Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 1
Pria Selingkuhan Pertama adalah Seorang Cowok Playboy
Keesokan paginya, setelah selesai memberikan laporan yang bagaikan neraka kepada keluargaku.
Aku menaiki kereta kuda milik keluargaku dan berangkat menuju Akademi Kekaisaran Luminous.
Kupikir-pikir sekarang, aku benar-benar bersyukur karena keluarga tempatku bereinkarnasi sangat kaya. Memang, memiliki keluarga kaya adalah yang terbaik.
Di kehidupan sebelumnya aku hanyalah budak perusahaan hitam, jadi di kehidupan kali ini aku bahkan serius mempertimbangkan untuk sepenuhnya bergantung pada keluargaku dan hidup sebagai pengangguran.
"Yang lebih penting, pertama-tama aku harus mendekati siapa dulu...?"
Setelah mengetahui bahwa Lea, heroine Broken Days of Luminous III, telah direbut oleh pria lain, aku memutuskan akan membalas dendam kepada pelakunya dengan segenap kemampuanku.
Meski begitu, aku baru mengetahui kenyataan itu kemarin.
Dari empat pria perebut pasangan, aku masih belum tahu siapa yang telah merebutnya.
Lebih parah lagi, tergantung pilihan yang diambil pemain, game ini memungkinkan beberapa pria sekaligus merebut heroine secara bersamaan.
Jadi, menemukan satu pelaku saja tidaklah cukup.
Artinya...
"...Aku harus mengalahkan keempat pria itu satu per satu, sambil mencari tahu siapa yang telah membuat Lea sampai seperti itu."
Astaga. Saat memainkan game ini di kehidupan sebelumnya, jalur yang berjalan bersamaan justru memudahkan untuk mengumpulkan skenario dan CG.
Namun sekarang, ketika aku sendiri harus menghadapinya di dunia nyata, semuanya terasa benar-benar merepotkan.
Meskipun begitu, karena memang tidak ada cara lain, sejak awal pilihanku sudah ditentukan.
Karena itu...
"Hmm..."
Saat jam makan siang tiba, aku mengusap daguku sambil mengamati keadaan kantin sendirian.
Kenapa?
Tentu saja untuk mengamati para pria perebut pasangan.
Syukurlah, salah satu targetku saat ini sedang makan siang sambil mengobrol dengan sekelompok siswa yang terkenal berperilaku buruk di akademi.
Namanya Rolf Preuss.
Kulitnya sawo matang, berambut pirang, tubuhnya dipenuhi aksesori yang bergemerincing, seragamnya sengaja dibuka lebar di bagian dada, dan cara bicaranya sangat santai.
Benar-benar seorang pria playboy.
Dalam game eroge doujin bertema NTR, karakter playboy seperti itu adalah tipe yang sangat umum.
Melihatnya bahkan membuatku merasakan keakraban yang aneh, seolah-olah sedang pulang ke rumah sendiri.
(...Baiklah, bagaimana ya status erotis si playboy itu?)
Agar tidak ketahuan olehnya, aku mendekat dengan hati-hati hingga berada dalam jarak yang masih bisa mendengar percakapannya, lalu menggunakan 【Status Open】.
――――――――――――――――――――
Nama: Rolf Preuss
Jenis Kelamin: Pria
Usia: 16
Ras: Manusia
Pekerjaan: Putra Baron (siswa)
Skill: 【Ero Kongming】
Jumlah Pasangan: 0 orang
Tingkat Perkembangan (Mulut): 0
Tingkat Perkembangan (Dada): 0
Tingkat Perkembangan (Vagina): 0
Tingkat Perkembangan (Pantat): 0
Tingkat Kesukaan: 30
――――――――――――――――――――
...Hah? Ini berbeda dari yang kubayangkan.
Di dalam game, dia seharusnya sering mengatakan hal-hal seperti, "Perempuan itu juga bakal kubuat mengerang sesuai seleraku, sama seperti cewek-cewek lainnya," atau, "Dibandingkan pria itu, jelas aku yang lebih baik, kan?" sambil terus bersikap seolah menang.
Jadi, apa sebenarnya ini?
Lagi pula, apa-apaan skill 【Ero Kongming】 itu? Bukankah itu bahkan lebih sampah daripada skill milikku?
Yah, setidaknya sekarang aku tahu kalau dia bersih.
Bagaimanapun juga, pengalaman seksualnya nol, sementara pengetahuan tentang hal-hal erotis justru berlebihan. Benar-benar "Ero Kongming."
Saat itu...
"Seperti dugaan, Rolf memang hebat. Kalau kami sih, mana mungkin kepikiran cara seperti itu."
"Hahaha, benar juga. Hei, sebenarnya sudah berapa banyak cewek yang pernah kau tiduri?"
"Ya begitulah. Kalau sudah selevel aku, itu sih gampang."
Murid-murid berandalan itu menggoda Rolf sambil menatapnya penuh rasa kagum.
Rolf sendiri tampaknya menikmati pujian itu. Dengan bangga ia membusungkan dada sambil memasang wajah penuh kemenangan. Padahal cuma Ero Kongming.
Cuma Ero Kongming.
Tapi...
"Siapa sangka setelah bereinkarnasi aku malah mengetahui jati diri si playboy."
Singkatnya, sosok playboy yang terlihat di game hanyalah tipuan.
Wujud aslinya ternyata hanyalah seorang perjaka yang sok hebat karena punya banyak pengetahuan tentang hal-hal erotis.
Aku baru bisa memahami itu setelah melihat statusnya.
Faktanya, di kehidupan sebelumnya aku sama sekali tidak menyadarinya hanya dari sikap dan tindakannya di dalam game.
Siapa sangka karakter itu memiliki latar belakang tersembunyi seperti ini... Circle doujin yang membuat game ini benar-benar niat.
Begitulah aku sempat mengaguminya.
Namun...
