NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 2 Chapter 10

Chapter 10

Kan, Karena Ini Spesial


Langit sebelah barat berkilau tipis bagaikan fatamorgana, perlahan-lahan memerah.

Udara panas dari matahari siang membentuk awan kumulonimbus musim panas, melemparkan bayangan ke atas semburat senja.

Hayato dan yang lainnya terdiam menatap transisi dari sore menuju malam melalui jendela kereta.

Setelah dari bioskop, mereka mampir ke Karaoke Celery atas permintaan Himeko yang ingin makan makanan manis, tempat yang sama yang pernah dikunjungi Hayato dan Haruki sebelumnya. Himeko, yang sempat kikuk dengan suasana baru, merajuk melihat Hayato begitu santai karena sudah kedua kalinya ke sana, namun mereka menikmati makanan dan karaoke, terutama roti panggang madu yang dinikmati duo yang sedang diet itu sebagai suguhan langka.

Wajah mereka menyiratkan kelelahan, namun juga kepuasan dan kenyamanan.

Kereta akhirnya tiba di stasiun tempat Hayato, Haruki, dan Himeko turun.

"Yah, kami turun di sini. Maaf ya, Haruki, Himeko, kalian berdua jadi ikut repot," ujar Kazuki.

"Nggak apa-apa, aku bayar setengah kok, dan seru juga melihat sisi lain dari kalian," balas Kazuki.

"Um, Kaido-san, terima kasih traktirannya!" ucap Himeko.

"…Kaido, makasih," tambah Haruki.

Hayato melambaikan tangan santai saat mereka turun, dan Kazuki mengangkat tangannya sebagai balasan.

"Main-main lagi ya kapan-kapan. Nyanyianmu yang datar tanpa nada itu lumayan bikin ketagihan, Hayato-kun," goda Kazuki.

"Oi, diamlah!" bentak Hayato.

"Tahu kalau Onii payah dalam menyanyi rasanya agak melegakan sih. Tapi Haru-chan tadi keren banget!" puji Himeko bersemangat.

"Aku sudah melatih keterampilanku di kamar mandi!" sombong Haruki.

"Haruki…" keluh Hayato.

"Haru-chan…" koor Himeko.

"Hei, jangan lihat aku dengan tatapan begitu, Hayato, Hime-chan!?" protes Haruki.

Kazuki tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar, persis saat pintu kereta tertutup dan membawanya pergi.

"…Ayo pulang," ajak Hayato sambil menggaruk kepalanya lalu menyuruh Haruki dan Himeko melangkah.

Langkah kakinya terasa berat, enggan mengakhiri hari ini. Mendekati gerbang stasiun, Haruki mendadak berhenti.

"Aku tidak usah makan malam. Sudah terlalu kenyang. Langsung pulang saja," ucapnya.

"Aku juga. Mungkin cuma mau makan es krim," tambah Himeko.

"Itu namanya bukan makan malam, Himeko. Haruki, aku antar pulang yuk," tawar Hayato.

"Nggak usah, sepertinya mau hujan… Lihat itu?" tunjuk Haruki.

Langit menunjukkan gumpalan awan petir merah-kehitaman yang bergemuruh pelan, meski hujannya sepertinya masih agak jauh.

"Duluan ya!" Haruki langsung berlari pergi.

"Hei… Sialan," gumam Hayato.

"Dadah, Haru-chan!" panggil Himeko.

Uluran tangan Hayato hanya menangkap angin kosong, membuat ia menghela napas panjang.

"Dia bakal baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas.

"Dia bukan anak kecil lagi. Kakak terlalu overprotektif. Ayo kita ke supermarket dulu," ajak Himeko.

"Iya…" setuju Hayato.

Di area perumahan yang temaram, Haruki berlari seolah ingin mengusir bayangannya sendiri yang memanjang.

"Ugh, menyebalkan!" gerutunya terengah-engah.

Hari ini sangat menyenangkan, rasanya seperti masa kecil mereka dulu.

