NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Cahpter 10

Chapter 10

──Pertengkaran Ibu dan Anak


Dalam perjalanan menuju lokasi syuting film yang berada di sebuah taman alam di pegunungan sebelah barat, Haruki menonton siaran langsung penampilan Mari dan Saki melalui ponsel yang terpasang pada holder di sepeda motor.

Meskipun Haruki sempat merasa gelisah bukan main menjelang waktu dimulainya acara, begitu live tersebut dimulai, ia langsung menahan napas dan membelalakkan matanya.

Ia seketika terseret ke dalam dunia yang diciptakan oleh kedua gadis itu, hingga terpaku menatap layar ponsel tanpa bisa berpaling.

Hal yang sama sepertinya juga dirasakan oleh para penonton di lokasi.

Tepat setelah live dimulai, suasana di area panggung sempat dipenuhi oleh kebingungan, kegaduhan, dan rasa kecewa karena ketidakhadiran Haruki serta kemunculan sosok yang tidak dikenal.

Itu adalah awal yang paling buruk yang bisa dibayangkan. Namun, begitu Mari mulai bernyanyi dan Saki mulai menari, suasana tersebut langsung buyar dalam sekejap.

Suara nyanyian Mari yang bertenaga sekaligus jernih bukan sekadar terdengar bagus, melainkan mampu menyampaikan berbagai emosi secara nyata seperti dorongan semangat, rasa iri, euforia, hingga rasa rindu yang selaras dengan lirik lagunya.

Tidak hanya itu, perasaan suka dan senang bernyanyi yang dimiliki Mari juga terpancar dengan jelas.

Nyanyian itu seolah langsung menyuarakan eksistensi Mari ke dalam lubuk jiwa siapa pun yang mendengarkannya.

Kemampuan vokal dan ekspresinya jelas berada di tingkat yang berbeda dari sebelumnya.

Di saat-saat genting ini, Mari tampak berkembang pesat hingga melampaui batasan dirinya.

Dan sosok yang mendongkrak nyanyian Mari ke tingkat yang lebih tinggi adalah Saki.

Saki mewujudkan nyanyian Mari dengan sangat sempurna, gerakannya bagaikan penari yang fleksibel, penuh warna, dan dinamis.

Tarian Saki juga dipenuhi dengan luapan rasa senang yang melimpah.

Dipadukan dengan paras Saki yang memikat dan terkesan mistis, ia langsung membius para penonton seketika.

Di antara kerumunan, ada segelintir penonton jeli yang menyadari bahwa Saki adalah gadis yang sempat viral di turnamen bola voli tempo hari, meski jumlahnya sangat sedikit.

Panggung yang dibawakan oleh Mari dan Saki berhasil memunculkan pesona Tinkle yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Itu adalah panggung yang membuat tubuh terasa bergetar hanya dengan melihatnya, membuat siapa pun yang menyaksikannya lewat layar ponsel merasa ingin berada di sana bersama-sama untuk memeriahkan suasana.

Masih ada satu hal lagi yang terpancar dari nyanyian dan tarian Mari serta Saki.

Apakah Haruki bisa melakukan hal ini?

Panggung ini sekaligus menjadi surat tantangan dari Mari dan Saki untuk Haruki.

Sebagai bukti, layar-layar monitor yang dipasang di berbagai sudut tempat acara juga menayangkan video penampilan Haruki di masa lalu. Keduanya ditampilkan secara terang-terangan berdampingan untuk dibandingkan.

Meskipun begitu, penampilan Mari dan Saki sama sekali tidak terlihat kalah saing dari rekaman video Haruki.

Bahkan di sela-sela lagu, Mari mengambil alih mikrofon untuk memimpin MC, mengumumkan bahwa Haruki berhalangan hadir karena suatu kendala, sembari memprovokasi para penonton dan Haruki dengan melontarkan kalimat-kalimat besar: "Hari ini kalian mungkin merasa kecewa karena ini adalah tontonan kelas dua!", "Tapi, kami akan memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih hebat dari itu!", "Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh menyebut kami sebagai 'pilihan cadangan'!".

Meskipun Mari sendiri yang sengaja menaikkan standar tantangannya, ia terus-menerus berhasil melampaui ekspektasi penonton setelah itu.

Pertaruhan panggung tanpa kehadiran Haruki ini dimenangkan oleh Mari dan Saki.

Sambil menyaksikan siaran live yang hingga kini masih diselimuti gelombang antusiasme penonton, Haruki memajukan bibirnya dan bergumam.

"Rasanya aku seperti sedang diajak berkelahi oleh anak itu. Menyebalkan sekali...!"

"Yah, itu kan memang sudah dipersiapkan demi mengalahkan Haruki."

"Hmm, aku akui mereka memang hebat. Aku bahkan sampai terhanyut oleh penampilan anak itu dan Saki-chan. Lagi pula, Saki-chan, bagaimana bisa kamu tampil begitu mencolok! Setelah ini kamu pasti akan dihubungi oleh berbagai pihak, sudah pasti!"

Haruki mengeluh di dalam hati seolah ingin mencengkeram kepalanya sendiri.

Jika Saki muncul di panggung utama dan memamerkan bakat sehebat itu, pihak agensi dan industri hiburan pasti tidak akan tinggal diam dan membiarkannya begitu saja ke depannya.