"Tapi, serius nih... kau benar-benar mau melakukannya?"
"Ya jelaslah. Cewek semenggoda itu, kalau bukan aku yang menghiburnya, siapa lagi?"
Menanggapi pertanyaan teman-temannya yang penuh rasa ingin tahu, Rolf mengangkat dagunya ke arah sekelompok siswi yang sedang makan siang sambil mengobrol di sebuah meja.
Di antara mereka, ada Lea.
"Haha, memang hebat. Mau targetmu sudah punya tunangan atau belum, kau sama sekali tidak peduli ya?"
"Tapi, Rolf... tunangan cewek itu kan berasal dari keluarga marquis. Keluarga baron seperti keluargamu bakal celaka kalau sampai ketahuan..."
Salah satu murid berandalan bertanya dengan nada khawatir.
Benar itu. Demi kebaikanmu sendiri, sebaiknya hentikan saja.
"Dasar bodoh. Justru karena itu serunya. Lagi pula cewek secantik itu terlalu sayang buat pecundang suram seperti dia. Yang pantas mendampinginya ya pria sepertiku."
Rolf tetap memasang sikap santai tanpa sedikit pun kehilangan rasa percaya dirinya.
Sebenarnya aku sempat berpikir, apa orang yang bahkan diragukan pernah berbicara dengan perempuan seperti dia benar-benar bisa berhasil?
Tapi kalau kupikir lagi, di dalam game memang dialah yang berhasil merebut Lea.
Saat aku sedang memikirkan hal itu...
"Permisi."
"A-apa!?"
Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang.
Aku langsung berbalik.
Di sana berdiri...
"Selamat siang. Ngomong-ngomong, ada apa ya dengan orang itu?"
Emma Baltzer, pengikut nomor satu Josephine, seorang "pengikut A", sekaligus makhluk terkuat di dunia, menatapku sambil tersenyum ramah.
Gelar yang dimilikinya benar-benar terlalu banyak.
"E-eh? T-tidak kok. Aku tidak sedang melakukan apa-apa."
"Tapi... tadi Anda sedang memperhatikan mereka, kan?"
Aku mengalihkan pandangan lalu pura-pura bersiul meski tidak ada suara yang keluar, berharap bisa menghindari pembicaraan.
Namun tentu saja trik murahan seperti itu tidak berhasil. Emma hanya memiringkan kepalanya sambil menatapku dengan wajah penasaran.
"B-bukan itu... Emma juga baru mau makan siang?"
Untuk mengalihkan topik, aku balik bertanya. Entah kenapa, Emma langsung memegangi kedua pipinya sambil menggeliat malu-malu.
Apa-apaan ini...
"Hehehe... aku sama sekali tidak menyangka Nicholas-san mengingat namaku."
"H-ha ha... ya jelas dong. Mana mungkin aku lupa."
Rupanya aku tanpa sadar menyebut namanya, sehingga dia bereaksi seperti itu.
Selama ini, bagiku Emma hanyalah "Pengikut A milik Josephine." Aku bahkan tidak mengingat namanya, apalagi pernah mengobrol dengannya.
Namun setelah ingatan kehidupan laluku kembali dan aku melihat statusnya, mungkin tanpa sadar aku jadi lengah.
Meskipun hanya untuk mengalihkan pembicaraan, memanggilnya dengan begitu akrab jelas merupakan kesalahanku.
Terlepas dari itu, aku tetap tidak mengerti kenapa Emma tampak sebahagia ini.
"Jadi... ada apa dengan orang itu?"
Sial. Emma sama sekali tidak menghentikan pertanyaannya.
Sekarang bagaimana aku harus mengelak?
"...Jangan-jangan ada hubungannya dengan tunangan Nicholas-san?"
"!?..."
S-serius?
Kenapa dia bisa langsung menebak inti masalahnya?
Apa jangan-jangan skill 【Makhluk Terkuat di Dunia】 miliknya memang memiliki kemampuan khusus...?
"Sebenarnya orang itu sudah lama memperhatikan tunangan Nicholas-san. Karena itu aku berpikir mungkin telah terjadi sesuatu."
"B-begitu ya... sejak kapan?"
"Kalau tidak salah... sekitar setelah upacara pembukaan tahun ajaran kelas dua."
Begitu ya. Sesuai dengan pembukaan game, ternyata si playboy memang mulai mengincar Lea sejak awal cerita dimulai. Kalau tidak begitu, cerita utamanya memang tidak akan berjalan.
"Karena itulah aku sudah lama merasa penasaran... Lalu saat melihat Nicholas-san juga sedang memperhatikannya, kupikir Nicholas-san pasti sudah menyadarinya juga, kan?"
Sambil berkata begitu, Emma menatap lurus ke wajahku.
Ekspresinya masih sama seperti biasa—tersenyum lembut. Namun entah kenapa, mata birunya tampak benar-benar mengkhawatirkanku.
"...Kurasa tidak ada gunanya menyembunyikannya lagi. Sepertinya dia sedang berusaha mendekati Lea, jadi..."
Aku mengangkat bahu dan menjawab dengan nada seringan mungkin.
Setelah melihat statusnya, aku tahu si playboy hanyalah seorang perjaka yang sok hebat dengan pengetahuan erotis yang luas.
Dia bukan pelaku yang telah merebut Lea. Meski begitu, kalau dibiarkan, dia pasti akan mengancam Lea dan berusaha merebutnya seperti di dalam game.
Dia tidak akan peduli apakah Lea masih menjadi tunanganku atau bahkan sudah lebih dulu direbut pria lain.
Bagaimanapun juga, di game ini hanya pria yang berhasil membuat heroine benar-benar jatuh lebih dulu yang bisa memperoleh ending.
"Jadi kupikir lebih baik melenyapkan ancaman itu sebelum menjadi masalah."
"Begitu ya..."
Setelah mendengar jawabanku, Emma sempat menundukkan pandangan. Lalu...
