NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 1 Chapter 10

Chapter 10

Tekad Himeko


Dua puluh menit berjalan kaki dari apartemen.

Berbeda dengan sekolah gabungan SD-SMP di pedesaan Tsukino-se atau bangunan kayunya yang hanya satu lantai, SMP tempat Himeko bersekolah adalah bangunan beton tiga lantai. Seragam kesayangannya—rok kotak-kotak dan baju pelaut dengan kerah yang serasi—menggantikan rok terusan lama yang tampak kuno.

Himeko langsung menonjol sebagai seorang gadis berparas rupawan bahkan di sekolah perkotaan ini. Matanya yang cerah dan penuh semangat, rambutnya yang bergelombang, serta tubuhnya yang ramping (dengan beberapa bagian yang masih dalam masa pertumbuhan) berhasil menarik banyak perhatian, yang semakin diperkuat oleh statusnya sebagai seorang murid pindahan.

Berlari tergesa-gesa masuk ke kelas tepat sebelum bel masuk berbunyi, dia menghela napas panjang sambil menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Teman barunya, Honoka Torikai, langsung menghampirinya.

"Himeko-chan, helaan napas itu... Ada apa?"

"Ah, iya, begitulah."

"Jadwal TV-nya berantakan lagi?"

"Sempat ketinggalan seminggu dan panik, tapi sekarang sudah beres."

"Kangen tiang telepon kayu?"

"Sudah mulai terbiasa, kok."

"Tidak ada bangkai katak atau kadal di pinggir jalan?"

"Di sini benar-benar tidak ada hal seperti itu—tunggu, aku ini bukan gadis desa, ya!"

"Haha, benar juga!"

Sambil merona merah, Himeko berdiri untuk memprotes, namun Honoka dan teman-teman sekelas lainnya memperhatikan dengan hangat. Meskipun Himeko berusaha menyembunyikan akar desanya, keterkejutannya saat mendapati tidak adanya mesin penggiling padi koin serta ketidaktahuannya tentang kereta swasta langsung membongkar identitasnya di hari pertama, menjadikannya sebagai maskot kesayangan di kelas.

Dia masih mengira kalau asal-usulnya itu masih menjadi rahasia.

"Jadi, ada apa? Kejutan lain dari kota asalmu?"

"Semacam itulah. Bukan tentang suatu hal—tapi tentang seseorang."

"Seseorang?"

"Teman lama Kakak. Aku bertemu dengannya lagi setelah sekian tahun, dan dia telah berubah begitu banyak, sampai-sampai... membuat kepalaku pusing."

"Memangnya dia seperti apa dulu?"

"Hm... Dia dulu sering bertindak liar bersama Kak Onii, suka membuat keisengan, sering dimarahin, tapi tetap memperhatikan aku. Benar-benar anak yang nakal. Sekarang dia, entah bagaimana, berubah menjadi tipe siswi teladan yang sempurna."

"Hmm... Apa kamu menyukainya?"

"Uh... Iya, mungkin. Kurasa begitu."

Menyukai.

Kata itu meresap dengan berat di dalam dada Himeko. Sebuah rasa kasih sayang kekanak-kanakan yang samar—terlalu buram untuk disebut cinta pertama, namun sangat pas dengan arti kata "menyukai". Dia jelas-jelas menyukai Haruki dulu, mengira bahwa anak itu adalah seorang anak laki-laki.

Namun bahkan jika perasaan itu nyata, hubungan mereka tidak akan pernah bisa terwujud. Haruki adalah seorang perempuan, sebuah fakta yang tidak bisa diubah lagi. Rasa sakit yang getir menusuk dadanya, dan dia mencengkeram dadanya tanpa sadar.

"Itu tidak adil..."

"Himeko-chan...?"

Melihat teman masa kecilnya telah bertransformasi, tanpa menyisakan sedikit pun jejak sang pemimpin berandal, kini menjelma menjadi sosok yang sangat anggun, namun berdiri di sisi kakaknya—rasanya begitu tidak adil. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya.

Honoka, melihat gumaman kesakitan Himeko, mengurungkan niatnya untuk menggoda. Sebaliknya, insting percintaannya justru bergejolak, mendorongnya untuk ikut campur. Gadis-gadis lain, yang merasakan hal yang sama, langsung mengerumuni Himeko.

"Kirishima-san, ceritakan lebih banyak tentang dia!"

"Ada cerita apa yang menunjukkan siapa dia sebenarnya?"

"Apa maksud dari 'tidak adil' itu? Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Kamu harus mengungkapkan perasaanmu, atau kamu akan menyesalinya!"

"Uh, um... Menyesal...?"

Di Tsukino-se, Himeko tidak pernah berhadapan dengan sekumpulan gadis sebayanya sekaligus. Merasa kewalahan, dia berputar bingung di bawah gempuran pertanyaan mereka.

