Chapter 8
Karena Ini Spesial
“Selamat
datang kembali, Hayato,” sapa Haruki ramah.
“Kakak!”
tambah Himeko.
“Aku…
pulang…?” Hayato melangkah masuk, lalu mengerutkan kening melihat pemandangan
aneh di ruang tamu.
Di sana,
Haruki sedang mengajari Himeko belajar di meja—pemandangan yang belakangan ini
sering terlihat, tapi pembawaan Haruki terasa sangat janggal.
Senyum
lembutnya, postur tubuhnya yang tegak, serta tatapan fokus pada buku pelajaran
benar-benar meniru topeng rapi yang biasa ia pakai di sekolah.
Sementara Himeko
tampak bersandar malas, kontras sekali dengan aura disiplin di sebelah
kakaknya.
“Mau siapin makan
malam? Kubantu ya. Menunya apa hari ini?” tanya Haruki sambil berdiri,
merapikan roknya, lalu mengenakan apron dengan keanggunan tingkat tinggi—jauh
berbeda dari karakternya yang biasanya santai. Rasa cemas Hayato kian
meningkat.
“Kroket okara,”
jawabnya singkat.
“Digoreng?
Kalorinya aman?”
“Dipanggang di
oven, nggak pakai minyak. Harusnya aman.”
“Baguslah.”
Ekspresinya yang
terlalu bersemangat dan gerakannya yang terlampau anggun membuat Hayato semakin
kebingungan.
Gadis itu sedang
dalam mood yang sangat bagus, dan itu bukan akting, tapi jelas ada
sesuatu yang tidak beres.
“Aku cuci tangan
dulu ya,” ujarnya, lalu melangkah pergi.
“Iya…” Hayato
beradu pandang dengan Himeko yang menunjukkan ekspresi kebingungan yang sama.
“Dia kesambut apa
sih?” tanya Hayato.
“Mana kutahu!
Emangnya di sekolah ada kejadian apa?” balas Himeko.
“Nggak tahu juga.
Tapi mukanya kelihatan lagi merencanakan keusilan.”
“Ugh, bikin
merinding!”
“Setuju.”
Mereka berdua
merinding sejenak, merasa terintimidasi oleh sikap misterius Haruki.
“Hayato?” panggil
Haruki dari arah dapur.
“Iya, bentar,”
jawabnya, mengabaikan tatapan memohon Himeko lalu melangkah menyusul ke dapur.
Haruki sedang
menyiapkan peralatan masak dengan postur tegup dan rapi, bahkan hari ini ia
tetap mengenakan kaos kakinya—perubahan total dari kebiasaannya.
Perubahan drastis
ini membuatnya sama penasarannya dengan Himeko.
“Ada apa sih?
Kenapa tiba-tiba jadi aneh begitu?” selidik Hayato.
“Kamu sadar kalau
aku kelihatan beda?” godanya.
“Jelaslah. Himeko
juga bingung setengah mati tahu.”
“Penasaran ya?”
“Bangeet.”
“Nggak mau, ini
rahasia,” cengirnya sambil mencolek ujung hidung Hayato.
Ekspresinya—separuh
pahlawan yang menang, separuh pertapa bijak—terasa sangat menyebalkan. Hayato
mendengus, “Menyebalkan.”
Gadis itu tertawa
ringan, sama sekali tidak terpengaruh oleh protesnya.
Menyadari ia
tidak akan bisa membujuknya, rasa penasaran Hayato akhirnya dikalahkan oleh
rasa jengkel. Sambil menghela napas, ia mulai meracik bahan-bahan masakan.
Menu malam ini:
kroket okara panggang. Ia merebus kentang dan labu kuning di dalam mangkuk
tahan panas khusus microwave, lalu menumis cincangan bawang bombay,
kubis, okara, dan daging ayam dengan sake, mirin, serta kecap asin.
Setelah dicampur
dan dibentuk, ia melapisinya dengan remah roti sangrai lalu memanggangnya di
oven. Sebagai pelengkap, ia menyiapkan irisan kubis segar, sup miso dengan sisa
sayuran, serta acar terong di sisi piring.
“Makanan
gorengan, yey! Aduh, panas! Minta air, Kak!” rintih Himeko.
“Himeko, makanya
jangan langsung disosor…” keluh Hayato.
“Terima kasih
makanannya. Enak seperti biasa, Hayato,” puji Haruki tulus.
“Y-Ya…” gumamnya
salah tingkah.
Cara makan Haruki
yang begitu anggun—menggunakan sumpit dengan sangat hati-hati—terasa sangat
asing di mata Hayato.