"...Kalau begitu, aku juga akan membantu."
"Hah...?"
Emma mengangkat wajahnya dan menatapku lurus.
"T-tidak usah. Ini masalahku sendiri, jadi Emma tidak perlu..."
"Hehe. Karena aku sudah tahu, tidak boleh mengucilkanku ya."
Dengan nada bicara yang santai, Emma menatapku dari bawah sambil tersenyum jahil. Lagi pula, tubuhnya memang cukup mungil, sehingga dari sudut pandangku saat ini, dadanya terlihat sangat mencolok.
"Kalau begitu... ayo kita mengawasinya bersama."
"T-tunggu!?"
Emma memeluk lengan kananku sambil sedikit membungkuk untuk mengamati si playboy.
Sentuhan lembut dari dadanya yang besar membuatku benar-benar tidak sanggup melepaskan pelukannya. Bahkan, sebagian diriku justru ingin menikmati kelembutan itu lebih lama lagi.
"E-Emma-san, anu…"
"Emma."
"Eh...?"
"Kita ini teman yang bekerja sama untuk menghukum orang jahat, jadi kalau kamu masih memanggilku dengan embel-embel 'san', rasanya agak sedih."
Tak kusangka dia malah memintaku memanggilnya tanpa akhiran kehormatan.
Sebenarnya, di dalam hati aku memang sudah memanggilnya begitu, jadi tidak terasa aneh.
Meski begitu, apa pantas orang yang nasibnya seperti aku memanggil gadis secantik ini hanya dengan namanya?
Tolong katakan kalau itu boleh.
"B-baiklah. Umm... Emma."
"Ya♪"
Begitu kupanggil tanpa embel-embel, wajah Emma langsung dipenuhi senyum lebar yang sangat mudah dipahami.
Apa ini. Imut sekali.
◇◆◇◆◇
"........................"
"........................"
Waktu istirahat siang tinggal lima menit lagi.
Di kantin yang kini mulai sepi karena para siswa sudah selesai makan dan pergi, aku dan Emma sama-sama terdiam.
Kenapa? Karena percakapan para playboy itu sebelum meninggalkan kantin benar-benar terlalu bodoh.
Maksudku, mereka tadi bilang ingin mengadakan rapat strategi, tapi kenyataannya si playboy itu hanya terus membanggakan dirinya dengan cerita-cerita yang bahkan tidak layak dibanggakan, sementara teman-temannya cuma bersorak dan menyemangatinya tanpa henti.
Dan kesimpulan akhirnya adalah: "Yah, nanti sepulang sekolah aku tinggal bawa cewek itu ke belakang gedung sekolah, bikin semuanya jadi kenyataan di sana, beres deh!"
Serius, otaknya kosong ya? Yang lebih parah lagi...
"Padahal dia masih perjaka yang cuma bisa berteori tanpa pengalaman nyata, tapi kenapa bisa begitu percaya diri sih...!"
Karena aku sudah melihat status erotisnya, aku tahu semua omongannya hanyalah kebohongan. Saking menyedihkannya, rasanya aku hampir menitikkan air mata.
Soalnya...Di kehidupan sebelumnya, saat masih SMA maupun kuliah, aku juga pernah mengalami masa-masa pahit seperti itu. Padahal biasanya orang yang mendengarkan sudah tahu semuanya.
Di kehidupan sebelumnya aku tidak bisa melihat status si playboy, jadi aku benar-benar mengira dia hanyalah karakter playboy klise seperti biasanya.
Tapi...
"Umm... Nicholas-san ternyata tahu banyak tentang orang itu ya."
"Ah..."
Celaka. Aku keceplosan di depan Emma. Meski masih tersenyum, tatapannya kini dipenuhi rasa curiga.
"B-bukan begitu. Mungkin karena sama-sama laki-laki... jadi aku bisa tahu apakah omongannya benar atau tidak..."
Aku menggaruk kepala sambil asal mencari alasan. Namun bahkan seandainya aku tidak melihat statusnya sekalipun, kurasa aku tetap akan segera menyadarinya.
Soalnya aku dan dia sama-sama mirip dalam satu hal.
Sama-sama perjaka yang hanya punya teori.
"Begitu ya. Tapi menurutku Nicholas-san sama sekali berbeda dengannya. Nicholas-san tidak akan memasang gengsi yang begitu mudah ketahuan bohong seperti dia."
"Guh!?"
Emma mempercayai alasanku, lalu mengatakan hal seperti itu.
Karena ingatan kehidupan laluku sudah kembali, kata-kata itu justru menusuk hatiku sampai rasanya ingin memuntahkan darah.
Sakit sekali.
"Ngomong-ngomong, karena aku sudah memanggilmu tanpa embel-embel, Emma juga boleh memanggilku tanpa embel-embel kok."
"Hehe, terima kasih. Tapi... aku lebih suka memanggilmu 'Nicholas-san'."
"B-begitu ya..."
Aku sebenarnya hanya ingin mengalihkan pembicaraan sambil memulihkan mental yang sudah babak belur. Namun Emma, sambil tampak senang, menolaknya dengan lembut.
Yah, terserah dia saja mau memanggilku apa. Kalau yang memanggil gadis imut, dipanggil apa pun tetap menyenangkan.
Bahkan kalau dipanggil "sampah" atau "belatung" sekalipun, rasanya tetap seperti hadiah.
"Jadi, sekarang bagaimana?"
"Hmm..."
Salah satu pilihan adalah memanggil si playboy sebelum dia sempat mendekati Lea, lalu membujuknya agar menghentikan niatnya.
Namun sebagai orang yang telah memainkan Broken Days of Luminous III, aku tahu dia bukan tipe yang akan menyerah hanya karena diperingatkan. Bahkan bisa jadi dia malah tersinggung, kehilangan kendali, lalu bertindak lebih nekat lagi.
