NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Epilog

Epilog: Tangan Ini


"Haa~ah, rasanya seperti dikerjai dengan sukses dan bikin tidak puas, tapi... apakah ini yang dinamakan saatnya untuk pasrah, ya."

 

Dipamiti oleh Touya dengan kata-kata, "Karena hari ini sudah malam, besok bawa saja dokumennya secara resmi", Masachika yang diumumkan dengan hal yang sama, "Pekerjaanmu hari ini sudah selesai" bersama Alisa, berjalan menuju pintu gerbang utama di tengah kegelapan malam.

 

Sambil berjalan dengan menggerutu, Masachika diikuti Alisa dari belakang yang terus membisu sambil sedikit menunduk.

 

Namun, saat tiba di sekitar pertengahan jalan menuju pintu gerbang sekolah, dia akhirnya menghentikan langkahnya dan memanggil, "Nee."

 

"Nng? Ada apa?"

 

Terhadap Masachika yang menghentikan langkah dan menoleh, Alisa tetap tidak mengatakan apa-apa. Sambil memancarkan emosi yang rumit pada mata birunya, dia menatap wajah Masachika dengan lekat.

 

Masachika pun membalas tatapan Alisa dengan mata yang tenang.

 

"Apa kamu benar-benar akan masuk OSIS?"

 

"Ya."

"Itu..."

 

Di sana dia sedikit menahan kata-katanya, lalu melayangkan pertanyaan seolah telah meyakinkan diri.

 

"Demi menghadapi pemilihan Ketua bersama Yuki-san?"

 

"...Kalau iya, memangnya kenapa?"

 

Terhadap pertanyaan Alisa, Masachika membalasnya dengan pertanyaan pula.

 

"Kalau iya, kamu mau bagaimana? Apa kamu bakal menyerah untuk jadi Ketua?"

 

"...Tidak."

 

Terhadap pertanyaan Masachika yang terkesan provokatif itu, Alisa memejamkan matanya sejenak seolah membuang rasa manja, lalu menjawab dengan binar yang kuat bersemayam di matanya.

 

"Aku pasti bakal jadi Ketua OSIS. ...Meskipun lawan yang harus kuhadapi adalah kamu. Aku tidak akan pernah menyerah."

 

Melihat mata yang penuh tenaga itu, Masachika melunakkan ekspresinya dengan senyum tipis.

 

Binar inilah yang ingin dihatinya.

 

Binar inilah yang ingin dijaganya.

 

Dia mengagumi binar jiwa yang rawan namun anggun itu, dan selama ini mengulurkan bantuan secara diam-diam agar binar itu tidak pernah meredup.

 

Hingga saat ini, dari balik bayangan.

 

Tapi, mulai sekarang...

 

"...Begitu ya."

 

""

 

Kepada Masachika yang mengangguk sambil memejamkan mata, Alisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Melihat Alisa yang sedikit menundukkan matanya, Masachika membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu menegaskannya dengan jelas.

 

"Kalau begitu, aku yang bakal menjadikanmu Ketua OSIS."

 

"Eh...?"

 

Alisa mendongakkan pandangannya dengan tercengang. Sambil menatap lurus mata yang berguncang itu, Masachika menyodorkan tangannya kepada Alisa.

 

"Kalau kamu menginginkannya, aku bakal berusaha sekuat tenaga untuk menjadikanmu Ketua OSIS. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Mulai sekarang, aku yang akan menopangmu di sisimu. Makanya... diam dan raihlah tangan ini! Alya!"

 

Atas kata-kata Masachika itu, berbagai kata bermunculan lalu sirna di dalam diri Alisa.

 

"Kenapa?", "Kenapa harus aku?", "Bukannya Yuki-san?" Berbagai keraguan bermunculan, namun meleleh dan sirna di hadapan pandangan Masachika yang tidak menerima bantahan.

 

(Aah, begitu toh...)

 

Mendadak, Alisa menyadarinya. Masachika telah melihatnya. Watak Alisa yang... sangat keras kepala dan tidak bisa diapa-apakan lagi ini.

 

Makanya, dia mengatakannya. Tidak perlu kata "Bantu aku" ataupun "Berjuanglah bersamaku". Cukup diam dan raihlah tangan ini.

 

(Aah...)

 

Selama ini, dia selalu sendirian. Menganggap semua orang lain sebagai

saingan, dan bagi dirinya yang cuma bisa meremehkan orang lain, dia berpikir tidak akan bisa mendapatkan orang yang bisa disebut sebagai sekutu.

 

Tapi... jika ada seseorang yang mau menerima seluruh dirinya yang tidak bisa diapa-apakan ini, dan mau menjadi sekutunya tanpa syarat. Jika keberadaan seperti itu memang ada...

 

"...!"

 

Emosi yang membuncah dari dalam dadanya ini, sebenarnya apa. Alisa tidak memahaminya.

 

Rasa terharu?

 

Rasa mendambakan?

 

Rasa sukacita?

 

Rasanya seperti semuanya, namun rasanya bukan semuanya.

