NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 1 Chapter 11

Chapter 11

Buket Sayuran


Hari Sabtu pagi, setelah selesai sarapan.

Hayato dipaksa untuk membantu Himeko mengecek fesyen di ruang tamu.

"Bagaimana ini? Terlalu keanak-kanakan?" Himeko berputar, gaun tanpa lengan bermotif bunga yang dikenakannya berayun—sebuah desain yang manis dan feminin. Dia bersenandung kecil, tampak belum puas.

"Uh, kelihatan bagus, kok?" jawab Hayato seadanya.

"Ugh, Kak Onii! Serius sedikit, dong!" bentak Himeko.

Ini adalah konsultasi pakaian ketiganya. Sebelum ini, dia sudah mencoba atasan terbuka bergaya dewasa dengan rok midi tulle, dan sebelumnya lagi, pakaian yang pas seusia anak remajanya saat malam di minimarket dulu.

(Semuanya kelihatan bagus. Pakai yang mana saja tidak masalah.)

Himeko memiliki lemari pakaian yang cukup besar dengan berbagai preferensi khusus, tetapi Hayato sama sekali tidak bisa memahami obsesinya dan merasa sangat kewalahan. Ekspresi bingung di wajahnya justru membuat pipi Himeko semakin menggembung.

Saat Himeko hendak menceramahinya lagi, matanya tak sengaja melirik ke arah jam dinding, memicu kepanikan mendadak.

"Oh, aku sudah terlambat! Ugh, pakai yang ini saja deh. Lagipula Haru-chan kan lebih tua."

"Mau langsung pergi? Ini bahkan belum jam 9."

"Hehe, menjemput Haru-chan dan mendandaninya itu butuh waktu, tahu!"

"Benar juga..."

Sambil mengucapkan itu, Himeko mengenakan sandal kesayangannya dan langsung melesat pergi, sepertinya dia akan menyerbu rumah Haruki dengan penuh semangat.

Mengantarnya pergi, Hayato menghela napas lega, merosot jatuh ke atas sofa sambil meregangkan tubuhnya. Ruang tamu yang tertata rapi dan belum dibongkar sepenuhnya itu tampak senada dengan rumah mereka sebelumnya. Kamar Himeko memang masih setengah penuh dengan kardus, tapi itu bukan urusannya.

Meski begitu, masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

"Baiklah, ayo kita selesaikan ini. Jadwal angkut sampah hari Senin—"

Memilah sampah, membersihkan area bersama seperti kamar mandi dan lorong, mencuci tumpukan pakaian kotor, termasuk seprai tempat tidur—Hayato bekerja dengan efisien, gerakannya sudah sangat terlatih. Hanya saat menjemur pakaian dalam Himeko saja keningnya sedikit berkerut; bagaimanapun juga sebagai seorang kakak, memegang pakaian inchi seorang gadis terasa cukup canggung.

Pekerjaan rumah tangga selesai dengan cepat—apartemen itu jauh lebih kecil daripada rumah mereka di Tsukino-se. Hari masih menjelang pukul 11 siang, terlalu pagi untuk makan siang, dan memasak sendirian rasanya tidak ada gunanya. Kulkas sudah bisa ditebak kosong, memaksanya untuk pergi keluar.

"...Mau bagaimana lagi."

Setelah ragu sejenak, Hayato bergumam pada dirinya sendiri, lalu mengambil sebuah amplop dari rak ruang tamu. Dia menyalakan laptop untuk memeriksa alamat yang tertulis di atasnya, dengan ekspresi wajah yang serius.

Meninggalkan apartemen, Hayato menuju ke stasiun terdekat—sebuah bangunan yang tampak biasa saja. Sambil mengagumi jarak sepuluh menit berjalan kaki dan kereta yang datang sepuluh kali dalam sejam, dia naik kereta selama dua stasiun, terkejut mendapati betapa singkatnya jarak antar stasiun tersebut. Setibanya di sana, dia mengincar sebuah gedung putih besar yang terlihat jelas dari peron stasiun.