"Melihat keadaannya, kurasa dalam dua atau tiga hari ke depan dia pasti mulai bergerak. Jadi sebaiknya kita awasi dulu, lalu tangkap dia saat mencoba mendekati Lea. Menangkapnya saat tertangkap basah pasti yang paling efektif."
"Benar juga. Dengan begitu dia tidak akan bisa mengelak, dan kita bisa mengusirnya dari akademi. ...Atau kalau perlu, kita sengaja gagal menangkapnya supaya pria itu memberi pelajaran yang menyakitkan pada perempuan jalang itu. (gumam pelan)"
"Hm? Tadi kamu bilang apa?"
"Tidak kok. Tidak bilang apa-apa."
Sambil tersenyum, Emma menggelengkan kepala.
Rasanya tadi aku mendengar sesuatu yang agak mengkhawatirkan.
Tapi... anggap saja aku salah dengar.
Lalu...Kriiing... Kring...
"Aah... waktu istirahat siangnya sudah habis..."
Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Emma langsung menunjukkan wajah yang jelas-jelas kecewa.
Apa mungkin dia sedih karena obrolan kami harus berakhir...?
Tidak mungkin. Jangan terlalu percaya diri, dasar pria yang tunangannya direbut orang lain.
"N-ngomong-ngomong... nanti sepulang sekolah kamu masih mau menemaniku?"
"!"
"Tentu saja! Begitu pelajaran selesai, aku akan langsung datang ke kelasmu!"
Saat kutanya dengan ragu-ragu, ekspresi Emma langsung berubah cerah. Sambil tersenyum lebar, dia menggenggam tanganku.
Apa-apaan ini. Imut sekali (untuk kedua kalinya).
"Kalau begitu, sampai nanti sepulang sekolah."
"Ya! Sampai nanti sepulang sekolah!"
Setelah berpisah dengan Emma yang melambaikan tangan sambil mengayunkan seluruh tubuhnya dengan riang, aku pun kembali ke ruang kelas.
"........................ Hehe♪"
◇◆◇◆◇
"Jadi, sebenarnya ada apa ini?"
Tibalah sore hari sepulang sekolah.
Saat aku sedang sibuk membereskan barang-barang untuk pulang, Josephine yang berdiri dengan kedua tangan bersedekap terus-menerus mengintrogasiku.
Maksudku, pemandangan dadanya yang besar bertumpu di atas kedua lengannya benar-benar luar biasa... meski tentu saja aku tidak mungkin mengatakannya.
"...Menurutku, Nicholas-san sebaiknya sedikit lebih menjaga diri."
"!?"
"I-iya!"
Dengan senyum di wajahnya, Emma menegurku. Namun entah kenapa, cahaya di matanya seolah menghilang.
Aku langsung berdiri tegak tanpa sadar. Entah kenapa aku merasa, kalau terus menatap dada Josephine seperti tadi, mungkin aku sudah dihabisi oleh "makhluk terkuat di dunia" itu.
Satu-satunya hal yang patut disyukuri adalah Josephine, yang sama sekali tidak paham soal hal-hal seperti itu, tampaknya tidak menyadari apa pun.
"Sudahlah. ...Kudengar dari Emma bahwa kalian sudah berjanji akan bersama sepulang sekolah. Apa pantas melakukan hal seperti itu padahal kau sudah punya tunangan?"
Hmm... memang benar juga. Kalau seseorang yang sudah bertunangan terlihat berduaan dengan gadis lain, wajar saja kalau orang-orang mulai curiga.
Aku sedang berusaha mencegah tunanganku direbut pria lain, tapi kalau malah aku sendiri dicurigai berselingkuh, itu benar-benar jadi kebalikannya.
Dan memang, saat aku mengalihkan pandangan ke sudut kelas...
"........................"
Lea sedang menatap ke arahku dengan wajah yang jelas-jelas kesal.
Sepertinya, meskipun dirinya sendiri telah direbut pria lain, dia tetap tidak bisa menerima kalau aku sampai direbut perempuan lain.
Bukankah itu agak tidak adil?
Meski begitu, perkataan Josephine memang masuk akal. Mungkin sebaiknya aku tidak melibatkan Emma dalam masalah ini...
"..."
Emma sedang menatapku. Masih sambil tersenyum, tapi tatapannya benar-benar tajam.
Seolah berkata, "Jangan-jangan cuma karena dimarahi Josephine-sama, Nicholas-san jadi mau membatalkan janji kita?"
"E-ehm... tidak apa-apa kok. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak punya niat buruk terhadap Emma. Dan juga tidak berniat melakukan apa pun."
"Benarkah? Emma adalah wanita yang sangat menawan. Apa kau yakin nanti tidak akan kehilangan kendali?"
Josephine mengatakan itu seolah sengaja memancingku.
Sebenarnya dia ingin aku mendekati Emma atau justru tidak?
"Hahaha, mana mungkin. Lagi pula gadis secantik Emma tidak mungkin tertarik pada orang sepertiku."
Aku menggeleng sambil menjawab penuh keyakinan.
Di kehidupan sebelumnya aku tetap perjaka sampai akhir—lebih tepatnya, memang tidak pernah berhasil lulus dari status itu. Setelah bereinkarnasi pun tunanganku malah direbut pria lain.
Aku tidak sebodoh itu sampai salah paham.
...Tapi kenapa Emma malah terlihat kecewa?
"...Baiklah. Untuk hari ini aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi."
Josephine berkata demikian sambil menunjukkan ekspresi yang rumit, lalu memalingkan wajah.
Sepertinya dia belum sepenuhnya percaya padaku, tetapi memilih menerima keadaan dengan enggan.
"Tapi ingat baik-baik. Kalau tidak berhati-hati, hanya karena laki-laki dan perempuan bergandengan tangan dengan sembarangan saja, bayi bisa dengan mudah lahir. Demi masa depan kalian, jagalah batasan..."
"E-ehm... Josephine-sama... apakah Anda tahu bagaimana bayi itu bisa lahir...?"
