Chapter 1
Sahabat Lama yang
Berjumpa Kembali
Sekarang,
di masa kini.
Hayato
Kirishima tidak berdiri di pegunungan pedesaan Tsukino-se, melainkan di depan
sebuah gedung perkotaan raksasa, yang berjarak beberapa jam perjalanan dengan
mobil.
"Begitu
besar..." keluhnya, terpesona oleh gedung SMA tersebut.
Dibandingkan
dengan sekolah satu lantai berdinding kayu yang bocor di kampung halamannya,
struktur beton putih tiga lantai ini tampak megah dan bersih, hampir membuat
kepalanya pusing. Merasa kewalahan, Hayato mengenang masa lalu untuk melarikan
diri dari kenyataan.
Menepis
lamunannya, dia berjalan menuju ruang guru. Segala urusan administrasi telah
selesai, dan wali kelasnya mengantar ke ruang kelas barunya, yang bertuliskan
"1-A" di atas pintu.
Saat pintu
terbuka, tatapan penuh rasa ingin tahu menusuknya, membuat bahunya bergidik.
Wajar saja—jumlah siswa di ruangan ini lebih banyak daripada seluruh murid di
sekolah pedesaannya.
"Aku
Hayato Kirishima," ucapnya. "Dari Tsukino-se, tempat kalian bisa
berpapasan dengan monyet, rusa, atau babi hutan di jalan. Aku ini anak desa,
jadi... mohon bantuannya, ya?"
Perkenalan
yang merendahkan diri itu mengundang tawa kecil yang ramah, meski bukan
sambutan yang meriah namun cukup menghangatkan hati. Setelah berhari-hari
latihan, Hayato menghela napas lega.
Memulai
sekolah di pertengahan Juni di kota baru terasa menakutkan, tapi juga
mengasyikkan. Dia telah pindah ke kota yang sama dengan Haruki Nikaidou,
sahabat masa kecilnya yang dulu membuat janji dengannya. Bayangan dirinya yang
masih kecil dengan senyum lebar melintas di benaknya.
"Kursimu...
sebelah Nikaidou masih kosong," kata guru itu.
"Nikaidou—eh?"
Hayato berkedip.
"Ya,"
seorang siswi mengangkat tangannya, menunjuk ke arah tempat duduknya.
Dia sangat
memukau.
Mata yang
besar dan cerah, rambut yang dikepang rapi, serta senyuman bagaikan kuncup
bunga yang mekar—lembut, anggun, perwujudan sejati dari seorang Yamato
Nadeshiko. Kecantikan yang langka, tidak seperti siapa pun di Tsukino-se.
Jantung
Hayato berdegup kencang, tetapi dia berpikir, Oh, dia juga bermarga Nikaidou,
seperti orang itu. Membayangkan sahabat lamanya yang usil, dia membatin, Kalau
Haruki ada di sini, dia mungkin akan menggodanya soal marga mereka yang sama,
membuatnya kesal.
Tawa kecil
lolos dari bibirnya. "Senang berkenalan denganmu, Nikaidou-san."
Gadis itu mengerjap, terkejut, lalu membalas dengan senyuman nakal. "Salam kenal juga, Kirishima-kun."
(...Hah?)
Pandangannya
yang menyipit membangkitkan perasaan nostalgia. Kenapa hal ini terasa begitu
akrab?
Hayato
memiringkan kepalanya, tetapi teman-sekelasnya langsung mengerumuninya,
menghujani sang siswa pindahan baru dengan berbagai pertanyaan.
"Apa
cerita yang barusan itu benar-benar nyata?"
"Rusa
dan monyet di jalanan? Yang benar saja!"
"Kenapa
kamu pindah ke sini?"
"Ayahku
tiba-tiba dipindah tugaskan," jelas Hayato sambil mengangkat bahu.
"Tsukino-se hanya punya empat bus sehari, dan jumlah hewan ternak di sana
lebih banyak daripada manusia. Aku tidak terbiasa dikelilingi keramaian seperti
ini—ayam dan domba tidak masuk hitungan."
Tawa
langsung meledak—"Mana mungkin begitu?" "Ah, yang benar
saja!" "Konyol sekali!"—dan sambutan hangat itu berhasil
meredakan rasa gugupnya. Pertanyaan-pertanyaan lain terus berdatangan.
"Tidak
punya pacar di sana?"
"Susah
sekali mencari orang seumuranku."
"Teman?
Apa yang kalian lakukan untuk bersenang-senang?"