Tempat bermain mereka bergeser dari gunung dan kuil menjadi bioskop, restoran keluarga, dan karaoke, memperlihatkan sisi baru dari diri masing-masing.

Hayato, yang sempat digoda karena nyanyian datarnya, meringis malu.

Himeko, yang serius ingin menangkap ritme lagu untuk acara jalan-jalan dengan teman sekelasnya nanti.

Haruki, yang bernyanyi sambil memeragakan gerakan, berhasil memancing tepuk tangan enggan dari Hayato serta pertanyaan antusias dari Himeko tentang gerakan-gerakan itu—sementara Kazuki, yang entah bagaimana bisa membaur, memicu tawa lewat godaannya pada Hayato.

Semua orang tersimpulkan senyuman, namun Haruki merasakan pusaran keruh di dadanya, sebuah rasa sakit yang membakar. Rasanya mirip seperti rasa tidak sabar atau cemburu, tapi lebih dekat ke arah sifat egois anak kecil.

"Aku jadi agak iri sama Hime-chan…" gumamnya sambil berhenti melangkah.

Ia sudah sampai di depan rumahnya. Ia mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa ia bisa mengatakan hal itu, merasa terjebak dalam pikirannya sendiri.

"Ngh, baiklah!" Ia menampar kedua pipinya sendiri, memaksakan kembali nada suara aslinya, lalu membuka pintu sambil mengucapkan salam ritualnya.

"Aku pu—"

"Diam di tempatmu seperti anak baik!" sebuah suara tajam memotong.

Sebuah tamparan keras menggema. Tertegun, pipi Haruki terasa perih, kebingungan mengalahkan rasa sakitnya. Ia mendongak untuk melihat Mao Takura, wanita anggun yang nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya, menatap tajam seolah Haruki adalah sebuah gangguan.

Mata Haruki membelalak lebar, menyadari itu adalah ibunya. Emosi seolah terkuras habis dari wajahnya, dan ia berbisik lirih, "…Ibu."

Hujan turun dengan deras di luar sana, menghantam aspal dan memercikkan kabut air. Suhu dinginnya mendinginkan pipi Haruki yang memerah.

Ia basah kuyup. Rambutnya yang ditata rapi kini menempel berantakan, pakaian pilihannya terasa berat karena air hujan, dan riasannya luntur meninggalkan bayangan gelap di wajahnya.

"…Ah."

Tanpa sadar melangkah, ia kini sudah berada di depan gedung apartemen Hayato yang familier.

Tempat itu begitu besar, dengan mudah bisa menampung seratus keluarga, memberinya godaan untuk percaya bahwa tempat itu bisa menerimanya.

"…Apa yang sedang kulakukan?" tawa ringannya terdengar getir.

Kakiku membawaku ke sini secara naluriah. Ia tahu betul alasannya.

Hatinya menjerit. Hayato pasti akan menerimanya masuk tanpa banyak tanya, menenangkannya dalam diam, dan membiarkannya bersandar.

Begitulah bentuk pertemanan pemuda itu. Ia ingin berlari ke arahnya, namun ia tidak bisa melakukannya.

"Tapi itu bukan karena ini aku…" bisiknya pada diri sendiri.

Ia teringat hari ini, melihat Kazuki "diselamatkan" oleh Hayato, persis seperti saat Hayato menariknya keluar dari keterasingan di Tsukinose dan mengubah dunianya.

Itu sangat mirip dengan kepribadian Hayato, namun hatinya terasa nyeri.

Mengepal ponselnya di tangan, ia melihat kontak Hayato. Wajah canggung pemuda itu saat ia tahu ibunya masuk rumah sakit kembali melintas di benaknya. Jari-jarinya membeku di atas layar.

Hayato, teman baiknya, adalah sosok yang istimewa.

Itulah sebabnya ia tidak boleh bergantung padanya. Ia sadar dirinya sudah terlalu sering bersandar pada pemuda itu. Sejak kecil, mereka berdiri berdampingan. Ia ingin berdiri dengan penuh kebanggaan di samping sahabat terkasih ini.