Emma yang tampaknya sudah tidak tahan lagi bertanya dengan hati-hati.
Josephine memasang wajah seolah berkata, "Pertanyaan bodoh apa itu?"
"Bukankah bayi dibawa oleh burung bangau? Bahkan anak kecil pun tahu itu."
Josephine menjawab dengan wajah penuh percaya diri. Emma langsung memijat pelipisnya dengan ekspresi pasrah.
Seperti yang diduga dari Josephine yang status erotisnya benar-benar nol di semua aspek. Dia memang tidak tahu.
Kalau dipikir-pikir, di Broken Days of Luminous VIII pun Josephine direbut pria lain setelah ditipu karena tidak tahu bagaimana cara menyenangkan seorang pria.
Kalau begitu, memang tidak mengherankan.
"Yah, pokoknya... sekarang Josephine-sama juga sudah mengizinkan. Jadi boleh ya, aku meminta bantuanmu sekali lagi?"
"Tentu saja."
Emma kembali tersenyum ceria sambil mengangguk. Hati murni sang heroine yang menjadi korban NTR itu…
Setidaknya, untuk saat ini aku belum ingin melihatnya hancur.
Saat itulah...
"...Aku pulang dulu."
"Tunggu! Lea!?"
Dengan wajah cemberut, Lea mengambil tasnya sedikit kasar lalu keluar dari ruang kelas.
Baiklah, kalau begitu, sudah waktunya kami mulai bergerak.
"Kalau begitu, Josephine-sama, kami permisi."
"Permisi ya."
Aku dan Emma pun keluar dari kelas, menyusul Lea.
"Nicholas-san, kita akan membuntuti tunanganmu?"
"Tidak. Yang akan kita buntuti adalah si playboy."
Kalau dia mulai bergerak, pada akhirnya dia pasti akan mendekati Lea.
Memang, kalau tujuannya mencari tahu siapa pria yang sebenarnya telah merebut Lea, akan lebih efektif membuntuti Lea. Namun untuk saat ini, prioritas utamaku adalah menghentikan si playboy terlebih dahulu.
Lagipula…
――――――――――――――――――――
Nama: Lea Kleinert
Jenis Kelamin: Perempuan
Usia: 16
Ras: Manusia
Pekerjaan: Putri Count (siswa)
Skill: 【Kecantikan yang Menghancurkan Negara】
Jumlah Pasangan: 1 orang
Tingkat Perkembangan (Mulut): 87
Tingkat Perkembangan (Payudara): 89
Tingkat Perkembangan (Vagina): 94
Tingkat Perkembangan (Pantat): 26
Tingkat Kesukaan: 100
――――――――――――――――――――
Untuk saat ini, tidak terlihat adanya perubahan pada status Lea.
Artinya, meskipun ia sudah satu atau dua kali berhubungan dengan pria perebut, masih ada cukup waktu sebelum ia benar-benar jatuh sepenuhnya.
...Apa? Tunanganmu sedang direbut pria lain, tapi kau masih bisa menahan diri?
Sejujurnya, memang benar aku ingin segera mengidentifikasi bajingan yang telah merebut Lea dan membalasnya. Namun maaf, itu akan kulakukan paling akhir.
Kalau aku terlalu sibuk mencari pria perebut itu sampai lengah menangani situasi, lalu di sela-sela itu muncul pria perebut lain yang kembali merebutnya, justru urusan setelahnya akan menjadi jauh lebih merepotkan.
Jadi...
"...Kau benar-benar melakukan penyergapan, ya."
"Benar..."
Kami mengikuti pria berandal itu dari belakang. Sesuai yang ia katakan di kantin tadi, dengan senyum mesum di wajahnya, ia bersembunyi di balik gedung sekolah dan menunggu Lea.
"Tapi... apa kita benar-benar hanya akan melihat saja? Orang itu sepertinya akan menggunakan cara apa pun untuk memaksa tunangan Nicholas-san."
"Ya, aku juga tahu. Tapi kalau kita menghentikannya sebelum dia melakukan apa pun, dia bisa saja mencari alasan untuk lolos."
Memang begitu pula di dalam game. Sekalipun ada gangguan dari suami korban lain atau pihak lain, pria perebut itu akan mencoba lagi di hari berbeda dan alur cerita tetap berlanjut.
Kalau begitu, daripada begitu, lebih baik mendapatkan bukti yang benar-benar tidak terbantahkan agar dia tidak bisa mengulangi perbuatannya lagi dan tersingkir dari panggung ini.
"Bukan aku yang keberatan, sih. Tapi bagi Nicholas-san, tunanganmu bisa saja berada dalam bahaya..."
Walaupun seperti biasa ia terus tersenyum sehingga sulit ditebak, rupanya Emma sedang mengkhawatirkanku.
Apa ini? Melihat penampilannya sekaligus aura keibuan yang ia pancarkan, entah kenapa aku jadi ingin dimanja seperti bayi.
"Tenang saja. Sebelum terjadi apa-apa, aku pasti akan menghentikannya."
"...Baiklah. Kalau Nicholas-san bilang begitu."
Meski tampaknya belum sepenuhnya puas, Emma akhirnya menerima keputusanku.
Rasanya sedikit bersalah karena membuatnya khawatir. Namun karena aku sangat memahami Broken Days of Luminous III, aku tahu persis kapan pria berandal itu akan bergerak dan apa yang akan ia lakukan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Saat itu...
"Ah."
Mengikuti arah pandangan Emma yang berseru pelan, sosok yang muncul adalah Lea. Pria berandal itu juga melihatnya dan menyunggingkan senyum lebar.
"Emma, lakukan sesuai rencana."
"Baik."
Kami bergerak memutar agar tidak terlihat oleh mereka berdua, lalu mengambil posisi yang sudah direncanakan dan mengawasi keadaan.
"Hei hei... oi."
"Kau... siapa?"