"Kebanyakan
main game sendirian atau bekerja di kebun... tapi aku punya satu sahabat karib.
Kami sering melompat ke sungai dari atas jembatan, tersangkut di pohon,
terjatuh... Dia itu lebih mirip monyet atau youkai yang suka bikin onar
ketimbang seorang teman—"
Mengingat
sosok Haruki, Hayato tersenyum. Kenangan kacau itu terasa menyenangkan, membuat
bibirnya tanpa sadar melengkung.
Krik!
"Eh?"
"..."
Suara
retakan tajam terdengar dari sebelah kirinya. Semua mata langsung beralih ke
arah Nikaidou, yang sedang memegang pensil mekanik patah dengan ekspresi
terkejut di wajahnya.
Seorang
gadis cantik berpenampilan anggun dengan pensil yang patah—pemandangan yang
janggal. Perhatian kelas pun beralih dari cerita Hayato kepada dirinya.
"Nikaidou-san?"
"Bagaimana
ceritanya bisa sampai patah begitu?"
"Kamu
tidak apa-apa? Tidak terluka kan?"
"Ah,
haha, aku baik-baik saja. Pasti pensilnya cacat," jawabnya terbata-bata
dengan gugup, senyum canggungnya menyembunyikan sesuatu. Tatapannya, yang
menyiratkan sedikit tuduhan, beralih menatap Hayato. "Memanggil teman
penting dengan sebutan seperti itu rasanya kejam sekali, bukan?"
"Haha,
habisnya dia memang penting," balas Hayato sambil membayangkan Haruki.
"...Begitukah?"
Gadis itu mendengus pelan lalu memalingkan wajahnya.
◇◇◇
Jawabannya
tadi sepertinya adalah sebuah kesalahan langkah. Selama pelajaran berlangsung,
Hayato merasakan ketidaksukaan dari gadis cantik di sebelah kursinya.
Mungkin dia
hanya berhalusinasi, namun lirikan matanya yang dihindari menyiratkan hal
sebaliknya.
(Apa yang
harus kulakukan...?)
Pelajaran
terus berlanjut, sangat berbeda dari sekolah lamanya. Dia harus berkonsentrasi
penuh untuk bisa mengikutinya, namun dia tetap butuh bantuan.
"Maaf,
um, catatan tangan minggu lalu?" tanyanya ragu.
"..."
Hening.
"Eh,
maksudku—"
"Ini.
Susah kalau dibaca dari situ. Dekatkan mejamu ke sini," ujarnya.
"Terima
kasih."
"Sama-sama."
Untungnya,
dia bersedia membantu tanpa keraguan, tidak benar-benar membencinya—lebih mirip
sedang merajuk. Hayato sama sekali tidak bisa menebak isi kepalanya.
(Kalau itu
Himeko, aku pasti sudah menyuapnya dengan camilan...)
Berasal
dari desa terpencil Tsukino-se, satu-satunya acuan teman sebaya Hayato hanyalah
adiknya sendiri. Dia memang punya satu teman lagi yang dekat dengan Himeko,
namun anak itu selalu menghindarinya, jadi dia tidak bisa diandalkan.
Memperlakukan
Nikaidou seperti adiknya sendiri jelas merupakan tindakan yang salah.
Memutuskan
untuk bertanya secara langsung, dia menguatkan tekad untuk istirahat
berikutnya.
"Nikaidou—"
"Hei,
Kirishima, ada pertanyaan lagi nih!"
"Aku
juga punya beberapa pertanyaan!"
"Ceritakan
soal kotamu yang dulu dong—"
Teman-sekelasnya
memotong ucapannya, sangat antusias dengan kehadiran seorang siswa pindahan.
Nikaidou menghela napas, tampak kelelahan melihat Hayato dikerumuni banyak
orang.
Pertanyaan-pertanyaan
terus berdatangan di setiap jam istirahat, membuatnya tidak punya kesempatan
untuk berbicara sampai jam makan siang tiba. Teman-sekelasnya mulai
memprioritaskan makanan, membentuk kelompok-kelompok kecil untuk makan bersama.
Sebuah kesempatan emas.
(Aku harus
ngobrol dengannya.)
Mungkin ini
hal sepele, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Lagipula, Nikaidou
sangat manis—sebagai seorang remaja normal, Hayato tidak ingin dibenci olehnya.
"Nikaidou-san—"
"Maaf,
apa Nikaidou-san ada di sini!?" panggil seorang siswi bertubuh mungil.
"Ya,
aku di sini," jawab Nikaidou, lalu beranjak pergi.
