia hanyalah seorang pria
yang canggung.
—Sama
persis seperti Haruki.
Maka,
sambil merasa sedikit kesal, Hayato menepuk punggung Kazuki dengan kencang.
"Aduh!
Hayato-kun…?"
"Bodoh."
"…!"
Dengan
senyuman jenuh di wajahnya, ia melangkah menyamakan posisinya di samping pemuda
itu.
Mata Kazuki
membelalak, bergetar.
Iori
menyusul sambil tersenyum lebar.
"Baiklah,
hari ini aku akan tunjukkan tempat-tempat favoritku."
"Aku
mengandalkanmu, ya, Iori. Oh ya, pastikan yang murah, oke?"
"…Haha,
ide bagus!"
Kazuki
memberikan senyuman tulus, menanggapi kedua temannya saat mereka berjalan
menuju tempat tujuan.
Shine
Spirits City, yang terletak di area pinggiran kota, memiliki luas wilayah yang
sangat besar.
Berpusat di
sebuah menara mercusuar setinggi 60 lantai, berbagai bangunan saling terhubung,
membentuk sebuah kompleks perkotaan tersendiri.
Bagi
Hayato, yang terbayang dari sebuah kompleks komersial adalah pasar petani atau
tempat perhentian pinggir jalan di Tsukinose yang menjual barang-barang lokal
dan makanan.
Skala
sebesar itu membuat matanya terbelalak lebar.
"Tempat
ini… luar biasa sekali..."
"Ada
banyak sekali hal di sini. Kamu tidak akan bisa menjelajah semuanya dalam
sehari, jadi selalu ada hal seru setiap kali berkunjung."
"H-Hei,
mereka tidak memungut biaya masuk, kan?"
"Ayolah,
kalau mereka menarik bayaran, para pembeli tidak akan mau datang."
"B-Benar
juga, ya."
"Haha,
kamu ini benar-benar kakaknya Himeko-chan. Ya ampun, kalian memang kakak
beradik."
"Diam
kamu, Kazuki. Dan apa maksudnya bilang aku mirip Himeko?"
Karena
sedang liburan musim panas, tempat itu dipenuhi oleh orang-orang seusianya yang
berkunjung ke Shine Spirits City.
Terutama,
ada banyak sekali anak perempuan.
Mereka
semua tampak berjalan menuju arah yang sama.
Heran
melihatnya, Iori membuka suara seolah ia baru saja menyadari sesuatu.
"Oh,
sepertinya ada acara khusus untuk perempuan."
"Acara?"
"Mereka
sering mengadakan berbagai macam kegiatan di alun-alun kota ini. Terkadang
disiarkan di TV, dan kamu bahkan mungkin bisa melihat selebritas. Mau lihat ke
sana?"
"Selebritas..."
Mendengar
hal itu, ekspresi Hayato berubah masam.
—Taruka
Mao.
Aktris
terkenal, ibu Haruki, terlintas di benaknya.
Ia bukan
satu-satunya yang menunjukkan ekspresi tidak nyaman.
"Haha,
aku lewatkan saja deh. Aku baru saja ketemu Airi tadi, jadi..."
"Oh,
begitu. Kalau begitu mari kita pergi ke tempat lain saja."
"…Ya."
Hayato,
memanfaatkan alasan Kazuki, bergegas menjauh dari area acara tersebut.
◇◇◇
Haruki dan
yang lainnya pergi ke jalanan pusat perbelanjaan khusus di Shine Spirits City
untuk membeli pakaian renang.
Pusat
perbelanjaan bergaya koridor itu menghubungkan berbagai gedung mulai dari
lantai basement hingga lantai tiga.
Sesuai
dengan namanya, jalan tersebut dipenuhi oleh berbagai toko unik, dan banyak di
antaranya yang mengadakan bazar musim panas untuk barang-barang perlengkapan
kolam renang dan pantai.
Di salah
satu toko tersebut, pipi Haruki tampak berkedut-kedut.
"Haru-chan,
bagaimana dengan bikini tali samping ini? Ini kesempatan bagus untuk tampil
lebih berani, lho!"
"T-Tali
di bagian samping!? Itu rasanya terlalu berlebihan untukku..."
"Ema-san,
bagaimana dengan yang ini!? Model yang lebih kalem akan membuatmu terlihat
sangat dewasa, dan pacarmu pasti akan terpesona sampai melongo!"
