NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Chapter 2

Bab 2: Bukannya Aku Memang Sendirian, Tahu?


Suasana kantin sangat ramai dan bising. para siswa berlalu-lalang dengan nampan di tangan.

 

Saat istirahat makan siang, Masachika datang ke kantin bersama dua temannya. Melihat menu yang tertempel di pintu masuk, dia mempertimbangkan apa yang akan dipesan.

 

"Oh, ada hidangan mi baru."

 

Yang menarik perhatian Masachika adalah Mahbo Ramen yang diberi label produk baru.

 

Kombinasi menaruh Mahbo Tofu di atas ramen itu benar-benar pas dengan selera Masachika yang sangat menyukai ramen dan makanan pedas.

 

"Mahbo Ramen? Rasanya seperti masakan Tionghoa ditumpuk dengan masakan Tionghoa lainnya, ya."

 

Yang mengatakan itu sambil tertawa merasa tertarik adalah Maruyama Takeshi. Seorang pemuda berkepala botak yang sedikit lebih pendek dari Masachika, dan bagi Masachika dia adalah teman sejak masa SMP.

 

"Takeshi, secara ketat ramen itu agak berbeda dari masakan Tionghoa, lho?"

 

"Eh, begitu ya?"

 

"Yup, lagipula nama ramen itu sendiri lahir di Jepang."

 

Yang memamerkan pengetahuan umum tersebut adalah Kiyomiya Hikaru. Sama seperti Takeshi, dia adalah teman Masachika sejak masa SMP, seorang pemuda tampan androgini berparas halus dengan rambut dan mata yang agak terang cenderung kecokelatan.

 

Ketampanannya yang masuk dalam lima besar di sekolah itu membuat para siswi yang masuk ke kantin meliriknya dengan tatapan berbinar-binar.

 

"Kalian berdua sudah tentukan?"

 

"Yo."

 

"Ya."

 

Ketiganya saling mengangguk dan masuk ke kantin, meletakkan saputangan atau tisu saku untuk mengamankan tempat duduk yang kosong. Masing-masing lalu pergi mengambil makanan.

 

Setelah amankan makanan masing-masing, mereka kembali ke tempat

duduk dan mulai makan. Tentu saja, yang menarik perhatian adalah Mahbo Ramen yang dibawa Masachika.

 

"Uwooh... Lihat aslinya ternyata lebih merah dari yang kubayangkan."

 

"Apa itu tidak pedas?"

 

"Nggak, sama sekali? Malah pedasnya agak kurang. Tapi rasanya enak, sih."

 

Takeshi dan Hikaru yang duduk di hadapan Masachika memperlihatkan ekspresi terkejut melihat Masachika menyeruput Mahbo Ramen, tetapi Masachika sendiri memasang wajah santai.

 

"Huum, coba kasih aku cicip satu gigitan."

 

"Ah, aku juga."

 

"Boleh saja."

 

"Makasih ya... Eh, ini mah pedasnya biasa aja kali!?"

 

"Ugh, ini yang pedasnya belakangan…."

 

Kedua orang yang tertarik itu mengulurkan sumpit dan menyeruput mi satu gigitan, tetapi seketika meringis dan mengulurkan tangan ke gelas air. Kepada mereka berdua, Masachika mengatakannya seolah menasihati.

 

"Oi oi, kalau uapnya belum menyengat mata itu belum bisa disebut pedas, tahu?"

 

"Standarmu itu aneh."

 

"Beneran deh."

 

"Lagipula, ramen yang beneran pedas itu bikin bibir tersiksa sampai

tidak bisa diseruput dengan benar."

 

"Itu sih tersiksa dalam artian menyedihkan."

 

"Bibir tersiksa itu..."

 

"Tentu saja perut juga bakal tersiksa, kan?"

 

"Jangan makan sesuatu yang sudah pasti bikin sakit perut dong."

 

Tepat saat Takeshi melayangkan protes, pintu masuk kantin mendadak riuh. Masachika dan yang lainnya secara refleks mengarahkan pandangan ke sana, tepat saat tiga orang gadis baru saja masuk ke kantin.

 

"Oh, anggota OSIS. Ketua dan wakil ketua... tidak ada, ya. Walau begitu, kalau tiga orang berkumpul begitu rasanya keren banget, ya."

 

Melihat sosok tersebut, Takeshi mengeluarkan suara kagum. Reaksi serupa juga terjadi di berbagai sudut kantin. Begitu ketiganya lewat, para siswa laki-laki menjadi heboh, dan bahkan para siswi pun mengarahkan pandangan penuh kagum.

 

Sudah seperti kondisi idola, tetapi kenyataannya ketiga gadis itu memang memiliki penampilan yang jauh lebih rupawan daripada idola biasa di luar sana.