Tangan
Hayato yang terulur kini menggantung di udara kosong. Beberapa anak laki-laki
mendekatinya sambil nyengir.
"Sudah
mengincar Nikaidou saja? Nyali anak pindahan ini besar juga, tapi aku paham
sih."
"Dia
itu cantik, baik, pintar, dan banyak klub olahraga yang mengincarnya."
"Mungkin
dia dipanggil untuk urusan OSIS atau kegiatan klub sekarang."
"Bukannya
begitu—tapi, wah, keren juga ya."
Dia adalah
perwujudan murid teladan sejati—cantik, berbakat, dan rendah hati. Sosok yang
bagaikan keluar dari manga, puji Hayato dalam hati. (Sama sekali tidak mirip
dengan Nikaidou itu... Yah, beda jenis kelamin sih.) Dia menyunggingkan senyum
tipis.
"Dia
itu di luar jangkauan kita, bro."
"Super
populer waktu SMP, tapi tidak ada rumor berpacaran sama sekali."
"Kamu
baru saja ditolak mentah-mentah, kan?"
"Diam
kalian! Jangan berharap macam-macam, Kirishima."
"Aku
tidak berniat mencobanya kok—"
Sudah bisa
ditebak, gadis itu adalah seorang primadona sekolah. Hayato tidak sedang
mengejarnya; dia hanya merasa gadis itu manis namun membingungkan. Kenapa
seorang gadis asing bersikap begitu dingin padanya?
"Hmm,
tidak paham lagi."
Merasa
penasaran, keinginannya untuk berbicara dengannya semakin besar.
Kewalahan
karena terus-menerus menjadi pusat perhatian, Hayato merasa tenaganya terkuras
habis. (Orang-orangnya lebih banyak daripada pengunjung festival...) Menolak
ajakan makan siang bersama, dia mulai berkeliling mencari koperasi sekolah.
"Ugh..."
Koperasi itu sangat kacau di jam-jam sibuk, bahkan lebih buruk daripada ruang
kelas.
Dia
mengambil sebuah sandwich katsu isi margarin, lalu menghela napas. (Besok bawa
bento sendiri saja.)
Ingin
mencari ketenangan, dia berjalan menyusuri area sekolah untuk mencari tempat
sepi, namun tak kunjung menemukannya. Di belakang gedung sekolah, yang
dikiranya akan kosong, dia justru melihat seorang gadis—serta sesuatu yang
tidak asing.
"Hm?"
Saat hendak
beranjak pergi, dia melihat tanaman sayuran—pemandangan yang langka di
perkotaan—yang berhasil menarik perhatiannya. Gadis berambut keriting pendek
yang sedang merawat tanaman itu mengingatkannya pada sesuatu.
Dia pun
mendekat, meskipun itu bertolak belakang dengan sifat aslinya yang biasa.
"Ugh,
kenapa sayuran ini tidak mau berbuah ya? Pupuknya kurang bagus...?" gumam
gadis itu.
"Zukini?"
tanya Hayato.
"Iik!?"
"Maaf
ya sudah membuatmu terkejut. Bunga-bunga kuning itu zukini, kan? Kalau yang
ungu terong, yang putih cabai shishito... Jagung juga?"
"I-Iya,
betul sekali!"
Itu adalah
sebuah kebun yang dibatasi oleh bata, dengan bedeng-bedeng tanah yang ditanami
berbagai macam sayuran. Hayato sebenarnya bukan tipe orang yang suka mengobrol
dengan orang asing, terutama perempuan, namun dia tidak bisa menahannya.
"Sedang
melakukan penyerbukan? Zukini butuh bantuan penyerbukan pada bunga betinanya
supaya bisa tumbuh besar."
"Oh...!"
"Pangkas
bunga terong yang berlebihan, lalu pangkas juga beberapa dandan cabai shishito
agar buahnya bisa lebih banyak."
"Hauu..."
Gadis itu
dengan panik membalik-balik buku catatannya, wajahnya merona merah saat dia
mencocokkannya langsung dengan kondisi kebun. Tips yang diberikan Hayato
hanyalah pengetahuan dasar pedesaan, sama sekali bukan sesuatu yang patut
dibanggakan.
"Kamu
tahu banyak ya," kata gadis itu.
"Dulu
aku sering membantu di ladang saat di kampung. Klub berkebun?"
"I-Iya,
klub berkebun."
"Menanam
sayuran di klub berkebun?"
"Memangnya...
itu aneh?"