Jika ia bersandar padanya sekarang, timbangan di dalam hatinya akan bergeser selamanya dan tak bisa kembali.

Ia tidak menginginkan hal itu. Ia telah memutuskan untuk terus berjuang dengan kakinya sendiri.

Ia mengembalikan ponselnya ke layar utama lalu berlari, dengan sengaja menjauhi arah rumah Hayato maupun rumahnya sendiri.

Itulah bentuk harga diri keras kepalanya.

Ia tahu tindakan ini sia-sia, namun ia tidak bisa berhenti berlari.

"…Apa yang sebenarnya kulakukan?" gumamnya.

Ia kini berada di taman dekat supermarket. Hujan badai sore tadi telah reda, menyisakan bintang-bintang yang berkelip seolah mengejeknya. Duduk di atas bangku taman, ia berbicara pada dirinya sendiri.

Pikirannya kini sudah lebih jernih. Mengingat kembali kelakuannya tadi, ia tertawa kecil getir.

"Guk! Guk, wuff!" seekor anjing menyalak.

"Hei, Rento! Mau ke mana? Waktunya pulang!" panggil sebuah suara yang familier.

"!?"

Ia menoleh dan mendapati Minamo Mitsutake sedang ditarik oleh seekor anjing collie berukuran besar sambil memegang tali kekang.

Gadis itu mengenakan pakaian longgar hitam dan celana skinny jeans kasual, membawa tas ramah lingkungan berisi kecap asin dan mirin—sangat keibuan untuk ukuran anak SMA.

Ia sepertinya sedang dalam perjalanan pulang berbelanja sambil mengajak anjingnya berjalan-jalan.

"Um, pemilik Rento sudah lanjut usia, dan anjing besar butuh banyak jalan-jalan, jadi aku kadang—" jelas Minamo kikuk.

"Haha, begitu ya," tanggap Haruki.

"I-Iya!" angguk Minamo.

Wajah Minamo berubah cemas saat melihat Haruki basah kuyup sendirian di taman—jelas bukan pemandangan yang normal. Siapa pun pasti akan khawatir melihatnya.

(Taman ini…)

Haruki teringat insiden anjing tempo hari. Ini memang lingkungan rumah Minamo.

"Ehm…" Haruki mencari-cari alasan yang tepat.

Minamo menatapnya lekat, lalu mengepalkan kedua tangannya seolah membulatkan tekad.

"Rumahku dekat dari sini! Kamu bisa masuk angin nanti!" serunya memaksa.

"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan—" tolak Haruki.

Minamo menjatuhkan tas belanjaannya, menyambar tangan Haruki, dan menariknya. Tenaganya tidak terlalu besar, dan Haruki sebenarnya bisa saja berdiri diam, namun ia merasa tidak enak hati merepotkan Minamo. Ini adalah masalahnya sendiri, dan menerima pertolongan terasa keliru.

"Aku tidak mungkin meninggalkan teman dalam keadaan seperti ini!" deklarasi Minamo.

"…Hah?" Haruki berkedip kaget.

Minamo tampak terkejut dengan ucapannya sendiri, wajahnya merona merah sambil tergagap-gagap.

"Um, berkebun! Teman berkebun! Jadi, eh…" gadis itu salah tingkah.

Haruki tidak mengerti kenapa Minamo begitu peduli padanya. Namun usaha tulus gadis itu berhasil membuatnya terkekeh pelan, membuat dadanya terasa lebih ringan.

"Terima kasih, Mitsutake-san. Rumahku tidak jauh kok. Aku baik-baik saja," kata Haruki sambil melepaskan genggaman tangan itu lalu melambaikan tangan.

Sebuah hantaman ringan terasa di punggungnya.

"Mana bisa begitu!" Minamo memeluknya erat, tidak peduli bajunya ikut basah.

Haruki kebingungan. Mereka tidak begitu dekat, hanya kenalan sesama pencinta berkebun.

"Kenapa?" tanyanya.

"Kamu punya tatapan mata yang sama persis seperti Kirishima-san tadi. Aku tidak tahu apa artinya, tapi itu… jelas tidak baik-baik saja!" ucap Minamo jujur.