Di kawasan pinggiran kota itu, terdapat area parkir yang sangat luas serta ruang terbuka hijau mirip plaza yang dilengkapi rumput dan hamparan bunga. Meskipun dipenuhi tanaman hijau, tempat itu terasa hampa dan steril.

Memasuki lobi yang luas, Hayato melakukan registrasi di bagian resepsionis dan langsung menuju lantai enam, kamar 617—kamar rumah sakit ibunya.

"Oh, Hayato?" ibunya yang tampak lebih kurus dan rapuh sedang mengupas buah pir dengan pisau kecil.

"Mau coba? Ibu tadi terbawa suasana saat latihan untuk terapi pemulihan."

"Boleh... Wah, itu banyak sekali!?"

"Haha, ini jatah tiga buah pir sekaligus!"

"Apa kita bisa menghabiskan semua ini? Apa yang sebenarnya Ibu pikirkan?"

"Tidak apa-apa. Ayah bisa makan sisanya malam nanti."

"Ayah..."

Hayato mengambil sepotong pir, yang diukir dengan rumit menyerupai bentuk daun atau kelinci, dari ibunya yang tampak riang. Tekstur renyah serta rasa manis-asam langsung memenuhi rongga mulutnya.

Ibunya menatapnya makan dengan penuh kelembutan, dan karena merasa risih dengan tatapan itu, Hayato membuang muka, lalu menanyakan hal yang sejak tadi mengganjal di benaknya.

"Uh, Ibu... baik-baik saja?"

"Operasinya berjalan lancar. Jari-jariku sedikit kebas, tapi aku akan segera pindah ke sesi terapi. Bagaimana kabar Himeko? Dia tidak menangis, kan?"

"Dia baik-baik saja. Hari ini dia sedang pergi keluar dengan seorang teman—Haru."

"Baguslah."

Rasa lega yang terpancar jelas di wajah ibunya membuat Hayato ikut merasa tenang setelah melihat ibunya jauh lebih sehat dari perkiraannya. Ayah memang sempat bilang kalau semuanya baik-baik saja, tapi melihatnya secara langsung berhasil meringankan beban di hatinya.

"Baiklah, aku mau pulang dulu."

"Temani Ibu lebih lama lagi!"

"Enggak ah."

Setelah menghabiskan tiga potong buah pir, Hayato meninggalkan ibunya yang tampak enggan melepasnya, berniat segera kabur.

Ingatan saat ibunya pingsan—kejadian kedua, tepat di hadapan Himeko—masih terus berputar di kepalanya.

Rumah sakit selalu membuatnya merasa tidak nyaman: steril, terisolasi dari kehidupan normal, berbau disinfektan, dan dihiasi oleh bunga potong segar yang sekilas tampak seperti deretan kepala yang dipajang. Bagi Hayato, tempat-tempat seperti itu terasa begitu asing dan janggal.

"Oh."

"Hah?"

Dia membeku, tertegun di tempatnya.

Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut ikal mirip bulu domba sedang memegangnya—gadis eksentrik teman sekelasnya yang menanam sayuran di kebun sekolah.

"Mi-Mitake-san?"

"Kirishima-san...?"

Itu adalah sebuah buket bunga sayur berwarna putih, kuning, dan ungu yang sangat cerah, lebih mirip karangan bunga padat ketimbang rangkaian bunga lepas. Bunga jantan dari tanamanzukini menjadi pusatnya, dikelilingi oleh bunga terong, tomat, dan kuntum-kuntum kecil lainnya yang dijalin rapi.

Bahkan Hayato yang sama sekali tidak tahu soal bunga pun bisa melihat betapa rumit dan telitinya usaha di balik buket itu. Terlebih lagi—

"Bentuknya lucu."

"...Apa!?"

"Terlihat sangat hidup dengan semua bunga itu. Haha, bunga sayur ternyata terlihat benar-benar berbeda kalau dirangkai seperti ini."

"A-Aku tadi merapikannya dan berpikir kalau ini mungkin akan...!"

"Hebat juga kamu, Mitake-san."

"!"