"H-Haha,
begitu ya menurutmu?"
Bukan hanya
Haruki saja yang pipinya berkedut—Isami Ema juga merasakan hal yang sama.
Energi yang
dipancarkan oleh Himeko benar-benar begitu meluap-luap.
(B-Yah,
suasananya tidak terlalu buruk juga, kan?)
Saat mereka
bertemu Ema di tempat pertemuan tadi, Himeko bersikap pemalu seperti biasanya.
Sebaliknya,
tatapan mata Ema ke arah Himeko tampak begitu tajam.
Namun
Himeko, yang merasa terpukau oleh skala kemegahan Shine Spirits City, mendadak
menjadi sangat bersemangat.
Ketika Ema
dengan santai menyebutkan bahwa ia sering datang ke sana bersama pacarnya,
batasan emosional Himeko seketika runtuh.
Kata
"pacar" berhasil menyentuh hati Himeko, membuatnya langsung bersikap
akrab kepada Ema.
Himeko
memang selalu mudah untuk di luluhkan hatinya, sementara Ema justru dibuat
kewalahan.
"(K-Kenapa
kamu malah membawa anak ini!?)`"
"(Aku
pikir akan seru kalau kita bisa belanja baju renang bersama… Aku tidak
menyangka dia akan menjadi segembira ini… Maaf ya.)"
"(Bukannya
masalah itu… Ugh, dia anak yang baik sebenarnya!)"
Haruki
memberikan senyuman masam penuh rasa bersalah kepada Ema, yang pipinya tampak
berkedut menahan gemas.
"Ada
barang lain yang juga cocok untuk kalian. Haru-chan, yang ini, lalu Ema-san,
yang itu!"
"Tunggu
dulu, yang ini mah hampir memperlihatkan seluruh bagian pantatku!?"
"Warna
ini memang kalem, tapi ada detail tali silangnya… Sebenarnya bagus sih, tapi
ugh."
Obrolan
Himeko yang terus menerus menyinggung soal "pacar" memang sedikit
menyebalkan, namun selera fashion-nya benar-benar tepat sasaran.
Dengan
senyuman tanpa beban dan pesona yang ia miliki, bahkan Ema pun tidak sanggup
untuk mengabaikannya, dan hanya bisa tertawa canggung.
"Eh!
Toko itu menjual korset bustier? Mereka mengadakan bazar dengan bentuk pakaian
yang aneh!"
"Tunggu,
Hime-chan! Kembalikan barang yang sudah kamu ambil itu!"
"Gadis
yang benar-benar mirip badai..."
Himeko
mendesak mereka untuk segera bergegas, kakinya tidak bisa diam karena terlalu
antusias.
Haruki dan
Ema saling bertukar pandang sambil sama-sama mengerutkan kening.
Tiba-tiba,
Ema dengan memasang ekspresi serius melirik ke arah Himeko lalu berbisik kepada
Haruki.
"Aku
berada di pihakmu, Nikaidou-san."
"Haha."
Haruki
membalas dengan senyuman penuh arti kepada Ema, yang kini sedang terseret oleh
arus semangat Himeko.
☆☆☆
Beberapa
waktu kemudian.
"Hasil
panen belanjaan kita banyak banget, kan, Haru-chan, Ema-san!"
"Ya,
kita memang sempat kesulitan memilihnya, tapi kita dapat barang-barang yang
bagus."
"Haha..."
Berbeda
dengan tawa lemah Haruki, wajah Himeko berseri-seri penuh kepuasan, dan Ema,
terlepas dari segala kerempongan tadi, tersenyum bahagia.
Berbelanja
baju renang memang hal yang melelahkan.
Dengan
begitu banyaknya pilihan yang tersedia, sangat sulit untuk menentukan satu yang
paling pas.
Menyaksikan
Himeko dan Ema yang dengan penuh semangat sibuk memilih, Haruki bergidik ngeri
sambil membatin, "Inilah yang dinamakan belanja ala para gadis..."
Ia lantas
teringat saat dirinya pergi bersama Hayato untuk membelikan ponsel.
(Kalau
dipikir-pikir, Hayato dulu tidak punya ponsel pintar karena dia tidak bisa
memutuskan pilihan.)
Mengingat
kembali kejadian itu, tenggorokan Haruki mengeluarkan suara tawa tertahan.