 

Diserang oleh gelombang emosi yang dahsyat, Alisa entah kenapa merasa ingin menangis.

 

Tapi, dia tidak meneteskan air mata.

 

Dia tidak ingin memperlihatkan sosok seperti itu kepada pemuda di

depannya.

 

Dan karena dia berpikir pemuda itu pun tidak mengharapkan sosok dirinya yang seperti itu.

 

Makanya, dia membusungkan dada dan menatap ke depan.

 

Bahwa dia sama sekali tidak meminta bantuan.

 

Tanpa bersikap manja, ataupun bersandar pada orang lain, hanya sebagai pihak yang setara... dia menggenggam tangan itu.

 

"Yup, mulai sekarang mohon bantuannya ya. Alya."

 

Seolah membalas keinginan itu, Masachika mengangguk sambil tertawa pelan.

 

Sebatas sebagai pasangan yang setara.

 

Atas kebaikan alami itu, sudut mulut Alisa mekar secara alami, memancarkan senyuman indah bagaikan bunga yang bermekaran.

 

Dari bibirnya yang terbuka tipis, suara dari dasar hatinya meluncur jatuh.

 

"Terima kasih."

 

Dan,




(Tl/N: Artinya ‘Aku Mencintaimu’)

 

Atas pengakuan yang meluncur tanpa disengaja oleh yang bersangkutan itu, serta atas senyuman dari dasar hati yang belum pernah dilihatnya sekali pun sampai sekarang, jantung Masachika melompat.

 

Di saat yang sama, kenangan dari hari yang jauh dan dirindukan... senyuman anak perempuan itu, bangkit kembali di dalam benaknya.

 

(A, apa-apaan, ini)

 

Jantung yang berdebar-debar kencang. Itu adalah debaran cinta yang pikirkannya tidak akan pernah dirasakannya untuk kedua kalinya sejak anak perempuan itu menghilang.

 

(Ha, ha... Seriusan. Di dalam diriku, masih ada perasaan semacam ini toh)

 

Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis di depannya. Tangan yang saling bergenggaman terasa panas. ...? Panas... atau lebih tepatnya, sakit?

 

"!? Sakit sakit sakit!! Kenapa!?"

 

Saat tersadar, tanpa diketahui sejak kapan senyuman Alisa telah berubah menjadi senyuman yang dipaksakan, dan pada tangannya terisi kekuatan bagaikan ragum.

 

Sambil menjerit dan melipat tubuhnya menjadi bentuk huruf , Masachika melayangkan pandangan heran dan protestasi sambil mendongak dari bawah. Menggaet pandangan tersebut dengan pandangan selevel nol mutlak, Alisa bertanya dengan tenang.

 

"Barusan... kamu sedang memikirkan wanita lain, ya?"

 

"Kok bisa tahu!? A..."

 

Karena membalasnya secara refleks, dia berpikir "Gawat!", tapi nasi sudah menjadi bubur. Di saat yang sama, dia meneteskan keringat dingin karena sadar kalau dirinya baru saja melakukan hal yang paling parah.

 

(Gawat gawat gawat! Ditembak terus malah memikirkan cewek lain di masa lalu, bukannya itu peringkat kedua hal yang tidak boleh dilakukan protagonis komedi romantis saat acara penembakan!?)

 

Ngomong-ngomong peringkat pertamanya adalah, melewatkan pengakuan cinta. Yang itu tidak cuma heroine-nya saja, tingkat rasa suka pembaca juga bakal turun drastis jadi beneran tidak boleh dilakukan.

 

(...Bukan, apa-apaan memikirkan hal semacam itu di saat begini!)

 

Secara terpaksa dia menarik kembali pikirannya yang tanpa sadar mencoba melarikan diri dari kenyataan ke arah otaku.

 

Namun, bagi Masachika yang nilai pengalaman cinta riilnya sama sekali tidak naik sejak SD, metode untuk mencairkan situasi ini tidak mudah terlintas di pikirannya.

 

Di saat dia sedang kebingungan begitu, Alisa yang memajang senyum dingin membuka mulutnya lebih dulu.

 

"Nee."

 

"Y-ya?"

 

"Barusan, kamu bilang 'Mulai sekarang aku yang akan menopangmu', kan."

 

"Eh, aa, ya. Aku mengatakannya, ya."

 

Begitu dikatakan kembali rasanya sangat memalukan, tapi di hadapan pandangan mata Alisa yang tajam dan dingin, yang muncul bukannya senyum malu-malu melainkan senyum kedutan.

 

"Tepat setelah mengatakan hal itu... kamu memikirkan Yuki-san, kan."

 

"Nggak, bukan memikirkan Yuki..."

 

"...Fuu~n."

 

"Tunggu!? Beneran sakit!?"

 

Saat melontarkan bahwa itu bukan Yuki, tangan kanannya kembali dijepit dengan kekuatan bagaikan ragum, membuat Masachika menjerit "Kenapa!?" di dalam hati.

 

"Kuze-kun."

 

"I-iya!"