Hayato memuji dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kenapa harus bunga sayur? Kenapa Mitake ada di sini?

Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya, namun keindahan buket itu serta hasil karya Mitake berhasil memikat perhatiannya, membuatnya menatap kagum tanpa berkedip.

"Auu..." gerutu Mitake tersendat.

Diserang pujian "lucu" dan tatapan intens dari pemuda itu, isi kepalanya mendadak kosong. Sambil berkaca-kaca, dia hanya bisa mengeluarkan suara rengekan "auu", bagaikan seekor hewan kecil yang ketakutan.

(Benar-benar mirip domba milik Kakek Gen di Tsukino-se, mengembik setiap kali kaget.)

Berusaha menahan tawa, ekspresi geli Hayato justru dianggap oleh gadis itu sebagai sebuah ejekan, yang membuat wajahnya semakin merona merah. Karena salah tingkah, dia mulai gelisah—lalu sesuatu melayang ke arahnya.

"Whoa!"

"Eek!"

Berhasil menangkapnya, dia melihat sebuah botol cola. Mengedarkan pandangan ke sekitar, seorang pasien lansia berwajah merah yang mengenakan baju pasien rumah sakit berdiri dengan posisi siap melempar bola, tubuhnya gemetar menahan amarah.

"Bocah sialan! Apa yang sedang kamu lakukan pada Minamo-san kesayanganku!?"

"Kakek!"

"A-Apa!?"

Melihat buket bunga milik Mitake dan pasien lansia tersebut, Hayato langsung bisa merangkai situasinya.

"Hei, Nak, jangan bergerak! Membuat Minamo menangis—apa yang sebenarnya kamu lakukan!? Jawab, atau rasakan akibatnya!"

"Tidak, aku cuma—!"

"Tunggu, Kakek, bukan begitu kejadiannya!"

Menyalahartikan situasi, lelaki tua itu mengacungkan tongkat jalannya. Wajahnya yang semerah cucunya itu berbanding terbalik dengan Hayato yang berpikir jernih sambil membatin, Apakah ini sifat keluarga? Namun keganasan lelaki tua itu—yang terasa lebih tajam ketimbang seorang pemburu berpengalaman—membuat Hayato terperanjat. Ayunan tongkatnya tampak begitu beringas untuk ukuran seorang pasien lansia.

"Beraninya kamu berbuat macam-macam pada cucuku!?"

"Aduh, aduh!"

"Kakek!"

Butuh usaha yang tidak sedikit untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Beberapa menit kemudian, di sebuah bangsal rumah sakit terdekat.

Kakek Mitake membungkuk kepada Hayato.

"Maaf ya, Nak. Kita anggap urusan selesai, kan?"

"Uh, iya..."

"Mitake, permintaan maaf setengah hati seperti itu nanti malah bikin Minamo-chan marah padamu."

"Betul tuh, Pak Tua, nanti dia malah mogok ngobrol sama Kakek!"

"Grr... Sial, salahku! Maafkan aku, Nak!"

"Uh, iya..."

Keengganannya terlihat sangat jelas, ditambah provokasi dari pasien satu bangsalnya membuat rasa kesal lelaki tua itu tampak begitu kentara.

"Sudahlah, Mitake. Ngomong-ngomong Nak, kamu murid pindahan itu, ya? Kenapa kamu malah ngobrol dengannya?"

"Hah?"

"Kenapa mendekati Minamo kami?"

"Yah..."

"Dia memang manis, aku tahu. Malaikat tanpa sayap. Mau ngobrol dengannya sih wajar. Tapi mau menggandengnya? Pacaran? Kalau iya—"

"Bukan, bukan begitu!"

Intensitas lelaki tua itu benar-benar luar biasa. Todongan tongkat yang mengarah ke wajah Hayato sukses mengeluarkan pekikan tertahan dari mulutnya. Merasa nyawanya terancam, dia akhirnya meneriakkan yang sebenarnya.

"Dia mengingatkanku pada anak kecil di kota asalku dulu! Aku sering menjaganya, dan sikap paniknya benar-benar mirip dengannya, jadi aku tidak bisa mengabaikannya!"