Kemudian
Ema membuka suara.
"Bagaimana
kalau kita makan siang dulu?"
"Hmm..."
Melihat jam
di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 2 siang.
Waktu makan
siang sudah sangat terlewat jauh.
Namun rasa
lelah justru jauh lebih mendominasi daripada rasa lapar, dan anehnya, ia sama
sekali tidak merasa lapar.
Ema
sepertinya merasakan hal yang sama, dan mereka pun saling bertukar pandang.
Lalu secara
tiba-tiba Himeko mengeluarkan suara penasaran, "Hm?"
"Ada
apa, Hime-chan?"
"Entahlah,
sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi… Coba lihat."
Mengikuti
arah pandangan Himeko, sekumpulan gadis seusia mereka terlihat sedang berjalan
menuju ke suatu tempat.
Sudah bisa
ditebak, wajah Himeko dipenuhi oleh rasa penasaran yang menyala-nyala.
Haruki
hanya bisa tersenyum masam.
"Itu
arah menuju Clock Plaza. Kemungkinan besar ada acara di sana."
"Acara!?"
Mata Himeko
semakin berbinar-binar penuh binar antusias.
Menghadapi
senyuman polos tanpa dosa itu, Ema, meskipun merasa ragu, hanya bisa berkata,
"Mau mampir sebentar untuk melihatnya?"
Clock Plaza
di Shine Spirits City adalah sebuah area terbuka dengan jam pilar raksasa
sebagai ikon utamanya.
Dengan
desain atrium bertingkat dari lantai basement hingga lantai tiga, tempat itu
sering menjadi lokasi berbagai macam acara tanpa terpengaruh oleh cuaca, dan
kerap kali muncul di televisi.
Melihat
Clock Plaza, Himeko dengan penuh semangat berkata, "Aku pernah lihat itu
di TV!" yang langsung memancing tawa cekikikan dan perhatian dari
orang-orang di sekitar, membuat Himeko langsung ciut dan menyusutkan bahunya.
Alun-alun
tersebut sudah dipadati oleh para gadis seusia mereka.
Mereka
berbisik-bisik dengan penuh semangat membicarakan acara yang akan segera
dimulai.
Sebuah logo
yang sangat familiar tampak terpampang di layar raksasa yang ada di atas
panggung.
"Eh,
itu logo operator seluler kita, kan."
"Kalian
berdua juga pakai operator itu, ya, Himeko-chan. Tapi sebenarnya ada acara apa
ini?"
"…Yah,
melihat-lihat saja kan gratis."
Koneksi
antara operator seluler itu dengan acara di depan mereka sama sekali tidak
dapat dicerna oleh akal sehat mereka.
Mereka
memiringkan kepala kebingungan lalu memilih tempat di bagian tepi kerumunan.
Namun
kebingungan mereka langsung buyar begitu seorang gadis berpenampilan mencolok
muncul di atas panggung.
"Semuanya!
Airi datang ke sini untuk memamerkan kamera super canggih dari model terbaru
ini sekaligus trik aplikasi penyunting foto milikku!"
Sorak-sorai
yang memekakkan telinga menggema memenuhi seluruh area Clock Plaza.
Haruki
sedikit tersentak kaget mendengarkan suara bising yang begitu luar biasa itu.
"Haru-chan,
itu Airi, Airi! Wah, itu benar-benar orangnya asli!"
"Nggak
mungkin… Dan kamu bisa mendapatkan foto yang diedit langsung bersamanya… Ugh,
pakai sistem undian lagi!"
"Oh,
begitu ya rupanya..."
Berbeda
dengan Haruki yang sedikit menarik diri, Himeko dan Ema justru terlihat sangat
antusias dan histeris.
Para staf
tampak sibuk membagikan tiket nomor antrean di bagian depan.
Satou Airi
adalah seorang model pembaca majalah yang namanya melambung dalam beberapa
bulan terakhir, bahkan Haruki pun tahu siapa dia.
Ia pernah
melihatnya di majalah-majalah pinjaman milik Himeko.
Gadis itu
pasti sangat populer.
Namun bagi
Haruki, ia hanyalah sosok yang tidak asing di mata, tidak lebih dari itu.
"Um,
aku agak sedikit lelah, jadi aku mau istirahat di sebelah sana ya. Hime-chan,
Isami-san, kalian berdua duluan saja sana."
