NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 2 Chapter 8

Chapter 8

Karena Ini Spesial


“Selamat datang kembali, Hayato,” sapa Haruki ramah.

“Kakak!” tambah Himeko.

“Aku… pulang…?” Hayato melangkah masuk, lalu mengerutkan kening melihat pemandangan aneh di ruang tamu.

Di sana, Haruki sedang mengajari Himeko belajar di meja—pemandangan yang belakangan ini sering terlihat, tapi pembawaan Haruki terasa sangat janggal.

Senyum lembutnya, postur tubuhnya yang tegak, serta tatapan fokus pada buku pelajaran benar-benar meniru topeng rapi yang biasa ia pakai di sekolah.

Sementara Himeko tampak bersandar malas, kontras sekali dengan aura disiplin di sebelah kakaknya.

“Mau siapin makan malam? Kubantu ya. Menunya apa hari ini?” tanya Haruki sambil berdiri, merapikan roknya, lalu mengenakan apron dengan keanggunan tingkat tinggi—jauh berbeda dari karakternya yang biasanya santai. Rasa cemas Hayato kian meningkat.

“Kroket okara,” jawabnya singkat.

“Digoreng? Kalorinya aman?”

“Dipanggang di oven, nggak pakai minyak. Harusnya aman.”

“Baguslah.”

Ekspresinya yang terlalu bersemangat dan gerakannya yang terlampau anggun membuat Hayato semakin kebingungan.

Gadis itu sedang dalam mood yang sangat bagus, dan itu bukan akting, tapi jelas ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku cuci tangan dulu ya,” ujarnya, lalu melangkah pergi.

“Iya…” Hayato beradu pandang dengan Himeko yang menunjukkan ekspresi kebingungan yang sama.

“Dia kesambut apa sih?” tanya Hayato.

“Mana kutahu! Emangnya di sekolah ada kejadian apa?” balas Himeko.

“Nggak tahu juga. Tapi mukanya kelihatan lagi merencanakan keusilan.”

“Ugh, bikin merinding!”

“Setuju.”

Mereka berdua merinding sejenak, merasa terintimidasi oleh sikap misterius Haruki.

“Hayato?” panggil Haruki dari arah dapur.

“Iya, bentar,” jawabnya, mengabaikan tatapan memohon Himeko lalu melangkah menyusul ke dapur.

Haruki sedang menyiapkan peralatan masak dengan postur tegup dan rapi, bahkan hari ini ia tetap mengenakan kaos kakinya—perubahan total dari kebiasaannya.

Perubahan drastis ini membuatnya sama penasarannya dengan Himeko.

“Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba jadi aneh begitu?” selidik Hayato.

“Kamu sadar kalau aku kelihatan beda?” godanya.

“Jelaslah. Himeko juga bingung setengah mati tahu.”

“Penasaran ya?”

“Bangeet.”

“Nggak mau, ini rahasia,” cengirnya sambil mencolek ujung hidung Hayato.

Ekspresinya—separuh pahlawan yang menang, separuh pertapa bijak—terasa sangat menyebalkan. Hayato mendengus, “Menyebalkan.”

Gadis itu tertawa ringan, sama sekali tidak terpengaruh oleh protesnya.

Menyadari ia tidak akan bisa membujuknya, rasa penasaran Hayato akhirnya dikalahkan oleh rasa jengkel. Sambil menghela napas, ia mulai meracik bahan-bahan masakan.

Menu malam ini: kroket okara panggang. Ia merebus kentang dan labu kuning di dalam mangkuk tahan panas khusus microwave, lalu menumis cincangan bawang bombay, kubis, okara, dan daging ayam dengan sake, mirin, serta kecap asin.

Setelah dicampur dan dibentuk, ia melapisinya dengan remah roti sangrai lalu memanggangnya di oven. Sebagai pelengkap, ia menyiapkan irisan kubis segar, sup miso dengan sisa sayuran, serta acar terong di sisi piring.

“Makanan gorengan, yey! Aduh, panas! Minta air, Kak!” rintih Himeko.

“Himeko, makanya jangan langsung disosor…” keluh Hayato.

“Terima kasih makanannya. Enak seperti biasa, Hayato,” puji Haruki tulus.

“Y-Ya…” gumamnya salah tingkah.

Cara makan Haruki yang begitu anggun—menggunakan sumpit dengan sangat hati-hati—terasa sangat asing di mata Hayato.

