Chapter 12
Sahabat Baik
Himeko
Himeko
kembali ke rumah tepat sebelum pukul 7 malam, saat matahari mulai terbenam di
ufuk barat.
"Aku
pulang!"
"Selamat
datang. Di mana Haruki?" tanya Hayato.
"Dia
terlalu lelah untuk makan di sini, katanya mau mengurus dirinya sendiri."
"Haruki
kehabisan energi? Sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan seharian?"
"Hanya
berbelanja?"
Hayato
memicingkan mata penuh curiga ke arah Himeko, namun ekspresi wajahnya yang
berseri-seri dan tampak sangat puas justru mengkhianatinya sendiri. Menghirup
aroma dari dapur, Himeko langsung memeriksa menu makan malam.
"Kari?"
"Yup,
cukup untuk jatah malam besok juga."
"Beri
tahu aku kalau sudah siap, ya."
"Tentu."
Sesampainya
di kamar, Himeko melemparkan tasnya begitu saja dan langsung menjatuhkan diri
ke atas ranjang, memeluk bantal sambil berguling-guling kegirangan. Sambil
tersenyum lebar, dia memutar ulang kejadian hari itu di dalam kepalanya,
menikmati sisa-sisa keseruan yang masih membekas.
Kunjungan
pertamanya ke pusat kota memberikan kejutan yang luar biasa. Berbeda dengan
pedesaan Tsukino-se, kereta di sini datang silih berganti, kompleks stasiunnya
sangat besar, dan jalanan dipenuhi oleh berbagai macam mobil—bukan hanya truk
pikap saja. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi menggapai langit,
benar-benar perwujudan dari impian kota besar yang selama ini dibayangkannya.
Kegembiraannya sudah melambung tinggi sejak pagi hari.
"Wah,
kita harus mulai dari mana dulu...?"
"Hehe,
kita ikuti toko-toko di Sepanjang Jalan Utama, mampir ke pusat perbelanjaan di
ujung jalan, lalu kelilingi area sekitarnya—cara yang paling efisien dan
menyeluruh!" seru Haruki bersemangat.
"Haru-chan,
kemarin kamu sempat ragu-ragu, tapi kenapa sekarang antusias banget?"
"Kalau
aku sudah berniat, aku akan totalitas! Lagipula, ini kan untuk memberi kejutan
pada Hayato, iya kan?"
"Benar
juga."
Antusiasme
Haruki bahkan jauh melampaui semangat Himeko sendiri. Senyumannya yang usil,
dipadukan dengan setelan tunik santai dan celana pendek—terlihat imut namun
tetap elegan—sukses membuat jantung Himeko berdegup kencang.
Pilihan
gaya busana yang dipilihkan Himeko, ditambah tunik yang merupakan miliknya
sendiri, semakin memperkuat daya tarikus tersebut.
(Totalitas
demi Kak Onii, ya...)
"Bayangkan
kalau Haruki memakai pakaian super feminin dan membuat Kak Onii salah tingkah
sepenuhnya—bukankah itu akan sangat lucu?"
Bisikan
rencana Himeko di rumah Haruki tempo hari lah yang telah memicu semua ini.
Tujuannya adalah untuk menggoda Hayato, jadi reaksi Haruki sudah bisa ditebak
sejak awal.
Meskipun
begitu, secercah rasa cemburu sempat menyelinap di hati Himeko, yang langsung
ditepisnya dengan menepuk kedua pipinya sendiri.
"Semangat
yang bagus, Hime-chan!"
"Ayo
kita datangi semua toko!"
"Yeah!"
Duo yang
sedang dilanda semangat membara itu menyatroni berbagai toko, sesekali
melenceng dari rencana karena Haruki mendadak masuk ke toko game, toko hobi
kapal selam kuning, atau mesin gacha—sifatnya yang mudah ditebak itu justru
terasa sangat menyenangkan.
Di sebuah
kedai buah terkenal, mereka melahap parfait buah ukuran jumbo yang besarnya
menyaingi wajah mereka sendiri sambil terus mengobrol tanpa henti.