"Apa,
Haru-chan, kamu serius!?"
"Nikaidou-san—"
Tanpa
menunggu jawaban lebih lanjut dari mereka berdua, Haruki melangkah pergi
meninggalkan tempat itu.
Melirik ke
arah panggung, tatapan matanya terlihat dingin.
Berjalan
menjauh ke titik yang nyaris tidak bisa melihat area Clock Plaza, Haruki
melepaskan desahan napas yang sangat berat lalu menyandarkan punggungnya ke
dinding.
Ia sama
sekali tidak memiliki masalah pribadi dengan Satou Airi.
Namun ia
memiliki masalah besar dengan para selebritas.
(…Ibu.)
Ia
menempelkan sebelah tangan ke dadanya, mati-matian menekan sesuatu yang
bergolak naik dari dalam dirinya.
Belum lama
berselang, ia telah disingkirkan begitu saja.
Sekarang,
ia menyentuh pipinya yang sempat tertampar.
Satou Airi
adalah seorang model.
Bukan
seorang aktris, dan tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.
Namun
seandainya ia berpapasan dengan ibunya di tempat ini—memikirkan kemungkinan itu
saja sudah membuatnya ingin segera pulang ke rumah.
Anehnya,
rumah yang terlintas di dalam bayangannya bukanlah rumahnya sendiri, melainkan
apartemen milik Hayato.
Sebuah
tempat di mana Hayato akan menyambutnya dengan wajar.
"…Heh."
Menyadari
dirinya sendiri begitu konyol karena memikirkan hal semacam itu, sebuah tawa
ganjil meluncur keluar dari bibirnya.
Beberapa
waktu lalu, ia sempat lari terbirit-birit saat tiba-tiba harus berhadapan
langsung dengan ibunya.
Itu adalah
momen yang tidak terduga, dan ia sama sekali belum siap.
Bahkan jika
ia bertemu dengannya sekarang, bahkan jika ada hukuman yang menantinya, ia
pikir ia bisa menghadapinya dengan tenang—setidaknya itulah yang ia bayangkan
jika hal itu terjadi.
"Tidak
ikut menonton acara Airi?"
"!?`"
"Dia
sangat populer di kalangan generasimu… meskipun kepribadiannya memang sedikit
keras."
"…Siapa
kamu?"
Terperanjat
oleh suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana, bahunya langsung terlonjak
kaget.
Mengangkat
wajahnya, ia melihat seorang pria jangkung dan berpenampilan rapi berusia 30-an
tahun, mengenakan setelan jas yang tampak pas di tubuhnya.
Tidak ada
orang lain di sekitar mereka saat itu, karena orang-orang sibuk memusatkan
perhatian ke arah Clock Plaza.
Haruki
langsung meningkatkan kewaspadaannya, namun ada sesuatu yang terasa ganjil.
"Oh,
tidak disangka bisa berpapasan denganmu lagi hari ini. Uh, soal kejadian di
rumah sakit tempo hari, aku minta maaf ya."
"…!"
Pria itu
memasang ekspresi bermasalah seraya mengangkat kedua tangannya dengan gaya
bercanda.
Ia teringat
pernah bertemu dengan pria itu di rumah sakit.
Sosok yang
sama sekali tidak disangka-sangka.
Namun ia
tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba mengajaknya berbicara, baik saat di
rumah sakit maupun sekarang.
Ia
mengamati pria itu lekat-lekat.
Mencoba
menggali ingatannya, wajah itu sama sekali asing.
Otomatis
otot-otot wajahnya menegang.
"Haha,
jangan menatapku tajam begitu. Nanti wajah cantikmu jadi rusak lho."
"…Terima
kasih atas pujiannya, tapi aku tidak tertarik. Kalau niatmu mau menggoda, cari
orang lain saja."
"Tidak,
tidak, aku ini, um, punya keterkaitan dengan acara ini."
"Lalu
apa urusannya seorang panitia acara dengan aku?"
"Kamu
sebenarnya sudah sangat cantik, tapi kalau dipoles sedikit lagi, kamu pasti
akan bersinar jauh lebih terang. Bahkan melebihi Airi yang ada di atas panggung
sana. Apa kamu tidak tertarik untuk terjun ke dunia hiburan?"
"…!
Tidak, sama sekali tidak tertarik, sedikit pun tidak..."