Namun Hayato menanggapinya dengan santai tanpa beban.

"Begitu ya, sepertinya aku jadi punya 'utang budi' yang besar pada Saki-san."

"Utang budi... Kenapa kamu membiarkannya, padahal kamu tahu menari sehebat Saki-chan akan berujung pada masalah besar?"

"Ya, tentu saja karena untuk menolong krisis seorang teman. Kalau kamu di posisi sebaliknya, Haruki juga pasti akan melakukan hal yang sama, kan?"

"Itu... mungkin, sih, tapi..."

"Yah, soal bagaimana menentukan jalan kariernya ke depan, kita pikirkan saja nanti."

Mendengar Hayato berucap dengan begitu acuh tak acuh, ketegangan di dalam diri Haruki perlahan-lahan mulai memudar.

Sebagai gantinya, Haruki meloloskan keluhan yang mirip seperti rasa jengkel.

"Sungguh, Hayato selalu seperti itu! Kalau ada kejadian seperti ini, dia pasti selalu berada di tengah-tengahnya."

"Begitukah?"

"Iya, betul. Bahkan hari ini juga... ngomong-ngomong, sejak kapan kamu akrab dengan anak bernama Mari itu?"

"...Aku juga sempat berurusan dengan berbagai hal demi mengatasi masalah Haruki. Alasan kami terlihat akrab mungkin karena suasananya mirip dengan Haruki. Namanya juga keponakan, sifatnya memang ada yang mirip."

"Tunggu, jadi fakta bahwa aku adalah bibi anak itu, kamu dengar langsung dari orangnya!?"

"Yah, begitu lah, Saki-san juga tahu."

Setelah menyuarakan keterkejutannya, Haruki menghela napas panjang yang menyiratkan kepasrahan.

"Ah, benar juga. Hayato itu tipe orang yang akan menerobos masuk seenaknya saat orang lain sedang dalam kesulitan, menendang masalah yang sedang dipikirkan secara paksa, tahu-tahu jadi akrab, lalu menghancurkan hidup orang lain."

"Tunggu, kalau soal menghancurkan hidup orang, sepertinya tidak separah itu juga."

Menanggapi Hayato yang tertawa pasrah, Haruki membalasnya dengan tatapan tajam.

"Anak itu sekarang sedang melakukan pertaruhan besar yang mempertaruhkan seluruh hidupnya sebagai idol, kan! Saki-chan juga sama, datang sendirian dari Tsukiyono ke kota besar, dan sekarang malah berdiri di panggung idol!"

"S-Seandainya pun memang begitu, bukankah pada akhirnya semua berujung ke arah yang baik?"

"Ya, karena banyak orang yang diselamatkan oleh Hayato seperti itu. Kaidou yang membawa beban masalah sejak SMP, Minamo-chan yang punya masalah dengan ayahnya... dan tentu saja, aku juga."

"U-Ouh..."

Saat Haruki mendadak memujinya dengan nada suara yang melankolis, Hayato bergeser gelisah karena merasa malu.

Lalu Haruki mempererat genggaman tangannya pada Hayato seolah sedang bermanja, dan bergumam dengan suara tegas.

"Aku... mungkin sempat mengatakannya akhir tahun lalu setelah kita pergi ke Hokuriku bersama Hayato, aku langsung mencoba menemui Ibu untuk berbicara dengannya. Tapi, aku sama sekali tidak bisa menemuinya. Makanya aku masuk ke dunia hiburan agar bisa berkolaborasi dan menemuinya dengan cara paksa."

"Itu terdengar seperti tindakan yang sangat mencerminkan dirimu, Haruki."

"Sejak masuk dunia hiburan, aku bisa merasakan langsung seberapa hebat kemampuan akting dan ekspresi Ibu. Aku diliputi rasa cemas apakah kemampuanku yang sekarang sanggup diandalkan. Peran yang kudapatkan belum matang, dialog di naskah juga masih samar-samar. Persiapanku sangat kurang. Terlebih lagi, meskipun selama ini kami hampir tidak pernah berbicara, aku harus langsung berdiri di depan kamera dan tidak yakin apakah aku bisa berakting dengan benar di hadapan Ibu..."

"…………"

"…………"

Haruki tersenyum mengejek pada diri sendiri.

Percakapan terhenti sejenak, hanya menyisakan suara deru angin dari laju sepeda motor.

Hayato kemudian menertawakannya dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria.

"Aduh, cuma masalah itu doang."

"Hayato, jangan bilang 'cuma masalah itu'!"

"Haruki kan selama ini tidak pernah benar-benar berhubungan dekat dengan ibumu, jadi kamu tidak tahu bagaimana cara berbicara dengannya. Karena itulah kalian saling bicara melalui akting. Bukankah hal yang ingin kamu lakukan itu sederhana?"

"Makanya, aku khawatir apakah aku bisa melakukannya dengan benar!"

"Hei, apa kamu tidak menyadarinya setelah menonton live Mari dan Saki-san?"

"Eh?"

"Duh, mereka berdua tampil di live ini demi Haruki dan khusus untuk Haruki, kan?"

"...Ah."

