NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 2 Chapter 11

Chapter 11

Tolong gunakan nada bicara seperti masa lalu itu hanya di depanku saja ya, duh!


“Sama sekali tidak masuk akal…” gumam Hayato, suaranya melebur ke dalam pemandangan kota tengah malam dari atas balkon.

Hatinya sedang kacau balau, persis seperti tata letak bangunan-bangunan di bawah sana yang tampak berantakan.

Sesekali, suara deru truk besar terdengar melintas dari jalan raya utama, mengabaikan waktu yang sudah sangat larut.

Langit malam perkotaan yang baru saja dibasuh hujan tampak berkilau dengan bintang-bintang yang lebih banyak dari biasanya, meski tetap kalah jauh jika dibandingkan dengan langit Tsukinose. Di sini, cahaya buatan manusia jauh lebih terang hingga meredupkan cahaya bintang di atas sana.

“Anak haram Mao Takura, ya…” Hayato mengulang-ulang kalimat Haruki, membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Ia teringat kembali pada momen di lokasi syuting Mao Takura—wajah Haruki yang pucat, mata yang membelalak lebar, serta reaksi naluriahnya untuk lari menghindar.

Kini, semua itu tersambung dengan kata-kata sang ibu: ayah yang tidak diketahui, sebuah kesalahan dari sebuah kelahiran. Namun suara Haruki saat mengatakannya terdengar begitu jernih, hampir-hampir indah, membuat Hayato merasa seolah dirinya tertinggal jauh di belakang.

Dadanya bergemuruh hebat menanggung berbagai emosi yang tak bernama—panik, jengkel, dan rasa terdesak yang membakar rongga dadanya.

Ia ingin sekali berlari menuju rumah Haruki saat itu juga, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia merasa tidak punya kata-kata yang cukup pantas untuk menahannya di sana.

Suara terkejut seorang wanita dari arah belakang membuatnya semakin ragu.

“Sialan!” umpat Hayato, mati-matian mencari kalimat yang tepat.

Tidur sama sekali tidak mau datang malam ini.

Keesokan paginya, ia menyeret langkah kakinya menuju sekolah dengan berat.

Terus berputar di atas tempat tidur membuat tidurnya hancur total. Himeko sempat menggodanya, “Jangan pasang wajah seperti orang yang kebahagiaannya baru saja dirampok di tengah malam.”

Begitu mendekati gerbang sekolah, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Haruki, namun ia justru mengerutkan kening, bingung harus bicara apa jika nanti mereka benar-benar bertemu.

“…Haa,” ia menghela napas panjang, menggaruk kepalanya lalu melangkah melewati gerbang, menuju ke petak bunga klub berkebun di belakang sekolah.

Hujan deras tadi malam mungkin merusak beberapa tanaman, dan ia teringat Haruki yang sering merawat sayuran di sana—sebuah tempat yang cukup tenang.

Di sana, Haruki dan Minamo sudah tampak bersama, membuat kening Hayato semakin berkerut.

“Tanah basah bikin rumput liar lebih gampang dicabut, ya, Minamo-chan?” tanya Haruki.

“Iya, tapi beberapa bedengannya ada yang ambruk. Kita harus perbaiki dulu,” balas Minamo.

“Akar-akarnya kelihatan rapuh. Begini ya caranya?” tanya Haruki sambil menimbun tanah.

“Haruki-san!? Pakai sekop kecil dong, nanti tanganmu terluka!” seru Minamo panik.

“Haha, ribet amat. Kalian kebanyakan nanam sayuran, tapi bagaimana dengan tanaman herbal? Mint atau rosemary, enak kan buat masakan?” tanya Haruki lagi.

“Jangan gegabah. Kalau mau menanam itu, pakai pot. Tanaman-tanaman itu mirip gulma—mint itu berbahaya, dan rosemary itu bakalan tumbuh sebesar pohon,” sela Hayato tiba-tiba.

“Eh, Kirishima-san! Pagi!” sapa Minamo.

“Hei, Hayato! Begitu ya?” komentar Haruki santai.

Ia bergabung dengan mereka secara natural, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Haruki tampak sama sekali tidak berubah dari malam sebelumnya.

Namun kedekatannya dengan Minamo memicu rasa tidak nyaman di dada Hayato. Nada suaranya berubah masam saat ia menanyakannya.