"Beneran, mereka bersaudara yang cantik banget, ya. Kujou-san itu."

 

Melihat Alisa yang paling mencolok di antara ketiganya dengan rambut

perak tersebut, serta gadis yang sedikit lebih kecil dari Alisa di depannya, Hikaru mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.

 

Ya, gadis yang berada di depan Alisa adalah sekretaris OSIS kelas dua, bernama Maria Mikhailovna Kujou. Memiliki nama panggilan Masha, dia adalah kakak kandung yang setahun lebih tua dari Alisa.

 

Namun, warna dan atmosfer kedua bersaudara ini sama sekali berbeda.

 

Berbeda dengan Alisa yang memiliki kulit putih transparan, Maria memang memiliki kulit putih, tetapi itu paling-paling hanya sebatas orang Jepang yang berkulit sangat putih.

 

Rambut bergelombang sebahunya berwarna cokelat terang, dan matanya yang lembut serta sedikit sayu juga berwarna cokelat terang.

 

Penampilannya sendiri, berlawanan dengan Alisa, jauh lebih berwajah imut khas orang Jepang.

 

Jika disandingkan dengan Alisa yang tinggi jenjang dan berpenampilan dewasa, sekilas akan sulit membedakan siapa yang kakak, tetapi dari

leher ke bawah dia menunjukkan wibawa seorang kakak dengan jelas.

 

Secara spesifik, dadanya besar. Pinggulnya juga besar. Alisa pun sudah memiliki bentuk tubuh yang jauh dari standar orang Jepang, tetapi dalam hal kewanitaan, Maria berada di atasnya.

Tubuhnya yang berisi itu, berpadu dengan penampilannya yang lembut dan atmosfernya yang anggun, memancarkan naluri keibuan yang tidak terlihat seperti anak SMA kelas dua.

 

Faktanya, dia dijuluki oleh sebagian siswa sebagai Bunda Maria

(Madonna) sekolah.

 

"Enak ya, Kujou-senpai. Ingin rasanya bisa akrab."

 

"Tapi, Kujou-senpai katanya sudah punya pacar, lho."

 

"Beneran begitu, ya! Keseel, siapa sih cowok beruntung itu!"

 

Takeshi yang tadinya memasang ekspresi senyum-senyum tidak jelas, mendadak berubah menjadi wajah masam dan menggertakkan gigi mendengar kata-kata Hikaru. Melihat hal itu, Masachika memasang wajah heran.

 

"Eh? Siapa katanya... Takeshi pun tidak tahu?"

 

"Cara bicaramu yang bilang 'Takeshi pun' itu agak mengganggu ya... tapi aku cuma tahu katanya orang Rusia."

 

"Huum."

 

"Apa pacaran jarak jauh, ya? Soalnya aku pernah dengar cerita kalau Kujou-senpai sering bolak-balik Jepang dan Rusia."

 

Seperti yang dikatakan Hikaru, Kujou bersaudara memang sering bolak-balik Jepang dan Rusia karena urusan pekerjaan ayah mereka.

 

Dalam kasus Alisa, dia menghabiskan masa kecilnya di Rusia sampai usia lima tahun, lalu pindah ke Jepang saat kelas satu SD.

 

Kemudian saat kelas empat SD dia kembali lagi ke Rusia, dan baru kembali ke Jepang saat kelas tiga SMP.

 

"Artinya, hubungan jarak jauh itu sudah bertahan lebih dari setahun, ya... Ternyata memang tidak mungkin, ya."

 

"Yah, soalnya cowok-cowok yang menyatakan cinta sejauh ini semuanya ditolak dengan alasan sudah punya pacar, sih..."

 

"Lagipula tanpa alasan itu pun Takeshi mana mungkin bisa."

 

"Bising! Jangan ngelunjak cuma karena kamu akrab sama Putri Alya, ya!?"

 

Mendengar Masachika yang menyampaikan kenyataan pahit tanpa ampun, Takeshi berteriak dengan napas memburu.

 

"Nng~ Biarpun bilang akrab, aku cuma sering dibikin heran sama dia, kok."

 

"Tetap saja, itu jauh lebih mending daripada diabaikan. Putri Alya itu pada dasarnya tidak pernah bicara sama siapa pun. Kalaupun bicara, paling cuma urusan formalitas dan tidak pernah mengobrol santai."

"Kalau itu sih, soalnya kita sudah setahun lebih duduk berdampingan..."

 

"Tapi tetap saja. Lagipula, yang memanggil Putri Alya dengan nama panggilan di depan orangnya langsung kan cuma kamu doang."