Merasa ada yang tidak beres, ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

“Akhir pekan sebentar lagi. Sudah putuskan mau nonton film apa?”

“Oh, iya ya,” sadar Himeko. Tujuannya memang bioskop, tapi mereka sama sekali belum memilih filmnya.

“Mungkin Nayuta no Kizami?” usul Himeko.

“Iklan di TV itu ya? Bukannya film itu…” Hayato mulai mengingat-ingat.

“Betul! Sutradara dan bintang utamanya sama, Mao Takura, yang main di Ten Years of Solitude. Film itu lagi hits banget—”

Haruki mendadak tersentak kaget saat mendengar nama Mao Takura—reaksi singkat yang luput dari perhatian Himeko, namun berhasil ditangkap oleh Hayato, mengingatkannya pada keanehan Haruki saat mereka melihat poster aktor tersebut sebelumnya.

“Um, Himeko—” Hayato berusaha membelokkan arah pembicaraan.

“Aku mau kita nonton Faith Theater Version, Chapter 3!” seru Haruki memotong, keceriaannya seketika berubah menjadi tatapan fokus tingkat tinggi.

Faith, yang awalnya adalah game PC khusus dewasa, telah berkembang menjadi waralaba raksasa dengan dunia cerita yang sangat luas, melahirkan berbagai spin-off, anime, manga, dan game sekuel.

Hayato memang pernah mencicipinya sedikit, namun nada bicara Haruki yang begitu berapi-api menunjukkan bahwa ia adalah penggemar fanatik garis keras.

“Aku sih bebas, mau apa saja boleh,” kata Hayato.

“Versi anime ya? Aku cuma tahu judulnya saja. Apa kita bisa langsung loncat nonton Chapter 3?” tanya Himeko ragu.

“Kamu… belum pernah nonton Faith?” Mata Haruki menyipit tajam, ia meletakkan sumpitnya perlahan.

Senyuman di wajahnya sama sekali tidak mencapai matanya, aura tenangnya mendadak berubah menjadi mengintimidasi.

“Hime-chan.”

“A-Apa?” cicit Himeko ketakutan.

“Ceritanya luar biasa. Menegangkan, menyentuh hati. Melewatkannya sama saja kehilangan separuh umur hidupmu.”

“Haru-chan!?”

Haruki dengan gesit menggeser duduknya mendekati Himeko, lalu dengan lihai mengakses layanan streaming keluarga Kirishima di layar TV ruang keluarga.

“Lihat, Chapter 1 dan 2 sedang ditayangkan ulang menyambut rilis Chapter 3. Versi serinya juga wajib tonton. Aku paling rekomendasikan route Musim Kedua—luar biasa dewa. Aksi laga keren, tapi kisah hidup protagonisnya dijamin bikin kamu nangis. Aku bahkan nangis berkali-kali.”

“Bagus sih, tapi ini kan waktunya makan malam. Bisa dilanjut nanti?” bujuk Himeko.

“Lagu OP Musim Kedua saja nilainya setara tiga mangkuk nasi. Lauk yang sempurna buat makan.”

“Duh, Haru-chan… Kakak, tolong!”

“Acar terongnya agak asin ya hari ini?” Hayato sengaja mengalihkan perhatian.

Ini adalah ceramah promosi dari seorang fans sejati. Haruki sedang berusaha menyeret Himeko masuk ke dalam pusaran fandom Faith, naluri otakunnya tidak bisa dibendung lagi. Himeko berusaha mencari pertolongan, tapi Haruki sudah tidak bisa dihentikan.

Berdasarkan pengalaman masa lalu, Hayato tahu gadis itu sudah 'tenggelam' terlalu dalam. Sambil merapal permintaan maaf dalam hati kepada adiknya, Hayato tersenyum tipis.

“Mainkan game aslinya! Bukan versi all-ages, tapi versi 18+! Konten dewasanya memang sedikit, tapi bagian itu justru memperdalam dunianya—”

“Aku pulang—eh, ada…” Seorang paruh baya berwajah mirip Hayato dan Himeko melangkah masuk—Kazuyoshi, ayah mereka.

“Ero… eh… ero…” Haruki langsung membeku di tempat.

Keheningan seketika menghantam ruangan.

Kazuyoshi, yang jarang pulang ke rumah, tampak membawa tas berisi beberapa baju ganti yang sudah kusut.

Ceramah "ero" dari Haruki membuat situasi mendadak menjadi canggung luar biasa. Hayato buru-buru berdehem keras.

