NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 3 Prolog

Prolog


Langit biru yang memudar.

Awan putih bersih tanpa pola apa pun.

Pohon-pohon bergoyang tertiup angin, menyuarakan gemerisik yang bising.

Dikelilingi oleh pegunungan bagaikan sebuah penjara, tidak berubah, dengan waktu yang seolah berhenti di atas lanskap tanpa warna.

Itulah dunia milik Saki.

Terlahir sebagai satu-satunya putri dari sebuah kuil yang telah berdiri sejak zaman Heian, ia dilatih menari tarian kagura bahkan sebelum ia sempat mempertanyakannya.

Dikelilingi oleh orang-orang dewasa, ia membalas salam bagaikan sebuah boneka mekanik.

Tanpa keinginan khusus, ia hanya hidup sebagai seorang gadis miko berikutnya di Tsukinose, hari demi hari.

Dunia yang hambar dan terasa kering.

Saki muda tidak menaruh banyak rasa suka terhadap tempat itu.

Latihan kagura terasa sangat keras. Nenek, ayah, dan keluarganya yang biasanya lembut tidak memberikan toleransi apa pun, tidak ada ruang untuk mengeluh.

Untuk apa ia berlatih?

Untuk siapa ia menari?

Berapa lama lagi semua ini harus terus berlanjut?

Ia ingin berhenti.

Namun hal itu tidak diizinkan.

Ia bahkan tidak tahu cara lain untuk bisa bertahan hidup.

Desa Tsukinose yang tidak pernah berubah terpantul di dalam kedua matanya.

Dunia ini terasa membosankan dan dipenuhi oleh kepasrahan.

Saki mulai lebih sering menundukkan pandangannya.

Semua itu terjadi saat perayaan musim panas.

Untuk pertama kalinya, Saki membawakan tarian kagura di atas panggung.

Tidak ada hal istimewa yang ia rasakan.

Ia hanya melakukan apa yang telah ia latih, di tempat yang berbeda.

Satu-satunya pembeda hanyalah kostum yang penuh hiasan, terasa berat, dan menyesakkan.

Orang-orang dewasa memujinya, namun pujian itu sama sekali tidak menyentuh hatinya.

Ia hanya merasakan sedikit kejengkelan.

Namun tidak ada gunanya menunjukkan emosi itu.

Maka Saki tetap menari, mengerahkan seluruh sisa tenaganya ke dalam tarian untuk meredam isi kepalanya.

"Luar biasa! Bukan cuma cantik, tapi juga keren!"

"…Eh?"

Usai menari, sebuah suara memanggil dari bawah panggung.

Ia menoleh dan melihat seorang anak laki-laki dengan mata yang berbinar-binar, bertepuk tangan sambil tersenyum cerah, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus.

Pujian dan senyuman yang begitu murni tanpa keraguan itu membuatnya bingung bagaimana harus merespons.

Jantungnya yang semula tenang mendadak berdegup kencang menyakitkan. Ia mencengkeram dadanya, kehabisan napas.

Tubuhnya terasa panas, kepalanya berputar pusing.

Rasanya bagaikan demam, namun tidak terasa tidak menyenangkan.

Saki sudah tidak lagi mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

"!"

"Ah!"

Meninggalkan suara kaget anak laki-laki itu di belakang, ia berlari kabur dari atas panggung.

Sesuatu yang asing bergolak di dalam dadanya.

Ia tidak mampu memprosesnya.

Namun ia tahu ada sesuatu yang sedang berubah, dan hal itu membuatnya merasa ketakutan.

Melihat sang nenek, Saki langsung berlari menghambur dan mencengkeram bajunya untuk meminta pertolongan.

"~~~~!"

"Saki!? Ada apa!?"

Neneknya yang terkejut langsung menangkap tubuhnya saat Saki membenamkan keningnya di dada wanita paruh baya itu.

"Saki, ada apa sebenarnya!?"

"Apa yang terjadi… Kamu membawakan tarian kagura dengan sempurna, kan?"

Kedua orang tuanya bergegas mendekat dengan wajah cemas, namun Saki hanya menggelengkan kepala, membenamkan wajahnya dalam dekap sang nenek.

Bagi mereka, Saki adalah anak yang penurut.

Jarang rewel, patuh, dan berbakat dalam kagura—sebuah kebanggaan keluarga.

Namun baru kali ini ia bertindak sesuai usianya.

Mereka mulai memahami situasinya sembari mengawasi gadis kecil itu.

Setelah sedikit tenang, Saki perlahan mendongakkan kepalanya.

Nenek, orang tua, serta para warga paroki kuil yang sudah familier menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Perhatian mereka memberikannya sedikit kekuatan, hingga ia tidak kuasa menahan diri untuk menyuarakan perasaan yang lahir di dalam dadanya.

"…Aku takut."

"Takut?"

"Iya."

"Takut pada apa?"

"Anak laki-laki itu."

"Anak dari keluarga Kirishima? Apa dia mengganggumu?"

"Bukan, dia bilang tarianku tadi cantik dan keren…"

"…Eh?"

"Aku tidak mengerti. Dadaku terasa sesak. Ada yang salah dengan diriku."

Suaranya bergetar nyaris menangis, namun wajah orang-orang dewasa di sekitarnya justru melembut membentuk senyuman.

Saki mengerucutkan bibirnya, kesal dengan reaksi mereka, namun ia menyadari wajah orang-orang itu kini memancarkan binar yang sama seperti anak laki-laki tadi.

Matanya membelalak lebar, lalu mengepalkan tangan ke arah dadanya yang masih berdegup kencang.

Ia mendongak ke atas.

Langit luas membentang berkilau bagaikan kotak permata yang tumpah, ditemani bulan agung yang memancarkan cahaya dingin.

Awan berarak pelan, sebuah pertunjukan megah di keasiangan langit.

Angin berhembus.

Pegunungan seolah bernyanyi saat dedaunan bergesekan.

Lanskap itu, wajah-wajah itu—ia mengenali semuanya.

Namun semuanya terasa begitu baru.

Kenapa ia tidak menyadarinya selama ini?

Hatinya tidak bisa tenang.

Hari itu, di usianya yang menginjak tujuh tahun, Saki menyadari bahwa dunianya telah mendapatkan warna.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close