Satu kata tertanam kuat di benaknya: menyesal.

Himeko memiliki sebuah penyesalan yang mendalam—Saki.

Satu-satunya teman sebayanya yang sejati di Tsukino-se, sahabat karib sepanjang hidupnya. Kepindahan yang mendadak membuat Himeko tidak sempat memberitahunya sampai detik-detik terakhir.

"Seandainya kamu memberitahuku lebih awal! Aku ingin melakukan lebih banyak hal bersamamu, Hime-chan, dan dengan kakakmu..."

Isak tangis Saki tak terbendung. Menenangkannya bukanlah hal yang mudah; mereka akhirnya menangis bersama. Meskipun mereka masih sering mengobrol dan saling memaafkan, jarak fisik di antara mereka tetap tidak bisa dijembatani.

Ketegangan yang canggung antara Saki dan Hayato masih tersisa, belum terselesaikan akibat kepindahan itu. Memikirkan Saki semakin memperkuat rasa penyesalan Himeko.

(Saki-chan masih peduli pada Kak Onii...)

Pikiran itu memicu rasa urgensi di dalam dirinya. Dia tidak bisa tinggal diam. Menepuk kedua pipinya sendiri, dia berdiri dengan mantap.

"Baiklah, aku akan melakukannya! Aku akan bicara dengan Haru-chan, akrab dengannya, dan menjadi sahabat karibnya!"

Sambil mengangkat kepalan tangannya dengan seruan "Ei-ei-oh!", Honoka dan para gadis lainnya bersorak, bertepuk tangan dengan liar, mata mereka berbinar bagaikan para predator yang menemukan mangsanya.

"Ya, ayo kita buat rencana, Himeko-kun."

"Ceritakan lebih banyak, kami akan bantu!"

"Saatnya rapat minum tapioca!"

"Tapioka? Sudah tidak ada lagi yang menjualnya sekarang!"

"Uh, tunggu... Tapioka!? Minuman kekinian itu!? Wah tidak bisa, aku ingin mencobanya!"

" " "..." " "

Tren tapioka sudah lama berlalu masa jayanya. Para gadis itu mengucapkannya sebagai sebuah lelucon, namun Himeko menanggapinya dengan sangat antusias, mencerminkan keterlambatan informasi tren yang masuk ke pedesaan.

"Itulah Kirishima-san kita!"

"Aku yang traktir!"

"Tetaplah seperti ini selamanya, Himeko-chan!"

"Hah? Teman-teman?"

Merasa bingung dengan reaksi mereka, Himeko mendapati senyuman hangat dan geli menghiasi wajah teman-temannya, beberapa bahkan berusaha menahan tawa. Alhasil, statusnya sebagai maskot kelas semakin terkunci kuat.

Hari Jumat, menjelang akhir pekan di mana Hayato akan memilih ponsel pintar bersama Haruki, malam yang lembap di hari kerja terakhir masih terasa sisa-sisa dari pagi yang pengap.

"Ugh, aku pulang... Kak Onii, es krim!"

"Ada di freezer, ambil sendiri."

"Hei, Hime-chan, selamat datang kembali!"

Himeko yang berkeringat kembali ke apartemen ber-AC, disambut oleh Hayato yang sedang menyiapkan makan malam dan Haruki yang sedang bersantai tengkurap di sofa ruang tamu sambil membaca manga.

Haruki, yang menepati janjinya untuk bergabung makan malam bersama mereka, sudah berada di sana. Kedekatan yang terjalin membuat mereka tidak perlu merasa sungkan—mungkin rasa kesepian juga turut berperan di baliknya.

Keadaannya terlihat sangat berantakan, membuat Himeko mengerutkan kening. Memeluk bantal, berbaring tengkurap, rok tersingkap begitu saja tanpa peduli, kaus kaki dilepas, dan kakinya menendang-nendang udara—postur santai itu memperlihatkan celana pendek polos model boxer berwarna biru navy, sama sekali jauh dari kesan seksi.

"Haru-chan, itu..."

"Hm? Oh, ini! Manga era Taisho yang diadaptasi jadi anime itu. Sempat habis terjual di mana-mana, tapi akhirnya aku dapat juga. Ayo baca bersamaku!"

"Bukan, maksudku..."

"Hah...?"

Ekspresi bingung Haruki yang memiringkan kepalanya terlihat begitu menggemaskan sekaligus menyedihkan. Himeko menepuk jidatnya sendiri.

Melirik ke arah Hayato, pemuda itu sedang memotong sayuran dengan tenang tanpa terganggu, seolah-olah pemandangan ini adalah hal yang biasa. Dinamika hubungan mereka yang tidak pernah berubah, entah untuk kebaikan atau keburukan, membuat bibir Himeko tersenyum tipis di tengah rasa jengkelnya.