“Kalian berdua kelihatannya jadi akrab banget, ya?”

“Hmm, ada sedikit insiden sih. Tak sengaja ketemu semalam dan dia merawatku,” jelas Haruki enteng.

“…Oh,” gumam Hayato pendek.

“Iya! Oh ya, kamu dan Haruki-san itu teman masa kecil, kan?” timpal Minamo.

“! Ya, tapi…” Hayato mendadak salah tingkah.

Mereka memang sudah bicara, dan mengetahui bahwa Haruki bersama Minamo semalam sedikit banyak memberikan rasa lega sekaligus mengganjal di hatinya.

(Ada apa sebenarnya ini…)

Kedua gadis itu mengobrol akrab sambil merawat tanaman, sementara dirinya merasa seolah tersingkir meski ia adalah bagian dari obrolan itu.

“Kita selesaikan cabut rumputnya lalu istirahat dulu ya pagi ini. Haruki-san, cuci tanganmu sekalian, jangan cuma mukanya saja,” pesan Minamo.

“Iya. Ugh, tanahnya masuk ke sela kuku,” keluh Haruki.

“Makanya jangan asal pakai tangan kosong, makanya dibilangin ngeyel. Sini kantongnya. Kubuang sekalian, sana kamu cuci muka,” perintah Hayato sambil merampas kantong sampah itu lalu berjalan menuju tempat pembuangan. Merasa seperti orang asing di sana, ia mempercepat langkahnya.

“Kyaa!” Ia hampir bertabrakan dengan seorang gadis yang berlari kencang dari tikungan.

Saat melewatinya, ia sempat bertanya-tanya kenapa gadis itu ada di sini, sebelum melihat Kazuki berlari menyusul di belakangnya, mengenali wajah itu dari kejadian sebelumnya. Insiden kejar-kejaran yang terulang lagi.

Kazuki yang menyadari kehadiran Hayato hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.

“Jadi orang populer itu repot juga, ya?” komentar Hayato.

“Yah, aku sudah muak dengan drama urusan cewek,” balas Kazuki.

Hayato menanggapinya dengan helaan napas skeptis.

Saat jam istirahat siang, Hayato biasanya pergi ke markas rahasia mereka, namun hari ini ia sedang tidak mood.

Melirik ke arah Haruki, mata mereka tak sengaja saling bertatapan, dan gadis itu langsung tersenyum manis seolah malam tadi tidak pernah ada apa-apa. Ia mengerutkan kening sambil menggaruk tengkuknya.

“Hayato-kun di sini?” panggil Kazuki tiba-tiba muncul.

“Kazuki,” sahut Hayato datar.

“Mph!” gerutu Haruki sebal.

Kedatangan Kazuki ke kelas mereka sudah menjadi hal biasa belakangan ini, namun ekspresi Haruki langsung berubah masam.

Mori tiba-tiba berlari menghampiri dengan panik, menjatuhkan sebuah bom informasi yang mengejutkan seisi kelas.

“Hei, Kaido, katanya kamu nolak pernyataan cinta Takakura-senpai tadi pagi!?” teriak Mori heboh.

“Mana mungkin!? Takakura-senpai, siswi tahun kedua klub teater yang super cantik itu!?” seru seorang siswa tak percaya.

“Gadis yang memborong semua kategori di kontes kecantikan tahun lalu itu!?” timpal yang lain.

“Bukannya itu benar-benar berita besar!? Kenapa kamu malah menolaknya, Kaido-kun!?” tanya seorang siswi penasaran.

“Jangan-jangan, kamu nggak suka cewek ya!?” sahut yang lain menimpali.

“Ehm, yah, begitulah…” gugup Kazuki.

Suasana kelas langsung meledak, mengerubungi Kazuki untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

Haruki yang terkejut ikut melongo dan tergagap, “P-Pernyataan cinta!? Takakura-senpai, ditolak!?” Gadis itu memang cantik, tapi rupanya ia sudah terkenal seperti selebritas sekolah.

Hayato mengunci tatapannya pada Kazuki yang kini terpojok di tengah kerumunan. Kazuki justru membalas tatapannya dengan senyuman nakal, jelas-jelas sedang merencanakan sesuatu yang buruk.

