Prolog
Langit biru
yang memudar.
Awan putih
bersih tanpa pola apa pun.
Pohon-pohon
bergoyang tertiup angin, menyuarakan gemerisik yang bising.
Dikelilingi
oleh pegunungan bagaikan sebuah penjara, tidak berubah, dengan waktu yang
seolah berhenti di atas lanskap tanpa warna.
Itulah
dunia milik Saki.
Terlahir
sebagai satu-satunya putri dari sebuah kuil yang telah berdiri sejak zaman
Heian, ia dilatih menari tarian kagura bahkan sebelum ia sempat
mempertanyakannya.
Dikelilingi
oleh orang-orang dewasa, ia membalas salam bagaikan sebuah boneka mekanik.
Tanpa
keinginan khusus, ia hanya hidup sebagai seorang gadis miko berikutnya di
Tsukinose, hari demi hari.
Dunia yang
hambar dan terasa kering.
Saki muda
tidak menaruh banyak rasa suka terhadap tempat itu.
Latihan
kagura terasa sangat keras. Nenek, ayah, dan keluarganya yang biasanya lembut
tidak memberikan toleransi apa pun, tidak ada ruang untuk mengeluh.
Untuk apa
ia berlatih?
Untuk siapa
ia menari?
Berapa lama
lagi semua ini harus terus berlanjut?
Ia ingin
berhenti.
Namun hal
itu tidak diizinkan.
Ia bahkan
tidak tahu cara lain untuk bisa bertahan hidup.
Desa
Tsukinose yang tidak pernah berubah terpantul di dalam kedua matanya.
Dunia ini
terasa membosankan dan dipenuhi oleh kepasrahan.
Saki mulai
lebih sering menundukkan pandangannya.
Semua itu
terjadi saat perayaan musim panas.
Untuk
pertama kalinya, Saki membawakan tarian kagura di atas panggung.
Tidak ada
hal istimewa yang ia rasakan.
Ia hanya
melakukan apa yang telah ia latih, di tempat yang berbeda.
Satu-satunya
pembeda hanyalah kostum yang penuh hiasan, terasa berat, dan menyesakkan.
Orang-orang
dewasa memujinya, namun pujian itu sama sekali tidak menyentuh hatinya.
Ia hanya
merasakan sedikit kejengkelan.
Namun tidak
ada gunanya menunjukkan emosi itu.
Maka Saki
tetap menari, mengerahkan seluruh sisa tenaganya ke dalam tarian untuk meredam
isi kepalanya.
"Luar
biasa! Bukan cuma cantik, tapi juga keren!"
"…Eh?"
Usai
menari, sebuah suara memanggil dari bawah panggung.
Ia menoleh
dan melihat seorang anak laki-laki dengan mata yang berbinar-binar, bertepuk
tangan sambil tersenyum cerah, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus.
Pujian dan
senyuman yang begitu murni tanpa keraguan itu membuatnya bingung bagaimana
harus merespons.
Jantungnya
yang semula tenang mendadak berdegup kencang menyakitkan. Ia mencengkeram
dadanya, kehabisan napas.
Tubuhnya
terasa panas, kepalanya berputar pusing.
Rasanya
bagaikan demam, namun tidak terasa tidak menyenangkan.
Saki sudah
tidak lagi mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"!"
"Ah!"
Meninggalkan
suara kaget anak laki-laki itu di belakang, ia berlari kabur dari atas
panggung.
Sesuatu
yang asing bergolak di dalam dadanya.
Ia tidak
mampu memprosesnya.
Namun ia
tahu ada sesuatu yang sedang berubah, dan hal itu membuatnya merasa ketakutan.
Melihat
sang nenek, Saki langsung berlari menghambur dan mencengkeram bajunya untuk
meminta pertolongan.
"~~~~!"
"Saki!?
Ada apa!?"
Neneknya
yang terkejut langsung menangkap tubuhnya saat Saki membenamkan keningnya di
dada wanita paruh baya itu.
"Saki,
ada apa sebenarnya!?"
"Apa
yang terjadi… Kamu membawakan tarian kagura dengan sempurna, kan?"
Kedua orang
tuanya bergegas mendekat dengan wajah cemas, namun Saki hanya menggelengkan
kepala, membenamkan wajahnya dalam dekap sang nenek.
Bagi
mereka, Saki adalah anak yang penurut.
Jarang
rewel, patuh, dan berbakat dalam kagura—sebuah kebanggaan keluarga.
Namun baru
kali ini ia bertindak sesuai usianya.
Mereka
mulai memahami situasinya sembari mengawasi gadis kecil itu.
Setelah
sedikit tenang, Saki perlahan mendongakkan kepalanya.
Nenek,
orang tua, serta para warga paroki kuil yang sudah familier menatapnya dengan
penuh kekhawatiran.
Perhatian
mereka memberikannya sedikit kekuatan, hingga ia tidak kuasa menahan diri untuk
menyuarakan perasaan yang lahir di dalam dadanya.
"…Aku
takut."
"Takut?"
"Iya."
"Takut
pada apa?"
"Anak
laki-laki itu."
"Anak
dari keluarga Kirishima? Apa dia mengganggumu?"
"Bukan,
dia bilang tarianku tadi cantik dan keren…"
"…Eh?"
"Aku
tidak mengerti. Dadaku terasa sesak. Ada yang salah dengan diriku."
Suaranya
bergetar nyaris menangis, namun wajah orang-orang dewasa di sekitarnya justru
melembut membentuk senyuman.
Saki
mengerucutkan bibirnya, kesal dengan reaksi mereka, namun ia menyadari wajah
orang-orang itu kini memancarkan binar yang sama seperti anak laki-laki tadi.
Matanya
membelalak lebar, lalu mengepalkan tangan ke arah dadanya yang masih berdegup
kencang.
Ia
mendongak ke atas.
Langit luas
membentang berkilau bagaikan kotak permata yang tumpah, ditemani bulan agung
yang memancarkan cahaya dingin.
Awan
berarak pelan, sebuah pertunjukan megah di keasiangan langit.
Angin
berhembus.
Pegunungan
seolah bernyanyi saat dedaunan bergesekan.
Lanskap
itu, wajah-wajah itu—ia mengenali semuanya.
Namun
semuanya terasa begitu baru.
Kenapa ia
tidak menyadarinya selama ini?
Hatinya
tidak bisa tenang.
Hari itu, di usianya yang menginjak tujuh tahun, Saki menyadari bahwa dunianya telah mendapatkan warna.



Post a Comment