"Ah,
tidak, keren kok. Tomat dulu sempat dijadikan tanaman hias juga. Aku justru
suka bunga sayuran."
"!"
Bagi
Hayato, bunga-bunga yang menjadi pertanda musim panen ini jauh lebih akrab
dibandingkan bunga-bunga dari toko bunga. (Pekerjaan di ladang dulu juga
menghasilkan uang saku tambahan.) Dia tertawa kecil.
Reaksi
gadis itu yang terkejut dan kebingungan—begitu kecil dan menggemaskan seperti
anak hewan—semakin mengingatkannya pada sesuatu, membuat ekspresinya melunak.
"Sedang
apa kalian?" suara bernada seperti lonceng dengan sedikit nada jengkel
terdengar dari belakang.
"Mitake-san,
pupuk yang kamu minta sudah tiba di gedung klub," kata Nikaidou dengan
tatapan dingin.
"Oh,
iya! Aku akan ke sana, terima kasih, Nikaidou-san!" Mitake langsung
ngibrit pergi.
"Um,
Nikaidou-san—"
Berkacak
pinggang, Nikaidou mendelik tajam sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Hih, baru hari pertama sekolah sudah menggoda anak gadis orang? Memangnya
itu tipe kesukaanmu, Kirishima-kun?"
"T-Tidak,
bukan begitu—" Wajah cantiknya yang memukau dan tatapannya yang begitu
intens membuat Hayato melangkah mundur.
Nada bicara
dan sikapnya yang santai, menanggalkan topeng sopannya, semakin membuat Hayato
kebingungan.
"Aku
tidak sedang menggodanya! Dia tadi mengingatkanku pada..."
"Siapa?"
"...Domba
milik Kakek Gen."
"Domba-domba
yang dipelihara untuk makan rumput tapi malah doyan menyantap bibit sayuran,
sampai-sampai selalu dimarahi itu?"
"Iya,
rambut ikalnya, cara dia berlarian di sekitar kebun sayur... Aku jadi tidak
bisa menahan—aduh!"
"Pffft...
Haha!" Nikaidou langsung tertawa terbahak-bahak sambil menepuk punggungnya
keras-keras.
"Menyamakannya
dengan domba? Kamu ini parah banget, Hayato."
"Duh,
pelan-pelan—Haru... ki...?"
Nama itu
terucap begitu saja tanpa sadar. Kenapa dia malah memanggil nama itu? Menatap
ke arahnya, rasa bingung berkecamuk di dalam benaknya.
"Nikaidou-san,
ke sini sebentar!" panggil siswi yang lain.
"Ya,
ada apa?" jawab Nikaidou, kembali memasang topeng sopannya dengan mulus.
"Oi!"
"Sst."
Gadis itu berbalik, menempelkan satu jari ke bibirnya dengan senyuman usil,
lalu berjalan pergi.
"Apa-apan
sih..."
Badai
pikiran berkecamuk di kepala Hayato.
(Haruki...?)
Selama
pelajaran siang berlangsung, perhatiannya terus tertuju pada gadis itu—Haruki.
Sahabat masa kecilnya dari pegunungan Tsukino-se, yang dulu selalu berlari
kesana kemari bersama dengan liar.
"Kena
satu! Aku juga dapat, Hayato!"
"Iya
aku tahu, berhenti memukuliku!"
Dia
teringat kebiasaan Haruki yang suka memukul punggungnya saat sedang
bersemangat. Olok-olokannya yang begitu familier memicu nama itu terlepas dari
bibirnya—nama yang terukir sangat dalam di lubuk hatinya.
(Apakah
Nikaidou-san... adalah Haruki?)
Hanya
penduduk asli Tsukino-se yang tahu tentang Kakek Gen. Mengamati sosok Nikaidou
Haruki dengan mata menyipit, dia kesulitan menyamakan sosok gadis berpenampilan
anggun ini dengan youkai berwujud monyet dari ingatannya dulu.
"...Hih!"
"!?"
Menyadari
dirinya sedang diperhatikan, gadis itu menjentikkan sepotong penghapus ke
arahnya bak jentikan di dahi. Tindakan itu tidak sakit sama sekali, namun
keusilannya sukses membuatnya terkejut.
(Dasar
kekanak-kanakan!)
Menyeringai
melihat reaksinya, Haruki mendengus pelan sambil membuang muka, menjulurkan
lidah merah mudanya secara sembunyi-sembunyi—sebuah bentuk protes atas sebutan
youkai yang diberikan padanya.