“Tunggu, semuanya, tenang dulu! Memang benar soal Takakura-senpai, tapi ada alasannya!” teriak Kazuki sambil membelah kerumunan untuk mendekati bangku Haruki.

Semua pasang mata langsung beralih ke arah mereka. Haruki yang tertangkap basah tampak gelisah di tempat duduknya.

Dengan tingkat keseriusan yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya dan senyuman yang menyilaukan, Kazuki berkata, “Nikaidou-san, jadilah pacarku.”

“Mya!” jerit Haruki kaget, lalu reflek melayangkan tamparan keras ke pipi pemuda itu. Suara tamparan nyaring itu seketika membungkam seisi kelas.

Otak Hayato mendadak kosong, benar-benar tidak siap dengan situasi ini.

“Sudah kubilang kemarin, aku sama sekali tidak menyukai Kaido!” bentak Haruki sewot.

“Haha, iya, aku dengar kok. Ditolak lagi, ya,” tawa Kazuki tanpa beban.

Interaksi dramatis itu langsung menyulut kelas menjadi jauh lebih rusuh dari sebelumnya.

“Ada apa sebenarnya ini!?” teriak seorang siswa frustrasi.

“Dia sudah nembak berkali-kali!?” kaget yang lain.

“Berarti rumor kalau Kaido naksir Nikaidou-san itu beneran dong!?” seru yang ketiga heboh.

Haruki yang ikut dikerumuni mendadak panik, bergumam gelisah, “Hah? Hah?”

Entah kenapa, pernyataan cinta Kazuki kepada Haruki tadi terasa begitu nyata, persis seperti desas-desus yang beredar.

Jantung Hayato berdegup kencang menyakitkan. Ia tidak bisa—dan tidak mau—menerimanya. Senyuman usil dan kedipan mata iseng dari Kazuki sudah cukup membuktikan bahwa ini hanyalah sebuah aksi panggung belaka.

Haruki adalah gadis yang anggun dan memukau. Bahkan jika itu bukan Kazuki, suatu saat nanti pasti akan ada orang lain yang datang menyatakan cinta padanya.

Ia pikir dirinya sudah paham bahwa segala hal di dunia ini pasti akan berubah, namun kenyataan bahwa tidak ada yang abadi terasa begitu menusuk.

Ia teringat kembali pada perpisahan penuh air mata mereka di Tsukinose.

Menatap mata Haruki yang seolah meminta tolong dari kerumunan, tubuhnya bergerak sendiri secara naluriah.

“Haruki, lewat sini!” panggilnya tegas.

“Hayato!?” kaget gadis itu.

Mengabaikan keterkejutan semua orang, ia menyambar tangan Haruki dan langsung berlari kencang keluar kelas.

Ia tidak akan membiarkan orang lain merebutnya.

Dadanya terasa panas membara.

(Sialan!)

Gadis yang sedang ditariknya berlari ini sudah bukan lagi sosok "Haruki" di masa kecil yang dulu sering ia gandeng.

Namun ia tetap memilih untuk menggenggam tangan itu.

Ia mengeratkan genggamannya, seolah ingin memastikan ikatan di antara mereka. Tangan kecil dan lembut itu terasa begitu pas di dalam genggamannya.

Pada detik ini, Hayato menyadari dengan sangat jelas bahwa cara pandangnya terhadap Haruki telah berubah.

Haruki terseret lari keluar dari lingkungan sekolah di tengah jam istirahat, masih kewalahan menghadapi kekacauan barusan.

Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Hayato tiba-tiba bertindak seperti ini, merasa situasi ini tidak adil baginya. Sambil berlari menembus area perumahan, ia melayangkan protes ke punggung pemuda itu.

“Kita mau ke mana sebenarnya!?” teriaknya.

“Stasiun, tempat arcade! Aku belum pernah ke sana!” balas Hayato tanpa menoleh.

“Tempat arcade!? Kenapa malah ke sana? Dompetku tertinggal di kelas!” protesnya.

“Punya ku juga ketinggalan!” aku pemuda itu blak-blakan.

“Terus apa gunanya kita lari ke sana!?” tanya Haruki kesal.

“Jalan-jalan cuci mata. Tiba-tiba aku pengen ke sana!” alasannya.

“Apaan sih maksudmu!?” teriak gadis itu geregetan.

Penjelasan itu sama sekali tidak masuk akal.

Suasana kelas pasti sedang gempar sekarang.

Hayato memang selalu bertindak semaunya sendiri secara tiba-tiba.

Namun di saat yang sama, situasi ini terasa begitu nostalgik.

“Kalau kita lari, kita bisa balik sebelum jam istirahat habis. Cepatlah, Partner!” desaknya.

“…!” Haruki terkesiap.

“Partner.”

Kata panggilan itu memicu kembali kenangan lama di Tsukinose.

Saat itu ia merasa sangat kesepian, dikucilkan oleh ibunya, para tetangga, bahkan kakek neneknya sendiri karena dianggap sebagai anak haram dari ayah yang tidak dikenal.

Merasa tidak diinginkan oleh siapa pun, ia menutup rapat pintu hatinya dari dunia luar.

“Hei, mulai hari ini, Haruki adalah partnerku!” deklarasi Hayato cilik kala itu, menariknya keluar dari cangkang kesepian menuju dunia yang baru.

Punggung yang dulu sering ia kejar kini telah tumbuh menjadi jauh lebih besar di hadapannya. Tangan kasar pemuda itu menariknya dengan kekuatan yang jauh melampaui masa kecil mereka.

Dulu ia sempat bertanya-tanya, ekspresi seperti apa yang ditunjukkan pemuda itu saat memimpinnya keluar dari kegelapan.

Mereka berhenti sejenak di lampu merah.

Mencuri pandang ke arah wajah pemuda itu, ia melihat rona merah malu-malu dan seringai canggung yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sebelum Hayato buru-buru membuang muka.

Melihatnya, ia jadi ingin tertawa kecil karena merasa tingkah itu begitu menggemaskan. Tiba-tiba, pemuda itu menyodorkan sesuatu ke tangan bebasnya.

Sebuah gantungan kunci berbentuk kucing yang sudah sangat familier tergantung di ujung sebuah kunci. Dengan bingung, ia menatap bergantian antara kunci itu dan wajah Hayato.

“Itu… kunci cadangan kita,” gumam Hayato salah tingkah.

“Hah… Terus…?” responsnya masih belum paham.

“Pakai kapan saja. Kalau ada kejadian seperti semalam, langsung datang saja ke tempatku. Tengah malam, pagi buta, jangan ragu-ragu,” titahnya.

“Hayato… Wah!?” jerit Haruki kaget saat pemuda itu mendadak mengacak-acak rambutnya untuk menutupi rasa salah tingkah.

“Hei, jangan diacak-acak—!” protesnya kesal.

“Bukan cuma kamu saja yang ingin bisa diandalkan, tahu,” ucap Hayato serius.

“…Hayato?” bisiknya lirih.

“Aku bakal jadi lebih kuat supaya kamu bisa bersandar padaku tanpa harus merasa sungkan lagi,” janji pemuda itu.

“…!” Haruki terpaku di tempatnya.

Sederhana sekali—ternyata perasaan mereka selama ini sama.

Tatapan mata pemuda itu, memancarkan binar baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sukses membuat dadanya bergemuruh hebat.

“Lampu sudah hijau, ayo lari lagi!” seru Hayato.

“Ugh!” keluh Haruki pasrah sambil kembali berlari mengejar langkahnya.




Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Ini adalah kunci rumah miliknya sehari-hari, bukan? Pergi ke tempat arcade sama sekali tidak sepadan dengan nekat membolos jam makan siang! Pemuda itu memang selalu saja bersikap egois dan memaksakan kehendak!

Beberapa hal telah berubah, beberapa hal ingin mereka ubah, namun ada pula hal-hal yang selamanya tidak pernah berubah.

Ia tahu, pemuda itu pasti akan terus menyeretnya ke mana pun sesuka hatinya.

Bahkan sekarang, membayangkan harus kembali masuk ke dalam kelas saja sudah membuat kepalanya berdenyut pusing.

Oleh karena itu, kepada punggung yang tengah menarik tangannya erat itu, ia ingin berteriak sekuat tenaga dari lubuk hatinya yang paling dalam:

Pertahankan suasana lama itu khusus untukku, ya!?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close