"Oh,
maaf, maaf! Ini sudah jadi kebiasaan kerja rupanya."
"Tolong
cari orang lain saja!"
Rasa
jengkel Haruki semakin menjadi-jadi.
Segala hal
tentang pria itu—sikapnya yang terkesan meremehkan, serta topik
pembicaraannya—benar-benar membuatnya muak.
Tanpa
repot-repot menyembunyikan rasa tidak sukanya, ia berbalik untuk pergi saat
sebuah suara bernada tajam memanggil dari belakang.
"—Taruka
Mao."
"!?`"
Bahunya
kembali terlonjak kaget.
Begitu ia
membalikkan badan, ekspresi pria itu sudah tidak lagi santai melainkan berubah
serius, penuh keyakinan, menatap tajam ke arahnya.
Kesadaran
dan emosinya langsung terguncang hebat.
Taruka
Mao—sebuah nama yang memiliki makna khusus bagi Haruki.
Sebuah
hubungan rahasia yang tidak boleh sampai tercium oleh publik.
Lalu kenapa
pria itu mengucapkan nama tersebut kepadanya? Ia bisa menebak alasannya, namun
ia sama sekali tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi.
Pikirannya
mendadak kacau balau.
Ia
benar-benar terguncang hebat. Kuku-kukunya menancap kuat ke telapak tangannya
hingga berdarah.
Ia bisa
merasakan suhu di kepalanya mendingin dengan cepat.
Telinga,
otak, dan hatinya menjerit menolak ucapan pria itu, menolak nama Taruka Mao.
Namun ia
tidak tahu bagaimana caranya membungkam pria itu.
Tidak ada
kata-kata yang tepat melintas di kepalanya, yang ada hanya kepanikan yang
semakin menjadi-jadi.
Pikirannya
berputar tak tentu arah.
"Kamu—"
Tepat saat
pria itu hendak melanjutkan kata-katanya, secara insting Haruki memasang
kembali topeng gadis baik-baik miliknya.
"Apa
yang sedang kamu bicarakan?"
"—!?"
Suaranya
terdengar lembut, jernih tanpa beban.
Udara di
sekitar yang tadinya menegang seketika berubah bentuk oleh kehadiran Haruki.
Ucapannya
terdengar seperti pertanyaan polos dari seorang gadis lugu, namun memiliki daya
pengaruh yang sangat kuat.
Sambil
tersenyum manis dan memiringkan kepalanya, pria itu mendadak kehilangan
napasnya.
Itu adalah
sebuah fasad yang sempurna, diasah selama bertahun-tahun, mampu memikat siapa
saja yang melihatnya.
Perhatian
pria itu, tatapan matanya, seketika terkunci dan dibuat tidak berdaya oleh
pesona Haruki.
"Itu
nama seorang aktris terkenal, kan? Aku tidak begitu paham soal hal-hal semacam
itu… dan sama sekali tidak tertarik, maaf ya."
"…Uh,
yah."
Haruki
sendiri sebenarnya merasa bingung. Kenapa ia bisa bersikap seperti itu?
Di tengah
badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya, otaknya tetap bekerja dengan
dingin, menghitung bagaimana cara agar bisa kabur dengan mulus.
Itu adalah
sebuah penampilan kepalsuan yang sangat luar biasa licin.
Namun
akting itu berhasil menguasai situasi saat itu sepenuhnya.
"Kalau
begitu, aku permisi dulu."
Disertai
seulas senyuman anggun, Haruki berbalik untuk melangkah pergi.
Gerakannya
yang begitu gemulai membuat pria itu merasa wajar-wajar saja untuk
membiarkannya pergi.
Faktanya,
ia memang benar-benar terhipnotis.
"…!
Tunggu, kamu!"
Sadar dari
keterpakuannya, suara teriakan pria itu menghantam punggung Haruki, membuat
gadis itu berlari sekencang-kencangnya secara naluriah.
(—!)
Pikirannya
menjadi semakin kacau. Ia berlari seolah ingin melarikan diri dari emosi dingin
yang mencekam.
Di tengah
pemandangan yang berlalu dengan cepat di sisi matanya, rasa rindu,
keputusasaan, ketakutan, dan keterasingan membanjiri rongga dadanya.
