Chapter 1
Musim Bergulir, Waktu Berubah
Suatu hari
Minggu, tidak lama setelah festival musim gugur.
Hayato berada di
ruang karaoke dekat stasiun dengan mengenakan ekspresi yang sulit
dideskripsikan.
"Hahaha,
nyanyian kakaknya Kirishima-chan lucu banget!"
"Ternyata
cukup catchy, ya! Maksudku, suaranya terngiang-ngiang di telinga!"
"Iya!
Rasanya hampir seperti ciri khas tersendiri, semacam bakat gitu? Bikin
ketagihan dengan cara yang aneh!"
"...Terima
kasih, kurasa."
Mereka yang
menggoda nyanyian Hayato adalah Honoka Torikai dan teman-teman SMP Himeko
lainnya. Hayato sadar kalau dia bukan penyanyi yang baik dan tidak keberatan
untuk diejek, tapi reaksi mereka tetap saja membuatnya merasa salah tingkah.
Sebuah desahan napas berat lolos darinya.
Alasan Hayato
berada di tempat karaoke bersama Honoka dan yang lainnya adalah untuk
melengkapi jumlah orang agar dapat diskon. Tepat lewat tengah hari, Himeko
tiba-tiba mulai membuat keributan, mengatakan bahwa jika mereka membawa cukup
banyak teman hari ini, mereka akan mendapatkan diskon 10% untuk tahun
depan. Sebagai seseorang yang mengelola keuangan rumah tangga keluarga
Kirishima, Hayato sangat memahami betapa berharganya potongan 10% itu.
Tanpa adanya dorongan itu, dia tidak akan pernah berpikir untuk ikut bergabung
dengan teman-teman adiknya.
Tetap saja, dia
merasa tidak cocok berada di sana. Mengenai si pelaku utama, Himeko, dia sedang
menatap panel pemilihan lagu, merenungkan apa yang harus dinyanyikan
selanjutnya. Ketika Hayato meliriknya dengan tatapan masam, seseorang menepuk
pundaknya.
"Hehe,
seperti kata gadis-gadis tadi, aku sebenarnya suka nyanyianmu, Hayato-kun.
Tempo dan alunan melodinya yang unik—itu punya pesona tersendiri."
"Kalau
diucapkan oleh orang yang sempurna dan layak sepertimu, Kazuki, itu terdengar
seperti sebuah sarkasme."
Saat Hayato balas
melotot dengan kesal, Kazuki mengangkat bahunya sambil bermain-main. Kemudian,
dengan memberi isyarat ke depan menggunakan matanya, dia bergumam dengan senyum
masam.
"Mana
mungkin. Lihat, ke sana."
"...Oh."
Di sana ada Saki,
yang didorong oleh seorang teman untuk bernyanyi menggunakan mikrofon.
Jujur saja,
nyanyiannya hampir sama bagusnya dengan nyanyian Hayato, tetapi usahanya yang
sungguh-sungguh meskipun merasa malu berhasil melembutkan ekspresi setiap
orang. Bahkan Honoka and yang lainnya tampak dihangatkan oleh pemandangan itu.
Tepat saat itu,
mereka mencapai bagian koor. Mata Himeko berbinar dengan seruan "Ah!"
saat dia mendongak dari panel dan mulai ikut bernyanyi. Honoka dan yang lainnya
ikut bergabung, terbawa oleh suasana saat itu.
Saki mengerjap
kaget karena usaha kelompok yang tiba-tiba itu, tapi tak lama kemudian wajahnya
merekah dalam sebuah senyuman. Menyanyi dengan begitu gembira, dia tampil
begitu memesona—melebihi bagus atau tidaknya suara bernyanyi—hingga membuat
jantung Hayato berdegup kencang.
Saat Hayato
mengeluarkan gumaman kagum "Wah," Kazuki bergumam penuh pemikiran.
"Dia
manis."
"Apa...!?