Pelajaran
sekolah akhirnya usai, dan suasana kelas langsung menjadi riuh. Langit bulan
Juni yang mendekati titik balik matahari masih tampak terang, sangat sempurna
untuk bepergian.
"Hei,
Kirishima, mau ikut karaoke bersama kami?"
"Ini
pesta penyambutan—kami yang traktir!"
"Kami
ingin dengar suara nyanyianmu."
"Ah,
aku—"
Dikelilingi
oleh teman-sekelasnya yang penasaran, Hayato merasa ragu. Kurangnya pengalaman
bergaul dengan sebayanya serta belum pernah menginjakkan kaki di tempat karaoke
membuatnya ciut.
Sebuah
lengan kekar merangkul bahunya, menariknya menjauh.
"Ayo
pergi!"
"Hei!"
"Tidak
boleh!" sebuah suara tajam memotong ucapan mereka.
"Hah?"
"Nikaidou-san...?"
"..."
Bahkan
kelompok anak-anak itu pun terkejut dengan tindakan Haruki. Gadis itu sendiri
tampak terkejut atas tindakannya yang di luar dugaan, lalu terbatuk kecil untuk
menutupi rasa canggungnya.
"Uhm,
ehem. Tidak bisa. Aku sudah diminta untuk menunjukkannya jalan-jalan sepulang
sekolah. Iya kan, Kirishima-kun?"
"Wah,
sialan. Beruntung banget kamu bisa dipandu sama Nikaidou-san!"
"T-Tunggu,
Nikaidou-san...!?"
Meraih
tasnya, Haruki menarik tangan Hayato dengan tenaga yang mengejutkan,
mengabaikan segala protes yang keluar dari mulutnya. Ini lebih mirip seperti
aksi penculikan ketimbang memandu jalan, menyeretnya langsung keluar dari
lingkungan sekolah.
"Sebenarnya
kita mau dibawa ke mana?"
"Sudah,
ikuti saja!"
Mereka
berlari melintasi kawasan perumahan, seorang gadis cantik yang menyeretnya
secara paksa—terasa memalukan namun juga sangat bernostalgia, persis seperti
kejar-kejaran masa kecil di jalanan desa, yang kini berganti menjadi aspal
perkotaan.
"Haha!
Masih sama seperti dulu ya!"
"Larimu
lambat!" goda Hayato, mempercepat laju berlarinya seperti masa lalu.
"Mph!?"
Haruki langsung mengimbangi kecepatannya, sama sekali tidak mau kalah.
Mereka
saling menyusul, berlari kencang dengan tangan yang saling bertautan,
menyunggingkan senyum lebar penuh semangat. Tawa renyah berhamburan dari bibir
mereka.
"Haha!"
Tanpa perlu
banyak alasan, mereka hanya menikmati kegembiraan berlari bersama. Berbagai
kenangan lama mengalir deras, menegaskan bahwa gadis ini benar-benar Haruki.
Penampilannya memang telah berubah, namun ada sesuatu dari dirinya yang tidak
pernah luntur—membuat hati Hayato berdesir.
"Kita
sampai," Haruki menghentikan langkahnya.
"Eh,
ini kan..."
Sebuah
rumah biasa di lingkungan sekitar, tampak tidak mencolok namun sangat
familier—rumah Haruki. Berkunjung ke rumah masing-masing dulunya adalah
rutinitas harian mereka.
"Ada
apa, Hayato?"
"Bukan
apa-apa."
Rambut
panjangnya, tangannya yang kecil dan terasa sejuk, wajahnya yang
anggun—semuanya berbeda, namun tawanya yang tanpa beban terasa begitu
menjengkelkan sekaligus menenangkan. Kembali ke tempat ini sekarang rasanya
seperti mengaku kalah, jadi dia hanya bergumam, "Terima kasih sudah
menampungku."
"Santai
saja, di rumah cuma ada aku kok, jadi buat dirimu nyaman ya."
"Yang
benar?"
Jawaban
santainya yang bertolak belakang dengan penampilan anggunnya sukses membuatnya
terkejut. Aura anak bandel dari masa lalunya berbenturan keras dengan
kecantikannya saat ini.
Tiba-tiba,
"Ah!" serunya tertahan.
"Tunggu
di situ ya! Jangan ke mana-mana, pokoknya diam saja!" teriaknya.
"Hei!"
Gadis itu
berlari tergesa-gesa menaiki tangga, roknya tersingkap dan memperlihatkan
celana dalam polos bergaya boxer. Suara barang-barang berjatuhan terdengar
sesudahnya—kemungkinan besar dia sedang membereskan kamarnya dengan panik. Rasa
bersalah hinggap di benak Hayato.