 

"Yah, begitulah..."

 

"Kuu~ iri banget dah beneran. Diizinkan memanggil putri yang menyendiri itu dengan nama panggilan kesayangan."

 

"Kalau berpikir begitu, coba saja beraksi secara aktif. Kan kalian satu kelas."

 

Saat Masachika mengatakan itu, Takeshi mengulas senyum kecut dan mengibaskan tangannya di depan wajah.

 

"Nggak ah, nggak mungkin. Dia terlalu manusia sempurna sampai sulit didekati."

 

"Tapi bukan berarti kamu boleh memotret diam-diam, ya."

 

"Nggak gitu, kalau secantik itu kan wajar saja kalau kepengin difoto, biasanya."

 

Atas teguran Masachika yang bermata sipit, Takeshi membela diri tanpa rasa bersalah sedikit pun.

 

Ya, tidak perlu disembunyikan lagi, Takeshi adalah salah satu dari kelompok tiga orang yang ponselnya disita karena memotret Alisa secara diam-diam tadi pagi. Malah, dia adalah dalang utamanya.

 

"Beneran deh, bikin seneng mata banget. Rasanya bisa kulihatin terus. Pakai wajah itu buat lauk, makan nasi putih lima piring pun sanggup. Kalau tambah Kujou-senpai juga, sepuluh piring sih pasti lepas."

 

"Takeshi, itu sih menjijikkan."

 

"Ya, jujur saja aku merinding."

 

Melihat Takeshi yang menatap ke arah Alisa dan yang lainnya dengan ekspresi sangat cengengesan, kedua sahabatnya pun merasa benar-benar ilfil, tetapi Takeshi justru memasang wajah seolah bilang kalian berdualah yang aneh.

 

"Kenapa coba, kalian berdua juga mikir gitu, kan? Gadis secantik itu tidak pernah kulihat di tempat lain, tahu."

 

"Yah, aku mengakui kalau dia cantik, sih... tapi kamu ini terlalu mengagungkannya. Alya itu biarpun begitu, kalau diajak bicara ternyata orangnya lumayan menyenangkan, lho? ...Dalam berbagai arti."

 

"Aah~ keluar deh. Pamer 'aku mah tahu orangnya' nih. Pamer, ya? Lagi pamer kan?"

 

"Bukan, tahu."

 

"Orang yang menyenangkan, ya... Bisa memanggil Kujou-san seperti itu, Masachika hebat juga, ya. Dalam artian tertentu."

 

"Maksudnya apa itu, Hikaru? Kamu mau bilang aku ini tidak tahu diri?

Hmm?"

 

"Bukan begitu... Cuma kagum saja, tiap hari ditegur sampai seperti itu, kok bisa-bisanya memanggil orangnya dengan santai begitu."

 

"Aah..."

 

Mendengar kata-kata Hikaru, Masachika mengangguk samar sambil memalingkan pandangannya ke samping.

 

Seberapa sering pun Masachika diomeli oleh Alisa, dia tetap santai bukan hanya karena Alisa selalu mengutarakan argumen yang benar, tapi lebih dari itu, kata-kata yang terkadang dibisikkannya dalam bahasa Rusia terlalu menggemaskan.

 

Lagipula, kalau Alisa benar-benar membenci seseorang, dia tidak akan merepotkan diri menegurnya dan pasti memilih mengabaikannya.

 

Selama dia tidak melakukan itu, kemungkinan besar Alisa sendiri bagaimanapun juga menikmati interaksinya dengan Masachika.

 

Kalau berpikir begitu, diomeli pun tidak jadi masalah. Meski tentu saja, dia tidak berniat membeberkan urusan belakang ini kepada siapa pun.

 

"Coba saja bicara padanya secara biasa? Siapa tahu percakapannya bisa berlanjut?"

 

"Bicara sih begitu... tapi melihat kejadian tahun lalu rasanya bagaimana ya."

 

Mendengar ucapan Takeshi, Masachika mengangguk memaklumi.

 

Tahun lalu, murid pindahan berparas jelita yang mendadak muncul bagaikan komet.

 

Pada awalnya, Alisa menjadi pusat perhatian di seluruh sekolah.

 

Lagipula di SMA Seirei, murid pindahan sendiri merupakan hal yang sangat langka. Alasannya sederhana. Karena tingkat kesulitan ujian masuk untuk murid pindahan luar biasa tinggi.

 

Padahal sekolah ini sendiri sudah merupakan salah satu sekolah terfavorit di Jepang, ujian masuk murid pindahannya ditetapkan beberapa tingkat lebih tinggi lagi. Bahkan untuk murid sekolah ini saja, yang bisa mencapai batas nilai kelulusan paling-paling cuma sepuluh persen.