Atau
mungkin kesedihan, kedukaan, serta beban berat karena harus menjadi gadis yang
baik—bayangan tatapan mata sang ibunya, yang selalu menganggapnya sebagai
sebuah beban pengganggu, memenuhi kepalanya.
Sejak ia
dipertemukan kembali dengan Hayato, perasaan-perasaan suram itu sempat hilang,
namun sekarang semuanya dikorek dan diangkat kembali secara paksa.
Ia tadinya
mengira kalau ia sudah terbiasa dengan semua itu.
Namun
jantungnya justru berdegup kencang dengan cara yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya.
Keringat
dingin mengalir deras membasahi punggungnya.
Bibirnya,
yang digigit terlalu kuat, bahkan mengeluarkan darah.
(Aku ini,
sendirian, tidak, salah, bergantung, beban—!)
Siapa pun
yang melihatnya pasti tahu bahwa ia sedang berada dalam kondisi tertekan.
Berlari
dengan kecepatan penuh di dalam pusat perbelanjaan yang padat pengunjung
membuat posisinya sangat mencolok.
Namun
Haruki sudah tidak punya kapasitas untuk melihat dirinya sendiri secara
objektif.
"Haruki!"
"…Eh?"
Sebuah
suara bernada tegas namun sangat familiar—suara yang paling ingin ia dengar
saat itu—berhasil mencapai telinganya.
Untuk
sesaat, kesadarannya sempat kosong. Kakinya berhenti melangkah. Lengannya
dicekal.
"Ada
apa sebenarnya, apa yang terjadi!?"
"Hayato…?"
Begitu
menoleh, ia melihat Hayato berdiri di hadapannya dengan napas yang memburu.
Kenapa?
Bagaimana bisa ia ada di sini?
Kejadian
tak terduga yang datang di saat yang tepat itu membuat otaknya tidak sanggup
memproses situasinya.
Namun
tatapan mata Hayato yang serius berhasil membuatnya sedikit lebih tenang.
Jika
diperhatikan lebih dekat, Kazuki dan Iori sedang berlari menyusul di belakang
pemuda itu.
Mereka
rupanya memang sedang menghabiskan waktu bersama.
Ia menunduk
menatap lengannya yang masih dipegang. Kening pemuda itu tampak basah oleh
keringat.
"…"
"Haha,
yah..."
Merasa
bahwa Hayato telah memprioritaskan dirinya di atas teman-temannya yang lain,
ada secercah perasaan bahagia yang menyelinap di dadanya.
Sebuah
senyuman masam terlepas saat ketegangannya mulai meluntur.
Mereka
saling bertatap-tatapan. Ia tahu betul kalau ia tadi sama sekali tidak
bertindak seperti biasanya.
Haruki
meraba-raba kata-kata di kepalanya untuk mencari penjelasan, namun otaknya
gagal merangkai kalimat.
Maka,
dengan memasang wajah penuh masalah, ia mengucapkan isi hatinya secara jujur.
"…Bahkan
aku sendiri tidak tahu."
"…Hah?"
Lalu ia
menyadari sesuatu. Sambil mengendus pelan, ia mengerutkan kening dan menekuk
bibirnya cemberut.
"Kamu
bau daging yakiniku. Curang banget."
"Uh,
yah, itu kan..."
"…Hehe."
Melihat
Hayato yang tampak panik, Haruki tersenyum usil meskipun alisnya masih bertaut
cemas.
☆☆☆
Shine
Spirits City memiliki sebuah aula pameran luar ruangan yang cukup luas letaknya
terpisah dari area Clock Plaza.
Tempat itu
sering digunakan untuk pameran bisnis, bazar produk, acara karakter, bahkan
pameran doujinshi, dan Iori, setelah melihat papan pengumuman acara, sempat
bergumam serius tentang, "Cosplay..."
Terletak di
bagian sudut kota yang agak terpencil, tempat itu terasa sangat tenang ketika
tidak ada acara yang diselenggarakan, menjadikannya lokasi yang sempurna untuk
beristirahat jauh dari keramaian.
"Kamu
tidak apa-apa? Nih."
Hayato
mengulurkan sebotol teh dingin lalu duduk bersandar di sebelah Haruki.
"Oh,
ya, terima kasih… Ngomong-ngomong, di mana Kaidou dan Mori-kun?"
"Mereka
sedang menemui Himeko dan Isami-san, nanti mereka akan menyusul ke sini setelah
acaranya selesai."
"…Begitu
ya."