“Ehm, Ayah, aku kan sudah pernah cerita tentang dia lewat email—”

“Lama tidak bersua, Paman. Saya Haruki Nikaidou,” sapa Haruki dengan membungkuk sopan dan elegan.

Ketegangan di ruangan langsung berubah menjadi kekaguman. Postur tubuhnya yang tegak, pembawaan anggun, dan balutan seragam yang rapi mencerminkan sosok Yamato Nadeshiko yang sempurna—sebuah topeng formalitas yang tanpa cela. Hayato, Himeko, dan Kazuyoshi terpana di tempat.

“Kamu… benar-benar sudah berubah banyak ya, Haruki-chan,” puji Kazuyoshi.

“Tujuh tahun cukup mengubah segalanya,” senyumnya manis.

“Sama Hayato dan Himeko juga…”

“Kami cukup akrab kok.”

Sapaan formal yang sempurna itu mendominasi seisi ruangan, sukses membuat Hayato dan Himeko terdiam bisu.

Meja makan keluarga yang biasanya santai dan penuh lelucon konyol kini terasa tercemar oleh kehadiran Haruki Nikaidou versi formal ini. Rasa jengkel mendadak merayapi dada Hayato.

“Jangan sungkan-sungkan terus ya sama mereka, Haruki-chan,” ujar Kazuyoshi ramah.

“Tentu saja, sayakan—!”

“Kenapa mendadak jadi formal begitu? Padahal tadi baru saja ngomongin soal ero!” sentak Hayato kesal sambil mencubit kedua pipi gadis itu.

“Mya!?” jerit Haruki kaget.

“Hayato!?” kaget Kazuyoshi.

“Kakak!?” seru Himeko tak percaya.

Pipi gadis itu terasa sangat lembut, seperti mochi, meregang di antara jari-jarinya.

“Lembut banget!”

“Hayato, stoh (lepasin)!” protesnya dengan mata berkaca-kaca.

Suara rengekan "mya!" miliknya justru memicu keisengan Hayato.

Ia terus menarik-narik pipi Haruki tanpa memedulikan tatapan orang rumah, persis seperti anak laki-laki yang sedang mengerjai gadis incarannya. Himeko berusaha melerai.

“Kak, itu kan muka anak gadis orang—”

“Rasakan ini!” Haruki tidak tinggal diam dan balas mencubit pipi Hayato.

Mereka berdua saling serang, memilin pipi satu sama lain sambil meringis kesakitan, tertawa kecil seperti anak-anak.

Himeko hanya bisa menghela napas panjang melihat pertengkaran kekanak-kanakan itu kembali pecah.

Kazuyoshi mendadak tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Hahaha!”

“Ayah?” bingung Hayato.

“Paman?” cicit Haruki menghentikan aksinya.

“Ayah?” heran Himeko.

“Mereka berdua masih saja dekat seperti dulu ya,” cengir Kazuyoshi geli.

“Mana ada dekat!” sanggah Hayato sewot.

“Ini tuh, cuma…!” wajah Haruki merona merah.

Mereka langsung melepaskan tangan masing-masing, sementara Himeko kembali mendengus pasrah. Hayato buru-buru mengalihkan topik.

“Ayah mau makan malam? Kami nggak tahu Ayah mau pulang, tapi makanannya masih cukup.”

“Boleh, tolong ambilkan ya,” jawab Kazuyoshi.

Hayato segera melarikan diri ke dapur. Himeko yang sudah selesai makan langsung mendeklarasikan, “Aku sudah kenyang, terima kasih!” lalu ngibrit ke kamarnya sambil menggerutu soal “pengkhianat”.

Tinggal Haruki dan Kazuyoshi di ruang makan, menciptakan udara yang terasa agak canggung.

Haruki menegang, menyadari bahwa Kazuyoshi sebagai orang dewasa asal Tsukinose pasti mengetahui latar belakang keluarganya serta masalah yang melibatkan Mao Takura. Ia takut pria itu akan menghakiminya.

Namun, Kazuyoshi justru melirik sekilas ke arah Hayato yang sedang sibuk di dapur, lalu tersenyum hangat.

“Terima kasih ya, Haruki-chan. Sudah lama sekali aku tidak melihat Hayato berekspresi sesenang ini.”

“Eh?”

Haruki berkedip bingung, menatap punggung Hayato yang sedang menyiapkan makanan. Kepalanya miring ke samping tanda tak paham.