 

Dia menembus ujian pindahan berkelas super sulit itu, dan bahkan meraih peringkat pertama seangkatan pada ujian tengah semester di semester pertama. Ditambah lagi dengan penampilan seperti itu. Mana mungkin tidak menarik perhatian.

 

Hanya saja, biarpun banyak orang baik laki-laki maupun perempuan berusaha menjalin hubungan dengan Alisa, Alisa selalu mempertahankan sikap menjaga jarak dan tidak berniat menjadi akrab dengan siapa pun.

 

Dan sejak kapan entah, Alisa mulai dijuluki sebagai Putri yang Menyendiri.

 

"Kalau memang mau mencoba... mungkin Suou-san, ya. Secara eliminasi."

 

Takeshi mengatakannya sambil melihat ke arah seorang gadis yang sedang mengantre pesanan.

 

Rambut hitam panjang berkilau hingga ke pinggang, dan bentuk tubuh proporsional yang meski bertubuh mungil tetap memancarkan kesan kewanitaan yang pas. Sekilas, dia tidak memiliki kemewahan sebesar Alisa atau Maria.

 

Namun, penampilannya yang memancarkan keanggunan di balik keimutannya itu sangat tertata rapi, dan dari jauh pun posturnya yang tegak lurus serta gerak-geriknya yang anggun memperlihatkan tata krama yang baik dari latar belakang gadis tersebut.

 

Dia adalah siswi kelas satu yang menjabat sebagai humas OSIS, bernama Suou Yuki. Berasal dari keluarga mantan bangsawan yang turun-temurun menjadi diplomat, dia adalah putri sulung dari keluarga Suou, seorang putri bangsawan yang murni.

Berkat kemampuan sosialnya yang tinggi dan tata perilakunya yang halus, jika Alisa dijuluki Putri yang Menyendiri oleh para siswa, maka dia dijuluki Putri Pingitan, dan disanjung berdampingan sebagai Dua Putri Cantik seangkatan.

 

"Yah, memang sama-sama bunga di puncak gunung sih, tapi karena lebih mudah diajak bicara, dibanding Putri Alya rasanya masih ada peluang, kan."

 

Saat Takeshi mengangguk-angguk sendiri, Hikaru memiringkan

kepalanya dengan raut ragu.

 

"Ada peluang, ya? Suou-san, dalam hal menolak penembakan cowok katanya lebih banyak dari Kujou-san, lho?"

 

"Nu, gu... memang begitu, ya. Apa dia tidak tertarik sama percintaan, ya? Atau jangan-jangan seperti putri bangsawan pada umumnya dia sebenarnya sudah punya tunangan? Masachika, gimana soal itu?"

 

"Kenapa tanya ke aku."

 

"Malah selain kamu, mau tanya ke siapa lagi coba. Soalnya kamu kan, t-e-m-a-n-c-e-k-a-t-n-y-a, kan?"

 

Mendengar Takeshi yang menekankan tiap suku kata dengan mata penuh kecemburuan, Masachika menghela napas.

 

"Sejauh yang kutahu, dia tidak punya tunangan. Kalau tertarik sama percintaan atau tidak, aku tidak tahu."

"Kalau begitu tanyakan dong ke orangnya apa dia tertarik atau tidak."

 

"Nggak mau."

 

"Kenapa coba! Bantulah, kita kan teman?"

 

"Teman sejati tidak akan menuntut sesuatu dengan menjadikan persahabatan sebagai perisai."

 

"Ah, soal itu aku setuju sama Masachika."

 

"Guh-haah!"

 

Saat Takeshi tumbang akibat tembakan silang dari depan dan samping, Masachika secara implisit melihat ke arah area pemesanan.

 

Lalu, tepat saat itu tiga orang anggota OSIS baru saja mulai mencari tempat duduk dengan membawa makanan. Sepertinya tidak ada tempat yang cukup untuk diduduki tiga orang.

 

Namun di sana, di salah satu sudut kantin seseorang melambaikan tangan, dan Maria setelah membicarakan sesuatu dengan dua orang sisanya, berjalan menuju ke arah sana.

 

Rupanya, dia dipanggil oleh temannya yang anak kelas dua.

 

Kemudian, dua orang yang tersisa melihat ke sekeliling... dan pandangan Yuki berpasangan pas dengan pandangan Masachika.

Mata itu mengenali wajah Masachika, lalu bergeser secara halus ke samping. Di sana, di ujung meja, ada tempat duduk yang pas kosong untuk dua orang.

 

(Ah, mereka pasti datang ke sini.)