Mereka
rupanya sengaja bersikap pengertian.
Tanpa
berkata apa-apa lagi, mereka meneguk teh masing-masing dalam keheningan.
Embusan
angin sepoi-sepoi bertiup melalui bangku taman yang dinaungi keteduhan.
Saat
mendongak, gumpalan awan putih tampak berarak perlahan di langit.
Mengedarkan
pandangan ke sekeliling, alih-alih dikelilingi oleh pepohonan dan pegunungan
hijau seperti di Tsukinose, mereka justru dikelilingi oleh bangunan-bangunan
serta struktur arsitektur buatan yang kaku.
Pemandangannya
tentu saja jauh berbeda dari tempat asal mereka.
Namun sama
seperti dulu, Hayato kini duduk dengan tenang di sisinya.
—Tepat
seperti janji yang mereka ikrarkan saat dipertemukan kembali.
Ia melirik
sekilas ke arah profil wajah pemuda itu.
Ia
sebelumnya sempat mendeklarasikan diri ingin menjadi seseorang yang benar-benar
istimewa, ingin menjadi kuat, namun lihatlah keadaannya sekarang.
Semuanya
sama sekali tidak berjalan sesuai rencana.
Merasa
dirinya begitu menyedihkan, ia menghela napas panjang.
"…!"
Menelan
sisa teh di tenggorokannya, ia berusaha menelan bulat-bulat perasaan lemahnya
itu.
Namun
Hayato rupanya tidak berniat untuk membiarkannya lolos begitu saja.
"—Taruka
Mao, ya?"
"Ngh!?
Uhuk, uhuk, uhuk, ugh..."
"M-Maaf,
waktunya kurang tepat ya!"
"Uhuk,
tidak… apa-apa kok..."
Itu adalah
sebuah serangan mendadak yang telak. Sambil terbatuk-batuk, Haruki mendelik
tajam ke arah Hayato dengan mata berkaca-kaca karena menahan perih.
Namun
melihat sorot mata pemuda itu yang tampak begitu khawatir, ia buru-buru
mengalihkan pandangannya dengan canggung.
"Haruki..."
Sorot mata
pemuda itu menyuratkan rasa cemas yang tulus untuk dirinya, sebuah tatapan yang
terasa begitu menyentuh sekaligus memicu rasa bersalah.
Merasa
berutang budi, Haruki dengan terbata-bata mulai menceritakan apa yang
sebenarnya telah terjadi.
"…Aku
sendiri sebenarnya tidak begitu mengerti. Di acara Airi tadi, seseorang yang
sepertinya tahu tentang diriku dan Taruka Mao tiba-tiba mendekatiku, dan
kepalaku langsung terasa sangat kacau, jadi..."
"Begitu
kejadiannya..."
"Haha,
aku bahkan tidak bisa menjelaskannya dengan benar. Harusnya hanya orang-orang
dari Tsukinose saja yang tahu tentang latar belakangku, makanya isi kepalaku
mendadak kosong, dan..."
Itu adalah
ungkapan perasaannya yang paling jujur tanpa polesan.
Tawa hambar
terlepas saat ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ia merasa
dirinya begitu menyedihkan, namun ia benar-benar tidak mampu merangkai
kata-kata dengan baik.
Ia sendiri
bahkan hampir tidak mengenal pria itu—maupun ibunya sendiri.
Alisnya
bertaut sedih.
"…Ibu
sudah dua kali masuk rumah sakit."
"Eh,
Hayato…?"
"Ini
memang bukan penyakit yang mengancam nyawa, tapi dia mengalami beberapa efek
samping, seperti tangannya yang tidak bisa digerakkan dengan normal, meskipun
tidak sampai mati rasa. Dia sekarang sedang menjalani terapi
rehabilitasi."
"…"
Itu adalah
peralihan topik pembicaraan yang sangat tiba-tiba.
Bukanlah
jenis informasi yang biasa dibagikan secara santai kepada orang lain.
Haruki
terpaku menatapnya, namun pandangan mata Hayato justru terpaku lurus ke suatu
tempat yang jauh.
Kalimat
berikutnya meluncur keluar dari mulut pemuda itu dengan cepat.
"Bahkan
setelah masa rehabilitasinya selesai, dia mungkin tidak bisa hidup seperti
sedia kala lagi. Hal itu kemungkinan besar akan menimbulkan beberapa masalah
merepotkan. Tapi tidak apa-apa, maksudku, uh, bagaimana ya aku
menjelaskannya!"