Ditinggal
sendirian di dekat pintu masuk, dia hanya bisa menghela napas. "Sekarang
harus bagaimana?"
"Maaf
ya sudah menunggu lama!"
"Wah."
Kamarnya
yang kini sudah rapi (kemungkinan besar barang-barangnya disembunyikan paksa ke
dalam lemari) dipenuhi dengan furnitur berwarna gelap, rak-rak yang penuh
dengan manga, model kit plastik, serta konsol game—benar-benar ruang pribadi
milik Haruki yang sudah beranjak dewasa. Sebuah cermin kecil dan seperangkat
alat rik di atas meja menjadi satu-satunya sentuhan feminin di sana;
selebihnya, ruangan ini sangat mirip dengan kamar Hayato.
"Duduk
di mana saja boleh," ujarnya sambil melemparkan sebuah bantal duduk.
"Baiklah.
Um, Haruki—"
"Mau
melepas kaus kakimu? Di sini panas."
"...Tentu
saja, tapi—"
Gadis itu
langsung menarik dan melepas kaus kakinya sendiri, mengekspos bentuk kaki
feminin yang indah dan sukses membuat Hayato salah tingkah. Duduk bersila di
atas bantal dengan posisi agak mendekat, dia kembali mengingatkan Hayato pada
sosok Haruki di masa lalu, melunturkan segala aura memukaunya. Hayato berusaha
setengah mati menahan tawa.
Tatapan
tajam gadis itu berubah menjadi penuh tuduhan. "Jadi, siapa tadi yang kamu
sebut sebagai monyet youkai?"
"Uh,
yah..."
Gadis itu
jelas-jelas sedang ngambek karena ucapan Hayato tadi pagi, meski tidak
benar-benar marah. Bibirnya yang mengerucut lucu dan gerakannya yang semakin
mendekat membuat Hayato mengeluarkan keringat dingin.
"Maaf
deh, aku salah. Hutang budi, ya?"
"Hm,
hutang budi? Baiklah kalau begitu."
Merasa
puas, cemberut di wajahnya langsung lenyap, digantikan dengan seringai
kemenangan saat mendengar kata hutang budi—sebuah istilah khusus yang hanya
dimengerti oleh mereka berdua. Sebuah "hutang" adalah pemberian yang
tidak pernah dibayar atau dibatalkan, aturan unik yang tercipta di antara
mereka.
"Hutang
budi, ya? Nostalgia banget. Sudah berapa banyak hutangmu padaku, Hayato?"
"Seharusnya
itu kalimatku. Kamu sendiri punya banyak hutang padaku."
"Haha,
benar juga sih."
"Pffft."
"Haha."
Tawa
kembali pecah. Di tengah suasana yang hangat itu, Hayato menyuarakan satu hal
yang terus mengganjal di benaknya.
"Penampilanmu
itu benar-benar curang, tahu."
"Maksudnya
wajahku?"
Dia
menunjuk ke arah penampilan anggun gadis itu yang berbalut gaya Yamato
Nadeshiko, sangat jauh dari sosok anak bandel di masa lalu—yang kini justru
dinodai oleh pemandangan kaki telanjang dan posisinya yang sedang duduk
bersila.
"Ada
banyak hal terjadi, jadi aku sedang menyamar seperti ini."
"Menyamar,
ya? Jadi kamu benar-benar seekor youk—"
"Hayato!"
"Haha,
maaf. Anggap saja itu satu hutang lagi."
"Ugh,
kamu ini..."
Pola
interaksi lama mereka—saling berdebat, urusan hutang-pihutang, lalu berbaikan
kembali—terus menumpuk kenangan, cara khas mereka dalam merajut kata maaf. Bisa
kembali merasakan hal ini terasa begitu menyenangkan sekaligus memalukan.
Menghindari
tatapannya, mata Hayato tak sengaja menangkap sesuatu yang familier.
"Kamu
masih menyimpan benda itu?"
"Game-nya
juga masih ada di dalam, kok."
"Nostalgia
banget."
"Ayo
tanding. Yang kalah harus bayar hutang."
"Taruhan
yang murah meriah."
"Sistem
lima kali pertandingan."
"Setuju."
Itu adalah
game balap kart lawas dengan karakter jamur dan kura-kura, obsesi masa kecil
mereka berdua. Bahkan sekarang pun, mereka langsung tenggelam dalam permainan
itu.