Rencana
awal mereka untuk berbelanja secara sistematis akhirnya berantakan karena
mereka harus bolak-balik mencocokkan berbagai barang, membuat jadwal hari itu
jauh melampaui batas waktu yang ditentukan.
Haruki,
yang tadinya penuh energi, akhirnya tertidur pulas di dalam kereta dalam
perjalanan pulang, menyandarkan kepalanya di bahu Himeko tanpa pertahanan sama
sekali. Himeko tidak bisa menahan senyuman melihat pemandangan itu.
(Hari ini
sungguh menyenangkan... Oh?)
Tenggelam
dalam kenangan indah, sebuah notifikasi ponsel tiba-tiba menyentaknya kembali
ke dunia nyata. Pesan itu datang dari Saki, sahabat karibnya di Tsukino-se.
"Lagi
apa hari ini? Aku bosan banget, sampai-sampai maraton nonton video pemandangan
kereta dari seluruh dunia~"
"Kita
ini sudah kelas tiga SMP, Saki! Belajar sana buat ujian!"
"Aneh,
kan? Niatnya mau duduk belajar, eh ujung-ujungnya malah begini~"
"Yah,
kalau aku seharian ini sibuk belanja."
"Keren~
Beli apa emangnya?"
"Lebih
tepatnya kita yang memilihkan barang... Masih ingat kan sama Haru-chan, yang
dulu sering main bareng Kak Onii?"
"Yup,
yang kata kakakmu itu evolusinya naik level dari monyet jadi gorila~?"
"Tepat
sekali. Kami tadi sedang memilihkan baju untuknya... Sebentar ya."
Himeko
menyaring foto-foto di galeri ponselnya, memilih beberapa yang paling bagus
untuk dikirimkan: pakaian kasual, feminin, hingga gaya feminin yang manis,
semuanya berhasil memperlihatkan sisi terbaik dari dirinya dan Haruki,
menonjolkan pesona mereka.
Puas dengan
hasil jepretannya, dia juga ingin membuat Saki terkejut melihat transformasi
kecantikan Haruki—sebuah kejutan iseng yang sekadar menjadi pembuka obrolan.
"!?"
Panggilan
telepon dari Saki yang masuk hampir bersamaan dengan foto-foto tersebut sukses
membuatnya terperanjat kaget.
"Eh,
Saki-cha—"
"Gadis
siapa ini~?"
"A-Apa,
Saki-chan!? Ini Haru-chan, tahu!"
"Benarkah~?
Cantik banget padahal~."
"Y-Yah,
memangnya dia cantik, kan?"
Suara Saki
yang biasanya pemalu dan santai terdengar begitu tegang hingga membuat bulu
kuduk merinding.
Secara
insting, Himeko langsung duduk tegak di atas tempat tidurnya, tubuhnya kaku
seketika.
"Kamu
berbohong padaku ya, Hime-chan~? Padahal aku dengar dia itu gorila~."
"T-Tidak,
itu memang benar kok! Dia aslinya masih tetap sama seperti dulu—ceroboh, kasar,
benar-benar bertingkah seperti gorila kalau di dekat Kak Onii!"
"Mirip
zaman dulu banget~!?"
"Saki-chan!?"
Himeko
merasa sangat kebingungan.
Dia belum
pernah mendengar Saki yang lembut mendadak begitu panik, dan alasan di balik
kepanikannya itu sama sekali tidak bisa ditebak.
Potongan
kalimat penuh isak tangis—“Rencana SMA~,” “Liburan musim panas di sana~,” “Anak
remaja cowok itu buas lho~”—membuat Himeko ikut dilanda kepanikan.
"Woi,
Himeko, makanannya sudah siap!" panggil Hayato dari luar.
Sebuah
penyelamatan di saat yang tepat.
"Maaf
ya Saki-chan, aku harus makan malam dulu!"
"Hime-chan~!?"
"Kak
Onii, sebentar!"
Sambil
meminta maaf dalam hati, Himeko langsung kabur, masih menyimpan rasa penasaran
yang besar atas reaksi aneh dari Saki.



Post a Comment