"Wah,
Hayato!?"
Setelah
mengatakan kalimat itu dalam satu tarikan napas, Hayato tiba-tiba mengacak-acak
rambut Haruki dengan kasar seolah-olah untuk melampiaskan perasaannya yang
meluap-luap.
Saat Haruki
melayangkan protes, pemuda itu justru memalingkan wajah, dengan rona merah yang
menjalar hingga ke ujung telinganya, lalu berseru dengan nada ketus.
"Kamu
boleh menjadi beban sebanyak yang kamu mau. Asal jangan membuatku khawatir
saja."
"Hah?
Ah… uhh..."
Itu adalah
luapan perasaan yang tulus dari lubuk hati Hayato.
Sama
seperti penjelasan Haruki sebelumnya, kalimat itu disampaikan dengan cara yang
canggung namun berhasil menyampaikan isi hatinya dengan sangat jelas.
Kalimat itu
meluncur mulus dan tepat menghujam ke dalam lubuk hatinya.
Ia
mengerti. Perasaan itu memenuhi seluruh rongga dadanya.
"…"
"…"
Kehangatan
dari telapak tangan Hayato yang bertengger di kepalanya berhasil melelehkan
hatinya yang sempat membeku, menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat kepalanya
terasa panas mendidih.
Rasanya
begitu membahagiakan, namun di sisi lain juga sangat memalukan, membuatnya
menggeliat salah tingkah tidak tahu harus berbuat apa.
Ia ingin
terus berada di dalam momen ini lebih lama lagi.
Keduanya
sama-sama berwajah merah padam, memalingkan muka, hanya terhubung oleh sentuhan
tangan pemuda itu di atas kepalanya.
Pemandangan
itu jika dibayangkan sendiri terasa sangat konyol dan menggemaskan.
Maka Haruki
dan Hayato pun saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan.
Itu adalah
interaksi yang sama persis dengan yang telah mereka lalui ribuan kali sejak
masa kanak-kanak.
Suasana
canggung itu seketika mencair berkat kebiasaan lama mereka.
Merasa jauh
lebih santai, Haruki melemparkan godaan, separuh untuk menutupi rasa malu,
separuh lagi karena ingin bersandar pada pemuda itu.
"Ugh,
Hayato, kamu memperlakukan aku seperti Hime-chan lagi ya, kan?"
"…Yah,
kan kamu setahun lebih muda, ulang tahunmu juga lebih awal."
"Sombong
sekali… Baiklah, terserah kamu deh. Tapi jangan pernah berbuat seperti ini ke
orang lain ya, oke? Itu namanya mengganggu."
"Mana
mungkin aku melakukannya. Buatku, kamu itu ya, Haruki."
"Haha,
apa maksud dari kalimat itu?"
"…Terserah."
Suasana
yang jauh lebih menggelitik menyelimuti udara di antara mereka.
Ekspresi
tegang di wajah mereka telah lenyap sepenuhnya.
Dada mereka
berdegup kencang bergemuruh, namun rasanya sama sekali tidak buruk.
"Haru-chan!
Haru-chan, Haru-chan, acaranya tadi keren banget, dekat banget lho, aku memang
tidak menang undiannya, tapi aku dapat giliran jabat tangan, baru pertama
kalinya dalam sejarah, ketemu selebritas asli secara langsung!"
"!?`"
Suara
seruan Himeko yang penuh antusias memecah keheningan di antara mereka berdua.
Mereka
langsung melompat berdiri secara bersamaan dan buru-buru memalingkan muka.
Jika
dilihat lebih dekat, bukan hanya Himeko saja yang sedang melambaikan kedua
tangannya dengan riang, tetapi Kazuki, Iori, dan Isami Ema juga sudah berada di
sana.
Mereka
rupanya telah berkumpul kembali, menandakan bahwa acara di panggung utama telah
usai.
Sambil
menggaruk bagian belakang kepalanya, Hayato bangkit berdiri lalu mengulurkan
tangannya ke depan.
"Ayo
kita pergi sekarang?"
"…Ya!"
Haruki
meraih uluran tangan pemuda itu, menyunggingkan senyuman cerah selayaknya
seorang anak kecil.



Post a Comment