"…Apa?" Haruki membeku, tertegun mendengar perbandingan itu.

"Kira-kira apa yang sedang kulakukan…" Haruki tertawa lagi.

Kewalahan menghadapi desakan Minamo, ia kini sudah berada di rumah Minamo, berendam di dalam bathtub berisi air hangat sambil meniup gelembung sabun. Suara mesin pengering berdengung pelan dari ruang cuci.

Sambil mengerutkan kening, ia membatin, (Rumahnya besar, tapi suasananya ini…)

Rumah Minamo yang terletak dekat taman itu adalah rumah tradisional Jepang berukuran besar dan agak tua, menyiratkan keluarga yang cukup berada. Koridornya terawat rapi, terasa hangat namun diselimuti kesedihan yang samar.

Ia tidak bisa menganggap ini sekadar urusan orang lain, tenggelam lebih dalam ke dalam air hangat sambil menyunggingkan kerutan di dahinya. Ia merenungkan perkataan Minamo tadi.

(Aku dan Hayato, punya tatapan mata yang sama…)

Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia tidak bisa menebaknya. Kebaikan Minamo yang terlampau memaksakan diri itu terasa sangat mirip dengan sifat Hayato.

Merasa sedikit pusing, ia akhirnya bangkit dan keluar dari kamar mandi.

"Terima kasih pinjaman bajunya," ucap Haruki mengenakan seragam olahraga Minamo—kaos dan celana pendek. Pakaian itu terasa agak ketat namun pas di badannya, meski bagian dadanya terasa longgar, membuatnya mendesah muram.

"Um, aku tidak punya pakaian kasual yang lucu…" cicit Minamo.

"Haha, aku biasanya juga pakai pakaian seperti ini di rumah," jawab Haruki mencairkan suasana.

"B-Benarkah?" gugup Minamo.

Minamo duduk kaku di sofa ruang tamu dengan postur yang terlalu formal. Haruki yang bingung harus merespons bagaimana menyunggingkan senyuman tipis, duduk di sebelah gadis itu sambil bergumam, "Terima kasih sudah menampungku."

Minamo tersentak kecil, tubuhnya sedikit bergetar. Haruki terkekeh melihat situasi terbalik di antara mereka.

Keheningan melingkupi ruangan.

Melirik ke arah Minamo, gadis itu tampak tegang, meringis sambil menghindari kontak mata.

(Pakaianku sepertinya butuh waktu agak lama untuk kering…) desah Haruki dalam hati sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Lemari pakaian yang sudah usang, meja rendah dengan goresan di sana-sini, serta rak televisi jadul terlihat tua namun terawat dengan penuh kasih sayang, mencerminkan kepedulian pemiliknya. Namun keberadaan Minamo yang sendirian di rumah sebesar itu terasa janggal.

(Tunggu sebentar…)

Haruki menyadari tidak ada tanda-tanda kehadiran anggota keluarga lain atau suara aktivitas di rumah itu. Keberadaan tas belanja berisi kecap dan mirin tadi semakin memperkuat keanehan ini. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.

Pikiran itu tercermin jelas di wajahnya. Minamo yang menangkap tatapannya mengepalkan tangan, dan setelah ragu sejenak, gadis itu akhirnya membagikan rahasianya.

"Aku sendirian di rumah ini," akunya lirih.

"…Oh," kaget Haruki pelan.

Perasaan deja vu melanda, kepingan-kepingan teka-teki itu mulai jatuh ke tempatnya.

"Kakekku, yang sudah lama tinggal bersamaku, sekarang masuk rumah sakit. Rasanya sepi sekali… Aku membawamu ke sini sebenarnya untuk menemaniku. Maafkan aku…" sesal Minamo.

"Tidak perlu minta maaf! Jadi begitu alasannya…" kata Haruki lembut.

Permohonan maaf Minamo yang polos layaknya anak kecil, mengakui kesepiannya dengan jujur, terasa begitu menggemaskan. Ketulusannya terpancar nyata, membuktikan bahwa gadis itu memang memiliki hati yang sangat baik.

