NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 7 Chapter 9

Chapter 9

Benar, Aku Sudah Memutuskannya


Langit sempit yang dikelilingi oleh pegunungan.

Rumah-rumah yang tersebar di antara ladang.

Sebuah desa pegunungan pedesaan yang hampir tidak memiliki toko dan populasinya terus menyusut.

Di dunia kecil Tsukinose yang tidak pernah berubah itu, bagi Himeko, Haruki adalah seseorang yang memunculkan senyum memesona.

"Aku Haruki! Siapa namamu?"

"...! H-Himeko..."

Ia mengingat dengan jelas senyuman Haruki yang begitu cerah dan menyilaukan saat pertama kalinya mereka bertemu. Serta bagaimana, karena terkejut dan malu, ia tidak sanggup menyambut uluran tangan yang diberikan.

Meskipun begitu, Haruki sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak suka dan dengan riang mengobrol bersama kakaknya, Hayato.

"Jadi Hayato punya adik perempuan, ya? Kalian berdua agak mirip!"

"Begitukah?"

"Yup, yup, di bagian mata! Tapi kenapa kalian jalan bareng hari ini?"

"Katanya dia bakal bosan sendirian di rumah, jadi dia ikut. Mau bagaimana lagi, kan?"

Ketika Hayato memasang ekspresi agak kesulitan, Haruki berhenti sejenak dengan seruan "Eh!?" yang penuh rasa penasaran, lalu dengan penuh semangat menepuk punggung Hayato.

"Apa yang kamu bicarakan, Hayato? Semakin banyak orang, semakin seru, kan?!"

"Tapi Himeko kan perempuan."

"Siapa peduli soal itu! Iya kan, Hime-chan?"

"...Iya!"

"Hei, Haruki! Himeko!"

Begitu mengatakannya, Haruki meraih tangan Himeko dan mulai berlari. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba.

Namun, ditarik oleh seringai Haruki, Himeko membalas dengan senyum cerah, jantungnya berdegup kencang karena antusiasme menantikan keseruan di depan.

Melirik ke belakang ke arah sang kakak yang mati-matian mengejar mereka, ia dan Haruki saling bertukar pandang dan secara alami meledak dalam tawa.

Sebuah sensasi mendebarkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Sensasi terbukanya sebuah dunia yang baru.

Jatungnya berdegup kencang penuh antisipasi, bertanya-tanya pemandangan seperti apa lagi yang akan ditunjukkan oleh Haruki, teman kakaknya itu, kepada dirinya.

Sejak hari itu, mereka sering bermain bersama, merangkai kenangan yang tak terhitung jumlahnya.

Di pegunungan, di tepi sungai, di pabrik yang terbengkalai.

Menendang kaleng, kejar-kejaran, petak umpet.

Mereka juga sempat berbuat usil pada domba atau mendapat omelan. Namun mereka menikmati semuanya secara maksimal, selalu dihiasi senyuman. Jadi Himeko tidak bisa menahan perasaan gembira dan ceria, terbawa oleh energi Haruki.

Tidak heran jika Haruki menjadi seseorang yang begitu spesial bagi Himeko.

Dan hal itu tidak berubah bahkan setelah mereka bersatu kembali di kota.

Yah, ia sempat terkejut melihat betapa banyak penampilan Haruki berubah, karena ia sempat mengira Haruki adalah seorang anak laki-laki.

Namun, seperti dulu, Haruki mekar dengan senyuman di sisi sang kakak, mengejutkannya dengan dandanan yang modis, memamerkan keahlian berenangnya yang buruk di kolam renang, atau menciptakan kehebohan bersama para selebritas.

Mereka pergi menonton bioskop, berbelanja, datang ke festival musim gugur—selalu mengubah suasana, terkejut bersama, dan memenuhi dirinya dengan kebahagiaan.

Ah, sungguh Haruki.

Ia pasti sangat suka membuat orang lain bahagia.

Itulah sebabnya, melihat Himeko berjuang mencari cara untuk mendekatkan diri dengan ibunya, Haruki melakukan hal itu untuknya.

Dan karena Haruki tetap berada di sisinya, memang benar hatinya terasa jauh lebih ringan.

—Ah, aku tidak bisa menandinginya.

Ia benar-benar berpikir begitu.

Dan harapannya kian menumpuk, bertanya-tanya bagaimana seandainya—

Seandainya Haruki adalah seorang anak laki-laki—

"—Achoo! ...Eh?"

Himeko terbangun oleh suara bersinnya sendiri.

Ia sedang berbaring di atas tempat tidurnya, memeluk bantal tanpa selimut.

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui jendela. Sepertinya ia tertidur semalam saat menonton video.

Menarik ponselnya yang masih tersambung ke kabel pengisi daya ke atas selimut, Himeko melihat waktu—15 menit lewat dari jam biasanya ia bangun. Wajahnya memucat, ia terkesiap dengan suara "Hiu!", dan tenggorokannya terasa tercekat.

"Waktu! Aku terlambat! Onii, kenapa kamu tidak membangunkanku!?"

Himeko bergegas masuk ke ruang tamu sambil menggerutu, lalu bertatapan langsung dengan Hayato yang sedang sarapan.

Hayato, dengan ekspresi canggung, menelan roti panggangnya, bergumam "Ah—" dan "Eh—", lalu berkata dengan raut wajah sedikit bermasalah:

"Uhm, Himeko, rambut berantakanmu cukup parah hari ini...?"

"Gya—!?"

Menyisir rambutnya dengan jemari, ia bisa tahu tanpa cermin bahwa rambutnya benar-benar berantakan. Berdasarkan pengalaman, ini adalah masalah berat. Ditambah lagi, ia kesiangan.

Tidak sempat menahan diri, Himeko berlari kencang ke kamar mandi.

Saat Himeko sedang bertempur merapikan rambut berantakannya menggunakan embusan angin kencang dari pengering rambut, sebuah suara memanggil dari dapur.

"Hei, Himeko, bagaimana dengan sarapan?"

"Tidak perlu! Tidak ada waktu!"

"Bu, dalam situasi seperti ini, dia pasti mau makan salad yoghurt buah. Himeko, kamu mau kan?"

"Aku mau!"

"Bagaimana cara membuatnya?"

"Tinggal potong buah apa saja yang ada di kulkas—pisang, apel, buah kalengan—lalu campur dengan yoghurt yang sudah disaring dan sedikit mayones."

"Oh, gampang ya. Di mana kamu belajar itu?"

"Internet. Di ponselku."

"Oh."

Percakapan keluarga itu, seperti obrolan yang biasa mereka lakukan di Tsukinose, menggema di dalam rumah.

Bayangan Himeko di cermin memperlihatkan kerutan dalam di antara kedua alisnya.

Setelah melahap habis salad yoghurt buah dan meninggalkan rumah, ia hanya sedikit terlambat dari biasanya berkat memangkas durasi sarapan.

Himeko berjalan cepat menuju sekolah dengan pipi menggembung cemberut.

Kakaknya yang berjalan di sampingnya memasang wajah agak bersalah.

Biasanya, ia akan mengomel karena sang kakak tidak membangunkannya, tetapi mengingat sikapnya kemarin, ia memilih bungkam. Meski begitu, kekesalannya tampak jelas di wajahnya.

Ia mengembuskan napas penuh beban.

Di kepalanya ia tahu semuanya akan baik-baik saja, namun rasa cemasnya tidak kunjung hilang.

Ia sadar dirinya sedang merusak suasana. Berusaha mencari tahu apa yang harus ia lakukan, wajah Haruki tiba-tiba melintas di benaknya, dan ia pun mengeluarkan seruan "Ah".

"Ada apa, Himeko?"

"...Tidak ada apa-apa."

Hayato bertanya dengan nada khawatir, namun Himeko membuang muka dengan ketus. Ia tidak tahu cara mengatasi perilaku keanak-anakan dirinya sendiri, tapi apa yang akan Haruki lakukan?

Setelah kejadian semalam, ia merasa bisa berbicara secara terbuka dengan Haruki. Ia memutuskan untuk meminta waktu usai sekolah nanti agar Haruki mau mendengarkan keluh kesahnya.

Tenggelam dalam pikirannya, mereka tiba di tempat pertemuan biasa.

Saki sudah berada di sana, memamerkan senyum cerah sambil mengangkat tangannya ringan saat melihat mereka berdua.

"Pagi, Hime-chan, Onii-san."

"Pagi, Saki-san."

"...Pagi."

"Di mana Haruki?"

"Belum datang."

"Hmm, tidak ada pesan telat, kan?"

Melihat sekeliling, batang hidung Haruki sama sekali tidak terlihat. Mengingat Himeko tadi kesiangan, ia mengira dirinyalah yang paling akhir datang, jadi situasi ini sungguh tak terduga.

Mereka bertiga memiringkan kepala karena bingung.

Saat Hayato mengeluarkan ponselnya sambil berkata, "Kukira aku harus meneleponnya," Haruki dengan malu-malu muncul dari dekat sana, seolah-olah sempat bersembunyi.

"Uhm, pagi."

"Kamu ada di sini, Haruki... Tunggu, ada apa dengan pipimu itu?"

"Haruki-san, apa yang terjadi...?"

"Haha, mencolok banget ya?"

Entah kenapa, pipi kiri Haruki tampak memerah samar.

Sisi wajah yang satunya terlihat normal, membuat kemerahan itu begitu kontras. Apa yang sebenarnya terjadi?

Haruki mengerutkan kening kesusahan, pandangannya beralih bergantian ke arah mereka.

Wajah Hayato, Saki, dan Himeko dipenuhi rasa cemas.

Ditatap lekat-lekat oleh Hayato, Haruki akhirnya mengangguk kecil dengan ucapan "Ya", menelan ludah dengan susah payah, ragu-ragu sejenak, lalu berbicara dengan nada yang sengaja dibuat riang.

"Kemarin, waktu aku pulang ke rumah, Ibu ada di sana. Kamu tahu, beliau menemukan video MOMO waktu kita belanja yukata dulu, dan ya, begitulah..."

"...!"

"Haruki..."

"Uhm, itu...?"

Begitu Haruki menyebutkan tentang ibunya—Takura Mao—ketegangan langsung menyelimuti wajah mereka semua.

"Tidak, tidak apa-apa! Beliau cuma menyuruhku jadi anak baik, kok!"

Melihat reaksi mereka, Haruki bersikeras bahwa itu bukan masalah besar, namun pipinya yang masih kemerahan seolah mengatakan sebaliknya.

Himeko merasa seolah kepalanya baru saja dihantam benda keras.

Tinggal sendirian di sebuah rumah.

Bekas kekerasan di pipinya.

Putri dari aktris kenamaan Takura Mao, yang sengaja disembunyikan dari sorot publik.

Hubungan Haruki dengan sang ibu bukan sekadar renggang—melainkan terdistorsi, berada di ambang kehancuran.

Rasa sakit yang tajam menghujam dada Himeko, yang langsung dicengkeramnya erat-erat. Sang kakak, yang mungkin tahu lebih banyak tentang situasi Haruki, menatap gadis itu dengan tatapan tajam.

Saat Himeko memperhatikan dengan cemas, Hayato mengembuskan napas "Fiuh" yang panjang, lalu memasang senyum cerah sambil berkata santai.

"Paham. Tapi pipi itu cukup mencolok. Bisa-bisa kamu dapat komentar aneh di sekolah."

"Uh, apa yang harus kulakukan...?"

"Kudengar concealer bisa menyembunyikan kemerahan, seperti bekas jerawat!"

"Concealer?"

"Itu untuk menutupi noda di kulit. Sayangnya aku tidak punya. Kamu bisa membelinya di minimarket, tapi harganya setara beberapa kali gacha."

"Hei, perbandingan macam apa itu!"

"Haha, aku juga tidak punya. Hime-chan, kamu punya?"

"...! Y-Ya, aku punya."

Mendengar itu, Himeko buru-buru mengambilnya dari kantong tasnya lalu menyerahkannya kepada Haruki.

"Terima kasih, Hime-chan. Aku pinjam ya."

"Tentu..."

"...Wah, benar-benar hilang."

"Makeup itu memang hebat ya."

"Mau coba, Hayato?"

"Mana mungkin."

"Eh!?"

"Saki-san!?"

Himeko berdiri terpaku, menyaksikan Haruki bertindak seperti biasa di tengah riuhnya percakapan mereka.

Memikirkan keadaan Haruki, mustahil baginya untuk menceritakan masalah ibunya sendiri saat ini.

Ia merasa malu karena tidak menyadarinya lebih awal.

Lalu, ponselnya bergetar di dalam tas. Hampir tanpa sadar, ia memeriksanya.

'Maaf baru membalas. Aku sudah memikirkannya, tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkan tipe idealku, jadi aku tidak tahu.'

Pesan itu dari Kazuki.

Sebuah balasan untuk pesan yang dikirimkan dua hari lalu saat sesi konsultasi cinta Airi bersama Saki.

Ia teringat Kazuki yang dengan tulus mengatakan ingin menjadi teman di festival musim gugur, dan kilasan inspirasi menyapa benaknya. Wajah segar pemuda itu usai meruntuhkan beban pikirannya masih melekat jelas di ingatannya.

Dan dengan model terkenal MOMO sebagai keluarganya—Himeko, atas dorongan sesaat, mengirimkan sebuah pesan.

'Bisa kita bertemu sepulang sekolah hari ini?'

☆☆☆

Hayato dan Haruki, setelah berpisah dengan anak-anak SMP, berjalan menuju sekolah sambil mengobrol santai tentang persiapan festival budaya.

"Hmm, ukurannya lumayan besar, tapi apa aku harus membawa beberapa alat kosmetik juga ya?"

"Mungkin saja, sih."

Hayato melirik Haruki sambil mengangguk.

Gadis itu tampak tanpa beban seperti biasanya.

Bagi Hayato, Haruki selalu merepresentasikan sosok tawa yang ceria.

Kembali saat mereka bermain di Tsukinose. Bahkan setelah bersatu kembali di kota.

Selalu memamerkan senyuman tanpa beban.

Namun sekarang, ia tahu gadis itu menanggung kepedihan yang mendalam.

Bukan hanya itu—wajah muram yang penuh kepasrahan saat pertama kali mereka bertemu, mata redup yang diwarnai penolakan, namun tetap memancarkan aura perjuangan melawan kesepian, semuanya begitu tak terlupakan.

Penyakit dari kondisi Haruki bersumber dari hubungannya dengan sang ibu, Takura Mao.

Melihat kondisi pipinya, sudah jelas hubungan mereka masih belum membaik.

"Jadi, konsep putri vampir itu ada di panggung, meskipun di dalam kelas, kan? Tata rias panggung pasti... Hei, kamu dengar tidak, Hayato?"

"Uhm, ya, aku dengar."

"Beneran?"

Ketika Haruki sedikit merenggut cemberut, Hayato membalas dengan senyuman ambigu.

Sahabat masa kecil di hadapannya ini tampak tidak berubah. Namun kini ia tahu perjuangan yang dipikul gadis itu, beban yang tak pernah ia sadari sewaktu kecil.

Kendati demikian, mengetahui kenyataan itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Ia merasa begitu tidak berdaya.

Begitu pula dengan Himeko dan Minamo. Ia mengepalkan tangannya, mengerutkan kening.

Lalu, wajah Saki melintas di benaknya. Gadis itu dulunya pemalu dan kesulitan berbicara, namun belakangan ini, ia bersinar lebih terang, begitu memesona. Rasanya senyuman cerah Saki seolah menegurnya, mendorongnya untuk bersuara.

"...Hei, Haruki."

"Ya? Ada apa?"

"Jika kejadian seperti semalam terulang lagi, aku ingin kamu lebih mengandalkanku."

"Hayato..."

Suaranya menyiratkan nada permohonan.

Haruki balas menatapnya, memberikan senyum kecut seolah gemas pada diri sendiri.

Kemudian, mengerutkan kening dan menurunkan pandangannya, ia berbicara seolah menegaskan perasaannya sendiri.

"...Sejujurnya, bilang kalau kejadian semalam sama sekali tidak mempengaruhiku itu bohong. Kejadian itu cukup berat. Aku bingung harus memasang ekspresi apa hari ini dan berujung sembunyi."

"Kalau begitu—"

"Tapi, tahu tidak, melihat wajahmu membuat semuanya terasa tidak masalah lagi."

"...Ha?"

Hayato tidak sepenuhnya menangkap maksudnya.

Mengingat kembali pagi tadi, ia merasa tidak melakukan hal yang istimewa.

Bingung, ia menatap sang sahabat masa kecil, sementara Haruki, yang merona karena malu, berbicara membelakanginya tanpa menoleh.

"Kamu tidak mengasihaniku, Hayato."

"Itu..."

Apakah gadis itu sedang menyalahkannya?

Tidak yakin dengan maksud ucapannya, ia mengerutkan kening, namun Haruki melanjutkan.

"Waktu kamu tahu aku tinggal sendiri, atau waktu aku bilang aku adalah anak tersembunyi Takura Mao, atau berbagai hal lainnya. Bahkan baru saja. Kamu marah padaku atau diam-diam menemaniku, tapi kamu tidak pernah mengasihaniku."

"Itu sudah pasti, kan?"

Ketika Hayato menjawab demikian, Haruki tersentak, menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadapnya.

"...Itulah maksudku."

"Apa maksud dari perkataan itu?"

"Karena kamu selalu melihatku apa adanya diriku, aku tidak berakhir menjadi sosok yang menyedihkan. Jadi aku pikir, selagi ada Hayato di sisiku, aku akan baik-baik saja."

"—Ah."

Senyuman tipis Haruki yang sedikit malu tampak tanpa beban dan begitu indah. Kata-kata jujurnya membawa kepercayaan yang goyah pada diri Hayato, menghantamnya secara telak hingga membuat jantungnya berdegup kencang.

Hayato menggumamkan "Oh" dan membuang muka, menyadari wajahnya memerah.

Pipi Haruki juga merona, namun untuk menutupi rasa malunya, ia menepuk tangan dan mengalihkan topik pembicaraan, kembali melangkah maju.

"Oh, sepulang sekolah nanti, ayo kita mampir ke rumah Minamo-chan!"

"Ide bagus."

"Kita harus mampir ke kebun dan menepati janji itu, kan?"

"Perlu bawa sesuatu?"

"Enggak, gak usah. Cukup jadi anak SMA yang berkunjung ke rumah teman."

"Tapi kakek tua itu mungkin akan mengomel kalau kita datang tangan kosong."

"Haha, benar juga!"

Hayato dan Haruki saling berpandangan, terkekeh bersama.

Langkah kaki mereka menyusuri rute sekolah terasa begitu ringan.

Di bawah langit musim gugur yang jernih dan menyegarkan di siang hari yang masih muda.

Di sudut ruang kelas yang sibuk dengan persiapan festival budaya, suara dentang keras bergemerincing.

"Aduh!"

"Kamu tidak apa-apa, Kaido!?"

"Suara apa itu tadi!? Suara benturannya kencang banget!"

"Semuanya, cepat bantu pindahkan meja rendah itu!"

Seorang anak laki-laki yang memegang salah satu sisi meja rendah berteriak panik. Tidak jauh dari sana, Kazuki terjebak di bawahnya, terpeleset dan terperangkap.

Setelah diselamatkan, Kazuki memasang wajah malu. Untungnya meja itu tidak berat, dan rasa nyeri yang mencengkeram perutnya perlahan memudar.

Namun beberapa teman sekelas mendekatinya dengan wajah khawatir.

"Kamu terluka, Kaido?"

"Enggak, aku baik-baik saja. Maaf bikin heboh."

"Baguslah kalau begitu... tapi ada apa denganmu hari ini?"

"Kalau kamu lagi kurang enak badan, istirahat saja sana?"

"Iya, persiapan kita tidak tertinggal kok, dan anggotanya juga cukup."

"...Haha."

Kazuki memberikan senyum kecut atas kepedulian mereka.

Merunut kembali aktivitasnya hari ini, semuanya benar-benar berantakan.

Ia menjepit jarinya di pintu, menumpahkan pulpen-pulpennya berserakan di lantai, dan sempat kehilangan dompetnya. Ia tahu konsentrasinya sedang buyar.

Penyebabnya adalah pesan dari Himeko pagi tadi.

Kini setelah menyadari perasaannya sendiri terhadap gadis itu, ajakan untuk bertemu tentu akan mengguncang siapa saja.

Tetap tinggal di sini hanya akan menyeret orang lain ke dalam kekacauan pikirannya.

Memutuskan hal itu, Kazuki berdiri, memasang senyum canggung, dan mengandalkan kebaikan teman-temannya.

"Aku mau cari udara segar sebentar."

Mengabaikan tatapan penuh kekhawatiran, ia kabur keluar kelas, berjalan tanpa tujuan.

Suasana sekolah yang sibuk dan meriah terasa seperti dunia yang berbeda.

Hal itu memicu campuran rasa jengkel dan iri di hatinya. Hatinya kacau balau, di luar kendalinya.

Himeko telah membuatnya begitu gelisah.

Menghindari kerumunan orang, ia berakhir di kebun belakang sekolah.

Deretan sayuran tumbuh subur, daun-daun hijau mereka bergoyang tertiup angin.

Melihat sekeliling, Minamo, sang penjaga kebun, sama sekali tidak terlihat.

Wajar saja—ia mungkin sedang sibuk mengurus persiapan festival.

Duduk di dekat sana, ia membuka ponselnya.

Ponsel itu menampilkan pertukaran pesannya dengan Himeko tadi pagi.

'Ada apa tiba-tiba begini? Aku bisa meluangkan waktu, tapi... kalau cuma soal jalan-jalan, apa kita sebaiknya ajak Hayato-kun atau Nikaido-san juga?'

'Aku tidak mau Onii atau Haru-chan tahu. Berdua saja, kumohon.'

'Paham, ada hal yang tidak ingin mereka ketahui? Kalau begitu... bagaimana kalau kita bertemu di tempat ini?'

Percakapan itu terhenti di sana, disertai tanda telah dibaca pada tautan kafe yang dikirimkannya.

Urgensi dalam pesan-pesan Himeko, yang tidak seperti biasanya, mengaduk-ngaduk hatinya dan membuat alisnya berkerut.

"'Tipe ideal', 'Bisa kita bertemu'..."

Membaca ulang pesan-pesan itu, ia sempat merasakan secercah harapan, namun dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia menertawakan dirinya sendiri karena sempat berharap.

Secara realistis, Himeko tidak memiliki perasaan spesial terhadapnya.

Tidak ada hal yang terjadi sejak festival yang mengindikasikan adanya kemajuan. Setelah menerima banyak kebaikan sebelumnya, ia tahu betul batasan itu.

Rasa sakit yang aneh menghujam dadanya. Untuk mengalihkan perhatian, ia menatap ke arah ladang. Beberapa siswa sedang membangun panggung, sementara yang lain mempersiapkan kegiatan klub.

Klub sepak bolanya adalah salah satu dari mereka.

Klub sepak bola secara tradisional menggelar "Soccer Nine", sebuah permainan menembak bola ke panel bernomor 1 hingga 9, mirip seperti di televisi. Permainan itu selalu populer setiap tahunnya.

Persiapannya sederhana—hanya mengambil panel-panel dari ruang klub. Sisanya adalah latihan atau membantu kelas. Beberapa anggota sedang memeriksa panel-panel tersebut untuk memastikan tidak ada kerusakan.

Ia sempat berniat membantu namun menyadari dirinya hanya akan membuat kekacauan.

Emosi ini berada di luar kendalinya. Mendongak ke atas, ia menghela napas, napasnya memudar ke dalam langit biru yang tinggi.

Para siswa yang keluar untuk berbelanja kebutuhan melewati gerbang sekolah.

Selama persiapan festival, tidak ada kegiatan wali kelas singkat sepulang sekolah, jadi meninggalkan sekolah lebih awal tidak akan terlalu menarik perhatian.

Lagi pula, tidak banyak yang bisa ia lakukan di sekolah saat ini.

Merasa gelisah, ia memutuskan untuk menuju tempat pertemuan lebih awal.

Kazuki memilih sebuah kafe di kota yang memiliki salon yang pernah mereka kunjungi bersama Hayato dan yang lainnya.

Sebuah kafe waralaba, namun dengan dekorasi bergaya bata yang menyatu dengan suasana kota, memberikan nuansa eksotis. Harganya pun standar. Kakaknya pernah menyebut tempat ini sebagai permata tersembunyi, sangat cocok untuk para gadis dan ideal untuk tempat berkumpul.

Kafe tersebut dipenuhi oleh para mahasiswi yang sibuk memainkan ponsel, belajar, atau membaca majalah.

"..."

Kazuki duduk di sudut dekat jendela, menatap ke luar.

Pasangan-pasangan yang sedang melihat-lihat etalase toko, yang tampaknya sedang berkencan, tertangkap oleh pandangannya. Kota ini terkenal sebagai lokasi kencan, membuatnya berpikir terlalu jauh hingga ia mengerutkan kening sambil menyentuh dahinya.

Sebenarnya apa arti semua ini?

Kabar baik? Kabar buruk?

Wajahnya berganti-ganti ekspresi saat ia membayangkan berbagai skenario.

Lalu ia menangkap bayangan Himeko terpantul di kaca jendela.

"...Kazuki-san."

"Himeko-chan, kamu... lebih cepat dari perkiraanku..."

Mendengar suaranya, pikiran-pikiran kalutnya lenyap seketika. Ia memasang senyum, berbalik, dan matanya melebar.

Di hadapannya berdiri Himeko, memasang senyum cemas, tampak rapuh, bagaikan anak hilang yang hendak menangis. Segala kegembiraan dan kecemasannya menguap begitu saja.

Sebuah percakapan yang tidak ingin didengar oleh sang kakak ataupun sahabat masa kecilnya—ia secara insting tahu bahwa hal ini berkaitan dengan bayangan gelap yang terkadang ditunjukkan gadis itu di balik senyum cerahnya.

Ini pasti menyangkut sesuatu yang sangat mendalam di dalam batinnya.

Ketegangan melonjak.

Pikirannya langsung jernih.

Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Himeko pernah menyelamatkannya lewat kata-kata gadis itu.

Kini giliran dirinya.

Di tengah ketegangan yang menyelimuti, Kazuki mengkalkulasi senyuman menenangkan di wajahnya lalu berbicara dengan nada ceria.

"Duduklah dulu."

"...Baik."

Mendengar itu, Himeko duduk di seberangnya, menunduk, bergumam, kemungkinan besar sedang merapikan pikirannya. Gadis itu butuh waktu.

Menyadari cangkir café au lait miliknya telah mendingin, ia menghabiskan sisanya, berkata, "Tunggu sebentar," dan berjalan ke konter untuk memesan ulang. Berniat membelikan minuman untuk Himeko, ia sempat mengerutkan kening karena tidak yakin dengan selera gadis itu.

Ia kembali membawa dua cangkir café latte berbusa susu, mirip dengan preferensi sang kakak.

"Maaf membuatmu menunggu. Himeko-chan, café latte tidak masalah, kan?"

"Oh, terima kasih! Nanti aku bayar..."

"Enggak usah, santai saja. Aku kan punya pekerjaan paruh waktu, biarkan aku pamer sedikit."

Mengedipkan mata dengan nada menggoda, Himeko tersenyum tipis, menyesap minumannya, lalu sedikit mengerutkan kening.

"...Ugh."

"Haha, kurang manis? Kakakku selalu melewatkan gula."

"Benarkah?"

"Dia sangat memperhatikan kalori, tahu."

Menambahkan kalimat, "Rasanya hampir tidak ada bedanya," dengan nada menggoda, Himeko meloloskan tawa kecil—senyuman pertamanya hari itu.

Hal itu saja sudah cukup menghangatkan hati Kazuki. Merasa konyol namun tidak mampu menyembunyikan seringainya, ia menyesap lattenya.

Ya, benar sekali.

Ekspresi muram sama sekali tidak cocok untuk gadis itu.

Ia ingin Himeko selalu bersinar dengan cerah.

Ia akan melakukan apa saja demi mewujudkan hal itu.

Menelan kecemasan bersama kepahitan café latte tersebut, Kazuki menatap Himeko dengan ekspresi serius, memilih kata-kata yang membuat gadis itu lebih mudah berbicara.

"Jadi, ada apa hari ini? Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"

"Ya. Uhm..."

"Tidak apa-apa, aku tidak akan cerita ke Hayato-kun atau Nikaido-san. Jadi, ini soal kekhawatiran atau semacamnya?"

"Ini tentang—"

Himeko terdiam, wajahnya menunjukkan keragu-raguan saat ia menurunkan bulu matanya.

Setelah berpikir sejenak, ia mencurahkan isi hatinya.

"—Aku takut."

"Takut?"

"Takut kalau Ibu tiba-tiba... menghilang lagi..."

"Uhm, apa maksudmu...?"

Bingung, ia memiringkan kepalanya.

Merasa pemuda itu tidak menangkap konteksnya, Himeko bertanya dengan hati-hati.

"Kazuki-san, apa Onii pernah cerita kenapa kami pindah ke sini?"

"Tidak, tidak juga."

"...Ugh, Onii."

Himeko sedikit merengut kepada sang kakak, menghela napas frustrasi.

Kazuki sebelumnya tidak terlalu memikirkan alasan di balik kepindahan Hayato dan Himeko dari pedesaan. Pindah rumah bukanlah hal yang langka.

Namun ekspresi ragu-ragu Himeko mengisyaratkan adanya alasan yang serius. Ia langsung menegakkan posisinya secara insting.

Wajah Himeko mengernyit, tangannya menumpu di dada seolah menahan rasa sakit, dan ia berbicara dengan terbata-bata.

"Ibu pingsan tepat di hadapanku."

"...Apa?"

Ekspresi Kazuki membeku.

Menurunkan bulu matanya, suara Himeko yang bergetar mengakui masa lalu itu bagaikan sebuah dosa.

"Beliau sedang memasak di dapur, dan tiba-tiba, bruk, terjatuh dengan suara keras. Sebisa mungkin aku memanggilnya, tapi beliau tidak merespons... Lima tahun lalu, aku masih anak-anak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Musim panas ini, pikiranku mendadak kosong, dan aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa..."

"Himeko-chan..."

Situasi itu jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.

Ia sempat mengira perpindahan sekolah di tengah semester itu hal yang biasa, namun penyakit seorang ibu menjelaskan tingkat urgensi tersebut.

Dadanya terasa sesak. Ini jelas adalah sisi rentan Himeko, dan ia bertanya-tanya apakah dirinya pantas menjadi orang yang mendengarkan semua ini.

Bagaimana jika anggota keluarga terdekat pingsan di hadapannya dan ia membeku karena panik...?

Himeko bergumam, membawa serta penyesalan dan ketidakberdayaan.

"Aku sama sekali tidak tumbuh dewasa..."

"...Ah."

"Bahkan sekarang, aku terjebak dalam kekhawatiran seperti ini, padahal Ibu sudah keluar dari rumah sakit, dan aku malah membuat suasana rumah menjadi tegang..."

Kata-kata itu membuatnya sadar.

Tanda-tanda halus dari Himeko yang berusaha keras bersikap dewasa.

Jika semua itu berakar dari kejadian tersebut, maka arti dari segala usahanya yang menggemaskan itu menjadi berbeda.

Sudah pasti.

Himeko telah berjuang selama ini.

Melawan dirinya di masa lalu yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Melawan rasa takut dan cemas akan terulangnya kejadian itu.

Namun ia tetap menghadapinya, berjuang mati-matian.

—Berbeda dengan Kazuki yang memilih melarikan diri.

Gadis itu benar-benar sosok Himeko seutuhnya.

Itulah sebabnya ia begitu bersinar dengan terang.

Itulah sebabnya ia begitu terpikat padanya.

Namun ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

Wajah Kazuki mengernyit, tinjunya terkepal erat, bibirnya terkatup rapat.

Ia bisa saja sekadar mengiyakan atau melontarkan kata-kata manis yang kosong, seperti yang biasa ia lakukan.

Namun itu hanya akan menjadi solusi sementara. Ia tidak dapat menemukan kalimat yang pas.

Ia merasa terpukul pada dirinya sendiri. Rasanya seolah ia diingatkan bahwa hubungan yang ia miliki selama ini begitu dangkal.

Melihat ekspresi rumit pemuda itu, Himeko meloloskan "Ah" dan menciut, memasang ekspresi penuh penyesalan.

"Membicarakan hal seperti ini secara tiba-tiba... Ini topik yang berat, ya?"

"...!"

Suara kecil gadis itu terdengar seperti sebuah deklarasi untuk mengakhiri pembicaraan, atau sebuah penolakan.

Kazuki merasakan bahwa ini adalah titik balik.

Dalam sepersekian detik, ia memikirkan semuanya secara matang.

Kenapa gadis itu mencurahkannya kepada dirinya, bukan kepada Hayato, Haruki, atau Saki?

Mereka terlalu dekat untuk membagikan hal semacam ini.

Lalu, bagaimana dengan dirinya?

Hanya seorang teman sekelas kakak laki-lakinya, yang baru dikenal selama empat bulan.

Sebuah hubungan yang rapuh, membuat dadanya terasa nyeri, namun justru karena itulah Himeko membutuhkannya.

Sama seperti saat ia berbicara dengan Minamo, bukan kepada kakaknya.

Sesuatu yang bisa diceritakan kepada seorang teman yang tidak terlalu dekat—Kazuki berdehem, memaksa dirinya memasang nada ceria seolah itu bukanlah masalah besar.

"Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bersikap dewasa."

"...Kazuki-san?"

Ucapannya, yang seolah menyangkal usaha keras gadis itu, memancing tatapan penuh kecurigaan dan kritik. Dadanya terasa perih, namun ia tetap mempertahankan senyum biasanya dan melanjutkan.

"Kamu terlihat seperti sedang memaksakan diri terlalu keras, Himeko-chan."

"Itu—! Tapi..."

"Kamu berusaha terlalu keras sampai hatimu kelelahan. Jujurlah pada diri sendiri dan bersandarlah pada Ibumu. Rasa takut itu hanya bisa diredakan oleh dirinya."

"...Apa cara itu benar-benar akan berhasil?"

"Entahlah."

"'Entahlah'!? Jawabannya kayak melepas tanggung jawab ke orang lain aja!"

"Haha, maaf, maaf. Tapi terkadang masalah-masalah seperti ini bisa selesai dengan cara sederhana. Ingat waktu Isami-san tidak menceritakan soal pengakuan senior klub basket kepada Iori-kun, lalu mereka bertengkar?"

Mengingat kejadian itu, Himeko terkesiap, matanya membelalak lebar.

"Kalau dipikir-pikir..."

"Lebih baik bertindak daripada terus khawatir. Peluk saja Ibumu begitu kamu sampai di rumah."

"Ya ampun, kamu membuatnya terdengar begitu gampang!"

Himeko merengut memprotes.

Namun wajahnya sudah tidak lagi menyisakan kegelapan.

Kazuki mendesak lebih jauh.

"Kalau cara itu tidak berhasil, aku akan mentraktirmu prasmanan kue."

"Prasmanan kue! Asyik, ayo kita pergi meskipun cara itu berhasil. Tapi traktirannya jangan—ajak semuanya sekalian!"

"Ide bagus."

Himeko menghabiskan sisa café latte-nya, meringis "Pahit!", lalu berdiri dengan ekspresi lega.

"Terima kasih, Kazuki-san. Mengobrol tadi membuat kepalaku jauh lebih ringan!"

"Sama-sama. Aku cuma memberikan dorongan gegabah."

"Jangan ngomong mirip Onii atau Haru-chan begitu!"

"Haha, mungkin kebiasaan mereka menular padaku."

"Kazuki-san!"

Himeko merengut, lalu tertegun seolah menyadari sesuatu, dan berbalik kembali.

Ragu-ragu namun merona tipis, ia berbicara.

"Uhm, Kazuki-san. Apa aku boleh mengajakmu mengobrol lagi nanti?"

"Tentu saja."

"Soal... hubunganku dengan seseorang, kurasa? Aku sudah memikirkannya..."

"...Oh?"

Sambil merona, Himeko memberikan isyarat bahwa ia ingin berkonsultasi mengenai seseorang yang spesial.

Ia hampir bertanya, 'Orang yang kamu sukai itu?', namun menelannya mentah-mentah, dan hanya sanggup mengangguk kecil.




Jujur saja, ia sangat ingin tahu siapa orangnya.

Setidaknya, ia ingin tahu apakah itu laki-laki atau perempuan.

Meskipun itu bukan orang yang ia maksud, mendengar seorang gadis yang memantik cinta pertamanya menyebutkan seseorang yang spesial pasti akan membuat siapa pun merasa penasaran.

Namun sebagai seorang teman, sebagai teman kakaknya, tindakan itu sudah melewati batas.

Kuku-kuku jarinya menancap ke kulit, hampir merobek dagingnya, saat ia mengepalkan tangan erat-erat, menelan emosi gelap dan bergejolak yang mengamuk di dalam dadanya.

Untungnya, senyuman palsu yang sudah biasa ia pasang tetap bertahan dengan sempurna. Sebuah ironi.

"Untuk sekarang, cukup sampai di sini ya! Sampai jumpa!"

"...Hati-hati di jalan."

Himeko beranjak pergi.

Kazuki menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan, lalu melepaskan helaan napas panjang seorang diri.

"...Apakah tadi itu sudah benar?"

Ia bergumam, diliputi keraguan.

Jika dipikirkan kembali, kata-kata yang ia ucapkan kepada Himeko terasa begitu ringan.

Namun ia menyadari sesuatu.

Himeko sedang berusaha mengatasi traumanya dengan cara beranjak dewasa.

Hal itu tentu tidak akan mudah.

Maka dari itu, gadis tersebut membutuhkannya sebagai seorang teman—yang tidak terlalu dekat—untuk meluapkan isi hati atau berkonsultasi. Kakak dan sahabat masa kecilnya, yang sudah mengetahui berbagai masalah mereka, berada terlalu dekat, sementara jarak yang ia miliki terasa pas.

Perasaan awalnya terhadap Himeko adalah keinginan untuk mendukung gadis itu. Hal tersebut tidak pernah berubah. Ia baik-baik saja dengan peran ini.

Namun rasa cinta yang kadung tumbuh terhadap Himeko justru akan menjadi penghalang.

—Karena seorang kekasih, seperti halnya kakak atau sahabat, akan berada pada jarak yang terlalu dekat.

Dan ia tahu betul betapa merepotkannya perasaan cinta bertepuk sebelah tangan.

Maka Kazuki dengan tenang menyegel hatinya dan menguncinya rapat-rapat.

Ia sudah terbiasa mengenakan topeng untuk menjaga penampilannya di depan orang lain.

Sambil meremas dadanya, ia mengucapkan kalimat terkutuk itu untuk mengikat hatinya.

"...Aku sudah bilang ingin menjadi teman yang baik, kan?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close