“Ini makanannya. Mau pakai kecap asin, saus tomat, atau apa terserah,” kata Hayato meletakkan piring di meja.

“Terima kasih. Oh ya, soal kemarin—terima kasih sudah mengantarkan titipan paket ke rumah sakit untuk Mama. Sangat membantu,” ucap Kazuyoshi.

“Rumah sakit?” Mata Haruki membelalak lebar.

“Loh, Hayato belum cerita ke kamu?” tanya Kazuyoshi heran.

“Um…” Hayato menggaruk kepalanya, buru-buru membuang muka.

Berita itu benar-benar baru bagi Haruki.

Meskipun ia sering berkunjung ke rumah mereka, ia belum pernah bertemu langsung dengan orang tua Hayato, merasakan ada masalah keluarga yang sensitif namun sengaja menghindarinya karena ia sendiri punya beban keluarga yang rumit.

Penyebutan rumah sakit itu sukses mengguncangnya.

Sikap Hayato yang menghindar semakin memperkuat kecemasannya.

“Ayah pulang mau ambil baju ganti kan? Cuciannya sudah—” Hayato mencoba mengalihkan pembicaraan lagi.

“Jadi, Haruki-chan ini orang yang spesial buat kamu ya, Hayato?” celetuk Kazuyoshi santai.

“Mya!?” seru Haruki histeris.

“Ayah!?” bentak Hayato salah tingkah.

Ucapan itu menghantam telak. Jantung Haruki berdegup kencang tak karuan, sementara wajah Hayato berubah merah padam hingga ke telinga, mulutnya terbuka-tutup tanpa bisa mengeluarkan suara. Kazuyoshi mengangguk puas melihat reaksi mereka.

“Kamu sengaja tidak cerita soal Mama ke dia pasti supaya dia tidak merasa kasihan atau repot—”

“Haruki, ayo aku antar pulang sekarang!” potong Hayato panik, langsung menarik tangan gadis itu yang piring makannya bahkan masih bersisa separuh.

“Eh, iya!” setuju Haruki buru-buru, sudah tidak sanggup melanjutkan makannya.

Kazuyoshi hanya bisa tersenyum geli melepas kepergian mereka berdua.

“Main-main ke sini lagi ya, Haruki-chan. Mau dibikinin kunci cadangan?”

“Ayah, diam!” teriak Hayato kesal.

Langkah kaki mereka berdua menggema di tengah sepinya malam.

Tidak ada yang bersuara, sama-sama bingung harus merespons apa.

Keheningan itu tidak sepenuhnya tidak menyenangkan, hanya terasa menggelitik di dada, membuat langkah kaki mereka tanpa sadar semakin cepat.

Haruki melirik ke arah langit malam.

Lampu-lampu perkotaan menyamarkan kerlip bintang, jauh berbeda dari langit malam Tsukinose yang bersih. Kontras itu mengaduk-ngaduk perasaannya.

“Kamu tidak pernah menanyakan apa pun tentang diriku, Hayato.”

Waktu telah berlalu sejak pertemuan kembali mereka. Tahun-tahun yang terpisah membawa banyak perubahan, dan rasa penasaran adalah hal yang wajar. Hayato pasti juga memikirkannya.

Pemuda itu menggaruk kepalanya, menatap lurus ke depan.

“Dulu… atau mungkin sampai sekarang. Aku tidak tahu soal keluargamu, atau alasan kenapa kamu sempat bolos sekolah. Aku juga tidak peduli. Bermain bersamamu itu menyenangkan. Detail-detail seperti itu tidak penting dulu, dan… kurasa sampai sekarang pun tetap sama.”

“Pfft, jawaban macam apa itu,” tawa Haruki pecah.

“Kenapa, jawabannya jelek ya?”

“Nggak, itu khas kamu banget… Tunggu, jangan jalan cepat-cepat!”

Hayato melangkah mendahului dengan wajah merona malu.

Haruki segera mengejarnya, meraih tangan pemuda itu, lalu menyamakan langkah di sisinya—pemandangan yang begitu familier sejak masa kecil mereka.

“Buat aku juga, kamu itu spesial, Hayato.”

“…Iya.”

Wajah mereka sama-sama terbakar api kemerahan, jemari mereka masih saling bertautan erat tanpa ada yang berniat melepaskannya.

Mereka mempercepat langkah menuju rumah Haruki, meninggalkan rasa malu itu larut dalam terpaan angin malam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close