Kemunculan pria itu yang tiba-tiba tepat di hadapannya membuat mata Lea sedikit membelalak.
Namun tampaknya ia langsung merasakan ada sesuatu yang mencurigakan dan segera memasang kewaspadaan.
Meski begitu, walaupun memang kemunculannya sesuai game, bukankah seharusnya masih ada cara yang lebih bagus?
Begini sih sama saja dengan berkata, "Tolong waspadalah." Padahal di game, tingkat keberhasilan merebut korbannya selalu 100 persen.
"Hei, kau tahu nggak? Tunanganmu itu... eh, siapa namanya tadi?"
"...Nicholas?"
"Oh iya, itu. Bajingan itu selingkuh padahal sudah punya tunangan sepertimu."
Begitu mendengar perkataan itu, wajah Lea langsung menegang.
Apakah ia benar-benar mengira aku berselingkuh? Atau justru karena merasa seolah-olah rahasia bahwa dirinya telah direbut pria lain sudah diketahui?
Di Broken Days of Luminous III, dialog setelah ini berubah tergantung seberapa jauh perkembangan perebutan oleh pria lain.
Karena Lea sudah pernah direbut sebelumnya, kemungkinan besar...
"Bodoh, ya? Mana mungkin orang yang sudah punya tunangan malah selingkuh."
Dengan tatapan dingin ke arah pria itu, Lea mengatakannya tegas.
Benar juga. Demi mencegah orang menyadari bahwa dirinya sendiri sudah direbut pria lain, tentu ia tidak boleh menunjukkan kegugupan.
"Tapi aku lihat sendiri, lho. Dia jalan akrab sama perempuan lain."
"Kalau begitu tunjukkan buktinya. Walaupun jelas kau tidak punya."
Lea tetap mempertahankan sikap percaya dirinya.
Melihat Lea sama sekali tidak menunjukkan celah, pria itu mulai semakin kesal.
Buktinya...
"Hah? Bukti apaan? Lihat sendiri saja nanti. Aku bakal mengantarmu ke tempat dia selingkuh."
"Aku menolak. Memangnya siapa yang akan percaya omonganmu lalu mengikuti begitu saja? Bodoh."
Nada santai pria itu menghilang. Dengan suara kasar ia membentak. Lea pun hanya mengangkat bahu sambil tersenyum mengejek.
"Emm... sepertinya ini mulai berbahaya, ya..."
"Ya."
Kalau aku keluar sekarang dan mendekat, waktunya akan tepat ketika pria itu mulai bertindak pada Lea.
Aku menyuruh Emma tetap bersembunyi di sini, lalu keluar dari balik gedung sekolah.
"Ah, berisik banget! Pokoknya ikut saja!"
"!? Lepaskan!"
Pria itu memaksa menarik lengan Lea, berniat membawanya entah ke mana.
Sama seperti di game, kemungkinan besar ia ingin menyeret Lea ke belakang gedung yang sepi dan memaksanya dengan kekerasan.
Lea berusaha melawan, tetapi perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Ia tak mampu melepaskan diri dan terus diseret.
"Memang salahmu sendiri! Siapa suruh punya dada sebesar itu!"
Lea tampak terkejut.
"Tunggu dulu..."
Sesaat setelah pria yang sedang terbawa nafsu itu meraba dada Lea dalam kekacauan situasi, Lea mengeluarkan suara erangan yang tidak pantas.
"Gilaaa! Baru kusentuh sedikit saja dia sudah bereaksi sebesar ini!"
"...Hent... hentikan..."
Pria itu yang semakin terbawa suasana terus meremas dada Lea dengan wajah penuh kegembiraan.
Seiring itu, ekspresi Lea juga mulai berubah menjadi wajah yang dipenuhi kenikmatan.
Kalau melihat status perkembangan "bagian dada" Lea yang sudah dilatih oleh pria perebut lain sebelumnya, reaksi seperti itu memang bukan sesuatu yang aneh.
Tapi...Melihat tunanganku sendiri dalam keadaan seperti itu, jujur saja, rasanya benar-benar membuatku kehilangan selera.
"Wah... kalau yang ini sih, bahkan aku juga tidak bisa berkata apa-apa..."
Emma yang melihat Lea jatuh ke dalam kenikmatan hanya karena disentuh sedikit pun membeku. Senyum lembut keibuannya yang biasa langsung mengeras.
"Haaah... sudah cukup memalukan. Saatnya kuhentikan."
"Kuuh...! Ternyata semua pengetahuan mesum yang kupelajari selama ini tidak sia-sia...!?"
"Ya, ya. Maaf mengganggu saat kau sedang terharu, tapi sampai di sini saja."
Mungkin pria itu memang telah berusaha mati-matian selama ini demi menguasai berbagai teknik mesum.
Saat mengetahui berbagai teknik yang selama ini ia pelajari ternyata benar-benar berhasil, matanya sampai berkaca-kaca.
Aku menepuk pelan bahunya.
"K-Kau...!"
"Aku Nicholas, teman masa kecil sekaligus tunangan Lea. Begitulah."
Menahan rasa malu karena harus menyebut diri sebagai tunangannya, aku memperkenalkan diri.
Lalu apa yang terjadi?
Pria itu menatapku seolah ingin membunuhku dengan pandangannya. Mungkin ia berpikir, "Padahal tinggal sedikit lagi, malah diganggu."
Yah, melihat tonjolan di selangkangannya, pikirannya cukup mudah ditebak.
"Jadi? Apa yang sedang kau lakukan pada tunanganku?"
"Hah? Memangnya kenapa? Aku cuma mengajaknya bicara sedikit..."
Saat kutanya tanpa mengubah ekspresi, ia langsung mengalihkan pandangan dengan canggung.
Bersamaan dengan itu, tonjolan di celananya pun perlahan mengempis.
"Sayangnya aku melihat semuanya dari awal sampai akhir. Ini sudah cukup untuk dianggap percobaan pelecehan seksual."