 

"Kalau ingin dimaafkan... diamlah, dan terimalah tangan ini."

 

"...Baik."

 

Melihat Alisa yang mengangkat tangan kirinya perlahan, Masachika memahami tujuannya lalu memejamkan mata.

 

Tepat setelahnya, benturan dahsyat merambat di pipi kanannya, dan Masachika terpental bukan sekadar kiasan.

 

"He, hehe... pant (tamparan) yang bagus."

 

"...Bodoh."

 

Meskipun berguling di tanah dengan memalukan, Masachika tetap memamerkan acungan jempol kepada Alisa. Kepada Masachika yang seperti itu, sambil memajang wajah heran, Alisa menarik kembali amarahnya sesuai deklarasinya lalu menyodorkan tangannya.

 

Setelah berdiri meminjam tangan tersebut, Masachika menepuk-nepuk celananya.

"...Pulang yuk."

 

"Benar ya."

 

Lalu, keduanya berjalan berdampingan menuju jalan pulang. Bukan saling menempel, bukan pula saling menjauh secara canggung, melainkan pada jarak di mana jika satu sama lain mengulurkan tangan maka akan bergandengan tangan secara alami.

 

"Waduh, ini pertama kalinya aku ditampar cewek, lho. Nilai pengalamanku sebagai pria naik lagi nih."

 

"Tadi waktu jatuh kepalamu kepentok ya?"

 

"Otakku tidak mengalami kelainan apa-apa tahu!?"

 

"Benar ya, soalnya dari sananya otakmu memang sudah mengecewakan sih."

 

"Berani-beraninya mengatai orang jenius yang dulu dipanggil anak ajaib ini."

 

"Anak ajaib? ...Fuu~n."

 

"Ah, mata yang sama sekali tidak percaya."

 

Sambil di dalam hati merasa lega karena satu sama lain bisa berinteraksi seperti biasa, mereka berjalan dengan jarak yang sedikit lebih dekat dari biasanya. Lalu, saat tiba di depan apartemen tempat Alisa tinggal, Alisa memajang wajah yang agak mengkhawatirkan.

 

"...Pipi, tidak apa-apa? Butuh sesuatu buat mengompresnya?"

 

Sambil mengulas senyum tipis kecut berpikir apakah dia diam-diam memikirkannya, Masachika mengutarakannya dengan cerah.

 

"Nggak, tidak usah kok. Walau rasa di pipi kananku agak hilang sedikit, tapi kalau dipikir seperti habis disuntik bius di dokter gigi mah bukan masalah besar!"

 

"Yang begitu bukannya tidak apa-apa..."

 

Kekhawatirannya dibalas dengan lelucon, Alisa mengedikkan bahunya dengan ekspresi heran. Lantas, seolah menyadari sesuatu dia mendongakkan wajahnya, lalu mengulurkan jari telunjuknya dan mengelus pipi kanan Masachika.

 

"Beneran, tidak ada rasanya?"

 

"A, nggak... jelas-jelas bercanda lah. Walau kalau bilang rasanya agak tumpul itu memang benar sih."

 

"……Begitu."

 

Atas jawaban Masachika yang agak serba salah, Alisa mengulas senyum tipis. Pada detik berikutnya, tangan Alisa hinggap di kedua bahu Masachika, dan senyuman Alisa mendekat secara lembut.

"Eh?"

 

Pada pipi kanan Masachika yang membeku atas situasi yang mendadak itu, sebuah sentuhan lembut ditekan, dan suara *chuu* bergema di dekat telinganya.

 

"Eh?"

 

Kepada Masachika yang membelalakkan matanya dengan tercengang, Alisa yang menjauhkan tubuhnya dengan cepat melayangkan pandangan yang agak meremehkan.

 

"Kenapa kamu melamun begitu. Kan cuma *cheek kiss* biasa."

 

"Cuma... maksudmu, bukannya *cheek kiss* biasa itu cuma menyatukan pipi saja..."

 

"Memang iya, kan? Aku bukannya beneran mencium kok, cuma mengeluarkan suara pakai mulut saja."

 

"Nggak, tapi... nnn?"

 

Sentuhan barusan itu... nggak, yang mana nih??

 

"Kalau begitu, sampai besok ya."

 

"A, ya... sampai besok."

 

Mengantar Alisa yang melambaikan tangan lalu masuk ke dalam pintu masuk dengan kondisi pikiran yang melayang. Lalu, saat punggung itu tidak terlihat lagi, Masachika merengkuh kepalanya dan berjongkok di tempat itu.

 

"Eee~~? Tu-tunggu, beneran yang mana nih??"

 

Sambil mengelus pipinya yang masih memancarkan rasa hangat dan panas, Masachika berusaha mati-matian mengingat kembali sentuhan barusan. Namun, seberapa banyak pun dia menggali ingatannya, jawaban pasti tidak kunjung keluar.

 

"Alya~~ beri tahu jawabannya pakai bahasa Rusia dong~"

 

Di jalanan malam yang gelap, suara Masachika yang memalukan bergema.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close