Merasa ada yang
tidak beres, ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
“Akhir pekan
sebentar lagi. Sudah putuskan mau nonton film apa?”
“Oh, iya ya,”
sadar Himeko. Tujuannya memang bioskop, tapi mereka sama sekali belum memilih
filmnya.
“Mungkin Nayuta
no Kizami?” usul Himeko.
“Iklan di TV itu
ya? Bukannya film itu…” Hayato mulai mengingat-ingat.
“Betul! Sutradara
dan bintang utamanya sama, Mao Takura, yang main di Ten Years of Solitude.
Film itu lagi hits banget—”
Haruki mendadak
tersentak kaget saat mendengar nama Mao Takura—reaksi singkat yang luput dari
perhatian Himeko, namun berhasil ditangkap oleh Hayato, mengingatkannya pada
keanehan Haruki saat mereka melihat poster aktor tersebut sebelumnya.
“Um, Himeko—”
Hayato berusaha membelokkan arah pembicaraan.
“Aku mau kita
nonton Faith Theater Version, Chapter 3!” seru Haruki memotong,
keceriaannya seketika berubah menjadi tatapan fokus tingkat tinggi.
Faith, yang awalnya adalah game PC khusus
dewasa, telah berkembang menjadi waralaba raksasa dengan dunia cerita yang
sangat luas, melahirkan berbagai spin-off, anime, manga, dan game
sekuel.
Hayato memang
pernah mencicipinya sedikit, namun nada bicara Haruki yang begitu berapi-api
menunjukkan bahwa ia adalah penggemar fanatik garis keras.
“Aku sih bebas,
mau apa saja boleh,” kata Hayato.
“Versi anime ya?
Aku cuma tahu judulnya saja. Apa kita bisa langsung loncat nonton Chapter 3?”
tanya Himeko ragu.
“Kamu… belum
pernah nonton Faith?” Mata Haruki menyipit tajam, ia meletakkan
sumpitnya perlahan.
Senyuman di
wajahnya sama sekali tidak mencapai matanya, aura tenangnya mendadak berubah
menjadi mengintimidasi.
“Hime-chan.”
“A-Apa?”
cicit Himeko ketakutan.
“Ceritanya
luar biasa. Menegangkan, menyentuh hati. Melewatkannya sama saja kehilangan separuh umur hidupmu.”
“Haru-chan!?”
Haruki dengan
gesit menggeser duduknya mendekati Himeko, lalu dengan lihai mengakses layanan streaming
keluarga Kirishima di layar TV ruang keluarga.
“Lihat, Chapter
1 dan 2 sedang ditayangkan ulang menyambut rilis Chapter 3.
Versi serinya juga wajib tonton. Aku paling rekomendasikan route Musim
Kedua—luar biasa dewa. Aksi
laga keren, tapi kisah hidup protagonisnya dijamin bikin kamu nangis. Aku
bahkan nangis berkali-kali.”
“Bagus sih, tapi
ini kan waktunya makan malam. Bisa dilanjut nanti?” bujuk Himeko.
“Lagu OP Musim
Kedua saja nilainya setara tiga mangkuk nasi. Lauk yang sempurna buat makan.”
“Duh,
Haru-chan… Kakak, tolong!”
“Acar
terongnya agak asin ya hari ini?” Hayato sengaja mengalihkan perhatian.
Ini adalah
ceramah promosi dari seorang fans sejati. Haruki sedang berusaha
menyeret Himeko masuk ke dalam pusaran fandom Faith, naluri otakunnya
tidak bisa dibendung lagi. Himeko
berusaha mencari pertolongan, tapi Haruki sudah tidak bisa dihentikan.
Berdasarkan
pengalaman masa lalu, Hayato tahu gadis itu sudah 'tenggelam' terlalu dalam.
Sambil merapal permintaan maaf dalam hati kepada adiknya, Hayato tersenyum
tipis.
“Mainkan game
aslinya! Bukan versi all-ages, tapi versi 18+! Konten dewasanya memang
sedikit, tapi bagian itu justru memperdalam dunianya—”
“Aku pulang—eh,
ada…” Seorang paruh baya berwajah mirip Hayato dan Himeko melangkah
masuk—Kazuyoshi, ayah mereka.
“Ero… eh…
ero…” Haruki langsung membeku di tempat.
Keheningan
seketika menghantam ruangan.
Kazuyoshi,
yang jarang pulang ke rumah, tampak membawa tas berisi beberapa baju ganti yang
sudah kusut.
Ceramah
"ero" dari Haruki membuat situasi mendadak menjadi canggung luar
biasa. Hayato buru-buru berdehem keras.