Maksudku, tentu saja, secara umum, siapa pun yang bernyanyi dengan begitu
bahagia... Kazuki?"
"!"
"Oh,
eh, iya! Gadis yang tertawa dan bersenang-senang itu terlihat manis, kan?"
"...Benar,
ya?"
Merasa
seolah-olah isi pikirannya telah dibaca dan diejek, Hayato melayangkan tatapan
protes, tapi Kazuki mengerjap kaget, menunjukkan tanda-tanda jelas kebingungan
saat matanya beralih ke arah lain.
Bingung
dengan reaksi yang tidak terduga itu, Hayato mengerutkan keningnya penuh
kecurigaan. Tepat saat itu, Haruki kembali dari bar minuman sambil memegang
gelas, lalu berbicara dengan nada jengkel.
"Ada
apa, apa kalian berdua sedang merencanakan untuk memikat gadis-gadis SMP atau
semacamnya? ...Menyeramkan."
"Mana
mungkin! Mereka itu seumuran dengan adikku!"
Secara
insting, Hayato membayangkan adiknya Himeko yang pemalas dan ceroboh di rumah,
lalu memprotes bahwa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Namun Kazuki
langsung menimpali dengan nada serius.
"Tapi
selisihnya kan cuma satu tahun, kan?"
"Ugh,
yah, benar juga sih, tapi..."
Hayato
terbata-bata. Saki, sahabat adiknya yang satu tahun lebih muda, adalah
seseorang yang diakuinya sebagai gadis yang memesona. Kata-katanya tadi
hanyalah alasan yang lemah.
Saat
Hayato menggaruk kepalanya untuk menepis rasa canggung itu, Honoka dan yang
lainnya, yang menyadari keributan tersebut, angkat bicara.
"Hei,
Nikaido-senpai, apa kamu tidak akan bernyanyi?"
"Aku ingin
dengar Nikaido-senpai bernyanyi!"
"Aku
penasaran banget lagu seperti apa yang akan dipilih Nikaido-senpai!"
Honoka dan yang
lainnya dipenuhi oleh rasa penasaran. Kembali saat di SMP, Haruki jauh berbeda
dari Hayato yang mereka kenal—seorang murid sempurna dan atlet, bunga tak
tersentuh yang anggun dan jelmaan pesona, seseorang yang terlalu mengintimidasi
untuk didekati, sebuah objek kekaguman. Jadi, mereka mungkin tidak bisa
membayangkan lagu apa yang akan dinyanyikannya.
Haruki, dengan
jari di dagunya, melirik Kazuki, Himeko, Saki, dan Honoka, lalu beralih ke
Hayato, sedikit mengerutkan kening sebelum melemparkan senyuman nakal.
"Sebagian
besar lagu anime, kurasa?"
"Lagu
anime!?"
"Itu
di luar dugaan!"
"Nikaido-senpai
menonton anime!?"
"Haruki-san
sangat paham soal anime. Dia sering merekomendasikan berbagai hal kepadaku."
"Iya,
dan Haru-chan juga jago banget menyanyi."
"Serius!?"
"Aku
ingin dengar!"
"Tolong,
kumohon!"
"Baiklah,
kalau begitu aku akan menyanyikan satu lagu."
"““Woohoo!””"
Mengambil
mikrofon dari Saki, Haruki dengan cepat memasukkan lagu pada panel, berdiri di
depan layar, dan berdehem pelan dengan suara "ehem". Dengan isyarat
itu, udara di sekitarnya berubah total.
Saat Honoka dan
yang lainnya menelan ludah dengan tegang, sebuah melodi yang meriah mulai
dimainkan. Haruki memamerkan senyuman cerah sambil bernyanyi dan menari,
langsung memicu seruan "Waa!" yang meriah disertai sorak-sorai dan
tepuk tangan.
Dari situlah,
panggung sepenuhnya menjadi milik Haruki.
Nyanyian dan
koreografinya menarik semua orang masuk ke dalam dunia anime, membuat mereka
terpikat.