 

Tepat setelah Masachika mendapat firasat itu, Yuki yang menyapa Alisa benar-benar berjalan lurus ke arah Masachika. Tak lama kemudian Takeshi juga menyadarinya dan berburu-buru membetulkan posisi duduknya.




"Masachika-kun. Apa boleh kami memakai kursi di sini?"

 

Saat Yuki mengatakan hal itu, kerutan mendadak muncul di antara kedua alis Alisa yang mengikutinya dari belakang. Namun, karena pandangan ketiga orang itu termasuk Masachika terfokus pada Yuki, tidak ada satu pun yang menyadari perubahan ekspresi tersebut.

 

"Ah, yah boleh saja, sih. Kalian berdua juga tidak apa-apa, kan?"

 

"Ah, o-oh."

 

"Ya, tidak apa-apa kok."

 

"Terima kasih banyak."

 

Sambil memajang senyum manis yang cantik dan mengucapkan terima kasih kepada ketiganya, Yuki berputar mengelilingi meja lalu duduk di samping Masachika. Selang satu ketukan, Alisa juga duduk di sebelah Takeshi, tepat di depan kanan Masachika.

 

"Ah, ternyata Masachika-kun juga memesan hal yang sama, ya."

 

Sesuai kata-katanya, di nampan Yuki terdapat mangkuk Mahbo Ramen yang sama seperti milik Masachika.

 

Yuki yang berpenampilan bak putri bangsawan dan makanan yang terasa sangat merakyat ini benar-benar terlihat tidak sepadan.

 

"Suou-san pun... makan makanan seperti itu juga, ya."

 

Kepada Takeshi yang mengatakannya dengan raut agak tegang, Yuki mengeluarkan ikat rambut dari saku, lalu mengikat rambutnya di belakang leher sambil mengulas senyum kecut tipis.

 

"Tidak perlu seformal itu, lho? Kita kan bukan orang asing, lagipula kita seangkatan."

 

"Nggak, yah... iya."

 

"Lagipula, aku juga makan ramen kok? Di rumah memang tidak pernah disajikan, tapi saat hari libur aku sering pergi keluar untuk makan ramen."

 

"He-heee~ tak disangka ya."

 

Atas pernyataan merakyat dari Yuki yang di sekolah diperlakukan seperti teladan para gadis anggun, Takeshi dan Hikaru memasang wajah yang benar-benar tidak menyangka dari dasar hati mereka. Sambil makin memperdalam senyum kecutnya atas reaksi itu, Yuki mengucapkan selamat makan dengan sopan, lalu menyeruput ramen dengan anggun. Di sampingnya, Masachika melakukan kontak mata dengan Takeshi.

 

Kamu tegang banget, sih

 

Bising, jangan samakan aku denganmu

 

Ingin makin akrab, kan? Tegang gara-gara hal segini mau bagaimana lagi coba

 

Maaf ya, dia ternyata tetap bunga di puncak gunung buat aku

 

Nyerahnya cepet amat!

 

Saat Masachika dan Takeshi melakukan percakapan seperti itu lewat kontak mata, Yuki yang sudah menikmati ramen secukupnya menghembuskan napas lega.

 

"Enak ya. Walau menurutku pedasnya boleh ditambah sedikit lagi."

 

"Kan. Rasanya ingin menambah minyak cabai lagi."

 

"Di sini memang ada garam dan kecap asin, tapi minyak cabai tidak ada, ya. Mungkin tidak ada salahnya mempertimbangkan hal ini untuk agenda rapat OSIS berikutnya."

 

"Nggak gitu, itu mah menyampuradukkan urusan pribadi sama umum banget oi."

 

Sambil terkekeh pelan atas teguran Masachika, Yuki menuturkan, "Cuma bercanda kok."

 

Atas percakapan akrab mereka berdua, kerutan kedua muncul di antara alis Alisa yang sedang mengunyah Paket A dengan diam-diam, namun seperti sebelumnya Masachika dan yang lainnya tidak ada yang menyadarinya.

 

Sambil makin memperdalam kerutan di antara alisnya atas hal itu, Alisa memejamkan mata sejenak untuk membetulkan ekspresinya, lalu melayangkan pertanyaan dengan nada bicara santai.

 

"Apakah kalian berdua akrab?"

 

Atas pertanyaan Alisa itu, Yuki menghadap kembali ke depan, lalu menjawab sambil tersenyum manis.

 

"Kami ini teman masa kecil."

 

"Teman masa kecil..."

 

"Ya, sejak TK kami selalu berada di sekolah yang sama, lho? Walau sayangnya, kami tidak pernah satu kelas sekalipun."

 

"Be, gitu ya."

 

Terhadap cara mengangguk Alisa yang terkesan mengambang antara paham atau tidak, kali ini Masachika yang melayangkan pertanyaan.