Melihat Minamo dengan berani mencoba bertahan di tengah kesepiannya, Haruki bergerak secara naluriah.

"Sendirian itu menyebalkan, kan?" ucapnya pelan.

"Nikaidou-san!?" kaget Minamo.

"Aku juga sendirian di rumah. Rasanya sepi sekali…" aku Haruki terbuka.

"Nikaidou-san…" gumam Minamo terharu.

Mengikuti dorongan hatinya, Haruki merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangat, mengabaikan keterkejutan Minamo.

(Ah, aku mengerti sekarang…)

Ia akhirnya paham.

Kesepian memang menggerogoti jiwa. Keinginan untuk melarikan diri dari rasa itu—Hayato pasti merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya sahabat masa kecilnya itu begitu overprotektif dan suka ikut campur urusannya.

Sebuah tekad bulat mengisi ruang kosong di dalam hatinya.

"Hei, bolehkah aku datang lagi lain waktu? Di siang hari," pinta Haruki.

"Tentu saja, dengan senang hati!" senyum Minamo cerah.

"Dan… mari berteman."

"Hah?"

"Bukan cuma sekadar teman berkebun. Teman sungguhan. Aku ingin berubah. Apakah… boleh?"

"Mana mungkin aku menolak! Um, tentu saja, silakan...!" jawab Minamo terbata-bata saking bahagianya.

"Haha," tawa Haruki renyah.

Mereka terkikik geli dalam kecanggungan, tawa itu berhasil mengusir awan kelam di hati mereka. Semuanya sebenarnya sesederhana itu, hanya saja tertutupi oleh keegoisan mereka sendiri.

Haruki bersumpah dalam hati untuk terus berjuang, menepati janji-janji masa lalu.

Ponselnya berdering—panggilan dari Hayato.

Kenapa tiba-tiba menelepon? Mereka biasanya lebih sering berkirim pesan teks. Merasa heran, ia sempat ragu-ragu untuk mengangkatnya.

Minamo mengangguk memberi dorongan semangat. Haruki tersenyum masam lalu menerima panggilan itu.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Hayato langsung.

"…Hah?" Haruki berkedip bingung.

"Um, waktu di bioskop tadi… Kalau tidak terjadi apa-apa, baguslah," sambung pemuda itu dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam.

Perhatian tak terduga itu membuatnya salah tingkah, tapi itu memang sangat mencerminkan diri Hayato. Mendengar suara pemuda itu, semangat aslinya kembali bangkit, membuat dadanya terasa lapang.

Namun sebuah perasaan usil mendadak muncul di benaknya. Melirik ke arah Minamo, ia menggoda, "Kenapa, merasa kesepian dan butuh mendengar suaraku?"

"Mana mungkin! Jangan ngawur! Tapi… kalau kamu baik-baik saja, syukurlah," gerutu Hayato di ujung sana.

"Aku tadi merasa kesepian kok," aku Haruki jujur.

"…Haruki?" Nada suara Hayato berubah serius.

"Waktu aku pulang tadi, Ibu ada di rumah. Hal pertama yang dia lakukan adalah menampar pipiku. Lucu, kan? Pertama kalinya dalam enam bulan kami bertemu, dan dia bilang keberadaanku adalah sebuah kesalahan. Aku langsung kabur," jelas Haruki tenang.

"…"

"Ini masalah pribadiku, bukan cerita yang pantas dibagikan sembarangan. Canggung, ya? Tapi aku ingin kalian berdua tahu," lanjutnya.

"Aku adalah anak haram Mao Takura," ia membongkar rahasia terbesarnya.

"!?" kaget Hayato di ujung telepon.

"Iih!?" teriak Minamo kaget setengah mati di sebelah Haruki.

"Aku tidak tahu siapa ayahku. Aku hanya dianggap beban, tidak diinginkan. Rasanya… benar-benar sepi," aku Haruki diiringi getir.