"Apa!? M-Memangnya kau punya bukti!?"
Menyadari dirinya berada dalam masalah besar, pria itu mulai panik sambil berteriak berusaha menutupi keadaan.
"Bukti? Kesaksian korban sendiri ditambah kesaksian kami sebagai beberapa saksi mata sudah lebih dari cukup. Jadi... selamat. Dengan ini kau resmi dikeluarkan dari sekolah. Keluargamu juga pasti akan mengusirmu, dan mulai besok kau tinggal bergabung menjadi tunawisma."
"Apa...!?"
Wajah pria itu seketika dipenuhi keputusasaan.
Ya juga. Pada akhirnya kau hanyalah seorang perjaka yang terlalu larut dalam delusi dan fantasi seperti anak SMP hingga tak mampu lagi menahan hawa nafsumu. Serius, ke mana akal sehatmu?
"Jadi, ayo ikut denganku ke ruang guru."
Aku kembali menepuk bahunya dan hendak membawanya pergi. Namun...
"Mana mungkin aku nurut begitu sajaaaaaaa!!"
"Wah!?"
Ia menepis tanganku lalu berlari lurus ke arah Lea yang masih terduduk lemas di tanah.
Memang sih, aku sudah menduga dia tidak akan mengakui kesalahannya dengan patuh. Meski aku tahu sekarang bukan saatnya berpangku tangan...
Entah kenapa aku juga tidak terlalu ingin menolong Lea.
Setelah melihat tunanganku memperlihatkan tingkah yang sememalukan itu, kurasa siapa pun akan bereaksi seperti ini.
Namun...
"Ah, maaf ya."
"Woaahhhh!?"
Tiba-tiba kaki Emma muncul menghalangi jalannya, membuat pria berandal itu tersandung dan terlempar tinggi ke udara.
Nasib malang baginya, ia bahkan tidak sempat mencapai Lea. Wajahnya menghantam tanah lebih dulu, disusul bunyi "Krek!" yang kering, lalu ia pun tak bergerak lagi.
Padahal aku sudah menyuruh Emma tetap bersembunyi di belakang gedung sekolah....
"Eh... jangan-jangan tadi sengaja?"
"Hehe... siapa tahu ya?"
Emma menempelkan jari telunjuk ke dagunya sambil tersenyum usil. Begitu ya, berarti memang sengaja.
Yah, bagaimanapun dia adalah makhluk terkuat di dunia, jadi sebenarnya aku juga tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Kalau bisa... lain kali jangan melakukan hal berbahaya seperti itu, ya."
"Emm... jangan-jangan kamu mengkhawatirkanku?"
"Ya... begitulah."
Saat aku mengangguk malu-malu, wajah Emma langsung berubah menjadi senyum cerah bagaikan bunga matahari yang sedang mekar.
Sial... padahal di game dia cuma karakter figuran A yang digambarkan dengan sprite dua kepala, tapi kenapa lucunya keterlaluan begini? Bisa-bisa aku salah paham.
Meski begitu, di balik senyum itu sebenarnya tersembunyi sifat aslinya sebagai seorang ananist (penggemar seks anal).
"Hehe, aku baik-baik saja kok. Tapi, terima ka—"
"Nico!"
Sebelum Emma sempat menyelesaikan ucapan terima kasihnya, Lea mendorongnya ke samping lalu memelukku erat.
Padahal aku sama sekali tidak tertarik melihat heroine yang tadi mengeluarkan suara erangan memalukan itu sekarang bersikap lemah lembut.
"Hiks... Nico... aku takut...."
"B-Begitu ya...."
Lea menangis tersedu-sedu sambil menggosok-gosokkan wajahnya ke dadaku.
Sementara itu, yang kupikirkan saat itu hanyalah jangan sampai seragamku terkena ingusnya.
Selain itu, sesekali Lea melirik ke arah Emma sambil memasang wajah penuh kemenangan, seolah sedang mengejeknya.
Aku melihat jelas alis Emma berkedut sedikit walaupun ia masih tersenyum, tetapi kupilih berpura-pura tidak melihatnya.
"Kalau begitu, supaya kau tidak mengalami hal mengerikan seperti ini lagi, orang ini harus benar-benar mempertanggungjawabkan perbuatannya. Untuk itu, Lea, kau harus bersaksi tentang apa yang dia lakukan padamu. Mengerti?"
"...I-Iya...."
Karena sudah tidak tahan lagi, aku melepaskan pelukan Lea dengan lembut lalu menasihatinya.
Lea menunduk sambil mengernyit, tampak enggan, tetapi akhirnya mengangguk dengan berat hati.
"Kalau begitu, kita langsung bawa orang ini ke ruang guru."
Aku mengangkat tubuh pria berandal itu dan membawa mereka berdua menuju ruang guru.
Lumayan berat, tapi tentu saja aku tidak mungkin menyuruh para gadis membawanya. Lea sendiri hanya berjalan diam di belakangku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, terus menundukkan kepala.
Sedangkan Emma....
"........................Cih."
Eh...? Barusan dia terang-terangan mendecakkan lidah, kan?
◇◆◇◆◇
Kalau dijelaskan secara singkat, pria berandal itu akhirnya resmi dikeluarkan dari sekolah.
Ya, memang sudah sewajarnya begitu. Bukan hanya mengancam dan memaksa Lea, dia bahkan sempat meraba dada Lea.
Terlebih lagi, keluarga Lea adalah keluarga bangsawan bergelar Count, sedangkan keluarga pria itu hanya bergelar Baron.
Melihat perbedaan kedudukan kedua keluarga, pihak akademi tampaknya memutuskan untuk segera menjatuhkan hukuman berat, sehingga keesokan harinya keputusan pemecatan langsung diumumkan.
Kalau tidak, akademi bisa dianggap lalai menjaga keamanan murid dan berisiko mendapat sorotan dari keluarga bangsawan berpengaruh lainnya.