"Mana
bisa begitu, curang banget! Bagaimana caranya kamu bisa dapat item itu
barusan!?"
"Karena
karma baikku sedang bagus?"
"Pembohong!
Jelas-jelas tadi kamu baru saja memanggilku youkai!"
"Haha!"
Tanpa perlu
pembicaraan yang terlalu mendalam, mereka hanya fokus bermain game berdampingan
dengan bahu yang saling bersentuhan. Berbagai pertanyaan memang masih
tertinggal di benak, namun obrolan seputar game saja sudah lebih dari cukup.
Jarak di antara mereka perlahan-lahan menyusut.
Matahari
awal musim panas mulai tenggelam, memberikan isyarat waktu yang kian menipis.
"Aku
harus pulang."
"Oh...
begitu ya."
Waktu
bersenang-senang berlalu begitu cepat, meninggalkan secercah rasa kesepian di
dada. Dulu mereka pernah berpikir bahwa waktu kebersamaan mereka akan
berlangsung selamanya, sebelum akhirnya terhenti secara tiba-tiba.
Haruki
mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang ngambek, memperhatikan
Hayato yang sedang mengenakan tali sepatu. Hayato bisa merasakan tatapannya dan
berbagi perasaan yang sama.
Untuk
mengusir rasa sedih itu, dia memaksakan diri bersikap ceria. "Sampai
jumpa."
"..."
Itu adalah
salam perpisahan biasa mereka, yang sarat akan makna tersembunyi. Haruki sangat
memahaminya.
Balasannya,
kalimat penyambutan reuni mereka: "Ya, sampai jumpa... dan selamat datang
kembali!"
"Selamat
datang kembali?"
"Ini
ucapan selamat datang kembali untukku sendiri."
"Haha,
apa-apaan itu?"
Senyumnya yang merekah cerah, bagaikan kuncup bunga yang mekar sempurna, menjadi pemandangan paling cemerlang di hari itu.
◇◇◇
Apartemen
keluarga berlantai sepuluh tempat tinggal baru Hayato, yang letaknya tak jauh
dari rumah Haruki, berbanding terbalik dengan rumah-rumah satu lantai
berdinding kayu di Tsukino-se.
Pintu rumah
pedesaan yang biasa dibiarkan terbuka kini telah berganti menjadi pintu masuk
dengan sistem penguncian otomatis. Kehidupan perkotaan terasa begitu
mengejutkan, membuat proses adaptasinya berjalan lambat.
"Aku
pulang."
"Selamat
datang, Onii," sahut Himeko dengan nada malas.
"...Himeko,
kamu memperlihatkan semuanya."
"Mau
lihat?"
"Enggak,
makanya kubilang begitu."
"Kalau
begitu, jangan dilihat."
"Ugh."
Di ruang
tamu lantai enam mereka, sang adik menyambutnya dengan santai.
Mata yang
cerah, rambut bergelombang yang dicat, serta rok seragam pendek namun tetap
terlihat sopan—dia adalah seorang gadis modis, adik perempuan Hayato yang
manis.
Namun kini,
dia justru bersantai dengan posisi selonjoran di sofa, roknya tersingkap dan
memperlihatkan postur yang urakan, membuat Hayato meringis.
(Hah,
Haruki, Himeko...)
Menumpuk
bayangan pose ceroboh sahabat dan adiknya itu dalam pikirannya, dia hanya bisa
menghela napas.
Pikirannya
pasrah, merasa hanya dialah satu-satunya orang yang tahu sisi berantakan
mereka.
"Ayah
di mana?"
"Rumah
sakit, menjenguk Ibu."
"Benar
juga. Terus, makan malamnya?"
"Tugasmu
itu. Aku sedang sibuk."
"Baiklah."
Himeko
sibuk memainkan ponselnya, sesekali mendengus kesal. Gadis itu sudah bertekad
untuk tidak terlihat seperti anak desa, jadi dia kemungkinan besar sedang
meriset berbagai hal agar tidak melakukan kesalahan setelah interogasi siswa
pindahan yang dihadapinya tadi.
"Aku
tahu kamu sebenarnya cuma mau pamer jadi anak kota."
"Diam,
Onii!"
Sifat
gengsinya itu sempat membuatnya melakukan beberapa kecerobohan di masa lalu.
Memeriksa isi kulkas, Hayato mulai merencanakan menu makan malam.
(Daging
babi potong dadu, daun bawang, paprika, kol, shiitake...)