"Hime-chan, ayo sini!"

"Ugh!"

Sambil bangkit duduk, Haruki menepuk-nepuk sofa dengan mata berbinar-binar dan manga di genggamannya. Dengan rasa enggan, Himeko akhirnya bergabung dengannya.

Manga shonen pertarungan itu berhasil mencengkeram perhatian kedua gadis tersebut, menarik mereka masuk sepenuhnya ke dalam cerita.

"Haru-chan, di mana jilid keduanya!?"

"Ini! Selamat datang di jurang kesesatan!"

"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan...?" gerutu Hayato dalam hati.

Mereka membaca dalam keheningan sampai makan malam siap disajikan.

"Itadakimasu!"

"Kak Onii, ini..."

"Makan tomatnya, Himeko."

Makan malam kali ini adalah udon salad shabu dingin: mie tipis dingin dengan mizuna, daun-daun muda, daun bawang, mentimun, kecambah daikon, tomat, dan irisan daging babi dingin, disajikan dengan ponzu, saus wijen, atau pilihan bumbu lainnya.

Udara panas membuat nafsu makan menurun, namun hidangan ringan ini sangat mudah disantap. Himeko, yang memasang wajah jijik pada tomat mentah, terpaksa menelannya bulat-bulat di bawah tatapan tajam Hayato.

Menyeruput teh setelah makan, Himeko tiba-tiba membuka suara.

"Oh, Kak Onii, bolehkah aku meminjam Haru-chan besok?"

"Aku?"

"Urusan beli ponsel itu hari Minggu, kan?"

Himeko tahu tentang rencana Hayato membeli ponsel pintar dan selera fesyen Haruki yang sangat berantakan—terlalu parah untuk diabaikan oleh seorang gadis remaja.

"Yup, ayo kita kencan, Haru-chan. Kencan antar teman."

"K-K-K-K-Kencan!? Dengan aku!? Aku belum pernah kencan seumur hidupku!"

Haruki merona merah, merasa salah tingkah mendengar kata itu, menunjukkan ketidakpengalamannya. Himeko, yang menahan diri untuk tidak menggoda, melanjutkan kata-katanya.

"Bukan hal besar. Kamu kan sudah sering 'kencan' dengan Kak Onii—kencan menjelajahi ladang, kencan basah-basahan menyelam di sungai, kencan berburu jangkrik selama enam jam, kan?"

"Oh, benar juga."

"Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya."

Haruki bertepuk tangan menyadari hal itu, sementara Hayato menahan tawa saat mengingat kembali masa-masa tersebut.

"Jadi, hanya kamu dan aku yang jalan-jalan?"

"Yup."

"Asyik, mau melakukan apa? Hayato tidak apa-apa kalau ditinggal? Aku lebih suka kalau kita bertiga—"

"Baju."

"Bertiga—"

"Kita akan membelikanmu pakaian baru, Haru-chan."

"...Himeko-sama...?"

Mata Himeko memancarkan keseriusan tingkat tinggi, dipenuhi dengan tekad bulat, senyumannya bagaikan seorang pemburu yang mengunci mangsanya. Haruki membeku, sensasi dingin merayap di sepanjang tulang belakangnya.

"Hayato!"

"Waktunya mencuci piring."

"Pengkhianat!"

Berharap mendapatkan pertolongan, Haruki melihat Hayato kabur ke dapur, punggungnya seolah menyuarakan kalimat, Cowok hanya akan menjadi pengganggu saja.

Haruki sangat payah dalam urusan feminin, bahkan sengaja menghindarinya.

"Aku ingin memilihkan baju bersamamu, Haru-chan, mengobrol lebih banyak, dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya."

Ucapan Himeko keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Tatapannya yang tulus berhasil melunakkan perlawanan Haruki.

Sambil menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.

"Baiklah. Besok kita kencan."

"Haru-chan!"

Diliputi kebahagiaan, Himeko merangkul erat tangannya. Merasa disayangi oleh teman mudanya itu berhasil menghangatkan hati Haruki.

Himeko menariknya berdiri dengan senyuman yang bersinar cerah.

"Uh, Hime-chan?"

"Aku akan meminjamkan bajuku. Ayo kita pilih pakaian untuk besok!"

"Apa? Hah? Tunggu!"

Tidak mungkin kamu pergi keluar dengan pakaian yang separah itu, kan? Aura penuh paksaan dari Himeko menyeret Haruki masuk ke kamarnya untuk menjalani peragaan busana wajib.

"Hm, kurang pas. Berikutnya, yang ini."

"Argh, masih ada lagi!?"

Malam itu, ratapan penuh keputusasaan dari Haruki bergema memenuhi rumah keluarga Kirishima hingga larut malam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close