NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 1 Chapter 15

Chapter 15

Aku Pulang


Di suatu petang musim panas, Haruki berjalan pulang seorang diri dengan langkah kaki yang ringan. Dia menyadari ada kelegaan yang tidak biasa dalam dirinya.

Dia baru saja pulang terlambat karena mengurus tugas wali kelasnya—sebuah hal yang lumrah terjadi. Biasanya, dia dengan sukarela menawarkan diri sebagai cara menunda kepulangannya ke rumah yang kosong. Namun hari ini, ada sesuatu pada dirinya yang terlihat berbeda di mata orang lain.

(Apakah aku tadi benar-benar terlihat begitu gelisah?)

Dia teringat bagaimana orang-orang meminta maaf di setiap perhentian karena telah "menahannya padahal sedang terburu-buru." Itu adalah pengalaman pertama, padahal dia sama sekali tidak merasa terburu-buru.

(Mungkin mereka bisa merasakan kalau aku ingin meminta maaf soal kejadian tadi pagi...)

Dia tahu keisengannya tadi pagi sudah keterlaluan. Mengingat wajah cemberut Hayato sepanjang hari di bangku sebelah mejanya, dia melepaskan senyuman kecut. Keisengan itu sebenarnya bisa merusak hubungan mereka, namun Haruki menyeringai, merasa sangat yakin hal itu tidak akan terjadi.

"Hei, Haru-chan. Mau langsung pulang?"

"Hime-chan. Yup."

Menjelati area perumahan, dia berpapasan dengan Himeko yang juga sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Mereka secara alami mulai berjalan beriringan. Himeko sempat belajar bersama teman-temannya di perpustakaan, dan sepanjang jalan, keluh kesahnya tentang kelelahan menghadapi ujian masuk sekolah memenuhi udara. Haruki menyadari Himeko telah melupakan insiden kaus tadi malam sepenuhnya, tersenyum geli melihat betapa miripnya adik beradik itu dengan Hayato.

"...Haru-chan, kamu kelihatan gembira banget."

"Hah? Memangnya iya?"

Senyumannya tadi muncul tanpa sadar, baru disadarinya saat Himeko menunjuknya. Himeko sempat menatapnya dengan bingung sebelum akhirnya mengangkat bahu dan kembali mengomel, melanjutkan langkah menuju rumah.

"Aku pulang—ugh, Kak Onii, wajahmu muram banget!"

"...Diam kamu."

"Haha."

Setibanya di apartemen, Haruki dan Himeko mendapati Hayato sedang dengan muram mengiris terong dan daun bawang menjadi potongan memanjang. Daging cincang dan doubanjiang mengisyaratkan menu terong mapo untuk makan malam. Gerakan mengirisnya yang tanpa henti mengkhianati kekesalannya.

Himeko melirik bergantian antara suasana hati kakaknya yang suram dan senyuman kecut Haruki, lalu menghela napas gemas.

"Duh, Haru-chan, apa yang sudah kamu lakukan? Kalau tahu salah, minta maaf gih! Aku nggak mau makan dalam suasan hati yang masam begini."

"...Oh."

Didorong oleh Himeko, Haruki dengan ragu-ragu mendekati Hayato, wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Pemuda itu meliriknya sekilas namun tetap melanjutkan irisannya. Tanpa menyerah, dia memiringkan kepala, mengintip ke arahnya.

"Aku... mungkin sudah kelewatan ya. Maaf?"

"...Hmph."

Disertai helaan napas panjang, Hayato berhenti, berbalik, lalu menggaruk kepalanya, nadanya mencerminkan campuran rasa jengkel sekaligus pasrah.

"...Selamat datang."

"...!"

Haruki sempat membeku karena terkejut, lalu mencerna kata-kata tersebut. Rasa malu dan kebahagiaan membuncah di dadanya saat dia membalas.

"Aku pulang!"

Wajahnya langsung merekah dengan senyuman paling cerah sejak mereka bertemu kembali.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close