 

"Kalau kalian berdua sendiri apa akrab?"

 

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Yuki. Sambil tetap mengarahkan senyum lembut kepada Alisa yang kebingungan mencari jawaban, dia memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Mungkin bisa dibilang sedang dalam proses untuk jadi akrab? Setidaknya kalau aku sih, ingin berteman dengan Alisa-san."

 

Atas kata-kata jujur dari Yuki, mata Alisa membelalak, lalu mengarahkan pandangannya ke sana-kemari seolah merasa agak kesulitan.

 

"...Berteman denganku pun, menurutku tidak akan menyenangkan."

 

Terhadap kalimat penolakan aneh yang disampaikan sambil memalingkan mata itu, Yuki mengedipkan matanya beberapa kali, lalu kembali mengulas senyum.

 

"Maksudnya, Alisa-san sendiri tidak keberatan kan kalau berteman denganku?"

 

"Eh............ yah, be, gitu ya?"

 

"Kalau begitu, mari kita berteman! Mumpung kita berada di OSIS yang sama dan sama-sama kelas satu. Ah, benar juga! Kalau tidak keberatan, bolehkah aku memanggilmu Alya-san? Mendengar Masha-senpai dan Masachika-kun memanggil begitu, aku merasa itu panggilan yang sangat indah!"

 

"E-eh...... kalau itu sih, tidak masalah."

 

"Fufu, aku senang sekali. Sekali lagi mohon bantuannya ya, Alya-san. Jangan sungkan untuk memanggilku Yuki."

 

"Ya...... mohon bantuannya, Yuki-san."

 

Melihat Yuki yang tertawa senang sambil mengatupkan kedua tangannya, Alisa yang tidak biasanya menjadi gentar.

 

"Mempererat persahabatan sih boleh saja, tapi kalau tidak cepat dimakan ramennya bakal lembek, tahu."

 

"Ah! Benar juga!"

 

Atas teguran Masachika, Yuki berburu-buru melanjutkan makannya kembali. Alisa memperhatikan hal itu dengan ekspresi agak bingung, namun begitu sadar kalau Masachika sedang melihat ke arah dirinya yang seperti itu, dia memajukan bibirnya dengan ekspresi cemberut seolah merasa agak canggung.

 

"Lagipula Kuze-kun, biasanya Su... maksudku Yuki-san, kamu bicara seperti apa tentang aku padanya?"

 

"Eh~? Nggak kok, tidak ada yang khusus... paling cuma bilang kalau aku selalu dimarahi, cuma seputar itu."

 

"Jangan bicara seolah aku ini pemarah. Itu semua kan memang salahmu sendiri, Kuze-kun?"

 

Terhadap Alisa yang menegaskannya dengan tajam sambil menaikkan ujung alisnya, Masachika menciutkan lehernya sambil menuturkan, "Hehee, memang sepenuhnya benar", membuat Yuki mengumbar senyum dan terkekeh pelan.

"Masachika-kun ini, tidak perlu malu-malu begitu kan."

 

"Ah?"

 

"Alya-san. Masachika-kun itu selalu bilang kalau Alya-san itu orang yang sangat pekerja keras dan dia menghormatinya, kan?"

 

"Eh...?"

 

"Nggak kok, aku tidak pernah bilang menghormati atau semacamnya."

 

"Tapi Masachika-kun, kamu kan selalu menaruh rasa hormat tanpa syarat kepada orang yang berusaha keras."

 

"..."

 

Kepada Yuki yang mengatakannya seolah telah melihat menembus semuanya, Masachika memalingkan pandangannya dengan rasa canggung. Lalu, dia memberikan kontak mata kepada Takeshi yang duduk di depannya dan Hikaru yang duduk di sebelahnya, Kalian berdua ngomong sesuatu dong. Lantas, keduanya saling memandang dan mengangguk ringan, lalu berdiri bersamaan sambil membawa nampan masing-masing.

 

"Kalau begitu, kami berdua sudah selesai makan."

 

"Kami duluan, ya."

 

Melihat dua orang yang mengkhianatinya dengan santai itu, Masachika melancarkan protes lewat kontak mata.

 

Oi!

 

Nggak ah, rasanya agak terlalu berkilauan sampai aku tidak sanggup lagi

 

Aku tidak mahir menghadapi anak cewek

 

Protes Masachika pun sia-sia, keduanya dengan cepat memutus pandangan dan bergegas keluar dari kantin. Di telinga Masachika yang mengantar punggung mereka dengan mata penuh rasa dendam, bahasa Rusia Alisa meluncur masuk.