“Ehm,
Ayah, aku kan sudah pernah cerita tentang dia lewat email—”
“Lama
tidak bersua, Paman. Saya Haruki Nikaidou,” sapa Haruki dengan membungkuk sopan
dan elegan.
Ketegangan
di ruangan langsung berubah menjadi kekaguman. Postur tubuhnya yang tegak,
pembawaan anggun, dan balutan seragam yang rapi mencerminkan sosok Yamato
Nadeshiko yang sempurna—sebuah topeng formalitas yang tanpa cela. Hayato,
Himeko, dan Kazuyoshi terpana di tempat.
“Kamu…
benar-benar sudah berubah banyak ya, Haruki-chan,” puji Kazuyoshi.
“Tujuh
tahun cukup mengubah segalanya,” senyumnya manis.
“Sama Hayato dan
Himeko juga…”
“Kami cukup akrab
kok.”
Sapaan formal
yang sempurna itu mendominasi seisi ruangan, sukses membuat Hayato dan Himeko
terdiam bisu.
Meja makan
keluarga yang biasanya santai dan penuh lelucon konyol kini terasa tercemar
oleh kehadiran Haruki Nikaidou versi formal ini. Rasa jengkel mendadak merayapi
dada Hayato.
“Jangan
sungkan-sungkan terus ya sama mereka, Haruki-chan,” ujar Kazuyoshi ramah.
“Tentu saja,
sayakan—!”
“Kenapa mendadak
jadi formal begitu? Padahal tadi baru saja ngomongin soal ero!” sentak Hayato
kesal sambil mencubit kedua pipi gadis itu.
“Mya!?” jerit
Haruki kaget.
“Hayato!?” kaget
Kazuyoshi.
“Kakak!?” seru
Himeko tak percaya.
Pipi gadis itu
terasa sangat lembut, seperti mochi, meregang di antara jari-jarinya.
“Lembut banget!”
“Hayato, stoh
(lepasin)!” protesnya dengan mata berkaca-kaca.
Suara rengekan
"mya!" miliknya justru memicu keisengan Hayato.
Ia terus
menarik-narik pipi Haruki tanpa memedulikan tatapan orang rumah, persis seperti
anak laki-laki yang sedang mengerjai gadis incarannya. Himeko berusaha melerai.
“Kak, itu kan
muka anak gadis orang—”
“Rasakan ini!”
Haruki tidak tinggal diam dan balas mencubit pipi Hayato.
Mereka berdua
saling serang, memilin pipi satu sama lain sambil meringis kesakitan, tertawa
kecil seperti anak-anak.
Himeko hanya bisa
menghela napas panjang melihat pertengkaran kekanak-kanakan itu kembali pecah.
Kazuyoshi
mendadak tertawa terbahak-bahak melihatnya.
“Hahaha!”
“Ayah?” bingung
Hayato.
“Paman?” cicit
Haruki menghentikan aksinya.
“Ayah?” heran
Himeko.
“Mereka berdua
masih saja dekat seperti dulu ya,” cengir Kazuyoshi geli.
“Mana ada dekat!”
sanggah Hayato sewot.
“Ini tuh, cuma…!”
wajah Haruki merona merah.
Mereka langsung
melepaskan tangan masing-masing, sementara Himeko kembali mendengus pasrah.
Hayato buru-buru mengalihkan topik.
“Ayah mau makan
malam? Kami nggak tahu Ayah mau pulang, tapi makanannya masih cukup.”
“Boleh, tolong
ambilkan ya,” jawab Kazuyoshi.
Hayato
segera melarikan diri ke dapur. Himeko yang sudah selesai makan langsung
mendeklarasikan, “Aku sudah kenyang, terima kasih!” lalu ngibrit ke kamarnya
sambil menggerutu soal “pengkhianat”.
Tinggal
Haruki dan Kazuyoshi di ruang makan, menciptakan udara yang terasa agak
canggung.
Haruki
menegang, menyadari bahwa Kazuyoshi sebagai orang dewasa asal Tsukinose pasti
mengetahui latar belakang keluarganya serta masalah yang melibatkan Mao Takura.
Ia takut pria itu akan menghakiminya.
Namun,
Kazuyoshi justru melirik sekilas ke arah Hayato yang sedang sibuk di dapur,
lalu tersenyum hangat.
“Terima kasih ya,
Haruki-chan. Sudah lama sekali aku tidak melihat Hayato berekspresi sesenang
ini.”
“Eh?”
Haruki berkedip
bingung, menatap punggung Hayato yang sedang menyiapkan makanan. Kepalanya
miring ke samping tanda tak paham.