Sedangkan kami....
"Lea juga libur hari ini, ya...."
"Iya."
Mendengar Theo memandang khawatir ke bangku Lea yang kosong, aku menjawab seadanya.
Memang secara resmi pihak akademi memaksanya beristirahat karena mempertimbangkan trauma akibat hampir diserang.
Namun alasan sebenarnya kemungkinan besar adalah agar masalah ini tidak semakin membesar di dalam akademi, sambil tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga Lea.
Di Broken Days of Luminous III juga ada adegan ketika salah satu pria perebut dengan bangga menjelaskan bahwa pihak akademi tidak pernah menyadari Lea telah direbut pria lain karena budaya menutup-nutupi seperti itu.
"Hm... bukankah kau agak dingin? Tunanganmu sedang mengalami masa sulit, lho."
"Mau bagaimana lagi...."
Walaupun aku membalas perkataan Theo, sebenarnya bukan hanya tidak khawatir.
Aku memang sudah tidak peduli lagi.
Entah karena seperti para pasangan yang dikhianati hingga akhirnya kehilangan rasa cinta, atau karena di kehidupan sebelumnya aku terlalu sering memainkan game NTR sehingga sudah tidak bisa lagi bersimpati kepada heroine yang direbut pria lain.
Atau mungkin karena kedua-duanya.
Bagaimanapun juga, aku ingin secepatnya membatalkan pertunangan ini dan mengakhiri hubunganku dengan Lea.
Untuk itu aku harus mengumpulkan bukti bahwa Lea telah direbut pria lain, sekaligus menyingkirkan semua pria perebut yang muncul di dalam game.
Sayangnya pertunangan kami merupakan perjanjian antarbangsawan, sehingga banyak kepentingan yang terlibat dan tidak bisa dibatalkan begitu saja.
Yah, bahkan di kehidupan sebelumnya pun kalau salah satu pihak membatalkan pertunangan secara sepihak, biasanya harus membayar ganti rugi.
Ngomong-ngomong, Theo ini jangan-jangan setelah kukatakan dia seperti penguntit, malah mengalihkan target dari heroine seri VII menjadi Lea?
Soalnya sejak tadi dia terus mengkhawatirkan Lea, bahkan marah saat melihat sikapku yang dingin.
Saat itu....
"Aku sudah mendengar semuanya dari Emma. Kejadian kali ini... sungguh berat bagi kalian."
Untuk pertama kalinya, Josephine datang ke kelas dan menghiburku.
Ada apa sebenarnya?
Skill 【Villainess】 miliknya kok tidak bekerja? Bukannya harusnya dia menghina dengan angkuh? Justru hadiah seperti itulah yang kutunggu.
"Tidak apa-apa. Orang yang mengganggu Lea sudah resmi dikeluarkan dari sekolah. Kurasa kami tidak akan bertemu dengannya lagi."
Aku sengaja membuka kedua tangan secara berlebihan sambil menjawab dengan santai. Kemungkinan besar pria itu sudah diusir keluarganya dan sekarang sedang hidup terlunta-lunta.
"Namun... bukankah Anda sendiri juga mengkhawatirkan Lea-sama?"
"Untuk itu Anda juga tidak perlu khawatir. Bahkan tanpa aku pun keluarganya pasti sedang memanjakannya."
Lagi pula di game, bahkan ketika Lea berakhir hamil oleh pria perebut, kedua orang tuanya tetap menerima anak hasil hubungan itu dengan hangat demi kebahagiaan putri mereka, seolah-olah keberadaanku sebagai tunangannya tidak pernah ada.
Kali ini pun mereka pasti sedang mati-matian menghibur Lea.
"Kalau begitu... syukurlah...."
Josephine tampak masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi mungkin karena sungkan, ia tidak melanjutkannya.
Memang begitulah dirinya.
Heroine ini sebenarnya hanyalah gadis tsundere yang kikuk dan kurang pengalaman menghadapi dunia. Pada dasarnya dia memang anak yang baik.
"Benar sekali. Nicholas-san baik-baik saja.... Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisinya."
Emma yang sejak tadi berdiri di belakang Josephine melangkah maju, lalu menggenggam tanganku dengan lembut.
Padahal kupikir karena dia makhluk terkuat di daratan, tangannya pasti kasar. Ternyata justru sangat halus dan lembut.
Sambil menikmati rasa nyaman dari keibuan yang ia pancarkan, tiba-tiba satu hal terlintas di benakku.
Yaitu satu kalimat yang kabarnya sempat diucapkan pria berandal itu saat diinterogasi guru.
—"A-Aku ditipu! Perempuan itu bilang, 'Tunangan Lea sedang berselingkuh, jadi akan mudah merebutnya. Demi Lea juga, kamulah yang seharusnya merebutnya!'"
Para guru kabarnya terus menanyakan siapa yang dimaksud dengan "perempuan itu", tetapi entah mengapa pria tersebut tampak ketakutan dan sama sekali tidak mau menjawab.
Kenapa aku tahu hasil interogasinya sedetail ini?
Karena pihak akademi menganggap bukan hanya Lea sebagai korban langsung, tetapi aku juga mengalami penderitaan mental sebagai tunangannya, sehingga mereka memberitahuku hasil penyelidikan sekaligus untuk mencocokkan kesaksian.
"...? Kenapa Anda menatap wajahku seperti itu?"
"T-Tidak... tidak apa-apa."
Emma memiringkan kepalanya dengan heran.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Benar juga. Akulah yang melibatkan Emma dalam kejadian ini. Mana mungkin Emma justru menghasut pria berandal itu agar merebut Lea.
Menganggap pikiranku sendiri konyol, aku pun mulai memikirkan siapa pria perebut berikutnya yang harus kuhadapi....
—Hehe♪
...Emma, barusan kau tertawa menyeringai, ya?




Post a Comment