 

【なによ、もう】(Apaan sih, ih)

 

Saat menoleh, Alisa memasang ekspresi tak tergambarkan, tampak seperti sedang merajuk namun di saat yang sama juga terlihat senang di suatu tempat. Melirik sekilas ke arah Masachika yang menoleh, dia segera memindahkan pandangannya ke tangan sendiri lalu melanjutkan makan dengan diam.

 

Masachika yang sudah menampung ramennya ke dalam perut tanpa tersisa setetes kuah pun, secara tidak sengaja mengamati sosok itu. Lalu, Alisa yang kembali melirik Masachika dengan pandangan mendongak dari bawah, berbisik pelan dalam bahasa Rusia dengan nada bergumam.

 

【こっち見んな、バカ】(Jangan lihat-lihat, bodoh)

Lalu, terhadap Alisa yang semakin menundukkan wajahnya dan menyibukkan diri dengan makan, Masachika mendadak merasa memiliki perasaan yang lembut.

 

(Begitu yaa, kamu jadi malu-malu karena dibilang dihormati, ya. Huum huum, begitu toh begitu toh.)

 

Tapi, aku tidak akan berhenti melihat. Bukannya tidak mengerti bahasa Rusia atau bukannya peka-nya kurang, tapi di sini aku sengaja memakai jurus maut "Eh? Bicara apa tadi?".

 

Lantas, meski tidak memahami situasinya namun sepertinya menangkap atmosfer aneh tersebut, Yuki melempar topik kepada Masachika, "Ngomong-ngomong".

 

"Masachika-kun, apa kamu sudah mempertimbangkan tawaran untuk masuk OSIS?"

 

Atas kata-kata Yuki, Masachika memasang ekspresi bosan seolah bilang "Lagi-lagi ini", sementara Alisa menghentikan sumpitnya seketika.

 

"Kan sudah kubilang berkali-kali? Aku tidak ada niat untuk masuk. Lagipula, bukannya kemarin kamu bilang sudah memasukkan pengurus baru?"

 

"Sudah memasukkan sih... tapi ternyata, tidak bertahan lama..."

 

Pembentukan OSIS baru dilakukan pada awal Juni. Sekitar satu bulan yang lalu.

OSIS di sekolah ini sedikit khusus, di mana Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS mencalonkan diri secara berpasangan, lalu pengurus lainnya ditunjuk oleh Ketua dan Wakil Ketua yang terpilih.

 

Karena itu, jumlah pengurus bervariasi tergantung tahunnya, namun jabatan yang saat ini telah ditetapkan selain Ketua dan Wakil Ketua adalah Maria sebagai Sekretaris, Alisa sebagai Bendahara, serta Yuki sebagai Humas. Total hanya ada lima orang, dan berada dalam kondisi tidak memiliki seorang pun bagian urusan umum.

 

"Bukannya waktu itu ada obrolan kalau kali ini bakal memasukkan anak cewek gara-gara anak cowok malah kepikiran yang tidak-tidak dan bikin kerjaan tidak beres? Katanya ada sekitar tiga orang yang masuk, jangan-jangan semuanya sudah mengundurkan diri?"

 

"Itu... semuanya merasa diri mereka kurang mampu..."

 

"Aah..."

 

Mendengar kata-kata itu, Masachika secara implisit memahami situasinya.

 

Lagipula, jajaran siswi di OSIS saat ini terlalu luar biasa dalam berbagai arti. Wakil Ketua dan Maria si Sekretaris adalah Dua Gadis Cantik kelas dua, sedangkan Alisa dan Yuki adalah Dua Putri Cantik kelas satu.

 

Hal itu saja sudah cukup membuat sesama anak perempuan minder, ditambah lagi Alisa yang sesama kelas satu merupakan gadis paling berbakat seangkatan. Dan, Yuki sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah mantan Ketua OSIS di tingkat SMP.

 

Jika terus-terusan dipamerkan perbedaan kelas baik dari segi penampilan maupun kemampuan kerja nyata, mental anak cewek pada umumnya pasti tidak akan sanggup bertahan.

 

Meski begitu, di sisi lain para anak cowok sebagian besar didasari niat terselubung karena ingin bisa akrab dengan gadis cantik, sementara orang yang benar-benar mau bekerja malah patah semangat melihat tingginya kemampuan kerja nyata jajaran siswi tersebut.

 

"Dalam hal itu, kalau Masachika-kun tidak ada masalah dengan kemampuan kerja nyata, dan aku yakin kamu bisa bekerja sama dengan baik bersama aku maupun Alya-san. Lagipula, kamu kan mantan Wakil Ketua OSIS."

 

"Eh?"

 

Atas kata-kata Yuki, mata Alisa membelalak membulat karena terkejut.