"Oh? Minamo mirip dengannya? Anak kecil yang mana?"

"Anak perempuan berumur 8 tahun yang rambutnya ikal!"

"Dan karena itulah kamu mengajaknya bicara?"

"I-Iya!"

Lelaki tua itu tampak kurang yakin, namun para pasien lain di bangsal bergumam menyetujui: "Masuk akal juga," "Dia memang ceroboh," "Bikin orang gemas mau ngasih permen."

Hayato tertawa canggung. "Anak 8 tahun" yang dimaksud sebenarnya adalah seekor domba, yang bahkan usianya sudah lewat masa jayanya, namun dia memilih untuk tidak memperjelasnya.

Minamo kembali setelah selesai mengganti air di vas bunga.

"Kakek, di mana buket bunganya... Kakek! Apa yang sedang Kakek lakukan pada Kirishima-san!"

"Minamo, ini cuma—"

"Kakek! Berhenti mengganggunya! Ayo kita pergi!"

"Minamo!"

"Pfft, Pak Tua cemburu di usianya yang sudah senja."

"Sampai jumpa, Minamo-chan!"

Merasa terkejut melihat kakeknya mengancam Hayato, Minamo langsung meraih tangan pemuda itu, menariknya keluar dengan kekuatan yang tidak biasanya, sementara telinga dan lehernya memerah karena malu.

Hayato, yang memahami rasa malunya akibat ulah sang kakek, hanya bisa mengikuti langkahnya. Namun sesampainya di lobi, digandeng oleh seorang gadis membuatnya merasa canggung.

"Mitake-san, uh, tanganmu..."

"Oh! M-Maaf!"

"Tidak apa-apa, santai saja."

Ini adalah pertama kalinya dia menggenggam tangan seorang gadis, selain Himeko atau Haruki. Menyadari hal itu, wajahnya seketika terasa panas.

Untuk mengalihkan perhatian, dia berkata, "Kakekmu orang yang sangat bersemangat, ya?"

"...Iya."

Itu hanyalah komentar biasa, berdasarkan pada pria energik yang baru saja dia lihat. Namun tempat ini adalah rumah sakit, dan kakeknya adalah seorang pasien.

Terlambat, Hayato baru menyadari kebodohannya.

Rona kemerahan karena malu di wajah Minamo semakin gelap, matanya nyaris berkaca-kaca menahan tangis. Dalam sekejap, dia memaksakan senyuman lembut andalannya, yang justru membuat Hayato semakin merasa bersalah. Dia merutuki lidahnya yang tidak bisa dijaga.

"...Maaf."

"Bukan salahmu... Kakekku memang..."

"Uh, iya, haha."

"Mm."

Mereka saling meminta maaf, lalu tersenyum kecut bersama. Ekspresi muram yang sempat melintas di wajahnya berganti dengan ketegaran yang mantap, membuat momen itu terasa begitu membekas.

(Ekspresi wajah itu...)

Hal itu mengingatkannya pada hari ketika ibunya pingsan di masa kecil dulu, saat Himeko berdiri membeku, merasa kebingungan, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia tidak bisa mengabaikan Minamo begitu saja.

"Kalau begitu, Kirishima-san, aku akan—"

"Tunggu, Mitake-san!"

"Ya?"

"Uh... Kebun itu! Bolehkah aku berkunjung ke kebun lagi?"

"Fwe?"

Permintaan yang tidak terduga itu membuat gadis itu mengerjap kerdip. Pemahaman mulai merayap di benaknya, dan wajahnya seketika berseri-seri.

"Ya!"

"Baguslah, terima kasih."

Senyuman cerahnya berbalas dengan senyuman tipis dari pemuda itu. Dia tahu tawarannya ini terasa sedikit egois.

Setelah itu, dia bergegas melangkah pergi. Hembusan angin kencang menerpa, menyapu bersih bau disinfektan yang melekat.

Awan kumulonimbus menjulang tinggi di langit awal musim panas.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close