Tentu saja, sesi
karaoke tersebut menjadi sangat sukses besar.
Setelah tiga jam
penuh bernyanyi, mereka meninggalkan toko dengan matahari yang sudah mulai
turun, mewarnai langit barat dengan semburat merah tua.
Udara dingin
menyapu kulit Haruki, tapi rasanya sangat menyenangkan di tubuhnya yang masih
terasa hangat usai berkaraoke.
Honoka dan yang
lainnya, yang masih diliputi rasa antusias, angkat bicara.
"Nikaido-senpai,
tadi itu luar biasa!"
"Itu
benar-benar mengubah imajgiku tentangmu!"
"Kalau kamu
tidak keberatan, kapan-kapan kita main bareng lagi ya... Eh, sudah selambat
ini!?"
"Gawat,
waktu bimbingan belajarku sebentar lagi mulai!"
"Kita harus
pergi!"
Dengan seruan
itu, mereka bergegas pergi.
Saat Haruki
melambaikan tangan sambil tersenyum masam, Hayato yang tampak kelelahan
mengucapkan terima kasih kepada Kazuki di sampingnya.
"Maaf sudah
menyeretmu keluar tiba-tiba hari ini. Tapi kamu benar-benar menyelamatkanku.
Aku bakal ngeri banget kalau jadi satu-satunya cowok di kelompok tadi."
"Haha,
senang bisa membantu. Lagian aku juga tidak mungkin bisa menarik Iori-kun
menjauh dari kencannya."
"Iya,
benar juga... Tapi jujur, aku sedikit terkejut."
"Tentang
apa?"
"Maksudku,
kamu biasanya menghindari atau merasa canggung saat berkumpul dengan kelompok
yang isinya kebanyakan cewek, kan?"
"Memang
benar. Tapi ini permintaan seorang teman, dan setelah kejadian baru-baru ini,
aku sudah melepaskan banyak beban."
"Oh,
benar juga."
Hayato dan
Kazuki tertawa bersama, sementara Haruki memperhatikan mereka berdua dengan
ekspresi yang ambigu.
Kejadian
baru-baru ini.
Memang
benar, banyak hal yang terjadi di festival musim gugur.
Momen-momen
itu masih terukir jelas di dalam hati Haruki, mengaduk-aduk dan membuatnya
gelisah bahkan hingga saat ini.
Saat wajah
Haruki sedikit menegang, Himeko tiba-tiba mengeluarkan suara "Ah!"
kecil dan mendekati Kazuki dengan ekspresi serius, lalu berbisik di telinganya.
"Aku
tidak bilang ke Honoka-chan dan yang lain soal rahasiamu, tahu?"
"!"
"R-Rahasia
apa...?"
Kata-kata
Himeko yang tiba-tiba dan penuh teka-teki membuat Kazuki tersentak,
memperlihatkan tanda-tanda kepanikan yang jelas.
Merasa lengah
dengan reaksi tersebut, Himeko malah terbata-bata.
"K-Kakakmu!
Kakakmu!"
"Oh, itu.
Aku tadinya sempat berpikir Himeko-chan memegang kartu as atau rahasia
tentangku."
"Ugh,
emangnya aku ini kamu anggap apa!?"
"Haha, yah,
belakangan ini aku memang sering memperlihatkan sisi menyedihkanku ke semua
orang."
Ketika Kazuki
mengatakannya dengan nada bercanda, Himeko, yang merasa diejek, menggembungkan
pipinya. Hayato menimpali, "Iya, mungkin saja," sambil terkekeh, dan
Kazuki balas berseru, "Hayato-kun!?" Saki, yang memperhatikan mereka,
tidak bisa menahan diri untuk tidak terkikik.
Semua itu tampak
seperti candaan biasa di antara mereka. Tidak, dengan Kazuki yang kini
memperlihatkan sisi rapuhnya, suasana terasa seolah-olah mereka telah menjadi
jauh lebih dekat.