 

Menerima pandangan tersebut, Masachika memasang raut muka cemberut karena merasa enggan.

 

"Kuze-kun, dulunya Wakil Ketua?"

 

"Begitu, lho. OSIS tingkat SMP dua tahun lalu, aku yang menjadi Ketua dan Masachika-kun yang menjadi Wakil Ketua."

 

"Begitu, ya..."

 

"Itu cerita masa lalu. Aku tidak sudi melakukannya untuk kedua kali."

 

Melihat Masachika yang mengibaskan tangannya dengan wajah yang benar-benar merasa enggan, Yuki mengulas senyum yang tampak agak kesulitan.

 

Kemudian, dia memiringkan kepalanya sedikit ke arah Alisa yang menatap Masachika dengan mata penuh rasa terkejut.

 

"Alya-san mungkin merasa heran, tapi Masachika-kun ini biarpun begini adalah tipe orang yang akan bertindak saat dibutuhkan, tahu. Ya walau biasanya memang seperti ini, sih."

 

"Maksudmu seperti ini itu apa, seperti ini itu."

 

"Fufu, entah ya? Seperti apa kira-kira?"

 

Menerima kata-kata Yuki, Alisa memasang ekspresi cemberut. Lalu, dia menatap kedua orang yang saling bersahut-sahutan dengan akrab di depannya itu dengan pandangan yang tampak tidak puas di suatu tempat.

 

【知ってるわよ、そのくらい】(Aku tahu kok soal itu)

 

Bahasa Rusia yang dibisikkannya secara pelan itu, tidak sampai ke telinga mereka berdua.

 

 

"Kalau begitu, aku mau mampir sebentar ke ruang OSIS."

 

"Begitu, ya sudah sampai ketemu pas pulang sekolah."

 

"Iya, sampai nanti kalau begitu."

 

"Daaah."

 

"Iya. Soal bergabung dengan OSIS, tolong dipikirkan baik-baik, ya?"

 

"Kan sudah kubilang tidak mau."

 

"Fufu."

 

"Oi, ekspresi sok 'aku sudah paham kok' itu apa maksudnya."

 

"Tidak kok, kalau begitu permisi."

 

Sedikit melangkah keluar dari kantin, mereka berpisah dengan Yuki.

Masachika mengibaskan tangannya secara sembarangan ke arah punggung Yuki yang membungkuk memberi hormat dengan anggun sebelum berlalu pergi.

 

Di sana, suara Alisa yang dua puluh persen lebih dingin dari biasanya menusuk tajam.

 

"Kalian benar-benar akrab, ya."

"Memangnya aneh?"

 

"Ya, aneh. Tidak menyangka kamu punya teman cewek."

 

Mendengar Alisa yang menyampaikannya secara tajam dengan nada bicara pedas, Masachika menaikkan sebelah alisnya.

 

"Eh? Di belah mananya?"

 

"Apa sih."

 

"Bukan, habisnya..."

 

Lalu, dengan ekspresi seolah ingin bilang "Kamu ngomong apa sih?", Masachika menunjuk tepat ke wajah Alisa.

 

"Teman cewek."

 

"..."

 

Atas kata-kata yang disampaikan seolah hal yang wajar tersebut, Alisa berkedip perlahan dengan raut muka datar, lalu miringkan kepalanya sedikit.

 

"...Kita ini, berteman?"

 

"Eh? Bukannya begitu?"

 

"..."

Ditanya dengan nada yang benar-benar merasa heran, Alisa sempat terdiam sejenak, lalu mendadak membalikkan badannya. Sambil memunggungi Masachika, dia membalas dengan suara datar seolah menahan sesuatu.

 

"Ya benar, kita ini berteman."

 

Lalu, setelah hanya menuturkan hal itu, dia mulai melangkah ke arah yang dilalui Yuki sebelumnya.

 

"O~i, mau ke mana~?"

 

"Aku cuma baru ingat kalau ada urusan di ruang OSIS. ...Jangan ikuti aku."

 

Menunjukkan penolakan secara jelas tanpa menoleh, Alisa berlalu pergi begitu saja.

 

"Kenapa sih dia... ya sudahlah. Benar juga, aku harus menghajar mereka yang kabur tadi."

 

Masachika yang ditinggalkan bergumam sendiri menuturkan hal yang terdengar tidak menyenangkan itu, lalu kembali ke kelas sendirian.

 

Sore hari di hari tersebut. Di antara sebagian siswa beredar rumor bahwa Putri Alya berjalan di koridor sambil bersenandung kecil, namun beruntung atau buntung kabar tersebut tidak pernah sampai ke telinga Masachika.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close