Mendengar ucapan itu, sesuatu seolah jatuh dan menemukan tempatnya di dalam dadanya, membuat Haruki membelalakkan matanya lebar-lebar.

Alasan mengapa Mari mengalami pertumbuhan pesat di saat-saat terakhir, alasan mengapa Saki rela naik ke panggung utama meskipun mengambil risiko menjadi pusat perhatian. Semuanya adalah demi Haruki. Tidak ada alasan lain selain itu.

Lalu Hayato berkata dengan nada yang luar biasa lembut, seolah sedang membimbingnya.

"Yang perlu Haruki lakukan hanyalah meluapkan perasaan jujurmu pada ibumu. Akting itu cuma sekadar alat, hadapi saja semuanya secara langsung tanpa ragu."

"Mana bisa begitu! Padahal hari ini aku sudah membuat banyak orang repot demi keegoisanku sendiri!"

"Kalau begitu, sudah terlambat untuk menyesal. Baik Mari maupun Saki-san, situasinya juga kurang lebih sama."

"~~~~, ah ampun deh, Hayato selalu bisa mengatakannya dengan begitu mudah!"

"Haha!"

Haruki menggembungkan pipinya secara kekanak-kanakan.

Meskipun ia telah merepotkan begitu banyak orang kali ini, Hayato tetap bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa seperti biasanya.

Rasanya persis seperti saat mereka masih anak-anak ketika Hayato menemukan sebuah keusilan.

Namun, ia juga bisa merasakan ketegangannya mulai mencair.

Anehnya, sosok Mari dan Saki di dalam layar ponsel kini terlihat seolah sedang memberikan dukungan penuh kepadanya.

Merasa bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menang melawan pemuda ini, Haruki menyampaikan rasa terima kasihnya melalui suara yang menyiratkan perasaan tersebut.

"Terima kasih, Hayato."

"Sama-sama."

◇◇◇

Semakin mereka mendekati taman alam yang menjadi tujuan, pemandangan pepohonan hijau semakin mendominasi.

Orang-orang yang sedang melakukan penanaman padi di area persawahan perbukitan mengumandangkan awal musim panas.

Pemandangan bukolik seperti itu sekilas tampak mirip dengan Tsukiyono.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di taman alam, dan Hayato memarkir sepeda motornya di area parkir yang tersedia di sana.

Ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar. Lokasi itu menyerupai kawasan pegunungan yang terletak di tengah area sawah dan pemukiman penduduk.

Bersama Haruki, Hayato melewati terowongan pepohonan yang tampak seperti pintu masuk dan keluar ke sebuah alun-alun terbuka.

Berdasarkan peta yang dipasang di dekat sana, tempat ini ternyata sangat luas, lengkap dengan lapangan olahraga, lapangan bisbol, kuil, hingga kolam penampungan air.

Meskipun akhir pekan, tampaknya tempat ini jarang dikunjungi karena akses kereta dari pusat kota terbilang sulit.

Untungnya, mereka bisa langsung mengetahui di mana lokasi syuting tersebut berlangsung.

Hal itu karena ada sebagian pintu masuk jalan setapak yang ditandai dengan garis pembatas untuk membatasi akses masuk.

Sederet mobil van terparkir begitu saja, dan beberapa staf tampak sibuk mengangkut peralatan.

Haruki meregangkan tubuhnya lebar-lebar dengan santai sambil melontarkan gurauan ringan.

"Baiklah, mari kita hadapi ini!"

"Yo, sana pergi. Kalau kamu gagal, nanti aku pungut tulangnya, ya."

"Kalau begitu, aku andalkan kamu, ya."

Setelah saling bertukar pandang dan memasang senyuman penuh tantangan, mereka berjalan menuju lokasi syuting.

Hayato berjalan tepat satu langkah di belakang Haruki.

Tak lama kemudian, beberapa staf yang melihat sosok Haruki langsung menghampiri mereka.

Haruki tersenyum ramah kepada seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal di antara mereka, lalu membungkuk dengan sopan.

"Mohon bantuannya untuk hari ini, Sutradara."

"Ah, mohon bantuannya juga. Maaf ya karena mendadak begini."

"Soal topan, mau bagaimana lagi, kan."

"Meskipun begitu, apa tidak apa-apa meninggalkan acara live? Padahal itu kesempatan emas, kan? Hanya masuk ke dalam jajaran slot pendatang baru di Early Summer Live saja sudah sulit."

"Tidak apa-apa, justru karena saya tidak ada, kami punya strategi rahasia untuk membuat acara itu semakin meriah."

Mendengar jawaban Haruki yang terdengar sangat percaya diri, sang sutradara mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi kagum.

"Ho, keberanian mental yang luar biasa. Pantas saja kamu adalah anak Mao-kun, kamu sepertinya akan menjadi bintang besar."

"Fufu, itu karena aku punya helper yang bisa diandalkan saja. Ngomong-ngomong, di mana yang lain?"

"Ah, mereka sudah ada di lokasi."

"Kalau begitu, aku akan segera bersiap dan menyusul."

Didorong oleh staf di dekatnya, Haruki berjalan menuju van. Sepertinya ia akan segera berganti pakaian dan merias diri.

Melihat hal itu, para staf lainnya pun mulai bergerak lebih aktif untuk persiapan syuting.

Di tengah situasi tersebut, berdiri mematung tanpa melakukan apa pun tentu saja akan membuat Hayato terlihat sangat mencolok.

Terlebih lagi, ia mengenakan jaket staf event Tinkle yang membuatnya sekilas tampak seperti kru yang bertugas, namun bagian bawahnya masih mengenakan seragam sekolah Toka Shiro.

Jelas sekali ia terlihat sangat salah tempat. Saat Hayato mulai merasa salah tingkah berada di sana, sutradara yang baru saja disapa oleh Haruki pun menghampirinya.

"Kamu ini... eh, apa kamu manajer Haruki-kun atau semacamnya?"

"Ah, kalau aku itu..."

Hayato menghentikan ucapannya sejenak untuk berpikir.

Mengiyakan dengan kata "ya" dan melewati situasi ini dengan aman tentu adalah hal yang mudah. Cara itu juga akan menghindari berbagai keributan yang tidak perlu.

Namun saat ini, Haruki sedang mencoba untuk menghadapi ibunya dengan perasaan yang jujur.

Karena itulah Hayato merasa tidak tepat jika ia harus berpura-pura di sini, sehingga ia pun memberikan jawaban yang apa adanya.

"Aku adalah teman masa kecilnya, bisa dibilang partner sejak kecil. Tadi Haruki sempat ragu-ragu dan bersikap canggung, jadi aku menendang punggungnya dan membawanya ke sini."

Mendengar jawaban Hayato yang blak-blakan, sang sutradara sempat memasang ekspresi terkejut sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Wahahaha, kalau begitu aku mungkin harus berterima kasih kepadamu, ya. Terima kasih."

"Tidak, aku hanya melakukan apa yang kupikir memang harus kulakukan."

"Mumpung di sini, mau lihat proses syutingnya?"

"Bolehkah?"

"Tentu, kalau mau, kamu bahkan boleh baca naskahnya."

"Boleh banget!"

Naskah yang diserahkan oleh sang sutradara yang tersenyum ramah itu dipenuhi dengan banyak pembatas halaman, dan halaman-halamannya pun sudah tampak usang.

Saat dibolak-balik, terlihat banyak catatan yang ditulis dengan pulpen.

Hayato membaca naskah yang sudah sering digunakan itu dengan hati-hati, seolah-olah sedang memperlakukan barang yang mudah pecah. Berkat banyaknya catatan kecil yang ada, isi cerita tersebut bisa dengan mudah masuk ke dalam kepalanya.

--Chihiro.

Itulah judul film tersebut.

Wanita bernama Chihiro yang diperankan oleh Takura Mao adalah seorang wanita karier tangguh yang telah menggerakkan berbagai proyek besar di perusahaan dagang multinasional.

Ia adalah tipe orang yang menjaga jarak dari orang lain; disiplin adalah kata yang bagus untuk menggambarkan dirinya, namun sifatnya yang mandiri dan bekerja dengan dingin membuatnya dianggap sebagai sosok serigala soliter yang hidup dalam kesendirian.

Cerita bermula ketika Chihiro, yang terlibat dalam proyek pengembangan sumber daya skala besar di daerah regional yang melibatkan pemerintah, bertemu dengan seorang pria paruh baya yang menjadi penanggung jawab lokal.

Sejak pertemuannya dengan pria itu, Chihiro mulai bergerak tanpa memedulikan aturan maupun cara demi menyukseskan proyek ini. Ia bergerak dengan aura menggebu-gebu, seolah-olah telah berubah menjadi orang yang berbeda.

Tidak lama kemudian, terungkap alasan di balik tindakan tersebut: penanggung jawab lokal itu ternyata adalah musuh bebuyutan Chihiro.

Asal-usul Chihiro dulunya adalah keluarga kaya di daerah pedesaan, dan ia tumbuh tanpa kekurangan satu pun.

Namun suatu hari, kedua orang tuanya ditipu oleh seseorang yang mereka percayai, hingga akhirnya menanggung utang dalam jumlah besar.

Kehidupan mereka berubah 180 derajat, jatuh miskin secara drastis, dan pandangan orang-orang di sekitar pun menjadi dingin.

Karena tidak tahan lagi hidup di sana, Chihiro pergi merantau seorang diri ke kota besar.

Pria itu adalah orang yang telah menghancurkan keluarga Chihiro dan menjadi alasan mengapa ia tidak lagi bisa mempercayai siapapun.

Namun, kenangan yang selama ini ia coba lupakan dengan cara bekerja keras mati-matian itu mendadak bangkit kembali akibat pertemuannya dengan pria tersebut, membuatnya bersumpah untuk membalas dendam.

Untungnya, pria itu sepertinya tidak mengingat Chihiro.

Hal itu tentu menjadi bukti bahwa pria tersebut telah menipu banyak orang, dan Chihiro yakin bahwa ada orang-orang lain yang juga dieksploitasi di balik proyek ini—keyakinan itulah yang mendorong Chihiro untuk menyelidiki latar belakang pria tersebut sembari bekerja lebih keras dari siapapun.

Ia menggunakan segala koneksi dan cara yang bisa dipakai.

Terkadang ia menawarkan transaksi abu-abu, atau mendekati para petinggi industri dengan memanfaatkan pesona wanitanya untuk memberikan tekanan.

Hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan bukti, sudut-sudutkan pria tersebut, dan menjatuhkannya melalui tuduhan penipuan serta penggelapan dana.

Proyek berskala besar itu pun meraih kesuksesan besar, dan Chihiro dipromosikan lebih tinggi berkat jasanya sebagai tokoh utama di balik kesuksesan tersebut.

Dari luar, itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Ceritanya pun pasti akan terasa sangat dramatis.

Namun, ketika ia menoleh ke belakang, tidak ada seorang pun di sekitar Chihiro; ia mendapati dirinya tinggal seorang diri.

Chihiro, yang menghalalkan segala cara, bahkan menolak sedikit saja teman yang sempat menegurnya, dan dengan sengaja menjauhkan orang berharga yang mengaguminya karena menganggap jalan yang ia tempuh terlalu berbahaya.

Chihiro, yang dadanya terasa kosong akibat hampa yang mendalam, mengambil cuti untuk menyegarkan diri dan pulang ke kampung halaman.

Di sanalah wujud dirinya di masa lalu yang bahagia muncul di hadapannya, dan ia pun harus berhadapan dengan masa lalunya itu.

Haruki memerankan karakter Chihiro di masa lalu tersebut.

(Ini...)

Secara intuitif, Hayato merasa bahwa film ini seolah merangkum separuh perjalanan hidup Takura Mao. Peran Haruki terasa seolah memang dipersiapkan khusus untuknya.

Tepat pada saat itu, Haruki yang telah selesai bersiap pun datang menghampiri.

Rambutnya dikepang sedemikian rupa hingga memancarkan kesan mewah, dan pakaian yang dikenakannya tampak anggun serta elegan.

Penampilannya benar-benar menyerupai seorang putri bangsawan yang hidup dalam pingitan.

Haruki tersenyum manis kepada sang sutradara dan berkata.

"Maaf membuat Anda menunggu. Saya sudah siap kapan pun."

"Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai."

"Baik."

Ketika sutradara dan Haruki mulai bergerak, para staf pun langsung mengikuti di belakang mereka.

Hayato buru-buru menyusul langkah mereka dari belakang.

Setelah berjalan beberapa saat melewati jalan setapak di dalam hutan yang dikelilingi garis pembatas, pandangan mereka langsung terbuka, dan terbentanglah sebuah ladang bunga matahari mekar lebih awal dengan tinggi sebatas lutut.

Di tengah ladang tersebut, berdiri Takura Mao yang dikelilingi oleh para staf.

Meskipun ia hanya berdiri di sana untuk membahas detail syuting film, kehadirannya begitu dominan hingga mendominasi suasana sekitar, persis seperti seorang ratu. Atau lebih tepatnya, bagi Haruki, ia mungkin adalah sang boss terakhir.

Menyadari kehadiran mereka, Mao memindai Hayato, sutradara, dan Haruki dengan tatapan tajam seolah meremehkan.

Pada saat itu, entah mengapa mata Mao bersitatap dengan Hayato sejenak, lalu ia menyipitkan matanya tajam seolah ingin menembus pandangan tersebut.

"...Ck."

Sensasi merinding menjalari punggung Hayato.

Tatapan itu dipenuhi dengan tekad yang tidak tergoyahkan dan tekad bulat yang tersembunyi.

Itu bagaikan kobaran api yang membakar tanpa batas, atau sebilah pedang yang diasah hingga tingkat ketajaman maksimal.

Inilah sang aktris papan atas, Takura Mao.

Suasana di sekitar mendadak menjadi tegang, dan benang ketegangan pun merentang di udara.

Di tengah suasana tersebut, Mao mengarahkan tatapan yang jauh lebih tajam kepada Haruki dan menegurnya.

"Kamu datang juga rupanya."

Mao memancarkan aura yang jelas-jelas tidak menyambut kedatangannya.

Haruki sempat menegang sesaat dan memikirkan sesuatu, namun ia langsung menundukkan kepala dengan sikap yang tegas dan penuh wibawa.

"Mohon maaf karena terlambat."

"Ck, kamu masih tepat waktu kok."

"Sebagai pendatang baru, saya rasa sudah sepatutnya datang lebih awal untuk bersiap dan menghadapi semuanya dalam kondisi paling prima."

"Sikap yang bagus. Omong-omong, apa tidak apa-apa meninggalkan pekerjaan utamamu yang lebih penting demi ke sini?"

"Untuk urusan yang itu, hari ini dijadwalkan akan menampilkan pertunjukan baru dari partner saya. Jadi, saya rasa sudah kewajiban saya untuk datang lebih awal ke sini."

Menanggapi pertanyaan Mao yang terdengar bernada menyindir, Haruki membalasnya dengan senyuman tenang dan ceria.

"...Begitu ya."

Mao sedikit membelalakkan matanya, lalu menghela napas kecil dengan ekspresi kagum.

Sepertinya Haruki tidak kabur dari acara live, melainkan menciptakan narasi bahwa acara live itu memang sudah diatur sedemikian rupa sejak awal.

Bisa dibilang itu adalah deklarasi bahwa ia datang murni sebagai seorang aktris, bukan sebagai seorang idol.

Kecerdikan dan keberanian mental yang luar biasa.

Pertukaran kata-kata yang sarat ketegangan itu sekilas terasa seperti pertempuran pendahuluan.

Percakapan antara ibu dan anak itu terasa terlalu kaku dan asing, seperti orang yang tidak saling kenal.

Namun bagi Hayato, keduanya justru tampak seperti orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana cara berbicara satu sama lain.

Kenyataannya, bagi Haruki memang begitulah adanya.

Dan mungkin bagi Mao sendiri, alasan mengapa ia tidak pernah menemui Haruki adalah karena ia tidak tahu bagaimana cara harus berbicara kepadanya.

Pikiran seperti itu mulai tebersit di benak Hayato.

Jika memang begitu, batin Hayato sambil mengernyitkan dahi, maka baik Haruki maupun Mao sama-sama terlalu kaku dalam bersikap.

Sesaat, Haruki dan Mao saling mengunci pandangan satu sama lain.

Hayato, bersama para staf di sekitarnya, menahan napas sambil mengawasi keduanya.

Tidak lama kemudian, Mao mendengus pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang sutradara.

"Apa syutingnya sudah bisa dimulai?"

"Ah, ya. Kita bisa mulai kapan saja."

"Begitu. Kalau begitu, mari kita mulai."

Ucap Mao sambil berbalik dan berjalan menuju posisinya.

"Mohon bantuannya."

Haruki berbisik dengan suara yang sedikit tegang lalu ikut beranjak.

Di bawah instruksi sutradara, para staf yang membawa peralatan seperti kamera langsung bergerak sibuk mempersiapkan proses pengambilan gambar.

Pada saat yang sama, atmosfer di sekitar berubah.

Haruki, Mao, sutradara, dan para staf bersatu padu menciptakan dunia yang sama sekali berbeda dari tempat mereka berada saat ini tepat di hadapan Hayato.

Kulitnya terasa merinding dan menegang.

(Inilah atmosfer di lokasi kerja profesional...)

Suasana ini sama sekali berbeda dari apa yang selama ini mereka lakukan di klub penggemar tidak resmi.

Hal semacam itu hanyalah permainan anak-anak jika dibandingkan dengan tempat ini.

Hayato menahan napasnya dan menelan ludah dengan susah payah.

Ketika persiapan akhirnya selesai dan aba-aba diberikan oleh staf,

suasana yang menyelimuti Haruki dan Mao berubah total, menandakan syuting telah dimulai.

"…………"

Chihiro yang diperankan oleh Mao berjalan memasuki ladang bunga dari arah pintu masuk dengan mata menyipit karena diliputi rasa rindu.

Meskipun ia hanya berjalan begitu saja, perjalanan separuh hidup yang telah dilalui Chihiro seolah terpancar nyata darinya.

Balas dendam telah tuntas namun masa lalu tidak bisa diubah, tidak ada lagi tempat untuk pulang di kampung halaman, serta rasa hampa yang mendominasi karena berbagai hal berharga telah tergelincir lepas dari genggamannya—kemampuan akting Mao yang luar biasa berhasil merenggut hati siapa pun yang melihatnya.

Saat Chihiro tengah bergulat dengan batinnya sambil mengenang pemandangan kampung halaman yang tidak berubah, tiba-tiba wujud dirinya di masa lalu—yaitu Haruki—muncul di hadapannya.

Haruki, yang memerankan Chihiro di masa lalu, tersenyum manis seolah-olah ia sudah lama ingin menemui Chihiro di masa kini.

Menghadapi kemunculan sosok dirinya di masa lalu—masa-masa ketika ia merasa bahagia dan berkecukupan—secara tiba-tiba, Chihiro terhuyung mundur selangkah karena terkejut, seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

Baik ibu maupun anak sama-sama memiliki kemampuan akting yang luar biasa.

Bukan hanya Hayato, bahkan sutradara dan para kru kamera pun terpikat ke dalam dunia yang diciptakan oleh keduanya.

Tidak lama kemudian, setelah menelan segala kepedihan di dalam hatinya dan berhadapan langsung dengan bayangan masa lalunya itu, Chihiro melontarkan kalimatnya dengan nada penuh kebencian.

"Kenapa kamu harus muncul di hadapanku!?"

Semua orang tertegun dan menahan napas.

Bukan hanya Hayato, sutradara, dan para staf, bahkan Haruki yang sedang berakting pun ikut terkejut. Atmosfer di tempat ini berubah drastis sekali lagi.

Pasalnya, dialog dan akting yang dibawakan oleh Mao sama sekali tidak ada di dalam naskah.

Berdasarkan naskah, adegan seharusnya memperlihatkan Chihiro yang terkejut dan panik atas kemunculan sosok masa lalunya, lalu mempertanyakan apakah tindakannya mengutamakan balas dendam hingga membuat orang-orang berharga pergi meninggalkannya adalah hal yang keliru.

Alurnya kemudian berlanjut menuju akhir cerita, di mana melalui dialog dengan masa lalunya itu, Chihiro mendapatkan penegasan dari dirinya di masa lalu bahwa meskipun apa yang dilakukannya adalah sebuah kegagalan, ia masih bisa memulai semuanya dari awal lagi seperti saat ia berani merantau ke kota besar di masa lalu.

Hayato tidak tahu mengapa Mao tiba-tiba melakukan sesuatu di luar naskah.

Namun, akting tersebut terasa begitu nyata dan mendalam.

Meskipun ia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, kemunculan sosok masa lalu yang tampak polos dan bertolak belakang dengan kondisinya saat ini membuatnya merasa seolah-olah sedang dihakimi.

Meskipun melenceng dari naskah, perkembangan cerita ini sama sekali tidak terasa tidak natural.

Bahkan, sebagai seorang penonton, Hayato menyadari bahwa dirinya justru merasa antusias, menantikan bagaimana sosok masa lalu itu akan membalas ucapan Chihiro selanjutnya.

Hal yang sama sepertinya juga dirasakan oleh sutradara dan para kru lainnya. Oleh karena itu, kamera tetap dibiarkan menyala.

Sementara itu, Haruki sendiri sempat membelalakkan matanya karena improvisasi mendadak Mao, lalu membuang muka dengan gemetar ketakutan bagaikan anak kecil yang dimarahi—dan pada saat itulah pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Hayato.

Menghadapi Haruki yang menatapnya dengan pandangan memohon seolah bingung harus berbuat apa, Hayato menyeringai lebar dan mengepalkan tinjunya seolah menyuruh Haruki untuk maju dan melawan.

Melihat hal itu, sudut bibir Haruki sedikit melunak, dan ekspresinya berubah menjadi kepolosan yang murni seolah keraguannya telah sirna, lalu ia memiringkan kepalanya.

"Kupikir kamulah orang yang paling tahu jawabannya."

"Maksudmu..."

"Aku muncul untuk mengenal dirimu yang sekarang."

"Ck."

Begitu Haruki melangkah maju secara agresif, Mao justru terdorong mundur selangkah karena tertekan.

Itu adalah celah pertama yang diperlihatkan oleh Mao. Dan Haruki sama sekali bukan tipe orang yang akan melewatkan kesempatan itu.

Haruki semakin mencondongkan tubuhnya ke depan dan melancarkan serangan verbal susulan.

"Meraih kesuksesan melebihi siapa pun, diakui orang lain, dan ambisimu sudah tercapai, kamu seharusnya merasa puas... tapi kenapa kamu memasang ekspresi sesedih itu?"

"Ha! Jangan bicara sembarangan... apa yang kamu tahu tentang diriku!?"

"Aku tahu. Karena aku adalah dirimu sendiri."

Mao mencoba menertawakan ucapan itu untuk mengalihkan pembicaraan, namun Haruki tidak membiarkannya dan membalas melalui dialog dalam kerangka peran film tersebut.

"…………"

"……"

Saling tatap yang penuh ketegangan terus berlanjut antara Mao dan Haruki.

Sebuah adegan syuting yang membuat orang-orang menggenggam tangan mereka erat-erat karena tegang.

Suasana di sekitar dipaksa masuk ke dalam ketegangan yang mutlak tanpa ada ruang untuk membantah.

Namun di mata Hayato, Mao dan Haruki tampak sedang saling meluapkan isi hati mereka yang sebenarnya.

Sebuah interaksi canggung yang hanya bisa dilakukan melalui situasi dan peran semacam ini.

Oleh karena itu, adegan ini tidak diragukan lagi adalah sebuah pertengkaran ibu dan anak yang sesungguhnya.

Bagi Haruki, ini adalah momen pertamanya berkelahi secara terbuka dengan sang ibu.

Jika kesempatan ini dilewatkan, ia tidak tahu kapan lagi kesempatan serupa akan datang.

(Sungguh, ini adalah pertengkaran ibu dan anak berskala besar yang melibatkan banyak orang.)

Hayato tersenyum pahit dengan ekspresi setengah geli.

Tidak lama kemudian, Mao mencengkeram rambutnya dengan satu tangan dan membuka suara seolah meluapkan rasa frustrasinya.

"Mana mungkin aku bisa tahu! Karena kamu tidak pernah tiba-tiba dipandang dengan mata penuh iba oleh orang-orang di sekitarmu, tidak pernah merasakan kelaparan karena tidak punya uang, dan tidak pernah meringkuk ketakutan di balik selimut sambil bertanya-tanya apakah kamu bisa melewati hari esok dengan selamat!"

"Itu..."

"Hidup ini sangat menyedihkan. Ketika tidak punya uang, rantai kemalangan akan terus menumpuk dan membuatmu semakin sengsara. Betapa kerasnya aku harus bekerja mati-matian hanya untuk keluar dari situasi itu! Jangan mentang-mentang kamu hidup tenang tanpa tahu penderitaan itu, lalu dengan mudahnya bilang kalau kamu mengerti hanya karena kita adalah orang yang sama!"

Mendengar kata-kata Mao, Haruki tersentak dan menggetarkan bahunya ketakutan.

Ia tampak seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya. Reaksi itu bahkan terlihat begitu refleks.

Itu pastilah cerminan dari interaksi yang selama ini selalu terjadi di antara Haruki dan Mao.

Dan biasanya, di sinilah Haruki akan melontarkan kata-kata permintaan maaf lalu mengakhiri semuanya.

Namun Haruki yang sekarang bukanlah anak penurut seperti biasanya. Ia sedang mengenakan topeng sebagai Chihiro di masa lalu.

Menggunakan topeng itu sebagai perisai, Haruki berbicara terbata-bata seolah ingin memastikan kebenarannya.

"Memang benar apa katamu. Aku hidup di bawah perlindungan orang tua, makan, mengenakan pakaian, dan bermain sesukaku, serta hidup dengan tenang. Aku tidak pernah tahu rasa takut mengkhawatirkan hari esok."

"Ya, tentu saja."

"Di sekolah prestasiku cemerlang, murid teladan yang unggul dalam akademik maupun olahraga, dan berkat orang tuaku, aku disegani oleh semua orang. Secara finansial tidak ada kekurangan, dan aku dibesarkan dalam kehidupan yang makmur. Jika dilihat dari luar, ini adalah kehidupan yang diidam-idamkan banyak orang."

Haruki menundukkan kepalanya, meletakkan tangannya di dada, lalu menghela napas panjang.

Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap Mao dengan tatapan memohon.

"Tapi, ingatlah."

"Mengingat... apa?"

"Memang benar kehidupanku makmur dan penilaian orang-orang terhadapku tinggi. Aku tidak kekurangan apa pun, dan mungkin kehidupanku ini membuat orang lain iri. Tapi, hanya itu saja."

"Hanya itu katamu! Kamu tidak tahu betapa berharganya hal semacam itu—"

"Aku... selama ini selalu sendirian!"

"—!"

Memotong ucapan Mao yang hendak melanjutkan kalimatnya, Haruki berteriak dengan emosi yang meluap-luap.

"Di luar sana, demi menjaga reputasi orang tua, aku selalu memerhatikan tatapan orang lain, bersikap manis, dan pura-pura menjadi anak baik! Tapi ketika pulang ke rumah, tidak ada siapa pun di sana, aku sendirian di dalam ruangan yang terasa dingin. Tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan atau diajak bicara saat terjadi sesuatu. Aku harus mengurus segalanya sendirian, rasanya begitu menyiksa dan menyakitkan, hingga hatiku lama-kelamaan menjadi terkikis..."

"Itu, adalah..."

"Aku ingin hidup normal. Aku merindukan kehidupan yang normal. Hal yang kuharapkan sebenarnya hanyalah hal sepele. Saat pulang ke rumah dan mengucapkan 'Aku pulang', aku hanya ingin mendengar balasan 'Selamat datang kembali'. Aku—"

Haruki menghentikan kata-katanya sejenak, menatap lurus ke arah sang ibu, lalu melepas topeng karakternya dan meluapkan seluruh perasaan yang selama ini ia pendam—hal yang paling ingin ia sampaikan kepada ibunya secara langsung.

"Aku selama ini merasa kesepian... ah... aaah... uwaaah... aaaahraaaaaaaaaah!"

Dipenuhi oleh emosi yang meluap, Haruki menangis begitu saja tanpa memperdulikan pandangan orang lain, seolah-olah itulah satu-satunya cara baginya untuk mengekspresikan diri.

Air matanya terus mengalir deras meskipun sudah diseka berulang kali dengan kedua tangannya. Ia tampak seperti balita yang sedang merajuk menangis.

Hayato tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Haruki menunjukkan wujud aslinya secara terang-terangan tanpa malu ataupun jaim. Mao sendiri juga tampak jelas terguncang.

—Merasa kesepian. Aku benci sendirian.

Perasaan jujur Haruki yang sangat sederhana dan amat mudah dipahami.

Selama ini, apa pun yang terjadi, Haruki selalu bersikap sebagai anak yang baik di hadapan ibunya. Penilaian dari masyarakat pun selalu menjadi hal yang membanggakan bagi seorang ibu.

Permintaan yang begitu kekanak-kanakan dan sederhana, yang menyerupai manja seorang anak kepada ibunya untuk pertama kalinya, sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan berbagai topeng pertahanan Mao.

Tanpa sadar, Mao juga mulai meneteskan air mata.

Dengan gerakan terhuyung-huyung, ia memeluk Haruki erat-erat seolah tak ingin melepaskan hal paling berharga di dunia.

Seolah ia tengah menerima kehadiran Haruki sepenuhnya.

Pada saat itu, Hayato merasa bahwa pemandangan tersebut jauh lebih indah dan mulia dari apa pun di dunia ini, hingga ia merasa harus mengabadikannya lewat foto.

Hal itu tentu saja dirasakan pula oleh para kru yang bekerja secara profesional di sana.

Sekarang semuanya sudah baik-baik saja.

Peluang itu akhirnya berhasil digenggam.

(...Bagus untukmu, Haruki.)

Sambil ikut berkaca-kaca, Hayato dengan hangat mengawasi ibu dan anak yang saling berpelukan sambil menangis itu.

Meskipun begitu, ini adalah proses syuting film.

Semua orang masih terpesona oleh akting Haruki dan Mao.

Meskipun rasanya tidak enak merusak momen rekonsiliasi ibu dan anak tersebut, jika dibiarkan terus seperti ini, keduanya bisa menangis selamanya tanpa henti.

Membawa perasaan penuh restu di dalam hatinya, Hayato melontarkan kalimat untuk menarik kembali keduanya ke dalam realitas.

"CU~~~T!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close