Setelah
makan siang yang minim, dia mendambakan sesuatu yang mengenyangkan.
Dia
mengiris daging babi, lalu memmarinasinya dengan kecap asin, gula, mirin,
tepung maizena, dan minyak wijen, kemudian mencincang sayuran secara kasar
untuk menghabiskan sisa bahan yang ada.
Perpaduan
saus tiram, doubanjiang, kecap asin, dan sake menghasilkan racikan saus yang
pas.
Ditumis
bersamaan, hidangan itu berubah menjadi tumisan ala qingtiao rousi rumahan,
disajikan bersama nasi putih dan sup miso instan—tampak begitu menggugah selera
dengan warna-warni yang meriah.
"Himeko,
sudah beres."
"Sebentar...
Wah."
"Ada
apa?"
"Masih
membuat menu camilan kedai minum, ya?"
"Ini
makanan biasa, kan?"
"Terserah."
Acara
berkumpul di desa sering kali diwarnai dengan perjamuan besar, di mana Hayato
terbiasa memasak berbagai camilan untuk mendapatkan uang saku, sehingga membuat
repertoar masakannya sedikit unik.
"Itadakimasu."
"Selamat
makan."
"Mm,
rasanya pas banget dimakan sama nasi. Aku bisa gemuk nih! Oh ya, Onii, tebak
apa yang terjadi?"
"Hm?"
"Tadi
di sekolah aku baru tahu—di sini tidak ada tempat penggilingan padi koin."
"Apa...?"
"Dan
kamu bisa sampai ke stasiun dalam waktu sepuluh menit."
"Itu
sih stasiun sungguhan namanya!"
Kesenjangan
antara kehidupan kota dan desa benar-benar mengejutkan kakak beradik Kirishima
itu. Himeko pun turut merasakan kesulitan yang sama dalam menghadapi masa-masa
adaptasi sebagai anak pindahan.
"Jadi,
bagaimana keadaanmu?"
"Apa?"
"Ada
hal bagus yang terjadi, kan?"
"Kenapa
memangnya?"
"Mukamu
senyum-senyum sendiri."
"...Hah?"
Komentar
Himeko membuat Hayato baru menyadari pipinya yang tanpa sadar mengendur karena
terlalu sering tersenyum.
Pertemuannya
kembali dengan Haruki membuatnya terus berbinar-binar gembira.
"Aku
ketemu Haruki di sekolah."
"Haru-chan...
Tidak mungkin, Haru-chan yang itu!?"
"Coba
tebak—kursi kami ternyata berdampingan."
"Wah!
Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Yah..."
Dia
membayangkan sosok Haruki hari ini.
Dulu gadis
itu adalah seorang tomboy yang dipenuhi lumpur dan luka lecet, mengenakan
celana pendek dan topi, namun kini menjelma menjadi gadis berambut panjang yang
berkilau, kulit tanpa cela, serta aura Yamato Nadeshiko yang lembut.
Meskipun
begitu, seringai usilnya benar-benar tidak berubah sedikit pun.
"Dia
tidak berubah. Tetap Haruki yang dulu, bahkan sekarang dia sudah mulai menumpuk
'hutang'."
"Keren!
Aku jadi ingin ketemu dia."
"Dia
jadi jauh lebih kuat, lebih dominan—mungkin sudah berevolusi dari monyet jadi
gorila."
"Haha,
apa-apaan itu?"
Mereka
saling berbagi cerita tentang sahabat masa kecil mereka, membuat berbagai
kenangan lama kembali bermunculan—mulai dari es krim yang dibagi tidak rata,
kontes menangkap jangkrik, hingga pertarungan game yang seru.
Tak
terhitung berapa banyak "hutang" yang mewarnai masa lalu mereka.
Hari itu,
di penghujung musim panas, ketika hari-hari tanpa akhir yang mereka lalui
runtuh begitu saja.
Sebuah
janji kecil yang dibuat saat itu masih terus hidup hingga detik ini.
Tinggi
badan mereka, yang dulunya sama persis, kini terpaut sejauh satu kepala.
Tangan yang
saling tertaut, yang dulunya berukuran sama, kini sudah berbeda ukuran.
Langkah
kaki mereka, meski dulunya berirama seirama, kini telah tumbuh ke arah yang
berbeda.
Perbedaan-perbedaan
kecil yang lahir dari perpisahan.
Namun,
semua itu terasa begitu mudah untuk dijangkau kembali.
Sebuah ikatan yang sempat dikira telah hilang kini kembali dimulai beriringan dengan datangnya musim panas.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment