NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 7 Prolog

Prolog


Waktu itu adalah masa ketika daun-daun musim gugur mulai berguguran.

Dari kota, kamu bisa melihat pegunungan, dan sebuah sungai besar membelah kota kecil tersebut.

Sebagian besar hal bisa ditemukan di pusat kota, sekolah dipenuhi oleh teman-teman, dan di rumah, kedua orang tuanya bekerja.

Saat akhir pekan, keluarganya dengan ceria pergi menonton film atau berbelanja. Selama liburan panjang, mereka akan bepergian.

Begitulah kehidupan sehari-hari Minamo yang biasa dan lumrah, sampai semuanya tiba-tiba runtuh pada suatu hari.

"Hei, apa maksud dari semua ini?!"

"Ini persis seperti yang terlihat, tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan! Aku sudah membicarakan hal ini padamu sejak lama!"

"Aku sama sekali tidak diberitahu tentang ini! Kamu selalu saja—"

"Dan kamu juga melakukan hal yang sama sejak dulu—"

Ayah dan ibu saling melontarkan kata-kata amarah.

Tatapan dingin menyertai kata-kata tak terduga itu.

Di tengah atmosfer yang menegang, saat mereka berdua bergegas keluar rumah satu demi satu, Minamo hanya bisa berdiri terpaku sambil menonton tanpa daya.

Sensasi dunia yang menjadi gelap dan tanah yang runtuh di bawah kakinya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.

Sejak hari itu, orang tuanya berhenti pulang bersama.

Bukan berarti Minamo tidak mencoba melakukan apa pun.

Namun, ia tidak dapat menemukan kata-kata yang bisa sampai ke hati ayah atau ibunya.

Waktu berlalu dengan rasa hampa, membuat hatinya semakin kosong.

"Minamo, kamu tidak boleh tinggal di tempat seperti ini! Ayo, kita pergi bersama!"

Kakeknyalah yang bergegas datang setelah mendengar situasi tersebut, menarik Minamo keluar dari dunia keputusasaan yang gelap gulita itu.

Rumah kakeknya, yang telah ia kunjungi tak terhitung berapa kali dan sangat ia kenal.

Pintu geser dan tirai tua yang sedikit koyak.

Senyum keriput kakeknya yang terkekeh pelan.

Hal-hal itu, yang tidak berubah sejak masa kecilnya, perlahan-lahan mencairkan hati Minamo yang telah membeku.

Semua itu membuatnya merasa kalau tidak apa-apa untuk berada di sini.

Hidup bersama sang kakek di kota yang asing adalah sebuah proses coba-coba yang dipenuhi kebingungan.

Namun, saat ia berusaha beradaptasi dengan kehidupan baru, terburu-buru pindah sekolah, dan mengubah pilihan sekolahnya, kesibukan itu menghanyutkan rasa sedihnya.

Tepat ketika ia berpikir bahwa seiring waktu, ia akan perlahan kembali ke kehidupan normal, sang kakek pingsan dan harus dirawat di rumah sakit.

"Maafkan aku, aku akan mencoba pulang secepat yang kubisa..."

Ia mengingat dengan jelas sang kakek mengatakan itu dengan ekspresi penuh penyesalan di kamar rumah sakit yang ia datangi dengan terburu-buru. Serta bagaimana ia hanya bisa berdiri di sana tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kenapa keluarga yang sangat ia cintai terus menjauh darinya?

Jika kata-kata yang pernah diucapkan ayahnya melintas di benaknya, ia merasa seolah dirinyalah penyebab dari kesialan ini, membuatnya berpikir mungkin akan lebih baik jika ia tidak pernah ada, lalu berputar dalam lingkaran pikiran yang gelap.

Sejak saat itu, Minamo mengurung diri dalam cangkangnya.

Ia ingat terus tinggal di rumah, selalu memeluk kedua lututnya.

Namun setelah dua atau tiga hari, sesuatu berubah.

Perutnya berbunyi dengan kencang. Perutnya benar-benar berbunyi.

Itu wajar saja, karena ia masih hidup. Terlepas dari perasaannya, tubuhnya berteriak meminta makanan. Melawan insting itu adalah hal yang sangat sulit.

Mengingat wajah sedih sang kakek saat melihat Minamo yang mengurung diri, keinginan kuat untuk tidak membuat kakek menunjukkan ekspresi seperti itu melonjak di dadanya.

Dan rasanya agak konyol karena perutnya bisa keroncongan bahkan di saat seperti ini.

Dengan kekuatan yang kembali ke matanya, Minamo perlahan berjalan menuju dapur, mencari sesuatu untuk dimakan.

"...Ah."

Saat melakukannya, beberapa sayuran simpanan menggelinding keluar, dan matanya melebar.

Kapan sayuran ini dibeli? Tunas-tunas besar menjulang sampai ke lututnya, bahkan menumbuhkan daun. Ia mengerjap melihat pemandangan kentang yang tidak biasa itu.

Bagian rasional di dalam pikirannya mengerti bahwa seiring berjalannya waktu, mereka memang akan berakhir seperti ini.

Namun bentuk tak terduga ini juga merupakan jati diri sejati mereka sebagai tanaman, yang membuatnya sadar bahwa sayuran-sayuran ini sedang hidup. Dan seketika itu pula, ia membayangkan kisah hidup mereka.

Bertunas dengan rajin di dalam tanah, mendambakan permukaan, berjemur di bawah sinar matahari, disiram oleh hujan, bersaing dengan yang lain di ladang untuk menghasilkan buah.

Kemudian, di luar kehendak mereka, mereka dipanen, dipajang di toko-toko, dibawa ke rumah ini, merasa antusias hidangan apa yang akan mereka jadikan, hanya untuk dilupakan dan merajuk, namun tetap berjuang untuk bertunas. Kisah hidup semacam itu.

"...Hehe, haha, hahahaha!"

Sesuatu bergemuruh di dalam dadanya, dan ia tertawa.

Ya, mereka hidup. Sayuran-sayuran ini juga hidup.

Lahir di berbagai tempat, tiba di sini melalui jalan yang berbeda, namun tetap bertunas tanpa membusuk.

Seketika itu, ia merasa berempati dengan sayuran-sayuran ini dan tidak sanggup untuk membuangnya.

Tetapi mereka sudah tidak bisa dimakan lagi.

Kemudian, sebuah ide terlintas di benaknya.

"Apa yang akan terjadi jika aku menanamnya...?"

Itu adalah rasa penasaran yang kecil.

Mungkin ia juga ingin sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.

Pada saat itu, Minamo memutuskan bahwa ia akan mencoba menanam sayuran di sekolah menengah.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close