“Ini makanannya.
Mau pakai kecap asin, saus tomat, atau apa terserah,” kata Hayato meletakkan
piring di meja.
“Terima kasih. Oh
ya, soal kemarin—terima kasih sudah mengantarkan titipan paket ke rumah sakit
untuk Mama. Sangat membantu,” ucap Kazuyoshi.
“Rumah sakit?”
Mata Haruki membelalak lebar.
“Loh, Hayato
belum cerita ke kamu?” tanya Kazuyoshi heran.
“Um…” Hayato
menggaruk kepalanya, buru-buru membuang muka.
Berita
itu benar-benar baru bagi Haruki.
Meskipun
ia sering berkunjung ke rumah mereka, ia belum pernah bertemu langsung dengan
orang tua Hayato, merasakan ada masalah keluarga yang sensitif namun sengaja
menghindarinya karena ia sendiri punya beban keluarga yang rumit.
Penyebutan rumah
sakit itu sukses mengguncangnya.
Sikap Hayato yang
menghindar semakin memperkuat kecemasannya.
“Ayah
pulang mau ambil baju ganti kan? Cuciannya sudah—” Hayato mencoba mengalihkan
pembicaraan lagi.
“Jadi,
Haruki-chan ini orang yang spesial buat kamu ya, Hayato?” celetuk Kazuyoshi
santai.
“Mya!?” seru
Haruki histeris.
“Ayah!?” bentak
Hayato salah tingkah.
Ucapan itu
menghantam telak. Jantung Haruki berdegup kencang tak karuan, sementara wajah
Hayato berubah merah padam hingga ke telinga, mulutnya terbuka-tutup tanpa bisa
mengeluarkan suara. Kazuyoshi mengangguk puas melihat reaksi mereka.
“Kamu sengaja
tidak cerita soal Mama ke dia pasti supaya dia tidak merasa kasihan atau
repot—”
“Haruki, ayo aku
antar pulang sekarang!” potong Hayato panik, langsung menarik tangan gadis itu
yang piring makannya bahkan masih bersisa separuh.
“Eh, iya!” setuju
Haruki buru-buru, sudah tidak sanggup melanjutkan makannya.
Kazuyoshi hanya
bisa tersenyum geli melepas kepergian mereka berdua.
“Main-main ke
sini lagi ya, Haruki-chan. Mau dibikinin kunci cadangan?”
“Ayah,
diam!” teriak Hayato kesal.
Langkah
kaki mereka berdua menggema di tengah sepinya malam.
Tidak ada
yang bersuara, sama-sama bingung harus merespons apa.
Keheningan
itu tidak sepenuhnya tidak menyenangkan, hanya terasa menggelitik di dada,
membuat langkah kaki mereka tanpa sadar semakin cepat.
Haruki
melirik ke arah langit malam.
Lampu-lampu
perkotaan menyamarkan kerlip bintang, jauh berbeda dari langit malam Tsukinose
yang bersih. Kontras itu mengaduk-ngaduk perasaannya.
“Kamu
tidak pernah menanyakan apa pun tentang diriku, Hayato.”
Waktu telah
berlalu sejak pertemuan kembali mereka. Tahun-tahun yang terpisah membawa
banyak perubahan, dan rasa penasaran adalah hal yang wajar. Hayato pasti juga
memikirkannya.
Pemuda itu
menggaruk kepalanya, menatap lurus ke depan.
“Dulu… atau
mungkin sampai sekarang. Aku tidak tahu soal keluargamu, atau alasan kenapa
kamu sempat bolos sekolah. Aku juga tidak peduli. Bermain bersamamu itu
menyenangkan. Detail-detail seperti itu tidak penting dulu, dan… kurasa sampai
sekarang pun tetap sama.”
“Pfft, jawaban
macam apa itu,” tawa Haruki pecah.
“Kenapa,
jawabannya jelek ya?”
“Nggak, itu khas
kamu banget… Tunggu, jangan jalan cepat-cepat!”
Hayato melangkah
mendahului dengan wajah merona malu.
Haruki segera
mengejarnya, meraih tangan pemuda itu, lalu menyamakan langkah di
sisinya—pemandangan yang begitu familier sejak masa kecil mereka.
“Buat aku
juga, kamu itu spesial, Hayato.”
“…Iya.”
Wajah mereka
sama-sama terbakar api kemerahan, jemari mereka masih saling bertautan erat
tanpa ada yang berniat melepaskannya.
Mereka
mempercepat langkah menuju rumah Haruki, meninggalkan rasa malu itu larut dalam
terpaan angin malam.



Post a Comment