"Kalau begitu! Kita sudah berjanji, kan! Aku akan menjemputmu, kamu di mana sekarang!?" bentak Hayato panik di ujung sambungan.

"Tidak mau," tolak Haruki tegas.

"Haruki!"

"Aku tadi sempat pergi ke tempatmu, tahu. Kamu pasti akan menerimaku masuk tanpa banyak tanya. Tapi aku berpikir, mungkin bukan karena aku orangnya kamu mau berbuat begitu," jelasnya.

"Haruki… Apa maksud dari perkataanmu itu?" tanya Hayato kebingungan.

Ketenangannya sangat kontras dengan kepanikan pemuda di seberang sana. Minamo mengawasi dengan cemas, membuat Haruki kembali terkekeh kecil.

"Karena kamu juga merasa kesepian, Hayato," ucapnya lembut.




“!?” Hayato tertegun.

“Kubilang kamu itu istimewa. Aku tidak mau hanya bersandar padamu. Itu namanya ketergantungan. Aku juga ingin mendukungmu. Ini masalahku sendiri,” ucap Haruki mantap.

Waktu telah mengubah banyak hal.

Perbedaan tinggi badan mereka, suaranya yang semakin matang, hingga masalah keluarga yang membelit.

“Kita tidak bisa terus menjadi diri kita yang dulu,” ujarnya.

“Mana bisa begitu…” protes Hayato di ujung sambungan.

Masa lalu telah berlalu, kenyataan hidup pun telah bergeser.

Namun, perubahan itu pula yang justru menjaga hal-hal berharga tetap utuh.

Perpisahan mereka di masa kecil memang tidak bisa dihindari, tapi sekarang semuanya bisa berjalan dengan cara yang berbeda.

Ia ingin memperkuat ikatan rapuh di antara mereka dengan kenangan-kenangan baru, menyuarakan keinginannya itu dengan penuh keberanian.




“Aku ingin berubah, menjadi sosok yang benar-benar istimewa untukmu,” ucap Haruki.

Pengakuan itu begitu berani, membuat jantungnya berdegup kencang namun menyisakan kehangatan di dada.

“Cuma bercanda kok! Sampai ketemu besok di sekolah!” serunya terburu-buru, lalu langsung memutuskan sambungan telepon untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.

Minamo menatapnya dengan wajah bingung dan salah tingkah. Haruki merona merah, baru menyadari betapa berat dan jujurnya bobot kata-kata yang baru saja ia ucapkan.

Rasa penyesalan mulai merayap, namun Minamo tiba-tiba meraih kedua tangannya dengan erat.

“Aku tidak akan bilang ke siapa pun!” janji Minamo bersungguh-sungguh.

“Wah! Mitsutake-san!?” seru Haruki kaget.

“Bagi-bagi beban itu susah. Kakekku juga… tapi sekarang, aku juga temanmu!” tegas Minamo kukuh.

“…Oh,” leleh pertahanan Haruki, senyum lembut terukir di wajahnya.

Kesungguhan hati Minamo, di tengah pergulatannya sendiri, adalah hal yang dulu berhasil menarik perhatian Haruki.

Membalas genggaman tangan itu, Haruki mengakui kelemahannya, “Sebenarnya aku ini orang yang berantakan dan payah.”

“Nikaidou-san…?” Minamo memiringkan kepalanya bingung.

“Jadi, bantu aku jadi lebih kuat ya?” pinta Haruki tulus.

“Kalau aku bisa, dengan senang hati!” setuju Minamo mantap.

Haruki tersenyum kikuk, sementara Minamo berseri-seri gembira sambil mengecap pelan nama panggilan baru itu di bibirnya.

“Mau dengar keluh kesahku? Tentang sahabat masa kecilku yang istimewa tapi juga menyebalkan itu… Minamo-chan,” ajak Haruki.

“Ya, Haruki-san!” jawab Minamo penuh semangat.

Di luar sana, langit malam perkotaan menampilkan lebih sedikit bintang, sang bulan pun bersembunyi di balik awan.

Namun, sesuatu yang lain justru bersinar jauh lebih terang di dalam sana.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close