Namun jika
diperhatikan baik-baik pada diri Kazuki, seseorang akan menyadari butiran
keringat tipis di keningnya, senyumannya yang sedikit kaku, dan matanya yang
dengan cemas terus mengikuti gerak-gerik Himeko.
Bagi Haruki, yang
sangat mahir menyembunyikan perasaannya sendiri, sangat jelas terlihat bahwa
Kazuki sedang berusaha menutupi sesuatu dengan terburu-buru. Dia hanya bisa
tersenyum canggung dari kejauhan.
Setelah makan
malam di rumah keluarga Kirishima seperti biasa dan berpisah dengan Saki,
Haruki berjalan pulang sendirian.
"Hari
ini aku pergi karaoke bareng teman-teman di stasiun."
Seperti
biasa, Haruki mengirimkan pesan berisi foto saat dia bernyanyi bersama Himeko
dan Honoka kepada ibunya, Mao Takura, sebagai laporan tentang hari yang
dijalaninya.
Kazuki
berbaur secara natural dengan Honoka dan yang lainnya.
Dia
menghidupkan suasana dengan lagu-lagu hits, mengangkat topik tentang artis yang
mereka nyanyikan, dan merespons obrolan mereka dengan senyuman menawan. Tidak
ada gadis yang tidak akan merasa senang dengan perlakuan itu.
Jadi, Kazuki
adalah bintang utama hari ini.
Namun hal itu
juga bisa mengundang kesalahpahaman. Mungkin Kazuki hari ini adalah dirinya
yang sebenarnya, tapi Haruki tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan
kening melihat perubahan itu.
Di sisi lain,
Kazuki tampak hanya memiliki mata untuk Himeko, hampir tidak memedulikan
gadis-gadis yang lain.
"Aku
benar-benar jatuh cinta pada seseorang untuk pertama kalinya..."
Kata-kata yang
sempat dilontarkan Kazuki pada festival musim gugur muncul kembali di benaknya.
Kata-kata itu berbicara dengan fasih bahwa itu bukanlah sekadar perasaan
sesaat. Itu sudah pasti benar.
Tidak ada
keraguan tentang perasaan Kazuki, namun kebingungan itu—kenapa?—tetap terasa
begitu kuat.
Kazuki pasti tahu
bahwa mengakui perasaan tersebut bisa menghancurkan dinamika hubungan mereka
saat ini. Perilakunya terhadap Himeko hari ini, yang menjaga jarak dengan pas
agar tidak menimbulkan kecurigaan, adalah buktinya.
Namun tetap saja.
Meskipun begitu.
Mengetahui hal
itu, Kazuki memilih untuk berubah dan melangkah maju.
—Sama seperti
Saki.
Haruki menekan
dadanya yang terasa sakit dan gelisah.
Saat dia
memikirkan hal itu, rumahnya mulai terlihat dalam pandangan.
Melihat
rumah yang gelap dan tanpa penerangan seperti biasanya, dia melirik ponselnya.
Pesan
yang dikirimkan kepada ibunya masih belum menunjukkan tanda dibaca.
Yah, itu
sudah biasa. Terkadang butuh waktu beberapa hari untuk mendapatkan tanda
centang biru.
Bahkan jika pesan
itu terbaca, tidak akan ada balasan. Saat menggulir riwayat pesan, isinya hanya
berupa laporan Haruki tentang tempat-tempat yang telah dikunjunginya, bagaikan
buku harian yang hambar.
Itu adalah bukti
dari menjadi anak baik yang tidak pernah merepotkan ibunya.
Pesan satu arah
yang tak berujung itu terasa dingin dan kaku.
"Aku..."
Haruki
menggumamkan satu kata itu, menggelengkan kepalanya seolah ingin menepis
perasaan suram yang bergolak di dadanya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"...Aku
pulang."
Ucapan salam yang
sudah biasa dia ucapkan, bagaikan sebuah mantra, terserap secara kesepian ke
dalam kegelapan.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment